You are on page 1of 148

PENILAIAN RISIKO INDONESIA

TERHADAP TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
TAHUN 2015

INDONESIA MONEY LAUNDERING
RISK ASSESMENT, 2015
(NRA on ML)

INTER-AGENCY WORKING GROUP NRA INDONESIA

Jl. Ir H Juanda No. 35 Jakarta 10120 Indonesia
Telp.: +62213850455; +62213853922
Fax.: +62213856809; +62213856826
e-mail: contact-us@ppatk.go.id
website: http://www.ppatk.go.id

TERBATAS

Penilaian Risiko Indonesia
Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang

LAPORAN AKHIR

2015
TIM NATIONAL RISK ASSESSMENT (NRA) INDONESIA

TERBATAS

© 2015, Tim NRA Indonesia

Penilaian Risiko Indonesia
Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang, Tahun 2015

ISBN :

Ukuran Buku : 295 x 210 mm

Jumlah Halaman : xii + 146 Halaman

Naskah : Tim NRA Indonesia

Gambar Sampul : Jamhari dan Fayota Prachmasetiawan

Diterbitkan Oleh : Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan,
Indonesia

Boleh dikutip dengan menyebut sumbernya.

INFORMASI LEBIH LANJUT:

Tim NRA Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK)

Indonesian Financial Transaction Reports and Analysis Center (INTRAC)

Jl. Ir. H Juanda No. 35 Jakarta 10120 Indonesia

Phone : (+6221) 3850455, 3853922

Fax : (+6221) 3856809 - 3856826

website : http://www.ppatk.go.id

Penilaian Risiko Indonesia
ii Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Tahun 2015

Hukum dan Keamanan Republik Indonesia 2) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia 3) Mahkamah Agung 4) Bank Indonesia 5) Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 6) Otoritas Jasa Keuangan 7) Kementerian Keuangan 8) Direktorat Jenderal Pajak 9) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai 10) Kejaksaan Agung Republik Indonesia 11) Kepolisian Republik Indonesia 12) Komisi Pemberantasan Korupsi 13) Badan Narkotika Nasional 14) Detasemen Khusus 88 Anti Teror – POLRI 15) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang iii Tahun 2015 . TERBATAS TIM PENYUSUN 1) Kementerian Koordinator Bidang Politik.

TERBATAS Halaman ini sengaja dikosongkan Penilaian Risiko Indonesia iv Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

........................................................................................................................... CAKUPAN KRIMINALISASI TPPU ................................................................................................................... 145 Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang v Tahun 2015 ..................... TERBATAS DAFTAR ISI TIM PENYUSUN ............................. LEMBAGA PENEGAK HUKUM TPPU .................................... vii SAMBUTAN KEPALA PPATK ........ 10 C.................. 1 A....................... 4 BAB 2 KAJIAN LITERATUR ..................................................................................................................................................................... PIHAK PELAPOR DALAM REZIM AML ......... 19 G............................................................................. 16 F...................... DAN EVALUASI FAKTOR RISIKO TPPU INDONESIA ......................................... 20 BAB 3 METODOLOGI .................................................. LATAR BELAKANG ..................................................................................................... ANALISIS................................................................................................................... 7 B.................... ANCAMAN UTAMA TPPU DI INDONESIA....................................................... KERENTANAN TPPU DI INDONESIA ........... PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN (PPATK) SEBAGAI FINANCIAL INTELLIGENCE UNIT (FIU) ........... 12 D..................................................... KOORDINASI PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TPPU .................. TUJUAN .......................................................................................... 52 C.............................................................. 27 BAB 4 IDENTIFIKASI............. 2011-2014 ..................... 1 B............. v DAFTAR ISTILAH ............. ix RINGKASAN EKSEKUTIF ............................... PENILAIAN RISIKO NASIONAL TERHADAP TPPU ............. 15 E.... EMERGING THREAT TPPU DI INDONESIA ....... 7 A............................ PETA RISIKO TPPU DI INDONESIA ................... xi BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................................................... 43 A............................ 143 DAFTAR PUSTAKA ........... 58 D...................................................... LEMBAGA PENGAWAS DAN PENGATUR DALAM REZIM AML .......................................................130 BAB 5 KESIMPULAN ................................................ iii DAFTAR ISI ................ 45 B..........................................

TERBATAS DAFTAR SINGKATAN AML/CTF = Anti Money Laundering/Counter Terrorism Financing APMK = Alat Pembayaran Menggunakan Kartu APU dan PPT = Anti Pencucian Uang dan Pemberantasan Pendanaan Terorisme AUSTRAC = Australian Transaction Reports and Analysis Centre BPD = Bank Pembangunan Daerah BPR = Bank Perkreditan Rakyat BUMN = Badan Usaha Milik Negara FIU = Financial Intelligence Unit HA = Hasil Analisis HP = Hasil Pemeriksaan IHA = Informasi Hasil Analisis IHP = Informasi Hasil Pemeriksaan LPUT = Laporan Pembawaan Uang Tunai LEA = Law Enforcement Agency/Lembaga Penegak Hukum LTKM = Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan LTKL = Laporan Transaksi Keuangan dari/ke Luar Negeri LTKT = Laporan Transaksi Keuangan Tunai LTPBJ = Laporan Transaksi Penyedia Barang dan Jasa Lainnya ML = Money Laundering/Tindak Pindana Pencucian Uang NRA = National Risk Asessment/Penilaian Risiko Nasional PAPP = PPATK-Austrac Partnership Program PJK = Penyedia Jasa Keuangan PPATK = Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan PVA = Pedagang Valuta Asing TKM = Transaksi Keuangan Mencurigakan TPPU = Tindak Pidana Pencucian Uang TPPT = Tindak Pidana Pendanaan Terorisme Penilaian Risiko Indonesia vi Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

www.com diakses 22 September 2015 : https://www.com/ products-and-solutions/solutions/face-to-face-transactions/) Gatekeeper: Istilah yang lazim dipakai dunia internasional untuk menyebut profesional di bidang keuangan dan hukum dengan keahlian.ac.teller. dan transaksi dari lintas .id diakses 22 September 2015 : http://usu. TERBATAS DAFTAR ISTILAH Less Cash Society: (1) masyarakat yang menggunakan lebih sedikit uang tunai dibandingkan instrumen pembayaran non-tunai lainnya dalam membiayai kegiatan ekonominya.com diakses 22 September 2015.kamusbisnis.hukumonline.com diakses 22 September 2015 : http://www.“Kewajiban Lapor untuk Lindungi Profesi Gatekeeper”.hukumonline. dan perencana keuangan. pengetahuan.teller. 2015. Hot money paling cepat hilang ketika tingkat kepercayaan atau daya saing perekonomian menurun. Profesi dimaksud meliputi antara lain advokat. suap. (Indriani. dan akses khusus kepada sistem keuangan global.com/berita/baca/lt55d14b5eafb14/kewajiban-lapor- untuk-lindungi-profesi-igatekeeper-i) Hot money: dana yang disediakan oleh sumber yang paling sensitif terhadap harga dan kualitas kredit. (www. (www. (http://www. (www. Tri Yuanita .ac. notaris dan PPAT.penyelundupan perbatasan.org/africarenewal/magazine/december-2013/illicit-financial- flows-africa-track-it-stop-it-get-it) Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang vii Tahun 2015 .usu. Face to Face Transaction: Transaksi dimana konsumen dan penyedia barang dan jasa bertemu secara langsung secara fisik atau bertatap muka ketika transaksi dilakukan.un. http://kamusbisnis.id/id/article/838/ bi-dan-usu-jalin-kerjasama-less-cash-society-akan-dikembangkan-di-usu) Expert Fact Findings: Fakta-fakta yang tampak maupun terjadi berdasarkan pengamatan dari para ahli di bidangnya masing-masing. yaitu dengan menggunakan uang elektronik saat bertransaksi. Uang ini biasanya dihasilkan dari kegiatan kriminal. (2) sebutan untuk masyarakat yang gemar melakukan transaksi non-tunai. akuntan dan akuntan publik.com/arti/hot-money/) Illicit Fund: uang yang diperoleh secara ilegal dan ditransfer untuk digunakan di tempat lain. korupsi. penggelapan pajak. yang memanfaatkan keahlian mereka untuk menyembunyikan hasil tindak pidana.

gov/criminal-fraud/mass-marketing-fraud) Nominee: orang atau badan yang secara hukum memiliki (legal owner) suatu harta dan/atau penghasilan untuk kepentingan atau berdasarkan amanat pihak yang sebenarnya menjadi pemilik harta atau pihak yang sebenarnya menikmati manfaat atas penghasilan. April 1. atau untuk mengirimkan hasil penipuan ke lembaga keuangan atau orang lain yang terhubung dengan skema penipuan tersebut. 2007). telepon. 5 November 2009) NRA Fact Findings: temuan-temuan yang didapatkan dari hasil penilaian risiko nasional baik dalam pencucian uang maupun pendanaan terorisme.justice.edu/ 4272199/underground_economy_in_economic_development) Penilaian Risiko Indonesia viii Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Sebagian besar negara-negara tersebut terletak di sebuah negara kepulaun kecil dan terpencil.staff.edu) Mass Marketing Fraud: jenis skema penipuan yang menggunakan satu atau lebih teknik komunikasi massal dan teknologi – seperti: internet. sedangkan legal dimaksudkan bahwa aktifitas tersebut tidak bertentangan dengan hukum yang ada. Offshore Financial Center: negara atau yurisdiksi yang menyediakan layanan keuangan untuk pihak/orang yang bukan penduduk negara tersebut pada skala yang sepadan dengan ukuran dan pembiayaan perekonomian domestik.telkomuniversity. dan surat untuk melakukan penipuan transaksi dengan korban.TERBATAS IT Risk Management: proses yang dilakukan oleh para manajer IT untuk menyeimbangkan kegiatan operasional dan pengeluaran cost dalam mencapai keuntungan dengan melindungi sistem IT dan data yang mendukung misi organisasinya.edu diakses 22 September : http://www. Retrieved on 2 Februari 2011) Penetration Test: kegiatan yang dilakukan untuk melakukan pengujian terhadap keamanan sebuah sistem./2009. (http://blog. (“Concept of Offshore Financial Centers: In Search of an Operational Definition”.ac. (Peraturan Dirjen Pajak-PER-62/PJ.academia. namun penghasilan dari aktifitas tersebut tidak dilaporkan kepada institusi pemerintah.stikom. (http://julismail. (www. (http://www. IMF Working Paper 07/87.academia. Ahmed Zoromé.id/penetration-test/) Underground Economy: aktivitas ekonomi legal maupun ilegal dimana aktivitas ilegal yang bertentangan atau melawan hukum yang berlaku.

TERBATAS SAMBUTAN KEPALA PPATK Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Saya menyambut baik penyusunan dokumen NRA on ML ini karena merupakan hal yang sangat penting bagi seluruh stakeholder rezim APUPPT. Semoga amal usaha kita diridhoi Allah SWT. dalam rangka membantu memberikan rekomendasi dalam penyempurnaan regulasi dan ketentuan terkait TPPU. maupun pada tingkat makro berupa strategi nasional. Jakarta. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya sehingga PPATK bersama stakeholder rezim APUPPT yang tergabung dalam Inter- Agency Working Group NRA Indonesia dapat menyelesaikan penyusunan dokumen “Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang. Sebagai bentuk konkret terhadap implementasi Financial Action Task Force Recommendations (FATF Recommendations) No. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sebagaimana diketahui bersama. baik pada tingkat mikro. Dengan tersusunnya strategi nasional yang efektif dan efisien yang berdasarkan pendekatan berbasis risiko ini. Amin Ya Rabbal Alamin. Berbagai langkah dalam rangka mengukuhkan komitmen Indonesia telah dilaksanakan. saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Tim NRA PPATK dan seluruh stakeholder rezim APUPPT yang tergabung dalam Inter-Agency Working Group NRA Indonesia yang telah memberikan kontribusi terhadap terbitnya dokumen NRA on ML ini. 1 Tahun 2012 terkait penilaian risiko. September 2015 Kepala PPATK Dr Muhammad Yusuf Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang ix Tahun 2015 . Akhirnya. maka PPATK bersama stakeholder rezim Anti Pencucian Uang dan Pemberantasan Pendanaan Terorisme (APUPPT) melaksanakan penilaian risiko Indonesia terkait tindak pidana pencucian uang dalam bentuk kegiatan National Risk Assessment (NRA). Tahun 2015 (Indonesia Money Laundering Risk Assessment/ NRA on ML)”. bahwa Pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang sangat kuat dalam upaya mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang. diharapkan kehadiran Laporan Hasil NRA on ML ini dapat bermanfaat bagi seluruh stakeholder rezim APUPPT guna bersama- sama PPATK mencegah dan memberantas tindak pindana pencucian uang. diharapkan dapat melindungi NKRI dari risiko TPPU yang tipologinya semakin berkembang dan semakin kompleks. Oleh karena itu.

TERBATAS Halaman ini sengaja dikosongkan Penilaian Risiko Indonesia x Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

penilaian. Secara umum. Di tengah derasnya kemajuan teknologi informasi dan dorongan era globalisasi saat ini. Afganistan. Proses NRA yang mencakup identifikasi. NRA sangat membantu dalam memberikan rekomendasi dalam penyempurnaan regulasi dan ketentuan terkait TPPU. bahkan telah merambah ke berbagai sektor ekonomi. analisis. dan pemetaan terhadap variasi potensi ancaman TPPU. dan dampak dari aspek hukum. regulasi. 2. diketahui juga bahwa negara-negara seperti: Iran. kerentanan beserta dampak yang dapat ditimbulkannya. Berdasarkan hasil National Risk Assessment yang berasal dari respon risk assessment pihak pelapor. dan menggunakan modus yang semakin variatif. PPATK bersama stakeholder APUPPT yang tergabung dalam Inter-Agency Working Group NRA Indonesia. Korea Utara. baik pada tingkat mikro (internal Pihak Pelapor/Instansi). serta memutuskan otoritas yang akan mengkoordinasikan kegiatan penilaian atas risiko dan pendayagunaan sumber daya yang bertujuan untuk memastikan bahwa risiko yang ada telah dimitigasi dengan efektif. fisik. serta pemahaman terhadap risiko TPPU menjadi bagian yang esensial dalam implementasi rezim AML baik terkait dengan ancaman. lingkungan. maupun politik/struktural. sejak September 2013 hingga Kuartal III Tahun 2015. penegakan hukum. 1 FATF Tahun 2012 mengharuskan setiap negara untuk mengidentifikasi. dapat disimpulkan bahwa: 1. melintasi batas-batas yurisdiksi. Rekomendasi No. TPPU berkembang semakin kompleks. Untuk mengantisipasi hal itu. maupun makro berupa strategi nasional. mengambil tindakan. Financial Action Task Force (FATF) on Money Laundering telah menyusun 40 FATF Recommendations 2012 sebagai standar internasional rezim APUPPT. diharapkan dapat melindungi Indonesia dari risiko TPPU yang tipologinya semakin berkembang dan semakin kompleks. TERBATAS RINGKASAN EKSEKUTIF Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) merupakan ancaman serius bagi suatu bangsa (extraordinary crime). kerentanan. sosial. 3. Sudan. telah melaksanakan penilaian risiko Indonesia terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme dalam bentuk kegiatan National Risk Assessment (NRA). memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan. Berdasarkan hasil identifikasi. Tindak Pidana Perpajakan merupakan ancaman tertinggi TPPU yang bersumber dari luar negeri. maupun aspek lainnya. Myanmar. untuk memitigasi risiko Indonesia terhadap TPPU. Indonesia juga dianggap berpotensi cukup tinggi terhadap Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme. Kuba dan Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang xi Tahun 2015 . Dengan tersusunnya strategi nasional yang efektif dan efisien yang berdasarkan pendekatan berbasis risiko ini (risk-based approach). dan mengevaluasi risiko tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme atas negara tersebut. baik terhadap aspek ekonomi. Sebagai bentuk konkret komitmen Indonesia terhadap implementasi Rekomendasi FATF terkait penilaian risiko. Selain menjadi salah satu negara tujuan favourit investasi asing. menganalisis. Suriah.

Jawa Barat. khususnya Yayasan. Kehutanan. Penggunaan virtual currency salah satunya Bitcoin dalam melakukan transaksi keuangan menjadi salah satu emerging threat TPPU di Indonesia. antara lain: Pengusaha dan Pegawai Swasta. DKI Jakarta menjadi provinsi yang berisiko “Tinggi” terjadinya TPPU di Indonesia. Industri Perbankan. Bengkulu. Dari sisi dalam negeri. Pengguna Jasa Badan Usaha/Korporasi. 6. 7. Pengurus Parpol. 8.TERBATAS negara-negara yang oleh OECD dikategorikan sebagai negara-negara tax haven merupakan negara-negara yang paling berisiko tinggi TPPU. Pegawai BUMN/D memiliki risiko "Menengah" menjadi pelaku TPPU. Tindak Pidana Narkotika. Kalimantan Barat. PEPs. Riau. Papua. 5. 4. Sumatera Utara. Korupsi. Pasar Modal. dan Perbankan menjadi risiko-risiko tertinggi Tindak Pidana Asal TPPU di Indonesia. Perusahaan/Agen Properti. diikuti oleh Provinsi Jawa Timur. Pegawai Money Changer. Penilaian Risiko Indonesia xii Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Perpajakan. Pengurus Yayasan. Sulawesi Selatan. PNS (termasuk pensiunan). 9. dan Pedagang Kendaraan Bermotor memiliki risiko tertinggi menjadi sarana pelaku TPPU di Indonesia. Ibu Rumah Tangga. Pengguna jasa perorangan yang memiliki risiko "Tinggi" menjadi pelaku TPPU. dan Bali yang berisiko “Menengah” terjadinya TPPU. dan Korporasi Non UMKM berisiko lebih tinggi menjadi pelaku TPPU dibandingkan Pengguna Jasa Perorangan. Profesional. sedangkan profil Pegawai Bank.

Setiap negara harus Financial Intellegence Unit (FIU) mengidentifikasi. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 1 Tahun 2015 . Salah satu rekomendasi FATF belum diimplementasikan adalah “Setiap negara berkewajiban untuk mengetahui dan memahami sifat terkait Rekomendasi tentang Penilaian dan tingkat risiko dari Tindak Risiko Nasional (National Risk Pidana Pencucian Uang dan Tindak Assesment). dan harus peningkatan kepedulian atas risiko tersebut. 1. yang bermakna bahwa Indonesia sebagai “Jurisdiksi yang progress perbaikan kelemahan rezim APU-PPT kurang memadai dan tidak memenuhi komitmen dalam pemenuhan action plan yang telah ditetapkan bersama FATF”.1 FATF disebutkan bahwa: mereka hadapi.” mengambil tindakan. negara-negara harus menerapkan pendekatan berbasis risiko (Risk-based Approach/RBA) untuk meyakinkan bahwa langkah-langkah pencegahan atau penyelesaian kasus pencucian uang dan pendanaan terorisme sepadan dengan risiko yang teridentifikasi. Ekuador. menilai dan menjadi lembaga yang memegang peranan penting dalam memahami risiko pencucian mengembangkan penilaian risiko uang dan pendanaan terorisme nasional untuk mendukung untuk negara. Menurut Rekomendasi Pidana Pendanaan Terorisme yang No. Terkait dengan 40 FATF Recommendations tersebut. baik secara internal maupun secara eksternal. LATAR BELAKANG Untuk mengantisipasi seriusnya ancaman TPPU. Financial Action Task Force (FATF) on Money Laundering telah menyusun standar internasional yang menjadi ukuran bagi setiap negara dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana Pencucian Uang dan tindak pidana pendanaan terorisme yang dikenal dengan 40 FATF Recommendations. juga ada tiga negara lainnya yaitu Algeria. Berdasarkan penilaian tersebut. berdasarkan FATF Public List tanggal 24 Oktober 2014. dan Myanmar. APG/FATF menilai bahwa Indonesia masuk dalam daftar FATF Public Statement sejak Februari 2011. TERBATAS BAB 1 Pendahuluan A. Pemerintah Indonesia telah menyepakati beberapa action plan terhadap APG (Asia Pasific Group on Money Laundering/FATF). Selain Indonesia. 2. Berkaitan dengan pemenuhan action plan tersebut. mekanisme untuk mengkoordinasikan aksi untuk menilai risiko. termasuk menentukan otoritas dan Presiden FATF (Vladimir Nechaev) pada tanggal 3 Juli 2013.

dianalisis dan dievaluasi. berbagai kecenderungan dan dampak dari setiap unsur risiko dianalisis dan dievaluasi secara komprehensif sehingga dapat dilakukan pemetaan risiko berdasarkan skala prioritas. telah melaksanakan penilaian risiko Indonesia terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang dan penilaian risiko Indonesia terhadap Tindak Pidana Pendanaan Terorisme secara terpisah dalam bentuk kegiatan National Risk Assessment.2013 2013 hingga Kuartal III Tahun 2015. yang mencakup unsur-unsur ancaman. sejak pertengahan tahun Assessment . Penilaian Risiko Indonesia 2 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Penilaian risiko Indonesia terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang (NRA on ML) merupakan evaluasi terstruktur dan komprehensif serta pencatatan yang berkelanjutan atas risiko suatu negara terhadap TPPU. kelemahan komitmen Indonesia telah dan sedang dalam sistem anti Tindak Pidana dilaksanakan. Berbagai langkah metode pencucian uang dan dalam rangka mengukuhkan pendanaan terorisme. berbagai strategi yang disusun perlu diimplementasikan sehingga berbagai risiko TPPU dapat dimitigasi sehingga pengaruh atas setiap risiko tersebut dapat diminimalisir bila risiko tersebut terjadi. serta komitmen Indonesia terhadap kerawanan lainnya yang dihadapi implementasi Rekomendasi FATF yang mempunyai pengaruh terkait penilaian risiko. rangkaian proses NRA on ML ini perlu dimonitor.TERBATAS 3. maka melalui NRA on ML diharapkan dapat tersusun berbagai strategi. serta dampak yang akan ditimbulkan. Agar Rezim Anti Pencucian Uang di suatu negara berjalan efektif dan efisien. PPATK langsung maupun tidak langsung bersama stakeholder rezim Anti pada negara tertentu yang Pencucian Uang dan Pendanaan melaksanakan penilaian. 1 FATF tersebut. Sebagai bentuk tindak lanjutnya. Berkenaan dengan rekomendasi Penilaian risiko nasional (National No. Sebagai bentuk konkret Pencucian Uang dan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme. kerentanan. Terorisme yang tergabung dalam FATF Guidance: National Money Inter-Agency Working Group NRA Laundering and Terrorist Financing Risk Indonesia. Proses penilaian dan identifikasi risiko tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme ini tertuang dalam kegiatan yang disebut Penilaian Risiko Nasional (National Risk Assesment). Pemerintah Risk Assessment/NRA) merupakan Indonesia memiliki komitmen yang suatu kegiatan terorganisasi dan sangat kuat dalam upaya mencegah sistemik untuk mengidentifikasi dan memberantas tindak pidana dan mengevaluasi sumber dan pencucian uang. Setelah berbagai risiko mampu diidentifikasi. Dalam NRA on ML sebagaimana diilustrasikan dalam Gambar 1 di bawah ini. ditinjau. dan diperbaharui secara regular dengan melibatkan seluruh stakeholder terkait.

Pada tingkat nasional. reputasi. Pada tingkat yang lebih mikro. Lembaga Pengawas Pengatur. Oleh karena itu. seperti: risiko hukum. pelaksanaan rezim anti pencucian uang yang efektif dan efisien tersebut juga diyakini dapat menurunkan angka kriminalitas karena pelaku tindak pidana tidak lagi memiliki motivasi untuk mengulangi perbuatannya dan hasil perampasan tindak pidana dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 3 Tahun 2015 . pelaksanaan NRA on ML tidak hanya dimaksudkan untuk memenuhi Rekomendasi FATF semata. pendekatan rezim anti pencucian uang yang dilaksanakan secara efektif. Lembaga keuangan dapat terhindar dari berbagai risiko. serta terkonsentrasinya transaksi dan likuiditas. bukanlah suatu hal yang mustahil dilakukan. dan Instansi Penegak Hukum khususnya dalam penyempurnaan kerentanan internal yang dimiliki serta penyusunan skala prioritas dalam pengalokasian sumber daya yang dimiliki pada area-area yang memiliki tingkat risiko TPPU lebih tinggi. pelaksanaan NRA on ML menjadi penting bagi setiap stakeholder rezim APUPPT. kegagalan dalam mencegah dan memberantas pencucian uang akan berdampak sangat buruk pada sektor keuangan dan penegakan hukum. pelaksanaan NRA on ML merupakan kebutuhan nasional dalam upaya penyusunan strategi nasional serta memberikan rekomendasi bagi penyempurnaan regulasi dan ketentuan terkait pencegahan dan pemberantasan TPPU di Indonesia. seperti Pihak Pelapor. TERBATAS GAMBAR 1: Ilustrasi Kegiatan Penilaian Risiko Nasional Terhadap TPPU Dalam skala nasional. dengan tersusunnya strategi nasional dan kerangka regulasi pencegahan dan pemberantasan TPPU yang efektif dan efisien diharapkan dapat mendorong terciptanya stabilitas sistem keuangan. Di sisi lain. Sebaliknya. Namun lebih dari itu.

Menganalisis bagaimanakah tren ancaman nasional TPPU yang terjadi selama tahun 2011-2014 dilihat menurut tindak pidana asal TPPU untuk mengukur seberapa efektif pelaku kejahatan dalam melakukan TPPU. serta dengan menggunakan metode yang diadopsi dari international best practices dengan tujuan khusus sebagai berikut: 1. terintegrasi. serta lembaga-lembaga profesi dalam mengukur risikonya terhadap ancaman TPPU. 4.1 FATF (INR 1) disebutkan bahwa tujuan dari NRA adalah untuk: 1. Mengidentifikasi dan menganalisis berbagai sumber ancaman. kerentanan. regulasi. Penilaian Risiko Indonesia 4 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . strategi mitigasi untuk mereduksi dampak terhadap risiko yang dimiliki. Mengidentifikasi apakah terdapat kekosongan (“loopholes”) dalam sistem regulasi dan kerentanan penegakan hukum TPPU serta menganalisis berbagai tingkat kerentanannya. dan metode pencucian uang yang telah dilakukan dan berpotensi dilakukan pelaku TPPU di Indonesia. Memberikan masukan untuk perbaikan potensial rezim AML/CFT.TERBATAS B. serta pemahaman terhadap risiko TPPU melalui kegiatan NRA on ML menjadi bagian yang esensial dalam implementasi rezim APUPPT baik terkait dengan ancaman. Memberi masukan dalam penilaian risiko AML/CFT yang dilakukan oleh PJK dan PBJ. Dalam catatan penjelasan atas Rekomendasi No. Membantu dalam memprioritaskan dan mengalokasikan sumber daya AML/CFT oleh pihak yang berwenang. Kegiatan NRA ini juga dapat membantu industri keuangan. untuk memitigasi risiko terhadap TPPU. serta modus (pola transaksi) yang berpotensi digunakan oleh pelaku TPPU. penyedia barang dan jasa lainnya. termasuk melalui perumusan atau kalibrasi kebijakan AML/CFT nasional. 5. Menganalisis tingkat ancaman TPPU menurut profil pelaku dan tindak pidana asal TPPU. Menganalisis tingkat kerentanan wilayah. khususnya dalam memberikan evaluasi terhadap kecenderungan dan dampak terhadap risiko yang dimiliki untuk penentuan prioritas risiko. maupun aspek lainnya. 2. 2. Pihak Pelapor. penilaian. menyeluruh. penegakan hukum. produk/jasa layanan. Kegiatan ini menjadi semakin strategis. termasuk memberikan masukan dalam setiap penilaian risiko yang dilakukan secara parsial oleh setiap stakeholder. serta pengalokasian sumber daya yang efisien oleh setiap stakeholder yang berwenang. 3. Kegiatan NRA on ML dilaksanakan oleh Tim NRA Indonesia secara komprehensif. dan 3. dan dampak dari aspek hukum. TUJUAN Identifikasi.

Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 5 Tahun 2015 . Mengevaluasi tingkat risiko TPPU menurut tindak pidana asal dan menurut Pihak Pelapor dalam rangka penyusunan rekomendasi pengelolaan risiko TPPU. Lembaga Profesi digunakan sebagai sarana melakukan TPPU berdasarkan tingkat kecenderungan dan tingkat dampak yang dimiliki. Menganalisis dan memetakan tingkat risiko TPPU menurut dugaan tindak pidana asalnya yang diukur berdasarkan tingkat kecenderungan dan tingkat dampak yang ditimbulkan. TERBATAS 6. 8. Penyedia Barang dan Jasa Lainnya. Menganalisis dan memetakan tingkat risiko yang dimiliki Penyedia Jasa Keuangan. 7.

TERBATAS Halaman ini sengaja dikosongkan Penilaian Risiko Indonesia 6 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

mengubah bentuk. dan b. Pelaku yang menikmati manfaat dan Pasal 5 untuk pelaku perorangan dari hasil kejahatan. mentransfer. membelanjakan. menukarkan dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul Harta Kekayaan dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp10. Sedangkan 2.000. CAKUPAN KRIMINALISASI TPPU Berdasarkan UU Nomor 8 Tahun Kriminalisasi TPPU dapat 2010 Tentang Pencegahan dan dikategorikan dalam 2 kategori: Pemberantasan Tindak Pidana 1. Tim NRA Indonesia telah melakukan berbagai kajian terhadap literatur mengenai perkembangan regulasi dan tipologi TPPU serta international best practices mengenai penyusunan NRA on ML. pelaku TPPU yang mengetahui memenuhi unsur-unsur tindak pidana atau patut menduga bahwa harta sesuai dengan ketentuan dalam kekayaan berasal dari hasil tindak pidana Undang-Undang ini.000. Pasal 4. atau kepemilikan yang Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 7 Tahun 2015 . pelaku yang berpartisipasi serta Pasal 6 dan Pasal 7 untuk pelaku menyembunyikan atau Korporasi. sumber. TPPU Aktif (Pasal 3 dan 4 UU Pencucian Uang Pasal 1 angka 1 TPPU). membayarkan. peruntukan. lokasi. pengalihan hak-hak. menitipkan. A. kriminalisasi terhadap TPPU lebih lebih menekankan pada: lanjut diatur dalam Pasal 3. mengalihkan. menghibahkan. lebih menekankan pada: a. membawa ke luar negeri. TPPU Pasif (Pasal 5 UU TPPU). a. menyamarkan asal usul harta kekayaan. Pasal 4 : Setiap Orang yang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul.00 (sepuluh miliar rupiah). adalah segala perbuatan yang b. pelaku TPPU sekaligus pelaku disebutkan bahwa: Pencucian Uang tindak pidana asal.000. TERBATAS BAB 2 Kajian Literatur Dalam penyusunan dokumen NRA on ML. Pasal 3 : Setiap Orang yang menempatkan.

00 (seratus miliar rupiah). pembayaran. (2) Selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000. c. dilakukan atau diperintahkan oleh Personil Pengendali Korporasi. hibah.000. dan d.000. penukaran.000. b. terhadap Korporasi juga dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa: a.000.000.TERBATAS sebenarnya atas Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana karena tindak pidana Pencucian Uang dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling banyak Rp5. dan/atau f. pentransferan. dilakukan dalam rangka pemenuhan maksud dan tujuan Korporasi. atau menggunakan Harta Kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1. perampasan aset Korporasi untuk negara. pengumuman putusan hakim. pembubaran dan/atau pelarangan Korporasi. Pasal 5 ayat (1) : Setiap Orang yang menerima atau menguasai penempatan. pencabutan izin usaha. pembekuan sebagian atau seluruh kegiatan usaha Korporasi. c. sumbangan.000. d. Pasal 6 ayat (2) : Pidana dijatuhkan terhadap Korporasi apabila tindak pidana Pencucian Uang: a.000. Pasal 7 : (1) Pidana pokok yang dijatuhkan terhadap Korporasi adalah pidana denda paling banyak Rp100.000. e.00 (satu miliar rupiah).PENCUCIAN UANG Penilaian Risiko Indonesia 8 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . penitipan. b. dilakukan sesuai dengan tugas dan fungsi pelaku atau pemberi perintah. dilakukan dengan maksud memberikan manfaat bagi Korporasi.00 (lima miliar rupiah). pengambilalihan Korporasi oleh negara.

penipuan. atau z. penculikan. narkotika. penyelundupan tenaga kerja. r. Republik Indonesia atau di luar e. di bidang pasar modal. korupsi. 1 Juga termasuk Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga akan digunakan dan/atau digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan terorisme. di bidang kelautan dan perikanan. di bidang kehutanan. Hasil tindak pidana adalah Harta b. tindak pidana lain yang diancam dengan pidana penjara 4 (empat) tahun atau lebih. k. terorisme1. wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan tindak pidana f. perdagangan orang. Pasal 2 ayat (1) UU TPPU No 8 Tahun h. prostitusi. cukai. tindak pidana asal yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan d. penyelundupan migran. m. w. perjudian. Kekayaan yang diperoleh dari c. t. y. o. j. di bidang perasuransian. penggelapan. x. psikotropika. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 9 Tahun 2015 . v. pemalsuan uang. s. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang Pasal 2 ayat (1) disebutkan bahwa hasil tindak pidana TPPU adalah Harta Kekayaan yang diperoleh dari tindak pidana sebagai berikut: a. tersebut juga merupakan tindak pidana menurut hukum Indonesia. 2010 i. perdagangan senjata gelap. di bidang perbankan. atau teroris perorangan (Pasal 2 ayat (2) UU No 8 Tahun 2010). q. di bidang perpajakan. TERBATAS Berdasarkan UU No. di bidang lingkungan hidup. g. penyuapan. kepabeanan. organisasi teroris. u. n. pencurian. l. p.

TERBATAS

B. PIHAK PELAPOR DALAM REZIM AML

Penelusuran Harta Kekayaan hasil tindak pidana pada umumnya
dilakukan oleh lembaga keuangan melalui mekanisme yang diatur dalam
peraturan perundang-undangan. Lembaga keuangan memiliki peranan
penting khususnya dalam menerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa dan
melaporkan Transaksi tertentu kepada otoritas (Financial Intelligence Unit)
sebagai bahan analisis dan untuk selanjutnya disampaikan kepada penyidik.

Dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 Pasal 17 ayat (1), disebutkan bahwa
Pihak Pelapor meliputi:

a. Penyedia Jasa Keuangan (PJK):

1. Bank;
2. Perusahaan pembiayaan;

3. Perusahaan asuransi dan perusahaan pialang asuransi;
4. Dana pensiun lembaga keuangan;

5. Perusahaan efek;

6. Manajer investasi;

7. Kustodian;

8. Wali amanat;

9. Perposan sebagai penyedia jasa giro;

10. Pedagang valuta asing;

11. Penyelenggara alat pembayaran menggunakan kartu;

12. Penyelenggara e-money dan/atau e-wallet;

13. Koperasi yang melakukan kegiatan simpan pinjam;

14. Pegadaian;

15. Perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan berjangka
komoditi; atau

16. Penyelenggara kegiatan usaha pengiriman uang.

b. Penyedia Barang dan/atau Jasa lain (PBJ):

1. Perusahaan properti/agen properti;

2. Pedagang kendaraan bermotor;
3. Pedagang permata dan perhiasan/logam mulia;

4. Pedagang barang seni dan antik; atau
5. Balai lelang.

Penilaian Risiko Indonesia
10 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Tahun 2015

TERBATAS

Lembaga keuangan tidak hanya berperan dalam membantu penegakan
hukum, tetapi juga melindungi lembaga dari berbagai risiko, yaitu risiko
operasional, hukum, terkonsentrasinya transaksi, dan reputasi karena tidak
lagi digunakan sebagai sarana dan sasaran oleh pelaku tindak pidana untuk
mencuci uang hasil tindak pidana. Dengan pengelolaan risiko yang baik,
lembaga keuangan akan mampu melaksanakan fungsinya secara optimal
sehingga pada gilirannya sistem keuangan menjadi lebih stabil dan
terpercaya.

Dalam rezim anti pencucian
Pemerintah melalui Peraturan
uang, Pihak Pelapor khususnya
Pemerintah Republik Indonesia
perbankan mempunyai peran yang (PP) No. 43 Tahun 2015 tentang
sangat penting dalam membantu Pihak Pelapor Dalam Pencegahan
penegakan hukum di Indonesia dan dan Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang yang telah
merupakan ujung tombak (frontliner) ditetapkan Presiden pada bulan
dalam mencegah dan memberantas Juni 2015, telah mengatur adanya
tindak pidana pencucian uang. Hal Pihak Pelapor baru selain yang
tersebut karena informasi/laporan telah diatur dalam Pasal 17 ayat 1
UU TPPU No 8 Tahun 2010, yaitu:
yang disampaikan oleh Pihak Pelapor 1. Penyedia Jasa Keuangan:
kepada PPATK menjadi sumber a. perusahaan modal ventura;
informasi yang pertama dan utama b. perusahaan pembiayaan
infrastruktur;
bagi upaya menemukan dugaan
c. lembaga keuangan mikro; dan
terjadinya tindak pidana pencucian d. lembaga pembiayaan ekspor.
uang. Untuk dapat melakukan hal 2. Profesi:
tersebut, Pihak Pelapor wajib a. Advokat;
b. Notaris;
menerapkan Prinsip Mengenali c. Pejabat pembuat akta tanah
Pengguna Jasa yang ditetapkan oleh (PPAT);
setiap Lembaga Pengawas dan d. Akuntan;
e. Akuntan publik; dan
Pengatur sebagaimana yang
f. Perencana keuangan
diwajibkan dalam Pasal 18 ayat (2) UU
TPPU.

Prinsip Mengenali Pengguna Jasa adalah prinsip yang diterapkan oleh
Pihak Pelapor untuk mengetahui latar belakang dan identitas nasabah,
memantau transaksi, serta melaporkan transaksi kepada otoritas
berwenang/PPATK. Kebijakan mengenai penerapan Prinsip Mengenali
Pengguna Jasa, sekurang-kurangnya memuat:

1) identifikasi Pengguna Jasa;

2) verifikasi Pengguna Jasa; dan
3) pemantauan transaksi Pengguna Jasa.

Penilaian Risiko Indonesia
Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 11
Tahun 2015

TERBATAS

Kewajiban menerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa tersebut
dilakukan pada saat :

1) melakukan hubungan usaha dengan Pengguna Jasa;
2) terdapat Transaksi Keuangan dengan mata uang rupiah dan/atau mata
uang asing yang nilainya paling sedikit atau setara dengan
Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah);

3) terdapat Transaksi Keuangan Mencurigakan yang terkait tindak pidana
pencucian uang dan tindak pidana pendanaan terorisme; atau

4) Pihak Pelapor meragukan kebenaran informasi yang dilaporkan
Pengguna Jasa.

Pelaksanaan Penerapan Prinsip mengenali Pengguna Jasa memiliki arti
penting antara lain:
1) Dengan mengetahui latar belakang dan identitas serta memantau
transaksi yang dilakukan pengguna jasa, akan memberikan nilai tambah
bagi Pihak Pelapor terutama dalam membina hubungan baik dengan
pengguna jasa yang bermanfaat dari aspek bisnisnya. Terhadap
pengguna jasa yang prospektif, akan senantiasa dijaga dan ditingkatkan
hubungan baiknya.

Dapat menciptakan industri yang sehat, karena terhindar dari risiko
operasional, hukum, dan reputasi, serta terkonsentrasinya transaksi.

C. LEMBAGA PENGAWAS DAN PENGATUR DALAM REZIM AML

Dalam penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan
Pendanaan Terorisme oleh Pihak Pelapor, berada dalam supervisi Lembaga
Pengawas dan Pengatur yang memiliki kewenangan pengawasan, pengaturan,
dan/atau pengenaan sanksi terhadap Pihak Pelapor. Pihak-pihak yang
menjadi Lembaga Pengawas dan Pengatur adalah sebagai berikut:

a. Otoritas Jasa Keuangan, yang bertugas melakukan pengaturan dan
pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan,
sektor Pasar Modal, dan sektor Industri Keuangan Non-Bank
(Perasuransian, Dana Pensiun, Lembaga Pembiayaan, Lembaga Jasa
Keuangan Khusus, dan Lembaga Keuangan Mikro). Pengaturan dan
Pengawasan OJK terhadap pihak pelapor tersebut diatur berdasarkan
ketentuan sebagai berikut:
 Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/27/PBI/2012 tentang
Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan
Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) bagi Bank Umum.

 Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22/POJK.04/2014
tentang Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di
Pasar Modal.

Penilaian Risiko Indonesia
12 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Tahun 2015

pengaturan. e. PPATK dan KEMKOMINFO. TERBATAS b. dan pengendalian di bidang penyelenggaraan pos dan telekomunikasi nasional. yang berdasarkan berdasarkan UU No. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 13 Tahun 2015 . 11/12/PBI/2009 tanggal 13 April 2009 tentang Uang Elektronik (Electric Money). telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman pada tanggal 12 Juni 2009. 38 Tahun 2009 (UU Pos) disebutkan bahwa penyelenggara pos dapat melakukan beberapa macam kegiatan layanan. d.  Peraturan Bank Indonesia Nomor 8/28/PBI/2006 tentang Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 10/49/DASP tentang Perizinan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang Perorangan dan Badan Usaha Selain Bank). Ditjen Postel . yang bertugas melakukan pembinaan.  Peraturan Bank Indonesia No. Untuk mengefektifkan pengawasan terhadap perdagangan berjangka komoditi. Kementerian Koperasi dan UKM (Usaha Kecil dan Menengah). yang bertugas melakukan pengaturan. Kementerian Perdagangan. Kementerian Komunikasi dan Informatika (KEMKOMINFO). pengawasan.25 Tahun 1992. PPATK dan BAPPEBTI. telah melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) atau Nota Kesepahaman pada tanggal 8 November 2008.  Peraturan Bank Indonesia No. di antaranya adalah layanan transaksi keuangan. Badan Pengawas Perdagangaan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). 7/52/PBI/2005 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu. yang bertugas melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan Pedagang Valuta Asing. Bank Indonesia telah mengeluarkan:  Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/11/PBI/2007 tentang Pedagang Valuta Asing. menggantikan Peraturan Bank Indonesia No. 6/31/PBI/2004 tanggal 28 Desember 2004. Untuk mengefektifkan pengawasan terhadap penyelenggara pos. c. bertugas melakukan pengawasan dan pengaturan terhadap kegiatan usaha simpan pinjam. Penyelenggara pos yang memberikan layanan transaksi keuangan kepada Pengguna Jasa adalah termasuk salah satu Pihak Pelapor berdasarkan UU TPPU. Bank Indonesia. khususnya Direktorat Jenderal Pos. dan pengawasan kegiatan perdagangan berjangka serta pasar fisik dan jasa. BAPPEBTI merupakan regulator bagi perdagangan berjangka komoditi. Dengan demikian. Dalam UU No. Terkait dengan pelaksanaan Rezim Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme pada kedua sektor tersebut. dan Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU).

patungan swasta nasional dengan swasta asing. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Berdasarkan Pasal Pasal 31. 33/M-DAG/PER/8/2008 tentang Perusahaan Perantara Perdagangan Properti. b. Selanjutnya. Dalam hal belum terdapat Lembaga Pengawas dan Pengatur. kewajiban membuat laporan mengenai pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain dimaksud dan menyampaikannya kepada PPATK paling lama 5 (lima) hari kerja sejak diterimanya pemberitahuan. fasilitasi. dan/atau instrumen pembayaran lain dalam bentuk cek. bertugas dan bertanggung jawab melakukan pembinaan dan pengawasan serta evaluasi terhadap penyelenggaraan kegiatan usaha perantara perdagangan properti. Balai Lelang merupakan Perseroan Terbatas (PT) yang didirikan oleh swasta nasional. dan pelatihan. Pembinaan sebagaimana dilakukan melalui penyuluhan. g. konsultasi. bertanggung jawab terhadap kepatuhan setiap orang untuk memberitahukan atas pembawaan uang tunai dalam mata uang rupiah dan/atau mata uang asing. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (Ditjen PDN) – Kementerian Perdagangan. Peran DJBC dimaksud adalah: a. Dalam hal Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan tidak dilakukan atau belum terdapat Lembaga Pengawas dan Pengatur. Izin Operasional Balai Lelang diberikan dan dicabut oleh Direktur Jenderal atas nama Menteri Keuangan. Kementerian Keuangan. yang berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 118/PMK. pendidikan. Dalam peraturan ini.000. yang berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan RI No. atau bilyet giro paling sedikit Rp100.TERBATAS f.000.07/2005 Tentang Balai Lelang bertugas melakukan pengaturan terhadap Balai Lelang. atau patungan BUMN/D dengan swasta nasional/asing yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan usaha Balai Lelang.00 (seratus juta rupiah) atau yang nilainya setara dengan itu ke dalam atau ke luar daerah pabean Indonesia. h. Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan bagi Pihak Pelapor dilakukan oleh Lembaga Pengawas dan Pengatur dan/atau PPATK. ketentuan mengenai prinsip mengenali Pengguna Jasa dan pengawasannya diatur dengan Peraturan Kepala PPATK. antara lain diatur bahwa Lembaga Pengawas dan Pengatur menetapkan ketentuan prinsip mengenali Pengguna Jasa. dalam ketentuan Pasal 18 UU TPPU. Di samping Lembaga Pengawas dan Pengatur serta Pihak Pelapor di atas. Penilaian Risiko Indonesia 14 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . terdapat lembaga yang memiliki peranan khusus berkenaan dengan pembawaan uang tunai dan atau instrumen pembayaran lainnya. yaitu Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Pengawasan dilakukan sesuai dengan petunjuk teknis pelaksanaan pengawasan. Ditjen Piutang dan Lelang Negara. cek perjalanan. surat sanggup bayar. Pengawasan Kepatuhan atas kewajiban pelaporan dilakukan oleh PPATK.

dan penyetoran ke kas negara. Selain itu. Keberadaan PPATK dimaksudkan sebagai upaya Indonesia untuk ikut serta bersama dengan negara-negara lain memberantas kejahatan lintas negara yang terorganisasi seperti pencucian uang dan terorisme. optimalisasi potensi pendapatan negara dalam Financial Intelligence Unit (FIU). bersamaan dengan disahkannya Undang-Undang No. bentuk pajak melalui Rezim Anti Dalam rezim anti pencucian uang di Pencucian Uang. menyusun laporan mengenai pengenaan sanksi administratif dan menyampaikannya kepada PPATK paling lama 5 (lima) hari kerja sejak sanksi administratif ditetapkan. PPATK didirikan pada tanggal 17 April 2002. merupakan national focal point dalam upaya mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang dan pendanaan terorisme. peran dan eksistensi Transaksi Keuangan (PPATK) adalah PPATK semakin diakui dalam upaya lembaga intelijen di bidang keuangan penegakan hukum pencegahan dan yang memiliki bentuk administrative pemberantasan TPPU. TERBATAS c. serta turut Indonesia. Berikut ini digambarkan peran PPATK dalam skema rezim anti pencucian uang di Indonesia. dalam memberikan informasi lembaga intelijen di bidang keuangan terkait harta kekayaan calon ini lebih dikenal dengan nama generik pejabat negara. Dalam perkembangannya. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). pengenaan sanksi administratif. dan Berintegritas. menindaklanjuti dengan mengeluarkan ketentuan atau petunjuk teknis setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah tentang tata cara pemberitahuan pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain. Dalam dunia internasional. Transparan. PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN (PPATK) SEBAGAI FINANCIAL INTELLIGENCE UNIT (FIU) Pusat Pelaporan dan Analisis Dewasa ini. D. tugas dan kewenangan PPATK seperti tercantum dalam UU No. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 15 Tahun 2015 . 25 Tahun 2003 dan telah ditambahkan termasuk penataan kembali kelembagaan PPATK pada UU No. mengenakan sanksi administratif terhadap setiap orang yang tidak memberitahukan pembawaan uang tunai dan/atau instrumen pembayaran lain dimaksud. Tugas utama PPATK sesuai dengan Pasal 39 UU TPPU adalah mencegah dan memberantas tindak pidana Pencucian Uang. PPATK juga turut berkontribusi model. 15 Tahun 2002 telah diubah dengan UU No. d. PPATK merupakan elemen berperan dalam membantu yang sangat penting karena mewujudkan Pemilu yang Bersih. e. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

131 HA terkait TPPU yang disampaikan kepada penyidik sejak tahun 2003 hingga akhir Agustus 20152. PPATK juga berkontribusi dalam memberikan informasi terkait harta kekayaan calon pejabat negara. dan Berintegritas. Berikut ini. Prosedur atau mekanisme untuk melakukan misalnya penundaan transaksi perlu diatur secara lebih jelas dan lengkap agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda-beda sehingga timbul keragu-raguan dari para aparat penegakan hukum dalam mengambil tindakan. PPATK juga berperan bersama Ditjen Pajak dalam upaya menggali potensi pendapatan negara dalam bentuk pajak melalui Rezim Anti Pencucian Uang. Sedangkan jumlah LHA terkait TPPT telah mencapai 72 LHA. serta turut berperan dalam membantu mewujudkan Pemilu yang Bersih. Selain itu. Transparan. LEMBAGA PENEGAK HUKUM TPPU Setiap tindakan pemeriksaan TPPU memiliki landasan hukum yang kuat.TERBATAS GAMBAR 2: Peran PPATK dalam Skema Rezim Anti Pencucian Uang di Indonesia Dewasa ini. Agustus 2015. para aparat penegak hukum yang memiliki kewenangan berdasarkan tahapan proses penegakan hukum TPPU: 2 Bulletin Statistik Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme. E. Penilaian Risiko Indonesia 16 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Laporan Hasil Analisis (LHA) yang merupakan produk dari PPATK sudah mencapai angka 3. peran dan eksistensi PPATK semakin diakui dalam upaya penegakan hukum pencegahan dan pemberantasan TPPU. dengan harapan mampu mengeliminasi sosok yang diragukan integritasnya.

4) Badan Narkotika Nasional (BNN). melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pencucian uang dengan indikasi tindak pidana narkotika dan psikotropika sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 UU TPPU sesuai dengan kewenangan BNN sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. Badan Narkotika Nasional (BNN). Penyidik tindak pidana asal adalah pejabat dari instansi yang oleh undang- undang diberi kewenangan untuk melakukan penyidikan. melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pencucian uang dengan indikasi tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 UU TPPU sesuai dengan kewenangan Kejaksaan sebagaimana diatur di dalam peraturan perundang-undangan. Kejaksaan. yaitu Kepolisian Negara Republik Indonesia. 2) Kejaksaan. Penyidik tindak pidana asal dapat melakukan penyidikan TPPU apabila menemukan bukti permulaan yang cukup terjadinya tindak pidana pencucian uang saat melakukan penyidikan tindak pidana asal sesuai kewenangannya sebagai berikut: 1) Kepolisian. melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pencucian uang dengan indikasi tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 UU TPPU sesuai dengan kewenangan Direktorat Jenderal Pajak sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008. 3) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Proses Penyidikan UU TPPU yang saat ini berlaku menetapkan penyidikan tindak pidana pencucian uang dilakukan oleh penyidik tindak pidana asal. TERBATAS a. melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pencucian uang dengan indikasi tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 UU TPPU sesuai dengan kewenangan KPK sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 17 Tahun 2015 . serta Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Republik Indonesia. 5) Direktorat Jenderal Pajak. melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pencucian uang dengan indikasi tindak pidana asal sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 UU TPPU sesuai dengan kewenangan Kepolisian sebagaimana diatur di dalam peraturan perundang- undangan.

Proses Penuntutan Dalam hal penyidik telah selesai melakukan penyidikan. 4) Penyitaan aset yang diketahui atau sepatutnya dicurigai merupakan hasil kejahatan yang belum disita oleh penyidik atau jaksa penuntut umum yang bersangkutan. atau terdakwa. 144 KUHAP. 3) Permintaan keterangan secara tertulis kepada Pihak Pelapor mengenai Harta Kekayaan dari orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik. UU memberikan kewenangan kepada penyidik. Penanganan perkara TPPU di tingkat penuntutan sampai dengan dilimpahkan ke pengadilan tunduk pada ketentuan yang tercantum dalam Pasal 137 s.TERBATAS 6) Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. yaitu: Penilaian Risiko Indonesia 18 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . atau terdakwa. tersangka. Penuntut umum yang menangani perkara tindak pidana pencucian uang dapat memilih beberapa alternatif bentuk surat dakwaan yang akan disusun. b.d. 2) Pemblokiran Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana dari: setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik. melakukan penuntutan atas perkara tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal yang berasal dari pelimpahan berkas perkara oleh penyidik KPK sesuai dengan kewenangan KPK sebagaimana diatur di dalam peraturan perundang-undangan. tersangka. melakukan penyidikan terhadap tindak pidana pencucian uang dengan indikasi tindak pidana kepabeanan sebagaimana dimaksud pada Pasal 2 UU TPPU sesuai dengan kewenangan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sebagaimana diatur di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 Tentang Kepabeanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007. 2) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). penyidik wajib segera menyerahkan berkas perkara tersebut kepada penuntut umum sebagai berikut: 1) Kejaksaan. yaitu: 1) Penundaan Transaksi oleh PJK atas Perintah Penegak Hukum terhadap Harta Kekayaan yang diketahui atau patut diduga merupakan hasil tindak pidana. melakukan penuntutan atas perkara tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal yang berasal dari pelimpahan berkas perkara oleh penyidik sesuai dengan kewenangan Kejaksaan sebagaimana diatur di dalam peraturan perundang-undangan. Dalam proses penyidikan ini.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Menteri Keuangan. melakukan pemeriksaan di sidang pengadilan atas perkara tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana asal sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 Tentang Kekuasaan Kehakiman. F. TERBATAS 1) Predicate crime dan pencucian uang dibuat dalam bentuk kumulatif. Hukum dan Keamanan Wakil Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sekretaris : Kepala PPATK (merangkap anggota) Anggota : Gubernur Bank Indonesia. Hukum dan Keamanan dengan wakil Menko Perekonomian dan Kepala PPATK sebagai Sekretaris Komite. Kepala Badan Narkotika Nasional Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 19 Tahun 2015 . Kepala Kepolisian Republik Indonesia. Jaksa Agung. melakukan pemeriksaan di sidang pengadilan atas perkara tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana korupsi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang saat ini mendasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2012. Pemerintah RI membentuk Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang yang diketuai oleh Menko Politik. Menteri Luar Negeri. Menteri Hukum dan HAM. 2) Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Berikut ini susunan Keanggotaan Komite Nasional Pencegahan dan Pemberantasan TPPU: Ketua : Menteri Koordintor Bidang Politik. c. KOORDINASI PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TPPU Untuk meningkatkan koordinasi antarlembaga terkait dan untuk menunjang efektifitas pelaksanaan rezim anti pencucian uang di Indonesia. Kepala Badan Intelijen Negara. 2) Predicate crime dan pencucian uang dakwaan dilakukan secara terpisah atau dibuat dakwaan tunggal. Proses Pengadilan Melaksanakan pemeriksaan perkara TPPU di sidang pengadilan berdasarkan Pasal 78 UU TPPU dapat dilakukan oleh: 1) Pengadilan Umum. Menteri Dalam Negeri.

G. ancaman dan konsekuensi yang dalam riset ini langkah awalnya dilakukan dengan melakukan pendataan terhadap jenis data dan informasi yang masuk ke dalam kategori kerentanan. dan konsekuensi. ancaman dan konsekuensi. FATF tidak menetapkan acuan baku. setidaknya terdapat 2 (dua) model NRA yang dapat diadopsi suatu negara dalam penyusunan model NRA on ML yang akan dibangun. 3) Mengkoordinasikan langkah-langkah yang diperlukan dalam penanganan hal lain yang berkaitan dengan pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang termasuk pendanaan terorisme. Meski demikian. Proses identifikasi ini merupakan kombinasi dari kerentanan. Penilaian Risiko Indonesia 20 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . ancaman. kebijakan. dan 4) Melakukan pemantauan dan evaluasi atas penanganan serta pelaksanaan program dan kegiatan sesuai arah.TERBATAS Sesuai Pasal 4 Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2012. PENILAIAN RISIKO NASIONAL TERHADAP TPPU Dalam melakukan penilaian risiko nasional terhadap TPPU. Komite TPPU memiliki tugas sebagai berikut: 1) Merumuskan arah. Tahap Kedua: Analisis Tahapan analisis merupakan kelanjutan dari tahapan identifikasi risiko menggunakan variabel kerentanan. kebijakan. dan strategi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. kebijakan dan strategi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang. 2) Mengkoordinasikan pelaksanaan program dan kegiatan sesuai arah. yaitu: 1) Model NRA versi FATF Menurut FATF dalam “FATF Guidance: National Money Laundering and Terrorist Financing Risk Assessment” disebutkan bahwa terdapat 3 (tiga) tahapan dalam melakukan penilaian risiko dengan rincian sebagai berikut: Tahap Pertama: Identifikasi Pada tahapan ini berisikan proses untuk mengidentifikasi risiko yang akan dianalisis. dan strategi pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang.

Tahap Ketiga: Evaluasi Tahapan evaluasi ini berisikan proses pengambilan hasil yang ditemukan selama proses analisis untuk menentukan prioritas dalam mengatasi risiko. dengan mempertimbangkan tujuan penilaian risiko pada awal proses penilaian. dan Risiko Tinggi sebagaimana ditampilkan pada Gambar 3 di atas. sumber. Tahapan ini sekaligus berkontribusi dalam pengembangan strategi untuk mitigasi risiko yang mengarah ke pengembangan strategi untuk mengatasi risiko. kemungkinan dan konsekuensi dalam rangka untuk menetapkan semacam nilai relatif untuk masing-masing risiko. Gambaran risiko yang sudah di analisis dapat ditampilkan ke dalam bentuk skala matrik dari Risiko Rendah. TERBATAS GAMBAR 3: Ilustrasi Matriks Analisis Risiko Tujuan dari langkah ini adalah untuk menganalisis risiko yang teridentifikasi guna memahami sifat. Gambaran terhadap matrik evaluasi risiko ini dapat digambarkan pada bagan sebagai berikut: Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 21 Tahun 2015 . Risiko Menengah.

Model ini mendefinisikan Risiko pencucian uang sebagai kombinasi dari ancaman nasional dan kerentanan nasional. Semua variabel input ini merupakan blok bangunan dari jaringan yang akhirnya membentuk rangkaian secara utuh. 2) Model NRA versi World Bank Menurut Bank Dunia dalam penilaian risiko nasional terdapat rumusan atau model penilaian yang lebih komprehensif untuk mengukur risiko baik secara nasional maupun sektoral. Penilaian Risiko Indonesia 22 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Modul ancaman nasional adalah "Proceeds of Crime". Dalam menilai kerentanan nasional.TERBATAS GAMBAR 4: Ilustrasi Matriks Evaluasi Risiko Tahapan evaluasi merupakan tahapan yang dilakukan dalam tingkatan pengambilan kebijakan untuk tujuan penentuan langkah strategis kedepannya. sejumlah variabel dievaluasi sebagai penggerak utama (variabel masukan) kerentanan terhadap pencucian uang.

pasar modal. asuransi. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 23 Tahun 2015 . dapat dilihat secara jelas bahwa bangunan dari penilaian risiko secara nasional terdiri dari beberapa variabel input yang merupakan hasil penilaian risiko secara sektoral (sektor perbankan. TERBATAS GAMBAR 5: Skema Model NRA versi World Bank Dalam model Bank Dunia. institusi keuangan lainnya. Designated Non-Financial Business and Professions/DNFBPs (PBJ dan profesi) sehingga membentuk satu kesatuan yang utuh.

Dalam konteks pencucian uang ancaman meliputi tindak pidana. Penilaian Risiko Indonesia 24 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Dampak (consequences) adalah akibat atau kerugian yang ditimbulkan dari tindak pidana pencucian uang dan atau pendanaan terorisme terhadap lembaga. Ancaman (threats) adalah orang atau sekumpulan orang. V represents vulnerability. ekonomi dan sosial secaral lebih luas termasuk juga kerugian dari tindak kriminal dan aktivitas terorisme itu sendiri. Berdasarkan panduan tersebut.TERBATAS 3) Formulasi Penilaian Risiko Dalam panduan dari IMF mengenai “The Fund Staff’s Approach To Conducting National Money Laundering Or Financing Of Terrorism Risk Assessment” pada bagian 7 dijelaskan bahwa : “risk can be represented as: R=f[(T). where T represents threat. b. kelompok teroris dan pendanaannya. and C represents consequence”. Kerentanaan (vulnerabilities) adalah hal – hal yang dapat dimanfaatkan atau mendukung ancaman atau dapat juga disebut dengan faktor – faktur yang menggambarkan kelemahan dari sistem anti pencucian uang/pendanaan terorisme baik yang berbentuk produk keuangan atau layanan yang menarik untuk tujuan pencucian uang atau pendanaan terorisme. ancaman dan dampak sesuai dengan kriteria yang digunakan untuk menggambarkan tindak pidana pencucian uang atau pendanaan terorisme. c. objek atau aktivitas yang memiliki potensi menimbulkan kerugian. Merujuk kepada FATF Guidance disebutkan bahwa: a.(V)] x C. formulasi untuk melakukan penilaian risiko dapat dirumuskan sebagai berikut: GAMBAR 6: Persamaan Penilaian Risiko ( Risiko = Kerentanan + ( x Dampak Ancaman Untuk dapat digunakannya formula ini terlebih dahulu perlu dilakukannya pendefinisian masing – masing variabel dari kerentanan.

dan dampak sebagaimana dijelaskan di atas. TERBATAS Dalam FATF Guidance disebutkan bahwa dalam melakukan penilaian risiko idealnya melibatkan penentuan unsur ancaman. kerentanan. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 25 Tahun 2015 .

TERBATAS Halaman ini sengaja dikosongkan Penilaian Risiko Indonesia 26 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

dan stakeholder lainnya. ataupun Focus Group Discussion. Berikut ini skema para pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyusunan NRA on ML/TF Indonesia: GAMBAR 7: Skema Pemangku Kepentingan dalam Penyusunan NRA on ML/TF Berdasarkan pengembangan literature review serta hasil Focus Group Discussion (FGD) bersama expert dan pemangku kepentingan terkait. Tim Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 27 Tahun 2015 . menyeluruh. terintegrasi. untuk selanjutnya akan dilakukan kajian menyeluruh dalam kerangka kajian NRA. Pengumpulan data dilakukan baik melalui penyebaran kuesioner in-depth interview. TERBATAS BAB 3 Metodologi Kegiatan NRA on ML dilaksanakan oleh Tim NRA Indonesia secara komprehensif. Dalam proses identifikasi faktor-faktor risiko TPPU. Lembaga Pengawas dan Pengatur. Lembaga Asosiasi. Aparat Penegak Hukum. seperti Pihak Pelapor. serta dengan menggunakan metode dan kerangka kerja yang diadopsi dari international best practices. Tim NRA Indonesia telah mengumpulkan data/informasi dari berbagai stakeholder rezim APUPPT.

tingkat dampak. serta tingkat risiko.TERBATAS NRA Indonesia telah menyusun metodologi pengukuran faktor-faktor risiko TPPU Indonesia. tingkat kecenderungan. Kerentanan TPPU: a) Kerentanan Pihak Pelapor: 1) Kerentanan Internal:  Ketersediaan Program Anti Pencucian Uang  Manajemen Program Anti Pencucian Uang  Kebijakan dan Prosedur Program Anti Pencucian Uang  Pengawasan Internal Program Anti Pencucian Uang  Kehandalan Sistem Informasi Program Anti Pencucian Uang  Kecukupan dan Kapabilitas SDM Program Anti Pencucian Uang  Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang  Kemampuan mengidentifikasi tindak pidana asal dalam transaksi keuangan mencurigakan Penilaian Risiko Indonesia 28 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Tim NRA Indonesia menggunakan metode hierarki (berjenjang). dengan perincian sebagai berikut: a. Dalam metode tersebut Tim telah menyusun formulasi matematis setiap faktor risiko yang memiliki berberapa variabel dan sub-variabel pembentuk. tingkat kerentanan. Ancaman TPPU berdasarkan Tindak Pidana Asal: 1) Ancaman Riil: a) Penelusuran transaksi terindikasi TPPU:  Jumlah LTKM  Jumlah Laporan Hasil Analisis  Jumlah Laporan Hasil Pemeriksaan b) Pemeriksaan terindikasi TPPU oleh Penyidik:  Jumlah kasus yang diinvestigasi pada tindak pidana asal  Jumlah kasus TPPU yang diinvestigasi c) Penuntutan TPPU:  Jumlah kasus TPPU yang dituntut d) Pemeriksaan TPPU di Pengadilan:  Jumlah putusan TPPU yang diputus pengadilan 2) Ancaman Potensial:  Persepsi Apgakum terkait tingkat potensi TPPU menurut TPA b. Untuk mengukur tingkat ancaman.

TERBATAS 2) Kerentanan Pelaporan:  Rasio jumlah LTKM terhadap jumlah nasabah/pengguna jasa berisiko tinggi TPPU b) Kerentanan Apgakum: 1) Kerentanan Internal:  Kebijakan Strategis dalam Penanganan Perkara TPPU  Dukungan Manajemen Tertinggi terkait Rezim Anti Pencucian Uang  Kebijakan dan Prosedur dalam Penanganan Perkara TPPU  Kehandalan Sistem Informasi dalam Penanganan Perkara TPPU  Kecukupan dan Kapabilitas SDM dalam Penanganan Perkara TPPU  Pengawasan Internal Rezim Anti Pencucian Uang  Persepsi terhadap Isu terkait Penanganan Perkara TPPU 2) Kerentanan Tindak Lanjut Penanganan Perkara TPPU:  Persentase tindak lanjut atas penyampaian Laporan Hasil Analisis dan/atau Laporan Hasil Pemeriksaan kepada Penyidik TPPU Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 29 Tahun 2015 .

telah dilakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif guna mengukur tingkat ancaman. Dampak TPPU: 1) Dampak Riil:  Rata-rata Nilai Transaksi Keuangan Mencurigakan  Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Laporan Hasil Analisis PPATK  Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Laporan Hasil Pemeriksaan PPATK  Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Berkas Penyidikan TPPU  Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Berkas Penuntutan TPPU  Rata-rata Nilai yang diputus terkait TPPU dalam Berkas Putusan Pengadilan perkara TPPU 2) Dampak Potensial:  Persepsi Apgakum terkait tingkat rata-rata nilai TPPU menurut TPA. kecenderungan. dan dampak yang ditimbulkan.TERBATAS c. Lebih dari itu. Terhadap berbagai faktor risiko TPPU tersebut. terhadap hasil analisis risiko TPPU di Indonesia tersebut juga telah dilakukan evaluasi sehingga dapat disusun berbagai rekomendasi beserta strategi-strategi implementasinya. kerentanan. Penilaian Risiko Indonesia 30 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

Sebagai salah satu sentra ekonomi dunia. transparansi publik. dan ketimpangan kesejahteraan masyarakat. TERBATAS BAB Identifikasi. Semakin besar nilai Indeks mencerminkan risiko TPPU dan TPPT di suatu negara semakin tinggi. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 43 Tahun 2015 . risiko terjadinya Tindak Pidana Pencucian Uang di Indonesia secara global tergolong “Menengah ke Atas”. dan Evaluasi 4 Faktor Risiko TPPU Indonesia Sebagai negara maritim yang sedang berkembang dengan penduduk lebih dari 252 juta yang tersebar di 17. Besaran ini menempatkan Indonesia berada pada posisi 59 dari 152 negara paling tinggi risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme. maupun dari luar negeri. Besaran indeks dalam skala 0-10. Berdasarkan hasil penghitungan Basel Institute on Governance.504 pulau serta tingkat pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 5 persen. Analisis. Indonesia berada dalam area yang cukup berisiko terhadap terjadinya Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme. salah satu ancaman besar bangsa Indonesia saat ini adalah ancaman terhadap maraknya pencucian uang. Masuknya dana asing ke Indonesia di satu sisi dapat dipandang sebagai advantage bagi perekonomian Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh besaran “The Basel AML Index” yang dilansir oleh Basel Institute on Governance. Indeks AML Basel ini mengukur tingkat risiko suatu negara terhadap TPPU dan Pendanaan Terorisme berdasarkan kemajuan dalam implementasi standar AML/CTF dan risiko lainnya seperti regulasi keuangan. narkotika. Selain ancaman korupsi. Sebagai bagian dalam pergaulan internasional.23. Indonesia menjadi salah satu negara tujuan investasi asing. skor keseruluruhan Indeks AML Indonesia tahun 2015 tercatat sebesar 6. Ancaman pencucian uang dapat berasal dari dalam negeri yang dananya bersumber dari hasil kejahatan domestik. kemiskinan. Ini menunjukkan bahwa bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Indonesia memiliki tantangan dan ancaman besar dalam melakukan pembangunan yang berkualitas di segala dimensi. khususnya di kawasan Asia Pasifik. korupsi dan aturan hukumnya. Kondisi ini menuntut seluruh stakeholder untuk menjaga integritas sistem keuangan Indonesia agar terbebas dari ancaman pencucian uang. namun di sisi lain juga dapat menjadi celah masuknya illicit funds yang mendorong terjadinya pencucian uang.

Tingkat kecenderungan terjadinya TPPU yang merupakan akumulasi dari: 1) Berbagai potensi dan ancaman riil TPPU. FATF melalui Rekomendasi No. yang meliputi: a. maupun yang bersumber dari luar negeri. Pemerintah Indonesia telah melakukan analisis risiko pencucian uang di Indonesia melalui kegiatan National Risk Assessment on Money Laundering (NRA on ML).TERBATAS Mengingat seriusnya ancaman TPPU. dan b) Jenis profil pelaku TPPU. GAMBAR 8: Posisi Indonesia dalam Implementasi Rezim APUPPT (berdasarkan AML Basel Index Tahun 2015) Sumber: Diolah dari “2015 Basel AML Index Report” Melalui kegiatan NRA on ML telah diidentifikasi berbagai faktor risiko TPPU Indonesia. 1 mendorong agar setiap negara agar berupaya untuk menerapkan pendekatan berbasis risiko (Risk-based Approach/RBA) untuk meyakinkan bahwa lagkah- langkah pencegahan atau penyelesaian kasus pencucian uang sepadan dengan risiko yang teridentifikasi. Penilaian Risiko Indonesia 44 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Sebagai bentuk konkret komitmen Indonesia terhadap implementasi Rekomendasi FATF terkait penilaian risiko tersebut. yang dirinci menurut: a) Jenis tindak pidana asal TPPU sesuai dengan Pasal 2 UU Pencegahan dan Pemberantasan TPPU Tahun 2010. baik yang bersumber dari dalam negeri. baik perorangan maupun korporasi.

fisik. b) Kerentanan secara geografis ditinjau dari wilayah yang rentan terhadap terjadinya TPPU. ditemukan fakta bahwa terdapat 3 (tiga) TPA TPPU yang memiliki tingkat ancaman TPPU pada level “Tinggi”. TERBATAS 2) Berbagai potensi dan kerentanan riil TPPU. A. Untuk ancaman TPPU domestik. b. 2) Wilayah. Sosial. dan Legislasi. 2011-2014 1) Ancaman TPPU Menurut Tindak Pidana Asal (TPA) Ancaman TPPU dapat berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Lingkungan. Teknologi. dan tindak pidana narkotika sebesar 7. Ekonomi. telah dilakukan analisis secara kualitatif dan kuantitatif guna mengukur tingkat ancaman. Dampak-dampak TPPU yang dapat ditimbulkannya. kecenderungan. baik terhadap aspek ekonomi. yang dirinci menurut: a) Kerentanan sektoral. dan  Kerentanan Aparat Penegak Hukum dalam penegakan hukum TPPU.0. yang terdiri dari:  Kerentanan Pihak Pelapor berikut jenis produk/layanannya digunakan sebagai sarana TPPU. dan dampak yang ditimbulkan. serta c) Kerentanan TPPU secara makro ditinjau dari aspek Politik. maupun politik/struktural. 3) Jenis Pihak Pelapor Terhadap berbagai faktor risiko TPPU yang telah diidentifikasi tersebut.3. ANCAMAN UTAMA TPPU DI INDONESIA. diikuti tindak pidana perbankan sebesar 7. kerentanan. yaitu: Korupsi dengan tingkat ancaman tertinggi sebesar 9. yang dirinci menurut: 1) Jenis tindak pidana asal TPPU. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 45 Tahun 2015 .5. sosial. lingkungan. berdasarkan hasil analisis tingkat ancaman TPPU menurut tindak pidana asal sebagaimana terlihat pada grafik dan tabel di bawah ini.

6 3.0 6.7 3.0 15 PEMALSUAN UANG 5.0 6.3 3.3 3.0 7.0 6.3 3.3 4.3 6.1 14 TP CUKAI 5.4 12 TP PASARMODAL 5.8 4.5 4.2 7.0 3.2 8.0 5.3 3.8 KERJA 22 PERDAGANGAN ORANG 4.0 5 KEHUTANAN 6.2 3.7 Penilaian Risiko Indonesia 46 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .5 5.2 3.0 21 PENYELUNDUPAN TENAGA 4.8 3.7 2 TP PERBANKAN 7.4 13 TP PABEAN 5.0 20 PERDAGANGAN SENJATA 4.2 11 TP KELAUTAN 5.2 7.1 5.3 3.4 16 TP ASURANSI 5.3 18 PENGGELAPAN 4.0 7.6 23 PENYELUNDUPAN MIGRAN 4.0 7.7 9 TP LINGKUNGAN HIDUP 5.8 3 NARKOTIKA 7.5 3.1 4.0 6.3 5.0 3.0 6.0 5.8 10 PENIPUAN 5.0 4.0 6.8 3.4 7 PSIKOTROPIKA 6.5 4 PERPAJAKAN 6.2 7.7 19 TP LAINNYA 4.5 5.5 3.7 17 PENYUAPAN 4.2 3.8 3.8 4.5 3.9 3.3 8 PERJUDIAN 6.8 6 TERORISME 6.TERBATAS GRAFIK 1: Tingkat Ancaman TPPU Domestik Indonesia menurut Jenis Tindak Pidana Asal Sumber: Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML TABEL 1: Hasil Analisis Tingkat Ancaman Tindak Pidana Asal TPPU Domestik menurut Peringkat Tingkat Ancaman Total Ranking Tingkat Tingkat Tingkat Ancaman Jenis TPA Ancaman Ancaman Total Ancaman Riil TPPU Potensial 1 KORUPSI 9.0 4.

2 3.4.1 Sumber: Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan:  TPA dengan nilai ancaman sebesar 3.0 .0 3.9 dikategorikan memiliki tingkat ancaman “Menengah”  TPA dengan nilai ancaman 7. maupun Mahkamah Agung. serta 2) Persepsi aparat penegak hukum terkait dengan potensi terjadinya TPPU menurut jenis tindak pidana asalnya Beberapa data/statistik yang mendukung hal ini dapat terlihat pada tabel dan grafik di bawah ini. Maraknya kasus TPPU yang telah terungkap di pengadilan.4 3.8 25 PENCURIAN 3. Besarnya potensi TPPU yang ditunjukkan oleh: 1) Tingginya jumlah pelaporan transaksi keuangan mencurigakan dan hasil analisis PPATK. tindak pidana perbankan.9 dikategorikan memiliki tingkat ancaman “Rendah”  TPA dengan nilai ancaman sebesar 5.0 3.0 dikategorikan memiliki tingkat ancaman “Tinggi” Tingginya tingkat ancaman domestik TPPU yang berasal dari tindak pidana korupsi. GRAFIK 2: Distribusi Jumlah Kumulatif Penyampaian Laporan Hasil Analisis PPATK Terkait TPPU menurut Jenis Tindak Pidana Asal. dan tindak pidana narkotika lebih dikarenakan oleh: b.0 3.0 – 9.5 3.0 26 PENCULIKAN 3.0 – 6. TERBATAS Ranking Tingkat Tingkat Tingkat Ancaman Jenis TPA Ancaman Ancaman Total Ancaman Riil TPPU Potensial 24 PROSTITUSI 3. baik yang telah diputus oleh Pengadilan Tipikor. Pengadilan Tinggi. Tahun 2011-2014 Sumber : Hasil olahan Kuesioner NRA yang disampaikan kepada Aparat Penegak Hukum Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 47 Tahun 2015 . dan c.

sedangkan Biru mencerminkan Ancaman SEDANG. Tahun 2011-2014 Sumber : Diolah dari Bulletin Statisik Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme PPATK GRAFIK 4: Persepsi Apgakum Terhadap Potensi TPPU Menurut Jenis Tindak Pidana Asalnya Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Warna mencerminkan tingkat ancaman. Penilaian Risiko Indonesia 48 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . dimana Merah mencerminkan ancaman TINGGI.TERBATAS GRAFIK 3: Perbandingan Jumlah Kumulatif LTKM menurut Indikasi Tindak Pidana Asal.

TERBATAS Tindak Pidana Korupsi tidak hanya memiliki tingkat ancaman TPPU tertinggi tetapi juga memiliki tren ancaman yang semakin meningkat. GRAFIK 5: Tren LTKM Terindikasi Korupsi dan Distribusi menurut Jenis Profil Terlapornya Tahun 2011-2014 GRAFIK 6: Tren Penyampaian LHA PPATK dengan Indikasi TP Korupsi Tahun 2011-2014 Sumber : Diolah dari bulletin Statistik APUPPT PPATK. anggota Rumahtangga. namun juga cukup banyak yang melibatkan profil Ibu Rumahtangga. Hal ini dapat terlihat dari semakin meningkatnya jumlah LTKM dan hasil analisis PPATK dengan indikasi TP Korupsi yang disampaikan kepada Apgakum. Selain itu. maupun pelajar selaku nominee serta gatekeeper seperti notaris. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 49 Tahun 2015 . atau pengusaha saja. legislatif. akuntan. dan jasa profesi lainnya. hasil riset PPATK menemukan fakta bahwa pelaku TPPU dengan TPA Korupsi kini tidak hanya melibatkan profil PEPs (seperti: oknum eksekutif. lawyer. yudikatif).

sedangkan Hijau mencerminkan ancaman RENDAH. Indonesia memiliki tingkat ancaman TPPU dari luar negeri yang cukup tinggi. Penilaian Risiko Indonesia 50 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . GRAFIK 7: Tingkat Ancaman TPPU Indonesia yang Bersumber dari Luar Negeri menurut Jenis Tindak Pidana Asal Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Warna mencerminkan tingkat ancaman. dimana Merah mencerminkan ancaman TINGGI. terorisme. psikotropika. Berdasarkan hasil analisis terhadap potensi ancaman TPPU yang bersumber dari luar negeri ditemukan fakta bahwa Indonesia cukup berisiko terhadap TPPU yang terkait dengan 8 (delapan) tindak pidana asal. Hal ini dapat terlihat pada grafik di bawah ini bahwa nilai tingkat ancaman Korporasi yang sebesar 7. dan lingkungan hidup. bahwa sebagai negara berkembang. narkotika.74. perbankan. korupsi.01 lebih tinggi dari dibandingkan tingkat ancaman Perorangan yang sebesar 6. yaitu tindak pidana perpajakan. kriminalisasi terhadap TPPU dapat dijatuhkan kepada pelaku yang merupakan perorangan maupun korporasi. 2) Ancaman Menurut Jenis Profil Pelaku TPPU Sebagaimana telah diatur dalam UU PPTPPU Tahun 2010.TERBATAS Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. diketahui bahwa Pengguna Jasa Korporasi/Badan Usaha lebih berpotensi menjadi pelaku TPPU dibandingkan Pengguna Jasa Perorangan. kehutanan. Berdasarkan hasil analisis ancaman terhadap statistik penegakan hukum TPPU di Indonesia dan persepsi penegak hukum terhadap potensi terjadinya TPPU di Indonesia berdasarkan jenis pelakunya. Hal ini dapat terlihat dari grafik di bawah ini dimana ke-tujuh tindak pidana asal tersebut memiliki nilai tingkat ancaman di atas 7. Biru mencerminkan ancaman SEDANG.

sedangkan Hijau mencerminkan ancaman RENDAH. 7. GRAFIK 9: Tingkat Ancaman TPPU Indonesia menurut Jenis Pelaku Perorangan dan Badan Usaha Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Warna mencerminkan tingkat ancaman.41 (Korporasi Non UMKM). Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 51 Tahun 2015 . Korporasi Non UMKM serta Badan Usaha Perkumpulan memiliki tingkat ancaman “Tinggi” sebagai pelaku TPPU.56 (Yayasan). Tingkat ancaman ketiga profil Pengguna Jasa korporasi/badan tersebut bernilai di atas 7.02 (Badan Usaha Perkumpulan). Biru mencerminkan ancaman SEDANG. dimana Merah mencerminkan ancaman TINGGI. yaitu masing-masing sebesar 7. dan 7. TERBATAS GRAFIK 8: Tingkat Ancaman TPPU Indonesia menurut Jenis Pelaku Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Bila dianalisis lebih rinci terhadap tingkat ancaman Pengguna Jasa korporasi/badan. ditemukan fakta bahwa Yayasan.

Penilaian kerentanan internal didasarkan kepada self assessment dari setiap Pihak Pelapor. Disamping itu. Pengawasan Internal Rezim Anti Pencucian Uang 7. Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang Berdasarkan hasil analisis kerentanan sektoral menurut Pihak Pelapor. KERENTANAN TPPU DI INDONESIA Untuk mengetahui tingkat kerentanan TPPU Indonesia. dengan nilai tingkat ancaman sebagaimana terlihat pada grafik di atas. Dalam self assessment setiap Pihak Pelapor. meskipun secara rata-rata tingkat ancaman Pengguna Jasa Perorangan lebih rendah dari Pengguna Jasa korporasi/badan. geografis. Setidaknya terdapat 12 (dua belas) profil perorangan yang memiliki tingkat ancaman “Tinggi” dengan nilai ancaman di atas 7. yaitu: 1. 1) Kerentanan TPPU Indonesia secara Sektoral Pihak Pelapor Kerentanan sektoral Pihak Pelapor yang diulas dalam bagian ini adalah kerentanan dari sisi internal Pihak Pelapor yang diukur dengan menilai sejauhmana setiap pihak pelapor mengimplementasikan rezim Anti Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme sebagaimana telah diatur dalam regulasi terkait sehingga tidak rentan terhadap TPPU serta kerentanan potensial yang diperoleh melalui risk-based approach dari para penegak hukum. dan Wilayah. Kerentanan secara sektoral dilakukan untuk mengukur kerentanan pada Pihak Pelapor. dan Karyawan BUMN/D. 4 (empat) profil dengan tingkat ancaman tertinggi di antaranya adalah Pengusaha. terdapat 7 (tujuh) variabel kerentanan yang menjadi parameter dalam menilai tingkat kerentanan Pihak Pelapor. namun beberapa profil pengguna jasa perorangan memiliki tingkat ancaman “Tinggi” menjadi pelaku TPPU.TERBATAS Sementara itu. Kecukupan dan Kapabilitas SDM Rezim Anti Pencucian Uang 6. PEPs. tidak adanya kewajiban PBJ dalam mengidentifikasi Transaksi Keuangan Mencurigakan juga berkontribusi menaikkan tingkat kerentanan internal PBJ. B. Dukungan Manajemen Tertinggi terkait Rezim Anti Pencucian Uang 3. Pengurus Partai Politik. Apgakum. pihak pelapor yang Penilaian Risiko Indonesia 52 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Hal ini dikarenakan pencapaian PBJ dalam mengimplementasikan Program dan Kebijakan Anti Pencucian Uang/Pendanaan Terorisme sesuai ketentuan yang berlaku tidak lebih baik dari pihak pelapor lainnya. dan secara makro nasional. Tim NRA Indonesia telah melakukan identifikasi terhadap kerentanan secara sektoral. Kebijakan Strategis terkait Rezim Anti Pencucian Uang 2. Selain PBJ. Kehandalan Sistem Informasi Rezim Anti Pencucian Uang 5. Kebijakan dan Prosedur terkait Rezim Anti Pencucian Uang 4. diketahui bahwa Penyedia Barang dan Jasa (PBJ) memiliki tingkat kerentanan internal yang tinggi.

Hal ini ditunjukkan oleh tingkat kerentanan potensial yang bernilai diatas 7.0. Perusahaan Properti. Perbankan. dimana Merah mencerminkan kerentanan TINGGI. dan Perusahaan Asuransi.0. Money Services Business (Pedagang Valas dan KUPU) memiliki tingkat kerentanan “Menengah” sedangkan Perbankan dan Pasar Modal memiliki tingkat kerentanan “Rendah”. Biru mencerminkan kerentanan SEDANG. Pasar Modal. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat kerentanan internal yang bernilai diatas 7. diketahui bahwa cukup banyak sektor yang memiliki kerentanan potensial menjadi sarana TPPU. Perusahaan Logam Mulia. Hal ini dikarenakan sektor Bank dan Pasar Modal bila dibandingkan pihak pelapor lainnya sudah lebih baik dalam mengimplementasikan Program dan Kebijakan Anti Pencucian Uang/Pendanaan Terorisme sesuai ketentuan yang berlaku. Sementara itu. Tingkat kerentanan internal Pihak Pelapor tergambar dalam grafik di bawah ini: GRAFIK 10: Tingkat Kerentanan Internal TPPU pada Pihak Pelapor menurut Jenis Pihak Pelapor Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan :  KUPU = Kegiatan Usaha Pengiriman Uang  PBJ = Penyedia Barang dan Jasa Lainnya  Warna mencerminkan tingkat kerentanan. sedangkan Hijau mencerminkan kerentanan RENDAH. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 53 Tahun 2015 . Sebagaimana dijelaskan sebelumnya. TERBATAS memiliki tingkat kerentanan “Tinggi” menjadi sarana TPPU adalah Perusahaan Pembiayaan. yaitu: Money Services Business (Pedagang Valas dan KUPU). Berdasarkan hasil risk-based approach penegak hukum. kerentanan sektoral Pihak Pelapor juga menilai kerentanan potensial yang diperoleh melalui risk-based approach dari para penegak hukum. Perusahaan Pembiayaan.

Hal ini ditunjukkan oleh tingkat kerentanan total yang bernilai diatas 7. sedangkan Hijau mencerminkan kerentanan RENDAH.TERBATAS GRAFIK 11: Tingkat Kerentanan Potensial TPPU pada Pihak Pelapor menurut Jenis Pihak Pelapor Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Warna mencerminkan tingkat kerentanan. Sementara sektor lainnya memiliki tingkat kerentanan “Menengah”. Biru mencerminkan kerentanan SEDANG. Dengan menggabungkan tingkat kerentanan internal dan tingkat kerentanan potensial menurut jenis pihak pelapor.0. diketahui bahwa sektor yang memiliki tingkat kerentanan “Tinggi” menjadi sarana bagi pelaku TPPU adalah KUPU dan Perusahaan Pembiayaan. GRAFIK 12: Tingkat Kerentanan Sektoral Pihak Pelapor menjadi Sarana TPPU Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Penilaian Risiko Indonesia 54 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . dimana Merah mencerminkan kerentanan TINGGI.

1 9. Berdasarkan hasil risk-based approach tersebut. wilayah Kalimantan.7 Dana Pensiun 5. Hasil penilaian ini akan menjadi unsur penentuan dalam menentukan wilayah yang paling berisiko TPPU. TERBATAS TABEL 2: Hasil Analisis Tingkat Kerentanan Sektoral Pihak Pelapor menjadi Sarana TPPU Tingkat Kerentanan Tingkat Kerentanan Tingkat Kerentanan Jenis Pihak Pelapor Total Internal Potensial Bank 5. dan wilayah Sumatera. Wilayah-wilayah tersebut adalah wilayah Maluku dan Papua yang memiliki tingkat kerentanan tertinggi. diikuti wilayah Jawa. Hal ini dapat terlihat dari grafik-grafik di bawah ini dimana propinsi dan wilayah dengan tingkat kerentanan “Tinggi” terjadinya TPPU bernilai di atas 7. Papua Barat.0 7. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 55 Tahun 2015 . 4 (empat) dari 5 (lima) kelompok wilayah memiliki tingkat kerentanan “Tinggi” terjadinya TPPU.2 Pembiayaan (PP) Pedagang Valas 6.1 Perusahaan 7.9 Pasar Modal 6.0 7. dan Kalimantan Utara diketahui sangat rentan menjadi lokasi terjadinya TPPU.6 Asuransi 5.0 5.5 7.0 7. diketahui bahwa wilayah yang memiliki tingkat kerentanan “Tinggi” terjadinya TPPU adalah Provinsi Papua.3 5.1 4. Bali.1 3.2 7.2 6. Sementara itu. dan Nusa Tenggara. secara kelompok wilayah.8 Penyedia Barang 8.1 7. Sementara itu. DKI Jakarta.5 3.9 6. Bengkulu. wilayah Sulawesi tercatat memiliki tingkat kerentanan pada kategori “Sedang”.4 7. Tim NRA Indonesia telah melakukan risk-based approach kepada para penegak hukum.9 (PVA) KUPU 7.0.1 7.2 dan Jasa (PBJ) Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML 2) Kerentanan Wilayah terhadap Terjadinya TPPU Untuk mengetahui tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap terjadinya TPPU.

MALPUA Penilaian Risiko Indonesia 56 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .TERBATAS GRAFIK 13: Tingkat Kerentanan Terjadinya TPPU berdasarkan Provinsi Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Warna menunjukkan kelompok pulau sebagai berikut: SUMATERA. JABALNUSTRA. KALIMANTAN. SULAWESI.

TERBATAS Peta Spasial Wilayah menurut Tingkat Kerentanan Terjadinya TPPU Gambar 9: Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 57 Tahun 2015 .

kerentanan. Ancaman: 1) Ancaman Riil: a) Penelusuran transaksi terindikasi TPPU:  Jumlah LTKM  Jumlah Laporan Hasil Analisis  Jumlah Laporan Hasil Pemeriksaan b) Pemeriksaan terindikasi TPPU oleh Penyidik:  Jumlah kasus yang diinvestigasi pada tindak pidana asal Penilaian Risiko Indonesia 58 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . profil Pengguna Jasa. dan pihak pelapor untuk selanjutnya dievaluasi guna penyusunan rekomendasi strategis yang relevan. yang terdiri dari: a. negara/territorial. PETA RISIKO TPPU DI INDONESIA Setelah dilakukan analisis terhadap tingkat ancaman. dapat dihitung tingkat risiko TPPU menurut tindak pidana asal. 1) Peta Risiko TPPU Indonesia menurut Tindak Pidana Asal Berdasarkan hasil analisis terhadap variabel-variabel pembentuk faktor risiko TPPU berdasarkan jenis Tindak Pidana Asalnya. wilayah. dan wilayah.TERBATAS GRAFIK 14: Tingkat Kerentanan Terjadinya TPPU berdasarkan Kelompok Wilayah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML C. Dari tingkat risiko tersebut selanjutnya dapat disusun peta risiko TPPU menurut jenis tindak pidana asal. pihak pelapor. serta dampak TPPU secara nasional.

Kerentanan TPPU: a) Kerentanan Pihak Pelapor:  Kemampuan mengidentifikasi tindak pidana asal dalam transaksi keuangan mencurigakan b) Kerentanan Apgakum menurut kewenangan penanganan TPA: 1) Kerentanan Internal:  Kebijakan Strategis terkait Rezim Anti Pencucian Uang  Dukungan Manajemen Tertinggi terkait Rezim Anti Pencucian Uang  Kebijakan dan Prosedur terkait Rezim Anti Pencucian Uang  Kehandalan Sistem Informasi Rezim Anti Pencucian Uang  Kecukupan dan Kapabilitas SDM Rezim Anti Pencucian Uang  Pengawasan Internal Rezim Anti Pencucian Uang  Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang 2) Kerentanan Tindak Lanjut Penanganan Perkara TPPU:  Persentase tindak lanjut atas penyampaian Laporan Hasil Analisis dan/atau Laporan Hasil Pemeriksaan kepada Penyidik TPPU c. TERBATAS  Jumlah kasus TPPU yang diinvestigasi c) Penuntutan TPPU:  Jumlah kasus TPPU yang dituntut d) Pemeriksaan TPPU di Pengadilan:  Jumlah putusan TPPU yang diputus pengadilan 2) Ancaman Potensial:  Persepsi Apgakum terkait tingkat potensi TPPU menurut TPA b. Dampak TPPU: 1) Dampak Riil:  Rata-rata Nilai Transaksi Keuangan Mencurigakan  Rata-rata Nilai yang terindikasi TPPU dalam Laporan Hasil Analisis PPATK 2) Dampak Potensial:  Persepsi Apgakum terkait tingkat rata-rata nilai TPPU menurut TPA. telah diperoleh tingkat faktor-faktor risiko TPPU di Indonesia dengan perincian sebagai berikut: Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 59 Tahun 2015 .

8 6.7 Tinggi 1 KORUPSI 9.5 4.0 Rendah 16 SENJATA PENIPUAN 5.0 4.7 Rendah 20 MIGRAN PROSTITUSI 3.9 Rendah 21 PERDAGANGAN 4.8 4.7 6.2 8.5 4.5 6.6 3 3.5 6.2 6.2 3.1 5.6 Tinggi 3 KEHUTANAN 6. dapat disusun peta risiko TPPU menurut tindak pidana asal sebagai berikut.5 9.3 Tinggi 2 PERPAJAKAN 6.1 3.8 4.3 3.8 3.3 3.3 5.7 6.8 Tinggi 6 TP LINGKUNGAN 5.3 3.2 9.8 Tinggi 5 TP PASARMODAL 5.6 Rendah 22 ORANG PENGGELAPAN 4.0 6.5 Rendah 26 Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Berdasarkan hasil identifikasi dan analisis faktor-faktor risiko TPPU (ancaman.9 6.2 3.3 3.8 3.0 Menengah 15 PERDAGANGAN 4.6 9.2 3.3 Menengah 12 PENYUAPAN 4.7 Menengah 7 HIDUP TP KELAUTAN 5.5 Menengah 13 TP ASURANSI 5.3 Menengah 11 TP CUKAI 5.TERBATAS TABEL 3: Hasil Analisis Faktor Risiko TPPU menurut Tindak Pidana Asalnya Tingkat Tingkat Tingkat Tingkat Kategori Ranking Jenis TPA Ancaman Kerentanan Kecenderungan Dampak Risiko Risiko TPPU TPPU TPPU TPPU TPPU TPPU NARKOTIKA 7.0 7.2 Rendah 23 PEMALSUAN UANG 5.1 5.5 Menengah 8 PSIKOTROPIKA 6.0 7.4 5.6 7.8 6.4 Rendah 17 TP LAINNYA 4.2 6.3 7.5 3.0 5.7 3. Penilaian Risiko Indonesia 60 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .6 Rendah 25 PENCULIKAN 3.4 Menengah 9 TERORISME 6.1 8.8 Rendah 19 TENAGA KERJA PENYELUNDUPAN 4.0 8.0 3. kerentanan.7 Menengah 14 PERJUDIAN 6.1 6.0 8.9 6.5 6.9 7.5 3.9 4.1 5.5 3.7 3.9 4.0 4.7 3.8 Rendah 18 PENYElUNDUPAN 4.9 Menengah 10 TP PABEAN 5.0 Tinggi 4 TP PERBANKAN 7.0 Rendah 24 PENCURIAN 3.8 6.3 8.6 5.5 8.9 5.5 7.6 4.8 4.7 3.7 3.5 7.4 4.2 4.1 7.9 5.1 3.3 6. dan dampak TPPU) sebagaimana tabel di atas.3 6.3 6.0 5.

TERBATAS GAMBAR 10: Peta Risiko (Hitmap) Tindak Pidana Asal TPPU Domestik Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Berdasarkan peta risiko tersebut. Hal ini tentunya berpotensi sangat membahayakan kehidupan bermasyarakat.64 tahun. dan tindak pidana perpajakan. sindikat Australia dan sindikat dalam negeri (ganja). berbangsa. Berdasarkan hasil pertemuan International Drugs Enforcement Conference Far East Working Group di Da Nang. sindikat Amerika Latin (kokain).9 persen dari penduduk berusia 15 . dimana dalam hal ini Indonesia adalah bagian dari komunitas internasional. Peningkatan peredaran gelap narkoba tidak lepas dari derasnya barang masuk dari luar negeri. a) Risiko TPPU terkait Tindak Pidana Narkotika Peredaran narkotika kini sudah menjadi ancaman transnasional.6-6. dan mayoritas di antaranya adalah kalangan generasi muda bangsa. sindikat Tiongkok dan Malaysia (ATS). Statistik mencatat bahwa penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba cenderung yang semakin meningkat baik secara kuantitatif maupun variansnya. Laporan tahunan UNODC 2013 menunjukkan bahwa pada tahun 2011 diperkirakan sekitar 3. antara lain sindikat Iran dan Nigeria (heroin dan sabu). Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 61 Tahun 2015 . diketahui bahwa risiko tertinggi TPPU berasal dari tindak pidana narkotika. diketahui bahwa sindikat pengedar gelap narkoba terus meningkat salah satunya adalah di kawasan Asia Timur Jauh. menggunakan narkoba minimal sekali dalam setahun. tindak pidana korupsi. dan bernegara. Vietnam (2012). Korban penyalahgunaan narkotika semakin bertambah banyak.

menggunakan teknologi canggih serta didukung oleh jaringan organisasi (sindikat) yang luas. dimana antara penjual maupun pembeli narkoba tidak bertemu sama sekali atau bahkan tidak saling mengenal antara satu dengan yang lain. Modus operandi produksi narkotika. Transaksi dan hasil kejahatan narkotika kini semakin sulit ditelusuri mengingat berkembangnya modus-modus berikut: a. Metode ini dapat dilakukan di rumah pembeli ataupun di tempat-tempat lain yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Hasil kajian UNODC mencatat bahwa hasil tindak kejahatan diperkirakan mencapai US$125 juta. antara lain: a. Dengan metode penjualan sistem transfer. Perempuan tidak hanya dimanfaatkan menjadi kurir tetapi juga menjadi korban bahkan jadi obyek oleh sindikat pengedar narkotika. Setelah terjadi pemesanan dari pembeli kepada Penilaian Risiko Indonesia 62 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Bahkan jika tidak mau. di mana sekitar 85 persen atau sekitar US$104 berasal dari TP Narkotika. b. Pembeli akan menghubungi operator. dimana antara pemilik dana dengan orang-orang yang terlibat dalam proses produksi (peracik bahan. perempuan yang dinikahi tersebut diancam jiwanya termasuk pula akan diadukan ke pihak berwajib. Penggunaan perempuan untuk dijadikan sebagai bagian dari sindikat jaringan narkotika. awalnya perempuan dinikahi secara kontrak kemudian setelah itu dijadikan kurir. pengemas dan kurir distributor barang) memiliki pola yang semakin sulit dideteksi oleh petugas di lapangan. yaitu transaksi penjualan narkotika dari penjual kepada pembeli sebagaimana layaknya proses transaksi barang dagangan lainnya. Penjual dan pihak pembeli melakukan transaksi dengan cara bertemu muka secara langsung.TERBATAS Di tengah globalisasi dan pesatnya teknologi informasi. Harta kekayaan dari hasil kejahatan narkotika yang telah dicuci seolah-olah menjadi harta yang legal. modus operandi transaksi narkotika berkembang semakin kompleks. Potensi TPPU dari hasil TP Narkotika sangat besar. penyedia bahan mentah. Penjualan menggunakan metode face to face transaction. Pada umumnya metode ini dilakukan oleh pihak penjual yang benar-benar mengenal dan mempercayai calon pembeli atau dengan kata lain pembeli merupakan orang yang sudah sangat sering membeli (bertransaksi) dari si penjual tersebut. d. Modus operandi tersebut berkembang seiring dengan kemajuan jaman dan teknologi. Beberapa modus transaksi narkotika yang berkembang di Indonesia saat ini. c. dimana sang operator adalah orang yang menjualkan Narkotika dan Psikotropika yang bukan miliknya kepada konsumen akhir. Modus tradisional. b. Penggunaan suatu jaringan dengan sistem komunikasi terputus.

SUS/2011/PN. TERBATAS operator. Perkara No. Kasus ini menjadi menarik untuk diangkat mengingat modus operandi yang digunakan dalam melakukan TPPU adalah menggunakan salah satu new payment method. pembeli akan mentransfer uang ke rekening yang telah ditentukan oleh operator.CLP tanggal 11 Januari 2012.  Nomor handphone yang terdaftar biasanya tidak ter-registrasi sesuai dengan nama dan alamat orang yang memegang handphone tersebut. operator meneruskan pesan kepada pembeli (konsumen akhir). Pemilik barang akan mengutus kurir untuk meletakkan barang di suatu tempat tertentu. dengan rincian sebagai berikut: 1.  Penentuan siapa yang menjadi operator dan kurir peletak barang adalah skenario dari pemilik barang.114/PID. operator penjual. kemudian kurir akan mengirimkan alamat barang yang dia letakkan kepada penjual. Putusan Perkara atas nama MA – Mantan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Pulau Nusa Kambangan sebagai Success Story Kasus TPPU Terkait Narkotika dan Penyuapan Kasus MA dianggap merupakan salah satu success story penegakan hukum kasus TPPU mengingat tidak hanya berkaitan dengan TP Narkotika yang merupakan tindak pidana asal yang berisiko tertinggi TPPU tetapi juga terkait dengan TP Penyuapan sehubungan dengan jabatannya sebagai Aparat Penegak Hukum (Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Pulau Nusa Kambangan). selanjutnya operator akan menghubungi pemilik barang. 2. Putusan Tingkat Pertama di Pengadilan Negeri Cilacap. Terhadap kasus ini. yaitu mobile banking. Perkara No. Dari metode ini ditemukan fakta lapangan sebagai berikut:  Terjadi hubungan terputus antara pihak pembeli barang.SMG tanggal 13 Maret 2012. penjual dan bahkan kurir peletak barang. Berikut ini ringkasan kasus posisi dan tipologi kasus TPPU yang menjerat MA.SUS/2012/PT.  Operator penjual banyak yang beroperasi dari dalam Penjara (LP).  Jalur komunikasi yang dipakai dengan menggunakan handphone.  Alamat peletakan barang dan transaksi berubah-ubah. Penjual meneruskan pesan kepada operator. Tipologi atas kasus ini disusun berdasarkan Putusan Perkara yang sudah inkrah di tingkat banding banding. Pada bulan Oktober 2009 sampai dengan Februari 2011 didakwa telah melakukan pemufakatan jahat dengan Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 63 Tahun 2015 . Terdakwa MA yang berprofesi sebagai PNS dan memiliki jabatan sebagai Kepala Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Nusakambangan. Putusan Tingkat Banding di Pengadilan Tinggi Semarang.  Rekening yang digunakan oleh para pelaku narkotik selalu menggunakan rekening milik orang lain/terdaftar pada bank-bank tertentu biasanya tidak menggunakan alamat pendaftaran yang sesuai. PPATK dalam hasil riset tipologi TPPU telah menyusun resume tipologinya. 38/PID.  Kendaraan yang digunakan dari para kurir biasanya selalu berganti-ganti.

00 apabila denda tersebut tidak dibayar maka diganti dengan pidana penjara selama 1 tahun. keamanan dan ketertiban kegiatan kerja dan pembinaan telah memberikan kesempatan kepada HJB untuk membuka peternakan sapi dengan mendirikan kandang sapi di luar Lapas Narkotika Nusakambangan.000. FOBB. Penilaian Risiko Indonesia 64 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . SN ke rekening anak terdakwa.000. Atas perbuatannya tersebut. Selain itu. SN. HJB.  Terdakwa terbukti telah memberikan uang sejumlah Rp185.00 (seratus delapan lima puluh juta rupiah) kepada RK selaku cucu terdakwa dan uang tersebut dimasukan ke bank dengan cara memerintahkan kepada RK untuk membuka rekening an.000. DA dan RK.000. yang meliputi:  Terdakwa terbukti telah meminta no. dengan cara memberikan izin khusus untuk membuka peternakan sapi kepada Hartoni di sekitar wilayah Lapas serta memberikan izin kepada ybs untuk keluar masuk penjara.000. AP. rekening milik anak terdakwa yaitu AP dan DA dengan tujuan untuk digunakan terdakwa sebagai rekening penampungan dari pengiriman uang hasil penjualan narkotika yang dilakukan oleh HJB dan Capten. antara lain: rekening an.  Terdakwa terbukti telah menerima dan menempatkan sejumlah uang dari hasil tindak pidana narkotika yang dilakukan oleh HJB dan Capten yang dilakukan selama bulan Oktober 2009 sampai dengan Februari 2011 ke rekening tabungan a.000. Mantan Kalapas Narkotika Nusakambangan ini divonis 13 (tiga belas) Tahun penjara dan denda sebesar Rp1.TERBATAS Narapidana sdr. RK di Bank BCA Cilacap dengan alasan identitas (KTP) terdakwa tertinggal di Bekasi. Terdakwa juga terbukti turut menikmati uang hasil tindak pidana perdagangan narkoba yang dikendalikan narapidana bernama H. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang jo Pasal 84 KUHP. Perkara No.00 dan dari Capten sebesar Rp50. Kemudian rekening an. Atas perbuatannya tersebut.SUS/2012/PT. MW dan RJ dan rekening penampungan Capten.00(dua ratus enam puluh juta rupiah) dengan rincian dari HJB sebesar Rp210. 38/PID. majelis hakim menyatakan bahwa MA dinyatakan bersalah dalam tindak pidana pencucian uang. di samping itu terdakwa telah mengizinkan HJB untuk menggunakan handphone didalam Lapas dan kemudahan akses keluar masuk Lapas dengan tujuan untuk mengurus peternakan sapi. IS alias Cahyono dan S alias I alias Capten untuk melakukan tindak pidana Narkotika. yaitu Rekening AP.SMG tanggal 13 Maret 2012.000. Berdasarkan kewenangan yang dimiliki oleh terdakwa selaku Ketua Lapas Nusakambangan yaitu dalam memutuskan kebijakan dan mengkoordinir tugas di bidang tata usaha. Dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan oleh terdakwa terhadap HJB akhirnya dimanfaatkan oleh HJB untuk melakukan transaksi narkotika bersama Capten di dalam Lapas Nusakambangan. an. Dan Pasal 5 Ayat (1) jo Pasal 10 UU RI No.00 (lima puluh juta rupiah) kemudian uang tersebut ditransfer menggunakan mobile banking melalui rekening penampungan HJB antara lain Rek.000.n. berdasarkan Putusan Tingkat Banding di Pengadilan Tinggi Semarang. Mantan Kalapas Narkotika Nusakambangan ini dinyatakan bersalah melakukan tindak pidana sesuai dakwaan pertama primer yang mengacu pada Pasal 114 ayat 2 juncto Pasal 132 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.000. RK dikuasai oleh terdakwa untuk menerima transfer sejumlah uang atas permintaan terdakwa kepada HJB. DA dan cucu terdakwa RK.000. Yang bersangkutan dinyatakan terbukti memfasilitasi tindak pidana perdagangan narkotika yang dikendalikan oleh HJB yang merupakan seorang narapidana lapas tersebut saat terdakwa masih menjadi Kalapas. Terdakwa telah menerima keuntungan dari hasil penjualan narkotika yang dilakukan oleh HJB dan Capten selama periode 2009 sampai dengan 2011 seluruhnya sejumlah Rp260. S. SAG.000.

TERBATAS GAMBAR 11: Skema Tipologi Kasus TPPU atas nama MA Sumber : Diolah dari Hasil Riset Tipologi TPPU PPATK berdasarkan Putusan Pengadilan Tingkat Pertama pada Pengadilan Negeri Cilacap dan Pengadilan Tingkat Banding pada Pengadilan Tinggi Semarang. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 65 Tahun 2015 .

penyalahgunaan kewenangan. pengubahan bentuk.TERBATAS b) Risiko TPPU terkait TP Korupsi Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang berasal dari tindak pidana korupsi dapat ditemukan dalam berbagai bentuk penempatan. Perbuatan TPPU tersebut dapat terjadi sebelum (mendahului). penitipan. serta melakukan pembelanjaan dan pendistribusian dana hasil tindak pidana korupsi tersebut. perijinan. Modus operandi tindak pidana pencucian uang yang berasal dari tindak pidana korupsi juga bermacam-macam. istri/suami. Menggunakan jasa pihak ketiga sebagai “bendahara” yang mengatur aliran dana dan transaksi keuangan dengan membuka rekening atau deposit box untuk menyimpan hasil tindak pidana korupsi. TPPU yang terjadi pada saat atau bersamaan dengan terjadinya tindak pidana korupsi misalnya terkait dengan tindak pidana penyalahgunaan anggaran. dan lain-lain. Menukar uang hasil tindak pidana korupsi dari mata uang Rupiah ditukar dengan mata uang asing baik di money changer legal maupun ilegal. adik. Melakukan transaksi fiktif antar perusahaan seolah-olah terjadi transaksi jual beli untuk menyamarkan asal usul uang hasil tindak pidana korupsi. dan lain-lain) atau atas nama pihak ketiga lainnya. proses perencanaan anggaran. pentransferan. pembayaran. Sedangkan tindak pidana pencucian uang yang terjadi setelah terjadinya tindak pidana korupsi misalnya terkait dengan tindak pidana gratifikasi. dan lain-lain. dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan tersebut. pada saat (bersamaan). f. pengalihan. pemerasan. penghibahan. Mengalihkan aset hasil tindak pidana korupsi atas nama keluarga (anak. Membuka rekening dana taktis. d. maupun setelah (akhir) dari terjadinya tindak pidana korupsi. pembawaan ke luar negeri. e. suap menyuap. b. penukaran dengan mata uang atau surat berharga atau perbuatan lain terhadap harta kekayaan. untuk menyamarkan penggunaan dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. penggelapan dalam jabatan. di antaranya adalah sebagai berikut: a. TPPU yang terjadi sebelum atau mendahului terjadinya tindak pidana korupsi misalnya terkait dengan tindak pidana suap-menyuap dalam proses pengadaan barang dan jasa. untuk menampung aliran dana hasil tindak pidana korupsi. Menyembunyikan & menempatkan uang/aset hasil korupsi di safe deposit box perbankan ataupun dengan transfer ke rekening di luar negeri. kakak. yang penggunaannya dibungkus dengan kegiatan-kegiatan operasional non budgeter. Penilaian Risiko Indonesia 66 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . baik berupa rekening bersama (joint account) maupun rekening tidak resmi lainnya. pembelanjaan. Melakukan distribusi aliran dana hasil tindak pidana korupsi dengan dalih penyaluran dana sosial kepada berbagai organisasi sebagai kedok. dan lain-lain. g. c.

ruko. 2) barang tidak bergerak (seperti: tanah. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Empat Lawang.000 secara tunai dan transfer ke rekening AM. Dalam perkara ini AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap Rp3 miliar secara tunai. dan lain-lain). SPBU. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas. rumah. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Kota Palembang. Dalam perkara ini AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap Rp1 miliar melalui pemindahbukuan ke rekening tabungan atas nama CV. 5. Menerima uang hasil korupsi (baik tunai maupun melalui transfer) dan menggunakannya untuk kegiatan usaha (seperti: properti. Ratu Samagat. Dalam perkara ini AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap Rp3 miliar melalui pemindahbukuan ke rekening tabungan atas nama CV. AM dianggap melanggar dakwaan alternatif ketiga dan dakwaan keempat dengan Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto 64 ayat 1 KUHP. 4. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Pulau Morotai. Ratu Samagat. 6. Dalam perkara ini AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap Rp1 miliar secara tunai. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Buton. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Pulau Morotai. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Lebak. TERBATAS h. 3) surat berharga. Terkait dengan tindak pidana korupsi. dan lain sebagainya) atau untuk membeli harta/aset berupa: 1) barang bergerak (seperti: kendaraan. perhiasan. dengan rincian sebagai berikut: 1. Dalam perkara ini AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap Rp10 miliar dan USD 500. 7. Dalam perkara ini AM dijanjikan uang senilai Rp3 miliar. atau 5) premi asuransi. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 67 Tahun 2015 . Dalam perkara ini AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap Rp20 miliar secara tunai dan transfer ke rekening giro atas nama CV Ratu Samagat. Putusan Perkara atas nama AM – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Sebagai Success Story Penanganan Kasus TPPU Terkait Korupsi Terdakwa AM selaku mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) divonis dengan pidana penjara seumur hidup setelah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dan pencucian uang. 2. apartemen. 4) saham perusahaan. dan lain-lain). 3.

perbuatan Akil dinilai tidak mendukung upaya pemerintah dalam usaha pemberantasan korupsi.8 miliar melalui setoran tunai ke rekening tabungan atas nama CV. Akil selaku Ketua suatu lembaga negara yang merupakan benteng terakhir masyarakat untuk mencari keadilan. 9. Penilaian Risiko Indonesia 68 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pencucian uang dengan cara menempatkan. Ratu Semagat senilai total Rp50 miliar. Juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 Juncto Pasal 65 ayat 1 KUHP. Hakim berpandangan bahwa Akil seharusnya memberikan contoh teladan yang baik dalam masalah integritas. Penempatan di rekening pribadi senilai total Rp6. Pengadilan Tinggi DKI Jakarta menguatkan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Akil merupakan ketua lembaga tinggi negara yang merupakan benteng terakhir bagi masyarakat yang mencari keadilan. . Selain itu. tidak sama sekali dipertimbangkan hakim sebagai hal-hal yang meringankan. Sementara berbagai prestasi Akil Mochtar selama ini. menjatuhkan pidana kepada AM dengan pidana penjara seumur hidup.5 miliar melalui setoran tunai ke rekening tabungan atas nama CV. Penyimpanan uang di dinding rumah dinas senilai total Rp2. Pembelian mobil senilai total Rp500 juta. Penitipan kepada pihak ketiga untuk diinvestasikan senilai total Rp35 miliar. Penempatan di rekening CV. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Kabupaten Tapanuli Tengah. Sedangkan terkait dengan pencucian uang. telah meruntuhkan wibawa lembaga peradilan khususnya MK. Ratu Samagat. Dalam pertimbangan yang memberatkan.TERBATAS 8. Dalam perkara ini AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan menerima suap Rp7. Dalam perkara ini AM dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan AM menerima suap Rp1. membelanjakan. dengan rincian sebagai berikut: . AM dijerat dengan Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. AM melakukan upaya hukum banding. Pada tingkat kasasi. . Atas tindak pidana yang dilakukannya. MA menolak kasasi yang diajukan mantan Ketua MK Akil Mochtar sehingga menguatkan putusan penjara seumur hidup. Akan tetapi.3 miliar. Atas putusan tersebut. . menukarkan dengan mata uang asing atau perbuatan lain terhadap dana yang berasal dari tindak pidana. Diperlukan usaha yang sulit dan memerlukan waktu lama untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada MK. Korupsi dalam penanganan sengketa Pilkada Provinsi Banten. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. .7 miliar. Ratu Samagat.

c) Risiko TPPU terkait TP di Bidang Perpajakan Tindak Pidana Perpajakan merupakan salah satu tindak pidana asal yang berisiko tinggi TPPU di Indonesia. TERBATAS GAMBAR 12: Skema Tipologi Kasus TPPU atas nama AM Sumber : Diolah berdasarkan Putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 69 Tahun 2015 .  Penjualan yang dilaporkan dalam SPT.  Penerimaan penjualan yang tidak dilaporkan dalam SPT (atau karena tidak memungut PPN) yang masuk ke rekening perusahaan akan dicatat sebagai hutang pemegang saham. Wajib Pajak tidak melaporkan seluruh penjualan dalam SPT. Beberapa modus operandi yang teridentifikasi dalam Penyidikan antara lain: a. hasilnya masuk ke rekening perusahaan sedangkan penjualan yang tidak dilaporkan dalam SPT dialirkan ke rekening pemegang saham/keluarga.

Barang dikirim langsung ke customer/end user tetapi pembayaran dan arus dokumen direkayasa melalui SPV yang tidak memiliki substansi usaha.TERBATAS GAMBAR 13: Modus Operandi TP Perpajakan: Tidak Melaporkan Seluruh Penjualan dalam SPT c. di mana SPV tersebut sengaja didirikan oleh Wajib Pajak eksportir. Wajib Pajak merekayasa penjualan ekspor  Dengan menggunakan perusahaan SPV (Special Purpose Vehicle)/Paper Company/PO Box Company di luar negeri dan biasanya di tax haven country. terkadang dokumen yang dibuat oleh SPV itu dikerjakan oleh karyawan Wajib Pajak eksportir yang sama. GAMBAR 14: Modus Operandi TP Perpajakan: Rekayasa Penjualan Ekspor Penilaian Risiko Indonesia 70 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

Menambahkan biaya-biaya fiktif (sebenarnya biaya tersebut tidak ada). kemudian untuk pelunasan management fee/technical fee/consultant fee akan ditransfer dana dari rekening perusahaan ke rekening perusahaan grup di luar negeri. Untuk pelunasan kerugian hedging atau wash-out tersebut akan ditransfer dana dari rekening perusahaan ke rekening perusahaan grup di luar negeri.  Membuat bukti biaya/kuitansi yang sebenarnya tidak ada biaya yang dikeluarkan.  Membuat kontrak management/technical/consultant dengan perusahaan satu grup di luar negeri sehingga akan timbul biaya management fee/technical fee/consultant fee. TERBATAS d. di mana Wajib Pajak akan dibuat selalu rugi dalam hedging atau wash-out tersebut. tetapi eksistensi daripada service atau jasa tidak ada yang diserahkan. kemudian uang untuk pembayaran biaya fiktif akan ditransfer dari perusahaan ke rekening penampungan sementara yang selanjutnya akan di bagikan kepada pemegang saham. GAMBAR 15: Modus Operandi TP Perpajakan: Penambahan Biaya-Biaya Fiktif Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 71 Tahun 2015 .  Membuat kontrak hedging atau wash-out secara tanggal mundur (back dated).

tetapi perusahan menyatakan dalam SPT-nya bahwa laporan keuangan tidak diaudit oleh Auditor Independen dan ternyata antara laporan keuangan yang dilampirkan dalam SPT sangat berbeda dengan laporan keuangan yang tercantum di Laporan Auditor Independen. menambahkan atau membeli faktur pajak masukan dengan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya. Penilaian Risiko Indonesia 72 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Menyelenggarakan pembukuan ganda.  Pembukuan untuk pajak yang berbeda dengan pembukuan untuk manajemen atau bank di mana pembukuan untuk pajak dibuat agar laba perusahaan menjadi kecil atau bahkan rugi. Menerbikan dan/atau menggunakan faktur pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya. GAMBAR 16: Modus Operandi TP Perpajakan: Pembukuan Ganda e.TERBATAS e. Perusahaan didirikan hanya untuk menjual faktur pajak.  Laporan keuangan perusahaan diaudit oleh Auditor Independen (Kantor Akuntan Publik).  Tersangka mendirikan perusahaan dan menerbitkan faktur pajak yang tidak didukung dengan transaksi uang dan barang.  Perusahaan untuk mengurangi setoran PPN.

Merekayasa penjualan ekspor (ekspor fiktif) untuk mendapatkan restitusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN). kemudian akan mencari faktur pajak masukan yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya untuk tujuan restitusi PPN. Perusahaan eksportir menambahkan ekspor fiktif atau ekspor dari pengusaha yang lain sebagai penjualan ekspor perusahaannya. Untuk mendukung rekayasa ini biasanya dibuat rekayasa penerimaan penjualan ekspor dengan cara terlihat adanya transfer dari perusahaan di luar negeri yang sebenarnya adalah merupakan transfer dari kelompok usaha mereka. TERBATAS GAMBAR 17: Modus Operandi TP Perpajakan: Rekayasa Transaksi dalam Faktur Pajak f. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 73 Tahun 2015 .

Penilaian Risiko Indonesia 74 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .  Perusahaan tidak menyetorkan kewajiban pajaknya (PPh dan PPN) dengan cara mencari SSP yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya (SSP aspal).TERBATAS GAMBAR 18: Modus Operandi TP Perpajakan: Ekspor Fiktif untuk Restitusi PPN g. tanda tangan dan nama penerima setoran serta cap Bank Persepsi) dipalsukan. hal ini akan diketahui apabila dikonfirmasi ke Bank Persepsi penerima setoran akan dijawab “tidak ada” setoran. sehingga SSP yang dilampirkan dalam Laporan SPT ke KPP adalah SSP yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya.  Tersangka membuat Surat Setoran Pajak (SSP) di mana bukti tanda penerimaan setoran pajak di Bank Persepsi (mesin teraan. Menerbitkan dan/atau menggunakan bukti setoran pajak yang tidak berdasarkan transaksi yang sebenarnya.

 Bendaharawan pemerintah memotong PPh Pasal 21 atas gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS). PPh Pasal 26 atau PPN. PPh Pasal 23 atas objek yang harus dipotong dan memungut PPN Keluaran atas penjualannya tetapi tidak melaporkan pemotongan dan pemungutan pajak tersebut serta tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut tersebut ke Bank Persepsi. GAMBAR 20: Modus Operandi TP Perpajakan: Tidak Menyetorkan Pajak Yang Telah Dipotong atau Dipungut Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 75 Tahun 2015 .  Perusahaan memotong PPh Pasal 21 atas gaji Karyawan. TERBATAS GAMBAR 19: Modus Operandi TP Perpajakan: Rekayasa Transaksi dalam Bukti Setoran Pajak h. PPh Pasal 23 dan PPN atas proyek pemerintah tetapi tidak melaporkan pemotongan tersebut ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) dan tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut tersebut ke Bank Persepsi. Tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut baik itu PPh Pasal 21. PPh Pasal 23.

misalnya tidak melaporkan rumah. sehingga tidak membayar pajak dan tidak melaporkan keadaan usahanya kepada Direktorat Jenderal Pajak.  Perusahaan Dalam Negeri atau Perorangan yang memiliki usaha di Indonesia (biasanya underground economy) tetapi tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP. Penilaian Risiko Indonesia 76 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Menyembunyikan dan tidak melaporkan harta kekayaannya dalam SPT. mobil.  Wajib Pajak Luar Negeri (Badan maupun Orang Pribadi) memiliki usaha di Indonesia melalui Bentuk Usaha Tetap (BUT) tetapi tidak mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP. apartemen. GAMBAR 21: Modus Operandi TP Perpajakan: Menyembunyikan dan Tidak Melaporkan Harta Kekayaannya dalam SPT j. saham atau sebagian rekening simpanan di bank. sehingga tidak membayar pajak dan tidak melaporkan keadaan usahanya kepada Direktorat Jenderal Pajak. Tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP). biasanya akan mengecilkan juga daftar harta yang dilaporkan/dilampirkan dalam SPT PPh WP Orang Pribadi dengan menyembunyikan atau tidak melaporkan sebagian hartanya.TERBATAS i. Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak melaporkan penghasilannya dalam SPT PPh WP Orang Pribadi.

955. Amar putusan yang menarik perhatian publik itu adalah perintah membayar secara tunai 2 (dua) kali pajak terutang yang kurang dibayar oleh 14 (empat belas) perusahaan yang tergabung dalam AAG yang pengisian SPT tahunan diwakili oleh Terdakwa SL. TERBATAS  Pengusaha yang menyerahkan Barang Kena Pajak (BKP) atau Jasa Kena Pajak (JKP) memperkecil laporan peredaran usahanya agar dapat dikategorikan sebagai pengusaha kecil yang tidak diwajibkan melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP yang wajib memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN). tepatnya 18 Desember 2012. GAMBAR 22: Modus Operandi TP Perpajakan: Tidak punya NPWP atau Tidak Melaporkan Usaha sebagai PKP Putusan Mahkamah Agung atas Grup Korporasi yang tergabung dalam AAG - sebagai Success Story Penegakan Hukum Kasus di Bidang Perpajakan Akhir tahun 2012. Majelis Hakim Kasasi yang menangani perkara Nomor: 2239 K/PID.= Rp2.259.304.519.- (dua triliun lima ratus sembilan belas miliar sembilan ratus lima puluh lima juta tiga ratus sembilan puluh satu ribu tiga ratus empat rupiah) secara tunai.695.SUS/2012 menjatuhkan putusan yang cukup menyita perhatian publik.652. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 77 Tahun 2015 .391. Jumlah keseluruhan pajak terhutang tersebut adalah 2 x Rp1.. Hutang pajak tersebut harus dibayar dalam waktu 1 (satu) tahun.977.

DKI tanggal 23 Juli 2012 yang menguatkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat No. yang pengiriman barangnya sebenarnya langsung ditujukan ke negara pembeli. British Virgin Island (BVI). Penilaian Risiko Indonesia 78 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .SUS/2012.B/2011/PN.25 triliun. 234/PID. yakni sebesar Rp2. atau EROFI Ltd. Dalam putusan Mahkamah Agung No. dibuat seolah-olah dijual kepada perusahaan di Hong Kong yaitu.652.. Macau.259. Macau maupun di BVI adalah perusahaan cangkang yang digunakan sebagai fasilitator untuk mendukung transaksi tersebut dan sebagai tempat untuk menampung selisih harga jual. 241/PID/2012/-PT. baru selanjutnya dijual ke negara pembeli sebenarnya..PST. TBEO Ltd. Hal ini juga terungkap dalam putusan sidang AAG pada akhir 2012.= Rp2. Jumlah keseluruhan pajak terhutang tersebut adalah 2 x Rp1. dokumen keuangan yang berkaitan dengan transaksi ekspor tersebut yakni Letter of Credit (LC) dan Invoice. 2239 K/PID. Adapun “seluruh pembuatan dokumen (invoice) penjualan.519. Akan tetapi. Sehingga pajak terutang yang dilaporkan pun menjadi lebih kecil dari pada yang seharusnya. kemudian dijual lagi ke perusahaan di Macau (GAOF) atau British Virgin Island (AAAOF Ltd.5 triliun.). AAG merekayasa pelaporan ekspornya dengan mengubah harga jual yang seharusnya ke negara tujuan. tepatnya 18 Desember 2012. tanggal 15 Maret 2012.” seperti yang tertulis dalam putusan Mahkamah Agung tersebut. Akibat transaksi penjualan ekspor dengan cara tersebut. Dengan permainan laporan keuangan pajak tersebut. UOF Ltd. Dalam amarnya.JKT. Sumber : Diolah berdasarkan Putusan Mahkamah Agung No: 2239 K/PID.695. dialihkan ke negara lain yang harganya lebih rendah sehingga keuntungan yang dicatat dalam laporan pajak perusahaan tersebut menjadi rendah. Pendirian perusahaan cangkang ini pada akhirnya digunakan untuk memanipulasi keuangan perusahaan di Indonesia dalam hal perolehan laba. Amar putusan yang menarik perhatian publik itu adalah perintah membayar secara tunai 2 (dua) kali pajak terutang yang kurang dibayar oleh 14 (empat belas) perusahaan yang tergabung dalam AAG yang pengisian SPT tahunan diwakili oleh Terdakwa SL.977. baik untuk perusahaan- perusahaan yang tergabung dalam AAG maupun perusahaan di Hong Kong. Sumatera Utara..TERBATAS Akhir tahun 2012. Dari Hong Kong. Padahal perusahaan di Hong Kong. laba yang dilaporkan oleh perusahaan di Indonesia menjadi lebih rendah dari pada yang seharusnya.SUS/2012 menjatuhkan putusan yang cukup menyita perhatian publik. Hutang pajak tersebut harus dibayar dalam waktu 1 (satu) tahun.304. dan BVI dilakukan oleh karyawan AAG di Medan. AAG memiliki perusahaan cangkang di negara surga pajak tersebut.955. Majelis Hakim Kasasi yang menangani perkara Nomor: 2239 K/PID. menjelaskan rekayasa laporan AAG dalam pembayaran pajaknya.SUS/ 2012.391. Putusan Kasasi Nomor: 2239 K/PID. GFOF Ltd.- (dua triliun lima ratus sembilan belas miliar sembilan ratus lima puluh lima juta tiga ratus sembilan puluh satu ribu tiga ratus empat rupiah) secara tunai.SUS/2012 membatalkan putusan Pengadilan Tinggi Jakarta No. AAG telah merugikan negara sebesar Rp1. yakni AAAOF Ltd. Mahkamah Agung memutuskan grup perusahaan tersebut untuk membayar denda sebesar dua kali lipat.. PN Jakarta Pusat mengabulkan Eksepsi Prematur dari Penasehat Hukum Terdakwa dan Menyatakan surat dakwaan Jaksa/Penuntut Umum terhadap Terdakwa SL karena Prematur tidak dapat diterima. Atas tindakan ini. Rekayasa penjualan dilakukan melalui penjualan ekspor. Kasus ini berawal dari terungkapnya 13 perusahaan Indonesia yang mendirikan perusahaan cangkang (shell company) di negara persemakmuran Inggris.

Riau. Kalimantan Barat. dan Bali. Papua. GAMBAR 23: Peta Risiko Wilayah Berisiko TPPU di Indonesia Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 79 Tahun 2015 . Tim NRA Indonesia telah melakukan assessment kepada penegak hukum dan analisis terhadap pelaporan transaksi keuangan mencurigakan oleh Pihak Pelapor kepada PPATK. diikuti Jawa Timur. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan penduduk lebih dari 252 juta yang tersebar di 34 provinsi. Sulawesi Selatan. regulasi. Jawa Barat. sosial. Bengkulu. setiap wilayah memiliki risiko terjadinya TPPU yang berbeda-beda dan sangat tergantung dengan struktur ekonomi. Terkait dengan TPPU. implementasi Rezim APUPPT oleh stakeholder terkait serta penegakan hukum TPPU di setiap daerah. tingkat kerentanan penegakan hukum dan terjadinya TPPU menurut wilayah dan tingkat skala dan dampak TPPU menurut wilayah. Sumatera Utara. Hal ini dapat terlihat pada peta risiko di bawah ini. TERBATAS 2) Peta Risiko TPPU di Indonesia menurut Wilayah Terjadinya Transaksi Sebagaimana diketahui bersama. Untuk mengetahui tingkat risiko terjadinya TPPU di setiap Provinsi di Indonesia. Dengan menggabungkan hasil analisis tingkat ancaman TPPU menurut wilayah. Kesepuluh provinsi tersebut berada pada area berisiko “Menengah” dan “Tinggi” terhadap terjadinya TPPU. diketahui bahwa Provinsi DKI Jakarta diketahui sangat berisiko terhadap terjadinya TPPU.

0 Rendah KALTARA 5.0 Menengah DIY 4.1 Menengah KEPRI 4.3 Menengah NAD 4.0 Tinggi JATIM 5.0 Menengah SULSEL 5.5 6. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU.0 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML 3) Peta Risiko TPPU di Indonesia menurut Profil Pengguna Jasa Sebagaimana telah diatur dalam UU No.TERBATAS TABEL 4: Faktor Risiko Wilayah Berisiko TPPU di Indonesia Level Risiko Level Level Kategori Provinsi (Kecenderungan x Kecenderungan Dampak Risiko Dampak) DKI JKT 8.9 Menengah KALSEL 3.0 76.7 24.4 Menengah SUMUT 5.5 Menengah JABAR 5.8 6.3 6.1 Menengah RIAU 5.7 38.6 8.7 32.3 6.6 Menengah GORONTALO 5.7 Rendah PAPBAR 5.9 39.8 Menengah KALTENG 4.8 6.5 31.9 40.0 7.9 Menengah BALI 5.5 20.2 7.8 40.0 28.4 6.2 14.0 34.0 Menengah KALBAR 5.6 6.3 35.9 7. Berdasarkan hasil analisis risiko terhadap statistik penegakan hukum TPPU di Indonesia dan persepsi penegak hukum terhadap potensi terjadinya TPPU di Indonesia berdasarkan jenis pelakunya.6 6. diketahui bahwa Pengguna Jasa Korporasi/Badan Usaha lebih berisiko menjadi pelaku TPPU dibandingkan Pengguna Jasa Perorangan.0 Menengah LAMPUNG 3. Hal ini dikarenakan sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa tingkat ancaman dan tingkat dampak/skala TPPU yang berpotensi dilakukan oleh Korporasi/Badan Usaha lebih tinggi dibandingkan Penilaian Risiko Indonesia 80 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .8 30. kriminalisasi terhadap TPPU dapat dijatuhkan kepada pelaku yang merupakan perorangan maupun korporasi.2 20.8 36.1 7.6 36.9 Menengah NTT 4.8 23.3 6.4 6.9 6.9 6.7 6.5 28.0 26.8 26.8 29.9 6.4 7.9 37.2 7.0 7.7 3.8 6.3 6.1 Rendah MALUKU 3.7 40.0 Menengah JATENG 4.4 Menengah BENGKULU 5.6 33.0 Menengah SULTENG 4.5 Rendah SUMBAR 3.7 29.2 Menengah SULUT 4.3 36.6 31.5 4.6 Menengah JAMBI 3.3 3.2 31.1 6.2 Menengah SULTRA 3.4 Rendah SULBAR 4.0 36.5 6.7 Menengah SUMSEL 4.4 6.0 6.2 Menengah MALUT 4.5 30.2 Menengah BANTEN 5.4 9.0 22.9 7.3 Menengah KALTIM 5.4 40.5 25.3 Menengah BABEL 4.8 6.2 Menengah NTB 5.4 Menengah PAPUA 5.

1 5.5 45 Tinggi Pegawai Bank 5.3 5. pegawai money changer.1 Menengah Pegawai PVA/Money 5.7 Menengah pensiunan) Profesional 5. dan usaha-usaha mikro. PEPs. diketahui bahwa profil pengusaha.7 35.9 Menengah Ibu Rumahtangga 5.6 6 33. Namun demikian. profesional.3 Tinggi Pegawai Swasta 8. Adapun profil korporasi yang paling berisiko TPPU meliputi NPO/NGO.2 5.2 Menengah Changer PEPs 6. pengurus partai politik.1 31. ibu rumahtangga.9 Menengah Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 81 Tahun 2015 .3 6.9 6.2 26. pegawai Bank.8 29.1 30. GAMBAR 24: Peta Risiko Pelaku TPPU Perorangan Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML TABEL 5: Faktor Risiko Profil Perorangan Berisiko Pelaku TPPU di Indonesia Level Risiko Level Level Kategori Jenis Profil Perorangan (Kecenderungan x Kecenderungan Dampak Risiko Dampak) Pengusaha 7.5 29.9 5. bila analisis risiko profil Pengguna Jasa dianalisis lebih komprehensif.1 Menengah Pengurus Parpol 5. PNS (termasuk pensiunan). pegawai swasta.1 5.2 4.5 Menengah Pengurus Yayasan 5.4 9 66.1 Menengah PNS (termasuk 6.1 35. perusahaan. pengurus yayasan dan pegawai BUMN/BUMD memiliki risiko menjadi pelaku TPPU pada tingkat risiko “Tinggi” dan “Menengah”. TERBATAS Pengguna Jasa Perorangan.

Dari peta risiko tersebut.7 Rendah Pedagang 5.4 16. dan Pedagang Kendaraan Bermotor sangat berisiko menjadi sarana pelaku TPPU. Perusahaan/Agen Properti.6 23.8 4.5 19.2 Rendah Petani/Nelayan 3 4.2 Rendah Buruh 3.3 17.4 3 10.9 Rendah Pelajar/Mahasiswa 3.4 Rendah pensiunan) Pengurus LSM 5.2 4.3 Rendah Pengrajin 3.2 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML 4) Peta Risiko TPPU di Indonesia menurut Jenis Pihak Pelapor Dengan menggabungkan hasil penilaian tingkat kecenderungan dan tingkat dampak TPPU dari setiap Pihak Pelapor telah diperoleh peta risiko TPPU menurut jenis Pihak Pelapor.8 19. Pasar Modal.7 Rendah Pengajar 4. GAMBAR 25: Peta Risiko Pihak Pelapor Berisiko TPPU di Indonesia Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Penilaian Risiko Indonesia 82 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . diketahui bahwa PJK Bank.6 Menengah Pengurus 3.2 3.1 13.6 6.4 Rendah Ormas/Lembaga Keagamaan TNI/Polri (termasuk 5. Hal ini dapat terlihat dari grafik di bawah ini.2 4.4 25.7 3.8 4.TERBATAS Level Risiko Level Level Kategori Jenis Profil Perorangan (Kecenderungan x Kecenderungan Dampak Risiko Dampak) Pegawai BUMN/D 5.1 12.4 4 21.

serta red flag transaksi keuangan mencurigakan yang dapat menjadi pedoman pihak pelapor dalam melakukan Prinsip Mengenal Pengguna Jasa.9 Tinggi Pasar Modal 6. Tingginya tingkat risiko pada sektor Perbankan Perusahaan/Agen Properti.4 Menengah Dana Pensiun 3.7 Menengah Pedagang Barang 7.5 55.8 5.7 5.0 Tinggi Bermotor Perusahaan Pembiayaan 8.4 5.3 38. lebih dikarenakan tingginya tingkat kerentanan menjadi sarana TPPU. Perusahaan/Agen Properti. dan Pedagang Kendaraan Bermotor.1 Tinggi Perusahaan/Agen 9.0 54. Dalam kaitan ini. Pasar Modal.1 39.1 Menengah Pedagang Valas 8.6 6. sedangkan tingginya tingkat risiko pada sektor pasar modal lebih dikarenakan tingginya skala potensi TPPU yang terjadi sehingga dampak TPPU yang ditimbulkan akan lebih tinggi dibandingkan sektor lainnya. pasar modal dan beberapa Penyedia Barang dan Jasa. b) Risiko Pencucian Uang pada Sektor Perbankan Sebagaimana dipahami bersama bahwa peran bank dalam pembangunan nasional menempati posisi yang sangat strategis.0 5. Bank juga diyakini sebagai media dalam menyerasikan.1 44.4 6. TABEL 6: Faktor Risiko TPPU menurut Jenis Pihak Pelapor di Indonesia Level Risiko Level Level Kategori Jenis Pihak Pelapor (Kecenderungan x Kecenderungan Dampak Risiko Dampak) Perbankan 8. pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan taraf hidup rakyat banyak. tipologi pencucian uang yang teridentifikasi.5 5.8 Menengah Seni/Antik Balai Lelang 6.1 5.3 5.9 53.3 5.7 36.0 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Mengingat tingginya tingkat risiko pada sektor perbankan. TERBATAS Berdasarkan analisis lebih lanjut terkait tingginya tingkat risiko PJK Perbankan. berikut ini dilakukan analisis yang lebih komprehensif terkait dengan area-area berisiko pada setiap sektor. dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam rangka meningkatkan taraf hidup masyarakat banyak. Berikut ini besaran tingkat risiko TPPU menurut jenis pihak pelapor yang diurai menurut faktor- faktor risikonya. Bank melakukan kegiatan usaha dengan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan. diketahui bahwa faktor risiko TPPU yang lebih dominan pada setiap sektor berbeda-beda. perbankan Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 83 Tahun 2015 .0 3.2 33.1 Menengah Asuransi 5.5 Tinggi Properti Pedagang Kendaraan 8.6 Menengah KUPU 7. menyeleraskan dan menyeimbangkan unsur pemerataan pembangunan.0 9.3 42. dan Pedagang Kendaraan Bermotor.0 9.8 Menengah Pedagang Logam Mulia 8.3 45.3 43.

Peta Risiko Pihak Pelapor pada Sektor Perbankan Melalui kegiatan NRA pada sektor perbankan dapat diketahui Pihak Pelapor yang berisiko tinggi menjadi sarana TPPU. antara lain dengan menerapkan program anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme.TERBATAS perlu memitigasi risiko yang mungkin timbul. Kemajuan teknologi informasi yang semakin kompleks serta perkembangan kebutuhan masyarakat akan produk/jasa perbankan saat ini telah mendorong industri perbankan tumbuh semakin pesat. risiko hukum. berbagai kemudahan yang ditawarkan perbankan tersebut. a. semakin meningkatkan peluang bagi pelaku tindak pidana untuk menggunakan produk dan jasa perbankan dalam upaya menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan yang berasal tindak kejahatan. yaitu risiko operasional. Kerentanan TPPU: 1) Kerentanan Internal:  Ketersediaan Program Anti Pencucian Uang  Manajemen Program Anti Pencucian Uang  Kebijakan dan Prosedur Program Anti Pencucian Uang  Pengawasan Internal Program Anti Pencucian Uang  Kehandalan Sistem Informasi Program Anti Pencucian Uang Penilaian Risiko Indonesia 84 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . risiko reputasi dan risiko terkonsentrasinya transaksi. telah dilakukan identifikasi dan analisis terhadap faktor-faktor risiko TPPU yang meliputi: 1. Selain itu. ditengah regulasi serta implementasi Prinsip Mengenal Pengguna Jasa yang belum maksimal telah mendorong berbagai produk/jasa layanan perbankan rentan menjadi peluang bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menggunakan produk/jasa bank dalam membantu tindak kejahatannya. Kewaspadaan kondisi ini perlu ditingkatkan mengingat tingginya risiko yang harus dihadapi. Namun. dan adanya insentif berupa kerahasiaan bank yang relatif ketat. Untuk mengetahui jenis hal tersebut. Ancaman TPPU:  Jumlah LTKM yang dilaporkan  Jumlah Nasabah  Jumlah Nasabah berpotensi terindikasi TPPU  Persentase Transaksi Keuangan Tunai  Persentase Transfer Dana dari/ke Luar Negeri  Banyaknya jaringan  Banyaknya ATM  Banyaknya ragam produk/layanan yang disediakan 2.

Bank Umum Pembangunan Daerah. BPD. Perbankan yang memiliki tingkat kecenderungan TPPU tertinggi adalah Bank Milik Negara. Perbankan yang memiliki tingkat dampak TPPU tertinggi adalah Bank Milik Negara mengingat besarnya dana pihak ketiga yang dikelola serta besarnya skala potensi TPPU yang terjadi pada kelompok Bank tersebut. Bank Swasta dan Bank Asing memiliki tingkat kerentanan di bawah rata-rata perbankan secara umum. 4. Tingkat ancaman terendah dimiliki BPR terutama dikarenakan BPR memiliki rata-rata jumlah nasabah pengguna jasa yang berisiko tinggi yang terendah dibandingkan kelompok bank lainnya. Sementara itu. Tingginya tingkat kerentanan BPR lebih dikarenakan BPR memiliki tingkat kerentanan internal yang tinggi. Berdasarkan analisis terhadap faktor- faktor risiko tersebut. 2. Bank Swasta. diikuti BPD dan Bank Asing pada posisi kedua dan ketiga. Bank Milik Negara memiliki tingkat ancaman yang lebih tinggi dibandingkan kelompok bank lainnya. dan Bank Milik Negara. 3. Bank Umum Campuran. khususnya Sementara itu. Bertolak belakang dengan tingkat ancaman. Ban Umum Swasta. diketahui bahwa BPR memiliki tingkat kerentanan TPPU tertinggi diikuti Bank Campuran. Bank Umum Asing. Dampak TPPU:  Nilai Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK)  Nilai Kredit yang disalurkan  Total Aset  Total Modal  Nilai Laba setelah Pajak  Rata-rata Nilai Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (LTKM) Analisis dilakukan pada 83 Pihak Pelapor Bank yang terkategorikan ke dalam 6 jenis Bank. TERBATAS  Kecukupan dan Kapabilitas SDM Program Anti Pencucian Uang  Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang  Kemampuan mengidentifikasi tindak pidana asal dalam transaksi keuangan mencurigakan 2) Kerentanan Pelaporan:  Rasio jumlah LTKM terhadap jumlah nasabah/pengguna jasa berisiko tinggi TPPU 3. Nilai kerentanan ini merupakan rata-rata dari nilai ancaman dan kerentanan. dan Bank Perkreditan Rakyat. yaitu: Bank Umum Milik Negara. Tingkat kerentanan terendah dimiliki Bank Asing terutama dikarenakan Bank Asing memiliki tingkat kerentanan pelaporan terendah. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 85 Tahun 2015 . dan BPR memiliki tingkat ancaman di bawah rata-rata perbankan secara umum. Bank Campuran. diketahui bahwa: 1.

TERBATAS

GRAFIK 15:
Tingkat Ancaman, Kerentanan, Kecenderungan, dan Dampak TPPU
pada Sektor Perbankan di Indonesia, menurut Jenis Perbankan

Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML

5. Perbankan yang memiliki tingkat risiko TPPU tertinggi adalah Bank
Umum. Hal ini ditunjukkan oleh dalam peta risiko Pihak Pelapor
Perbankan terhadap TPPU di bawah ini yang menunjukkan Bank Umum
berada pada area merah. Sementara itu, BPD, BPR, dan Bank Campuran
berada pada kelompok bank dengan risiko “Menengah”. Sedangkan
Bank Swasta dan Bank Asing berada pada kelompok bank dengan risiko
“Rendah”.

GAMBAR 26:
Peta Risiko TPPU pada Sektor Perbankan di Indonesia
menurut Jenis Perbankan

Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML
Catatan : Ukuran buble mencerminkan jumlah posisi DPK per 31 Desember 2013

Penilaian Risiko Indonesia
86 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Tahun 2015

TERBATAS

TABEL 7:
Hasil Analisis Faktor Risiko TPPU pada Sektor Perbankan di Indonesia
berdasarkan Jenis Perbankan

Tingkat Kerentanan Tingkat
Tingkat Tingkat Tingkat Kategor
Nama Bank Kecende
Ancaman Dampak Risiko i Risiko
Internal Pelaporan Total rungan

BANK UMUM 4,1 4,3 4,1 4,8 4,3 7,1 30,8 Menengah

Bank Milik Negara 5,9 3,6 4,8 4,9 5,4 8,2 44,6 Tinggi

Bank 4,2 4,7 3,9 5,0 4,5 7,5 33,6 Menengah
Pembangunan
Daerah
BPR 3,4 5,8 4,0 6,1 4,9 6,3 30,9 Menengah

Bank Campuran 3,6 4,7 4,0 5,1 4,3 7,2 30,6 Menengah

Bank Swasta 4,0 4,3 4,0 4,8 4,2 6,9 28,9 Rendah

Bank Asing 4,1 4,1 4,0 4,5 4,1 7,1 28,8 Rendah

TOTAL 4,1 4,4 4,0 4,9 4,4 7,1 30,8

Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML

b. Produk/Jasa Layanan Perbankan yang Berisiko Tinggi sebagai
Sarana TPPU

Melalui kegiatan NRA pada sektor perbankan dapat diketahui berbagai
produk/jasa perbankan yang teridentifikasi berisiko tinggi menjadi sarana
TPPU. Untuk mengetahui jenis produk/layanan perbankan yang berisiko tinggi
menjadi sarana bagi pelaku pencucian uang, telah dilakukan identifikasi dan
analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh 83 (delapan puluh
tiga) Pihak Pelapor Bank. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach
(RBA) yang dilakukan oleh perbankan terhadap 10 (sepuluh) produk maupun
jasa layanan yang disediakan setiap bank bagi para nasabah/pengguna
jasanya, diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 41 (empat puluh satu) jenis
produk/layanan perbankan yang berisiko tinggi menjadi sarana bagi pelaku
pencucian uang baik menempatkan, menyimpan, menyembunyikan maupun
memindahkan hasil-hasil kejahatan kepada pihak lain.

TABEL 8:
Produk/Jasa Layanan Perbankan yang Berisiko Tinggi sebagai Sarana TPPU
Berdasarkan RBA Perbankan

Jenis Produk/Layanan Nilai Rata- Tingkat Kategori
No.
Perbankan Rata Risiko Risiko Risiko
1 TRANSFER DANA 8,02 9,00 Tinggi
2 TABUNGAN 6,17 8,31 Tinggi
3 ELECTRONIC BANKING 4,60 7,72 Tinggi
4 SAFE DEPOSIT BOX 4,29 7,60 Tinggi
5 DEPOSITO 3,87 7,44 Tinggi

Penilaian Risiko Indonesia
Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 87
Tahun 2015

TERBATAS

Jenis Produk/Layanan Nilai Rata- Tingkat Kategori
No.
Perbankan Rata Risiko Risiko Risiko
6 CEK/GIRO 3,07 7,14 Tinggi
7 LETTER OF CREDIT 2,80 7,04 Tinggi
8 TRANSFER DANA LUAR 2,70 7,01 Tinggi
NEGERI/REMITTANCE
9 LAYANAN PRIORITAS 2,54 6,95 Menengah
10 JUAL/BELI VALAS 2,32 6,86 Menengah
11 KARTU DEBIT 2,21 6,82 Menengah
12 MOBILE BANKING 1,47 6,54 Menengah
13 REKSADANA 1,13 6,42 Menengah
14 BANCASSURANCE 1,07 6,40 Menengah
15 CUSTODIAN/PENITIPAN HARTA 1,07 6,40 Menengah
16 TRANSAKSI DERIVATIF 1,02 6,38 Menengah
17 BANK NOTES 0,98 6,36 Menengah
18 KARTU KREDIT 0,96 6,36 Menengah
19 TRAVEL CHEQUE 0,83 6,31 Menengah
20 TARIK TUNAI 0,76 6,28 Menengah
21 PENJUALAN OBLIGASI 0,71 6,26 Menengah
22 CORRESPONDENT BANKING 0,56 6,20 Menengah
23 BANK DRAFT 0,52 6,19 Menengah
24 PEMBAYARAN PAJAK DLL 0,52 6,19 Menengah
25 TRUST 0,46 6,17 Menengah
26 JAMINAN/GADAI 0,45 6,16 Menengah
27 WEALTH MANAGEMENT 0,34 6,12 Menengah
28 TRADE FINANCE 0,34 6,12 Menengah
29 BANK GARANSI 0,31 6,11 Menengah
30 TRANSFER DANA LUAR NEGERI 0,26 6,09 Menengah
31 SIMPAN PINJAM 0,20 6,07 Menengah
32 DANA PENSIUN 0,20 6,07 Menengah
33 TELEGRAPHIC TRANSFER 0,20 6,07 Menengah
34 INKASO 0,15 6,05 Menengah
35 UNIT LINK 0,11 6,04 Menengah
36 TABUNGAN MULTICURRENCY 0,09 6,03 Menengah
37 PENITIPAN ZAKAT/INFAQ 0,09 6,03 Menengah
38 SKEMA PEMBELIAN PIUTANG 0,05 6,02 Menengah
39 VIRTUAL ACCOUNT 0,04 6,01 Menengah
40 REFERENSI BANK 0,04 6,01 Menengah
41 REKENING PONSEL 0,01 6,00 Menengah
Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML
Catatan : Nilai Rata-Rata Risiko berskala 0-10. Nilai tersebut dihitung dari konversi
rata-rata peringkat risiko atas produk/layanan perbankan pada setiap
perbankan.

Setelah dilakukan analisis terhadap 41 (empat puluh satu) jenis
produk/layanan perbankan sebagaimana tabel di atas, diketahui bahwa
terdapat 8 produk/layanan perbankan yang berisiko paling tinggi
dimanfaatkan oleh para pelaku TPPU, yaitu: Transfer Dana, Tabungan,
Electronic Banking, Safe Deposit Box, Deposito, Cek/Giro, Letter of Credit,
dan Transfer Dana Luar Negeri/Remittance. Hal ini ditunjukkan dari nilai level
risiko produk/layanan perbankan yang lebih besar dari 7,0. Ada beberapa

Penilaian Risiko Indonesia
88 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Tahun 2015

3. TABUNGAN 2. Bank Pembangunan Daerah. 4. CEK/GIRO Daerah 4. TRANSFER DANA 3. Pada Bank Milik Negara dan Bank Asing. Lebih lanjut. LAYANAN PRIORITAS 1. TABUNGAN Pembangunan 3. khususnya Transfer Dana Luar Negeri/Remittance yang mudah dipindah-pindahkan dari satu yurisdiksi ke yurisdiksi lainnya dengan maksud mengaburkan asal usul dana. SAFE DEPOSIT BOX 5. TRANSFER DANA 5. produk/jasa layanan perbankan yang berisiko tinggi TPPU adalah Tabungan. TRANSFER DANA 2. serta 5. Produk Tabungan dan Cek/Giro mudah dikonversikan menjadi kas atau setara kas. pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR). DEPOSITO 1. Bank Milik 3. 2. produk/jasa layanan perbankan yang berisiko tinggi TPPU adalah Transfer Dana. CEK/GIRO Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 89 Tahun 2015 . TRANSFER DANA LUAR NEGERI/REMITTANCE 4. TABEL 9: 5 Jenis Produk/Jasa Layanan Perbankan yang Berisiko Tinggi Menurut Jenis Bank Jenis Produk/Layanan Perbankan Jenis Bank (diurut berdasarkan peringkat risiko) A. TRUST 1. Electronic Banking yang tidak memerlukan prosedur tatap muka. Safe Deposit Box yang cenderung privacy oriented. ELECTRONIC BANKING 2. Sementara itu. dan Bank Campuran. DEPOSITO 5. ELECTRONIC BANKING 2. Bank 2. setelah dilakukan analisis risiko yang lebih rinci menurut jenis Bank. Bank Swasta 3. SAFE DEPOSIT BOX 1. Menariknya yield atas Deposito. Transfer Dana. sedangkan pada Bank Swasta. diketahui bahwa tingkat risiko TPPU atas setiap produk/jasa layanan perbankan berbeda-beda menurut jenis Bank. ELECTRONIC BANKING 4. SAFE DEPOSIT BOX 5. TRANSAKSI DERIVATIF 4. Bank Umum: 1. TERBATAS alasan yang berkaitan dengan tingginya risiko atas produk-produk/jasa layanan tersebut diantaranya: 1. TRANSFER DANA Negara 4. Bank Asing 3. produk/jasa layanan perbankan yang berisiko tinggi TPPU adalah Electronic Banking.

TRANSFER DANA LUAR NEGERI/REMITTANCE Rakyat 3. DEPOSITO 4. Hasil riset terkini tipologi TPPU yang dilakukan oleh PPATK terhadap putusan pengadilan terkait TPPU. Penilaian Risiko Indonesia 90 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . LETTER OF CREDIT 5. TRANSFER DANA 2. TABUNGAN 4. SAFE DEPOSIT BOX 5. penggelapan. Bank Perkreditan 2. narkotika. menyimpan. Salah satu emerging threat yang lebih spesifik mengancam secara internasional saat ini adalah penggunaan Bitcoin sebagai sarana TPPU. penipuan. Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia selaku Lembaga Pengawas Pengatur diharapkan dapat memonitoring perkembangan transaksi Bitcoin di Indonesia mengingat belum adanya ketentuan teknis yang lebih tegas mengatur tentang eksistensi Bitcoin sebagai mata uang yang tidak resmi. perbankan. TABUNGAN B. menyembunyikan maupun memindahkan hasil-hasil kejahatan. juga mencatat bahwa metode transaksi melalui mobile banking. utamanya seperti dari hasil korupsi. mengingat bahwa produk/layanan perbankan tersebut sering menjadi media pelaku TPPU untuk menempatkan. Meskipun Bitcoin bukanlah merupakan produk perbankan. diperlukan adanya upaya prosedur yang lebih ketat (Enhance Due Dilligence) terhadap calon Pengguna Jasanya. dan virtual account merupakan New Payment Method yang menjadi salah satu ancaman terkini (emerging threat) nasional terkait pencucian uang. ELECTRONIC BANKING 1. Terhadap berbagai produk/jasa layanan yang berisiko tinggi tersebut. electronic banking.TERBATAS Jenis Produk/Layanan Perbankan Jenis Bank (diurut berdasarkan peringkat risiko) 1. tindak pidana kepabeanan. Terhadap adanya produk/jasa layanan perbankan menjadi ancaman terkini (emerging threat) menurut hasil tipologi TPPU. Bank Campuran 3. pidana perpajakan. hasil analisis terhadap risk-based approach yang telah dilakukan perbankan ini sangat relevan dengan modus yang teridentifikasi oleh penegak hukum. namun belum teridentifikasi dalam risk-based approach perbankan sebagaimana tercantum dalam Tabel 11 perlu adanya perhatian bagi Perbankan untuk melakukan review atas tingkat risiko produk/layanannya yang terkait. namun pembukaan wallet Bitcoin oleh terduga pelaku TPPU diharapkan dapat teridentifikasi oleh Perbankan. TRANSFER DANA Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Secara keseluruhan. dan tindak pidana lainnya.

45 6. TABEL 10: Negara/Teritorial Yang Berisiko Tinggi TPPU Berdasarkan RBA Perbankan Nilai Rata. FATF telah mengidentifikasi beberapa negara/yurisdiksi yang dianggap memiliki kekurangan strategis diantaranya adalah Iran. dan Myanmar.48 9.18 7. TERBATAS c.89 6.29 Menengah 20 Zimbabwe 0.46 7.39 Menengah 15 Ekuador 0.61 6.47 Menengah 14 US Virgin Islands 0.03 8.65 Menengah 10 Irak 1.06 6.31 Menengah 19 Ethiopia 0. Nama Negara/Teritorial Rata Risiko Risiko Risiko 1 Iran 6.35 7. Tingkat Tingkat No.47 Menengah 13 Afrika Selatan 1.29 7.89 6.04 Tinggi 8 Somalia 1.37 Menengah 17 Bolivia 0.56 6. Aljazair.73 Menengah 9 Colombia 1.61 6.96 7.36 Tinggi 7 Kuba 2.40 6.26 Menengah 21 Cyprus 0. diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 70 (tujuh puluh) negara/teritorial yang berisiko tinggi menjadi negara sumber maupun negara tujuan pencucian uang.23 Menengah 25 Kamboja 0. Untuk mengetahui lebih jauh hasil identifikasi negara/teritorial yang berisiko tinggi menjadi sarana bagi pelaku pencucian uang di Indonesia khususnya pada sektor Perbankan.73 6.62 6. Negara/Teritorial yang Berisiko Tinggi TPPU Dalam rangka melindungi sistem keuangan internasional dari risiko pencucian uang dan pendanaan terorisme serta upaya mendorong tingkat kepatuhan suatu negara/teritorial terhadap standar AML/CFT.84 6.56 6.39 Menengah 16 Samoa 0.63 Menengah 11 Aruba 1.00 Tinggi 2 Korea Utara 5.67 6.12 6.26 Menengah 22 Vatican City State 0.32 Tinggi 3 Suriah 3. telah dilakukan identifikasi dan analisis terhadap risk- based approach yang dilakukan oleh setiap Pihak Pelapor Perbankan.34 Menengah 18 Aljazair (Algeria) 0.78 6. Berdasarkan analisis terhadap RBA yang dilakukan oleh perbankan dan terhadap 10 (sepuluh) negara/teritorial yang berisiko tinggi TPPU.06 6.56 6.50 Menengah 12 Nigeria 1. Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK).23 Menengah Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 91 Tahun 2015 .56 6.46 Tinggi 6 Sudan 2.23 Menengah 23 USA 0.59 Tinggi 4 Myanmar 3.23 Menengah 24 Angola 0.54 Tinggi 5 Afganistan 3.

10 Menengah 48 Marshal Islands 0.06 6.16 Menengah 35 Bermuda 0.22 6.17 6.34 6.22 6.00 Menengah 68 Guatemala 0.39 6.18 Menengah 33 Brazil 0.03 Menengah 67 Thailand 0.28 6.13 Menengah 43 Yugoslavia 0.05 Menengah 61 Turkey 0.22 6.34 6.45 6.28 6.50 6.10 Menengah 50 Liberia 0.34 6. Penilaian Risiko Indonesia 92 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .05 Menengah 62 South Africa 0.18 Menengah 34 Rusia 0.11 6.10 Menengah 51 Vietnam 0.23 Menengah 27 Bahrain 0.08 Menengah 56 Tanzania 0. Tingkat Tingkat No.13 Menengah 46 Libya 0.28 6.21 Menengah 29 Malta 0.39 6.03 Menengah 66 Bangladesh 0.06 6.45 6.34 6.28 6.34 6.08 Menengah 52 Guinea Ekuatorial 0.13 Menengah 40 West Africa 0.16 Menengah 39 Haiti 0.10 Menengah 49 China 0.03 Menengah 64 Mauritius 0. Lucia 0.17 6. Nama Negara/Teritorial Rata Risiko Risiko Risiko 26 Venezuela 0.50 6.06 6.11 6.39 6.18 Menengah 32 Cayman Island 0.22 6.16 Menengah 38 Kongo 0.05 Menengah 59 Malaysia 0.34 6.18 Menengah 30 Chad 0.22 6.05 Menengah 58 St.08 Menengah 55 Dominica 0.03 Menengah 63 Montserrat 0.13 Menengah 41 Lebanon 0.TERBATAS Nilai Rata.13 Menengah 42 Kamerun 0.11 6.16 Menengah 36 Pakistan 0.13 Menengah 47 Yemen 0.11 6.00 Menengah 69 Belarus 0.21 Menengah 28 Cook Islands 0.45 6.17 6.00 Menengah 70 Tax Haven Country 0.22 6.03 Menengah 65 British Virgin Island 0.17 6.08 Menengah 57 Hongkong 0.39 6.45 6.34 6.08 Menengah 54 Zambia 0.11 6.18 Menengah 31 Negara Timur Tengah 0.00 Menengah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Nilai Rata-Rata Risiko berskala 0-10.08 Menengah 53 Singapura 0.05 Menengah 60 Taiwan 0.16 Menengah 37 Panama 0.17 6.39 6.34 6. Nilai tersebut dihitung dari konversi rata-rata peringkat risiko atas negara/teritorial yang berisiko tinggi TPPU pada setiap perbankan.13 Menengah 44 San Marino 0.56 6.06 6.45 6.13 Menengah 45 Meksiko 0.

Profil Pengguna Jasa Perbankan yang Berisiko Tinggi TPPU Untuk mengetahui profil Pengguna Jasa yang berisiko tinggi menjadi sarana bagi pelaku pencucian uang. Sudan.73 Tinggi 5 Pegawai Money Changer 7. Hal ini ditunjukkan dari nilai level risiko profil Pengguna Jasa yang lebih besar dari 7. TERBATAS Setelah dilakukan analisis terhadap 70 (tujuh puluh) negara/teritorial yang berisiko tinggi TPPU sebagaimana tabel di atas. Pegawai Money Changer. Myanmar.41 Tinggi 6 Profesional dan Konsultan 7. Pendekatan risk-based approach yang dilakukan oleh setiap Pihak Pelapor. Pengurus Parpol. diketahui bahwa terdapat 7 (tujuh) negara/teritorial yang paling berisiko tinggi TPPU menjadi negara sumber ataupun tujuan pencucian uang.78 Menengah 14 Ulama/Pendeta/Pimpinan organisasi dan 5. TNI/Polri (termasuk pensiunan).23 Tinggi 7 Pegawai Bank 7.16 Tinggi 8 PNS (termasuk pensiunan) 7.83 Menengah 10 Pengurus/Pegawai LSM/organisasi tidak 6.69 Menengah 12 Pengurus dan pegawai yayasan/lembaga 5. Pegawai BI/BUMN/BUMD (termasuk pensiunan).02 Tinggi pensiunan) 4 TNI/Polri (termasuk pensiunan) 7. baik sebagai pelaku aktif maupun pelaku pasif. Suriah. yaitu: Pejabat Lembaga Legislatif dan Pemerintah. Korea Utara. telah dilakukan identifikasi dan analisis melalui 2 (dua) pendekatan: 1. d.60 Tinggi 2 Pengurus Parpol 8.0.39 Tinggi 3 Pegawai BI/BUMN/BUMD (termasuk 8. diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 8 (delapan) profil Pengguna Jasa yang berisiko tinggi menjadi pelaku pencucian uang.08 Tinggi 9 Ibu Rumah Tangga 6.80 Menengah berbadan hukum lainnya 11 Pelajar/Mahasiswa 6.0. yaitu: Iran.82 Menengah berbadan hukum lainnya 13 Pengusaha/Wiraswasta 5. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh perbankan dan terhadap 21 (dua puluh satu) profil Pengguna Jasa Perorangan. Afganistan. Profesional dan Konsultan.42 Menengah Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 93 Tahun 2015 . Hal ini ditunjukkan dari nilai level risiko negara/teritorial yang lebih besar dari 7. Pegawai Bank. dan Kuba. dan PNS (termasuk pensiunan). TABEL 11: Profil Pengguna Jasa Perbankan Yang Berisiko Tinggi TPPU Berdasarkan RBA Perbankan Kategori No Jenis Profil Level Risiko Risiko 1 Pejabat Lembaga Legislatif dan Pemerintah 8.

0.0% 1.5 b. Dalam risk-based approach LTKM ini ditetapkan rasio jumlah LTKM terhadap jumlah nasabah Perbankan sebagai proksi level kecenderungan dan rata-rata nilai TKM sebagai level dampaknya. Diketahui bahwa rasio distribusi jumlah LTKM Pengguna Jasa Badan Usaha terhadap distribusi jumlah nasabahnya adalah sebesar 1. Pendekatan risk-based approach terhadap data laporan transaksi keuangan mencurigakan dari Pihak Pelapor Perbankan kepada PPATK.0% 95. Sementara itu.0% 5. diketahui bahwa tingkat risiko Pengguna Jasa Badan Usaha menjadi Pelaku TPPU lebih tinggi dibandingkan Pengguna Jasa Perorangan.2 Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Penilaian Risiko Indonesia 94 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Perorangan 92.92 Rendah 18 Lain-Lain 4. Berdasarkan komposisi pelaporan LTKM Perbankan dan komposisi jumlah Pengguna Jasa yang dirinci menurut jenis Pengguna Jasanya.6.94 Rendah 21 Petani dan Nelayan 3.0 7. sebagai proksi level dampak TPPU. baik dari sisi kecenderungannya maupun dampak (nilai potensi) TPPU yang ditimbulkan. sedangkan rasio distribusi untuk Pengguna Jasa Perorangan sebesar 1. 2.28 Menengah 17 Pengajar dan Dosen 4. Badan usaha 8. rata-rata nilai TKM Pengguna Jasa Badan Usaha juga jauh lebih tinggi dibandingkan Pengguna Jasa Perorangan.61 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Nilai Rata-Rata Risiko berskala 0-10.28 Menengah 16 Pedagang 5.6 251. Level kecenderungan Pengguna Jasa Badan Usaha yang lebih besar daripada Perorangan dikarenakan rasio distribusi jumlah LTKM Pengguna Jasa Badan Usaha terhadap distribusi jumlah nasabahnya lebih besar dibandingkan rasio distribusi untuk Pengguna Jasa Perorangan.TERBATAS Kategori No Jenis Profil Level Risiko Risiko kelompok keagamaan 15 Pegawai Swasta 5. TABEL 12: Faktor Risiko Profil Pengguna Jasa Perbankan Berdasarkan RBA terhadap LTKM Distribusi Jenis Profil Distribusi Level Level Dampak Jumlah Pengguna Jasa Jumlah LTKM Kecenderungan (miliar Rp) Nasabah a.48 Rendah 19 Buruh.19 Rendah Tenaga Keamanan 20 Pengrajin 3.0% 1. Pembantu Rumah Tangga dan 4. Nilai tersebut dihitung dari konversi rata-rata peringkat risiko atas profil yang berisiko tinggi TPPU pada setiap perbankan.

47 7.56 7.09 39.59 5.10 Tinggi keagamaan Pengurus Parpol 9. TERBATAS Berdasarkan analisis lebih lanjut terhadap data laporan transaksi keuangan mencurigakan dari Pihak Pelapor Perbankan kepada PPATK.63 5.80 Tinggi Pengusaha/Wiraswasta 5.80 Menengah TNI/Polri (pensiunan) 5.20 Menengah Pegawai Bank 4.79 9.45 33.10 Tinggi PEPs 7.66 7.77 7.03 7.80 32.59 6.10 Tinggi Pegawai Money Changer 7.00 52.80 Menengah Pengurus/pegawai yayasan 5.74 43.00 35.00 Menengah Pengurus/Pegawai LSM 5.17 34.25 6.89 6.90 Menengah PNS (pensiunan) 5.40 Menengah Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 95 Tahun 2015 .82 53.40 Menengah Profesional dan Konsultan 5.20 Menengah Pegawai Swasta 5.80 Menengah Ibu Rumah Tangga 5. dapat diperoleh peta risiko (hitmap) Pengguna Jasa Perorangan Perbankan sebagai berikut: GAMBAR 27: Peta Risiko Profil Pengguna Jasa Perorangan Perbankan Berdasarkan RBA terhadap LTKM Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML TABEL 13: Faktor Risiko Profil Pengguna Jasa Perorangan Perbankan Berdasarkan RBA terhadap LTKM Level Risiko Level Level Kategori Jenis Profil (Kecenderungan x Kecenderungan Dampak Risiko Dampak) Ulama/Pendeta/Pimpinan 7.04 33.59 58.88 6.23 56.50 41.77 39.00 6.

74 4.60 Menengah Pengajar dan Dosen 4. yaitu: Ulama/Pendeta/Pimpinan keagamaan.52 21. Berisiko Menengah bila Level Risiko antara 25.TERBATAS Level Risiko Level Level Kategori Jenis Profil (Kecenderungan x Kecenderungan Dampak Risiko Dampak) Pegawai BI/BUMN/BUMD 5.40 Rendah Buruh. 2. Keamanan 5. 3. penerapan Enhance Due Dilligence (EDD) juga merupakan suatu keharusan. diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 4 (empat) profil Pengguna Jasa yang berisiko tinggi menjadi pelaku pencucian pencucian uang. dapat direkomendasikan bahwa perlu adanya perhatian bagi Perbankan untuk melakukan review atas tingkat risiko beberapa profil Pengguna Jasanya. dan Pengusaha/Wiraswasta. dan Berisiko Rendah bila Level Risiko < 25. Selain itu. Pegawai Money Changer. baik sebagai pelaku aktif maupun pelaku pasif.40 Menengah Petani dan Nelayan 4. Di sisi lain.00 25. diantaranya perlu dipastikan beberapa hal berikut: 1.30 4.00 9. Tindakan yang dilakukan petugas dalam hal terdapat hal yang mencurigakan.99 5. Prosedur dan tindakan yang dilakukan petugas pada saat melayani Pengguna Jasa. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach terhadap data laporan transaksi keuangan mencurigakan dari Pihak Pelapor Perbankan kepada PPATK mengenai profil Pengguna Jasa Perorangan dan Badan Usaha berisiko TPPU. sektor Perbankan juga perlu melakukan review atas tingkat risiko beberapa profil Pengguna Jasa Perorangan.67 30.00 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Profil dikategorikan Berisiko Tinggi bila Level Risiko > 45. di antaranya dengan menambahkan Pengguna Jasa dengan profil Ulama/Pendeta/Pimpinan keagamaan.75 3. Di samping itu juga sebagaimana telah diatur dalam PBI. perbankan perlu meningkatkan frekuensi pengkinian data terhadap profil-profil tersebut. Pemahaman petugas terhadap APU dan PPT.62 20. Pengurus Parpol.80 Menengah Pelajar/Mahasiswa 4. Penilaian Risiko Indonesia 96 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .45.10 Menengah Pedagang 6.24 6. khususnya Pengguna Jasa yang berbentuk Badan Usaha (khususnya korporasi dan Yayasan) karena profil tersebut tergolong berisiko tinggi terindikasi sebagai pelaku TPPU. Tools yang memadai untuk memastikan transaksi yang dilakukan adalah wajar atau tidak. Bila dibandingkan antara hasil risk-based approach perbankan dengan hasil analisis terhadap data LTKM.31 5.58 28.80 Rendah Pengrajin 3. dan Pengusaha/Wiraswasta sebagai Pengguna Jasa Perorangan yang berisiko Tinggi TPPU.13 25.00 3. Agar EDD dapat berjaan dengan baik. PRT. 4. Sebagai bentuk upaya mitigasi oleh Perbankan diperlukan adanya pemantauan yang lebih ketat untuk mereduksi potensi risiko TPPU terhadap berbagai profil yang berisiko tinggi menjadi pelaku TPPU sebagaimana telah diuraikan sebelumnya.

82 Menengah 9 Riau 6.50 Rendah 17 Kalimantan Barat 4. TABEL 14: Wilayah Transaksi Yang Berisiko Tinggi TPPU Berdasarkan RBA Perbankan No Provinsi Transaksi Level Risiko Kategori Risiko 1 Nangroe Aceh Darussalam 9.95 Menengah 8 Kepulauan Riau 6.00 Menengah 14 Kalimantan Timur 5. TERBATAS 5. serta 8. telah dilakukan identifikasi dan analisis melalui 2 (dua) pendekatan: 1. Laporan secara regular terkait pemantauan terhadap penggunaan SDB.86 Tinggi 3 Bali 7. Pendekatan risk-based approach yang dilakukan oleh setiap Pihak Pelapor. DKI Jakarta. 7.41 Menengah 12 Sulawesi Selatan 6. diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 4 (empat) provinsi yang berisiko tinggi menjadi wilayah transaksi pencucian uang. Wilayah yang Berisiko Tinggi TPPU pada Sektor Perbankan Untuk mengetahui wilayah transaksi yang berisiko tinggi bagi pelaku pencucian uang. e.50 Rendah 18 Kalimantan Selatan 4.50 Rendah 19 Kalimantan Utara 4.95 Menengah 6 Papua Barat 6.36 Rendah 21 Kep.23 Tinggi 5 Jawa Barat 6. Dokumen dan Informasi yang diminta.32 Menengah 16 Sumatera Selatan 4. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh perbankan dan terhadap 34 (tiga puluh empat) provinsi.14 Menengah 13 Banten 6. Hal ini ditunjukkan dari nilai level risiko profil Pengguna Jasa yang lebih besar dari 7. yaitu: NAD.95 Menengah 7 Papua 6.23 Rendah Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 97 Tahun 2015 . Strategi dalam melakukan pengkinian data yang sifatnya sensitif.0.41 Menengah 10 Jawa Tengah 6. Track record nasabah.73 Menengah 15 DI Yogyakarta 5. dan Sumatera Utara. Bangka Belitung 4. Bali.36 Tinggi 4 Sumatera Utara 7.36 Rendah 20 Maluku 4.41 Menengah 11 Jawa Timur 6. 6.00 Tinggi 2 DKI Jakarta 8.

Bali. Sementara itu.27 Rendah 32 Nusa Tenggara Barat 3.55 Rendah 29 Bengkulu 3. diketahui bahwa DKI Jakarta dikategorikan sebagai daerah berisiko tertinggi TPPU.09 Rendah 24 Maluku Utara 4.68 Rendah 27 Sulawesi Tenggara 3. Sulawesi Selatan.23 Rendah 23 Lampung 4.09 Rendah 25 Jambi 3. Jawa Barat. Jawa Timur. Jawa Tengah. Dalam risk-based approach LTKM ini ditetapkan rasio jumlah LTKM terhadap jumlah nasabah Perbankan sebagai proksi level kecenderungan dan rata-rata nilai TKM sebagai level dampaknya. Penilaian Risiko Indonesia 98 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Banten. yaitu: Lampung.95 Rendah 26 Kalimantan Tengah 3.7.41 Rendah 30 Gorontalo 3. Riau. Sumatera Utara. Pendekatan risk-based approach terhadap data laporan transaksi keuangan mencurigakan dari Pihak Pelapor Perbankan kepada PPATK. 2. terdapat 14 (empat belas) provinsi yang memiliki risiko menengah terjadinya TPPU.TERBATAS No Provinsi Transaksi Level Risiko Kategori Risiko 22 Sulawesi Tengah 4. dan Berisiko Rendah bila Level Risiko < 5. Kepulauan Riau.14 Rendah 33 Sulawesi Barat 3. Berdasarkan komposisi pelaporan LTKM Perbankan dan komposisi jumlah Pengguna Jasa yang dirinci menurut wilayah.14 Rendah 34 Nusa Tenggara Timur 3. Berisiko Menengah bila Level Risiko antara 5 . Kalimantan Timur. DI Yogyakarta. Hal ini dikarenakan DKI memiliki tingkat kerentanan dan tingkat dampak TPPU tertinggi dibandingkan provinsi-provinsi lainnya.68 Rendah 28 Sumatera Barat 3.00 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Provinsi dikategorikan Berisiko Tinggi bila Level Risiko ≥ 7.41 Rendah 31 Sulawesi Utara 3. Bengkulu. dan Sumatera Selatan.

95 3.97 32.85 26.71 22.5 Menengah Jawa Timur 6.61 4.1 Rendah Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 99 Tahun 2015 .73 29.9 Menengah Banten 6.44 22.27 4.0 Menengah D.7 Rendah Bangka Belitung 5.7 Menengah Kalimantan Timur 6.8 Menengah Sumatera Utara 6.12 4.69 5.76 28.7 Menengah Kepulauan Riau 6.0 Tinggi Lampung 5.30 4. Yogyakarta 6.45 26.2 Menengah Sumatera Selatan 5.14 4.1 Menengah Bali 5.94 4.71 29.85 4.88 30.58 4.50 38.09 6.30 32.41 4.1 Menengah Jawa Barat 5.18 8.0 Menengah NAD 5.13 23.22 33.41 5.8 Menengah Riau 6.21 5.5 Menengah Jawa Tengah 6. TERBATAS GAMBAR 28: Peta Risiko Wilayah Berisiko TPPU Pada Sektor Perbankan Berdasarkan RBA terhadap LTKM Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML TABEL 15: Faktor Risiko Wilayah Berisiko TPPU pada Sektor Perbankan Berdasarkan RBA terhadap LTKM Level Risiko Level Level Kategori Provinsi Transaksi (Kecenderungan Kecenderungan Dampak Risiko x Dampak) DKI Jakarta 9.00 81.3 Menengah Bengkulu 6.97 6.20 4.54 28.41 39.00 9.21 42.i.35 35.7 Menengah Sulawesi Selatan 5.1 Rendah Papua 5.

91 3.0 Rendah Kalimantan Utara 3.02 3.82 19.99 21.TERBATAS Level Risiko Level Level Kategori Provinsi Transaksi (Kecenderungan Kecenderungan Dampak Risiko x Dampak) Kalimantan Barat 4.00 9.79 16.4 Rendah Nusa Tenggara Timur 5. penyetoran secara tunai.97 19.08 3.00 3.46 3.4 Rendah Sulawesi Barat 3. Selanjutnya dana hasil pencairan disetorkan ke rekening a.9 Rendah Jambi 5.n.8 Rendah Nusa Tenggara Barat 3.00 3.45.67 18.00 3.85 19.0 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Provinsi dikategorikan Berisiko Tinggi bila Level Risiko > 45.66 4.9 Rendah Sulawesi Tenggara 3.n. b. dan Berisiko Rendah bila Level Risiko < 25.00 9.8 Rendah Gorontalo 5.0 Rendah Papua Barat 3.4 Rendah Kalimantan Tengah 4. Berisiko Menengah bila Level Risiko antara 25. c.4 Rendah Sumatera Barat 4. modus operandi TPPU yang terjadi di Indonesia dengan menggunakan sektor Perbankan sebagai sarana TPPU antara lain sebagai berikut: 1) Pengalihan dana dari rekening giro milik instansi pemerintah ke rekening tabungan a. Dinas Daerah/Pemda.08 3.64 3. f. pribadi pejabat.26 3.83 21.46 20.9 Rendah Sulawesi Utara 5. Dana yang masuk ke rekening pejabat tersebut dapat berupa: a. transfer dari bank lain.63 14.8 Rendah Kalimantan Selatan 4. seperti Bendaharawan Kantor Dinas Daerah/ Pemda melakukan penarikan dana dengan cek dari rekening a.53 4. Modus Operandi TPPU dan Red Flag TKM pada Sektor Perbankan 1. pribadi Bendahara/Pejabat Kantor Dinas dimaksud.2 Rendah Sulawesi Tengah 5. Modus Operandi Sesuai hasil analisis LTKM yang disampaikan oleh PPATK kepada pihak aparat penegak hukum.n.9 Rendah Maluku 6.53 19.2 Rendah Maluku Utara 4. 3) Penyuapan dengan cara rekening pejabat pemerintah beserta anggota keluarganya digunakan untuk menampung dana-dana dari pihak lain yang memperoleh jasa dari si pemilik rekening atau ada keterkaitan emosional dengan pihak tertentu.00 12. 2) Pembukaan rekening di bank dengan menggunakan identitas palsu untuk melakukan penipuan.03 3. dan Penilaian Risiko Indonesia 100 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .00 9.79 11. menggunakan warkat atas bawa.00 3.48 3.84 3.61 21.

a. tetapi hanya menyewa dengan nilai yang jauh lebih kecil dibandingkan kalau membeli. 6) Penyelewengan penggunaan anggaran oleh Bagian pengadaan pada suatu instansi pemerintah yang diberi wewenang untuk melakukan pembelian sejumlah barang. bisnis yang dikelola oleh anggota keluarga. Pengembalian dana tersebut terindikasi dilakukan melalui rekening perusahaan atau rekening pejabat tertentu. Red Flag TKM Indikator transaksi keuangan mencurigakan untuk sektor perbankan dapat dilihat dari sisi transaksi maupun dari sisi perilaku nasabah/Pengguna Jasa. polis asuransi. b) Transaksi yang dilakukan dalam jumlah relatif kecil namun dengan frekuensi yang tinggi (structuring). d) Pertukaran atau pembelian mata uang asing dalam jumlah relatif besar. Rekening tersebut digunakan untuk memperlancar penyelesaian transaksi perdagangan kayu/logs. serta penggunaan identitas palsu dalam proses pembukaan rekening di bank untuk tujuan penipuan. Dalam pelaksanaannya instansi tersebut tidak benar membeli barang dimaksud. 5) Kembalinya dana-dana yang dulunya dari hasil perbuatan melawan hukum di Indonesia ke dalam negeri. 7) penggunaan fasilitas phone banking. didepositokan dan lain-lain. Transaksi 1) Tunai a) Transaksi yang dilakukan secara tunai dalam jumlah di luar kebiasaan yang dilakukan nasabah. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 101 Tahun 2015 . c) Transaksi dilakukan dengan menggunakan beberapa rekening atas nama individu yang berbeda-beda untuk kepentingan satu orang tertentu (smurfing). 4) Pelaku illegal logging membuka beberapa rekening di bank baik menggunakan nama pelaku sendiri maupun nama pihak lain untuk menyamarkan identitas pelaku. 2. pembelian properti. kemudian dana yang sudah masuk diserahkan kepada oknum pemilik dana dengan memberikan imbalan kepada pihak yang nama atau perusahaannya digunakan. pemindahbukuan. TERBATAS d. Beberapa transaksi ada yang disetorkan kepada rekening oknum aparat keamanan dan pejabat berwenang di bidang kehutanan dan perkayuan. Dana yang sudah masuk ke rekening pejabat kemudian digunakan untuk pembelian surat berharga. Selisih dana yang ada sebagian masuk ke rekening pejabat instansi dimaksud.

tergesa-gesa. 3) Transfer Dana a) Transfer dana untuk dan dari offshore financial center yang berisiko tinggi (high-risk) tanpa alasan usaha yang jelas. f) Transfer dana dari atau ke pihak yang tergolong berisiko tinggi (high-risk). g) Penerimaan/pembayaran dana dengan menggunakan lebih dari 1 (satu) rekening baik atas nama yang sama atau atas nama yang berbeda.TERBATAS e) Pembelian travellers checks secara tunai dalam jumlah relatif besar. 2) Transaksi Yang Tidak Rasional Secara Ekonomis a) Transaksi-transaksi yang tidak sesuai dengan tujuan pembukaan rekening b) Transaksi yang tidak ada hubungannya dengan usaha nasabah c) Jumlah dan frekuensi transaksi diluar kebiasaan yang normal. Perilaku Nasabah a) Perilaku nasabah yang tidak wajar pada saat melakukan transaksi (gugup. rasa kurang percaya diri. Penilaian Risiko Indonesia 102 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . c) Penerimaan dan pengiriman dana dalam jumlah yang sama atau hampir sama serta dilakukan dalam jangka waktu yang relatif singkat (pass-by). sumber penghasilan atau usahanya. b. e) Transfer dana dari atau ke negara yang tergolong berisiko tinggi (high-risk). h) Transfer dana dengan menggunakan rekening atas nama pegawai PJK dalam jumlah yang diluar kewajaran. dll) b) Nasabah/calon nasabah memberikan informasi yang tidak benar mengenai hal-hal yang berkaitan dengan identitas. c) Nasabah/calon nasabah menggunakan dokumen identitas yang diragukan kebenarannya atau diduga palsu seperti tanda tangan yang berbeda atau foto yang tidak sama. d) Pembayaran dana dalam kegiatan ekspor impor tanpa dokumen yang lengkap. b) Penerimaan transfer dana dalam beberapa tahap dan setelah mencapai akumulasi jumlah tertentu yang cukup besar kemudian ditransfer ke luar secara sekaligus.

Dalam kaitan tersebut pasar modal perlu menjalankan program anti pencucian uang dan pendanaan terorisme. dan sering bersentuhan dengan apa yang disebut dengan "hot money". Dengan tersedianya berbagai fasilitas inilah memerlukan adanya perhatian lembaga pengawas dan pengatur dan bagi industri Pasar Modal sendiri untuk senantiasa menjaga dirinya dari sasaran atau sarana pencucian uang. TERBATAS d) Nasabah/calon nasabah enggan atau menolak untuk memberikan informasi/dokumen yang diminta oleh petugas PJK tanpa alasan yang jelas. Pasar Modal Indonesia tumbuh dan berkembang menjadi salah satu alternatif penting sumber pembiayaan jangka panjang bagi berbagai perusahaan. baik melalui penerbitan saham maupun obligasi korporasi. b) Risiko Pencucian Uang pada Sektor Pasar Modal Dalam melakukan pencucian uang. dan memberikan "hasil" berupa keuntungan finansial yang sangat besar bagi pelakunya. nilainya mencapai Rp595 triliun. g) Nasabah tidak bersedia memberikan informasi yang benar atau segera memutuskan hubungan usaha/menutup rekening pada saat petugas PJK meminta informasi atas transaksi yang dilakukannya. Tindak pidana di bidang pasar modal berkaitan dengan tindak pidana pencucian uang. f) Nasabah membuka rekening hanya untuk jangka pendek saja. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 103 Tahun 2015 . Sementara nilai kapitalisasinya hingga awal bulan ini hampir mencapai Rp5 ribu triliun. Di samping itu. e) Nasabah atau kuasanya mencoba mempengaruhi petugas PJK untuk tidak melaporkan sebagai Transaksi Keuangan Mencurigakan dengan berbagai cara. sehingga diharapkan dapat memitigasi berbagai risiko yang mungkin timbul. tetapi terlebih dahulu mengupayakan agar harta kekayaan tersebut masuk ke dalam sistem keuangan. dan sekaligus menunjukkan peningkatan peran pasar modal dalam memenuhi kebutuhan pendanaan bagi banyak perusahaan di Indonesia. berbagai fasilitas yang tersedia di Pasar Modal memudahkan setiap orang bertransaksi dalam jumlah besar dan dalam waktu yang relatif singkat. di tengah terbatasnya pembiayaan dari sektor perbankan. pada umumnya pelaku tidak langsung membelanjakan atau menggunakan harta kekayaan hasil kejahatan. Sebagaimana diketahui tindak pidana di bidang pasar modal menimbulkan kerugian finansial yang sangat besar dan bersifat masif pada investor. Perkembangan industri pasar modal akhir-akhir ini cukup pesat. termasuk industri pasar modal. Hal tersebut meningkat lebih dari 60% dalam lima tahun terakhir ini. jumlah dana yang berhasil dihimpun berbagai perusahaan dari pasar modal. Selama lima tahun terakhir. dimana hal ini juga akan memberikan kemudahan agar suatu transaksi menjadi tersamarkan.

telah dilakukan identifikasi dan analisis terbatas pada aspek-aspek kerentanan pihak-pihak pelapor yang termasuk dalam kategori pihak pelapor pasar modal dengan variabel-variabel kerentanan internal yang meliputi:  Ketersediaan Program Anti Pencucian Uang  Manajemen Program Anti Pencucian Uang  Kebijakan dan Prosedur Program Anti Pencucian Uang  Pengawasan Internal Program Anti Pencucian Uang  Kehandalan Sistem Informasi Program Anti Pencucian Uang  Kecukupan dan Kapabilitas SDM Program Anti Pencucian Uang  Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang  Kemampuan mengidentifikasi tindak pidana asal dalam transaksi keuangan mencurigakan Hasil analisis kerentanan internal setiap pihak pelapor pada sektor pasar modal ini terlampir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam laporan ini. telah dilakukan identifikasi dan analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh Pihak Pelapor Pasar Modal. menyembunyikan maupun memindahkan hasil- Penilaian Risiko Indonesia 104 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Untuk mengetahui jenis produk pasar modal yang berisiko tinggi menjadi sarana bagi pelaku pencucian uang. Untuk mengetahui jenis hal tersebut. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh perusahaan Perantara Pedagang Efek/Penjamin Emisi Efek terhadap 10 (sepuluh) produk yang disediakan setiap perusahaan pasar modal bagi para pengguna jasanya. baik yang bertindak sebagai perusahaan Manajer Investasi maupun Perantara Pedagang Efek/Penjamin Emisi Efek. Mengingat penyelesaian transaksi efek. pembelian reksa dana sudah menggunakan sistem perbankan. menyimpan. diketahui bahwa pada teridentifikasi terdapat 8 (delapan) jenis produk pasar modal yang berisiko tinggi menjadi sarana bagi pelaku pencucian uang baik menempatkan. Peta Risiko Pihak Pelapor pada Sektor Pasar Modal Melalui kegiatan NRA pada sektor pasar modal dapat diketahui Pihak Pelapor yang berisiko tinggi menjadi sarana TPPU. maka risiko utama terhadap industri pasar Modal. khususnya terkait sektor pasar modal dapat diketahui berbagai produk/jasa pasar modal yang teridentifikasi berisiko tinggi menjadi sarana TPPU. adalah digunakannya Pasar Modal untuk melakukan layering. borderless dan cepat. b. pemesanan perdana saham secara online. Produk Pasar Modal yang Berisiko Tinggi sebagai Sarana TPPU Melalui kegiatan NRA.TERBATAS Karakteristik transaksi di industri Pasar Modal bersifat dinamis. sehingga sangat menarik bagi para pencuci uang untuk menggunakan fasilitas transaksi di industri Pasar Modal. a.

67 6.00 Menengah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Nilai Rata-Rata Risiko berskala 0-10.33 6. TERBATAS hasil kejahatan kepada pihak lain. telah dilakukan identifikasi dan analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh setiap Pihak Pelapor Pasar Modal. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 105 Tahun 2015 . Negara/Teritorial yang Berisiko Tinggi TPPU pada Sektor Pasar Modal Untuk mengetahui negara/teritorial yang berisiko tinggi menjadi sarana bagi pelaku pencucuian uang.35 Menengah 6 REKSADANA 0.80 9. yaitu reksadana. yaitu: Efek Equitas. TABEL 16: Produk/Jasa Layanan Perantara Pedagang Efek/Penjamin Emisi Efek yang Berisiko Tinggi sebagai Sarana TPPU Berdasarkan RBA Pasar Modal Jenis Produk/Jasa Layanan Nilai Rata. c. Nilai tersebut dihitung dari konversi rata-rata peringkat risiko atas produk pasar modal berdasarkan RBA pada setiap perusahaan pasar modal.40 6. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh perusahaan pasar modal dan terhadap 10 (sepuluh) negara/teritorial yang berisiko tinggi TPPU.80 6.00 Tinggi 2 MARGIN TRADING 3.71 Menengah 5 REPO 1.33 6.12 Menengah 7 DERIVATIF-FUTURES 0. diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 55 (lima puluh lima) negara/teritorial yang berisiko tinggi menjadi negara sumber maupun negara tujuan pencucian uang.87 Menengah 4 OBLIGASI 2.33 6.0.07 6. pada perusahaan manajer investasi hanya teridentifikasi 1 (satu) jenis produk pasar modal yang berisiko tinggi menjadi sarana bagi pelaku pencucian uang. Tingkat Kategori No.02 Menengah 8 KONTRAK PENGELOLAAN DANA 0. Pasar Modal Rata Risiko Risiko Risiko 1 EFEK EQUITAS (SAHAM) 8. Hal ini ditunjukkan dari level risiko produk pasar modal yang bernilai di atas 7. Setelah dilakukan analisis terhadap 10 jenis produk pasar modal yang dikelola oleh perusahaan Perantara Pedagang Efek/Penjamin Emisi Efek sebagaimana tabel di atas.97 Menengah 3 KONSULTAN KEUANGAN 2. diketahui bahwa hanya terdapat 1 (satu) produk pasar modal yang berisiko paling tinggi dimanfaatkan oleh para pelaku TPPU. Sementara itu.

Nama Negara/Teritorial Risiko Risiko Risiko 1 British Virgin Island 6.36 Menengah 25 United Arab Emirates 0.31 Menengah 27 Liberia 0.83 6.90 Menengah 10 Afganistan 1.13 Menengah 41 Samoa 0.74 6.65 6.46 6.00 Tinggi 2 Myanmar 3.18 Menengah 35 Republik Dominika 0.74 6.93 6.13 Menengah 42 Madagaskar 0.04 6.94 Menengah 8 Ekuador 1.31 Menengah 29 Kongo 0.13 Menengah Penilaian Risiko Indonesia 106 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .48 6.67 Menengah 15 Sudan 1.56 6.46 6.21 Tinggi 6 Nigeria 2.37 6.93 6.36 Menengah 23 Chili 0.90 Menengah 9 Irak 1.18 Menengah 37 Libya 0.41 7.65 6.TERBATAS TABEL 17: Negara/Teritorial Yang Berisiko Tinggi TPPU Berdasarkan RBA Pasar Modal Nilai Rata-Rata Tingkat Kategori No.83 6.27 Menengah 31 Tanzania 0.63 Menengah 18 Somalia 0.39 6.18 Menengah 36 Kamboja 0.83 6.70 Tinggi 4 Korea Utara 2.67 6.40 Menengah 21 Rusia 0.69 7.61 7.40 Menengah 20 Panama 0.37 6.56 6.40 Menengah 19 China 0.76 Menengah 12 Pakistan 1.13 Menengah 39 Turkey 0.83 6.94 6.37 6.85 6.25 Tinggi 5 Cayman Island 2.67 Menengah 16 Cuba 1.93 6.18 Menengah 38 Marshall Islands 0.74 6.27 Menengah 32 Ethiopia 0.72 Menengah 14 Singapura 1.46 6.36 Menengah 22 Siprus 0.36 Menengah 24 Haiti 0.59 7.30 9.12 Tinggi 7 Bahama 2.57 6.48 6.94 6.72 Menengah 13 Suriah 1.57 6.22 Menengah 34 Lebanon 0.39 6.63 Menengah 17 Mauritius 1.22 Menengah 33 Cook Islands 0.70 Tinggi 3 Iran 3.61 7.13 Menengah 40 Swiss 0.83 6.46 6.85 Menengah 11 Seychelles 1.74 6.31 Menengah 28 Australia 0.37 6.37 6.36 Menengah 26 Bolivia 0.31 Menengah 30 Hongkong 0.

diketahui bahwa terdapat 6 (enam) negara/teritorial yang paling berisiko tinggi TPPU menjadi negara sumber ataupun tujuan pencucian uang. Setelah dilakukan analisis terhadap 55 (lima puluh lima) negara/teritorial yang berisiko tinggi TPPU sebagaimana tabel di atas. TERBATAS Nilai Rata-Rata Tingkat Kategori No. Pengurus Parpol.00 Menengah 54 Algeria 0.04 Menengah 49 Nauru 0. diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 10 (sepuluh) profil Pengguna Jasa yang berisiko tinggi menjadi pelaku pencucian uang. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh pasar modal dan terhadap 21 (dua puluh satu) profil Pengguna Jasa Perorangan. Profesional dan Konsultan. dan Pelajar/Mahasiswa.13 Menengah 44 Yemen 0.09 Menengah 45 Jersey 0. PNS (termasuk pensiunan).0.19 6. Pendekatan risk-based approach yang dilakukan oleh setiap Pihak Pelapor Pasar Modal. yaitu: TNI/Polri (termasuk pensiunan).04 Menengah 52 Kenya 0. Nama Negara/Teritorial Risiko Risiko Risiko 43 Aljazair 0. Ibu Rumah Tangga.28 6. Iran.04 Menengah 48 Uganda 0.09 6.28 6.00 Menengah 55 Anguilla 0. Pengurus LSM/organisasi tidak berbadan hukum lainnya.19 6. Myanmar. Hal ini ditunjukkan dari level risiko profil Pengguna Jasa tersebut yang bernilai di atas 7.09 6.00 Menengah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Nilai Rata-Rata Risiko berskala 0-10.19 6. Hal ini ditunjukkan dari level risiko negara/teritorial yang bernilai di atas 7.09 6.04 Menengah 51 Luxemburg 0.00 Menengah 53 Israel 0. baik sebagai pelaku aktif maupun pelaku pasif.19 6. PEPs. Cayman Island.19 6. Pegawai Money Changer. telah dilakukan identifikasi dan analisis melalui 2 (dua) pendekatan: 1. Profil Pengguna Jasa Pasar Modal yang Berisiko Tinggi TPPU Untuk mengetahui profil Pengguna Jasa yang berisiko tinggi menjadi sarana bagi pelaku pencucian uang.0. Pegawai BI/BUMN/BUMD (termasuk pensiunan).19 6. yaitu: British Virgin Island.09 6. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 107 Tahun 2015 .04 Menengah 50 Vietnam 0. d.09 Menengah 46 Us Virgin Islands 0. Korea Utara.37 6. dan Nigeria. Nilai tersebut dihitung dari konversi rata-rata peringkat risiko atas negara/teritorial yang berisiko tinggi TPPU berdasarkan RBA pada setiap perusahaan pasar modal.04 Menengah 47 Liechtenstein 0.

36 Menengah 17 Pegawai Swasta 5. Level kecenderungan Pengguna Jasa Badan Usaha yang lebih besar daripada Perorangan dikarenakan rasio distribusi jumlah LTKM Pengguna Jasa Badan Usaha terhadap distribusi jumlah nasabahnya lebih besar dibandingkan rasio distribusi untuk Pengguna Jasa Perorangan.29 Tinggi hukum lainnya 9 Ibu Rumah Tangga 7.78 Tinggi 2 Pejabat Lembaga Legislatif dan Pemerintah 8. Diketahui bahwa rasio distribusi jumlah LTKM Pengguna Jasa Badan Usaha terhadap distribusi jumlah nasabahnya adalah sebesar 3.55 Menengah 16 Pengajar dan Dosen 5. Berdasarkan komposisi pelaporan LTKM Pasar Modal dan komposisi jumlah Pengguna Jasa yang dirinci menurut jenis Pengguna Jasanya.93 Tinggi 7 Pegawai Money Changer 7.78 Tinggi 3 Pengurus Parpol 8.71 Rendah kelompok keagamaan 21 Pengrajin 4. Pembantu Rumah Tangga dan 4.28 Tinggi 10 Pelajar/Mahasiswa 7. diketahui bahwa tingkat risiko Pengguna Jasa Badan Usaha menjadi Pelaku TPPU lebih tinggi dibandingkan Pengguna Jasa Perorangan.13 Menengah 18 Buruh.39 Menengah 13 Pedagang 6.93 Rendah Tenaga Keamanan 19 Petani dan Nelayan 4.TERBATAS TABEL 18: Profil Pengguna Jasa Pasa Modal Yang Berisiko Tinggi TPPU Berdasarkan RBA Pasar Modal Kategori No Jenis Profil Level Risiko Risiko 1 TNI/Polri (termasuk pensiunan) 8.8. Sementara itu.50 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML 2.28 Tinggi 11 Pengurus dan pegawai yayasan/lembaga 6. Pendekatan risk-based approach terhadap data laporan transaksi keuangan mencurigakan dari Pihak Pelapor pada Sektor Pasar Modal kepada PPATK. sebagai proksi level dampak Penilaian Risiko Indonesia 108 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .43 Menengah berbadan hukum lainnya 12 Pegawai Bank 6.93 Rendah 20 Ulama/Pendeta/Pimpinan organisasi dan 4. baik dari sisi kecenderungannya maupun dampak (nilai potensi) TPPU yang ditimbulkan.21 Menengah 14 Lain-Lain 6. Dalam risk-based approach LTKM ini ditetapkan rasio jumlah LTKM terhadap jumlah Pengguna Jasa Pasar Modal sebagai proksi level kecenderungan dan rata-rata nilai TKM sebagai level dampaknya.4.71 Tinggi 8 Pengurus LSM/organisasi tidak berbadan 7.48 Tinggi pensiunan) 6 Profesional dan Konsultan 7.54 Tinggi 5 Pegawai BI/BUMN/BUMD (termasuk 8.57 Tinggi 4 PNS (termasuk pensiunan) 8. sedangkan rasio distribusi untuk Pengguna Jasa Perorangan sebesar 0.00 Menengah 15 Pengusaha/Wiraswasta 5.

Badan usaha 29.4% 0. TABEL 19: Faktor Risiko Profil Pengguna Jasa Pasar Modal Berdasarkan RBA terhadap LTKM Distribusi Jenis Profil Distribusi Level Level Dampak Jumlah Pengguna Jasa Jumlah LTKM Kecenderungan (miliar Rp) Nasabah a.8 5. dapat diperoleh peta risiko (hitmap) Pengguna Jasa Perorangan pada Sektor Pasar Modal sebagai berikut: GAMBAR 29: Peta Risiko Profil Pengguna Jasa Perorangan Pasar Modal Berdasarkan RBA terhadap LTKM Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 109 Tahun 2015 . Perorangan 71.4 371.8 Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Berdasarkan analisis lebih lanjut terhadap data laporan transaksi keuangan mencurigakan dari Pihak Pelapor Perbankan kepada PPATK. TERBATAS TPPU.0% 8.0% 91.4 b.936.6% 3. rata-rata nilai TKM Pengguna Jasa Badan Usaha juga jauh lebih tinggi dibandingkan Pengguna Jasa Perorangan.

38 43.00 9.33 51.0 Menengah Pengajar dan Dosen 5.00 9. dan Pengurus Parpol.00 3.64 40. PRT.00 6.00 3.27 5.0 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Profil dikategorikan Berisiko Tinggi bila Level Risiko > 45.0 Menengah Pelajar/Mahasiswa 5.8 Menengah Pedagang 5. Berisiko Menengah bila Level Risiko antara 25.11 8.00 9.53 48.66 5.3 Menengah Konsultan Pegawai Swasta 5.40 51.8 Menengah Petani dan Nelayan 7.00 3.5 Tinggi Pengurus/pegawai 6.87 7. Pengurus/pegawai yayasan.0 Rendah Pegawai Money 3.00 22.24 43.00 3.50 16.00 54.00 3.1 Rendah Pegawai Bank 3.5 Menengah PNS (pensiunan) 6. yaitu: PEPs.36 3.06 9. diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 5 (lima) profil Pengguna Jasa yang berisiko tinggi menjadi pelaku pencucian pencucian uang.77 41.5 Tinggi TNI/Polri (pensiunan) 8.9 Menengah BI/BUMN/BUMD Ibu Rumah Tangga 6. TNI/Polri (pensiunan).72 5.TERBATAS TABEL 20: Faktor Risiko Profil Pengguna Jasa Perorangan Pasar Modal Berdasarkan RBA terhadap LTKM Level Risiko Level Level Kategori Jenis Profil (Kecenderungan KecenderunganDampak Risiko x Dampak) PEPs 9.45.00 9.5 Rendah Pimpinan keagamaan 3.24 8.00 9.11 6.28 6.12 6. Keamanan 3.58 5.09 54. dan Berisiko Rendah bila Level Risiko < 25.98 36.0 Rendah Buruh.3 Tinggi yayasan Pengurus Parpol 8.70 31.86 39.8 Tinggi Pengusaha/Wiraswasta 6.16 6.00 5. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach terhadap data laporan transaksi keuangan mencurigakan dari Pihak Pelapor Pasa Modal kepada PPATK mengenai profil Pengguna Jasa Perorangan dan Badan Usaha berisiko TPPU.0 Rendah Changer Pengurus LSM 3.0 Rendah Pengrajin 3. baik sebagai pelaku aktif maupun pelaku pasif.1 Menengah Pegawai 7.97 36.2 Tinggi Profesional dan 5. Penilaian Risiko Indonesia 110 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Pengusaha/Wiraswasta.

TABEL 21: Wilayah Transaksi Yang Berisiko Tinggi TPPU Berdasarkan RBA pada Sektor Pasar Modal No Provinsi Transaksi Level Risiko Kategori Risiko 1 Nangroe Aceh Darussalam 8.00 Menengah 14 Papua 6.00 Menengah 18 Kalimantan Barat 5.45 Menengah 30 Sulawesi Tengah 5. DKI Jakarta. diketahui bahwa teridentifikasi terdapat 3 (tiga) provinsi yang berisiko tinggi menjadi wilayah transaksi pencucian uang.00 Menengah 12 Nusa Tenggara Barat 6. Wilayah yang Berisiko Tinggi TPPU pada Sektor Pasar Modal Untuk mengetahui wilayah transaksi yang berisiko tinggi bagi pelaku pencucian uang pada sektor Pasar Modal.82 Menengah 5 Sumatera Barat 6.00 Menengah 15 Maluku 6. Berdasarkan analisis terhadap risk-based approach yang dilakukan oleh perusahaan pasar modal dan terhadap 34 (tiga puluh empat) provinsi.73 Menengah 22 Kep.99 Menengah 19 DI Yogyakarta 5. dan Bali.09 Tinggi 4 Riau 6. Bangka Belitung 5.72 Menengah 25 Kalimantan Selatan 5.72 Menengah 28 Sulawesi Barat 5.00 Menengah 17 Kepulauan Riau 6. Pendekatan risk-based approach yang dilakukan oleh setiap Pihak Pelapor Pasar Modal. yaitu: NAD. Hal ini ditunjukkan dari nilai level risiko profil Pengguna Jasa yang lebih besar dari 7.54 Menengah 6 Banten 6.45 Menengah Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 111 Tahun 2015 .20 Tinggi 3 Bali 7.73 Menengah 23 Sulawesi Tenggara 5.45 Menengah 29 Maluku Utara 5.21 Menengah 11 Kalimantan Utara 6.73 Menengah 24 Kalimantan Timur 5.00 Menengah 13 Nusa Tenggara Timur 6.00 Menengah 16 Papua Barat 6. telah dilakukan identifikasi dan analisis melalui 2 (dua) pendekatan: 1.0.45 Tinggi 2 DKI Jakarta 7.75 Menengah 20 Jawa Tengah 5.73 Menengah 21 Kalimantan Tengah 5.72 Menengah 27 Lampung 5.53 Menengah 7 Sumatera Utara 6.72 Menengah 26 Sulawesi Selatan 5.22 Menengah 10 Jawa Barat 6. TERBATAS e.48 Menengah 8 Sumatera Selatan 6.26 Menengah 9 Jawa Timur 6.

Sementara itu. Hal ini dikarenakan DKI memiliki tingkat kerentanan dan tingkat dampak TPPU tertinggi dibandingkan provinsi-provinsi lainnya. terdapat 2 (dua) provinsi yang memiliki risiko menengah terjadinya TPPU.18 Menengah 34 Bengkulu 5. Pendekatan risk-based approach terhadap data laporan transaksi keuangan mencurigakan dari Pihak Pelapor Pasar Modal kepada PPATK.18 Menengah 33 Jambi 5. GAMBAR 30: Peta Risiko Wilayah Berisiko TPPU Pada Sektor Pasar Modal Berdasarkan RBA terhadap LTKM Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Penilaian Risiko Indonesia 112 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .TERBATAS No Provinsi Transaksi Level Risiko Kategori Risiko 31 Sulawesi Utara 5. yaitu: Bali dan Maluku. Berdasarkan komposisi pelaporan LTKM Pasar Modal dan komposisi jumlah Pengguna Jasa yang dirinci menurut wilayah.18 Menengah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML 2. Dalam risk-based approach LTKM ini ditetapkan rasio jumlah LTKM terhadap jumlah pengguna jasa sektor Pasar Modal sebagai proksi level kecenderungan dan rata-rata nilai TKM sebagai level dampaknya. diketahui bahwa DKI Jakarta dikategorikan sebagai daerah berisiko tertinggi TPPU.45 Menengah 32 Gorontalo 5.

25 22.00 3.00 9.7 Rendah 6 Jawa Barat 4.00 3.00 9.00 3. dan Berisiko Rendah bila Level Risiko < 25.00 3.0 Rendah 12 Sulawesi Barat 3.11 14.94 4.0 Tinggi 2 Bali 6.00 9.00 9.00 9.14 3.0 Rendah 12 Sulawesi Utara 3.0 Rendah 12 Kalimantan Utara 3.6 Menengah 3 Maluku 7.4 Rendah 11 Banten 3.0 Rendah 12 Kepulauan Riau 3.0 Rendah 12 Gorontalo 3.0 Rendah 12 Bangka Belitung 3.00 3.00 3.0 Rendah 12 Bengkulu 3.00 9.00 3.00 9.00 3.00 9.0 Rendah 12 Kalimantan Selatan 3.0 Rendah 12 Sulawesi Tenggara 3.00 9.00 23.09 19.60 19.4 Rendah 9 Jawa Tengah 5.00 9. TERBATAS TABEL 22: Faktor Risiko Wilayah Berisiko TPPU pada Sektor Pasar Modal Berdasarkan RBA terhadap LTKM Level Risiko Level Level Kategori Ranking Provinsi Transaksi (Kecenderungan Kecenderungan Dampak Risiko x Dampak) 1 DKI Jakarta 9.00 9.33 3.00 9.0 Rendah 12 Sumatera Barat 3.0 Rendah 12 Kalimantan Tengah 3.71 3.73 15.0 Rendah 12 Nusa Tenggara Barat 3.00 9.7 Menengah 4 Sulawesi Selatan 5.00 9.0 Rendah 12 Kalimantan Barat 3.0 Rendah 12 Nusa Tenggara Timur 3.i.0 Rendah 12 Papua Barat 3. Yogyakarta 4.00 9.0 Rendah 12 Sulawesi Tengah 3.0 Rendah 12 Maluku Utara 3.00 3.00 9.0 Rendah 12 Sumatera Selatan 3.00 3.0 Rendah 12 Jambi 3.00 9.0 Rendah 12 NAD 3.02 4.00 9.2 Rendah 10 Jawa Timur 4.31 4.88 21.00 3.68 21.00 3.00 3.0 Rendah 12 Lampung 3. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 113 Tahun 2015 .00 9.00 9.75 4.35 4.59 27. Berisiko Menengah bila Level Risiko antara 25-45.10 3.00 3.00 3.00 3.62 25.0 Rendah 8 D.00 3.00 3.1 Rendah 7 Riau 5.00 9.00 3.00 3.00 9.00 9.5 Rendah 12 Sumatera Utara 3.0 Rendah 12 Papua 3.0 Rendah Sumber : Diolah dari Kertas Kerja NRA on ML Catatan : Provinsi dikategorikan Berisiko Tinggi bila Level Risiko > 45.00 81.7 Rendah 5 Kalimantan Timur 5.00 9.00 3.52 4.00 3.00 3.

walaupun sesungguhnya pihak dimaksud adalah merupakan registered owner (pihak terdaftar) yang sesungguhnya dikendalikan oleh beneficiary. kelompoknya serta keluarganya dan merugikan pemilik dana. registered ownership Penilaian Risiko Indonesia 114 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Selain itu. Dalam kaitannya dengan ini.000. Penggunaan dana nasabah tanpa ijin pemilik dana.TERBATAS f. Hal ini mengingat sifat hubungan antara Persahaan Efek dengan nasabah lebih menunjukkan hubungan pribadi antara Wakil Perantara Pedagang Efeknya. Modus Operandi TPPU dan Red Flag TKM pada Sektor Pasar Modal 1. Dana-dana yang diperoleh secara melawan hukum tersebut kemudian dipergunakan oleh Tuan H dan Perusahaan Efek J untuk melakukan transaksi Efek lainnya. 2) Pembelian saham dengan menggunakan nominee Beberapa transaksi Efek diketahui dilakukan oleh nasabah dengan menggunakan nominee yang bukan merupakan beneficial owner dari pemilik rekening efek. yang hal ini berbeda dengan industri perbankan. dalam hal inilah kemudian terjadi TPPU. Pihak yang namanya tercatat dikesankan sebagai ultimate owner dari dana ataupun Portofolio Efek. modus operandi TPPU yang terjadi di Indonesia dengan mengggunakan sarana Pasar Modal antara lain sebagai berikut: 1) Penggunaan Dana Nasabah Perusahaan Efek X dan Bank Y dimiliki oleh Tuan H. Dana nasabah lebih besar dari Rp1. Dalam kaitannya dengan penggunaan nominee ini. Hal ini akan sangat rentan dipergunakan dalam rangka melakukan pencucian uang yang berasal dari aktivitas illegal. Modus Operandi Sesuai hasil analisis LTKM yang disampaikan oleh PPATK kepada pihak aparat penegak hukum. dimana dana nasabah yang diperoleh kemudian dipergunakan untuk menutupi dana nasabah yang diperoleh sebelumnya. terdapat perusahaan Efek J melakukan manipulasi efek milik nasabahnya untuk menjadi jaminan bagi peminjaman dana dari Bank V selain memperoleh dana pemilik Perusahaan Efek J juga menggelapkan saham milik nasabahnya tanpa sepengetahuan nasabah bersangkutan. Tuan H menggunakan dana milik nasabah Bank Y untuk dibelikan instrumen keuangan yang dikeluarkan oleh Perusahaan Efek X. Pada dasarnya transaksi yang mempergunakan dana nasabah demikian dilakukan dalam kejahatan Pasar Modal yang dikenal dengan istilah Ponzy Scheme. Sehingga Perusahaan Efek mengenali siapa Beneficiary dari nominee yang tercantum sebagai nasabah Perusahaan Efek.000.00 dipergunakan oleh tuan H untuk kepentingan diri pribadi. yang dilakukan pada Perusahaan Efek lain dengan instrumen Efek lain seperti Reksadana untuk kepentingan pribadi.000.000. diyakini bahwa sesungguhnya Perusahaan Efek seringkali menemui penggunaan nominee dan seringkali memfasilitasi pemakaian nominee tersebut.

hasil transaksi efek para nasabah tersebut dikirim ke rekening perusahaan D. Pola transaksi yang dilakukan oleh Tuan A adalah terfokus pada saham-saham tidur atau non likuid. Setelah pembukaan rekening. Sementara itu. Tuan A menerima dana dan efek dari PT AE yang sesungguhnya adalah merupakan penyuapan dari PT AE kepada Tuan A. Diketahui Tuan A melakukan transaksi saham PT AC dengan menggunakan Perusahaan Efek P atas nama nasabah B (nominee). dimana para pencuci uang akan memanfaatkan margin call untuk menaikkan jumlah transaksinya sehingga dengan demikian Tuan A dapat secara bertahap meningkatkan investasinya dimana hasil keuntungan transaksi dapat dinyatakan sebagai keuntungan transaksi margin dan akan dengan mudah memperoleh underlying transaction yang sah. Rekening Margin cenderung mengindikasikan kemampuan keuangan yang terbatas dari nasabah ataupun pembagian risiko antara nasabah dengan penyedia fasilitas margin. Hal ini akan berdampak menguntungkan bagi Tuan A. Contoh: Di perusahaan efek A. PT. TERBATAS adalah merupakan intermediaries dari beneficial owner sehingga penyedia jasa keuangan mengalami kesulitan dalam rangka memperoleh data sesungguhnya dari beneficial owner atas transaksi- transaksi yang dilakukan. diketahui perusahaan D terlibat suatu tindak pidana. dan BC memberikan kuasa kepada Tn C untuk melakukan transaksi efek. sebuah perusahaan yang didirikan di high-risk country melakukan kepemilikan saham secara tidak langsung pada PT. 3) Penggunaan Rekening Efek Margin Tuan A membuka rekening efek margin di perusahaan efek AD. 5) Penggelapan melalui transaksi jual-beli saham tanpa ijin/persetujuan nasabah yang dilakukan oleh orang dalam Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 115 Tahun 2015 . transaksi yang dilakukan oleh Tuan A pada perusahaan Efek TU cenderung pada saham-saham yang berada pada LQ 45 (saham likuid). 4) Penggunaan shell company AB. BA yang ada di Indonesia. Diduga bahwa transaksi efek yang dilakukan tersebut merupakan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh perusahaan D. BA kemudian memberikan kuasa kepada Tuan A sebagai Direksinya untuk melakukan transaksi saham. dimana hasil keuntungan jual beli saham-saham non likuid tadi kemudian dikirimkan kepada rekening Tuan A di Bank XYZ yang selanjutnya dipergunakan untuk melakukan transaksi saham pada Perusahaan Efek TU dengan menggunakan rekening Tuan A. diketahui bahwa nasabah BA. BB. Dana disetorkan sebagal colateral efek dalam rekening Margin yang dimiliki.

terutama karena tidak dijalankannya praktik sistem perbankan yang sehat. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya modus seperti di atas.TERBATAS "Gelap" Kepala Cabang perusahaan Sekuritas Hijau telah melakukan transaksi jual beli saham tanpa persetujuan nasabah dengan menggunakan rekening beberapa nasabah. antara lain: a. GAMBAR 31: Skema Pencucian Uang di Pasar Modal dengan Modus Penggelapan oleh Orang Dalam Penilaian Risiko Indonesia 116 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . maupun di investasikan kembali ke dalam reksadana. Tindak pidana penggelapan melalui transaksi jual-beli saham tersebut dapat digambarkan dalam bentuk skema seperti berikut ini. lemahnya pengawasan dari pihak internal bank sehingga memudahkan pemilik bank untuk menjalankan praktik perbankan yang tidak sehat. ditarik tunai. Hal tersebut dilakukan dengan cara memindahkan saham dari rekening yang satu ke rekening lainnya tanpa sepengetahuan nasabah tersebut. Kemudian dana hasil penggelapan tersebut di setorkan ke rekening Gelap dan kemudian dipindahbukukan. saham. dan ditempatkan dalam bentuk deposito. dan b. manajemen internal bank yang kurang baik.

700. Selaln itu. sebagian besar kemudian ditarik tunai.000.000. Dana yang masuk ke dalam rekening Biru. TERBATAS Transaksi setoran tunai kepada Pejabat dan kemudian dana tersebut dikonversi ke bentuk lain melalui investasi di pasar modal Biru mantan Kepala Dinas Pendidikan suatu Kabupaten.524. slip pengirim RTGS tidak mencantumkan Merah sebagai pengirim tetapi nama orang lain termaksud nama Biru sendiri yang merupakan pihak penerima dana.-) diduga dana masuk tersebut berasal dari pemberian atau gratifikasi yang berkaitan dengan jabatan yang bersangkutan sebagai Kepala Dinas Pendidikan. Biru juga menerima fasilitas pinjaman dengan jaminan deposito tersebut.dengan underlying pembiayaan renovasi sekolah.000. walaupun pelunasan awal ini mengakibatkan dikenakannya biaya (charge) yang lebih tinggi. di rekeningnya terdapat pemindahan dana sebesar Rp900 juta dari rekening Dinas Pendidikan Kabupaten tersebut dan pada hari yang sama ditarik tunai Rp500 juta. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 117 Tahun 2015 . untuk investasi di pasar modal yaitu dalam bentuk saham dan reksadana. terdapat setoran tunai dalam jumlah besar (nilai tertinggi sebesar Rp5. serta penempatan dalam bentuk deposito. Kemudian. terdapat transfer RTGS dan Merah (kontraktor) sebanyak 3 kali total sebesar Rp5. Terdapat indikasl upaya menyembunyikan identitas pemilik sumber dana karena dalam transfer- transfer dana tersebut..525. Sebagian pinjaman dilunasi sebelum jatuh tempo.

TERBATAS

GAMBAR 32:
Skema Pencucian Uang di Pasar Modal
dengan Modus Layering Investasi di Pasar Modal

Penilaian Risiko Indonesia
118 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Tahun 2015

TERBATAS

2. Red Flag TKM
Indikator transaksi keuangan mencurigakan untuk sektor pasar modal
dapat dilihat dari sisi CDD, transaksi efek yang mencurigakan, dugaan adanya
insider trading, maupun dugaan manipulasi pasar.
a. Terkait dengan CDD dan Transaksi Efek:

1) Penggunaan identitas yang patut diduga palsu atau tidak benar.
2) Nasabah menolak memberikan informasi sehubungan dengan
pelaksanaan peraturan Bapepam dan LK No. V.D.10 sebagaimana
telah diubah menjadi Peraturan OJK No. 22 tahun 2015 tentang
Prinsip Mengenal Nasabah oleh Penyedia Jasa Keuangan di bidang
pasar modal.

3) Pembukaan rekening efek atau pembelian unit penyertaan terkait
dengan PEPs.

4) Transaksi pembelian efek atau deposit dana atau pembelian unit
penyertaan yang menyimpang dari profil nasabah.

5) Pembukaan rekening efek, dimana deposit atau dana pembelian
efek ditransfer dari beberapa bank dengan tujuan menghindari
pengiriman dana yang berjumlah besar dalam satu transaksi.

6) Transaksi pembelian efek atau unit penyertaan dimana dananya
berasal dari pihak lain yang tidak memiliki hubungan bisnis yang
jelas.

7) Penggunaan akun nominee baik itu oleh nasabah perorangan
ataupun nasabah perusahaan termasuk nasabah perusahaan efek

8) Transaksi nasabah yang berasal dari high-risk country termasuk ke
dan dari negara yang dikenal sebagai negara yang berisiko tinggi
atas terjadinya kejahatan terorisme dan narkoba.

9) Penggunaan shell company untuk bertransaksi efek.
10) Nasabah yang melakukan penjualan efek atau redemption unit
penyertaan yang baru saja dibeli tanpa memperhatikan kerugian
atau tidak mempunyai tujuan yang jelas atas penjualan atau
redemption tersebut.
11) Nasabah yang mempunyai hubungan dengan orang atau institusi
yang berisiko tinggi.
12) Nasabah yang menawarkan untuk dikenakan fee lebih tinggi,
dengan syarat merahasiakan beberapa informasi.

13) Rekening efek nasabah yang pasif atau tidak sering melakukan
transaksi efek namun sering digunakan untuk melakukan
pengiriman dana.

14) Manajemen emiten atau perusahaan publik memindahkan dana ke
rekening pribadi atau perusahaan lain dimana pihak tersebut juga
merupakan manajemen kunci.

Penilaian Risiko Indonesia
Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 119
Tahun 2015

TERBATAS

15) Pemindahan dana oleh nasabah ke negara lain diluar dari domisili
nasabah tersebut.

16) Transaksi hasil penjualan saham atau redemption unit penyertaan
dimana transaksi pengiriman dana oleh nasabah dikirimkan
kepada pihak lain tanpa diketahui adanya hubungan bisnis yang
jelas.

17) Pembukaan rekening margin tanpa diikuti dengan pelaksanaan
transaksi margin. Rekening margin digunakan sebagai penampung
dana atau efek dari rekening reguler yang selanjutnya dana atau
efek dari rekening margin tersebut ditarik kembali.
18) Transaksi pemindahan atau penerimaan efek dari atau ke
beberapa sekuritas dalam waktu yang simultan atau berdekatan.

19) Penggunaan cash dalam bertransaksi efek atau penggunaan cash
oleh Emiten atau perusahaan publik untuk pembayaran dividen.
20) Emiten/Perusahaan publik melakukan transaksi yang tidak tercatat
dalam laporan keuangan Emiten/Perusahaan Publik tersebut.

21) Konfirmasi atas hasil pembelian/penjualan efek disampaikan
kepada pihak lain bukan kepada nasabah pemilik rekening.

c. Terkait dengan Transaksi efek yang mencurigakan:

1) Transaksi pembelian efek dengan harga yang tinggi diikuti dengan
transaksi penjualan efek di pasar negosiasi. Kemungkinan
berindikasi pengiriman dana secara tidak langsung.

2) Pembelian perusahaan publik oleh shell company.

3) Akun efek yang pasif tiba-tiba aktif dengan melibatkan nilai
transaksi yang cukup besar.

4) Transaksi efek yang tidak memiliki tujuan ekonomi yang jelas.
5) Nasabah menempatkan dana hasil pembelian atau penjualan efek
di rekening milik perusahaan efek untuk waktu yang cukup lama

d. Terkait dengan Dugaan Transaksi dengan Menggunakan lnformasi Orang
Dalam

1) Nasabah yang melakukan pembelian atas saham atau opsi secara
besar-besaran sebelum adanya informasi yang dapat
mempengaruhi harga saham dipublikasikan oleh Emiten.
2) Transaksi Nasabah yang patut diduga memiliki hubungan dengan
manajemen Emiten atau bekerja pada Emiten yang sedang
melakukan corporate action yang bersifat price sensitive.

3) Nasabah yang melakukan transaksi dengan pola insider trading

Penilaian Risiko Indonesia
120 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang
Tahun 2015

sebagai contoh. Industri asuransi. c) Risiko Pencucian Uang pada Sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) Dalam melakukan pencucian uang. 5) Transaksi atas saham yang tidak likuid. TERBATAS e. pada umumnya pelaku tidak langsung membelanjakan atau menggunakan harta kekayaan hasil kejahatan. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 121 Tahun 2015 . Dalam hal kegiatan ilegal ini tumbuh subur berimplikasi pada penurunan integritas IKNB dan dikuti pula penurunan kepercayaan masyarakat pengguna jasa. tetapi terlebih dahulu mengupayakan agar harta kekayaan tersebut masuk ke dalam sistem keuangan termasuk industri keuangan Non-Bank. dan dana pensiun lembaga keuangan Dalam kaitan tersebut IKNB perlu menjalankan program anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme. 3) Transaksi beberapa nasabah yang dimiliki oleh beneficial owner yang sama.dari individu ke perusahaan multinasional dan pemerintah. dengan melakukan identifikasi transaksi pengguna jasa. Terkait dengan Dugaan Manipulasi Pasar: 1) Nasabah yang aktif melakukan transaksi pada satu jenis saham terutama saham-saham yang berkapitalisasi kecil atau tidak likuid. Sektor asuransi menjadi menarik minat para pencuci uang untuk menaruh dana mereka ke dalam sistem keuangan yant dapat memberikan hasil investasi yang dapat dipercaya. Agar IKNB mampu melindungi dirinya dari berbagai risiko dimaksud. sehingga diharapkan dapat memitigasi berbagai risiko yang mungkin timbul. 4) Nasabah yang menerima pengiriman efek dalam jumlah yang cukup besar. menyediakan jasa transfer risiko. tabungan dan produk investasi terhadap seluruh nasabah diseluruh dunia. seperti asuransi lembaga pembiayaan. Seiring dengan hal itu pula produk aktivitas dan teknologi informasi di lingkungan industri IKNB menjadi semakin kompleks Hal tersebut dapat meningkatkan risiko pemanfaatan sektor IKNB sebagai sarana pencucian uang dan pendanaan teroris. Permintaan atau kebutuhan akan berbagai jenis jasa keuangan diluar perbankan akhir-akhir ini semakin meningkat sehingga mendorong industri lembaga keuangan Non-Bank (IKNB) di lndonesia berkembang pesat. yang secara tiba-tiba menjadi aktif yang diikuti dengan kenaikan harga tanpa adanya informasi yang jelas yang mendukung kenaikan harga tersebut. maka IKNB perlu menerapkan prinsip mengenali penguna jasa. 2) Beberapa rekening efek yang tidak saling berhubungan melakukan transaksi saham yang sama yang tidak likuid dalam waktu yang simultan.

b. Dalam hal Perusahaan Asuransi menerima pembayaran premi secara tunai dari tertanggung. Pembayaran premi asuransi dari berbagai rekcning bank yang berbeda dan dari beberapa orang yang berbeda pula merupakan suatu contoh langkah layering yang melibatkan Perusahaan Asuransi. Placement atau penempatan merupakan tahapan atau tindakan pencucian uang di mana uang hasil tindak pidana pertama kali masuk ke dalam sistem keuangan suatu negara. Tipologi TPPU pada IKNB 1. tindakan placement dapat terjadi. Tipologi di Industri Perusahaan Perasuransian TPPU melalui Perusahaan Asuransi dapat terjadi melalui proses placement. uang hasil kejahatan yang telah dicuci bisa saja ditarik oleh si pencuci uang dengan cara mengajukan klaim untuk kemudian hasil klaim tersebut dapat dibelanjakan sesuai dengan keinginan si Pencuci Uang.TERBATAS a. Hal ini dilakukan melalui penyetoran tunai oleh pelaku kejahatan. Untuk mengetahui jenis hal tersebut. Sedangkan untuk tahap integration. Tindakan layering adalah tahapan pencucian uang yang melibatkan berbagai cara untuk mengaburkan asal-usul uang yang hendak dicuci. dan integration. Penilaian Risiko Indonesia 122 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . telah dilakukan identifikasi dan analisis terbatas pada aspek-aspek kerentanan pihak-pihak pelapor yang termasuk dalam kategori pihak pelapor IKNB dengan variabel-variabel kerentanan internal yang meliputi:  Ketersediaan Program Anti Pencucian Uang  Manajemen Program Anti Pencucian Uang  Kebijakan dan Prosedur Program Anti Pencucian Uang  Pengawasan Internal Program Anti Pencucian Uang  Kehandalan Sistem Informasi Program Anti Pencucian Uang  Kecukupan dan Kapabilitas SDM Program Anti Pencucian Uang  Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang  Kemampuan mengidentifikasi tindak pidana asal dalam transaksi keuangan mencurigakan Hasil analisis kerentanan internal setiap pihak pelapor pada sektor IKNB ini terlampir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam laporan ini. layering. Peta Risiko Pihak Pelapor pada Sektor IKNB Melalui kegiatan NRA pada sektor IKNB dapat diketahui Pihak Pelapor yang berisiko tinggi menjadi sarana TPPU.

Dengan demikian. Ny.n. misalnya pada tahun ketiga. JJ melakukan pembelian SBI dan repo saham dengan jumlah besar yaitu sekitar Rp16 miliar. TERBATAS Pencucian Uang melalui Perusahaan Asuransi Jiwa Perusahaan asuransi jiwa merupakan kendaraan (vehicle) di industri perasuransian yang paling banyak digunakan para pelaku pencucian uang terutama produk yang mengandung unsur investasi (unit linked). ia tarik investasinya pada unit linked dan memindahkannya ke perbankan. JJ membeli 2 (dua) polis asuransi berpremi tunggal pada PT AJ XX bulan Februari 2008 dengan total premi sebesar Rp7 miliar. Dana untuk membayar premi asuransi berasal dari rekening yang bersangkutan di Bank A. Tuan Coklat menyetorkan premi ke Ny. Beberapa bulan berikutnya. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 123 Tahun 2015 . Setelah ditelusuri lebih lanjut. Hitam. Tuan Coklat tersebut kepada perusahaan asuransi melalui transfer ke rekening Perusahaan asuransi dengan menggunakan cek/bilyet giro. aliran dana mencurigakan telah berpindah dari perusahaan asuransi ke perbankan. Contoh lainnya. Asal dana pada rekening JJ adalah beberapa setoran tunai dan RTGS masuk dalam jumlah yang cukup besar. di mana per bulannya ia diharuskan membayar premi Rp10 juta. Namun belum genap 10 tahun. c) Pembayaran pencairan premi asuransi kepada pihak ketiga JJ menjabat sebagi Direktur di sebuah departemen. Pembayaran premi asuransi melalui pihak ketiga yaitu agen asuransi. kemudian Ny.n. Ungu melalui Ny. Tuan Coklat adalah pejabat di lingkungan aparatur negara. Hitam secara tunai. Hitam untuk pembayaran premi asuransi yang bersangkutan untuk menghindari penelusuran dana yang diduga bersumber dari hasil yang tidak sah. Hitam diduga para pejabat tersebut dengan sengaja menggunakan Ny. seluruh kewajibannya dilunasi. Melalui rekening SS. Modus operandi yang umum antara lain: b) Penarikan investasi unit linked lebih awal dan memindahkannya ke perbankan Pelaku membeli produk unit linked berjangka 10 tahun senilai Rp5 miliar. Pembayaran premi dilakukan melalui agen yang bersangkutan yaitu Ny. JJ mencairkan premi asuransi tersebut dimana hasil pencairannya ditransfer ke rekening pihak ketiga yaitu SS di Bank yang sama. Ungu (istri dari pejabat di lingkungan Aparatur Negara) yang juga membayarkan premi a. Hitam mempunyai nasabah lain bernama Ny. Hitam membayarkan premi a. mempunyai polis asuransi sebesar Rp5 M. Ny.

000.000 (Lima ratus juta Rupiah) pada tanggal 3 Maret 2008 usia pensiun normal adalah 55 tahun.TERBATAS GAMBAR 33: Skema Pencucian Uang di IKNB dengan Modus Pembayaran Pencairan Premi Asuransi Kepada Pihak Ketiga 2. Pembayaran iuran dilakukan secara tunai sebesar Rp500. Tipologi Tindak Pidana Pencucian Uang di Industri Dana Pensiun Berikut ini adalah salah satu tipologi TPPU di Industri Dana Pensiun berdasarkan hasil riset tipologi PPATK. Proses pembayaran manfaat pensiun telah dilakukan dan ditransfer ke rekening istrinya dengan alasan ybs tidak memiliki rekening bank. Seminggu kemudian nasabah tersebut tercantum dalam surat kabar yang dinyatakan sebagai tersangka korupsi. Sebulan tepatnya pada tanggal 10 April 2008 ada pengajuan pembayaran manfaat pensiun dipercepat. Penilaian Risiko Indonesia 124 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Seorang PEP mendaftar di sebuah DPLK sebagai nasabah mandiri/individu (nasabah baru).

Red Flag TKM IKNB Beberapa indikator TKM di industri perusahaan perasuransian antar lain: 1. Nasabah mengajukan pengajuan permohonan asuransi tanpa memperhatikan klausula dalam polis namun lebih tertarik pada klusula terkait pembatalan dini. 14. 2. Penawaran diberikan oleh pialang asuransi yang beroperasi di wilayah yang lemah secara regulasi dan terkenal dengan kejahatan yang terorganisasi seperti peredaran obat terlarang atau akitivitas teroris. Pembayaran menggunakan rekening yang memungkinkan adanya transaksi tanpa nama. 8. Pembayaran premi dengan menggunakan cek atas nama pihak ketiga. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 125 Tahun 2015 . Penggunaan uang tunai dengan nominal besar untuk membayar premi. Premi pertama yang dibayarkan melalui bank di luar negeri. Pengajuan permohonan asuransi yang jauh dari tempat tinggal nasabah. 19. 15. 9. 18. 10. Pembatalan dini yang disertai dengan pembayaran pembatalan premi kepada pihak ketiga. Pembatalan polis secara tiba-tiba atau membatalkan pertanggungan 5. 3. 11. Pengajuan permohonan asuransi diluar bisnis nasabah. 4. padahal polis tersebut seharusnya dibayar dengan mekanisme transfer bank atau penggunaan cek. Polis asuransi yang tidak konsisten dengan kebutuhan asuransi nasabah. TERBATAS c. Transaksi pembayaran terkait payment bond atau performance bond dengan sistem wire transfer. Transaksi yang melibatkan pihak ketiga yang tidak diungkap dalam polis. 12. 13. Pengajuan polis asuransi yang pembayaran dilakukan dengan tunai. Pengajuan polis asuransi yang disertai dengan permintaan pembayaran premi secara lumpsum dari luar negeri. 6. Memiliki beberapa polis asuransi pada perusahaan asuransi yang berbeda-beda. 16. Perubahan cara pembayaran premi yang sebelumnya dilakukan secara cicilan menjadi lumpsum sekaligus. Nasabah mempunyai polis asuransi bernilai besar dan dalam jangka waktu singkat membatalkan pertanggungan serta meminta pembayaran premi hasil pembatalan tersebut kepada pihak ketiga. 7. 17. Pembayaran premi dimuka dalam jumlah besar dan terkesan mengada- ada.

namun iuran di bulan berikutnya menurun. Penyandang dana ingin berinvestasi dalam transaksi modal ventura yang sumber dananya tidak jelas atau dana ditempatkan di perusahaan yang kurang menjanjikan atau bahkan perusahaan yang sebenarnya tidak ada. 6. Nasabah mengisi dana kartu kredit melebihi limitnya. Bonus/THR yang diperoleh oleh karyawan dibayarkan dalam iuran DPLK yang berkenaan dengan Pajak. 3. berbeda dari bulan- bulan sebelumnya kemudian melakukan penarikan dana sebagian yang juga mengikutkan dana kontribusi besar yang baru diterima. 4.TERBATAS 20. Nasabah mencantumkan alamat untuk korespondensi di luar wilayah jurisdiksi penanggung. 9. Beberapa indikator TKM yang dapat dijadikan redflag di industri Lembaga Pembiayaan antara lain: 1. Hal ini perlu dicermati sebagai indikasi adanya penyuapan. Calon Nasabah lndividu bermaksud mendaftar sebagai peserta DPLK. 2. 4. Peserta memberikan kontribusi pensiun bulanan melebihi dari gaji yang diterimanya . misalnya: Zimbabwe dan Uganda. Berikut ini beberapa indikator TKM di lndustri Dana pensiun. 8. Iuran Pertama sebagai bukti kepesertaan di DPLK misalnya Rp800. 3. 2.000. Jika calon klien tidak dapat memberikan data pembayaran iuran untuk masing-masing peserta namun hanya menginginkan dana tersebut atas nama perusahaan. Nasabah melalukan pelunasan awal atau cicilan pembayaran yang dipercepat dari yang disepakati Hal ini perlu diwaspadai apalagi barang yang akan dilunasi atas nama orang lain atau pelunasan dilakukan oleh pihak ketiga. Peserta menerima kontribusi bukan dari perusahaan ataupun dirinya sendiri dengan jumlah yang di luar kebiasaaan. Calon klien adalah LSM dan mempekerjakan expert dari high-risk countries. 7. Peserta memberikan kontribusi yang sangat besar. 5.000 (delapan ratus juta Rupiah). Jika klien tidak dapat memberikan data berkenaan dengan tambahan dana yang dibayarkan kepada DPLK (perhitungan PSL atau pengalihan dana dari DPPK lain). yaitu: 1. Nasabah melakukan sewa guna usaha yang tidak sesuai dengan kegiatari bisnisnya. Nasabah baru mengirimkan dana untuk partisipasi dalam program DPLK tetapi tidak menyerahkan dokumen PMPJ. Penilaian Risiko Indonesia 126 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

d) Risiko Pencucian Uang pada Sektor Usaha Pelayanan Uang (MSB) Tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan teknologi sistem pembayaran berbantuan teknologi informasi menjadi opsi yang bisa dipilih para pelaku cuci uang dan transfer dana teroris. 7. 8. Lessee mengajukan kontrak pembiayaan dengan jumlah besar yang tidak sesuai dengan profil lessee (misalnya pembiayaannya tidak sesuai dengan kegiatan usaha perusahaan tersebut). 14. Lessee mengajukan kontrak pembiayaan dengan jumlah besar dengan jangka waktu tertentu namun terjadi pelunasan dini (early redemption) beberapa waktu kemudian. termasuk mendeteksi transaksi keuangan mencurigakan. pengelola transfer dana elektronik pun bisa memantau lalu lintas perpidahan dana. Namun. Pembayaran DP separuhnya oleh lessee dan separuhnya lagi oleh pihak ketiga yang totalnya melebihi batas yaitu > 50% dan sisanya dicicil lessee. yang menjadi indikasi awal dari pencucian uang maupun dana teroris. Pembayaran DP oleh lessee dengan jumlah di bawah <50 % namun cicilannya dibayarkan oleh pihak ketiga tanpa keterangan hubungan dan barang sewa digunakan oleh pihak ketiga. 6. 11. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 127 Tahun 2015 . TERBATAS 5. Pengajuan pembiayaan oleh lessee dimana barang yang seharusnya untuk barang modal tetapi justru digunakan sebagai barang konsumtif oleh pihak ketiga lainnya (misalnya oleh PEPs). Pembayaran uang muka/Down Payment (DP) oleh lessee melebihi batas yaitu > 50% dan sisanya dicicil lessee (DP adalah dana jaminan (security deposit). 13. apalagi jangkauan dan kecepatan transaksinya relatif cepat dibanding dipindahtangankan secara tunai dari tangan ke tangan. 9. Pembayaran DP oleh lessee dengan jumlah di bawah <50 % namun cicilannya dibayarkan oleh pihak ketiga tanpa keterangan hubungan dan barang sewa digunakan oleh lessee. 12. Pembayaran DP dilakukan oleh pihak ketiga dengan jumlah > 50% dan sisanya dicicil oleh lessee. jaminan kas yang diminta lessor untuk menjamin pembayaran sewa atau kewajiban sewa lainnya yang nilainya didasarkan atas asumsi nilai sisa barang yang disewa tidak akan kurang atau sama dengan DP yang dibayarkan). Pembayaran cicilan lessee selalu dilakukan secara tunai dalam jumlah besar baik disetor ke counter perusahaan pembiayaan atau tunai ke rekening perusahaan pembiayaan di suatu bank. 10. dibalik kecanggihan tersebut. Pembayaran DP oleh lessee dengan jumlah di bawah <50 % cicilannya dibayarkan oleh lessee namun barang sewa digunakan oleh pihak ketiga. atau secara tradisional.

diketahui bahwa CU menjadi lahan subur bagi pelaku TPPU. sebagai media pencucian uang dan/atau pendanaan terorisme. Praktek ini memiliki potensi sangat besar untuk menghindari pelaporan kepada PPATK dan menyuburkan praktek TPPU. e) Risiko Pencucian Uang pada Koperasi Simpan Pinjam Koperasi Simpan Pinjam sebagai penyedia jasa keuangan mikro juga tak lepas menjadi sarana praktek pencucian uang. yang selanjutnya disebut Penyelenggara.TERBATAS Dalam rangka mencegah dimanfaatkannya Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank. 14/3/PBI/2012 tentang Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme bagi Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran Selain Bank (PBI APU dan PPT). Dalam prakteknya. Penyelenggara wajib menerapkan program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU dan PPT) sebagaimana telah diatur dalam PBI No. penerbit dan/atau acquirer Uang Elektronik (e-money) dan/atau penyelenggara Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU). Tercatat saat ini lebih dari 200 CU yang tersebar di seluruh Indonesia dengan pengelolaan dana lebih dari Rp15 triliun yang dimiliki oleh ratusan ribu nasabah. yang meliputi penerbit dan/atau acquirer dalam kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (APMK). namun CU bertindak sebagai pemilik dana tanpa menyerahkan data pemilik dana sesungguhnya (Beneficiary Owner/BO). Melalui kegiatan NRA pada sektor MSB dapat diketahui Pihak Pelapor yang berisiko tinggi menjadi sarana TPPU. Penilaian Risiko Indonesia 128 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . telah dilakukan identifikasi dan analisis terbatas pada aspek-aspek kerentanan pihak-pihak pelapor yang termasuk dalam kategori pihak pelapor MSB dengan variabel-variabel kerentanan internal yang meliputi:  Ketersediaan Program Anti Pencucian Uang  Manajemen Program Anti Pencucian Uang  Kebijakan dan Prosedur Program Anti Pencucian Uang  Pengawasan Internal Program Anti Pencucian Uang  Kehandalan Sistem Informasi Program Anti Pencucian Uang  Kecukupan dan Kapabilitas SDM Program Anti Pencucian Uang  Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang  Kemampuan mengidentifikasi tindak pidana asal dalam transaksi keuangan mencurigakan Hasil analisis kerentanan internal setiap pihak pelapor pada sektor MSB ini terlampir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam laporan ini. CU menaruh dana milik nasabah sebagai beneficiary di bank. Hal ini didukung oleh tidak optimalnya implementasi Prinsip Mengenal Pengguna Jasa oleh CU. Untuk mengetahui jenis hal tersebut. Berdasarkan pemeriksaan PPATK pada tahun 2014 terhadap lebih dari 50 koperasi simpan pinjam yang berbentuk credit union (CU).

para pelaku tindak kejahatan berupaya menyamarkan uang hasil tindak pidana tersebut melalui pembelian emas. berinvestasi di sektor properti. Berdasarkan penelusuran. pembayaran. tentunya berpotensi menjadi pelaku pasif dalam TPPU. hibah. TERBATAS f) Risiko Pencucian Uang pada Sektor Penyedia Barang dan Jasa Lainnya (PBJ) Penyedia Barang dan/atau Jasa lainnya (PBJ) yang merupakan Pihak Pelapor sesuai UU PP TPPU memiliki risiko untuk berperan sebagai pelaku pasif TPPU dengan menerima atau menguasai penempatan. Potensi lainnya adalah adanya peluang untuk menggunakan harta kekayaan yang berasal dari tindak pidana untuk membeli Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 129 Tahun 2015 . Melalui kegiatan pemeriksaan pada tahun 2014. Melalui kegiatan NRA pada sektor PBJ dapat diketahui Pihak Pelapor yang berisiko tinggi menjadi sarana TPPU. penitipan. Apabila PBJ tidak melakukan kewajibannya sesuai ketentuan dengan alasan bisnis. Bandung. Bali. sumbangan. pentransferan. dan Medan. PPATK mensinyalir adanya dugaan penyalahgunaan prosedur lelang pada beberapa Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) di wilayah Jawa Timur. Temuan hasil pemeriksaan mengindikasikan adanya pihak tertentu sebagai pemilik dana yang mengendalikan harga lelang dan menggunakan beberapa pihak sebagai peserta lelang untuk kepentingan pemilik dana. Praktek tersebut di atas memiliki potensi adanya kerugian negara khususnya terkait dengan penjualan harta kekayaan milik negara. Batam. Salah satu jenis PBJ yang rentan menjadi sarana TPPU adalah Balai Lelang. Untuk mengetahui jenis hal tersebut. telah dilakukan identifikasi dan analisis terbatas pada aspek-aspek kerentanan pihak-pihak pelapor yang termasuk dalam kategori pihak pelapor PBJ dengan variabel-variabel kerentanan internal yang meliputi:  Ketersediaan Program Anti Pencucian Uang  Manajemen Program Anti Pencucian Uang  Kebijakan dan Prosedur Program Anti Pencucian Uang  Pengawasan Internal Program Anti Pencucian Uang  Kehandalan Sistem Informasi Program Anti Pencucian Uang  Kecukupan dan Kapabilitas SDM Program Anti Pencucian Uang  Persepsi terhadap Isu Program Anti Pencucian Uang  Kemampuan mengidentifikasi tindak pidana asal dalam transaksi keuangan mencurigakan Hasil analisis kerentanan internal setiap pihak pelapor pada sektor PBJ ini terlampir menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam laporan ini. penukaran atau menggunakan harta kekayaan yang diketahuinya atau patut diduganya merupakan hasil tindak pidana dan berpotensi untuk dikenakan pidana penjara dan denda. Praktek pencucian uang pada PBJ Balai Lelang ini telah teridentifikasi oleh PPATK. membeli properti maupun mobil mewah.

EMERGING THREAT TPPU DI INDONESIA Penggunaan Bitcoin Sebagai Sarana Pencucian Uang Bitcoin adalah salah satu bentuk alat pembayaran virtual berbasis kriptografi (cryptocurrency) yang memungkinkan pembayaran antar individu (peer to peer) secara real-time dimana saja dengan menggunakan internet tanpa melibatkan pihak ketiga sebagai central counterparty. tidak vendor. pencurian. Pengguna Bitcoin juga dapat mengirim dan menerima Bitcoin untuk opsi transaksi. Otoritas Bank Eropa dan sumber-sumber lain telah memperingatkan bahwa pengguna Bitcoin tidak dilindungi oleh hak pengembalian dana ataupun tolak bayar. dan media.R. Bitcoin dapat diperoleh dalam pertukaran untuk mata uang. penegakan hukum. Tidak seperti kartu kredit. Tindak Pidana terutama berkaitan dengan pasar gelap. Penggunaan Bitcoin oleh penjahat telah menarik perhatian dari regulator keuangan. Dana ini dimiliki oleh beberapa pihak saja dan pemilik dana menggunakan nama pihak ketiga sebagai peserta lelang. Mc Caleb Sumber : Diolah dari berbagai tulisan pada Wikipedia. dan narkotika. dan jasa yang berbeda. biaya dibayar oleh pembeli. Markus Litecoin (LTC) 2011 Charles Lee Mastercoin (MSC) 2013 J. badan legislatif. Willett Namecoin (NMC) 2011 - Peercoin (PPC) 2012 Sunny King Primecoin (XPM) 2013 Sunny King Ripple (XRP) 2013 C. D. Selain penambangan (mining). Kegiatan ini disebut penambangan (mining) dan penambang dihargai dengan biaya transaksi dan baru dibuat Bitcoin. produk. Palmer & B. (Nakamoto. Larsen & J. Meskipun demikian.TERBATAS aset yang dilelang melalui KPKNL.org Bitcoin diciptakan sebagai reward bagi pengguna yang menawarkan daya komputasi mereka untuk memverifikasi dan mencatat pembayaran ke buku besar umum. 2009) TABEL 22: Perkembangan Koin-Koin Elektronik KE (Kode) Tahun Penemu Bitcoin (BTC) 1999 Satoshi Nakamoto Dogecoin (DOGE) 2013 J. Penggunaan Bitcoin sebagai bentuk pembayaran terus berkembang. Nilai dana yang ditransaksikan terkait dengan pelaksanaan lelang di beberapa daerah yang diperiksa oleh PPATK mencapai lebih dari Rp31 triliun untuk pembelian aset yang dilelang serta pembayaran uang jaminan. dan pedagang memiliki insentif untuk menerimanya karena biaya yang lebih rendah dari biasanya dikenakan oleh prosesor kartu kredit 2-3%. saat ini telah terjadi peningkatan yang cukup pesat dalam transaksi ritel atas koin-koin elektronik termasuk Bitcoin. Meskipun Penilaian Risiko Indonesia 130 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

TERBATAS demikian. pejabat di negara-negara seperti Amerika Serikat tetap mengakui bahwa bitcoin merupakan layanan keuangan yang sah. GAMBAR 34: Peta Penerimaan Bitcoin di Dunia Sumber : http://coinmap.org/ Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 131 Tahun 2015 .

di beberapa lokasi di Indonesia telah tersedia beberapa gerai ATM Bitcoin. Berikut ini beberapa fakta terkait dengan perkembangan Bitcoin di Indonesia. beverage. penggunaan Bitcoin di Indonesia yang sudah berkembang sebagai alternatif pembayaran transaksi properti. dan akomodasi.TERBATAS GAMBAR 35: Proses Penggunaan Transaksi Elektronik Menggunakan Bitcoin Sumber : http://spectrum. kendaraan mewah. Bitcoin juga terbukti digunakan dalam transaksi jual beli data nasabah secara online. Bahkan.ieee. Penilaian Risiko Indonesia 132 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .org/ Di Indonesia.

com Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 133 Tahun 2015 .bitpremier. TERBATAS GAMBAR 36: Beberapa Penggunaan Bitcoin di indonesia Sumber : www.

fi/ Penilaian Risiko Indonesia 134 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .liputan6.com/ Sumber : https://bittiraha.TERBATAS Sumber : http://bisnis.

detik. TERBATAS Sumber : https://news.com/ Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 135 Tahun 2015 .

TERBATAS Sumber : https://finance.com Penilaian Risiko Indonesia 136 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .detik.com/ Sumber : www.beritasatu.

com/ Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 137 Tahun 2015 .cryptocoinsnews.com/ Sumber : https://www. TERBATAS Sumber : https://coinatmradar.

TERBATAS GAMBAR 37: Potensi Penggunaan Bitcoin untuk Pendanaan Terorisme ISIS Sumber : https://www.com/ Penilaian Risiko Indonesia 138 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .coindesk.

com/ Terkait dengan semakin maraknya penggunaan Bitcoin di Indonesia yang sudah merambah sebagai alternatif pembayaran transaksi properti. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 139 Tahun 2015 . TERBATAS Sumber : https://www. kendaraan mewah. Pemerintah diharapkan memberikan perhatian lebih besar agar Bitcoin tidak berkembang lebih jauh menjadi sarana pencucian uang. senjata illegal. bahkan dimungkinkan untuk pendanaan terorisme.coindesk.

Bank Indonesia mengeluarkan pernyataan bahwa Bitcoin dan virtual currency lainnya bukan merupakan mata uang atau alat pembayaran yang sah di Indonesia. Bank Indonesia selaku regulator sistem pembayaran menghimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap Bitcoin dan virtual currency lainnya. -. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang serta UU No. Penilaian Risiko Indonesia 140 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 . Namun demikian. unknown. Segala risiko terkait kepemilikan/penggunaan Bitcoin ditanggung sendiri oleh pemilik/pengguna Bitcoin dan virtual currency lainnya. Komisi Regulatori Pasar Modal -. 6 Tahun 2009. Dengan memperhatikan Undang-undang No. terakhir dengan Undang-Undang No. · Sifatnya yang anonim mengundang pemanfaatan Bitcoin untuk pencucian uang dan pembiayaan teroris. dan untraceable. hingga saat ini Pemerintah Indonesia belum mengatur secara tegas terkait penggunaan Bitcoin. Payment System perdagangan Bitcoin karena Policy Department regulasinya belum ada. Senior · BOT tidak dapat melarang Director. Komisi Regulatori Asuransi Perancis: 05 · Nilai tukar Bitcoin dibandingkan Bank of Desember mata uang resmi berfluktuasi France 2013 tinggi dan pemilik berpotensi mengalami kesulitan menguangkan Bitcoin yang dimilikinya.TERBATAS mengingat bahwa transaksi dengan Bitcoin bersifat intangible. Namun demikian mata uang virtual tersebut memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan. Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) yang ada di bawah BI akan terus fokus mengawasi potensi pergeseran sistem pembayaran dari model konvensional ke model baru. Amerika 18 Nov · Tidak merasa perlu untuk memiliki Kesaksian tertulis pada Serikat: 2013 otoritas untuk mengawasi dan dengar pendapat di Senat AS The Federal mengatur secara langsung mengenai mata uang virtual. 2013 dengan mata uang. Berikut ini pernyataan beberapa negara/otoritas terkait dengan perkembangan Bitcoin. Jaturong Jantarangs. TABEL 23: Pernyataan Beberapa Negara/Otoritas terkait Bitcoin Negara/ Tanggal Pernyataan Keterangan Otoritas Thailand: Juli 2013 · BOT menolak permintaan izin PVA Berdasarkan komunikasi e- Bank of memperdagangkan Bitcoin karena mail dengan pejabat BOT. Reserve terhadap inovasi tersebut (mata 18-19 Nov 2013 uang virtual). Thailand tidak memenuhi kualifikasi. 23 Tahun 1999 yang kemudian diubah beberapa kali. Komisi melakukan perdagangan Bitcoin Regulatori sebagai komoditas dengan Perbankan menanggung risiko sendiri. Kementerian · Lembaga keuangan dilarang Industri dan bertransaksi dengan Bitcoin. Terkait dengan hal ini. TI · Masyarakat umum diperbolehkan -. PBOC Desember yang status hukumnya berbeda otoritas Pemerintah Cina -. China: 05 · Bitcoin adalah komoditas virtual Pernyataaan bersama lima -.

perdagangan dan Press release di situs web RBI Reserve Bank Desember penggunaan mata uang virtual. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 141 Tahun 2015 . TERBATAS Negara/ Tanggal Pernyataan Keterangan Otoritas Singapura: 23 · MAS tidak meregulasi mata uang E-mail MAS kepada Coin Monetary Desember virtual Republic yang Authority of 2013 · MAS tidak akan mengintervensi mengoperasikan platform Singapore keputusan suatu usaha atau perdagangan Bitcoin di perusahaan yang akan menerima Singapura atau menolak Bitcoin karena itu adalah keputusan bisnis India: 24 · Penciptaan. sebagai alat pembayaran tidak diotorisasi oleh suatu bank sentral atau otoritas. of India 2013 termasuk Bitcoin.

TERBATAS Halaman ini sengaja dikosongkan Penilaian Risiko Indonesia 142 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

Pegawai BUMN/D memiliki risiko "Menengah" menjadi pelaku TPPU. Kuba. Myanmar. Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 143 Tahun 2015 . Pegawai Money Changer. sedangkan profil Pegawai Bank. Industri Perbankan. DKI Jakarta menjadi provinsi yang berisiko “Tinggi” terjadinya TPPU di Indonesia. PNS (termasuk pensiunan). antara lain: Pengusaha dan Pegawai Swasta. Kalimantan Barat. Suriah. Afganistan. 4. kehutanan. perbankan. Selain menjadi salah satu negara tujuan favourit investasi asing. Tindak Pidana Narkotika. 8. 5. Sumatera Utara. Penggunaan virtual currency salah satunya Bitcoin dalam melakukan transaksi keuangan menjadi salah satu emerging threat TPPU di Indonesia. Pengurus Parpol. 2. Indonesia memiliki tingkat ancaman TPPU dari luar negeri yang cukup tinggi. Papua. Indonesia juga dianggap berpotensi cukup tinggi terhadap Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme. Berdasarkan hasil analisis terhadap potensi ancaman TPPU yang bersumber dari luar negeri ditemukan fakta bahwa Indonesia cukup berisiko terhadap TPPU yang terkait dengan 3 (tiga) tindak pidana asal. Korea Utara. Ibu Rumah Tangga. TERBATAS BAB 5 Kesimpulan NRA ML Berdasarkan kajian literatur. Pasar Modal. PEPs. 9. khususnya Yayasan. Sudan. 3. yaitu tindak pidana perpajakan. Profesional. Profil pengguna jasa perorangan juga memiliki risiko tinggi menjadi pelaku TPPU. 7. sosial. Riau. dapat disimpulkan bahwa: 1. kerentanan beserta dampak yang dapat ditimbulkannya. Jawa Barat. Perusahaan/Agen Properti. Sulawesi Selatan. dan negara-negara yang dikategorikan sebagai tax heaven country oleh OECD merupakan negara-negara yang paling berisiko tinggi TPPU. Berdasarkan hasil NRA yang berasal dari respon risk assessment pihak pelapor. dan evaluasi terhadap variasi potensi ancaman TPPU. Perpajakan menjadi risiko tertinggi Tindak Pidana Asal TPPU di Indonesia. hasil identifikasi. lingkungan. diikuti oleh Provinsi Jawa Timur. fisik. Dari sisi dalam negeri. dan Korporasi Non UMKM berisiko lebih tinggi menjadi pelaku TPPU dibandingkan Pengguna Jasa Perorangan. dan Pedagang Kendaraan Bermotor memiliki risiko tertinggi menjadi sarana pelaku TPPU di Indonesia. baik terhadap aspek ekonomi. Pengguna Jasa Badan Usaha/Korporasi. Pengurus Yayasan. Korupsi. maupun politik/struktural. analisis. diketahui bahwa Iran. dan Bali yang berisiko “Menengah” terjadinya TPPU. Bengkulu. 6.

TERBATAS Halaman ini sengaja dikosongkan Penilaian Risiko Indonesia 144 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .

Rahasia Bank: Privasi Versus Kepentingan Umum. N. Laporan Akhir Tahun PPATK. Jakarta: PPATK ______________. 2008. Tindak Pidana Pencucian Uang. http://index. Yunus. Money Laundering dan Kejahatan Perbankan. Jakarta: PPATK Siahaan. Jakarta: Pustaka Juanda Tigalima ______________. Rahasia Bank dan Penegakan Hukum. 2008. Jakarta ______________. 2014.org Financial Action Task Force. 2007. 2010. Jakarta: PPATK Penilaian Risiko Indonesia Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang 145 Tahun 2015 . Perancis Harmadi. Kejahatan Pencucian Uang. Basel AML Index 2015 Report. Jakarta ______________. Jakarta: Pustaka Juanda Tigalima ______________. Jakarta: Jala Permata Aksara Sutedi. 2013. Ikhtisar Ketentuan Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Jakarta: The Indonesia Netherlands National Legal Reform Program (NLRP) Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan. Adrian. Negeri Sang Pencuci Uang. Mencegah. 2010. 2011. Modul Tindak Pidana Pencucian Uang. 2015. Perampasan Aset Tanpa Tuntutan Pidana.baselgovernance. Jakarta: Pustaka Juanda Tigalima ____________. Jakarta: Setara Press Husein. Bunga Rampai Anti Pencucian Uang. Jakarta: Pascasarjana FH UI ____________. 2003. 2014. Laporan Hasil Riset (Tipologi dan Analisis Strategis) berbagai Edisi. Jakarta: Pustaka Juanda Tigalima ____________. Bandung: Books Terrace & Library ____________. 2015. FATF Guidance: National Money Laundering and Terrorist Financing Risk Assessment. Jakarta: Citra Aditya Yusuf. TERBATAS DAFTAR PUSTAKA Basel Institute on Government. 2008.H. 2013. Bulletin Statistik Anti Pencucian Uang dan Pecegahan Pendanaan Terorisme berbagai Edisi. Mengenal. 2012. Miskinkan Koruptor! Pembuktian Terbalik Solusi Jitu yang Terabaikan.T. Muhammad. Memberantas Tindak Pidana Pencucian Uang. 2014.

detik.coindesk.fi/  https://coinatmradar.  Undang-undang No.org/media/fatf/documents/reports/Risk_Assessment_IMF.ieee.TERBATAS Undang-Undang:  Undang-Undang No.fatf-gafi.Penggunaan Bitcoin sebagai sarana TPPU/TPPT:  http://bisnis.com/  https://bittiraha.org/media/fatf/documents/reports/Risk_Assessment_World_Bank.com/ Metodologi NRA versi IMF: www.pdf Metodologi NRA versi World Bank: www. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Website: Emerging threat .com/  https://news.cryptocoinsnews.com/  http://spectrum.fatf- gafi.org/  https://www.pdf Penilaian Risiko Indonesia 146 Terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2015 .liputan6.com/  https://www.com/  https://finance. 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.detik.

PENILAIAN RISIKO INDONESIA TERHADAP TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG TAHUN 2015 INDONESIA MONEY LAUNDERING RISK ASSESMENT. Ir H Juanda No.go.id website: http://www. 35 Jakarta 10120 Indonesia Telp.go.ppatk.: +62213856809.id . +62213856826 e-mail: contact-us@ppatk.: +62213850455. +62213853922 Fax. 2015 (NRA on ML) INTER-AGENCY WORKING GROUP NRA INDONESIA Jl.