Bank Century: Budi Mulya divonis 10

tahun
Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis 10 tahun kepada mantan deputi
gubernur Bank Indonesia bidang pengelolaan moneter dan devisa, Budi Mulya, dalam kasus
pemberian dana talangan Bank Century.

Kasus yang telah menjerat mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya, telah
merugikan negara mencapai Rp 7,4 triliun.

Budi ditetapkan sebagai tersangka lantaran terlibat aktif dalam pemberian fasilitas pendanaan
jangka pendek (FPJP) Bank Century, dan penetapan Bank Century sebagai bank gagal
berdampak sistemik. Ia juga didakwa memperkaya diri sendiri sebesar Rp 1 miliar

"Menyatakan terdakwa Budi Mulya terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan
tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut sebagaimana dakwaan primer dan
menjatuhkan dakwaan pidana selama 10 tahun dan pidana denda Rp500 juta dengan
ketentuan diganti pidana kurungan 5 bulan," kata hakim ketua majelis Aviantara, Rabu
(16/07).

Akibat perbuatan tersebut, negara diduga mengalami kerugian sebesar Rp 689,394 miliar
terkait pemberian FPJP dan Rp 6,762 triliun dalam penetapan Bank Century sebagai bank
gagal berdampak sistemik. Total kerugian negara dalam kasus ini mencapai Rp 7,4 triliun.

Atas berbuatanya tersebut, Budi hanya divonis 10 dan denda Rp 500 juta subsider 5 bulan
kurungan penjara. KPK belum menutup kasus ini, dan masih melakukan pengembangan.
Banyak pihak yang menyebut kasus ini juga belibatkan pejabat negara seperti Wakil Presiden
Boediono, dan juga mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Tuntutan ini lebih rendah dari tuntutan jaksa yaitu penjara 17 tahun dan denda Rp800 juta
subsider delapan bulan kurungan yang masih ditambah uang pengganti Rp1 miliar subsider 3
tahun kurungan.

Denda pengganti sebesar Rp1 miliar itu, menurut jaksa saat itu, sama dengan jumlah uang
yang dipinjamkan oleh pemilik Bank Century, Robert Tantular kepada terdakwa saat Bank
Century sudah masuk dalam pengawasan BI.

"Memutuskan uang pengganti sebesar Rp1 miliar tidak diperlukan karena Robert Tantular
menerangkan bahwa uang pinjaman itu sudah dikembalikan pada 2009 dan karena terdakwa
tidak menikmati dari hasil tindak pidana korupsi maka tuntutan penuntut umum agar
terdakwa membayar uang pengganti haruslah ditolak," kata Aviantara.

Tolak argumen
Budi Mulya sendiri dalam persidangan sebelumnya telah mengaku lalai telah meminjam uang
kepada Robert Tantular.

Budi Mulya. Hakim menolak argumen bahwa pemberian FPJP dilakukan untuk menghindarkan Indonesia dari dampak krisis finansial global karena berdasarkan pemaparan para ahli. Masalah likuiditas yang dihadapi Bank Century.Majelis hakim menilai Budi Mulya terbukti melakukan perbuatan melawan hukum karena pemberian dana talangan atau Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) untuk Bank Century dilakukan tanpa analisa mendalam. yang dinyatakan merugikan negara sebesar Rp8. mengatakan akan mengajukan banding terhadap putusan majelis hakim tersebut. namun karena masalah yang sudah membelit bank itu sejak 2005. bukan disebabkan oleh krisis global. . krisis global tidak akan berdampak pada Indonesia.5 triliun.

Related Interests