LAPORAN KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : Ny. RA
Usia : 68 tahun
No. RM : 035414
Pekerjaan : Ibu Rumah tangga
Jenis Kelamin : Perempuan
Status Pernikahan : Sudah menikah
Alamat : Pasar Minggu

II. Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis pada pasien pada tanggal 19 Mei 2017.
Keluhan Utama : Timbul plenting pada pipi kanan
Keluhan Tambahan : pipi kanan terasa panas
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke RSUD Pasar Minggu dengan keluhan timbul plenting pada pipi kanan sejak
4 hari SMRS. Empat hari sebelum datang ke rumah sakit, pasien mengeluhkan pipi timbul
kemerahan dan bengkak pada pipi kanan saja. Kemerahan dan bengkak pada pipi kanan tersebut
disadari ketika pasien bangun tidur pagi. Pasien kemudian pergi ke RS Fatmawati untuk meredakan
keluhannya. Oleh dokter di RS Fatmawati, pasien diberikan obat anti-radang dan salep.
Setelah 2 hari meminum obat anti-radang dan salep dari dokter RS Fatmawati, pasien merasa
tidak ada perbaikan keluhan. Pasien mengatakan mulai timbul plenting-plenting berjumlah 3 buah
berisi air pada pipi kanan. Bersamaan dengan timbul keluhan kulit pada pipi kanan, pasien juga
merasakan bagia tersebut terasa panas. Akhirnya pasien memutuskan untuk berobat kembali ke
RSUD Pasar Minggu.
Sekitar beberapa hari sebelum timbul kemerahan pada pipi kanan, pasien mengaku merasa tidak
enak badan dan lemas. Pasien hanya beristirahat untuk meredakan keluhan ini. Sehari-hari, pasien
menggunakan sabun bayi untuk mandi dan membersihkan muka dan tidak ada keluhan selama
pemakaian sabun tersebut. Pasien juga jarang menggunakan produk kosmetik wajah.

Riwayat Penyakit Dahulu :
Pasien pernah menderita cacar air waktu SD

Riwayat Penyakit Keluarga :
Riwayat penyakit jantung (+)

tidak ada edema IV. III. sekret tidak ada Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening Toraks : normochest. diskret dengan edema dan eritema disekitarnya. penyebaran secara dermatomal . sklera tidak ikterik. Riwayat penyakit diabetes mellitus disangkal. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pada tanggal 19 Mei 2017 Keadaan Umum : tampak sakit ringan Kesadaran : compos mentis Tanda – tanda Vital :  Tekanan darah : 141/64 mmHg  Frekuensi Nadi : 85 kali/menit  Frekuensi Nafas: 20 kali/menit  Suhu : 37oC Kepala : normocephal Mata : konjunctiva tidak anemis. bibir kanan atas Gambaran : tampak vesikel-bula eritematosa multiple. Status Dermatologikus Lokasi : di pipi kanan. Berair (+) mata kanan Telinga : bentuk simetris. bentuk simetris Paru : dalam batas normal Jantung : dalam batas normal Abdomen : dalam batas normal Ekstremitas : akral hangat. Di keluarga pasien tidak ada yang mengalami keluhan seperti pasien.

Diagnosis Kerja Herpes Zoster VIII. Kemudian timbul plenting-plenting berisi air pada pipi kanan. Sekitar beberapa hari sebelum timbul kemerahan pada pipi kanan. diskret dengan edema dan eritema disekitarnya . pasien mengaku merasa tidak enak badan dan lemas Status Dermatologikus Lokasi : di pipi kanan. Pada pipi kanan. bibir kanan atas Gambaran : tampak vesikel-bula eritematosa multiple. Pemeriksaan Penunjang Tes Tzanc : tidak dilakukan VI. penyebaran secara dermatomal. Pada awalnya. Resume Pasien datang ke RSUD Pasar Minggu dengan keluhan timbul plenting pada pipi kanan sejak 4 hari SMRS. Diagnosis Banding Herpes Simpleks Zosteriform Dermatitis Kontak Iritan . pasien juga merasakan panas. VII. pasien mengeluhkan pipi tumbul kemerahan dan bengkak pada pipi kanan saja. V.

Rencana Pemeriksaan Pemeriksaan Tzanc X.IX.9% (kompres)  Trifamycetin cr (oles pada vesikel yang pecah) XI. Pengobatan Non-medikamentosa  Istirahat cukup  Jaga luka agar tetap bersih dan kering  Edukasi mengenai penyakit herpes zoster Medikamentosa  Acyclovir 5 x 800mg (7 hari)  Asam mefenamat 3 x 500mg (bila nyeri)  Gabapentin 3x100 mg  Nacl 0. Prognosis Quo ad vitam : bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam Quo ad sanationam : dubia ad bonam .

FOLLOW UP PASIEN 2 Juni 2017 S O A P Pasien kontrol  TD : 141/64 Herpes Zoster  Acyclovir 5 x Rasa panas pada pipi mmHg Perbaikan 800mg (7 hari) --- kanan sudah tidak  RR : 20 STOP ada. Dermatologis:  Nacl 0.9% (+) Pada regio pipi kanan (kompres) -- terdapat makula STOP eritematosa dengan  Trifamycetin cr krusta kehitaman (oles pada vesikel berukuran numular di yang pecah) -- atasnya. mg Krusta kehitaman St. STOP .  N : 85 kali/menit x 500mg (bila bengkak dan  S : 37oC nyeri) plenting sudah tidak  Gabapentin 3x100 ada. kali/menit  Asam mefenamat 3 Kemerahan.

pasien adalah seorang lansia yang memiliki kemungkinan besar untuk mengalami neuralgia pasca herpetika. maka gabapentin dapat diberikan. wanita berusia 69 tahun. Trigeminus dan saraf spinal T1 sampai L2. Herpes zoster memiliki ciri khas berupa lesi yang timbul terbatas pada dermatom dan unilateral.9%. Vesikel akan mengering menjadi krusta dalam kurun waktu 7-10 hari.4 Pemberian gabapentin ditujukan untuk meredakan nyeri apabila keluhan sudah membaik (neuralgia pasca herpetika) dan tidak harus selalu diberikan. Pasien mendapatkan antivirus berupa acyclovir untuk pengobatan yang diminum selama satu minggu. Timbulnya lesi herpes zoster akan didahului gejala prodromal berupa flu like syndrome serta rasa nyeri atau panas pada daerah yang akan muncul lesi. Setelah 2 minggu. Pengobatan topikal juga diberikan kepada pasien berupa kompres daerah keluhan dengan menggunakan NaCl 0.3 Pada pemeriksaan fisik. kemudian akan terbentuk vesikel dalam waktu 12-24 jam. meskipun dapat dialami oleh semua usia serta pada orang dengan daya tahun tubuh yang menurun. pasien mengaku merasakan tidak enak badan dan lemas.4 Pasien juga mendapatkan pereda nyeri berupa asam mefenamat untuk meredakan nyeri yang timbul bersamaan dengan keluhan. mengeluhkan timbul plenting sejak 4 hari yang lalu dan hanya terletak pada pipi kanan dan bibir kanan atas saja. Lokasi tersering adalah pada dermatom yang dipersarafi N. timbul krusta kehitaman pada bagian yang timbul vesikel tadi. Pasien. didapatkan lesi pada wajah pasien hanya terbatas pada pipi kanan dan bibir kanan bagian atas saja. Dan pada akhirnya timbul kemerahan dan bengkak pada pipi kanan dan bibir kanan bagian atas. Krusta akan bertahan selama 2-3 minggu kemudian mengelupas. Herpes zoster lebih sering dialami oleh orang lanjut usia. Dua hari kemudian. Pasien memiliki riwayat hipertensi terkontrol dan tidak sedang dalam pengobatan jangka panjang.3 Penegakan diagnosis pasien ini adalah Herpes Zoster yang didasarkan pada anamnesis berupa timbulnya keluhan terbatas pada pipi kanan dan bibir kanan bagian atas saja serta dari pemeriksaan fisik yang didapatkan UKK berupa vesikel di atas bagian eritem dan edema serta penyebarannya secara dermatomal. Pemberian antivirus didasarkan pada usia pasien yang sudah > 50 tahun serta kemungkinan adanya risiko terjadi neuralgia pasca herpetika. Lesi dimulai dengan makula ertitroskuamosa.3 Namun.ANALISA KASUS Herpes Zoster merupakan radang kulit yang ditandai dengan adanya raasa nyeri unilateral dan timbulnya lesi yang terbatas pada dermatom. baru timbul plenting-plenting berisi cairan jernih. Kompres ini bertujuan untuk membuat .3 Sebelum plenting-plenting muncuk.

Pencegahan infeksi dilakukan dengan pemberian salep antibiotik.daerah keluhan menjadi kering apabila vesikel pecah serta memberikan rasa nyaman. yaitu trifamycetin.4 .

serta sel neuron. pasien dengan keganasan. dan berdiameter 80-120 nm. TINJAUAN PUSTAKA Definisi Herpes zoster adalah radang kulit akut dan setempat ditandai adanya rasa nyeri radikuler unilateral serta timbulnya lesi vesikuler yang terbatas pada dermatom yang dipersarafi serabut spinal maupun ganglion serabut saraf sensorik dari nervus kranialis.3 Setiap pasien Herpes Zoster memiliki kemungkinan untuk mengalami Neuralia Pasca herpetika. Virus varicella adalah virus DNA. Virus mengkode kurang lebih 70-80 protein. herpes zoster dapat terjadi pada semua usia. dimana pasien lanjut usia (> 70 tahun) memiliki kemungkinan lebih besar terkena Neuralgia Pasca Hepetika yang biasanya berlangsung lebih dari satu tahun.00bp.4 Gambar 1. dan orang dengan HIV. VZV merupakan anggota dari keluarga Herpesviridae.2. cytomegalovirus (CMV). pasien yang mendapat kemoterapi atau terapi steroid jangka panjang. seperti herpes simplex virus )HSV) tipe 1 dan 2. Virus varicella dapat membenuk sel sinsitia dan menyebar secara langsung dari sel ke sel. dan human herpesvirus 8 (HHV-8). Virus menginfeksi sel Human diploid fibroblast in vitro. Namun. Infeksi ini merupakan reaktivasi virus varisela zoster dari infeksi endogen yang menetap dalam bentuk laten setelah infeksi primer oleh virus. sel epitel dan sel epidermal in vivo untuk replikasi produktif.3 Etiologi Virus Varicella zoster merupakan virus penyebab varisela dan herpes zoster. Epstein-Barr virus (EBV). alphaherpesvirus dengan besar genom 125. salah satunya enzim thymidine. sel limfosit T teraktivasi. berselubung/berenvelop. Struktur virus Varicella zoster4 .1 Epidemiologi Herpes zoster lebih sering mengenai orang dengan penurunan imunitas seluler seperti pada usia lanjut.

Nyeri bersifat segmental dan dapat berlangsug terus-menerus atau sebagau serangan yang hilang timbul. namun reaktivasi dapat diasosiasikan dengan penurunan daya tahan tubuh. Meskipun pada setiap orang erupsi kulit yang terlihat dapat berbeda. Krusta akan bertahan selama 2-3 minggu kemudian mengelupas. Lesi dimulai dengan makula eritroskuamosa. 2. nekrosis sel dan serabut saraf. virus yang berasal dari lesi pada kulit dan permukaan mukosa akan menuju ganglion posterior susunan saraf tepi yang berdekatan. Herpes zoster akan palin sering timbul pada dermatom yang ketika terjadi varicella merupakan tempat infeksi tertinggi (highest density). kemudian terbentuk papul-papul dan dalam waktu 12-24 jam lesi berkembang menjadi vesikel.4 Beberapa pasien merasakan neuralgia segmental akut tanpa disertai erupsi kulit (zoster sine herpete). Trigeminus dan saraf spinal T1 to L2. Yang Virus juga terbawa ke axon ke area kulit yang dipersarafi ganglion yang terkena. pasien akan mengalami fase latent yang bertahan seumur hidup.3 Gejala klinis 1. Mekanisme bagaimana terjadinya reaktivasi masih belum dipahami. proliferasi endotel pembuluh darah kecil. menyebabkan peradangan lokal.4 Demikian pula pemeriksaan cairan vesikula atau material biopsi dengan mikroskop elektron.Patogenesis Selama terjadi varicella.. trauma lokal. hemoragi fokal dan inflamasi bungkus ganglion. Erupsi Kulit Erupsi kulit hampir selalu unilateral dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh ganglion sensorik. Vesikel akan berubah menjadi pustul pada hari ketiga dan mengering menjadi krusta dalam kurun waktu 7-10 hari. pemeriksaan sediaan apus tes Tzanck membantu menegakkan diagnosis dengan menemukan sel datia berinti banyak. serta tes serologik. Gejala Prodromal Gejala prodromal biasanya berlangsung 1-5 hari.3 Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan makula hiperpigmentasi dan jaringan parut. Penunjang Diagnosis Secara laboratorium. 3 Pada ganglia. Apabila gejala klinis .3 Sel-T yang terinfeksi juga dapat membawa virus ke ganglia sensoris melalui pembuluh darah. Pada pemeriksaan histopatologi ditemukan sebukan sel limfosit yang mencolok. secara umum lesi yang timbul berupa vesikel dengan dasar eritematosa. Keluhan biasanya diawali degan nyeri pada daerah dermatom yang akan timbul lesi dan dapat berlangsung dalam waktu yang bervariasi. Reaktivasi virus akan menyebabkan peradangan pada ganglion yang menimbulkan kerusakan neuron dan sel-sel pendukungnya. stress. dan prosedur bedah. tumor pada saraf. seperti di N. Partikel virus dapat dilihat dengan mikroskop elektron dan antigen virus herpes zoster dapat dilihat secara imunofluoresensi.

Akan tetapi pada keadaan yang meragukan diperlukan pemeriksaan penunjang antara lain:3 1. Pemeriksaan antigen dengan imunofluoresen 3. luka bakar.sangat jelas tidaklah sulit untuk menegakkan diagnosis. Antiviral therapy 4. Test serologi dengan mengukur imunoglobulin spesifik. dermatitis venenata. dikenal startegi 6A : 1.4 Pengobatan Dalam penatalaksanaan herpes zoster. diseminata/generalisata. 2. Analgetik 5. dengan komplikasi. Asses patient fully 3. Stadium erupsi : herpes simpleks zosterformis. Stadium praerupsi : nyeri akut segmental sulit dibedakan dengan nyeri yang timbul karena penyakit sistemik sesuai dengan lokasi anatomik. imunokompromais. dermatitis kontak iritan. HZO/ sindrom Ramsay Hunt. Obat antivirus oral dan pemakaiannya  Antivirus diberikan tanpa meihat waktu timbulnya lesi pada : o Usia > 50 tahun o Dengan risiko terjadinya NPH o HZO/ sindrom Ramsay Hunt/ HZ servikal/ HZ sakral o Imunokompromais. Allay anxietas-counselling Tiga antivirus oral yang tersedia untuk terapi herpes zoster Obat Dosis (per hari) Lama (hari) Asiklovir 5 x 800 mg 7-10 Famsiklovir 2 x 500 mg 7* Valasiklovir 3 x 1000 mg 7* 3 Tabel 1. infeksi bakterial setempat.4 2. penyakit Duhring. Attact patient early 2. Isolasi virus dengan kultur jaringan dan identifikasi morfologi dengan mikroskop elektron. usia < 50 tahun dan perempuan hamil diberikan terapi antiviral bila disertai: risiko terjadinya NPH. dengan komplikasi o Anak-anak. . Antidepressant/antikonvulsant 6. diseminata/ generalisata. autoinklusi vaksinia. Diagnosis banding 1.

 Analgetik yang diberikan dapat berupa : o Nyeri ringan : parasetamol/NSAID o Nyeri sedang – berat : kombinasi opiod ringan (tramadol. sering diberikan pada orang lanjut usia untuk mencegah terjadinya penyakit. Pemberian vaksinasi dengan vaksin VZV hidup yang dilemahkan (Zostavax). Pemberian antibioti topikal dapat diberikan apabila tibul infeksi sekunder. Pencegahan Metode pencegahan dapat berupa :4 1. Rasa tidak nyaman yang ditimbulkan dari lesi dapat diberikan kompres basah dingin atau losio kalamin. kodein)  Pengobatan topikal diberikan untuk menjaga lesi kulit agar bersih dan kering. Penggunaan asiklovir topikal tidak efektif. Prognosis Umumnya baik. Pemakaian asiklovir jangka panjang dengan dosis supresi. serta menurunkan terjadinya komplikasi NPH. 2. .

A. [Cited 22 Mei 2017] Available from https://www.pdf . K.nlm. DAFTAR PUSTAKA 1. et all.ncbi. (2008). Advamces in the uderstanding of the pathogenesis and epidemiology of herpes zoster. D. A. Gilchrest. Fitzpatrick's Dermatology in General Medicine. New York: McGraw- 4. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelaamin. [Cited 22 Juni 2017] Available from http://www. 2009 2.. S.. & Leffell.nih. Fakultas Kedokteran Indonesia. 7th Edition.. Djuanda Adhi. Paller..Buku Panduan herpes Zoster di Indonesia. Gershon.gov/pmc/articles/PMC5391040/ 3. L. Goldsmith.org/doc/news/kelompok_studi/dok/2/Buku_Herpes_Zoster_FINAL_2 1Jun2014_(2). Wolff.. A. B. S.perdoski. Katz. Hill.

Reni Fajarwati Sp.KK dr.KK KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN PERIODE 8 MEI – 10 JUNI 2017 FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA JAKARTA 2017 . LAPORAN KASUS HERPES ZOSTER Disusun Oleh: Agrevonna Gracia R. 1261050002 Pembimbing : dr. S. Jihan Rosita Sp. N.