PRESENTASI KASUS BEDAH

“ LUKA BAKAR ”

Disusun oleh
dr. Tri wahyuningsih

Narasumber
dr. Andrew Jackson, SpB

RSUD BUDHI ASIH

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA

( Periode 12 Februari 2015 – 11 Februari 2016)

1

BAB I
ILUSTRASI KASUS
A. Identitas
• Nama : An. A S
• Nomor RM : 01004888
• Usia : 1 Tahun 5 Bulan
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Agama : Islam
• Alamat : Jl. Cikoko Barat Dalam No. 29 Jakarta Selatan
• Pekerjaan Orang tua :
Ayah : Pegawai Swasta Ibu : Ibu Rumah Tangga
• Pembayaran : BPJS
• Tanggal masuk : 29 November 2015
B. Anamnesis
Keluhan utama
Luka bakar pada dada, punggung dan leher sejak ± 1 jam SMRS.
Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang diantar oleh kedua orang tua dengan keluhan luka bakar yang dialami
sejak satu jam sebelum masuk rumah sakit. Luka bakar terjadi pada saat ayah pasien
sedang memanaskan sayur didapur. Saat itu pasien berada di belakang ayah pasien
dan menabrak ayah pasien yang sedang membawa sayur panas dan pasien tersiram
sayur yang baru saja mendidih. sesak nafas (-), terbentur kepala (-), pingsan (-),
pusing (-), mual (-), muntah (-).
Riwayat pengobatan
Pasien sebelumnya telah dibawa oleh orang tua pasien ke RS TRIADIPA, pasien
diberikan salep bermazine pada luka bakarnya, karena permasalahan BPJS pasien
akhirnya di rujuk ke IGD RSUD Budhi Asih.
Riwayat kesehatan / penyakit
Pasien tidak pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, asma, alergi, dan penyakit jantung
dalam keluarga disangkal.

2

sonor. sklera tidak ikterik. GCS: 15 Secondary survey BB : 10 kg status gizi : baik Kepala & wajah : status lokalis Mata : edema (-). oedema (-). datar. murmur (-).50 C D : kesadaran composmentis. dan lengan. reguler C : Akral hangat. RCTL +/+ Leher : status lokalis THT : sekret (-) Dada : status lokalis. suhu 36. konjungtiva tidak pucat. supel. Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum: tampak sakit sedang Primary survey A : Bebas. akral teraba hangat (+). bulu hidung tidak terbakar B : Spontan. Lund and browder burn chart Leher : 2% Lengan kiri atas : 4% Lengan kiri bawah : 1 % Badan depan : 7% Badan Belakang : 6% + 20% 3 . pupil isokor.C. CRT < 2”. Status Lokalis : Tampak Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis namun masih terdapat epitel vital disertai adanya bula yang berisi cairan eksudat pada leher. dada. bising usus normal Genitalia : dalam batas normal Ekstrimitas : status lokalis. RCL +/+. punggung. ronkhi (-). frekuensi nadi 120x/menit. wheezing (-) Abdomen : status lokalis. gallop (-) Paru : SN vesikuler. simetris dalam diam dan pergerakan Jantung : BJ I-II reguler. frekuensi nafas 24x/menit.

4 g/dl GDS : 117 mg/dl Elektrolit Serum Na : 139 mmol/L K : 3. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium (29 November 2015) Darah rutin : Hb : 11.D. Derajat II 4 .8 g/dl Ht : 38 % Leukosit : 16.6 ribu/μl Trombosit : 487.000 ribu/μl Eritrosit : 4.0 Fl MCH : 24.7 juta/μl MCV : 77.5 mmol/L Cl : 106 mmol/L E. Diagnosis Kerja Luka Bakar 20%.8 pg MCHC : 32.

Paracetamol drip 4 x 150 mg kesakitan Suhu: 36. Tatalaksana . cefotaxime 3 x 200 mg St. Cuci luka dengan NaCl 0. derajat .400 cc dalam 16 jam berikutnya  25 tpm (mikro ) .Rawat luka dengan Mebo ointmen 31/11/15 Anak tampak Nadi: 112 x/mnt Luka bakar Terapi lanjut lebih tenang RR: 22 x/mnt 20 %. Cek ABC .5oC II . Lokalis: luka dibalut perban 01/12/15 S:. Injeksi ATS ½ ampul . Lokalis: luka . Nadi: 112 x/mnt Luka bakar Terapi lanjut 5 . Drip paracetamol 4 x 150 mg .Inj. Injeksi cefotaxime 3 x 200 mg (skin test) . . Rawat inap H. Resusitasi cairan dengan menggunakan rumus Baxter : = 4cc x 10kg x 20% = 800 cc (IVFD Asering 400cc dalam 7 jam pertama  57 tpm (mikro) .5oC II St.9 % kemudian pengolesan luka dengan salep mebo dan menutup luka dengan kassa steril.Mandi detol dibalut perban .G. derajat Suhu: 36. Prognosis ad vitam : ad bonam ad fungsionam : ad bonam ad sanationam : ad bonam follow up Tanggal S O A P 30/11/15 Anak masih Nadi: 110 x/mnt Luka bakar .Terapi resusitasi lanjut tampak RR: 24 x/mnt 20 %.

RR: 22 x/mnt 20 %. Nadi: 112 x/mnt Luka bakar Terapi lanjut RR: 22 x/mnt 20 %. Lokalis: luka dibalut perban Tanggal 02/12/15 6 . derajat Besok BLPL Suhu: 36. derajat Suhu: 36.5oC II St.0oC II St. Nadi: 112 x/mnt Luka bakar Terapi lanjut RR: 22 x/mnt 20 %. Lokalis: 03/12/15 S:.5oC II St. Lokalis: luka dibalut perban 02/12/15 S:. derajat Suhu: 37.

dalam satu tahun. Data MKI (Masyarakat Konsumen Indonesia) ledakan tabung gas 3 kg selama Januari 2008 sampai Mei 2010 sebanyak 10.789 kasus kebakaran di Jakarta Barat. dan radiasi. 156 kebakaran terjadi di Jakarta Timur. ETIOLOGI Luka bakar berdasarkan penyebab dibedakan atas:  Luka bakar karena api  Luka bakar karena air panas  Luka bakar karena listrik dan petir  Luka bakar karena bahan kimia ( yang bersifat asam atau basa kuat )  Luka bakar karena radiasi  Cedera akibat suhu sangat rendah ( frost bite ) 7 . 2. bahan kimia. kasus luka bakar terus meningkat.654 kebakaran di Jakata Selatan. EPIDEMIOLOGI Di rumah sakit anak di Inggris. BAB II TINJAUAN PUSTAKA PENDAHULUAN Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau hilangnya jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api. Sedangkan di Indonesia sejak digulirkan program pemerintah tentang konversi minyak tanah ke tabung gas elpiji 3 kg. 1738 kebakaran di Jakarta Pusat.000 pasien luka bakar dimana 6400 diantaranya masuk ke perawatan khusus luka bakar. terdapat sekitar 50.237 anak di bawah 5 tahun mendapat perawatan di gawat darurat di 100 rumah sakit di Amerika. listrik. Luka bakar merupakan salah satu jenis trauma yang mempunyai angka morbiditas dan mortalitas tinggi yang memerlukan penatalaksanaan khusus sejak awal (fase syok ) sampai fase lanjut. Tahun 1997-2002 terdapat 17. 2. air panas.000 kasus kebakaran terjadi di Jakarta Utara. Jumlah kasus pada anak sering berhubungan dengan kekerasan pada anak. Dari jumlah kasus kebakaran tersebut pastinya akan banyak lagi korban luka bakar dengan mencakup dari berbagai jenis usia dan tingkat keparahan luka bakar.

8 . kerusakan jaringan akibat bahan yang bersifat koloid (misalnya bubur panas) lebih berat dibandingkan air panas. adekuasi resusitasi. Pada luka bakar yang disebabkan oleh bahan kimia terutama asam menyebabkan kerusakan yang hebat akibat reaksi jaringan sehingga terjadi diskonfigurasi jaringan yang menyebabkan gangguan proses penyembuhan. lamanya pajanan suhu tinggi. minuman panas atau makanan panas. Luka biasanya tampak sebagai eritema dan timbul dengan keluhan nyeri dan atau hipersensitivitas lokal. Mayoritas dari luka bakar pada anak-anak terjadi di rumah dan sebagian besar dapat dicegah. lalu menjadi lengket sehingga memperberat kedalaman luka bakar.7% disebabkan oleh air panas atau uap panas (scald). Dapur dan ruang makan merupakan daerah yang seringkali menjadi lokasi terjadinya luka bakar. Kedalaman luka bakar dideskripsikan dalam derajat luka bakar. Luka bakar derajat I biasanya sembuh dalam 5-7 hari dan dapat sembuh secara sempurna. menarik taplak dimana di atasnya terdapat air panas. KLASIFIKASI LUKA BAKAR Kedalaman luka bakar ditentukan oleh tinggi suhu. Anak yang memegang oven. Luka bakar akibat ledakan juga menyebabkan kerusakan organ dalam akibat daya ledak (eksplosif). baju yang ikut terbakar juga memperdalam luka bakar. II. Bahan sintetis seperti nilon dan dakron. selain mudah terbakar juga mudah meleleh oleh suhu tinggi. Luka bakar pada anak 65. dan adanya infeksi pada luka. Selain api yang langsung menjilat tubuh. Kerusakan jaringan disebabkan oleh api lebih berat dibandingkan dengan air panas. yaitu luka bakar derajat I. Contoh luka bakar derajat I adalah sunburn. atau III: Derajat I Pajanan hanya merusak epidermis sehingga masih menyisakan banyak jaringan untuk dapat melakukan regenerasi. Bahan baju yang paling aman adalah yang terbuat dari bulu domba (wol).

kelenjar keringat. Jaringan tersebut misalnya sel epitel basal. karena pada dasarnya seluruh jaringan kulit yang memiliki persarafan sudah tidak intak. dan pangkal rambut.Derajat II Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis namun masih terdapat epitel vital yang bisa menjadi dasar regenerasi dan epitelisasi. 9 . Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari satu bulan. • Derajat II dangkal/superficial (IIA) Kerusakan mengenai bagian epidermis dan lapisan atas dari dermis. dan kelenjar sebasea tinggal sedikit. sehingga untuk menumbuhkan kembali jaringan kulit harus dilakukan cangkok kulit. Penyembuhan terjadi lebih lama dan disertai parut hipertrofi. Gejala yang menyertai justru tanpa nyeri maupun bula. Organ-organ kulit seperti folikel rambut. dari subkutis hingga mungkin organ atau jaringan yang lebih dalam. Apabila luka bakar derajat II yang dalam tidak ditangani dengan baik. Pada keadaan ini tidak tersisa jaringan epitel yang dapat menjadi dasar regenerasi sel spontan. kelenjar sebasea. Dengan adanya jaringan yang masih “sehat” tersebut. sehingga cedera berkembang menjadi full-thickness burn atau luka bakar derajat III. dapat timbul edema dan penurunan aliran darah di jaringan. kelenjar keringat. Gambaran luka bakar berupa gelembung atau bula yang berisi cairan eksudat dari pembuluh darah karena perubahan permeabilitas dindingnya. kelenjar keringat. Penyembuhan terjadi secara spontan dalam waktu 10-14 hari tanpa terbentuk sikatriks. disertai rasa nyeri. Derajat III Mengenai seluruh lapisan kulit. luka dapat sembuh dalam 2-3 minggu. Organ-organ kulit seperti folikel rambut. • Derajat II dalam/deep (IIB) Kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis dan sisa-sisa jaringan epitel tinggal sedikit. dan kelenjar sebasea masih banyak.

Jaringan lunak tubuh akan terbakar bila terpapar pada suhu di atas 46oC. Rumus ini membantu menaksir luasnya permukaan tubuh yang terbakar pada orang dewasa. Luka bakar menyebabkan koagulasi jaringan lunak. dan letak luka. dan penanganannya juga akan semakin kompleks. Luas telapak tangan individu mewakili 1% luas permukaan tubuh. punggung. permeabilitas kapiler juga meningkat. yaitu:  Estimasi luas luka bakar menggunakan luas permukaan palmar pasien.Berat dan Luas Luka Bakar Berat luka bakar bergantung pada dalam. Luka bakar juga menyebabkan peningkatan laju metabolik dan energi metabolisme. dada. ekstremitas atas kanan. Luas luka bakar hanya dihitung pada pasien dengan derajat luka II atau III.  Pada anak dan bayi digunakan rumus lain karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. tungkai dan kaki kanan. Ada beberapa metode cepat untuk menentukan luas luka bakar. serta tungkai dan kaki kiri masing-masing 9%. Karena perbandingan luas permukaan bagian tubuh anak kecil berbeda. dikenal rumus 10 untuk bayi. Sisanya1% adalah daerah genitalia. Adanya trauma inhalasi juga akan mempengaruhi berat luka bakar. Semakin luas permukaan tubuh yang terlibat. ekstremitas atas kiri. Usia dan kesehatan pasien sebelumnya akan sangat mempengaruhi prognosis. Luas luka bakar dinyatakan dalam persen terhadap luas seluruh tubuh. yaitu luas kepala dan leher. dan viskositas plasma meningkat dengan resultan pembentukan mikrotrombus. luas. morbiditas dan mortalitasnya meningkat. 10 . Hilangnya cairan dapat menyebabkan hipovolemi dan syok. paha kanan.  Rumus 9 atau rule of nine untuk orang dewasa (Wallace’s rule of nines)  Pada dewasa digunakan ‘rumus 9’. Seiring dengan peningkatan suhu jaringan lunak. pinggang dan bokong. paha kiri. tergantung banyaknya cairan yang hilang dan respon terhadap resusitasi. dan rumus 10-15-20 untuk anak. Luasnya kerusakan akan ditentukan oleh suhu permukaan dan lamanya kontak. terjadi kehilangan cairan.

Metode ini digunakan untuk estimasi besarnya luas permukaan pada anak. Apabila tidak tersedia tabel tersebut. 11 . tambahkan 0.  Untuk tiap pertambahan usia 1 tahun.Metode Lund dan Browder Metode yang diperkenalkan untuk kompensasi besarnya porsi massa tubuh di kepala pada anak. perkiraan luas permukaan tubuh pada anak dapat menggunakan ‘Rumus 9’ dan disesuaikan dengan usia:  Pada anak di bawah usia 1 tahun: kepala 18% dan tiap tungkai 14%. Torso dan lengan persentasenya sama dengan dewasa.5% untuk tiap tungkai dan turunkan persentasi kepala sebesar 1% hingga tercapai nilai dewasa.

Ada cedera jalan nafas (trauma inhalasi) tanpa memperhitungkan luas luka bakar e. PEMBAGIAN LUKA BAKAR 1. tangan. kaki. Disertai trauma lainnya g. Derajat II-III >20% pada pasien berusia dibawah 10 tahun atau di atas 50 tahun b. Luka bakar sedang (moderate burn) a. Derajat II-III > 25 % pada kelompok usia selain disebutkan pada butir pertama c. dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 % 12 . Pasien-pasien dengan resiko tinggi 2. telinga. Luka bakar dengan luas 15 – 25 % pada dewasa. dengan luka bakar derajat III kurang dari 10 % b. Luka bakar pada muka. Luka bakar berat (major burn) a. dan perineum d. Luka bakar listrik tegangan tinggi f.Lund and Browder chart illustrating the method for calculating the percentage of body surface area affected by burns in children. Luka bakar dengan luas 10 – 20 % pada anak usia < 10 tahun atau dewasa > 40 tahun.

biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya. Luka bakar dengan derajat III < 10 % pada anak maupun dewasa yang tidak mengenai muka. pusing. Pembengkakan terjadi pelan-pelan. Pada kebakaran ruang tertutup atau bila luka terjadi di wajah. seperti gelisah. tangan. Luka bakar dengan luas < 2 % pada segala usia (tidak mengenai muka. tekanan darah menurun dan produksi urin yang berkurang. Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun lainnya. dingin. dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas. nadi kecil dan cepat. Luka bakar dengan luas < 15 % pada dewasa b. c. dan perineum 3. dan perineum PATOFISIOLOGI Akibat pertama luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. CO akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. maksimal terjadi setelah delapan jam. suara serak dan dahak berwarna gelap akibat jelaga. Tanda keracunan ringan adalah lemas. tangan. Edema laring yang ditimbulkannya dapat menyebabkan hambatan jalan napas dengan gejala sesak napas. akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas. takipnea. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan edema dan menimbulkan bula yang mengandung banyak elektrolit. asap atau uap panas yang terisap. Pada keracunan yang berat terjadi koma. 13 . pucat. kaki. masuknya cairan ke bula yang terbentuk pada luka bakar derajat II. Bila lebih dari 60% hemoglobin terikat CO. penderita dapat meninggal. Luka bakar ringan a. mual dan muntah. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan akibat penguapan yang berlebihan. dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat III. berkeringat. Bila luas luka bakar kurang dari 20%. kaki. stridor. Hal itu menyebabkan berkurangnya volume cairan intravaskuler. bingung. Luka bakar dengan luas < 10 % pada anak dan usia lanjut c. Sel darah yang ada di dalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. tetapi bila lebih dari 20%.

juga dari kontaminasi kuman saluran napas atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis. Bila penyebabnya kuman Gram positif. Kuman memproduksi enzim penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan granulasi membentuk nanah. yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman. Luka bakar demikian disebut luka bakar septik. terkenal sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Ini ditandai dengan meningkatnya diuresis. Padahal. selain berasal dari dari kulit penderita sendiri. Infeksi kuman menimbulkan vaskulitis pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar dan menimbulkan trombosis sehingga jaringan yang didarahinya nanti. Syok sepsis dan kematian dapat terjadi karena toksin kuman yang menyebar di darah. Pada awalnya. Infeksi pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Bila luka bakar dibiopsi dan eksudatnya dibiak. akibatnya. seperti stafilokokus atau basil Gram negatif lainnya. Infeksi nosokomial ini biasanya sangat berbahaya karena kumannya banyak yang sudah resisten terhadap berbagai antibiotik. biasanya ditemukan kuman dan terlihat invasi kuman tersebut ke jaringan sekelilingnya. Setelah 12-24 jam. tetapi kemudian dapat terjadi invasi kuman Gram negatif. Kuman penyebab infeksi pada luka bakar. Kontaminasi pada kulit mati. pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau antibiotik. 14 . Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease dari toksin lain yang berbahaya. dapat terjadi penyebaran kuman lewat darah (bakteremia) yang dapat menimbulkan fokus infeksi di usus. Infeksi yang invasif ditandai dengan keropeng yang kering dengan perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menadi nekrotik. permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi serta penyerapan kembali cairan edema ke pembuluh darah. luka bakar yang mula-mula derajat II menjadi derajat III. infeksi biasanya disebabkan oleh kokus Gram positif yang berasal dari kulit sendiri atau dari saluran napas. Infeksi ringan dan noninvasif ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas dengan nanah yang banyak. Luka bakar sering tidak steril.

fase akut. Dengan demikian. masalah utama berkisar pada gangguan yang terjadi pada saluran nafas yaitu gangguan mekanisme bernafas. yaitu: Fase awal. Fase Pada Luka Bakar Dalam perjalanan penyakit. Bila penderita dapat mengatasi infeksi. Tenaga yang diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari pembakaran protein dari otot skelet. dapat dibedakan menjadi tiga fase pada luka bakar. evaluasi 15 . dan gangguan sirkulasi seperti keseimbangan cairan elektrolit. Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme sehingga keseimbangan protein menjadi negatif. kaku dan secara estetik jelek. penderita menjadi sangat kurus. sel basal. Oleh karena itu. Pada fase akut. gatal. syok hipovolemia. penderita mungkin mengalami beban kejiwaan berat. hal ini dikarenakan adanya eskar melingkar di dada atau trauma multipel di rongga toraks. Luka bakar derajat III yang dibiarkan sembuh sendiri akan mengalami kontraktur. Jadi prognosis luka bakar ditentukan oleh luasnya luka bakar. Penyembuhan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang masih vital. Luka bakar derajat II yang dalam mungkin meninggalkan parut hipertrofik yang nyeri. korban luka bakar menderita penyakit berat yang disebut penyakit luka bakar. Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. peristalsis usus menurun atau berhenti karena syok. Bila luka bakar menyebabkan cacat. dan berat badan menurun. Yang bisa dilakukan pada fase ini adalah: menghindarkan pasien dari sumber penyebab luka bakar. misalnya sel kelenjar sebasea. Stres atau badan faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat menyebabkan terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama dengan gejala tukak peptik. otot mengecil. sedangkan pada fase mobilisasi. fase syok Pada fase ini. Kelainan ini dikenal sebagai tukak Curling. fungsi sendi dapat berkurang atau hilang. peristalsis dapat menurun karena kekurangan ion kalium. terutama bila luka mengenai wajah sehingga rusak berat. luka bakar derajat II dapat sembuh dengan meninggalkan cacat berupa parut. metabolisme tinggi dan infeksi. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi. atau sel pangkal rambut. Bila terjadi di persendian. sel kelenjar keringat. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerluka kalori tambahan.

ABC. periksa apakah terdapat trauma lain. Zona hiperemi Merupakan daerah di luar zona statis. pemeriksaan tanda vital dan laboratorium. zona nekrosis Merupakan daerah yang langsung mengalami kerusakan (koagulasi protein) akibat pengaruh cedera termis. resusitasi cairan. fase sub akut Masalah utama pada fase ini adalah Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS) dan Multi-system Organ Dysfunction Syndrome (MODS) dan sepsis. Proses ini berlangsung selama 12-24 jam pasca cedera dan mungkin berakhir dengan nekrosis jaringan. Zona statis Merupakan daerah yang langsung berada di luar/di sekitar zona koagulasi. hampir dapat dipastikan jaringan ini mengalami nekrosis beberapa saat setelah kontak. Tergantung keadaan umum dan 16 . pemasangan kateter urine. Masalah yang dihadapi adalah penyulit dari luka bakar seperti parut hipertrofik. Fase setelah syok berakhir. pemberian antibiotik dan perawatan luka. Hal ini merupakan dampak dan atau perkembangan masalah yang timbul pada fase pertama dan masalah yang bermula dari kerusakan jaringan (luka dan sepsis luka) Fase lanjut Fase ini berlangsung setelah penutupan luka sampai terjadinya maturasi jaringan. diikuti perubahan permeabilitas kapilar dan respon inflamasi lokal. manajemen nyeri. profilaksis tetanus. Di daerah ini terjadi kerusakan endotel pembuluh darah disertai kerusakan trombosit dan leukosit. sehingga terjadi gangguam perfusi (no flow phenomena). kontraktur dan deformitas lain yang terjadi akibat kerapuhan jaringan atau struktur tertentu akibat proses inflamasi yang hebat dan berlangsung lama Pembagian zona kerusakan jaringan: Zona koagulasi. Oleh karena itulah disebut juga sebagai zona nekrosis. ikut mengalami reaksi berupa vasodilatasi tanpa banyak melibatkan reaksi selular. pemsangan NGT.

 Clothing : singkirkan semua pakaian yang panas atau terbakar. genitalia. atau berubah menjadi zona kedua bahkan zona pertama. listrik. terutama pada anak dan orang tua).  Cooling :  Dinginkan daerah yang terkena luka bakar dengan menggunakan airdingin yang mengalir selama 20 menit. seorang pasien diindikasikan dirawat inap bila:  Luka bakar derajat III > 5%  Luka bakar derajat II > 10%  Luka bakar derajat II atau III yang melibatkan area kritis (wajah. zona ketiga dapat mengalami penyembuhan spontan. chemoprophylaxis. adanya trauma mayor lainnya. hindari hipotermia (penurunan suhu di bawah normal. terapi yang diberikan. baru selanjutnya dilakukan pada fasilitas kesehatan. Indikasi Rawat Inap Pada Pasien Luka Bakar Menurut American Burn Association. petir. kaki. kulit di atas sendi utama)  risiko signifikan untuk masalah kosmetik dan kecacatan fungsi  Luka bakar sirkumferensial di thoraks atau ekstremitas  Luka bakar signifikan akibat bahan kimia. covering and comforting (contoh pengurang nyeri). perineum. tangan. Untuk pertolongan pertama dapat dilakukan langkah clothing dan cooling. cooling. cleaning. Cara ini efektif sampai dengan 3 jam setelah kejadian luka bakar  Kompres dengan air dingin (air sering diganti agar efektif tetap memberikan rasa dingin) sebagai analgesia (penghilang rasa nyeri) untuk luka yang terlokalisasi 17 . atau adanya kondisi medik signifikan yang telah ada sebelumnya  Adanya trauma inhalasi PENATALAKSANAAN Secara sistematik dapat dilakukan 6c : clothing. Bahan pakaian yang menempel dan tak dapat dilepaskan maka dibiarkan untuk sampai pada fase cleaning.

1mg/kg diberikan dengan dosis titrasi bolus . Morphine (IV-intra vena) 0.  Jangan pergunakan es karena es menyebabkan pembuluh darah mengkerut (vasokonstriksi) sehingga justru akan memperberat derajat luka dan risiko hipotermia  Untuk luka bakar karena zat kimia dan luka bakar di daerah mata.  Comforting : dapat dilakukan pemberian pengurang rasa nyeri.M-intramuskular) 0.  Covering : penutupan luka bakar dengan kassa. Dengan membuang jaringan yang sudah mati. Luka bakar superfisial tidak perlu ditutup dengan kasa atau bahan lainnya.2mg/kg  Selanjutnya pertolongan diarahkan untuk mengawasi tanda-tanda bahaya dari ABC (Airway.  Chemoprophylaxis : pemberian anti tetanus. akan menghambat penyembuhan dan meningkatkan risiko infeksi. Pemberian krim silver sulvadiazin untuk penanganan infeksi. dapat diberikan kecuali pada luka bakar superfisial. Jangan berikan mentega. proses penyembuhan akan lebih cepat dan risiko infeksi berkurang.  Cleaning : pembersihan luka tergantung dari derajat berat luka bakar. Paracetamol dan codein (PO-per oral). perempuan hamil.20-30mg/kg . minyak. dapat diberikan pada luka yang lebih dalam dari superficial partial thickness. riwayat alergi sulfa. Morphine (I. Breathing.  Dapat diberikan penghilang nyeri berupa : . Dilakukan sesuai dengan derajat luka bakar. 18 . Circulation). maka singkirkan terlebih dahulu dari kulit baru disiram air yang mengalir. kriteria minor cukup dilakukan dengan zat anastesi lokal. siram dengan air mengalir yang banyak selama 15 menit atau lebih. sedangkan untuk kriteria moderate sampai major dilakukan dengan anastesi umum di ruang operasi untuk mengurangi rasa sakit. ibu menyusui dengan bayi kurang dari 2 bulan. Tidak boleh diberikan pada wajah. bayi baru lahir. oli atau larutan lainnya. Bila penyebab luka bakar berupa bubuk. Pembalutan luka (yang dilakukan setelah pendinginan) bertujuan untuk mengurangi pengeluaran panas yang terjadi akibat hilangnya lapisan kulit akibat luka bakar.

suara serak. Bila kurang dari itu dapat diberikan cairan melalui mulut. Jumlah cairan yang diberikan berdasarkan formula dari Parkland : [3-4 cc x berat badan (kg) x %TBSA] + cairan rumatan (maintenance per 24 jam). 2cc/kgBB dalam 10 kg ke 2 (11-20kg) dan 1cc/kgBB untuk tiap kg diatas 20 kg. bengkak pada wajah. Cairan formula parkland (3-4ccx kgBB x %TBSA) diberikan setengahnya dalam 8 jam pertama dan setengah sisanya dalam 16 jam berikutnya. Pengawasan kecukupan cairan yang diberikan dapat dilihat dari produksi urin yaitu 0. 19 . Kristaloid dengan dekstrosa (gula) di dalamnya dipertimbangkan untuk diberikan pada bayi dengan luka bakar. Luka bakar pada daerah orofaring dan leher membutuhkan tatalaksana intubasi (pemasangan pipa saluran napas ke dalam trakea/batang tenggorok) untuk menjaga jalan napas yang adekuat/tetap terbuka. Intubasi dilakukan di fasilitas kesehatan yang lengkap. Circulation Penilaian terhadap keadaan cairan harus dilakukan.Airway and Breathing Perhatikan adanya stridor (mengorok). Bila hal ini terjadi dalam jumlah yang banyak dan tidak tergantikan maka volume cairan dalam pembuluh darah dapat berkurang dan mengakibatkan kekurangan cairan yang berat dan mengganggu fungsi organ-organ tubuh. NaCl 0. Pemberian cairan intravena (melalui infus) diberikan bila luas luka bakar >10%. gagal napas.9%/normal Saline).5- 1cc/kgBB/jam. Cairan infus yang diberikan adalah cairan kristaloid (ringer laktat. dahak berwana jelaga (black sputum). Cairan merupakan komponen penting karena pada luka bakar terjadi kehilangan cairan baik melalui penguapan karena kulit yang berfungsi sebagai proteksi sudah rusak dan mekanisme dimana terjadi perembesan cairan dari pembuluh darah ke jaringan sekitar pembuluh darah yang mengakibatkan timbulnya pembengkakan (edema). bulu hidung yang terbakar. Cairan rumatan adalah 4cc/kgBB dalam 10 kg pertama. Pastikan luas luka bakar untuk perhitungan pemberian cairan.

dan faktor penatalaksanaan (prehospital and inhospital treatment). Sistem imunologik yang belum berkembang sempurna merupakan salah satu faktor yang patut diperhitungkan.PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium  pemeriksaan Hb. Pada usia yang sangat muda (terutama bayi) beberapa hal mendasar menjadi perhatian. sangat rentan terhadap suatu bentuk trauma. faktor trauma (jenis. dan intraselular yang berbeda dengan komposisi pada manusia dewasa. antara lain sistem regulasi tubuh yang belum berkembang sempurna. dan kelainan sistemik). komposisi cairan intravaskuler dibandingkan dengan cairan ekstravaskuler. interstitial. Ht tiap 8 jam pada 2 hari pertama. 7 PROGNOSIS Prognosis pada kasus luka bakar ditentukan oleh beberapa faktor. Beberapa faktor yang berperan antara lain faktor penderita (usia. jenis kelamin. gizi. dan tiap 2 hari pada 10 hari selanjutnya  Fungsi hati dan ginjal tiap minggu  Pemeriksaan elektrolit tiap hari pada minggu pertama  Pemeriksaan AGD bila nafas lebih dari 32x/menit  Kultur jaringan pada hari ke-1. 3. 20 . dan trauma penyerta). yang mana bersifat bersifat kompleks. karena luka bakar merupakan suatu bentuk trauma yang bersifat imunosupresi. kedalaman luka bakar. dan menyangkut mortalitas dan morbiditas atau burn illness severity and prediction of outcome . luas. Prognosis luka bakar umumnya jelek pada usia yang sangat muda dan usia lanjut.

BAB III PEMBAHASAN Pada anamnesis diketahui pasien mengeluhkan luka bakar pada dada. bula dipecahkan. Dan pasien dirawat inap. Kemudian pasien di berikan injeksi ATS ½ ampul. Bila penderita dapat mengatasi infeksi. Kemudian pada luka bakar dicuci dengan NaCl 0. kemudian dioleskan Mebo ointmen dan luka ditutup dengan kassa steril. tanda vital pasien dalam batas normal. Tatalaksana yang dilakukan pada pasien ini adalah pertama melakukan penilaian pada Airway. luka bakar derajat II dapat sembuh dengan meninggalkan cacat berupa parut. Breating. Komplikasi yang mungkin dapat terjadi pada pasien adalah dapat timbul edema dan penurunan aliran darah jaringan. Maka dapat dipikirkan bahwa pasien pasien mengalami luka bakar derajat II. Selanjutnya dari pemeriksaan status lokalis. dan sisanya dalam 16 jam berikutnya. disertai rasa nyeri maka pasien mengalami luka bakar derajat II dan dihitung dari luas luka bakar menggunakan metode lund and browder didapatkan persentase luas luka bakar ± 20%. Dari pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum tampak sakit sedang. Pemeriksaan status generalis dalam batas normal. sehingga cedera dapat berkembang menjadi full-thickness burn atau luka bakar derajat III dan dapat sepsis akibat infeksi pada luka bakar. dimana setengahnya (400cc) diberikan dalam 8 jam pertama setelah kejadian. terdapat Lesi melibatkan epidermis dan mencapai kedalaman dermis namun masih terdapat epitel vital yang bisa menjadi dasar regenerasi dan epitelisasi. Keluhan ini diserta rasa nyeri dan adanya gelembung berisi cairan akibat kulit yang melepuh. setelah dipastikan aman kemudian memberikan resusitasi cairan menggunakan cairan asering dengan rumus baxter (4 cc x BB x luas luka bakar dalam %) dan didapat kan hasil 800 cc. antibiotik berupa injeksi cefotaxime 3x200mg dengan melakukan skin test terlebih dahulu. kesadaran kompos mentis. Hasil anamnesis ini dikonfirmasi kembali dengan pemeriksaan fisik. hal ini dapat terjadi sewaktu-waktu sehingga tatalaksana luka bakar harus dilakukan secepatnya. Maka diagnosis kerja pasien adalah luka bakar derajat II dengan luas luka bakar 20%. 21 . anak tampak menangis kuat karna nyeri. karna pasien datang ke IGD satu jam setelah kejadian maka 400cc awal diberikan dalam 7 jam. dan leher sejak 1 jam SMRS akibat tersiram sayur mendidih. dan Circulation. jaringan kulit mati dibersihkan.9%. Adanya gambaran luka bakar berupa gelembung atau bula yang berisi cairan. Karena Luka bakar dengan luas 10 – 20 % pada anak usia < 10 tahun maka pasien tergolong dlm luka bakar sedang (moderate burn). analgetik berupa paracetamol drip 4x150 mg. punggung.

Ambulatory management of Burns. Jakarta: Binarupa Aksara.1487-9. Hansbrough JF. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Artikel tabung gas 3 kg kurang pengawasan. Bisono. Dr. Reksopradjo. Pedriatics in Review. 9. Jakarta: EGC. Cet.19. Jakarta:EGC.com/2010/06/28/fakta-tabung-gas-3-kg-kurang-pengawasan/ 6. Bledsoe SC. “Luka” dalam de Jong. DAFTAR PUSTAKA 1. 2000.272-7 12. 7. Continuing Education in Anasthesia. 2005 14. BMJ 2004. 2003. Soelarto (ed.Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. 2001.2. I. Yefta.BP. British Journal of Anasthesia. Sp. 3. Burns : how to protect your child now.328. Media Aesculapius. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. I. Cet. Seymour I. Ilmu Bedah Luka dan Perawatannya.).I. Canadian journal of Surgery. Moenadjat. 2. Fenlon S. 2000.1999 4. http://birokrasi.kompasiana. ABC of Burns. 10.). Atkinson K. Pediatrics Burns. Maret 2010. Ed. Parenting. Nene S. 2010 11. Pediatric burns: the forgotten trauma of childhood. First aid and treatment of minor burns. Clinical practice Guidelines. 2007 8. Airlangga University Press.2006. Anonim. Marzoeki. Morgan ED. Aryono D. dkk (editor).Buku Ajar Ilmu Bedah. Holland AJA. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Hansbrough W. Arif. Mansjoer. Djohansjah. 2000. Schwartz.Jakarta. 5.1999 13. Royal Children’ Hospital Melbourne. Wim (ed. Burns in children. Surabaya 1993 : 10 . Cet. edisi III – Luka Bakar. Vol 20. Burns. Hudspith J. Pusponegoro. Rayatt S.4. American association of family Physician. Critical Care&Pain. Barker J. Luka Bakar – Pengetahuan Klinik Praktis. Anonymous. 22 .