ARTICLE SUMMARY

PROTEIN ENERGY MALNUTRITION DECREASES IMMUNITY AND INCREASES
SUSCEPTIBILITY TO INFLUENZA INFECTION IN MICE

Dalam rangka penugasan Mata Kuliah Pilihan (MKP) Nutrition and Immunity 2017

Disusun oleh:

Fernaldi Nugraha

145070307111010

JURUSAN GIZI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017

PEM adalah bentuk malnutrisi paling fatal di negara-negara berkembang.1093/infdis/jis527 RINGKASAN  Pendahuluan Virus influenza merupakan salah satu wabah pandemik yang mudah menular. penting untuk memahami faktor risiko yang menyebabkan meningkatnya tingkat keparahan penyakit infeksi influenza. sehingga penanggulangan yang tepat dapat diidentifikasi untuk semua kelompok usia di seluruh dunia. Keyur P. and Shivaprakash Gangappa (Influenza Division. Sangat sedikit penelitian yang membahas relevansi PEM sebagai faktor risiko influenza. sebagai salah satu faktor risiko utama untuk sejumlah penyakit menular. National Center for Immunization and Respiratory Diseases). Centers for Disease Control and Prevention. lebih dari 150 juta anak berusia <5 tahun . Virus avian influenza A (H5N1) yang sangat patogen pada unggas domestik dan manusia menyebabkan kekhawatiran mengenai munculnya virus pandemi yang dapat menyebabkan tingkat kesakitan dan kematian yang tinggi. meskipun sebelumnya telah terdapat penelitian yang membahas aspek kekurangan gizi dapat berpengaruh pada virus patogen dalam sistem pernapasan.207:501-510 (D0I : 10. dikaitkan dengan peningkatan risiko infeksi itu sendiri. Malnutrisi. Malnutrisi energi protein (PEM). Sherif R. namun belum ada yang meneiliti terkait efek kekurangan energi protein (KEP) pada infeksi flu. Oleh karena itu. Suryaprakash Sambhara. termasuk influenza. penyebab umum defisiensi imun sekunder pada anak-anak. Oleh karena itu. Wun-Ju Shieh. Jacqueline M. Atlanta. National Center for Immunization and Respiratory Diseases) Lembaga penulis : Oxford University Press untuk kepentingan Infectious Diseases Society of America 2012 Identitas Jurnal : The Journal of Infectious Diseases 2013. penting untuk kita memahami konsekuensi malnutrisi terhadap morbiditas dan mortalitas yang terkait dengan infeksi influenza. Juan De La Cruz (Influenza Division. Zaki (Divison of High Consequence Pathogens and Pathology. Weiping Cao. Georgia). Taylor. Katz.Judul Penelitian : Protein Energy Malnutrition Decreases Imunity And Increases Susceptibility To Influenza Infection In Mice Nama penulis : Andrew K. banyak terjadi di negara- negara berkembang. Vora. National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases.

Ditemukan bahwa KEP berdampak buruk pada respon imun yang menurun sehingga mudah terinfeksi virus flu. peneliti menggunakan model tikus untuk mengetahui dampak dari PEM pada infeksi virus influenza A. Tikus diberi anestesi dengan 2.Tikus dipasangkan guna mengkonfirmasi konsumsi pakan yang sebanding. Penambahan energi protein dapat mengembalikan kekebalan tubuh dan menyembuhkan influenza.buffered saline (PBS). yakni kwasiorkor dan marasmus. terjangkit di seluruh dunia. 2% very low protein [VLP] terhadap infeksi dari penyapihan dengan salah satu laboratorium (A/PR/8/34 [A/PR8]) atau 2009 H1N1 wabah virus influenza (A/Mexico/4108/2009 [A/Mex]).  Metodologi penelitian Penelitian ini menggunakan percobaan eksperimental menggunakan material sebagai berikut: Tikus dan Diet Tikus betina berusia empat minggu C57BL / 6 tikus secara acak diberi diet isokalorik yang mengandung 18% (AP diet). Terdapat 2 jenis PEM. kedua zat gizi tersebut tidak terpenuhi sebagaimana mestinya.2. Dalam jurnal ini diterangkan peneliti melihat efek dari 2 suplementasi diet isocaloric dengan level energi protein yang berbeda (18%. 3 minggu kemudian diselidiki respon mereka terhadap infeksi virus influenza. setelah 3 minggu diberi makan makanan percobaan masing-masing (AP dan VLP) ke tikus. atau 2% (VLP diet) protein. Virus dan Infeksi Influenza virus A / PR8 dan A / Mex diperbanyak dalam 10 telur ayam embrio berumur satu hari dan disimpan pada suhu -80 ° C. adequate protein [AP].50. Komposisi dan kandungan kalori untuk diet yang digunakan dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel Supplementary 1. atau 100 dosis infeksi tikus [MID50]) yang diencerkan dalam fosfat.2-tribromoethanol dengan Tert-amil alkohol sebelum inokulasi intranasal dengan virus (25. Namun pada marasmus. Kwarsiorkor disebabkan karena kekurangan protein meskipun asupan energinya terpenuhi. peneliti menambahkan kelompok tikus VLP tambahan dengan diet AP (selanjutnya disebut diet protein suplemen) dan. . Untuk percobaan pelepasan protein.

dipotong. 2.1 digunakan antibodi. Alexa Fluor 700-anti-CD45. Setelah 72 jam. dan paru dikumpulkan dalam formalin buffering 10% netral. dan APC Cy7-anti-NK1.5 mL Serum bovine fetal. Pengenceran serum menunjukkan penghambatan hemaglutinasi utuh sebagai titer HI. 6. FITCanti. dianalisis . Secara singkat.setelah stimulasi in vitro 106 splenocytes dengan 0.Estimasi Titer Virus Paru Paru-paru yang dikumpulkan pada hari ke 3. sampel dipindahkan ke etanol 70%. Pacific Blue-CD11b. 25 μL PBS diitambahkan ke 96 piring sumber yang mengandung 25 μL perlakuan sampel serum RDE. Cairan allantoic dari telur yang diinokulasi ditambahkan ke sumber yang mengandung 0. Virus spesifik Sel CD8 + T dan interferon intraselular γ (IFN-γ).5% sel darah merah kalkun di PBS. Ditambahkan dan diinkubasi pada suhu kamar selama 30 menit.Ly6G. Flow Cytometry Suspensi sel tunggal disiapkan dari jaringan tikus berikut dengan infeksi influenza pada jaringan limpa dan paru-paru dicerna dengan pengobatan kolagenase tipe-1 (pengenceran 1: 4) dan dijadikan suspense sel tunggal di buffer MACS (500 mL fosfat-buffered saline.5 EID50 / mL). Histopatologi Pada hari ke 6 pasca infeksi. dan 12 pasca-infeksi dihomogenisasi di PBS dan dititrasi dalam telur untuk mengetahui infektivitas virus (Batas deteksi. menggunakan saringan sel.5-anti-CD3. 2 mL EDTA). Untuk analisis sel NK dan infiltrasi neutrofil di jaringan paru.1 MOI virus selama 3 hari. 101.5% sel darah merah kalkun. PerCP-Cy5. 9. 3 tikus per kelompok di sacrified . dan diwarnai dengan hematoxylin dan eosin. Titer virus dihitung dengan metode Reed dan Muench dan dinyatakan sebagai Log log 10 EID50 / mL ± SEM Penghambat Inhibisi Hemaglutinasi Sampel serum diobati dengan enzim penghancur reseptor (RDE) dan diuji reaktivitas terhadap virus menurut standar penghambatan hemaglutinasi (HI) dengan 0.

Semua perbedaan dianggap signifikan secara statistik bila nilai P adalah ≤. Uji Mann-Whitney U digunakan untuk menentukan signifikansi di antara titer antibodi (HI). Analisis varians 2 arah (ANOVA) digunakan. dengan menggunakan kompleks pentamerik. titer virus. Ketidakmampuan untuk bertambahnya berat badan dan rendahnya serum leptin. konsentrasi serum leptin diukur dengan menggunakan kit immunosorbent enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) Analisis statistik Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak GraphPad Prism 5. Data disajikan sebagai mean ± SEM. pada semua data morbiditas yang disebabkan virus. 50 or 100 MID50. Selanjutnya untuk memastikan kerentanan KEP terhadap infeksi virus influenza . Uji Logrank (Mantel-Cox) digunakan untuk membandingkan persentase kelangsungan hidup di antara kelompok tikus.  Pembahasan Diet rendah protein meningkatkan angka kematian pada tikus yang terinfeksi dengan tekanan laboratorium atau terisolasi 2009 H1N1 Influenza Peneliti menggunakan tikus yang telah disapih untuk mengetahui efek diet KEP pada infeksi virus influenza. Hasil yang didapatkan adalah tidak terdapat perbedaan level serum leptin sebelum maupun setelah . sedangkan yang mengkonsumsi VLP tidak berhasil mencapai pertumbuhan yang seimbang. Hasilnya menunjukkan bahwa grup tikus yang mengkonsumsi AP mengalami peningkatan berat badan. Uji t digunakan untuk menganalisis perbedaan antara perlakuan untuk konsentrasi serum leptin. ELISA Setelah protokol pabrikan.05. Sekitar 105 sel diperoleh dan dianalisis pada flowchometer LSRII. merupakan 2 tanda dari KEP yang diukur selama 4 minggu pemberian makan. dan flow cytometry. Data dianalisis dengan software FlowJo. peneliti menginfeksi tikus pada masing-masing grup diet dengan virus indluenza A (A/PR8. Pada saat awal pemberian makanan dengan masing masing menggunakan diet AP dan VLP. A/Mex.0. Serum leptin juga tergambarkan rendah pada tikus dengan diet VLP. bersamaan dengan uji pos Bonferonni. 100 MID50) lalu melihat efek morbiditas dan kematian yang ditimbulkan.

Sedangkan tikus yang menjalani diet VLP menunjukkan tingginya titer virus untuk A/Mex pada hari ke 9 pasca terinfeksi dan terus meningkat dari kedua jenis virus pada hari ke 12 pasca terinfeksi. Untuk mengetahui pengaruh KEP terhadap inflamasi pada sistem pernafasan. Pada tikus yang mendapatkan diet VLP dan berespon infeksi dengan A/PR8 ataupun A/Mex menunjukkan kematian yang lebih tinggi dibandingkan tikus dengan diet AP. tikus yang diberi makan diet VLP dan terinfeksi A / PR8 gagal menunjukkan apapun baik peningkatan jumlah splenosit atau proporsi Sel B dan T. maka peneliti mengukur ketidak mampuan filtrasi neutrophil yang merupakan sel lunci untuk mengatur inflamasi pada hosts yang terinfeksi influenza. Setelah infeksi A / PR8. peneliti melakukan analisa pada jaringan paru pada hari ke 6 pasca terinfeksi dikedua grup tikus. Diet Protein Rendah mengurangi Antibodi Virus-Spesifik dan Sel CD8 + T Spesifik pada tikus yang terinfeksi virus Influenza Peneliti mengamati kematian lebih tinggi. Sebaliknya. secara signifikan kurang dari AP Diet diberi makan tikus pada 30 hari pasca infeksi. jumlah splenosit meningkat di kelompok tikus AP diet pada hari ke 30 pasca infeksi dibandingkan dengan tikus naif. Pada kedua grup tikus terlihat bahwa terdapat inflamasi karena luka mengikuti infeksi dengan masing masing jenis virus (A/PR8 dan A/Mex). Hasilnya dikemukakan bahwa tikus dengan diet VLP memiliki pesentase neutrophils yang tinggi terhadap respon infeksi virus. Respon terhadap infeksi A / PR8 atau A / Mex. Kelompok tikus VLP. menunjukkan persentase influenza yang lebih rendah .terinfeksi. tipe innate immune cell yang diketahui unruk mensekresi interferon γ (IFN-γ) sebagai sitokin antivirus kunci selama awal tahapan infeksi. Agar merepresentatifkan secara jelas. antara tikus yang diberi makan diet AP dan VLP mengalami penurunan yang signifikan dalam persentase sel B. Hasilnya menunjukkan bahwa tikus yang menjalani diet AP menolak di titer virus pada hari ke 9 pasca infeksi dan mebersihkan virus secara efisien pada hari ke 12 pasca infeksi. Diet rendah protein menuntun pada pelemahan pembersihan virus dan memperparah inflamasi sel terhadap pernapasan pada tikus yang terinfeksi virus Influenza A Untuk mengetahui efek KEP pada pada fungsi pembersihan virus dan respon antivirus di sistem pernapasan. peneliti memperhatikan titer virus pada jaringan pernapasan di masing masing grup diet tikus yang dibandingkan pada hari ke 3 dan 6 setelah terkena infeksi. serta penurunan nilai di clearance virus. Disfungsional dalam pembersihan virus pada tikus yang mengkonsumsi diet VLP juga menunjukkan penurunan yang signifikan pada presentase Natural Killer (NK) cell. titer HI serum dalam diet VLP yang diberi makan tikus. Terutama.

titer virus paru di Kelompok SP berkurang secara signifikan dibandingkan dengan Kelompok tikus VLP dan. bila dibandingkan dengan tikus yang dipelihara pada diet AP meskipun ada persentase sebanding dari subset sel T.yang berimbas kematian Suplementasi gizi bisa menjadi strategi yang efektif. sebanding dengan yang diamati pada tikus makan diet AP. Lebih penting lagi. peneliti memeriksa konsekuensi KEP terhadap infeksi virus influenza A pada tikus. dan 30 postinfeksi. Penyediaan nutrisi seimbang secara memadai dapat membantu dengan modulasi imunitas melawan infeksi. baik sebagai pendekatan pendukung atau ajuvan. Pada hari ke 9 pasca infeksi. Peneliti menemukan bahwa infeksi pada tikus yang mengekspresikan tanda-tanda makanan (VLP) - . setelah terinfeksi. Selanjutnya. untuk promosi pencegahan penyakit. mortalitas.  Kesimpulan dan saran KEP. faktanya. Peneliti menemukan bahwa jumlah Virus influenza NP-specific splenic CD8 + sel T dipanen pada hari ke 8 dan 15 postinfeksi dan restimulasi in vitro secara signifikan lebih tinggi pada kelompok SP dibandingkan dengan tikus yang diberi makan dengan diet VLP Subset sel T CD4 + dan CD8 + dipanen dari kelompok tikus SP pada hari ke 8. kelompok SP menunjukkan penurunan morbiditas yang signifikan dan kelangsungan hidup membaik bila dibandingkan dengan kelompok tikus VLP. data ini menunjukkan bahwa suplementasi protein tikus yang semula menerima perlakuan diet kekurangan protein. Kelompok tikus mulai mendapatkan berat badan segera setelah diet mereka berubah. Untuk menguji hipotesis tersebut dalam percobaan penelitian ini didapatkan temuan infeksi dengan A / PR8 dan A / Mex menyebabkan peningkatan morbiditas. dan perubahan tanda respons imun bawaan dan adaptif. Titer serum HI pada kelompok SP tikus pada hari ke 30 pasca infeksi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan tikus yang diberi makan diet VLP namun sebanding dengan yang diamati untuk tikus diberi makan makanan AP. Penambahan suplemen pasien KEP dengan Diet Level Protein Tinggi pada KEP yang berhubungan dengan defisit imun dan penurunan insiden virus influenza. 15. Akhirnya. peneliti menyelidiki efek suplementasi protein pada respon imun adaptif terhadap infeksi virus influenza. 15. Secara keseluruhan. khususnya di negara berkembang. merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi mikro yang paling umum. dan 30 hari pasca infeksi dan restimulasi secara in vitro disekresikan secara signifikan tingkat IFN-γ yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tikus VLP. hanya infeksi virus A / PR8 yang digunakan untuk percobaan suplementasi protein berikut. Pada artikel ini. kemampuannya menghasilkan yang sesuai respon imun adaptif dapat berubah membaik. KEP meningkatkan kerentanan terhadap beberapa penyakit menular. dengan sel CD8 + T spesifik NP pada hari ke 8.

Ada kemungkinan bahwa. dalam menghadapi KEP makanan. Dalam penelitian ini menemukan penurunan yang signifikan pada titer antibodi spesifik virus dan persen sel CD8 + T spesifik NP dalam kelompok tikus VLP yang terinfeksi virus A / PR8. KEP terutama. menghasilkan tingkat morbiditas dan mortalitas yang disebabkan virus yang lebih tinggi dibandingkan dengan tikus yang mendapat nutrisi yang memadai. Meskipun penelitian lain telah menetapkan dampak KEP terhadap kekebalan terhadap infeksi mikroba.yang diinduksi KEP. Penundaan dalam pembersihan virus di jaringan paru-paru kelompok tikus VLP mungkin bertanggung jawab atas peningkatan infiltrasi neutrofil dalam penelitian. yang menghasilkan kekebalan kekebalan virus influenza yang meningkat secara signifikan dan meningkatkan ketahanan hidup penderita. sebagai faktor risiko influenza. Secara keseluruhan. dengan strain laboratorium atau virus pandemik H1N1 2009. Meskipun sel T CD4 + yang ditemukan pada tikus yang diberi diet VLP menunjukkan penurunan produksi IFN-a yang relatif. tingkat protein dalam makanan AP yang digunakan dalam penelitian kami adalah 18%. kelompok yang dipelihara pada diet VLP masih menunjukkan tingkat substansial (sekitar 104EID50 / mL) virus di paru-paru. termasuk produksi antibodi HI spesifik virus. Yang terpenting. Dalam model tikus PEM. Kelompok tikus VLP juga menunjukkan gangguan pembersihan virus. dapat rusak dalam jumlah. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan peningkatan viral load dalam setting klinis dan model percobaan malnutrisi. efek ini dapat dibalik dengan menambahkan protein tambahan dalam makanan kelompok tikus VLP. Kami menemukan bahwa meskipun kelompok tikus yang diberi makan dengan diet AP pada dasarnya akan membersihkan virus pada hari ke 12 pasca- infeksi. pengolahan antigen dan / atau subset sel dendritik yang bertanggung jawab untuk sel T spesifik antigen priming. sebagaimana juga disarankan oleh penelitian lain. PenaCruz et al menemukan bahwa. tikus yang diberi diet protein 2% secara signifikan meningkatkan titer virus di paru-paru setelah infeksi virus. yang berada dalam kisaran yang direkomendasikan oleh Departemen Pertanian AS dan Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS untuk anak-anak berusia sampai 3 tahun. dan sel T yang menghasilkan IFN. masih sangat sedikit penelitian yang membahas relevansi malnutrisi. Selain itu. atau fungsinya. hasil penelitian menunjukkan beberapa defisit imun yang terkait dengan KEP dan menekankan terkait peran stimulasi kekebalan tubuh untuk suplementasi protein selama infeksi virus influenza. serta peningkatan inflamasi sel di paru-paru. sel CD8 + T (CD) spesifik influenza (NP). percobaan ini menentukan kemungkinan cacat pada subkumpulan sel . kelompok tikus VLP menunjukkan penurunan fungsi imun adaptif yang signifikan. perdagangan. dibandingkan dengan diet protein 20%. Dalam penelitian.

dendritik (DC konvensional dan DC plasmacytoid) di kelenjar getah bening tidak menunjukkan perbedaan mencolok antara kelompok tikus AP dan VLP. mengingat peran stimulasi kekebalan tubuh untuk suplementasi protein selama infeksi virus influenza merupakan hal penting. diharapkan dapat terus dikembangkan lagi dan dilakukan penelitian-penelitian selanjutnya agar khazanah tentang pengembangan suplementasi gizi yang baik. Saran dari hasil penelitian ini terkait KEP dan kaitannya dengan respon imun untuk peningkatan penyembuhan penyakit virus pandemik. penelitian yang membahas relevansi malnutrisi masih sedikit. . Meskipun penelitian lain telah menetapkan dampak KEP terhadap kekebalan terhadap infeksi mikroba.