Potensi Pasar Industri Farmasi Indonesia

Profil Indonesia

Indonesia adalah negara terpadat ke-empat di dunia. Profil demografis negeri ini relatif muda,
kendati demikian pertumbuhan penduduk juga relatif tinggi yang semakin meningkatkan tekanan
finansial pada sumber daya kesehatan. Meskipun memiliki populasi yang besar, nilai pasar
farmasi Indonesia saat ini masih sangat rendah.

Populasi penduduk usia 65 tahun ke atas tercatat hanya di atas 5% dari total penduduk. Indikator
kesehatan yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pertanda yang baik bagi
pembangunan ekonomi sebagai suatu sumber kesehatan yang makin menguat.

Dari model belanja Business Monitor International (BMI) yang dilaporkan pada Mei 2010,
menunjukkan bahwa pasar farmasi di Indonesia akan bernilai Rp 81,03 triliun pada 2019. Dipicu
oleh adanya ledakan ekonomi, inflasi yang tinggi, pertumbuhan penduduk yang signifikan, dan
meningkatnya anggaran kesehatan pemerintah. Namun angka ini bisa bergeser secara signifikan
apabila Sistem Jaminan Sosial Nasional diterapkan.

Situasi ini menjadi peluang bagi industri farmasi untuk memanfaatkan pasar lokal. Namun bagi
perusahaan asing, mereka agak terbentur oleh policy di lingkungan bisnis yang 'proteksionis',
prevalensi dari obat palsu dan penetapan harga tidak transparan dan pembayaran kembali.

Situasi Makro Ekonomi

Ekonomi Indonesia kian meningkat dengan pertumbuhan riil PDB rata – rata 5,7% per tahun.
Pendorong utama dari pertumbuhan pasar domestik di masa mendatang terkait dengan demografi
Indonesia; meningkatnya rata-rata harapan hidup, memicu peningkatan penyakit degeneratif dan
meningkatkan permintaan untuk obat-obatan gaya Barat. Di sisi lain, Indonesia masih
mengalami masalah karena penyakit menular (terutama demam berdarah dan malaria), situasi
diperparah oleh akses terbatas pada obat-obatan.

Kondisi ini juga telah mendorong pertumbuhan obat-obatan herbal baik dalam penggunaan dan
popularitas. Obat herbal berpotensi menjadi pesaing bagi obat bebas (OCT) pada tahun-tahun
mendatang.

pemberlakuan Undang-Undang Investasi yang diwarnai kontroversi akan membatasi FDI. meskipun Indonesia merupakan salah satu pasar obat terbesar. banyak dari restrukturisasi yang saat ini masih di atas kertas. Fasilitas ini akan ditawarkan kepada perusahaan untuk membangun pabrik baru atau perluasan usaha di sektor kimia. Reaksi Para Pebisnis Beberapa produsen lokal senang bahwa mereka akan mendapat sumber bahan baku lebih murah. Faktor Kunci Pertumbuhan Industri Prioritas pemerintah termasuk regulasi restrukturisasi peraturan dan mendorong FDI. serta meningkatkan gelombang obat palsu dan rendahnya daya beli penduduk.17 milyar pada tahun 2012.300 bahan baku (API) yang digunakan untuk pembuatan obat di Indonesia adalah impor. memaksa pasien untuk membayar sendiri biaya kesehatannya. belum semuanya terealisasi akan menunda setiap peningkatan dalam investasi asing. ditandai di sektor ini dalam jangka pendek. Meskipun. meskipun yang lainnya merasa khawatir bahwa pasar domestik akan semakin terkena dampak persaingan. Selain itu. industri farmasi milik pemerintah Kimia Farma dan Indofarma menandatangani kontrak dengan pemasok API asal Cina secara aktif memberikan . sebagian besar perusahaan asing mencapai pasar melalui produk impor. Pemerintah telah mengumumkan bahwa mereka menawarkan insentif pajak kepada sejumlah investor baru dan sektor industri. petrokimia dan industri farmasi. sekitar 95% dari 1. Harga bahan baku merupakan masalah karena nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang fluktuatif. Untuk mengamankan pasokan biaya rendah API. dengan rencana mengurangi lamanya waktu persetujuan lisensi produksi atau perdagangan dari 150 hari untuk 30 hari. obat resep akan rentan terhadap kemerosotan ekonomi. Pemerintah yakin bahwa ini selanjutnya dapat mendorong investasi asing.Selain itu. Konsekuensinya. Selain itu. belanja kesehatan pemerintah Indonesia yang lebih kecil dari negara-negara tetangga. Perkiraan Perdagangan Farmasi Nilai impor farmasi Indonesia mencapai US$ 1. dengan rencana lainnya yang bertujuan menarik modal asing termasuk usulan penghapusan industri farmasi dari daftar 'investasi negatif'.

karena Indonesia memiliki ketergantungan hampir sepenuhnya. Pasar obat-obatan herbal tradisional juga bisa membuktikan jalan untuk pertumbuhan ekspor. Industri farmasi India juga tertarik untuk memperluas pasarnya di Indonesia. serta Timur Tengah dan Rusia. Taiwan dan Hong Kong. . dimana mereka sudah eksis melalui produk yang masuk sebagai re-export dari Singapura. dengan perdagangan telah menjadi senilai Rp 2 trilyun pertahun dan kebanyakan mencapai Korea Selatan. Ekspor Obat Terutama obat generik. secara historis tercatat merupakan bagian kecil dari penjualan industri domestik. analgesik dan vitamin. walaupun secara umum murah seperti produk berbasis OTC.Indonesia mengekspor berbagai jenis obat. Namun ekspor saat ini terhambat oleh kurangnya investasi R&D. Mayoritas ekspor India ke Indonesia untuk bahan baku adalah penting. walaupun usaha patungan dengan perusahaan multinasional berpotensi meningkat secara signifikan untuk memperbaiki situasi.antibiotik masal.

proporsi belanja kesehatan terhadap PDB Indonesia pada 2011 adalah 2. Hal hal yang perlu diperhatikan terkait ukuran pasar farmasi di Indonesia adalah sebagai berikut : a. Total Belanja Kesehatan Indonesia sejak tahun 2008 berkisar pada 2.1%. Dalam kacamata kesehatan. ketika system jaminan sosial di bidang kesehatan mulai dilaksanakan secara nasional (saat ini sedang dibuat pilot project di DKI Jakarta). Namun di masa mendatang.Hal tersebut merupakan dampak positif dari membaiknya situasi perekonomian Negara dan daya beli masyarakat. Kondisi ini menjadi pendorong utama bagi pengembangan industri farmasi nasional. jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara saat ini mengalami perubahan yang berarti. Selain itu dukungan program kesehatan pemerintah yang makin gencar untuk akses kesehatan masyarakat semakin mempercepat meningkatnya pola hidup sehat di masyarakat dari tahun ke tahun.9% Mengacu data tersebut. maka semua penduduk di Indonesia dapat menjadi target pasar produk farmasi. pola hidup dan kesadaran masyarakat Indonesia terhadap kesehatan secara umum semakin membaik. Masa depan industri farmasi Indonesia memiliki potensi sangat besar. . dan Singapura. Thailand. Total belanja kesehatan Indonesia pada 2011 mencapai Rp 200 triliun dan diperkirakan akan meningkat menjadi Rp 247 triliun pada 2015. Filipina. Topografi penduduk Kelompok masyarakat yang menjadi target pasar dari produk farmasi di Indonesia saat ini adalah penduduk yang bekerja. Dalam data BMI tercatat Belanja Obat Indonesia per kapita pada 2011 sebesar US$ 11.Analisas Potensi Pasar Industri Farmasi untuk Obat ethical di Indonesia Ukuran Pasar Indonesia. mengingat total belanja kesehatan dan obat-obatan di Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara lain di ASEAN Menurut data Business Monitor Internasional (BMI) Proporsi Belanja Kesehatan dan PDB Indonesia pada 2011 hanya sebesar 2. dengan asumsi kelompok masyarakat ini memiliki daya beli tinggi dan jaminan atau asuransi kesehatan yang memadai (jamsostek).4.2.7%. lebih rendah dari Malaysia.7% .

31 triliun. Nilai pasar dan pertumbuhannya Sulit menentukan secara pasti jumlah obat yang dikonsumsi oleh Indonesia dalam satu tahun.7 triliun pada akhir tahun 2012 dengan potensi pertumbuhan pasar sebesar 12% .399 jiwa.(http://indonesia- pharmacommunity. b.9%. dan pangsa pasar mencapai 41.345.9% per tahun Sementara itu.1% dengan nilai Rp 25. Tingkat pertumbuhan pasar Berdasarkan jenis obat.756.082 jiwa dengan total penduduk yang berada pada usia kerja adalah 171.670. Namun merujuk pada angka penjualan dan beberapa riset serta survey diperkirakan nilai pasar farmasi Indonesia sebesar 43. Obat OTC tumbuh rata-rata 11. sedangkan yang bekerja sekitar 109. Obat ethical masih menjadi kontributor terbesar untuk pasar farmasi Indonesia yakni sebesar 58.39 triliun pada 2012 dan pertumbuhan rata- rata sebesar 13.com). Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 227.8% per tahun dengan nilai mencapai Rp 18. 15% per tahun. . dalam periode yang sama.077 jiwa.blogspot.

c.7%.2).6).1 juta pada tahun 2000 menjadi 273. namun penurunan karena kelahiran lebih cepat daripada penurunan karena kematian. Pertumbuhan ekonomi Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2012 tercatat sebesar 6.Tingkat pertumbuhan pasar farmasi untuk obat ethical di Indonesia dipengaruhi oleh hal hal berikut : a. d.Undang – Undang tentang BPJS Pertumbuhan nilai pasar obat ethical di Indonesia diyakini akan tumbuh lebih cepat apabila Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) diterapkan sepenuhnya di seluruh Indonesia. Turunnya laju pertumbuhan ini ditentukan oleh turunnya tingkat kelahiran dan kematian. Implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional .4 juta (US$3.9 triliun. penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1. Penerapan Kartu Jakarta Sehat di Provinsi DKI Jakarta sejak awal 2013 sebagai pilot project .8%. Dalam dekade 1990- 2000.1 triliun.23 persen.618. Laju pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2012 tumbuh sebesar 6. sedangkan atas dasar harga konstan (tahun 2000) mencapai Rp2.562.23 persen dibandingkan dengan tahun 2011. Petumbuhan penduduk Hasil proyeksi menunjukkan bahwa jumlah penduduk Indonesia selama dua puluh lima tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205.2 juta pada tahun 2025. pertumbuhan rata-rata per tahun penduduk Indonesia selama periode 2000-2025 menunjukkan kecenderungan terus menurun.Besaran PDB Indonesia tahun 2012 atas dasar harga berlaku mencapai Rp8. (sumber BPS) b. meningkat dibandingkan PDB per kapita pada tahun 2011 yang mencapai Rp30.92 persen per tahun.34 persen dan 0.PDB per kapita atas dasar harga berlaku pada tahun 2012 mencapai Rp33. Walaupun demikian.49 persen per tahun.241. kemudian antara periode 2000-2005 dan 2020-2025 turun menjadi 1. Crude Birth Rate (CBR) turun dari sekitar 21 per 1000 penduduk pada awal proyeksi menjadi 15 per 1000 penduduk pada akhir periode proyeksi.498. sedangkan Crude Death Rate (CDR) tetap sebesar 7 per 1000 penduduk dalam kurun waktu yang sama.3 juta (US$3. dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya sebesar 8. Kinerja Investasi pada tahun 2012 terus membaik mencapai 10.

sedangkan untuk Obat ethical sebesar 20% . Data yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Bina Farmasi dan Alat Kesehatan 2011. marjin keuntungan yang diperoleh oleh apotek dari penjualan obat rata-rata sekitar 10% untuk Obat OTC.603 gerai. toko obat. dan melalui rumah sakit sebesar 12%. Pada 2010 terdapat sekitar 2. Pada tahun 2010 tercatat jumlah apotek di Indonesia mencapai 16. .447 gerai. melalui toko obat 14%. mencatat bahwa Pertumbuhan industri farmasi juga didukung oleh pengembangan fasilitas distribusi farmasi. persentase obat yang dipasarkan melalui apotek sekitar 43%. Secara umum. Selama tahun 2007-2010. kehadiran dokter yang membuka praktek pribadi dalam lokasi farmasi dan persepsi publik tentang kelengkapan obat yang disediakan oleh apotek. dokter.855 Pedagang Besar Farmasi dengan apotek sebanyak 16. apotek dan toko obat sebagai pengecer. melalui toko-toko umum sebesar 18%. mengingat setiap perusahaan obat dalam mendistribusikan produk obat harus menggunakan jalur Pedagang Besar Farmasi. implementasi SJSN di Indonesia telah membuat jumlah pasien meningkat hingga 3 kali lipat. Di jalur ritel. apotek tumbuh rata-rata 35% per tahun. dan toko-toko umum lainnya dengan menggunakan layanan medical representative. Gambaran umum jalur distribusi farmasi Indonesia Keberadaan Pedagang Besar Farmasi (PBF) dalam industri farmasi adalah penting. Dari Pedagang Besar Farmasi. seperti Pedagang Besar Farmasi sebagai grosir. ini merupakan kenaikan tertinggi di antara jalur distribusi lainnya. melalui dokter 13%. rumah sakit. produk obat selanjutnya dipasarkan melalui sub-distributor atau langsung ke pengecer seperti apotek. Hal ini merupakan indikasi akan adanya lonjakan percepatan pertumbuhan pasar obat ethical di Indonesia ketika SJSN dilaksanakan di seluruh Indonesia.30%. Beberapa hal yang mempengaruhi omset penjualan apotek adalah lokasi.603 gerai dan toko obat 8.

Provider layanan yang melakukan distribusi produk farmasi di Indonesia 1. Rumah Sakit Sumber : Kementerian Kesehatan 2. Pedagang Besar Farmasi .

Apotek 4. Toko Obat Struktur Industri dan persaingan usaha .3.

Dari seluruh produsen. Grup Tempo (3 %). Menurut data Dirjen Bina Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan 2011.Industri farmasi nasional sangat terfragmentasi dengan lebih dari 250 perusahaan. sebagian besar industri farmasi yang berlokasi di Jawa Barat dan Jawa Timur. Fahrenheit (4%). Berdasarkan penyebaran wilayah geografis. Grup Sanofi Aventis (4%). Pada 2012 persaingan bisnis semakin ketat dalam industri farmasi. Grup Kalbe memiliki pasar farmasi terbesar di Indonesia (13%). Grup Abbott (5%). para pemain utama di segmen Obat ethical adalah Grup Kalbe (13%). Di sisi lain. dimana diversifikasi produk yang semakin banyak dihasilkan oleh perusahaan farmasi besar. Kebebasan ekonomi Farmasi merupakan industri yang secara ketat diatur dengan pertimbangan perannya yang tidak dapat dipisahkan dari fungsi kesehatan. Persaingan di segmen consumer health (OTC. jumlah produsen farmasi di Indonesia pada 2010 tercatat 251 perusahaan. . Sanbe (6%). peraturan pemerintah yang melarang perusahaan farmasi asing untuk memasarkan produknya di Indonesia tanpa memiliki fasilitas produksi di Indonesia. Grup Dexa Medica (7%). dan Grup GlaxosmithKline (4%). dan regulasi harga obat menjadi hambatan untuk masuk ke industri farmasi. diikuti oleh Grup Dexa Medica (5%). Sanbe (5%). Grup Tempo (7%). dan Interbat (3%). Grup Pharos (4%). Konimex (5%) . Ada nama-nama besar beberapa pemain asing seperti Grup Sanofi Aventis asal Perancis dan Grup Novartis dari Swiss di pasar Obat ethical. pemain utama di segmen OTC meliputi Grup Kalbe (14%). Grup Soho (5%). di mana lima perusahaan terbesar menguasai pangsa pasar 32%. nutrisi) diperkirakan akan lebih ketat di masa mendatang. Adapun pasar Obat OTC lebih dikuasai oleh pemain lokal. Grup Pharos (7%). sebesar 38% atau sebanyak 95 perusahaan yang berlokasi di Jawa Barat (jumlah tertinggi). baik untuk Obat ethical dan OTC. minuman energi. Bila dilihat secara lebih rinci berdasarkan jenis obat. Sementara itu. diikuti oleh Jakarta dari sebanyak 46 perusahaan dan Jawa Timur sebanyak 45 perusahaan. peraturan pemerintah ketat mengenai standar kualitas dan keamanan produk. Grup Novartis (4%). Grup Kalbe menguasai pangsa pasar terbesar. Grup Soho (8%). dan Grup GlaxosmithKline (3%). Secara keseluruhan.

Harga Aturan  Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 092/MENKES/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik Tahun 2012  Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 069/Menkes/SK/II/2006 tentang Pencantuman Harga Eceran Tertinggi di Label Obat 3. Kualitas Produk dan Keamanan  Undang-undang No 23/1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa semua produsen farmasi. Dalam hal ini.  Peraturan Menteri Kesehatan RI. kepemilikan asing dibatasi maksimal 75%. usaha industri farmasi yang meliputi bahan baku obat industri dan industri obat. importir dan distributor di Indonesia harus memiliki lisensi. No. Peraturan ini menyebutkan hanya perusahaan farmasi dalam negeri yang memiliki fasilitas produksi (pabrik) diperbolehkan untuk mendaftar dan mendistribusikan obat- obatan di Indonesia.949/MENKES/PER/VI/2000 Tentang Registrasi Obat Jadi yang pada intinya menyatakan bahwa semua produk jadi dari industri farmasi harus memiliki registrasi dari Kementerian Kesehatan untuk memberikan perlindungan bagi konsumen  Penerapan GMP yang memaksa industri farmasi Indonesia untuk dapat menerapkan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) 2.  Peraturan   Menteri   Perdagangan   Nomor   27   Tahun   2012   tentang   ketentuan   angka pengenal  importer  (API).  Peraturan Presiden No 36/2010 tentang daftar bidang usaha yang tertutup dan bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan di bidang investasi atau sering disebut sebagai Daftar Negatif Investasi.   Peraturan   ini   hanya   memberikan   satu   API   pada   masing­ masing  importer  sehingga  importer  yang  telah   melakukan   impor   barang   kelompok bahan baku tidak boleh mengimpor barang kelompok barang jadi.Berikut adalah beberapa peraturan pemerintah dalam industri farmasi yang terkait dengan: 1. Peran Perusahaan Asing  Peraturan Menteri Kesehatan No.1010/Menkes/Per/XI/2008 tentang Registrasi Obat. Resiko .

fluktuasi dalam nilai tukar rupiah merupakan faktor penting mengingat kandungan impor sangat besar dalam industri farmasi. Mengingat pada tahun 2012 perkiraan nilai produk farmasi yang beredar sekitar 43. Untuk 2012.Rp 12. mengingat sekitar 90% bahan baku farmasi masih diimpor.Dari total struktur biaya produksi obat.900 / USD menjadi Rp 9.084 / USD dan naik ke level Rp 8. Tingkat nilai tukar rupiah relatif stabil cukup kondusif untuk industri farmasi.780 / USD pada tahun 2011. . India (20%).011/2011 tentang Penetapan Sistem Klasifikasi Barang dan Pembebanan Tarif Bea Masuk atas Barang Impor. nilai tukar rupiah (pada rata-rata) relatif stabil pada kisaran Rp 8.13% setiap tahunnya.100 / USD. Bahan baku berkontribusi sebesar 70% sampai 80% dari struktur biaya produksi obat. sebagian besar (90%) dari bahan baku dari industri farmasi masih diimpor yang terutama didatangkan dari China (75%). Kementerian Keuangan mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 174/PMK. Sementara itu. tingkat bea masuk untuk beberapa bahan baku farmasi turun menjadi 0% dari tingkat sebelumnya 5%.7 triliun dan meningkat dikisaran Rp 11.5 triliun yang masih belum dapat disediakan oleh produsen maupun importir farmasi di Indonesia dan terus tumbuh dengan presentase rata-rata 12% . impor bahan baku farmasi di Indonesia pada 2011 mencapai Rp 10. Terkait dengan bahan baku farmasi.9 triliun .7 triliun maka diperkirakan pada tahun 2012 ada kebutuhan terhadap produk farmasi senilai 6. Dengan peraturan ini. peraturan ini berlaku sejak 17 November 2011. Menurut Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI). dan sisanya adalah dari Eropa dan Amerika Serikat Di pertengahan November 2011 lalu. komponen bahan baku obat mendominasi sekitar 70% sampai 80% . Pasar yang disarankan untuk investasi Dalam Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan pada tahun 2012 disebutkan bahwa ketersediaan obat dan vaksin baru mencapai 87% dari kebutuhan. Nilai tukar rupiah (pada rata- rata) pada tahun 2010 adalah sebesar Rp 9.3 triliun pada 2012 sejalan dengan perkembangan pasar farmasi nasional. yang mengatur pembebasan bea masuk untuk beberapa bahan baku farmasi.

71.10% 3. 42.56% -7.75% 3. 80.53% 1.49% 17. 22.35% 1. 37. 32.64% 1. 35. 25.00% 2010 15. Pasien SJSN mayoritas akan mengkonsumsi obat ethical karena apabila terdapat konsumsi obat OCT.38% 6. 55.37% . obat OCT 31 47 89 59 61 98 76 Total 43.61% -20.10% 8.86% 0.49% 2006 14.11% 15.71% 8. Implementasi SJSN ini berdampak pada meningkatnya jumlah pasien yang mengajukan pengobatan karena mendapat jaminan dari pemerintah.18% 1. importir dan regulator farmasi Indonesia. 28. 96.33% 2004 22.22% 3. obat ethical 39 92 94 52 73 67 84 Nilai pasar 18. 48. 63. Kami menyarankan investor investor asing terutama Cina dan India yang memiliki hubungan erat dengan produsen.33% 2.85% 4.29% 4.76% 2008 14. PT Biofarma PT Indo Farma.8%. biayanya tidak ditanggung oleh pemerintah. 31.34% 0.41% 2003 21.63% 2005 10.39% 3. Proyeksi Nilai Pasar Industri Farmasi Indonesia Keterangan 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Nilai pasar 25.87% 20.Selain itu implementasi SJSN di seluruh Indonesia diperkirakan rampung dalam 5 tahun ke depan. Tbk PT Kimia Farma.49% 2007 15. 49. Tbk 2000 25.52% 3. memasuki indutri farmasi dengn berfokus pada kelompok obat ethical karena permintaan obat OCT setiap tahunnya “hanya” pertumbuhan sekitar 11.61% 2001 32. 60. Hal ini mengakibatkan permintaan obat ethical sangat berpotensi mengalami peningkatan yang signifikan (diperkirakan mencapai 25% per tahun).83% 2009 17. 70 39 83 10 34 65 60 (dalam triliun rupiah) Proyeksi Return on Investment Industri Farmasi di Indonesia Data yang didapat dari Kementerian BUMN dibawah ini merupakan data ROI tiga BUMN di bidang industri farmasi sejak tahun 2000 sampai 2012 sebagai benchmark. 20. Selain itu regulasi obat OCT di Indonesia cukup ketat sehingga cukup sulit mendapatkan margin laba yang besar dari pangsa pasar ini. 28.65% 2002 30.

satu sebagai sebagai penangung jawab produksi dan lainnyasebagai penangung jawab mutu.15% 3. seminar. Bila dibutuhkan modal kerja yang tinggi lebih dikarenakan kebutuhan untuk melakukan promosi ke dokter.245/Menkes/SK/V/1990 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pemberian Izin Usaha Industri Farmasi.31% 9. industri farmasi di Indonesia dapat mengharapkan ROI lebih dari 9% per tahun. 2011 17. .57% 2012 16. Nilai investasi dengan nilai ROI diatas nilai inflasi dianggap layak (nlai inflasi Indonesia 6%-7% per tahun).32% 9.45% 3. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan No. Tidak diperlukan skala industry yang cukup besar untuk suatu pendatang baru yang akan memasuki bisnis ethical. Industri farmasi yang telah memenuhi persyaratan CPOB diberikan sertifikat CPOB Sales and Marketing 1. Medifarma. pengadaan pemasangan instalasi. b. Entry barrier a. c. dengan nilai investasi satu triliun rupiah. Entry Strategy Perusahaan industri farmasi wajib memperoleh izin usaha industri farmasi. Industri farmasi wajib memenuhi persyaratan CPOB sesuai dengan ketentuan Keputusan Menteri Kesehatan No. untuk memperoleh izin usaha farmasi diperlukan tahap persetujuan prinsip.43/Menkes/SK/II/1998. Organon dan lain-lain. BPOM mengatur bahwa perusahaan pabrik obat mesti dipisahkan dengan perusahaan distribusinya.50 milyar per tahun seperti Yamanouchi. Transfarma. Persetujuan prinsip diberikan kepada pemohon untuk dapat langsung melakukan persiapan-persiapan. dan lain-lain yang dapat dipenuhi melalui opsi untuk aliansi dengan perusahaan farmasi lain (baik asing maupun lokal). dan produksi percobaan. Izin usaha industri farmasi diberikan kepada pemohon yang telah siap berproduksi sesuai persyaratan CPOB. usaha pembangunan. d.57% Sumber : Kementerian BUMN Melihat benchmark diatas. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya pemain-pemain dengan revenue dibawah Rp. Adanya klasifikasi dari pemerintah untuk kategori produk obat yang bermacam-macam. Industri farmasi wajib mempekerjakan sekurang- kurangnya dua orang apoteker warga negara Indonesia.

Persaingan antara pemain yang ada a . identitas merk sangat mutlak diperlukan. Industri OTC di Indonesia menunjukkan angka pertumbuhan yang tinggi ( m e n c a p a i 11 . Kebutuhan modal lebih kepada investasi merk dibandingkan dengan investasi prasarana produksi pada industry OTC. Akses ke distribusi jauh lebih mudah dibandingkan dengani ndustri ethical. Ada peraturan dasar dalam beriklan untuk produk OTC :  Informasi terkait obat tersebut harus dijelaskan secara transparan. h . i . Diferensiasi dibedakan berdasar kelas masing-masing fungsi obat tersebut. melainkan bisa melalui jaringan distribusi yang memasarkan produk produk melalui pasar tradisional.9%) b . Tidak diperkenankan beriklan. Identitas merk relative tidak dianggap penting oleh pasien.  Iklan yang dibuat harus sesuai dengan fungsi obat yang semestinya. Kekuatan penjualan secara personal kepada dokter memegang peranan yang sangat penting. dengan semakin gencarnya iklan tentang obat generik. 2. j . Pasar ethical memiliki diferensiasi nyata untuk tiap kelas produk yang ada dipasar. namun merupakan factor penting bagi dokter. multivitamin dan lain lain) g . 8 % ) f . Industri ethical di Indonesia menunjukkan angka pertumbuhan yang tinggi (mencapai 13. c . Di sisi lain. Dan pada umumnya masing-masing memiliki hak paten. e. toko-toko obat dan lain-lain. Daya penawaran pembeli Pembeli ataupun konsumen dari industry ini dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu: a. d . Konsumen akhir (pengguna obat tersebut) 1) Secara umum. konsumen tidak dapat membeli obat ethical tanpa adanya resep dari dokter. sebagai jaringan distribusinya. Untuk memasarkan produk-produk OTC. maka pasien akhir-akhir ini jadi sangat kritis terhadap obat yang akan dibeli dan makin tertarik untuk menukar dengan produk yang lebih murah . obat batuk. Terdapat beberapa kelas OTC yang beredar saat ini yang dibedakan berdasar fungsinya (analgesik.  Iklan tidak boleh menyesatkan. karena tidak mutlak diperlukan medical representative. serta tidak memiliki kemampuan nyata untuk menukar produk/obat yang harus dibeli. 3. e . 2) Di satu sisi dengan kemanjuran obat tersebut. konsumen relative akan bersikap moderat terhadap perubahan harga.

maka semakin banyaknya muncul perusahaan-perusahaan distribusi yang dimiliki oleh pabrik obat yang besar : Sanbe dengan Bina San Prima. Untuk obat yang ada efek samping akan diteliti lebih jauh) Referensi : 1. Penulisan resep dokter adalah satu-satunya cara untuk memasarkan obat ethical yang mujarab. 2) Dokter mempunyai keleluasaan penuh untuk menentukan obat yang akan ditulis dengan pertimbangan medis maupun biaya yang harus ditanggung konsumen. Analisa Potensi Layanan Kesehatan Indonesia oleh Biro Riset BUMN Center LM FEUI tahun 2012 4. 4) Konsumen lebih melihat pada merk serta fungsi obat itu sendiri dibandingkan dengan perbedaan harga pada produk OTC (loyalitas konsumen cukup kuat). 4) Harga merupakan salah satu faktor yang dominan bagi pedagang. b. dan lain-lain. dokter dan apotik. Distributor: 1) Distribusi mutlak dikuasai medical representative. 5) Trade promo lebih banyak dijumpai saat ini dibandingkan consumer promo. Profil Data Kesehatan Indonesia Tahun 2011 oleh Kementerian kesehatan 2. (Untuk konsumen promo. atau generik. biasanya konsumen meminta apotik untuk mengurangi porsi obat yang dibeli ketingkat minimum. meskipun harga merupakan salah satu factor yang dominan bagi konsumen dalam mengambil keputusan membeli atau tidaknya produk tersebut. saat ini dijumpai pada produk seperti extrajoss. 3) Dengan adanya aturan dari BPOM tentang aturan pemisahan pabrik obat dan distribusinya. Badan Pusat Statistik 3. 3) Untuk menghemat. Annual report 2011 International Trade Centre 6. Dexa dengan Anugerah Argon Medica. 5) Konsumen memiliki kemampuan nyata untuk menukar produk/obat yang harus dibeli. Kalbe dengan Enseval. WHO Health Global Expenditure Atlas 2012 . Kinerja Group Perusahaan Farmasi di Indonesia 5. Insentif untuk dokter dan medical representative sangat berpengaruh. handyplast.

com .blogspot. Evaluasi Perekonomian Tahun 2012. dan Kebijakan Bank Indonesia 8. Prospek 2013-2014. Berbagai artikel dari http://indonesia-pharmacommunity.7.

Related Interests