Nama : Danan Triawan

NIM : 16612011040

BERKELILING SEMALAM DI PULAU SERIBU PURA

Sudah lebih dari setahun aku merencanakan perjalanan bersama salah satu temanku.
Nama temanku itu Adit, dan aku sendiri, biasa dipanggil Nanda. Sebelumnya kami sudah
mencari informasi untuk melakukan sebuah perjalan singkat yang akan menghabiskan banyak
tenaga, dan pada sekitar pertengahan tahun kami akan memulai perjalanan tersebut.
Tidak terasa hari yang ditunggu-tunggu itu pun datang juga. “Dit, nanti malam sudah
siap belum?” tanyaku dengan sangat antusias.
“Santai Nda, aku sudah mempersiapkan dengan sebaik-baiknya.” Kata Adit.
“Oke siap kalau begitu Dit, berarti nanti tinggal berangkat aja nih ya”
Waktu pun sudah tiba sore menjelang malam hari, lebih tepatnya setelah azan maghrib.
Kami pun bergegas untuk berangkat dari rumah masing-masing. Dan sampailah kami di
Bandara Internasional Soekarno-Hatta untuk bersiap-siap check in tiket yang sudah kami
booking.
Setelah menunggu selama kurang lebih 3 jam, nomor penerbangan kami pun dipanggil
untuk segera boarding.
“Dit, ayo kita naik ke pesawat.”
“Ayo lah, mau cepat-cepat sampai aku nih.” Jawab Adit yang tidak kelihatan lelah
menunggu.
Begitu antri dan duduk sesuai nomor yang tertera pada boarding pass, tidak begitu lama
suara mesin pesawat pun terdengar dari dalam kabin, dan itu artinya pesawat akan bersiap-siap
untuk terbang mengangkasa.
Perjalanan akan memakan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk transit di
Denpasar terlebih dahulu, kemudian keesokan harinya akan dilanjutkan kembali penerbangan
ke Labuan Bajo.
“Nda Nda, coba liat ke jendela deh, kayanya kita udah mau mendarat.”
“Iya Dit, berarti kita harus pasang sabuk pengaman lagi nih.”
“Aku juga dari tadi gak buka sabuk pengamannya Nda, ha ha ha.” Jawab Adit dengan
tertawa ringan.
Sampailah kami di pulau Bali, sebelumnya memang kami sudah merencakan juga kalau
transit kali ini akan kita pergunakan waktunya untuk sekedar berjalan-jalan mengelilingi
tempat wisata yang dekat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, mengingat keesokan
paginya kita harus kembali ke bandara untuk melanjutkan perjalanan.

bagus ya ternyata. Bali. “Kita lebih baik kemana nih Nda?” Tanya Adit yang kebingungan. “Jadi begini ya Dit bentuk dan rupa pulau Bali. ha ha ha.. Kamu pusing tidak Nda?” Tanya Adit yang sudah kelelahan. lumayan jauh. “Iya Dit. yaudah yuk kita langsung cari taksi aja kalau begitu. “Pusing juga ya mendengarkan musik dengan volume yang keras di sepanjang jalan tadi itu. Setelah puas berfoto-foto.” Candaku supaya tidak tegang.” “Iya Nda. pasti lebih bagus lagi ketika menjelang matahari terbenam nih. . Kita bisa naik taksi dahulu hingga ke pantai Kuta.” Senangnya hatiku karena baru pertama kali ini mengunjungi pulau Bali.” Aku pun tersenyum sembari membayangkan suasana ketika sore hari menjelang malam di salah satu pantai Bali tersebut. “Akhirnya kita sampai juga di pulau Bali ya Dit. kami pun langsung lanjut ke monumen bom Bali yang bertempat di Legian. yang menurut orang lain pulau Bali ini sungguh menawan. Kita lanjut dengan berfoto-foto untuk mengambil moment yang berlatar belakang monumen tersebut. “Tapi yaa akhirnya terbayarkan juga setelah kita sampai ke monumen bom Bali ini. Toko demi toko kami lewati dengan melihat rute yang diberikan oleh aplikasi Maps tersebut dan karena waktu sudah menunjukan tengah malam. dikanan dan kiri juga banyak terdapat macam diskotik kecil yang suara musiknya yang terdengar keras ditelinga kami. akhirnya. selanjutnya kita berjalan kaki menyusuri Pantai tersebut hingga ke legian. kami berjalan kami menyusuri jalan tersebut.” Adit begitu bersemangat. “Oke Dit. Melewati jalan pintas yang hanya dapat dilalui hanya satu unit mobil.” Jawab ku dengan penuh hela nafas. “Oooh. Sekian lama menunggu taksi yang kami pesan.” Jawab Adit. Adit pun mengangguk senang juga. tempat terdekat itu di wilayah Kuta dan Legian Dit. setelah puas menyusuri pantai Kuta. “Pastinya Dit. aku sudah haus sekali ini sehabis berjalan dari tadi. jangan lupa nanti kita tawar saja argo taksinya. kami pun melanjutkan perjalanan lagi menuju pantai Legian yang jaraknya jika dilihat dari aplikasi Google Maps. otomatis orang yang berlalu lalang pun meninggalkan tempat tersebut untuk beristirahat. Kemudian. “Menurut infomasi yang aku baca.” Jawabku yang sepertinya sok tahu.” Haus pun hilang. ayo sekarang kita istirahat dulu untuk minum air mineral. Banyak orang berlalu lalang di jalan. Kami pun menyusuri pantai Kuta nan indah yang disinari oleh cahaya rembulan. kami pun segera naik ketaksi tersebut dan langsung menuju ke pantai Kuta yang dimaksud..” “Ayo Nda.

dan kami terus berjalan kaki sambil melihat-lihat keadaan sekitar yang berbeda dengan kota Jakarta. Dit.” Aku menjelaskan. Sehingga tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 03:00 WITA. Setelah sampai di sekitar pantai Kuta.” Tanya Adit dengan penuh penasaran. “Lumayan indah juga ya Nda. Tata ruang yang begitu apik ditata sebagus mungkin oleh pemerintah daerah setempat. Sungguh perjalanan singkat yang sungguh mengesankan. “Kok kamu sepertinya lebih tahu.” Kaki sudah berasa pegal. dengan menyusuri garis pantai Legian hingga pantai Kuta dengan berjalan kaki kembali. kita akan sampai dalam waktu sekitar 30 menit lagi nih Dit.” Jawabku dengan rasa lelah. mirip seperti di pantai Kuta. “Berapa lama lagi kita sampe pantai Legian nih. Tidak lama kemudian. jangan lama-lama untuk memperhitungkan perjalanan yang lelah ini. kami tidak lupa untuk mengambil kamera telepon genggam untuk mengabadikan moment di depan Hardrock Cafe. Pada saat itu juga kami memutuskan untuk kembali ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. jadi yaa keindahannya pun kurang lebih sama dengan pantai yang kita kunjungi pertama datang tadi. Dit. masih lama. *** SELESAI *** . Nda? Kan katanya kamu baru pertama kali datang kesini. Malam semakin larut. aku lihat Maps dahulu ya. “Oke Nda. duduk santai di pasir yang lembut sambil memandangi pemandangan yang jarang kami temui di kota besar tempat kami tinggal. Namun beruntunglah kita karena masih ada sinar rembulan yang menyinari pantai dengan cahayanya. Puas berfoto ria.” “Hmm. dan semua jalan-jalannya pun bisa aku ketahui dengan bantuan aplikasi ini. “Kan pantai Legian sama pantai Kuta itu satu garis pantai.” Jawabku menjelaskan lagi. Jadi aku bisa melihat batas-batas wilayah. membuat Legian ini lebih bersih dari pada kota Jakarta. Nda?” Tanya Adit yang begitu sudah tidak sabar ingin melihat pantai Legian. “Sebentar. Dit. kami segera memesan taksi untuk kembali ke Bandara. Kami beristirahat sejenak. namun lambat laun sekitar 30 menit kemudian kita sudah mendengar deburan ombak yang menyeruak ke tepian daratan.” Adit mulai terkesima. kami segera melakukan check in ulang untuk melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo menggunakan pesawat kecil berbaling-baling. mulai terlihatlah pantai Legian tersebut yang sepi dan gelap. ha ha. dan angin yang begitu segar karena kita berdua sudah berkeringat seperti mandi sauna. garis pantainya. “Aku kan lihat di Google Maps. Setelah sesampainya di Bandara.

Related Interests