ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.

D DENGAN GANGGUAN
PERSEPSI HALUSINASI DENGAR AKIBAT SKIZOFRENIA
HEBEFRENIK DI RUANG ANGGREK
RUMAH SAKIT JIWA BANDUNG

KARYA TULIS

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Program
Pendidikan Diploma III Keperawatan di Politeknik Kesehatan Bandung
Program Studi Keperawatan Bandung

Disusun Oleh :
UTAN SUTANA
NIM : 111.020.48

DEPARTEMEN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN KEPERAWATAN
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN BANDUNG
2005

2

LEMBAR PENGESAHAN KARYA TULIS ILMIAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. D DENGAN GANGGUAN
PERSEPSI HALUSINASI DENGAR AKIBAT SKIZOFRENIA
HEBEFRENIK DI RUANG ANGGREK
RUMAH SAKIT JIWA BANDUNG

Disusun oleh :

Utan Sutana
NIM : 111 020 75

Telah Diuji Oleh Tim Penguji
Pada tanggal 10 September 2005

Ketua Penguji

Muryati, SKp, Ners
NIP : 140 262 222

Pembimbing Anggota Penguji

Muryati, SKp, Ners Hj. Endeh Nurgiwiati, SKM,MN
NIP : 140 262 222 NIP : 140 067 052

H. Usin Effendi,Drs, M.Kes
Nip : 140 047 106

Disahkan oleh :
Ketua Prodi Keperawatan Bandung

Hj. Endeh Nurgiwiati, SKM., MN
NIP : 140 067 052

3

Kesabaran Adalah Benteng Ketangguhan
Maka Bentengilah Jiwamu Dengan
Kesabaran
Sesungguhnya Kesabaran Adalah Gudang
Pembuka Jalan Dari Segala Kebuntuan

Janganlah Engkau Bersempit Diri
Dalam Menghadapi Segala Masalah
Sesungguhnya Mendung Akan Lenyap
Tanpa Tiupan Yang Kau Hembuskan

Terkadang Jiwa Goncang
Akibat Badai Kehidupan
Padahal Setiap Kesulitan
Sebenarnya Ada Kemudahan
Maka Janganlah Engkau Tertipu

Karya Tulis Ini Kupersembahkan Untuk
Keluarga Yang Kusayangi, Keponakan-
Keponakanku Yang Lucu-Lucu Dan Orang -
Orang Yang Selalu Memberikan Dukungan
Serta Spirit Dalam Hidupku. Semoga Allah
Senantiasa Memberikan Kita Kemudahan,
Amin......

1 gambar. 4 Utan. koping individu tidak efektif serta defisit perawatan diri. Untuk mengatasi hal tersebut Penulis melakukan koordinasi dengan perawat ruangan . September 2005 Utan Sutana. 107 halaman. Faktor pencetus disebabkan oleh biologis. D DENGAN GANGGUAN PERSEPSI HALUSINASI DENGAR AKIBAT SKIZOFRENIA HEBEFRENIK DI RUANG ANGGREK RUMAH SAKIT JIWA PUSAT BANDUNG viii. 111.02075 ABSTRAK ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN.7 %) dari 404 klien. hampir semua masalah teratasi. Metode penulisan yang digunakan yaitu deskriptif analitik dalam bentuk studi kasus. komunikasi inkoherensia.Sutana Politeknik Kesehatan Bandung Jurusan Keperawatan Program Studi Keperawatan Bandung Bandung. klien baru sebagian mengingat nama dan dosis obat dikarenakan daya ingatnya sudah menurun akibat usia yang sudah lanjut. IV bab. adanya perilaku regresi dan primitif. dan sering dijumpai waham serta halusinasi dan ini akan berpengaruh terhadap kebutuhan dasar manusia. menggunakan koping yang konstruktif dan meningkatkan motivasi perawatan diri. Tindakan yang dilakukan yaitu cara mengontrol halusinasi. 1 tabel. Dari hasil pengkajian didapatkan masalah dan dirumuskan kedalam diagnosa keperawatan yaitu resiko mencederai orang lain dan lingkungan. Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 5 hari. 8 lampiran Karya tulis ini dilatar belakangi oleh tingginya angka kejadian gangguan jiwa skizofrenia hebefrenik yaitu sebanyak 229 klien (56. Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah untuk mendapatkan pengalaman secara langsung dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi halusinasi akibat skizofrenia hebefrenik dengan menggunakan tahapan proses keperawatan. kecuali 5 prinsip benar dalam penggunaan obat. menarik diri secara ekstrim. Skizofrenia hebefrenik disebut juga skizofrenia disorganisasi dimana terjadi perubahan afek yang tidak sesuai. psikologis dan sosial budaya.

Desa Cinunuk Kecamatan Cileunyi. Bandung ( 1987 – 1993 ) 2. SDN Cinunuk V. PENGALAMAN KERJA 1. SPK Immanuel Bandung ( 1996 – 1999 ) 4. Banjaran ( 1999 – 2000 ) . Sutana Tempat tanggal lahir : Bandung. Kabupaten Bandung 40393 B. Politeknik Kesehatan Bandung Jurusan Keperawatan ( sedang dijalani ) C. 50. 5 untuk tetap memberikan motivasi cara minum obat yang benar sesuai dengn jadwal yang telah dibuat dengan klien. Balai Pengobatan. 22 Mei 1980 Jenis kelamin : Laki-laki Agama : Islam Alamat rumah : Jl. SMP Karya Budi. Bandung ( 1993 – 1996 ) 3. Raya Cinunuk RT 04/07 No. selain itu Penulis menyarankan mengenai penyediaan ruangan untuk kegiatan Mahasiswa guna memperlancar pelaksanaan asuhan keperawatan serta perlunya memfasilitasi setiap klien dengan peralatan kebersihan diri. Diploma III Keperawatan. BIODATA Nama : Utan. PENDIDIKAN 1. Daftar Pustaka : 12 Buku ( 1993 – 2004 ) DAFTAR RIWAYAT HIDUP A.

Sri Artini. Penulis dibantu oleh beberapa pihak baik yang terlibat secara secara langsung maupun tidak langsung. dengan mengambil judul : “Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn.. Dalam pembuatan karya tulis ini. Drg. Penulis ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada 1. D Dengan Gangguan Persepsi Halusinasi Dengar Akibat Skizofrenia Hebefrenik Di Ruang Anggrek Rumah Sakit Jiwa Bandung“. Endeh Nurgiwiati.. selaku Ketua Program Studi Keperawatan Bandung.Pd. Rumah Sakit Immanuel. sehingga Penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis ini sesuai waktunya. M. MN. 2. Bandung ( 2000 – 2002 ) KATA PENGANTAR Puji dan syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan ridha dan kasih sayangnya yang luar biasa. SKM. . selaku Direktur Politeknik Kesehatan Bandung. Hj. Hj. 6 2. Karya Tulis ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan Pendidikan Diploma III Keperawatan di Program Studi Keperawatan Bandung. Untuk itu pada kesempatan yang baik ini.

Teman – teman Angkatan 2002 yang telah banyak memberikan bantuan. terima kasih atas support yang telah kalian berikan. Kang Budi. Ibu. memberikan dukungan secara moril maupun materil selama Penulis kuliah. struktur kalimat maupun cara penulisannya. baik dari segi isinya. 7 3. Staf perpustakaan yang telah memfasilitasi Penulis dalam pembuatan karya tulis ini. Dalam pembuatan karya tulis ini.Ners. Muryati. bapak dan anggota keluargaku yang selalu mengirimkan doa. 6. Staf karyawan RSJ Bandung yang telah membantu Penulis dalam pelaksanaan Home Visite ke keluarga klien. tidak menutup kemungkinan ada kekurangannya. Kepala Ruangan Mawar beserta stafnya atas penyediaan ruangan selama melaksanakan ujian tahap akhir ini. S. Untuk itu Penulis mengharapkan masukan dan saran-sarannya yang sifatnya membangun bagi perbaikan untuk kedepannya . selaku Dosen pembimbing yang tidak pernah lelah dalam memberikan arahan dan bimbingan dalam penyusunan karya tulis ini. Nur. 5.Kep. Nuroniah anak 3 A yang telah memberikan pinjaman buku-buku keperawatan jiwanya kepada Penulis. Sohibku M. Wiel. support terhadap Penulis selama perkuliahan berlangsung. 11. Kang dadang. serta to all my friend 3B semoga kebersamaan dan silaturahmi tetap terjalin diantara kita 8. 4. Co-as Asep. Teman-teman satu kost : David. 9. 10. yang telah banyak membantu Penulis semoga segala kebaikanmu menjadi amal ibadah dan terjaga keikhlasannya. 7.

.................................... Latar Belakang Masalah ............................. Sutana DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR................................................. 5 D.............. vi DAFTAR GAMBAR................................................................................. 7 ........ Tujuan Penulisan................................ Semoga Allah SWT senantiasa menyertai kita....... 4 C............................................................................ Konsep Dasar Skizofrenia............................. i DAFTAR ISI.................. Bandung September 2005 Utan.... 8 Akhir kata besar harapan penulis mudah-mudahan pembuatan karya tulis ini dapat bermanfaat bagi Penulis dan umumnya bagi para pembaca semuanya...... Sistematika Penulisan......................................... iii DAFTAR TABEL..................................................................................................................... 5 BAB II TINJAUAN TEORI A............................................ Metoda Penulisan Dan Teknik Pengumpulan Data.................................... 1 B................... 7 1....................................................................................................................................................................... vii DAFTAR LAMPIRAN...................... Amin.............. viii BAB I PENDAHULUAN A.... Pengertian ...

.................................................................. Tahapan terjadinya halusinasi......................... Psikodinamika a......................................... 17 d........... Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Gangguan Persepsi Halusinasi Dengar Akibat Skizofrenia Hebefrenik 1............ 12 c.......... 7 b................ Skizofrenia............................................... Kebutuhan fisiologis.... Tanda dan gejala halusinasi dengar.............................. 14 3.......... 15 b... 47 4......................................................... 48 ................................... Kebutuhan cinta dan memiliki................................................................................................... Kebutuhan harga diri..................... 17 e..... 13 d..................... Rentang respon neurobiologist.................................. Pelaksanaan ..................... Dampak Halusinasi Dengar Akibat Skizofrenia Hebefrenik Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia a................................... Kebutuhan untuk aktualisasi diri............................................................ 10 b.. Kebutuhan rasa aman.................. 17 c............ Halusinasi.............. Skizofrenia Hebefrenik............................ 9 d............... 18 2............................................................... 32 3..................................................................... Perencanaan. Halusinasi dengar....................... 18 B...... 9 a........ Proses terjadinya gangguan persepsi halusinasi dengar akibat skizofrenia...................................................... Evaluasi........................................... 8 c. Pengkajian... 9 2.............

............................................... 90 B...................... Evaluasi ................................ Tinjauan kasus...................................................................... Perencanaan .............. 50 1........................... 10 BAB III TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN A......... Pelaksanaan .................................................. 66 4.................. Pengkajian... Saran............ 50 2........................... Pembahasan....................... 103 BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN A................................................. 102 4.......... Perencanaan.105 B......... Pengkajian.................................................................................................................................................................................... 101 3................................... Kesimpulan.............................................................................. Pelaksanaan.................. Evaluasi................................. 93 2................. ............................................................................................................................................................. 107 DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN .... 66 3................................................... 93 1.......................................................................................

............. 11 DAFTAR TABEL Table 1 : Distribusi Klien Skizofrenia Yang Dirawat Di Rumah Sakit Jiwa Bandung Periode Januari – Juli 2005.. 30 ..................... 2 Tabel 2 : Jenis Obat Psikofarmaka Yang Beredar Di Indonesia........................................

.............. 10 ................................. 12 DAFTAR GAMBAR Gambar 1 : Rentang Respon Neurobiologis........

13 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 : Proposal Terapi Aktivitas Kelompok ( TAK ) Lampiran 2 : Hasil Terapi Aktivitas Kelompok Lampiran 3 : Pre Planning Home Visite Lampiran 4 : Hasil Home Visite Lampiran 5 : Materi Cara Membantu Klien Dalam Mengendalikan/Mengontrol Halusinasi Lampiran 6 : Materi Penggunaan Obat Psikofarmaka Lampiran 7 : Surat Tugas Home Visite Lampiran 8 : Leaflet .

Dalam memenuhi kebutuhan dasar tersebut sangat dipengaruhi oleh keadaan sehat dan sakit. tetapi bagi individu yang tidak mampu . LATAR BELAKANG Manusia merupakan mahluk bio-psiko-sosio-spiritual yang mempunyai sejumlah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Bagi individu yang mampu menyesuaikan diri terhadap situasi yang dihadapi. 14 BAB I PENDAHULUAN A. maka ia akan mencapai kesehatan yang optimal.

Karena itu penyebab timbulnya gangguan jiwa bersifat multifaktorial. kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan terutama karena waham dan halusinasi (Maramis : 1998 : 766). termasuk kesehatan jiwa. intelektual. Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik.F. Kesehatan jiwa ini merupakan salah satu unsur kesehatan Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang yaitu: kondisi fisik ( organo biologik ).W. Ketiga faktor tadi saling mempengaruhi. Gangguan jiwa atau gangguan mental adalah seseorang dengan proses psikologik atau mentalnya tidak berfungsi dengan baik. maka faktor yang lainpun akan ikut terganggu. sehingga mengganggunya dalam fungsi sehari-hari dan oleh karenanya menyukarkan diri sendiri dan atau orang lain disekitarnya ( Maramis. Salah satu jenis gangguan jiwa yang sering ditemukan yaitu Skizofrenia. 1998 : 736 ). afektif / emosi. 15 menyesuaikan diri akan mengalami gangguan kesehatan. jika salah satu faktor terganggu. dimana gangguan jenis ini termasuk ke dalam golongan psikosa non organik. . kondisi perkembangan mental-emosional (psiko-edukasi) dan kondisi lingkungan. dan emosi seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang-orang lain. Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan utama pada proses berpikir serta disharmoni antara proses pikir.

gelisah sampai perilaku yang bisa membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain. 16 Berdasarkan dari hasil catatan Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Pusat Bandung. Isi halusinasi dapat berupa ancaman.7 % . Sering ditemukan klien menunjukan kondisi yang panik. .7 2 Skizofrenia paranoid 143 54. Hal ini merupakan suatu permasalahan bagi petugas kesehatan khususnya bagi perawat untuk bisa melakukan asuhan keperawatan yang komprehensif dan profesional dalam mengatasi gejala dan masalah yang ditimbulkan oleh skizofrenia hebefrenik.9 JUMLAH 404 100 % Sumber : Rekam Medik RSJ Bandung Periode Januari – Juli 2005 Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa klien yang didiagnosa skizofrenia hebefrenik berada pada urutan pertama dari 5 jenis skizofrenia yaitu sebanyak 229 orang atau 56.5 5 Skizofrenia katatonik 8 1.5 4 Skizofrenia residual 10 2.4 3 Skizofrenia tidak tergolongkan 14 3. terdapat sekitar 404 klien yang sudah dirawat dengan berbagai jenis gangguan skizofrenia. Gejala yang mencolok dari skizofrenia hebefrenik ini yaitu adanya gangguan proses fakir. periode bulan Januari sampai Juli 2005. perilaku kekanak-kanakan disertai adanya waham dan halusinasi. Untuk lebih jelasnya lagi dapat dilihat pada tabel berikut ini Tabel 1 Distribusi Klien Skizofrenia Yang Dirawat Di Rumah Sakit Jiwa Bandung Periode Januari – Juli 2005 No Jenis Gangguan Jiwa Jumlah Prosentase (%) 1 Skizofrenia hebefrenik 229 56. Ini biasanya disebabkan oleh halusinasi yang sudah menguasi dan mengontrol klien. gangguan kemauan.

yaitu melalui asuhan keperawatan secara komprehensif serta meliputi bio-psiko-sosio-spiritual. Gejala yang ditimbulkan oleh skizofrenia tersebut akan mempengaruhi sikap dan perilaku klien. diperlukan suatu penanganan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien. atau ejekan. rasa aman dan nyaman. penulis merasa tertarik untuk melakukan asuhan keperawatan pada klien dengan skizofrenia hebefrenik dan menuangkannya dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN TN. harga diri. Tujuan Umum Dapat melaksanakan Asuhan Keperawatan secara langsung dan holistik yang meliputi bio-psiko-sosio-spiritual pada klien dengan gangguan persepsi : halusinasi dengar akibat Skizofrenia hebefrenik dengan menggunakan pendekatan Proses Keperawatan 2. sehingga berdampak negatif terhadap kebutuhan dasar manusia yang meliputi kebutuhan secara fisiologis. Berdasarkan hal tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut. serta aktualisasi diri. 17 perintah. . Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan gangguan persepsi : halusinasi dengar akibat Skizofrenia hebefrenik. Tujuan Khusus a. D DENGAN GANGGUAN PERSEPSI : HALUSINASI DENGAR AKIBAT SKIZOFRENIA HEBEFRENIK DI RUANG ANGGREK RUMAH SAKIT JIWA BANDUNG” B. TUJUAN PENULISAN 1. cinta dan memiliki.

Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan gangguan persepsi : halusinasi dengar akibat Skizofrenia hebefrenik. Mampu melaksanakan pendokumentasian Asuhan Keperawatan yang telah dilaksanakan. e. g. yaitu dengan: 1. METODA PENULISAN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA Metoda yang digunakan dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah dengan metoda deskriptif analitik melalui studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan. c. Sedangkan teknik yang digunakan dalam pengumpulan data. Wawancara . d. Mampu mengelompokan data. Mampu membuat perencanaan keperawatan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang dirumuskan. 18 b. Mampu menganalisa kesenjangan serta permasalahan yang ada di teori dengan kenyataan dilapangan serta memberikan alternatif pemecahan masalah. f. membuat analisa data serta menarik kesimpulan dalam rumusan diagnosa keperawatan yang timbul pada klien dengan gangguan persepsi : halusinasi dengar akibat Skizofrenia hebefrenik. Mampu melakukan evaluasi keperawatan terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan pada klien dengan gangguan persepsi : halusinasi dengar akibat Skizofrenia hebefrenik. C.

tujuan penulisan. 19 Yaitu cara pengumpulan data dengan melakukan komunikasi verbal terhadap klien. palpasi. Dampak halusinasi dengar akibat . 4. 3. SISTEMATIKA PENULISAN Sistematika dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN Terdiri dari latar belakang masalah. Studi dokumentasi Yaitu pengumpulan data melalui catatan dan arsip status klien. metoda penulisan dan sistematika penulisan BAB II : TINJAUAN TEORITIS Terdiri dari konsep dasar yang berisi pengertian skizofrenia. perkusi dan auskultasi. halusinsi pendengaran. skizofrenia hebefrenik. Psikodinamika yang berisi rentang respon neurobiologis. Observasi Yaitu mengamati perilaku klien baik verbal maupun non verbal. keluarga klien serta perawat ruangan 2. Tehnik yang digunakan dalam pemeriksaan fisik yaitu inspeksi. D. tahapan terjadinya halusinasi serta tanda dan gejala halusinasi dengar. proses terjadinya halusinasi dengar akibat skizofrenia hebefrenik. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik adalah memeriksa tubuh dengan atau tanpa alat untuk tujuan mendapatkan informasi / data yang menggambarkan kondisi klien sesungguhnya. halusinasi.

perencanaan. Pengertian a. Alih bahasa Hartanto. halusinasi). BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN Meliputi kesimpulan akhir dari keseluruhan kegiatan asuhan keperawatan serta saran dari penulis terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan kepada berbagai pihak. KONSEP DASAR 1. 20 skizofrenia hebefrenik terhadap kebutuhan dasar manusia. BAB III : TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN Terdiri dari pengkajian. afek (tumpul. datar. pelaksanaan dan evaluasi keperawatan pada kasus nyata dan pembahasan mengenai kesenjangan antara teori dengan kenyataan dilapangan serta alternatif pemecahan masalahnya. BAB II TINJAUAN TEORITIS A.H. pelaksanaan dan evaluasi. perencanaan. sensasi diri sendiri dan hubungan dengan dunia luar dan perilaku (Dorlan. Konsep dasar asuhan keperawatan pada gangguan persepsi halusinasi dengar akibat skizofrenia yang terdiri dari pengkajian. Skizofrenia Skizofrenia adalah gangguan mental atau kelompok gangguan mental heterogen yang terdiri dari sebagian besar psikotik mayor yang ditandai dengan terganggunya bentuk dan isi pikir (delusi. 2002 : 1950 ) . efek tak sesuai).

dan sebagainya. perilaku yang aneh. Gejala prodromal ini ini sering kali tersamar dan tidak disadari oleh anggota keluarga lainnya. alam perasaan dan perilaku. D. ketegangan afek/emosional. perilaku psikomotor dan kemampuan untuk menetapkan hubungan interpersonal yang memuaskan (Townsend. Tetapi dapat diketahui dengan menggunakan pendekatan holistik yaitu dari sudut organobiologik. 2001: 40 ) . dan baru 6 bulan kemudian gangguan jiwa skizofrenia ini muncul secara klinis nyata. psikososial dan psikoreligius (Hawari. Gangguan jiwa Skizofrenia biasanya mulai muncul dalam masa remaja atau dewasa muda (sebelum usia 45 tahun ). perasaan yang tidak wajar. afek/emosi yang tidak sesuai. 1998 : 143 ) Dari kedua definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa dengan gejala utama adanya gangguan isi dan bentuk pikir. kemauan. 21 Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang terdiri dari suatu kelompok sindrom klinis yang dinyatakan dengan kelainan dalam isi dan organisasi pikiran. Seseorang dikatakan menderita Skizofrenia apabila perjalanan penyakitnya sudah berlangsung lewat 6 bulan. persepsi. identitas. psikodinamik. Mekanisme terjadinya Skizofrenia tidak ada satu faktor tunggal yang menyebabkannya. mengalami ketegangan emosional. persepsi masukan sensori. kemauan. yaitu kekacauan dalam alam pikir. misalnya pikiran tidak rasional. perilaku psikomotor dan terganggunya kemampuan untuk membina hubungan dengan lingkungannya. alih bahasa Daulima. Sebelumnya didahului oleh gejala-gejala awal ( fase prodromal ) yang ditandai dengan munculnya gejala-gejala yang tidak lazim.

D. adanya perilaku regresi dan primitif. dapat ditarik kesimpulan bahwa skizofrenia hebefrenik disebut juga skizofrenia disorganisasi dimana terjadi perubahan afek yang tidak sesuai. meringis. Halusinasi “ Halusinasi ialah pencerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indera seorang pasien. dengan karakteristik umum wajah dungu. tertawa-tawa aneh. Komunikasi inkoheren secara konsisten (Towsend. serta umumnya mannerisme. dan sering dijumpai waham serta halusinasi. Dari kedua definisi diatas. . komunikasi inkoherensia. merupakan perilaku khas regresi dan primitif.C. c. Skizofrenia hebefrenik disebut juga skizofrenia disorganisasi. 22 b. 2001 : 44 ) Halusinasi ini merupakan salah satu gangguan persepsi yang sering muncul pada klien dengan skizofrenia dan pada psikosa fungsional lainnya. dasarnya mungkin organik. Afek tidak sesuai. mood yang dangkal dan tidak wajar (Depkes RI. perilaku yang tak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan.M. dan secara umum dijumpai waham dan halusinasi yang bersifat mengambang serta terputus-putus (fragmentary). 1998 : 143 ). yang terjadi dalam keadaan sadar/bangun. dan menarik diri secara ekstrim. psikotik atau histerik” (Maramis.1998 : 119) “ Halusinasi yaitu pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan (stimulus) “ ( Hawari. Skizofrenia Hebefrenik Skizofrenia hebefrenik merupakan suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan afektif yang tampak jelas. fungsional. 1993 : 111 ). menarik diri secara ekstrim.

Rentang respon neurobiologis . Psikodinamika a. Halusinasi ini merupakan bentuk gangguan persepsi. oleh gangguan jiwa ( emosi tertentu dapat mengakibatkan ilusi.” (Mc. 1990 : 343) Yang artinya persepsi suara atau bunyi yang tidak ada hubungannya dengan stimulus. keracunan. Halusinasi Dengar Halusinasi pendengaran yaitu klien mendengar suara atau bunyi yang tidak ada hubungan dengan stimulus yang nyata / lingkungan. 23 d. 2. Dengan kata lain orang yang berada disekitar klien tidak mendengar suara atau bunyi yang didengar klien ( Depkes RI.Farland. serta orang lain yang ada disekitarnya tidak mendengarnya. 1998 : 119 ). Dari kedua pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa halusinasi pendengaran adalah persepsi klien terhadap lingkungan sekitar tanpa adanya rangsangan/tidak ada sumber suara. 2000 : ) “ Auditory Perception of sound or Voices in absence of corresponding stimuly. psikosa dapat menimbulkan halusinasi ) atau oleh pengaruh lingkungan sosiobudaya yang dapat mempengaruhi persepsi karena penilaian yang berbeda dari orang dan dari lingkungan sosiobudaya yang berbeda pula sehingga menyebabkan kecemasan ( Maramis. dapat timbul pada skizofrenia dan pada psikosa fungsional lainnya yang dapat disebabkan oleh gangguan otak ( karena kerusakan otak. obat halusinogenik ).

alih bahasa Hamid. persepsi akurat.Kelainan kadang terganggu pikiran/delusi . Perilaku ganjil Ketidakteraturan Hubungan sosial . - Emosi konsisten Reaksi emosional Ketidakmampuan dengan pengalaman berlebihan/kurang untuk mengalami . perilaku individu yang sesuai. emosi Perilaku sesuai . dengan kata lain individu tersebut masih dalam batas-batas normal dalam menyelesaikan masalahnya. . - . . 24 Rentang respon neurobiologist individu berada dalam rentang adaptif sampai dengan maladaptif seperti yang digambarkan di bawah ini. 1998 : 302 ) Respon adaptif adalah respon individu dalam penyelesaian masalah yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya yang umum berlaku. . - Menarik diri Isolasi sosial Gb. emosi konsisten dengan pengalaman. - Pikiran logis Proses pikir kadang. Respon ini meliputi pikiran logis. . Respon Adaptif Respon Maladaptif . 1. - Persepsi akurat Ilusi Halusinasi . 2000 : 115 ). Rentang Respon Neurobiologis ( Stuart dan Sundeen. dan hubungan sosial yang baik (Depkes RI.

25 Jika pada tahap respon adaptif individu tidak bisa beradaptasi. 3) Reaksi emosional yang diekpresikan baik secara berlebihan atau kurang dengan sikap yang tidak sesuai. 1998 : 120 ). maka kemungkinan akan jatuh ke tahap awal rentang respon maladaftif antara lain : 1) Proses berpikir kadang-kadang sudah terganggu 2) Mengalami ilusi yaitu interpretasi atau penilaian yang salah tentang pencerapan yang sungguh terjadi . respon maladaftip neurobiologi meliputi 1) Kelainan pikiran / delusi yaitu merupakan ketidakmampuan individu memproses stimulus internal dan eksternal secara adekuat. 4) Berperilaku yang ganjil / tidak wajar 5) Menarik diri dari lingkungan sekitar Respon maladaptif adalah respon individu dalam penyelesaian masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial dan budaya lingkungannya. karena rangsangan pada panca indera (Maramis. 2) Halusinasi yaitu individu menginterpretasikan sesuatu yang tidak ada stimulus dari lingkungan. 3) Ketidakmampuan untuk mengalami emosi yaitu dimana individu sering mengalami emosi yang berkaitan dengan kesulitan yang disebabkan oleh penyakit mereka seperti frustrasi dlam mengatasi rintangan untuk mencapai tujuan personalnya .

dan tampak tidak kenal dengan orang lain. Proses terjadinya gangguan persepsi halusinasi dengar akibat skizofrenia Seseorang dapat mengalami konflik kejiwaan yang bersumber dari konflik internal ( dunia dalam ) dan konflik eksternal ( dunia luar ). proyeksi atau regresi. Sebagai kelanjutannya individu akan menarik diri. individu cenderung untuk menggunakan koping yang destruktif. Tidak semua orang mampu menyelesaikan konflik yang dialaminya. 1998 : 152) b. Hal ini tentu akan menjadi stressor yang dapat meningkatkan kecemasan serta menurunkan kemampuan individu dalam mengahadapi dan menyelesaikan masalah. kesukaran mengelola. termasuk sistem limbik. diantaranya dapat berupa supresi. maka akan berkelanjutan dan jatuh ke dalam keadaan frustrasi yang mendalam. sehingga terjadi pengeluaran zat-zat yang bersifat halusinogenik melalui sistem limbik yaitu dopamin neurotransmiter. Otak akan merangsang basal ganglia. 5) Isolasi sosial yaitu suatu keadaan kesepian yang dialami oleh seseorang karena orang lain menyatakan sikap yang negatif dan mengancam (Townsend. ini juga tergantung dari koping yang digunakan. Jika konflik tersebut tidak terselesaikan. alih bahasa Hamid. Dengan adanya kecemasan dan ketegangan yang terus menerus akan mengganggu metabolisme tubuh terutama didaerah otak. . membingungkan. 26 4) Ketidakteraturan yaitu perilaku yang aneh. melamun (day dreaming ). tidak enak dipandang. Setelah melewati ambang batas adaptasi. korteks frontalis dan basal ganglia.

2001 : 39. Tahapan terjadinya halusinasi Dibawah ini merupakan tahapan terjadinya halusinasi (Stuart & Sundeen. dan takut   Menggerakan bibirnya Secara umum Mencoba untuk memusatkan tanpa menimbulkan halusinasi pada penenangan pikiran suara bersifat  untuk mengurangi ansietas menyenangkan  Gerakan mata yang cepat Individu mengetahui bahwa  pikiran dan sensori yangRespon verbal yang dialaminya tersebut dapat lamban dikendalikan jika ansietasnya  bisa diatasi. kesepian. Stuart & Sundeen. Diam dan dipenuhi oleh sesuatu yang mengasyikan Tahap II    Pengalaman sensori bersifat Peningkatan system Menyalahkan menakutkan syaraf otonom yang   menunjukan ansietas Secara umum Kehilangan kendali  halusinasi  Perhatian dengan menjijikan Berusaha untuk menjauhkan lingkungan berkurang dirinya dari sumber yang  dipersepsikan Konsentrasi terhadap  pengalaman sensori Individu mungkin merasa malu  . yang tidak sesuai nyaman  merasa bersalah. 27 berfantasi. AY. c. hidup dalam dunianya sendiri yang lama-kelamaan timbulah gejala-gejala berupa halusinasi. 1998 : 328 ). salah satunya adalah halusinasi dengar. Dalam keadaan seperti ini individu tidak tidak lagi mampu menilai realitas ( Reality Testing Ability ) dan pemahaman diri yang buruk ( Hawari. 1998 : 328) sebagai berikut : Perilaku klien yang Tahapan Karakteristik teramati 1 2 3 Tahap I    Mengalami keadaan emosi Menyeringai atau tertawa Memberikan rasa seperti ansietas. D. alih bahasa Hamid.

Klien sudah jika individu tidak mengikuti  dikuasai oleh perintah Sangat potensial halusinasi  mencederai diri sendiri  Halusinasi bisa berlangsung atau orang lain Halusinasi menjadi dalam beberapa jam atau hari  lebih rumit dan apabila tidak ada intervensi Kegiatan fisik yang saling terkait terapetik merefleksikan isi dengan waham halusinasi : amuk.. tremor. menarik ddiri  Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks d. Tahap III    Klien menyerah dan Lebih cenderung Halusinasi membiarkan halusinasi mengikuti petunjuk mengontrol menguasainya halusinasi    Pengalaman Isi halusinasi menjadi aktraktif Kesulitan berhubungan halusinasi tidak  dengan orang lain dapat ditolak Individu mengalami kesepian  lagi jika pengalaman sensori Perhatian terhadap berakhir lingkungan kurang hanya beberapa menit atau detik  Ketidak mampuan mengikuti petunjuk. 1998 : 156) . 28 1 2 3 karena pengalaman Kehilangan kemampuan sensorinya dan menarik diri untuk membedakan dari orang lain halusinasi dengan realitas. Tahap IV    Pengalaman sensori menakutkan Perilaku menyerang. Townsend. agitasi. berkeringat. 1998 : 306 . Tanda dan gejala halusinai dengar Tanda-tanda dan gejala halusinasi dengar yang dapat diamati melalui perilaku klien adalah sebagai berikut (Stuart & Sundeen.

Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab suara. Bersikap seperti mendengarkan sesuatu (memiringkan kepala ke satu sisi seperti jika seseorang sedang mendengarkan ) 7). Kebutuhan fisiologis 1). Konsentrasi rendah 9). Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang sedang tidak berbicara atau kepada benda mati seperti mebel 3). 3. 5). Terlibat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak tampak 4). hewan atau mesin. Impuls . Dampak Halusinasi Dengar Akibat Skizofrenia Hebefrenik Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia a. 29 1). Suara-suara yang didengar dapat berupa suara manusia. salah satunya merangsang saraf simpatis yang menyebabkan terjadinya rangsangan mekanis dari reseptor-reseptor di dinding lambung. Berhenti berbicara di tengah-tengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu 8). barang. Melirikan mata kekiri dan kekanan seperti mencari siapa atau apa yang sedang berbicara 2). kejadian alamiah dan musik. Kebutuhan nutrisi Biasanya klien dengan keadaan cemas akan mempengaruhi sistem tubuh. Berbicara dan tertawa sendiri 6).

kemudian impuls merangsang hormon gastrin yang akan memrpengaruhi kelenjar lambung untuk memproduksi HCL. 1995 : 376 ). 30 berjalan melalui aferen vagus menuju medula dan kembali ke lambung melalui eferen vagus. Kebutuhan istirahat tidur Klien biasanya mengalami gangguan dalam kebutuhan istirahat tidur karena klien sangat terfokus terhadap halusinasinya. Perawatan diri dan aktifitas sehari-hari Klien yang mengalami halusinasi dengar akan mengalami kesulitan dan penurunan aktifitas serta berkurangnya minat untuk melakukan perawatan diri karena perhatiannya terganggu oleh halusinasi. Bila halusinasinya sudah menguasai dan mengontrol maka klien akan mengalami ketegangan dan kecemasan yang akan merangsang Reticular Activiting System ( RAS ). 1995:175) 3). alih bahasa Daulima. sehingga terjadi peningkatan HCL lambung. Terjadilah rangsangan sensorik ke korteks cerebri dan mempersepsikan rasa kenyang. Selain itu akibat efek samping dari obat antipsikotik yaitu mual dan muntah sehingga dapat mengganggu asupan nutrisi (Rasmun. akibatnya klien akan terjaga dan kesulitan untuk tidur. (Townsend. Sylvia. A. 2001 : 91) 2). Selain itu obat anti psikotik dan anti parkinson memiliki efek samping mengantuk”. . hal ini akan menekan pusat lapar sehingga keinginan untuk makan menurun ( Price.

c. Eliminasi Klien cenderung menarik diri. 5). Kebutuhan Akan Harga Diri Klien dengan halusinasi cenderung tidak mampu melaksanakan fungsi perannya dengan baik. Kebutuhan Cinta dan Memiliki Klien kadang bisa berperilaku agresif. aktifitas yang berkurang. Selain itu. Kebutuhan Rasa Aman Klien sering mengalami kecemasan akibat ancaman atau perintah-perintah dari isi halusinasi tersebut yang dapat membahayakan dirinya. atau menarik diri. keselamatan orang lain dan lingkungan dapat terancam bila isi halusinasi yang menyuruh klien melakukan tindakan kekerasan atau bunuh diri. Selain itu isi atau perintah dari halusinasi juga dapat membuat klien melakukan penyimpangan seksual. 1998 : 168 ) b. Seksual Klien dengan halusinasi sering tidak memperhatikan keadaan lingkungan sekitar. menarik diri. sehingga frekuensi peristaltik usus menurun dan terjadi konstipasi. sehingga mengalami kesulitan menjalin hubungan cinta dan rasa memiliki baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekitarnya d. sehingga klien mengalami kesulitan untuk membina hubungan dengan lawan jenis secara wajar. Selain itu juga efek dari obat- obat antipsikotik dapat menyebabkan kesulitan dalam defekasi dan miksi. 31 4). Didasari oleh kegagalan dalam waktu yang lama dan . hiperaktif. Efek dari antikolinergik dapat menyebabkan penurunan libido dan ginekomastia pada pria ( Townsend.

Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar dari proses keperawatan. analisa data dan perumusan diagnosa keperawatan ( Keliat. pekerjaan. Pengumpulan data 1). maka aktualisasi dirinya tidak akan tercapai. nomor medrek. umur. sosial. status marital. Biodata / identitas a) Identitas klien meliputi : Nama. jenis kelamin. psikologis. pendidikan. diagnosa medis dan . tanggal masuk rumah sakit. suka mengkritik diri sendiri serta tidak mengakui kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan Untuk Aktualisasi Diri Halusinasi yang disebabkan oleh harga diri yang rendah. 32 rasa tidak percaya. dan spiritual yang diuraikan sebagai berikut : a. sehingga klien cenderung memiliki harga diri rendah. agama. Klien juga sering tidak acuh terhadap keadan diri sendiri dan lingkungannya. sehingga usaha untuk mencapai aktualisasi diri sering diabaikan. suku bangsa. B. Data yang dikumpulkan meliputi data biologis. Tahap pengkajian terdiri dari pengumpulan data. e. dkk 1999 : 3 ). KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN PERSEPSI HALUSINASI DENGAR AKIBAT SKIZOFRENIA HEBEFRENIK 1.

Agama dan suku bangsa untuk mengetahui norma dan nilai yang dianut oleh klien. untuk menentukan cara penyampaian dalam berkomunikasi. untuk mengetahui klien berada pada golongan usia sesuai dengan tahap perkembangan. untuk menentukan tempat ruang perawatan serta mengetahui norma dan nilai. Pekerjaan. karena dimasa itu individu menghadapi banyak konflik. dapat diketahui jenis gangguan jiwa yang dialami klien. Alamat klien dikaji untuk mengetahui letak wilayah tempat tinggal klien. Pendidikan. umur. Status marital. 2) Alasan masuk rumah sakit dan faktor presipitasi Kaji apa yang menyebabkan klien atau keluarga datang ke rumah sakit. Diagnosa medis. dan mengenal nama merupakan dasar untuk menjalin hubungan terapetik. Jenis kelamin.dapat diketahui sudah berapa lama klien dirawat. pendidikan. agama. merupakan identitas satu-satunya yang membedakan antar klien. jenis kelamin. dapat diketahui lingkungan tempat bekerja klien apakah kondusif atau tidak. Nomor medrek. Tanggal masuk RS. apakah lingkungannya penuh dengan sumber stressor atau tidak. Pada umumnya klien dibawa ke rumah sakit oleh keluarga karena adanya . pekerjaan. b) Identitas penanggung jawab meliputi : Nama. hubungan dengan klien serta alamat. Umur. serta untuk surveilence.biasanya ditemukan pada individu yang masih muda serta belum menikah. dukungan serta perencanaan klien pulang ). 33 alamat klien. Ini dikaji untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap klien ( biaya. Nama merupakan identitas yang membedakan klien yang satu dengan klien lainnya.

amuk. sedangkan pada tahap lanjut akan tampak panik. Beberapa kimia otak dikaitkan dengan skizofrenia diantaranya terjadinya peningkatam dopamin yang berlebihan. misalnya lingkungan yang penuh dengan kritik. pikiran yang tidak rasional. ketidakseimbangan antara dopamin dan neurotransmiter lain dan adanya masalah pada sistem reseptor dopamin. Secara umum faktor pencetus disebabkan oleh stressor biologis dan sosial budaya (Stuart dan Sundeen. temporal dan limbik paling berhubungan dengan perilaku psikotik. b) Sosiobudaya Faktor-faktor sosiobudaya yang ada di masyarakat memungkinkan individu mengalami stress dan tekanan sehingga menyebabkan terjadinya respon neurobiologis yang maladaptif. berbicara ngaco. kerusakan dalam hubungan interpersonal. 1998 : 305) a) Stressor biologis Adanya abnormalitas otak dapat menyebabkan halusinasi. tekanan dalam pekerjaan dan kemiskinan. kehilangan harga diri. 34 gejala-gejala yang tampak yaitu pada tahap awal klien terlihat tertawa sendiri. Teori ini mengatakan stres yang menumpuk dapat menunjang terjadinya psikotik. alih bahasa Hamid. . misalnya lesi pada area frontal. Faktor presipitasi yaitu penyebab utama yang dapat mencetuskan gangguan jiwa.

1998 : 146 ) menyebutkan ada beberapa teori tentang faktor predisposisi ini. hubungan interpersonal. serta hasil tindakan dan pengobatan apa yang sudah dilakukan. Hartman (1964) dalam Towsend (1998). gejalanya bagaimana. menyebutkan bahwa faktor genetik sangat berperan terhadap terjadinya kelainan psikosis. konflik suami-istri dimana akan mempengaruhi anak. Kelainan Skizofrenia mungkin merupakan suatu kecacatan sejak lahir yang terjadi pada hipokampus otak. Penelitian Heston (1977) menyebutkan bahwa faktor genetik sangat berperan dalam terjadinya kelainan psikosis. Individu yang memiliki anggota keluarga yang mengalami kelainan psikosis cenderung mengalami hal yang sama. Teori psikososial. Townsend ( alih bahasa Daulima. menegaskan psikosis adalah hasil dari suatu ego yang lemah serta perkembangan yang dihambat oleh suatu hubungan saling mempengaruhi antara orang tua – anak. disebabkan oleh berbagai konflik yang timbul dari lingkungan keluarga. kapan mulai terjadinya. Adapun pengkajian faktor predisposisi ini meliputi : a) Riwayat gangguan jiwa sebelumnya Kaji apakah klien mempunyai riwayat gangguan jiwa sebelumnya. Kelemahan ego ini menyebabkan anak tidak mampu menggunakan pertahanan ego yang adaptif saat kecemasan ekstrim terjadi. yaitu teori biologis. 35 3) Faktor predisposisi Yaitu merupakan faktor-faktor pendukung yang dapat menyebabkan gangguan skizofrenia. .

asma. d) Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan Pengalaman yang tidak menyenangkan pada masa lalu seperti kehilangan orang yang dicintai. saudara kandung ). apakah individu tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya dan bagaimana penyelesaiannya serta peran dari keluarga. Individu yang tidak bisa melewati . seperti DM. kehilangan pekerjaan. penyakit infeksi. gejala dan pengobatan yang sudah dilakukan. e) Riwayat trauma selama tumbuh kembang Riwayat tumbuh kembang klien mulai dari masa didalam kandungan hingga kondisi klien saat ini.trauma kepala. Hasil penelitian Heston (1977) dalam Townsend (1998) menyebutkan bahwa individu-individu yang berada pada resiko tinggi terhadap kelainan skizofrenia adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang tua. kanker serta penyakit-penyakit yang kronis biasanya akan memicu terjadinya stress pada seseorang yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan. apakah pada tahap-tahap perkembangannya pernah mengalami gangguan kejiwaan. c) Riwayat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa Kaji adakah dari keluarga klien yang mengalami gangguan jiwa atau tidak. mengalami kegagalan dalam hidup serta tidak tercapainya ideal diri merupakan stressor psikologis bagi klien yang dapat mengakibatkan gangguan jiwa. 36 b) Riwayat penyakit fisik Tanyakan pada keluarga dan klien apakah pernah atau sedang mengalami sakit secara fisik. Kapan terjadinya.

37 setiap perubahan fase-fase perkembangannya atau mengalami trauma selama tumbuh kembang dapat menjadi faktor predisposisi timbulnya gangguan jiwa. (5). rambut serta kuku yang panjang dan kotor karena kurangnya minat dan perhatian dalam .Sistem gastrointestinal Umumnya terjadi gangguan pemenuhan nutrisi. nafsu makan menurun. Adanya ketakutan dan kecemasan akibat halusinasi dapat meningkatkan frekuensi nafas. (4). mual dan muntah serta konstipasi sebagai efek obat antikolinergik (Trihexyphenidyl). Bibir kering. otot leher kaku. haloperidol) (2). ditemukan kulit yang kotor. (3). kecuali bila sebelumnya ada keluhan.Sistem integument Biasanya kebersihan kurang. kelemahan otot. hal ini dikarenakan klien klien merasa asyik atau bahkan ketakutan dengan halusinasinya.Sistem respirasi Biasanya tidak terdapat gangguan pernafasan. sebagai efek samping obat anti psikotik.Sistem muskuloskeletal Pergerakan klien kaku dan lambat. 4) Pengkajian fisik a) Pemeriksaan persistem (1) Sistem kardiovaskuler Tekanan darah dan nadi meningkat karena kecemasan dan dapat terjadi hipotensi dan takikardia sebagai efek dari obat anti psikotik (Clorpromazine.

Sistem endokrin Biasanya tidak ditemukan adanya kelainan. 1998 : 168) (9). sebagai efek obat anti psikotik. (8).tremor. (7).Sistem urogenital Mungkin ditemukan perubahan pola BAK seperti retensi urin sebagai efek obat anti psikotik (Clorpromazine. Klien dengan Skizofrenia yang menggunakan therapi antipsikosis dan antiparkinson dapat ditemukan ruam kulit ( Townsend. rigiditas. ginekomastia akibat efek hormonal (Townsend. haloperidol) namun hal ini jarang terjadi. 38 perawatan diri.Sistem persyarafan Dapat ditemukan gejala ekstrapiramidal seperti sindrom parkinson yaitu bradikinesia. . 1998 : 167 ). (10). Warna urin dapat berubah menjadi merah muda atau coklat kemerahan dan hal ini tidak lah terlalu bermakna. tetapi pada persepsi mengalami gangguan dan sebagai efek anti psikotik dapat menyebabkan pandangan kabur. (6).Sistem reproduksi Bisa terjadi amenorea pada wanita dan penurunan libido.Sistem panca indera Pada klien halusinasi dengar secara fisik tidak mengalami gangguan.

(5) Aktivitas motorik Klien tampak gelisah. bisa terlihat mondar-mandir terus. apalagi jika klien sedang mengalami halusinasi (4) Cara bicara Bicara klien lambat. . tidak sesuai karena klien kurang minat untuk melakukan perawatan diri (2) Sikap tubuh Sikap tubuh klien tidak biasa diam. tidak mau duduk. b) Interaksi selama wawancara Pada umumnya klien kurang kooperatif selama wawancara. 39 b) Kebutuhan istirahat tidur Klien tidak dapat tidur karena perasaan cemas akibat halusinasinya yang berdampak pada perangsangan sistem RAS. berkelakar. kadang bernada keras jika sedang mengalami halusinasi yang isinya yang menyuruhnya marah. 5) Status Mental a) Penampilan (1) Berpakaian Penampilan diri tidak rapih. misalnya menyeringai sendiri. (3) Kontak mata Kontak mata biasanya kurang begitu kuat. Sebaliknya klien akan banyak tidur apabila mendapat obat sedatif. biasanya akibat ketegangan dan perasaan cemas. berperilaku aneh.

termasuk interpretasi klien tentang halusinasinya. tergantung dari isi halusinasi yang dialaminya (2).Alam perasaan Biasanya tidak stabil. reaksi berlebihan atau ambivalen. bisa berupa mengancam. tempat dan waktu (Maramis.Afek Terdapat afek tumpul. keagamaan. menyuruh marah. sexual.Orientasi Klien tidak mengalami gangguan dalam orientasi. menghinakan. Isi halusinasi itu merupakan tema halusinasi. membesarkan hati. 40 c) Status emosi (1). 1998 : 221) . g) Sensori dan kognisi (1). datar. baik terhadap orang. kadang marah. tidak dapat dimengerti apa maksudnya. respon emosional tidak sesuai d) Persepsi Mengalami perubahan/gangguan persepsi panca indera tanpa adanya stimulus yang nyata. kadang terlihat sedih. Terdapat waham yang tidak jelas dan tidak sistematik. menyalahkan. atau yang baik-baik saja e) Ilusi Jarang terdapat kesalahan dalam menginterpretasikan suatu objek nyata f) Isi pikir Jalan pikiran sering kacau (inkoherensia ).

proyeksi dan supresi (8).Menulis dan menggambar Gambar atau tulisan yang dihasilkan biasanya objeknya tidak jelas. dapat terjadi amnesia retrograd jika dilakukan ECT. Biasaya tidak mengalami gangguan dalam berhitung (5).Memori Klien dengan halusinasi. ini sebagai ungkapan atau cerminan perasaan klien . apalagi bila memiliki waham yang akan sulit mengubah keyakinannya itu. umumnya tidak terdapat gangguan pada memorinya.Koping Mekanisme koping yang biasa digunakan yaitu regresi. (6). (4).Gangguan penilaian Klien biasanya mengalami gangguan dalam penilaian dan pengambilan keputusan.Kemampuan berhitung.Tingkat konsentrasi Klien tidak mampu berkonsentrasi penuh. baik memori jangka pendek ataupun jangka panjang. (3).Daya tilik diri Daya tilik diri pada klien dengan halusinasi biasanya menurun. 41 (2). Klien tidak menyadari dirinya mengalami gangguan jiwa (7). mudah beralih. Akan tetapi.

(5). manarik diri dari lingkungan.Gambaran diri Biasanya tidak mengalami gangguan. c) Seksualitas Pengkajian diarahkan pada kepuasan terhadap peran seksualnya dalam kehidupan sehari – hari.Identitas diri Biasanya klien tidak mempermasalahkan jenis kelaminnya. tidak mau berkomunikasi. Klien dengan halusinasi sering tidak memperhatikan keadaan lingkungan sekitar. Kaji mengenai orang terdekat dengan klien. cenderung tidak memiliki ideal diri terutama pada klien yang memiliki harga diri rendah. Klien biasanya bersikap tidak acuh dan tidak terlalu memperhatikan keadaan tubuhnya.Ideal diri Biasanya ideal diri tidak realistik. (2). menarik diri. Selain itu isi atau . b) Hubungan sosial Klien terlihat sering menyendiri. sehingga klien mengalami kesulitan untuk membina hubungan dengan lawan jenis secara wajar. (3). 42 6) Psikososial dan spiritual a) Konsep diri (1).Peran diri Klien biasanya tidak dapat melakukan tugas sesuai dengan perannya.Harga diri Biasanya klien merasa tidak mempunyai kelebihan atau kemampuan dibanding orang lain sehingga klien merasa harga diri rendah. (4).

43 perintah dari halusinasi juga dapat membuat klien melakukan penyimpangan seksual. seperti makan. rencana keluarga dalam menentukan tempat rujukan/kontrol klien serta kaji kemampuan keluarga dalam melakukan antisipasi untuk mencegah kekambuhan.Konsep ketuhanan dan keagamaan Klien percaya akan adanya Tuhan. Kaji juga sumber-sumber koping dan support sistem yang ada dilingkungan tempat tinggal klien. 1998 : 168 ) d) Spiritual (1). namun kegiatan dan pelaksanaan ibadah kurang diperhatikan atau tidak melaksanakannya. 7). aktivitas didalam rumah dan diluar rumah serta sumber biaya hidup klien.Sense of transcendence Klien biasanya merasa pesimis terhadap kehidupan yang dijalani dan tidak mempunyai rencana untuk kehidupan selanjutnya. Perencanaan klien pulang Perencanaan pulang dilaksanakan dalam rentang perawatan diantaranya kaji partisipasi keluarga sebagai sistem pendukung klien selama dirawat. tinggal dengan siapa jika nanti klien sudah pulang. Efek dari antikolinergik dapat menyebabkan penurunan libido dan ginekomastia pada pria ( Townsend.Falsafah hidup Klien biasanya percaya akan adanya sakit dan penyembuhan (2). (3). berpakaian. penggunaan obat. istirahat tidur. kaji kemampuan dan pengetahuan keluarga untuk memberikan perawatan dirumah. tanyakan bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari klien. .

meprosetil 2 Trifluoperazine HCL Stelazine 3 Thioridazine HCL Melleril 4 Haloperidol Haldol. . Noprenia 2 Clozapine Clozaril 3 Quetiapine Seroquel 4 Olanzapine zyprexa Sumber : Hawari. 44 8) Terapi Terapi pada skizofrenia memerlukan waktu yang relatif lama. sehingga gejala-gejala klinisnya dapat dihilangkan. otot leher kaku. Serenace Golongan Generasi Kedua No Nama Generik Nama Dagang 1 Risperidone Risperdal. D. misalnya tangan gemetar. Benzhexol. Untuk penawarnya dapat diberikan Tryhexyphenidyl HCL. Rizodal. 2001 : 99 Dari berbagai jenis obat tersebut efek samping yang sering dijumpai meskipun relatif kecil adalah gejala ekstra-piramidal. kekauan alat gerak. Jenis obat psikofarmaka dibagi dalam dua golongan. Levodopa. bisa berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. D. Berikut ini contoh jenis obat psikofarmaka yang beredar di Indonesia (2001) Tabel 2 Jenis Obat Psikofarmaka Yang Beredar Di Indonesia Golongan Generasi Pertama No Nama Generik Nama Dagang 1 Chlorpromazine HCL Largactil. Pada klien dengan Skizofrenia Hebefrenik biasanya mendapatkan obat psikofarmaka yang ditujukan pada gangguan fungsi neurotransmiter. promactil. 2001 : 99 ). yaitu golongan generasi pertama (typical) dan golongan generasi kedua (atypical) ( Hawari. Govotil. hal ini dimaksudkan untuk menekan sekecil mungkin resiko kambuh.

1998 : 41). Validasi data 4. Merumuskan diagnosa keperawatan c. . 3. dan Depkes RI(2000) yaitu : 1) Resiko tinggi melakukan kekerasan yang berhubungan dengan halusinasi lihat dan dengar. alih bahasa Hamid. Diagnosa keperawatan adalah penilaian atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian ( Carpenito. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan Skizofrenia menurut Townsend (1995). Klarifikasi dan analisa data 2. Adapun langkah-lagkah yang harus ditempuh pada tahap ini adalah sebagai berikut (Nursalam. maka tugas perawat adalah mengidentifikasi masalah-masalah keperawatan klien. kemudian disusun dalam suatu diagnosa keperawatan. 45 b. 2001 : 36) : 1. Interpretasi / identifikasi kelebihan dan masalah klien. Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan masalah keperawatan pasien yang mencakup baik respon sehat adaptif atau maladaptive serta stressor yang menunjang (Stuart & Sundeen. Analisa data Setelah data terkumpul . Keliat (1998). dikutip oleh Keliat. Diagnosa keperawatan Pengertian diagnosa keperawatan dikemukakan oleh beberapa ahli sebagai berikut : 1). 1998 : 6 ) 2).

Perencanaan Rencana asuahan keperawatan digunakan sebagai pedoman dalam intervensi terapeutik secara sistematis dalam usaha mencapai hasil yang diharapkan perawat dan klien. 46 2) Perubahan sensori perseptual : halusinasi pendengaran yang berhubungan dengan menarik diri. 2. . Resiko tinggi melakukan kekerasan yang berhubungan dengan halusinasi lihat dan dengar 1) Tujuan umum : klien tidak melakukan kekerasan. a. 4) Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan klien menggunakan koping yang konstruktif 5) Kurang/defisit perawatan diri : berhubungan dengan kurangnya minat klien untuk perawatan diri 6) Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan kecemasan yang meningkat 7) Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan kecemasan yang meningkat 8) Resiko terjadinya kambuh ulang berhubungan dengan ketidak tahuan keluarga dalam merawat klien. Berikut akan diuraikan rencana dari diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan gangguan halusinasi lihat dan dengar akibat skizofrenia hebefrenik. 3) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri yang berhubungan dengan harga diri rendah kronis.

47 2) Tujuan khusus : selama lima hari (a) Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat. dengan kriteria : (1) Klien dapat membedakan hal yang nyata dan yang tidak nyata (2) Klien dapat menyebutkan waktu. situasi dan frekuensi timbulnya halusinasi. (3) Klien dapat mengungkapkan perasaan terhadap halusinasinya (c) Klien dapat mengontrol halusinasinya. dengan kriteria evaluasi : (1) Klien menjawab salam perawat (2) Klien mau menyebutkan namanya secara lengkap berikut nama panggilannya (3) Klien mengutarakan perasaannya (4) Adanya kontak mata (5) Klien mau duduk berdampingan dengan perawat (b) Klien dapat mengenal halusinasinya. isi. dengan kriteria evaluasi : (1) Klien dapat menyebutkan tindakan yang biasanya dilakukan untuk mengendalikan halusinasinya (2) Klien dapat menyebutkan cara baru untuk mengendalikan halusinasinya (3) Klien dapat memilih cara mengatasi halusinasi seperti yang telah didiskusikan dengan klien (4) Klien dapat mengikuti terapi aktivitas kelompok .

48 (d) Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol halusinasinya. penyebab. Intervensi Rasional 1 2 3 1 Bina hubungan saling percaya dengan Hubungan saling percaya merupakan langkah klien menggunakan prinsip komunikasi awal yang penting dalam menentukan terapeutik keberhasilan melakukan intervensi selanjutnya 2 Bantu klien mengenal halusinasinya. dengan kriteria evaluasi : (1) Keluarga dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat (2) Keluarga dapat menyebutkan pengertian. jenis obat. dan cara minum obat (2) Klien dapat menyebutkan efek terapeutik serta efek samping obat (1) Klien dapat menyebutkan akibat minum obat tidak teratur (2) Klien dapat mendemonstrasikan penggunaan obat dengan benar. tanda. dengan kriteria evaluasi : (1) Klien dan keluarga dapat menyebutkan manfaat. (e) Klien dan keluarga dapat memanfaatkan obat dengan baik. efek samping dan cara menanggulanginya. memandang kesuatu arah seolah-olah ada teman bicara  Bantu klien mengenal  Membantu klien mengenal halusinasinya dengan cara mengatakan halusinasinya sehingga klien dapat bahwa perawat mempercayai apa yang membedakan antara stimulus yang nyata klien katakan namun perawat sendiri dengan stimulus yang tidak nyata . No. dan tindakan untuk mengendalikan halusinasi. dengan cara :  Observasi tingkah laku klien  Mengetahui sejauh mana halusinasi terkait dengan halusinasinya : bicara mempengaruhi tingkah laku klien dan tertawa tanpa stimulus.

stimuli persepsi 4 Libatkan keluarga dalam mengontrol halusinasinya. orientasi realita. mengontrol halusinasinya memperbanyak aktivitas. dengan cara :  Bina hubungan saling percaya  Memudahkan dalam pemberian dengan keluarga intevensi berikutnya  Anjurkan klien untuk  Keluarga merupakan orang terdekat memberitahu keluarga jika terjadi yang dapat membantu klien mengontrol halusinasi halusinasi  Memperluas pengetahuan keluarga  Diskusikan dengan keluarga tentang halusinasi gejala halusinasi. 49 1 2 3 tidak mengalaminya (dengan nada bersahabat tanpa menuduh atau menghakimi)  Diskusikan dengan klien isi. halusinasi dengan cara bertahap dengan Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika cara yang tepat berhasil  Terapi aktivitas kelompok dapat  Anjurkan klien mengikuti terapi membantu klien mengenal realita aktivitas kelompok.  Memperluas kesadaran klien tentang waktu. cara yang dilakukan klien untuk mengatasi halusinasi. membuat jadwal kegiatan harian. dan melaporkan pada perawat jika halusinasi muncul)  Bantu klien memilih dan melatih  Melatih klien mengambil keputusan cara memutus halusinasi secara yang tepat untuk mengontrol bertahap keputusannya  Beri kesempatan untuk  Melatih klien mengendalikan melakukan cara yang telah dipilih. dengan cara :  Diskusikan dengan klien dan  Memperluas pengetahuan klien dan . cara merawat klien dengan halusinasi di rumah dan beri informasi tentang obat serta kontrol teratur 5 Bantu klien dan keluarga untuk memanfaatkan obat dengan baik. dan frekuensi terjadinya karakteristik halusinasi yang terjadi halusinasi serta perasaan saat terjadi padanya halusinasi 3 Bantu klien mengontrol halusinasinya dengan cara :  Identifikasi bersama klien  Mengetahui sejauh mana respon cara/tindakan yang dilakukan jika klien dalam menanggulangi halusinasi terjadi halusinasi  Diskusikan manfaat dari cara  Menambah pengetahuan klien yang digunakan klien. jika mengenai keefektifan tindakan yang bermanfaat kuatkan selama ini dilakukan klien untuk mengontrol halusinasinya  Diskusikan cara baru untuk  Memperluas pengetahuan klien mengatasi halusinasinya (seperti tentang cara yang efektif untuk berusaha menolak dari dalam diri.

dengan kriteria: (1) Klien dapat mengungkapkan perasaan dan penyebab menarik diri (2) Klien dapat menyebutkan pengertian menarik diri (3) Klien dapat mengungkapkan perasaan dan penyebab klien tidak mau bergaul dengan orang lain (4) Klien dapat menyebutkan perilaku menarik diri. tanda dan penyebab menarik diri.  Mencegah komplikasi lebih berat  Atasi efek samping yang terjadi pada klien. . frekuensi. dan cara menggunakan klien obat  Diskusikan efek terapeutik dan  Memperluas pengetahuan klien dan efek samping obat yang terjadi pada keluarga tentang efek samping dan efek klien terapeutik obat  Memperluas pengetahuan klien  Jelaskan akibat dari minum obat tentang pentingnya minum obat secara tidak teratur teratur  Bantu dan temani klien saat  Mengetahui sejauh mana klien minum obat sesuai program menggunakan obatnya secara benar pengobatan  Melatih klien menggunakan obatnya  Anjurkan klien minta sendiri dengan benar secara mandiri obat pada perawat dan merasakan manfaatnya  Efek samping yang diketahui secara  Observasi efek samping dini dapat mempermudah pelaksanaan pengobatan pada klien intervensi untuk mengatasinya. Perubahan sensori perseptual : halusinasi lihat dan dengar yang berhubungan dengan menarik diri 1) Tujuan umum : Klien dapat mengendalikan halusinasi 2) Tujuan khusus : selama lima hari (a) Klien dapat mengenal perasaan yang menyebabkan perilaku menarik diri dari lingkungan sosial. 50 1 2 3 keluarga tentang dosis. keluarga tentang obat yang dikonsumsi jenis obat. pada klien b.

51 (b) Klien dapat berhubungan sosial dengan orang lain secara bertahap. Bina hubungan saling percaya dengan Hubungan saling percaya merupakan langkah menggunakan prinsip komunikasi awal yang penting dalam menentukan terapeutik keberhasilan melakukan intervensi selanjutnya 2. . Klien dapat mengenal perasaan yang menyebabkan perilaku menarik diri dari lingkungan sosial. Intervensi Rasional 1 2 3 1. dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan cara berhubungan dengan orang lain secara bertahap (2) Klien mencoba untuk melakukan cara yang dipilihnya untuk berhubungan dengan orang lain (c) Klien mendapat dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain. dengan kriteria : (1) Keluarga klien menyebutkan ciri menarik diri (2) Keluarga klien dapat berinteraksi dengan klien dan mendukung klien untuk berinteraksi dengan orang lain (3) Keluarga klien dapat membantu meningkatkan kembali harga diri klien No. dengan cara :  Kaji pengetahuan klien tentang  Mengetahui sejauh mana perilaku menarik diri pengetahuan klien tentang menarik diri sehingga perawat dapat merencanakan tindakan selanjutnya  Beri kesempatan pada klien  Untuk mengetahui alasan klien untuk mengungkapkan perasaan menarik diri penyebab menarik diri  Diskusikan bersama klien  Meningkatkan pengetahuan klien tentang tanda perilaku menarik dan mencari pemecahan bersama tentang dirinya masalah klien  Meningkatkan harga diri klien  Beri pujian terhadap sehingga berani bergaul dengan kemampuan klien mengungkapkan lingkungan sosialnya perasaannya.

malu dalam berhubungan dengan orang lain berhubungan sehingga perlu dilatih secara bertahap. . perawat 5. dengan cara :  Dorong klien untuk  Untuk mengetahui pemahaman klien menyebutkan cara berhubungan terhadap informasi yang telah diberikan dengan orang lain  Klien mungkin dapat mengalami  Dorong dan bantu klien perasaan tidak nyaman. dan rekreasi  Jelaskan pada keluarga  Klien menarik diri membutuhkan kebutuhan klien perhatian yang khusus  Bantu keluarga untuk tetap  Keterlibatan keluarga sangat mempertahankan hubungan dengan membantu klien dalam mengembangkan klien yaitu memperlihatkan perhatian interaksi dengan lingkungannya dengan meningkatkan kunjungan ke rumah sakit  Beri klien penguatan misalnya  Meningkatkan rasa percaya klien dengan membawakan makanan pada keluarga dan merasa diperhatikan. antara lain : secara bertahap dalam berhubungan  Klien .perawat dengan orang lain  Klien . dengan cara :  Dorong klien untuk mencoba  Meningkatkan motivasi klien dalam berbicara dengan klien lain secara bertindak mandiri  Berikan reinforcment jika klien  Meningkatkan rasa percaya diri melakukan hal yang dianjurkan setelah melakukan sesuatu.perawat - perawat lain  Klien . dengan cara :  Diskusikan tentang manfaat  Mengidentifikasi hambatan yang berhubungan dengan anggota dirasakan oleh klien keluarga  Dorong klien untuk  Untuk mengetahui sejauh mana mengemukakan perasaan tentang hubungan interpersonal antara klien keluarga dengan keluarga  Membantu klien dalam  Dorong klien untuk mengikuti meningkatkan hubungan interpersonal kegiatan bersama keluarga seperti dengan keluarga.perawat - perawat lain -klien lain  Klien . ibadah.keluarga mempertahankan hubungan interpersonal  Libatkan klien dalam kegiatan  Reinforcement positif dapat TAK dan ADL ruangan meningkatkan harga diri klien. Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap. Klien dapat berhubungan sosial dengan orang lain secara bertahap. kesukaan klien. 52 1 2 3 3.  Reinforcement positif atas keberhasilan yang dicapai klien 4. makan. Klien mendapat dukungan keluarga mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang lain.kelompok kecil  Membantu klien dalam  Klien .

dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan kemampuan yang ada pada dirinya (2) Klien dapat menyebutkan kelemahan yang dimiliki dan tidak menjadi halangan untuk mencapai keberhasilan (b) Klien dapat menyelidiki dirinya. dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan keberhasilan yang pernah dialami (2) Klien dapat menyebutkan kegagalan yang pernah dialami (d) Klien dapat membuat rencana yang realistis. dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan tujuan yang ingin dicapai (2) Klien dapat membuat keputusan dan mencapai tujuannya (e) Klien mendapat dukungan keluarga yang meningkatkan harga dirinya. dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan cita-citanya (2) Klien dapat menyebutkan harapan sesuai dengan kemampuannya (c) Klien dapat mengevaluasi dirinya. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri yang berhubungan dengan harga diri rendah kronis 1) Tujuan umum : Klien mampu berinteraksi dengan orang lain secara optimal 2) Tujuan khusus : selama lima hari (a) Klien dapat memperluas kesadaran diri. 53 c. dengan kriteria : (1) Keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda harga diri rendah .

Klien dapat mengevaluasi dirinya. dengan cara :  Diskusikan dengan klien ideal  Untuk mengetahui sampai dimana dirinya. tersebut mempengaruhi klien sebab kegagalan  Kaji bagaimana respon klien  Mengetahui koping yang selama ini terhadap kegagalan tersebut dan cara digunakan oleh klien mengatasi  Memberikan kekuatan pada klien  Jelaskan pada klien bahwa bahwa kegagalan itu bukan merupakan . Klien dapat menyelidiki dirinya. realistis dari harapan klien rencana klien setelah pulang. Klien dapat memperluas kesadaran diri. dan apa cita-cita yang ingin dicapai  Bantu klien dalam  Membantu klien membentuk harapan mengembangkan antara keinginan dan yang realistis kemampuan yang dimilikinya  Beri kesempatan klien untuk  Meningkatkan rasa percaya diri klien berhasil  Memberi penghargaan terhadap  Beri reinforcement positif perilaku yang positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai 3. dengan cara :  Diskusikan dengan klien  Mengidentifikasikan hal-hal positif kelebihan yang dimilikinya yang masih dimiliki klien  Diskusikan kelemahan yang  Mengingatkan klien bahwa klien dimiliki klien manusia biasa yang mempunyai  Beritahu klien bahwa manusia kekurangan tidak ada yang sempurna. Intervensi Rasional 1 2 3 1. dengan cara :  Bantu klien mengidentifikasikan  Mengingatkan klien bahwa ia tidak kegiatan atau keinginan yang berhasil selalu gagal dicapainya  Kaji bagaimana perasaan klien  Memberikan kesempatan klien untuk tentang keberhasilan tersebut menilai dirinya sendiri  Bicarakan kegagalan-kegagalan  Mengetahui sejauh mana kegagalan yang pernah dialami klien dan sebab. 54 (2) Keluarga dapat berespon dan memperlakukan klien dengan harga diri rendah secara tepat No. semua  Menghadirkan realita pada klien memiliki kelebihan dan kekurangan  Beritahu klien bahwa kekurangan bisa ditutupi dengan  Memberikan harapan pada klien kelebihan yang dimilikinya  Anjurkan klien untuk lebih meningkatkan kelebihan yang dimiliki  Memberikan kesempatan berhasil  Beritahukan klien bahwa ada lebih tinggi hikmah dibalik kekurangan yang  Agar klien tidak merasa putus asa dimiliki 2. Apa harapan selama di RS.

dengan cara :  Diskusikan dengan keluarga  Mengantisipasi masalah yang timbul tanda-tanda harga diri rendah  Anjurkan setiap anggota  Menyiapkan support sistem yang keluarga untuk mengenal dan adekuat menghargai kemampuan tiap anggota keluarga  Diskusikan dengan keluarga  Meningkatkan kemampuan keluarga cara berespons terhadap klien dengan dalam merawat klien dengan harga diri harga diri rendah seperti menghargai rendah klien. 5. Klien mendapat dukungan keluarga yang meningkatkan harga dirinya. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan klien menggunakan koping yang konstruktif . dengan cara :  Bantu klien memutuskan tujuan  Agar klien tetap realistis dengan yang ingin dicapainya kemampuan yang dimiliki  Diskusikan dengan klien tujuan  Mempertahankan klien untuk tetap yang ingin dicapai dengan realistis kemampuan  Bantu klien memilih prioritas  Agar prioritas yang dipilih sesuai tujuan yang mungkin dicapainya dengan kemampuan  Beri kesempatan klien untuk  Menghargai keputusan yang dipilih melakukan kegiatan yang telah dipilih klien  Tunjukkan keterampilan atau keberhasilan yang telah dicapai klien  Memberikan penghargaan atas  Ikut sertakan klien dalam keberhasilan yang telah dicapai kegiatan aktivitas kelompok  Memberikan kesempatan klien didalam kelompok mengembangkan  Beri reinforcement positif bila kemampuannya klien mau mengikuti kegiatan  Meningkatkan harga diri klien kelompok. 55 1 2 3 kegagalan yang dialami dapat menjadi akhir dari suatu usaha. dan tidak menjauhi  Anjurkan pada keluarga untuk memberikan kesempatan berhasil  Memberikan kesempatan pada klien pada klien untuk sukses  Anjurkan pada keluarga untuk menerima klien apa adanya  Membantu meningkatkan harga diri  Anjurkan keluarga untuk klien melibatkan klien dalam setiap pertemuan keluarga  Meningkatkan interaksi klien dengan anggota keluarga. d. pelajaran untuk mengatasi kesulitan yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang 4. Klien dapat membuat rencana yang realistis. tidak mengejek.

dan manfaat koping yang konstruktif (2) Klien dapat menyebutkan cara mengatasi masalah dengan koping yang konstruktif (d) Klien mampu memilih salah satu koping yang akan digunakan selanjutnya. dengan kriteria : (1) Klien dapat menentukan koping yang digunakan . dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan koping yang selama ini digunakan dalam menghadapi masalah (2) Klien dapat menyebutkan perasaan setelah menggunakan kopingnya selama ini (3) Klien dapat menyebutkan hasil yang dicapai dengan menggunakan koping selama ini (b) Klien mampu menilai koping yang selama ini digunakan. konstruktif atau destruktif (c) Pengetahuan klien tentang koping bertambah. dengan kriteria: (1) Klien dapat menyebutkan arti. jenis. 56 1) Tujuan umum : Koping individu efektif 2) Tujuan khusus : selama 6 hari. dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian menggunakan koping selama ini (2) Klien dapat menilai koping yang selama ini digunakan. klien dapat : (a) Klien mengenal koping yang selama ini digunakan.

jenis. Intervensi Rasional 1 2 3 1. dengan cara :  Beri penjelasan tentang arti. Klien mampu menilai koping yang selama ini digunakan. Klien mampu memilih salah satu koping yang akan digunakan selanjutnya. 57 (2) Klien dapat menggunakan koping yang konstruktif No. akibat koping destruktif. dengan cara :  Bimbing dan diskusikan  Meningkatkan kemandirian klien alternatif koping yang dipilih sesuai dalam memutuskan sesuatu keinginan klien  Beri reinforcement atas  Meningkatkan motivasi klien keputusan klien serta usaha klien menggunakan koping pilihannya menggunakan koping yang telah dipilih e. Pengetahuan klien tentang koping bertambah. Klien mengenal koping yang selama ini digunakan. manfaat koping yang tentang arti. dengan kriteria : . konstruktif.  Meningkatkan pengetahuan klien jenis. dengan cara :  Tanyakan apakah koping yang  Meningkatkan kesadaran klien selama ini klien gunakan dirasakan tentang keefektifan koping yang efektif bagi klien digunakan selama ini 3. dengan cara :  Bantu klien mengungkapkan  Memperluas kesadaran klien tentang koping yang selama ini digunakan koping yang selama ini digunakan  Bantu klien untuk  Memperluas kesadaran klien tentang mengungkapkan perasaan setelah perasaan setelah menggunakan koping menggunakan koping yang yang selama ini digunakan digunakan selama ini  Memperluas pengetahuan klien  Bantu klien untuk tentang hasil dari koping yang klien mengungkapkan apakah koping yang gunakan selama ini selama ini digunakan dapat menyelesaikan masalah 2. akibat koping destruktif. serta cara mengatasi masalah dengan serta cara mengatasi masalah dengan koping yang konstruktif koping konstruktif 4. manfaat koping konstruktif. Kurang/defisit perawatan diri : berhubungan dengan kurangnya minat klien untuk perawatan diri 1) Tujuan umum : Perawatan diri klien optimal 2) Tujuan khusus : selama lima hari. minat klien terhadap perawatan diri meningkat.

akan meningkatkan semangat klien untuk kembali melakukan perawatan diri  Motivasi klien untuk melakukan  Meningkatkan harga diri dan perawatan diri secara mandiri dan semangat klien teratur  Berikan reinforcement positif  Meningkatkan harga diri dan setelah klien berhasil melakukan semangat klien untuk melakukan . Pengetahuan klien tentang pentingnya perawatan diri bertambah. Klien menunjukkan minat untuk melakukan perawatan diri. serta akibat jika tentang pentingnya kebersihan diri tidak menjaga kebersihan diri  Beri reinforcement positif jika  Meningkatkan motivasi klien untuk klien dapat menjelaskan kembali melakukan perawatan diri pentingnya kebersihan diri 2. 58 (a) Pengetahuan klien tentang pentingnya perawatan diri bertambah. dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan cara untuk melakukan perawatan diri (2) Klien dapat melakukan perawatan diri tanpa disuruh secara teratur (c) Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah melakukan perawatan diri No. dengan cara :  Fasilitasi klien untuk melakukan  Mempermudah klien melakukan perawatan diri perawatan diri  Bantu klien melakukan  Dapat meningkatkan kemampuan perawatan kebersihan diri klien melakukan perawatan diri  Tanyakan perasaan klien setelah  Perasaan nyaman klien setelah melakukan perawatan kebersihan diri melakukan perawatan diri. dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan manfaat kebersihan (2) Klien dapat menyebutkan akibat tidak menjaga kebersihan (b) Klien menunjukkan minat untuk melakukan perawatan diri. Intervensi Rasional 1 2 3 1. dengan cara :  Diskusikan tentang manfaat  Meningkatkan pengetahuan klien menjaga kebersihan.

Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan kecemasan yang meningkat. 59 1 2 3 perawatan diri perawatan diri f. Menimbulkan efek samping sedatif dan membantu menimbulkan ngantuk sehingga klien dapat tidur 5. dengan kriteria (1) Teridentifikasi kebutuhan dan kebiasaan tidur klien (2) Klien dapat tidur secara optimal. Jangan dukung nyenyak klien untuk tidur sepanjang hari 7. 1) Tujuan umum : Klien mampu membedakan antara pikiran waham dan realita . dengan kriteria : 1) Tujuan umum : Kebutuhan istirahat tidur klien terpenuhi 2) Tujuan khusus : selama lima hari. keluarga untuk mencegah terjadinya sulit tidur. Agar klien merasa lebih tenang dan 7. Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan kecemasan yang meningkat. g. Identifikasi 1. kecemasan klien menurun. Menentukan langkah yang tepat dalam kebutuhan dan kebiasaan tidur klien intervensi selanjutnya 2. Memberikan rasa nyaman sehingga dengan tindakan untuk mempercepat akan mempercepat proses tidur proses tidur 6. Bantu klien 5. Dapat memberikan rasa aman pada beberapa saat sebelum tidur klien agar klien dapat beristirahat 3. (3) Klien tidak menggunakan obat sedatif untuk membantu tidur. Berikan obat nyaman antipsikotik 4. Temani klien 2. Intervensi Rasional 1. Agar klien dapat tidur malam dengan 6. Dapat merelaksasikan otot-otot relaksasi nafas dalam pada klien sehingga klien dapat beristirahat dengan 4. Libatkan dapat tidur. Lakukan 3.

Klien mengenal kecemasan yang dialaminya. dengan kriteria : (1) Keluarga dapat menyebutkan cara-cara untuk mengatasi kecemasan (2) Keluarga mendukung klien dalam upaya mengatasi kecemasannya (e) Klien dapat mengendalikan wahamnya. dengan kriteria : (1) Klien mengetahui apa itu kecemasan (2) Klien mampu menyebutkan penyebab kecemasan (3) Klien mampu menyebutkan tanda dan gejala kecemasan yang meningkat (b) Klien dapat mengatasi kecemasan yang dialaminya. dengan kriteria : (1) Klien dapat menyebutkan cara mengatasi kecemasan selama ini (2) Klien dapat menilai cara yang digunakan untuk mengatasi kecemasan (c) Klien dapat mengidentifikasi cara-cara baru untuk mengatasi kecemasan (1) Secara verbal klien dapat mengungkapkan cara yang dipilih untuk mengatasi kecemasan (2) Klien dapat mengatasi kecemasan secara konstruktif (d) Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengatasi kecemasan. dengan cara :  Tanyakan tentang arti  Meningkatkan pengetahuan klien . 60 2) Tujuan khusus : selama lima hari perawatan : (a) Klien mengenal kecemasan yang dialaminya. Intervensi Rasional 1 2 3 1. dengan kriteria : (1) Klien dapat memfokuskan pada realita saat terjadi waham No.

dengan cara :  Fokuskan pada realita dengan  Mengurangi densitas terjadinya mengurangi ingatan klien saat terjadi waham waham h. Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengatasi kecemasan. dengan kriteria : . keberhasilan klien menerapkan cara  Meningkatkan motivasi dan harga mengatasi kecemasan sesuai diri klien untuk terus menerapkan cara pilihannya mengatasi kecemasan sesuai pilihannya. dengan cara :  Bantu klien mengidentifikasi  Meningkatkan pengetahuan klien cara mengatasi kecemasan tentang cara mengatasi kecemasan  Bantu klien menilai keefektipan  Untuk meningkatkan pengetahuan cara yang digunakan klien tentang keefektipan tindakan yang selama ini klien lakukan  Berikan penjelasan tentang cara  Meningkatkan pengetahuan klien mengatasi kecemasan tentang alternatif penurunan ketegangan akibat kecemasan  Bantu klien memilih cara yang  Cara efektif yang digunakan klien tepat untuk mengatasi kecemasannya dapat menurunkan kecemasan dengan  Beri kesempatan klien untuk tepat. menerapkan cara mengatasi  Mengetahui sejauh mana kecemasan yang telah dipilihnya kemampuan klien menerapkan cara yang  Beri reinforcement positif atas telah dipilihnya. dengan cara :  Jelaskan tentang cara mengatasi  Memperluas pengetahuan keluarga kecemasan pada keluarga. tentang cara mengatasi kecemasan  Diskusikan kecemasan dengan  Keluarga merupakan faktor keluarga. 61 1 2 3 kecemasan dan penyebab timbulnya tentang kecemasan serta hal yang dapat kecemasan menimbulkan kecemasan  Meningkatkan pengetahuan klien  Bantu klien mengidentifikasi tentang tanda dan gejala terjadinya tanda dan gejala saat klien kecemasan mengalami kecemasan 2. 3. Resiko terjadi kambuh ulang berhubungan dengan ketidaktahuan keluarga dalam merawat klien 1) Tujuan umum : kambuh ulang tidak terjadi 2) Tujuan khusus : selama lima hari (a) Terbina hubungan saling percaya dengan keluarga. pendukung penting yang dapat membantu menurunkan kecemasan 4. Klien dapat mengatasi kecemasan yang dialaminya. Klien dapat mengendalikan wahamnya.

dengan kriteria (1) Keluarga mengungkapkan hambatan klien saat dirumah (2) Keluarga mengungkapkan perasaannya ketika menghadapi hambatanannya (c) Pengetahuan keluarga bertambah mengenai perawatan klien di rumah. Meningkatkan keluarga dalam proses pengobatan kepercayaan keluarga dalam proses perawatan klien klien 3. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan. Mengetahui sejauh rumah mana keluarga dekat dengan klien 3. sehingga hubungan yang terapeutik dapat mendukung 2. perawat perlu memvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih . Dukung 4. 62 (1) Keluarga mengenal dan menerima perawat (2) Keluarga mau bekerjasama dengan perawat (b) Keluarga mengungkapkan hambatan saat klien pulang. dengan kriteria : (1) Keluarga menyebutkan penyebab. Eksplorasi intervensi selanjutnya perasaan keluarga saat klien ada di 2. Jelaskan 3. tanda dan gejala kambuh ulang (2) Keluarga dapat membantu dan mengatasi permasalahan klien (d) Keluarga dapat memanfaatkan obat. Menambah perawatan klien di rumah pengetahuan keluarga dalam merawat klien di rumah 4. dengan kriteria : (1) Klien mendapatkan obat sesuai therapi (2) Klien dapat kontrol secara teratur Intervensi Rasional 1. Keluarga merupakan saling percaya dengan keluarga orang terdekat dengan klien. Bina hubungan 1. Pelaksanaan Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan.

1998 : 15). yaitu evaluasi proses atau formatif dilakukan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk membantu keefektifitasan terhadap tindakan dan evaluasi hasil atau sumatif dilaksanakan pada akhir tindakan keperawatan secara paripurna (Nursalam. Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak terlebih dahulu dengan klien untuk menjelaskan apa yang akan dikerjakan serta peran serta klien yang diharapkan (Keliat. Evaluasi Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. B.A. sebagai pola pikir : S :Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. . 2001: 74). Evaluasi dapat dibagi 2. dkk. 1998 : 15) 4. Evaluasi dilakukan secara terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (Keliat.A. dkk. B. 63 sesuai dan dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya saat ini (here and now). Menurut Keliat ( 1998 : 15 ) evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP. Setelah semua tidak ada hambatan maka tindakan keperawatan boleh dilaksanakan.

O:Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. . sebagai pola pikir : S :Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. 64 O:Respon objektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. A:Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada P :Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien. sedangkan intervensi mengikuti diagnosa yang ada E : Merupakan analisis respon pasien terhadap intervensi yang diberikan. Sedangkan menurut Hidayat. obyektif berubah atau tidak bergantung pada data yang ada. R: Revisi data – data pesien yang mengalami perubahan respon pasien yang akan direvisi untuk rencana perawatan. A:Analisa ulang atas data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada P :Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien.A ( 2001 : 57) evaluasi dilakukan dengan pendekata SOAPIER. I : Data subyektif.

Pengumpulan Data 1) Identitas a) Identitas Klien Nama : Tn. Pengkajian a. TINJAUAN KASUS 1. 65 BAB III TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN A. D Umur : 60 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Pendidikan : SD Agama : Islam Pekerjaan : Tidak Bekerja .

Serang Mekar RT 02 RW 09 Kec. Majalaya. Sejak saat itu klien terlihat sering mondar mandir keluar rumah . Klien merasa sedih dan kehilangan istri yang sangat dicintainya itu. 66 Suku / Bangsa : Sunda / Indonesia Status marital : Duda Diagnosa medis : Skizofrenia Hebefrenik Tanggal masuk RS : 4 Agustus 2005 Tanggal pengkajian : 8 Agustus 2005 No. Medrek : 97. Majalaya 2) Faktor Presipitasi dan Alasan Masuk Rumah Sakit Kurang lebih 9 hari yang lalu ( 30 Juli 2005 ) istri klien meninggal dunia karena sakit jantung. b) Identitas Penanggung jawab Nama : Tn. M Umur : 35 Tahun Agama : Islam Pendidikan : SD Pekerjaan : Pegawai Desa Hubungan dengan klien : Keponakan klien Alamat : Kp. Serang Mekar RT 02 RW 09 Kecamatan Ciparay.0060 Alamat : Kp. Ciparay.

mudah tersinggung. gelisah. 3) Faktor Predisposisi a) Riwayat gangguan jiwa Menurut keluarga klien baru kali mengalami gangguan jiwa dan ini merupakan pengalaman pertama keluarga dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. klien memukul orang yang ada didekatnya untuk melampiaskan rasa marahnya b) Riwayat penyakit fisik Klien tidak mengalami penyakit secara fisik. c) Riwayat anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. klien mulai terlihat berperilaku tidak wajar. . Apabila ditegur. Klien juga suka keluar rumah tengah malam dan pernah bertengkar dan memukuli keponakannya. baik yang ringan maupun berat. klien suka mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk mendatangi rumah tetangga dekatnya serta marah-marah terhadap orang yang didatanginya tersebut. klien sering menurut dan menghentikan adzannya. 67 tanpa tujuan. kadang klien suka adzan di masjid sebelum masuk waktu shalat. sulit tidur. Dengan alasan tersebut maka keluarga klien membawanya ke RSJ Bandung. 1 hari sebelum masuk rumah sakit (3 Juli 2005). bahkan klien sampai mengamuk dan merusak rumah dengan melemparkan batu. klien akan marah bila bila ada yang mencegahnya pergi. sehingga klien sering ditegur warganya. tetapi setelah keluar dari Masjid. Pada awal Mei 2005.

istri klien meninggal dunia karena menderita sakit jantung. 68 Menurut klien dan keluarga tidak ada angota keluarga lainnya yang menderita gangguan jiwa. sehingga klien merasa kehilangan kasih sayang dari orang yang sangat berarti bagi dirinya selama ini. Klien sangat mencintai dan menyayangi istrinya. (2) Kegagalan . d) Genogram Keterangan : : Perempuan : Laki-laki meninggal : Laki-laki : Tinggal satu rumah : Klien : Hubungan perkawinan : Perempuan meninggal e) Riwayat masa lalu yang tidak menyenangkan (1) Kehilangan Sejak 9 hari yang lalu. tepatnya tanggal 30 Juli 2005.

(c) Masa Pra sekolah Tumbuh dan berkembang sesuai usia. Menurutnya kegagalan yang pernah dialami dalam kehidupan ini adalah sesuatu yang wajar. 69 Klien mengatakan pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. tetapi tidak sampai membuat klien kecewa. (d) Masa sekolah Klien termasuk orang yang banyak disukai teman-temannya. (3) Riwayat trauma selama tumbuh kembang (a) Masa prenatal dan post natal Kakak klien mengatakan bahwa klien dikandung selama 9 bulan oleh ibunya. Klien tidak pernah terlibat pertengkaran. . Dan mempunyai anak satu. (e) Masa remaja Tidak pernah minum-minuman keras ataupun obat-obatan terlarang. (f) Masa dewasa Klien menikah pada usia 30 tahun. Tidak pernah mengalami konflik yang menimbulkan ketegangan dalam keluarga. (b) Masa bayi Klien diberi ASI selama 2 tahun oleh ibu kandungnya. Hubungan dalam keluarga baik. tumbuh dan berkembang secara normal. lahir di tolong oleh paraji dengan cara normal dan selamat. klien suka bermain dengan teman- teman sebayanya.

Tidak ada cianosis. (3) Sistem Gastrointestinal Bibir bentuk simetris. tidak ada nyeri tekan.klien dapat merasakan makanan yang dimakannya. Bentuk abdomen cekung. Bentuk dada simetris. tidak ada nyeri ketuk pada kedua ginjal. tidak ada nyeri tekan. tidak ada lesi. refleks menelan baik. (4) Sistem Urologi Blas teraba kosong. . nadi 76 x/menit. tetapi tidak dirawat. 70 (g) Masa dewasa tua Klien pernah tertabrak motor di jalan raya. Tidak ada keluhan mual atau muntah. BAK 3-4 x/hari. CRT 3 detik. tidak ada keluhan nyeri. teratur. tidak teraba pembesaran hepar dan lien. respirasi 19 x/ menit. Minum kurang lebih 6 gelas. JVP tidak meningkat. kepatenan jalan nafas baik. sesak nafas (-). Sejak awal bulan Mei klien mulai menunjukan perilaku yang tidak wajar ( suka adzan di Masjid sebelum waktunya ) 4) Pengkajian Fisik a) Pemeriksaan persistem (1) Sistem Respirasi Hidung simetris. bunyi jantung S1 dan S2 murni reguler. sampai daerah pelipisnya harus dijahit. bunyi paru vesikuler. Rongga hidung kering dan sedikit kotor. Bising usus 8 x/menit. Tidak ada keluhan batuk. (2) Sistem Kardiovaskuler Tekanan darah 110/60 mmHg. Gigi dan mulut kotor. Klien makan 3x/perhari. selalu habis.mukosa kering.

ROM (+) Ekstremitas bawah : Bentuk simetris. 5 5 (6) Sistem Integumen Rambut terlihat tidak rapih dan sedikit lengket. Klien tidak mengalami gangguan dalam tidur.00. refleks patella ++/++ (8) Sistem Endokrin Tidak ada pembesaran kelenjar thiroid dan kelenjar getah bening (9) Sistem Penginderaan Klien dapat membaca papan nama perawat dalam jarak 30 cm. ROM (+) Kekuatan otot 5 5 Keseimbangan dalam berjalan baik. b) Kebutuhan Istirahat Tidur Klien mulai tidur malam kurang lebih pukul 19. distribusi merata. 71 (5) Sistem Muskuloskeletal Ekstremitas atas : Bentuk simetris. tidur siang kurang lebih 4 jam.00 dan bangun pukul 06. keadaan kulit kering. pendengaran klien masih baik. Klien mengatakan tidak memiliki peralatan untuk mandi (7) Sistem Persyarafan Tidak ada tremor pada ekstremitas. reflek tricep dan bicep +/+. fungsi penciuman baik. klien dapat merasakan sensasi tajam tumpul. sedikit serumen di lubang telinga. tidak ada perdarahan. turgor kembali dalam 3 detik. . Kuku pendek dan cukup bersih. (10) Sistem Haemopoetik Konjunctiva tidak anemis. Klien dapat membedakan rasa makanan yang dimakannya.

b) Status Emosi (1) Alam perasaan .Cara bicara Bicara klien agak lambat. pakaian yang digunakan berasal dari rumah sakit (2).Sikap tubuh Sikap tubuh tidak ada yang kaku. (4). tidak mempertahankan sikap tubuh dalam posisi tertentu (3). sikap klien terlihat masih kurang menerima atas kehadiran perawat dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. volume kadang keras kadang lembut. (6).Aktivitas motorik Pergerakan klien sedikit lamban dan terjadi penurunan aktivitas. klien terlihat kurang kooperatif. hanya sekali-kali menatap perawat.Kontak mata Saat berkomunikasi.Berpakaian Cara berpakaian klien kurang rapih. mata klien lebih banyak melihat ke depan. klien menjawab bila ditanya. 72 5) Status Mental a) Penampilan (1). klien masih sedikit bicara. (5).Interaksi selama wawancara Selama berinteraksi.

c) Persepsi Klien mengalami halusinasi dengar. klien mengatakan ingin duduk dikursi sambil menuju ke kursi. tempat dan waktu ) . e) Isi Pikir Klien merasa bingung kenapa ia dimasukan ke RSJ. Klien terlihat sedih ketika menceritakan kematian istrinya dan tersenyum ketika menceritakan saat-saat menyenangkan bersama istrinya. 73 Klien merasa sedih kenapa ia dimasukan ke rumah sakit. Klien mengatakan suka mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk mendatangi rumah tetangga dekatnya serta marah-marah terhadap orang yang didatanginya tersebut. Klien tidak mengalami waham. bahkan klien sampai mengamuk dan merusak rumah dengan melemparkan batu. padahal klien ingin pulang ke rumah. Klien kadang terlihat suka bicara sendiri dengan nada marah. Emosi klien cukup stabil (2) Afek Keadaan emosi klien sesuai dengan apa yang diekspresikannya. Klien menganggap bahwa suara-suara itu adalah suara setan yang mau mengganggunya d) Ilusi Klien tidak salah dalam mempersepsikan sesuatu. klien selalu menuruti perintah suara-suara tersebut. Jika suara- suara itu muncul. f) Sensori dan Kognisi (1) Orientasi ( orang.

klien menyebutkan nama kakaknya yang mengantar ke rumah sakit adalah Ny R. 20-5 dan seterusnya. klien mengatakan masuk ke rumah sakit pada hari kamis. Klien merasa kesal karena ada suara-suara yang memerintahnya dan klien merasa tidak sakit jiwa. (6) Daya tilik diri Klien mengatakan masuk kerumah sakit karena suka marah-marah. (3) Tingkat konsentrasi Tingkat konsentrasi klien sudah mulai menurun. Klien lupa mengingat hari. 74 Klien mengatakan sekarang dirinya berada di rumah sakit jiwa. (7) Koping . berbahaya/tidak ) Menurut klien perilaku marah-marah itu tidak baik. 30-5. Kadang klien merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan. dan klien melakukan marah serta mengamuk karena mengikuti suara-suara yang memerintahkannya. 25-5. karena dapat menyakiti orang lain. klien kadang suka mengalihkan topik pembicaraan. (5) Gangguan penilaian ( baik/buruk. tetapi pada akhirnya klien mampu berespon terhadap pertanyaan dan cukup berkonsentrasi (4) Kemampuan berhitung Klien dapat menghitung dengan baik. (2) Memori Klien dapat mengingat menu makan pagi. Klien lupa mengingat tanggal kelahirannya.

dan klien menerima akan hal ini. (8) Menulis dan menggambar Klien dapat menulis namanya sendiri dan dapat membuat gambar sawah. (4) Ideal diri Saat ini klien berharap ingin pulang ke rumahnya lagi. tetapi klien menyadarinya bahwa dirinya sudah tua. klien akan menjadi pengurus masjid lagi untuk mengisi hari-harinya. Klien sekarang ini berstatus duda. . ia tinggal sendirian dirumah. 75 Klien mengatakan kalau dirinya mempunyai masalah suka dipendam sendiri. (3) Peran diri Menurut klien.Klien merasa tubuhnya semakin kurus saja. menurutnya karena ia dulunya adalah petani 6) Psikososial Dan Spiritual a) Konsep Diri (1) Gambaran diri Klien merasa cukup puas dengan keadaan tubuhnya sekarang. dan klien akan lebih banyak beribadah. (2) Identitas diri Klien memandang dirinya sebagai laki-laki. tidak dibicarakan kepada orang yang dipercaya atau orang yang bersangkutan yang mempunyai masalah dengan klien. klien ingin hidup tenang dimasa tuanya. Klien kini berstatus duda.

Menurut pengakuan klien. c) Seksualitas ( kepuasan secara fisik. Rencana anaknya yang tinggal di Banjaran akan pindah ke tempat tinggal klien untuk merawat dan mengurusnya. Tidak ada penyimpangan masalah seksual. 76 (5) Harga diri Klien dikenal sebagai pengurus masjid di tempat tinggalnya. Di lingkungannya klien dikenal sebagai pengurus masjid. Klien percaya akan adanya sakit. Hubungan klien dengan anggota keluarga baik. masalah seksual ) Klien selama ini merasa puas menjadi seorang laki-laki. suka mengikuti pengajian. Sejak saat itu hubungan klien dengan temannya itu mulai renggang. Di rumah sakit klien terlihat suka berada dikamarnya dan sering tiduran. Klien tidak menceritakan masalahnya ini kepada siapa-siapa. sehingga warganya menghormati klien dan klien merasa senang. dan hidup ini harus diisi dengan beribadah. orang baik. . ia mempunyai masalah dengan teman sesama pengurus Masjid. Klien jarang berbicara dengan klien lainnya. Begitu juga dengan tetangganya sangat menghargai klien. b) Hubungan Sosial Klien tinggal di rumahnya sendirian setelah istrinya meninggal. d) Spiritual (1) Falsafah hidup Klien mengatakan tujuan hidupnya saat ini ingin menjalani kehidupan yang tenang di masa tuanya.

Klien menganggap kehidupan sekarang ini lebih banyak masalahnya dan klien lebih merasa betah di rumah daripada tinggal di rumah sakit. klien akan tinggal di rumah sendiri. keramas. minum. kebersihan diri (mandi. sikat gigi). 77 (2) Sense of transcendence Klien mengaku dirinya bukan orang yang mudah putus asa. klien akan terus minum obat kalau dianjurkan dan pemberian obat ini akan diawasi oleh keluarganya. BAK klien akan melakukannya sendiri. 7) Perencanaan Klien Pulang a) Rencana tinggal Setelah pulang dari rumah sakit. b) Rencana pemenuhan kebutuhan  Untuk obat. serta anaknya jika nanti sudah pindah ke tempat tinggal klien. Klien tidak melaksanakan kegiatan ibadahnya selama sakit. . (3) Konsep Ketuhanan dan keagamaan Klien meyakini adanya Allah. dan kehidupan ini sudah di atur oleh-Nya. dan anaknya yang berada di Banjaran akan pindah ke rumah klien untuk mengurus dan merawatnya. Keluarga akan membantu dan memenuhi kebutuhan sehari-hari klien  Biaya sehari-hari ditanggung oleh kakak dan keponakan klien.  Untuk pemenuhan makan. Klien berusaha untuk selalu berdoa agar hidupnya bisa tenang. karena ia merasa masih mampu. Begitu juga dengan keponakan dan kakak klien akan ikut merawat klien. BAB.

78 c) Mekanisme koping Klien mengatakan jika nanti menghadapi masalah.100 mm3 5000-10. e) Rujukan pengobatan/perawatan Keluarga akan membawa klien kontrol secara teratur ke RSJ. keponakan atau anaknya untuk berobat ke RSJ. Dan klien akan mengikuti kegiatan di lingkungan rumahnya lagi d) Support system Saat ini yang menjadi support system klien yaitu kakak klien.000 mm3 3 SGOT 37. akan membicarakan dengan keluarganya.6 0 – 42 . Klien mengatakan akan menuruti saja bila nanti diajak oleh kakak. 8) Terapi a) Psikofarmaka  Pherpenazym 4 mg 3 x 2 tablet/oral/hari  Trihexyphenidyl 2 mg 3 x 1 tablet/oral/hari  Ativan 1 mg 1 x 1 (sore hari) tablet/oral/hari  Tofamax 25 mg 1 x ½ (pagi)tablet/oral/hari 9) Pemeriksaan Penunjang a) Laboratorium : 10 Agustus 2005 N0 Jenis pemeriksaan Hasil Normal 1 Haemoglobin 12. keluarga belum begitu mengetahui bagaimana cara perawatan klien nanti dirumah apabila sudah pulang.4 gr/dl 12 – 16 gr/dl 2 Leukosit 6.7 0 – 37 4 SGPT 39. keponakan serta anaknya.

rasa kesepian dan marah-marah terhadap perasaan tak menentu orang yang didatanginya  tersebut. bahkan sampai Stressor bagi klien mengamuk dan merusak rumah. Analisa Data DATA KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH 2 4 5 DS : 9 hari yang lalu (30 Juli 2005) istri Resiko  Klien mengatakan klien meninggal dunia mencederai suka mendengar suara.   Klien mengatakan Klien memendam perasaan sendiri masuk ke rumah sakit dan tinggal dirumah sendirian karena marah-marah dan  suka memukul orang  Klien mengatakan 9 Kecemasan meningkat hari yang lalu istrinya  . 79 B. untuk mendatangi rumah Klien merasa kehilangan orang yang tetangga dekatnya serta dicintainya.  orang lain dan suara yang menyuruhnya lingkungan.

suara tersebut. 80 2 4 5 meninggal dunia dan klien Merangsang pengeluaran zat-zat merasa kehilangan orang halusinogenik yang disayanginya. melamun DO :   Klien kadang terlihat suka Penurunan persepsi terhadap realita bicara sendiri dengan nada marah. tetangganya dan memarahinya )  Keluarga mengatakan  klien pernah bertengkar Timbul perilaku marah dan dan memukuli keponakannya mengamuk  Resiko mencederai orang lain dan lingkungan DS : Gangguan orientasi realita Defisit  Klien mengatakan perawatan diri :  malas untuk mandi kebersihan diri  Klien mengatakan Penurunan daya tilik diri terutama tidak punya peralatan dalam hal perawatan diri untuk mandi  Penurunan minat untuk melakukan DO : perawatan diri  Keadaan klien terlihat  kurang bersih  Rambut klien terlihat Defisit perawatan diri tidak rapih  Mulut kotor DS : Koping individu  Klien mengatakan Adanya masalah interpersonal tidak efektif : kalau dirinya mempunyai (masalah dengan teman sesama supresi masalah suka dipendam pengurus Masjid) yang dihadapi klien sendiri  Klien tidak mau  menceritakan masalahnya Timbul konflik eksternal kepada orang yang dipercaya atau orang  yang bersangkutan yang Klien memendam masalahnya mempunyai masalah sendiri dengan klien.   Nada suara klien kadang Klien tidak mampu membedakan hal terdengar keras yang nyata dan tidak nyata  Menurut keluarga 3 bulan  yang lalu. Klien lebih banyak berfantasi. mudah menyuruh klien mendatangi rumah tersinggung. klien mununjukan perilaku yang Halusinasi pendengaran ( isinya tidak wajar.  Keluarga mengatakan  klien tinggal sendiri di Permasalahan yang dihadapi klien rumah setelah istrinya .   Klien mengatakan selalu menuruti perintah suara.

Koping individu tidak efektif : supresi berhubungan dengan ketidak tahuan klien tentang cara menyelesaikan masalah 3.  Di rumah sakit klien terlihat sering diam dikamarnya. Resiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi dengar 2. ia mempunyai  masalah dengan teman Ketidakmampuan klien untuk dekatnya sesama mengatasi masalahnya secara pengurus Masjid konstruktif DO :  Klien masih sedikit  bicara Koping individu tidak efektif : supresi  Mata klien sering diarahkan te tempat lain saat berkomunikasi. Defisit perawatan diri : kebersihan diri berhubungan dengan kurangnya motivasi untuk merawat diri .  Jarang berbicara dengan klien lainnya C. tidak terselesaikan  Menurut pengakuan klien. 81 2 4 5 meninggal. Diagnosa Keperawatan Berdasakan Prioritas 1.

berhubungan 8 Agustus 2005. berjabat tangan. Adanya 1. Klien mau klien dan duduk duduk di samping klien O diajak berkenalan disampingnya 1. Membina hubungan saling S: pendengaran Setelah dilakukan percaya dengan merupakan dasar dari percaya dengan klien dengan  Klien tindakan selama 2 x menggunakan prinsip penerimaan klien terhadap cara : mengatakan pertemuan dalam sehari. Klien mau 1.7 Membuat kontrak waktu mau duduk untuk pertemuan disamping . D hubungan saling percaya ramah secara verbal untuk menggali masalah 1. IMPLEMENTASI.1 Sapa klien dengan memudahkan bagi perawat sambil tersenyum Bp. marah-marah dan diajak berjabat 1.6 Merima klien apa megenai perasaan dan tersenyum kontak mata adanya masalah yang bapak D  Mau berjabat 6.7 Berikan perhatian hadapi. Klien mau 1.2 Ajak klien untuk masalah yang dihadapi lengkap klien dan nama bahwa dirinya 1. komunikasi terapetik : perawat. sehingga 1. jam 07.5 Jelaskan maksud dan perawat ingin menjawab salam duduk berdampingan tujuan pertemuan berbincang-bincang  Klien tidak 5. dengan dan non verbal dan mengidentifikasi dan menanyakan nama mengatakan kriteria evaluasi : 1.30 Pukul 07. EVALUASI N Diagnosa PERENCANAAN IMPLEMENTASI EVALUASI o Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional 1 2 3 4 5 6 7 1 Resiko TUM : mencederai Klien tidak mencederai orang lain dan orang lain dan lingkungan lingkungan Pertemuan ke 1 8 Agustus 2005. tangan mengutarakan kepada klien dan 1. 1. Klien mau berjabat tangan klien serta merupakan panggilan yang masuk RSJ membalas salam 1.5 Berkata jujur dan empati  Klien tidak perasaan dan kebutuhan dasarnya. Bina hubungan saling Hubungan saling percaya 1.3 Ajak klien untuk dasar hubungan terapetik disukainya sambil karena suka 2.45 dengan halusi TUK 1: 1.1 Mengucapkan salam dirinya bernama klien dapat membina 1.3 Tetap menjaga kontak suka mendengar tangan kontak mata dengan mata dengan klien dan suara-suara 3.6 Mempersilahkan klien dapat masalahnya untuk makan pagi mempertahankan (waktu makan sudah kontak mata tiba)  Klien tidak 1.4 Menjelaskan bahwa  Klien 4.2 Memperkenalkan diri  Klien dengan perawat. PERENCANAAN. Klien mau berkenalan antara klien dan perawat.B.4 Usahakan untuk tetap 1.

3 Berkata jujur dan empati fisik.4 Menjelaskan kepada klien  Klien bahwa klien akan mengatakan dilakukan pemeriksaan diperiksanya fisik serta tujuan dikamar sendiri dilakukan pemeriksaan saja fisik.1 Mengucapkan salam pukul 09.45 sambil tersenyum dan S: berjabat tangan  Klien 1. Membina trust dengan klien dengan cara : 8 Agustus 205. 1.1 2 3 4 5 6 7 berikutnya perawat  Waktu : 09. Pukul 09.  Klien 1.30  Klien tidak  Tofik : perihal ingat nama pemeriksaan fisik perawat klien A  Tempat : kamar klien  Masalah teratasi sebagian P : lanjutkan intervensi Pertemuan ke 2 8 Agustus 2005.2 Tetap menjaga kontak mengatakan mau mata dengan klien dan untuk dilakukan duduk di samping klien pemeriksaan 1.5 Melakukan pemeriksaan mengatakan fisik nama perawat adalah Utan O:  Klien menjawab salam. 1. mau berjabat tangan  Klien tersenyum 67 .30 1.

tiba-tiba laku verbal dan non mendengar suara- yang berhubungan marah. dalam 2 hari.00 timbulnya halusinasi datangnya halusinasi S:  Klien 2.3 Mengatakan bahwa memarahinya sebagai hal yang nyata ia benar mengalami perawat percaya klien  Klien bagi klien dan tidak halusinasi dan membantu mendengar suara itu.1 Melakukan kontak sering dengan kriteria : dan singkat memungkinkan dapat dengan klien dalam 1.1. Klien dapat menggali lebih banyak frekuensi waktu yang menyebutkan waktu.1.1.2 Observasi perilaku Perilaku tertawa dan 2.1. tapi mengatakan nyata bagi perawat klien ke arah realita orang lain tidak suara-auara itu mendengarnya. klien dapat mengenal halusinasinya. jam 11.45 teratasi. klien sedang mengalami menyuruhnya halusinasi untuk mendatangi tetangganya dan 2.1.2 Mengobservasi tingkah mengatakan suka verbal dan non verbal bicara sendiri. isi dan frekuensi mengurangi frekuensi menit) Pukul 12.1 2 3 4 5 6 7  Klien mempersilahkan perawat duduk disampingnya  Klien menganggukan kepala saat mengatakan mau dilakukan pemeriksaan fisik  Klien kooperatif pada saat dilakukan pemeriksaan fisik A: TUK 2 : Pertemuan ke 1  Masalah Setelah 3 kali pertemuan 8 Agustus 2005.1.1. Adakan kontak sering Kontak yang sering 2. mengenai halusinasi dan tidak terlalu lama (15 8 Agustus 2005. adalah suara 68 . mengindikasikan verbal klien. 2.3 Terima halusinasinya Meyakinkan klien bahwa 2. suara yang dengan halusinasi.

1. halusinasi halusinasi  Perilaku klien tidak menunjukan sedang halusinasi A:  Masalah belum teratasi Pertemuan ke 2 P: 9 Agustus 2005. sering atau tidak dan kapan munculnya isi dan frekuensi waktunya kapan muncul suara tersebut.1 2 3 4 5 6 7 2.2 Diskusikan dengan Dapat diketahui 2.5 Memberikan penjelasan itu muncul jika pada klien bahwa hal sedang sendiri yang dialami klien itu atau banyak 69 . Klien dapat perasaannya saat mempengaruhi perasaan suara itu datang.4 Menanyakan apakah Pukul 08. 9 Agustus 2005. itu muncul 2.2 Mengobservasi tingkah laku verbal dan non verbal klien. timbulnya halusinasi. dan perilaku klien. klien tentang waktu halusinasi yang dialaminya yang didengar klien.1. 50 klien mendengar suara S: tadi malam.1.30  Lanjutkan intervensi 2. apakah  Klien suara yang didengar mengatakan tadi sering atau tidak dan malam tidak waktunya kapan mendengar suara- muncul suara-suara itu suara  Suara-suara 2.  Ekpresi perasaannya saat wajah klien mengalami terlihat kesal. suara-suara itu  Klien mengatakan kesal 2.1. O: mengungkapkan terjadi halusinasi.1.4 Menanyakan suara apa setan.4 Identifiksi bersama Klien dapat mengenal 2.2 Menanyakan bagaimana kalau suara-suara klien mengenai sejauhmana halusinasi perasaan klien saat suara. 2. Pukul 08.  Klien lupa munculnya halusinasi.

menyebutkan suara-suara itu muncul tindakan yang biasa muncul 9 Agustus 2005.1.1.1. klien mengatasi suara-suara menuruti apa itu yang didengarnya  Klien mengatakan bila 70 . dilakukan untuk Pukul 11. Pukul 10. pikiran bukan suara setan  Klien mengatakan 2. akan tetapi Setelah 2-3 kali halusinasi.7 Mendiskusikan tentang klien kadang halusinasi terdengar keras  Klien dapat berinteraksi dengan cukup baik.1. Klien dapat biasa dilakukan bila halusinasi saat halusinasi suara itu muncul.1 2 3 4 5 6 7 adalah halusinasi.1 Identifikasi bersama Mengetahui kemampuan 3.1 Menanyakan apa yang kriteria evalusasi : klien tindakan yang klien dalam mengatasi dilakukan klien saat 1. Pertemuan ke 1 A : Masalah teratasi klien dapat mengontrol 9 Agustus 2005.2 Memberikan pujian saat S: halusinasinya terhadap tindakan meningkatkan harga diri klien suka berdoa untuk  Klien suka klien yang positif.1.6 Menggali pengetahuan bahwa halusinasi klien tentang itu tidak nyata halusinasi O:  Nada suara 2.30 halusinasinya. pertemuan dalam 2 hari.2 Berikan pujian Penghargaan positif dapat 3.  Klien dapat menerima tentang penjelasan dari perawat bahwa suara yang didengar adalah bukan suara TUK 3 : setan.1. dengan 3.00 mengendalikan 3.

2.3 Bantu klien memilih cara Memberikan alternatif muncul. mengatasi kegiatan terapi aktivitas dan perasaan klien.4 Ikut sertakan klien dalam Mengalihkan perhatian saat halusinasi muncul. Berdiskusi dengan klien sudah kesal mengontrol/memutus kemampuan bahwa ada beberapa cara dengan suara- 2.2. dan memberikan dorongan mempraktekan halusinasi seperti untuk melakukan cara yang doa yang yang telah sudah dipilihnya tersebut di dibacanya untuk didiskusikan 3.  Mengikuti  Klien kegiatan yang ada mengatakan lebih di RSJ. realita.1 2 3 4 5 6 7 3. serta halusinasinya kelompok. 3. Klien dapat kegiatan terapi aktivitas lebih banyak mengikuti terapi kelompok diam saat terapi aktivitas kelompok. Klien dapat halusinasi dan dorong kesanggupan klien. aktivitas kelompok  Klien belum mampu memilih cara baru mengatasi 71 . klien menyebutkan cara halusinasi dan mengontrol halusinasi suka marah untuk mengontrol mengarahkan klien ke yaitu dengan cara :  Klien halusinasi.3 Memberikan kesempatan aktivitas memilih dan klien untuk melakukan pada klien untuk memilih kelompok melaksanakan cara tindakan sesuai dengan cara mengontrol halusinasi  Klien baru mengatasi cara yang telah dipilih. klien merasa diperhatikan 3.  Klien mau memutus/mengontrol pilihan yang sesuai dengan diajak terapi 3.  Melawan dan mengatakan berusaha untuk mengabaikan menghilangkan halusinasi halusinasi dengan  Tidak banyak cara berdoa dan menyendiri tidak melamun. suka berdoa  Minta bantuan untuk mengatasi ke perawat/teman halusinasinya jika halusinasi O: 3. Klien dapat timbulnya halusinasi klien untuk mengontrol mengendalikan / suara itu. Diskusikan cara untuk Meningkatkan 3.4 Mengajak klien dalam  Klien terlihat 4.

perawat  Mengikuti kegiatan O: yang diadakan oleh  Klien cukup RSJ. kooperatif  Klien sudah dapat memilih 3 cara untuk mengontrol halusinasi  Klien sudah 72 .2 Mengingatkan kembali P: pada klien mengenai cara  Lanjutkan mengontrol / memutus intervensi halusinasinya 10 Agustus 2005 .3 Menganjurkan pada klien S: untuk memilih cara apa  Klien yang akan dipakainya mengatakan bila untuk mengontrol nanti timbul halusinasi dan halusinasi.  Klien Cara yang dipilih klien mengatakan adalah : apabila halusinasi  Akan melawan dan muncul mau berusaha mengabaikan memanggil halusinasinya.1 2 3 4 5 6 7 halusinasi A: Pertemuan ke 2  Masalah 10 Agustus 2005. Pukul 08.4 Membantu klien untuk mengikuti memilih dan menggunakan kegiatan yang ada cara yang dipilih untuk di RS.35 3. mengontrol halusinasi.20 belum teratasi 3. akan meganjurkannya untuk melawan dan menggunakan saat berusaha untuk halusinasi timbul mengabaikannya. serta akan 3. Pukul 08.

membuat tenang.2. dengan mengenai 5 prinsip benar berguna untuk kedepannya kriteria : dalam pemberian obat supaya klien bisa mandiri 4. waktu tablet mengatakan dan dosis obatnya. memperbaiki pikirannya pola tidur. mengenai 5 prinsip benar menyebutkan 5 dalam pemberian obat.1 Berdiskusi dengan klien 1.1 Diskusikan dengan klien Informasi tersebut akan 9 Agustus 2005. hilang. Klien obat yang diminum.1 Berdiskusi dengan klien  Klien 2. pemberian obat : Pherpenazym 4 mg 3x2 Pukul 11. pagi tidak tahu nama. Ativan 1 mg 1x1 tablet sore semua obat Tofamax 25 mg 1x ½ tablet caranya diminum. perasaan dan pikiran halusinasinya menjadi tenang.45 benar nama tablet S: pemakainya.  Masalah klien dapat Pertemuan ke 1 teratasi memanfaatkan obat 4. mengatakan mengetahui manfaat Ativan.30 dengan baik. cara. Semua obat diminum dosis dan 4. secara tertaur bahwa obat Pherpenazym. frekuensi minum mengenai manfaat meningkatkan kemauan obatnya.1 Berikan penjelasan Informasi tersebut akan melalui mulut. Klien dapat dalam minum obat. efek samping kelemahan otot). Efek obat sampingnya berupa mual.Tofamax adalah manfaat minum dan efek samping untuk menghilangkan obat supaya obat halusinasi.  Klien 73 . sedangkan  Klien Trihexyphenidyl sebagai mengatakan lupa antiparkinson(gemetaran. prinsip benar dalam sebagai berikut : 9 Agustus 2005. Pukul 11. nama Trihexiphenidyl 2 mg 3x1  Klien obat. dan efek samping klien untuk minum obat 4.2.1 2 3 4 5 6 7 dapat melaksanakan cara mengontrol TUK 4 : halusinasi Setelah dilakukan 3 kali A : pertemuan dalam 2 hari.

1 Anjurkan klien untuk Memandirikan klien dalam muntah. serta pikiran klien tidak intervensi akan stabil lagi 74 .4 Berdiskusi dengan klien.3 O Efek samping obat akan mg 1 tablet dengan bantuan bservasi tanda-tanda mengganggu terhadap perawat.3. terjadinya efek pemenuhan KDM klien.2 B Mengetahui sejauh mana makan mengatakan jika penggunaan obat antu dan temani klien klien menggunakan berhenti minum dengan benar. dan kondisi emosi P : Lanjutkan tidak teratur.3.  Tremor. Klien kemungkinan  Masalah memahami akibat halusinasinya akan muncul teratasi sebagian dari minum obat lagi. 4. mau meminta kepada perawat. obatnya secara benar. sering mengantuk. A: 4.1 Menganjurkan pada obat sendiri klien untuk minta obat kepada petugas 3.3 Mengobservasi  Klien samping obat : sehingga perlu dikaji. obat dan menemani halusinasinya klien saat minum obat : akan muncul lagi.2 Membantu menyiapkan obat.  Pherpenazym 4 mg O: 2 tablet  Klien sudah  Trihexiphenidyl 2 minum obat siang 4. 4. saat minum obat.  Tidak ada Klien mengetahui tanda-tanda efek 4. muntah meminta obat  Penglihatan kabur. 4. kemungkinan efek menggelengkan  Mulut dan bibir samping obat.3.3. langsung kepada pusing petugas. Klien dapat sendiri tiap sesudah  Klien mendemonstrasikan 4.1 2 3 4 5 6 7 4. mengatakan tidak minta obat sendiri pemenuhan obat. bibir kering.3.4 Diskusikan akibat konsekuensi bila berhenti samping obat berhenti minum obat minum obat. kepala saat kering dianjurkan untuk  Mual. pada klien tanpa konsultasi bila berhenti minum obat.3. 4.

kemungkinan efek  Klien samping obat.  Pherpenazym 4 mg 2  Klien tablet mengatakan efek  Trihexiphenidyl 2 mg 1 samping obat tablet yang diminum  Tofamax 25 mg ½ yaitu bibir kering. Pukul 07.30 4. muntah dan sering 4. 10 Agustus 2005. dosis.4 Memberikan obat pagi : obat.3 Menganjurkan pada klien pusing kalau untuk minta obat sendiri harus menghapal tiap sesudah makan. 75 .1 Mengingatkan kembali akan nama. nama. Pukul 07. dan frekuensi minum 4. dosis dan frekuensi minum obat serta warna dan ukuran obat yang diminum.2 Menjelaskan kembali efek S: samping minum obat  Klien mengatakan 4. O:  Klien belum mampu mengingat nama.1 2 3 4 5 6 7 Pertemuan ke 2 10 Agustus 2005.50 4.5 Melakukan observasi mengantuk. mengatakan mau minta lansung kepada perawat setiap mau minum obat. tablet mual.

4. dosis S: dan frekuensi minum obat  Klien serta warna dan ukuran mengatakan mau obat dengan cara mencoba menuliskannya di secarik mengingat nama.00 10 Agustus 2005. dosis dan frekuensi minum 4. 76 . jadwal. Pukul 11. kertas.1 2 3 4 5 6 7 dosis dan frekuensi minum obat.3 Memberikan pujian pada  Klien klien saat klien mampu menerima catatan menyebutkan dan berusaha dari perawat. O: 4.30 kembali akan nama.2 Bersama klien membuat obat yang sudah jadwal minum obat secara ditulis didalam tertulis.  Klien tampak meminta obat sendiri ke perawat setelah makan pagi  Klien sudah mengetahui manfaat obat yang diminum A:  Masalah teratasi sebagian P : Lanjutkan intervensi Pertemuan ke 3 10 Agustus 2005.1 Mencoba mengingatkan Pukul 11.

2. tanda dilakukan untuk dan pada awal dan gejala halusinasi menangani hal tersebut.2. mei 2005 klien serta tindakan yang Dapat meyakinkan sudah berperilaku dilakukan dalam 5.1 Mengkaji pengetahuan mengamuk tindakan yang mengalami halusinasi.1 Membina hubungan saling serta perawatan pada anggota keluarga klien terhadap perawat.1 Bina hubungan saling merupakan dasar dari 12 Agustus 2005. Keluarga dapat dilakukan dalam halusinasi yang dialami teman sesama menyebutkan mengontrol klien. keluarga mengenai terutama pada 2. riwayat tentang klien  Keluarga Dapat diketahui wawasan sebelum masuk rumah menceritakan 5.1 Kaji pengetahuan dan koping keluarga dalam sakit klien sering keluarga tentang mengahadapi anggota marah dan halusinasi dan keluarganya yang 5. Pukul 15.2 Berikan keluarga bahwa tindakan yang tidak wajar 77 . percaya dengan keluarga klien.  Masalah teratasi sebagian P  Lanjutkan TUK 5 : intervensi Setelah dilakukan kunjungan rumah selama Hubungan saling percaya 1 kali.1 2 3 4 5 6 7 mengingat jadwal minum A: obat.00 memberikan dukungan percaya dengan semua penerimaan keluarga 5.45 dan merupakan dasar anggota keluarga sambil S: terapetik antara keluarga bersalaman  Keluarga dan petugas kesehatan  Menjelaskan menjawab salam maksud dan tujuan  Keluarga kunjungan rumah mengatakan  Memberikan dirinya bernama dorongan pada keluarga Tn M sebagai untuk menceritakan keponakan klien. klien dan tindakan yang pengurus Masjid pengertian. yang dihadapi keluarga diri kepada seluruh Pukul 15. Keluarga dapat bagi perawat untuk  Mengucapkan membina trust dengan mendapatkan data dan salam sambil tersenyum perawat mengidentifikasi masalah  Memperkenalkan 12 Agustus 2005. dengan kriteria : sehingga memudahkan dengan cara : 1.2. keluarga mampu 5.

menjaga 5.1 2 3 4 5 6 7 mengontrol reinforcement yang dilakukannya sudah  Keluarga halusinasi. adalah jangan  Tanda membiarkan halusinasi dengar klien melamun :berbicara sendiri.  Cara menganjurkan mengontrol halusinasi : klien untuk tidak membiarkan klien memberitahu sendirian. sendiri.3 Beri penjelasan wawasan dan pengetahuan sendiri. terhadap tindakan benar 5. tertawa atau sendirian. marah tanpa ada orangnya.2 Memberikan pujian saat mengatakan yang positif.2. libatkan klien muncul untuk beraktivitas. tanda dan halusinasi 5. sendiri.  Keluarga dirumah mengatakan cara 78 . suara tanpa ada mengenai pengertian keluarga mengenai orangnya. klien saat sedang mengenai cara klien dirumah dengan baik memberikan obat secara ngamuk perawatan klien teratur.1 Jelaskan pada keluarga melakukan perawatan halusinasi timbul. dan tiba-tiba.2.3 Memberikan penjelasan orang lain tidak gejala serta cara kepada keluarga mendengarnya. keluarga mengatakan halusinasi dengar suka menegur klien jika yaitu klien Dapat menambah klien sedang berbicara mendengar suara- 5. menegur klien anjurkan pada klien untuk jika sedang bicara Diharapkan keluarga dapat memberitahu keluarga jika sendiri. dan cara orang lain tidak mengontrolnya mendengarnya. marah tiba-tiba.3. dan halusinasi. ikut kegiatan dll keluarga. mengontrol/mengend mengenai tanda alikan halusinasi  Halusinasi halusinasi :bicara pendengaran yaitu klien dan tertawa mendengar suara-suara. tidak keluarga bila membiarkan klien halusinasi melamun. lawan  Keluarga dan abaikan jika mengatakan suka mendengar halusinasi lagi.2.

Keluarga dapat 5.3.2 Berikan penjelasan keluarga mengenai obat. ajak klien  Mengajak klien bermusyawara untuk berdiskusi jika h bila menghadapi suatu mempunyai masalah masalah  Melibatkan klien o Meng dalam kegiatan ajak klien keluarga : dalam kegiatan membereskan rumah. perawatan 5. o Mem  Membantu bantu pemenuhan kebutuhan pemenuhan dan perawatan kebutuhan dan Menambah pengetahuan kebersihan diri sehari. sehari-harinya mengenai sehingga keluarga dapat  Membawa klien o Kontr penggunaan obat memanfaatkan kontrol secara teratur ol secara psikofarmaka. penggunaan obat untuk sesuai dengan yang teratur sesuai 79 .3. keluarga menjemur padi. tidak tidak memaksa memaksa.1Memberikan penjelasan merawat klien menyebutkan cara pada keluarga mengenai dirumah perawatan klien cara merawat klien diantaranya : dirumah. dll. selalu ada o Meng komunikasi. perasaan. hari.1 2 3 4 5 6 7 3. dirumah. sesuai dengan  Menyarankan kemampuanny pada keluarga untuk a ada yang menemani o Ada dan mengawasi klien yang dirumah menemani dan  Menjaga mengawasi keakraban antara klien klien dirumah dan keluarga. diantaranya : o Kala  Cara u bicara berkomunikasi dengan dengan klien klien tidak boleh tidak boleh menyinggung menyinggung.

1 2 3 4 5 6 7 klien dengan benar.3. sikap warga yang menolak kehadiran klien. klien sesuai dengan merawat dan  Keluarga yang telah memperhatikan klien menyebutkan dijelaskan sesuai dengan yang telah klien dapat dijelaskan kambuh lagi akibat : minum obat yang tidak teratur. prinsip benar 4.4 Memberikan motivasi serta efek memperhatikan pada keluarga untuk mau sampingnya. mengalami masalah yang berat. manfaat merawat dan 5. hubungan keluarga tidak harmonis. Keluarga dijelaskan dalam pemberian mengatakan akan obat.4 Motivasi keluarga untuk keluarga untuk merawat pada keluarga mengenai 5 sudah mau merawat dan dan memperhatikan klien prinsip benar dalam mengetahui memperhatikan klien pemberian obat. manfaat mengenai 5 sesuai dengan yang telah serta efek samping obat. dianjurkan dokter anjuran dokter  Keluarga Menguatkan keinginan 5.2 Memberikan penjelasan mengatakan 5.  Keluarga akan merawat klien sesuai dengan yang telah dijelaskan  O:  Keluarga mau diajak bersalam 80 .

klien dapat konstruktif mengetahui koping yang 81 . keluarga menyimak dengan baik. serta tetangga 1 orang  Selama petugas menjelaskan dan menyampaikan materi.  A:  Masalah teratasi 2 Koping individu TUM : tidak efektif : Klien mampu supresi menggunakana koping berhubungan yang efektif dalam dengan ketidak menyelesaikan masalah tahuan klien cara TUK 1 : menyelesaikan Setelah 1x pertemuan masalah secara dalam sehari.1 2 3 4 5 6 7  Keluarga terlihat senang dengan kehadiran petugas  Keluarga menyambut baik petugas  Keluarga yang hadir : keponakan dan kaka klien.

1 Jelaskan tentang koping Klien menjadi termotivasi 9 Agustus 2005. A : Masalah teratasi TUK 2 : Setelah 1x pertemuan dalam sehari. dengan kriteria : Pukul 09.1 2 3 4 5 6 7 biasa dipakai dalam menyelesaikan masalah. Klien 1. kepada klien bahwa untuk S: koping yang selama menghadapi masalah menyelesaikan masalah  Klien 82 . Pukul 09.40 mengatakan bahwa klien dalam baru yang lebih efektif. masalah dalam menghadapi kalau ada masalah. Klien yang biasa digunakan untuk memakai koping 2.20 9 Agustus 2005. O:  Klien mau mengungkapkan koping yang digunakannya.1 Mendiskusikan S: menyebutkan koping koping yang biasa yang biasa dipakai oleh mengenai koping yang  Klien yang biasa digunakan klien saat klien saat menghadapi biasa dipakai oleh klien mengatakan dipakainya menghadapi masalah. 1. tidak dibicarakan kepada orang lain atau orang yang bersangkutan.20 9 Agustus 2005. masalah lebih suka memendam masalahnya. klien dapat menilai koping yang selama ini digunakan apakah baik atau tidak.1. Pukul 09. 9 Agustus 2005.40 1.1 Diskusikan mengenai Dapat diketahui koping 1. dengan kriteria hasil : 2.1 Memberikan penjelasan Pukul 09.1.

2 Berikan kesempatan Dapat diketahui tidak baik.2 Memberikan kesempatan O: menilai koping yang koping yang dirasakan pada klien untuk  Klien biasa digunakan.1 2 3 4 5 6 7 ini digunakannya dan berikan penilaian. tidak menceritakan kalau selama ini kepada orang yang cara yang bersangkutan atau orang digunakan untuk lain tidak akan dapat menghadapi menyelesaikan masalah.1.1 Diskusikan dengan klien Meningkatkan Pukul 09. 9 Agustus 2005. dengan kriteria : 3. bersangkutan. mengatakan tidak baik. Klien dapat mengenai koping yang pengetahuan klien 3. memberikan penilaian dapat menilai terhadap koping yang koping yang biasa dipakai apakah baik digunakannya atau tidak baik selama ini. masalahnya itu 2. klien dapat mengetahui koping yang baik. Pukul 09.40 1. dengan cara dipendam.1 Melakukan diskusi dengan S: menyebutkan koping baik dalam menghadapi mengenai koping yang klien tentang koping yang  Klien yang baik masalah bisa dipakai dalam baik dalam menghadapi mengatakan mengatasi masalah masalah : koping yang baik  Tidak memendam untuk mengatasi masalah sendirian masalah dengan  Membicarakan kepada cara orang yang membicarakan bersangkutan secara pada orang yang baik-baik dipercaya atau  Membicarakan atau kepada orang minta bantuan pada yang orang yang dipercaya. A : masalah teratasi TUK 3 : Setelah 2x pertemuan dalam sehari.1. informasi lebih banyak O: 83 .20 9 Agustus 2005. pada klien untuk sejauhmana manfaat 2.  Mencoba mencari secara baik-baik. selama ini.

1.1. A : Masalah teratasi TUK 4 : Setelah 2x pertemuan dalam 1 hari. kriteria : 4. klien dapat memilih koping yang akan Pertemuan ke 1 digunakannya.2 Tidak memberikan  Klien sudah dipilihnya telah dipilihnya. reinforcement karena menggelengkan klien belum mampu kepala saat memilih koping.20 1. akan digunakannya mengatakan tidak dengan menyebutkan tahu koping yang kembali koping yang akan dipilih baik dalam menghadapi sesuai dengan masalah. A:  Masa lah belum teratasi P : lanjutkan intervensi 84 .1. Pukul 09. dengan 10 Agustus 2005. nanti.00 10 Agustus 2005.1 2 3 4 5 6 7 tentang masalah yang  Klien sedang dihadapi dapat  Membuat berbagai menyebutkan alternatif tindakan cara koping yang pemecahan masalah baik.1 Membantu klien dalam S: koping yang sesuai akan digunakan. dianjurkan untuk memilih koping yang baik. yang akan dipakainya memilih koping yang  Klien dengan dirinya.1. Klien memilih memilih koping yang menentukan koping mana 4.1 Bantu klien untuk Memudahkan klien Pukul 09.2 Berikan reinforcement Meningkatkan keyakinan O: positif atas koping yang klien akan koping yang 4. masalahnya 4.

2 Memberikan penjelasan setujua apa yang bahwa hidup ini dijelaskan oleh membutuhkan orang lain. agar masalahnya kesempatan dapat terselesaikan untuk berpikir terlebih dahulu sebelum menentukan pilihan O:  Klien menganggukan kepala saat mengatakan setuju akan pendapat yang diberikan perawat  Klien belum mampu memilih kopingnya. 4.1 2 3 4 5 6 7 Pertemuan ke 2 : 10 Agustus 2005. perawat tidak bisa sendirian.1 Memberikan motivasi pada Pukul 09.00 10 Agustus 2005. A:  Masa lah belum teratasi P : Berikan kesempatan pada 85 . Pukul 09.20 klien untuk memilih koping S: yang akan digunakannya  Klien mengatakan 4. apalagi  Klien kalau menghadapi masalah mengatakan tentu memerlukan bantuan minta orang lain.

 Klien kebersihan diri serta akibat tidak yaitu untuk : mengatakan akibat tidak melakukannya  Menjaga badan agar pentingnya melakukannya tetap bersih.15 pentingnya pentingnya melakukan memotivasi klien untuk klien tentang pentingnya S: melakukan kebersihan diri serta menjaga kebersihan diri melakukan kebersihan diri. Klien dapat 1. kebersihan diri  Mencegah kerusakan agar : badan tetap gigi dan bau mulut bersih dan segar.50 8 Agustus 2005.1 Mendiskusikan dengan Pukul 11.1 Diskusikan dengan Dapat menambah 8 Agustus 2005.  Menjaga kulit kepala mulut tidak bau dan rambut tetap bersih.1 2 3 4 5 6 7 klien untuk berpikir dan memahami dulu mengenai penggunaan koping yang baik 3 Defisit TUM : perawatan diri : Kebutuhan perawatan kebersihan diri diri dapat terpenuhi berhubungan secara mandiri dengan kurangnya TUK 1 : motivasi untuk Setelah 2 x pertemuan merawat diri dalam sehari. dengan kriteria : 1. pukul 10. dan rambut bersih  Mencegah penyakit serta mencegah Serta akibat tidak penyakit melakukan kebersihan diri :  Klien  Badan menjadi kotor mengatakan 86 . klien dapat mengenal tentang kebersihan diri. segar dan menjaga nyaman. menyebutkan klien mengenai pengetahuan dan 1.

1 Diskusikan untuk mau melakukan klien mengenai tanda– kotor dan gatal. cara yang harus  Mandi 2x sehari.1 Diskusikan dengan klien kebersihan diri untuk kebersihan diri : dengan mandi 2x kebersihan diri.2.2.1 2 3 4 5 6 7  Mulut dan gigi menjadi akibat tidak kotor dan bau melakukan  Rambut kotor dan kulit kebersihan diri : kepala gatal. mulut dan gigi 2.2. badan kotor.2 Memberikan pujian kepala bersih. klien untuk melakukan saat klien menyebutkan mulut dan gigi 1. kebersihan diri.2.  Klien klien dapat mengatakan cara 3. Klien dapat menyebutkan Menambah pengetahuan 3. pagi sehari. rambut dan kulit Meningkatkan motivasi 1. mengatakan bersih. rambut dan kulit kepala tanda-tanda bersih.2 Berikan perawatan diri beberapa tanda-tanda bersih. gosok gigi dilakukan untuk dan sore hari dengan dan keramas. badan tidak bau. 1. klien seminggu sambil menunjuk organ tubuh yang dimaksud  Klien duduk di samping perawat  Klien tersenyum saat 87 . tanda bersih dengan klien kebersihan diri tanda bersih yaitu :  Klien mengenai tanda-tanda badan tidak berbau. Klien dapat Klien menjadi termotivasi 1. rambut menyebutkan tanda. menggunakan sabun O: mandi  Saat klien  Gosok gigi paling mengatakan sedikit 2x sehari tanda-tanda  Mencuci rambut 2-3 bersih.1 Berdiskusi dengan klien untuk melakukan menjelaskan cara kembali dengan benar klien dalam hal perawatan cara yang harus dilakukan kebersihan diri melakukan 3.1 Berdiskusi dengan kotor. reinforcement jika bersih. mulut dan gigi bersih yaitu bersih.

1 Mengatakan kepada peralatan mandi menggunakan memungkinkan klien dapat klien bahwa besok akan  Klien hanya 88 . cuci rambut 2-3  Klien teratur 2 x sehari. peralatan kebersihan diri mandinya Meningkatkan semangat 2.1 2 3 4 5 6 7 diberikan pujian A:  Masalah teratasi TUK 2 : Setelah 2 x pertemuan dalam dua hari.2 Mengajak klien untuk dingin diperhatikan.1. berpakaian mengatakan tidak rambut 2-3 x yang rapih mau mandi seminggu. melakukan penurunan minat untuk mau melakuakn mandi Pukul 11. sehari.4 Motivasi klien untuk melakukan kebersihan diri. berpakaian dengan alasan rapih Klien akan merasa 2. dengan kriteria : 8 Agustus 2005.1 Memotivasi klien untuk 8 Agustus 2005. karena klien mengatakan perasaan klien setelah dirasakan oleh klien belum mau melakukan belum memiliki melakukan perawatan perawatn diri. Klien Fasilitas yang memadai 2.1 Motivasi klien untuk melakukan kebersihan diri dan gosok gigi 2 x S: anjuran secara mandi dan gosok gigi perlu untuk dimotivasi.3 Tidak menanyakan mandinya sejauhmana manfaat bagaimana perasaan  Klien 2.2. Klien mau Klien yang mengalami 2. tetapi tidak mandi  Klien 2.3 Tanyakan bagaimana kebersihan diri yang klien.50 1.2 Bantu klien saat tidak dimanjakan mengatakan mampu melakukan besok saja perawatan diri Dapat diketahui 2.1.15 kebersihan diri tanpa 2. cuci x seminggu.1.1.1. klien menunjukan minat untuk melakukan perawatan Pertemuan ke 1 diri.1.4 Memberikan motivasi O: klien untuk belajar pada klien untuk belajar  Klien terlihat 2. melakukan kebersihan enggan sewaktu melakukan diri secara mandiri dan dianjurkan mandi kebersihan diri secara bertahap  Klien belum mandiri memiliki 2.1. Pukul 10.1.

pasta gigi. gosok  Klien gigi dan keramas mengucapkan sekarang juga dengan terimakasih menggunakan peralatan setelah diberikan yang sudah diberikan peralatan mandi O: 89 . sisir rambut  Intervensi lain teruskan Pertemuan ke 2 9 Agustus 2005.2 Anjurkan untuk terjadi pengulangan menggunakan  Masalah selalu menggunakan perilaku yang diharapkan peralatan mandi yang belum teratasi peralatan yang sudah nanti diberikan saat P: disediakan setiap mau melakukan kebersihan  Fasilitasi melakukan diri klien dengan kebersihan diri peralatan untuk mandi.2 Menganjurkan pada secara mandiri senang dan mendukung klien untuk A: 2. Memberikan perasaan 2. kebersihan diri pasta gigi.00 untuk mau melakukan S: kebersihan diri. dan sisir mengatakan rambut badannya terasa segar setelah 2.  Klien mengatakan 2.2.1 Memberikan motivasi 9 Agustus 2005.2. shampo.2.1 2 3 4 5 6 7 peralatan yang ada 2.  Klien shampo. sikat gigi.2 Menganjurkan klien mandi untuk mandi. disarankan untuk diri kebersihan diri : melakukan sabun.1.1 Memberikan sabun.30 2. sudah mandi sikat gigi.2. untuk mandi.2. Pukul 07. kembali terhadap klien Pukul 08.1 Berikan fasilitas secara maksimal diberikan peralatan mengangguk saat untuk kebersihan untuk melakukan melakukan kebersihan diri.

1 2 3 4 5 6 7 2. klien terlihat bersih.  Badan dan pakaian klien tidak tercium bau  Rambut klien disisir rapih  Klien masih harus disuruh- suruh untuk mandi A:  Masalah teratasi sebagian P : Intervensi teruskan 90 .2.3 Memberikan pujian  Klien sudah atas kemauan klien mandi setelah untuk mau melakukan dianjurkan perawatan kebersihan  Penampilan diri.

D. CATATAN PERKEMBANGAN

Hari /
No Dp Catatan Perkembangan Paraf
Tanggal
1 2 3 4
Dp 3 Rabu S:
TUK 2 10 – 8 – 2005  Klie Utan .S
n mengatakan belum mandi pagi ini dan
mandinya nanti siang saja
 Klie
n mengatakan masih terlalu pagi untuk
mandi sekarang.
O:
 Pen
ampilan klien terlihat tidak rapih
 Klie
n masih berada didalam kamarnya
 Klie
n terlihat baru bangun tidur
A:
 Klie
n belum mempunyai inisiatif/kemandirian
untuk melakukan perawatan kebersihan diri.
Masalah belum teratasi
P:
 Beri
kan dorongan pada klien untuk melakukan
mandi sekarang
 Jela
skan kembali bahwa setelah mandi badan
klien akan merasa segar dan nyaman seperti
kemarin.
 Aja
k dan bantu klien menuju kamar mandi
 Mot
ivasi klien untuk melakukan perawatan
kebersihan diri secara mandiri
I:
 Me
mberikan dorongan pada klien untuk segera
mandi.
 Me
mberitahukan kepada klien bahwa klien yang
lainpun sudah mandi semua.
 Men
gajak dan membantu klien menuju kekamar
mandi
 Me
mberikan motivasi bahwa klien bisa
melakukan perawatan kebersihan diri secara
mandiri, asalkan ada kemauan dari klien
sendiri
E:

91

1 2 3 4
 Klie
n mau melakukan mandi dan pergi ke kamar
mandi dengan diantar perawat
 Klie
n mengatakan nanti akan mandi sendiri
setiap hari.

DP 1 Kamis S:
TUK 4 11 – 8 – 2005  Klie Utan. S
n mengatakan baru bisa mengingat nama
obat Ativan 1 mg dan Tofamak 25 mg saja.
 Klie
n mengatakan nanti akan mencoba
menghapal nama obat lagi.
O:
 Klie
n sudah dapat mengetahui 2 nama dan dosis
obat tanpa melihat catatan.
A:
 Mas
alah teratasi sebagian
P:
 Anj
urkan pada klien agar mencoba menghapal
terus nama dan dosis obat yang diminum
 Teta
p berikan motivasi untuk minum obat secara
rutin sesuai aturan
 Sara
nkan pada keluarga untuk memberikan
motivasi / membantu mengontrol saat klien
minum obat
I:
 Men
ganjurkan pada klien untuk mencoba
mengingat nama dan dosis obat secara
bertahap dengan melihat pada jadwal minum
obat yang sudah dibuat.
 Me
mberikan motivasi bahwa klien harus tetap
minum obat secara rutin sesuai dengan
aturan
 Me
mberitahu klien bahwa nanti hari jumat
petugas akan berkunjung ke rumah klien
E
 Klie
n mengatakan akan minum obat secara
teratur
 Klie
n memperkenankan petugas untuk
mengunjungi rumahnya.
Dp 2 Kamis S:

92

1 2 3 4
TUK 4 11 – 8 – 2005  Klie Utan. S
n mengatakan sudah memikirkan bagaimana
cara menghadapi jika ada permasalahan
sesuai dengan yang sudah didiskusikan
sebelumnya
 Klie
n mengatakan bila nanti menghadapi suatu
masalah akan dibicarakan dengan keponakan
dan anaknya dengan harapan bisa membantu
menyelesaikan masalahnya
 Klie
n mengatakan dirinya merasa lebih dekat
dengan keponakan dan anaknya
O:
 Klie
n duduk disamping perawat
 Tan
gan klien sesekali suka memegang tangan
perawat
 Klie
n sudah kooperatif saat berinteraksi
A:
 Mas
alah teratasi

Dp 3 Kamis S:
TUK 2 11 – 8 – 2005  Klie Utan. S
n mengatakan pagi ini sudah mandi, gosok
gigi dan keramas
 Klie
n mengatakan badannya terasa segar dan
nyaman walaupun terasa dingin saat mandi
 Klie
n mengatakan mandi atas kemauan sendiri.

O:
 Pen
ampilan klien terlihat rapih, badan dan
pakaian tidak tercium bau, rambut disisir
rapih.
 Saat
dikunjungi klien sedang duduk di kursi
depan dengan klien lainnya
A:
 Mas
alah teratasi
DP 1 Jumat S:
TUK 4 12 – 8 – 2005  Klie Utan. S
n mengatakan belum bisa mengingat nama
dan dosis obat lainnya karena sering lupa.
O:
 Klie
n belum mengetahui semua nama dan dosis

93

D dengan gangguan persepsi halusinasi dengar akibat skizofrenia hebefrenik di Ruang Anggrek RSJ Bandung yang dilakukan secara nyata dan langsung serta disesuaikan dengan konsep teori yang ada. E:  Klie n mengataka akan mencoba menghapal terus sesuai dengan yang dianjurkan. Pembahasan ini dimaksudkan untuk 94 . PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dibahas mengenai asuhan keperawatan pada Tn. B. 1 2 3 4 obat yang diminumya A:  Mas alah belum teratasi P:  Pah ami keadaan kondisi klien  Teta p anjurkan pada klien untuk terus mencoba menghapal nama dan dosis obat dengan melihat catatan yang sudah diberikan I:  Men ganjurkan terus pada klien untuk menghapal nama dan dosis obat dengan melihat catatan yang sudah diberikan.

perencanaan. Pada saat melakukan pengkajian. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dimana penulis menghimpun data dari berbagai sumber informasi. Tetapi dengan pendekatan yang terus menerus akhirnya terlihat adanya rasa percaya kepada penulis. status klien. pelaksanaan dan evaluasi. 95 . Pelaksanaan asuhan keperawatan ini berlangsung selama 5 hari yaitu mulai tanggal 08 sampai dengan 12 Agustus 2005. karena ini merupakan dasar dalam melakukan asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa. penulis awalnya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan klien karena konsentrasi klien sudah mulai menurun. Penulis dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada Tn. sosio. Klien terlihat belum muncul rasa percaya akan kehadiran penulis. 2. kadang suka merasa bingung dengan pertanyaan yang diajukan oleh penulis. perawat ruangan dan keluarga klien. Untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan klien yang meliputi bio. catatan rekam medik. ini terlihat pada saat berkomunikasi pandangan klien sering tertuju ke depan dan hanya sesekali manatap penulis. Disini akan dibahas satu persatu sesuai dengan tahapan proses keperawatan.dan spiritual. penulis mendapatkan informasi yang dikumpulkan dari klien itu sendiri. dan klien mau berbincang– bincang serta mampu berkonsentrasi dan berespon terhadap pertanyaan. psiko. mengetahui ada atau tidaknya kesenjangan antra teori dengan praktek dilapangan. Langkah awal yang dilakukan dalam pengkajian ini yaitu membina hubungan saling percaya antara klien dengan perawat. D ini sesuai dengan tahapan proses keperawatan yang meliputi pengkajian.

96 . Klien dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya karena suka marah-marah serta faktor presipitasinya akibat stressor psikologis yaitu setelah ditinggal kematian istrinya. Hal ini mungkin dikarenakan selama ini klien masih mampu beradaptasi dengan setiap masalah yang dihadapi. D faktor pendukung yang menyebabkan klien mengalami skizofrenia yaitu adanya pengalaman yang tidak menyenangkan. dan jenis kelaminnya laki-laki. bicara ngaco. sehingga hal ini menyebabkan tekanan mental yang mengakibatkan munculnya gejala-gejala prodromal 3 bulan sebelum klien masuk RSJ.a. Pengumpulan data 1) Biodata / identitas klien Secara teori angka kejadian skizofrenia dimulai pada usia remaja / dewasa muda (kurang dari 45 tahun) dan sering terjadi pada laki-laki. skizofrenia yang klien alami terjadi pada usia lansia yaitu 60 tahun. mempunyai riwayat gangguan jiwa sebelumnya serta mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan. serta klien tidak pernah mengalami trauma psikologis yang berat. 3) Faktor predisposisi Faktor predisposisi ini menurut teori disebabkan oleh faktor biologis dan psikososial. klien mempunyai masalah dengan temannya dan tidak terselesaikan. psikologis dan sosiobudaya. Pada klien Tn. Pada kasus kenyataan tidak demikian. pikirannya tidak masuk akal dan pada tahap lanjut sering panik dan berperilaku marah. Ini berarti terdapat kesamaan dengan kasus penulis. 2) Alasan masuk rumah sakit dan faktor presipitasi Dalam teori disebutkan klien dibawa kerumah sakit oleh keluarga dengan alasan suka berperilaku tidak lazim seperti tertawa sendiri. Sedangkan faktor presifitasinya disebabkan oleh stressor biologis.

reaksi menarik diri dan sering melamun.4) Pemeriksaan fisik Pada saat dilakukan pengkajian fisik tidak begitu banyak ditemukan data yang menyimpang atau abnormal. perilaku primitif seperti yang ada dalam teori. Tidak ditemukan adanya gejala efek samping dari obat psikofarmaka karena klien sudah mendapatkan penawar dari efek samping tersebut. penyebabnya karena klien merasa kehilangan orang yang dicintainya setelah ditinggal kematian istrinya serta halusinasi dengar yang masih suka muncul. 5) Status mental Klien berpenampilan tidak rapih. hal ini mungkin dikarenakan klien mengalami penurunan minat dan perhatian terhadap kebersihan diri. Tapi dari segi aktivitas motorik tidak ditemukan perilaku yang aneh seperti gelisah. Kemungkinannya karena klien sudah mendapatka perawatan dan pengobatan. mondar-mandir. Ada beberapa kesamaan antara status emosi yang dialami klien dengan status emosi menurut teori yaitu adanya perasaan sedih. bisa berupa pendengaran maupun penglihatan. Halusinasi dengar yang dialami oleh klien bukan karena perilaku menarik diri dari lingkungan 97 . sampai-sampai halusinasinya tersebut menguasai dan mengontrol klien. serta pada sistem gastrointestinal mulut sedikit kotor oleh sisa-sisa makanan. data ini sesuai dengan konsep teori. Hanya pada sistem integumen penulis melihat rambut agak kotor dan sedikit lengket. Halusinasi bisa terjadi karena klien mengalami ketegangan emosi. yaitu tryhexyphenidyl. kadang terlihat seperti marah. kontak mata kurang begitu kuat saat melakukan interaksi. Klien dengan skizofrenia akan mengalami gangguan persepsi halusinasi.

penilaian klien terhadap sesuatu hal masih baik karena tidak dipengaruhi oleh waham. penilaian suka terganggu akibat adanya waham. D konsep diri tidak mengalami gangguan. 6) Sensori dan kognisi Seperti yang disebutkan dalam teori. karena selama ini klien merasa senang menjadi pengurus masjid dan klien juga cukup dihormati oleh masyarakat di lingkungannya. D tidak begitu nampak. tetapi pada klien Tn. Inkoherensia sering terjadi pada skizofrenia. sehingga setiap mengalami masalah tidak terselesaikan denga baik dan ini dapat menjadikan tekanan mental. sekitar. sering melamun yang lama-kelamaan timbulah gejala-gejala yang dapat berupa halusinasi pendengaran. klien menjadi lebih mudah tersinggung. sehingga menimbulkan ketegangan emosional. 98 . Klien Tn. Pada Tn. Koping yang digunakan oleh klien adalah supresi. tetapi karena klien mempunyai konflik eksternal yang kemudian menjadi konflik internal karena masalahnya tersebut dipendam(supresi). klien skizofrenia tidak mengalami gangguan dalam orientasi. 7) Psikososial dan spiritual Dalam teori. Klien tidak bisa melakukan tugas dengan baik. serta tidak mampu berkonsentrasi penuh. ditambah lagi setelah kematian istrinya kecemasan klien semakin meningkat. konsep diri yang terganggu pada klien skizofrenia yaitu peran. sering menggunkan koping yang tidak efektif. ideal diri tidak realistik atau bahkan tidak memiliki ideal diri karena merasa harga diri rendah. D masih mampu berorientasi terhadap tempat. ia masih mempunyai harga diri. Tidak ditemukan adanya ilusi dan waham. tidak meras malu atau rendah diri. orang dan waktu denga baik.ideal diri dan harga diri. hal ini yang membuat klien tidak merasa rendah diri.

Sedangkan diagnosa keperawatan yang ditemukan oleh Penulis dalam kasus asuhan keperawatan adalah sebagai berikut : 1) Resiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi dengar. maka muncul masalah yang dirumuskan dalam diagnosa keperawatan. dan Depkes RI(2001) yaitu : 1) Resiko tinggi melakukan kekerasan yang berhubungan dengan halusinasi lihat dan dengar. Keliat (1998). Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan Skizofrenia menurut Townsend (1998). 99 . 3) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri yang berhubungan dengan harga diri rendah kronis. 4) Koping individu tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan klien menggunakan koping yang konstruktif 5) Kurang/defisit perawatan diri : berhubungan dengan kurangnya minat klien untuk perawatan diri 6) Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan kecemasan yang meningkat 7) Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan kecemasan yang meningkat. 8) Resiko terjadinya kambuh ulang berhubungan dengan ketidak tahuan keluarga dalam merawat klien. Diagnosa keperawatan Setelah data terkumpul semua dan dilakukan analisa.b. 2) Perubahan sensori perseptual : halusinasi pendengaran yang berhubungan dengan menarik diri.

Klien jarang sekali menceritakan kepada orang lain maupun keluarganya sendiri kalau mempunyai masalah. Kebiasaan koping yang dimiliki klien saat menghadapi masalah adalah dengan supresi. Klien Tn. berarti ada beberapa diagnosa keperawatan yang secara teori tidak muncul dalam kasus penulis yaitu : 100 . D mengalami penurunan minat dan motivasi untuk melakukan perawatan diri kebersihan diri. rambut kotor dan agak lengket serta gigi dan mulut kotor oleh sisa- sisa makanan. sehingga keadaan diri klien mengenai kebersihan kurang terperhatikan. belum mandi saat dikaji. Klien terlihat berpenampilan kurang rapih. Dilihat dari diagnosa keperawatan yang muncul dalam asuhan keperawatan yang penulis laksanakan. klien juga dirawat di ruang anggrek. Jika koping klien tidak diarahkan atau dirubah ke cara koping yang baik. tetapi intensitasnya sudah berkurang. Diagnosa ini penulis angkat sebab klien mempunyai riwayat masuk rumah sakit karena marah-marah dan amuk. maka kemungkinan klien tidak akan dapat memecahkan setiap masalah yang dihadapinya. 3) Defisit perawatan diri : kebersihan diri berhubungan dengan kurangnya motivasi untuk merawat diri. dimana ruangan tersebut diperuntukan bagi klien yang kondisinya belum stabil dan kemungkinan agresifnya muncul lagi. 2) Koping individu tidak efektif : supresi berhubungan dengan ketidaktahuan klien cara menyelesaikan masalah dengan baik. Perilaku ini muncul akibat klien mengalami halusinasi dengar yang isinya menyuruh klien untuk memarahi tetangganya dan halusinasinya ini sudah sampai menguasainya. Pada saat dikaji klien mengatakan masih suka mendengar suara yang menyuruhnya untuk marah.

kecemasan klien semakin meningkat. tidak menunjukan kecemasan yang meningkat. D sudah dalam keadaan cukup tenang. ditambah lagi setelah kematian istrinya. D tidak terjadi harga diri rendah. walaupun kadang nada suara klien suka tinggi seperti yang mau marah. sehingga dampak dari obat tersebut klien suka mengeluh mengantuk dan kebutuhan istirahat tidur klienpun terpenuhi. 101 . sehingga menimbulkan ketegangan emosional. atau gangguan isi pikir sehingga diagnosa ini tidak dapat diangkat. klien mendapatkan terapi sedatif yaitu Ativan 1 mg/hari diberikan sore hari. klien menjadi lebih mudah tersinggung. tidak ditemukan adanya waham. 3) Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan kecemasan yang meningkat Dari hasil pengkajian pada klien. 4) Gangguan istirahat tidur berhubungan dengan kecemasan yang meningkat Pada saat dilakukan pengkajian. kondisi Tn. 2) Kerusakan interaksi sosial : menarik diri yang berhubungan dengan harga diri rendah kronis. Pada Tn.1) Perubahan persepsi halusinasi dengar berhubungan dengan isolasi sosial : menarik diri Halusinasi dengar yang dialami oleh klien bukan karena perilaku menarik diri dari lingkungan sekitar. klien tidak merasa malu untuk bergaul dengan klien lain. tetapi karena klien mempunyai konflik eksternal yang kemudian menjadi konflik internal akibat masalah yang dipendam. sering melamun yang lama-kelamaan timbulah gejala-gejala yang dapat berupa halusinasi pendengaran. Hal tersebut dikarenakan klien sudah mendapatkan perawatan dan pengobatan selama 4 hari.

Perencanaan disusun mulai pada hari pertama setelah diagnosa keperawatan ditentukan dan ada beberapa tindakan yang dilakukan pada hari itu juga. Pada tahap perencanaan ini secara umum penulis sedikit mendapatkan kesulitan dan hambatan. 3. perawat ruangan serta penulis mendapat bimbingan dan arahan dari dosen.5) Resiko terjadi kambuh ulang berhubungan dengan ketidaktahuan keluarga dalam merawat klien dirumah. penulis menghadapi hambatan dalam melaksanakan 102 . ini berarti klien belum ada riwayat kambuh. klien baru 1 kali mengalami gangguan jiwa. Perencanaan Perencanaan dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan yang ditemukan. Tetapi walaupun demikian. keponakan dan kaka klien akan membantu klien untuk merawat dan menemaninya. 4. jadi pelaksanaan disesuaikan dengan rencana yang telah di buat. Saat ini klien tinggal sendiri. Diagnosa ini tidak diangkat karena data-datanya kurang begitu menunjang. sehingga klien tetap mendapat dukungan. Pelaksanaan Tahap pelaksanaan adalah merupakan tindak lanjut dari perencanaan keperawatan. Pada tahap ini penulis menyususn rencana tindakan untuk memecahkan masalah yang ada disesuaikan dengan konsep teori perencanaan yang telah ada. tetapi anaknya. akan tetapi hambatan tersebut dapat diatasi dikarenakan adanya kerjasama yang cukup baik dari klien.

karena ruangan yang biasa dipakai untuk kegiatan Mahasiswa menjadi tidak ada. Selain itu pada saat penulis mau melakukan tindakan anjuran untuk melakukan perawatan diri (mandi. begitu juga dengan ruangan tidak memfasilitasi kebutuhan klien untuk perawatan diri. dan pada akhirnza kegiatan TAK dapat terlaksana. penulis terus melaksanakan tindakan keperawatan selama tujuan belum tercapai. dimana penulis juga tidak membawa peralatan tersebut. Kadang klien suka terdiam dan jarang bicara. Penulis berusaha menyediakan peralatan perawatan kebersihan diri. sehingga tindakan ini tidak dapat dilaksanakan hari itu juga. memberikan dorongan pada klien untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya. daya ingat klien juga sudah menurun dikarenakan faktor usia yang sudah tua. Untuk mengatasi reaksi klien tersebut penulis berusaha untuk memfokuskan pembicaraan sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan. antara lain klien cukup sulit untuk berfokus pada pertanyaan penulis. ternyata klien belum memiliki peralatan untuk mandi. keramas). gosok gigi.rencana tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut Penulis melakukan koordinasi dengan perawat ruangan untuk menentukan ruangan yang boleh dipakai. Untuk mengatasi hal tersebut. 103 . hal ini guna mencegah klien merasa bosan dan memberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas lain serta untuk mengurangi kesempatan munculnya halusinasi Penulis menghadapi kendala saat mau melaksanakan terapi aktivitas kelompok. gosok gigi dan keramas. Dengan menggunakan tehnik komunikasi terapetik pada setiap mau bertemu dengan klien. selain itu pada kunjungan rumah Penulis menyarankan pada keluarga untuk menyediakan peralatan kebersihan diri klien. selain itu kontak dengan klien dilakukan sering tetapi singkat waktunya.

Hal ini mungkin dikarenakan usia klien sudah tua sehingga daya ingat klienpun sudah terjadi penurunan. Dalam kunjungan rumah ini penulis tidak mengalami kesulitan dalam menemukan rumah keluarga klien. Selain tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien. dapat dilihat dari ke 3 diagnosa keperawatan yang diangkat. 5. Evaluasi Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan pada klien. Disini klien belum mampu untuk mengingat nama dan dosis obat yang diminum. Tujuan dari kunjungan rumah ini adalah untuk mendapatkan informasi tambahan tentang klien serta memvalidasi data yang diberikan oleh klien selama dirawat. dan ketika ditemui respon keluarga klien sangat kooperatif sehingga penulis mendapatkan informasi penting yang bermanfaat. hanya satu diagnosa keperawatan yang belum teratasi yaitu mengenai penggunaan obat psikofarmaka. 104 . Selain itu nama obat dirasakan asing bagi klien. Evaluasi dilakukan secara terus menerus pada respon klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan (Keliat. Selain itu penulis juga melaksanakan tindakan untuk meningkatkan partisipasi dukungan keluarga terhadap klien. Setelah melakukan asuhan keperawatan selama 5 hari dan penulis melakukan evaluasi. penulis melakukan kunjungan rumah ( Home Visite ) ke tempat tinggal klien. walaupun sudah berulang kali diberi tahu. untuk mengatasi hal tersebut penulis bersama klien menuliskan jadwal minum obat serta untuk lebih mudah mengingatnya dengan cara membedakan dari segi warna dan ukuran besar kecilnya masing-masing obat. 1998 : 15).

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN 105 .

yaitu resiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi dengar.A. KESIMPULAN Asuhan keperawatan yang komprehensip merupakan suatu hal yang penting Dalam setiap melaksanakan asuhan keperawatan yang dilaksanakan oleh perawat terhadap semua kasus yang dihadapi. Setelah dilakukan analisa masalah. Perencanaan Pada proses perencanaan penulis tidak menemukan kesulitan yang berarti. mulut kotor oleh sisa-sisa makanan. D dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan. dapat ditarik kesimpulan bahwa diagnosa keperawatan yang muncul ada 3. rambut tidak disisir rapih. Kesimpulan dari masing-masing tahapan proses keperawatan adalah sebagai berikut : 1. koping yang digunakan oleh klien selama ini adalah supresi. karena perencanaan yang dibuat disesuaikan dengan konsep teori yang ada. koping tidak efektif : supresi berhubungan dengan ketidaktahuan klien cara menyelesaikan masalah dengan baik dan defisit perawatan diri : kebersihan diri berhubungan dengan kurangnya motivasi untuk merawat diri 2. Penulis melakukan asuhan keperawatan selama 5 hari pada Tn. tapi intensitasnya sudah mulai berkurang. nada suara kadang suka tinggi seperti mau marah. Pengkajian Dari hasil pengkajian ditemukan data sebagai berikut : klien masih suka mengalami halusinasi dengar yang menyuruhnya untuk marah. 106 . belum mandi. dari penampilan terlihat tidak rapih.

terdapat satu diagnosa keperawatan yang belum teratasi. sehingga tidak bisa dilakukan hari itu juga. penulis kesulitan mencari tempat pelaksanaannya dikarenakan ruangan yang biasa digunakan untuk kegiatan mahasiswa sudah tidak dapat dipakai kembali. diantaranya : 107 . Evaluasi Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 5 hari pada klien Tn. penulis tidak membawa peralatannya dan ruanganpun belum memfasilitasi klien peralatan untuk kebersihan diri. Pelaksanaan Pada tahap pelaksanaan penulis menemukan sedikit hambatan yaitu waktu mau melakukan kebersihan diri terhadap klien. untuk mengatasi hal tersebut penulis bersama klien menuliskan jadwal minum serta untuk lebih mudah mengingatnya dengan cara membedakan dari segi warna dan ukuran besar kecilnya masing-masing obat. Klien belum mampu mengingat nama dan dosis obat karena terjadi penurunan daya ingat akibat usia klien yang sudah memasuki lansia. 4. Untuk mengatasi hal tersebut penulis bermusyawarah dengan perawat ruangan agar dapat menggunakan ruangan lain dan tempat yang dipilih untuk digunakan dalam pelaksanaan terapi aktivitas kelompok adalah ruang Mawar. Selain itu nama obat dirasakan asing bagi klien. B.3. selain itu pada saat pelaksanaan terapi aktivitas kelompok. D. yaitu pada diagnosa resiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi dengar TUK 4 mengenai penggunaan 5 prinsip benar dalam pemberian obat. SARAN Saran-saran ini penulis ajukan untuk pihak-pihak yang terkait langsung dengan penulis selama melakukan asuhan keperawatan.

Direktorat Jenderal pelayanan Medik. dimana tidak tersedianya fasilitas atau alat untuk keperluan kebersihan diri. Untuk memudahkan kegiatan mahasiswa selama melaksanakan asuhan keperawatan diruangan. diharapkan ada ruangan khusus untuk melaksanakan kegiatan tersebut. Untuk itu penulis menyarankan untuk kelancaran pelaksanaan asuhan keperawatan agar fasilitas tersebut diatas dapat disediakan oleh ruangan. DAFTAR PUSTAKA Depkes RI. 108 . misalnya terapi aktivitas kelompok. Seiring ditemukannya hambatan pada saat akan melaksanakan kebersihan diri pada klien.1. Ruangan a. b. 1993. Pedoman penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III.

Jakarta. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia.N. Skripsi. Jakarta. 1998. et all. Kamus Kedokteran. 1995. Jakarta Hawari. Maramis. Jakarta Townsend. CV Sagung Seto. EGC. 2001.D. Disertasi. Surabaya.Dorlan. Jakarta. Makalah. D. Rasmun. 2001. A. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Gaya Baru. Patofisiologi.M. Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.W. Sylvia. Jilid 1. Nursalam.F. Proses & Dokumentasi Keperawatan. Jakarta Ganiswara. EGC. EGC. Edisi 3. Latar Belakang 109 . 2004. Farmakologi Dan Terapi. Airlangga University Press. Jakarta. Alih Bahasa Daulima. Achir yani. Edisi 3. Thomas. Jakarta Price. 1998. Bagian Farmakologi FK- UI. 2001.C. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga. Alih Bahasa Hamid. G . Mary. Alih Bahasa Hartanto. EGC. Stuart And Sundeen. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. PRE PLANNING HOME VISITE B. Budi Ana. Balai Penerbit FKUI. 2002. 1996. SKp. Diagnosa keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri.dkk.Sc. Keliat. Jakarta. Edisi 4. Penuntun Membuat Tesis. 2003. SKp. Salemba Medika. Bumi Aksara. Keperawatan Jiwa. Jakarta. 1998.

Ada 3 aspek yang menjadi pusat perhatian dalam upaya rehabilitasi pada

mental dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan kesehatan di

rumah sakit jiwa yaitu :

1. Aspek organobiologik

2. Psiko edukatif

3. Sosio, cultural, spiritual.

Pelayanan yang menyangkut aspek organobiologik dan psikoedukatif sudah

memadai seiring dengan perkembangan pelayanan psikiatri dan kesehatan jiwa

itu sendiri, sedangkan aspek sosiokultural-spiritual masih kurang maju sehingga

perlu melibatkan keluarga pasien untuk berpartisipasi aktif dalam pelayanan

pasien gangguan mental.

Mengenai peran dan partisifasi keluarga dalam pelayanan kesehatan jiwa

khususnya untuk membantu proses terapi pasien gangguan jiwa. Keluarga

merupakan unit yang penting untuk melaksanakan rehabilitasi yang bersumber

dari masyarakat, karena hubungan keluarga pada dasarnya merupakan factor

yang amat penting dalam kehidupan seseorang, sehingga bila terjadi

kerenggangan yang sementara atau berlanjut akan membawa dampak ke

tidaknyamanan dalam diri seseorang

Dalam rangka meningkatkan peran keluarga pada pelayanan terapi dan

rehabilitasi pasien gangguan jiwa, kegiatan kunjungan rumah ( Home Visite )

merupakan salah satu langkah yang tepat untuk memulihkan hubungan

kekeluargaan dan kepercayaan antar keluarga dengan pasien, karena dengan

kunjunga rumah dapat dilakukan berbagai pendekatan seperti wawancara,

observasi dan pendataan tentang keadaan keluarga maupun sikap masing-masing

pihak, sehingga dapat dilakukan intervensi untuk melakukan pemulihan

110

hubungan kekeluargaan. Sedangkan peran rumah sakit jiwa disini adalah sebagai

konsultan pendamping ( Tutorial )

1. Pengertian Home Visite

Home visit berarti mengunjungi tempat tinggal klien dan keluarganya untuk

mendapatkan berbagai informasi penting yang diperlukan dalam rangka

membantu klien untuk proses terapi. Informasi ini dapat berupa keadaan dan

sikap keluarga terhadap pasien serta sejauh mana pengetahuan keluarga

tentang sakit yang dialami oleh anggota keluarganya.

Home visite menurut buku pedoman rehabilitasi pasien mental RSJ

Indonesia, Depkes RI tahun 1983 adalah :

a. Mendapatkan informasi tentang data fisik, dan non fisik pasien antara lain

1) Latar belakang situasi keluarga ternasuk hubungan antar anggota

keluarga

2) Data tentang sikap keluarga

3) Data tentang situasi yang menjadi / diperkirakan sebagai sumber

timbulnya gangguan jiwa

4) Data tentang sosial ekonomi dan budaya serta kegiatan keluarga yang

berhubungan dengan proses tujuan

5) Data tentang kesedian tempat kerja / fasilitas yang ada sesuai dengan

kketerampilan yang dimiliki pasien

6) Dapat mengamati langsung perkembangan pasien setelah berada

dirumah atau tempat kerja.

b. Memberikan bantuan dalam proses terapi pasien antara lain dalam bentuk

pemberian motivasi terhadap keluarga agar pasien diterima

keberadaannya didampingi dan diperlakukan secara wajar.

111

c. Memperkuat system rujukan kesehatan nasional, dalam arti kunjungan

rumah ini dikoordinasikan dengan petugas Puskesmas / kader kesehatan

setempat.

2. Manfaat Home Visite

a. Untuk penghematan, mencegah kekambuhan dan memperpendek hari

perawatan

b. Keluarga dapat ditemui dan diajak berunding agar ikut

berperan serta dan tetap bertanggung jawab terhadap pasien.

c. Situasi keluarga / kondisi sosio ekonomi dapat diatasi.

d. Pendekatan yang bersifat kekeluargaan dapat

dilaksanakan

e. Intervensi untuk memulihkan hubungan keluarga dapat

dilakukan dan memungkinkan keluarga bersedia menerima kembali

pasien seperti semula.

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk memberikan gambaran bagi upaya rehabilitasi melalui pengumpulan

data yang lengkap dan akurat tentang kondisi fisik dan non fisik serta sikap

dan perilaku keluarganya

2. Tujuan Khusus

a. Untuk keluarga

1) Membantu mengatasi kesulitan mengahadapi pasien dirumah

2) Meningkatkan pemantauan tentang proses terapi yang komprehensip

b. Untuk pasien

112

E. Sasaran Home visite ini akan dilakukan pada keluarga Tn. Maman dan lingkungannya. Strategi Pelaksanaan 1. Kondisi pasien Data subjektif :  Klien mengatakan suka mendengar sura-suara yang memerintahkannya untuk mendatangi tetangga dekatnya dan memarahinya. 12 Agustus 2005 Tempat :Kp. Waktu Dan Tempat Hari / tanggal :Jumat.  Klien mengatakan kurang lebih 9 hari yang lalu istrinya meninggal dunia dan klien merasa kehilangan Data objektif  Klien kadang suka terlihat bicara sendiri  Nada suara klien kadang keras  Klien terlihat lebih banyak diam 113 . Untuk sistem rujukan Memperkuat sistem rujukan yang ada. Babakan Baros RT 02 RW 09 Desa Serang Mekar. dalam arti bahwa kunjungan rumah dikoordinasikan dengan petugas dan kader kesehatan setempat D.Ciparay F.  Klien suka merasa kesal dengan suara-suara tersebut  Klien mengatakan masuk ke rumah sakit karena marah dan ngamuk. 1) Melengkapi biodata dan anamnesis 2) Mempersiapkan lingkungan keluarga pasien 3) Memantau perkembangan kesehatan pasien di rumah c.

Berikan informasi cara memodifikasi lingkungan agar mendukung klien G. Tujuan a. Bina hubungan saling percaya dengan semua anggota keluarga b. Kaji pengetahuan keluarga mengenai halusinasi dan tindakan yang dilakukan dalam merawat klien d. Tujuan khusus Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya. Jelaskan kepada keluarga mengenai tujuan kunjungan rumah c. Tujuan umum Keluarga dapat membantu klien agar tidak mencederai orang lain dan lingkungannya. 2. tanda dan tindakan mengendalikan halusinasi 4. b. Beri penguatan dan pujian terhadap tindakan yang positif e. Diagnosa keperawatan Resiko mencederai orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusi pendengaran. Tindakan keperawatan a. Kriteria evaluasi : Setelah dilakukan 1 kali kunjungan. Metoda 114 . Diskusikan dengan keluarga tentang halusinasi. tanda dan cara merawat klien di rumah f. keluarga dapat :  Membina hubungan saling percaya dengan perawat  Keluarga dapat menyebutkan pengertian halusinasi. 3.

diskusi dan observasi langung. LAPORAN HASIL HOME VISITE 115 .Metoda yang digunakan dalam melakukan home visite ini yaitu dengan wawancara.

Hal ini terjadi karena klien sudah dikuasai oleh halusinainya dan klien tidak bisa mengontrolnya. Untuk itu Penulis perlu melibatkan keluarga dalam mengontrol halusinasi yang dialami oleh klien serta tentang cara perawatan klien dirumah B Tujuan Kunjungan Rumah a.00 bertempat di Kp. Majalaya. Menggali informasi mengenai klien dari keluarga c. Mempersiapkan lingkungan keluarga e. Meningkatkan pemahaman tentang proses terapi dan perawatan sehingga keluarga dapat berpartisipai f. Mengklarifikasi data yang diperoleh dari klien b. D Strategi Pelaksanaan 116 . Memberikan penjelasan mengenai cara perawatan klien di rumah C Waktu Home visite ini dilaksanakan pada hari Jumat sore tanggal 12 Agustus 2005 Pukul 15. Membantu mengatasi kendala dalam merawat klien dirumah g. D mengalami halusinasi dengar yang menyuruhnya untuk mendatangi rumah tetangga dekatnya serta marah-marah terhadap orang yang didatanginya tersebut.A Masalah Klien Tn. Babakan Baros RT 02 RW 09 Desa Serang Mekar Kecamatan Ciparay. Mengetahui kondisi lingkungan klien dan keluarga d.

Selanjutnya Penulis memvalidasi data yang diperoleh dari klien. Mempersiapkan fisik dan mental b.1. yang pertama dikunjungi adalah rumah Ketua RT dengan maksud memberitahukan bahwa Penulis akan melakukan kunjungan rumah kepada keluarga klien Tn. Surat tugas dari rumah sakit 2. Hal inilah yang membuat mental klien tertekan ditambah 4 hari sebelum klien dirawat istri klien meninggal dunia karena sakit jantung. Formulir home visite c. D sambil menunjukan surat tugas dan meminta tanda tangan. Persiapan Persiapan yang Penulis lakukan untuk melakukan kunjungan rumah diantaranya : a. Keluarga mengatakan bahwa klien dibawa ke rumah sakit karena suka marah-marah dan mengamuk. 3 bulan yang lalu klien mulai menunjukan perilaku yang tidak wajar. Menurut keluarga klien mempunyai masalah dengan teman pengurus Masjid. seperti sering adzan sebelum masuk waktu shalat. Pelaksanaan Pertama-tama setelah Penulis sampai di alamat klien. M sebagai keponakan dan penanggung jawab klien. menggali informasi yang belum terkaji serta pengetahuan keluarga mengenai cara perawatan klien dirumah. Setelah itu baru Penulis mengunjungi keluarga Tn. kadang suka melempari rumah dengan batu. tetapi klien tidak pernah menceritakannya. Klien merasa kehilangan dan kondisi 117 . Penulis kemudian memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud serta tujuan kunjungan rumah.

Evaluasi Setelah Penulis selesai melakukan kunjungan rumah. 3) Keluarga sudah mengetahui dan mengerti mengenai apa yang telah disampaikan oleh Penulis. penggunaan obat-obat psikofarmaka serta cara perawatan klien dirumah sesuai dengan materi yang sudah dibuat (Materi dan leaflet terlampir). sehingga perilaku klien semakin memburuk. Setelah data didapat. yaitu : 1) Keluarga sangat antusias dalam menerima kehadiran Penulis serta sangat kooperatif dalam memberikan informasi mengenai klien dan kondisi keluarganya. psikologisnya semakin tertakan. 2) Data yang didapat dari klien sesudah divalidasi ke keluarga dan sudah sesuai. 3. begitu juga dengan tetangganya. Penulis kemudian memberikan penjelasan kepada keluarga tentang halusinasi. dapat dievaluasi hasilnya. serta pengetahuan keluarga dalam merawat klien dirumah jika nanti sudah diizinkan pulang. Keluarga belum mengerti mengenai cara perawatan klien dirumah dan tidak mengerti akan halusinasi yang dialami oleh klien. Penulis juga menggali mengenai hambatan yang dihadapi keluarga dalam merawat klien. CARA MEMBANTU KLIEN DALAM MENGENDALIKAN/MENGONTROL HALUSINASI 118 . Sebelum sakit hubungan klien dengan anggota keluarga dan saudara- saudaranya baik.

A. Pengertian
Halusinasi adalah Halusinasi pendengaran yaitu klien mendengar suara atau
bunyi yang tidak ada hubungan dengan stimulus yang nyata / lingkungan.
Dengan kata lain orang yang berada disekitar klien tidak mendengar suara atau
bunyi yang didengar klien ( Depkes RI, 2000 : )

B. Tanda Dan Gejala Halusinasi
1. Melirikan mata kekiri dan kekanan seperti mencari siapa atau apa yang
sedang berbicara
2. Mendengarkan dengan penuh perhatian pada orang lain yang sedang tidak
berbicara atau kepada benda mati seperti mebel
3. Terlibat percakapan dengan benda mati atau dengan seseorang yang tidak
tampak
4. Menggerak-gerakan mulut seperti sedang berbicara atau sedang menjawab
suara.
5. Berbicara dan tertawa sendiri
6. Bersikap seperti mendengarkan sesuatu (memiringkan kepala ke satu sisi
seperti jika seseorang sedang mendengarkan )
7. Berhenti berbicara di tengah-tengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
8. Konsentrasi rendah
9. Suara-suara yang didengar dapat berupa suara manusia, hewan atau mesin,
barang, kejadian alamiah dan musik.

C. Manfaat Mengontrol Halusinasi
1. Halusinasi tidak menguasai dan mengontrol klien
2. Perasaan klien menjadi tenang
3. Terhindar dari perilaku kekerasan terhadap diri sendiri, orang lain dan
lingkungan.
D. Cara Merawat Klien Dengan Halusinasi
1. Tidak membiarkan klien sering menyendiri
2. Usahakan agar klien tidak banyak melamun

119

3. Sarankan pada klien jika mendengar sura-suara lagi, segera memanggil
anggota keluarga dan menanyakan apakah keluarga mendengar atau tidak,
jika tidak mendengar abaikan dan lawan suara tersebut.
4. Memberikan kegiatan yang dapat dilakukan oleh klien sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya
5. Mengajak klien untuk makan bersama dengan anggota keluarga lainnya

120

PENGGUNAAN OBAT PSIKOFARMAKA

A. Jenis obat yang digunakan
1. Antipsikotik
a. Pherpenazym 4 mg 3 x 2 tablet/oral/hari
b. Ativan 1 mg 1 x 1 (sore hari) tablet/oral/hari
c. Tofamax 25 mg 1 x ½ (pagi)tablet/oral/hari
2. Antiparkinson
a. Trihexyphenidyl 2 mg 3 x 1 tablet/oral/hari

B. Manfaat obat
1. Antipsikotik
a. Menghilangkan halusinasi
b. Memperbaiki pola pikir klien
c. Membuat klien menjadi tenang baik pikiran maupun perasaan,
menurunkan kegelisahan, agresif
d. Memperbaiki pola tidur klien
2. Antiparkinson
Menghilangkan gejala ekstrapiramidal, seperti :
a. Tremor / gemetaran
b. Pengeluaran air liur yang berlebihan
c. Kelemahan otot

C. Efek samping
1. Antipsikotik
a. Mengantuk (sedasi), susah buang air besar dan air kecil
b. Mulut kering, mual, muntah
c. Penglihatan kabur, pusing.
d. Gangguan ekstrapiramidal : distonia akut, tremor, bradikinesia

D. 5 prinsip benar dalam penggunaan obat
1. Benar nama Kliennya
2. Benar Nama obatnya

121

EGC. Townsend. 1998. 122 . 3. Jakarta. 1997. Benar waktu pemberiannya 5. Benar cara pemberiannya Sumber : Marry C. Panduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik. Rusdi Salim. Jakarta Dr. Diagnosa Keperawatan pada keperawatan psikistri. Benar dosis obatnya 4.

2000 : ) mebel Politeknik Kesehatan Bandung 3. Mendengarkan dengan lingkungan. Terlibat percakapan Jurusan Keperawatan Program Studi Keperawatan dengan benda mati atau Bandung 2005 90 . CARA MENGENDALIKAN ATAU MENGONTROL PENGERTIAN TANDA DAN GEJALANYA HALUSINASI PENDENGARAN Halusinasi adalah Halusinasi 1. Melirikan mata kekiri dan pendengaran yaitu klien kekanan seperti mencari mendengar suara atau bunyi siapa atau apa yang sedang yang tidak ada hubungan berbicara dengan stimulus yang nyata / 2. Dengan kata lain penuh perhatian pada orang yang berada disekitar orang lain yang sedang klien tidak mendengar suara tidak berbicara atau atau bunyi yang didengar kepada benda mati seperti Departemen Kesehatan RI klien ( Depkes RI.

Bersikap seperti mendengarkan sesuatu MANFAAT MENGONTROL (memiringkan kepala ke HALUSINASI satu sisi seperti jika seseorang sedang 1. Suara-suara yang didengar lingkungan. kejadian sendiri alamiah dan musik. orang lain dan seperti sedang berbicara 9. Halusinasi tidak menguasai mendengarkan ) dan mengontrol klien 7. dengan seseorang yang untuk mendengarkan 3. Menggerak-gerakan mulut 8. manusia. Terhindar dari perilaku tidak tampak sesuatu kekerasan terhadap diri 4. Konsentrasi rendah sendiri. Berbicara dan tertawa mesin. barang. atau sedang menjawab dapat berupa suara suara. 6. hewan atau 5. Perasaan klien menjadi tengah-tengah kalimat tenang 91 . Berhenti berbicara di 2.

92 . 4. Sarankan pada klien jika mendengar sura-suara lagi. Usahakan agar klien tidak anggota keluarga lainnya banyak melamun 3. jika tidak mendengar abaikan dan lawan suara tersebut. segera memanggil anggota keluarga dan menanyakan apakah keluarga mendengar atau tidak. Tidak membiarkan klien 5. Memberikan kegiatan yang CARA MERAWAT KLIEN dapat dilakukan oleh klien DENGAN HALUSINASI sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya 1. Mengajak klien untuk sering menyendiri makan bersama dengan 2.

seperti : 2005 93 . Antipsikotik a. b. (pagi)tablet/oral/hari menurunkan kegelisahan. Memperbaiki pola tidur 1 tablet/oral/hari klien Departemen Kesehatan RI 2. Ativan 1 mg 1 x 1 (sore c. Trihexyphenidyl 2 mg 3 x d. Pherpenazym 4 mg 3 x 2 b. Tofamax 25 mg 1 x ½ maupun perasaan. Antipsikotik a. Membuat klien menjadi hari) tablet/oral/hari tenang baik pikiran c. Menghilangkan halusinasi a. Memperbaiki pola pikir tablet/oral/hari klien b. PENGGUNAAN OBAT JENIS OBAT YANG MANFAAT OBAT PSIKOFARMAKA DIGUNAKAN 1. Antiparkinson agresif a. Antiparkinson Politeknik Kesehatan Bandung Jurusan Keperawatan Menghilangkan gejala Program Studi Keperawatan Bandung ekstrapiramidal.

Benar Nama obatnya buang air besar dan air 3. Penglihatan kabur. Benar nama Kliennya a. Mulut kering. mual. aran air liur yang d. Benar dosis obatnya kecil 4. / gemetaran muntah b. bradikinesia han otot 5 PRINSIP BENAR DALAM EFEK SAMPING PENGGUNAAN OBAT 1. pusing. a. tremor. Mengantuk (sedasi). Benar cara pemberiannya 94 . susah 2. Tremor b. Antipsikotik 1. Kelema akut. Benar waktu pemberiannya 5. Pengelu c. Gangguan berlebihan ekstrapiramidal : distonia c.

95 .