PEDOMAN LINEN DAN LAUNDRY DI

RUMAH SAKIT

RUMAH SAKIT
2015

1

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan petunjuk-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Pedoman Pelayanan Linen dan Laundry
di Rumah Sakit ini sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Buku ini merupakan petunjuk teknis pelayanan dalam bidang Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi Rumah Sakit di unit Linen dan Laundry yang dapat digunakan
dengan mudah dan benar disesuaikan dengan perkembangan dan kebutuhan yang
terjadi.

Harapan kami menyelesaikan Pedoman Pelayanan Linen dan Laundry di Rumah
Sakit ini dapat membantu karyawan Rumah Sakit di Unit Linen dan Laundry dalam
menjalankan tugasnya sehari-hari.

Pedoman Pelayanan Linen dan Laundry di Rumah Sakit ini disusun dengan itikad
baik yang terkandung di dalamnya guna meningkatkan mutu pelayanan kami terhadap
pasien walaupun masih jauh dari sempurna. Namun tidak lupa kami mengharapkan
masukan kritik, dan saran yang membangun untuk perbaikan buku ini pada edisi
berikutnya.
Sekian dan terimakasih.

, 10 Juli 2015

2

... Kualifikasi Ketenagaan ………………………….................... Distribusi Ketenagaan ………………………………………………… 3 C. 2 C............ Fasilitas Unit………….......... Status Kesehatan…………………………………………………………. 18 BAB VIII PENGENDALIAN MUTU …………………………………… 20 BAB IX PENUTUP ……………………………………………………….... 5 A...... Peralatan dan Zat Kimia…………………………………………………..4 BAB III STANDART FASILITAS ………………………………………..... 16 BAB VI KESELAMATAN KERJA ……………………………………… 17 BAB VII KESELAMATAN PASIEN ……………………………………..6 BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN ……………………………… 7 BAB V LOGISTIK ……………………………………………………….1 B..... 5 B.......... 3 A....... 3 ..1 A. Pengaturan Jaga… ………………………………………… 4 D...3 B. Latar Belakang…………………………………………………………........................ 5 C...……………........ Manfaat…………………………………………………………………2 BAB II STANDART KETENAGAAN …………………………..………………........... Komite PPI RS DAFTAR ISI KATA PENGANTAR…........ i DAFTAR ISI…………………………………………………………………………..... ……………………………………….... ………………………………........ Tujuan…………………………………………………………………....... Sarana Fisik…………...... ii BAB 1 PENDAHULUAN…………………………………………........

Klasifikasi tersebut terdiri dari ahli manajemen. nyaman dan siap pakai. ahli sanitasi. perawat. seperti kemungkinan terjadinya pencemaran infeksi dan efek penggunaan bahan-bahan kimia. Untuk mendapatkan kualitas linen yang baik. Unit Linen dan laundry mempunyai peranan yang sangat penting sekali dalam upaya pengendalian infeksi dan pencegahan terjadinya resiko bahaya Healthcare- associated infections (HAIs) RS . 4 . membantu menurunkan angka kejadian infeksi Healthcare-associated infections (HAIs) di RS . penjahit. tukang cuci. Latar Belakang Rumah Sakit selain merupakan pusat rujukan medik. Dikarenakan tipe rumah sakit yang masih rendah dan ukuran rumah sakit yang tidak terlalu besar maka rumah sakit hanya mampu membuat suatu unit linen dan laundry. baik jenis. Alur pengelolaan linen cukup panjang. jumlah dan kondisinya. BAB I PENDAHULUAN I. diperlukan perhatian khusus. Kebutuhan akan linen di setiap ruangan ini sangat bervariasi.1. memburuhkan pengelolaan khusus dan banyak melibatkan tenaga kesehatan dengan bermacam-macam klasifikasi. tukang setrika. Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit adalah melalui pelayanan penuniang medik. Linen di rumah sakit dibutuhkan di setiap ruangan. teknisi. juga potensial mengandung ancaman penularan penyakit di samping pencemaran lingkungan. Untuk meminimalkan terjadinya penularan penyakit dibutuhkan suatu unit linen dan laundry yang berfungsi untuk membantu unit-unit lain di RS yang membutuhkan kain/linen yang bersih. serta ahli kesehatan dan keselamatan kerja. khususnya dalam pengelolaan linen di rumah sakit.

Manfaat Untuk dapat menjadi sebagai pedoman penatalaksanaan unit linen dan laundry dalam meningkatkan mutu pelayanan yang bertujuan untuk mencegah resiko terjadinya infeksi RS 5 . Dapat menjadi pedoman dalam memberikan pelayanan linen dan laundry RS 2 Dapat menurunkan angka kejadian infeksi atau Healthcare-associated infections (HAIs) RS 3 Dapat meningkatkan mutu pelayanan linen dan laundry RS 4 Dapat meningkatkan pengetahuan bagi pihak manajemen RS dalam pengambilan keputusan dan kebijakan tentang prosedur linen dan laundry.2 Tujuan Khusus 1.2.2.2. 1. Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Dapat dijadikan sebagai pedoman oleh pihak Manajemen dalam meningkatkan pelayanan linen dan laundry yang bermutu dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi RS 1.1.

Saat ini. Unit Unit Linen dan Laundry RS memiliki personil baik staf penangung jawab maupun tenaga pelaksana sekitar 2 orang. SUSUNAN PERSONALIA UNIT LINEN DAN LAUNDRY 2015 Penanggung Jawab : Nuraini Pelaksana : C. B. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi melakukan edukasi dan pengembangan kapasitas sumberdaya manusia secara sistematis dan konsisten untuk mencapai visi tersebut. Dalam masa rekrutmen.00- 15. Semua personil sudah mengabdi di RSTB lebih dari 3 tahun dan merupakan personil yang cakap dan berpengalaman dalam bidangnya. Kualifikasi Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia adalah pilar terpenting bagi Unit Linen dan Laundry di Rumah Sakit karena semua aktivitas dan capaian organisasi sangat ditentukan oleh kualitas personil yang terlibat di dalamnya. misi dan aktivitas secara menyeluruh. RS memiliki program ‘training job’ (masa orientasi) guna membantu personil baru mengenal dan memahami visi. Distribusi Ketenagaan 1.00 6 . BAB II STANDART KETENAGAAN A. Pengaturan Jaga Pelaksana Unit Linen dan Laundry bekerja purna waktu yaitu dari jam 08. sebelum yang bersangkutan diberi tanggung jawab.

D. 2. HCU. Unit K3RS. Unit Sterilisasi . Unit Bedah. 7 . UGD. Unit Isolasi. Status Kesehatan Tenaga yang bekerja di unit sterilisasi mempunyai data kesehatan seperti : 1. X ray untuk TBC setahun sekali. Poli rawat jalan. Laporan apabila terkena pajanan. Status imunisasi untuk hepatitis B. Unit Cleaning Servis.Unit Linen dan Laundry merupakan unit pelayanan yang melakukan kegiatan secara komprehensif dari setiap unit pelayanan di rumah sakit . Data fisik. Unit Rawat inap. 3.

Linen yang diterima harus sudah terpisah. b. Ruang yang cukup untuk troli pembawa linen kotor untuk dilakukan desinfeksi sesuai Standard Sanitasi Rumah Sakit. tidak boleh dari bahan yang licin. 8 .  Ruang pemisahan linen Ruang ini memuat meja panjang untuk mensortir jenis linen yang tidak terinfeksi. Sarana Fisik Unit linen dan laundry mempunyai 5 ruamg yaitu :  Ruang penerimaan linen kotor dan penimbangan Ruangan ini memuat: a.. Berada di sebelah unit sterilisasi. RS dikarenakan kurangnya lahan yang tersedia di RS. o Disiapkan instalasi air bersih dengan drainasenya. Timbangan duduk c. dan bak untuk pembilas. bak infeksius dengan desinfektan. kantung warna kuning untuk yang terinfeksi dan kantung warna hitam untuk yang tidak terinfeksi.  Ruang pencucian dan pengeringan linen Ruang ini memuat : o Mesin cuci o Mesin pengering o Bak pencuci yang terbagi tiga yaitu bak untuk perendam non infeksius. BAB III STANDAR FASILITAS A. Meja penerima yaitu untuk linen yang terinfeksi dan tidak terinfeksi. B. Fasilitas Unit Linen dan Laundry Ruang unit linen dan laundry berada di lantai …………….

Di sebelahnya terdapat ruang penyimpanan linen yang berisi lemari penyimpanan linen.  Ruang penyetrikaan linen Ruang ini memuat :  Ruang distribusi linen Ruang ini memuat : Meja panjang untuk penyerahan linen bersih kepada pengguna.Peralatan dan Zat Kimia unit Linen dan Laundry Peralatan non medik  Meja  Kursi  Linen OK  Lemari linen  Alat pelindung (Apron. sarung tangan. masker. C. Sirkulasi udara perlu diperhatikan dengan memasang fan  Ruang Staf dan ruang tempat penyimpanan linen Ruang yang terdiri dari ruang staf yang berisi meja dan kursi staf serta mesin jahit untuk memperbaiki linen. pelindung kaki)  Alat pemadam kebakaran  Jam dinding  Plastic pembungkus Peralatan Medik  Mesin cuci noninfeksius  Mesin cuci infeksius  Lemari penyimpanan linen  Mesin pengering  Mesin stetrika Bahan/zat kimia 9 .

pengelolaan. sedangkan linen yang rusak dikirim ke kamar jahit. Risiko terpajan atau mengalami ISPA akibatmembawa linen yang sudah digunakan relatif kecil. Pengelolaan Linen Tangani linen yang sudah digunakan dengan hati-hati dengan menggunakan APD yangsesuai dan membersihkan tangan secara teratur. sortir linen rusak. pemilahan. Kehatian-hatian ini mencakup penggunaan perlengkapan APD yang sesuai dan membersihkan tangan secara teratur sesuai dengan pedoman kewaspadaan standar. pemerasan. sehingga linen dapat tersedia di unit-unit yang membutuhkan. mengepak atau mengemas. sorrir noda. pengadaan. Diawali dari perencanaan. Prinsip umum • Semua linen yang sudah digunakan harus dimasukkan ke dalam kantong atau wadah yang tidak rusak saat diangkut. Untuk melaksanakan aktivitas tersebut dengan lancar dan baik. Alur aktivitas fungsional dimulai dari penerimaan linen koror.  Detergen  Desinfektan BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN A. kontrol dan pemeliharaan fasilitas kesehatan. maka diperlukan alur yang terencana dengan baik. dan lainJain. salah satu subsistem pengelolaan linen adalah proses pencucian. Peran sentral lainnya adalah perencanaan. pelipatan. penyetrikaan. Namun demikian membawa linen yang sudah digunakan harus dilakukan dengan hati-hati. merepikan. pengeringan. menyimpan. proses pencucian. penimbangan. dan mendistribusikan ke unit-unir yang memburuhkannya. pemusnahan. a. 10 . Prinsip Dasar Operasional Peran pengelolaan manajemen linen di rumah sakit cukup pcnting.

tetapi hanya sedikit risiko terjadi kontaminasi silang selama proses pencucian linen. tissue. Penanganan linen terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut : A. • Angkut linen kotor dalam wadah/kantong tertutup. Perhatian : • Angkut linen dengan hati-hati. Memasukkan linen kotor ke dalam kantong yang tidak tembus air. Untuk mengurangi risiko terkontaminasi mikroorganisme dari linen kotor maka semua petugas kesehatan harus melaksanakan pengendalian infeksi saat menangani linen kotor. • Petugas kesehatan harus menggunakan APD yang memadai saat mengangkut linen kotor. 11 . apron plastik ataupun masker. 4. 3. Menggunakan sarung tangan saat menangani linen kotor dan linen yang terkontaminasi darah atau cairan tubuh pasien. dan lain-lain) tidak diperkenankan dimasukkan ke dalam kantong linen kotor. Benda yang bukan linen (sarung tangan. bila perlu diberi warna yang berbeda. Pada linen kotor terdapat banyak mikroorganisme. 2.• Pengantongan ganda tidak diperlukan untuk linen yang sudah digunakan. underpad . Mengganti linen di kamar pasien 1. Saat mengganti linen tempat tidur pasien harus dilakukan dengan hati-hati dan tidak diperkenankan membuat penyebaran secara aerosol. Infeksi yang mungkin sering terjadi adalah yang berhubungan dengan pekerja bila pekerja tidak mempergunakan alat perlindungan diri sesuai ketentuan seperti menggunakan sarung tangan. • Pastikan linen diangkut dengan dan diolah dengan aman dengan melakukan klasifikasi (ini sangat penting) dan menggunakan wadah/kantong yang ditentukan menurut klaifikasinya. • Transportasi / Trolley linen bersih dan linen kotor harus dibedakan.

maka harus dilapis dengan kantong plastik lainnya. 7. 12 . 1. Prosedur untuk linen kotor infeksius . Hal ini unuk mencegah kecelakaan paparan terhadap petugas saat mengambil linen kotor dari kantong penampungnya. Saat mengirimkan linen kotor ke Laundry isi kantong linen kotor tidak melebihi kapasitas. Bila kantong terpal linen kotor berlubang atau bagian luarnya terkontaminasi darah atau cairan tubuh. apron plastik dan masker.B. Linen kotor dikumpulkan dalam kantong yang tidak tembus air dan dapat dipakai ulang setelah sebelumnya dicuci minimal 1x/hari. Proses Serah Terima linen kotor dengan pihak laundry 1. 4. Kereta pengangkut linen kotor harus dalam keadaan tertutup dan bersih saat transportasi ke daerah tempat penampungan linen kotor rumah sakit. 2. tetapi kereta pengangkut tidak diperkenankan masuk kamar karena keterbatasan ruang. 5. C. Pengumpulan linen kotor 1. D. 3. 6. 2. semua yang bertugas harus menggunakan alat perlindungan diri lengkap seperti sarung tangan. Saat melakukan serahterima linen kotor antara petugas linen rumah sakit dengan petugas dari pihak …. Biasakan mencuci tangan hygienis dengan sabun sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan.. mencari barang yang hilang ataupun maksud lainnya. Petugas ruang rawat jalan harus meletakkan kereta pengangkut linen di dekat ruang pemeriksaan atau ruang tindakan. Kantong linen kotor tidak diperkenankan untuk dibuka kembali di ruang rawat inap atau jalan dengan alasan untuk menghitung jumlah linen atau menyortir linen. Pakaian karyawan yang telah terkontaminasi darah atau cairan tubuh pasien atau bahan infeksius lainnya tidak diperkenankan dicuci di rumah dan harus dicuci sesuai ketentuan rumah sakit tentang linen kotor. Petugas pada ruang rawat inap harus meletakkan kereta pengangkut linen di ruang dirty utility dan harus dibawa ke dekat kamar pasien saat mengganti linen kotor.

Siapkan troli linen kotor dekat ruangqtoel hoch. lem warna merah untuk tutup dan sebagai segel. Beberapa kantung linen kotor infeksius yang sudah tertutup/ segel dimasukkan kembali ke dalam kantung luar berwarna (sesuai dengan standard). . 9. Persiapkan alat dan bahan : sikat. 7. kantung luar linen infeksius. 8. Lakukan penutupan kantung dengan bahan lem kuat yang berwarna merah (masih dapat lepas pada suhu pemanasan desinfeksi) yang juga berfungsi sebagai segel.Biasakan mencuci tangan hygienik dengan sabun sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan. 3. 4.Persiapkan alat dan bahan : sikat.Lipat bagian yang terkena noda di bagian dalam lalu masukkan linen kotor ke dalam ember tertutup dan bawa ke spoel hoch. cmber dengan tulisan linen infeksius. kantung iinen tidak terinfeksi.Gunakan APD : sarung tangan. . 5. spayer. 10. masker dan apron. Noda darah atau feses dibuang ke dalam baskom. Sampah tercampur seperti jarum suntik tempatkan di wadah penampungan jarum suntik. . masker dan apron . Siapkan troli linen kotor dekat ruangsltoel hoch. spayer. embcr dengan tulisan linen ticiak terinfeksi . 6. E. basahkan dengan air dalam sprayer dan rnasukkan ke dalam kantung transparan dengan pemisahan antara linen warna dan linen putih (kantung khusus linen kotor infeksius). Lipat bagian yang terinfeksi di bagian dalam lalu masukkan linen kotor infeksius ke dalam ember tertutup dan bawa ke spoel hoch. 2. . 13 . kantung dalam linen infeksius. Prosedur untuk linen kotor tidak terinfeksi : . Kumpulkan ke troli linen kotor siap dibawa ke laundry dalam kcadaan tertutup. Gunakan APD : sarung tangan.

. . cuci ulang kalau ternyata masih kotor / bernoda dengan cara seperti di atas o Bilas dengan air bersih dengan cara seperti di atas. o Memasukkan linen yang sangat kotor terlebih dahulu ke dalam mesin cuci sambil diberi air dan sabun. Dan klorin 0.5% untuk membantu membersihkan dan tindakan terhadap bakteri  Periksa kebersihan cucian. Mengamati linen apakah masih ada noda yang tersisa. . Pelipatan Linen 14 . o Mengoperasionalkan mesin cuci o Sesuaikan suhu dan siklus waktu dari mesin cuci o Tambahkan pemutih misal 30-60 ml kira-kira 2-3 sendok meja dan klorin 0. o Membilas linen yang telah dicuci dengan air mengalir sampai tidak berbusa lagi. F.Cuci linen yang kotor sekali terpisah dari linen yang tidak kotor dengan cara :  Menyediakan 2 ember yang masing-masing sudah terisi air  Mencuci linen di masing-masing ember  Cuci semuanya dalam air dengan sabun cair untuk mengeluarkan kotoran  Tambahkan pemutih misal 30-60 ml kira-kira 2-3 sendok meja. . G. Pencucian linen a. Bilas dengan air bersih dengan cara : o Membuang air bekas cucian.Membentangkan linen yang sudah dicuci di bawah penerangan yang cukup.Beberapa kantung linen kotor yang sudah tertutup siap dimasukkan dan dikumpulkan ke troli linen koror untuk di bawa ke laundry. Mencuci dengan mesin cuci  Cuci linen yang kotor sekali terpisah dari linen yang tidak kotor caranya: o Memisahkan linen yang kotor dengan yang sangat kotor. Mencuci dengan tangan .5% untuk membantu membersihkan dan tindakan terhadap bakteri o Periksa kebersihan cucian. cuci ulang kalau ternyata masih kotor / bernoda dengan cara : .

Dibutuhkan cukup satu orang . Posisi jahitan di dalam . Selimut .Tiap orang memegang ujung lincn dengan posisi memanjang dengan jahitan terbalik . Steeklaken . perhatikan posisi label di bagian kanan . Posisi jahitan terbalik (sama dengan laken) . Lipat kembali menjadi ¼ bagian.Selanjutnya sampai dengan l/8 bagian. label di luar lipat lagi menjadi ¼ f. Sarung Bantal . Lipat menjadi 1/2 memanjang. Dilakukan satu orang . Perhatikan label ada di bagian kanan . Lipat kembali menjadi dua arah lebar harus sampai l/8 bagian. Zell : yang baik digulun g agar tidak cepat robek dan permukaan datar d. Posisi jahitan di dalam . Lipat menjadi ½ bagian . Sarung guling . Posisi jahitan di luar (terbalik) posisi label dikanan . lipat satu kali lagi posisi label di atas c.Lipat kembali pegang pertengahan lipatan. lipat lagi menjadi 1/3 bagian e. temukan dengan kedua ujung menjadi ¼ bagian . Laken . Lipat menjadi ½ bagian mcmanjang arah label di luar.Pinggir jahitan posisinya di bawah .Dibutuhkan tempat luas yang dilakukan oleh 2 orang petugas .Ke empat ujung linen dipertemukan menjadi 2 bagian . Prosedur pelipatan : a. Pegang ujung lincn arah panjang pertemukan . posisi label harus di atas b.Pertemukan masing-masing linen. Dilakukan satu orang . Lipat menjadi ½ bagian arah lebar selimut 15 .

Lipat arah panjang selimut menjadi ½ bagian . 3. 5. 1. 4. 2. 6. 16 . jika tidak. Linen bersih harus dibungkus atau ditutupi selama dibawa untuk mencegah kontaminasi. Muatan/loading linen kotor /bersih tidak berlebihan. Lipat lagi menjadi ¼ bagian . Tidak diperkenankan membawa linen bersih dengan kereta pengangkut yang terbuka atau dengan dijinjing sehingga bersentuhan dengan pakaian pembawa. Menyimpan. 10.cairan tubuh lainnya. Wadah mudah dilepas dan setiap saat habis difungsikan selalu dicuci (siapkan cadangan) demikian pula dengan trolinya selalu dibersihkan. 7. Peralatan Perlindungan Diri yang harus digunakan saat pengolahan linen Jenis APD Waktu Penggunaan Sarung tangan rumah tangga dan sepatu yang  Mengumpulkan dan menangani linen kotor tertutup yang dapat melindungi kaki dari  Memilih linen kotor. Wadah memiliki tutup. 9. Linen bersih disimpan pada area penyimpanan tertutup yang bersih dengan kelembaban yang dapat dimonitor dengan baik. Lipat lagi menjadi ¼ bagian . maka wadah penampung yang terpisah. Dipisahkan antara troli linen kotor dengan linen bersih. . terpecik darah. 8. Wadah mampu menampung beban linen. membawa dan mendistribusikan linen bersih. kejatuhan benda tajam. Jika menggunakan wadah dan warna yang berbeda. Bahan troli terbuat dan stainless steel (baja antikarat). Lipat lagi menjadi 1/8 bagian H. Apron plastic dan masker.

Apd linen kotor Apd setrika ALUR KEGIATAN PENGELOLAAN LINEN DAN LAUNDRY DI RS Penerimaan linen kotor Penyetrikaan linen bersih Pemilihan dan Penimbangan Pelipatan 17 .

bolpoint. . formulir penerimaan dan pengambilan linen.Kertas HVS. form survei bulanan. buku tulis.Bahan desinfeksi dan detergen b. Bawa ke ruang Pengemasan linen pencucian bersih Pengeringan Ruang Unit penyimpa sterilisasi nan linen bersih BAB V LOGISTIK Tata cara logistik Unit Linen dan Laundry 1. Barang tidak rutine : 18 . Barang rutine : . linen. Perencanaan barang. a.

Keselamatan dan Kesehatan kerja Pegawai Melakukan pemeriksaan kesehatan meliputi . b. . BAB VI KESELAMATAN KERJA Kewaspadaan. Barang rutine disampaikan pada bagian penunjang rumah sakit. Pemeriksaan kesehatan prakerja 19 . APAR. meliputi : a. etika batuk. Pencegahan dan Pengendalian PPI di unit sterilisasi b. wastafel dan leaflet laporan pajanan. 2. Keamanan pasien dan petugas B. Permintaan barang. a. Barang tidak rutine disampaikan terlebih dahulu pada direktur untuk dimintakan persetujuan. a. upaya pencegahan & pengendalian infeksi Unit Linen dan Laundry A. Pengadaan leaflet dan banner kebersihan tangan.

Pengelolaan bahan dan barang berbahaya a. Pemeriksaan kesehatan berkala c. Sertifikasi dan kalibrasi peralatan medis dan nonmedis G. b. a. Kawasan Tanpa Rokok E. . Kesehatan lingkungan kerja Melakukan monitoring kegiatan : a. b. Mengadakan sosialisasi dan pelatihan internal meliputi : . Memantau pengadaan.Pelatihan desinfeksi dan dekontaminasi . Pemeriksaan kesehatan khusus diunit beresiko di unit setrilisasi d. Pencegahan dan penanganan kecelakaan kerja (tertusuk jarum bekas). Program pemeliharaan dan perbaikan peralatan medis dan nonmedis b. Upaya promotif dan edukasi  Hand higiene menjadi kebutuhan dan budaya  Kedisiplinan Penggunaan APD sesuai dengan peruntukannya  Upaya promotif PPI : 20 . Pencegahan dan penanganan penyakit akibat kerja f. Monitoring ketersediaan dan kepatuhan pemakaian APD bagi petugas C.Sosialisasi sistem tanggap darurat bencana.Pelatihan pemadaman api dengan APAR. Pendidikan dan pelatihan PPI di Unit Linen dan Laundry a. Penanganan dan pelaporan kontaminasi bahan berbahaya g. Sanitasi rumah sakit Melakukan monitoring terhadap kegiatan . e. penyimpanan dan pemakaian B3 D. a. Pengelolaan limbah b. Disinfeksi dan sterilisasi c. . prasarana dan peralatan Melakukan pemantauan terhadap . Suhu dan kelembaban F.Sosialisasi dan pelatihan penanggulangan kontaminasi B3. Sertifikasi/kalibrasi sarana.Pelatihan penggunaan APD .

Ketepatan identifikasi pasien 1. Pemasangan gambar etika batuk BAB VII KESELAMATAN PASIEN Upaya keselamatan pasien adalah : 1.3 Komunikasi antar petugas kesehatan lainnya yang bertugas di Rumah Sakit .1 Saat pergantian shift jaga khusus shift malam. 2. .1 Melakukan komunikasi efektif SBAR pada saat : 2. 21 .1 Melakukan identifikasi yang benar sesuai SPO. . .2 Komunikasi perawat dengan dokter 2.1 Komunikasi antar perawat 2. Peningkatan komunikasi efektif 2.2 Menggunakan komunikasi SBAR : 2. Pemasangan promotif kepatuhan membuang sampah sesuai jenisnya .1.2.1. Pemasangan cara menggunakan dan melepas APD.1. Pemasangan anjuran kebersihan tangan di unit sterilisasi . 2.

6. Pengurangan risiko pasien jatuh. 3. 5. 3. tepat pasien operasi 5.1 Melakukan pencegahan pasien jatuh dengan assessment risiko dan tindak lanjut kepada pasien yang dirawat .1.4 Saat melaporkan hasil pemeriksaan.4 Kepatuhan kebersihan tangan.1.1.4 Melakukan sosialisasi hasil analisa KTD yang terjadi. 2.2.5 Melakukan evaluasi kegiatan pengendalian infeksi.2 Saat terjadi perpindahan rawat pasien.3 Melakukan pelaporan dan analisa kejadian infeksi.2 Melaporkan Kejadian Tidak Diharapkan (KTD) yang terjadi .1 Melaksanakan SPO Independent Double chek. 6.Obat kewaspadaan tinggi pada obat-obat yang termasuk dalam daftar obat HAM. 5.1. 2. 4. 5.3 Saat terjadi perubahan situasi atau kondisi pasien.efek samping terapi/tindakan atau pemburukan kondisi pasien melalui telepon kepada dokter yang merawat. 5.4 Melakukan sosialisasi hasil analisa kejadian infeksi.2 Melakukan pemantauan kegiatan pengendalian infeksi.2 Infeksi saluran kencing 5. 6.3 Melakukan analisa sederhana terhadap kejadian KTD yang terjadi di masing-masing unit pelayanan.3 Infeksi luka operasi superfisial 5. Peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai 3. 6.2. tepat prosedur.2 Memberikan obat sesuai dengan prinsip 7 BENAR. Pengurangan risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan 5. Kepastian tepat lokasi.1 Melakukan pengisian formulir data pemantauan surveilens : 5. 22 .1 Infeksi luka infus 5. 6.2. 2.

Penerapan system pencatatan dan pelaporan di Unit Linen dan Laundry RS mempunyai tujuan:  Mendapatkan data untuk memetakan masalah – masalah yang berkaitan dengan unit laubdry  Meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien 1. Data hasil kegiatan 23 . Laporan Bulanan.Kegiatan pelayanan Unit Linen dan Laundry 2. Kegiatan pelayanan Unit Linen dan Laundry . meliputi : . BAB VIII PENGENDALIAN MUTU A. Data Inventaris alat . Laporan Tahunan Berisi data tentang : . meliputi : . SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN a. Laporan Harian. Pemakaian barang habis pakai 3. Data SDM .

5% e). Angka kejadian infeksi karena transfusi darah. Laporan kejadian insidentil (misal kecelakaan kerja saat melakukan pencucian atau pengeringan) b. d). Laporan Insidentil a. 2. Terlaksananya pemasangan leaflet kebersihan tangan disetiap ruangan . 24 . f). Target surveilens angka kejadian infeksi <1. b). Edukasi PPI pada calon karyawan di Unit Linen dan Laundry. Dll 5. c). Indikator Non Bedah a). STANDAR DAN INDIKATOR MUTU KINERJA KLINIK 1. Evaluasi Pelayanan 4. Kalibrasi mesin di unit linen dan laundry baik 3) Upaya kesehatan : a). Indikator Mutu Klinik: 1).wastafe. Tersedianya Bahan. . Angka dekubitus b). Angka kejadian infeksi jarum infus c). Dilakukannya kegiatan pemantauan 2) Unit Linen dan Laundry a). Standar Mutu Klinik: RS harus mampu memberikan pelayanan yang terbukti aman bagi semua orang yang berada didalamnya baik pasien maupun karyawan dari segala bentuk kejadian yang dapat timbul karena proses pelayanan. Kebersihan tangan menjadi isu dan tindakan yang menjadi kebutuhan petugas.bahan desinfeksi yang sesuai rekomendasi dan aman bagi lingkungan.

Tujuan monitoring adalah: 1. Pemeriksaan kesehatan karyawan unit sterilisasi secara berkala g). Hasil survei menjadi informasi disetiap unit pelayanan melalui sistem informasi rumah sakit f). Penyehatan lingkungan j). Monitoring dilakukan oleh IPCN setiap bulan sesuai dengan form monitoring Unit Linen dan Laundry. PP. Untuk menyesuaikan strategi atau pedoman pelayanan Unit Linen dan Laundry yang dilaksanakan di lapangan. Tersediannya APD yang diperlukan h). Terlaksananya survei complience kebersihan tangan tangan pada petugas Unit Linen dan Laundry i). Ruangan dan lingkungan yang bersih k). perubahan orientasi atau disain dari sistem pelayanan Unit Linen dan Laundry (bila perlu). sesuai dengan temuan-temuan dilapangan. Ketersediaan kerjasama pengolahan limbah infeksius dengan 6. 25 . e). Hasil uji baku mutu air dan limbah yang dihasilkan sesuai dengan perundangan yang berlaku (UU Lingkungan. Perda) 2). Perprop. Indikator mutu lingkungan 1). Edukasi PPI pada karyawan . Untuk mengadakan perbaikan. 2. d). untuk dapat menemukan dan selanjutnya memperbaiki masalah dalam pelaksanaan program. PMK. Monitoring Yang dimaksud dengan monitoring adalah upaya untuk mengamati pelayanan Unit Linen dan Laundry dan cakupan program pelayanan proses seawal mungkin. Ketersediaan pengolah limbah baik padat maupun cair 3). Sampah dibuang sesuai jenisnya 3.

Meningkatkan kinerja pengelolaan Unit Linen dan Laundry RS 2. 4. Evaluasi dilakukan setiap bulan dan IPCN melaporkan hasil evaluasi kepada komite PPI yang akan dipertanggungjawabkan ke Direktur RS . 7. 26 . 3. pengeringan dan sebagainya. Hasil analisis dari monitoring digunakan untuk perbaikan dalam pemberian pelayanan Unit Linen dan Laundry di RS . Tujuan dari evaluasi tersebut antara lain : 1. juga evaluasi secara keseluruhan dalam rangka kinerja dari pengelolaan Unit Linen dan Laundry di RS . Sebagai acuan dalam perencanaan system pemeliharaan mesin-mesin linen dan laundry. Sebagai acuan perencanaan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan sumber daya manusia. Sebagai acuan/masukan dalam perencanaan Unit Linen dan Laundry. 3. Monitoring sebaiknya dilakukan sesuai keperluan dan dipergunakan segera untuk perbaikan program. Evaluasi Setiap kegiatan harus selalu di evaluasi pada tahap proses akhir seperti pada tahap pencucian. bahwa linen yang sudah di proses terjamin kebersihannya.

Prinsip bangun unit linen dan laundry harus berpodoman kepada perpindahan barang satu arah ii. Mengungat bahwa barang linen bersih merupakan hasil akhir dari suatu proses yang dilaksanakan dengan system secara utuh maka perlu menjadi perhatian bagi semua komponen yang ada di Rumah Sakit dalam hal : i. memproses. Fungsi unit linen dan laundry adalah : menerima. Penyimpanan linen bersih harus diarea bersih disusun pada rak khusus Pedoman ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam melaksanakan pengelolaan linen di Rumah Sakit. Kontrol kualitas harus dilakukan sebelum proses dalam proses dan sesudah proses di setiap tahap kegiatan iii. mencuci menyimpan serta mendistribusikan peralatan medis ke berbagai ruangan di Rumah Sakit untuk kepentingan perawatan pasien. 27 . Dikarenakan tipe rumah sakit yang masih rendah dan ukuran rumah sakit yang tidak terlalu besar maka rumah sakit hanya mampu membuat suatu unit linen dan laundry. BAB VI PENUTUP Unit linen dan laundry mempunyai peranan yang sangat penting sekali dalam upaya pengendalian infeksi dan pencegahan terjadinya resiko bahaya Healthcare-associated infections (HAIs) RS .