LAPORAN INDIVIDU

BLOK V IMUNOLOGI
SKENARIO 1

“VAKSINASI SEBAGAI PERTAHANAN SEL IMUN TERHADAP
AGEN INFEKSIUS SECARA DINI”

OLEH :

Nama : Fenda Adita
Nim : G0007072
Kelompok : 19
Nama tutor : Jarot Subandono, dr, M.Kes

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET

TUJUAN Tujuan penulisan laporan ini agar mahasiswa mampu 1. E. kok masih kena campak?” dapat diketahui bahwa seorang ibu yang membawa anaknya yang berusia 9 bulan untuk mengikuti imunisasi campak. Antigen tersebut masih dapat berkembang tergantung dari sistem imun yang mengadakan pertahanan terhadapnya. Sistem itu adalah sistem imun. Mengapa vaksinasi campak dilakukan pada umur 9 bulan? C. B. Mengetahui dan menjelaskan mekekanisme sistem imun 2. 2008 BAB I PENDAHULUAN A. Banyak dari bahan vaksin berupa antigen dari bakteri atau virus yang dilemahkan atau dimatikan. seperti kelumpuhan akibat penyakit polio. Mengetahui dan menjelaskan mekanisme didalam tubuh ketika dilakukan vaksinasi D. ketulian akibat penyakit meningitis. vaksinasi dapat meminimalkan agen infeksius . kerusakan hati akibat penyakit hepatitis B. Vaksinasi sangat penting karena bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap agen penyakit tertentu meskipun masih terdapat kemungkinan untuk terpajan penyakit mengingat keterbatasan sel memori dan agen penyakit yang mengalami replikasi. Menjelaskan pentingnya vaksinasi 4. Mengetahui peranan sel T dan sel B pada imunitas 3. Sistem imun tidak secara sempurna dapat melakukan fungsinya sebagai pertahanan tubuh karena agen penginfeksi yang resisten dan agen baru yang masuk ke dalam tubuh sedangkan tubuh belum pernah terpajan sebelumnya. Apakah perlu melakukan vaksinasi kembali? 4. Ibu tersebut tidak yakin pada vaksinasi karena anak pertamanya mengidap penyakit campak meskipun telah divaksinasi. tetapi berefek pada adanya radang dan panas? 5. PERUMUSAN MASALAH Masalah yang ditemui dengan adanya penyakit ini adalah 1. vaksin yang akan dimasukkan berupa epitop dari agen penginfeksi. Apa pengaruh vaksin pada sistem imun? 2. ataupun kerusakan otak (encephalitis) akibat penyakit campak (measles). PAda penelitian terbaru. LATAR BELAKANG Manusia terus-menerus berkontak dengan agen eksternal yang dapat membahayakan tubuh apabila agen tersebut masuk ke dalam tubuh. tubuh meresponnya dengan sistem pertahanan yang kompleks dan berlapis-lapis. Apakah seseorang yang telah dilakukan vaksinasi suatu penyakit akan bebas dari penyakit tersebut? 3. KASUS SKENARIO Pada skenario “Sudah divaksinasi campak. Apabila seseorang mengidap penyakit setelah dilakukan vaksinasi. HIPOTESIS Pada kasus ini sebaiknya tetap dilakukan vaksinasi. Mengapa ada seseorang yang divaksinasi. Beberapa penyakit (yang sebenarnya dapat dilindungi dengan vaksin) dapat menyebabkan kematian ataupun kerusakan permanen/cacat tetap. Meskipun vaksinasi tidak menghindarkan seseorang dari infeksi penyakit. Tetangganya ada yang mengalami panas dan radang setelah dilakukan vaksinasi. misalnya bakteri dan virus karena epitop berupa untaian protein sehingga tidak ada efek yang dapat menimbulkan penyakit pada imunisasi itu. Apabila bakteri atau virus masuk ke dalam tubuh.

Peptida asal mikroba ekstraselular akan diikat MHC-II yang akan dipresentasikan oleh CD4+. IL-5. sel natural killer (melisiskan dan menghancurkan sel pejamu abnormal). Sistem imun terdiri dari imun spesifik dan non spesifik yang akan dijelaskan dalam bagan dibawah ini. sedangkan APC lain telah ada di jaringan limfoid dan siap memakan antigen tersebut. sel senescenes dan debris jaringan. mengenal dan menghancurkan sel yang terinfeksi virus. antara lain patogen penginvasi (mikroorganisme. sel T berperan untuk mengenalnya. Respons imun spesifik a. Benda asing maupun sel abnormal tersebut. Setelah antigen mikroba dipecah oleh APC melalui intraseluler maupun ekstraselular menjadi peptide kecil yang imunogenik. Respons imun non spesifik Respon ini bereaksi tanpa memandang gen pencetus pernah atau belum pernah dijumpai yang diperankan oleh peradangan (fagositik – neutrofil dan makrofag). seperti virus bakteri). dan mutan dari tubuh. sel Langerhans di kulit. SISTEM IMUN FISIOLOGIS 1. Antigen Presenting Cell (APC) APC berfungsi untuk memakan antigen benda asing di perifer dan diangkut ke jaringan limfoid sekunder. 2.mengaktifkan makrofag dalam fagositosis. sedangkan peptida asal mikroba intraselular akan diikat MHC-I yang akan dipresentasikan oleh CD8+. Sistem imun Non spesifik Spesifik Fisik/mekanik Larutan Selular Humoral Selular Kulit Biokimia Humoral Fagosit Sel B Sel T Selaput lendir Asam lambung Komplemen Sel Ncl Silia Asam neuraminik Interferon Sel mediator Batuk Losozim CRP Bersin Laktoferia B. b. Selanjutnya Tho berkembang menjadi Th1 yang bersifat seluler (atas pengaruh IFN-γ serta IL-12) dan Th2 yang bersifat humoral (atas pengaruh sitokin IL-4. sel Mikroglial di SSP. sel Kupffer di hati. Sel T memiliki reseptor yang hanya mengikat fragmen yang berhubungan dengan MHC sehingga disebut MHC restricted. SISTEM IMUN Sistem imun adalah mekanisme pertahanan tubuh sebagai perlindungan terhadap benda asing maupun sel abnormal. Sel Th (T helper) Sel T berkembang dari sel prekursor menjadi sel Th 0 bila terpajan oleh antigen. dan sel B. dan sistem komplemen (menyerang membran plasma). Pada kasus ini sebaiknya tetap dilakukan imunisasi BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. interferon. i. dan mengontrol ambang serta kualitas sistem imun. untuk mengadakan serangan di dalam tubuh karena sistem imun telah mengidentifikasi dan mengingatnya. Sel-sel yang dapat berfungsi sebagai APC adalah sel dendritik. Sel T Sel T memiliki fungsi untuk membantu sel B untuk memproduksi antibodi (oleh Th2). IL- .

sel fagosit 2. c. mempunyai aktivitas antibodi terhadap antigen berbagai makanan dan autoantigen seperti komponen nucleus. IgM merupakan Ig yang paling efisien dalam akivasi komplemen melalui jalur klasik. Ig G Ig G memiliki sifat opsonin karena sel-sel fagosit memiliki reseptor Fcγ-R. memudahkan fagositosis. misalnya sel tubuh yang dimasuki virus. IgG juga berperan pada imunitas selular karena dapat merusak antigen selular melalui interaksi dengan sistem komplemen atau melalui efek sitolitik. Sel Th yang didominasi oleh CD4+ berpengaruh atas sel Tc dalam mengenal sel yang terinfeksi virus dan jaringan cangkok allogeneic. Ig (Imunoglobulin) mengidentifikasi benda asing sebagai sasaran yang akan dihancurkan oleh system komplemen dan fagosit sehingga meningkatkan respons non spesifik. Selain itu IgA juga memiliki reseptor Fcα-R sehingga dapat meningkatkan efek bakteriolitik komplemen dan menetralisasi toksin. Hal ini mengakibatkan mikroba dapat berkembang dengan baik dalam tubuh mengingat respons imun spesifik membutuhkan waktu untuk mengenali dan mengingat mikroba pathogen sehingga terjadi anergen. Terdapat lima subkelas Ig G. C.Ig E IgE mudah diikat oleh sel mast. tidak ada sistem imun spesifik yang yang secara langsung memberikan pertahanan karena tubuh menganggap mikroba tersebut adalah benda asing. Ig M IgM adalah Ig yang paling besar berat molekulnya dan paling awal pembentukkannya dibanding Ig lain. IL-13. IMUNODEFISIENSI 1. ii. yaitu i. interferon dan lisozim. Misalnya adanya kerusakan pada sel memori dapat mengakibatkan tubuh tidak lagi resisten terhadap mikroba asing sehingga apabila tubuh terpajan oleh mikroba tersebut. Defisiensi sistem imun kongenital : defisiensi sel B dan sel T . iv. dan sel cangkokan. Sel Tc (sitotoksik) Sel ini didominasi oleh CD8+ dan berfungsi untuk menghancurkan sel pejamu yang memiliki antigen asing. Defisiensi imun non-spesifik : komplemen. D. ii. iii. Ig ini berperan penting terhadap infeksi oleh parasit dan pada reaksi alergi. sIgA melindungi tubuh karena dapat bereaksi dengan molekul adhesi dari pathogen potensial dan mencegah adherens dan kolonisasinya dalam sel pejamu. basofil. Defisiensi imun spesifik a. Sel plasma akan berdifferensiasi menjadi antibodi (immunoglobulin). v. dan aglutinator poten antigen. Sel B Sel B yang dihasilkan oleh sumsum tulang akan berkembang menjadi sel plasma dan sel memory. dan eosinofil karena memiliki reseptor Fcε- R. sel NK. Ig D IgD tidak mengikat komplemen. Selain itu IgM berfungsi untuk mencegah gerakan mikroorganisme pathogen. iii. sel kanker. Sel Ts (T supresor) Sel ini berfungsi sebagai penekan produksi antibodi sel B dan aktivitas sel Tc maupun sel Th. 10. Ig A IgA terdapat dalam bentuk sekresi (sIgA) yang merupakan bagian terbanyak dan serum IgA. SISTEM IMUN PATOLOGIS Respons imun yang tidak diharapkan akan muncul apabila terjadi kesalahan pada masing-masing personel yang terlibat.

Apabila virus telah . apabila seseorang mendapat antibodi atau produk dari orang lain sehingga dapat terhindar dari penyakit tertentu. Jenis vaksinasi 1. Defisiensi imun didapat (sekunder) : malnutrisi. Defisiensi imun spesifik fisiologik : pada kehamilan dan usia lanjut c. kehilangan Ig. Virus yang diselubungi antibodi akan difagositosis oleh sel-sel fagosit. seperti makrofag. agamaglobulinemia dengan timoma. Definisi Vaksinasi adalah metode yang diterapkan untuk mencegah maupun menghilangkan suatu penyakit dengan cara memasukkan antigen (sekarang yang dugunakan adalah epitopnya) ke dalam tubuh. 2. Namun hal itu masih mengandung risiko mengingat bagian yang dimasukkan ke tubuh adalah antigen yang masih dapat berkembang dalam tubuh. Meskipun tidak pasti dapat terhindar dari penyakit ini. Misalnya vaksin influenza. Mekanisme vaksinasi Pada dasarnya vaksin yang dimasukkan ke dalam tubuh akan direspons oleh antibodi tubuh sehingga memberikan respons pertahanan tubuh yang lebih kuat dibandingkan dengan antigen mikroba yang telah dilemahkan. Vaksinasi pasif. setidaknya telah berusaha mengenalkan antigen virus campak (sekarang telah dikembangkan epitop dari campak) pada sel memori. apabila seseorang diberikan agen yang berupa virus. protein tertentu) yang dibuat tidak aktif). Misalnya vaksin campak .Inactivated (bakteri. Sel memori sebagai turunan dari sel B akan merespon epitop tersebut dengan mengenali sekaligus mengingatnya sehingga apabila tubuh terpajan oleh epitop yang sama yang kedua kalinya. hepatitis A. Tujuan vaksinasi Vaksinasi bertujuan agar sel memori dalam tubuh yang diturunkan oleh sel B mampu mengenal dan mengingat epitop mikroba asing sehingga bila tubuh terpajan oleh epitop dari mikroba yang sama dapat mempertahankan sistem imunitasnya. sel imun mampu mengadakan pertahanan terhadap mikroba asing tersebut. antigen virus tersebut dikenali oleh antibodi yang merupakan turunan dari sel B sehingga antibody mengitari virus yang bebas itu. BAB III DISKUSI DAN PEMBAHASAN Vaksinasi campak penting untuk setiap anak untuk mencegah terpaparnya penyakit campak. toksin. 2. Apabila imunitas tubuh rendah. dengan tujuan agar sel memori dapat mengenal dan mengingat epitop dari antigen mikroba asing. AIDS E. dan antigen yang ada diberikan pada sel B dan sel T. kolera. obat. VAKSINASI 1. atau komponennya (seperti toksin. b. Oleh karena itu. Vaksinasi ini yang harus diberikan pada orang normal agar terhindar dari seutu penyakit sehingga suatu saat penyakit tersebut tidak ada lagi. penyakit berat. penyinaran. antigen dipresentasikan pada sel memori sehingga sel tersebut dapat mengantisipasi apabila ada virus yang sama masuk ke dalam tubuh. Ketika vaksin yang berisi virus campak yang telah dilemahkan dimasukkan ke dalam tubuh melalui injeksi. infeksi. neutrofil. antigen dapat mengalahkan antibodi yang dapat berakibat lebih buruk karena mikroba dapat berkembang dengan baik. sistem imun mampu melakukan pertahanan dengan baik karena telah terpajan virus yang sama sebelumnya. Misalnya transfer antibodi melalui plasenta intrauterine dan ASI 4. polio. maupun bakteri yang telah dilemahkan atau dimatikan. penelitian terakhir menyatakan bahwa vaksin yang akan dimasukkan berpa epitop karena merupakan selubung protein sehingga tidak berbahaya terhadap tubuh. Jenis vaksin ada 2.Live attenuated (bakteri atau virus yang dilemahkan). yaitu . Pada sel B. 3. dll. virus. Vaksinasi aktif.

Dengan adanya vaksinasi diharapkan mikroorganisme pathogen dapat diminimalkan hingga dapat dilenyapkan karena meskipun bereplikasi berkali-kali namun apabila sel imun telah mengenal sebelumnya. mengakibatkan pengeluaran histamine yang berdampak pada terjadinya inflamasi. Oleh karena itu. Pada saat dilakukan vaksinasi. maka sel T berperan dengan melibatkan sel T sitotoksik. Vaksinasi cacar dilakukan pada umur 9 bulan karena adanya antibody yang belum terbentuk pada usia sebelum 9 bulan sehingga vaksinasi tidak akan bermanfaat. sel T helper. dan sel T supresor. Solusi masalah pada scenario adalah tetap dilakukan vaksinasi pada anak tersebut karena vaksinasi dapat meminimalkan tubuh terinfeksi penyakit. Adanya replikasi dari virus ini membuat sistem imun (terutama sel memori) mengidentifikasi dan mengingat epitop virus lagi. Vaksinasi menjadikan pertahanan tubuh lebih baik karena sel memori dapat mengidentifikasi mikroba asing yang masuk. IgE yang berperan terhadap adanya alergi akan berikatan dengan sel mast dan basofil karena terdapat reseptor Fcε-R sehingga mencetuskan sel tersebut untuk mengeluarkan histamin. Adanya kemungkinan bahwa setelah dilakukan vaksinasi masih dapat terpajan penyakit dapat dijadikan acuan bahwa vaksin harus selalui diperbaharui (up date) sesuai dengan perkembangan virus sehingga tidak menimbulkan reaksi resisten oleh virus terhadap vaksin. Seseorang yang telah dilakukan vaksinasi penyakit tertentu masih ada kemungkinan untuk terpapar penyakit tersebut karena adanya anergen yang terjadi di dalam tubuh dan mikroba (seperti virus pada penyakit cacar) selalu melakukan replikasi untuk berkembang sehingga resisten terhadap vaksinasi. tidak dapat langsung sembuh. 5. mikroba itu tidak akan mampu bereplikasi lebih jauh di dalam tubuh. Vaksin campak harus dilakukan pada umur 9 bulan karena sebelum itu masih ada antibodi yang belum dibentuk. Setelah penyakit tersebut sembuh. Faktor Lain yang berpengaruh adalah adanya anergen. 3. BAB IV SIMPULAN SIMPULAN DAN SARAN 1. tubuh akan meresponsnya sebagai benda asing sehingga apabila IgE bereaksi dengan sel mast dan basofil. tidak perlu dilakukan vaksinasi sebagai perlindungan karena sistem imun telah mengidentifikasi dan mengingat virus tersebut sehingga sistem imun akan selalu siap terhadap kemungkinan pajanan virus yang sama. Seseorang yang pernah dilakukan vaksinasi campak masih dapat terpapar penyakit ini karena virus selalu bereplikasi. tidak perlu dilakukan vaksinasi karena solusinya adalah mengobati penyakit tersebut. Akibatnya terjadi vasodilatasi yang menyebabkan banyk pembuluh darah masuk ke jaringan yang mengakibatkan kalor karena darah membawa suhu dalam tubuh yang berkisar sekitar 37 oC . Hal itu membutuhkan waktu lama sehingga jika seseorang terpajan penyakit campak.menginfeksi sel normal. 2. Vaksinasi ini mengacu pada IgG yang akan semakin berkembang setelah adanya pajanan sehingga konsep ini digunakan dengan tujuan agar vaksin campak dapat bertahan lama karena mengambil respons imun sekunder. . IgM tidak dapat digunakan sebagai acuan vaksinasi. Apabila seseorang terpajan penyakit setelah dilakukan vaksinasi. Hal ini bertolak belakang dengan IgM karena akan cenderung untuk menyusut kadarnya setelah beberapa waktu pasca pajanan. Inflamasi selanjutnyapun muncul seperti adanya bengkak pada bagian yang diinjeksikan vaksin campak. yaitu adanya kesalahan pada bagian dari sel memori sehingga tidak dapat mengenali virus lagi meskipun telah terpapar penyakit campak dengan virus yang kekuatannya sama dengan sebelumnya. Apabila seseorang terpajan penyakit setelah dilakukan vaksinasi. 6. IgM adalah Ig yang paling awal terbentuk ketika terjadi pajanan namun akan semakin berkurang seiring dengan berjalannya waktu. 4. tidak perlu dilakukan vaksinasi karena solusinya adalah mengobati penyakit tersebut. Pada saat dilakukan vaksinasi. sistem imun meresponnya sehingga akan ada efek samping dari serangan virus tersebut meskipun telah dilemahkan.

ikatan dokter anak Indonesia Suryohudoyo.. 2000. 2006. Biokimia. Jakarta : Media Aesculapius Price. dkk.2007. dan energi. cetakan II. V. Jakarta: EGC Guyton. et al. Ida. alih bahasa Setiawan. Buku ajar Fisiologi kedoketeran. Arthur C dan John E Hall. Sylvia A. Lauralee. Harisson’s principle of manual medicine.L. Jakarta : EGC Soeyitno. jilid 2. Surakarta: Pakar raya Lechninger. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. 1997. Wilson. Surabaya : Sagung Seto Suyono. Buku imunisasi di Indonesia. Slamet. asam amino. Jakarta : EGC Harper. Jakarta : EGC. San fransisco : Mc Graw Hill F Hartanto. 2002. 2001. Huriawati dkk. 2005. Purnomo. Jakarta : Erlangga Mansjoer. Robbins.kedokteran. S. 1993. Jakarta : Satgas imunisasi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI . Harriyono. Biokimia: Metabolisme. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2.REFERENSI : Dennis L. Jakarta : EGC Nurwati. Terjemahan staf pengajar Lab PA FK Unair. Kapita Selekta Ilmu Kedokteran Molekuler. Fisiologi Manusia. Kamus Kedokteran Dorland. ed 4. 1995. 2001. Jakarta: EGC Sherwood. Kasper. L. Arif. dan Lorraine M.1996. Ilmu Penyakit Dalam. Albert. Kumar. 2001. 2005. Dasar-dasar Biokimia. edisi ke-9. Buku Ajar Patologi II.

Lampiran 1 Antigen .

Lampiran 2 Peran antibodi .

Lampiran 3 Imunoglobulin .

Lampiran 4 Reaksi pembentukkan imiunoglobulin .