Tahilalat

Pada usia lima tahun ia menemukan
tahilalat di alis ibunya,
terlindung bulu-bulu hitam lembut,

seperti cinta yang betah berjaga
di tempat yang tak diketahui mata.

Kadang tahilalat itu memancarkan cahaya
selagi si ibu lelap tidurnya.
Dengan girang ia mengecupnya:
“Selamat malam, kunang-kunangku.”

Ketika ia beranjak remaja
dan beban hidup bertambah berat saja,
tahilalat itu hijrah ke tengkuk ibunya,
tertutup rambut yang mulai layu,

seperti doa yang merapalkan diri
di tempat yang hanya diketahui hati.

Disingkapnya rambut si ibu,
diciumnya tahilalat itu: “Maaf,
sering lupa kuucapkan amin untukmu.”

Akhirnya ia benar-benar sudah dewasa,
sudah siap meninggalkan rumah ibunya,
dan ia tak tahu tahilalat itu pindah ke mana.

“Jika kau menemukannya,
masihkah kau akan mengecupnya,
akankah kau menciumnya?” si ibu bertanya.

Ah, tahilalat itu telah hinggap
dan melekat di puting susu ibunya.

(2011)

Asu

Di jalan kecil menuju kuburan Ayah di atas bukit
saya berpapasan dengan anjing besar
yang melaju dari arah yang saya tuju.
Matanya merah; tatapannya yang kidal
membuat saya mundur beberapa jengkal.

Gawat. Sebulan terakhir ini sudah banyak orang
menjadi korban gigit anjing gila.
Mereka diserang demam berkepanjangan,
bahkan ada yang sampai kesurupan.

Di saat yang membahayakan itu saya teringat Ayah.
Dulu saya sering menemani Ayah menulis.
Sesekali Ayah terlihat kesal, memukul-mukul
mesin ketiknya dan mengumpat, "Asu!"
Kali lain, saat menemukan puisi bagus di koran,
Ayah tersenyum senang dan berseru, "Asu!"
Saat bertemu temannya di jalan,
Ayah dan temannya dengan tangkas bertukar asu.

Pernah saya bertanya, "Asu itu apa, Yah?"
"Asu itu anjing yang baik hati," jawab Ayah.
Kemudian ganti saya ditanya,
"Coba, menurut kamu, asu itu apa?"
"Asu itu anjing yang suka minum susu," jawab saya.

Sementara saya melangkah mundur,
anjing itu maju terus dengan nyalang.
Demi Ayah, saya ucapkan salam, "Selamat sore, asu."
Ia kaget. Saya ulangi salam saya, "Selamat sore, su!"
Anjing itu pun minggir, menyilakan saya lanjut jalan.
Dari belakang sana terdengar teriakan,
"Tolong, tolong...! Anjing, anjing...!"

(2011)

Kedai Minum

Hatimu yang terlalu penuh
jatuh ke lantai, pyaaarrr....

Dua orang sepi,
dengan seragam hitam putih,
memunguti pecahan beling.

"Ini gelas ketiga yang hancur
malam ini," pelayan yang satu berkata.
Yang satu lagi menyelamatkan botol
yang hampir terguling.

Busa bir tersisa di sudut bibir.
Musik baru saja berakhir.
Tanganmu masih memegang buku puisi.

Kau terkapar
di kedai minum milikmu sendiri.

(2011)

Baju Baru

Hari ini bapak gajian.
Gaji bapak naik sedikit,
harga-harga naik banyak.
Bapak belikan aku baju,
hadiah naik kelas.
Bajuku bagus, bagus bajuku,
bergambar presiden naik becak,
tukang becaknya mirip bapak.
Presidennya tertawa,
bang becaknya pura-pura tertawa.
Presidennya berteriak "Merdeka!",
tukang becaknya berteriak "Meldeka!"
Seminggu dipakai terus,
bajuku dicuci ibu.
Ibu bingung, habis dicuci
bajuku rusak gambarnya.
Becaknya masih,
tukang becaknya masih,
tapi presidennya entah ke mana.

(2011)

Piano

: Ananda Sukarlan

Telah kuserahkan hatiku yang lelah
ke dalam tanganmu, piano.
Cepat, cepat mainkan lagu terbaikmu.

Di padang hening aku terbaring.
Jari-jarimu yang merdu
menari-nari di atas rusukku,
menggetarkan bilah-bilah igaku.

Tubuhku menggelepar saat kausentuh liar
sepasang not yang sedang mekar.
Kudengar gemuruh malam di bukit yang jauh
dan jeritan rendah di lembah yang resah.

Telah kuserahkan cintaku yang basah
ke dalam tanganmu, piano.
Cepat, cepat letupkan nada terakhirmu.

(2011)

Kunang-kunang

Ketika kecil ia sering diajak ayahnya bergadang
di bawah pohon cemara di atas bukit.
Ayahnya senang sekali menggendongnya
menyeberangi sungai, menyusuri jalan setapak
yang berkelok-kelok dan menanjak.
Sampai di puncak, mereka membuat unggun api,
berdiang, menemani malam, menjaring sepi.
Ia sangat girang melihat kunang-kunang berpendaran.
"Kunang-kunang itu artinya apa, Yah?"
"Kunang-kunang itu artinya kenang-kenang."
Ia terbengong, tidak paham bahwa ayahnya
sedang mengajarinya bermain kata.

Bila ia sudah terkantuk-kantuk, si ayah segera
mengajaknya pulang, dan sebelum sampai di rumah,
ia sudah terlelap di gendongan.
Ayahnya menelentangkannya di atas amben tua,
lalu menaruh seekor kunang-kunang di atas keningnya.

Saat ia pamit pergi ngembara, ayahnya membekalinya
dengan sebutir kenang-kenang dalam botol.
"Pandanglah dengan mesra kenang-kenang ini
saat kau sedang gelap atau mati kata;
maka kunang-kunang akan datang memberimu cahaya."

Kini ayahnya sudah ringkih dan renta.
"Aku ingin ke bukit melihat kunang-kunang.
Bisakah kau mengantarku ke sana?"
Malam-malam ia menggendong ayahnya
menyusuri jalan setapak menuju bukit.
"Apakah pohon cemara itu masih ada, Yah?"
tanyanya sambil terengah-engah.
"Masih. Kadang ia menanyakan kau
dan kubilang saja: Oh, dia sudah jadi pemain kata."

"Nah, kita sudah sampai, Yah. Mari kita bikin unggun."
Si ayah tidak menyahut. Pelukannya semakin erat.
"Tunggu, Yah, kunang-kunang sebentar lagi datang."

Saya penasaran dan segera mendekatinya. sementara aku sedang berjuang melahirkanmu.” “Tapi cenala itu artinya apa.” . tolong. saya tak sempat menutup kembali tabir itu dengan sempurna seperti semula. si ayah tak akan bisa berkata-kata lagi. kau dinamai Cenala. Si penyendiri yang sedang suntuk membaca itu kaget mendengar jeritan tolong. Ketika ia baringkan jasadnya di bawah pohon cemara." (2010) Cenala (1) Saya sedang tamasya di sebuah halaman buku puisi. Lebih kaget lagi melihat kata celana telah berubah menjadi cenala. Pelan-pelan ia lepaskan ayahnya dari gendongan. seribu kenang-kenang bertaburan di atas tubuhnya. Saat itu juga saya berteriak. Tubuhnya tiba-tiba memberat. seribu kunang-kunang datang mengerubunginya.Si ayah tidak membalas. Ia menoleh ke kanan ke kiri. In paradisum deducant te angeli. Ia pun mengerti. Saya buka tabir itu dan tahu-tahu saya sudah berdiri di depan jurang yang merah menganga. Itulah sebabnya. mengapa saya diberi nama Cenala?” “Waktu itu bapakmu sedang di kamar mandi. persis saat senja sedang terjun ke jurang cakrawala. Saat duduk-duduk di bawah judul puisi. kamus pun tak tahu artinya. Yah. Bu?” “Jangankan aku. Buku puisi itu sedang dibaca seorang penyendiri di bawah pohon beringin di alun-alun kota. Bapakmu juga tak pernah menjelaskannya. Ia tergesa-gesa mengenakan celana sampai-sampai celananya terbalik. (2) “Bu. ditemani dukun bayi. "Tolong! Tolong!" Karena panik. Ternyata itu sebuah tabir besar berbentuk celana. "Selamat jalan. saya terpikat pada kata celana. lalu buru-buru pergi. Bapakmu terlalu gembira mendengar tangis pertamamu dan ingin segera melihatmu.

Saya buru-buru kabur supaya tidak ditangkap dan disekap oleh pembaca yang mulai gelisah itu. seorang pengumpul barang-barang antik. Bila ia berdendang dan memetik gitarnya. bapakmu sempat menitipkan sejumlah rahasia padanya. ayah. Buku puisi itu sedang dibaca seorang penyendiri di bawah pohon mangga di belakang rumahnya. Lebih terkejut lagi melihat kata cenala telah berubah menjadi celana. (2010) Bulan .” (3) Saya berada kembali di sebuah halaman buku puisi. Di tembok-tembok kota mimpinya menggema. Tabir terbuka dan tahu-tahu saya sudah terdampar di sebuah trotoar di satu sudut kota Yogya. Keringatnya terbuat dari peluh bapaknya. Saya lihat seorang lelaki tua sedang berbincang dengan temannya di warung angkringan di remang cahaya. Tapi dia sulit ditemui dan belum tentu mau ditemui secara orangnya tak kalah antiknya. Dia tinggal di Yogya. (2010) Pengamen Kecil Ke belantara Jakarta ia pergi ngembara. Senar gitarnya terbuat dari rambut ibunya. Saya segera memanggilnya. "Ayah! Ayah!" Si penyendiri yang sedang suntuk membaca itu terkejut mendengar teriakan ayah. yang pandai membaca tanda.“Lalu bagaimana saya dapat mengetahuinya?” “Almarhum bapakmu punya teman baik. Saya lihat kata cenala telah kembali menjadi celana. Sebelum wafat. Saya masih penasaran dan ingin membuka lagi tabirnya. ibunya yang jauh di kampung berdesir-desir hatinya.

(2010) Orang Gila Baru Sesungguhnya saya malas membaca sajak-sajak saya sendiri. “Sudah lama kamar ini tidak dihuni.” (2010) Kamar Nomor 1105 Pada akhir pekan saya menyepi di sebuah hotel tua di pinggiran kota. Mungkin cara terbaik untuk mencegah kemunculannya dan terhindar dari gangguannya adalah berhenti menulis.” Gila. Tapi kawan saya bilang. apakah anda tahu alamat rumah saya?” Kuantar ia ke rumah sakit jiwa dan dengan lembut kukatakan. “Ini rumahmu. semoga ia tidak pulang ke dalam sajak-sajak saya. Petugas hotel mengantar saya ke kamar nomor 1105. Kali lain saya menemukannya sedang tercenung di pinggir jalan sambil tersenyum terus. “Tanpa dia. sudah lama kamu mati. . Beristirahatlah dalam damai.” Pernah saya mendapatkannya sedang berlari-lari kecil di jalanan panas. bertengger di dahan waktu. seperti orang malang sedang menertawakan nasibnya sendiri. bukan rumahku. dari balik gerumbul kata-kata tiba-tiba muncul orang gila baru yang dengan setengah waras berkata. lalu mendadak berhenti.Bulan yang kedinginan berbisik padamu: “Bolehkah aku mandi sesaat saja di hangat matamu?” Malam sepenuhnya milikmu ketika bulan tercebur ke dingin matamu. Saya hanya bisa berdoa dalam hati. “Ini rumahmu. menghormat matahari. mendongak ke langit. Setiap saya membaca sajak yang saya tulis. Bulan itu bulatan hatimu. ia malah mencengkeram leher baju saya dan meradang. “Numpang tanya.

Peti jenazah bikinannya sederhana saja. Jidatnya seperti puisi setengah jadi. bersepatu sendal. sementara jokpin-4 masih terlihat bingung dan pusing. Ia tidak ingin peti jenazah itu tampak lebih mewah dari jenazah yang akan ditidurkan di dalamnya. Lebih bagus lagi jika jenazah itu terbaring damai sambil mendekap sebuah buku puisi. mobil jenazah itu diberi warna biru langit dan dikasih tulisan Mati untuk Hidup Abadi. Ia ingin jenazah buatannya terlihat tenang dan riang. terpejam.” . melamun sebentar. kulitnya hitam manis. Telepon genggam mainan. Berkali-kali ia membuat sketsa. Di meja-1 jokpin-1 menyulut sebatang rokok. Saya bersiap lembur. Di meja-2 jokpin-2 sibuk menggambar sopir mobil jenazah sambil dengan khidmat menyedot rokok. kemudian mulai menggambar mobil jenazah. memberitahukan ada seorang tamu berkopiah. Ia sopir yang lugu dan sopan. kulihat jokpin kecil sedang mandiri (mandi sendiri) sambil bermain telepon genggam. Pagi-pagi sekali petugas hotel mengetuk pintu. menunaikan kerja menggambar. Dengan waspada saya buka pintu kamar mandi: ah. sambil menempelkan telapak tangan kanan ke dada.Tak ada tamu yang berani menginap di sini. jokpin-2. tak ada satu pun yang jadi. mengenakan baju batik. dilengkapi empat meja bundar. memakai kopiah. kepalanya berhiaskan uban. tanpa ukiran dan hiasan. “Dia bilang mobil jenazahnya sudah siap.” Kamar itu lumayan besar. Sopir mobil jenazah itu berusia sekitar 55 tahun. Menjelang dinihari saya dikagetkan suara kecipak air di kamar mandi. Di meja-3 jokpin-3 suntuk menggambar peti jenazah sambil sesekali mempermainkan asap rokok. berbaju batik. Ia punya cara khas untuk menghormat jenazah yang diantar masuk ke dalam mobilnya: membungkuk. Ia tampak sangat gelisah sampai-sampai tanpa sadar dimatikannya rokok yang baru separuh dihisapnya. beruban menunggu saya di lobi. Supaya tidak tampak seram. bersepatu sendal. Jokpin-1. seperti orang habis mandi. dan jokpin-3 tertidur di kursi masing-masing. Di meja-4 jokpin-4 bertugas menggambar jenazah.

” Di lorong remang menuju kamar mandi saya dihadang seorang wartawan: “Seperti apa rasanya menulis puisi?” Saya jawab sekenanya. aku masih hidup. “Mungkin seperti menggambar jenazah tak jadi-jadi. Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya . Dari seberang sana ia menjawab riang: “Nomor 1105. Mari ikut mobil saya saja. Dua ekor burung gereja hinggap di atas bahunya. sopir mobil jenazah mendekati saya lagi. Puisi ini belum jadi tapi mesti diakhiri sebab saya harus segera menerima telepon dari sopir mobil jenazah itu. Saya tarik lengannya: “Hai. Saat saya menunggu taksi untuk pulang. “Memang kamu pasang nomor berapa?” tanya saya.” Dengan halus saya menolak tawarannya dan mempersilakannya segera pergi. tahu?” Ia cuma tersenyum dan berkata. Tolong persilakan beliau pergi. “Maaf Tuan. kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang. “Taksinya mogok. Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya: “Hai umatku tercinta. Senja melangkah tegap. memberinya salam hormat. tapi tidak jadi.” (2010) Durrahman Mengenakan kemeja dan celana pendek putih.” Suatu malam saya diundang pesta puisi di balai kota. Durrahman berdiri sendirian di beranda istana. Sopir mobil jenazah tahu-tahu sudah berdiri di hadapan saya. sambil menempelkan telapak tangan kanan ke dada. Dengan hormat ia membungkuk.” Ia hendak bertanya lagi. Nomornya tembus.Jokpin-4 bangkit berdiri: “Katakan kepada sopir mobil jenazah itu bahwa jenazahnya belum jadi. Ia mengabarkan dirinya baru saja dapat lotere. Di halaman gedung pertunjukan saya melihat mobil jenazah berwarna biru langit terparkir di antara mobil-mobil lainnya yang tentu saja bukan mobil jenazah namun bila diamati dengan mata ketiga sebenarnya mirip mobil jenazah juga. Biarlah saya dengar deru suaranya saja dalam sunyi. maaf Tuan. Saya tak ingin melihat mobilnya lagi. bercericit dan menari riang. dalam diriku ada seorang presiden yang telah kuperintahkan untuk turun tahta sebab tubuhku terlalu lapang baginya. terpejam.

Selamat jalan. baju presidenmu sudah lebih dulu kautanggalkan. Dalam dirimu ada seorang pujangga yang tak binasa. Sebelum Kausenyapkan warna. Selamat jalan. ibukota bagi kaum yang teraniaya. (2010) Doa Seorang Pesolek Tuhan yang cantik. Nyalakan lanskap pada alisku yang gelap. Semoga kecantikanku tak lekas usai dan cepat luntur seperti pupur. Ketika kami semua ingin jadi presiden.akan kubereskan sekarang juga. Taburkan hitam pada rambutku yang suram. Gus. Durrahman berjalan mundur ke dalam istana. . Dikecupnya telapak tangannya. Semoga masih bisa kunikmati hasrat yang merambat pelan menghangatkan susuku sebelum jari-jari waktu yang lembut dan nakal merobek-robek kutangku. Dur.” Dua ekor burung gereja menjerit nyaring di atas bahunya. Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali puing-puing cinta. lalu dilambai-lambaikannya ke arah ribuan orang yang mengelu-elukannya dari seberang. Hangatkan merah pada bibirku yang resah. temani aku yang sedang menyepi di rimba kosmetik. Ceburkan bulan ke lubuk mataku yang dalam.

“Paskah?” tanya Maria. Yesus naik ke surga. (2009) Jalan Sunyi Ada jalan kecil menuju kebunmu: ada hujan mungil merayap pelan ke liang sajakku. Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya. Supaya tidurnya tidak rusak oleh celana.Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik di bibirku yang mati kata. (2004) Celana Tidur Walau punya bermacam-macam celana tidur.” jawab Yesus gembira. Bu. “Pas sekali. (2003) . ia lebih suka tidur tanpa celana. Mengenakan celana buatan ibunya. (2007) Celana Ibu Maria sangat sedih menyaksikan anaknya mati di kayu salib tanpa celana dan hanya berbalutkan sobekan jubah yang berlumuran darah. membawakan celana yang dijahitnya sendiri dan meminta Yesus untuk mencobanya. pagi-pagi sekali Maria datang ke kubur anaknya itu. Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit dari mati.

” pinta saya kepada tukang ojek. hal pertama yang akan saya lakukan adalah naik ojek keliling kota. Untuk menunjukkan kekompakan. Semula ia tampak asing dengan alamat yang saya sebutkan. bersenang-senang menikmati tabungan. Tanpa berpikir panjang. tukang ojek yang penakut itu cepat-cepat ngacir setelah sebelumnya berkata. draw kalau begitu. Tapi saya tetap merasa rugi karena diam-diam saya dicurigai sebagai pencoleng berlagak penumpang.” kata saya. “Kita cari saja. Ia mati dengan sederhana dalam perjalanan naik ojek menuju desa kelahirannya setelah sekian lama hidup makmur dan sejahtera di kota. sepeda motornya terkejut. Wah.” ujarnya. Tukang ojek yang mengantarnya pulang terkena serangan jantung mendadak. tapi konon gagal total dalam petualangan cinta. Sepanjang perjalanan saya berdebar-debar seraya tak henti-hentinya berdoa memohon keselamatan. Kemudian saya masuk gerbang. dengan senang hati ia bersedia mengantar saya. kendaraan yang menuju ke tempat yang akan saya datangi sudah tidak jalan. “Kalau tahu mau ke kuburan. Karena sudah larut petang. tukang ojek itu tidak tahu bahwa jika suatu saat nanti saya tiba di surga. warna yang sangat mudah dikenali oleh pengguna jasa mereka. “Tunggu sebentar ya. Diam-diam saya merasa was-was mendapat tukang ojek yang sangat mencurigakan. Mereka siap mengantar siapa saja ke tempat terpencil yang tak terjangkau kendaraan umum. tidak mau tahu bahwa penumpang adalah raja. naik-turun penuh tikungan. Terletak di atas sebuah bukit. Tidak ada cara lain. saya tidak akan sudi mengantarkan!” Wah. mencari-cari rumah mungil tempat sahabat saya yang baik hati sedang beristirahat. tidak mudah membedakan mana tukang ojek yang ramah dan mana yang suka marah sebab wajah mereka sama dinginnya. harus naik ojek. kehilangan keseimbangan. selamat juga akhirnya!” Itulah yang segera diucapkan si tukang ojek begitu sampai di tempat tujuan.Ojek Di pertigaan jalan yang selalu ramai itu terdapat pangkalan ojek yang dikuasai oleh kira-kira dua puluh laki-laki berseragam hitam. Saya jadi teringat berita di koran tentang tukang ojek gadungan yang merampok dan kemudian menghabisi penumpangnya sendiri. Lho. Apalagi jalanan gelap dan sepi. Indah sekali kompleks perumahan yang saya kunjungi ini. dari ketinggiannya yang hening dan asri saya bisa menyaksikan gugusan cahaya warna-warni di bawah sana. menjalankan sepeda motornya juga seenaknya. Baru setelah saya bujuk-bujuk dengan ongkos yang jauh lebih tinggi. mereka memakai helm berwarna jingga. Begitu turun dari bus. saya langsung disergap oleh seorang tukang ojek bermata garang. kemudian meluncur ke dalam jurang bersama penumpangnya. tukang ojek itu pun berdebar-debar sepanjang perjalanan karena ia teringat temannya sesama tukang ojek yang tewas mengenaskan setelah dirampok dan dianiaya oleh penumpangnya sendiri. saya mau bicara dengan teman saya. seharusnya kan saya yang mengucapkan itu? Tidak saya duga. (2003) Kecantikan Belum Selesai . Ketakutan saya makin berlipat ganda karena sepanjang perjalanan si tukang ojek diam saja. “Itu kota saya. “Syukur alhamdulillah. Bagi saya yang baru pertama kali akan naik ojek dari sana. pasti ketemu.

Sudah selesai. Ambruk sebelum usai. mata dan bibir agar melihatku adalah melihat kecantikan yang belum selesai. manis. Beri aku sentuhan terakhir pada rambut. Sekarang bersiaplah kau di ruang ganti busana. ia menangis. Saya takut pada tubuh saya sendiri. mayat yang saya sembunyikan akan bangun dan berkeliaran. (2007) Doa Sebelum Mandi Tuhan. Konser dimulai. Selamat malam. Petugas kecantikan segera mengatur tubuhnya sebagaimana mereka mengatur ruang dan cahaya. kuoleskan darah pada bibirmu yang skeptis agar semua yang mendamba kau sangsai: apakah kecantikan sudah/belum selesai? Ditemani dua orang perias wajah. Suaranya yang lucu mengagetkan tato macan yang sedang mengaum di tubuhmu. Ia berjalan pelan ke arah panggung. Menjelang lagu terakhir penyanyi itu terkulai. saya takut mandi. penyanyi itu tercenung lama di depan kaca. Saya takut dilucuti. Hadirin bersorak-sorai. Belum selesai. Sudah selesai. Sudah kucoba semua warna. memandang senja di ufuk mata: melihat elang mengitari mambang. . Kecantikan belum selesai! (2003) Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam Sepi meletus. Dua jam bersama kecantikan. Belum. Belum! mereka histeris. Perlukah. Kalau saya buka tubuh saya nanti.

Selain salah lihat. Aku cuma membersihkan dan merendam matamu dalam airmataku. Tubuh saya sering dipinjam orang untuk menculik dan membinasakan korban. Apa dan siapa yang saya lihat sering tampak bergoyang. pasien. (2000) Dokter Mata Belakangan ini saya banyak mendapat gangguan mata. mandikanlah saya agar saudara kembar saya bisa damai dan tenang di tubuh pembunuhnya. apakah saya harus pakai kacamata?” “Tidak perlu kacamata. Kerja saya mencari pekerjaan. Aneh. pusing. Saya diminta berdoa dan tidur tenang sementara ia akan menggarap mata saya. “Dokter. Maka datanglah seorang dokter mata: “Selamat malam. Subuh hari saya terbangun. Tak terkecuali buku-buku yang saya tulis sendiri. Malam ini sakit mata saya makin akut: nyeri. Kau pangling dengan matamu?” “Terima kasih. mata saya sering dianggap salah baca.” Tanpa bicara ia periksa mata saya. Saya segera mendatangi cermin langganan saya dan saya terkejut tiba-tiba bertemu dengan dokter mata itu. Hanya perlu dicungkil. baca lagi. Hidup saya sehari-hari sudah telanjang. kemudian mengembalikannya seperti semula. Saat bercermin.” Dicungkil? Saya tidak dapat membayangkan mata saya harus diganti dengan mata buatan atau bekas mata orang lain. “Dokter. Saya baca buku. misalnya. Dokter. salah lagi. Ternyata ia lupa dan mengajak kenalan ulang.Saya ini orang miskin yang celaka. buku bilang salah. semua terasa nyaman dan normal kembali.” Dan dokter mataku tampak . Bahkan mata saya kadang salah sangka. saya merasa bahwa tuan yang sedang mengagumi saya adalah kenalan lama saya. Tuhan. Mereka bisa dengan mudah dihilangkan tapi di tubuh saya mereka tak dapat dilenyapkan. apakah Anda telah mengganti mata saya?” “Ah enggak. berdenyut-denyut. Dokter mata sudah pergi.

(1998) Layang-layang Dulu pernah kaubelikan aku sebuah layang-layang pada hari ulang tahun. Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu. Kurcaci merubung tubuhnya yang berlumuran darah sementara pena yang dihunusnya belum mau patah. Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan selain dibasahkuyupkan di bawah hujan. (2002) Kurcaci Kata-kata adalah kurcaci yang muncul tengah malam dan ia bukan pertapa suci yang kebal terhadap godaan. Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan meskipun tanpa benang dan tinggal robekan. Ketika bangun. tahu-tahu tubuhku sudah telanjang. Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang dan kembali kutemu. Sebab layang-layang itu kemudian hilang. tapi ia tidak ingin aku melihat airmatanya. (1980) Penyair Tardji .ingin menangis. (2003) Aku Tidur Berselimutkan Uang Aku tidur berselimutkan uang. Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak tapi hanya sejenak. Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang. entah ke mana ia terbang.

rumah bordil. Ia membabat rasa damai yang merimbun sepanjang waktu.” Suara guntingnya selalu mengganggu tidurku. Hujan menderas. “Mana kapak? Biar kutetak leher panjangMu. Sampai nganga luka dibelah. Waktu itu tengah malam. dan tempat ibadah. “Ya Allah. Musim mengendap di kaca jendela. dan restoran.” Sampai huruf habislah sudah. Sesudah itu semuanya reda.” (1986) Tengah Malam Badai menggemuruh di ruang tidurmu. “Di bekas hutan ini akan kubangun bandar. Ia menyayat-nyayat kepalaku. “Aku akan mencukur lentik lembut bulu matamu. “Sampai tuntas pahit-asamnya. lalu kilat. petir dan ledakan-ledakan waktu dari balik dadamu. . Tinggal ranting dan dedaunan kering berserakan di atas ranjang. Dan kalau perlu akan kupangkas daun telingamu. Ia mengkapling-kapling tanah pusaka nenekmoyangku. Kau menangis.” Dalam mabuk ia minta tuak dari jantungMu. (1989) Tukang Cukur Ia membabat padang rumput yang tumbuh subur di kepalaku. Tapi ranjang mendengarkan suaramu sebagai nyanyian. Tentunya juga sekolah. Sampai pecah ini botolnya. sajak terindah kutemu dalam Kau darah. hotel. Hening.Tardji minta bir buat pesta di malam buta.

(1989) Hutan Karet in memoriam: Sukabumi Daun-daun karet berserakan. . Sesaat sebelum surya berlalu masih kudengar suara bedug bertalu-talu. Berloncatan di semak-semak rindu. Berserakan di hamparan waktu. (1990) Pohon Bungur : anno 1968 . Pohon bungur di puncak bukit dalam belaian usia. Kuingat selalu bunga merahnya yang ranum diguyur hujan menjelang malam turun. Dan sebuah jalan melingkar-lingkar. Membelit kenangan terjal. Di pucuk-pucuk ilalang belalang berloncatan.1973 Pohon bungur di puncak bukit dalam naungan senja. (1990) Pada Lukisan Monalisa Di rambutmu burung-burung membuat sarang. Bunga-bunganya berceceran dihirup angin selatan. Suara kalong menghalau petang. Suara monyet di dahan-dahan.

mengalir ke laut yang jauh. becak itu akan menjelma menjadi sebuah perahu yang harus bertarung sendirian melawan badai.” Ada juga yang berkata: “Sesampainya di laut. Yang pucuk-pucuknya menjulang karena adalah jeritan. Tapi ada yang berbisik kepada saya: “Akulah yang menghanyutkannya dan ternyata kalian amat suka menontonnya. Sungainya keruh. Yang akar-akarnya menjuntai ke wilayah malam. yang sudah berapa lama terkurung dalam himpian Hawa.” (1990) Di Kulkas: Namamu Di kulkas masih ada gumpalan-gumpalan batukmu mengendap pada kaleng-kaleng susu. . Burung-burung yang memintal benang-benang cahaya dengan kepak lembut sayap-sayapnya yang luka. Di kulkas masih ada engahan-engahan nafasmu meresap dalam anggur-anggur beku. (1990) Senandung Becak Ada becak melenggang sendirian di sebuah gang. Pemiliknya. telah mati di tiang gantungan.Burung-burung yang terbang dari khasanah senja. Ada becak hanyut di sungai. Yang ranting-rantingnya lembut karena adalah igauan. Dan engkau adalah pohon yang dahan-dahannya menjulur lentur karena adalah kenangan. Burung-burung yang menggurat padang langit hijau dengan cakar-cakar perih dan kicau-kicaunya yang parau. mengira si pemiliknya telah mati tenggelam. ombak dan malam. Yang daunnya rimbun menghalau kobaran jaman. katanya. Orang-orang berkumpul di atas jembatan.

guling telah menjadi gundukan fosil yang dingin beku.Di kulkas masih ada sisa-sisa sakitmu membekas pada daging-daging layu. Di kulkas masih ada bisikan-bisikan rahasiamu tersimpan dalam botol-botol waktu. Bantal. Aku terdampar di sebuah halte. melongok wajah seseorang yang sedang melukis matahari di telapak tangan. setiap orang memasang halte di tempat persinggahan. hingga terbitlah purnama. Mengangankan masih ada bus yang bakal datang . Mengulur-ulur waktu agar tidak cepat sampai ke arah jantung atau erangan bisu. Lihatlah. tergoda. Dan manusia terpana. (1991) Ranjang Kematian Ranjang kami telah dipenuhi semak-semak berduri. Semalaman mereka telanjang. meniup seruling. Setidaknya kubayangkan suatu senja aku datang ke ambang jendelamu. Halte. Menunggu bus yang sebenarnya telah lama lewat. Menunggu dan menanti tak henti-henti. Para arwah telah menciptakan sendang dan pancuran tempat peri-peri membersihkan diri dari prasangka manusia. Telah melumut pula mimpi-mimpi yang dulu kami bayangkan bakal abadi. Tapi kami sendiri lebih suka menyebutnya dunia fantasi. (1991) Perjalanan Pulang Kadang ingin sangat aku pulang ke rumahmu. Mereka menyebutnya firdaus yang dicipta kembali oleh keturunan orang-orang mati. Jasad yang kami baringkan beribu tahun telah membatu. Dan selimut telah melumut.

Andaipun langit memperpendek batas. matahari beringsut pada lingkaran biru. Seakan seseorang selalu siap di atas ampunan. Memugar mata yang nanar. Aku ini memang selalu rindu untuk pulang tapi saban kali juga tak betah. Demikianlah musafir: kita takut menjadi tua namun juga tak pernah bisa kembali menjadi bayi. menjadi kanak-kanak kecuali bila kita ciptakan lagi kelahiran di saat halte mau membimbing kita ke peristirahatan. menyibak dan menutup kembali kelambu mimpi. Kemudian malam terlipat di pelupukmu dan sebuah himne menggema di lintasan alismu. Alamat kepada siapa kaukirimkan aduhan bernama surat. tak berarti jangkauan begitu saja lepas. memburu sinyal-sinyal baru yang memberitakan atau menyembunyikan pesanmu. Rendezvous yang kepadanya kautujukan persediaan waktu. Perhentian tempat penantian dikekalkan dan sekaligus diakhiri. Membelai wajah yang membangkai. Aku ingat sebuah halte di ujung kota yang entah. menerima dan melepaskan salam. Siapa tahu tatapan malah meluas. Halte. Burung-burung pipit mengurung senja. Tergambar jelas di potret lama: wajah yang dingin dihangati usia. Merapikan rambut yang kusut.membawanya pulang atau mungkin pergi jauh sekali. . Seperti juga telapak tanganmu: selalu terbuka untuk dilayari dan disinggahi. Petualang sekaligus pencinta rumah. Jendela selalu membukakan dirinya untuk dimasuki dan ditinggalkan. Mengapa kita takut pada ketakutan? Mengira tak ada yang bisa diabadikan? Tengah malam kita sering terbangun lalu berdiri di depan cermin. Tak bosan-bosan. Rindu. Di saat lelap sering kulihat bayangan tubuhmu berjalan terbungkuk-bungkuk dengan gaun putih.

Malam mengingsut seperti siput mengusut kabut. beri aku sedikit waktu. sudah kumal. sudah pula penuh jahitan. Nyawaku tertinggal di rumah sakit. diserbu semut-semut hitam untuk pesta persembahan. pintu-pintu minta kiriman kisah petualangan. jarak itu sebenarnya tak pernah ada. Ke mana nyerimu melangkah. Apakah waktu sudah sangat bosan menghuni jam dinding? Aduh sayang. leher yang koyak dirobek-robek kemiskinan. Di jauhan anjing-anjing bertengkar berebut kucing. Kalender menangis melengking-lengking. kanak-kanak bermain terompet di lubang persembunyian. Almanak tak menyiratkan tanggal dan bulan. detik-detik berjatuhan ke lantai dingin. sungai itu tetap saja hijau. Apakah kau sedang berkemas ke kuburan? Alamak. Rumah itu mungkin akan selalu menanyakan kepulangan. membangunkan si sakit dari ranjang beku . Baju usang yang kusayang tergantung riang di tali jemuran. Lalu kau merapat ke kaca almari: mengganti baju. Berapa lama ucapan tak mau bungkam? Ah padang pasir. Salam bagimu peziarah muda. Keningmu berkobar dibantai sinar. Kau pikir para pengungsi mau dilumat kelaparan? Lihatlah. Garis-garis tangan tak menuliskan suratan. menyempurnakan kecantikan. si buyung mau lebih lama merantau. Matamu menyala serupa lilin.Berapa lama kata-kata berbincang tentang artian? Uban-uban tak mau bicara tentang ketuaan. Kematian dienyahkan ke bukit-bukit karang. Katakan pada ibu. Hatimu telah mencatat peristiwa-peristiwa kecil yang dilupakan dunia. Aduh sayang. Dinding-dinding tak membatasi ruang. Hari itu jam bergerak lambat. Lonceng gereja mengepung rindumu di malam buta. Seperti kujahit leher yang retak. Pertemuan dan perpisahan dilahirkan oleh perasaan. ke sana jantungmu mencari. Sudah rapuh. Panasmu ingin menghanguskan perkemahan.

Merunut silsilah gelap dari mana aku datang ke mana aku pulang. menyibakkan tirai pagi sebelum surya ungu berayun di ambang pintu: mengabarkan saat kematian dunia waktu. Jika benar air mancur itu tak ingin tidur. Air matanya sudah hanyut di sungai. Burung-burung berarak pulang menuju lingkaran biru. Aku terdampar kembali di sebuah halte. barangkali bisa kutitipkan kebosanan padanya. arus air tak mau kembali mengulang detak jam. Seperti pada saat keberangkatan. Memilih saat terbaik untuk pulang ke rumah. letupkan nada terakhir yang belum sempat dihunjamkan. Letupkan penyanyi. ke dunia entah. Angin dan angan menyurutkan malam. Tak ada yang benar-benar mengenalinya selain angin yang masih menyebutnya perempuan. dibawa kupu-kupu ke pucuk cemara? Musim bunga tergesa-gesa pergi diburu musim yang kehilangan cuaca. Matanya ingin menggapai bintang-bintang. (1991) Penyanyi yang Pulang Dinihari Ia melewati jalan yang sudah bosan menghitung langkahnya. . Gaun siapa tertinggal di bangku taman. melongok wajah seseorang yang sedang melukis matahari di telapak tangan. Perempuan itu tak mau menangis. Rambutnya menyimpan kunang-kunang. Halte. Senja hampir layu. Dan meskipun sungai berulangkali meriuhkan keperihan. Salam bagimu pasien abadi. Malam sekarat di balik gaun transparan dan sisa waktu dilumatkan di ujung lengan. Melupakan bus yang tak akan lewat atau sudah lama lewat.di kamar-kamar mati. Melacak jejak sejarah nenek moyang yang melahirkan nama-nama. Suatu hari aku ingin mengajak si mayat berburu singa di hutan purba. Untuk datang ke ambang jendelamu.

Tampaknya ia percaya sebuah rumah setia menanti. Ia ragu membuka pintu. ini memang rumahku. Seekor anjing menyalak nyaring menggonggongi bau keringatnya yang asin. Ia menyanyi dan menari dan pinggulnya yang hijau mengibaskan bayangan hitam orang-orang mati. Kembali ia termangu. Rambut coklatnya meleleh pekat. Tapi ia masih ingat beha usang yang tergantung di atas pintu. Saban kali aku meninggalkannya. sudah luka masih juga menggoda. . Ia takut pada pintu. rumah mana bakal kautuju? Awas hati-hati. dasar pemberani. Seperti tamu asing. ia berhenti di depan pintu besi.Siapa tahu dada montok itu masih merindukan jeritan. Ah sialan. “Bukankah ini rumahmu? Apakah engkau takut atau lupa samasekali?” “Ya. tak lagi mencantumkan angka. Hai perempuan. menutup hati bagi tamu yang ingin singgah. Daripada kaku dibalut embun pagi. di ujung jalan banyak polisi. dipanjatnya pagar halaman berduri. Mungkin hatinya merintih. tanda sebuah dunia atau sepenggal kehidupan masih menunggu. bintang-bintang berkerlapan di matanya. Tapi singa luka itu tak mau pedih. Tersaruk-saruk ia menyeret bayangan tubuhnya. Ia ragu apakah benar itu rumahnya. Maka kunang-kunang menggeremang di rambutnya. Tersuruk ia di sebuah tikungan dan para peronda mau membawanya ke gardu. Pintu besi telah mengunci diri. pintu hitam membukakan diri. Gerimis hitam mengguyur wajahnya yang beku sehingga bedak dan lipstik luntur melumuri gaunnya yang putih. Tapi singa luka itu menggeram nyalang dan para lelaki dihardiknya pergi. Plat nomor telah rusak. Baru setelah diketuk tujuh kali.

Aduh. tak henti-hentinya mengigau dan meracau.” Ia tertegun. Berdarah. Di dinding hitam sebuah topeng terkekeh-kekeh. Hanya sepi berkepanjangan. Dadanya mengkerut disepak dentang lonceng jam tiga pagi. Ia tidak gila. Ah perempuan. .” Perlahan ia melangkah ke ambang pintu. Perempuan itu samasekali tidak gila. “Ah pintu. Sebuah radio tertidur pulas di bantal biru. kini tubuhmu tegak di hadapan cermin retak. jadi serba alpa. Terasa dunia jadi lain. tampaknya ia tengah bercumbu dengan orang mati yang menciptakan gelombang siaran dinihari. Berdarah-darahlah leher hijau yang diterkam musim panas. Kepada siapa kau mengaduh? Kepada tatapan yang hancur luluh? Kepada cermin yang tak lagi utuh? Wah. menyeringai menertawakan tamu asing yang bertandang ke rumahnya sendiri. ranjang hitam menggoyang-goyangkan diri. Tidak sangsi dan benci pada janji-janji baik yang diucapkan para kekasih yang mengurungnya dalam lingkaran ilusi. diarungi cicak-cicak hitam. Angin jahat menyingkap ujung gaunnya yang tipis. engkau lebih mengenal rumahku ketimbang aku sendiri yang saban waktu merindukannya dan kemudian meninggalkannya. Serba hitam. Kelambu telah habis dibakar mimpi. barangkali. jidatmu yang legam dilayari kupu-kupu hitam. Kau mengaduh. Dan di atas meja rias yang porak poranda sebuah boneka masih menari-nari. Apakah ada malaikat yang selalu membawa anak kunci? Kamar sudah menganga sebelum ia buka pintunya. terasa dunia jadi lain. Wah. Tidak lupa pada jagad kata yang dihuninya seorang diri tanpa cinta. Bibirmu hangus dan mengelupas. yang merindukan kebangkitan musim semi. Barangkali studio-studio suara dan panggung-panggung hiburan telah membuatku jadi pelupa. Kakinya yang lembab melekat di lantai dingin.saban kali pula harus mengenalinya kembali. Astaga.

memotong urat nadi. Lalu ia menyanyi di depan kaca almari. Lagu-lagu lama disenandungkan kembali. Tanggalkan gaun usang. Cermin retak sudah kembali berdandan. Bahkan pawai dan gelombang massa telah menggiring diri . Dentang lonceng jam tiga pagi tergelak-gelak menyaksikan tubuhmu. sakitmu. Dan jika dada kenyal itu menggembung mengempiskan hasrat-hasrat terpendam. yang telanjang. (1991) Kisah Seorang Nyumin Demonstrasi telah bubar. Demikian pula para lelaki akan mendapatkan kejantanan kembali pada tatapan yang sesilau kerlip api setelah sekian lama dunia mereka miliki sendiri. tidak mudah menyerah pada keinginan murahan untuk mencekik leher. Di sana ia bersolek. Bibir pedas sudah siap menerima lumatan. cobalah menggelinjang. Terbukti ia tabah. Penyanyi. Tapi tak ada saat untuk menangis menggigit-gigit tangan. jangan meraung memukul-mukul dinding. Sebuah kamar bisa menjadi salon kecantikan. Ia cuma ingin menyembelih bayangan-bayangan hitam yang berbondong-bondong di dinding legam. kamar sempit siap menampung gemuruh topan dan lalu badai kehampaan. gejolak. wajahmu tersipu malu disambar rayuan baru. Ah lelaki. Tak usah ditunda lebih lama. Memang ia mengambil pisau dari laci almari. Kata-kata telah bubar. teriak. tapi bukan untuk bunuh diri. Perempuan. kau memang hanya berlomba dengan waktu.Dan ia benar-benar perempuan. Juga gerak. Ranjang hitam sudah menggeliat minta dekapan. gegap. lebih baru dari lagu-lagu terbaru. Kadang lebih merdu dari yang dinyanyikan di masa lalu. alis dan bulu mata agar setiap orang tergoda untuk pura-pura tak mengenalnya sehingga ia bisa mendapatkan cinta baru di atas kecantikan lama. Tak ada lagi karnaval. mengganti model rambut.

meninju-ninju udara. Pulang ke rumah yang teduh tenang. sendirian. jaket. mematut-matut diri.ke dataran lengang. sendirian. mengemasi kata-kata. melawan?” “Diam.” “Lalu apa yang masih ingin kaulakukan? Mengamuk. Isterinya masih asyik di depan cermin. Di pelataran yang mosak-masik yang tinggal hanya koran-koran bekas. . Tolong jaga rumah ini baik-baik. lelaki itu bergegas masuk ke kamar mandi. “Aku mau kopi. Sedang isterinya berlenggak-lenggok di cermin. bersolek menghabiskan bedak dan lipstik. Siapa masih bicara? Bendera. Tak ada lagi karnaval." Tahu senja sudah menunggu. sendirian. dan sepatu. “Aku mau piknik sebentar ke kuburan.” “Saya tak punya partai dan tak butuh partai. “Sebutkan nama partaimu. Ia membuka pintu. berserakan. senyum-senyum.” Sayang Nyumin tak bisa diam. menghentak. meronta. mengemasi senjata. menghabiskan sepi dan rindu. bersiul-siul. (1992) Kisah Senja Telah sekian lama mengembara. lakukan dengan tertib dan sopan. Kemarin ada pencuri masuk mengambil buku harian dan surat-suratmu. Tapi di atas mimbar. sesungguhnya. tempat ilusi-ilusi ringan masih bisa bertahan dari serbuan beragam ancaman. lelaki itu akhirnya pulang ke rumah. Dan para demonstran bersorak: “Hidup Nyumin!” Suasana serasa senyap. spanduk. itu yang saya inginkan. pamflet telah melucuti diri sebelum dilucuti para pengunjuknya. gebyar-gebyur. di pusat arena unjuk rasa Nyumin masih setia bertahan. mengancam. Nyumin terus bicara.” “Lakukan.” katanya sambil dilepasnya pakaian kotor yang kecut baunya. melemparkan ransel. menghardik. kedinginan diinjak-injak sepi. menggebrak. Kami akan pulang. Lima peleton pasukan mengepungnya.

Aku terbang ke langit ke bintang-bintang ke cakrawala ke detik penciptaan bersama angin dan awan dan hujan dan kenangan. “Biarkan aku tumbuh dan besar di sini.” Si isteri belum juga rampung memugar kecantikan di sekitar mata. Aku ingin menggigil dan membeku bersamamu. mengenakan busana baru. Ibu. minum kopi. mencukur jenggot dan kumis. membuka dunia kecil yang merekah di matanya. dan pipi. Jemputlah aku. nyenyakkah tidurmu?” “Nyenyak sekali.” “Bayi. Bayi. Jangan keluarkan aku ke dunia yang ramai itu. Aku ingin terbang dan melayang bersamamu. . mencukur nyeri dan ngilu. jaket.” “Aku ikut.” Bayi di dalam kulkas adalah doa yang merahasiakan diri di hadapan mulut yang mengucapkannya. bibir. ketika Ibu menjamah tubuhnya yang ranum. Dan setiap orang yang mendengar tangisnya mengatakan: “Akulah ibumu. Ibu. (1994) Bayi di Dalam Kulkas Bayi di dalam kulkas lebih bisa mendengarkan pasang-surutnya angin. Tolong siapkan ransel. bisu-kelunya malam dan kuncup-layunya bunga-bunga di dalam taman. ongkang-ongkang. baca koran. Lalu merokok. di depan halusinasi.” Bayi tersenyum. dan sepatu. “Aku minggat dulu mencari hidup. Ia masih mojok di depan cermin.“Kok belum cantik juga ya?” Lelaki itu pun berdandan. (1995) Di Salon Kecantikan Ia duduk seharian di salon kecantikan. seperti menjamah gumpalan jantung dan hati yang dijernihkan untuk dipersembahkan di meja perjamuan.

Tahu bahwa kecantikan hanya perjalanan sekejap yang ingin diulur-ulur terus namun toh luput juga. Angin itu sayup.” Yang di dalam kaca tersenyum simpul dan menunduk malu . Menyusuri langit putih biru jingga dan selalu pada akhirnya: terjebak di cakrawala. Jarinya meraba kerut di pelupuk mata.Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Bahkan jika ia yang di dalam cermin merasa tua dan sia-sia. kau bukan lagi bulan binal yang menyimpan birahi dan misteri. Ia dijaring dan menjaring dunia di seberang sana. Mengapa harus menyesal? Mengapa takut tak kekal? Apa beda selamat jalan dan selamat tinggal? Kecantikan dan kematian bagai saudara kembar yang pura-pura tak saling mengenal.” Senja semakin senja. “Sekali ini aku tak mau diganggu. “Aku cantik. Karena itu ia ingin mengatakan: “Mata. Aku ingin tetap mempesona. Gerimis itu lembut. Ia seorang pemberani di tengah kecamuk sepi. Hatinya tertawan di simpang jalan menuju fantasi atau realita.” Ia pejamkan matanya sedetik dan cukuplah ia mengerti bahwa gairah dan gelora harus ia serahkan kepada usia. Ia memandang dan dipandang wajah di balik kaca. Toh ia ingin tegar bertahan dari ancaman memori dan melankoli. Waktu seluruhnya untuk kesendirianku.

Alisnya ia tebalkan dengan impian. Suara itu letih. Pandangnya ia lekatkan pada cahaya. Dan ia ingin mengatakan: “Rambut. Aku mau menengok bunga merah yang menjulur liar di sudut kamar. karena tak betah lagi berlama-lama menjadi bayangannya lalu melengos ke arah tiada. Tangannya meremas kenyal yang surut dari sintal dada.” Ia mulai tabah kini justru di saat cermin hendak merebut dan mengurung tubuhnya. Lagu itu lirih. Dan ia ingin mengatakan: “Dada. Ia melihat pada bola matanya segerombolan pemburu beriringan pulang membawa bangkai singa.” Keningnya ia rapatkan pada kaca. kau bukan lagi pegunungan indah yang dijelajahi para pendaki.” Kini ia sampai di negeri yang paling ia kangeni. Ia menatap. .” Ada saatnya ia waswas kalau yang di dalam cermin memalingkan muka karena bosan. Rambutnya ia hitamkan dengan kenangan. kau bukan lagi padang rumput yang dikagumi para pemburu. Kupu-kupu putih hinggap di pucuk payudara. Di ujung kecantikan jarum jam mulai mengukur irama jantungnya. “Aku minta sedikit waktu lagi buat tamasya ke dalam cemas.melihat wajah yang diobrak-abrik tatawarna. Senja semakin senja. Yang dindingnya adalah kaki langit. Malam sudah hendak menjemputku di depan pintu. “Aku mau singgah di rumah yang terang benderang. Yang terpencil terkucil di seberang ingatan.

(1995) Malam Pembredelan Segerombolan pembunuh telah mengepung rumahnya. kami agak gugup.” Ia ingin masih cantik di saat langit di dalam cermin berangsur luruh. Cepat laksanakan tugas Saudara atau kata-kata akan balik menyerang Saudara. seperti masa muda yang harus bergegas ke pelabuhan. Saudara masih juga berkelakar dan pura-pura menghibur saya. Kau akan kurangkum. “Selamat datang. Anda ternyata lebih berani dari yang kami kira. Saya sudah menyiapkan semua yang akan Saudara rampas dan musnahkan: kata-kata. “Maaf. Mereka menggigil di bawah hujan yang sejak sore bersiap menyaksikan kematiannya.” “Terima kasih. Ia mengenakan pakaian serba putih dengan rambut disisir rapih dan wajah amat bersih. kukuasai seluruhnya. suara-suara. Ia sendiri tetap tenang. perkenankan kami sita dan kami bawa kata-kata yang bahkan telah Anda siapkan dengan rela. Bahkan ia masih sempat menghabiskan sisa kopi di cangkir ungu sambil bersiul dan sesekali berlagu. Malam sangat ngelangut. Kami melihat kata-kata berbaris gagah di sekitar bola mata Anda. Sedapat mungkin kami akan membinasakannya. Ditatapnya wajah pembunuh itu satu satu.“Serahkan.” . Hatinya semakin dekat kepada yang jauh. meninggalkan saat-saat indah penuh kenangan. atau apa saja yang Saudara takuti tetapi sebenarnya tidak saya miliki.” “Baiklah. Mereka gemetar dan memandang ragu.” Ia berdiri di ambang pintu. ingin santai dan damai menghadapi detik-detik akhir kehancuran.

langit kusut pada mata yang memancarkan cahaya redup kunang-kunang. Aku akan selamanya di sini.” Maka ia pun lekas berdiri dan dengan berani melangkah ke kamar mandi. Saya punya yang lebih dahsyat dari kata-kata. Tapi malam buru-buru mengingatkan: “Kau sudah telanjang. Segerombolan pembunuh lain telah mengepung rumahnya. Tubuh mereka yang seram. hutan pinus yang meranggas pada rambut yang mulai pudar hitamnya." Lalu ia tidur pulas. adalah warna-warna yang berebut cahaya. “Aku mau bersih-bersih dulu. Tapi masih digenggamnya surat terakhir yang sudah dibaca berulang. Sebab. .” Dan suntuklah ia bekerja. “Aku pasti pulang pada suatu akhir petang. bajingan. kok belum juga mandi dan berdandan. di rumah yang terpencil di sudut kenangan. wajah mereka yang nyalang lenyap ditelan malam dan hujan. Aku mau berendam semalaman. (1995) Kisah Semalam Yang ditunggu belum juga datang.” Tanpa kata-kata. menyingkirkan segala yang berantakan dan berdebu di molek tubuhku. adalah bunga-bunga yang berebut warna. adalah cahaya yang berebut cakrawala. demikian ditulisnya dengan tinta merah: "Kata-kata adalah kupu-kupu yang berebut bunga. itu kan hanya kata-kata.“Ah. membangun kembali keindahan yang dikira bakal cepat sirna: kota tua yang porak poranda pada wajah yang mulai kumal dan kusam. adalah cakrawala yang berebut saya. gerombolan pembunuh itu berderap pulang. Tentu dengan bunga plastik yang kauberikan saat kau mengusirku sambil menggebrak pintu: „Minggat saja kau.‟” Belum sudah ia bereskan resahnya. Sementara di atas seratus halaman majalah yang seluruhnya kosong dan lengang kata-kata bergerak riang seperti di keheningan sebuah taman.

gadisku yang rupawan tambah montok dan menawan. Permisi gunting. Benar-benar pemberani. pegunungan tandus pada pinggul dan pantat yang mulai lunglai goyangnya. Aku sekarang mau tidur. Kau memang selalu datang dan pergi tanpa setahuku. Cuma ada yang cekikikan dan terbirit-birit pergi seperti takut segera ketahuan. Kau cuma ingin mencuri kecantikanku. Rambutnya awut-awutan dijarah angin malam. dan lembah duka yang menganga antara perut dan paha. Tapi enak saja ia nongkrong. Permisi cermin. minyak wangi dan kawan-kawan. Ada cermin besar hendak merebut sisa-sisa kecantikan. Aku mau terbang tinggi. Pintunya sengaja tak aku kunci. permisi. Permisi kamar mandi. Tak gentar ia pada sepi dan gerombolannya yang mengancam lewat lolong anjing di bawah hujan.padang rumput kering pada ketiak yang kacau baunya. di bawah pusar. dan lubang sunyi. Masuklah kalau berani. Ada juga yang mengintip diam-diam sambil terkagum-kagum: “Wow. menggelepar. Tentu dengan setangkai kembang plastik yang dulu ia berikan.” “Ah. dasar bajingan.” Tak ada sahutan. dalam jaring melankoli. kalau begitu. bedak. leher langsat yang menyimpan beribu jeritan. mengangkang seperti ingin memamerkan kecantikan: wajah ranum yang merahasiakan derita dunia. ngorok. menunggu kekasihnya datang. yang dirimbuni semak berduri.” Sesudah itu ia sering mangkal di kuburan. dada montok yang mengentalkan darah dan nanah. “Baiklah. . Aku ingin mengajaknya lelap dalam hangat pertemuan. sisir. lipstik. bukit-bukit keriput pada payudara yang sedang susut kenyalnya. Ada suara memanggil pelan. (1996) Gadis Malam di Tembok Kota untuk Ahmad Syubannuddin Alwy Tubuhnya kuyup diguyur hujan.

baju kedodoran. tentu akan semakin banyak yang gencar bercinta tanpa merasa waswas akan ditahan dan diamankan. Aku tak pandai meradang. tempat segala kelakar dan kesakitan begadang semalaman. Ledakkan puisimu di nyeri dadaku. “Aku rindu Mas Alwy yang tahan meracau seharian. mesti kuakhiri kisah kecil ini saat engkau terkapar di puncak risau. “Merapatlah ke gigil tubuhku. Yang cintanya ganas tapi ada lembutnya. gadisku.” “Selamat malam. Apa boleh buat. Datang sebagai pasien rumah sakit jiwa dari negeri yang penuh pekik dan basa-basi. yang tawanya ngakak membikin ranjang reyot bergoyang-goyang. Tragis bukan. aku tak punya banyak waktu buat bercinta. “Aku sayang Mas Alwy yang matanya beringas tapi ada teduhnya. Dan bila situasi politik memungkinkan. Datang menemui gadisnya yang lagi kasmaran. dan bibir lezat yang terancam kelu. seperti luka yang menyerahkan diri kepada sembilu.” “Tapi aku ini bukan binatang jalang. Yang jidatnya licin dan luas.” (1996) . Kitty. yang jalannya sedikit goyah tapi gagah juga. penyairku. Aku mesti lebih jauh lagi mengembara di papan-papan iklan.” Ini musim birahi. Aku datang membawa puisi. Dan dengan cinta yang agak berangasan diterkamnya dada yang beku. pinggang yang ngilu. Kupu-kupu berhamburan liar mencecar bunga-bunga layu yang bersolek di bawah cahaya merkuri.” “Peduli amat. rambut acak-acakan. Tapi malam cepat habis juga ya. Diusapnya pipi muda.” Sesaat ada juga keabadian. menerjang. Alwy. Maaf.Dan malam itu datang seorang pangeran dengan celana komprang. penyairku. Kitty. leher hangat. jauh-jauh datang dari Amerika cuma untuk jadi penghibur di negeri orang-orang kesepian?” “Terima kasih. Selamat malam.

Mungkin tubuhmu enggan dikubur di kesunyian ranjang.Jauh Jauh nian perjalanan di atas ranjang padahal resah cuma berkisar dalam pusaran arus gelombang. Kau terhempas kembali ke dataran lengang. Kau mengambang. Kauseret bangkai kapal yang terbakar ke pantai gersang. Laut telah dihamparkan. Laut telah disenyapkan. Memang harus sabar dan tawakal meniti birokrasi kematian. Kain serba putih telah dirapihkan. menyusuri rute panjang kelahiran. Tapi kau tak kunjung pulang. Sampai di seberang tubuhmu tinggal tulang-belulang dan perahumu tertatih-tatih sendirian pulang ke haribaan ranjang. Ombak telah diredakan. Ranjang telah dibersihkan. Kaudaki puncak risau dalam galau malam namun selalu kandas dihadang konspirasi kecemasan. melayang seperti bayi terlelap dalam ayunan ranjang. Lantas laut mencampakkan kau ke pelabuhan. (1996) Ranjang Putih Ranjang telah dibersihkan. Kayuhlah perahu ke teluk persinggahan. .

menemukan jalan untuk pulang.(1996) Pulang Malam Kami tiba larut malam. Ranjang telah terbakar dan api yang menjalar ke seluruh kamar belum habis berkobar.” . (1996) Keranda Ranjang meminta kembali tubuh yang pernah dilahirkan dan diasuhnya dengan sepenuh cinta. pun jika aku sudah lapuk dan karatan. Di atas puing-puing mimpi dan reruntuhan waktu tubuh kami hangus dan membangkai dan api siap melumatnya menjadi asap dan abu. “Semoga anakku yang pemberani. Dan ketika akhirnya pulang ia sudah mayat tinggal rangka. Kami sepasang mayat ingin kekal berpelukan dan tidur damai dalam dekapan ranjang. Bagai si buta yang renta dan terbata-bata ia mengetuk-ngetuk pintu: “Ibu!” Ranjang yang demikian tegar lagi penyabar memeluknya erat: “Aku rela jadi keranda untukmu.” Tapi tubuh sudah begitu jauh mengembara. ia datang hanya untuk menabung luka. yang jauh merantau ke negeri-negeri igauan. Kalaupun sesekali datang.

dan merawat mereka ketika sudah pikun dan tak berdaya. ziarah ke asal-muasal kisah cinta yang melahirkan dongengan panjang penuh rahasia. sudah sekian lama kami membantu Ibu mengasuh anak-anak terlantar dan sebatang kara.(1996) Korban Darah berceceran di atas ranjang. “Beginilah jika ada yang lancang mengusik jagad mimpiku yang tenteram. melepas ranjang kami yang tua berangkat berlayar ke laut yang luas dan terang.” (1996) Elegi Bantal. Siapakah korban yang telah terbantai di malam yang begini tenang dan damai? Terdengar jerit lengking perempuan yang terluka dan gagak-gagak datang menjemput ajalnya. Hanya aku penguasa di wilayah ranjang. Waktu dan usia seperti perjalanan sebuah doa ketika ranjang kami yang reyot dan renta bergoyang-goyang bagai tongkang. . Jejak-jejak kaki pemburu membawa kami tersesat di tengah hutan. memberi mereka tempat terindah buat bercinta.” “Memang sekali waktu kita perlu istirah. Tapi perempuan anggun itu tiba-tiba muncul dari balik kegelapan dan dengan angkuh dilemparkannya bangkai pemburu yang malang.” Demikianlah di subuh yang hening itu kami pergi ke pelabuhan. Aku akan pergi juga. “Ibu yang penyayang. selimut berpamitan kepada ranjang. Kini saatnya kami harus pergi meninggalkan kisah yang penuh misteri. bagai keranda. guling. Aku sendiri pun sangat lelah.

Ia telah mencoba seratus model celana di berbagai toko busana namun tak menemukan satu pun yang cocok untuknya. 1 Ia ingin membeli celana baru buat pergi ke pesta supaya tampak lebih tampan dan meyakinkan. bahkan terhadap nasib kami sendiri. kausimpan di mana celana lucu yang kupakai waktu bayi dulu?” (1996) Celana. Karena itu kami suka usil dan sembunyi-sembunyi membuat coretan dan gambar porno di tembok kamar mandi .” Lalu ia ngacir tanpa celana dan berkelana mencari kubur ibunya hanya untuk menanyakan: “Ibu. (1996) Celana. 2 Ketika sekolah kami sering disuruh menggambar celana yang bagus dan sopan. tapi tak pernah diajar melukis seluk-beluk yang di dalam celana. Bahkan di depan pramuniaga yang merubung dan membujuk-bujuknya ia malah mencopot celananya sendiri dan mencampakkannya. sehingga kami pun tumbuh menjadi anak-anak manis yang penakut dan pengecut. “Kalian tidak tahu ya aku sedang mencari celana yang paling pas dan pantas buat nampang di kuburan.Terhuyung-huyung dan terbata-bata mencari tanah pusaka yang jauh di seberang sana.

Ia memantas-mantas celananya di cermin sambil dengan bangga ditepuk-tepuknya pantat tepos yang sok perkasa.sehingga kami pun terbiasa menjadi orang-orang yang suka cabul terhadap diri sendiri. ada gunung berapi yang menyimpan sejuta magma. dan mendapatkan burung yang selama ini dikurungnya sudah kabur entah ke mana.” Tapi perempuan itu lebih tertarik pada yang bertengger di dalam celana. kami mulai bisa berfantasi tentang hal-ihwal yang di dalam celana: ada raja kecil yang galak dan suka memberontak. Konon. Ia sewot juga: “Buka dan buang celanamu!” Pelan-pelan dibukanya celananya yang baru. 3 Ia telah mendapatkan celana idaman yang lama didambakan. ada juga gua garba yang diziarahi para pendosa dan pendoa. setelah berlayar mengelilingi bumi. Columbus pun akhirnya menemukan sebuah benua baru di dalam celana dan Stephen Hawking khusyuk bertapa di sana. Ia pamerkan celananya: “Ini asli buatan Amerika. (1996) . yang gagah dan canggih modelnya. (1996) Celana. Ia pergi juga malam itu. meskipun untuk itu ia harus berkeliling kota dan masuk ke setiap toko busana. menemui kekasih yang menunggunya di pojok kuburan. “Ini asli buatan Amerika. ada filsuf tua yang terkantuk-kantuk merenungi rahasia alam semesta.” katanya kepada si tolol yang berlagak di dalam kaca. Setelah loyo dan jompo.

(1996) Boneka. Ia masuk begitu saja. pelarian itu akhirnya diterima oleh sebuah keluarga boneka. “Maaf. “Siapa tahu ia tersesat di tanah leluhur kita.Boneka. hidup damai dan merdeka tanpa menghiraukan lagi asal-usul kami. “Kami keluarga besar yang berasal dari berbagai suku bangsa. Ia terpaksa pulang ke negeri asalnya dan mencoba bertahan hidup di dunia nyata.” gajah berkata. Tuan. “Mungkin pulang ke kampung asalnya. “Mungkin ia sudah bosan dengan kita.” yang lain berkata. “Ah. datang dari negeri mana?” “Saya datang dari negeri yang pemimpin dan rakyatnya telah menyerupai boneka. Mereka berbicara dan saling mencintai dengan bahasa mereka masing-masing tanpa ada yang merasa dihina dan disakiti. Saya tidak betah lagi tinggal di sana karena saya ingin tetap menjadi manusia. “Mungkin sudah hijrah ke lain kota. Ia minggat begitu saja tanpa meninggalkan pesan apa pun kepada boneka-boneka kesayangannya. Anda sendiri. ia sedang nonton dangdut di kuburan. Mereka kemudian sepakat mengurus rumah itu dan menjadikannya suaka margasatwa.” celeng berkata.” anjing berkata.” monyet berkata.” Keluarga boneka itu tampak bahagia. “Jangan-jangan sudah mampus. 2 Rumah itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Lama-lama si pembuat boneka itu merasa asing dan tak tahan menjadi bahan cemoohan makhluk-makhluk ciptaannya sendiri.” singa berkata. Pemilik rumah itu akhirnya pulang juga. Anda siapa ya?” . namun boneka macan yang perkasa dan menyeramkan itu menyergahnya. 1 Setelah terusir dan terlunta-lunta di negerinya sendiri. Kami telah menciptakan adat istiadat menurut cara kami masing-masing.

” Aku ingin segera minggat dari rumah jahanam itu.“Lho. ini saudara-saudaramu juga. “Siapa yang paling lucu di antara kita?” monyet bercanda. 3 Boneka monyet itu mengajakku bermain ke rumahnya. “Jangan terburu-buru. Monyet menyuruhku berdiri paling tengah. “Kita mau bikin pesta kangen-kangenan sambil arisan. Mungkin Anda salah alamat.” (1996) Boneka.” monyet berkata. Padahal di dalam celana ada boneka paling jenaka : boneka kecil yang sering tiba-tiba menjelma raksasa. Kau bilang boneka mungilmu suka keluyuran ke kebun binatang. “Kenalkan. Di sana telah menunggu siamang. ke hutan yang banyak hewan liarnya. Kita foto bersama dululah. ke suaka margasatwa.” lutung berkata. tapi monyet brengsek itu cepat-cepat menggamit lenganku.” “Bercanda ya? Rasanya kami tak mengenal Anda.” siamang berkata. orangutan. “Ia tampak kusut dan murung karena bersikeras hidup di alam nyata. . simpanse. (1996) Boneka dalam Celana Kau pusing seharian keluar-masuk toko mainan hanya untuk mendapatkan boneka lucu yang akan kaugantung di atas ranjang. Sebaiknya Anda segera pergi sebelum kami telanjangi dan kami seret ke alam mimpi. ini kan rumahku sendiri.” gorila berkata. lutung dan bermacam-macam kera lainnya.” Kami pun berpotret bersama. “Kau yang paling ganteng di antara kami. gorila. Mereka semua tertawa. “Yang di tengah.

” “Siap Paduka. Konon raksasa kecil itu telah menjadi seorang tiran. kaugantungkan di atas ranjang sehingga kau tidak lagi kesepian. Kepalanya yang miskin dan merana terkantuk-kantuk.” katanya.” Di republik celana tiran yang sangat kejam dan pendendam itu sekarang telah menjadi raja telanjang yang tua-renta dan sakit-sakitan. Sehari-hari ia cuma duduk terkantuk-kantuk di kursi goyang sambil mulutnya komat-kamit dan kepalanya menggeleng ke kanan ke kiri tapi batuknya masih dianggap sakti. Dan boneka jenaka di dalam celanamu cemburu karena merasa telah mendapatkan saingan. “Siapkan pasukan!” kata sang tiran. silakan. (1997) Terkenang Celana Pak Guru Masih pagi sekali. “Sumpek dan penuh aturan. Kau sudah memanjakannya dengan berbagai model celana yang mahal harganya tapi ia selalu lolos dan tak pernah krasan tinggal di dalamnya.katanya untuk bermain dengan teman-temannya. Pengawal: “Kalau Paduka sudah lelah dan hendak istirah. “Akan hamba tumpas para perusuh yang mengancam kedaulatan. . Telah diproklamasikannya sebuah republik dan kau sendiri rela dinobatkan sebagai pengawalnya.” Di sebuah toko mainan kaudapatkan juga boneka lucu yang kauinginkan. Bapak Guru sudah siap di kelas.” timpal pengawal. Hamba bersedia menggantikan Paduka duduk di tampuk kekuasaan. “Akan kuserbu musuh-musuh yang merongrong kekuasaan.

Bapak Guru. Kami lihat seorang lelaki tua terbungkuk-bungkuk membukakan pintu kuburan.kemudian terkulai di atas meja. Kami baca di papan tulis: “Baca halaman 10 dan seterusnya.” Sudah siang.” timpalku. Dengkur dan air liurnya seakan mau mengatakan: “Bapak sangat lelah.” Sekian tahun kemudian kami datang mengunjungi seorang sahabat yang sedang tidur di dalam makam di bekas lahan sekolah kami. Hafalkan semua nama dan peristiwa. Bapak Guru telah berjanji menceritakan kisah para pahlawan yang potretnya terpampang di seluruh ruang. Jangan mengusik ketenteramannya.” katanya. Bapak Guru belum juga siuman. anak-anak yang bengal dan nakal.” aku memperingatkan.” Ada yang cekikikan.” sambungnya. . “Kau ingat rits celananya yang setengah terbuka?” “Tenang. Sementara si penjaga kuburan yang celananya congklang dan rambutnya sudah memutih semua diam-diam mengawasi kami dari balik pohon kamboja. Ada yang terharu dan mengusap matanya yang berkaca-kaca. “Silakan. beriringan masuk sambil mengucapkan: “Selamat pagi.” kata temanku sambil menunjuk nisan sahabatnya. (1997) Poster Setengah Telanjang untuk AM Si kecil yang suka makan es krim itu sudah besar dan perawan. Tapi kami tak tega membangunkannya. “Ah. Ada pula yang lancang membelai-belai gundulnya sambil berkata: “Kasihan kepala yang suka ikut penataran ini.” Hari itu mestinya pelajaran Sejarah. “Dia pasti damai dan bahagia di tempat yang begini bersih dan tenang. Kami.” Bapak Guru tambah nyenyak. Hanya rits celananya yang setengah terbuka seakan mau mengatakan: “Bapak habis lembur semalam. jangan berpikir yang bukan-bukan. Ia gemar melucu dan pintar juga menggodamu. “Dia Pak Guru kita itu!” temanku berseru. sudah tidak pemalu dan ingusan. “Kelak aku juga ingin dikubur di sini.

ruang bersih terang. Malam heboh sekali. setengah merdeka. Ia sungguh berbahaya. kau mau ikut?” “Emoh ah. langit yang diam.” “Lancang benar ia. ikutlah bersama kami. “Perempuan. Berani menantang kita dengan senyumnya yang sangat subversif.” katanya. “Perempuan. (1997) Ziarah Masih ada sebuah rumah di sana yang tak pernah mengharap seseorang datang mengunjunginya. revolusi.” Lonceng terakhir telah selesai menyanyikan “Sepasang Mata Bola”. jendela-jendela putih tempat senja berpendaran dengan rambutnya yang keemasan. Orang-orang mulai resah menunggu kereta.“Kau penyair ya? Kutahu itu dari kepalamu yang botak dan licin seperti semangka.” Kau tergoda dan ingin lebih lama terpana ketika matanya mengerjap dan bulan muncrat di atas rambutnya yang hitam pekat. Kita akan pergi menyambut revolusi. Kereta sudah siap. Revolusi telah kulipat dan kuselipkan ke dalam beha. “Semalam hujan singgah sebentar.” “Ah. Tinggallah malam yang redam. Masih ada dinding-dinding kusam. . Tinggallah airmata yang menetes pelan ke dalam segelas bir yang menempel pada dada yang setengah terbuka. Para pelayat berjejal di dalam gerbong sambil melambai-lambaikan bendera. Masih ada si kecil lagi asyik menggambar pada tembok penuh coretan.

rindunya sebab hatinya lebih tegar dari waktu. Ia titipkan salam manisnya untukmu.” Hujan yang basah kuyup tubuhnya kuungsikan ke dalam botol bersama kilat. “Beri aku tempat perlindungan. Angin yang menggigil kedinginan kusembunyikan ke dalam gelas bersama desah. tapi tak ingin dunia kecilnya kusintuh. guruh dan ledakan-ledakan petirnya. Bahaya mengancam dari segala jurusan.” Masih. “Maaf. tapi tak pernah kukirim karena tak kutahu alamatmu.” Ingin kutrima batuknya dalam paru-paruku tapi tak ingin kusintuh kantuknya. gerimis dan perahu oleng yang dikayuh nelayan kecil menuju pantai yang teduh. aku sedang melukis laut.” (1997) Januari untuk NAF Januari yang lusuh datang padaku dengan wajah putih kelabu.” Ingin kupeluk dan kucium parasnya yang lucu. “Lihat. .dan setelah meninggalkan riciknya di kulkas itu ia pun berangkat ke sebuah kota yang jauh. khusyuk membaca berkas-berkas tua. “Semalam si mayat datang dengan baju baru. aku sedang membaca surat-surat yang telah lama kutulis. Masih ada seseorang sedang duduk membungkuk di bawah redup cahaya. Semoga sekalian kata dan makna yang kuziarahi bertahun-tahun lamanya ikhlas menerima cobaan yang tiada putusnya sebab memang begitu jauh jarak perjalanan di antara mereka. Musim begitu rusuh. desau dan desirnya.

Semoga sekalian luka dan sembilu yang tak henti-henti meruyaknya tidak saling sayat dan sakit hati justru karena demikian dalam percintaan di antara keduanya. (1997) . Januari yang lusuh datang padaku seperti doa yang rela bersekutu dengan sekalian kata dan ucapan yang sering gagap dan gagu.

Related Interests