BAB I

PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG

Menurut data yang dikeluarkan oleh World Health Organizatio (WHO) menunjukkan
bahwa India Menempati urutan pertama dengan jumlah kecelakaan yang memakan korban jiwa
serta Indonesia terletak pada urutan kelima. Selain itu menurut Global Status Report in Road
Safety yang dikeluarkan WHO bahwa terjadi kenaikan kecelakaan lalu lintas sebanyak 80%
pada Negara Indonesia. Selain kematian,dampak lainnya adalah meningkatnya angka
morbiditas atau kecacatan pada pasien yang mengalami kecelakaan lalu lintas (Amanda &
Firmansyah, 2015).

Cedera pada uretra posterior sering terjadi akibat fraktur pelvis yang diakibatkan oleh
kecelakaan lalu lintas, atau jatuh dari ketinggian. Sekitar duapertiga (70%) fraktur pelvis terjadi
akibat kecelakaan kendaraan bermotor yang 20% kejadian kecelakaan kendaraan bermotor
dialami oleh pengendara ataupun penumpang serta sekitar 50% merupakan kecelakaan yang
dialami oleh pejalan kaki. Sekitar 25% kasus fraktur pelvis terjadi akibat jatuh dari ketinggian.
Secara keseluruhan trauma tumpul mengakibatkan sekitar 90% cedera uretra. Secara
keseluruhan uretra posterior laki-laki mengalami cedera sekitar 3.5-19% dan pada uretra wanita
sekitar 0-6% pada semua fraktur prelvis (Lynch, et al.,2006)

Selain itu berdasarkan biomekanisme, etiologi peneybab struktur atau defek pada uretra
posterior merupakan karena kecelakaan kendaraan bermotor. Pada penelitian yang diamati
pada 82% pasien yang menjalai posteriot uretroplasty yang diakibatkan oleh fraktur pelvis,
berasal dari kecelakaan antara pejalan kaki dan tertabrak mobil sebanyak 40%, mobil dengan
motor sebanyak 26% serta jatuh dari ketinggian sebanyak 26% (Hosseino & Tabassi, 2008)

Fraktur pelvis yang disertai trauma uretra posterior merupakan permasalahan dan suatu
tantangan bagi seorang dokter umur maupun dokter ahli urologi. Hal ini perlu mendapat
perhatian dalam penanganan yang tepat. Jika penanganan pada pasien ini tidak tepat, maka
dapat mencancam nyawa pasien (Koth, 2010).

1.2 TUJUAN PENULISAN

Tujuan penylisan referat ini adalah untuk mengetahui jenis, cara mendiagnosis fraktur
pelvis dan cedera uretra posterior serta dapat melakukan penanganan awal sebagai dokter
umum.

Bab 2

Stabilitas dari cincin pelvis dipengaruhi oleh kekuatan tulang dan kekuatan ligament yang mengikat 3 segmen melewati simpisis publis dan persendian sacroiliaca. Prostat berada diantara buli buli dan lantai pelvis. Warwick. Prostat terletak di lateral dari serat medial m.3 . & Nayagam. 2010) Gambar 2. aktivitas sfingter uretra eksterna dapat diperintah sesuai dengan keinginan seseorang. 2010) Pada cedera pelvis berat. keduanya dibantu oleh oleh ligament sacrotuberous dan sacropinosus dan ligament simpisis pubis. ilium dan sacrum serta terdapat persendian di depan yaitu simpisis pubis dan di belakang yaitu persendian sacroiliaca. uretra pars membranosa rusak ketika terjadi gangguan pada prostat akibat robeknya ligament puboprostat.2 Pada laki-laki dewasa panjang uretra sekitar 18 cm terbagi menjadi 3 cm uretra posterior dan 15 cm uretra anterior dipisahkan oleh diafragma urogenital/perineal membrane.1 Buli berada di belakang simpisis pubis. Levator ani dan pada bagian depab terikat pada os. (Purnomo. & Nayagam. Pubis melalui ligament puboprostat. pembuluh darah dan sarah.1 ANATOMI PELVIS & URETRA Cincin pelvis dibentuk dari tulang pubis . 2012 . Warwick. kekuatan untuk menahan beban tidak berkurang (Solomom. Hal ini mengakibatkan prostat dan dasar buli menjadi dislokasi dari uretra pars membranosa (Solomon. 2010). Trigonum berada di posisi yang dibentuk oleh ligament lateral buli buli dan pada lelaki dibentuk oleh prostat. Pada wanita trigonum terikat oleh cervic dan fornix vaginal anterior. 2006) Gambar 2. Uretra pada wanita didukung oleh otot pada dasar pelvis dan ligament pubouretra sehingga uretra pada wanita lebih mobile dan jarang terjadi cedera (Solomon. Gambar 2. Sfingter uretra di leher meatus dari sfingter uretra interna yang terletak pada leher buli serta sfingter uretra eksternys pada perbatasan uretra posterior dan anterior. Warwick. TINJAUAN PUSTAKA 2. Bentukan struktur seperti kola mini menahan beban mulai dari tubuh menuju anggota gerak bawah serta melindungi organ viscera pada pelvis. Pada saat kencing sfingter ini terbuka dan tertutup saat menahan kencing. & Nayagam. Sfingter uretra eksterna terdiri dari otot bergaris yang dipersarafi system somatic. Ligament yang paling kuat dan paling penting adalah sacroiliaca dan iliolumbar. Rosentein & Alsikafi. Selama tulang dan ligament tetap intak.

Uretra pars prostatica berakhir pada verumontanum yang memiliki panjang bernjolan 0.Uretra posterior terdiri dari uretra pars prostatika dan uretra pars membranasea. Prostat sendiri berlokasi lebih dalam pada pelvis dan dekat dengan bagian belakang arkus pubis anterior setinggi ligament puboprostat (Pineiro. Otot lapisan dalam adalah sirkular dan otot bagian dalam longitudinal. 2006). Uretra pars membranosa hanyalah sebuah segmen uretra yang tidak dilindungi oleh jaringan sponge atau struma prostat dan lebih rentan mengalami cedera dari trauma luar. Tanagho. Otot bulbospongiosus terbagi menjadi bagian proximal menuju penoscrotal junction dimana uretra pada bagian distal berlanjut menjadi uretra pars pendulous. Fascia dartos merupakan jaringan longgar subdermal yang berlanjut menjadi fascia Colles di perineum (Rosentein & Alsikafi.5 Pada perempuan dewasa panjang uretra hanya 4 cm dan terletak pada urethrovsica junction pada leher vesical urinaria menuju vestibulum vagina. 2008 . Uretra pars pendulous dekat pada korpus dorsal. . Uretra posterior dimulai pada 1. Otot polos selanjutnya dikelilngi oleh lapisan otot striatum yang disebut rhabdosfingter yang paling tebal setinggi pertengahan uretra.5 cm. Uretra bulbosa tidak hanya ditutupi oleh korpus spongioeum namun juga merupakan gabungan garis tengah ischiocovernosum yang disebut otot bulbospongios. 3006) Gambar 2. Rosentein & Alsikafi. uretra pendulous dan fossa naviculare.5 cm dan terletak diantara apex prostat dan proximal korpus spongiosum.4 Uretra anterior terdiri dari uretra pars bulbaris. Korpus spongiosum merupakan jaringan elastic dan serat otot polos yang kaya akan pembuluh darah. 2 lapisan fascia Buck menutupi korpus spongiosum. Uretra pars membranosa memiliki panjang 1-1. Korpus spongiosum merupakan jaringan elastic dan serat otot polos yang kaya akan pembuluh darah. 2006) Gambar 2. Korpus spongiosum dan korpus covernosa ditutupi oleh 2 lapisan yaitu lapisan luar dan dalam. sepasang ductus ejakulatorius bermuara pada uretra setinggi verumontanum. 2 lapisan otot plos yang mengelilingi uretra dari proximal sampai ke distal.) uretra pars membranosa. (McAninch. 2006). 2012).) uretra pars prostatica setinggi leher buli dan memanjang melewati prostat pada anteterior midline dan 2. Uretra pars bulbosa diawali setinggi level bawah dari diafragma urogenital dimana menembus dan melewati korpus spongiosum. (Rosentein & Alsikafi. Bagian distal uretra anterior adalah fossa navicularis yang dilengkapi oleh jaringan spons glaris penis (Rosentein & Alsikafi. & Lue.

2. Cedera pada pelvis dibagi menjadi 4 grup yaitu  Fraktur isolasi dengan cincin pelvis yang intak  Fraktur dengan hancurnya cincin pelvis yang dapat dibagi menjadi stabil dan tak stabil.2 FRAKTUR PELVIS 2.2.1 Definisi & Klasifikasi Fraktur pelvis adalah diskontinuitas tulang maupun ligament pada persendian di pelvis akibat trauma dari luar. .

Sebagian tulang tertarik oleh kontraksi otot yang biasa terjadi pada atlete olahraga. Warwick. Ischi dan os ilium. Ischi. adductor longus dapat menarik os. Kompresi anteroposterior biasanya terjadi pada pejalan kaki yang ditabrak oleh mobl dari arah depan maupun belakang. 2010) Kompresi lateral adalah kompresi antara sisi 1 dan lain mengakibatkan cincin pelvis melengkung dan akhirnya hancur. Sartotius dapat menarik SIAS. Ligament sacroiliaca mengalami strain serta dapat mengakibatkan fraktur pada ilium posterior. rectus femoris dapat menarik SIAI. Pada cedera APC III bagian anterior dan posterior ligament sacroiliaca robek dan dari CR menunjukkan pergeseran atau terpisahnya persendian sacroiliaca serta hemipelvis terputus dari bagian anterior dan posterior dan hal ini tergolong fraktur pelvis tak setabil. Pada bagian depan ramus pubis satu atau kedua sisi dapat mengalami fraktur dan bagian belakang terdapat . M. Fraktur acetabulum  Fraktur Sacrococcygeal 1. Pada cedera APC II diastatis lebih terlihat pada ligament sacro tuberous dan sacrospinosus mengalami robekan serta pada CT menunjukkan terpisahnya sedikit persendian sacroiliaca pada 1 sisi dan masih tergolong fraktur pelvis stabil. kompresi lateral dan robekan secara vertical. Biasanya diakibatkan akibat jatuh dari ketinggian yang mengakibatkan fraktur pada os. hancurnya 1 bagian cincin akan mengakibatkan rusaknya cincin di bagian yang lain kecuali fraktur langsung pada acetabulum atau fraktur cincin pelvis pada anak-anak serta fraktur pada persendian simpisis dan sacroiliaca yang elastis. Kesemuanya adalah cedera otot dan memerlukan istirahat dan pemulihan selama beberapa hari (Solomon. & Nayagam. m. & Nayagam. akan dapat terjadi strain pada ligament sacroiliaca anterior dan tergolong fraktur pelvis stabil. Hal ini sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang ditabrak dari samping serta jatuh dari ketinggian. m. Mekanisme cedera pada cincin pelvis dapat dibagi menjadi kompesi anteroposterior. Fraktur Isolasi Fraktur avulsi. 2010) Fraktur Sebenarnya. Pubis dan otot hamstring dapat menarik os. Ramus pubis mengalami fraktur dan dapat terjadi rotasi eksternal dengan gangguan pada simpisis yang disebut dengan “open book injury”. Fraktur Stress. Fraktur pada rumus pubis biasa terjadi pasien osteoporosis dan pelari jarak jauh serta sering menimbulkan nyeri. Warwick. 2. Fraktur Cincin Pelvis Telah dijelaskan karena kakunya pelvis. Pada Anteroposterior Compresion I (APC I) terdapat diastatis ringan pada simpisis yaitu < 2 cm yang meskipun sering tak terlihat pada x ray. (Solomon.

ischiadica (Solomon.3. Pada LC III akibat trauma dari lateral sisi ala os ilium menghasilkan oembukaan paksa anteriposterior ilium sisi yang lain menyebabkan fraktur pelvis tak stabil (Solomon. TRAUMA URETRA POSTERIOR 2. 2010). Pada Lateral Compression I (LC I ) terjadi fraktur transverse pada ramus pubis dan sacrum namun hanya terjadi pergeseran minimal. 2010).1 Definisi Trauma pad auretra pars prostatica sampai uretra pars membranasea. & Nayagam. Warwick. Tulang pelvis pada sisi yang sama mengalami pergeseran secara vertical. Warwick.2 Gejala Klinis Pada fraktur pelvis stabil pasien tidak mengalami syok namun nyeri saat berjalan. 2010). Terdapat nyeri yang terlokalisasi namun jarang mengakibatkan kerusakan pad abagian viscera pelvis. Pasien mengalami syok berat dan nyeri yang sangat hebat serta tidak bisa berdiri.2 Etiologi .3. Jika terjadi sacroiliaca injury yang bergeser terlalu jauh dapat disebut fraktur pelvis tak stabil. Robekan vertical. & Nayagam. LC II lebih berat dan sebagai tambahan dapat terjadi fraktur anterior ala os ilium pada sisi yang tertabrak dan masih tergolong fraktur pelvis stabil. Warwick. fraktur ramus pubis dan kerusakan sacroiliaca pada sisi yang sama. Warwick.3. Hal ini berkaitan ketika seseorang jatuh dari ketinggian dengan bertumpu pada 1 kaki. Dapat disertai retensio urin dan dapat disertai keluarnya darah pada meatus uretra enternus. Hal ini biasanya berat. Rencanakan untuk x ray guna mengetahui bagian yang fraktur (Solomon. Satu bagian kaki mungkin mengalami mati ras aakibat cedera n. 2. & Nayagam. Gambar 2. 2010). cedera pada sacroiliaca.5 2. Cedera kombinasi dapat terjadi akibat kombinasi dari mekanisme yang dijelaskan diatas. 2. Nyeri tersebar luas dan lebih meningkat jika pasien berusaha menggerakan pinggang.2. mengakibatkan fraktur pelvis tak stabil serta dapat mengakibatkan robekan jaringan lunak dan perdarahan retroperitoneal (Solomon. Pada fraktur pelvis tak stabil. & Nayagam.

striktur uretra posterior jugda dapat diakibatkan oleh pemasangan kateter atau businasi pada uretra yang kurang hati-hati. & Zinman.6 %) diikuti cedera hepar (6. 2011). 2011). Demikian pula tindakan operasi trans uretra dapat menimbulkan cedera iatrogenic (Purnomo. Hal ini dapat menimbulkan robekan pada uretra karena false route atau salah jalan. Gambar 2. Organ yang sering cedera pada fraktur pelvis adalah uretra posterior (5. Stoffel.2 %) dan spleen (5. Fraktur pelvis merupakan penyebab tersering terjadinya defek pada uretra posterior dengan insiden 20/100. Selain dari adanya trauma pelvis. Fraktur ini merupakan jenis yang tak stabil dan ditandai dengan deformitas tulang serta mengalami displacement hemi pelvis dan memiliki insiden tinggi untuk terjadi rupture uretra (Latini. 2011).6 Robekan uretra pada wanita biasanya merupakan bagian yang terlokalisasi pada dinding anterior atau posterior di arah jam 12 dan sering berkaitan dengan laserasi vagina.1 % . & Zinman.8 %). diastatsis sacroiliaca atau rusaknya lengkungan anterior dan posterior. & Zinman. Kejadian perforasi rectum juga ada namun jarang terjadi pada fraktur pelvis (Latini. 2.3 Patogenesis Patogenesis terjadinya trauma uretra posterior akibat fraktur pelvis diduga dikarenakan daerah prosstatomembranos junction merupakan titik lemah dan dapat terjadi robekan saat terkena trauma akibat terjadinya fraktur pelvis yang tak stabil.3.5. Stoffel. Stoffel.000 populasi.8 % – 14. 2012). Fraktur pelvis meripakan beratnya trauma dan diikuti oleh cedera organ intraabdomen dan organ urogenital pada 15-20 % pasien. Buli dan leher buli juga sering terlibat dan beberapa struktur yang cedera perlu dibuktikan dengan operasi. Diikuti rupture dari prostat dan perlekatan buli. Terpisahnya uretra secara komplit pada wamita dideskripsikan pada semua lever namun sering pada uretra proksimal dan leher buli mekanisme terjadinya gangguan pada wanita karena laserasi dinding uretra akibat fragmen tulang lebih jarang terjadi daripada efek robekan pada . Demikian pula tindakan operasi trans uretra karena false route atau salah jalan.10. Selain itu juga fraktur Malgaigne akibat robekan vertical karena hancurnya bagian anterior ipsilateral ramus pubis melewati bagian posterior sampai ke bagian sacrum. Penyebab terjadinya fraktur pelvis adalah karena kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian. kompresi dari pelvis dan hematomnya mengakibatkan prostat terdorong keatas menjadikan uretra pars membranosa tertarik dan mengalami displacement dengan ruoturnya batas uretra bulbomembranous. Lumen uretra proximal dan distal menjadi tidak 1 garis pada pergeseran anteroposterior dan lateral (Latini. Tipe fraktur Kompresi lateral merupakan gangguan uretra posterior. sacroiliaca dan ileum. Tipe fraktur pelvis juga berhubungan dengan resiko terjadinya cedera uretra yang diobservasi berdasarkan hancurnya ramus pelvis.2 % .

darah pada vagina.. Stoffel. 2010) Grade Deskripsi Penampilan Penanganan . Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi kontras yang masih terbatas di atas diafragma urogenital. et al. hematuria. 2. 2.4 Tanda dan Gejala Klinis Gejala klinis pada pasien dengan struktur atau rupture uretra posterior akibat adanya fraktur pelvis diantaranya keluar darah pada meatus uretra eksternus. Uretra posterior masih utuh dan hanya mengalami stretching (peregangan). Foto uretrogram tidak menenujukkan adanya ekstravasasi dan uretra hanya tampak memanjang. dysuria. diafragma urogenitalis dan uretra pars bulbosan sebelah proksimal ikut rusak. Selanjutnya perlu untuk dilakukan pemeriksaan pelvis dan urethroscopy (Latini. Colapinto dan McCollum membagi derajat cedera uretra dalam 3 jenis : 1. Gambar 2. Foto uretrogram menunjukkan adanya ekstravasasi kontras meluas hingga di bawah diafragma urogenitalis sampai ke perineum. 2011).3.. perdarahan vagina. Keadaan dengan fraktur pelvis.1 Klasifikasi lainnya adalah (Pineuro.5 Klasiifikasi Melalui gambaran uretrogram. Terdapatnya darah pada meatus uretra eksternus muncul sekitar 37-93 % pada pasien dengan cedera uretra posterior. 3.3.7 Tabel 2. Uretra posterior terputus pada perbatasan prostatomembranosus.uretra laki-laki. Diagnosis cedera uretra pada wanita sulit jika hanya uretra bagian distal saja yang terkena. 2. sedangkan diafragma urogenital masih utuh. hematoma dan bengkak. et al. Uretra posterior. dan sekurangnya 75 % gejala ini muncul pada cedera uretra anterior (Summerton. 2014). ketidakmampuan untuk miksi dan bengkak pada labia atau hematuri perlu dicurigai adanya cedera uretra. & Zinman.

I Stretch Injury Terjadi pemanjangan uretra Tidak perlu penanganan tanoa ekstravasasi pada khusus urethrography II Contusion/memar Darah padameatus uretra eksternus. Tidak didapatkan ekstravasasi dalam urethrography Konservastif dengan III Robekan parsial Extravasasi kontras pada suprapubic sistotomi atau daerah yang mengalami kateter uretra cedera dengan visualisasi di daerah proksimal uretra atau buli IV Robekan total Ekstavasasi kontras pada Suprapubic sistotomi dan daerah cedera tanpa perbaikan uretra kemudian visualisasi proximal uretra atau endoscopic realignment atau anterior uretra atau buli ± perbaikan uretra kemudian V Robekan Total Extravasasi kontras pada atau parsial uretra daerah cedera ± terdapat darah posterior dengan pada inroitus vagina pada diikuti robeknya wanita. pinggang daerah kemaluan maupun pada kaki. Dalam melakukan palpasi harus hati-hati karena bisa saja nyeri tersebut akibat perdarahan intraperitoneal. krepitasi dari sisi ke sisi dan dari belakang ke depan. & Nayagam. tetap atau . abdomen. Perbaikan secara operasi leher buli. Selain itu dilihat apakah ada luka jaringan edem pada ekstremitas bawah. Selain itu melakukan perkusi untuk menilai apakah ada cairan pada kavum abdomen. maupun pembesaran organ.4 DIAGNOSIS Diagnosis pada multiple trauma atau pada fraktur pelvis dimuali dari anamenesis mengenai kapan terjadinya. 2010). Nyeri ada sacroiliaca dapat menunjukkan kemungkinan gangguan bagian pelvis posterior (Solomon. Kemudian kita dapat melakukan auskultasi pada abdomen untuk mengetahui apakah rerdapat peningkatan bising usus atau metallic sound. apakah nyeri pada prostat serta apakah prostat teraba serta bagaimana posisi prostat. Setelah itu keluhan yang dirasakan saat ini. skrotum. Kemudian melakukan palpasi untuk mengetahui apakah ada nyeri tekan. asites. Kemudian pemeriksaan fisik yang dilakukan dari inspeksi dilihat apakah ada tanda hematom pada abdomen. Warwick. mekanisme kecelakaan. perineum dan vulva. bagian tubuh yang terkena terlebih dahulu. rectum Extravasasi kontras ada leher terbuka dan vagina buli selama suprapubic cystography ± rectal atau vaginal terisi dengan bahan kontras 2. dari gejala klinis yang ada dapat mencerminkan adanya kecurigaan fraktur pelvis. Rectal toucher juga dapat dilakukan guna mengetahui kekuatan sfingter ani eksternus. Palpasi juga daerah pelvis untuk menilai apakah ada nyeri.

.melayang. A scout film perlu dilakukan untuk menilai dan mendeteksi adanya cedera pada uretra. et al. Jika teraba prostat yang melayang maka kemungkinan terjadi kerusakan pada uretra posterior (Purnomo. Meskipun ekstratunika dan hematim coverosa dapat diterapi secara konservatif rupture tunika harus dilakukan perbaikan secara operasi. (Summerton. 2. Computed Tomography dan MRI tidak memiliki peran dalam menilai cedera uretra.. A scout film dilakukan dengan menginjeksi 20-30 cc bahan kontras melalui meatus uretra eksternus.8 USG bukan merupakan hal yang rutin dilakukan untuk menilai cedera uretra namun USG sangat bermanfaat untuk menentukan hematom pelvis atau lokasi pasti buli ketika ada indikasi untuk dilakukan pemasangan kateter suprapubic. Gambaran adanya extravasasi namun buli masih dapat terisi merupakan tipe rupture parsial. Bagaimanapun keduanya bermanfaat untuk menilai kelainan pelvis setelah cedera berat dan menilai cedera crura penis. Namun urethroscopy berperan dalam menilai dan menidentifikasi stage cedera uretra (Summerton. 2012). Selain itu USG pada penis dapat menilai apakah terdapat rupture pada tunika albuginea pada kasus trauma tumpul penis. et al. 2014). 2014). Film diambil secara 30° dengan posisi obliq namun hal ini sulit dilakukan mengingat beratnya fraktur pelvis yang diderita pasien serta berhubungan dengan nyeri yang ditimbulkan. Retrograde urethrography merupakan gold standar untuk mengevaluasi cedera pada uretra. Gambar 2. Urethroscopy tidak memiliki peran pada diagnosis awal trauma uretra pada laki-laki. 2014). fraktur pelvis dan adanya benda asing seperti peluru. 2014).. Urethrogram diperbolehkan untuk meidentifikasi letak dan menilai secara luas cedera yang lain..5 PENATALAKSANAAN . et al. buli ginjal dan organ intra abdomen (Summerton. namun jika terdapat extravasasi maasif tanpa ada pengisian buli menandakan rupture total (Summerton. et al.

breathing. perdarahan dapat berkurang dengan pemberian eksternal fiksasi menggunakan bandage yang dibalut pada pelvis. Meatus uretra diinspeksi untuk melihat apakah ada tanda perdarahan.5. disability lalu kemudian exposure. circulation. & Nayagam.2. & Nayagam. Jika keadaan pasien sudah stabil dapat dilakukan pemeriksaan x ray. Jika diduga terdapat cedera uretra maka dapat dilakukan urethrogram (Solomon. Buli biasanya mengalami distensi karena akumulasi urin selama periode resusitasi dan . Warwick. Pada pasien yang tidak stabli usaha untuk memasukkan kateter harus dilakukan. 2010). 2010). 2. Warwick. kateter suprapubic dapat dilakukan menggunakan petunjuk dari USG dan retrograde urethrogram harus dilakukan pada pasien yang telah stabil. namun jika terdapat kesilitan. perineum dan rectum. apakah terdapat perdarahan intraabdomen.2 Penanganan Trauma Uretra Posterior Ketika diduga terdapatnya cedera pada uretra posterior.1 Penanganan Awal Penanganan awal pada pasien dengan trauma adalah primary survey dengan memperhatikan airway. apakah terdapat cedera pada buli atau uretra dan apakah ini fraktur pelvis stabil atau tidak stabil. Pasa pasien ini harus ditangani syoknya terlebih dahulu. abdomen. apakah pasien kehilangan darah.5. et al. 2010). Hal ini untuk menghindari terjadinya kerusakan tambahan akibat pemasangan kateter. Ekstremitas bawah diperiksa untuk mengetahui apakah ada saraf yang cedera. Resusitas harus dimulai dan jika ada perdarahan harus dikontol. (Summerton. usaha untuk memasukkan kateter harus dilakukan oleh tangan yang terampol dan balon kateter bisa dikembangkan jika yang menglir adalah urin yang jernih. Pemeriksaan lainnya harus diperhatikan pelvis. 2014) Gambar 2.9 Penataklasaan awal untuk kasus cedera uretra posterior adalah melakukan suprapubic sistotomi untuk mengalirkan urin pada buli. Jika terdapat fraktur pelvis. Dengan keadaan pasien yang gawat langkah pertama adalah memastikan apakah tidak ada gangguan pada jalan napas dan tidak ada gangguan napas. Buli dan prostat biasanya letaknya lebih tinggi kea rah superior dengan hematom periprostat dan perivesical yang besar. Perdarahan yang banyak merupakan penyebab kematian akibat fraktur pelvis. apakah bernapas adekuat. Pasien diperiksa sebagai multiple trauma dan jika ada nyeri karena fraktur dapat di bidai (Solomon. & Nayagam. Hal ini untuk mencoba menutup open book dan mengurangi volume intra pelvis (Solomon. Pertanyaan yang harus ada dalam pikiran kita adalah apakah airway clear. Sebuah insisi midline pada abdomen bawah dibuat dengan ketelitian untuk mencegah hematom pelvis yang besar. Warwick.

& Lue. Residual striktur atau striktur yang terjadi setelah cedera uretra posterior dapat dilakukan dilatasi uretra atau urethrotomy optical jika jaraknya pendek dan tipis atau dengan anastomosis urethroplasty jika strikturnya tebal atau panjang. Jika terdapat laserasi buli harus dijahit dengan benang absorbale dan selang sistostomi dimasukkan sebagai drainage. Kateter tersebut kemudian dilepas 1 bulan kemudian dan pasien tersebut sekarang dapat melakukan miksi (McAninch. 2012). Tindakan ini dilakukan dalam 1 minggu pasca rupture uretra dan dipertahankan selama 14 hari. Laserasi tak lengkap pada penyembuhan spontan uretra posterior. Pada rupture uretra posterior parsial dapat ditatalaksana menggunakan kateter suprapubic atau uretra kateter. 2012) Gambar 2.properatif. sisostomi suprapubic dapat dilepas dalam 2-3 minggu.11 Sebagai ahli lain mengerjakan reparasi uretra (uretroplasti) setelah 3 bulan pasca trauma dengan asumsi bahwa jaringan parut pada uretra telah stabil dan matang sehingga tindakan rekontruksi membuahkan hasil yang lebih baik. Buli harus dibuka pada garis tengah secara hati-hati untuk melihat laserasi. Tanagho. 2012 . Pipa sistostomi tidak boleh dilepas sebelum pengosongan sistouretrografi menujukkan tidak ada ekstravasasi yang menetap (McAninch. Sistostomi suprapubic dapat dipelihara selama 3 bulan. Hal yang lebih disukai untuk mendekatkan sisi uretra adalah dengan tahap tunggal rekontruksi defek uretra dengan eksisi langsung pada area yang striktur dan melakukan anastomosis uretra bulbosa secara langsung ke apeks prostat. 2014). Tindakan uretroplasti ini dilakukan jika tidak ada tanda abses pelvis ataupun infeksi pelvis persisten. et al. & Lue. Urin sering jernih dan bebas dari darah tapi gross hematuri juga dapat kita jumpai. Sebelum dilakukan rekontruksi kombinasi sistogram dan uretrogram harus dilakukan untuk mengetahui panjang pasti dari striktur uretra. Sebuah kateter uretra silicon 16 F harus ditinggalkan bersama sistostomo suprapubic. 2012 . Hal ini dapat mengurangi hematoma pelvis dan lama kelamaan prostat dan buli dapat kembali pada posisi anatomis. Penanganan lanjutan tergantung pada komorbid dan . Hal ini menunjukkan tidak ada manipulasi pada uretra. Tanagho. Namun tindakan ini memiliki beberapa masalah diantaranya peningkatan insiden structure. impotensi dan terjadinya inkotinensia lebih tinggi daripada teknik sistostomi dan delayed uretroplasty 3 bulan setelahnya (McAninch. Purnomo. 2012). Tanagho. Dengan cara ini diharapkan kedua ujung uretra yang terpisah dapat saling berdekatan. (Summerton. Panjang striktur biasanya 1-2 cm dan terletak di posterior os pubis. Purnomo. & Lue. Pada cedera uretra prostatomembranos komplit karena tumpul dapat dilakukan kateter suprapubic sebagai penanganan primer. Setelah dilakukan suprapubic sistostomi beberapa ahli urologi dapat melakukan primary endoscospic realignment yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint melalui tuntunan uretroskopi. Uretrography harus dilakukan dalam 2 minggu saat terjadi penyembuhan.

2010). Hal ini menurun kejadiannya sekitar 30-35 % pada sistostomi suprapubic primer serta delayed urethroplasty. Warwick. Penanganan akut lainnya setelah dilakukan kateter suprapubic meliputi primer realignment endoscopic atau immediate open urethroplasty yang perlu dipertimbangan dan jarang atau tidak pernah dilakukan pada pasien tanpa diikuti injuri pada rectum dan leher buli (Summerton.10 2. Tanagho.3 Penanganan Fraktur Pelvis Untuk pasien dengan cedera berat. Jika dilakukan suprapubic sistostomi terlebih dahulu dan diikuti delayed urethroplasty maka insidensi terjadinya striktur menurun mencapai 5 %. KOMPLIKASI Komplikasi dari fraktur pelvis adalah thromboemboli yang dapat mengakibatkan deep vein thrombosis sehingga perlu diberikan prfiklaksis antikoagulan pada beberapa rumah sakit. Total inkontinensia urin < 2 % dengan diikuti fraktur sacrum dan cedera saraf S2-S4 (McAninch. maka terapi definitive dapat dilakukan. & Nayagam.9 Gambar 2. Pada fraktur isolasi atau fraktur dengan minimal displace diperlukan bed rest untuk pasien tersebut dan dikombinasikan dengan traksi pada kaki. Serta terjadinya nyeri sacroiliaca yang persisten akibat gangguan persendian sacroiliaca sehingga juga diperlukan arthrodesis (Solomon. Striktur. Jika tidak ada kelainan yang mengancam kehidupan. Striktur pada uretroplasti primer dan anastomosis terjadi pada sekitar 50% kasus. & Nayagam. Cara yang paling efisien untuk mereduksi adalah dengan eksternal fiksasi dengan pins pada kedua ilium dengan batang bagian depa untuk “closing book” juga dapat megurangi jumlah perdarahan Gambar 2. ischiadica dimana pemeriksaan tersebut harus dilakukan sebelum dan setelah tindakan pengobatan frajtur pelvis. et al. . 2012).cedera penyerta lainnya. 2010). 2014). Warwick. Pada cedera open book (APC) terdapat jarak kurang dari 2 cm dantidak ada displace pada bagian posterior dan cedera ini dapat dilakukan bedrest dan perlu dilakukan posterior sling atau dengan bandage untuk “close the book”. ichiadica dan biasanya sebuah neuropraxia dan dapat pulih dalam beberapa minggu. Jika terjadi cedera pada n. Selain itu juga cedera n. Sekitar 4-6 minggu pasien sudah merasa nyaman dan diperbolehkan berdiri menggunakan tongkat (Solomon.5. 2. impotensi dan inkontinensia merupakan gangguan uretra prostatomembran akibat trauma system urinarius. & Lue.6. penggunaan eksternal fiksasi adalah salah satu yang efektif guna mengurangi perdarahan dan mencegah terjadinya syok. Insidensi impotensi setelah uretroplasti primer adalah 30-80 % dengan rata-rata 50 %.

2012) BAB 3 .2.7. Tanagho. PROGNOSIS Jika komplikasi dapat dihindari prognosisnya baik. Namun jika terjadi infeksi perlu dilakukan manajemen dengan baik (McAninch. & Lue.

DAFTAR PUSTAKA . Pada kasus striktur uretra pasca trauma atau striktur yang berulang dapat dilakukan dilatasi uretra atau urethrotomy optical jika striktur pendek. 6.2 SARAN 1. Fraktur adalah diskontinuiitas tulang. 3. 5. Rethrograde uretrography merupakan gold standar untuk mediagnosis cedera uretra posterior serta menentukan untuk penatalaksanaan. 2. Perlu ditinjau kembali mengenai teknik dan prosedur sistostomi suprapubic. 7. Penyebab terjadinya cedera uretra posterior dapat dikarenakan adanya fraktur pelvis maupun iatrogenic. ligament maupun persendian pada pelvis 2. Perlu dibahas mengenai perawatan pasien pasca fraktur pelvis dan pasca penanganan cedera uretra posterior. KESIMPULAN & SARAN 3.1 KESIMPULAN 1. Selanjutnya dapat dilakukan primary endoscopic realignment atau delayed uretroplasty. Penanganan cedera uretra posterior pada fase awal yaitu sistostomi suprapubik untuk drainage urin. primary endoscopy realignment dan delayed urethroplasty agar pembaca dapat mengetahui pesiapan dan tekniknya. Etiologi penyebab fraktur pelvis dikarenakan kecelakaan lalu lintas maupun jatuh dari ketinggian 3. Cedera uretra posterior adalah trauma pada uretra pars prostatika / uretra pars membranasea. 4. namun jika struktur panjang dilakukan anastomosis urethroplasty.

Guidelines On Urological Trauma. Post-traumatic posterior urethral stricture: clinical considerations. Santucci. Guidelinse On Urological Trauma. Kitrey. Urology Journal. F. .. Summerton. L... N.. & Alsikafi. Surgical Repair of Posterior Urethral Defects Review of Literature and Presentation of Experiences.. E. California: Lange. N. N. Bristol. Malang. N. R. D. Smith & Ranagho General Urology. San Fransisco.. E. F. EAU Guidelines on Urethral. J. & Waschke. (2010). Canada: Elsevier. Djakovic. D. T. E. Warwick. (2014). February 27).. & Nayagam. J. J.M. Pineiro. Purnomo. (2010). L. Lynch. (2011). 39.. Plas.. D. D. UK: Hodder Arnold An Hachette UK Company. M.. European Association of Urology. Indonesia: Sagung Seto. F. F. (2015) Survei Kecelakaan Lalu Lintas Seluruh Dunia : Orang- Orang yang Mati dalam Diam. & Firmansyah. 48..B (2012). J. (2008. I. 2. E. 2.. Jakarta: Republika Hosseini.Amanda. (2008). & T.. Serafetiidis. Stoffel. T. N. PLas. et al.. Lumen. Solomon. Turkeri. A. (2010). Urologic Clinics Of North America. Serafetinidis. 2. Paulsen. 1. (2006). D. Sobotta Atlas of Human Anatomy 15th Edition. Pineiro. (2006). Pineiro.. McAninch.. Trauma.. (2011). E. E.. Djakovic. M. T.. Y. 794.. Mor. L. Diagnosis and Classification of Urethral Injuries. (2012).. J. The Acute Posterior Urethral Injury.. R. S. P. W. L. Turkish Journal Of Urology. 182-189 Latini. et al. Santucci. European Association of Urology . G. Apley’S System Of Orthopaedics and Fractures Ninth Edition.. J. & Serafetinidis... Rosentein. Kotb. A. L. F. Kuehhas.. L. Dasar Dasar Urologi. & Zonman. Urethra. & Lue. B.. European Association of Urology . Tanagho.