ETIKA APARATUR DALAM PELAYANAN PUBLIK

Oleh Arisman1

A. Latar Belakang

Praktek penyelenggaraan pelayanan publik di Indonesia dewasa ini masih penuh

dengan ketidakpastian biaya, waktu dan cara pelayanan. Mengurus pelayanan publik

ibaratnya memasuki hutan belantara yang penuh dengan ketidakpastian. Waktu dan biaya

pelayanan tidak pernah jelas bagi para pengguna pelayanan. Hal ini terjadi karena

prosedur pelayanan tidak pernah mengatur kewajiban dari penyelenggara pelayanan dan

hak dari warga sebagai pengguna. Prosedur cenderung hanya mengatur kewajiban warga

ketika berhadapan dengan unit pelayanan. Ketidakpastian yang sangat tinggi ini

mendorong warga untuk membayar pungli kepada petugas agar kepastian pelayanan bisa

segera diperoleh. Ketidakpastian bisa juga mendorong warga memilih menggunakan biro

jasa untuk menye lesaikan pelayanannya daripada menyelesaikannya sendiri. Disamping

itu juga sering dilihat dan didengar adanya tindakan dan perilaku oknum pemberi

pelayanan yang tidak sopan, tidak ramah, dan diskriminatif. Sebagai konsekuensi logisnya,

dewasa ini kinerja pemerintah sebagai pelayan publik banyak menjadi sorotan, terutama

sejak timbulnya iklim yang lebih demokratis dalam pemerintahan. Rakyat mulai

mempertanyakan akan nilai yang mereka peroleh atas pelayanan yang dilakukan oleh

instansi pemerintah.

Semua permasalahan tersebut, pada hakekatya tidak perlu terjadi secara drastis

dan dramatis. Sebagaimana yang pernah dialami selama ini, seandainya pemerintah dan

1
Fungsional Widyaiswara Kementerian Hukum dan HAM

1

aparatur pemerintahannya memiliki kredibilitas yang memadai dan kewibawaan yang

dihormati oleh rakyatnya. Pemerintah yang memiliki etika dan moralitas yang tinggi dalam

menjalankan kewenangan pemerintahannya, tentu memiliki akuntabilitas dan

penghormatan yang tinggi pula terhadap tuntutan aspirasi dan kepentingan masyarakat

yang dilayaninya. Dalam pemerintahan yang demikian itu pula iklim keterbukaan,

partisipasi aktif dan pemberdayaan masyarakat dapat diwujudkan, sebagai manifestasi dari

gagasan yang dewasa ini mulai dikembangkan, yaitu penerapan etika dalam pelayanan

publik Melihat betapa kompleksnya masalah yang terjadi dalam praktek

penyelenggaraan pelayanan publik, maka upaya penerapan etika pelayanan publik di

Indonesia msenuntut pemahaman dan sosialisasi yang menyeluruh, dan menyentuh

semua dimensi persoalan yang dihadapi oleh birokrasi pelayanan. Permasalahannya

sekarang adalah sejauhmana pemahaman dan penerapan etika pelayanan publik oleh

birokrasi pemerintah Indonesia? Masalah ini perlu pengkajian secara kritis dan

mendalam, karena berbagai praktek buruk dalam penyelenggaraan pelayanan publik

seperti: ketidakpastian pelayanan, pungutan liar, dan pengabaian hak dan martabat

warga pengguna pelayanan, masih amat mudah dijumpai dihampir setiap satuan

pelayanan publik. Dengan demikian permasalahan pelayanan publik cukup kompleks,

variabelnya sangat luas, upaya memperbaiki birokrasi sebagai pelayan publik (public

service) termasuk didalamnya upaya menanamkan etika sebagai nilai utama dalam

pelyanan publik, memerlukan waktu yang panjang dan diikuti dengan kemauan aparat

untuk merubah sikap dan orentasi perilakunya ke arah yang lebih mementingkan

peningkatan pelayanan kepada masyarakat, untuk itu menurut Mertins Jr2 ada empat hal

2 Martins, Jr (ed). 1979. Professional Stan- dards and Ethics. Washington, DC: ASPA Publisher.

2

Bagi mereka memberikan perlakuan yang sama identik dengan berlaku jujur. dan tidak ada kesetiaan yang mutlak diberikan kepada satu jenis kesetiaan tertentu yang mengabaikan yang lainnya. suatu prilaku yang patut dihargai. Untuk masyarakat yang pluralistik kadang. selain itu juga perlakuan yang adil. hukum. Kedua. equality. Ketiga. Etika pelayanan publik harus 3 .kadang diperlukan perlakuan yang adil dan perlakuan yang sama dan kadang-kadang pula di butuhkan perlakuan yang adil tetapi tidak sama kepada orang tertentu. Mengenai bentuk pelayanan itu tidak akan terlepas dari tiga macampelayanan yaitu : 1. pimpinan. yaitu perlakuan yang sama kepada masyarakat tidak cukup. yaitu perlakuan yang sama atas pelayanan yang biberikan. equity. status sosial.yang harus dijadikan pedoman yaitu: Pertama. Pelayanan melalui tulisan 3. Pelayanan dengan lisan 2. bawahan dan rekan kerja. responsibility. etnis. Apalagipelayanan tersebut pelayanan publik pada Kantor Pemerintah. Pelayanan dengan perbuatan Ketiga bentuk pelayanan tersebut dalam setiap organisasi tidaklahdapat selamanya berdiri secara murni. melainkan sering kombinasi. Berbagai jenis kesetiaan tersebut terkait satu sama lain. yaitu birokrat yang bertugas memberikanpelayanan kepada masyarakat. Hal ini didasarkan atas tipe prilaku birokrasi rasional yang secara konsisten memberikan pelayanan yang berkualitas kepada semua pihak tanpa memandang afiliasi politik. Keempat. yaitu setiap aparat pemerintah harus setiap menerima tanggung jawab atas apapun ia kerjakan dan harus mengindarkan diri dari sindorman “saya sekedar melaksanakan perintah dari atasan”. loyalty. Faktor utamadalam keterpurukan pelayanan publik di Indonesia adalah lemahnya etikasumber daya manusia (SDM). agama dan sebagainya. adalah kesetiaan yang diberikan kepada konstitusi.

proses manajemen pelayanan publik yang penuh rekayasa dan kamuflase (mulai dari perencanaan teknis. proyek. Aparat belum memberikan informasi yang jelas dan benar kepada pengguna jasa. Sudah sepantasnnya pelayanan umum dilakukan secara beretika agartidak adanya kekecewaan dalam suatu masyarakat. dan santun padapengguna jasa.berorientasi kepada kepentingan masyarakat berdasar asas transparansi (keterbukaan dankemudahan akses bagi semua pihak) dan akuntabilitas (pertanggungjawabansesuai dengan peraturan perundang-undangan) demi kepentingan masyarakat. Etika yang sewajarnya ada kini sudah mulai luntur oleh tindakan kurang terpuji dari pihak aparatur negara. dispersi otoritas) yang sangat bias terhadap kepentingan tertentu.) yang semuanya itu nampak dari sifat-sifat tidak transparan.tidak responsif. misalkan dapat menyelesaikan pembuatan KTP dengan cepat. Tindakan-tindakan tidak terpuji tersebut diantaranya adalah : 1. Sikap semena-mena yang ditunjukkan sebagian aparaturterkesan seperti merajai atau menggurui.. desain organisasi pelayanan publik (pengaturan struktur. Aparat belum menunjukkan sikap ramah. tidak adil.informasi. Dalam pemberian pelayanan publik khususnya di Indonesia. pengelolaan keuangan. dan kegiatan yang tidak didasarkanatas kenyataan). 2. sumber daya manusia. terkadang terkesan berbelit-belit dan akhirnya para aparaturberkesempatan untuk mendapatkan uang lebih dari tawarannya yangmenguntungkan. meskipun dengan orang yanglebih tua. namun dengan sedikit imbalan atas usaha yang dilakukannya.formalisasi. tidak akuntabel. sehingga tidak dapat memberikan kualitas pelayanan yang unggul kapada masyarakat. sopan. Sikap tersebut dikarenakan 4 .dsb. dsb.pelanggaran moral dan etika dapat kita amati mulai dari proses kebijakanpublik yaitu (pengusulan program.

. karena dia lebih menjadi pelayan pimpinan daripada pelayan masyarakat. Leys berpendapat bahwa: “Seseorang administrator dianggap etis apabila ia menguji dan mempertanyakan standar-standar yang digunakan dalam pembuatan keputusan. Pekerjaan seharusnya tidak boleh dicampur dengan urusan pribadi agar tidak adanya kekacauan dalam pekerjaan terhadap mayarakat. perilaku. dan tidak tercela.tak jarang masyarakat yang ingin meminta bantuan jasa merupaka masyarakat yang datang dari jauh dan ternyata setelah sampai ditempat pelayanan. para pelayan masyarakat sedang tidak ada ditempat. Adanya bolos kerja yang dilakukan aparatur membuat masyarakat merasa dirugikan. meski sebenarnya dia tahubahwa dia merupakan pelayan bagi masyarakat. 3. etika birokrasi sebagai standar penilaian mengenai sifat. sebagai pedoman. 4. Kedua. Masih ada pegawai yang tidak berada pada tempat kerjanya atau mejanya kosong disaat pengguna jasa membutuhkan pelayanan. oleh derajat yang dia miliki diarasakan sebagai derajat yang paling tingggi. Masih ada pegawai yang mementingkan kepentingan pribadi dan terlalutunduk dengan apa yang diperintahkan pimpinan. Jika pelayan masyarakat terlalu tunduk dengan atasan maka tak jarang pekerjaan untuk melayani masyarakat menjadi terbengkalai. termasuk etika birokrasi mempunyai dua fungsi. Aparat belum tanggap terhadap keluhan pengguna jasa. Etika Aparatur Sebagai Penyelenggara Pelayanan Publik Etika. acuan. dan tindakan birokrasi publik dinilai baik. B. refrensi bagi administrasi negara (birokrasi publik) dalam menjalankan tugas dan kewenangannya agar tindakannya dalam organisasi tadi dinilai baik. 5. dan tidak mendasarkan 5 . terpuji. yaitu: pertama. tidak tercela dan terpuji.

Program MAP UGM. dan organisasnya. 1996:7). Yogyakarta. Pengantar Aministrasi Publik. Etika birokrasi harus menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi. Sedangkan etika dalam konteks birokrasi menurut Dwiyanto (2002:188): ”Etika birokrasi digambarkan sebagai suatu panduan norma bagi aparat birokrasi dalam menjalankan tugas pelayanan pada masyarakat. 2. 3. kelompok. Lebih lanjut dikatakan oleh Putra Fadillah (2001:27). Berikutnya. Etika pelayanan publik adalah: ”suatu cara dalam melayani publik dengan menggunakan kebiasaan-kebiasaan yang mengandung nilai-nilai hidup dan hukum atau norma-norma yang mengatur tingkah laku manusia yang dianggap baik” (Kumorotomo. Yeremias T.keputusannya semata-mata pada kebiasaan dan tradisi yang sudah ada”. 6 .3 Beberapa konsep mengenai etika pelayanan publik dapat disimak dari pendapat- pendapat berikut ini: 1. Selanjutnya. Anderson menambahkan suatu poin baru bahwa: “standar-standar yang digunakan sebagai dasar keputusan tersebut sedapat mungkin merefleksikan nilai-nilai dasar dari masyarakat yang dilayani”. Etika harus diarahkan pada pilihan-pilihan kebijakan yang benar-benar mengutamakan kepentingan masyarakat luas”. 3 Keban. 1994. Golembiewski mengingatkan dan menambah elemen baru yakni: “standar etika tersebut mungkin berubah dari waktu-kewaktu dan karena itu administrator harus mampu memahami perkembangan standar-standar perilaku tersebut dan bertindak sesuai dengan standar tersebut”. etika pelayanan publik adalah: ”suatu cara dalam melayani publik dengan menggunakan kebiasaan-kebiasaan yang mengandung nilai-nilai hidup dan hukum atau norma yang mengatur tingkah laku manusia yang dianggap baik”.

salah satu diantaranya dan biasa digunakan orang adalah kebiasaan. Etika. 5. tindakan dan perilakunya dikatakan baik. Menurut Widodo (2001:241). Kamus Umum Bahasa Indonesia. karangan Purwadaminta. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama. referensi. terpuji. kedua. yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Darwin (1999) mengartikan etika birokrasi (administrasi negara) sebagai seperangkat nilai yang menjadi acuan atau penuntun bagi tindakan manusia organisasi. Filsuf besar Aristoteles telah menggunakan kata etika ini dalam menggambarkan filsafat moral. membedakan milik pribadi dengan milik kantor. 2000. adat atau akhlak dan watak. Seri Filsafat Atma Jaya: 15. 7 .merytal system. etika birokrasi sebagai standar penilaian mengenai sifat. Manakala administrasi negara menginginkan sikap. etika dirumuskan sebagai ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral). istilah etika 4 Bertens. Etika administrasi negara adalah merupakan wujud kontrol terhadap administrasi negara dalam melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok. fungsi dan kewenangannya. maka dalam menjalankan tugas pokok. dan tindakan birokrasi publik dinilai baik. sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. penuntun bagi birokrasi publik dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya antara lain: efesiensi. referensi bagi administrasi negara (birokrasi publik) dalam menjalankan tugas dan kewenangannya agar tindakannya dalam organisasi tadi dinilai baik. sebagai pedoman. perilaku. 4. Selanjutnya dikatakan bahwa etika (termasuk etika birokrasi) mempunyai dua fungsi yaitu: pertama. impersonal.4 terdiri beberapa arti. Konsep etika menurut Bertens. responsible. dan responsiveness. Seperangkat nilai dalam etika birokrasi yang dapat digunakan sebagai acuan. tidak tercela dan terpuji. K. fungsi dan kewenangannya harus menyandarkan pada etika administrasi negara. dan tidak tercela. acuan. accountable.

Nilai-nilai tersebut sering 5 Denhardt. Secara umum nilai-nilai moral terlihat dari enam nilai besar atau yang dikenal dengan “six great ideas”5 yaitu nilai kebenaran (truth). Begitu pula dalam pemberian pelayanan publik.disebut sebagai (1) ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral. sikap dan perilakunya sejalan dengan nilai-nilai tersebut atau tidak. dan asas etis. 1988. dan keadilan (justice). keindahan (beauty). menghayati. KG. keluharan budi. Bertens berkesimpulan bahwa ada tiga arti penting etika.syarakat. kebebasan (liberty). yang dari waktu ke waktu terus dinilai. dikembangkan dan dipromosikan. Setiap birokrasi pelayan publik wajib memiliki sikap mental dan perilaku yang mencerminkan keunggulan watak. atau disebut dengan “sistim nilai”. yang acapkali disebut “filsafat moral”. yaitu etika (1) sebagai nilai-nilai moral dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. kesamaan (equality).wood Press. dan (3) sebagai ilmu tentang yang baik atau buruk. kebaikan (goodness). Ia wajib mengembangkan diri sehingga sungguh-sungguh memahami. Disamping nilai-nilai dasar tersebut. The ethics of public service: resolving moral dilemmas in the public organizations. (2) sebagai kumpulan asas atau nilai moral yang sering dikenal dengan “kode etik”. sikap dan perilaku para pemberi pelayanan seringkali dijadikan obyek penilaian dimana nilai-nilai besar tersebut dijadikan ukurannya. (2) kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak. Dengan memperhatikan beberapa sumber diatas. tutur kata. Dalam kehidupan berma. seseorang sering dinilai dari tutur katanya. dan menerapkan berbagai asas etis yang bersumber pada kebajikan-kebajikan moral khususnya keadilan dalam tindakan jabatannya. mungkin ada juga nilai-nilai lain yang dianggap penting untuk mensukseskan pem. New York: Green.berian pelayanan. dan (3) nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. 8 .

kesadaran 6 Ibid 9 . tetapi juga diimplementasikan dalam melakukan pekerjaan. meskipun banyak yang berpendapat bahwa nilai-nilai agama dan etika moral Pancasila sebenarnya sudah cukup untuk menjadi pegangan bekerja atau bertingkah laku. Kehadiran kode etik itu sendiri lebih berfungsi sebagai kontrol lansung sikap dan perilaku dalam bekerja. Kode etik di Indonesia masih terbatas pada beberapa kalangan seperti ahli hukum dan kedokteran. mengingat tidak semua aspek dalam bekerja diatur secara lengkap melalui aturan atau tata tertib yang ada dalam suatu organisasi pelayanan publik. Di Amerika Serikat. Untuk itu. Pendapat tersebut tidak salah. dan yang menjadi masalah sebenarnya adalah bagaimana implementasi dari nilai. Kode etik bagi kalangan profesi yang lain masih belum ada.6 Sebuah kode etik meru-muskan berbagai tindakan apa. kelakuan mana. etika diartikan sebagai filsafat moral atau nilai. rasa empati yang tinggi. dinilai tingkat implementasinya melalui mekanisme monitoring.nilai tersebut. dan disebut dengan “profesional standars” (kode etik) atau “right rules of conduct” (aturan perilaku yang benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan publik. bertaqwa. memiliki agama yang jelas. agar masyarakat semakin yakin bahwa birokrasi publik sungguh-sungguh akuntabel dalam melaksanakan kegiatan pelayanan publik. dan sebagainya. Aplikasi etika dan moral dalam praktek dapat dilihat dari kode etik yang dimiliki oleh birokrasi publik. Kode etik tidak hanya sekedar bacaan. kita barangkali perlu belajar dari negara lain yang sudah maju dan memiliki kedewasaan beretika. misalnya. dan sikap bagaimana yang wajib dijalankan atau dihindari oleh para pemberi pelayanan. kemudian dievaluasi dan diupayakan perbaikan melalui konsensus. Dalam dunia pelayanan publik.dilihat sebagai “muatan lokal” yang wajib diikuti seperti keteladanan yang baik. Komitmen terhadap perbaikan etika ini perlu ditunjukkan. tetapi harus diakui bahwa tidak adanya kode etik ini memberi peluang bagi para pemberi pelayanan untuk mengeyampingkan kepentingan pulik.

mengutamakan kepentingan publik. 1985. memberi perlindungan terhadap informasi yang sepatutnya dirahasiakan. cepat tanggap.nistrasi publik/birokrasi publik/ pelayanan publik. respek. dan sebagainya. 1985). etika evaluator kebijakan. ketabahan. Kon- ferensi atau seminar berkala diantara para akademisi dan praktis administrasi publik terus dilakukan. Salah satu contoh yang relevan dengan pelayanan publik adalah kode etik yang dimiliki ASPA (America Society for Public Administration ). yang telah direvisi berulang-ulang kali dan mendapat penyempurnaan dari para anggotanya 7 (Wachs. penuh perhatian. keramahan. dan didukung oleh diskusi dan dialog yang tidak pernah berhenti. Nilai-nilai yang dijadikan kode etik bagi pelayan publik di Amerika Serikat adalah menjaga integritas. dukungan terhadap “system merit” dan program “affirmative action”. Untuk membantu menerapkan prinsip-prinsip etika dan moral di Indonesia. Etika perumusan kebijakan. kejujuran. harus diprakarsai dan mulai diterapkan sebelum berkembangnya budaya yang bertentangan 7 Wachs. para peserta seminar atau konferensi sangat diharapkan untuk berpartisipasi dalam diskusi dan dialog terbuka dan mendalam untuk menetapkan nilai-nilai moral dan etika yang harus diperhatikan dalam bekerja. Tidak dapat disangkal bahwa pada saat ini Indonesia dikenal sebagai negara koruptor nomor muda atau paling muda di dunia. The State University of New Jersey. M. pengalaman negara-negara lain perlu ditimba. etika perencanaan publik. etika pelaksana kebijakan. etika PNS. kebenaran. 10 . etika admi. Ethics in Planning Center for Urban Policy Research.beretika dalam pelayanan publik telah begitu meningkat sehingga banyak profesi pelayanan publik yang telah menetapkan kode etiknya. Semua nilai yang terdapat dalam kode etik pelayan publik ini bukan muncul tiba-tiba tetapi melalui suatu kajian yang mendalam dan membutuhkan waktu lama. perlu berupaya keras menerapkan prinsip-prinsip etika dan moral. termasuk dalam kondisi apa seorang birokrasi publik harus bertindak atau memperhatikan nilai-nilai etika.

8 The Liang Gie. 2. mencuri. Jujur.dengan moral dan etika. Memperlakukan orang dengan sama. Etika Administrasi Pemerintahan. berprinsip. 6. Integritas. tidak berbohong. 7. Prinsip-prinsip etika pelayanan publik yang dikembangkan oleh Institute Josephson America8 dapat digunakan sebagai rujukan atau referensi bagi para birokrasi publik dalam memberikan pelayanan. dapat dipercaya. 2006. Orang yang etis memperhatikan kualitas peker. 10. Hormat. dan seorang professional publik harus berpengetahuan dan siap melaksanakan wewenang publik. bertoleransi dan menerima perbedaan serta berpikiran terbuka. 9.sional sektor publik mempunyai tanggung jawab untuk menghormati dan menghargai serta mendorong pembuatan keputusan yang demokratis. tidak menipu. Jakarta: Universitas Terbuka. Perhatian. Adil. antara lain adalah sebagai berikut: 1. Memenuhi janji serta mematuhi jiwa perjanjian sebagaimana isinya dan tidak menafsirkan isi perjanjian itu secara sepihak.berikan penghormatan terhadap martabat manusia privasi dan hak menentukan nasib bagi setiap orang. terhormat. 8. Keunggulan. Akuntabilitas. loyal. dan tidak bermuka dua. tidak mengorbankan prinsip moral. memberikankebaikan dalam pelayanan. 5. dan berbelit- belit. curang. Setia. Kewarganegaraan. Orang yang etis menerima tanggung jawab atas keputusan. 3. Memperhatikan kese. Memegang janji. Orang yang etis mem. dan taat pada kewajiban yang semestinya harus dikerjakan. 11 .jaannya.jahteraan orang lain dengan kasih sayang. 4. kaum profe.

5. penggelapan. 4. kesempatan yang sama. Pelayanan kepada masyarakat adalah di atas pelayanan kepada diri sendiri. Rakyat adalah berdaulat dan mereka yang bekerja dalam instansi pemerintah pada akhirnya bertanggung jawab kepada rakyat. atau penyelewengan tidak dapat dibenarkan. 2. 3. tidak bijaksana. dan dikembangkan. 11. kompetisi. Pegawai-pegawai bertanggung jawab untuk melaporkan jika ada tindakan penyimpangan. Hukum mengatur semua tindakan dari instansi pemerintah. Pelayanan kepada masyarakat menuntut kepekaan khusus dengan ciri-ciri sifat keadilan. Perlindungan terhadap kepentingan rakyat adalah sangat penting. Konflik kepentingan.asas itikad yang baik akan didukung. penyuapan. atau favoritiasme yang merendahkan jabatan publik untuk keuntungan pribadi tidak dapat diterima. Kita 12 . Orang-orang yang berada disektor publik mempunyai kewajiban khusus untuk mempelopori dengan cara mencontohkan untuk men. atau perlu perubahan. Menjaga kepercayaan publik. persamaan. Sistem penilaian kecakapan. keberanian. Manajemen yang efesien dan efektif adalah dasar bagi administrasi negara. kita akan mengacu kepada sebesar-besarnya kepentingan rakyat sebagai patokan. pemborosan. Suversi melalui penyalahgunaan pengaruh. 6. dan kasih sayang. kejujuran. pada tahun 1981 mengembangkan kode etik pelayan publik sebagai berikut: 1. dijalankan. American Society for Public Administration (ASPA). 7. hadiah. Apabila hukum atau peraturan dirasa bermakna ganda. dan memberi contoh kepada orang lain. dan asas.jaga dan meningkatkan integritas dan reputasi prosses legislatif. konsekuensi yang diduga dari dan kepastian mereka.

diperlukan adanya hubungan hirarkhis yang tegas diantara pusat-pusat pertanggungjawaban dengan unit- unit di bawahnya. 9. menghargai sifat-sifat seperti ini dan secara aktif mengembangkannya.hubungan hirarkhis ini biasanya telah ditetapkan dengan jelas baik dalam aturan-aturan organisasi yang disampaikan secara formal ataupun dalam bentuk hubungan jaringan informal. dan pengkajian tentang prioritas nilai. Hubungan. O. Ini memerlukan kesa.G dan Dwivedi. Pelanggaran terhadap perintah akan diberikan peringatan mulai dari yang palig 9 Jabbra. dan pengawasan dilakukan secara intensif agar aparat tetap menuruti perintah yang diberikan. dan berperilaku dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. maka aparat harus mampu mengembangkan 5 macam akuntabilitas. J.rian Press. tujuan yang baik tidak pernah membenarkan cara yang tak bermoral (good and never justify immoral means). Dalam akuntabilitas ini. Akuntabilitas administratif (organisasional). Prioritas pertanggungjawaban lebih diutamakan pada jenjang pimpinan atas dan diikuti terus ke bawah. Inc. 1989. Sejalan dengan penilaian tersebut Jabbra dan Dwivedi9 mengatakan bahwa untuk menjamin kinerja pegawai sesuai dengan standard dan untuk meminimalkan penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat pemerintah. tetapi juga untuk mengusahakan hal yang benar melalui pelaksanaan tanggung jawab engan penuh dan tepat pada waktunya. Public Service Accountability. Nilai-nilai etika di atas dapat digunakan sebagai rujukan bagi birokrasi publik dalam bersikap. Conneticut: Kuma. Hatinurani memegang peranan penting dalam memilih arah tindakan.P.daran akan makna ganda mora dalam kehidupan. 13 . bertindak. Para administrator negara tidak hanya terlibat untuk mencegah hal yang salah. yaitu: 1. 8.

Akuntabilitas profesional. Para administrator yang terkait dengan kewajiban menjalankan tugas. Ini adalah bentuk pertanggungjawaban setiap tindakan administratif dari aparat pemerintah di badan legislatif dan/atau di depan makamah. ringan sampai pemecatan. 4. pekerja sosial dan sebagainya) mengharap dapat memperoleh kebebasan yang lebih besar dalam melaksanakan tugas-tugasnya dan dalam menetapkan kepentingan publik. dan dalam hal tindakan pegawai pemerintah seharusnya diletakan pada prinsip - prinsip moral dan etika sebagai. ekonom. maka pertanggungjawaban aparat atas tindakan-tindakannya dapat digunakan sebagai standar untuk menilai apakah sikap. perilaku dan pelayanan yang diberikannya itu dinilai baik atau buruk oleh public. Kalaupun mereka tidak dapat menjalankan tugasnya mereka mengharapkan mememperoleh masukan untuk perbaikan.perintahnya. Para pejabat politik itu juga harus menerima tanggung jawab administratif dan legal karena mereka punya kewajiban untuk menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. tindakan. Akuntabilitas politik. pengacara. 2.tugasnya mengikuti adanya kewenangan pemegang kekuasaan politik untuk mengatur. akuntan. Mereka harus dapat menyeimbangkan antara kode etik profesinya dengan kepentingan publik. 3. Akuntabilitas legal. insinyur. menetapkan prioritas dan pendistribusian sumber.mana diakui konstitusi dan peraturan-peraturan lainnya serta diterima oleh publik sebagai norma dan perilaku sosial yang telah 14 . Dalam hal pelanggaran kewajiban-kewajiban hukum ataupun ketidakmampuannya memenuhi keinginan legislatif. para aparat profesional (seperti dokter. Sehubungan dengan semakin meluasnya profesionalisme di organisasi publik.sumber dan menjamin adanya kepatuhan pelaksanaan perintah.

wajar saja kalau publik menuntut dan mengharapkan perilaku para politisi dan pegawai pemerintah itu berlandaskan nilai-nilai moral yang telah diterima tadi. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. masyarakat menuntut para aparatur pemerintah itu mempunyai dan mengembangkan akuntabilitas moral pada diri mereka. Telah banyak diterima bahwa pemerintah memang selayaknya bertanggung. Namun sayangnya. efesiensi. mapan. 2006. “Pelayanan yang Akuntabel dan Bebas dari KKN”. yaitu para birokrat tidak boros dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan kepada masyarakat. Dalam artian bahwa para birokrat secara berhati-hati agar memberikan hasil yang sebesarbesarnya kepada publik.Berkaitan dengan itu Harbani mengatakan bahwa untuk menilai baik buruknya suatu pelayanan publik yang diberikan oleh birokrasi publik dapat dilihat dari baik buruknya penerapan nilai- nilai sebagai berikut: Pertama. Landasan bagi setiap pegawai pemerintah seharusnya diletakan pada prinsip-prinsip moral dan etika sebagaimana diakui konstitusi dan peraturan-peraturan lainnya serta diterima oleh publik sebagai norma dan perilaku sosial yang telah mapan.ed . 5. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Akuntabilitas moral. Oleh karena itu. dalam Agus Dwiyanto. wajar saja kalau publik menuntut dan mengharapkan perilaku para politisi dan pegawai pemerintah itu berlandaskan nilai-nilai moral yang telah diterima tadi. Oleh karena itu. Untuk menghindari perilaku koruptif. Untuk meng. Dengan demikian nilai efesiensi lebih mengarah pada penggunaan sumber daya yang dimiliki secara cepat dan tepat. tidak boros dan dapat dipertanggungjawabkan kepada 10 Wahyudi Kumorotomo . masyarakat menuntut para aparatur pemerintah itu mempunyai dan mengembangkan akuntabilitas moral pada diri mereka.hindari perilaku koruptif. 15 .2006.jawab secara moral atas tindakan – tindakannya. kata Wahyudi10 tanggung jawab moral dan tanggung jawab profesional menjadi satu titik lemah yang krusial dalam birokrasi pelayanan di Indonesia.

akuntabilitas. untuk mendorong penga. Kelima. yaitu kualitas pelayanan yang diberikan oleh pada birokrat kepada publik harus memberikan kepuasan kepada yang dilayani.sanakan tugas dan kewenangan pelayanan publik. birokrasi publik harus bersikap terbuka.publik. yaitu berkaitan dengan tanggung jawab birokrat dalam merespon kebutuhan publik yang sangat mendesak. transparan. dan akuntabel. Dalam pelaksanaan kode etik tersebut. Birokrat dalam menjalankan tugasnya dinilai baik (etis) jika responsibel dan memiliki profesional atau kompetensi yang sangat tinggi. kualitas layanan. responsivitas. Jadi dapat dikatakan baik (etis) jika birokrasi publik menjalankan tugas dan kewenangannya secara efesien. maka diperlukan suatu proses perubahan perilaku yang antara lain dapat dilakukan melalui pembudayaan kode etik (code of ethical conducts) yang didasarkan pada dukungan ling. Dalam artian bahwa baik (etis) tidaknya pelayanan yang diberikan birokrat kepada publik ditentukan oleh kualitas pelayanan.kungan (enabling strategy) yang diterjemahkan ke dalam standar tingkah laku yang dapat diterima umum. Birokrat yang baik (etis) adalah birokrat yang akuntabel dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya. yaitu semangat untuk melayani masyarakat. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan publik dalam mencapai tujuannya. efektivitas. yaitu pada birokrat dalam melaksanakan tugas. bukan tujuan pemberi pelayanan (birokrasi publik).malan dan pelembagaan kode etik tersebut.tugas pelayanan kepada publik harus baik (etis) apabila memenuhi target atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya tercapai. yaitu berkaitan dengan pertanggungjawaban dalam melak. Dari uraian di atas terlihat bahwa salah satu prinsip dalam pemerintahan adalah pelayanan. Keempat. Dalam hubungannya dengan pelayanan kepada 16 . Ketiga. Untuk mewujudkan hal itu. dan dijadikan acuan perilaku birokrasi pelayan publik baik di pusat maupun di daerah-daerah. Kedua.

namun yang perlu didahulukan adalah peranan selaku pelayan publik. Standar etika pelayanan publik yang diperlukan di sini adalah pemenuhan atau peruwujudan nilai-nilai atau norma. Mentalitas sebagai suatu kompleksitas sifat-sifat sekelompok manusia menonjolkan karakter tertentu yang diwujudkan pada sikap atau gaya hidup tertentu.11 Sartono Kartodirdjo menegaskan bahwa Pemahaman terhadap karakter masyarakat atau tokoh tertentu harus dilihat dari konteks budaya yang melatarbelakanginya12 karena karakter pada hakikatnya adalah identitas dari suatu masyarakat yang lazim berkaitan dengan kepribadian. PERAN APARATUR DALAM MEMBONGKAR KORUPSI PENYELENGGARAAN PELAYAN PUBLIK. atau kesadaran manusia.masyarakat biro. 17 .krasi publik jangan mengedepankan wewenang. 12 Ibid. Karakter yang merupakan mentalitas yang dibangun atas dasar intelektual dan mental akan membentuk jiwa. pikiran. bukan menghambat”. Ini tidak berarti bahwa birorasi pelayan publik sama sekali tidak memiliki standar etika pelayanan.. yang manifestasinya antara lain dalam perilaku “melayani. “mendorong. hlm. hlm. 176. akan tetapi dimensi pelaksanaan etika tersebut mungkin yang perlu ditingkatkan. “mempermudah. bukan dilayani”. “sederhana. Karakter jajaran birokrasi yang memiliki kinerja tinggi dan mengutamakan pelayanan publik merupakan representasi dari kesadaran dan pemahaman akan misi dan visi organisasi dengan nilai-nilai etis yang ditentukan. bukan berbelit-belit”. yang dapat diterima oleh masyarakat luas. Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. 1992). (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. bukan mempersulit”.norma sikap dan perilaku birokrasi publik dalam setiap pelayanan dan tindakannya. 178. C. Sempurnanya suatu tugas atau 11 Sartono Kartodirdjo.

Norma atau etika jabatan mempelajari perbuatan pegawai negeri yang memegang jabatan tertentu dan berwenang untuk berbuat atau bertindak dalam kedudukannya sebagai unsur pemerintah. norma profesi. oleh karena itu diperlukan penegakan aturan hukum serta pembentukan karakter aparatur yang memiliki integritas tinggi ditunjukkan dengan sikap berani menolak korupsi terlebih lagi berani melaporkan korupsi yang dijumpainya. 1984. kesopanan. gratifikasi dan lain sebagainya. hlm. sering kali terjadi karena pengaruh budaya organisasi negatif yang sudah terbentuk secara masif. Namun. norma sosial. kemampuan teknis (skill) dan pengetahuan dan wawasan (knowledge) saja belum cukup memadai untuk menumbuhkan kepercayaan dan rasa kepuasan dihati masyarakat. Etika Pemerintahan. etika maupun sikap dan perilaku yang terpuji dan patut di contoh (attitude). Ketiga domain inilah yang mutlak dimiliki oleh aparatur sipil negara yang lazim disebut kompetensi pegawai guna mencapai kinerja yang diinginkan. birokrasi mestilah memiliki pula moral. Etika Administrasi Negara. Mau tidak mau. sungguh ironis ketika ada aparatur yang tidak mau mengikuti penyimpangan tersebut justru dianggap beda dan dapat dipastikan akan dikucilkan dalam lingkungan pergaulan birokrasi tersebut. Peran pelapor atau penyingkap korupsi 13 Bayu Suryaningrat. serta norma- norma lainnya (hukum. Bandung : Pustaka.13 Banyaknya korupsi dalam pelayanan publik seperti adanya pungutan liar. Etika Jabatan. norma keluarga. 94 18 .fungsi (baik individu maupun organisasi) mutlak ditentukan oleh tingkat profesionalisme dan kualifikasi manusia pendukungnya. sistem matis dan terstruktur sehingga mau tidak mau aparatur larut dalam penyimpangan tersebut. kesusilaan). Adapun perilaku birokrasi atau pejabat publik. paling tidak dibentuk oleh 5 (lima norma. yaitu norma jabatan.

penyingkap aib dll. Esprit de corps means the pride and honor shared by the members of a group. dikarenakan pemahaman esprit de corps15 yang telah terbangun secara turun-temurun. tentunya menjadi sulit bagi hukum untuk mencoba masuk kedalam wilayah-wilayah kekuasaan yang tercipta dilingkungan institusi tersebut. Moelijono. 19 . Dalam disertasi ini.yourdictionary. “pemukul kentongan”. Di level inilah peran dari penyingkap korupsi menjadi penting. pelanggaran hukum dan etika. namun sulit terjamah oleh hukum. 15 http://www. istilah whistleblower disinonimkan maknanya dengan istilah “penyingkap korupsi” Pilihan istilah “penyingkap korupsi” didasarkan atas dua pertimbangan yaitu: pertimbangan bahasa (linguistik) dan pertimbangan praktik. “pengungkap fakta”. ” “saksi pelapor”. atau "dimusuhi" oleh rekan-rekan sekerjanya membuat mereka lebih memilih untuk berdiam diri. dapat memberikan tekanan-tekanan terhadap lembaga hukum yang sangat rentan dengan permasalahan korupsi. Pertimbangan praktik. Budaya birokrasi masih memposisikan para pegawai untuk tidak melaporkan kesalahan yang dilakukan oleh atasannya atau merahasiakan sesuatu yang salah didalam institusi tersebut. Budaya pegawai yang ada sering khawatir jika harus berhadapan dengan konsekuensi logis berupa “pembalasan” seperti: kehilangan pekerjaan. “pengungkap skandal. Budaya birokrasi yang ada harus mengadopsi nilai-nilai budaya yang melingkupinya. Keboborakan sebuah institusi dapat terdeteksi oleh mereka yang terdekat dengan lingkungan tersebut. karena dalam keseharian istilah whistleblower selalu dikaitkan dengan berbagai kasus korupsi. Pertimbangan bahasa merujuk pada ahli bahasa. dimaknakan juga sebagai semangat kesetiaan dan kecintaan yang mempersatukan anggota- anggota kelompok atau suatu masyarakat.com Diakses pada 20 Agustus 2011. Realitanya seringkali Esprit de corps dimaknai sebagai semangat untuk menyelamatkan dan menutupi keburukan institusi dengan cara apapun. kehilangan kesempatan promosi jabatan. Dikaitkan dengan upaya untuk melindungi penyingkap korupsi maka 14 Tidak ada istilah resmi dalam bahasa Indonesia yang sinonim dengan istilah whistleblower yang secara harafiah artinya “peniup peluit”. korupsi atau situasi berbahaya lainnya. (kebanggaan dan kehormatan bersama dari anggota suatu kelompok).com/2010/08/15/pemadanan-idiom-inggris/ diakses pada 1 Oktober 2011). Ada yang menyebutnya dengan istilah.(whistleblower)14 sangat membantu dalam menyingkap informasi kepada publik tentang adanya penyimpangan. Anton M. “pengungkap aib”. yang memberi padanan istilah “penyingkap aib” (http://bahasakita. Dia menjadi mata pisau yang tepat untuk dapat meminimalisasi tindakan korupsi.

budaya organisasi yang ada pun harus direkonstruksi (ditata ulang) menyesuaikan kepentingan nasional (pemberantasan korupsi) dan kepentingan global (berkembangnya budaya etika whistleblowing) serta kepentingan lokal (menyesuaikan dengan budaya Jawa yang menjadi tempat berpijak).org/2010/05/25/kajian-penerapan-nilai-nilai-etika-aparatur-dalam-membangun-budaya-kerja-etika dalam-berorganisasi/ diakses pada 22 Agustus 2011. Fungsi dari kode etik profesi adalah untuk a) memberikan pedoman bagi setiap anggota profesi tentang prinsip profesionalitas yang digariskan.18 Namun dalam 16 http://www. karena segala sesuatunya dibuat dan diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri. Kode etik adalah tatanan etika yang disepakati oleh suatu kelompok masyarakat tertentu.17 Kode etik untuk pegawai negeri sipil (PNS) telah dituangkan dalam aturan yang tertulis yaitu PP No. Salah satu sebab adalah tidak banyak PNS yang mengetahui dan membaca mengenai peraturan ini akibat kurangnya sosialisasi yang dilakukan pemerintah terkait dengan kebijakan ini. c) mencegah campur tangan pihak di luar organisasi profesi tentang hubungan etika dalam keanggotaan profesi. Rekonstruksi kultural dalam rangka melindungi penyingkap korupsi di lingkungan birokrasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: 1. Penegakkan Kode Etik Aparatur Sipil Negara.wikipedia.wordpress. 20 . Dengan demikian kode etik adalah refleksi dari apa yang disebut dengan “self control”. http://pkmk lanri.com 17 http://chandrasilaen.42/2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik PNS yang menjadi aturan formal yang belum sepenuhmya secara mendalam dipahami oleh PNS. b) sebagai sarana kontrol sosial bagi masyarakat atas profesi yang bersangkutan.com/2010/04/20/kode-etik/ 18 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN-RI) menemukan bahwa Kode etik PNS yang dituangkan dalam PP No. 42 tahun 2004 tentang Pembinaan Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil.16 Ia merupakan suatu bentuk aturan tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan dapat difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik.

Instruksi Presiden No.20 Bercermin dari apa yang telah dilakukan oleh Turki. PP ini hanya mengatur disiplin PNS tapi belum mengatur perlindungan hukum bagi PNS yang menjadi “penyingkap informasi korupsi”.com Diakses pada tanggal 2 Agustus 2014. United Kingdom.53 Tahun 2010 menyatakan bahwa kewajiban PNS adalah melaporkan dengan segera kepada atasannya apabila mengetahui ada hal yang dapat membahayakan atau merugikan negara atau Pemerintah terutama di bidang keamanan. 20 Peraturan Menteri Keuangan No. Polandia. Menyediakan saluran penyingkapan korupsi. http://www. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil19 dan beberapa birokrasi pemerintahanpun telah mengakomodasi keberadaan penyingkap korupsi.21 2. Kode etik yang ada lebih menekankan pada aspek tanggung jawab terhadap organisasi/ birokrasi semata. Belanda dan Cyprus telah mengatur perlindungan hukum untuk penyingkap korupsi di dalam UU Ketenagakerjaan atau UU tentang Aparatur Sipil Negaranya.103/PMK. peraturan tersebut ketentuan tentang perlindungan terhadap penyingkap korupsi belum ada.09/2010 Tentang Tatacara Pengelolaan dan Tindak Lanjut Pelaporan Pelanggaran (whistleblowing) Di Lingkungan Kementerian Keuangan dan SK Dirjen Perikanan Budidaya No.bernama. Dalam buku “Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran” yang diterbitkan oleh Komite Nasional Kebijakan Governance diungkapkan beberapa manfaat diterapkannya 19 Pasal 3 ayat (10) PP No. Perdana Menteri Malaysia Tun Najib Razak menegaskan bahwa pelaksanaan UU ini akan mampu mengendalikan korupsi yang terjadi di Malaysia. Peraturan Pemerintah No. Dalam perkembangannya perlindungan terhadap penyingkap korupsi diakomodasi dalam UU Aparatur Sipil Negara. keuangan. khususnya yang terjadi di lingkungan aparatur sipil negara. dan materiil. Bahkan Malaysia pun mengatur perlindungan hukum untuk Penyingkap korupsi ini dalam Whistleblower Protection Act yang diberlakukan sejak 15 desember 2010. 21 . 03C/DJ-PB/2010 tentang Penanganan Penyingkap Fakta (Whistle Blower) Di Lingkungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 21 Whistleblower Protection Act Formulated to Curb Corruption.9 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi 2011.

sistem ini merupakan hal yang wajib diimplementasikan oleh institusi pemerintah 22 Mas Achmad Daniri. 2008). dan masyarakat umum. dan reputasi. sebelum meluas menjadi masalah pelanggaran yang bersifat publik.22 Banyak organisasi di beberapa negara yang telah membuat saluran pengaduan baik tanpa nama maupun dengan mencantumkan identitas. e) Mengurangi risiko yang dihadapi organisasi. b) Timbulnya keengganan untuk melakukan pelanggaran. keselamatan kerja.2 22 . Jerman. dengan semakin meningkatnya kesediaan untuk melaporkan terjadinya pelanggaran. Luxemburg. hlm. f) Mengurangi biaya dalam menangani akibat dari terjadinya pelanggaran. Di banyak negara. dan h) Memberikan masukan kepada organisasi untuk melihat lebih jauh area kritikal dan proses kerja yang memiliki kelemahan pengendalian internal. c) Tersedianya mekanisme deteksi dini (early warning system) atas kemungkinan terjadinya masalah akibat suatu pelanggaran. regulator. serta untuk merancang tindakan perbaikan yang diperlukan. karena kepercayaan terhadap sistem pelaporan yang efektif. Belanda. operasi. (Jakata: KNKG. whistleblowing system yaitu: a) Tersedianya cara penyampaian informasi penting dan kritis kepada pihak yang harus segera menanganinya secara aman. atau yang dikenal dengan sebutan "Whistleblowing Mechanism". hukum. akibat dari pelanggaran baik dari segi keuangan. g) Meningkatnya reputasi perusahaan di mata pemangku kepentingan (stakeholders). d) Tersedianya kesempatan untuk menangani masalah pelanggaran secara internal terlebih dahulu. Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran – SPP (Whistleblowing System – WBS). Slovenia dan Macedonia adalah negara-negara yang telah menggunakan mekanisme komunikasi ini.

Dengan semangat kejuangan itu seorang birokrat. Birokrasi dan komunikasi selalu dipengaruhi oleh budaya yang melingkupinya. maka tugas.dan swasta. Dalam praktek pelayanan publik saat ini di Indonesia. rela berkorban. Hal terakhir ini penting karena birokrasi pelayan publik ini adalah pejuang dalam arti menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan. Banyak persoalan yang timbul. dan kebebasan yang mendasar.tugas dari birokrasi pelayan publikpun tidak terlepas dari hal-hal yang baik dan buruk. D. Karakter ini harus ditunjukkan. dan bekerja keras tanpa pamrih. dibandingkan dengan metode lainnya. tetapi juga nilai kejuangan. Mekanisme whistleblowing dianggap penting karena dianggap sebagai metode yang paling berhasil dalam menemukan adanya korupsi. Demikian pula halnya dengan persoalan korupsi birokrasi. Komunikasi yang baik akan membantu menyelesaikan kasus korupsi yang muncul di dalam suatu birokrasi. Terbangunnya komunikasi yang baik dipengaruhi oleh budaya atau kultur yang ada. efektif dan efisien. Karena etika berkaitan dengan soal kebaikan dan keburukan di dalam hidup manusia. 23 . yang akan menghasilkan kebajikan-kebajikan yang mengun- tungkan masyarakat dan mencegah tujuan menghalalkan segala cara. keindahan. PENUTUP Birokrasi penyelenggara pelayanan publik tidak mungkin bisa dilepaskan dari nilai etika. namun dapat terselesaikan dengan komunikasi yang baik. kebaikan. kita menginginkan birokrasi publik yang terdiri dari manusia-manusia yang berkarakter. Komunikasi adalah solusi. bukan hanya menghayati nilai-nilai kebenaran. kebaikan. yang dilandasi sifat-sifat kebajikan. Pemahaman terhadap budaya yang berlaku akan membantu menciptakan terwujudnya komunikasi yang baik. akan sanggup bertahan dari godaan untuk tidak berbuat yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran.

23 Karena penghargaan yang diberikan tidak signifikan dengan resiko yang dihadapi oleh Pelapor korupsi. Mekanisme perlindungan terhadap pelapor adanya korupsi dalam penyelenggaraan pelayanan publik diharapkan membuat orang tidak takut menjadi martir untuk pemberantasan korupsi karena sang martir pun kini terlindungi di negeri ini. dan keadilan. Hal ini didasarkan pada dalil “law as a tool of a social engineering”. yakni kepastian perlindungan pelapor dan tindak lanjut pelaporan. Mekanisme ini juga bermanfaat untuk mendeteksi penyimpangan sedini mungkin sebelum menjadi sulit untuk ditangani. persamaan. Jika prasyarat ini terpenuhi. dalam jangka panjang. 71 Tahun 2000 telah ditentukan besarnya penghargaan dari pelaporan korupsi. bahkan bisa semakin mendorong partisipasi sosial dalam pemberantasan korupsi jika si pelapor korupsi justru mendapatkan reward (penghargaaan materil) yang signifikan. sistem ini akan mengubah perilaku setiap anggota organisasi atau aparatur. Tulisan ini diolah dari berbagai sumber 23 Di dalam PP No.kebebasan. Rekonstruksi perlindungan hukum yang sistemik bagi aparatur sipil negara yang menjadi pelapor adanya korupsi dalam penyelenggaraan pelayanan publik di Indonesia dilakukan dengan cara menguraikan unsur-unsur yang ada dalam suatu sistem hukum lalu di konkretisasi dalam wujud sebuah produk peraturan perundangan yang akan menjadi acuan di masa mendatang (ius constituendum). Pelapor akan memperoleh 2‰ (tiga per mil) dari nilai uang yang dilaporkan korupsi. 24 . Ada dua prasyarat penting agar sistem pelaporan pelanggaran ini dapat efektif. hukum sebagai sarana perubahan masyarakat.

Bandung : Pustaka. Wahyudi Kumorotomo . Jakarta. Denhardt. 1984. disertasi. Partini. 25 . Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK). Jakarta: Universitas Terbuka.P.ed .Makalah. Inc. 2006. Ethics in Planning Center for Urban Policy Research. Kumorotomo. Reformasi Birokrasi Publik Di Indonesia. 2002. Etika Jabatan. Harbani Pasolong. The State University of New Jersey. Wicaksono Bambang. Universitas Diponegoro Semarang. Edy Topo Azhari. Public Service Accountability. Dwiyanto Agus. O.G dan Dwivedi. The ethics of public service: resolving moral dilemmas in the public organizations. Tamtiari Wini. Rajawali Pers. Mewujudkan Good Governance Melalui Pelayanan Publik. Teori Administrasi Publik. 1988. 1979. DC: ASPA Publisher. KG.. 1989. Jabbra. Ratminto. Martins. Etika Administrasi Pemerintahan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Conneticut: Kumarian Press. New York: Greewood Press.2006. The Liang Gie. dan Nuh Muhamad. Kusumasari Bevaola. “Pelayanan yang Akuntabel dan Bebas dari KKN”. Yogyakarta. Bandung: Alfabeta. 2011 Bayu Suryaningrat. “ Upaya Meningkatkan Kinieja Pelayanan Publik”. 2003. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipi Wachs. Disampaikan dalam Seminar Lokakarya Nasional Dimensi Politik Pelayanan Publik: Partisipasi. DAFTAR PUSTAKA Arif Awaludin. J. Etika Pemerintahan. Etika Administrasi Negara. UGM. 1985. Jr (ed). dalam Agus Dwiyanto. Etika administrasi Negara. 2006. Peraturan Pemerintah No. M. Rekonstruksi Perlindungan Hukum Terhadap Penyingkap Korupsi (Studi Kasus Budaya Hukum Aparatur Sipil Negara Menyingkap Korupsi Birokrasi Di JawaTengah). 1992. Washington. 2007. Wahyudi. Professional Standards and Ethics. Transparansi & Akuntabilitas pada tanggal 8-9 Oktober 2003 di Hotel Indonesia Jakarta.E.