1

PERAWATAN HIV/AIDS

Isna Hikmawati, M.Kes(epid)
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Penyebab HIV/AIDS
Virus imunodifisiensi manusia (human immunodeficiency virus; HIV ) adalah suatu virus yang dapat
menyebabkan penyakit AIDS (acquired immune deficiency syndrome). Virus ini menyerang manusia dan
menyerang sistem kekebalan (imunitas) tubuh, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi.
Dengan kata lain, kehadiran virus ini dalam tubuh akan menyebabkan defisiensi (kekurangan) sistem
imun.
Penularan dan Pencegahan
HIV dapat ditularkan melalui :
1. Injeksi langsung ke aliran darah
2. Kontak membran mukosa atau jaringan yang terluka dengan cairan tubuh tertentu yang berasal
dari penderita HIV.
Cairan tertentu itu meliputi: darah, semen, sekresi vagina, dan ASI.
Beberapa jalur penularan HIV yang telah diketahui adalah :
1. Melalui hubungan seksual
2. Dari ibu ke anak (perinatal)
3. Penggunaan obat-obatan intravena, transfusi dan transplantasi, serta paparan pekerjaan.
A. Hubungan seksual
Menurut data WHO, sebanyak 70-80% penularan HIV dilakukan melalui hubungan
heteroseksual, sedangkan 5-10% terjadi melalui hubungan homoseksual. Kontak seksual melalui vagina
dan anal memiliki resiko yang lebih besar untuk menularkan HIV dibandingkan dengan kontak seks
secara oral. Beberapa faktor lain yang dapat meningkatkan resiko penularan melalui hubungan seksual
adalah kehadiran penyakit menular seksual, kuantitas beban virus, penggunaan dauche. Seseorang yang
menderita penyakit menular seksual lain (contohnya: sifilis, herpes genitali, kencing nanah, dsb.) akan
lebih mudah menerima dan menularkan HIV kepada orang lain yang berhubungan seksual dengannya.
Beban virus merupakan jumlah virus aktif yang ada di dalam tubuh. Penularan HIV tertinggi terjadi
selama masa awal dan akhir infeksi HIV karena beban virus paling tinggi pada waktu tersebut. Pada
rentan waktu tersebut, beberapa orang hanya menimbulkan sedikit gejala atau bahkan tidak sama sekali.
Penggunaan douche dapat meningkatkan resiko penularan HIV karena menghancurkan bakteri baik di
sekitar vagina dan anus yang memiliki fungsi proteksi. Selain itu, penggunaan douche setelah
berhubungan seksual dapat menekan bakteri penyebab penyakit masuk ke dalam tubuh dan
mengakibatkan infeksi.
Pencegahan HIV melalui hubungan seksual dapat dilakukan dengan tidak berganti-ganti pasangan dan
menggunakan kondom. Cara pencegahan lainnya adalah dengan melakukan hubungan seks tanpa
menimbulkan paparan cairan tubuh. Untuk menurunkan beban virus di dalam saluran kelamin dan darah,
dapat digunakan terapi anti-retroviral.

B. Ibu ke anak (transmisi perinatal)

transfusi dan transplantasi. Orang yang belum terinfeksi agar tidak terkena HIV 2. Selain itu. Beberapa aktivitas lain yang sangat jarang menyebabkan penularan HIV adalah melalui gigitan manusia dan beberapa tipe ciuman tertentu. saat proses persalinan. pemakaian pakaian pelindung. yaitu melalui ludah. Penggunaan obat-obatan intravena. demikian pula perawatan paliatif. para ibu juga harus memiliki akses ke air bersih dan memahami cara mempersiapan susu formula yang tepat. Cara efektif lain untuk penyebaran virus ini adalah melalui penggunaan jarum atau alat suntik yang terkontaminasi. Program ini juga berperanan dalam memperbaiki keadaan emosi pengidap HIV dan memberikan jaminan bahwa mereka memiliki hak untuk hidup dan penghargaan dari orang lain. 2 Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui infeksi in utero. Penularan dari pasien ke petugas kesehatan yang merawatnya juga sangat jarang terjadi (< 0. Program perawatan HIV/AIDS dan sistem pendukungnya seharusnya menekankan pada pelayanan yang berkisar dari konseling hingga intervensi medis. pencegahan pemberian ASI dari penderita HIV/AIDS kepada bayi menghadapi kesulitan karena harga susu formula sebagai pengganti relatif mahal. Beberapa faktor maternal dan eksternal lainnya dapat mempengaruhi transmisi HIV ke bayi. dan lain-lain. gigitan nyamuk. dan melalui pemberian ASI. Program ini seharusnya meningkatkan upaya pencegahan primer juga sekunder serta tersier. Penularan HIV melalui transplantasi dan transfusi hanya menjadi penyebab sebagian kecil kasus HIV di dunia (3-5%). CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) menyatakan bahwa aktivitas tersebut tidak mengakibatkan penularan HIV. di antaranya banyaknya virus dan sel imun pada trisemester pertama. Hal ini pun dapat dicegah dengan melakukan pemeriksaan produk darah dan transplan sebelum didonorkan dan menghindari donor yang memiliki resiko tinggi terinfeksi HIV. Namun. terutama di negara-negara yang kesulitan dalam sterilisasi alat kesehatan.0001% dari keseluruhan kasus di dunia). tidak memberikan ASI. C. Mereka yang sudah terinfeksi agar tidak mengalami infeksi ulang Perawatan menyeluruh tersebut meliputi pula perawatan di rumah sakit dan di rumah selama perjalanan penyakit. dan pembuangan alat dan bahan yang telah terkontaminasi sesuai dengan prosedur. hingga ke tatalaksana kebutuhan sosial. Mereka yang sudah terinfeksi HIV agar tidak menularkannya ke orang lain 3. Selain itu. pemberdayaan ODHA. sarung tangan. dan kontak sehari-hari (berjabat tangan. Risiko penularan perinatal dapat dicegah dengan persalinan secara caesar. Hal ini dicegah dengan memberikan pengajaran atau edukasi kepada petugas kesehatan. berpelukan). Bagi pengguna obat intravena (dimasukkan melalui pembuluh darah). terekspos batuk dan bersin dari penderita HIV. sebuah studi pada wanita hamil di Malawi dan AS juga menyebutkan bahwa kekurangan vitamin A dapat meningkatkan risiko infeksi HIV. dukungan gizi. Perawatan HIV/AIDS Menyeluruh Perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan adalah suatu konsep perawatan yang menyeluruh membentuk suatu jejaring kerja di antara semua sumber daya yang ada dalam rangka memberikan pelayanan dan perawatan holistik. Penurunan sel imun (CD4+) pada ibu dan tingginya RNA virus dapat meningkatkan resiko penularan HIV dari ibu ke anak. Sebagai strategi pencegahan primer. serta paparan pekerjaan. namun sebagai suatu strategi guna meningkatkan dampak pencegahan tersebut. menyeluruh dan dukungan yang luas bagi ODHA(orang dengan HIV/AIDS) dan keluarganya. Di sebagian negara berkembang. Pengembangan program perawatan HIV/AIDS menyeluruh dan berkesinambungan tidak semestinya dianggap sebagai sumberdaya yang terpisah dari kegiatan pencegahan. HIV dapat dicegah dengan menggunakan jarum dan alat suntik yang bersih. menggunakan toilet dan alat makan bersama. program tersebut harus menjamin bahwa : 1. kelahiran prematur. Sebelum diputuskan untuk memberikan perawatan menyeluruh berkesinambungan . Ada beberapa jalur penularan yang ditakutkan dapat menyebarkan HIV.

dan masyarakat. pengobatan gejala yang sering muncul. 4. Dalam kelompok ini dapat dijajagi kesempatan untuk meningkatkan dan menciptakan sumber pendapatan. Konsep mata rantai perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan di bangun atas dasar pelayanan perawatan HIV/AIDS dalam kerja sama tim dan harus meliputi beberapa aspek sebagai berikut : 1. baik dari pihak pemerintah maupun dari masyarakat serta jalinan kerjasama yang baik di antara mereka. serta perawatan paliatif. melatih dan mendidik keluarga tentang perawatan di rumah dan pencegahan penularan serta melakukan promosi pemakaian kondom. termasuk obat untuk infeksi oportunistik. Konseling dan Tes HIV Sukarela (Voluntary Counseling and Testing/VCT) adalah titik awal pelayanan dan perawatan yang berkesinambungan dan merupakan tempat bagi ODHA untuk datang bertanya. Dukungan sosial atau rujukan kepada pelayanan sosial untuk mengatasi permasalahan tempat tinggal. Promosi gizi yang baik. dan pengobatan tradisional. kelompok sosial dan kelompok dukungan/LSM) agar layanan terjangkau melalui sistem rujukan yang saling mendukung. Asuhan keperawatan yang mampu memberikan kenyamanan pada pasien dan higienis. 9. keluarga. dukungan spiritual dan konseling. keluarga. ARV (antiretroviral). bahan dan alat. Pendidikan dan pelatihan tentang tatalaksana dan pencegahan HIV/AIDS bagi para pendamping ODHA (petugas kesehatan. sumber daya manusia. pengobatan yang rasional. belajar. mampu mengendalikan infeksi dengan baik. membangun sikap positif masyarakat terhadap ODHA dan keluarganya. termasuk infeksi oportunistik  Pengendalian TB  Tatalaksana IMS  Tatalaksana HIV dengan HAART(Highly Active Anti Retroviral Therapy)  Pengobatan paliatif  Akses kepada obat-obat HIV. 6.  Profilaksis infeksi oportunistik  Tatalaksana penyakitterkait HIV. Membentuk kelompok dukungan masyarakat untuk memberikan dukungan emosional pada ODHA dan para pendampingnya. memberikan perawatan paliatif dan menangani kasus terminal. maka perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan pada prinsipnya terdiri dari empat komponen yang saling terkait satu sama lain. Membangun kerja sama antar penyelenggara layanan (klinik. dan kemampuan untuk melakukan rujukan ke penyelenggara pelayanan yang lain. Tatalaksana klinis infeksi oportunistik dengan diagnosis dini yang memadai. Dengan melihat aspek-aspek kebutuhan perawatan dan dukungan bagi ODHA. 3 perlu dipertimbangkan beberapa hal antara lain sumber daya yang memadai yaitu dukungan dana. bantuan hukum. tetangga dan relawan) 10. komponen ini meliputi beberapa layanan yaitu  Konseling dan tes HIV sukarela untuk tujuan screening dan diagnostik. pekerjaan. yaitu : 1. 5. 3. Perawatan di Rumah dan di Masyarakat termasuk di antaranya melatih relawan dan anggota keluarga tentang tatacara perawatan. dan menerima status HIV seseorang dengan privasi yang terjaga. 2. 8. mampu menjangkau dan menerapkan perawatan dan upaya pencegahan yang efektif. 7. Pengobatan dan Perawatan Tatalaksana Klinis . serta memantau dan mencegah terjadinya diskriminasi. Mengurangi dan menyingkirkan stigma. termasuk para petugas kesehatan baik di jajaran pemerintah maupun swasta dan di tempat kerja. pemulangan yang terencana. dukungan psikologis dan emosional. .

Dukungan Sosio-ekonomik. Meski begitu. konseling pra-nikah. pada daerah dengan sumberdaya yang terbatas. Dari komponen ini juga dapat dikembangkan upaya untuk meningkatkan sumber pendapatan dan pemberdayaan ODHA sehingga mereka dapat hidup mandiri dan lebih layak. Prinsip Dasar Perawatan HIV/AIDS Menyeluruh Berkesinambungan Untuk memenuhi kebutuhan fisik.dan pasca tes HIV. Semua tingkatan layanan kesehatan tersebut haruslah tercakup dalam perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan dan saling berintegrasi membentuk jejaring perawatan menyeluruh berkesinambungan. 4  Intervensi terhadap PMTCT  Pengobatan dan perawatan klinis HIV bagi ibu dan bayinya. . Penghargaan : dari sisi HAM dan harga diri seseorang.  Dukungan gizi  Penyuluhan kesehatan  UP(Universal Precautions/Kewaspadaan Universal) dan PEP(Post Exposure Prophylaxis/PPP=Profilaksis Pasca pajanan) yang memadai di penyelenggara layanan kesehatan. sumberdaya teknis dan manusia dan infrastruktur kesehatan. sebagian besar negara tidak dapat menyediakan/melaksanakannya pada sistem layanan kesehatan setempat. Yang terbaik yang dapat dilakukan adalah mengembangkan layanan tersebut dengan pendekatan bertahap. dukungan spiritual.  Sistem pendukung misalnya laboratorium fungsional dan sistem pengaturan obat. menghapus stigma dan diskriminasi di fasilitas kesehatan. termasuk didalamnya dukungan psikososial dan spiritual. o Membangun jembatan di antara masing-masing komponen perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan Model Perawatan HIV/AIDS Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya. 4. Untuk bekerja dengan benar jejaring tersebut memerlukan : o Penentuan peranan dan fungsi masing-masing komponen dari perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan. pengawasan atau rujukan ke kelompok peer. beberapa tempat mungkin memiliki sumber daya yang cukup untuk melakukan implementasi program sesuai dengan respon yang terjadi dalam setiap tingkatan perawatan. dan di tempat kerja Perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan haruslah tersedia dan dilaksanakan pada seluruh tingkatan layanan kesehatan. o Menentukan layanan yang tepat dan mobilisasi sumberdaya yang diperlukan dalam melaksanakan peran dan fungsi tersebut di atas. upaya-upaya untuk mengurangi rasa cemas dan depresi yang dialami dan dirasakan oleh ODHA. secondary dan tertiary care. primary. 3. di dalam masyarakat. community care. Kesulitan dan kemudahan dalam memberikan layanan akan bervariasi sebagai hasil dari ketersediaan dana. emosional. konseling KB dan perubahan prilaku. Walau demikian. Dukungan HAM dan Aspek Hukum. di mana didalamnya termasuk. dapat diberikan dalam bentuk informasi. perawatan HIV/AIDS menyeluruh meliputi berbagai intervensi di seluruh sistem layanan kesehatan. konseling pre. Dukungan Psikologis. perawatan harus dikelola menurut prinsip-prinsip berikut : 1. mengurangi stress dan kecemasan ODHA dukungan ini dapat diberikan pada layanan VCT. dalam bentuk pelayanan dan hak yang sama pada ODHA. material dan dukungan sosial di dalam masyarakat untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan gizi dan keperluan sehari-hari. 2. Di lain pihak. ada kemungkinan untuk menerapkan suatu standar yang menjamin pemeliharaan dan peningkatan kualitas hidup dan produktifitas ODHA. sosial dan ekonomi ODHA. sehingga dapat meningkatkan rasa percaya diri dan penghargaan. home care.

bidan. 5. Standar tersebut haruslah merefleksikan kualitas optimal dan tingkatan yang diharapkan. spiritual dan paliatif. organisasi kemasyarakatan. konselor. keluarga. usia. Tempat Perawatan 1. tokoh agama dan lain-lain. tetangga. Kesetaraan. Untuk memastikan standar perawatan pada suatu tempat tertentu. Standar Perawatan Untuk menghasilkan program perawatan HIV/AIDS berkesinambungan yang efektif dan berjalan lama. petugas kesehatan masyarakat. 3. Perawatan tersebut dapat berupa perawatan fisik. Rumah Sakit Rujukan Provinsi/Nasional . 5. pekerja sosial atau petugas kesehatan lainnya. identitas seksual. perawatan yang tepat dilaksanakan pada semua tingkatan lokal 3. Perawat dan petugas sosial dapat memiliki peranan penting dalam menarik partisipasi masyarakat setempat dalam hal menerima dan memberikan dukungan kepada ODHA. 4. beberapa standar perawatan perlu disepakati dan diaplikasikan. dukungan psikososial. Ketersediaan. Bantuan hukum juga dapat diberikan. Dimensi pertama berkaitan dengan aspek teknis dari intervensi yang dilakukan dan ditentukan oleh efikasi dan efektifitas dari intervensi tertentu. pendidik/guru. jenis kelamin. dukun tradisional. Dimensi kedua adalah ditentukan oleh faktor sosial dan faktor konstektual yang membuat intervensi tersebut efektif dalam kondisi operasional. Secara teori standar haruslah diformulasikan untuk tingkat perawatan minimum dan optimum. pekerja sosial dan sarana pendidikan dan pelatihan. Efisien dan efektif. LSM. haruslah mempertimbangkan tiga dimensi yang mempengaruhi pemilihan standar. Pusat Kesehatan Masyarakat Perawatan bagi ODHA di sarana pelayanan kesehatan primer atau dasar di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau Puskesmas Pembantu (Pustu) dapat diberikan oleh perawat. etnis. kelompok pemuda. teman. ras. Perawatan tersebut dapat diberikan oleh perawat. 5 2. tokokh masyarakat setempat. Dengan melibatkan masyarakat dalam perawatan tersebut maka kualitas hidup ODHA akan ditingkatkan. Rumah Sakit Kabupaten/Kota Pelayanan kesehatan lanjutan bagi para ODHA tersedia di Rumah Sakit Kabupaten di mana tersedia tenaga dokter. Dimensi ketiga meliputi penentuan standar dan ditentukan oleh tingkatan sistem layanan kesehatan yang melaksanakan intervensi tersebut. 4. 3. perawatan diberikan pada semua ODHA tanpa memandang. untuk menjamin perawatan menyeluruh berkelanjutan dijalankan dan pada semua tingkatan perawatan. 2. Rumah Perawatan di rumah adalah perawatan yang diberikan pada ODHA di tempat tinggalnya sendiri. Masyarakat Dukungan masyarakat adalah perawatan / dukungan yang diberikan dalam masyarakat. efisiensi perawatan dilaksanakan pada biaya sosial yang masuk akal sebagaimana yang diperlihatkan melalui monitoring dan evaluasi. 2. 1. Dalam hal ini termasuk orang-orang yang merawat dirinya sendiri. memperhitungkan kemungkinan variasi sumberdaya dan kemampuan yang tersedia. pengembangan teknologi baru yang murah. relawan yang terlatih. bidan. Koordinasi dan integrasi. kemudahan akese dan ketersediaan pada berbagai tempat pada negara tertentu. akses dan mencakup semua perawatan HIV/AIDS. perawat. pendapatan dan tempat tinggal. perawat.

Pelayanan tersebut hanya akan efektif jika pelayanan tersebut secara konsisten dievaluasi untuk menilai ke-efektif-an. Proporsi individu yang kembali untuk mengambil hasil tes HIV-nya Jumlah orang yang kembali untuk mengambil hasil tes HIV di bagi dengan jumlah individu yang dites. yang berperan untuk menemukan. Pelatihan bagi petugas dan relawan. Tersedianya prosedur supervisi dari sarana kesehatan di tingkat pusat sampai ke daerah termasuk para relawan. Porporsi individu yang membawa pasangannya untuk VCT HIV Jumlah individu yang membawa pasangannya untuk melakukan VCT di bagi dengan jumlah individu yang telah menjalani VCT “TERIMAKASIH” . Evaluasi meliputi penilaian masukan (sumberdaya manusia dan modal yang tersedia bagi pelaksanaan program) dan variabel operasi program (siapa melakukan apa. efisiensi. Indikator yang tepat untuk tujuan monitoring dan evaluasi sebaiknya diseleksi selama tahap penyusunan program. Evaluasi juga meliputi penilaian mengenai dampak dan hasil yang mungkin pula termasuk perubahan dalam hal pengetahuan. Sebagai contoh. penyakit dan kecacatan. 5. Program haruslah mencoba mengumpulkan. 4. Tersedianya prosedur rujukan antara rumah sakit di pusat dan di daerah. Tersedianya prosedur rujukan antara pasien beserta keluarganya dengan lembaga dukungan sosial dan LSM 6. menganalisis dan menggunakan data yang merefleksikan sampai dimanakah kualitas perawatan berjalan pada semua tingkatan layanan kesehatan. Tersedianya bahan KIE yang sesuai untuk promosi pencarian perawatan dan de-stigmatisasi penyakit. Mobilisasi masyarakat untuk membangun program pelayanan masyarakat. jika salah satu tujuan program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan adalah meningkatkan cakupan konseling volunter dan konfidensial. Indikator harus dapat menilai kualitas perawatan selain menilai pencapaian tujuan program. dan untuk mengidentifikasi masalah yang timbul serta jurang pemisah yang mungkin timbul dan memerlukan tindakan penanganan dengan segera Tujuan monitoring adalah untuk menjamin bahwa tugas telah berjalan sebagaimana yang direncanakan dan untuk mengantisipasi atau mendeteksi masalah-masalah yang muncul selama implementasi program (suplai yang memadai. Monitoring dan Evaluasi Program perawatan HIV/AIDS menyeluruh berkesinambungan harus pula termasuk komponen monitoring dan evaluasi. Terjalinnya kemitraan antara pemerintah dan LSM yang bergerak i bidang kesehatan sosial. Proporsi individu yang menjalani tes HIV. 3. sikap. prilaku. dimana. 6 Pelayanan di tingkat rujukan tersebut berupa pelayanan medis spesialistik sebagai tambahan pelayanan yang berada di tingkat Kabupaten/Kota Dengan pelayanan menyeluruh berkesinambungan diasumsikan bahwa sistem pendukung seperti di bawah ini tersedia secara terpadu dapat berjalan secara efektif dan efisien : 1. 2. kapan dan bagaimana). 2. Jumlah individu yang menjalani tes HIV dibagi dengan jumlah individu yang telah diberi konseling pre-tes dan informasi mengani tes HIV 3. Proporsi klinik kesehatan primer (PKM) yang menawarkan VCT Jumlah klinis kesehatan primer yang menawarkan VCT dibagi dengan jumlah seluruh klinik kesehatan primer pada wilayah tersebut. faktor risiko. kualitas pemanfaatan dan penerimaannya di dalam masyarakat. ketepatan pelatihan) Evaluasi difokuskan : pada penentuan tingkatan kemajuan tindakan dalam memenuhi tujuan atau penampilan program. maka indikator-indikator yang mungkin adalah : 1. 4. mengadaptasi dan memperkuat pelayanan yang telah ada maupun yang baru.