SEJARAH GEOLOGI JAWA BARAT

Argapadmi, Windeati. 2009. Undergraduate Theses: Geologi dan Analisis Struktur Daerah Pasiruren
dan sekitarnya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. ITB Central Library

Kurniawan, Wendy. 2008. Undergraduate Theses: Geologi dan Analisis Struktur Geologi untuk
Karakterisasi Sesar Anjak di Daerah Gunung Masigit dan Sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa
Barat. ITB Central Library

Santana, Sonny, 2007, Master Theses: Rekonstruksi Cekungan Paleogen Daerah Jawa Barat Bagian
Selatan, ITB Central Library

Sontana, Rizky. 2007. Udergraduate Theses: Geologi dan Hidrogeologi Daerah Campaka dan
Sekitarnya, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. ITB Central Library,

Sejarah Geologi Jawa Barat, ditinjau dari
sejarah sedimentasi dan
pembentukan strukturnya
Posted by Wei Min Han ⋅ January 30, 2011 ⋅ Leave a Comment
Filed Under Cekungan Bogor, Pembentukan Struktur, Sejarah Sedimentasi Jawa Barat

1 Votes

Cekungan Bogor merupakan penamaan bagi suatu mandala sedimentasi yang melampar dari
utara ke selatan di daerah Jawa Barat, posisi tektonik dari Cekungan Bogor ini sendiri dari
zaman Tersier hingga Kuarter terus mengalami perubahan (Martodjojo,1984). Batuan tertua
pada Mandala Cekungan Bogor berumur Eosen Awal yaitu Formasi Ciletuh (Gambar1). Di
bawah formasi ini diendapkan kompleks Mélange Ciletuh yang merupakan olisostrom.
Formasi ini terdiri dari lempung, pasir dengan sisipan breksi, diendapkan dalam kondisi laut
dalam, berupa endapan lereng palung bawah (Martodjojo, 1984 dalam Argapadmi, 2009).

Cepatnya penyebaran dan pengendapan rombakan deratan gunung api ini telah mematikan pertumbuhan terumbu Formasi Rajamandala sehingga endapan volkanik yang dikenal dengan nama Formasi Jampang dan Formasi Citarum mulai diendapkan pada lingkungan marin (Gambar 1). Hadirnya komponen kuarsa yang dominan pada Formasi Bayah memberikan indikasi bahwa sumber sedimentasi pada kala tersebut berasal dari daerah yang bersifat granitis. Formasi ini merupakan perselingan pasir konglomeratan dan lempung dengan sisipan batubara (Martodjojo. kemungkinan besar berasal dari Daratan Sunda yang berada di utara (Gambar 2). Kolom stratigrafi selatan-utara Jawa Barat (Martodjojo. Kedudukan Cekungan Bogor pada kala ini tidak dapat diidentifikasikan dengan jelas. Formasi Jampang yang berciri lebih kasar daripada Formasi Citarum diendapkan di bagin dalam dari sistem kipas laut sedangkan Formasi Citarum diendapkan di bagian luar dari sistem kipas laut. 2007) Pada Kala Oligo-Miosen diendapkan Formasi Bayah yang dicirikan dengan lingkungan berupa sungai teranyam dan kelok lemah. Gambar 1. Pada Kala Miosen Awal berlangsung aktivitas gunung api dengan batuan bersifat basalt sampai andesit yang berasal dari selatan dan terendapkan dalam Cekungan Bogor yang pada kala ini merupakan cekungan belakang busur (Gambar 2). Pada Kala Miosen Tengah status Cekungan Bogor masih merupakan cekungan belakang busur dengan diendapkannya Formasi Saguling pada lingkungan laut dalam dengan mekanisme arus gravitasi (Gambar 1). 2009). Lalu di atasnya diendapkan secara tidak selaras Formasi Batu Asih dan Formasi Rajamandala yang merupakan endapan laut dangkal (Gambar 1). Ciri umum dari formasi ini memiliki banyak sisipan breksi atau breksi konglomeratan. Formasi Cimandiri yang juga berumur Miosen Tengah . 1984 dalam Argapadmi. 1984 dalam Santana. Formasi Batuasih terdiri dari lempung laut dengan sisipan pasir gampingan sedangkan Formasi Rajamandala merupakan endapan khas tepi selatan Cekungan Bogor yang terdiri dari batugamping.

batulempung. dan batugamping. Sebenarnya pendangkalan Cekungan Bogor ini dimulai dari selatan pada umur Miosen Tengah dan berakhir di sebelah utara pada umur Plistosen. . Cekungan Bogor masih merupakan cekungan belakang busur dengan diendapkannya Formasi Cigadung dan Formasi Cantayan yang diendapkan pada lingkungan laut dalam dengan mekanisme arus gravitasi (Gambar 1). 1949). Formasi Bojonglopang yang memiliki hubungan menjemari dengan Formasi Cimandiri juga diendapkan pada Miosen Tengah. tetapi peneliti yang lainnya (Effendi et al. breksi. Peneliti yang lain (Duyfjes. napal pasiran. Pada kala akhir Miosen Tengah mulai diendapkan Formasi Bantargadung yang dicirikan oleh endapan turbidit halus aktivitas kipas laut dalam yang terdiri dari perselingan batupasir greywacke dan lempung (Gambar 1). 1998 dalam Argapadmi. Formasi Kaliwangu diendapkan di atas Formasi Subang pada Pliosen Awal dan menunjukan lingkungan pengendapan transisi. Formasi Subang diendapkan di bagian utara menunjukan lingkungan pengendapan paparan (Kurniawan. Karakteristik utama dari formasi ini adalah litologi batugampingnya. 2008) Pada Kala Miosen Akhir. Pada Kala Pliosen. 1984 dalam Argapadmi. 1939 dalam Martodjojo. Gambar 2 Rekontruksi Tektonik Pulau Jawa bagian barat (Suparka dan Susanto. Formasi ini terdiri dari lempung gamping yang konglomeratan yang dikenal sebagai Nyalindung Beds. 2009) menamakan formasi ini sebagai Anggota Bojonglopang Formasi Cimandiri. Cekungan Bogor sebagian sudah merupakan daratan yang ditempati oleh puncak-puncak gunungapi yang merupakan jalur magmatis (Gambar 2). konglomerat. 2008). 2009) menamakan Formasi Cimandiri di beberapa daerah sebagai Formasi Nyalindung yang terdiri atas batupasir glaukonit gampingan hijau.menutupi Formasi Jampang (Gambar 1). Cekungan Bogor pada kala ini sudah semakin sempit menjadi suatu cekungan memanjang yang mendekati bentuk fisiografi zona Bogor (van Bemmelen. Pada daerah ini penurunan merupakan gerak tektonik yang dominan (Gambar 2).

1955 dalam Martodjojo. 2007). 1994 dalam Sontana. Aktivitas gunungapi yang besar terjadi pada permulaan Plistosen yang menghasilkan Formasi Tambakan dan Endapan Gunungapi Muda. 2003 dalam Santana. Di Jawa Barat. sekaligus pusat gunung api dari selatan berpindah ke tengah Pulau Jawa yang merupakan gejala umum yang terjadi di seluruh gugusan gunung api sirkum pasifik (Karig dan Sharman. 2 Sejarah Pembentukan Strukur Jawa Barat Berdasarkan hasil studi pola struktur di Pulau Jawa. Gambar 3 Pola umum struktur Jawa Barat ( Martodjojo. Di Jawa Tengah hampir semua sesar di jalur Serayu Utara dan . Pulonggono dan Martodjojo (1994) menyimpulkan bahwa selama Paleogen dan Neogen telah terjadi perubahan tatanan tektonik di Pulau Jawa. 2007). Pola Meratus diwakili oleh Sesar Cimandiri yang kemudian tampak dominan di lepas pantai utara Jawa Timur. Fasa regangan ini disebabkan oleh penurunan kecepatan yang diakibatkan oleh tumbukan Benua India dan Eurasia yang menimbulkan rollback berumur Eosen-Oligosen Akhir (Gambar 2). Pada Kala Plistosen sampai Resen. Arah ini berkembang di Jawa Barat dan memanjang hingga Jawa Timur pada rentang waktu Eosen-Oligosen Akhir. Penunjaman di selatan Jawa yang menerus ke Sumatera menimbulkan tektonik kompresi yang menghasilkan Pola Jawa. Pola ini umumnya terdapat di bagian barat wilayah Jawa Barat dan lepas pantai utara Jawa Barat. geologi Pulau Jawa sama dengan sekarang. Sesar ini juga berkembang di bagian selatan Jawa.Daerah pegunungan selatan bagian selatan mengalami penurunan dan genang laut yang menghasilkan Formasi Bentang sedangkan di bagian utara terjadi aktivitas gunung api yang menghasilkan Formasi Beser. Pola Sunda (utara-selatan) dihasilkan oleh tektonik regangan. Pola Meratus dihasilkan oleh tektonik kompresi berumur 80-52 juta tahun yang lalulu yang diduga merupakan arah awal penunjaman lempeng Samudra Indo-Australia ke bawah Paparan Sunda.

Di dalam palung ini terakumulasi berbagai jenis batuan yang terdiri atas batuan sedimen laut dalam (pelagic sediment). Majalengka. dan batuan beku berkomposisi basa hingga ultra basa (ofiolit). Van Bemmelen (1949). Singkapan batuan melange dari paleosubduksi ini dapat dilihat di Ciletuh (Sukabumi. Cekungan Bogor yang Kala Eosen Tengah-Oligosen merupakan cekungan depan busur magmatik. Percampuran berbagai jenis batuan di dalam palung ini dikenal sebagai batuan bancuh (batuan campur-aduk) atau batuan melange. Zona Bogor umumnya bermorfologi perbukitan yang memanjang barat-timur dengan lebar maksimum sekitar 40 km. Indramayu. berubah statusnya menjadi cekungan belakang busur magmatik sehingga terbentuk sesar-sesar anjakan dan lipatan (Gambar 2). dan Zona Pegunungan Selatan Zona Dataran Pantai Jakarta menempati bagian utara Jawa membentang barat-timur mulai dari Serang. Jakarta. Karangsambung (Kebumen. Bogor.Selatan mempunyai arah yang sama. Daerah ini bermorfologi dataran dengan batuan penyusun terdiri atas aluvium sungai/pantai dan endapan gunungapi muda. Van Bemmelen (1949). Subang. Zona Bogor. Kedua lempeng ini saling bertumbukan yang mengakibatkan Lempeng Samudra menunjam di bawah Lempeng Benua. masing-masing dari utara ke selatan adalah Zona Dataran Pantai Jakarta. Pola Jawa ini menerus sampai ke Pulau Madura dan di utara Pulau Lombok. petrologi. Jawa Barat). Batuan penyusun terdiri atas batuan sedimen Tersier dan batuan beku baik intrusif maupun ekstrusif. Paparan Sunda yang merupakan bagian tenggara dari Lempeng Eurasia mengalami konvergensi dengan Lempeng Pasifik. menamakan morfologi perbukitannya sebagai antiklinorium kuat yang disertai oleh pensesaran. . Pulau tersebut terdiri dari komplek busur pluton-vulkanik. Zona tumbukan (subduction zone) membentuk suatu sistem palung busur yang aktif (arc trench system). dan Kuningan. Pada Kala Miosen Awal-Pliosen. Purwakarta. zona subduksi. dan struktur geologinya. membagi daerah Jawa Barat ke dalam 4 besar zona fisiografi. seperti yang ditemukan di Komplek Pegunungan Sanggabuana. GEOLOGI REGIONAL JAWA BARAT Pulau Jawa terletak di bagian selatan dari Paparan Sunda dan terbentuk dari batuan yang berasosiasi dengan suatu aktif margin dari lempeng yang konvergen. FISIOGRAFI REGIONAL Aktifitas geologi Jawa Barat menghasilkan beberapa zona fisiografi yang satu sama lain dapat dibedakan berdasarkan morfologi. Zona Bogor terletak di sebelah selatan Zona Dataran Pantai Jakarta. batuan metamorfik (batuan ubahan). Sumedang. Jawa Tengah). hingga Cirebon. accretionary prism. Morfologi perbukitan terjal disusun oleh batuan beku intrusif. dan batuan sedimen. yaitu barat-timur. Zona Bandung. Pada Zaman Kapur. Purwakarta. Batuan tersebut berumur Kapur dan merupakan salah satu batuan tertua di Jawa yang dapat diamati secara langsung karena tersingkap di permukaan. dan Pegunungan Jiwo di Bayat (Yogyakarta). membentang mulai dari Tangerang.

struktur sesar berarah timurlaut- baratdaya dikelompokkan sebagai Pola Meratus. sesar berarah utara-selatan dikelompokkan sebagai Pola Sunda. sedangkan struktur sesar dengan arah lainnya berupa sesar mendatar. dari barat ke timur yaitu Tinggian Tangerang. Tinggian dan Horst Pamanukan-Kandanghaur. Cekungan Arjuna. Karakter struktur di daratan terdiri dari perulangan struktur cekungan dan tinggian. Tektonik kompresi dan ekstensi dihasilkan oleh gaya tekan pergerakan Lempeng Indo- Australia dan putaran Kalimantan ke utara. Struktur sesar dengan arah barat-timur umumnya berjenis sesar naik. Sukabumi. Seribu Platform. Secara regional. STRUKTUR REGIONAL Di daerah Jawa Barat terdapat banyak pola kelurusan bentang alam yang diduga merupakan hasil proses pensesaran. Morfologi dataran tinggi atau plateau ini. Perbukitan bergelombang di Lembah Cimandiri yang merupakan bagian dari Zona Bandung berbatasan langsung dengan dataran tinggi (plateau) Zona Pegunungan Selatan. Sejak awal tersier (Oligosen akhir). Sesar normal umum terjadi dengan arah bervariasi. Sebagian besar Zona Bandung bermorfologi perbukitan curam yang dipisahkan oleh beberapa lembah yang cukup luas. Cekungan Asri. Tinggian F. 1949). membentuk rift dan half-graben sepanjang batas selatan Lempeng Paparan Sunda pada Eosen-Oligosen (Hall. Busur Karimun Jawa dan Bawean Trough.Zona Bandung yang letaknya di bagian selatan Zona Bogor. Pannekoek (1946) menyatakan bahwa batas antara kedua zona fisiografi tersebut dapat diamati di Lembah Cimandiri. Rendahan Pasir Putih. Eastern Shelf. memiliki lebar antara 20 km hingga 40 km.3 TEKTONIK REGIONAL Lempeng Paparan Sunda dibatasi oleh kerak samudra di selatan dan pusat pemekaran kerak samudra di timur. batuan tersebut membentuk struktur lipatan besar yang disertai oleh pensesaran. timurlaut-baratdaya. Tinggian Rengasdengklok. Zona Bandung merupakan puncak dari Geantiklin Jawa Barat yang kemudian runtuh setelah proses pengangkatan berakhir (van Bemmelen. Beberapa bukti menunjukan adanya gabungan antara asymmetrical sag dan half graben pada tektonik awal pembentukan cekungan di daerah Jawa Barat Utara. Akibat tektonik yang kuat. menerus ke timur melalui Cianjur. . Cekungan Vera. 1977). Zona Pegunungan Selatan terletak di bagian selatan Zona Bandung. 1979). Bandung hingga Kuningan. kerak samudra secara umum telah miring ke arah utara dan tersubduksi di bawah Dataran Sunda (Hamilton. Cekungan Biliton. Pola struktur batuan dasar di lepas pantai merupakan pola struktur yang sama pada Cekungan Sunda. Rendahan Ciputat. Rendahan Jatibarang dan Rendahan Cirebon . 2. Bagian barat dibatasi oleh kerak benua dan di bagian selatan dibatasi oleh batas pertemuan kerak samudra dan benua berumur kapur (ditandai adanya Komplek Melange Ciletuh) dan telah tersingkap sejak umur Tersier. dan sesar berarah barat-timur dikelompokkan sebagai Pola Jawa. dan baratlaut-tenggara. Van Bemmelen (1949) menamakan lembah tersebut sebagai depresi di antara gunung yang prosesnya diakibatkan oleh tektonik (intermontane depression). utara-selatan. Jalur sesar tersebut umumnya berarah barat-timur.1. oleh Pannekoek (1946) dinamakan sebagai Plateau Jampang. membentang mulai dari Pelabuhanratu. Batuan penyusun di dalam zona ini terdiri atas batuan sedimen berumur Neogen yang ditindih secara tidak selaras oleh batuan vulkanik berumur Kuarter.

yaitu pembentukannya terjadi pada periode Plio-Plistosen. membentang mulai dari Purwakarta hingga ke daerah Baribis di Kadipaten- Majalengka (Bemmelen. Sesar ini termasuk kelompok sesar tua yang memotong batuan dasar (basement) dan merupakan pengontrol dari pembentukan cekungan Paleogen di Jawa Barat. Bentangan jalur Sesar Baribis dipandang berbeda oleh peneliti lainnya. 1973). endapan gunungapi Eosen diwakili oleh Formasi . Sesar Lembang yang letaknya di utara Bandung. Sesar Baribis mewakili umur paling muda di Jawa. Secara tektonik. Sesar Baribis. Di Jawa Barat. Kalimantan Timur (Katili. Jawa Tengah. sesar ini dikelompokkan sebagai Pola Jawa. Mekanisme pembentukan struktur geologi Jawa Barat terjadi secara simultan di bawah pengaruh aktifitas tumbukan Lempeng Hindia-Australia dengan Lempeng Eurasia yang beralangsung sejak Zaman Kapur hingga sekarang. Peristiwa subduksi Kapur diikuti oleh aktifitas magmatik yang menghasilkan endapan gunungapi berumur Eosen. diketahui umur batuannya adalah Kapur. dan Meratus (Kalimantan Timur). Secara keseluruhan. mengaitkan pembentukan Sesar Lembang dengan aktifitas Gunung Sunda (G. Gunung Tanggubanperahu-Burangrang dan diduga menerus ke timurlaut menuju Subang. jalur sesar ini berarah timurlaut-baratdaya dengan jenis sesar mendatar hingga oblique (miring). dimana posisinya berada pada poros tengah Jawa sekarang. dan Sesar Lembang. membentang sepanjang kurang lebih 30 km dengan arah barat-timur. sesar ini dikelompokkan sebagai Pola Meratus. Van Bemmelen (1949). menafsirkan jalur sesar naik Baribis menerus ke arah tenggara melalui kelurusan Lembah Sungai Citanduy. dengan demikian struktur sesar ini berumur relatif muda yaitu Plistosen. ada tiga struktur regional yang memegang peranan penting. Ketiga sesar tersebut untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh van Bemmelen (1949) dan diduga ketiganya masih aktif hingga sekarang. Berdasarkan penanggalan radioaktif yang dilakukan terhadap beberapa contoh batuan melange. Cipatat-Rajamandala. Jawa Barat menerus ke timur memotong daerah Karangsambung- Kebumen. Posisi jalur tumbukan (subduction zone) dalam kurun waktu tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan. membentang mulai dari Teluk Pelabuhanratu menerus ke timur melalui Lembah Cimandiri. Sesar ini berjenis sesar normal (sesar turun) dimana blok bagian utara relatif turun membentuk morfologi pedataran (Pedataran Lembang). yaitu Sesar Cimandiri. Jalur paleosubduksi ini selanjutnya menerus ke Laut Jawa hingga mencapai Meratus. Sesar Cimandiri merupakan sesar paling tua (berumur Kapur). Penulis terakhir ini menamakannya sebagai “Baribis-Kendeng Fault Zone”. Jalur subduksinya berarah relatif barat-timur melalui daerah Ciletuh-Sukabumi. Pada awalnya subduksi purba (paleosubduksi) terjadi pada umur Kapur. Selanjutnya oleh Martodjojo dan Pulunggono (1986). Martodjojo (1984). Sesar Baribis yang letaknya di bagian utara Jawa merupakan sesar naik dengan arah relatif barat-timur. Karangsambung (Kebumen). 1949). ditafsirkan menerus ke arah timur hingga menerus ke daerah Kendeng (Jawa Timur). Tangkubanperahu merupakan sisa-sisa dari Gunung Sunda). Penulis ini menarik jalur paleosubduksi berdasarkan pada singkapan melange yang tersingkap di Ciletuh (Sukabumi).Dari sekian banyak struktur sesar yang berkembang di Jawa Barat. Struktur sesar yang termasuk ke dalam Pola Sunda umumnya berkembang di utara Jawa (Laut Jawa). Oleh Martodjojo dan Pulunggono (1986). sedangkan oleh Simandjuntak (1986).

G. menghasilkan sistem tegasan (gaya) berarah utara-selatan. G. Formasi Jatibarang menempati bagian utara Jawa dan pada saat ini sebarannya berada di bawah permukaan. utara dan timur laut membentuk rift dan beberapa cekungan pengendapan yang dikenal sebagai Sub-cekungan Arjuna Utara. Malabar. Pada endapan Post-rift tersebut diendapkan secara selaras setara batugamping Formasi Baturaja. sedangkan struktur kompresi sedikit sekali. jalur subduksi ini berubah lagi.Jatibarang dan Formasi Cikotok. Pada saat sekarang. dan G. antara lain G. Batuan dasar cekungan merupakan batuan dasar Pra-Tersier yang mewakili kerak benua Daratan Sunda. Endapan Post rift/sag basin fill (Miosen Awal-Plistosen) merupakan fase transgresif di daerah Laut Jawa. posisi jalur subduksi berada Samudra Hindia dengan arah relatif barat-timur. Fase rifting pada Eosen-Oligosen memiliki arah ekstensi utama berarah timurlaut-baratdaya hingga barat-timur. Cekungan ini tidak terbentuk sebagai cekungan busur belakang. Hamilton (1979) menyebutkan dua alasan yang dapat menjelaskan hal tersebut yaitu pertama. yaitu berarah barat-timur. Ciremai. Tanggubanperahu. namun sebagai pull-apart. Dengan demikian dapat ditafsirkan telah terjadi pergeseran jalur subduksi dari utara ke arah selatan. serta Sub- cekungan Jatibarang dan sesar-sesar geser menganan berarah baratlaut-tenggara. Posisi tumbukan ini selanjutnya menghasilkan sistem tegasan (gaya) berarah utara-selatan. namun jalur subduksinya relatif sama. terdiri atas batuan beku dan metamorf berumur Kapur atau lebih tua dan juga endapan klastik dan gamping yang terbentuk pada awal Tersier. yaitu syn rift sedimen yang didominasi oleh non marin/sedimen darat dan post rift sedimen (sag) yang didominasi oleh sikuen endapan marin dan transisi. Bagian utara didominasi oleh struktur ekstensi. Gede. Pengendapan selanjutnya berupa endapan laut dangkal Formasi Cibulakan . G. dan kedua. arah ekstensi cekungan hampir tegak lurus dengan zona subduksi saat ini. Endapan syn rift diawali oleh pengendapan Formasi Jatibarang (di Cekungan Sunda diendapkan Formasi Banuwati). Aktifitas tumbukan lempeng di Jawa Barat. Beberapa gunungapi aktif yang berkaitan dengan aktifitas subduksi tersebut. Sub-cekungan Arjuna Tengah dan Sub-cekungan Arjuna Selatan. Salak. sedangkan Formasi Cikotok tersingkap di daerah Bayah dan sekitarnya. Sesar-sesar yang terbentuk yaitu sesar-sesar berarah baratlaut-tenggara. Walaupun posisi jalur subduksi berubah-ubah. Terdiri atas dua grup sedimen. Kedudukan jalur subduksi ini menghasilkan aktifitas magmatik berupa pemunculan sejumlah gunungapi aktif. dicirikan oleh perselingan volkanik-klastik dan sedimen lakustrin. Untuk ketiga kalinya. kerak benua yang tebal terlihat dalam pembentukan struktur rift cekungan tersebut. Jalur gunungapi (vulcanic arc) yang umurnya lebih muda dari dua formasi tersebut di atas adalah Formasi Jampang. Formasi ini berumur Miosen yang ditemukan di Jawa Barat bagian selatan.

Atas dan Formasi Parigi. . Pengendapan terakhir adalah Formasi Cisubuh yang berada di bawah endapan aluvial yang terjadi saat ini.

Related Interests