You are on page 1of 22

REFERAT

KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

Oleh :

Hari Hardana 1618012026
Imelda Herman 1218011078
Martin Paskal G 1618012043
Silvi Qiro’atul Aini 1518012180

Preseptor :

dr. Mohammad Galih, Sp.F

KEPANITERAAN KLINIK ILMU FORENSIK
RUMAH SAKIT BHAYANGKARA POLDA LAMPUNG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG
2017

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam melaksanakan tugas dan profesinya seorang dokter sering kali dimintai
bantuan oleh POLRI untuk melaksanakan pemeriksaan dan perawatan korban tindak
pidana. Bermacam-macam tindak pidana terhadap manusia yang tentunya dilakukan juga
oleh manusia, jadi dalam hal ini manusia sebagai pelaku dan korban, dan tidak menutup
kemungkinan korban tersebut adalah pasien kita. Dengan diundangkannya Undang-
Undang Republik Indonesia No: 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga (PKDRT) pada tanggal 22 Sepptember 2004 yang merupakan hukum
publik yang memuat ancaman penjara atau denda bagi yang melanggarnya maka
masyarakat khususnya kepala rumah tangga terutama kaum lelaki sebaiknya mengetahui
apa itu kekerasan dalam rumah tangga, demikian juga seorang dokter yang juga
disebabkan tugas dan profesinya harus menangani korban Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (KDRT).

Kasus KDRT menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Usaha penghapusan
KDRT mengalami berbagai rintangan, dari segi budaya terutama di Indonesia karena
kejadian KDRT merupakan urusan intern rumah tangga dan memalukan jika diketahui
orang banyak dan KDRT tidak dianggap sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia
sehingga perlu ditutup rapat-rapat.

Kekerasan dalam rumah tangga memiliki tren yang terus meningkat dari tahun ke
tahun. Data yang diperoleh dari Jurnal Perempuan edisi ke 45, menunjukan bahwa dari
tahun 2001 terjadi 258 kasus Kekerasan Dalam Rumah tangga . tahun 2002 terjadi
sebanyak 226 kasus, tahun 2003 sebanyak 272 kasus, tahun 2004 terjadi 328 kasus dan
pada tahun 2005 terjadi 445 kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Data Komisi Nasional Perempuan menunjukan bahwa pada awal tahun 2004
menunjukan peningkatan serius dalam jumlah kasus kekerasan berbasis gender yang
menimpa perempuan. Pada tahun 2001 terdapat 3.169 kasus yang dilaporkan ke lembaga
pengada layanan tersebut. Pada tahun 2002 angka itu meningkat menjadi 5.163 kasus dan
tahun 2003 terdapat 5.934 kasus. Sedangkan tahun 2006, catatan dari Ketua Komnas Anti

Kekerasan Terhadap Perempuan. Apa saja faktor – faktor pemicu terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga? 5. definisi kekerasan dalam rumah tangga adalah perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. B.709 kasus atau 76%. jawabannya kembali kepada kultur atau mind set masyarakat Indonesia yang masih menganggap permasalahan kekerasan dalam rumah tangga adalah masalah internal keluarga sehingga sangat sedikit mereka yang menjadi korban berani bersuara. Secara khusus. seksual. Apa yang dimaksud dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga? 4. Akan tetapi. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan fisik. Negara wajib memberikan (how to respect) perlindungan (how to protect) dan pemulihan (how to full fill) terhadap hak asasi warganya terutama hak rasa aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan serta diskriminasi. meminimalisasi.512 kasus. tindakan ini tidak cukup. Bagaimana karakteristik Kekerasan Dalam Rumah Tangga? 6. Seiring dengan itu pula. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Kenapa demikian kondisinya. dan/atau penelantaraan rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. Apa definisi dari kekerasan? 3. psikologis. Kamala Chandrakirana menunjukan kekerasan terhadap perempuan (KTP) sepanjang tahun 2006 mencapai 22. Bagaimana tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dipandang dari aspek hukum? . bahkan merehabilitasi korban yang mengalami kekerasan rumah tangga menurut UU no. dan kasus terbanyak adalah kekerasan rumah tangga sebanyak 16. Pada tanggal 22 september 2004 mengesahkan UU no 23 tahun 2004. menindak pelaku kekerasan. Rumusan Masalah 1. mekanisme hukum untuk menjerat pelaku telah disediakan. UU diatas memberikan perlindungan kepada perempuan yang mayoritas menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Korban kekerasan dalam rumah tangga biasanya enggan untuk melaporkan kejadian yang menimpa dirinya karena tidak tahu kemana harus mengadu. Apa definisi dari keluarga? 2. undang-undang anti kekerasan dalam rumah tangga yang dimaksudkan untuk menyelesaikan. 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.

Mengetahui dampak dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga 5. Umum Agar masyarakat secara umum dapat memahami yang termasuk tindak pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan mengetahui sanksi pidana dari tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Definisi keluarga . Mengetahui definisi dari Kekerasan 3. Mengetahui definisi dari Keluarga 2. Mengetahui penyebab terjadinya tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga 4. 2. Mengetahui aspek hukum dari Kekerasan Dalam Rumah Tangga BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. 7. Bagaimana peranan Dokter dalam menyikapi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga? C. Khusus 1. Tujuan 1.

mendorong (paksa). bersatu. menikam. psikologis termasuk ancaman tindakan tertentu. 23 tahun 2004 keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri. menjepit. Tindakan kekerasan ini antara lain berupa kekerasan verbal. Kekerasan terhadap perempuan adalah setiap perbuatan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat kesengsaraan dan penderitaan perempuan secara fisik. pelecehan dan ancaman. mental.3 . Keluarga inti (nuclear family) terdiri dari ayah.1 Menurut friedman dan suprajitno. moral dan pertumbuhan sosial. 2. seksual. atau keluarga sedarah dalam garis lurus. Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga “kulawarga” yang berarti “anggota” “kelompok kerabat”. B. atau ayah dan anaknya. dan anak-anaknya. spiritual. Menurut UU No. menembak. seksual. pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang baik yang terjadi di depan umum atau dalam kehidupan pribadi. dikehendaki oleh pelaku. ibu. mendefinisikan bahwa keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan ketertarikan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga. Tindakan ini antara lain berupa memukul. atau ibu dan anaknya. menampar. keatas atau kebawah sampai dengan derajat ketiga. Definisi kekerasan Kekerasan adalah perbuatan yang dapat berupa fisik maupun non fisik. Definisi kekerasan psikologi (WHO): penggunaan kekuasaan secara sengaja termasuk memaksa secara fisik terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan fisik. suami istri dan anaknya. dan ada akibat yang merugikan pada korban (fisik maupun psikis) yang tidak dikehendaki oleh korban.2 Macam kekerasan bisa berupa tindakan kekerasan fisik atau kekerasan psikologis: 1. dan psikologi. Definisi kekerasan fisik (WHO): tindakan fisik yang dilakukan terhadap orang lain atau kelompok yang mengakibatkan luka fisik. Keluarga adalah lingkungan dimana beberapa orang yang masih memiliki hubungan darah. menendang. dilakukan secara aktif atau dengan cara pasif (tidak berbuat). memarahi/penghinaan.

pelaku maupun korban adalah orang – orang yang tinggal dan menetap dalam rumah tangga itu. pemaksaan. menunjukkan bahwa dari tahun 2001 terjadi 258 kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. c. Definisi Kekerasan Dalam Rumah Tangga UU Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga No. 23 Tahun 2004 Pasal 1 angka 1 (UU PKDRT) memberikan pengertian bahwa1 : Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan. dan atau. mulai dari Internasional sampai pada tingkat nasional belum mampu menekan angka kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang terjadi. D. Jadi dalam hal ini.2 Dari data di atas dapat kita ketahui bahwa dari tahun ke tahun . Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan sebagaimana orang yang dimaksud huruf karena hubungan darah. b. besan) persusuan. perkawinan (mertua. Menurut UU no 23 tahun 2004 pasal 2 lingkup rumah tangga meliputi1: a. ipar. Data yang dipeoleh dari Jurnal Perempuan edisi ke 45. pada tahun 2003 sebanyak 272 kasus. Tahun 2002 terjadi sebanyak 226 kasus. termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri).4 Kekerasan Dalam Rumah Tangga menjadi kasus yang tak pernah habis dibahas karena meskipun berbagai instrumen hukum. menantu. Suami istri. tahun 2004 terjadi 328 kasus dan pada tahun 2005 terjadi 455 kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga.C. atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. dan perwalian yang menetap dalam rumah tangga. seksual. pengasuhan. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. Epidemologi Kekerasan dalam rumah tangga memiliki tren yang terus meningkat dari tahun ke tahun. psikologis dan atau penelantaran rumah tangga. Orang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga tersebut.

mencekik leher. Kekerasan Fisik (UU No. Bentuk-bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga Mengacu kepada UU No.934 kasus. yang dalam undang-undang tersebut menjelaskan bahwa kekerasan dalam rumah tangga dapat berwujud: 1. 23 Tahun 2004 pasal 44 mengenai ketentuan pidana kekerasan fisik. Data Komnas Perempuan menunjukkan bahwa pada awal tahun 2004 menunjukkan peningkatan serius dalam jumlah kasus kekerasan berbasis gender yang menimpa perempuan. dan sebagainya. dan kasus terbanyak adalah Kekerasan dalam Rumah Tangga sebanyak 16.163 kasus dan tahun 2003 terdapat 5. 23 Tahun 2004 Pasal 5 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga pada BAB III mengenai Larangan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.709 kasus atau 76%. hingga melukai dengan senjata.83 %). menyundut dengan rokok atau dengan kayu yang bara apinya masih ada.512 kasus.169 kasus yang dilaporkan ke lembaga pengada layanan tersebut. dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang. luka lecet. menjambak rambut. Kekerasan psikis (UU No. 23 Tahun 2004 Pasal 7) Kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan ketakutan. menunjukkan kekerasan terhadap perempuan (KTP) sepanjang tahun 2006. . membenturkan kepala ke tembok. mencapai 22. juga dengan menggunakan alat seperti memukul dengan kayu atau benda lain.Kekerasan fisik yang dialami korban seperti pemukulan menggunakan tangan dan/atau dengan kaki seperti menampar. 2. Pada tahun 2001 terdapat 3. rasa tidak berdaya. atau luka berat. Bentuk luka yang paling sering terjadi akibat kekerasan fisik dapat berupa kekerasan dengan benda tumpul yaitu luka memar. Kekerasan tersebut akan mendapat sanksi berdasarkan UU No.4 E. Sedangkan tahun 2006.4 Sedangkan dari sumber yang sama didapati bahwa jenis kekerasan yang paling sering dihadapi oleh perempuan adalah kekerasan psikis (45. Kekerasan Dalam Rumah Tangga cenderung meningkat karena kekerasan yang dihadapai perempuan juga meningkat. menendang. memukul. catatan dari Ketua Komnas Anti Kekerasan Terhadap Perempuan. hilangnya kemampuan untuk bertindak. 23 Tahun 2004 Pasal 6) Kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit. jatuh sakit. Kamala Chandrakirana. luka robek hingag luka akibat luka bakar serta luka akibat bahan kimia. Pada tahun 2002 angka itu meningkat menjadi 5. hilangnya rasa percaya diri.

atau pemeliharaan kepada orang tersebut. . Walaupun sulit dibuktikan. 23 Tahun 2004 Pasal 8) Kekerasan seksual meliputi pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut. bentuk kekerasan ini juga sering dialami oleh perempuan. padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan. 23 Tahun 2004 pasal 45 mengenai ketentuan pidana kekerasan psikis. perawatan. 48 mengenai ketentuan pidana kejahatan seksual. maupun pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. komentar-komentar yang merendahkan. Luka terdalam sebagai dampak kekerasan psikis yang dialami individu dapat juga menimbulkan trauma berkepanjangan. Kekerasan seksual dapat berbentuk pemaksaan hubungan seksual. melarang melakukan aktivitas di luar rumah misalnya larangan untuk mengunjungi teman atau saudaranya. Sanksi yang diberikan terhadap keadaan ini berdasarkan UU No. atau melakukan perilaku seks menyimpang dengan istri. menakut-nakuti. Penelantaran rumah tangga (UU No. Penelantaran seperti meninggalkan isteri dan anak tanpa memberikan nafkah. penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di bawah kendali orang tersebut. yang dalam segala bentuk kekerasan tersebut akan dikenakan sanksi berdasarkan UU No. 3. bahkan memaksa istri melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain. Selain itu. 4. Kekerasan psikis berupa makian dan penghinaan. 23 Tahun 2004 pasal 46. korban kekerasan bisa juga jadi pelaku kekerasan di masa mendatang. tidak memberikan isteri uang dalam jangka waktu yang lama bahkan bertahun-tahun. 23 tahun 2004 pasal 49 mengenai ketentuan pidana-pidana yang mengatur tentang penelantaranrumah tangga. ancaman cerai. misalnya memaksakan berhubungan seks walaupun istri sedang tidak sehat atau tidak mau. 23 Tahun 2004 Pasal 9) Penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. Kekerasan seksual (UU No. Sanksi yang diberikan telah tertuang dalam UU No. dan lain-lain. Selain itu. 47.

Maka di sisi lain. Adanya hubungan kekuasaan yang tidak seimbang antara suami dan istri. dapat menimbulkan persaingan dan selanjutnya dapat menimbulkan . yaitu :4 1. Biasanya kekerasan ini dilakukan sebagai pelampiasan dari ketersinggungan.F. Bahwa istri adalah milik suami oleh karena harus melaksanakan segala yang diinginkan oleh yang memiliki. Persaingan Jika di muka telah diterangkan mengenai faktor pertama kekerasan dalam rumah tangga adalah ketimpangan hubungan kekuasaan antara suami dan istri. Kekerasan sebagai alat untuk menyelesaikan konflik Faktor ini merupakan faktor dominan ketiga dari kasus kekerasan dalam rumah tangga. ataupun kekecewaan karena tidak dipenuhinya keinginan. Ketergantungan ekonomi Faktor ketergantungan istri dalam hal ekonomi kepada suami memaksa istri untuk menuruti semua keinginan suami meskipun ia merasa menderita. 3. sekalipun tindakan keras dilakukan kepadnya ia tetap enggan untuk melaporkan penderitaannya dengan pertimbangan demi kelangsungan hidup dirinya dan pendidikan anakanaknya. Faktor . baik dalam hal pendidikan. dan lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini menyebabkan suami menjadi merasa berkuasa dan akhirnya bersikap sewenang-wenang terhadap istrinya. Hal ini dimanfaatkan oleh suami untuk bertindak sewenang-wenang kepada istrinya. Anggapan bahwa suami lebih berkuasa dari pada istri telah terkonstruk sedemikian rupa dalam keluarga dan kultur serta struktur masyarakat. pergaulan. Anggapan di atas membuktikan bahwa suami sering menggunakan kelebihan fisiknya dalam menyelesaikan problem rumah tangganya. di lingkungan kerja. 2. kemudian dilakukan tindakan kekerasan dengan tujuan istri dapat memenuhi keinginannya dan tidak melakukan perlawanan. Hal ini didasari oleh anggapan bahwa jika perempuan rewel maka harus diperlakukan secara keras agar ia menjadi penurut. penguasaan ekonomi baik yang mereka alami sejak masih kuliah. Bahkan. 4.Faktor Terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga Adapun faktor-faktor terjadinya kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga khususnya yang dilakukan oleh suami terhadap istri. perimbangan antara suami dan istri.

Hal ini penting karena bisa jadi laporan korban kepada aparat hukum dianggap bukan sebagai tindakan criminal tapi hanya kesalahpahaman dalam keluarga. pertengkaran mulut. Belum siap kawin b. terjadinya kekerasan dalam rumah tangga. sementara di sisi lain istri juga tidak mau terbelakang dan dikekang. mengacuhkan kemarahan pelaku. marah dengan sikap wanita yang mengacuhkan dirinya dan menyebabkan kemarahan memuncak. Suami belum memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap yang mencukupi kebutuhan rumah tangga. Wanita mengeluh. fase 2. berbagai konflik. fase 3 dan kembali pada fase 1. 2. bertindak pasif. Laki-laki melihatnya sebagai satu kelemahan. Karakteristik kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga Siklus Kekerasan Dalam Rumah Tangga terdiri dari fase 1. Hal ini juga terlihat dari minimnya KUHAP membicarakan mengenai hak dan kewajiban istri sebagai korban. membentaknya dan tindakan lain yang semacamnya. . berlangsung dalam beberapa jam sampai 24 jam atau lebih lama lagi. fisik dan seksual. Masih serba terbatas dalam kebebasan karena masih menumpang pada orang tua atau mertua. Kesempatan yang kurang bagi perempuan dalam proses hukum Pembicaraan tentang proses hukum dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga tidak terlepas dari pembicaraan hak dan kewajiban suami istri. karena posisi dia hanya sebagai saksi pelapor atau saksi korban. c. Bahwa di satu sisi suami tidak mau kalah. G. 5. Dalam kasus ini biasanya suami mencari pelarian kepada mabuk-mabukan dan perbuatan negatif lain yang berujung pada pelampiasan terhadap istrinya dengan memarahinya. 6. Dalam proses siding pengadilan. Frustasi Terkadang pula suami melakukan kekerasan terhadap istrinya karena merasa frustasi tidak bisa melakukan sesuatu yang semestinya menjadi tanggung jawabnya. memukulnya. Fase 2 Insiden penganiayaan akut terjadi dengan tindakan kekerasan secar verbal. Hal ini biasa terjadi pada pasangan yang : a. Fase 1 Munculnya ketegangan. Adapun fase-fase itu adalah:5 1. tidak adanya kesatuan pendapat. sangat minim kesempatan istri untuk mengungkapkan kekerasan yang ia alami.

karena itu kita selaku dokter harus mampu mengenali kasus semacam ini mengingat sebagian akan menceritakan peristiwa yang sebenarnya yang mereka alami. dalam arti kejadian sudah satu atau dua hari sebelum mereka datang ke sarana kesehatan. membuat laporan tertulis dan VER atas permintaan penyidik kepolisian atau Surat Keterangan Medis yang memiliki kekuatan hukum yang sama sebagai alat bukti. Korban dengan cedera kepala ringan atau sedang baru datang berobat satu atau dua hari kemudian dengan alasan baru mampu (secara fisik) untuk keluar rumah saat itu. atau diare.6 Tenaga kesehatan memang seringkali menjadi orang pertama yang ditemui oleh korban KDRT. mengungkapkan janji tidak akan mengulangi perbuatan kasarnya lagi. Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada korban. misalnya memar atau luka lecet.6 Ciri lain adalah mereka datang terlambat. Setiap pertanyaan yang kita ajukan dijawab oleh si pengantar dan umumnya jika dianalisis terdapat ketidak harmonisan antara cerita dengan luka yang ditemukan. Pelayanan kesehatan tersebut harus bisa didapatkan pada sarana kesehatan milik pemerintah maupun swasta. pelaku sering kali mengungkapkan rasa cinta. penyesalan yang mendalam. meminta maaf. dalam keadaan syok dan mengingkari kejadian yang dialami/ tidak mempercayai kejadian yang menimpa dirinya. berprilaku baik. Biasanya mereka datang didampingi oleh pelaku. Fase 3 Keduanya merasa mereda/ hilang. meminimalkan luka-luka yang terjadi pada dirinya.6 . tenaga kesehatan harus memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesinya. Korban seringkali menunda untuk segera mencari pertolongan. Pada kasus-kasus tersebut umumnya ketahanan mental mereka yang runtuh namun tidak tahu harus kemana sehingga saran kesehatan lah yang mereka tuju. 3. serta nonspesifik lainnya. sakit perut. Korban dengan luka yang cukup berat dan membutuhkan tindakan medis jarang datang sendiri. sebagian lagi tidak.6 Korban KDRT umumnya datang dengan keluhan yang bisa di kategorikan ringan. Ada pula yang datang dengan keluhan sakit kepala. mual.

rasa takut. sehubungan dengan kekerasan yang ia lihat terjadi pada ibunya. dan asma. sebagian dari anak yang hidup di tengah keluarga seperti ini juga diperlakukan secara keras dan kasar karena kehadiran anak terkadang bukan meredam sikap suami tetapi malah sebaliknya. Kekerasan psikologis dapat berdampak istri merasa tertekan. Kekerasan tersebut juga dapat berdampak pada anak-anak. Kekerasan seksual dapat mengakibatkan turun atau bahkan hilangnya gairah seks. kejam kepada binatang. Ciri lain dari kasus KDRT adalah luka yang berbeda umurnya. jelek prestasinya di sekolah. Adapun dampak kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa istri adalah:7 1. Karena perilaku abusive adalah perilaku yang berulang. Adapun dampak- dampak itu dapat berupa efek yang secara langsung dirasakan oleh anak. dan suka melakukan pemukulan terhadap orang lain yang tidak ia sukai. Dampak dari tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga Karena kekerasan sebagaimana tersebut di atas terjadi dalam rumah tangga. Bahkan. trauma. mudah terserang penyakit seperti sakit kepala. berperilaku agresif dan kejam. sering ngompol. shock.7 Menyaksikan kekerasan adalah pengalaman yang amat traumatis bagi anak- anak. gelisah dan tidak tenang.6 H. emosi tinggi dan meledak-ledak. 3. karena istri menjadi ketakutan dan tidak bisa merespon secara normal ajakan berhubungan seks. 4. 2. marah. Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami anak-anak membuat anak tersebut memiliki kecenderungan seperti gugup. maupun secara tidak langsung. maka pada korban dapat ditemukan luka baru dan luka lama secara bersama-sama pada saat pemeriksaan. perut.8 . suka minggat. Kekerasan ekonomi mengakibatkan terbatasinya pemenuhan kebutuhan sehari- hari yang diperlukan istri dan anak-anaknya. kurang pergaulan. Kekerasan fisik langsung atau tidak langsung dapat mengakibatkan istri menderita rasa sakit fisik dikarenakan luka sebagai akibat tindakan kekerasan tersebut. serta depresi yang mendalam. gampang cemas ketika menghadapi masalah. Ketika bermain sering meniru bahasa yang kasar. maka penderitaan akibat kekerasan ini tidak hanya dialami oleh istri saja tetapi juga anak-anaknya.

4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban KDRT. Mereka tumbuh dewasa dengan mental yang rusak dan hilangnya rasa iba serta anggapan bahwa melakukan kekerasan terhadap istri adalah bisa diterima. Lahirnya UU No. Harus pindah rumah dan sekolah jika ibunya harus pindah rumah karena menghindari kekerasan. Menggunakan paksaan fisik untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan adalah wajar dan baik-baik saja. Tidak bisa berteman atau mempertahankan teman karena sikap ayah yang membuat anak terkucil. Penelitian membuktikan bahwa 50% . masih ada lagi akibat lain berupa hubungan negatif dengan lingkungan yang harus ditanggung anak seperti:8 1. Merasa disia-siakan oleh orang tua Kebanyakan anak yang tumbuh dalam rumah tangga yang penuh kekerasan akan tumbuh menjadi anak yang kejam. dulunya dibesarkan dalam rumah tangga yang bapaknya sering melakukan kekerasan terhadap istri dan anaknya. Undang – Undang No.8 I. Aspek Hukum Dan Ketentuan Pidanan Dalam KDRT Semakin besarnya peranan lembaga – lembaga sosial dalam menanamkan kesadaran akan hak dan memberikan pendampingan serta perlindungan kepada korban kasus KDRT dipengaruhi oleh lahirnya peraturan perundang – undangan di Indonesia. dan peraturan perundangan . 2. Menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan berbagai persoalan adalah baik dan wajar 4. Satu-satunya jalan menghadapi stres dari berbagai masalah adalah dengan melakukan kekerasan 2. Pemahaman seperti ini mengakibatkan anak berpendirian bahwa:8 1. Peraturan Pemerintah No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT.80% laki-laki yang memukuli istrinya atau anak-anaknya. Kekerasan dalam rumah tangga yang ia lihat adalah sebagai pelajaran dan proses sosialisasi bagi dia sehingga tumbuh pemahaman dalam dirinya bahwa kekerasan dan penganiayaan adalah hal yang wajar dalam sebuah kehidupan berkeluarga. Di samping dampak secara langsung terhadap fisik dan psikologis sebagaimana disebutkan di atas. Tidak perlu menghormati perempuan 3. Peraturan Presiden No. 65 Tahun 2005 tentang Komisi Nasional Terhadap Perempuan. 3.

4 b. UU No. Peraturan Presiden No 65 Tahun 2005 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan lethadap Perempuan Peraturan Presiden No 65 Tahun 2005 tentang Komisi Nasional Anti Kekeraan terhadap Perempuan yang selanjutnya disebut sebagai Perpres Komnas Perempuan ialah merupakan penyempurnaan Keputusan Presiden No.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga UndangUndang No 23 Tahun 2002 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga yang selanjutnya disebut sebagai UU PKDRT diundangkan tanggal 22 September 2004 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No. Fokus UU PKDRT ini ialah kepada upaya pencegahan.lainnya yang memberikan perlindungan hukum terhadap kasus KDRT dan termasuk lembaga – lembaga sosial yang bergerak dalam perlindungan terhadap perempuan. 181 Tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. a. 181 Tahun 1998 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. UU PKDRT Pasal 3 menyebutkan Penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dilaksanakan berdasarkan:  Penghormatan hak asasi manusia  Keadilan dan kesetaraan gender  Nondiskriminasi  Perlindungan korban UU PKDRT Pasal 4 menyebutkan Penghapuan kekerasan dalam rumah tangga bertujuan:  Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga  Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga  Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga  Memelihara keutuhan numah tangga yang harmonis dan sejahtera. . Bahkan dalam rencana pembentukan peraturan perundang-undangan tersebut tidak lerlepas dari peran lembaga social. Perpres Komnas Perempuan Pasal 24 telah mencabut dan menyatakan tidak berlaku Keppres No. Komnas Perempuan ini dibentuk berdasarkan prinsip negara hukum yang menyadari bahwa setiap bentuk kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran atas hak-hak asasi manusia sehingga dibutuhkan satu usaha untuk mencegah dan menanggulangi terjadinya kekerasan terhadap perempuan. 95. perlindungan dan pemulihan korban kekerasan dalam rumah tangga.

000. 5.000.. 15. 4.000.000. Setiap orang yang melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda paling banyak Rp 9. 45.(sembilan juta rupiah). dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp. 36.. Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (Lima) tahun atau denda paling banyak Rp..000.(tiga puluh juta rupiah).000.. 3.. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengakibatkan matinya korban. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau kegiatan sehari-harian.000.(empat puluh lima juta rupiah).000. 30. UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 45 1.(lima belas juta rupiah) 2.Ketentuan pidana Ketentuan pidana terhadap pelanggaran KDRT diatur oleh Undang-undang Republik Indonesia No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT sebagai berikut: UU Nomor 23 tahun 2004 pasal 44 1.000. 3. dipidanakan Penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp.000. dipadana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp.000.0000.(lima juta upiah).000. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan korban jatuh sakit atau luka berat. dipidanakan penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp.. UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 46 Setiap orang yang melakukan Perbuatan kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp.(tiga juta rupiah). 2. Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 (satu) dilakukan oleh suami terhadap isteri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian atau kegiatan sehari-hari..(tiga puluh enam juta rupiah) .000.

300.000.000. Penetapan pelaku mengikuti program konseling di bawah pengawasan lembaga tertentu.(dua belas juta rupiah) atau paling banyak Rp.(dua puluh lima juta rupiah) dan paling banyak Rp.. Menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1). atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi.(lima ratus juta rupiah) UU Nomor 23 Tahun 2004 pasal 49 Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga tahun atau denda paling banyak Rp 15. b.000. 12.000. maupun pembatasan hak-hak tertentu dari pelaku.000. setiap orang yang: a.. UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 50 Selain pidana sebagaimana dimaksud dalam bab ini hakim dapat menjatuhkan pidana tambahan berupa: a.00-(lima belas juta rupiah). 500.000. Menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (2).000. 25..000.(tiga ratus juta rupiah) UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 48 Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 dan 47 mengakibatkan korban mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh sama sekali. dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun atau denda paling sedikit Rp.000.. b. . mengalami gangguan daya pikir atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama 4 (empat) minggu terus menerus atau 1 (satu) tahun tidak berturut-turut.000.UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 47 Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling sedikit Rp. Pembatasan gerak pelaku baik yang bertujuan untuk menjauhkan pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu. gugur atau matinya janin dalam kandungan.

Untuk membuat Visum et Repertum jika memungkinkan tergantung atau seuai dengan keahlian/spesialisasinya. kekerasan seksual oleh dokter obstetri dan ginekologi. c. Membuat visum et repertum atas dasar SPVR (Surat Permohonan Visum et Repertum) dari pihak kepolisian. Berusaha memulihkan dan merehabilitasi kesehatan korban. tenaga kesehatan wajib memulihkan dan merehabilitasi kesehatan korban. Peranan Dokter menyikapi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dalam pasal 21 UU RI No 23 Tahun 2004 disebutkan: 1. Pasal 40 UU RI No 23 Tahun 2004: 1. Maka jelas di sini bahwa dalam kasus KDRT seorang dokter harus: a. Tenaga kesehatan wajib memeriksa korban sesuai dengan standar profesinya 2. Misalkan kekerasan fisik oleh dokter bedah. Pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan di sarana kesehatan milik pemerintah. Memberikan pelayana kesehatan terhadap korban termasuk memeriksa dan mengobati serta merawat korban baik di rumah sakit ataupun klinik milik swasta ataupun pribadi. kekerasan psikis oleh psikiater. pemeriktah daerah atau masyarakat. b. Hal ini akan sulit dilakukan di daerah terpencil karena dokter spesialis tidak banyak sehingga dokter umum pun diperbolehkan melakukannya. Memeriksa kesehatan korban sesuai dengan standar profesinya b. Membuat lapotan tertulis hasil pemeriksaan terhadap korban dan visum et repertum atas permintaan penyidik kepolisian atau surat keterangan medis yang memiliki kekuatan hukum yang sama sebagai alat bukti 2.J. Dalam memberikan pelayanan kesehatan kepeda korba. Dalam hal korban memerlukan perawatan. kekerasan mata oleh dokter mata. tenaga kesehatan harus: a. .

9 PP PKPKKDRT Pasal 2 ayat 1 menyebutkan bahwa Penyelenggaraan pemulihan ialah: Segala tindakan yang meliputi pelayanan dan pendampingan korban KDRT. termasuk menyediakan fasilitas yang diperlukan untuk pemulihan korban. b. Dari ketentuan ini. pemerintah dan pemerintah daerah sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing dapat melakukan kerjasama dengan masyarakat atau lembaga sosial. korban dapat memperoleh pelayanan dari: a. PP PKPKKDRT Pasal 2 ayat 1 menyebutkan : Bahwa penyelenggaraan pemulihan terhadap korban dilaksanakan oleh instansi pemerintah dan pemerintah daerah serta lembaga sosial sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. dan/atau d. Tenaga kesehatan. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga :1 UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 39 Untuk kepentingan pemulihan. Pemulihan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Yang dimaksud dengan upaya pemulihan korban Peraturan Pemerintah RI No. baik nasional maupun internasional yang pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. lembaga sosial mendapat kesempatan untuk berperan dalam melakukan upaya pemulihan korban KDRT. c. Pekerja sosial. Pembimbing rohani. PP PKPKDRT Pasal 4 menyebutkan Penyelenggaraan kegiatan pemulihan korban meliputi :9 a) Pelayanan kesehatan b) Pendampingan korban c) Konseling d) Bimbingan rohani e) Resosialisasi Pemulihan korban berdasarkan kepada Undang-undang No.K. Relawan pendamping. UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 40 . Hal yang sama disebutkan dalam PP RI Pasal 19 yang menyebutkan : Untuk penyelenggaraan pemulihan. 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga pada Pasal 1 ayat 1 ialah : Segala upaya untuk penguatan korban kekerasan dalam rumah tangga agar lebih berdaya baik secara fisik maupun psikis.

Tenaga kesehatan wajib memeriksa korban sesuai dengan standar profesinya 2. Pendampingan oleh pekerja sosial dan bantuan hukum pada setiap tingkat proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan e. Pokok materi UU PSK ini meliputi perlindungan dan hak saksi dan korban. Perlindungan dari pihak keluarga. dan d.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga Pasal 15. kejaksaan. advokat. relawan pendamping dan/atau pembimbing rohani dapat melakukan kerja sama. syarat dan tata cara pemberian perlindungan dan bantuan. Undang-Undang No. UU Nomor 23 Tahun 2004 Pasal 42 Dalam rangka pemulihan terhadap korban. Mencegah berlangsungnya tindak pidana. b. 1. pengadilan. pekerja sosial. Pelayanan bimbingan rohani Menurut Undang-Undang No. serta ketentuan pidana.10 . tenaga kesehatan. Memberikan pertolongan darurat. dan proporsional terhadap saksi dan korban. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis c.23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga Pasal 10. Memberikan perlindungan kepada korban. lembaga sosial. profesional. atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapan perintah perlindungan dari pengadilan b. tenaga kesehatan wajib memulihkan dan merehabilitasi kesehatan korban. melihat. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban d. Dalam hal korban memerlukan perawatan. kepolisian. UU PSK ini dikeluarkan karena pentingnya saksi dan korban dalam proses pemeriksaan di pengadilan sehingga membutuhkan perlindungan yang efektif. L. Perlindungan Saksi Dan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga Menurut Undang-Undang No. korban berhak mendapatkan :1 a. lembaga perlindungan saksi dan korban. 64 Tahun 2006. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban yang selanjutnya disebut dengan UU PSK berlaku sejak tanggal 11 Agustus 2006 setelah diundangkan di Lembaran Negara RI No. Membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan. c. atau mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya-upaya sesuai dengan batas kemampuannya untuk : a. setiap orang yang mendengar.

sedang. atau telah diberikannya b. serta bebas dari Ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan. tidak diskriminatif. Perlindungan saksi dan korban dilakukan berdasarkan asas penghargaan atas harkat dan martabat manusia. keluarga. dan harta bendanya. Mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus g. rasa aman. Mendapat nasihat hokum m. Mendapat penerjemah e. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan c. Kesimpulan Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan karena korban KDRT pada umumnya adalah perempuan. Bantuan medis dan rehabilitasi psikososial dalam hal saksi dan korban mengalami pelanggaran hak asasi manusia yang berat. Perlindungan saksi dan korban juga dilakukan karena adanya hak-hak seorang saksi dan korban yang harus dilindungi seperti:10 a. dan kepastian hukum. Perlindungan saksi dan korban berlaku pada semua tahap proses peradilan pidana dalam lingkungan peradilan yang bertujuan untuk memberikan rasa aman pada saksi dan/atau korban dalam memberikan keterangan pada setiap proses peradilan pidana. Dengan dikeluarkannya UU PKDRT No. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi. Bebas dari pertanyaan yang menjerat f.23 . Kekerasan terhadap perempuan berarti kekerasan yang melanggar hak asasi perempuan berarti juga kekerasan yang melanggar hak asasi manusia. Mendapatkan tempat kediaman baru k. Mengetahui dalam hal terpidana dibebaskan i. Mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan h. Mendapat identitas baru j. Memberikan keterangan tanpa tekanan d. BAB III PENUTUP A. dan/atau n. Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu perlindungan berakhir. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan l. keadilan.

POLRI. Buku Pegangan Pusat Pelayanan Terpadu POLRI. DAFTAR PUSTAKA 1. Undang-Undang Republik Indonesia No. Bentuk-bentuk KDRT tidak hanya terbatas pasa kekerasan fisik saja. namun dapat berupa kekerasan psikis. psikologisdan atau penelantaran rumah tangga. dan penelantaran. Siklus KDRT terbagi menjadi 3 fase dan dapat terjadi berulang-ulang.who. 65 Tahun 2005 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Aspek hukum terkait dengan Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini yaitu UU No. Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.Tahun 2004. Undang-Undang Republik Indonesia No. . masalah KDRT tidak lagi menjadi masalah privat tetapi sudah menjadi masalah publik. http://www.int/violenceprevention/approach/definition/en/index. Sedangkan ketentuan pidana terhadap pelanggara KDRT diatur oleh Undang- Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik. termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan. seksual. Jakarta : 2005.23 Tahun 2004. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan.html 3.23 Tahun2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan Peraturan Presiden No. pemaksaan. 2. 23 Tahun 2004. tentang Perlindungan Anak. seksual. atau perampasan kemerdekaan secara hukum dalam lingkup rumah tangga.

2000 8. Jakarta: LBH APIK. Jakarta. Ratna Batara Munti (ed. Peraturan Pemerintah RI No. tentang Perlindungan Saksi dan Korban.T.4. 2008 7. Savitry. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Rita Serena.com 5. 2000. 2008. 9. Oktavinda. Dalam penerapan Ilmu Kedokteran forensik dalam Peoses Penyidikan. www. Hasil Penelitian di Jakarta : Program Studi Kajian Wanita Program Pascasarjana Universitas Indonesia. Pangemaran Diana Ribka. Kolibonso. Kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga. 4 Tahun 2005 tentang Penyelenggaran dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga.). BPK Gunung Mulia. . 10.komnasperempuan. Tindakan Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Keluarga. Undang-Undang No. 6. 13 Tahun 2006. fakta diskriminasi perempuan. Jakarta: P. Advokasi Legislatif Untuk Perempuan: Sosialisasi Masalah dan Draft Rancangan Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Gunarsa SD et al. Jakarta : Sagung Seto. Kekerasan Dalam Rumah tangga.