1

Kisah Shahabat: Said bin Amir al-Jumahi
Radhiyallahu ‘Anhu
“Said bin Amir, seorang laki-laki yang membeli akhirat dengan dunia dan mementingkan Allah
dan Rasul-Nya diatas selain keduanya.”

Anak muda ini, Said bin Amir, adalah satu dari ribuan orang yang keluar ke daerah Tan’im di luar
Makkah atas undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukum mati atas
Khubaib bin Adi, salah seorang shahabat Muhammad setelah mereka menangkapnya dengan cara licik.

Sebagai pemuda yang kuat dan tangguh, Said mampu bersaing dengan orang-orang yang lebih tua
umurnya untuk berebut tempat di depan, sehingga dia mampu duduk sejajar di antara para pemuka
Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lainnya yang menyelenggarakan
acara tersebut.

Semua itu membuka jalan baginya untuk menyaksikan tawanan Quraisy tersebut terikat dengan
tambang, sementara tangan anak-anak, para pemuda dan kaum wanita mendorongnya ke pelataran
kematian dengan kuatnya, mereka ingin melampiaskan dendam kesumat terhadap Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui Khubaib, membalas kematian orang-orang mereka yang terbunuh
di Badar dengan membunuh Khubaib.

Manakala rombongan orang dalam jumlah besar dengan seorang tawanan mereka tersebut telah tiba di
tempat yang sudah disiapkan untuk membunuhnya, si anak muda Said bin Amir al-Jumahi berdiri tegak
memandang Khubaib yang sedang digiring ke tiang salib. Said mendengar suara Khubaib di antara
teriakan kaum wanita dan anak-anak, dia mendengarnya berkata, “Bila kalian berkenan membiarkanku
shalat dua rakaat sebelum aku kalian bunuh?”

Said melihat Khubaib menghadap kiblat, shalat dua rakaat, dua rakaat yang sangat baik dan sangat
sempurna.

Said melihat Khubaib menghadap para pembesar Quraisy dan berkata, “Demi Allah, kalau aku tidak
khawatir kalian menyangka bahwa aku memperlama shalat karena takut mati niscaya aku akan
memperbanyak lagi shalatku.”

Kemudian Said melihat kaumnya dengan kedua mata kepalanya mencincang jasad Khubaib sepotong
demi sepotong padahal Khubaib masih hidup, sambil berkata, “Apakah kamu ingin Muhammad ada di
tempatmu ini sedangkan kamu selamat?”[1]

Khubaib menjawab sementara darah menetes dari jasadnya, “Demi Allah, aku tidak ingin berada di
antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan aman dan tenang sementara Muhammad tertusuk oleh
sebuah duri.”

Maka orang banyak pun mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke udara, teriakan mereka gegap
gempita menggema di langit.

Di saat itu Said bin Amir melihat Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang salib dan
berkata, “Ya Allah. balaslah mereka satu persatu, bunuhlah mereka sampai habis dan jangan biarkan
seorang pun dari mereka hidup dengan aman.”

Akhirnya Khubaib pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan tidak ada seorang pun yang mampu
melindunginya dari tebasan pedang dan tusukan tombak orang-orang kafir.

Orang-orang Quraisy kembali ke Makkah, mereka melupakan Khubaib dan kematiannya bersama
dengan datangnya peristiwa demi peristiwa besar yang mereka hadapi.

Namun tidak dengan anak muda yang baru tumbuh ini, Said bin Amir, Khubaib tidak pernah terbenam
dari benaknya sesaat pun.

“Wahai Umar.” Pada saat itu Umar mengundang Said untuk mendukungnya. mementingkan ridha Allah dan pahalaNya di atas segala keinginan jiwa dan hawa nafsu. Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bakwa kehidupan sejati adalah jihad di jalan akidah yang diyakininya sampai maut Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa iman yang terpancang kuat bisa melahirkan dan menciptakan keajaiban-keajaiban. “Aku akan menetapkan gaji untukmu. Said bin Amir al-Jumahi berhijrah ke Madinah tinggal bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. berdiri di depannya ketika dia shalat dua rakaat dengan tenang dan tenteram di depan kayu salib. Khubaib mengajarkan kepadanya perkara lainnya. Demi Allah. “Wahai Umar. dia berkata. membayangkannya dalam khayalannya ketika dia terjaga. bencilah untuk mereka apa yang kamu benci untuk dirimu dan keluargamu. aku menyerahkan kota Himsh kepadamu. yaitu seorang laki-laki yang dicintai sedemikian rupa oleh para shahabatnya adalah seorang nabi yang didukung oleh kekuatan dan pertolongan langit. Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum. maka dia khawatir sebuah halilintar akan menyambar atau sebuah batu dari langit akan jatuh menimpanya.” Maka Said menjawab.” Umar mengangkat Said sebagai gubernur Himsh. dia berkata.” Maka Umar marah. Pada saat itu Allah Ta’ala membuka dada Said bin Amir kepada Islam.” Maka Umar menjawab. Janganlah kata-katamu menyelisihi perbuatanmu. Said bin Amir hidup sebagai contoh menawan lagi mengagumkan bagi setiap mukmin yang telah membeli akhirat dengan dunia. “Siapa yang mampu melakukannya wahai Said?” Said berkata. aku memohon kepadamu dengan nama Allah agar mencoret namaku. maka dia berdiri di hadapan sekumpulan orang banyak. Dua orang khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenal kejujuran Said radhiyallahu ‘anhu. aku tidak akan membiarkanmu. “Celaka kalian. Said mendengar bisikan suaranya di kedua telinganya ketika dia berdoa atas orang-orang Quraisy. karena kata-kata yang baik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan. mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari dosa-dosa dan kejahatan- kejahatan orang Quraisy. “Wahai Said. menanggalkan berhala-berhala dan patung-patung menyatakan diri sebagai seorang muslim. cintailah untuk mereka apa yang kamu cintai untuk dirimu dan keluargamu. Said datang kepada Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu & di awal khilafahnya. dan ketakwaannya. Wahai Umar. ikut bersama beliau dalam perang Khaibar dan peperangan lain sesudahnya. keduanya mendengar nasihatnya dan mencamkan kata-katanya. peristiwa kematian Khubaib mengajarkan sesuatu kepada Said persoalan besar yang belum dia ketahui selama ini. 2 Said melihatnya dalam mimpinya ketika dia tidur. perhatikanlah orang-orang di mana Allah Ta’ala menyerahkan perkara mereka kepadamu dari kalangan kaum muslimin yang dekat maupun yang jauh. kalian meletakkan perkara ini di pundakku kemudian kalian berlari dariku. Said bin Amir tetap menjadi sebilah pedang yang terhunus di tangan para khalifah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam . Umar berkata. aku berpesan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah dari manusia clan jangan takut kepada manusia dari Allah. Manakala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia dipanggil menghadap keharibaan Rabbnya dalam keadaan ridha. Umar bertanya kepadanya.” . hadapilah kesulitan- kesulitan untuk menuju pada kebenaran dan jangan takut karena Allah terhadap celaan orang-orang yang mencela. “Hal itu bisa dilakukan oleh orang-orang sepertimu yang Allah Ta’ala serahi perkara umat Muhammad dan di antara dia dengan Allah tidak terdapat seorang pun.

Umar berkata.” Aku berkata. Said bertanya. ‘Apa yang lebih besar?” Said menjawab. “Dia tidak keluar kepada kami kecuali ketika slang sudah naik. sebuah fitnah telah menerpa rumahku.” Istrinya bertanya. aku memohon kepada Allah agar dugaanku kepadanya selama ini tidak salah. “Benar. Said melihatnya dan ternyata isinya adalah dinar.” Said pun berangkat ke Himsh menunaikan tugasnya. Istrinya datang tergopoh-gopoh dengan penuh kecemasan. kota ini juga dikenal dengan Kuwaifah. Umar bertanya. aku berkata. “Apa keluhan kalian terhadap gubernur kalian”” Mereka menjawab. “Engkau harus berlepas diri darinya. “Apa yang terjadi wahai Said? Apakah Amirul Mukminin wafat?” Said menjawab. “Ya. dia berkata. Tidak lama berselang. “Dunia datang kepadaku untuk merusak akhiratku. “Sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin mengirimkan harta ini agar kamu bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu. Ketika Umar tiba di Himsh. aku sangat percaya kepadanya. bentuk kecil dari Kufah. ‘Apa yang aku lakukan dengan gaji itu wahai Amirul Mukminin? Pemberian dari Baitul Maal kepadaku melebihi kebutuhanku. di dalamnya tercantum nama fulan dan fulan serta Said bin Amir.” Seolah-olah Said sedang ditimpa musibah besar atau perkara berat. memasukkannya ke dalam kantongkantong dan membagi-bagikannya kepada kaum muslimin yang miskin. yang satu lebih besar daripada yang lain. 3 Said menjawab. Ketika mereka dengan gubernur mereka berada di hadapanku. Umar bin al-Khatthab datang ke negeri Syam untuk mengetahui keadaannya. “Bagaimana dengan gubernur kalian?” Maka mereka mengadukannya dan menyebutkan empat hal dari sikapnya.” Istrinya berkata. ketika Umar tiba di sana. Umar berkata kepada mereka.” Umar menegaskan. Tidak berselang lama setelah itu. “Lebih besar dari itu. “Gubernur kalian miskin?” Mereka menjawab. orang-orang Himsh bertemu dengan Umar untuk memberi salam kepadanya. “Siapa Said bin Amir?” Mereka menjawab. kota Himsh disamakan dengan Kufah karena banyaknya keluhan penduduknya terhadap para Gubernurnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang Kufah. Amirul Mukminin Umar bin Khatthab didatangi oleh orang-orang yang bisa dipercaya dari penduduk Himsh.” Dia belum mengerti apa pun terkait dengan perkara dinar tersebut. Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya. “Maka aku mengumpulkan mereka dengan pribadi Said sebagai gurbernur mereka dalam sebuah majelis. maka dia menyingkirkannya seraya berkata.” Delegasi pun pulang dan mendatangi rumah Said dengan menyerahkan kantong dari Umar bin Khatthab. di rumahnya tidak pernah dinyalakan api dalam waktu yang cukup lama. “Kamu bersedia membantuku?” Istrinya menjawab.” Maka Said mengambil dinar itu. kemudian dia mengambil seribu dinar dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong.” Mereka menulis dalam sebuah lembaran. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata.” Maka Umar radhiyallahu ‘anhu menangis hingga air matanya membasahi janggutnya. “Tulislah nama penduduk miskin dari Himsh agar aku bisa membantu mereka. “Gubernur kami. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. “Apa jawabanmu wahai Said?” .

kita lebih memerlukan hal itu. “Apa ini wahai Said?” Said menjawab. kemudian aku menunggunya beberapa saat sampai ia mengembang. kemudian aku berwudhu dan keluar untuk masyarakat. aku pun berkata kepada mereka. “Apa yang kalian keluhkan darinya juga?” Mereka menjawab.” . aku juga malu mengatakan hal ini. akan tetapi memang harus dikatakan. aku melihat orang-orang Quraisy mencincang jasadnya sambil berkata kepadanya.” Istrinya bertanya. Istrinya melihatnya. kemudian aku membuat roti untuk mereka. baru kemudian aku keluar di sore hari. “Setuju dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. ‘Apa maksudmu?” Said menjawab. “Terkadang ia jatuh pingsan sehingga tidak ingat terhadap orang-orang di sekitarnya.” Aku bertanya kepada Said. aku tidak ingin berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan tenang sedangkan Muhammad tertusuk oleh sebuah duri. “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab.” Aku bertanya. dan menunggu sampai kering. Aku mencucinya sekali dalam sebulan. dia pun berkata. “Aku menyaksikan kematian Khubaib bin Adi ketika aku masih musyrik.” Aku bertanya.” Saat itu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata. Keluargaku tidak mempunyai pembantu. “Kita berikan kepada Allah dengan cara yang baik.” Umar berkata. aku sebenarnya tidak suka mengatakan hal ini. “Apa ini wahai Said?” Said menjawab. “Demi Allah.” Kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu memberinya seribu dinar agar dia gunakan untuk memenuhi kebutuhannya. aku pun tidak memiliki pakaian selain yang melekat di tubuhku ini. “Aku tidak mempunyai pelayan wahai Amirul Mukminin. “Dia tidak keluar kepada kami satu hari dalam sebulan. yakni ketika aku membiarkannya dan tidak menolongnya sehingga aku senantiasa dikejar ketakutan bahwa Allah tidak akan mengampuniku. “Demi Allah. maka aku pun pingsan. Aku telah memberikan siang bagi mereka. “Dia tidak menerima seorang pun di malam hari. “Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?” Mereka menjawab.” Said berkata kepadanya. ‘Apa itu?” Said berkata. “Kita memberikannya kepada siapa yang membawanya kepada kita. ‘Demi Allah. “Segala puji bagi Allah yang membenarkan dugaanku kepadamu.” Kemudian aku bertanya. belilah kebutuhan kami dan ambillah seorang pelayan.’ Demi Allah setiap aku teringat hari itu. 4 Said diam sesaat kemudian berkata. Setiap pagi aku menyiapkan adonan mereka. sedangkan malam maka aku memberikannya kepada Allah Aku bertanya. ‘Apakah kamu ingin Muhammad ada di tempatmu ini? Lalu dia menjawab. “Apakah kamu mau aku tunjukkan kepada yang lebih baik dari itu?” Istrinya balik bertanya. “Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami dari pelayananmu.” Istrinya berkata. “Apa jawabanmu wahai Said?” Said berkata.

Abdurrahman Ra’fat Basya. “Berikanlah ini kepada janda fulan. berikanlah ini kepada keluarga fulan.13-18 Artikel: www.’ Sumber: Buku ”Mereka Adalah Para Shahabat. 5 Said tidak meninggalkan majelisnya hingga dia membagi dinar tersebut di beberapa kantong. lalu dia berkata kepada salah seorang anggota keluarganya. Hal. Penerbit at-Tibyan. dia termasuk orangorang yang mementingkan saudaranya sekalipun dia sendiri memerlukan. berikanlah ini kepada anak-anak yatim fulan. Dr.KisahIslam. berikanlah ini kepada orang-orang miskin dari keluarga fulan.” Semoga Allah meridhai Said bin Amir al-Jumahi.net .

. Sa'id berangkat ke Homs bersama istrinya. Sa'id berkata. Tetapi ketika jabatan ini ditawarkan kepadanya. "Kalian tidak mengenalinya. Ia tampak tidak mengerti dan bingung. Setelah beberapa bulan berlalu menduduki jabatan gubernur (Amir). dan memang tidak ada pilihan lain seperti apa yang disampaikan Umar. hanya saja belum bisa segera diambil atau dicairkan. dengan tegas Umar menjawab. dan istrinya menangkap isyarat itu. setelah kalian memba'iat dan membebani saya dengan amanat dan kekhalifahan ini…. "Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah. . menyetujui usul suaminya tersebut. Tetapi seperti yang pernah dikatakan Umar bin Khaththab. kemudian membeli persediaan dan keperluan hidup keluarganya untuk beberapa waktu lamanya. dan menyimpan sisanya sebagai tabungan. Sa'id pergi sambil membawa uang tersebut ke pasar. dan secara ekonomi keluarga mereka mulai mantap. Ia tidak berdusta. dan keuntungannya makin banyak. karena mereka memang tidak memiliki uang dan bekal sendiri yang cukup untuk bisa sampai ke Homs.. Akhirnya istrinya itu bertanya lagi dan mendesak Sa'id untuk menjelaskannya. ia tidak pernah tertinggal dalam mengikuti peperangan bersama Rasulullah SAW. bahwa kita tidak akan pernah merugi!!" "Baiklah kalau begitu!" Kata istrinya. sementara saat itu ada kerabatnya yang tahu bahwa Sa'id tidak mempunyai usaha perdagangan yang dijalankan orang lain.!!" Mendengar jawaban tersebut. karena tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh Umar. "Maukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rencanamu itu…!!" Setelah istrinya mengiyakan. bahwa harta tersebut memang dibelanjakan atau diperniagakan di jalan Allah. apalagi ia hanyalah dari golongan miskin. tetapi Allah dan para malaikat mengenali mereka…." Pada masa khalifah Umar-lah namanya mulai dikenal. "Tidak. Bahkan banyak di antara mereka yang tidak dikenali secara umum. Sebaiknya kita minta seseorang menggunakannya sebagai modal. demi Allah saya tidak akan melepaskan anda! Apakah kalian hendak meninggalkan saya. istrinya menanyakan hal yang sama. kota kedua terbesar di Syam (Syiria) setelah Kufah. nama dan ketinggian akhlak serta sikap kepahlawanannya. Sa'id berkata. yang sebenarnya mereka masih pengantin baru. dibagi-bagikan fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Sejak keislamannya.!!" Walaupun sebenarnya ingin tetap menolak. Sa'id bisa diyakinkan untuk memegang jabatan tersebut. Ia memilih dari jenis yang paling sederhana dan murah. Ia bukan sosok yang menonjol walaupun memang memiliki keutamaan dan kesalehan. suka beribadah. Sa'id bin Amir didatangkan menghadap khalifah Umar. istrinya mengusulkan kepada Sa'id untuk membeli pakaian dan perlengkapan rumah tangga yang lebih baik. keuntungannya akan jauh lebih besar dan bermanfaat bagi mereka berdua di akhirat kelak. 6 Sa'id bin Amir RA Sa'id bin Amir RA adalah seorang sahabat Muhajirin. pilihannya jatuh kepada Sa'id bin Amir. yang memeluk Islam beberapa waktu sebelum terjadinya perang Khaibar. Mendengar saran istrinya tersebut. seperti halnya kebanyakan sahabat-sahabat Nabi SAW yang tidak terekspose keutamaannya. zuhud dari dunia untuk memegang jabatan-jabatan di wilayah baru Islam yang mulai meluas." "Bagaimana kalau perdagangannya rugi?" Tanya istrinya "Aku akan menyediakan borg atau jaminan untuk itu. tetapi kota Damsyik. Sa'id pun tertawa. Termasuk Sa’id bin Amir ini. Sisa uangnya yang masih banyak. tentu keuntungannya lebih besar…. Umar memberikan perbekalan secukupnya kepada mereka berdua. ya Amirul Mukminin. "Kita berada di suatu negeri yang perdagangan dan jual belinya amat pesat berkembang. kemudian menjelaskan apa adanya. Sa'id mengatakan kalau semuanya lancar-lancar saja. Sebagian riwayat menyebutkan bukan kota Homs. Sa’id berkata. Pada suatu ketika. Ketika Umar memecat Muawiyah sebagai amir (gubernur) kota Homs. Istrinya adalah seorang wanita yang cantik dan wajahnya selalu berseri-seri. sering sekali istrinya menanyakan tentang perdagangan dan keuntungannya. Beberapa bulan berlalu. karena Umar selalu memilih orang-orang saleh.

"Aku mempunyai kawan-kawan yang telah terlebih dahulu menemui Allah. Ke empat. Khubaib bin Adi al Anshari dianiaya dan akan dibunuh oleh orang Quraisy. Sebagian besar mereka memuji kepemimpinan Sa'id. hanya saja mereka mempunyai empat keluhan. Saat itu sahabat Nabi SAW. ia jadi gemetar karena takut akan diazab Allah karena sikap diamnya itu. Tetapi justru karena itu ia tidak punya pengganti jika dicuci. sekaligus menunjukkan kepada masyarakat Homs. "Wahai istriku yang cantik. tidak jauh berbeda dengan sikapnya sendiri. saya akan menjelaskannya. dan harus menungguinya sampai kering. untuk menguatkan dan membenarkan firasatnya. Mengenai ia tidak mau melayani di malam hari. setiap bulannya. mengenai ia tidak mau keluar sebelum matahari telah tinggi. Suatu ketika Umar melakukan kunjungan ke Homs untuk mendengar pendapat warganya. dan akhirnya menemukan sosok Rasulullah SAW dan para sahabat beliau yang telah mendahuluinya. Kalaupun bisa keluar. tetapi memang berkah Allah telah meliputi keluarga mereka. ia berkata kepada istrinya. lagi-lagi masalahnya karena ia tidak mempunyai dan tidak menginginkan adanya pelayan dalam rumahnya. Dalam dua hari tersebut digunakannya untuk mencuci pakaian-pakaiannya yang sebenarnya tidak terlalu banyak. 7 Istrinya menangis penuh sesal. siang harinya disediakan untuk melayani masyarakat dan malam harinya khusus untuk mengabdi kepada Allah. sudah saat senja hari atau bahkan tidak keluar sama sekali dalam dua hari tersebut. tipikal seperti apa sahabat Nabi SAW yang memimpin mereka itu. dalam dua hari ia tidak mau menemui warganya sama sekali. terkadang tiba-tiba ia jatuh pingsan tanpa tahu sebabnya. dan air mata yang membasahi wajahnya makin menambah kecantikannya saja. bukankah engkau tahu bahwa di surga itu banyak gadis-gadis yang cantik dengan matanya yang jeli memikat. ia mempersilahkan Sa'id untuk menjelaskan langsung tentang keluhan masyarakat tersebut. Ia berkata tegas. dan ia tidak mengelak bahwa ia sangat mencintai dan takut kehilangan istrinya itu. jika memang terpaksa. seandainya satu orang saja menampakkan wajahnya di bumi. Ia melihat bagaimana tubuhnya dibawa dengan tandu. mengapa hal tersebut terjadi? Tetapi karena kalian telah memaksa saya. "Sesungguhnya saya tidak ingin dan tidak suka menyebutkan alasan-alasannya. Sebenarnya Umar telah mengetahui atau mendapat firasat tentang jawaban Sa'id. Sa'id sendiri yang mengaduk tepung. semoga Allah SWT mengampuni dan memaafkan saya…. Kemudian tubuhnya disalib dan dibunuh. Baru setelah itu ia shalat dhuha dan keluar menemui masyarakat yang membutuhkannya. sama sekali tidak ada tersirat keinginan untuk memberikan pertolongan kepada Khubaib. Setiap ingat peristiwa tersebut dan ia hanya berpangku tangan saja. tidak lain adalah pengalamannya di masa jahiliah ketika ia belum memeluk Islam. ia tidak mau melayani pada waktu malam hari. Namun demikian. karena pada dasarnya. Ke tiga. dan itu lebih logis dan utama. karena keluarganya tidak memiliki dan memang tidak ingin memiliki pelayan. yakni : Pertama. sehingga istrinya bisa menerima kenyataan ini. dan aku tidak ingin menyimpang dari jalan mereka walau ditebus dengan dunia dan segala isinya…" Kemudian untuk menegaskan sikap dan pendiriannya. . Sa'id berdiri di depan mereka dan berkata. niscaya terang benderang-lah seluruh bumi. Ke dua. Tetapi mata batinnya jauh menerawang. Ia sadar tidak ada jalan yang lebih utama daripada mengikuti jalan yang dipilih suaminya. dan tanpa sadar ia telah jatuh pingsan. mengendalikan diri dengan sifat zuhud dan ketakwaan. Bukankah sudah cukup adil (dalam penafsiran dan ijtihad Sa'id). sikap dan perilaku Sa'id dalam menghadapi dunia dan seluk-beluknya. karena waktu malam hari tersebut ia mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah. Sa'id hanya menemui warganya untuk melayani jika matahari sudah tinggi. mengalahkan sinar matahari dan bulan…. mengeramnya beberapa saat sebelum akhirnya membuat roti untuk sarapan mereka sekeluarga. Mengenai ia tiba-tiba pingsan. sementara dagingnya diiris dan dipotong.Maka. Sa'id menyadari godaan kecantikan istrinya tersebut. tidak mengapa aku mengorbankan dirimu (meninggalkanmu) untuk mendapatkan mereka. Mengenai dua hari dalam satu bulan ia tidak keluar." Mulailah Sa'id menjelaskan. daripada harus mengorbankan mereka hanya untuk mempertahankan dirimu menjadi istriku!!” Sa'id telah memasrahkan segalanya kepada Allah.

yakni setelah Rasulullah SAW bersabda : Allah SWT akan menghimpun manusia untuk dihadapkan ke pengadilan. Umar tidak bisa menahan diri. benarlah firasatku. Maka datanglah orang-orang miskin yang beriman. "Alhamdulillah. tanpa dihisab…. karena taufiq Allah. Sa'id menjawab dengan mengutip sabda Nabi SAW. 8 Setelah memberikan penjelasan tersebut. mereka maju berdesak-desakan menuju surga tak ubahnya kawanan burung merpati.!" Beberapa orang sahabat dan kerabatnya menasehatinya untuk memberikan kelapangan belanja untuk keluarganya dan juga kerabat istrinya.' Maka masuklah mereka ke dalam surga sebelum orang lain memasukinya. ia berurai air mata hingga membasahi wajah dan janggutnya. 'Kami tidak punya apa-apa untuk dihisab. sambil berseru gembira bercampur haru. ia memeluk dan mencium kening Sa'id. Atas saran seperti ini. karena penghasilannya memang memungkinkan untuk merealisasikannya. "Saya tidak ingin ketinggalan dari rombongan pertama. 'Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan (hisab)!!' Mereka menjawab." . dan benarlah pilihanku kepadamu…. Lalu ada Malaikat yang berseru kepada mereka. 'Benarlah hamba-hambaKu itu….' Maka Allah berfirman.