You are on page 1of 4

Risiko rekurens kejang demam pada anak

Pendahuluan
Kejang demam merupakan kejang yang merupakan manifestasi klinis dari sebuah infeksi
dengan pengecualian infeksi sistem saraf
Kejang demam merupakan masalah yang sering dialami oleh anak-anak. Ada dua tipe kejang
demam yakni kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam
sederhana ditandai dengan kejang umum, lama kejang kurang dari 15 menit, dan tidak berulang
dalam waktu 24 jam, dan tanpa adanya kelainan neurologis setelah kejang. Kejang demam
kompleks ditandai dengan adanya kejang demam fokal, dengan waktu yang lama dan berulang
dalam waktu 24 jam atau dibarengi dengan adanya kelainan neurologis post kejang, termasuk
salah satunya todd’s paresis.
kejang demam dapat berulang. Pada beberapa penelitan didapatkan 48% kejang demam adalah
kejang demam berulang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko terjadinya kejang demam
berulang.
Metode
Penelitian ini menggunakan studi kohort prospektif yang dilakukan di fakultas kedokteran
Kathmandu dan rumah sakit pendidikannya, Sinamangal, Kathmandu, Nepal. Penelitian ini
melihat adanya leukositosis pada pemeriksaan darah perifer pada anak dengan kejang demam.
Pasien tersebut di follow up selama rawat jalan di bagian pediatrik di fakultas kedokteran
Kathmandu dan penelitian ini dilakukan pada tahun 2008-2009.
Semua pasien anak yang sudah terdiagnosis sebagai kejang demam sebelumnya dimintai untuk
di follow up dalam 1 minggu setelah pasien keluar dari rawat inap. Pasien anak yang berusia 6
bulan hingga 6 tahun merupakan kriteria inklusi pada penelitian ini. Inform konsen juga
dilakukan. Pasien dengan usia kurang dari 6 bulan dan lebih dari usia 6 tahun, pasien yang
sedang diterapi dengan pengobatan antikonvulsif biasa dan menolak untuk memberi
persetujuan dieksklusi dari penelitian ini.
Orang tua dari anak-anak ini di wawancarai selama follow up pada saat pasien rawat jalan
dengan menanyakan beberapa pertanyaan skrining untuk mengonfirmasi apakah anak mereka
mengalami kejang demam atau tidak. Hal yang ditanyakan ke orang tua pasien menyangkut
beberapa hal sebagai berikut; riwayat prenatal dan perinatal dari masing-masing anak, riwayat
keluarga pernah mengalami kejang demam dan epilepsi, umur pada saat pertama kali kejang
demam (pada kasus yang berulang lebih dari 1 kali), ada atau tidaknya gangguan fokal, durasi
kejang demam, dan durasi dari demam yang berlanjut dan bermanifestasi klinis kejang dengan
demam yang sama muncul atau tidak. Pemeriksaan fisik lengkap, pemeriksaan perkembangan
dan pemeriksaan neurologis telah dilakukan pada masing-masing pasien. Suhu pada saat
datang dicek dan anak tersebut diperiksa oleh masing-masing dokter.
Kejang demam sederhana ditandai dengan kejang umum, lama kejang kurang dari 15 menit,
dan tidak berulang dalam waktu 24 jam, dan tanpa adanya kelainan neurologis setelah kejang.
Kejang demam kompleks ditandai dengan adanya kejang demam fokal, dengan waktu yang

termasuk salah satunya todd’s paresis. Terdapat 2 pasien dengan keterlambatan psychomotor dan terdapat 1 pasien dengan riwayat asfiksia saat lahir. Terdapat 10(9%) kasus dikultur untuk membuktikan adanya ISK.lama dan berulang dalam waktu 24 jam atau dibarengi dengan adanya kelainan neurologis post kejang. didapatkan sebanyak 115 pasien anak didiagnosis sebagai kejang demam. didapatkan 65(59%) menunjukan tanda-tanda infeksi virusm 17(15%) mempunyai demam yang non-spesifik. Staphylococcus aureus terlihat pada salah satu anak dan satunya lagi terlihat adanya infeksi salmonella sp. Tonsilofaringitis akut.026). Terdapat 62% anak laki-laki dan 38% anak perempuan. Hasil Selama masa penelitian.5. 10(9%) mengalami ISK. Terdapat juga hubungan antara durasi demam (<12 jam) terhadap onset kejang demam dan rekurensi dengan siginfikansi (p=0. Selain itu juga didapatkan adanya hubungan antara kejang demam kompleks dengan kejadian kejang demam berulang (p=0. Kejang demam sederhana terlihat pada 93 (80%) sampel dan kejang demam kompleks didapat pada 22(20%) sampel. Hasil akan dianalisis dengan statistik deskriptif dan uji Chi kuadrat. Pungsi lumbar dilakukan pada 7(6%) kasus namun tidak terdapat satupun yang mengalami encephalitis ataupun meningitis. Bakteremia terlihat pada dua pasien. Data yang terkumpul akan dimasukan ke excel dan dianalisis menggunakan SPSS 11. Anak-anak yang dengan riwayat mempunyai setidaknya 1 kali kejang demam dan kemungkinan akan muncul episode kejang demam dikatakan sebagai kejang demam berulang. otitis media.022). Pada seluruh kasus demam pada penelitian ini. Didapatkan juga hasil 16 (14%) pasien mempunyai riwayat keluarga pernah kejang demam dan 11 (10%) memiliki riwayat kejang.001). Terlihat pada tabel 1 terdapat hubunga statistikal yang bermakna antara suhu yang rendah pada onset kejang dan rekurensi dari kejang demam (p<0. Kejadian kejang demam berulang terjadi pada 59(51%) kasus dan sisanya 56(49%) kasus merupakan kejang pertama. . disentri dan pneumonia terhitung sebanyak 5(4%) dari total penyebab demam.

Pada penelitian ini juga didapatkan pasien dengan riwayat asfiksia pada saat lahir dan 2 kasus yang mengalami retardasi psikomotor. . Pada penelitan ini tidak memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian kejang demam berulang dengan riwayat keluarga pernah kejang demam atau mempunyai riwayat epilepsi. Pada beberapa literatur dikatakan bahwa riwayat keluarga dengan kejang demam merupakan faktor risiko terjadinya kejang demam berulang pada anak-anak. Penyebab demam tersering pada kasis ini adalah demam akibat virus. Pada penelitian ini juga didapatkan apabila demam dengan suhu yang tidak terlalu tinggi (<100oF) mempunyai kemungkinan terkena kejang demam berulang (p<0. Pada penelitian sebelumnya juga didapatkan populasi terbanyak pasien dengan kejang demam merupakan pasien laki-laki. yang berarti bahwa anak laki-laki lebih sering terkena penyakit kejang demam. Namun pada penelitan yang lain didapatkan bahwa semakin mudah pasien maka kemungkinan kejadian kejang demam berulang meningkat. Hal ini dibandingkan dengan penelitian lain yang menunjukkan rerata kejadian rekurensi kejang demam mencapai 48%. Selain itu juga dijelaskan bahwa tidak ada hubungan antara kejadian asfiksia saat lahir dengan risiko kejadian kejang demam berulang. selanjutnya demam dengan penyebab yang non-spesifik dan ISK. jenis kelamin dan riwayat keluarga epilepsi tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna dengan kejadian kejang demam berulang. Hal ini juga dijelaskan pada penelitian lain yakni sebanyak 49% kasus demam muncul karena virus. Pada penelitian ini terdapat 51% kasus anak-anak terkena kejang demam berulang.001). Akibat hal tersebut menyebabkan adanya overestimasi penyebab demam adalah virus. Pada penelitian sebelumnya didapatkan penyebab demam tersering adalah virus. Hal ini disebabkan karena ambang batas kejang akan menurun sesuai peningkatan usia. Diskusi Secara umum pada penelitian ini didapatkan pasien yang terdiagnosis kejang demam merupakan kejang demam sederhana (81%). Jenis kelamin lak-laki juga terdapat lebih banyak dibandingkan wanita. Namun hal ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan saat ini yang mengatakan bahwa tidak adanya hubungan antara riwayat keluarga dengan kejadian kejang demam berulang. Pada penelitian ini juga memperlihatkan adanya kemungkina terjadinya kejang demam berulang apabila pasien mempunyai durasi demam yang lebih singkat sebelum munculnya kejang (p=0. Peneltian sebelumnya juga mengatakan terdapat lebih banyak pasien dengan kejang demam sederhana dibandingkan dengan kejang demam kompleks. Pada penelitian ini tidak didapatkan adanya hubungan rekurensi kejang demam dengan usia. Pada penelitian ini digunakan manifestasi klinis dan gejala untuk mendiagnosis anak dengan demam akibat virus.026). Namun terdapat penelitian yang lain yang menjelaskan bahwa demam sering disertai dengan kejadian infeksi saluran pernapasan atas.Umur dari anak-anak pada onset pertama terkena kejang demam. Hal ini dibandingkan dengan penelitian yang lain yang menjelaskan bahwa tidak ada peningkatan risiko kejadian kejang demam berulang dengan adanya gangguan psikomotor.

Penelitian ini perlu divalidasi lagi dengan menggunakan penelitian yang lebih maju dan menggunakan sampel yang lebih besar .Kesimpulan Kejang demam merupakan salah satu penyebab anak-anak masuk rumah sakit. pasien dengan kejang demam atipik dan pasien yang memiliki onset kejang demam dalam waktu 12 jam setelah demam memiliki risiko tinggi terkena kejang demam berulang yang akan terjadi pada hari-hari esok. Anak-anak yang mempunyai peningkatan suhu yang tidak terlalu tinggi saat terjadi kejang. Kejang demam lebih sering terjadi pada anak laki-laki.