LIPUTAN SIMPOSIUM “UPDATE ON THE MANAGEMENT OF SECONDARY STROKE

PREVENTION & NEUROPATHIC PAIN”

Stroke telah menjadi penyebab kedua kematian di dunia. Setiap tahunnya
tidak kurang dari 5 juta orang meninggal akibat stroke dan lebih dari 50 juta
penderita stroke yang bertahan hidup menjadi cacat. Di negara
berkembang, seperti Indonesia, insidens juga terus meningkat, karena
ditunjang dengan perubahan gaya hidup, kegemukan, dan kebiasaan
merokok yang masih bebas di Indonesia. Survey di Bogor (Misbach, 2001)
menunjukkan insidens sebesar 234/100.000 penduduk dan di daerah
pedesaan lebih rendah dibandingkan di perkotaan. Jumlah penderita stroke
yang meninggal lebih banyak daripada yang tetap hidup karena fasilitas
kesehatan di Indonesia masih kurang memadai.

Data lain dari ASNA stroke epidemiology study menyebutkan bahwa 25%
dari penderita stroke yang berobat ke rumah sakit ternyata pernah
mengalami serangan stroke sebelumnya. Oleh karena itu, masyarakat perlu
mendapat penjelasan bahwa sembuh dari suatu serangan stroke bukan
berarti bebas, melainkan perlu pengendalian faktor risiko yang dapat
mengancam timbulnya serangan kedua atau ketiga atau bahkan keberapa
kalinya lagi. Serangan ulang tersebut biasanya lebih parah dan
berbahaya.

Faktor risiko stroke dapat dibagi menjadi dua yaitu faktor yang dapat
dimodifikasi (modifiable) dan tidak dapat dimodifikasi (non
modifiable). Usia, ras, etnik, jenis kelamin, dan riwayat kesehatan keluarga
merupakan faktor yang tidak dapat diubah, sedangkan hipertensi, diabetes
melitus, merokok, infeksi, dan oral kontrasepsi adalah beberapa faktor yang
dapat dikendalikan.

Hipertensi merupakan salah satu faktor resiko utama timbulnya stroke.
Pengontrolan tekanan darah dapat menurunkan kejadian stroke yang
berulang, kerusakan organ target yang lain, seperti jantung, dan
mengurangi frekuensi penurunan kepikunan pada manusia (vascular
dementia) yang dapat terjadi walaupun belum pernah terserang stroke.
Penatalaksanaan hipertensi pada penderita ini tidak hanya terfokus pada
satu faktor resiko saja, karena banyak pasien yang pada kenyataannya
mempunyai lebih dari 1 faktor resiko. Pengendalian tekanan darah harus
dimulai dengan ringan dan dilakukan secara bertahap dan perlahan-lahan.
Tekanan darah yang tidak stabil adalah faktor resiko yang juga tidak boleh
diabaikan. Perawatan hipertensi dengan baik akan mencegah gagal
jantung, kerusakan ginjal, proteinuria, dan stroke. Penurunan tekanan darah
walau hanya sedikit (6 mmJg) akan mencegah stroke hingga 40%,
sebaliknya apabila sistole terus meningkat, maka semakin tinggi resiko
terkena fatal stroke maupun non fatal stroke.

Terapi hipertensi yang perlu dilakukan adalah dengan diet yang baik, tidak
merokok, rajin dan teratur berolahraga, hidup yang teratur, dan minum obat
tertentu. Saat ini telah dikembangkan obat yang bekerja lebih efektif
dibandingkan obat jenis ACE Inhibitor (Angiotensin Converting Enzym
Inhibitors), karena tubuh masih mempunyai jalur non-ACE untuk mengubah
angiotensin I menjadi angiotensin II walaupun dalam waktu cukup lama.
Obat ini, Telmisartan, termasuk jenis golongan AIIRA (Angiotensin II
Receptor Antagonist). Telmisartan akan lebih efektif apabila digabungkan
dengan obat diuretik maupun obat anti hipertensi lainnya seperti Ramipril.
Telmisartan diberikan pada waktu pagi, sebab kejadian komplikasi
kardiovaskuler atau disebut the morning blood pressure’surge’ sering terjadi
di awal pagi hari. Pencegahan serangan ulang stroke dapat menggunakan
terapi antiplatelet.

Nyeri ini dapat diobati dan pada masa yang akan datang terapi akan lebih berorientasi pada gejalanya daripada terhadap penyakitnya.com/nondokter/liputan/liputansimposiumupdate. Sp.8 0/00.PhD.9 0/00 Ditaksir bahwa dari 1000 orang yang berusia 55 .  Pada kelompok usia 45 . dari bayi baru lahir sampai pada usia sangat lanjut. MD.S(K). Uraian singkat tersebut di atas adalah informasi-informasi penting yang dapat terliput pada sesi I simposium yang bertajuk Update on The Management of Secondary Stroke Prevention & Neuropathic pain yang diselenggarakan pada tanggal 9 Februari 2002 di ballroom Hotel Sahid Jaya. FRCP.klinikpria. gangguan metabolik.S(K). dan Dr. Simposium yang dihadiri sekitar 250 peserta ini. invalid.S(K).4 0/00 dan  Pada kelompok usia 85 tahun ke atas 13. Sp. Richard Donnelly. Beliau menjelaskan bahwa rasa nyeri akibat iritasi pada saraf ini dapat timbul karena faktor genetik dan pertumbuhan atau aktivitas abnormal saraf simpatik.74 tahun 2.84 tahun 10. Teguh AS Ranakusuma.64 tahun 1. Secara pukul rata dapat dikatakan bahwa angka kejadian (insiden) stroke adalah 200 per 100.dan lain-lain. toksin. Banyak penderitanya yang menjadi cacat.8 orang atau kira-kira 2 orang mendapat stroke . Makin tinggi usia.64 tahun. makin banyak kemungkinannya untuk mendapatkan stroke.  Pada kelompok usia 65 . H. genetik.7 0/00.FRACP-UK. Hal-hal yang dapat menyebabkan rasa nyeri ini adalah trauma.44 tahun insidennya ialah 0.  Pada kelompok usia 55 . infeksi. Stroke dapat terjadi pada setiap usia. Jakarta. tidak mampu lagi mencari nafkah seperti sediakala. setelah penyakit jantung dan kanker. Sp.html’ Angka Kejadian Stroke Di negara industri penyakit stroke umumnya merupakan penyebab kematian nomor tiga pada kelompok usia lanjut.000 penduduk.54 tahun 0. defisiensi nutrisi. Dalam satu tahun. Abdulbar Hamid. Namun angka kejadian stroke meningkat dengan bertambahnya usia. Bila dipilah menurut usia maka angka ini menjadi sebagai berikut :  Pada kelompok usia 35 . Jusuf Misbach. H. Namun stroke paling banyak menyebabkan orang cacat pada kelompok usia di atas 45 tahun. pada sesi II menampilkan presentasi Neuropathic Pain and Its Management oleh Dr.(doddy) http://www.000 penduduk maka 200 orang akan mendapat stroke.2 per seribu (0/00). penyakit vaskuler/iskemik. Pada sesi I ini terdapat 3 presentasi yang disampaikan oleh Dr.7 0/00  Pada kelompok usia 75 . Prof. H. menjadi tergantung kepada orang lain dan tidak jarang menjadi beban bagi keluarganya. dalam satu tahun 1. diantara 100.

maka tugasnya juga akan terganggu. apa yang ingin diucapkan tidak ketemu kata-katanya  Berbicara menjadi tidak lancar. karena itu sangat tergantung pada kondisi aliran darah. menjadi tuli satu telinga Penyebab Stroke Faktor resiko yang kuat:  Tekanan darah tinggi (hipertensi)  Penyakit jantung  Sudah ada manifestasi aterosklerosis secara klinis  Diabetes mellitus (penyakit kencing manis)  Pernah mendapat stroke Faktor-faktor resiko yang lemah (minor):  Kadar lemak yang tinggi di darah  Hematokrit tinggi  Merokok  Kegemukan  Kadar asam urat tinggi  Kurang gerak badan/olah raga  Fibrinogen tinggi . terasa semutan. Otak tidak mempunyai cadangan oksigen. sebagian lapangan pandang tidak terlihat  Pendengarannya mundur.Mengapa stroke dapat terjadi ? Pada dasarnya otak membutuhkan banyak suplai oksigen yang didapatnya dari darah. Diantaranya ialah :  Lumpuh separuh badan yang kanan atau yang kiri  Separuh badan kurang merasa. tak dapat berhitung  Pelupa  Penglihatan terganggu. jika ada bagian otak yang terganggu. langkah kecil-kecil  Kepintaran mundur. sepatah-sepatah kata yang terucapkan  Tidak dapat memahami bicara orang lain  Tidak dapat membaca dan menulis  Tidak dapat memahami tulisan  Berjalan sulit. maka sisi tubuh sebelah kiri akan terkena pengaruhnya. Berat otak hampir 2 1/2 % dari berat badan seluruhnya. namun oksigen yang dibutuhkannya hampir mencapai 20 % dari kebutuhan badan seluruhnya. demikian pula sebaliknya. Apabila stroke merusak bagian sebelah kanan otak. Jika suplai oksigen terputus lebih dari 6-8 menit. sebagian lapangan pandang tidak terlihat  Penglihatan terganggu. Ragam Gejala Stroke Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa gejala stroke dapat bermacam-macam. terasa seperti kena cabe. kerusakan yang terjadi tidak akan bisa dipulihkan lagi. terasa seperti terbakar  Mulut mencong  Lidah mencong bila dijulurkan  Bicara menjadi pelo/cadel  Sulit menelan  Bila makan atau minum suka keselek/ tersedak\  Sulit berbahasa. Karena itu.

htm .Pengaturan gaya hidup:  Cukup tidur 6 . Penggantinya ikan/tahu/tempe  Perbanyak makan sayur dan buah  Olah raga secara teratur  Kurangi/berhenti merokok  Berhenti minum minuman beralkohol  Tindakan fisioterapi pasca stroke http://www.8 jam/hari  Kurangi konsumsi makanan berlemak  Kurangi sebangsa daging.cni.id/stroke.co.