CASE BASED DISCUSSION

PSIKOTIK

Disusun Oleh:

Ayu Amaliah 03011051 Lusi Jelita Sari 03011171

Elisa Novianti 03011085 Jayanti Novitasari 03011146

Anasthasya Giovani G 03011023 Ruri Nur Indah 03011261

Sarah Martinauli H 03011267 Shinta Pradyasti 03011273

Cinta Ayuning Tyas Pinem 03010065 Martha Rianita Odjan 03009145

Pembimbing
dr. Sutantri, Sp.KJ

Kepaniteraan Klinik Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa
Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang
Periode 6 Maret – 31 Maret 2017
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
Jakarta

STATUS PASIEN I. Keluarga telah melihat perubahan pada pasien sejak 5 hari yang lalu. Identitas Pasien Nama : Ny. Riwayat Penyakit Sekarang Alloanamnesis (dilakukan kepada ibu kandung pasien pada tanggal 3 Maret 2017) Pasien datang ke RSJ Prof Dr. Gemawang. B.10 WIB di IGD A. Temanggung Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Status : Janda Agama : Islam Hubungan : Ibu kandung II. Anamnesis Anamnesis dilakukan secara auto dan alloanamnesis pada tanggal 3 Maret 2017 pukul 17. Gemawang. . Keluhan Utama Pasien mengganggu lingkungan sekitar (memecahkan kaca dan atap rumah tetangga).Soerojo Magelang diantar oleh ibu kandung pasien karena mengganggu lingkungan sekitar yaitu memecahkan kaca dan atap rumah tetangga. A K Usia : 31 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Kutan RT 005 RW 004 Jambon. S Usia : 58 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Kutan RT 005 RW 004 Jambon. Temanggung Pekerjaan :- Status : Cerai hidup Agama : Islam Pendidikan : SMA (tamat) Tanggal Pemeriksaan : 6 Maret 2017 Identitas Pengantar Nama : Ny. Berawal dari setelah pasien tidak dapat tidur sehingga pasien tidur di rumah depan yang merupakan tempat tinggal ayahnya sebelum meninggal pada 6 bulan lalu.

tidak pernah bicara sendiri. Pasien sempat di bawa oleh keluarga ke dukun dan kyai namun keluarga tidak merasakan adanya perubahan. Setelah ayahnya meninggal pasien tetap rutin kontrol di antar oleh ibu atau kakak pasien. Saat malam hari pasien keluar rumah sendiri lalu memecahkan kaca dan atap rumah tetangga. obat disembunyikan oleh pasien sehingga keluarga tidak mengetahui dimana disimpannya obat tersebut. pasien selalu segera dibawa ke RSJS oleh keluarga. Ibu pasien mengatakan bahwa gejala pertama kali muncul saat pasien SMA kelas dua sekitar 12 tahun yang lalu. Pasien sempat kerja di toko besi. Kambuh nya pasien keluarga menduga pasien tidak menyukai keramaian karena jika kondisi rumah sedang ramai pasien pergi ke tempat yang sepi lalu mulai muncul gejala. Saat itu pasien jatuh dari motor namun pasien tidak memberitahukan keluarga sehingga keluarga tidak mengetahui secara jelas kondisi pada saat itu. Pasien sempat menikah selama tiga bulan lalu diceraikan oleh suami dan tidak dikaruniai anak. Pasien sering memindahkan barang dari dalam rumah ke luar tanpa sebab yang jelas namun tidak pernah merusak barang.Sebelum ayah pasien meninggal. pasien mengatakan bahwa ia sedang “mengelap kaca” dan mengatakan . Jika keluarga melihat tanda-tanda awal muncul gejala. Kegiatan pasien sehari-hari yaitu cuci baju. dan Yamaha musik namun hanya berkisar satu hingga dua bulan dikarenakan gejala pasien muncul. Saat ditanyakan mengenai kaca yang ia pecahkan. pasien selalu diantar kontrol oleh ayahnya ke poli RSJ Prof. HALUSINASI AUDITORIK??? Autoanamnesis: Pasien miskin bicara. Keluarga pasien mengatakan pasien tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri. Pasien hanya diam. tidak mau makan dan minum. Dr. Terdapat orientasi waktu. Sejak ayah pasein meninggal ini merupakan kedua kali nya pasien di rawat di RSJS. toko roti. pasien terlihat bingung. hanya menjawab satu kata setiap kali ditanya. namun jika mulai muncul gejala terkadang pasien keluar rumah dengan tanpa tujuan. Jika di ajak bicara pasien kadang nyambung dan kadang tidak. namun masih mau mandi. Setiap harinya pasien tinggal di rumah belakang. dan sering mengurung di kamar. tempat dan situasi buruk. orang. cuci piring namun pasien kadang melakukan kadang tidak dan keluarga tidak memaksa jika pasien tidak melakukan. Keesokan hari setelah pasien tidur di rumah depan. Soerojo Magelang. jika ditanya pasien hanya diam. Kesehariannya pasien tidak pernah keluar rumah. Pasien selalu kontrol di RSJS selama 12 tahun dan tidak terhitung berapa kali dirawat. Pasien tidak minum obat sejak 5 hari SMRS.

Riwayat penyakit yang pernah diderita dahulu  Riwayat psikiatri o Pasien sudah pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya. o Terdapat riwayat trauma kepala berupa bekas jahitan. pertama kali pada tahun 2005. HALUSINASI AUDITORIK??? Grafik Perjalanan Penyakit Gejala 1998 2017 Fungsi Peran C. Saat ditanyakan mengenai kegiatan ataupun pertanyaan lain selalu dijawab dengan kata “sholat” atau “Wiwik”.  Riwayat medis umum o Keluarga tidak mengetahui setelah jatuh dari motor pada saat SMA pasien sempat di rawat atau tidak. ada yang menyuruh pasien dengan menjawab “wiwik”. Mengenai atap rumah tetangga yang dipecahkan. Riwayat Tumbuh Kembang . Pasien juga sudah pernah dirawat di RSJS hingga tidak terhitung. ataupun bila tidak minum obat. alkohol dan rokok o Pasien tidak merokok o Penggunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang disangkal. yang keluarga ketahui pasien tidak pernah di rawat. namun ayah pasien telah meninggal. Gejala akan timbul lagi biasanya bila pasien merasa sekitarnya ramai. D. pasien menjawab “kucing”.  Riwayat Napza. Wiwik merupakan kakak pasien namun tidak tinggal bersama. Pasien mengatakan bahwa dirinya di rumah tinggal bersama kakak dan ayahnya.

Pasien memiliki kegemaran mengumpulkan perangko. .  Masa Kanak Pertengahan (3-11 thn) o Pasien tidak pernah tinggal kelas. usia kehamilan cukup bulan. Riwayat Prenatal dan Perinatal o Pasien lahir pada tanggal 22 Februari 1986. Saat SMA kelas dua pasien telah menderita sakit. pergaulan pasien baik. Setelah itu pasien melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. merangkak. Kehamilan merupakan kehamilan yang direncanakan. o Riwayat kehidupan beragama : Pasien memeluk agama Islam namun pasien kurang taat beribadah. dan saat lahir bayi segera menangis. Pasien dapat bergaul dengan teman sebayanya dan memiliki banyak teman. duduk. Tumbuh kembang pasien sesuai dengan anak lainnya yang seusianya. berjalan. Keadaan ibu saat hamil dan melahirkan sehat. Pada saat SMP. pasien selalu mendapatkan peringkat satu saat SD. Prestasi pasien sangat baik. Pasien dapat beradaptasi dengan lingkungan. berdiri. pasien juga selalu mendapatkan peringkat satu. Prestasi di sekolah sangat baik. dan berlari. o Riwayat pekerjaan : Pasien sempat bekerja sebagai pegawai toko.  Masa Kanak-kanak dan Remaja (11-18thn) o Pasien menyelesaikan SD dan melanjutkan ke SMP. Tiga bulan kemudian pasien bercerai.  Riwayat Masa Dewasa o Riwayat pendidikan : Pasien tamatan SMA. merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. o Riwayat pernikahan : Pasien sudah menikah satu kali tanpa memiliki anak. tidak didapatkan informasi mengenai kapan pertama kali mengangkat kepala. namun pada saat ujian nasional pasien dapat lulus. Pasien lahir di rumah dibantu oleh bidan secara normal. namun saat ini tidak bekerja kembali. memiliki banyak teman.  Riwayat Masa Kanak Awal (0-3thn) o Pasien mendapatkan ASI eksklusif selama 2 tahun. Selama sekolah pasien cenderung pendim namun memiliki banyak teman.

E. Tidak terdapat riwayat atau masalah psikiatri di dalam keluarga pasien. Genogram Keterangan : . o Riwayat Pelanggaran Hukum : Pasien tidak pernah berurusan dengan penegak hukum karena melakukan pelanggaran hukum. F. o Riwayat Situasi Hidup Sekarang : Pasien tinggal bersama ibu kandung di Temanggung. o Riwayat Psikoseksual : Pasien menyadari dirinya seorang perempuan dan selama ini berpenampilan dan berperilaku sebagaimana seorang perempuan. Pasien tidak memiliki masalah dalam hubungannya dengan sanak keluarga. Riwayat penyakit dalam keluarga Pasien merupakan anak ketiga dari empat bersaudara.

Gangguan Persepsi  Halusinasi : Visual : Ada (melihat ayah nya yang sudah meninggal) Auditorik : Ada (ada yang menyuruh pasien memecahkan kaca) Taktil : Tidak ada Olfaktorik : Tidak ada Gustatorik : Tidak ada . appropriate C.III. sesuai dengan usia. skala diferensiasi sempit. miskin bicara  Perilaku dan aktivitas motorik : Hipoaktif  Sikap terhadap pemeriksa : Kooperatif  Perhatian & kontak psikis : Susah ditarik. rawat diri baik. dangkal. echt. pengendalian cukup. Dr. berpakaian. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL Pemeriksaan dilakukan di IGD RSJ Prof. Deskripsi Umum  Penampilan : Tampak seorang perempuan. susah dicantumkan B. Soerojo Magelang pada tanggal 6 Maret 2017 A. empati tidak dapat dirabarasakan. Alam Perasaan  Mood : Disforik  Afek : Stabil. tampak gizi cukup  Kesadaran o Neurologik : Compos Mentis o Psikologik : Jernih o Sosial : Mampu berinteraksi  Pembicaraan o Kualitas : Lambat (koheren) o Kuantitas : Sedikit.

dan kecerdasan : sulit dinilai  Daya konsentrasi : Buruk  Orientasi Waktu : Buruk Tempat : Buruk Orang : Buruk Situasi : Buruk Daya ingat Jangka panjang : Buruk Jangka sedang : Buruk Jangka pendek : Buruk Jangka segera : Buruk  Pikiran abstrak : Buruk  Bakat kreatif : Tidak ada  Kemampuan menolong diri sendiri : Baik E. Fungsi Intelektual  Taraf pendidikan. Proses Berfikir  Arus Pikir Produktivitas : Sedikit Kontinuitas : o Blocking : Tidak ada o Reming : Ada (mengucapkan satu kata) o Asosiasi Longgar : Tidak ada o Inkoherensi : Tidak ada o Word Salad : Tidak ada o Neologisme : Tidak ada Hendaya berbahasa : Tidak terganggu  Isi Pikir . pengetahuan umum.  Ilusi : Sulit dinilai  Depersonalisasi : Sulit dinilai  Derealisasi : Sulit dinilai D.

Bentuk normochepali. tidak sianosis. distribusi merata. Mukosa bibir kering (-). tidak mudah dicabut. pupil 2mm/2mm. tidak ikterik.58)2 = 20. Tidak ada edema palpebral. PEMERIKSAAN FISIS DAN NEUROLOGIS Keadaan umum Kesadaran : Compos mentis (GCS:15) Kesan Gizi : Baik Tekanan darah : 130/80 mmHg Nadi : 84 x/mnt Pernafasan : 20 x/mnt Suhu : 36.8 kg/m2) BB normal (cukup) Status Generalisata Pemeriksaan Hasil Warna kulit sawo matang. Telinga dalam batas normal. sianosis (-). rambut hitam. . Preokupasi : Tidak ada  Waham NIHILISTIK??? o Waham Bizarre : Sulit dinilai o Waham Non Bizzare (+) : Waham nihilistic ()  Bentuk Pikir : Sulit dinilai F. lurus. Tidak ada Kulit efloresensi yang bermakna. Pengendalian Impuls : Baik G. simetris. Nafas cuping hidung (-). konjungtiva pucat -/-. Kepala sklera ikterik -/-. Daya nilai  Normo sosial : Sulit dinilai  Uji daya nilai : Baik  Penilaian realitas : Baik Tilikan (insight) : Derajat 1 Taraf dapat dipercaya : Dapat dipercaya IV. refleks kornea +/+. tidak kemerahan. pucat (-). refleks cahaya langsung dan tidak langsung +/+. Tidak ada deformitas.7oC BB/TB : 52 kg/ 158 cm (BMI : 52 / (1.

CRT <2 detik. murmur (-). CRT <2 detik. venektasi (-)  Auskultasi : bising usus (+) normal Abdomen  Perkusi : suara timpani. Bunyi jantung I dan II normal. JVP (5+2) Leher cmH2O. sela iga tidak ada retraksi. shifting dullness (-)  Palpasi : dinding abdomen supel. Thoraks wheezing (-) Jantung :  Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat  Palpasi : ictus cordis tidak teraba  Perkusi : batas paru dan jantung kanan setinggi ICS 3 hingga ICS 5 garis sternalis kanan dengan suara redup. batas atas jantung setinggi ICS 3 linea parasternalis kiri. turgor kulit baik. tulang dada normal. Pembesaran kelenjar getah bening (-). Paru-paru :  Inspeksi : statis. deformitas (-). kaku kuduk (-). oedem (-). hepar dan lien tidak teraba. Bentuk simetris. regular. ballotement (-). oedem (-). dinamis simetris kanan dan kiri. o Kaku Kuduk : (-) . pembesaran kelenjar tiroid (-). sela iga tidak melebar dan tidak terdapat retraksi. Status Neurologis  GCS : 15 (E4 M6 V5)  Pemeriksaan Nervus Cranialis I – XII : Tidak ditemukan kelainan  Pemeriksaan Rangsang meningeal : Tidak ditemukan kelainan.  Auskultasi : HR 88x/menit. gallop (-)  Inspeksi : bentuk abdomen normal. ronkhi -/-. nyeri tekan (-). vokal fremitus kanan bawah melemah  Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru atas dan paru kanan bawah. batas paru dan jantung kiri setinggi ICS 5 ± 2cm medial linea midclavicularis kiri dengan suara redup. Ekstremitas Ekstremitas bawah : simetris. gerakan dinding dada simetris.  Auskultasi : vesikuler (+) normal pada seluruh lapangan paru. deformitas (-). undulasi (-) Alat kelamin Tidak diperiksa Ekstremitas atas : simetris.  Palpasi : gerakan dinding dada simetris.

o Brudzinski I : Tidak dilakukan o Brudzinski II : Tidak dilakukan o Laseque : Tidak dilakukan o Kernig : Tidak dilakukan  Pemeriksaan Refleks Fisiologis : Tidak dilakukan pemeriksaan o Biseps : Tidak dilakukan o Triseps : Tidak dilakukan o Patella : Tidak dilakukan o Achilles : Tidak dilakukan  Pemeriksaan Refleks Patologis : Tidak dilakukan pemeriksaan o Hoffman Tromner : Tidak dilakukan o Babinski : Tidak dilakukan o Chaddock : Tidak dilakukan o Schaefer :Tidak dilakukan o Oppenheim :Tidak dilakukan o Gordon :Tidak dilakukan . Jika tanda-tanda awal muncul gejala. dan sering mengurung diri di kamar. Pasien . Pasien saat itu sering terlihat bingung. Soerojo Magelang. Saat itu pasien jatuh dari motor namun pasien tidak memberitahukan keluarga sehingga keluarga tidak mengetahui secara jelas kondisi saat itu. Pasien tidak menyukai kondisi rumah yang ramai. Pasien sempat menikah selama tiga bulan lalu diceraikan suami dan tidak dikaruniai anak. Pasien selalu kontrol di RSJS selama 12 tahun dan tidak terhitung berapa kali dirawat. Dr. hanya diam jika ditanya. Pasien tidak minum obat sejak 5 hari SMRS. Perubahan pada pasien terjadi sejak 5 hari SMRS ketika pasien tidak tidur dan kemudian memilih tidur di depan rumah yang merupakan tempat tinggal ayahnya sebelum meninggal 6 bulan yang lalu. diantar oleh ibunya karena memecahkan kaca dan atap rumah tetangga. pasien segera dibawa ke RSJS oleh keluarga. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA Pasien perempuan usia 31 tahun dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Prof. bila ramai pasien akan pergi ke tempat sepi lalu muncul gejala. Gejala tersebut pertama kali muncul saat pasien SMA kelas dua sekitar 12 tahun yang lalu. tidak mau makan dan minum. Pasien dikatakan tidak pernah melakukan percobaan bunuh diri. Gerakan Involunter : - V.

SINDROM PADA PASIEN  Skizofrenia katatonik o Stupor o Gangguan isi pikir : Waham nihilistik Gangguan persepsi : Halusinasi visual (+) . Mengenai atap rumah tetangga yang dipecahkan. Mood disforik dan afek appropiate. stabil. tidak didapatkan hendaya berbahasa. rawat diri baik. stabil. VI. berpakaian. skala diferensiasi sempit. remming  Isi pikir : waham sulit dinilai  Bentuk pikir : realistis  Tilikan : derajat 1  Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya VII. Wiwik merupakan kakak pasien namun tidak tinggal bersama. Pasien mengatakan bahwa dirinya di rumah tinggal bersama kakak dan ayahnya. Isi pikiran tidak terdapat preokupasi. echt. miskin bicara. remming. empati tidak dapat dirabarasakan. Pasien juga memiliki gangguan persepsi berupa halusinasi visual (+) yaitu dapat melihat ayahnya yang telah meninggal. dan kebersihan baik. Waham dan bentuk pikir sulit dinilai. Tilikan derajat 1. pembicaraan sedikit dan lambat.mengatakan bahwa ia sedang “mengelap kaca” dan mengatakan ada yang menyuruh pasien dengan menjawab “wiwik”. Taraf dapat dipercaya. lambat  Tingkah laku : hipoaktif  Mood : disforik  Afek : appropriate. namun ayah pasien telah meninggal Saat datang pasien hanya menjawab setiap pertanyaan dengan kata “sholat” atau “Wiwik” Dari status mental didapatkan tampak seorang perempuan. dangkal. dangkal  Gangguan persepsi : halusinasi visual  Arus pikir : sedikit. SIMPTOM PADA PASIEN  Pembicaraan : sedikit. Arus pikiran didapatkan produktivitas sedikit. Selama pemeriksaan pasien duduk tenang. pengendalian cukup. pasien menjawab “kucing”. wajah sesuai usia.

VIII. Gaduh-gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang tak bertujuan. Menampilkan posisi tubuh tertentu (secara sukarela mengambil dan mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh) d. DIAGNOSIS BANDING  F 20. Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara) b. Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua perintah atau upaya untuk . yang tidak dipengaruhi oleh stimuli eksternal) c.2 Skizofrenia Katatonik  F 20.5 Skizofrenia Residual  Skizofrenia Katatonik Pedoman Diagnostik Berdasarkan Pada Pasien PPDGJ III Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Terpenuhi  terdapat halusinasi visual skizofrenia serta perilaku katatonik dan gejala- gejala “negatif” Satu atau lebih dari perilaku berikut ini Terpenuhi harus mendominasi gambaran klinisnya : a.

gangguan metabolik. atau pergerakan ke arah yang berlawanan) e. Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upan menggerakkan dirinya) f. atau alkohol dan obat-obatan. Fleksibilitas cerea/”waxy flexibility” (mempertahankan anggota gerak dan tubuh dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar) dan g. menggerakkan. serta dapat juga terjadi pada gangguan afektif. Gejala-gejala lain seperti “command automatism” (kepatuhan secara otomatis terhadap perintah). Gejala katatonik dapat dicetuskan oleh penyakit otak. . Pada pasien yang tidak komunikatif dengan Terpenuhi manifestasi perilaku dari gangguan katatonik. dan pengulangan kata-kata serta kalimat-kalimat. diagnosis skizofrenia mungkin harus ditunda sampai diperoleh bukti yang memadai tentang adanya gejala-gejala lain. Penting untuk diperhatikan bahwa gejala- gejala katatonik bukan petunjuk diagnostik untuk skizofrenia.

komunikasi non verbal yang buruk seperti ekspresi muka. pekerjaan. . afek tumpul. sikap pasif dan ketidakadaan inisiatif. aktivitas menurun.  Skizofrenia Residual Pedoman Diagnostik Berdasarkan Pada Pasien PPDGJ III Gejala negatif yang menonjol misalnya Terpenuhi perlambatan psikomotor. dan penggunaan waktu senggang sehingga dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami Gangguan Jiwa Psikotik. kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan. EVALUASI MULTIAKSIAL : (SESUAI PPDGJ III) Aksis I: Berdasarkan alloanamnesis. autoanamnesis dan pemeriksaan status mental didapatkan adanya gejala klinis yang bermakna yaitu marah-marah dan merusak serta terdapat disorganisasi perilaku berupa stupor. suara dan sikap tubuh. Keadaan ini menimbulkan penderitaan (distress) pada keluarga dan lingkungan serta menimbulkan disabilitas dalam aktivitas kehidupan sehari-hari terutama hendaya sosial. Perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk Sedikitnya ada riwayat 1 episode psikotik Terpenuhi yang jelas di masa lampau yang memenuhi kriteria skizofrenia Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu Tidak terpenuhi 1 tahun dimana intensitas dan frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang dan telah timbul sindrome negativ skizofrenia Tidak terdapat dimensia dan gangguan Terpenuhi otak organic IX. kontak mata.

tidak mampu berfungsi hampir semua bidang. Gangguan pada pasien ini telah berlangsung selama 12 tahun sehingga pasien dapat didiagnosis sebagai penderita Skizofrenia (F20). sehingga pasien didiagnosis sebagai Gangguan Jiwa Psikotik Non Organik. sehingga berdasarkan penggolongan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ III) diagnosis pasien diarahkan pada Skizofrenia Katatonik (F20. Sosiologik : Ditemukan adanya hendaya berat dalam bidang sosial. Dari alloanamnesis dan autoanamnesis didapatkan halusinasi visual. B. Psikofarmaka Akut di IGD :  Injeksi Lodomer 5mg IM  Injeksi Diazepam 5mg IM Maintanance : . DAFTAR MASALAH A. sehingga penyebab organik dapat disingkirkan. ayah meninggal dunia Aksis V GAF saat masuk rumah sakit : GAF Scale 40 – 31 (disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai. XI. Organobiologik : Tidak ditemukan kelainan fisik atau penyakit tertentu yang mempengaruhi keadaan mental pasien.2) Aksis II Ciri kepribadian tidak khas Aksis III Tidak ada diagnosis Aksis IV Masalah keluarga. Diduga ada ketidakseimbangan neurotransmitter sehingga membutuhkan farmakoterapi. Pada pemeriksaan status internus dan status neurologis tidak ditemukan adanya kelainan yang mengindikasikan gangguan medis umum yang menimbulkan gangguan otak. Psikologik : Ditemukan gangguan psikologik yang membutuhkan psikofarmaka dan psikoterapi untuk memperbaiki daya tahan mental dan kemampuan beradaptasi. C. Dan berdasarkan pemeriksaan didapatkan berkurangnya reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam gerakan serta aktivitas spontan (stupor). PENATALAKSANAAN a.) X. pekerjaan dan penggunaan waktu senggang.

.Menanam kepercayaan dan meyakinkan bahwa gejalanya akan hilang dengan meningkatkan motivasi diri pasien. Psikoterapi Suportif 1) Pada pasien .  Risperidone 2 x 2 mg P. .Menyarankan pasien menghindari termenung dan menyendiri. serta semangat penuh terhadap pasien. Haloperidol decanoat 1 amp/4 minggu  THP 2mg 2x1 B.Edukasi tentang keadaan penyakit pasien dan kondisi pasien. A. . dukungan.Memberikan perhatian. . dan memahami cara menghadapinya. . mengingatkan pasien untuk menjaga dan merawat diri dengan baik. sehingga tercipta dukungan sosial dalam lingkungan yang kondusif sehingga membantu proses penyembuhan pasien. Farmakologi  Inj.Menyarankan agar pasien lebih banyak berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dirinya diberi ketenangan dalam menghadapi masalah yang ada. agar pasien memahami kondisi dirinya.Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan perasaan dan keinginan serta masalahnya sehingga pasien merasa lega dan keluhannya berkurang.O b.O  Trihexyphenidil 2 x 2 mg P. Edukasi pada pasien pentingnya untuk hadir kontrol rutin setiap bulan. serta memotivasi pasien agar tetap minum obat secara teratur.Mengisi waktu luang dengan berbagai aktivitas untuk mengurangi keluhan- keluhan tersebut. 2) Pada keluarga . .Mendampingi pasien untuk kontrol berikutnya. Non-farmakologi  Psikoterapi : . mengingatkan pasien untuk minum obat teratur.Memberikan penjelasan dan pengertian kepada pasien tentang penyakitnya. .

Memberi penjelasan kepada keluarga pasien tentang pentingnya peranan obat untuk kesembuhan pasien sehingga keluarga perlu mengingatkan dan mengawasi pasien untuk minum obat secara teratur. dan membantu mengatasi atau menghadapi stressor tersebut dan menganjurkan untuk berobat teratur. Keluarga pasien mendukung pasien untuk sembuh dengan memberikan dorongan dan semangat. Ketidakpatuhan terhadap pengobatan (putus obat 5 hari) .  Sosioterapi Memberikan penjelasan pada keluarga pasien dan orang sekitar pasien untuk memberikan dorongan dan menciptakan lingkungan yang kondusif. misalnya ikut membantu membersihkan rumah. PROGNOSIS Quo ad vitam : Ad bonam Quo ad functionam : Dubia Quo ad sanationam : Dubia Faktor pendukung: . o Konseling: membantu pasien untuk memahami penyakitnya.  Terapi keluarga Memberikan bimbingan kepada keluarga agar selalu berperan aktif dalam setiap proses penatalaksanaan pasien. . Cepat mendapat terapi Faktor penghambat . XII. o Ventilasi: memberikan kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaan dan keluhannya sehingga pasien merasa lega. bekerja di sawah. Skizofrenia katatonik memilik prognosis yang lebih baik . Onset usia muda . Efek samping obat juga diberitahukan kepada keluarga. Memberikan edukasi kepada keluarga agar dapat mengontrol sikap dan ucapan yang dapat menimbulkan stress pada pasien. Melibatkan pasien dalam kegiatan di luar rumah.

Terdapat masalah ekonomi karena pasien belum memiliki pekejaan dan penghasilan tetap. Premorbid:  Riwayat gangguan dalam keluarga  tidak ada : Baik  Status perkawinan Cerai hidup : Buruk  Dukungan keluarga  ada : Baik  Status ekonomi  Kurang : Buruk  Stressor  Jelas : Baik  Kepribadian premorbid Tidak ada : Baik B. dan pasien belum menikah dan tidak memiliki teman dekat. Pasien tidak dapat bersosialisasi baik dengan tetangga. A. . . . Stressor tidak jelas . Morbid  Onset usia  Muda : Buruk  Jenis penyakit  Psikotik : Buruk  Perjalanan Penyakit  Kronis : Buruk  Penyakit organik Tidak ada : Baik  Respon Terapi  Bagus : Baik  Kepatuhan minum obat  Tidak Teratur : Buruk Ad Vitam : Ad bonam Ad Fungsionam : Dubia ad malam Ad Sanationam : Dubia ad malam . Terdapat masalah psikososial karena pasien tidak dapat bersosialisasi baik dengan tetangga. Perjalanan penyakit sudah berlangsung lama (12 tahun). .

Related Interests