Nama : Zainul Adha

NIM : 1301652

BINTANG

Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu
dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri,
tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang
yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa
yang menghasilkan cahaya sendiri.
Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah semua benda masif (bermassa antara
0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan
energi melalui reaksi fusi nuklir. Oleh sebab itu, bintang katai putih dan bintang netron yang
sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat
dengan Bumi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima
Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa semua benda langit yang dapat memancarkan cahaya sendiri merupakan
sebuah bintang.

1. JARAK BINTANG
a. Mengukur Jarak Bintang Dengan Metode Paralaks
Paralaks adalah perbedaan latar belakang yang tampak ketika sebuah benda yang
diam dilihat dari dua tempat yang berbeda . Kita bisa mengamati bagaimana paralaks
terjadi dengan cara yang sederhana. Acungkan jari telunjuk pada jarak tertentu (misal
30 cm) di depan mata kita. Kemudian amati jari tersebut dengan satu mata saja secara
bergantian antara mata kanan dan mata kiri. Jari kita yang diam akan tampak berpindah
tempat karena arah pandang dari mata kanan berbeda dengan mata kiri sehingga terjadi
perubahan pemandangan latar belakangnya. “Perpindahan” itulah yang menunjukkan
adanya paralaks.
Paralaks juga terjadi pada bintang, setidaknya begitulah yang diharapkan oleh
pemerhati dunia astronomi ketika model heliosentris dikemukakan pertama kali oleh
Aristarchus (310-230 SM). Dalam model heliosentris itu, bumi bergerak mengelilingi
Matahari dalam orbit yang berbentuk lingkaran. Akibatnya, sebuah bintang akan
diamati dari tempat-tempat yang berbeda selama Bumi mengorbit dan paralaks akan
mencapai nilai maksimum apabila kita mengamati bintang pada dua waktu yang
berselang 6 bulan (setengah periode revolusi Bumi). Namun saat itu tidak ada satu
orangpun yang dapat mendeteksinya sehingga Bumi dianggap tidak bergerak (karena
paralaks dianggap tidak ada). Model heliosentris kemudian ditinggalkan orang dan

Hanya keterbatasan instrumenlah yang membuat orang-orang sebelum Bessel tidak mampu mengamatinya. Karena paralaks adalah salah satu bukti untuk model alam semesta heliosentris (yang dipopulerkan kembali oleh Copernicus pada tahun 1543). maka kita dapatkan persamaan sederhana tan p = 1/d atau d = 1/p. Dari geometri segitiga kita ketahui adanya hubungan antara sebuah sudut dan dua buah sisi. kita melihat bintang X memiliki latar belakang XA. Lihat ilustrasi di bawah ini untuk memberikan gambaran bagaimana paralaks bintang terjadi. seiring dengan teknologi teleskop untuk astronomi yang berkembang pesat (sejak Galileo menggunakan teleskopnya untuk mengamati benda langit pada tahun 1609). Paralaks pada bintang baru bisa diamati untuk pertama kalinya pada tahun 1837 oleh Friedrich Bessel. Setengah dari jarak sudut kedua posisi bintang X itulah yang disebut dengan sudut paralaks.model geosentrislah yang lebih banyak digunakan untuk menjelaskan perilaku alam semesta. Setelah paralaks bintang ditemukan. karena p adalah sudut yang sangat kecil sehingga tan p ~ p. Bintang yang ia amati adalah 61 Cygni (sebuah bintang di rasi Cygnus/angsa) yang memiliki paralaks 0. maka penemuan paralaks ini menjadikan model tersebut semakin kuat kedudukannya dibandingkan dengan model geosentris Ptolemy yang banyak dipakai masyarakat sejak tahun 100 SM. namun dengan nilai yang sangat kecil. Sedangkan 6 bulan kemudian. Ternyata paralaks pada bintang memang ada. Apabila jarak bintang adalah d. sudut paralaks adalah p. Di posisi A. dan jarak Bumi-Matahari adalah 1 SA (Satuan Astronomi = 150 juta kilometer). Dari sudut inilah kita bisa hitung jarak bintang asalkan kita mengetahui jarak Bumi-Matahari. yaitu ketika Bumi berada di posisi B. Inilah landasan kita dalam menghitung jarak bintang dari sudut paralaks (lihat gambar di bawah). penghitungan jarak bintang pun dimulai. kita melihat bintang X memiliki latar belakang XB. .29″.

29″ dan jarak 1. Peluncuran satelit Hipparcos pada tahun 1989 kemudian membawa perubahan. Jarak terjauh yang bisa diukur dengan metode paralaks hanya beberapa kiloparsek saja. Satelit tersebut mampu mengukur paralaks hingga ketelitian 0. Sudut sebesar ini akan sama dengan sebuah tongkat sepanjang 1 meter yang diamati dari jarak 270 kilometer. yaitu bintang Proxima Centauri di rasi Centaurus yang berjarak 1. paralaks hanya bisa dideteksi dengan ketelitian 0. maka kita akan peroleh d adalah 206. yaitu jarak bintang yang mempunyai paralaks 1 detik busur. Namun metode paralaks itu hanya dapat digunakan untuk bintang-bintang dekat saja karena teknologi yang kita miliki belum dapat menghitung paralaks dengan ketelitian tinggi. Hingga tahun 1980-an. parsek). Sebuah katalog dibuat untuk mengumpulkan data bintang yang diamati oleh satelit Hipparcos ini. Apabila kita gunakan detik busur sebagai satuan dari sudut paralaks (p). yang berarti mengukur jarak 100.09 x 10^13 km.76″ yang dimiliki oleh bintang terdekat dari tata surya. paralaks bintang yang paling besar adalah 0.45 pc.36 tahun cahaya (1 tahun cahaya = jarak yang ditempuh cahaya dalam waktu satu tahun = 9.31 pc. Mengukur Jarak Bintang Dengan Bintang Cipheid Kita dapat menentukan jarak bintang dengan menghitung paralaksnya.000 bintang hingga 1000 parsek. Jarak sebesar ini kemudian didefinisikan sebagai 1 pc (parsec.01″ atau setara dengan jarak maksimum 100 parsek. b. Jumlah bintangnya pun hanya ratusan buah. Pada kenyataannya.001″. Katalog Hipparcos yang diterbitkan di akhir 1997 itu tentunya membawa pengaruh yang sangat besar terhadap semua bidang astronomi yang bergantung pada ketelitian jarak. Sementara bintang 61 Cygni memiliki paralaks 0. . Maka cara mengukur jarak bintang dapat menggunakan hubungan periode-luminositas bintang variabel Cepheid.5 trilyun kilometer) atau sama dengan 3. Jarak d dihitung dalam SA dan sudut p dihitung dalam radian.265 SA atau 3.

Dari pengamatan bintang Cepheid kita bisa dapatkan periode variabilitas dan magnitudonya.81 log(P)-1. Saat itu Henrietta Leavitt. membuat katalog yang berisi 1777 bintang variabel dari penelitian tersebut. Bintang yang memiliki kecerlangan lebih besar ternyata memiliki periode varibilitas yang lebih lama dan begitu pula sebaliknya. Sejarah metode penghitungan jarak ini berawal dari sebuah penelitian tentang hasil pengamatan terhadap bintang variabel (bintang yang kecerlangannya berubah-ubah) yang ada di galaksi Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil (LMC dan SMC). Dari katalog yang ia buat diketahui bahwa terdapat beberapa bintang yang menunjukkan hubungan antara kecerlangan dengan periode variabilitas. Kemudian periode yang kita peroleh bisa digunakan untuk menghitung luminositas/magnitudo mutlak bintangnya dengan formula M = - 2. Karena itulah bintang variabel jenis ini diberi nama bintang variabel Cepheid. Bentuk kurva cahaya seperti itu ternyata sama dengan kurva cahaya bintang delta Cephei yang diamati pada tahun 1784. astronom wanita asal Amerika Serikat. Penamaan ini tidak berubah walaupun belakangan ditemukan juga kurva cahaya yang sama dari bintang Eta Aquilae yang diamati beberapa bulan sebelum pengamatan delta Cephei. maka pada akhirnya kita bisa dapatkan nilai jarak untuk bintang tersebut. Hubungan sederhana antara periode dan luminositas bintang variabel Cepheid ini bisa digunakan dalam menentukan jarak karena astronom sudah mengetahui adanya hubungan antara luminositas dengan kecerlangan/magnitudo semu bintang yang bergantung pada jarak. Karena luminositas/magnitudo mutlak dan magnitudo semu berhubungan erat dalam formula Pogson (modulus jarak). yang ditandai dengan naiknya kecerlangan bintang secara cepat dan kemudian turun secara perlahan.43. Bentuk kurva cahaya bintang variabel jenis ini juga unik dan serupa. .

F. A. Kunci penentu agar metode ini dapat digunakan adalah harus ada setidaknya satu bintang variabel Cepheid yang jaraknya bisa ditentukan dengan cara lain. bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O. misalnya dari metode paralaks trigonometri . Oleh karena itu. 2. Proses ini terjadi pada salah satu tahapan evolusi bintang. K. yang hanya bisa digunakan untuk bintang-bintang dekat saja. G. Bintang Cepheid ini mengalami perubahan luminositas karena radiusnya berubah membesar dan mengecil. yaitu ketika sebuah bintang berada pada fase raksasa atau maharaksasa merah. warna dan . Jadi dengan mempelajari bintang variabel Cepheid kita bisa menghitung jarak sekaligus mempelajari salah satu tahapan evolusi bintang. Menghitung jarak bintang variabel Cepheid menjadi sangat penting karena kita jadi bisa menentukan jarak gugus bintang atau galaksi yang jauh asalkan di situ ada bintang Cepheid yang masih bisa kita deteksi kurva cahayanya. B. Disinilah keunggulan metode ini dibandingkan dengan paralaks. Jarak bintang akan digunakan untuk menghitung luminositasnya dan selanjutnya bisa digunakan sebagai pembanding untuk semua bintang Cepheid. TINGKAT TERANG BINTANG Berdasarkan spektrumnya. M yang juga menunjukkan urutan suhu. astronom sampai sekarang masih terus berusaha agar proses kalibrasi ini dilakukan dengan ketelitian yang tinggi supaya metode penentuan jarak ini memberikan hasil dengan akurasi tinggi pula.

bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5. contoh Zeta Puppis Kelas B Bintang kelas B adalah bintang yang cukup panas dengan temperatur permukaan antara 11. Dari seluruh populasi bintang deret utama terdapat sekitar 0. dan karena itu cenderung berkumpul bersama dalam sebuah asosiasi OB.13 % bintang kelas B. sehingga merupakan jenis bintang yang pertama kali meninggalkan deret utama. sehingga tidak sempat bergerak jauh dari daerah di mana mereka dibentuk. Dalam pola spektrumnya garis- garis serapan terkuat berasal dari atom Helium yang netral. Garis-garis Balmer untuk Hidrogen (hidrogen netral) nampak lebih kuat dibandingkan bintang kelas O. Spica Kelas A . Namun karena paling terang. Bintang deret utama kelas O sebenarnya adalah bintang paling jarang di antara bintang deret utama lainnya (perbandingannya kira-kira 1 bintang kelas O di antara 32. Bintang deret utama kelas O merupakan bintang yang nampak paling biru. Karena begitu masif. Kelas O Bintang kelas O adalah bintang yang paling panas. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf.000 bintang deret utama). Dalam pola spektrumnya garis-garis serapan terkuat berasal dari atom Helium yang terionisasi 1 kali (He II) dan karbon yang terionisasi dua kali (C III). Untuk mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine Girl Kiss Me".000 Kelvin.komposisi-kimianya. maka tidak terlalu sulit untuk menemukannya. nitrogen. dan silikon.000 Kelvin dan berwarna putih-biru. dan K0 lebih awal daripada K5. Jadi. Garis-garis Balmer Hidrogen (hidrogen netral) tidak tampak karena hampir seluruh atom hidrogen berada dalam keadaan terionisasi. Bintang kelas O bersinar dengan energi 1 juta kali energi yang dihasilkan Matahari. di antaranya yang berasal dari ion- ion oksigen. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard. contoh Rigel. Bintang kelas O dan B memiliki umur yang sangat pendek. temperatur permukaannya lebih dari 25. Garis-garis serapan dari ion lain juga terlihat. walaupun sebenarnya kebanyakan energinya dipancarkan pada panjang gelombang ungu dan ultraungu. bintang kelas O membakar bahan bakar hidrogennya dengan sangat cepat.000 hingga 25.

seperti misalnya Arcturus. Bintang kelas M adalah sekitar 78% dari seluruh populasi bintang deret utama. Aldebaran Kelas M Bintang kelas M adalah bintang dengan populasi paling banyak.000 Kelvin dan berwarna putih. Bintang kelas A memiliki temperatur permukaan antara 7. Capella. Si II.63% dari seluruh populasi bintang deret utama. tetapi garis-garis ion logam dan logam netral semakin menguat. contoh : Proxima Centauri. Profil spektrum paling terkenal dari kelas ini adalah profil garis-garis Fraunhofer. Kebanyakan bintang yang berada dalam fase raksasa dan maharaksasa. silikon. Semua katai merah adalah bintang kelas ini. seperti Antares dan Betelgeuse merupakan kelas ini. Fe II dan Ca II) juga tampak dalam pola spektrumnya. Garis-garis molekul Titanium Oksida (TiO) mulai tampak. Garis-garis Balmer pada bintang kelas ini lebih lemah daripada bintang kelas F. Garis-garis logam netral tampak lebih kuat daripada bintang kelas G. contoh Vega. Alpha Centauri A Kelas K Bintang kelas K berwarna jingga memiliki temperatur sedikit lebih dingin daripada bintang sekelas Matahari. seperti magnesium. Betelgeuse 3. Bintang ini berwarna merah dengan temperatur permukaan lebih rendah daripada 3500 Kelvin. contoh Matahari. Beberapa bintang kelas K adalah raksasa dan maharaksasa. yaitu antara 3500 hingga 5000 Kelvin. Alpha Centauri B adalah bintang deret utama kelas ini. Procyon Kelas G Bintang kelas G mungkin adalah yang paling banyak dipelajari karena Matahari adalah bintang kelas ini. Luminositas bintang . Bintang kelas K memiliki garis-garis Balmer yang sangat lemah. Bintang kelas A kira-kira hanya 0. Karena tidak terlalu panas maka atom-atom hidrogen di dalam atmosfernya berada dalam keadaan netral sehingga garis-garis Balmer akan terlihat paling kuat pada kelas ini. contoh Alpha Centauri B. Beberapa garis serapan logam terionisasi. Proxima Centauri adalah salah satu contoh bintang deret utama kelas M. Garis-garis Balmer hampir tidak tampak. Spektrumnya memiliki pola garis-garis Balmer yang lebih lemah daripada bintang kelas A. Bintang kelas G adalah sekitar 8% dari seluruh populasi bintang deret utama. Garis-garis serapan di dalam spektrum bintang kelas M terutama berasal dari logam netral.500 hingga 11. Bintang kelas G memiliki temperatur permukaan antara 5000 hingga 6000 Kelvin dan berwarna kuning. Beberapa garis serapan logam terionisasi. contoh Canopus. Sirius Kelas F Bintang kelas F memiliki temperatur permukaan 6000 hingga 7500 Kelvin. Garis-garis molekul Titanium Oksida (TiO) sangat jelas terlihat. Bintang kelas K adalah sekitar 13% dari seluruh populasi bintang deret utama. Antares. seperti Fe II dan Ca II dan logam netral seperti besi netral (Fe I) mulai tampak. berwarna putih-kuning. Arcturus.1% dari seluruh populasi bintang deret utama. Bintang kelas F kira-kira 3. besi dan kalsium yang terionisasi satu kali (Mg II.

C. Di dalam astronomi. dan 6 sebagai bintang paling redup. maka luminositasnya adalah. yang terhubungkan melalui persamaan.  Jika suhunya rendah maka radiasi yang dipancarkan akan berwarna kemerahan contohnya bintang betegeuse dan antares  Jika suhunya tinggi maka radiasi yang dipancarkan akan berwarna kekuningan contohnya bintang Alpha centauri dan capella  Jika suhunya cukup tinggi maka radiasi yang dipancarkan akan berwarna kebiruan contohnya bintang sirius dan vega  Jika suhunya sedang maka radiasi yang dipancarkan dapat juga akan berwarna keputihan contohnya bintang procyon . Secara tradisi magnitudo semu bintang yang dapat dilihat oleh mata bugil dibagi dari 1 hingga 6. Kecerahan ini dikenal sebagai magnitudo mutlak (M). dan terentang antara +26. L adalah luminositas dan d adalah jarak bintang ke pengamat. Magnitudo Secara tradisi kecerahan bintang dinyatakan dalam satuan magnitudo. Dengan menganggap bahwa bintang adalah sebuah benda hitam sempurna. Magnitudo adalah besaran lain dalam menyatakan fluks pancaran. Namun jika kita menggunakan alat misalnya teropong maka kita akan dapat membedakan warna dari pantulan bintang tersebut. misalnya dengan menggunakan metode paralaks. dari warna ini kita dapat menggambarkan seberapa jauh letak bintang tersbut menggunkan hukum pergeseran wien. dimana L adalah luminositas. misal warna bintang A kemerahan. Terdapat juga kecerahan yang diukur secara mutlak. di mana m adalah magnitudo semu dan E adalah fluks pancaran. R adalah jari-jari bintang dan Te adalah temperatur efektif bintang. erg per detik (satuan cgs) atau luminositas Matahari. Warna bintang Ketika kita mengamati bintang dari bumi menggunakan mata saja maka kita hanya dapat membedakan bahwa bintang A lebih cerah dari bintang B dan sebagainya. Kecerahan bintang yang kita amati. Jika jarak bintang dapat diketahui. σ adalah tetapan Stefan-Boltzmann.0 sampai -26.5. di mana satu ialah bintang paling cerah. luminositas sebuah bintang dapat ditentukan melalui hubungan dengan E adalah fluks pancaran. Biasanya satuan luminositas dinyatakan dalam watt (satuan internasional). kehijauan. ` 4. dinyatakan oleh magnitudo tampak (m) atau magnitudo semu. luminositas adalah jumlah cahaya atau energi yang dipancarkan oleh sebuah bintang ke segala arah per satuan waktu. baik menggunakan mata bugil maupun teleskop. yang menyatakan kecerahan bintang sebenarnya. B kekuningan.

5. Henry Norris Russell pada tahun 1913. Diagram ini sangat penting artinya dalam astrofisika terutama dalam bidang evolusi bintang. sumbu x dari kiri ke kanan menyatakan suhu tinggi ke suhu rendah (tetapi 'warna' dari kecil ke besar). Tampak bahwa bintang-bintang cenderung berkelompok di bagian tertentu diagram. Bentuk-bentuk diagram . Diagram Hertzsprung-Russell hasil plot dari 22 000 bintang yang datanya berasal dari katalog Hipparcos dan 1000 dari katalog Gliese. Diagram Hertzsprung-Russell Diagram Hertzsprung-Russell atau diagram H-R (seringkali disebut juga sebagai diagram warna-magnitudo) adalah diagram hubungan antara magnitudo mutlak/luminositas dan kelas spektrum bintang/indeks warna. Berdasar konsensus. Eijnar Hertzsprung pada tahun 1911 dan astronom Amerika Serikat. dan temperatur permukaan sekitar 5400K (kelas spektrum G2). Matahari terletak di deret utama dengan luminositas 1 (magnitudo sekitar 5). a. Diagram ini dikembangkan secara terpisah oleh astronom Denmark. Yang paling dominan adalah kelompok yang membentuk diagonal diagram dari kiri atas (panas dan cemerlang) hingga kanan bawah (dingin dan kurang cemerlang) yang disebut deret utama.

selain dari suhu dan luminositas). Kuantitas pertama (kelas spektrum) sangat sulit untuk dinyatakan karena nilainya bukanlah kuantitas angka dan di versi diagram modern sering diganti dengan indeks warna B-V dari sebuah bintang. M67 dan NGC 188. Meskipun kedua tipe diagram ini mirip. para astronom membuat perbedaan yang tajam di antara keduanya. Juga. yang dimaksudkan untuk membantu kemudahan perbandingan dengan diagram H-R normal yang dipakai dari pengamatan. b. Diagram aslinya mencantumkan kelas spektrum dari bintang pada sumbu horisontal dan magnitudo mutlak pada sumbu vertikal. Bentuk inilah yang dipakai astronom teoretis dalam menghitung model komputer yang menggambarkan evolusi sebuah bintang. seseorang perlu mengetahui jarak dari obyek yang diamati dan derajat serapan materi antar bintangnya. dan nama "Diagram Hertzsprung- Russell" lah yang digunakan. Transformasi empiris antara berbagai indeks warna dan suhu efektif biasanya bisa didapat dari literatur. dan semuanya tergantung dari model atmosfer-bintang yang digunakan dan parameter-parameternya (seperti komposisi dan tekanan. Diagram seperti ini kadang disebut diagram warna-magnitudo. Diagram bentuk lainnya menggunakan suhu permukaan efektif dari sebuah bintang pada satu sumbunya dan luminositas dari bintang itu pada sumbu lainnya. Dalam pengamatan gugus bintang dimana bintang-bintangnya memiliki jarak yang hampir sama. Diagram tipe ini mungkin lebih tepat disebut diagram temperatur- luminositas. Salah satu keanehan dari diagram H-R bentuk ini adalah suhu mulai ditulis dari nilai tinggi ke nilai rendah (kiri ke kanan pada sumbu horizontal). diagram warna-magnitudonya sering dipakai dengan sumbu vertikalnya menunjukkan magnitudo bintang yang tampak. Hal ini karena sulitnya mengubah dari bentuk yang satu ke bentuk yang lainnya. Interpretasi . Diagram Hertzsprung-Russell mempunyai beberapa bentuk dan tata namanya tidaklah terdefinisi secara ketat. memperlihatkan perbedaan usia kedua gugus yang tampak dari titik belok deret utamanya.Diagram HR dua gugus terbuka. tetapi istilah ini hampir tidak pernah dipakai.

Gap ini disebut sebagai gap Hertzsprung dan menunjukkan evolusi yang berlangsung cepat pada saat pembakaran hidrogen di kulit yang mengelilingi inti dimulai. Ini dapat diinterpretasikan bahwa bagi kebanyakan bintang. Deret utama dapat diinterpretasikan bahwa bagi kebanyakan bintang. Komposisi kimia bintang pada saat itu masih homogen (sama dari pusat hingga permukaan) dan masih mencerminkan komposisi awan antarbintang yang membentuknya. Kedudukan ZAMS dapat diperoleh secara pemodelan. makin tinggi suhu permukaannya makin terang cahayanya dan makin masif bintang itu. Deret utama dari diagram Hertzsprung-Russell adalah suatu kurva yang membentang dari kiri atas ke kanan bawah diagram dimana kebanyakan bintang berlokasi. Semua bintang ini sedang "membakar" hidrogennya menjadi sampah helium di intinya. karena memiliki struktur bagian dalam yang hampir identik. tempat bagi bintang-bintang yang sedang melangsungkan pembakaran hidrogen di kulit yang mengelilingi inti helium yang belum terbakar. Kelompok yang tampak terlihat jelas berikutnya adalah kelompok yang disebut sebagai cabang raksasa. Pengelompokan bintang pada jalur yang berbeda (lihat gambar) menunjukkan adanya perbedaan tahap evolusi bintang. Ciri lainnya yang dapat dilihat dengan jelas adalah adanya gap antara deret utama dan cabang raksasa. Untuk satu kelas spektrum tertentu. Hampir 90% usia bintang dihabiskan pada tahap deret utama ini yang menjadi penyebab tingginya populasi. Kebanyakan bintang mendiami suatu jalur dari kiri atas ke kanan bawah yang disebut sebagai deret utama. Hampir 90% usia bintang berada pada tahap ini yang menyebabkan tingginya populasi bintang di deret utama. . makin tinggi suhu permukaannya makin terang cahayanya. Deret utama berumur nol (zero age main sequence = ZAMS) adalah posisi bintang pada diagram Hertzsprung-Russell pada saat pertama kali membakar hidrogen di intinya. Diagram H-R digunakan untuk menunjukkan jenis-jenis bintang yang berbeda dan juga untuk mencocokkan prediksi model teoritis evolusi bintang dengan pengamatan. Bintang-bintang pada jalur ini dikenal sebagai bintang deret utama atau bintang katai. Deret utama adalah kelompok yang membentuk pita diagonal pada diagram dari kiri atas (panas dan cemerlang) hingga kanan bawah (dingin dan kurang cemerlang). Bintang deret utama disebut juga sebagai bintang katai. bintang-bintang ini akan memiliki massa dan luminositas yang hampir sama. Bintang pada kelompok ini adalah bintang yang sedang melangsungkan pembakaran hidrogen di intinya.