You are on page 1of 8

Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1, Januari-Juni 2016

Profil penderita mola hidatidosa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou


Manado

1
Tiara V. Paputungan
2
Freddy W.Wagey
2
Rudy A. Lengkong

1
Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
2
Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado
RSUP Prof.Dr.R.D. Kandou Manado
Email: tiaravpaputungan12256@ymail.com

Abstract: Hydatidiform mole or molar pregnancy is characterized histologically by


abnormalities in the chorionic villi consisting of trophoblastic proliferation and swollen
stromal villous. The incidence of hydatidiform mole has increased each year recently. This
study aimed to obtain the profile of patients with hydatidiform mole in Prof. Dr. R. D. Kandou
Hospital Manado period 1 January 31 Desember 2014. This was a descriptive retrospective
study. Data of patients with hydatidiform mole were obtained from the medical record of Prof.
Dr. R. D. Kandou Hospital. The results showed that there were 35 cases of hydatidiform mole
during that period. The most frequent cases were 35 years old (33.3%), senior high school
(77.8%), multiparity (83.3%), hemoglobin level 11 gr/dl (61.1%), size of uterine pregnancy
>20 weeks (58.3%), hyperemesis gravidarum and thyrotoxicosis (54.5%), treated with suction
currettage (88.9%), and -hCG level 5 mIU/ml (53.3%).
Keywords: hydatidiform mole

Abstrak: Mola hidatidosa atau yang disebut dengan kehamilan mola, secara histologis
ditandai oleh abnormalitas vili korionik yang terdiri dari proliferasi trofoblastik dan edema
stroma vilus. Insiden mola hidatidosa setiap tahun mengalami peningkatan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui profil penderita mola hidatidosa di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
Manado periode 1 Januari 31 Desember 2014. Metode penelitian ialah deskriptif retrospektif
dengan menggunakan data penderita mola hidatidosa yang tercatat di rekam medik RSUP
Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Hasil penelitian memperlihatkan 35 kasus mola hidatidosa
dengan distribusi terbanyak pada kelompok umur 35 tahun (33,3%), pendidikan terakhir
tingkat SMA (77,8%), multipara (83,3%), kadar hemoglobin 11 gr/dl (61,1%), besar uterus
sesuai usia kehamilan >20 minggu (58,3%), penyulit hiperemesis gravidarum dan
tirotoksikosis (54,5%), penanganan menggunakan kuretase hisap (88,9%), dan kadar -hCG
5 mIU/ml (53,3%).
Kata kunci: mola hidatidosa

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi lunar atau 9 bulan menurut kalender


Internasional (FIGO), kehamilan didefinisi- internasional.1 Kehamilan normal berakhir
kan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari dengan lahirnya bayi yang cukup bulan
spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dan tidak cacat. Tetapi hal tersebut tidak
dengan nidasi atau implantasi. Bila selalu terjadi. Selain kehamilan normal, di
dihitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya dalam rahim juga dapat berkembang suatu
bayi, kehamilan normal akan berlangsung kehamilan abnormal. Salah satu bentuk
dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan kehamilan abnormal adalah penyakit
215
Paputungan, Wagey, Lengkong: Profil penderita mola...

trofoblas gestasional. Penyakit trofoblas kehamilan.2


gestasional (PTG) merupakan spektrum Mola hidatidosa dianggap sebagai
proliferasi seluler yang berkembang dari penyakit penting di Indonesia. Hal tersebut
trofoblas vili plasenta. Klasifikasi PTG terjadi karena prevalensi mola hidatidosa
meliputi mola hidatidosa dan neoplasia yang cukup tinggi yaitu sekitar 10-20%
trofoblastik gestasional dengan 4 bentuk dapat berkembang menjadi tumor trofoblas
klinikopatologi utama, di antaranya mola gestasional. Insidensi mola hidatidosa di
hidatidosa (komplit dan parsial), mola Indonesia umumnya diambil berdasarkan
invasif, koriokarsinoma, dan tumor data rumah sakit (hospital based). Pada
trofoblas plasenta (PSTT).2 penelitian sebelumnya yang dilakukan di
Penyakit trofoblas gestasional (PTG) RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado
terbagi menjadi lesi benigna (mola pada tahun 2002 ditemukan kasus mola
hidatidosa) dan maligna (koriokarsinoma, hidatidosa 1:123 kehamilan, dan pada
tumor trofoblastik epitelial, dan tumor tahun 2003 ditemukan kasus mola
trofoblastik tempat plasenta). Kejadian hidatidosa 1:245 kehamilan. Sedangkan
penyakit trofoblas gestasional maligna hasil penelitian yang dilakukan di tempat
diawali dengan munculnya lesi benigna yang sama pada tahun 20122013
(mola hidatidosa). Mola hidatidosa atau diperoleh sebanyak 39 kasus mola
yang disebut dengan kehamilan mola, hidatidosa yang didistribusi berdasarkan
secara histologis ditandai oleh abnormalitas kelompok umur, paritas, pendidikan, dan
vili korionik yang terdiri dari proliferasi kadar hemoglobin penderita.6
trofoblastik dan edema stroma vilus. Peningkatan prevalensi mola hidati-
Meskipun biasanya menempati rongga dosa dapat dipengaruhi oleh adanya
uterus, mola kadang-kadang berkembang beberapa faktor risiko seperti, gizi buruk,
sebagai kehamilan ektopik. Derajat riwayat obstetri, etnis dan genetik. Faktor
perubahan jaringan dan ada tidaknya risiko yang menyebabkan terjadinya
elemen janin atau mudigah digunakan kehamilan mola hidatidosa ini menjadi hal
untuk membagi kelainan ini sebagai yang penting untuk diketahui. Terutama
komplit atau parsial.3 Berdasarkan oleh kalangan wanita dengan usia
klasifikasi penyakit trofoblas gestasional predileksi (15-45 tahun) dan multipara.7
yang dibuat oleh World Health Namun, pada kenyataannya pengetahuan
Organization Scientific Group on yang dimiliki oleh masyarakat tentang
Gestational Trophoblastic Disease pada faktor risiko tersebut masih sangat rendah.
tahun 1983, kemudian diperbaharui oleh Penelitian ini bertujuan untuk
International Federation of Gynecology mendapatkan profil penderita mola
and Obstetrics (FIGO) pada tahun 2002 hidatidosa di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou
dan disempurnakan oleh American College Manado pada periode 1 Januari31
of Obstetrics and Gynecology pada tahun Desember 2014.
2004, mola hidatidosa termasuk dalam
PTG lesi molar.4 Klasifikasi
Dari 119 kasus PTG yang dilaporkan Klasifikasi mola hidatidosa menurut
di Provinsi Limpopo Afrika Selatan, Federation International of Gynecology
terdapat 84 (70,6%) kasus dengan mola and Obstetrics (FIGO) terbagi menjadi
hidatidosa, sisanya sebanyak 35 (24,9%) mola hidatidosa komplit dan parsial (PTG
kasus dengan lesi maligna.5 Studi benigna) dan mola invasif (PTG maligna).3
epidemiologi yang dilakukan di Amerika 1. Mola Hidatidosa Komplit: merupakan
Utara, Australia, Selandia Baru, dan Eropa hasil kehamilan tidak normal tanpa
telah menunjukkan kejadian mola adanya embrio-janin, dengan
hidatidosa berkisar 0,57-1,1 per 1000 pembengkakan hidrofik vili plasenta
kehamilan, sedangkan penelitian di Asia dan seringkali memiliki hiperplasia
Tenggara dan Jepang setinggi 2,0 per 1000 trofoblastik pada kedua lapisan.
216
Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1, Januari-Juni 2016

Pembengkakan vili menyebabkan sedangkan gambaran sitogenik pada mola


pembentukan sisterna sentral disertai hidatidosa umumnya dapat berupa X
penekanan jaringan penghubung matur 46.11,12
yang mengalami kerusakan pembuluh
darah. Mola hidatidosa komplit hanya
mengandung DNA paternal sehingga
bersifat androgenetik tanpa adanya
jaringan janin. Hal ini terjadi karena
satu sel sperma membawa kromosom
23X melakukan fertilisasi terhadap sel
telur yang tidak membawa gen
maternal (tidak aktif), kemudian
mengalami duplikasi membentuk
46XY dan 46XX heterozigot. Secara
makroskopik pada kehamilan trimester
dua berbentuk seperti anggur karena
vili korialis mengalami pembengkakan
secara menyeluruh. Pada kehamilan
trimester pertama, vili korialis
mengandung cairan dalam jumlah
lebih sedikit, bercabang, dan
mengandung sinsitiotrofoblas dan
sitotrofoblas hiperplastik dengan
banyak pembuluh darah.4,8
2. Mola Hidatidosa Parsial: merupakan
triploid yang mengandung dua set
kromosom paternal dan satu set
kromosom maternal, tetapi pada
triploid akibat dua set kromosom Gambar 1. Gambaran patologik Mola
maternal tidak menjadi mola Hidatidosa13,14
hidatidosa parsial. Seringkali terdapat
mudigah atau jika ditemukan sel darah Diagnosis dan diagnosis banding
merah berinti pada pembuluh darah Berdasarkan pemeriksaan klinis,
vili.4,9 penyakit trofoblas gestasional dapat
3. Mola Invasif: neoplasia trofoblas dikenali sebagai berikut :
gestasional dengan gejala adanya vili 1. Human Chorionic Gonadotropin
korialis disertai pertumbuhan (HCG) diproduksi oleh proliferasi
berlebihan dan invasi sel-sel trofoblas. trofoblas dan konsentrasi HCG di urin
Jaringan mola invasif melakukan atau serum menunjukkan jumlah dari
penetrasi jauh ke miometrium, kadang- sel trofoblas yang hidup sehingga HCG
kadang melibatkan peritoneum, merupakan penanda unik untuk
parametrium di sekitarnya atau dinding managemen pasien dengan penyakit
vagina. Mola invasif terjadi pada trofoblas gestasional.12 HCG dapat
sekitar 15% pasien pascaevakuasi mola mendukung kehamilan dengan
hidatidosa komplit.4,10 menyediakan progesteron yang
digunakan dalam mempersiapkan
Gambaran histopatologik memperlihat- uterus untuk implantasi janin. HCG
kan trias/khas dari mola yaitu: Proliferasi terdiri dari 145 asam amino subunit
sel-sel epitel trofoblas; degenerasi hidrofik beta dan 92 asama amino subunit
dari stroma villi; dan keterlambatan atau alpha.15
hilangnya pembuluh darah dan stroma
217
Paputungan, Wagey, Lengkong: Profil penderita mola...

2. Proliferasi trofoblas sangat sensitif - Galli Mainini 1/200 (+), maka


terhadap agen kemoterapi, seperti kemungkinan mola hidatidosa atau
metotreksat dan actinomycin.12 kehamilan kembar.
Diagnosis dapat ditegakkan berdasar- 5. Uji Sonde:
kan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan Sonde dimasukkan ke dalam
penunjang, di antaranya sebagai berikut.11 kanalis servikalis secara pelan dan
1. Anamnesis hati-hati, kemudian sonde diputar. Jika
- Perdarahan pervaginam, paling sering tidak ada tahanan, kemungkinan mola.
biasanya terjadi pada usia kehamilan 6. Foto Rontgen Abdomen
6-16 minggu. Tidak terlihat adanya tulang-tulang
- Terdapat gejala hamil muda yang janin (pada kehamilan 3-4 bulan).
sering lebih nyata dari kehamilan biasa 7. Atreriogram khusus pelvis.
(hiperemesis gravidarum) 8. Ultrasonografi
- Keluar jaringan mola seperti buah Pada mola akan terlihat bayangan
anggur atau mata ikan (tidak selalu badai salju dan tidak terlihat janin.
ada) yang merupakan diagnosa pasti.
- Perdarahan bisa sedikit atau banyak, Diagnosis Banding
tidak teratur, berwarna merah Diagnosis banding suatu mola
kecoklatan. hidatidosa ialah: Kehamilan ganda,
- Kadang kala timbul gejala hidramnion, dan abortus.
preeklampsia.
2. Pemeriksaan Fisik Terapi
- Inspeksi: muka dan kadang-kadang Terapi mola hidatidosa terdiri dari 4
badan terlihat pucat kekuning- tahap, yaitu: Perbaiki keadaan umum,
kuningan, yang disebut muka mola pengeluaran jaringan mola, terapi
(mola face). Selain itu, kalau profilaksis dengan sitostatika, dan follow
gelembung mola keluar, dapat terlihat up.
jelas.
- Palpasi: uterus membesar ridak sesuai METODE PENELITIAN
dengan usia kehamilannya, teraba Penelitian ini bersifat deskriptif
lembek. Tidak teraba bagian janin dan retrospektif dengan menggunakan data
ballotement, juga gerakan janin. rekam medik pasien di RSUP Prof.dr.R.D.
Adanya fenomena harmonika, darah Kandou Manado. Subjek penelitian ialah
dan gelembung mola keluar, fundus penderita mola hidatidosa di Bagian/SMF
uteri turun, lalu naik lagi karena Obstetri dan Ginekologi RSUP Prof. dr.
terkumpulnya darah baru. R.D. Kandou Manado selama periode 1
- Auskultasi: tidak terdengar bunyi Januari 31 Desember 2014.
denyut jantung janin, terdengar bising
dan bunyi khas. HASIL DAN BAHASAN
Dalam penelitian yang telah dilakukan
3. Pemeriksaan Dalam pada Desember 2015 di bagian Obstetri dan
Untuk mengetahui apakah terdapat Ginekologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
perdarahan atau jaringan pada kanalis Manado ditemukan 35 kasus mola
servikalis dan vagina. hidatidosa selama periode Januari
4. Pemeriksaan Penunjang Desember 2014. Dari 35 kasus mola
- Uji biologik dan uji imunologik (Galli hidatidosa, hanya 18 kasus yang
Mainini dan Planotest) akan positif mempunyai data lengkap di catatan medik.
setelah pengenceran (titrasi). Data-data dikumpulkan dari catatan rekam
- Galli Mainini 1/300 (+), maka suspek medik kemudian disajikan dalam bentuk
mola hidatidosa. Tabel.
Pada tahun 2014 di bagian Obstetri dan
218
Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1, Januari-Juni 2016

Ginekologi RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Menengah Atas (SMA) yaitu sebanyak 14
Manado ditemukan kasus mola hidatidosa orang. Penderita dengan pendidikan
terbanyak pada kelompok umur 35 tahun terakhir tingkat Sekolah Menengah
yaitu sebanyak 6 kasus. Pada kelompok Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD)
umur 16-20 tahun sebanyak 4 kasus dan sebanyak 2 orang, dan tidak terdapat
pada kelompok umur 30-34 tahun dengan penderita mola hidatidosa dengan
angka kejadian yang sama. Pada kelompok pendidikan terakhir perguruan tinggi.
umur 21-24 tahun dan 25-29 tahun juga
mempunyai angka kejadian yang sama Tabel 2. Distribusi Penderita Mola Hidatidosa
yaitu sebanyak 2 kasus. Pada kelompok berdasarkan Pendidikan
umur 15 tahun tidak terdapat kejadian
mola hidatidosa (Tabel 1). Pendidikan N %
SD 2 11,1
Tabel 1. Distribusi Penderita Mola Hidatidosa SMP 2 11,1
berdasarkan Umur SMA 14 77,8
Perguruan
0 0
Tinggi
Kelompok
N % Total 18 100
Umur
15 0 0
16 20 4 22,2 Berbagai penelitian menunjukkan
21 24 2 11,1 bahwa pendidikan merupakan perlindungan
25 29 2 11,1 untuk kesehatan. Menurut Fred C dan
30 34 4 22,2 Pampel, di negara maju penambahan lama
35 6 33,3 pendidikan satu tahun dapat mengurangi
Total 18 100 angka kematian sekitar 8%. Pellet mengata-
kan satu tahun pendidikan juga dapat
Berdasarkan beberapa penelitian yang meningkatkan pendapatan rata-rata sebesar
telah dilakukan bahwa wanita dengan usia 8% dan dapat mengurangi kematian dua
15-45 tahun merupakan usia predileksi kali lebih besar, baik secara langsung
terjadinya mola hidatidosa.7 Selain itu maupun tidak langsung.16
dikatakan bahwa wanita usia >35 tahun Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa dari
mempuyani risiko 2 kali menderita mola 18 kasus mola hidatidosa pada tahun 2014
hidatidosa dan pada usia >40 tahun yang diteliti berdasarkan jumlah paritas
mempunyai risiko 5-10 kali akan ditemukan paling banyak penderita mola
mengalami kondisi tersebut. Pada hidatidosa pada multipara sebanyak 15
penelitian yang dilakukan oleh Reeder, kasus, sedangkan pada primipara sebanyak
menyatakan bahwa pada wanita yang 3 kasus. Hal tersebut sesuai dengan
berusia >45 tahun memiliki risiko 10 kali kepustakaan yang menyebutkan bahwa
lipat dibanding wanita yang berusia wanita dengan multipara memiliki risiko
diantara 20-40 tahun.10 Hasil penelitian ini menderita mola hidatidosa lebih tinggi
sesuai dengan kepustakaan yang dibandingkan pada primipara.7
menyebutkan bahwa angka kejadian mola
hidatidosa lebih banyak terjadi pada Tabel 3 Distribusi Penderita Mola hidatidosa
kelompok usia >35 tahun dan akan lebih berdasarkan Jumlah Paritas
meningkat risikonya pada wanita usia >40
tahun. Jumlah Paritas N %
Pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa dari Primipara 3 16,7
18 kasus mola hidatidosa di RSUP Prof. dr. Multipara 15 83,3
R.D. Kandou Manado didapatkan penderita Total 18 100
mola hidatidosa paling banyak memiliki
pendidikan terakhir tingkat Sekolah Pada Tabel 4 dapat dilihat bahwa
berdasarkan kadar hemoglobin penderita
219
Paputungan, Wagey, Lengkong: Profil penderita mola...

mola hidatidosa terdapat 11 kasus penderita kuretase hisap sebanyak 16 kasus.


dengan kadar Hb 11 gr/dl. Hal tersebut Tindakan penanganan lain yang dilakukan
merupakan kasus terbanyak. Sedangkan seperti histerektomi totalis dan HTSOB
penderita dengan kadar Hb 11 gr/dl dengan angka kejadian yang sama yaitu
sebanyak 7 kasus. masing-masing sebanyak 1 kasus. Selain
itu, pada beberapa pasien (5 kasus) yang
Tabel 4. Distribusi Penderita Mola Hidatidosa mengalami perdarahan berulang direncana-
berdasarkan Kadar Hemoglobin kan untuk dilakukan kemoterapi. Hasil
penelitian ini sesuai dengan penanganan
Kadar Hb N % mola hidatidosa yang tercantum di Journal
11 gr/dl 11 61,1 of Prenatal Medicine, yang menyatakan
11 gr/dl 7 38,9 bahwa kuretase hisap merupakan tindakan
Total 18 100 yang paling sering dilakukan tanpa
memerhatikan ukuran uterus penderita.
Pada Tabel 5 dilihat bahwa dari 18 Selain itu, histerektomi totalis merupakan
kasus mola hidatidosa di RSUP Prof. dr. pilihan untuk pasien yang tidak memelihara
R.D. Kandou Manado ditemukan penderita fertilitas. Terutama untuk pasien berusia
mola hidatidosa paling banyak memiliki >40 tahun yang memiliki risiko mengalami
besar uterus yang disesuaikan dengan usia penyakit trofoblas gestasional.17
kehamilan >20 minggu yaitu sebanyak 7
kasus, sedangkan pada besar uterus sesuai Tabel 6. Distribusi Penderita Mola Hidatidosa
usia kehamilan <20 minggu sebanyak 5 berdasarkan Penyulit
kasus. Selain itu, sebanyak 6 kasus tidak
tercantum di catatan medik pasien. Penyulit N %
Hiperemesis
4 36,4
Tabel 5. Distribusi Penderita Mola Hidatidosa Gravidarum
berdasarkan Besar Uterus sesuai Usia Tirotoksikosis 1 9,1
Kehamilan HG + Tirotoksikosis 6 54,5
Total 11 100
Besar Uterus N % Ket : HG ( Hiperemesis Gravidarum)
< 20 minggu 5 41,7
> 20 minggu 7 58,3
Total 12 100 Tabel 7. Distribusi Penderita Mola Hidatidosa
berdasarkan Tindakan Penanganan
Pada Tabel 6 dapat dilihat berdasarkan
Tindakan Penanganan N %
faktor penyulit mola hidatidosa didapatkan
Kuretase Hisap 16 88,9
bahwa penderita mola hidatidosa paling
Histerektomi totalis 1 5,6
banyak mengalami hiperemesis gravidarum HTSOB 1 5,6
dan tirotoksikosis (berdasarkan gejala Total 18 100
klinis dan pemeriksaan laboratorium ) yaitu
sebanyak 6 kasus. Penderita yang Pada Tabel 8 dilihat bahwa dari 18
mengalami hiperemesis gravidarum saja kasus mola hidatidosa pada tahun 2014 di
sebanyak 4 kasus, dan yang mengalami RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou Manado yang
tirotoksikosis saja sebanyak 1 kasus, dinilai berdasarkan kadar -hCG, ditemu-
sedangkan pada 7 kasus tidak tercantum di kan kasus terbanyak dengan kadar -hCG
catatan medik pasien. >5 mIU/ml terdapat pada 8 penderita. Pada
Pada Tabel 7 dapat dilihat dari 18 kadar -hCG <5 mIU/ml terdapat pada 7
penderita mola hidatidosa di RSUP Prof. penderita. Sedangkan pada 3 kasus
Dr. R. D. Kandou Manado ditemukan penderita mola hidatidosa tidak dilakukan
bahwa penanganan terbanyak yang pemeriksaan kadar -hCG.
dilakukan yaitu dengan menggunakan
220
Jurnal e-Clinic (eCl), Volume 4, Nomor 1, Januari-Juni 2016

Tabel 8. Distribusi Penderita Mola Hidatidosa clinical presentation and diagnosis of


berdasarkan Kadar -HCG gestational trophoblastic disease and
management of hydatidiform mole.
Kadar -hCG N % American Journal of Obstetric &
< 5 mIU/ml 7 46,7 Gynecology. 2010;203:531-9.
> 5 mIU/ml 8 53,3 3. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL,
Total 15 100 Hauth JC, Rouse DJ, Spong CY.
Obstetri Williams Volume 1 (23rd
SIMPULAN ed). Jakarta: EGC, 2013; p.271-6.
4. Rauf S, Riu DS, Sunarno I. Gangguan
Dari hasil penelitian dan bahasan dapat
Bersangkutan Dengan Konsepsi. In:
disimpulkan bahwa dari 35 kasus mola Anwar M, Baziad A, Prabowo RP,
hidatidosa, distribusi terbanyak terdapat suntingan. Ilmu Kandungan (3rd ed).
pada kelompok umur 35 tahun, Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono
pendidikan terakhir tingkat SMA, Prawirohardjo, 2011; p. 208-13.
multipara, penderita dengan kadar 5. Bogaert LJJV. Clinicopathologic Features
hemoglobin 11 gr/dl, besar uterus sesuai of Gestational Trophoblastic
usia kehamilan >20 minggu, penyulit Neoplasia in the Limpopo Province,
hiperemesis gravidarum dan tirotoksikosis, South Africa. International Journal of
tindakan penanganan yang dilakukan yaitu Gynecological Cancer. 2013;23:583-
kuretase hisap, dan kadar -hCG 5 5.
6. Damongilala S, Tendean HMM, Loho M.
mIU/ml.
Profil Mola Hidatidosa Di BLU
RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou
SARAN Manado. Jurnal e-Clinic. 2015;3:683-
1. Untuk menurunkan risiko menderita 6.
mola hidatidosa, pengetahuan tentang 7. Martaadisoebrata D. Mola hidatidosa. In:
faktor risiko dan gejala-gejala mola Buku Pedoman Pengelolaan Penyakit
hidatidosa perlu diketahui oleh setiap Trofoblas Gestasional. Jakarta: EGC,
wanita terutama yang termasuk dalam 2005; p. 7-41.
faktor predileksi. 8. Schorge JO, Schaffer JI, Halvorson LM,
2. Penderita yang memiliki gejala-gejala Hoffman BL, Bradshaw KG,
seperti mola hidatidosa sebaiknya Cunningham FG. Gestational
Trophoblastic Disease. In: Loeb M,
memeriksakan diri di Poliklinik Obstetri
Davis K, editors. William
dan Ginekologi atau di dokter praktek Gynecology. New York: McGraw-
klinik. Hill, 2008; p. 755-69.
3. Pengisian data yang lengkap dan jelas 9. Vassilakos P. Pathology of Molar
akan sangat membantu dalam penelitian Pregnancy. 2015 July 11 [cited 2015
selanjutnya dan dalam pemantauan ep 25]. Available from:
faktor predisposisi penyakit, sehingga http://www.gfmer.ch/Books/Reprodu
diharapkan kerjasama antara petugas ctive_health/Mole.html
medis dan petugas registrasi di tempat 10. Berkowitz RS, Goldstein DP. Gestational
penyimpanan data pasien. Trophoblastic Disease. In: Berek
JS,editors. Berek & Novaks
Gynecology. Philadelphia: Lippincott
DAFTAR PUSTAKA
Williams & Wilkins, 2007; p. 1581-
1. Andriaansz G, Hanafiah TM. Diagnosis
603.
Kehamilan. In: Saifuddin AB,
11. Mochtar R. Sinopsis Obstetri Jilid 1.
Rachimhadhi T, Wiknjosastro GH,
Jakarta: EGC, 2013; p. 167-70.
suntingan. Ilmu Kebidanan Sarwono
12. Medical Advisor Guidelines. Hydatidiform
Prawirohardjo (4th ed). Jakarta: PT
mole. 1991-2015 [cited 2015 Sep 25].
Bina Pustaka Sarwono
Available from:
Prawirohardjo, 2010; p. 213.
http://www.mdguidelines.com/hydati
2. Lurain JR. Gestational trophoblastic
diform-mole
disease 1: epidemiology, pathology,
221
Paputungan, Wagey, Lengkong: Profil penderita mola...

13. Anonim. [cited 2015 Okt 20]. Available: antara tingkat pendidikan,
http://www.mdguidelines.com/images pengetahuan tentang kesehatan
/Illustrations/hyda_mol.jpg lingkungan, perilaku hidup sehat
14. Imaging: sonogram transpelvic transversa dengan status kesehatan studi korelasi
pada mola parsial pada penduduk umur 1024 tahun di
15. Farinde A. Human Chorionic Gonadotropin jakarta pusat. Buletin Penelitian
(hCG). In: Staros AB, editor. 2014 Sistem Kesehatan. 2014;17(1):92.
Des 5 [cited 2015 Nov 8]. Available 17. Cavaliere A, Ermito S, Dinatale A,
from: Pedata R. Management of molar
http://enedicine.medscape.com/article pregnancy. Journal of Prenatal
/2089158-overview#a3 Medicine. 2009;3(1):15-7.
16. Pradono J, Sulistyowati N. Hubungan

222