A.

PELAYANAN KESEHATAN

1. DEFENISI
- UUD 36/2014 TENTANG TENAGA KESEHATAN
Pasal 1

1. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
2. Asisten Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan
serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan bidang kesehatan di
bawah jenjang Diploma Tiga.
3. Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun
rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
4. Upaya Kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara
terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan
penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh Pemerintah dan/atau masyarakat.

- UUD 36/2009 TENTANG KESEHATAN
Pasal 1

1. Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
2. Sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga, perbekalan kesehatan,
sediaan farmasi dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang
dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
3. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta
memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang
untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
4. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun
rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
5. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan secara
terpadu, terintegrasi dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dalam bentuk pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan
penyakit, dan pemulihan kesehatan oleh pemerintah dan/atau masyarakat.

Pedagang Besar Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk melakukan kegiatan pengadaan. dan menghasilkan Narkotika secara langsung atau tidak langsung melalui ekstraksi atau nonekstraksi dari sumber alami atau sintetis kimia atau gabungannya. UU/ 35 TAHUN 2009 TTG NARKOTIKA 1. yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang tentang Narkotika. yang dibedakan ke dalam golongangolongan sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini. 4. membuat. mengo-lah. penyimpanan. dan/atau mengubah bentuk psikotropika. 2. 2. mengemas. Pabrik obat adalah perusahaan berbadan hukum yang memiliki izin dari Menteri untuk melakukan kegiatan produksi serta penyaluran obat dan bahan obat. termasuk mengemas dan/atau mengubah bentuk Narkotika. 5. termasuk psikotropika dan alat kesehatan. dan penyaluran sediaan farmasi. Penyerahan adalah setiap kegiatan memberikan psikotropika. Prekursor Narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika yang dibedakan dalam tabel sebagaimana terlampir dalam Undang-Undang ini. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. Prekursor adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan Narkotika dan Psikotropika. yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran. dan dapat menimbulkan ketergantungan. baik antar-penyerah maupun kepada pengguna dalam rangka pelayanan kesehatan. membuat. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman. termasuk psikotropika. baik sintetis maupun semisintetis. Produksi adalah kegiatan atau proses menyiapkan. dan dapat menimbulkan ketergantungan. .UU 5/1997 TENTANG PSIKOTROPIKA 1. Pedagang besar farmasi adalah perusahaan berbadan hukum yang memiliki izin dari Menteri untuk melakukan kegiatan penyaluran sediaan farmasi. 3. baik sintetis maupun msemi sintetis. yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran.. 2. 6. Produksi adalah kegiatan atau proses menyiapkan. 4. menghasilkan. 3. termasuk Narkotika dan alat kesehatan. Peredaran adalah setiap kegiatan atau serangkaian kegiatan penyaluran atau penyerahan psikotropika. mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri. baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika. hilangnya rasa. Psikotropika adalah zat atau obat. baik dalam rangka perdagangan. PP 44/2010 TENTANG PREKURSOR 1. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman. mengolah. yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. hilangnya rasa. bukan perdagangan maupun pemindahtanganan.

bahan obat dan obat tradisional. Fasilitas Kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian. 4. serta pengembangan obat. pelayanan obat atas resep dokter. 7. 3. baik alamiah maupun sintetis bukan Narkotika. 6. Fasilitas Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi adalah sarana yang digunakan untuk mendistribusikan atau menyalurkan Sediaan Farmasi. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi. penyimpanan dan pendistribusi atau penyaluranan obat. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker. puskesmas. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yanlg mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. 8. Fasilitas Produksi Sediaan Farmasi adalah sarana yang digunakan untuk memproduksi obat. pelayanan informasi obat. dan kosmetika. 3. yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. PP 32/96 TENTang tenaga kesehatan 1. yaitu apotek. yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian. atau praktek bersama. penyaluran perbekalan farmasi dalam jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Tenaga Teknis Kefarmasian adalah tenaga yang membantu Apoteker dalam menjalani Pekerjaan Kefarmasian. Ahli Madya Farmasi. 13. . 12. bahan baku obat. Pedagang Besar Farmasi adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan. pengadaan. Fasilitas Kesehatan adalah sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. penyimpanan. PP 51/2009 1. Fasilitas Pelayanan Kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian. 10. 9.3. 11. toko obat. 2. pengelolaan obat. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan/atau masyarakat. Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. instalasi farmasi rumah sakit. obat tradisional. Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian. yaitu Pedagang Besar Farmasi dan Instalasi Sediaan Farmasi. dan Tenaga Menengah Farmasi/Asisten Apoteker. Psikotropika adalah zat atau obat. Analis Farmasi. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien. klinik. yang terdiri atas Sarjana Farmasi. pengamanan.

PP 32/96 Tentang tenaga kesehatan Pasal 21 (1) Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan. dan pelayanan kefarmasian. Pasal 38 1. peserta didik yang telah memiliki ijazah wajib memperoleh rekomendasi dari Apoteker yang memiliki STRA di tempat yang bersangkutan bekerja. komponen kemampuan akademik. (2) Standar profesi tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. Standar Kefarmasian adalah pedoman untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada fasilitas produksi. 2. 2. 2. Peserta didik Tenaga Teknis Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) untuk dapat menjalankan Pekerjaan Kefarmasian harus memiliki ijazah dari institusi pendidikan sesuai peraturan perundang-undangan. 3. distribusi atau penyaluran.Standar Profesi adalah pedoman untuk menjalankan praktik profesi kefarmasian secara baik. Standar Prosedur Operasional harus dibuat secara tertulis dan diperbaharui secara terus menerus sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan 3. Pasal 11 1. Standar Prosedur Operasional adalah prosedur tertulis berupa petunjuk operasional tentang Pekerjaan Kefarmasian. Pasal 36 1. . dan b. 3. Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian. kemampuan profesi dalam mengaplikasikan Pekerjaan Kefarmasian 2. Apoteker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) harus menetapkan Standar Prosedur Operasional. Standar pendidikan profesi Apoteker sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disusun dan diusulkan oleh Asosiasi di bidang pendidikan farmasi dan ditetapkan oleh Menteri. Standar pendidikan Tenaga Teknis Kefarmasian harus memenuhi ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku di bidang pendidikan. STANDAR PELAYANAN PP 51 / 2009 TENTANG PEKERJAAN KEFARMASIAN Pasal 1 1.2. Untuk dapat menjalankan Pekerjaan Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Standar pendidikan profesi Apoteker terdiri atas: a.

b. 3. mengirimkan laporan hasil penelitian dan pengembangan kepada pemerintah daerah atau Menteri. dan swasta . b. (2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut oleh Menteri. Ketentuan persyaratan fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh Pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku. Fasilitas pelayanan kesehatan. SARANAN/PRASARANA (FASILITAS KESEHATAN) UU 36/2009 TENTANG KESEHATAN Pasal 30 1. Pasal 31 Fasilitas pelayanan kesehatan wajib: a. pelayanan kesehatan masyarakat. pelayanan kesehatan tingkat ketiga. 3. menurut jenis pelayanannya terdiri atas: a. pelayanan kesehatan perseorangan. pelayanan kesehatan tingkat pertama. Pasal 35 (1) Pemerintah daerah dapat menentukan jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan serta pemberian izin beroperasi di daerahnya. dan c. Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. . membuat dan memelihara rekam medis. memberikan infomasi yang berkaitan dengan kondisi dan tindakan yang akan dilakukan. menghormati hak pasien. (2) Penentuan jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh pemerintah daerah dengan mempertimbangkan: . dan b. memberikan akses yang luas bagi kebutuhan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan. pelayanan kesehatan tingkat kedua. 5. d meminta persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan. e. menjaga kerahasiaan identitas dan data kesehatan pribadi pasien.4. Fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan oleh pihak Pemerintah.Pasal 22 (1) Bagi tenaga kesehatan jenis tertentu dalam melaksanakan tugas profesinya berkewajiban untuk : a. dan b. 2. c. pemerintah daerah. Ketentuan perizinan fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) ditetapkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah.

fungsi sosial. d. Puskesmas. Pasal 20 Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian. Dalam hal di daerah terpencil tidak terdapat Apoteker. Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh Apoteker. dan asilum. 5. 4. Menteri dapat menempatkan Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki STRTTK pada sarana pelayanan kesehatan dasar yang diberi wewenang untuk meracik dan menyerahkan obat kepada pasien. penelitian. Apotek. Tata cara penempatan dan kewenangan Tenaga Teknis Kefarmasian di daerah terpencil sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. Instalasi farmasi rumah sakit. Klinik. e. c. f. (4) Ketentuan mengenai jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak berlaku untuk jenis rumah sakit khusus karantina. kebutuhan kesehatan. pola penyakit. PP 51 thn 2009 tentang pekerjaan kefarmasian Pasal 19 Fasilitas Pelayanan Kefarmasian berupa : a. c.a. atau f. d. b. 3. Apoteker harus menerapkan standar pelayanan kefarmasian. pemanfaatannya. Praktek bersama. Pasal 21 1. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menurut jenis Fasilitas Pelayanan Kefarmasian ditetapkan oleh Menteri. luas wilayah. Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/ atau Tenaga Teknis Kefarmasian. b. Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan fasilitas pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. jumlah dan persebaran penduduk. e. (3) Ketentuan mengenai jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan serta pemberian izin beroperasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga untuk fasilitas pelayanan kesehatan asing. kemampuan dalam memanfaatkan teknologi. Toko Obat. dan g. 2. .

Pasal 24 (1) Tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 harus memenuhi ketentuan kode etik. (2) Ketentuan mengenai kode etik dan standar profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur oleh organisasi profesi. pengadaan. standar profesi. SDM UU 36/2009 TENTANG KESEHATAN Pasal 21 (1) Pemerintah mengatur perencanaan. pengadaan. Pasal 22 (1) Tenaga kesehatan harus memiliki kualifikasi minimum. Pasal 23 (1) Tenaga kesehatan berwenang untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan. pendayagunaan. dan pengawasan mutu tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah. (2) Kewenangan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki. 5. dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan. (2) Ketentuan mengenai kualifikasi minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan mPeraturan Menteri. pendayagunaan. (4) Selama memberikan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilarang mengutamakan kepentingan yang bernilai materi. (5) Ketentuan mengenai perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dalam Peraturan Menteri. . PERSYARATAN PP 32 thn 1996 tentang tenaga kesehatan Pasal 3 Persyaratan tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga pendidikan. dan standar prosedur operasional.4. (3) Ketentuan mengenai tenaga kesehatan diatur dengan Undang-Undang. (2) Ketentuan mengenai perencanaan. tenaga kesehatan wajib memiliki izin dari pemerintah. standar pelayanan. pembinaan. hak pengguna pelayanan kesehatan. pembinaan. (3) Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan.

analis kesehatan. Tenaga keterapian fisik meliputi fisioterapis. e. 8. analis farmasi dan asisten apoteker. 2. 6. Tenaga kefarmasian meliputi apoteker. d. c. PROSES ATAU KEGIATAN UU 36/2009 TENTANG KESEHATAN Pasal 46 Untuk mewujudkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya bagi masyarakat. refraksionis optisien. tenaga gizi.(3) Ketentuan mengenai hak pengguna pelayanan kesehatan. kuratif. preventif. tenaga keperawatan. okupasiterapis dan terapis wicara. tenaga keteknisian medis. b. radioterapis. Tenaga gizi meliputi nutrisionis dan dietisien. penyuluh kesehatan. Tenaga keteknisian medis meliputi radiografer. 3. 6. 4. dan standar prosedur operasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Tenaga kesehatan terdiri dari : a. teknisi transfusi dan perekam medis. 7. dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu. tenaga kesehatan masyarakat. teknisi elektromedis. otorik prostetik. 5. Tenaga medis meliputi dokter dan dokter gigi. menyeluruh. Tenaga keperawatan meliputi perawat dan bidan. tenaga medis. standar pelayanan. . PP 32 thn 1996 tentang tenaga kesehatan Pasal 2 1. f. administrator kesehatan dan sanitarian. dan berkesinambungan. tenaga kefarmasian. diselenggarakan upaya kesehatan yang terpadu dan menyeluruh dalam bentuk upaya kesehatan perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Tenaga kesehatan masyarakat meliputi epidemiolog kesehatan. tenaga keterapian fisik. entomolog kesehatan. Pasal 47 Upaya kesehatan diselenggarakan dalam bentuk kegiatan dengan pendekatan promotif. teknisi gigi. mikrobiolog kesehatan. g.

penanggulangan gangguan penglihatan dan gangguan pendengaran. pelayanan kesehatan. b. Pasal 53 (1) Pelayanan kesehatan perseorangan ditujukan untuk menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan perseorangan dan keluarga. kuratif. pelayanan kesehatan tradisional. penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. kesehatan gigi dan mulut. pelayanan kesehatan pada bencana. dan rehabilitatif. pengamanan zat adiktif. dan b. (2) Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi kegiatan dengan pendekatan promotif. pelayanan kesehatan masyarakat. f. bedah mayat. dan/atau q. d. (2) Pelayanan kesehatan masyarakat ditujukan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit suatu kelompok dan masyarakat. kesehatan matra. g. m. pengamanan makanan dan minuman. pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan. 7. k. (2) Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didukung oleh sumber daya kesehatan. kesehatan reproduksi. c. keluarga berencana. peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit. kesehatan sekolah.Pasal 48 (1) Penyelenggaraan upaya kesehatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dilaksanakan melalui kegiatan: a. preventif. p. (3) Pelaksanaan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus mendahulukan pertolongan keselamatan nyawa pasien dibanding kepentingan lainnya. PERIZINAN PP 51/2009 TTG TENAGA KEFARMASIAN Pasal 52 (1) Setiap Tenaga Kefarmasian yang melaksanakan . pelayanan darah. h. Pasal 52 (1) Pelayanan kesehatan terdiri atas: a. n. o. l. e. pelayanan kesehatan perseorangan. j. i. kesehatan olahraga.

dan kabupaten/kota yang tugas pokok dan fungsinya di bidang kesehatan. kepala dinas di provinsi. b. c. memasuki setiap tempat yang diduga digunakan dalam kegiatan yang berhubungan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. memeriksa perizinan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. (2) Menteri dalam melakukan pengawasan dapat memberikan izin terhadap setiap penyelenggaraan upaya kesehatan. SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di Apotek. . tenaga pengawas mempunyai fungsi: a. SIK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Kefarmasian. Pasal 183 Menteri atau kepala dinas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 182 dalam melaksanakan tugasnya dapat mengangkat tenaga pengawas dengan tugas pokok untuk melakukan pengawasan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan sumber daya di bidang kesehatan dan upaya kesehatan. (2) Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. atau d. 8. b. Pasal 184 Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 183. PENGAWASAN UU 36/2009 TENTANG KESEHATAN Pasal 182 (1) Menteri melakukan pengawasan terhadap masyarakat dan setiap penyelenggara kegiatan yang berhubungan dengan sumber daya di bidang kesehatan dan upaya kesehatan. SIK bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di fasilitas kefarmasian diluar Apotek dan instalasi farmasi rumah sakit. (4) Menteri dalam melaksanakan pengawasan mengikutsertakan masyarakat. puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit.Pekerjaan Kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat izin sesuai tempat Tenaga Kefarmasian bekerja. (3) Menteri dalam melaksanakan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat mendelegasikan kepada lembaga pemerintah non kementerian. SIPA bagi Apoteker yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian sebagai Apoteker pendamping.

tenaga pengawas wajib melaporkan kepada penyidik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 186 Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dugaan atau patut diduga adanya pelanggaran hukum di bidang kesehatan. Pasal 18 (1) Menteri. terpenuhinya Prekursor untuk kepentingan industri farmasi dan non farmasi. peringatan secara tertulis. atau kabupaten/kota yang tugas pokok dan fungsinya di bidang kesehatan. terpenuhinya Prekursor untuk kepentingan pendidikan. (2) Menteri dapat mendelegasikan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada lembaga pemerintah nonkementerian. dan lembaga lain yang mempunyai tugas dan fungsi pengawasan terhadap segala kegiatan yang berhubungan dengan Prekursor secara terkoordinasi melakukan pengawasan sesuai dengan kewenangannya. . pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. (3) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. kepala dinas provinsi. pencabutan izin sementara atau izin tetap.Pasal 185 Setiap orang yang bertanggung jawab atas tempat dilakukannya pemeriksaan oleh tenaga pengawas mempunyai hak untuk menolak pemeriksaan apabila tenaga pengawas yang bersangkutan tidak dilengkapi dengan tanda pengenal dan surat perintah pemeriksaan. Pasal 188 (1) Menteri dapat mengambil tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan yang melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengambilan tindakan administratif sebagaimana dimaksud pasal ini diatur oleh Menteri. b. PP 44 thn 2010 prekursor Pasal 17 Pengawasan terhadap penggunaan Prekursor dilakukan secara terpadu dengan pembinaan dan pengendalian. Pasal 187 Ketentuan lebih lanjut tentang pengawasan diatur dengan Peraturan Menteri. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan pada: a. menteri terkait. dan pelayanan kesehatan. b.

(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur oleh Menteri dan/atau menteri terkait sesuai dengan kewenangannya. b. teguran tertulis. b. Pasal 20 (1) Dalam rangka pengawasan. dan c. (3) Pelaksanaan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. perlindungan kepada masyarakat dari bahaya penyalahgunaan Prekursor. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur oleh Menteri dan/atau menteri terkait sesuai dengan kewenangannya.c. dan e. penyimpanan dan peredaran. Menteri dan menteri terkait dapat mengambil tindakan administratif. (4) Dalam melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). petugas pengawas berwenang: a. (5) Petugas pengawas dalam melaksanakan setiap kegiatan pengawasan harus dilengkapi dengan surat tugas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. PP 51/2009 Pasal 59 (1) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 58 diarahkan untuk: . penghentian sementara kegiatan. pemberantasan peredaran gelap Prekursor. penyaluran. memeriksa surat/dokumen yang berkaitan dengan Prekursor. atau d. pencegahan terjadinya penyimpangan dan kebocoran Prekursor. melakukan pengamanan terhadap Prekursor yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini. teguran lisan. Menteri berkoordinasi dengan menteri terkait. d. melakukan pemeriksaan setempat dan/atau mengambil contoh Prekursor pada sarana produksi. Pasal 19 (1) Prekursor yang berasal dari produk tumbuh-tumbuhan atau hewan dapat ditetapkan oleh Menteri sebagai bahan yang berada di bawah pengawasan. pencabutan izin. c. (2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa: a. (2) Dalam menetapkan Prekursor sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

memberikan kepastian hukum bagi pasien. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. melindungi pasien dan masyarakat dalam hal pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian yang dilakukan oleh Tenaga Kefarmasian. jumlah Prekursor yang masih ada dalam persediaan. Pasal 33 (1) Dalarn rangka pengawasan. pencabutan ijin untuk melakukan upaya kesehatan. mempertahankan dan meningkatkan mutu Pekerjaan Kefarmasian sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Setiap orang atau badan yang mengelola Prekursor wajib membuat pencatatan dan pelaporan. 2. Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya memuat: a. b. masyarakat. dan .a. Menteri dapat rnengambil tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan yang tidak melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi tenaga kesehatan yang bersangkutan. (2) Tindakan disiplin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa: a. (3) Pcngambilan tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. PP 32/96 Tentang tenaga kesehatan Pasal 32 Menteri melakukan pengawasan terhadap tenaga kesehatan dalarn melaksanakan tugas profesinya. PENCACATAN & PELAPORAN PP 44 thn 2010 prekursor pencatatan dan pelaporan pasal 16 1. teguran. 9. dan c. dan Tenaga Kefarmasian. jumlah dan banyaknya Prekursor yang diserahkan. b. b.

c. . Ketentuan lebih lanjut mengenai pencatatan dan pelaporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan ayat (3) diatur secara terkoordinasi oleh Menteri dan/atau menteri terkait sesuai dengan kewenangannya. 4. Pencatatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dilaporkan secara berkala. keperluan atau kegunaan Prekursor oleh pemesan. 3.

Related Interests