BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan kesehatan memiliki tujuan sesuai dengan Visi Kementrian

Kesehatan “Masyarakat Sehat yang mandiri dan Berkeadilan” dan dengan misinya 1)

Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat,

termasuk swasta dan masyarakat madani; 2) Melindungi kesehatan masyarakat

dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu dan

berkeadilan; 3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; 4)

Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang

bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah

kerja. Selaku penaggungjawab penyelenggaraan pembangunan di wilayah kerjanya

maka puskesmas perlu melakukan evaluasi atas pembangunan kesehatan yang telah

dilakukan sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilannya. Untuk mengukur

keberhasilan pembangunan kesehatan di perlukan suatu indikator antara lain 1)

Indikator derajat kesehatan yang terdiri atas indikator-indikator untuk mortalitas,

morbiditas dan status gizi; 2) Indikator Upaya Kesehatan yang terdiri atas pelayanan

kesehatan, prilaku hidup sehat dan keadaan lingkungan serta; 3) Indikator Sumber

Daya Kesehatan terdiri atas sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan

kesehatan dan 4) Indikator lain yang terkait dengan kesehatan.

Pada penyusunan laporan ini mengacu pada Pedoman Penyusunan Profil

Kesehatan Kabupaten/Kota tahun 2011 yang dikeluarkan oleh Pusat Data dan

Informasi Kementrian Kesehatan RI.

B. Tujuan Penyusunan Laporan Tahun 2015

Tujuan umum penyusunan laporan ini adalah sebagai gambaran tentang kondisi

kesehatan masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg.

Sedangkan tujuan khusus yang ingin dicapai adalah:

1

1. Mengetahui cakupan program kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas

Selemadeg yang sudah mencapai target.

2. Mengetahui cakupan program kesehatan di wilayah kerja UPTD Puskesmas

Selemadeg yang belum mencapai target.

2

Selbar Samudera Hindia Wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg meliputi 10 desa dan 60 dusun. Semua wilayah kerja dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat. Seltim Desa Antosari. Geografi UPTD Puskesmas Selemadeg merupakan satu-satunya puskesmas yang berada di Kecamatan Selemadeg. Adapun batas wilayah kerja puskesmas : Utara : Wilayah Hutan Gunung Batukaru Selatan : Samudera Hindia Timur : Desa Megati – Kecamatan Selemadeg Timur Barat : Desa Antosari – Kecamatan Selemadeg Barat PETA WILAYAH KECAMATAN SELEMADEG TAHUN 2015 Hutan Batukaru Desa Megati.05 Km2. 3 . Kec. Kec. sedangkan yang paling jauh adalah Desa Wanagiri dan Wanagiri Kauh. BAB II GAMBARAN UMUM A. UPTD Puskesmas Selemadeg yang terletak di jantung ibu kota kecamatan memiliki luas wilayah kerja 52. Desa yang terdekat dengan ibu kota kecamatan adalah Desa Bajera. Letak geografis wilayah kerja puskesmas adalah membujur dari daerah pantai sampai pegunungan.

B.475 KK) dengan kepadatan penduduk 409 jiwa/km2.158 jiwa/km 2. Demografi Jumlah penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg sebanyak 21. sedangkan yang paling rendah tingkat kepadatannya adalah Desa Wanagiri sebesar 173 jiwa/km2. Desa yang paling tinggi kepadatan penduduknya adalah Desa Bajera dengan kepadatan 1.285 jiwa (6. 4 .

Pada tahun 2015 di wilayah kerja puskesmas selemadeg tidak ditemukan ibu maternal meninggal . Situasi derajat kesehatan wilayahkerja puskesmas adalah sebagai berikut: A. angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian balita (AKBA).000 kelahiran hidup. Angka Kematian (Mortalitas) Angka kematian dalam masyarakat seringkali digunakan sebagai indikator dalam menilai keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN Situasi derajat kesehatan masyarakat disuatu wilayah merupakan gambaran pencapaian upaya kesehatan yang dilaksanakan di wilayah tersebut. . sehingga program-program kesehatan banyak yang menitik beratkan pada upaya penurunan AKB. Indikator dalam derajat kesehatan antara lain angka kematian. B. Angka Kesakitan (Morbiditas) Angka kesakitan pada penduduk diperoleh dari data yang berasal dari masyarakat (community base data). melalui pengamatan (surveilans) dan data yang diperoleh dari fasilitas pelayanan kesehatan (fasilitas base data) melalui sistem 5 . angka kesakitan dan angka status gizi masyarakat. Angka kematian bayi (AKB) atau Infant Mortality Rate (IMR) merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat kesehatan masyarakat. Pada tahun 2015 berdasarkan laporan dari program Kesga di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg dari 202 kelahiran hidup ditemukan 1 orang bayi meninggal berumur 2 hari karena Aspexia. Angka kematian terdiri atas angka kematian ibu (AKI). dimana AKB merujuk pada jumlah bayi yang meninggal antara fase kelahiran hingga umur < 1 tahun per 1.

TB masih menjadi salah satu penyakit yang patut diwaspadai oleh masyarakat di Kecamatan Selemadeg dimana sepanjang tahun 2015 ditemukan sebanyak 6 kasus yang terdiri dari 4 orang laki-laki dan 2 orang perempuan. Angka penemuan ini juga masih jauh dari target SPM yaitu 100%. namun jika dilihat berdasarkan perkiraan kejadian diare dimasyarakat angka penemuan kejadian diare sebesar 59. Sedangkan target yang ditetapkan SPM yaitu lebih dari 2/100. Penderita terbanyak berasal dari Desa Selemadeg disusul kemudian dari Desa Wanagiri Kauh.48% sehingga masih memerlukan peningkatan mengingat target SPM sebesar 100%. petugas kesehatan tetap memberikan penanganan sedini mungkin kepada penderita sehingga tingkat kesembuhannya lebih cepat. Pada tahun 2015 tidak ditemukan kasus HIV. Secara klinis. jumlah penderita pneumonia balita tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg sebanyak 12 anak. Kejadian diare tertinggi terjadi di Desa Bajera dengan 93 kasus. Desa Berembeng. Desa Bajera. Semoga pada tahun- tahun mendatang juga tidak akan ditemukan kasus ini. Meskipun masih dinyatakan klinis. Desa Wanagiri.000 penduduk dibawah 15 tahun. Pneumonia lain-lain.4% sehingga masih memerlukan usaha dalam peningkatannya mengingat penyakit ini seringkali menjadi penyebab kematian di masyarakat. Berbeda dengan AFP. sehingga Millenium Development Goals (MDGs) menjadikan penyakit TB sebagai salah satu penyakit yang menjadi target untuk diturunkan. 6 . Sehingga Angka penemuan kasus TB tahun 2014 sebesar 21.pencatatan dan pelaporan rutin dan insidentil. Desa Berembeng. AIDS maupun infeksi menular seksual lainnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg. berikut ini disajikan angka prevalensi dari beberapa penyakit antara lain : TB Paru. Untuk menggambarkan angka kesakitan. Pada tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tidak ditemukan kasus AFP sehingga AFP Rate = 0. Tahun 2015 jumlah pasien diare di wilayah kerja Puskesmas Selemadeg sebanyak 276 orang. Dari semua kasus diare yang ditemui semua sudah mendapat penanganan. Malaria. Penyakit DBD. Diare.

Angka yang dipakai untuk menggambarkan hal tersebut antara lain persentase berat bayi lahir rendah (BBLR). Kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) pada tahun 2015 di wilayah kerja puskesmas tidak ditemukan dengan harapan memang benar-benar tidak ada kasus di masyarakat. Angka Kematian Balita (AKBA) dan berdampak serius terhadap pertumbuhan dan perkembangan mental dan kecerdasan anak. namun semua sudah dapat ditangani. Namun balita dengan status gizi kurang masih cukup banyak ditemukan yakni 24 orang (3. BBLR sangat berkaitan erat dengan peningkatan Angka Kematian Bayi (AKB). Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah dengan pengukuran antropometri yang menggunakan indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U). Malaria dan Filariasis tidak ditemukan di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg pada tahun 2015. Kasus DBD pada tahun 2015 mengalami peningkatan dibanding tahun 2014. Dari 202 bayi yang lahir hidup di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg pada tahun 2015 tidak ditemukan bayi yang berat badanya lahir rendah. Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang dapat menggambarkan tingkat status gizi masyarakat. Dimana pada tahun 2014 kasus DBD sebanyak 43 orang. persentase balita dengan gizi kurang dan persentase dengan gizi buruk. Pada umumnya BBLR terjadi pada bayi yang lahir dari ibu hamil yang menderita Kurang Energi Kronis (KEK). Balita dengan status gizi buruk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg pada tahun 2015 tidak ditemukan. C. Walaupun demikian pelacakan masih terus dilakukan agar tidak sampai ada kasus yang tidak mendapatkan penanganan. Sehingga presentasenya menjadi 100%. Jumlah ini lebih banyak 7 .18%). Status Gizi Status gizi masyarakat merupakan salah satu indikator derajat kesehatan masyararakat. Sedangkan pada tahun 2015 meningkat sebanyak 114 orang. Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) dan Tinggi Badan menurut Umur (TB/U).

Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat. BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN Kebijakan pembangunan kesehatan sekarang ini adalah Paradigma Sehat yaitu paradigma pembangunan kesehatan yang lebih mengutamakan upaya-upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Pelayanan Kesehatan Dasar Pelayanan Kesehatan Dasar merupakan langkah awal yang sangat penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. diharapkan sebagian besar masalah kesehatan dapat diatasi.33%). menggambarkan besaran ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.86%) dari pada balita dengan jenis kelamin laki-laki yaitu 10 orang (1. Titik berat kegiatannya adalah promotif dan preventif dan hasilnya terlihat dari cakupan K1 dan K4. Paradigma sehat ini merupakan modal pembangunan kesehatan yang dalam jangka panjang akan mampu mendorong masyarakat untuk bersikap dan bertindak mandiri dalam menjaga kesehatan mereka sendiri yaitu melalui kesadaran terhadap pentingnya upaya-upaya kesehatan yang bersifat promotif dan preventif. bidan dan perawat) kepada ibu hamil sesuai pedoman. Cakupan K1 untuk mengatur akses pelayanan ibu hamil. Pelayanan Kesehatan Antenatal (K1 dan K4) Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebinanan. Kegiatan antenatal meliputi pengukuran berat badan dan tekanan darah. pemeriksaan tinggi fundus arteri.ditemukan pada balita dengan jenis kelamin perempuan yaitu 14 orang (1. dokter umum. imunisasi Tetanus Toksoid (TT) serta pemberian tablet besi pada ibu hamil selama masa kehamilannya. Berbagai pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan pada UPTD Puskesmas Selemadeg adalah sebagai berikut: 1. A. Indikator ini digunakan untuk mengetahui 8 .

Jumlah ibu bersalin pada tahun 2015 sebanyak 224 orang dimana cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan 79.jangkauan pelayanan antenatal dan kemampuan program dalam menggerakkan maryarakat. Sedangkan TT3 (TT Boster) adalah istilah yang diberikan untuk imunisasi TT pada ibu hamil yang sedang hamil kedua namun jarak kehamilan tersebut lebih dari 5 tahun. 3. sekali di trimester kedua dan dua kali di trimester ketiga). 9 . Cakupan K4 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 sebesar 75. sedangkan TT5 dan TT2+ diberikan pada ibu bersamaan dengan pemberian imunisasi BCG pada bayinya dan pemberian imunisasi campak setelah bayi berumur 9 bulan. 2. Indikator ini berfungsi untuk menggambarkan tingkat perlindungan dan kualitas pelayanan kesehatan pada ibu hamil.2% dan belum melampaui target SPM tahun 2015 sebeasr 95%. Pada tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg cakupan K1 sebesar 88. TT4 adalah imunisasi TT yang diberikan pada saat ibu melahirkan.9% belum mencapai target SPM tahun 2015 yang masing-masing sebesar 90%. Pelayanan Imunisasi TT dan Pemberian Tablet Fe pada ibu hamil Imunisasi tetanus toksoid merupakan salah satu imunisasi yang diberikan pada ibu hamil. maka hendaknya pertolongan persalinan dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.5% dan cakupan pelayanan kesehatan pada ibu nifas 83. minimal empat kali kunjungan selama masa kehamilannya (sekali di trimester pertama. Pertolongan Persalinan dan Ibu Nifas Komplikasi dan kematian ibu maternal serta bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa disekitar persalinan. Pemberian imunisasi TT ini sebanyak 2 kali yang biasa disebut TT1 dan TT2.0% Cakupan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan antenatal sesuai standar. Hal ini didudung oleh tingkat pendidikan maupun pengetahuan masyarakat yang kian meningkat dan tersedianya sarana kesehatan yang mudah di jangkau oleh masyarakat.

Komplikasi Kebidanan dan Neonatus dengan Komplikasi yang Ditangani. diantara neonatus yang diperiksa dan ditemui akan ditemukan neonatus yang tergolong dalam kasus resiko tinggi yang butuh pelayanan rujukan. 10 . Persentase ibu hamil yang mendapatkan tablet Fe1 sebesar 83. TT3 sebesar 0%. Pada tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg cakupan TT1 sebesar 0%. Pada saat memberi pelayanan kesehatan pada neonatus. Kekurangan zat gizi yang sering terjadi adalah kekurangan zat besi (Fe) yang sering mengakibatkan anemia pada ibu hamil. eklampsia. oedema nyata. TT4 sebesar 19. Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh bidan di desa dan puskesmas. TT2 sebesar 0%.7%.8% sedangkan persentase ibu hamil yang mendapatkan tablet Fe3 sebesar 88. Neonatal risti/komplikasi yaitu bayi usia 0-28 hari dengan penyakit dan kelainan yang dapat menyebabkan kesakitan dan kematian seperti asfiksia. 4. diantara ibu hamil yang ditemui dan diperiksa akan ditemui ibu hamil tergolong dalam kasus resiko tinggi/komplikasi yang membutuhkan rujukan. trauma lahir. Pada ibu hamil kebutuhan zat gizi mengalami peningkatan seiring dengan perkembangan bayinya. BBLR (berat badan kurang dari 2. Untuk menanggulangi hal tersebut pemerintah telah menetapkan program pemberian tablet Fe pada ibu hamil. ketuban pecah dini. letak sungsang pada primigravida. sindroma gangguan pernafasan dan kelainan neonatal. TT5 sebesar 83. diástole > 90 mmHg). tetanus neonatorum. tekanan darah tinggi (sistole > 140 mmHg. Berdasarkan laporan program Kesga jumlah ibu hamil risti/komplikasi tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg sebanyak 46 orang dan yang di tangani sebanyak 31orang(67. letak lintang pada usia kehamilan > 32 minggu. perdarahan pervaginan. sepsis. Kasus resiko tinggi/komplikasi adalah keadaan penyimpangan dari normal yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi meliputi Hb<8 g%. Hasil kegiatan ini dilihat dari cakupan pemberian tablet Fe1 dan Fe3 pada ibu hamil.39%).3% dan TT2+ sebesar 0%.500 gram). infeksi berat / sepsis dan persalinan prematur.7%.

5. Sedangkan pada jenis NON MKJP yang menjadi favorit adalah suntik (90. Berdasarkan laporan dari program Kesga jumlah neonatal risti/komplikasi tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg sebanyak 3 orang dan semuanya telah memperoleh penanganan sesuai prosedur sehingga cakupan menjadi 100%. diare atau penyakit infeksi lainnya maka penyakit tersebut akan bertambah parah dan dapat mengakibatkan kematian. Tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg terdapat 3074 jiwa peserta KB aktif. Vitamin A adalah salah satu zat gizi yang diperlukan tubuh dan berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan mata. Anak Balita dan ibu nifas.27%).80%) dan implan (1.16%).50%) disusul kondom (2. MOP (0. Cakupan pemberian Vitamin A pada bayi. pil (7. Peserta KB dibagi menjadi KB baru dan KB aktif. Pemberian Vitamin A Pada Bayi.73%).21%) kemudian disusul MOW (6. 11 . karena infeksi tersebut menghambat kemampuan tubuh untuk menyerap zat-zat gizi dan pada saat yang sama akan mengikis simpanan vitamin A dalam tubuh. 6. balita maupun ibu nifas pada tahun 2015 sudah mencapai 100%. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) Masa subur seorang wanita memiliki peran penting bagi terjadinya kehamilan sehingga peluang wanita untuk melahirkan cukup tinggi. Bila seorang anak yang menderita kekurangan vitami A terserang campak. Sasaran pemberian kapsul vitamin A adalah bayi usia 6-11 bulan dan balita (1-5 tahun) sebanyak 2 kali dalam setahun (Pebruari dan Agustus) serta ibu nifas satu kali. Oleh karena itu untuk mengatur jumlah kelahiran. maka wanita/pasangan usia subur (PUS) diprioritaskan untuk menggunakan alat kontrasepsi KB.40%). Yang menjadi pilihan utama adalah jenis MKJP diantaranya IUD (91. Kekurangan vitamin A dalam waktu yang lama dapat mengakibatkan kebutaan. menurut hasil penelitian bahwa usia subur wanita antara usia 15-49 tahun.

Kegiatan imunisasi dibedakan rutin dan tambahan. Tahun 2015 peserta KB baru lebih memilih menggunakan kontrasepsi jenis suntik yaitu sebesar 98.kelas 2dan3.34% dari total PUS yang ada. dugaan adanya virus polio liar / kegiatan lain berdasarkan kebijakan teknis. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi sampai usia 6 bulan. Pelayanan Imunisasi Imunisasi merupakan bagian dari upaya pencegahan dan pemutusan mata rantai penularan penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Polio. Sedangkan jumlah peserta KB baru sebanyak 248 atau 6. Kegiatan imunisasi rutin meliputi imunisasi untuk bayi umur 0-1 tahun (BCG. Karena ASI 12 . DPT. Campak. 7. HB). Jika dibandingkan dengan pilihan penggunaan jenis KB pada KB aktif terjadi pergeseran dari IUD ke suntik. potensial KLB.08% dari PUS yang ada. Sementara kegiatan imunisasi tambahan dilakukan atas dasar penemuan masalah seperti desa non UCI. Indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilan program imunisasi secara nasional adalah angka UCI (Universal Child Immunization) pada wilayah desa/kelurahan. kemudian IUD sebesar 87. Penimbangan balita dan perawatan balita gizi buruk. Berdasarkan laporan program imunisasi cakupan desa UCI pada wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2014 adalah semua desa sudah mencapai UCI (100%). ASI sebagai makanan yang terbaik bagi bayi bukanlah hanya slogan semata. Td).32%. Jika dilihat dari jumlah peserta KB aktif sebanyak 3.074 atau 75. Hal ini didukung oleh mudahnya masyarakat mengakses sarana kesehatan. 8. Pada tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg terdapat 4080 PUS. Perbaikan Gizi Masyarakat Kegiatan dalam usaha perbaikan gizi masyarakat sangatlah beragam selain pemberian vitamin A dan tablet Fe kegiatan lainnya yaitu ASI eksklusif. imunisasi untuk wanita usia subur/ibu hamil (TT) dan imunisasi untuk anak SD (kelas 1: DT dan Campak. pemberian makanan pendamping ASI.87%.

Pada tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg karena balita dengan status gizi buruk tidak ditemukan sehingga kegiatan perawatan juga tidak dilaksanakan. Pelayanan Kesehatan Usia Sekolah Kegiatan pada usaha kesehatan sekolah terdiri dari penjaringan pada siswa kelas 1 SD atau setingkatnya dan pelayanan kesehatan bagi seluruh siswa. 13 . Kegiatan penimbangan ini juga dijadikan indikator peran serta masyarakat dalam upaya kesehatan khususnya posyandu yang dilihat dari jumlah balita yang datang ditimbang. 9. Indikator kegiatan ini adalah terlaksananya pemberian MP ASI pada bayi dan balita dari keluarga miskin. Berdasarkan laporan program gizi pada tahun 2015.memiliki kandungan zat gizi yang secara kualitas dan kuantitas tidak bisa digantikan oleh makanan bayi yang lain.38% dari seluruh balita yang ada. Berdasarkan laporan program gizi tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg persentase bayi yang diberi ASI eksklusif mencapai 38%. Cakupan penanganan balita dengan gizi buruk merupakan salah satu kegiatan pada program gizi yang bertujuan untuk membantu balita dengan gizi buruk untuk segera pulih dan meningkat status gizinya. pemberian MP ASI sebanyak 40 bayi dan balita gizi kurang atau 100% Kegiatan penimbangan balita merupakan salah satu kegiatan rutin program gizi. Pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI) adalah kegiatan pemberian makanan tambahan pada bayi maupun balita. Namun kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada bayi atau balita dengan gizi kurang agar status gizi mereka bisa menjadi baik. Berdasarkan laporan program gizi pada tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg jumlah balita yang ditimbang adalah 828 orang atau 83. Hal ini tentunya harus diimbangi dengan inovasi- inovasi baru dalam pelaksanaan posyandu sehingga lebih menarik minat orang tua balita untuk membawa anak mereka ke posyandu. Tujuan dari penimbangan adalah memantau pertumbuhan balita sehingga balita yang mengalami masalah bisa di deteksi secara dini untuk kemudian diberikan penanganan.

Pelayanan Gawat Darurat Level 1 Gawat darurat level 1 adalah pelayanan gawat darurat yang memiliki dokter umum on site 24 jam dengan kualifikasi GELS dan atau ATLS + ACLS. 10. Berdasarkan laporan program usila di UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 cakupan pelayanan kesehatan usia lanjut baru mencapai 52. di sisi lain dokter yang bertugas juga belum memiliki kualifikasi GELS (General Emergency Life Support) dan ATLS (Advance Trauma Life Support) serta ACLS (Advance Cardiac Life Support) sehingga pelayanan UGD di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg belum ada yang mampu memberikan pelayanan gadar level 1. 11. Sedangkan cakupan pelayanan kesehatan siswa SD dan setingkatnya sudah mencapai 52. Berdasarkan laporan program UKS pada tahun 2015 cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkatnya di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg sudah mencapai 100%. Kegiatan kesehatan gigi 14 . 12. sehingga perlu diupayakan peningkatan kualitas hidup bagi kelompok umur usia lanjut. Posyandu Lansia maupun di kelompok usia lanjut.67%.75% yang tentunya memerlukan peningkatan dalam pelaksanaannya. Pelayanan Gigi dan Mulut Pelayanan kesehatan gigi dan mulut meliputi pelayanan dasar gigi di puskesmas dan usaha kesehatan gigi di sekolah (UKGS). UPTD Puskesmas Selemadeg merupakan salah satu puskesmas yang memberikan pelayanan UGD 24 jam di Kabupaten Tabanan namun satu-satunya di Kecamatan Selemadeg. Pelayanan UGD di UPTD Puskesmas Selemadeg belum memiliki dokter umum one site (berada di tempat) 24 jam. serta memiliki alat transportasi dan komunikasi. Pelayanan kesehatan para usia lanjut adalah penduduk usia 60 tahun keatas yang mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar yang dilakukan oleh tenaga kesehatan baik di puskesmas. Pelayanan Kesehatan Usila Seiring bertambahnya Umur Harapan Hidup (UHH) maka keberadaan para lanjut usia tidak dapat begitu saja diabaikan.

preventif (pemeriksaan gigi). sehingga dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat.6. sejak lama dikembangkan berbagai cara untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Selama bertahun-tahun cakupan jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar pada masyarakat di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg masih rendah. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan 1.29% dari total murid SD yang ada) di ketahui ada 320 siswa membutuhkan perawatan dan semuanya telah mendapat perawatan. Diharapkan kegiatan penyuluhan tersebut semakin ditingkatkan agar dapat menjangkau masyarakat luas.dan mulut meliputi upaya promotif (penyuluhan). 13. pelayanan dasar gigi di puskesmas meliputi 62 tumpatan gigi tetap dan 110 pencabutan gigi tetap dengan rasio tumpatan : pencabutan sebesar 0. B. Hal ini didukung oleh program pemerintah Provinsi Bali yang mengeluarkan jaminan pemeliharaan kesehatan pra bayar bagi seluruh warga Bali yang belum memiliki jaminan pemeliharaan kesehatan yang dikenal dengan nama Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM). Pada tahun 2015 jumlah seluruh kegiatan penyuluhan kesehatan mencapai 228 kali penyuluhan kelompok dan 12 kali penyuluhan massa. Pelayanan Kesehatan Keluarga Miskin 15 . Kondisi ini belum memenuhi target 1:1 yang bertujuan mengurangi kasus pencabutan gigi karena dengan tumpatan gigi maka fungsi gigi tersebut tidak menjadi hilang. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Prabayar Dalam rangka meningkatkan kepesertaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan. 2. dari hasil pemeriksaan gigi pada 789 siswa SD (48. Namun pada tahun 2015 sudah mencapai 100%. dan kuratif sederhana seperti pencabutan gigi. pengobatan dan penambalan gigi. Untuk kegiatan UKGS. Penyuluhan Kesehatan Kegiatan penyuluhan kesehatan dilakukan melalui penyuluhan kelompok dan penyuluhan massa. Pada tahun 2015.

Cakupan pelayanan kesehatan keluarga miskin dilihat dari cakupan pelayanan rawat jalan dan rawat inap.26%). Pada tahun 2015 kunjungan gangguan jiwa sebanyak 303 pasien. UPTD Puskesmas Selemadeg merupakan puskesmas perawatan dan selama tahun 2015 memberikan pelayanan rawat inap dasar kepada 261 orang.512 pasien (76. Dalam pemberian pelayanan kesehatan pengobatan UPTD Puskesmas Selemadeg juga melayani pasien dengan gangguan jiwa. LOS (Length Of Stay) atau rata – rata lamanya dirawat adalah angka 16 . poskesdes dan puskesmas keliling. Dari jumlah kunjungan rawat jalan tersebut jumlah pasien laki-laki lebih banyak (38. BOR (Bad operation rate) atau angka penggunaan tempat tidur adalah angka yang digunakan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan tempat tidur.91%) dari pasien perempuan (37. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kunjungan rawat inap pada tahun 2015 sebanyak 461 pasien. 3. Kunjungan Rawat Jalan. Pelayanan kesehatan rawat jalan meliputi pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan rujukan. Rawat Inap dan Gangguan Jiwa Pada tahun 2015 jumlah kunjungan rawat jalan UPTD Puskesmas Selemadeg sebanyak 16. UPTD Puskesmas Selemadeg sebagai puskesmas perawatan sudah dimanfaatkan oleh masyarakat. Seluruh pasien yang rawat inap di UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 (461 pasien) meninggal 4 orangsehingga angka GDR dan NDR adalah .18% dari jumlah penduduk) yang meliputi kunjungan di puskesmas pembantu. Pada tahun 2015 keluarga miskin yang mendapatkan pelayanan kesehatan dasar sebanyak 8. Angka Kematian Pasien dan Indikator Kinerja Pelayanan Rawat Inap Angka kematian pasien dilihat berdasarkan angka kematian kasar atau GDR (Gross Death Rate) dan angka kematian neto atau NDR (Net Death Rate). Pelayanan kesehatan keluarga miskin dijadikan indikator dalam pelayanan kesehatan karena pada umumnya keluarga miskin lebih susah untuk mengakses sarana kesehatan.435 orang. Penilaian kinerja pelayanan rawat inap dapat dilihat dari beberapa indakator antara lain BOR. LOS dan TOI.

77 sedangkan sebesar TOI 4. C.93.549 rumah. Perilaku Hidup Masyarakat Banyaknya penyakit yang ada saat ini tidak bisa dilepaskan dari perilaku yang tidak sehat.740 hari. BOR selama tahun 2015 sebesar 43.79 yang tentunya masih sangat potensial untuk ditingkatkan dengan dukungan sarana dan prasarana yang optimal. Angka TOI yang cukup tinggi menggambarkan belum efisiennya penggunaan tempat tidur di UPTD Puskesmas Selemadeg sehingga memerlukan usaha perbaikan di tahun mendatang.untuk mengukur efisiensi pelayanan rumah sakit. Keadaan Lingkungan Kegiatan upaya penyehatan lingkungan lebih diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan melalui kegiatan yang bersifat promotif dan preventif. Untuk memperkecil resiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat kondisi lingkungan yang kurang sehat.78%) dinyatakan sudah berperilaku hidup bersih dan sehat. Berdasarkan laporan dari program promkes jumlah rumah tangga yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg pada tahun 2015 sebanyak 6. D. Angka LOS sebesar 3. Dimana untuk mengubah perilaku masyarakat merupakan sesuatu yang tidak mudah namun mutlak diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.094 rumah (77. sehingga diperlukan upaya penyuluhan kesehatan yang terus menerus guna mendorong masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat. Dari 461 pasien yang rawat inap selama tahun 2014 jumlah hari perawatan selama 1. telah dilakukan berbagai upaya peningkatan kualitas lingkungan antara lain: 17 . Berdasarkan hasil pemantaun 3962 rumah (77.78%). Sedangkan TOI (Turn Over Interval) atau interval penggunaan tempat tidur bersama dengan LOS merupakan indikator tentang efisiensi penggunaan tempat tidur. yang dipantau PHBS sebanyak 5. Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan masyarakat digunakan 10 indikator perilaku hidup bersih dan sehat. Adapun pelaksanaannya bersama masyarakat diharapkan mampu memberikan kontribusi bermakna terhadap kesehatan masyarakat. UPTD Puskesmas Selemadeg memiliki 11 tempat tidur untuk pasien rawat inap.

Selain air bersih. 2. Berdasarkan laporan program Penyehatan Lingkungan pada tahun 2015 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg dari 6. Berdasarkan laporan program penyehatan lingkungan UPTD Puskesams Selemadeg tahun 2015.00%) keluarga sudah diperiksa dan diperoleh hasil bahwa sebanyak 5.027 rumah atau 97.1. pembuangan air limbah.049 keluarga yang ada. air minum juga menjadi suatu hal yang penting dan patut mendapat perhatian serius mengingat air yang diminum dapat menjadi penularan berbagai penyakit. Dari 6. maka kebutuhan akan air bersih semakin bertambah.58%) menggunakan air ledeng sebagai sumber air bersih dan sebanyak 871 keluarga (14.54% dan sebanyak 5.40%) menggunakan sumur gali.35% dari rumah/bangunan yang ada) dan 3420 diantaranya sudah bebas jentik (100.179 rumah yang ada diperiksa sebanyak 6. tempat pembuangan sampah. 3. ventilasi baik.75%). Semakin tinggi persentase rumah/bangunan bebas jentik diharapkan semakin rendah kejadian penyakit bervektor nyamuk. Rumah dikategorikan sehat jika memenuhi syarat kesehatan yaitu memiliki jamban sehat. Keluarga Menurut Jenis Sarana Air Bersih yang Digunakan Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Keluarga di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 sebagian besar air minumnya berasal dari ledeng meteran (65. Rumah/bangunan Bebas Jentik Rumah/bangunan bebas jentik merupakan salah satu indikator dalam penyehatan lingkungan yang terkait dengan penularan penyakit bervektor nyamuk seperti demam berdarah. kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai rumah yang tidak terbuat dari tanah. jumlah rumah/bangunan yang diperiksa sebanyak 3420 (55.049 (100. sarana air bersih.113 rumah dinyatakan sehat (82. Rumah Sehat Rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan sarana pembinaan keluarga.71%) disusul 18 .357 keluarga (88.00%). berdasarkan laporan program PL UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 sebanyak 6.

11% (4. air limbah maupun tinja yang tidak memenuhi syarat kesehatan dapat menyebabkan rendahnya kualitas air serta dapat menimbulkan penyakit menular di masyarakat.539 keluarga (91.03%) sudah dilakukan pembinaan.69%). Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Institusi yang dibina kesehatan lingkungannnya meliputi sarana kesehatan. sarana pendidikan. Cakupan sarana sanitasi dasar di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg pada tahun 2015 berdasarkan laporan program PL yaitu dari 6.. pembuangan sampah dan pengelolaan air limbah di lingkungan sekitar kita.023 keluarga (96. Sedangkan yang memiliki tempat sampah sebanyak 5. sarana ibadah. Jumlah institusi yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 berdasarkan laporan program PL sebanyak 152 dan semuanya (98.96%) memiliki pengelolaan air limbah dan sebanyak 88. Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Upaya peningkatan kualitas air bersih akan berdampak positif apabila diikuti oleh upaya perbaikan sanitasi yang meliputi kepemilikan jamban. 19 .88% dan selebihnya (5. 4. Setelah dilakukan pemeriksaan pada semua keluarga sebanyak 5.sumur terlindung sebanyak 17. 5.875 keluarga) dinyatakan sehat.192 keluarga (85.27% dinyatakan sehat.01% (4. karena pembuangan kotoran baik sampah.32% air minumnya berasal dari air isi ulang.886 keluarga).49%) dinyatakan sehat sebanyak 94.229 keluarga yang ada dan diperiksa sebanyak 6.94. Keluarga yang memiliki jamban sebanyak 5023 keluarga. perkantoran dan sarana lainnya.

A. Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut Kepemilikan/Pengelola Jenis sarana pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 adalah sebagai berikut: 20 . Ketersediaan Obat Menurut Jenis Obat Obat merupakan salah satu sarana yang harus tersedia walaupun hanya dimanfaatkan dalam pengobatan atau kuratif namun ketersediaan obat secara jenis dan jumlah secara optimal akan mendorong lancarnya pelayanan kesehatan yang diberikan. Sarana Kesehatan Sarana kesehatan adalah fasilitas kesehatan yang tersedia yang dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat guna meningkatkan derajat kesehatan mereka. Adapun sarana kesehatan yang ada di wilayah Kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 antara lain: 1. tenaga kesehatan dan pembiayaan sudah memadai dan berimbang dengan kebutuhan. 2. Berdasarkan laporan LPLPO tahun 2015 di UPTD Puskesmas Selemadeg secara umum tidak ada kekurangan obat seperti tahun sebelumnya. BAB V SUMBER DAYA KESEHATAN Upaya kesehatan dapat berdaya guna dan berhasil guna bila pemenuhan sarana kesehatan.

Madya. Imuisasi. KB. Berdasarkan laporan program promkes perkembangan posyandu yang ada diwilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 yaitu 58 posyandu (96. Pemilikan/pengelola No Fasilitas Kesehatan Jumlah Pemkab Swasta 1 Puskesmas Perawatan 1 1 2 Puskesmas Keliling 2 2 3 Puskesmas Pembantu 4 4 4 Praktek Dokter Perorangan 8 8 5 Poskesdes 10 10 6 Posyandu 60 60 7 Apotek 2 2 Tabel 1. Dalam menilai perkembangan posyandu dikembangkan metode dan alat telahaan perkembangan posyandu yang kemudian mengelompokkan posyandu menjadi 4 kelompok sesuai dengan tingkat perkembangan posyandu yaitu: Posyandu Pratama. Berdasarkan laporan program promkes UKBM yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 yaitu 10 Desa Siaga. Posyandu Menurut Strata Posyandu adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan dan keluarga berencana yang dilaksanakan di tingkat dusun dalam wilayah kerja masing-masing puskesmas. Purnama dan Mandiri. Kegiatan upaya kesehatan yang berbasis masyarakat dalam perkembangannya dikenal dengan istilah UKBM (upaya kesehatan bersumber masyarakat).67% dari total posyandu) berada dalam tingkat posyandu purnama sedangkan 2 posyandu (3. 21 . 10 Poskesdes dan 60 Posyandu yang tersebar di 10 desa dan 60 posyandu.33%) berada dalam tingkat posyandu madya 4. Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat (UKBM) Upaya kesehatan saat ini lebih ditekankan pada kesiapan masyarakat dalam memelihara kesehatannya maupun melakukan pertolongan pertama baik pada diri sendiri maupun orang lain. Pelayanan kesehatan yang diberikan di posyandu ini adalah KIA. Jumlah Sarana Kesehatan Menurut Kepemilikan di UPTD Puskesmas Selemadeg 2015 3. Gizi dan Penanggulangan diare.

Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan sebagai salah satu sumber daya kesehatan sangat berperan dalam pelaksanaan pelayanan kesehatan di suatu wilayah. 22 . Tenaga kesehatan yang ada di UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 dapat dilihat pada tabel berikut.B. Tenaga kesehatan terdiri atas berbagai profesi dengan latar belakang pendidikan yang beragam.

Lain-lain(ST) 1 1 .D3 Rekam Medik 2 2 .D3 Apoteker+S. 4 c. - g.Farm 1 +1 2 .Akper 5 4 1 - d.Kep.Akbid 6 3 3 - e. 1 8 Sanitarian 4 4 . 1 h.Akademi Gizi 1 1 . 3 a. Jumlah dan Jenis Tenaga Kesehatan yang ada di UPTD Puskesmas Selemadeg Tahun 2015 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui jumlah dokter umum yang ada sebanyak 6 orang.SKM 2 2 . - 10 Pengelola Obat/SMF 1 1 . 1 7 Perawat Gigi(SPRG) 1 . 1 2 Dokter Gigi 2 2 - 3 Sarjana/D3 6 3 .142 rupiah. - 5 Bidan(P2B) 4 4 6 Perawat(SPK) 12 11 . - f. - 9 Tenaga Laboratorium 1 1 . - 4 i.D3 Admin RS 2 1 . - b. Jumlah ini masih perlu ditingkatkan mengingat UPTD Puskesmas Selemadeg merupakan puskesmas perawatan dengan UGD buka 24 Jam sehingga memerlukan tenaga dokter yang lebih untuk mengisi jadwal jaga.Ns 6 2 .236.703. - Lain-lain(SMU) 9 2 7 - 1 Puskesmas Pembantu Tenaga Lain(Bidan) 4 2 2 - 1 Poskesdes Bidan 7 1 6 - Jumlah 85 54 19 12 Tabel 2.S. C. 23 .No Jenis Ketenagaan Yang ada Status Kepegawaian Ket Sekarang PNS PTT KONTRAK Puskesmas Induk 1 Dokter 6 5 . Pembiayaan Kesehatan Anggaran pembiayaan kesehatan UPTD Puskesmas Selemadeg berasal dari Pengembalian Retribusi.APBD Kabupaten Tabanan. Total anggaran pembiayaan kesehatan UPTD Puskesmas Selemadeg tahun 2015 sebesar 1. APBD Provinsi Bali (BOK) dan JKN.

354. Rincian pembiayaan kesehatan tahun 2015 adalah sebagai berikut: 1.00 2.558.044. Retribusi = Rp.00 3. APBD II = Rp.300.490.663. 137. 147. 150.000 .00 24 . BOK = Rp. JKN = Rp.435. 801.00 4.

f. 25 . Cakupan peserta KB Aktif. 2. Penderita pneumonia pada balita. Cakupan pertolongan persalinan oleh nakes yang memiliki kompetensi kebidanan b. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit (Penderita AFP. Cakupan program kesehatan di Kecamatan Selemadeg yang belum mencapai target yaitu: a. Masing-masing program yang ada di UPTD Puskesmas Selemadeg agar menyiapkan data setiap awal tahun untuk mempercepat proses pembuatan laporan tahunan. Cakupan program kesehatan di Kecamatan Selemadeg yang sudah mencapai target yaitu: a. Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkatnya. BAB VI KESIMPULAN A. Komplikasi kebidanan dan neonatus dengan komplikasi yang ditangani b. Kesimpulan Program pembangunan bidang kesehatan di Kecamatan Selemadeg telah terlaksana dengan baik namun demikian masih terdapat keterbatasan dan kekurangan dalam pelaksanaannya. Hasil evaluasi kegiatan bidang kesehatan pada tahun 2015 dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. 2. Cakupan pelayanan kesehatan masyarakat miskin. Cakupan pelayanan nifas. Pasien baru TB BTA positif dan Penderita Diare) e. Diperlukan pelatihan bagi staf UPTD Puskesmas Selemadeg untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan kepada masyarakat. Saran 1. c. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien miskin. B. Pelayanan kesehatan Antenatal (K1 dan K4) d. Imunsasi c. d.

Related Interests