PENATALAKSANAAN

DAN PENANGGULANGAN
DEMAM BERDARAH
DI PUSKESMAS

05 ThursdayJUL 2012
POSTED BY SIKKABOLA IN KESEHATAN
≈ LEAVE A COMMENT
Penanggulangan Demam Berdarah Dengue di Puskesmas

Servasius suwaldus situ

Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jl. Arjuna Utara no.6 – Jakarta Barat 11470

Email : servasiussuwaldussitu@gmail.com

Pendahuluan

Demam berdarah dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dan
menimbulkan dampak sosial maupun ekonomi. Jumlah kasus yang dilaporkan cenderung
meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas. Kerugian sosial yang terjadi antara
lain karena menimbulkan kepanikan dalam keluarga, kematian anggota keluarga, dan
berkurangnya usia harapan penduduk. Dampak ekonomi langsung pada penderita DBD
adalah biaya pengobatan, sedangkan dampak ekonomi tidak langsung adalah kehilangan
waktu kerja, waktu sekolah dan biaya lain yang dikeluarkan selain untuk pengobatan seperti
transportasi dan akomodasi selama perawatan penderita. 1

Penyakit DBD sampai saat ini masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia yang cenderung meningkat jumlah pasien serta semakin luas penyebarannya. Hal
ini karena masih tersebarnya nyamuk Aedes aegypti(penular penyakit DBD) di seluruh
pelosok tanah air, kecuali pada daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas
permukaan air laut.

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) terutama menyerang anak-anak, namun dalam
beberapa tahun terakhir cenderung semakin banyak dilaporkan kasus DBD pada orang
dewasa. Penyakit ini ditandai dengan panas tinggi mendadak disertai kebocoran plasma dan
pendarahan, dapat mengakibatkan kematian serta menimbulkan wabah.

Untuk memberantas penyakit ini diperlukan pembinaan peran serta masyarakat yang terus
menerus dalam memberantas nyamuk penularnya dengan cara 3 M yaitu : menguras tempat
penampungan air (TPA), menutup TPA dan mengubur/menyingkirkan barang-barang bekas
yang dapat menampung air hujan. Cara pencegahan tersebut juga dikenal dengan istilah PSN
(Pemberantasan Sarang Nyamuk). Upaya memotivasi masyarakat untuk melaksanakan 3M
secara terus menerus telah dan akan dilakukan Pemerintah melalui kerjasama lintas program
dan lintas sektoral termasuk tokoh masyarakat dan swasta. Namun demikian penyakit ini
masih terus endemis dan angka kesakitan cenderung meningkat di berbagai daerah. Oleh
karena itu upaya untuk membatasi angka kematian penyakit ini sangat penting.2

Pembahasan

Epidemiologi DBD

Infeksi virus dengue telah ada di Indonesia sejak abad ke -18, seperti yang dilaporkan oleh
David Byfon seorang dokter berkebangsaan Belanda. Saat itu infeksi virus dengue
menimbulkan penyakit yang dikenal sebagai penyakit demam lima hari (vijfdaagse
koorts) kadang-kadang disebut juga sebagai demam sendi(knokkel koorts). Disebut
demikian karena demam yang terjadi menghilang dalam lima hari, disertai dengan nyeri pada
sendi, nyeri otot, dan nyeri kepala Pada masa itu infeksi virus dengue di Asia Tenggara hanya
merupakan penyakit ringan yang tidak pernah menimbulkan kematian. Tetapi sejak tahun
1952 infeksi virus dengue menimbulkan penyakit dengan manifestasi klinis berat, yaitu DBD
yang ditemukan di Manila, Filipina. Kemudian ini menyebar ke negara lain seperti Thailand,
Vietnam, Malaysia, dan Indonesia. Pada tahun 1968 penyakit DBD dilaporkan di Surabaya
dan Jakarta dengan jumlah kematian yang sangat tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus DBD sangat kompleks,
yaitu (1) Pertumbuhan penduduk yang tinggi, (2) Urbanisasi yang tidak terencana & tidak
terkendali. (3) Tidak adanya kontrol vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis. dan (4)
Peningkatan sarana transportasi.

Morbiditas dan mortalitas infeksi virus dengue dipengaruhi berbagai faktor antara lain status
imunitas pejamu, kepadatan vektor nyamuk, transmisi virus dengue, keganasan (virulensi)
virus dengue, dan kondisi geografis setempat. Dalam kurun waktu 30 tahun sejak ditemukan
virus dengue di Surabaya dan Jakarta, baik dalam jumlah penderita maupun daerah
penyebaran penyakit terjadi peningkatan yang pesat. Sampai saat ini DBD telah ditemukan di
seluruh propinsi di Indonesia, dan 200 kota telah melaporkan adanya kejadian luar
biasa. Incidence rate meningkat dari 0,005 per 100,000 penduduk pada tahun 1968 menjadi
berkisar antara 6-27 per 100,000 penduduk. Pola berjangkit infeksi virus dengue dipengaruhi
oleh iklim dan kelembaban udara. Pada suhu yang panas (28-32°C) dengan kelembaban yang
tinggi, nyamuk Aedes akan tetap bertahan hidup untuk jangka waktu lama. Di Indonesia,
karena suhu udara dan kelembaban tidak sama di setiap tempat, maka pola waktu terjadinya
penyakit agak berbeda untuk setiap tempat. Di Jawa pada umumnya infeksi virus dengue
terjadi mulai awal Januari, meningkat terus sehingga kasus terbanyak terdapat pada sekitar
bulan April-Mei setiap tahun.2

Distribusi. Wabah DBD baru-baru ini telah terjadi di Filipina, Kaledonia baru, Tahiti, Cina,
Vietnam. Laos, Kamboja. Maldives, Kuba, Venezuela. French Guiana, Suriname. Brasil.
Kolombia. Niakaragua dan Puerto Rico. Indonesia merupakan wilayah endemis DBD dengan
sebaran di seluruh tanah air. KLB terbesar dilaporkan di Vietnam pada tahun 1987, pada saat
itu kira-kira 370.000 kasus dilaporan. 3

Sejak pertama ditemukan penyakit DBD di Indonesia (Surabaya dan Jakarta) pada tahun
1968, jumlah kasus cenderung meningkat dan daerah penyebarannya bertambah luas,
sehingga pada tahun 1994 DBD telah tersebar ke seluruh propinsi di Indonesia. Pada tahun
2006 selama periode Januari-September tercatat 3 propinsi mengalami KLB, yaitu; Jawa
Barat, Sumatera Barat dan Kalimantan Barat di 8 kab/kota dengan jumlah kasus 1.323 orang,
21 orang diantaranya meninggal (CFR=1,59%). Jumlah KLB pada tahun 2006 ini menurun
tajam dibandingkan jumlah KLB pada tahun 2005 yang terjadi 12 propinsi di 35 kab/kota
dengan jumlah kasus 3.336 orang, 55 orang diantaranya meninggal (CFR=1,65%).

Faktor Determinan.

1) Agent – Virus penyebab Demam Dengue adalah flavivirus dan terdiri dari 4 serotipe yaitu
serotipe 1,2,3 dan 4 (dengue -1.-2,-3 dan -4). Virus yang sama menyebabkan Demam
Berdarah Dengue (DBD). Semua serotipe dengue dapat menyebabkan DHF/DSS pada unitan
menurun menurut frekwensi penyakit yang ditimbulkan tipe 2. 3,4 dan 1.

2) Host
yaitu faktor intrinsik yang sangat dipengaruhi oleh genetik yang berhubungan dengan
meningkat atau menurunnya kepekaan individu terhadap penyakit tertentu. Faktor pejamu
yang merupakan faktor risiko untuk timbulnya penyakit adalah genetik, umur, jenis kelamin,
keadaan fisiologi, kekebalan, penyakit yang diderita sebelumnya dan sifat-sifat manusia.

3) Vektor – Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran
nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus)
mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih terutama pada kakinya.
Morfologinya khas yaitu mempunyai gambaran lira (lyre-form) yang putih pada
punggungnya (mesonotum). Telur Ae.aegypti mempunyai dinding yang bergaris-garis dan
menyerupai gambaran kain kasa. Larva Ae.aegypti mempunyai pelana yang terbuka dan gigi
sisir yang berduri lateral.4

4) Reservoir – Virus dengue bertalian melalui siklus nyamuk Aedes aegypti-manusia di
daerah perkotaan negara tropis; sedangkan siklus monyet-nyamuk menjadi reservoir di Asia
Tenggara dan Afrika Barat. 5) Lingkungan (environment)
– Yang dimaksud dengan lingkungan ialah agregat dari seluruh kondisi dan pengaruh-
pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Secara
umum lingkungan ini dibedakan atas dua macam yakni:

a. Lingkungan fisik. Yang dimaksud dengan lingkungan fisik ialah lingkungan alamiah yang
terdapat di sekitar manusia. Lingkungan fisik ini banyak macamnya, misalnya cuaca, musim,
keadaan geografis dan struktur geologi. Pada kasus DBD dapat berupa tempat perindukan Ae.
aegypti yang merupakan tempat-tempat berisi air bersihyang letaknya berdekatan dengan
rumah penduduk (±500m) dan udara yang lembab. Tempat perindukan buatan manusia;
speerti tempayan/gentong tempat penyimpanan air minum, bak mandi, pot bunga, kaleng,
botol, drum, ban mobil yang terdapat di halaman rumah; juga berupa tempat perindukan
alamiah; seperti kelopak daun anaman, tempurung kelapa, tinggak bambu dan lubang pohon
yang berisi air hujan.

b. Lingkungan non-fisik.Yang dimaksud dengan lingkungan non-fisik ialah lingkungan
yang muncul sebagai akibat adanya interaksi antar manusia. Ke dalam lingkungan non-fisik
ini termasuk faktor sosial budaya, norma, nilai dan adat istiadat.

Peranan lingkungan dalam menyebabkan timbul atau tidaknya penyakit dapat bermacam-
macam. Salah satu di antaranya ialah sebagai reservoir bibit penyakit (environmental
reservoir). Adapun yang dimaksud dengan reservoir ialah tempat hidup yang dipandang
paling sesuai bagi bibit penyakit. 5

Cara Transmisi. Ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif terutama Aedes
aegypti. Ini adalah spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari dengan peningkatan
aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan beberapa jam sebelum matahari
tenggelam. Nyamuk tersebut mendapat virus dari orang yang dalam darahnya terdapat virus
itu. Orang itu (carrier) tidak harus orang yang sakit Demam Berdarah. Sebab, orang yang
mempunyai kekebalan, tidak tampak sakit atau bahkan sama sekali tidak sakit, walaupun
dalam darahnya terdapat virus dengue. Dengan demikian orang ini dapat menularkan
penyakit kepada orang lain. Virus dengue akan berada dalam darah manusia selama ± 1
minggu. Orang dewasa biasanya kebal terhadap virus dengue.

Tempat-tempat yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya penularan demam berdarah
ialah tempat umum (Rumah Sakit, Puskesmas, Sekolah, Hotel/tempat penginapan) yang
kebersihan lingkungannya tidak terjaga, khususnya kebersihan tempat-tempat penampungan
air (bak mandi. WC, dsb).

Tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita menjadi infektif bagi nyamuk pada
saat viremia yaitu : sejak beberapa saat sebelum panas sampai saat masa demam berakhir,
biasanya berlangsung selama 3-5 hari. Nyamuk menjadi infektif 8-12 hari sesudah mengisap
darah penderita viremia dan tetap infektif selama hidupnya.

Surveilans

Data tentang penyakit menular yang pernah terjadi di suatu daerah merupakan hasil dari
sistem pengamatan (surveilans) yang dilakukan oleh petugas di daerah tersebut. Data ini
penting untuk mengetahui bahwa di daerah tersebut pada masa yang lalu pernah mengalami
kejadian luar biasa. Daerah itu dapat berupa: rumah sakit, sekolah, industri, pemukiman
transmigrasi, kota, kabupaten, kecamatan, desa, atau negara.

Pengamatan epidemiologis penyakit menular ialah kegiatan yang teratur mengumpulkan,
meringkas, dan analisis data tentang insidensi penyakit menular untuk mengidentifikasikan
kelompok penduduk dengan risiko tinggi, memahami cara penyebaran dan mengurangi atau
memberantas penyebarannya.

Setiap kasus harus dilaporkan dengan jelas dan lengkap meliputi diagnosis, mulai timbulnya
gejala, dan variabel demografi seperti nama, umur, jenis kelamin, alamat dan asal data
(dokter, rumah sakit, puskesmas, sekolah, tempat kerja, dan lain-lain).

Dengan mengadakan analisis secara teratur, kita dapat memperoleh berbagai informasi
tentang penyakit musiman atau kecenderungan jangka panjang, perubahan daerah
penyebaran, kelompok penduduk risiko tinggi yang dirinci menurut umur, jenis kelamin,
suku, agama, sosial ekonomi, dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan.
Pengamatan epidemiologis secara garis besar dapat dilakukan secara: aktif dan pasif.6

Surveilans pasif ialah pengumpulan data yang diperoleh dari laporan bulanan sarana
pelayanan di daerah. Dari data yang diperoleh dapat diketahui distribusi geografis tentang
berbagai penyakit menular, penyakit rakyat, perubahan-perubahan yang terjadi, dan
kebutuhan tentang penelitian sebagai tindak lanjut.

Surveilans aktif ialah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung untuk mempelajari
penyakit tertentu dalam waktu yang relatif singkat dan dilakukan oleh petugas kesehatan
secara teratur seminggu sekali atau 2 minggu sekali untuk mencatat ada atau tidaknya kasus
baru penyakit tertentu.6

Pencatatan meliputi variabel demografis, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan, sosial
ekonomi, saat waktu timbul gejala, pola makanan, tempat kejadian yang berkaitan dengan
penyakit tertentu dan pencatatan tetap dilakukan walaupun tidak ditemukan kasus baru.

Pengamatan Epidemiologi dan tindakan Pemberantasan7

a) Surveillance epidemiologi

1. Tujuan:
 Deteksisecara dini adanya “out break” atau kasus-kasus yang endemis, sehingga
dapat dilakukan usaha penanggulangan secepatnya.

 Mengetahui faktor-faktor terpenting yang menyebabkan atau membantu adanya
penularan-penularan atau wabah.

2. Daerah pelaksanaan:

 Surveillancetidak hanya dilaksanakan di desa-desa dimana sudah pernah terdapat
penderita/penularan DBD saja, tetapi harus dilaksanakan juga di daerah- daerah
yang receptive, yaitu daerah-daerah dimana diketahui terdapat Aedes aegepti saja
sudah cukup untuk dinyatakan receptive.

1. Pelaksanaan:

 Penemuan penderita.

 Untuk hal ini perlu ditentukan kriteria yang Standard guna diagnosa klinis dan konfirmasi
laboratorium dari DBD.

 Pelaporan penderita.

 Penderita yang telah ditemukan di Puskesmas/Puskesmas Pembantu perlu dilaporkan
kepada unit-unit surveillance epidemiologi.

 Penelitian wabah. Bila dicurigai adanya wabah perlu dilakukan penelitian di lapangan,
maksudnya ialah: 1) Untuk mengetahui adanya penderita-penderita lain atau penderita-
penderita tersangka DBD yang perlu dikonfirmasi laboratorium. 2) Menentukan luas
daerah yang terkena dan luas daerah yang perlu ditanggulangi. 3) Penilaian sumber-
sumber (inventory) mengenai keadaan umum setempat, mengenai fasilitas dan faktor-
faktor yang berperanan penting pada timbulnya wabah. 4) Setiap kasus demam
berdarah/tersangka demam berdarah perlu dilakukan kunjungan rumah oleh petugas
Puskesmas untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik di rumah kasus tersebut dan 20
rumah di sekelilingnya. Bila terdapat jentik, masyarakat diminta melakukan
pemberantasan sarang nyamuk (Pada umumnya Penyemprotan/fogging, dilaksanakan
oleh Dinas Kesehatan Dati II. Prioritas fogging adalah pada areal dengan kasus-kasus
demam berdarah yang mengelompok, dan yang meninggal).
1. Surveillance vektor – Untuk tingkat Puskesmas kegiatannya membantu Tim Dati II atau
Dati I dalam pelaksanaan surveillance vektor ini.

Teknik penemuan kasus DBD.

Penyelidikan epidemiologi DBD merupakan kegiatan pelacakan penderita/tersangka
lainnya dan pemeriksaan jentik nyamuk penular penyakit demam berdarah dengue di
rumah penderita/tersangka dan rumah-rumah sekitarnya dalam radius sekurang-
kurangnya 100 meter, serta tempat umum yang diperkirakan menjadi sumber penyebaran
penyakit lebih lanjut.

Metode pencarian kasus penyakit menular, terutama yang disebabkan nyamuk, di
Indonesia, dengan cara active case finding, passive case finding, ataupun survey (Mass
survey, Fever survey). Active Case Finding (ACD) umumnya dilaksanakan dengan cara
kunjungan dari rumah ke rumah oleh petugas kesehatan biasanya setiap 1 dan 2 bulan.
Semua rumah harus dapat dikunjungi dan dilakukan pemeriksaan terhadap adanya
kemungkinan infeksi DBD. ACD ini umumnya dilakukan di daerah non-endemis DBD.
Umumnya di Indonesia, pencarian kasus DBD menggunakan teknik Passive Case
Finding (PCD). Pada teknik PCD si penderita dengan gejala DBD datang ke di rumah
sakit, Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Poliklinik untuk berobat, kemudian
dilakukan pemeriksaan hingga didiagnosa penyakit DBD. PCD biasanya diperuntukkan di
daerah endemis.

Upaya Kesehatan Pokok Puskesmas

Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua yakni :7

I. Upaya Kesehatan Wajib – Upaya kesehatan wajib Puskesmas adalah upaya yang
ditetapkan berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai
daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan
wajib tersebut adalah upaya promosi kesehatan, upaya kesehatan, upaya kesehatan ibu
dan anak serta keluarga berencana, upaya perbaikan gizi masyarakat, upaya pencegahan
dan pemberantasan penyakit menular dan upaya pengobatan. Upaya kesehatan wajib
tersebut adalah:

A. Upaya Promosi Kesehatan

B. Upaya Kesehatan Lingkungan

C. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana

D. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat

E. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular

F. Upaya Pengobatan

II. Upaya Kesehatan Pengembangan – Upaya kesehatan pengembangan Puskesmas
adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di
masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas. Upaya kesehatan
pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan pokok Puskesmas yang telah ada yakni
a) Upaya Kesehatan sekolah, b) Upaya Kesehatan Olahraga, c) Upaya Perawatan
Kesehatan Masyarakat, d) Upaya Kesehatan Kerja, e) Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut,
f) Upaya Kesehatan Jiwa, g) Upaya Kesehatan Mata, h) Upaya Kesehatan Usia Lanjut, i)
Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional.

Upaya laboratorium medis dan laboratorium kesehatan masyarakat serta upaya pencatatan
pelaporan tidak termasuk pilihan karena ketiga upaya ini merupakan pelayanan penunjang
dari setiap upaya wajib dan upaya pengembangan Puskesmas. Perawatan kesehatan
masyarakat merupakan pelayanan penunjang baik upaya kesehatan wajib maupun
kesehatan pengembangan. Apabila perawatan kesehatan masyarakat menjadi
permasalahan spesifik di daerah tersebut maka dapat dijadikan sebagai salah satu upaya
kesehatan pengembangan.

Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular – DBD

Gejala umum DBD8

G. Hari ke-1 :
(1 ) Mula-mula timbul panas mendadak (suhu badan 38° — 40°)

(2) Badan lemah dan lesu

H. Hari ke-2 atau ke-3 :

(3) Perut (ulu hati) terasa nyeri

(4) Petechiae (bintik-bintik merah di kulit) pada muka, lengan, paha, perut atau dada.
Kadang-kadang bintik-bintik merah ini hanya sedikit sehingga sering perlu
pemeriksaan yang teliti. Bintik-bintik merah ini mirip dengan bekas gigitan nyamuk.
Untuk membedakannya ranggangkan kulit: bila hilang, bukan demam berdarah.
Untuk melihat adanya petechiae lakukan pemeriksaan dengan tourniquet (rumpel
leede) test. Test positif setelah pemeriksaan tourniquet (rumpel leede) keluar
petechiae di tangan.

(5) Kadang-kadang terjadi perdarahan hidung (mimisan), mulut atau gusi dan muntah
darah atau berak darah. Tanda-tanda dan gejala di atas disebabkan karena pecahnya
pembuluh darah kapiler yang terjadi di semua organ tubuh.

I. Hari ke-4 s/d 7 :

(6) Bila keadaan penyakit menjadi parah, penderita gelisah, berkeringat banyak,
ujung-ujung tangan dan kaki dingin (pre shock).

(7) Bila keadaan (pre-shock) ini berlanjut, maka penderita dapat mengalami shock
(lemah tak berdaya, denyut nadi cepat atau sukar diraba), atau disebut dengan Dengue
Shock Syndrome (DSS), dan bila tidak segera ditolong dapat meninggal. Keadaan
pre-shock dan shock ini disebabkan oleh adanya gangguan pada pembuluh darah
kapiler yang mengakibatkan merembesnya plasma darah keluar dari pembuluh darah.
Selain itu juga oleh karena adanya perdarahan.

 Stadium DBD: (WHO, 1997)2

I : demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan ialah uji
torniquet +
II : seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan lain.

III : didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat, tekanan nadi menurun
(≤ 20 mmHg) atau hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak
tampak gelisah

IV : syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak teratur

Catatan: Adanya trombositopenia disertai hemokonsentrasi membedakan DBD derajat I/II
dengan DD. Pembagian derajat penyakit dapat juga dipergunakan untuk kasus dewasa.

Cara Diagnosis. Adanya 2 atau 3 kriteria klinik yang pertama disertai adanya
thrombocytopenia sudah cukup untuk menegakkan diagnosa Demam Berdarah secara
klinik. Bila kriteria tersebut belum/tidak dipenuhi disebut sebagai suspect Demam
Berdarah. Diagnosa pasti dilakukan dengan pemeriksaan serologis spesimen akut dan
konvalescen.

 Kriteria DBD: 1. Kriteria Klinis: a) demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, terus –
menerus selama 2 – 7 hari, b) manifestasi perdarahan (uji torniquet positif, petekiia,
akimosis, purpura, perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan atau
melena), c) pembesaran hati, d) syok,ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan
tekanan nadi, hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab, dan pasien tampak gelisah.
2. Kriteria Laboratoris: a) trombositopenia ≤ 100.000/mm3, dan b) hemokonsentrasi, dapat
dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau lebih.2

Pengobatan umum di puskesmas

Pertolongan pada penderita yang dapat dilakukan meliputi: a) Beri penderita minum
banyak-banyak (air masak, susu, teh, atau minuman lain), b) Beri penderita obat penurun
panas dan/atau kompres dengan es, dan c) Penderita dengan gejala pre-shock harus
dirawat (di rumah sakit/Puskesmas).7

Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan
plasma sebagai akibat peningkatan kapiler dan sebagai akibat perdarahan. Pasien DD
dapat berobat jalan sedangkan pasien DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada
kasus DBD dengan komplikasi perlu perawatan intensif.

 Tirah baring selama masih demam

 Obat antipiretik atau kompres panas hangat.

 Untuk menurunkan suhu dianjurkan pemberian parasetamol. Asetosal/salisilat tidak
dianjurkan oleh karena dapat menyebabkan gastritis, perdarahan atau asidosis.

 Diajurkan pemberian cairan elektrolit (mencegah dehidrasi sebagai akibat demam,
anoreksia dan muntah) per oral, jus buah, sirup, susu. Disamping air putih, dianjurkan
diberikan selama 2 hari.

 Pasien harus diawasi ketat terhadap kejadian syok. Periode kritis adalah pada saat
suhu turun pada umumnya hari ke-3 -5 fase demam.

 Pemeriksaan kadar hematokrit berkala untuk pengawasan hasil pemberian cairan yaitu
menggambarkan derajat kebocoran plasma dan pedoman kebutuhan cairan vena.

 Jenis cairan kristaloid : larutan ringer laktat ( RL), larutan ringer asetat (RA), larutan
garam faali (GF), detroksa 5% dalam larutan ringer laktat (D5/RL), detroksa 5%
dalam larutan ringer asetat (D5/RA). (catatan : untukresusitasi syok dipergunakan
larutan RL atau RA tidak boleh larutan yang mengandung dekstran)

 Cairan koloid : dekstran 40, plasma, albumin.

Penanggulangan dan Promosi Kesehatan

Upaya penanggulangan DBD telah dilaksanakan sejak tahun 1968, namun diprogramkan
secara teratur sejak tahun 1974 dengan dibentuknya Subdit Arbovirosis di Departemen
Kesehatan. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan antara lain meliputi: 1) Pelatihan dokter,
2) Pemberantasan vektor dan 3) Penyuluhan kepada masyarakat.

Mengingat vaksin untuk mencegah dan obat untuk membasmi virusnya belum tersedia,
maka cara yang dapat dilakukan sampai saat ini ialah dengan memberantas nyamuk
penularnya (vektor). Pemberantasan vektor dapat dilakukan terhadap nyamuk dewasa
maupun jentiknya.
Pada tahun 1969-1980 pemberantasan vektor menggunakan insektisida
denganfogging terutama bila terjadi wabah atau kejadian luar biasa (KLB). Pada tahun
1988, selain fogging juga dilaksanakan abatisasi massal untuk membunuh jentik, yang
dilakukan sebelum musim penularan di daerah endemis.

Sejak tahun 1989/1990 dilaksanakan pemberantasan DBD secara terpadu, yaitu terdiri
dari penanggulangan fokus, fogging massal sebelum musim penularan dan abatisasi
setiap tiga bulan di kelurahan-kelurahan endemis. Di kelurahan-kelurahan lain dalam
wilayah kecamatan yang sama, dilakukan penyuluhan kepada masyarakat untuk
melaksanakan PSN DBD. Cara tersebut mulai diterapkan secara intensif pada tahun
1991/1992, namun luas wilayah yang ditanggulangi masih sangat terbatas.

Namun demikian, hingga saat ini upaya pemberantasan DBD belum berhasil di
Indonesia, sehingga penyakit ini masih sering terjadi dan menimbulkan KLB di berbagai
daerah. Permasalahan utama dalam upaya menekan angka kesakitan adalah masih belum
berhasilnya upaya penggerakan peran serta masyarakat dalam PSN DBD melalui
Gerakan 3M yang mulai diintensifkan sejak 1992.

Oleh karena itu, untuk meningkatkan upaya pemberantasan penyakit DBD pada tahun
2004 baik selama KLB maupun sesudah KLB dan untuk tahun-tahun yang akan datang
diperlukan adanya Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam melakukan pemeriksaan jentik
secara berkala dan terus-menerus serta menggerakkan masyarakat dalam melaksanakan
PSN DBD.2

Penyuluhan dan penggerakan masyarakat untuk PSN (pemberantasan sarang nyamuk).
Penyuluhan/informasi tentang demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui
jalur- jalur informasi yang ada:7

 Penyuluhan kelompok: PKK, organisasi sosial masyarakat lain, kelompok agama,
guru, murid sekolah, pengelola tempat umum/instansi, dll.

 Penyuluhan perorangan:

1. Kepada ibu-ibu pengunjung Posyandu

2. Kepada penderita/keluarganya di Puskesmas
3. Kunjungan rumah oleh Kader/petugas Puskesmas

 Penyuluhan melalui media massa: TV, radio, dll (oleh Dinas Kesehatan Tk. II, I dan
pusat). Menggerakkan masyarakat untuk PSN penting terutama sebelum musim penularan
(musim hujan) yang pelaksanaannya dikoordinasikan oleh kepala Wilayah setempat.
Kegiatan PSN oleh masyarakat ini seyogyanya diintegrasikan ke dalam kegiatan di
wilayah dalam rangka program Kebersihan dan Keindahan Kota. Di tingkat Puskesmas,
usaha/kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) demam berdarah ini seyogyanya
diintegrasikan dalam program Sanitasi Lingkungan.

Cara MelakukanPenyuluhan Kelompok

1. Penyuluhan kelompok dapat dilaksanakan di kelompok Dasawisma, pertemuan arisan
atau pada pertemuan Warga RT/RW, pertemuan dalam kegiatan keagamaan atau
pengajian, dan sebagainya.

2. Langkah-langkah dalam melakukan penyuluhan kelompok:1

 Usahakan agar setiap peserta pertemuan dapat duduk dalam posisi saling bertatap
muka satu sama lain. Misalnya berbentuk huruf U, O atau setengah lingkaran.

 Mulailah dengan memperkenakan diri dan perkenalan semua peserta

 Kemudian disampaikan pentingnya membicarakan demam berdarah dengue, antara
lain bahayanya, dapat menyerang sewaktu-waktu pada semua umur terutama anak-
anak.

 Jelaskan materi yang telah disiapkan sebelumnya secara singkat dengan menggunakan
gambar-gambar atau alat peraga misalnya lembar balik (flipchart)
atau leaflet/poster

 Setelah itu beri kesempatan kepada peserta untuk berbicara atau mengajukan
pertanyaan tentang materi yang dibahas

Pada akhir penyuluhan, ajukan beberapa pertanyaan untuk mengetahui sejauh mana materi
yang disampaikan telah dipahami.
Pelaporan penderita dan pelaporan kegiatan

1. Sesuai dengan ketentuan/sistim pelaporan yang berlaku, pelaporan penderita demam
berdarah dengue menggunakan formulir :

A. W1/laporan KLB (wabah)

B. W2/laporan mingguan wabah

C. SP2TP: LB 1/laporan bulanan data kesakitan, LB 2/laporan bulanan data kematian.
Sedangkan untuk pelaporan kegiatan menggunakan formulir LB3/laporan bulanan
kegiatan Puskesmas (SP2TP).

2. Penderita demam berdarah/suspect demam berdarah perlu diambil specimen darahnya
(akut dan konvalesens) untuk pemeriksaan serologis. Specimen dikirim bersama-sama ke
Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) melalui Dinas Kesehatan Dati II setempat.

Indikator KLB

KLB adalah timbulnya suatu kejadian kesakitan / kematian dan atau meningkatnya suatu
kejadian atau kesakitan / kematian yang bermakna secara epidemiologi pada sutu
kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. Termasuk kejadian kesakitan/kematian
yang disebabkan oleh penyakit menular maupun yang tidak menular dan kejadian
bencana alam yang disertai wabah penyakit.

Kriteria Penetapan KLB Demam Berdarah Dengue

A. Timbulnya penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang sebelumnya tidak ada
di suatu daerah Tingkat II.

B. Adanya peningkatan kejadian kesakitan DBD dua kali atau lebih dibandingkan jumlah
kesakitan yang biasa terjadi pada kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.

Indikator KLB Demam Berdarah Dengue
 Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1202/Menkes/SK/VIII/2002 tentang
Indikator Indonesia Sehat 2010 dirumuskan indikator KLB Demam Berdarah Dengue
yaitu: “Aneka kesakitan (morbiditas) DBD adalah jumlah kasus DBD di suatu wilayah
tertentu selama satu tahun dibagi jumlah penduduk di wilayah dan kurun waktu yang
sama, dikalikan 100.000.” (Depkes 2003)

Pencegahan & Pemberantasan vektor

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 581/Menkes/SK/VII/1992: “upaya pemberantasan
penyakit demam berdarah dengue dilakukan melalui kegiatan pencegahan, penemuan,
pelaporan penderita, pengamatan penyakit dan penyelidikan epidiomologi, penanggulangan
seperlunya, penanggulangan lain dan penyuluhan kepada masyarakat.”

1. Cara memberantas nyamuk dewasa1

Fogging (pengasapan). Nyamuk Aedes aegypti dapat diberantas dengan fogging
(pengasapan) racun serangga, termasuk racun serangga yang dipergunakan sehari-hari di
rumah tangga. Melakukan pengasapan saja tidak cukup, karena dengan pengasapan itu
yang mati hanya nyamuk (dewasa) saja. Selama jentiknya tidak dibasmi, setiap hari akan
muncul nyamuk yang baru menetas dari tempat perkembang biakannya Karena itu cara
yang tepat adalah memberantas jentiknya yang dikenal dengan istilah PSN DBD yaitu
singkatan dari Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue.

Fogging tertutup adlah pada saat fogging dilakukan semua pintu dan jendela ditutup rapat
– rapat. Dilakukan sekitar jam 7.00 – 10.00 dan jam 15.00 – 18.00. Fogging terbuka
adalah pada saat fogging / pengasapan dilakukan semua pintu dan jendeladibuka lebar –
lebar. Dilakukan sekitar jam 7.00 – 10.00 dan jam 15.00 – 18.00. Fogging fokus adalah
fogging yang dilakukan dititik fokus dan sekitarnya dengan jarak radius 100 m atau ± 20
rumah sekitarnya. Dilakukan dua siklus dengan jarak seminggu, diikuti abatisasi. Fogging
fokus dilakukan setelah penyelidikan epidemiologi positif.

Syarat PE /penyelidikan epidemiologi ( + ):

 Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ada 2 kasus DBD lainnya
 Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ditemukan ada kasus demam tanpa sebab
jelas

 Dalam radius 100 m dari rumah penderita DBD ditemukan 1 kasus meninggal karena
sakit DBD

1. Cara memberantas jentik Aedes aegypti

i)
PSN DBD dilakukan dengan cara 3M, yaitu:

A. Menguras tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali.

B. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air

C. Menguburkan, mengumpulkan, memanfaatkan, atau menyingkirkan barang-barang
bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, plastik bekas, dan lain-
lain.

Selain itu ditambah dengan cara lainnya (yang dikenal dengan istilah 3M plus), seperti:

D. Ganti air vas bunga, minuman burung dan tempat-tempat lainnya seminggu sekali

E. Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar/rusak

F. Tutup lubang-lubang pada potongan bambu, pohon dan lain-lain misalnya dengan
tanah

G. Bersihkan/keringkan tempat-tempat yang dapat menapung air seperti pelepah pisang
atau tanaman lainnya termasuk tempat- tempat lain yang dapat menampung air hujan
di pekaranga, kebun, pemakaman, rumah-rumah kosong, dan lain-lain.

H. Lakukan larvasidasi, yaitu membubuhkan bubuk pembunuh jentik (Abate 1 G, Altosid
1,3 G dan Sumilarv 0,5 G (DBD)) di tempat- tempat yang sulit dikuras atau di daerah
yang sulit air
I. Pelihara ikan pemakan jentik nyamuk

J. Pasang kawat kasa di rumah

K. Pencahayaan dan ventilasi memadai

L. Jangan biasakan menggantung pakaian dalam rumah

M. Tidur menggunakan kelambu, dan

N. Gunakan obat nyamuk (bakar, gosok) dan lain-lain untuk mencegah gigitan nyamuk.

Perlindungan perseorangan:7

Memberikan anjuran untuk mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan
meniadakan sarang nyamuknya di dalam rumah. Yaitu dengan melakukan penyemprotan
dengan obat anti serangga yang dapat dibeli di toko-toko seperti baygon, raid dan lain
lain.

O. Pemberantasan vektor jangka panjang (pencegahan)

Satu cara pokok untuk pemberantasan vektor jangka panjang ialah usaha peniadaan
sarang nyamuk, vas bunga dikosongkan tiap minggu, menguras bak mandi seminggu
sekali yaitu dengan menggosok dinding bagian dalam dari bak mandi tersebut,
tempat-tempat persediaan air agar dikosongkan lebih dahulu sebelum diisi kembali.
Maksudnya agar larva-larva dapatdisingkirkan.Dalam usaha jangka panjang untuk
daerah dengan vektor tinggi dan riwayat wabah DBD maka kegiatan Puskesmas lebih
lanjut yaitu: 1) Abatesasi untuk membunuh larva dan nyamuk, dan 2) Fogging
dengan malathion atau fonitrothion.

P. Pemberantasan vektor dalam keadaan wabah. Kegiatan Puskesmas adalah membantu :
a) Tim Propinsi/Dati II untuk survai larva dan nyamuk, b) Membantu penyiapan
rumah penduduk untuk di-fogging.

ii) Larvasidasi. Larvasidasi adalah menaburkan bubuk pembunuh jentik ke dalam
tempat- tempat penampungan air. Bila menggunakan Abate disebutAbatisasi. Cara
melakukan larvasidasi:
Q. Menggunakan bubuk Abate 1 G (bahan aktif: Temephos 1%) – Takaran penggunaan
bubuk Abate 1 G adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter cukup dengan 10 gram
bubuk Abate 1 G dan seterusnya. Bila tidak ada alat untuk menakar, gunakan sendok
makan, satu sendok makan peres (yang diratakan di atasnya) berisi 10 gram Abate 1
G. Selanjutnya tinggal membagikan atau menambahkannya sesuai dengan banyaknya
air yang akan diabatisasi. Takaran tidak perlu tepat betul.

R. Menggunakan Altosid 1,3 G (bahan aktif: Metopren 1,3%) – Takaran penggunaan
Altosid 1,3 G adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter air cukup dengan 2,5 gram
bubuk Altosid 1,3 G atau 5 gram untuk 200 liter air. Gunakan takaran khusus yang
sudah tersedia dalam setiap kantong Altosid 1,3 G. Bila tidak ada – alat penakar,
gunakan sendok teh, satu sendok teh peres (yang diratakan atasnya) berisi 5 gram
Altosid 1,3 G. Selanjutnya tinggal membagikan atau menambahkannya sesuai dengan
banyaknya air. Takaran tidak perlu tepat betul.

S. Menggunakan Sumilarv 0,5 G (DBD) (bahan aktif:piriproksifen 0,5%) – Takaran
penggunaan Sumilarv 0,5 G (DBD) adalah sebagai berikut: Untuk 100 liter air cukup
dengan 0,25 gram bubuk Sumilarv 0,5 G (DBD) atau 0.5 gram untuk 200 liter air.
Gunakan takaran khusus yang tersedia (sendok kecil ukuran kurang lebih 0,5 gram).
Takaran tidak perlu tepat betul.

Angka Bebas Jentik

Merupakan salah satu indicator keberhasilan program pemberantasan vector penular
DBD. Angka Bebas Jentik sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vector melalui
gerakan PSN-3M menunjukan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD.
Rata-rata ABJ yang dibawah 95% menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam
mencegah DBD di lingkunagnnya masing-masing belum optimal.

Cara Melakukan Pemeriksaan Jentik

Cara-cara memeriksa jentik: i) Periksalah bak mandi/WC, tempayan, drum dan tempat-
tempat penampungan air lainnya, ii) Jika tidak tampak, tunggu ± 0,5-1 menit, jika ada
jentik ia akan muncul kepermukaan air untuk bernapas, iii) Di tempat yang gelap gunakan
senter/battery. iv) Periksa juga vas bunga, tempat minum nurung, kaleng-kaleng, plastik,
ban bekas dan lain-lain. Contoh formulir hasil pemeriksaan jentik

HASILPEMERIKSAAN JENTIK

RT/RW:

desa/kelurahan :

Jentik
Nama Kepala
Keluarga/pengelola Alamat (-
No bangunan (RT/RW) (+) ) Keterangan

…………, ………………………
20…

Petugas Jumantik,

( …………………………………………………… )

Catatan: – Satu lembar formulir di isi untuk kurang lebih 30 KK (kepala keluarga)

– Melaporkan hasil pemeriksaan jentik (ABJ) ke puskesmas sebulan sekali.
Puskesmas

Manajemen Puskesmas9

Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan
masyarakat yang sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas perlu ditunjang oleh
manajeman Puskesmas yang baik. Manajemen Puskesmas adalah rangkaian kegiatan
yang bekerja secara sistematik untuk menghasilkan keluaran Puskesmas yang efektif dan
efisien. Rangkaian kegiatan sistematis yang dilaksanakan oleh Puskesmas membentuk
fungsi-fungsi manajeman. Ada tiga fungsi manajemen Puskesmas yang dikenal yakni
Perencanaan, Pelaksanaan dan Pengendalian tersebut harus dilaksanakan secara terkait
dan berkesinambungan.

I. Perencanaan

Perencanaan adalah proses penyusunan rencana tahunan Puskesmas untuk mengatasi
masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Rencana tahunan Puskesmas dibedakan
atas dua macam. Pertama, rencana tahunan upaya kesehatan wajib. Kedua, rencana
tahunan upaya kesehatan pengembangan.

1. Perencanaan Upaya Kesehatan Wajib

Jenis upaya kesehatan wajib adalah sama untuk setiap Puskesmas yakni Promosi
Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Kesehatan Ibu dan Anak termasuk Keluarga
Berencana, Perbaikan Gizi Masyarakat, Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit
Menular serta Pengobatan. Langkah-langkah perencanaan yang harus dilakukan
Puskesmas adalah : a) Menyusun usulan kegiatan, b) Mengajukan usulan kegiatan, dan c)
Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan.

2. Perencanaan Upaya Kesehatan Pengembangan

Jenis upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar upaya kesehatan Puskesmas yang
telah ada, atau upaya inovasi yang dikembangkan sendiri. Langkah-langkah perencanaan
upaya kesehatan pengembangan yang dilakukan oleh Puskesmas mencakup hal-hal
sebagai berikut : a) Identifikasi upaya kesehatan pengembangan, b) Menyusun usulan
kegiatan, c) Mengajukan usulan kegiatan, dan d) Menyusun rencana pelaksanaan
kegiatan.
II. Pelaksanaan dan Pengendalian

Pelaksanaan dan Pengendalian adalah proses penyelenggaraan, pemantauan serta
penilaian terhadap penyelenggaraan rencana tahunan Puskesmas, baik rencana tahunan
upaya kesehatan wajib maupun rencana tahunan upaya kesehatan pengembangan, dalam
mengatasi masalah kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Langkah-langkah pelaksanaan
dan pengendalian adalah sebagai berikut :

A. Pengorganisasian

Untuk dapat terlaksananya rencana kegiatan Puskesmas perlu dilakukan
pengorganisasian. Ada dua macam pengorganisasian yang harus dilakukan. Pertama,
pengorganisasian berupa penentuan para penanggungjawab dan para pelaksana untuk
setiap kegiatan serta untuk setiap satuan wilayah kerja dan seluruh wilayah kerja kepada
seluruh petugas Puskesmas dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimilikinya.
Penetuan para penanggungjawab ini dilakukan melalui pertemuan penggalangan tim pada
awal tahun kegiatan.

Kedua, pengorganisasian berupa penggalangan kerjasama tim secara lintas sektoral. Ada
dua bentuk penggalangan kerjasama yang dapat dilakukan yaitu penggalangan kerjasama
bentuk dua pihak yakni antara dua sektor terkait, misalnya antara puskesmas dengan
sektor tenaga kerja pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan kerja dan
penggalangan kerjasama bentuk banyak pihak yakni antar berbagai sektor terkait,
misalnya antara Puskesmas dengan sektor pendidikan, serta agama, sektor kecamatan
pada waktu menyelenggarakan upaya kesehatan sekolah. Penggalangan kerjasama lintas
sektor ini dapat dilakukan secara langsung yakni antar sektor-sektor terkait dan secara
tidak langsung yakni dengan memanfaatkan pertemuan koordinasi kecamatan.

B. Penyelenggaraan

Setelah pengorganisasian selesai dilakukan, kegiatan selanjutnya adalah
menyelenggarakan rencana kegiatan Puskesmas, dalam arti para penanggungjawab dan
para pelaksana yang telah ditetapkan pada pengorganisasian, ditugaskan
menyelenggarakan kegiatan Puskesmas sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Untuk dapat diselenggarakannya rencana tersebut perlu dilakukan kegiatan sebagai
berikut :
1. Mengkaji ulang rencana pelaksanan yang telah disusun terutama yang menyangkut
jadwal pelaksanaan, target pencapaian, lokasi wilayah kerja dan rincian tugas para
penanggungjawab dan pelaksanaan.

2. Menyusun jadwal kegiatan bulanan untuk tiap petugas sesuai dengan rencana
pelaksanaan yang telah disusun. Beban kegiatan Puskesmas harus terbagi habis dan
merata kepda seluruh petugas.

3. Menyelenggarakan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Kendali mutu
dan kendali biaya merupakan 2 hal penting dalam penyelenggaraan Puskesmas. Kendali
mutu adalah upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan, sistematis, obyektif dan
terpadu dalam menetapkan masalah yang menyebabkan masalah mutu pelayanan
berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menerapkan dan melaksanakan cara
penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang tersedia serta menilai hasil yang
dicapai dan menyusun saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan.
Sedangkan kendali biaya adalah upaya yang dilaksanakan secara berkesinambungan,
sistematis, objektif dan terpadu dalam menetapkan kebijakan dan tatacara
penyelenggaraan upaya kesehatan termasuk pembiayaannya, serta memantau
pelaksanaannya sehingga terjangkau oleh masyarakat.

C. Penilaian

Kegiatan penilaiaan dilakukan pada akhir tahun anggaran. Kegiatan yang dilakukan
mencakup hal-hal sebagai berikut : 1) Melakukan penilaiaan terhadap penyelenggaraan
kegiatan dan hasil yang dicapai, dibandingkan dengan rencana dan standar pelayanan
Sumber data yang dipergunakan pada penilaian dibedakan atas dua, berbagai sumber data
lain yang terkait, yang dikumpulkan secara khusus pada akhir tahun Kedua, sumber data
sekunder yakni data dari hasil pemantauan bulanan dan triwulan. 2) Menyusun saran
peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian serta masalah dan
hambatan yang ditemukan untuk rencana tahun berikutnya.

III. Pengawasan dan Pertanggungjawaban

Pengawasan dan pertanggungjawaban adalah proses memperoleh kepastian atas
kesesuaian penyelengaraan dan pencapaian tujuan Puskesmas terhadap rencana dan
peraturan perundang-undangan serta berbagai kewajiban yang berlaku. Untuk
terselenggaranya pengawasan dan pertanggungjawaban dilakukan kegiatan sebagai
berikut :

1. Pengawasan – Pengawasan dibedakan atas dua macam yakni pengawasan internal dan
eksternal. Pengawasan internal dilakukan secara melekat oleh atasan langsung.
Pengawasan eksternal dilakukan oleh masyarakat, dinas kesehatan kabupaten/kota serta
berbagai institusi pemerintah terkait. Pengawasan mencakup aspek adminstratif,
keuangan dan teknis pelayanan. Apabila pada pengawasan ditemukan adanya
penyimpangan, baik terhadap rencana, standar, peraturan perundangudangan maupun
berbagai kewajiban yang berlaku, perlu dilakukan pembinaan sesuai dengan ketentuan
yang berlaku.

2. Pertanggungjawaban – Pada setiap akhir tahun anggaran, Kepala Puskesmas harus
membuat laporan pertanggungjawaban tahunan yang mencakup pelaksanaan kegiatan,
serta perolehan dan penggunaan berbagai sumberdaya termasuk keuangan. Laporan
tersebut disampaikan kepada Dinas kesehatan kabupaten/kota serta pihak-pihak terkait
lainnya, termasuk masyarakat melalui Badan Penyantun Puskesmas. Apabila terjadi
penggantian Kepala Puskesmas, maka Kepala Puskesmas yang lama diwajibkan membuat
laporan pertanggungjawaban masa jabatannya.

Pemantauan Pelaksanaan7

(Sistem Pencatatan Dan Pelaporan Terpadu Puskesmas SP2TP)

2. Pengertian, Tujuan dan Ruang Lingkup

A. Pengertian: Dalam manajemen diperlukan adanya data yang akurat, tepat waktu dan
kontinu serta mutakhir secara periodik. Berdasar S.K. Menteri Kesehatan nomor
63/Menkes/ll/l98l, berlaku sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas
(SP2TP). SP2TP adalah tata cara pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk
pengelolaan Puskesmas, meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan kegiatan pokok
yang dilakukan serta hasil yang dicapai oleh Puskesmas. Dengan melakukan SP2TP
sebaik-baiknya, akan didapat data dan informasi yang diperlukan untuk perencanaan,
penggerakan pelaksanaan, pemantauan, pengawasan, pengendalian dan penilaian
penampilan Puskesmas serta situasi kesehatan masyarakat umumnya.

B. Tujuan:
i. Umum: Tersedianya data dan informasi yang akurat tepat waktu dan mutakhir
secara periodik/ teratur untuk pengelolaan program kesehatan masyarakat melalui
Puskesmas di berbagai tingkat administrasi.

ii. Khusus: a) Tersedianya data yang meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan
kegiatan pokok Puskesmas yang akurat tepat waktu dan mutakhir secara teratur. b)
Terlaksananya pelaporan data tersebut secara teratur di berbagai jenjang
administrasi, sesuai dengan peraturan yang berlaku. c) Termanfaatkannya data
tersebut untuk pengambilan keputusan dalam rangka pengelolaan program
kesehatan masyarakat melalui Puskesmas di berbagai tingkat administrasi.

C. Ruang Lingkup

D. SP2TP dilakukan oleh semua Puskesmas (termasuk Puskesmas dengan Perawatan,
Puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling).

E. Pencatatan dan Pelaporan mencakup: a) data umum dan demografi wilayah kerja
Puskesmas, b) data ketenagaan di Puskesmas, c) data sarana yang dimiliki Puskesmas,
dan d) data kegiatan pokok Puskesmas yang dilakukan baik di dalam maupun di luar
gedung Puskesmas.

F. Pelaporan dilakukan secara periodik (bulanan, tribulanan, semester dan tahunan),
dengan menggunakan formulir yang baku. Seyogyanya berjenjang dari Puskesmas ke
Dati II, dari Dati II ke Dati I, dan Dati I ke Pusat. Namun sementara ini dapat
dilakukan dari Dati II langsung ke Pusat, dengan tindasan ke Propinsi.

2) Beberapa Batasan

Dalam pelaksanaan SP2TP ada beberapa batasan tentang istilah yang digunakan untuk
mendapatkan kesamaan pengertian, sehingga pencatatan dilakukan dengan benar dan
sama di seluruh Puskesmas.

a) Kunjungan – Ada 2 (dua) macam kunjungan: .

(1) Kunjungan seseorang ke Puskesmas, Puskesmas Pembantu, baik untuk mendapat
pelayanan kesehatan maupun sekedar mendapat keterangan sehat-sakit. Untuk ini
dibedakan 2 (dua) kategori:
 Kunjungan baru, ialah seseorang yang pertama kali datang ke Puskesmas/Puskesmas
Pembantu, sehingga seumur hidupnya hanya dicatat sebagai satu kunjungan baru.

 Kunjungan lama, ialah seseorang yang datang Puskesmas/Puskesmas Pembantu yang
kedua kali dan seterusnya untuk mendapat pelayanan kesehatan.

(2) Kunjungan Sebagai Kasus. Kunjungan kasus adalah kasus baru + kasus lama +
kunjungan baru + kunjungan lama suatu penyakit.

1. Kasus – Ada 2 macam kasus:

 Kasus baru, adalah “new episode of illness”, yaitu pernyataan pertama kali seseorang
menderita penyakit tertentu sebagai hasil diagnosa dokter atau tenaga paramedis.

 Kasus lama adalah kunjungan Kedua dan seterusnya, dari kasus baru yang belum
dinyatakan sembuh atau kunjungan kasus lama dalam tahun/periode yang sama. Untuk
tahun berikutnya, kasus ini diperhitungkan sebagai kasus baru.

1. Keluarga. Keluarga dalam catatan SP2TP adalah satu kepala keluarga beserta anggotanya
yang terdiri dari isteri, anak-anak (kandung, tiri dan angkat), dan orang lain yang tinggal
dalam satu atap/rumah.

2. Nomor Kode Puskesmas. Pemberian nomor kode Puskesmas/Puskesmas Pembantu
berdasar pada letak geografis dan jenjang administrasi serta peresmian per S.K. Bupati
atas existensinya setelah dibangun.

Pelaksanaan SP2TP

Pelaksanaan SP2TP terdiri dari 3 kegiatan, ialah: a) Pencatatan dengan menggunakan format,
b) Pengiriman laporan dengan menggunakan format secara periodik, dan c) Pengolahan
analisis dan pemanfaatan data/informasi.

a)
Pencatatan – Pencatatan dilakukan dalam gedung Puskesmas/Puskesmas Pembantu, yaitu
mengisi:
1)
Family Folder (Kartu Individu dan
Kartu Tanda Pengenal Keluarga); 2)
Buku Register untuk :
Rawat jalan/rawat nginap, Penimbangan, Kohort
lbu, KohortAnak, Persalinan, Laboratorium, Pengamatan penyakit menular, Imunisasi, dan
P.KM.; 3) Kartu Indek Penyakit (Kelompok Penyakit) yang disertai distribusi jenis
kelamin, golongan, umur dan desa; 4) Kartu Perusahaan; 5) Kartu Murid; 6) Sensus
harian (Penyakit dan Kegiatan Puskesmas) untuk mempermudah pembuatan laporan.
Petunjuk pengisiannya ada dalam Buku Pedoman SP2TP.

b) Pelaporan – Jenis dan periode laporan sebagai berikut : 1) Bulanan – a) Data Kesakitan,
b) Data Kematian, c) Data Operasional (Gizi, Imunisasi dan KIA) & d) Data Manajemen
Obat; 2) Triwulan – a) Data kegiatan Puskesmas; 3) Tahunan – a) Umum, Fasilitas, b) Sarana
& c) Tenaga.

Alur pengiriman laporan adalah sebagai berikut: 1) Alur pengiriman laporan sampai saat
akhir Pelita V adalah : a) Laporan dari Puskesmas dikirim ke Dinas Kesehatan Tk. II untuk
diolah sesuai dengan petunjuk, dan selanjutnya direkapitulasi, laporan dikirim ke Dinkes Tk.
I dan Departemen Kesehatan c.q. Bagian Informasi Ditjen Pembinaan Kesehatan Masalah,
b) Umpan balik dari Departemen Kesehatan dikirim ke Ka. Kanwil Departemen Kesehatan
Propinsi. 2) Alur pengiriman laporan jangka panjang (mulai Pelita VI) adalah mengikuti jalur
jenjang administratif organisasi. Departemen Kesehatan menerima laporan dari Kantor
WHayah Departemen Kesehatan R.l.

c) Pengolahan,
Analisa dan Pemanfaatan. Pengolahan, analisa dan pemanfaatan data SP2TP dilaksanakan
di tiap jenjang administrasi yang pemanfaatannya disesuaikan dengan tugas dan fungsinya
dalam mengambil keputusan. Di tingkat Puskesmas, untuk tindakan segera serta untuk
pemantauan pelaksanaan program (operative)sebagai early warning system. Pada tingkat
Dati II dapat digunakan untuk pemantauan, pengendalian dan pengambilan tindakan koreksi
yang diperlukan. Pada tingkat I dapat digunakan juga untuk perencanaan program uan
pemberian bantuan yang diperlukan. Pada tingkat Pusat digunakan dalam pengambilan
kebijaksanaan yang diperlukan.

Pemanfaatan data SP2TP – Pada hakekatnya data dari SP2TP mempunyai peran ganda,
karena:

1. Data tersebut dilaporkan dari Puskesmas untuk kebutuhan administrasi di atasnya, dalam
rangka pembinaan, perencanaan serta penetapan kebijaksanaan.
2. Data tersebut dapat dimanfaatkan oleh Puskesmas sendiri dalam rangka peningkatan
upaya kesehatan Puskesmas, melalui perencanaan (micro planning), penggerakan,
pelaksanaan (mini lokakarya) dan pengawasan, pengendalian, serta penilaian
(stratifikasi). Salah satu komponen dari pengawasan adalah pemantauan yang merupakan
tindak lanjut secara kontinu dari kegiatan program yang dikaitkan dengan proses
pengambilan keputusan serta tindakan (action).

Azas Penyelenggaraan Puskesmas10

Penyelenggaraan upaya kesehatan wajib dan unaya kesehatan pengembangan harus
menerapkan azas penyelenggaraan Puskesmas secara terpadu. Azas penyelenggaraan
Puskesmas tersebut dikembangkan dari ketiga fungsi Puskesmas. Dasar pemikirannya adalah
pentingnya menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi Puskesmas dalam menyelenggarakan
setiap upaya Puskesmas, baik upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan
pengembangan. Azas penyelenggaraan Puskesmas yang dimaksud adalah:

1. Azas Pertanggungjawaban Wilayah

Azas penyelenggaraan Puskesmas yang pertama adalah pertanggungjawaban wilayah. Dalam
arti Puskesmas bertanggungjawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang
bertempat tinggal di wilayah kerjanya. Untuk ini Puskesmas harus melaksanakan berbagai
kegiatan, antara lain sebagai berikut:

1. Menggerakkan pembangunan berbagai sektor tingkat kecamatan sehingga berwawasan
kesehatan

2. Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan masyarakat di
wilayah kerjanya

3. Membina setiap upaya kesehatan strata pertama yang diselenggarakan oleh masyarakat
dan dunia usaha di wilayah kerjanya
4. Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertama (primer) secara merata dan terjangkau
di wilayah kerjanya

Diselenggarakannya upaya kesehatan strata pertama oleh Puskesmas Pembantu, Puskesmas
Keliling, Bidan di Desa serta berbagai upaya kesehatan di luar gedung Puskesmas lainnya
(outreach actrvrties) pada dasarnya merupakan realisasi dan pelaksanaan azas pertanggung-
jawaban wilayah

1. Azas Pemberdayaan Masyarakat

Azas penyelenggaraan Puskesmas yang kedua adalah pemberdayaan masyarakat. Dalam arti
Puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agar berperan aktif
dalam penyelenggaraan setiap upaya Puskesmas. Untuk ini, berbagai potensi masyarakat
perlu dihimpun melalui pembentukan Badan Penyantun Puskesmas (BPP). Beberapa kegiatan
yang harus dilaksanakan oleh Puskesmas dalam rangka pemberdayaan masyarakat antara
lain:

1. Upaya Kesehatan Ibu dan anak Posyandu, Polindes, Bina Keluarga Balita (BKB)

2. Upaya Pengobatan Posyandu, Pos Obat Desa (POD),

3. Upaya Perbaikan Gizi: Posyandu, Panti Pemulihan Gizi, Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi)

4. Upaya Kesehatan Sekolah: dokter kecil, penyertaan guru dan orang tua/wali murid, Saka
Bakti Husada (SBH), Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren)

5. Upaya Kesehatan Lingkungan. Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa Percontohan
Kesehatan Lingkungan (DPKL)

A. Upaya Kesehatan Usia Lanjut: Posyandu Usila, panti wreda
B. Upaya Kesehatan kerja: Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK)
C. Upaya Kesehatan Jiwa: Posyandu, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat
(TPKJM)
D. Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional: Taman Obat Keluarga (TOGA),
Pembinaan Pengobat Tradisional (Battra)
j. Upaya Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan (inovatif): dana sehat, Tabungan Ibu
Bersalin (Tabulin), mobilisasi dana keagamaan.

1. Azas Keterpaduan

Azas penyelenggaraan Puskesmas yang ketiga adalah keterpaduan. Untuk mengatasi
keterbatasan sumberdaya serta diperolehnya hasil yang optimal, penyelenggaraan setiap
upaya Puskesmas harus diselenggarakan secara terpadu, jika mungkin sejak dari tahap
perencanaan. Ada dua macam keterpaduan yang perlu diperhatikan yakni:

a. Keterpaduan Lintas Program. Keterpaduan lintas program adalah upaya memadukan
penyelenggaraan berbagai upaya kesehatan yang menjadi tanggung jawab Puskesmas.
Contoh keterpaduan lintas program antara lain:

A. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS): keterpaduan KIA dengan P2M, Gizi,
Promosi Kesehatan, Pengobatan,

B. Upaya Kesehatan Sekolah (UKS): keterpaduan kesehatan lingkungan dengan
Promosi Kesehatan, pengobatan, kesehatan gigi, kesehatan reproduksi remaja dan
kesehatan jiwa

C. Puskesmas Keliling: keterpaduan pengobatan dengan KIA/KB, gizi, promosi
kesehatan, kesehatan gigi

D. Posyandu: keterpaduan KIA dengan KB, Gizi, P2M, kesehatan jiwa. promosi
kesehatan

b. Keterpaduan Lintas Sektor. Keterpaduan lintas sektor adalah upaya memadukan
penyelenggaraan upaya Puskesmas (wajib, pengembangan dan inovasi) dengan berbagai
program dari sektor terkait tingkat kecamatan, termasuk organisasi kemasyarakatan dan
dunia usaha. Contoh keterpaduan lintas sektor antara lain:

E. Upaya Kesehatan Sekolah: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama

F. Upaya Promosi kesehatan: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, pendidikan, agama, pertanian
G. Upaya Kesehatan ibu dan anak: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, PKK, PLKB

H. Upaya Perbaikan gizi: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepala
desa, pertanian, pendidikan, agama, koperasi, dunia usaha, PKK, PLKB

I. Upaya Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan: keterpaduan sektor kesehatan
dengan camat, lurah/kepala desa, tenaga kerja, koperasi, dunia usaha, organisasi
kemasyarakatan

J. Upaya Kesehatan kerja: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,
lurah/kepala desa, tenaga kerja, dunia usaha

2. Azas Rujukan

Azas penyelenggaraan Puskesmas yang keempat adalah rujukan. Sebagai sarana pelayanan
kesehatan tingkat pertama, kemampuan yang dimiliki oleh Puskesmas terbatas. Padahal
Puskesmas berhadapan langsung dengan masyarakat dengan berbagai permasalahan
kesehatannya. Untuk membantu Puskesmas menyelesaikan berbagai masalah kesehatan
tersebut dan juga untuk meningkatkan efisiensi, maka penyelenggaraan setiap upaya
Puskesmas (wajib, pengembangan dan inovasi) harus ditopang oleh azas rujukan.

Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggungjawab atas kasus penyakit atau masalah
kesehatan yang diselenggarakan secara timbal balik, baik secara vertikal dalam arti dari satu
strata sarana pelayanan kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun
secara horizontal dalam arti antar strata sarana pelayanan kesehatan yang sama.

Sesuai dengan jenis upaya kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas ada dua macam
rujukan yang dikenal yakni:

a. Rujukan Upaya Kesehatan Perorangan

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus penyakit. Apabila suatu
Puskesmas tidak mampu menanggulangi satu kasus penyakit tertentu, maka Puskesmas
tersebut wajib merujuknya ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik
horizontal maupun vertikal). Sebaliknya pasien pasca rawat inap yang hanya memerlukan
rawat jalan sederhana, dirujuk ke Puskesmas.
Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam:

1. Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan medik (misal operasi)
dan lain-lain.

2. Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih
lengkap.

3. Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang lebih kompeten untuk
melakukan bimbingan tenaga Puskesmas dan atau pun menyelenggarakan pelayanan
medik di Puskesmas.

b. Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat

Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah kesehatan masyarakat,
misalnya kejadian luar biasa, pencemaran lingkungan, dan bencana.

Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga dilakukan apabila satu Puskesmas tidak
mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat wajib dan pengembangan,
padahal upaya kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat.
Apabila suatu Puskesmas tidak mampu menanggulangi masalah kesehatan masyarakat
dan atau tidak mampu menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat, maka Puskesmas
wajib merujuknya ke dinas kesehatan kabupaten/ kota. Rujukan upaya kesehatan
masyarakat dibedakan atas tiga macam :

1. Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan fogging, peminjaman
alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat audiovisual, bantuan obat, vaksin,
bahan-bahan habis pakai dan bahan makanan.

2. Rujukan tenaga, antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyidikan kejadian luar
biasa, bantuan penyelesaian masalah hukum kesehatan, penanggulangan gangguan
kesehatan karena bencana alam.

3. Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan
tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat dan atau
penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat (antara lain Usaha Kesehatan Sekolah,
Usaha Kesehatan Kerja, Usaha Kesehatan Jiwa, pemeriksaan contoh air bersih)
kepada Dinas kesehatan kabupaten/kota. Rujukan operasional diselenggarakan
apabila Puskesmas tidak mampu.

Stratifikasi Pelayanan Kesehatan11

Strata pelayanan kesehatan yang dianut oleh tiap negara tidaklah sama, namun secara umum
berbagai strata ini dapat dikelompokkan menjadi tiga macam yakni:

1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan tingkat
pertama (primary health services) adalah pelayanan kesehatan yang bersifat pokok (basic
health services), yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai
nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada umumnya pelayanan
kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan (ambulatory/out patient
services)

2. Pelayanan kesehatan tingkat kedua. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan tingkat
kedua (secondary health services) adalah pelayanan kesehatan yang lebih lanjut, telah
bersifat rawat inap (in patient services) dan untuk menyelenggarakannya telah dibutuhkan
tersedianya tenaga-tenaga spesialis.

3. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga. Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan tingkat
ketiga (tertiary health services) adalah pelayanan kesehatan yang bersifat lebih kom- plek
dan umumnya diselenggarakan oleh tenaga-tenaga subspesiahs.

Sistem Rujukan

Mekanisme hubungan kerja yang memadukan satu strata pelayanan dengan stratapelayanan
kesehatan lain banyak macamnya. Salah satu diantaranya dikenal dengan nama sistem
rujukan (referal system). Indonesia juga menganut sistemrujukan ini, sepera yang dapat
dilihat dalam Sistem Kesehatan Nasional. Inilah sebabnya pelayanan kesehatan yang ada di
Indonesia, dibedakan atas beberapa strata seperti misalnya rumah sakit yang dibedakan atas
beberapa kelas, mulai dari kelas D pada tingkat yang paling bawah sampai ke kelas A pada
tingkat yang paling atas.11
Adapun yang dimaksud dengan sistem rujukan di Indonesia, seperti yang telahdirumuskan
dalam SK Menteri Kesehatan RI No. 32 tahun 1972 ialah suatusistem penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap
satu kasus penyakit atau masalah kesehatan secara vertikal dalam arti dari unit yang
berkemampuan kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horisontal dalam
arti antar unit-unit yang setingkat kemampuannya.

1. Sistem Rujukan Upaya Kesehatan:7

Adalah suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya
penyerahan tanggung-jawab secaratimbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau
masalah kesehatan masyarakat, baik secara vertikal maupun horisontal, kepada yang lebih
kompeten, terjangkau dan dilakukan secara rasional.

1. Jenis Rujukan:

Sistem rujukan ini secara konsepsional menyangkut hal-hal sebagai berikut:

2. Rujukan medik. Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya penyembuhan penyakit
serta pemulihan kesehatan. Dengan demikian rujukan medik pada dasarnya berlaku untuk
pelayanan kedokteran (medical services). Rujukan medik meliputi:11

A. Konsultasi penderita, untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan operatif dan
lain-lain. Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih
lengkap.

B. Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium yang lebih lengkap.

C. Mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau ahli untuk
meningkatkan mutu pelayanan pengobatan setempat.

3. Rujukan Kesehatan.
Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit
danpeningkatan derajat kesehatan. Dengan demikian rujukan kesehatan pada
dasarnya berlaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat (public health
services). Rujukan kesehatan dibedakan atas tiga macam yakni rujukan
teknologi, sarana dan operasional. Rujukan kesehatan adalah rujukan yang menyangkut
masalah kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif yang antara lain
meliputi bantuan:

A. Survei epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas Kejadian luar biasa atau
berjangkitnya penyakit menular.

B. Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah.

C. Penyidikan sebab keracunan, bantuan teknologi penanggulangan keracunan dan
bantuan obat-obatan atas terjadinya keracunan masai.

D. Pemberian makanan, tempat tinggal dan obat-obatan untuk pengungsi atas terjadinya
bencana alam.

E. Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah kekurangan air bersih
bagi masyarakat umum.

F. Pemeriksaan spesimen air di Laboratorium Kesehatan dan sebagainya.

Bagan1. Rujukan Pelayanan Kesehatan11

c. Tujuan Sistem Rujukan Upaya Kesehatan

G. Umum. Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung mutu
pelayanan yang optimal dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara
berdaya guna dan berhasil guna.

H. Khusus:

i. Dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan
rehabilitatif secara berhasil guna dan berdaya guna.

ii. Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif
secara berhasil guna dan berdaya guna.

d. Jenjang tingkat pelayanan kesehatan
Jenjang (Hirarki) Komponen/unsur pelayanan kesehatan

Tingkat Rumah Pelayanan kesehatan oleh individu atau
Tangga oleh, keluarganya sendiri

Kegiatan swadaya masyarakat dalam
menolong mereka sendiri oleh Kelompok
Paguyuban, PKK, Saka Bhakti Husada,
Tingkat Masyarakat anggota RW, RT dan masyarakat

Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Puskesmas, Puskesmas Pembantu,
Profesional Tingkat Puskesmas Keliling, Praktek Dokter
Pertama Swasta, Poliklinik Swasta, dll.

Fasilitas Pelayanan
Rujukan Tingkat Rumah Sakit Kabupaten, R.S. Swasta,
Pertama Laboratorium, Klinik Swasta, dll.

I Fasilitas Rumah Sakit kelas B dan A serta
Pelayanan Rujukan | Lembaga Spesialistik Swasta, Lab. Kes.
yang lebih tinggi Da., Lab. Klinik Swasta, dll.

Jalur rujukan dapat berlangsung sebagai berikut:
Rujukan Medik: 1) Intern antara petugas Puskesmas. 2) Antara Puskesmas Pembantu
dengan Puskesmas. 3) Antara masyarakat dengan Puskesmas. 4) Antara satu Puskesmas
dengan Puskesmas yang lain. 5) Antara Puskesmas dengan Rumah Sakit, Laboratorium,
atau fasilitas kesehatan
Pelayanan kesehatan masyarakat di Indonesia11

Untuk Indonesia penanggung jawab pelayanan kesehatan masyarakat adalah Departemen
Kesehatan yang menurut KEPRES NO. 15 tahun 1984 memang diserahkan tugas sebagai
penyelenggara sebagian dari tugas umum pemerintahan dan pembangunan dibidang
kesehatan. Untuk ini, Departemen Kesehatan melalui segenap aparatnya yang tersebar di
seluruh tanah air, aktif menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat. Aparat yang
dimaksud ialah Kantor Wilayah Departemen Kesehatan yang terdapat disetiap propinsi
serta Kantor Departemen Kesehatan yang terdapat disetiap Kabupaten.

Hanya saja sesuai dengan UU Pokok Pemerintahan Daerah No. 5 tahun 1974 dimana
tanggung jawab kesehatan berada pada Pemerintah Daerah maka ditingkat pemerintah
daerah juga ditemukan aparat pemerintah yang bertanggung jawab dalam bidang
kesehatan. Aparat yang dimaksud ialah Kantor Dinas Kesehatan Propinsi untuk tingkat
propinsi, Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten/Kotamadya untuk tingkat
Kabupaten/Kotamadya serta Kantor Kesehatan Kecamatan untuk tingkat Kecamatan
(masih dalam tahap perencanaan).

Dari uraian yang seperti ini menjadi jelaslah bahwa peranan kantor dalam Sistem
Kesehatan di Indonesia, tidak hanya sebagai pelaksana fungsi administrasi saja, tetapi
juga sebagai pelaksana fungsi pelayanan kesehatan. Dengan perkatan lain Kantor
Departemen Kesehatan dan atau Kantor Dinas Kesehatan yang terdapat di kabupaten juga
bertanggung jawab menyelenggarakan pelayanan kesehatan, yang dalam hal ini adalah
pelayanan kesehatan masyarakat seperti misalnya mengatasi keadaan wabah yang
terjangkit di wilayah kerjanya.

Tentu mudah dipahami bahwa fungsi pelayanan kesehatan masyarakat yang dimiliki oleh
berbagai ‘kantor’ ini sifatnya hanya merupakan pelayanan rujukan saja. Sedangkan
sebagai pelaksana pelayanan kesehatan masyarakat sehari-hari, dipercayakan kepada
PUSKESMAS, yang oleh pemerintah memang didirikan di semua kecamatan di
Indonesia.

Untuk lebih memperluas cakupan pelayanan kesehatan masyarakat tersebut, pada
beberapa kecamatan yang jumlah penduduknya lebih dari 30.000 dan yang wilayah
kerjanya terlalu luas, didirikan PUSKESMAS Pembantu. Kecuali itu untuk lebih
mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang bertempat tinggal jauh dari
PUSKESMAS diselenggara PUSKESMAS Keliling.

Selanjutnya sesuai dengan prinsip perlunya melibatkan potensi masyarakat, pada saat ini
pemerintah berupaya secara maksimal untuk mengikutsertakan potensi masyarakat yang
dimaksud. Peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan masyarakat secara keseluruhan
disebut dengan nama Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) yang
pengorganisasiannya berada dalam naungan Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa
(LKMD). Sedangkan wadah peran serta masyarakat dalam program kesehatan masyarakat
dikenal dengan nama Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu). Pada saat ini Posyandu
direncanakan akan didirikan disetiap desa. Sedangkan kegiatan utama Posyandu yang
dikelola dengan prinsip “dari oleh dan untuk masyarakat” ini, secara umum dapat
dibedakan atas lima macam yakni (1) pelayanan KIA, (2) pelayanan gizi (3) pelayanan
keluarga berencana (4) pemberian oralit, serta (5) imunisasi.

Untuk menjamin keserasian kerja, maka dijalinlah hubungan antar berbagai sarana
pelayanan kesehatan yang bergerak dalam bidang pelayanan kesehatan masyarakat ini,
yang secara sederhana dapat dilihat dalam Bagan 3. Hubungan Antar Pelbagai sarana
Pelayanan Kesehatan Masyarakat.11

Dari bagan yang seperti ini jelaslah bahwa kedudukan PUSKESMAS tidak langsung
di bawah Departemen Kesehatan, melainkan di bawah DinasKesehatan Kabupaten yang
merupakan salah satu aparat pemerintah daerahditingkat Kabupaten/Kotamadya.

Batasan Puskesmas. Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS) adalah salah satu
sarana pelayanan kesehatan masyarakat yang amat penting di Indonesia. Jika ditinjau dari
sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, maka peranan dan kedudukan PUSKESMAS
adalah sebagai ujung tombak sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. Ini disebabkan
karena peranan dan kedudukan PUSKESMAS di Indonesia adalah amat unik. Sebagai
sarana pelayanan kesehatan terdepan di Indonesia, maka PUSKESMAS kecuali
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan masyarakat, juga
bertanggung jawab dalam menyelenggarakan pelayanan kedokteran .

Pada saat ini kegiatan PUSKESMAS ada 17 yakni Usaha Pelayanan Rawat Jalan, Usaha
Kesejahteraan Ibu dan Anak, Usaha Keluarga Berencana, Usaha Kesehatan Gigi, Usaha
Kesehatan Gizi, Usaha Kesehatan Sekolah, Usaha Kesehatan Lingkungan, Usaha
Kesehatan Jiwa, Usaha Pendidikan Kesehatan, Usaha Perawatan Kesehatan Masyarakat,
Usaha Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular, Usaha Kesehatan Olahraga,
Usaha Kesehatan Lanjut Usia, Usaha Kesehatan Mata, Usaha Kesehatan Kerja, Usaha
Pencatatan dan Pelaporan serta Usaha Laboratorium Kesehatan Masyarakat.

Peran Dokter Puskesmas 7

1) Dokter Kepala Puskesmas sebagai seorang dokter

Pendapat umum mengenai seorang dokter biasanya ialah seorang yang berilmu untuk
menyembuhkan orang sakit. Demikian pula masyarakat mengharapkan seorang dokter
Kepala Puskesmas untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan orang sakit.

Namun demikian, dalam kenyataan tanggung-jawab seorang dokter Kepala Puskesmas
tidak hanya mengobati orang sakit saja akan tetapi jauh lebih besar, yaitu memelihara dan
meningkatkan kesehatan dari masyarakat di dalam wilayah kerjanya. Disamping itu ia
berfungsi juga sebagai seorang pemimpin dan seorang manager pula.
Penting kiranya seorang dokter Puskesmas dalam melakukan pemeriksaan dan
pengobatan penderita, pandangan dan cara berfikir dalam menentukan cfiagnosa dan
pengobatan tidak semata-mata ditujukan kepada penderita sebagai individu, akan tetapi
pandangan ditujukan kepada keluarga penderita dan dihubungkan pula dengan
masyarakat lingkungan penderita tersebut.

Ilmu pengetahuan terus berkembang, maka perlu kiranya diusahakan kesempatan
untuk mengikuti ceramah
klinik yang diselenggarakan oleh I.D.I. bila ada, atau membaca
majalah-majalah bidang klinik maupun dalam
bidang kesehatan masyarakat. Bila masih ada kesempatan untuk melakukan
praktek di luar
jam kerja tentunya bisa dilakukan tanpa mengabaikan tugas.

2) Dokter Kepala Puskesmas sebagai seorang manager

(a) Organisasi dan tatalaksana

Puskesmas mempunyai wilayah kerja satu kecamatan atau sebagian dari kecamatan yang
langsung bertanggung-jawab dalam bidang tehnis kesehatan maupun administratif kepada
Kepala Dinas Kesehatan Tingkat II (Dokabu).

Kepala Puskesmas perlu melakukan pembagian tugas bersama-sama
stafnyadisesuaikan dengan jenis dan jumlah tenaga serta kegiatan yang perlu
dilakukan. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan pula
lokasi pekerjaan dan waktu pekerjaan, sehingga bisa diadakan pembagian tugas dan
giliran kerja yang merata di antara tenaga-tenaga Puskesmas yang ada dan
pekerjaan dapat dilaksanakan
dengan baik.

Pertemuan berkala antara Kepala Puskesmas dengan segenap stafnya (termasuk
Puskesmas Pembantu dan Bidan di Desa) periu dilakukan secara teratur paling sedikit
sebulan sekali. Buku Pedoman Mini Lokakarya Puskesmas dengan lampirannya
merupakan pedoman untuk penyelenggaraan pertemuan berkala tersebut.

 Bimbingan teknis dan supervisi
Selain pertemuan berkala dengan segenap staf Puskesmas yang dilakukan di Puskesmas,
Kepala Puskesmas perlu juga datang untuk melihat dan memberi bimbingan kepada staf
Puskesmas secara berkala di tempat mereka bekerja, di Puskesmas, di Puskesmas
Pembantu, di lapangan maupun di rumah penduduk dalam rangka kunjungan rumah. Hal
ini penting sekali dilakukan secara teratur untuk memelihara disiplin kerja staf
Puskesmas.

 Hubungan kerja antar instansi Kecamatan

Camat merupakan koordinator dari semua instansi/dinas tingkat Kecamatan. Kepala
Puskesmas bertanggung-jawab secara tehnis kesehatan dan administratif kepada Dokabu.
Hubungan dengan Camat merupakan hubungan koordinasi, namun demikian tanggung-
jawab secara moril dari Kepala Puskesmas terhadap Camat tetap ada.

 Dokter Kepala Puskesmas sebagai penggerak pembangunan di wilayah kerjanya

Seringkali masyarakat belum dapat mengenal masalâh yang mereka hadapi, dan belum
bisa menentukan prioritas masalah yang perlu ditanggulangi. Kepala Puskesmas beserta
segenap stafnya bekerjasama dengan instansi-instansi lain di tingkat kecamatan, perlu
memberi bimbingan kepada masyarakat untuk mengenal masalahnya dan menentukan
prioritas masalah yang perlu ditanggulangi sesuai dengan kemampuan swadaya mereka
sendiri.

Untuk itu perlu dilakukan pertemuan-pertemuan baik secara individu dengan pemuka
masyarakat, maupun secara kelompok. Pertemuan ini biasanya dilakukan di luar jam
kerja, sore atau malam. Bilamana diperlukan latihan, maka Kepala Puskesmas dan
segenap stalnya harus dapat melayaninya.

3) Dokter Kepala Puskesmas sebagai tenaga ahli dan pendamping Camat

Program pemerintah pada saat ini baru bisa menempatkan dokter Puskesmas sebagai
seorang sarjana secara merata di kecamatan-kecamatan. Dengan sendirinya harapan dari
seluruh masyarakat kecamatan adalah untuk mendapatkan manfaat dari keahliannya
dalam bidang kesehatan masyarakat maupun pandangan dan cara berfikir yang luas dan
kreatif dari seorang sarjana. Maka peranan dokter Puskesmas di kecamatan disamping
sebagai pemimpinPuskesmas, juga merupakan tenaga ahli dan pendamping Camat.
Evaluasi Program DBD dengan Pendekatan Sistem

Sistem Kesehatan11

Pengertian sistem kesehatan adalah gabungan pengertian sistem dengan pengertian kesehatan.
Untuk ini banyak rumusan pernah disusun. Salah satu diantaranya ialah yang dikemukakan oleh
WHO (1984). Sistem kesehatan adalah kumpulan dari berbagai faktor yang komplek dan
saling berhubungan yang terdapat dalam suatu negara, yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan dan tuntutan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok dan ataupun
masyarakat pada setiap saat yang dibutuhkan.

Untuk Indonesia, pengertian tentang sistem kesehatan yang dikenal dengan nama Sistem
Kesehatan Nasional (SKN) telah ditetapkan melalui SK Menteri Kesehatan RI No.
99a/Men.Kes/SK/ III/1982.
Sistem Kesehatan Nasional adalah suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa
Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mencapai derajat kesehatan yang optimal
sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti yang dimaksud dalam Pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945.

Unsur Sistem. Telah disebutkan bahwa sistem terbentuk dari bagian atau elemen yang
saling berhubungan dan mempengaruhi. Adapun yang dimaksud dengan bagian atau
elemen tersebut ialah sesuatu yang mutlak harus ditemukan, yang jika tidak demikian, maka
tidak ada yang disebut dengan sistem tersebut. Bagian atau eleman tersebut banyak
macamnya, yang jika disederhanakan dapat dikelompokkan dalam enam unsur saja yakni:

1. Masukan.
Yang dimaksud dengan masukan (input) adalah kumpulan bagian atau elemen yang
terdapat dalam sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut.

2. Proses.
Yang dimaksud dengan proses (process) adalah kumpulan bagian atau elemen yang
terdapat dalam sistem dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran
yang direncanakan.

3. Keluaran.
Yang dimaksud dengan keluaran (output) adalah kumpulan bagian atau elemen yang
dihasilkan dari berlangsungnya proses dalam sistem.
4. Umpan balik.
Yang dimaksud dengan umpan badik [feed back) adalah kumpulan bagian atau elemen
yang merupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut.

5. Dampak.
Yang dimaksud dengan dampak (impact) adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran
suatu sistem.

6. Lingkungan. Yang dimaksud dengan lingkungan (environment) adalah dunia di luar
sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi mempunyai pengaruh besar terhadap
sistem.

Bagan 4. Hubungan Unsur-unsur Sistem.

Problem Solving Cycle11

Menetapkan Prioritas Masalah
Telah disebutkan bahwa yang terpenting dalam perencanaan adalah yang menyangkut proses
perencanaan (process of planning). Adapun yang dimaksud dengan proses perencanaan di
sini ialah langkah-langkah yang harus dilakukan dalam menyusun suatu rencana. Untuk
bidang kesehatan, langkah- langkah yang sering dipergunakan adalah mengikuti prinsip
lingkaran pemecahan masalah(problem solving cycle). Sebagai langkah pertama dilakukan
upaya menetapkan prioritas masalah (problem priority). Adapun yang dimaksudkan dengan
masalah di sini ialah kesenjangan antara apa yang ditemukan (what is) dengan apa yang
semestinya (what should be).

Ditinjau dari sudut pelaksanaan program kesehatan, penetapan prioritas masalah ini
dipandang amat penting. Paling tidak ada dua alasan yang ditemukan. Pertama, karena
terbatasnya sumber daya yang tersedia, dan karena itu tidak mungkin menyelesaikan semua
masalah. Kedua, karena adanya hubungan antara satu masalah dengan masalah lainnya, dan
karena itu tidak perlu semua masalah diselesaikan.
Cara menetapkan prioritas masalah banyak macamnya. Sebagian lebih mengutamakan
institusi, sebagai lainnya lebih mengandalkan ilham atau petunjuk atasan. Ketiga cara
menetapkan masalah ini, meskipun hasilnya sering tepat, tetapi tidak dianjurkan. Cara
menetapkan prioritas masalah yang dianjurkan adalah memakai teknik kajian data. Untuk
dapat menetapkan prioritas masalah dengan teknik kajian data, ada beberapa kegiatan yang
harus dilakukan. Kegiatan yang dimaksud adalah:

1. Melakukan pengumpulan data

Kegiatan pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan data. Adapun yang dimaksud
dengan data di sini ialah hasil dari suatu pengukuran dan ataupun pengamatan. Agar data
yang dikumpulkan tersebut dapat menghasilkan kesimpulan tentang prioritas masalah, ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan yakni:

a.
Jenis data

Jenis data yang harus dikumpulkan banyak macamnya. Sekedar pegangan dapat
dipergunakan pendapat Blum (1976) yang membedakan data kesehatan atas empat macam
yakni data tentang perilaku (behaviour), lingkungan (environment),pelayanan
kesehatan (health services) dan keturunan (heredity). Kumpulkan keempat macam data
tersebut.

b. Sumber data

Apabila jenis data yang akan dikumpulkan telah ditetapkan, lanjutkanlah dengan menetapkan
sumber data yang akan dipergunakan. Untuk ini ada tiga sumber data yang dikenal yakni
sumber primer, sumber sekunder dan sumber tertier. Contoh sumber data primer adalah hasil
pemeriksaan atau wawancara langsung dengan masyarakat. Contoh sumber data sekunder
adalah laporan bulanan PUSKESMAS dan Kantor Kecamatan. Sedangkan contoh sumber
data tersier adalaii hasil publikasi badan-badan resmi, seperti Kantor Dinas Statistik, Dinas
Kesehatan dan Kantor Kabupaten. Pilihlah sumber data yang sesuai.

c. Jumlah responden

Jika kemampuan tersedia dengan cukup, kumpulkan data dengan lengkap dalam arti
mencakup seluruh penduduk. Dalam praktek sehari-hari, pengumpulan data secara total ini
sulit dilakukan. Lazimnya diambil data dari sebagian penduduk saja, yang besarnya, karena
hanya merupakan suatu survei diskriptif.

d. Cara mengambil sampel

Jika
jumlah sampel telah ditentukan, lanjutkan dengan menetapkan cara pengambilan sampel.
Untuk ini ada empat cara pengambilan sampel yang dikenal, yakni cara simple random
sampling, sistematic random sampling, stratified random sampling dan cluster random
sampling. Pilihlah yang sesuai.

e. Cara mengumpulkan data

Cara mengumpulkan data ada empat macam yakni wawancara, pemeriksaan, pengamatan
(observasi) serta peranserta (partisipasi). Pilihlah cara pengumpulan data yang sesuai.

2. Melakukan pengolahan data

Kegiatan kedua yang harus dilakukan ialah mengolah data yang telah dikumpulkan. Adapun
yang dimaksud dengan pengolahan data di sini ialah menyusun data yang tersedia sedemikian
rupa sehingga jelas sifat- sifat yang dimilikinya. Cara pengolahan data secara umum dapat
dibedakan atas tiga macam yakni secara manual, mekanikal serta elektrikal. Pilihlah cara
pengolahan data yang paling dikuasai.

3. Melakukan penyajian data

Kegiatan ketiga yang harus dilakukan menyajikan data yang telah diolah. Ada tiga macam
cara penyajian data yang lazim dipergunakan yakni secara tekstular, tabular dan grafikal.
Pilihlah cara penyajian data yang paling tepat.

4. Memilih prioritas masalah

Hasil penyajian data akan menampilkan berbagai masalah. Apakah berbagai masalah ini
perlu diselesaikan? Tidak perlu. Pertama, karena antar masalah mungkin terdapat keterkaitan.
Yang perlu dilakukan hanya menyelesaikan masalah pokok saja. Masalah lainnya akan
selesai dengan sendirinya. Kedua, karena kemampuan yang dimiliki oleh organisasi selalu
bersifat terbatas. Dalam keadaan yang seperti ini, lanjutkan kegiatan dengan memilih
prioritas masalah. Untuk ini banyak cara pemilihan yang dapat dipergunakan. Cara yang
dianjurkan adalah memakai kriteria yang dituangkan dalam bentuk matriks. Dikenal dengan
nama teknik kriteria matrik (criteria matrix tecnique.)

Kriteria yang dapat dipergunakan banyak macamnya. Secara umum dapat dibedakan atas tiga
macam:

 Pentingnya masalah Makin penting (importancy) masalah tersebut, makin diprioritaskan
penyelesaiannya. Ukuran pentingnya masalah banyak macamnya. Beberapa diantaranya
yang terpenting adalah:

 besarnya masalah (prevalence)

 akibat yang ditimbulkan oleh masalah (severity)

 kenaikan besarnya masalah (rate o f increase)

 derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi (degree o f un- meet rteed)

 keuntungan sosial karena selesainya masalah (social benefit)
 rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern)

 suasana politik (political elimate)

 Kelayakan teknologi Makin layak teknologi yang tersedia dan yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah (technical feasibility), makin diprioritaskan masaiah tersebut.
Kelayakan teknologi yang dimaksudkan disini adalah menunjuk pada pengasaan ilmu dan
teknologi yang sesuai.

 Sumber daya yang tersedia Makin tersedia sumber daya yang dapat dipakai untuk
mengatasi masalah (resources availability) makin diprioritaskan masalah tersebut.
Sumber daya yang dimaksudkan di sini adalah yang menunjuk pada tenaga (man), dana
(money) dan sarana (material).

Berilah nilai antara 1 (tidak penting) sampai dengan 5 (sangat penting) untuk setiap kriteria
yang sesuai. Prioritas masalah adalah yang jumlah nilainya paling besar. Secara sederhana
pemilihan prioritas masalah dengan teknik kriteria matriks ini dapat digambarkan dalam
Tabel 2. Teknik Kriteria Matriks Pemilihan Prioritas Masalah11
Menetapkan Prioritas Jalan Keluar

Apabila prioritas masalah telah berhasil ditetapkan, langkah selanjutnya yang dilakukan
adalah menetapkan prioritas jalan keluar (solution priority). Untuk ini ada beberapa kegiatan
pokok yang harus dilakukan sebagai berikut:

1. Menyusun alternatif jalan keluar

Kegiatan pertama yang harus dilakukan isilah menyusun alternatif jalan keluar untuk
mengatasi prioritas masalah yang telah ditetapkan. Menyusun alternatif jalan keluar
dipandang penting, karena terkait dengan upaya memperluas wawasan, yang apabila berhasil
diwujudkan akan besar peranannya dalam membantu kelancaran pelaksanan jalan keluar.

Untuk dapat menyusun alternatif jalan keluar, cobalah berpikir kreatif (creative
thinking). Teknik berpikir kreatif banyak macamnya. Salah satu diantaranya dikenal dengan
teknik analogi atau populer pula dengan sebutan synectic technique. Jika dengan teknik
berpikir kreatif masih belum dapat dihasilkan alternatif jalan keluar, cobalah tempuh langkah-
langkah sebagai berikut:

 Menentukan berbagai penyebab masalah – lakukan curah pendapat (brain storming)
dengan membahas data yang telah dikumpulkan. Gunakanlah alat bantu diagram
hubungan sebab-akibat (cause-effect diagram) atau populer pula dengan sebutan diagram
tulang ikan {fish bone diagram). Dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman
yang ada, serta dibantu oleh data yang tersedia, dapat disusun berbagai penyebab masalah
secara teoritis.

 Memeriksa kebenaran penyebab masalah – jika perlu, lakukanlah pengumpulan data
tambahan. Cobalah lakukan uji statistik untuk mengidentifikasi penyebab masalah yang
sebenarnya. Sisihkah daftar penyebab masalah yang hasil uji statistiknya tidak bermakna.

 Mengubah penyebab masalah ke dalam bentuk kegiatan – Apabila daftar penyebab
masalah yang hasil uji statistiknya telah berhasil disusun, lanjutkan dengan mengubah daftar penyebab
masalah tersebut ke dalam bentuk kegiatan. Usahakan untuk satu penyebab masalah tersusun satu kegiatan
penyelesaian masalah. Hasil yang diperoleh dari pekerjaan ini ialah tersusunnya alternatif cara penyelesaian
masalah.

Contoh penyusunan alternatif jalan keluar dengan mempergunakan ketiga langkah ini dapat
dilihat pada Tabel 3. Alternatif Jalan Keluar.11

2. Memilih prioritas jalan keluar

Apakah semua alternatif jalan keluar yang telah disusun tersebut perlu dilaksanakan? Jika
kemampuan memang dimiliki, apa salahnya. Di- sinilah letak masalahnya. Karena
kemampuan yang dimiliki oleh suatu organisasi selalu bersifat terbatas. Untuk mengatasinya,
pilihlah salah satu dari alternatif jalan keluar yang paling menjanjikan. Pekerjaan ini disebut
dengan nama memilih prioritas jalan keluar. Untuk dapat memiilih prioritas jalan keluar,
pelajarilah dengan seksama berbagai alternatif yang tersedia. Sebelum melakukan pilihan,
ada baiknya jika dicoba padukan dahulu. Siapa tahu berbagai alternatif tersebut sebenarnya
hanya merupakan bagian dari satu paket kegiatan yang sulit dipisahkan.

Apabila keterpaduan tersebut sulit dilakukan, antara lain karena adanya perbedaan antar
alternatif yang terlalu tajam, atau karena keterbatasan sumber daya dalam melaksanakan
program yang telah dipadukan, barulah dilakukan pilihan. Cara melakukan pilihan prioritas
jalan keluar banyak macamnya. Cara yang dianjurkan adalah memakai teknik kriteria matriks
Untuk ini ada dua kriteria yang lazim dipergunakan Kriteria yang dimaksud adalah.

a. Efektivitas jalan keluar

Tetapkanlah nilai efektivitas (effectivity) untuk setiap alternatif jalan keluar, yakni dengan
membelikan angka 1 (paling tidak efektif) sampai dengan angka 5 (paling efektif) Prioritas
jalan keluar adalah yang nilai efektivitasnya paing tinggi.

b. Efisiensi jalan keluar

Tetapkanlah nilai efisiensi (efficiency) untuk setiap alternatif jalan keluar, yakni dengan
memberikan angka 1 (paling tidak efisien) sampai dengan angka 5 (paling efisien). Nilai
efisiensi ini biasanya dikaitkan dengan biaya (cost) yang diperlukan untuk melaksanakan
jalan keluar. Makin besar biaya yang diperlukan, makin tidak efisien jalan keluar tersebut
Hitunglah nilai F (prioritas) untuk setiap alternatif jalan keluar, dengan membagi hasil
perkalian nilai M x I x V dengan nilai C. Jalan keluar dengan nilai P tertinggi, adalah
prioritas jalan keluar terpilih Contoh pemilihan jalan keluar dengan teknik kriteria matrik dapat
dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Prioritas Jalan Keluar11

Pada contoh di atas, prioritas jalan keluar terpilih adalah C. karena nilai yang dimiliki adalah
paling tinggi.

3. Melakukan uji lapangan

Kegiatan ketiga yang harus dilakukan pada penetapan prioritas jalan keluar ialah melakukan
uji lapangan untuk prioritas jalan keluar terpilih. Uji lapangan ini dipandang penting, karena
sering ditemukan jalan keluar yang diatas kertas baik, ternyata sulit dilaksanakan.

4. Memperbaiki prioritas jalan keluar

Selesai melakukan uji lapangan, lanjutkan dengan memperbaiki prioritas jalan keluar, yakni
dengan memanfaatkan berbagai faktor penopang, dan bersamaan dengan itu meniadakan
berbagai faktor penghambat yang ditemukan pada uji lapangan.

5. Menyusun uraian rencana prioritas jalan keluar

Kegiatan terakhir yang harus dilaksanakan pada penetapan prioritas jalan keluar adalah
menyusun uraian rencana prioritas jalan keluar selengkapnya. Untuk ini uraikanlah semua
unsur rencana sebagaimana telah dikemukakan, sehingga dapat dihasilkan suatu rencana yang
lengkap.
BACA PENJELASAN DEMAM BERDARAH DARI PENYEBAB,
PATOFISIOLOGI DAN PENATALAKSANAAN DBD DISINI

Daftar Pustaka

1. Departemen Kesehatan RI. Pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue.
Katalog Dalam Terbitan Departemen Kesehatan RI; 2007;3:1-3.

2. Departemen Kesehatan RI. Tatalaksana demam berdarah dengue di indonesia. Katalok
Dalam Terbitan Departemen Kesehatan RI; 2001:2.

3. Chin J. Manual pemberantasan penyakit menular. Edisi ke-17. Jakarta: Departemen
Kesehatan; 2000; hal.144-9.

4. Departemen Parasitologi, FKUI. Parasitologi kedokteran. Edisi ke-4. Jakarta:Balai
Penerbit FKUI; 2008; hal.265-7.

5. Azwar A. Pengantar epidemiologi. Edisi revisi. Jakarta: Binarupa Askara; 1988; hal.34-5.

1. Budiarto E, Anggraeni D. Pengantar epidemiologi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC;2003;hal. 100-1.

2. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Kerja Puskesmas. Jilid I. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia;1998.

3. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Kerja Puskesmas. Jilid III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia;1998;hal.24-7.

A. Sulaeman ES. Manajemen kesehatan teori dan praktik di puskesmas.
Surakarta;2009;hal.53-60.
B. Departemen Kesehatan RI. Kebijakan dasar pusat kesehatan masyarakat. Keputusan
Menteri Kesehatan RI;2004;hal.15-8.

C. Azwar A. Pengantar administrasi kesehatan. Edisi ke-3. Jakarta: Binarupa Aksara
1996:hal17-34,123-5,200-10.