You are on page 1of 42

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Gangguan napas dapat mengakibatkan gagal napas akut yang mengakibatkan
ketidakmampuan untuk memelihara pertukaran gas agar dapat memenuhi
kebutuhan tubuh, mengakibatkan hipoksemia, dan/ atau hiperkabia.
Asfiksia adalah suatu keadaan dengan karakteristik hipoksia yang progresif,
hiperkapnia, dan asidosis. Asfiksia pada masa perinatal akan menyebabkan
terjadinya penurunan kadar oksigen, saturasi oksigen dan perfusi darah ke
jaringan, sehingga menimbulkan iskemia pada organ yang sensitif terhadap
penurunan oksigen.
Beberapa keadaan yang dihubungkan dengan terjadinya asfiksia pada bayi baru
lahir, antara lain respiratory distress syndrome (RDS), pulmonary air leak, fistula
bronkopleural, hipertensi pulmonal persisten, sindrom aspirasi mekonium,
pneumonia neonatal, hipoplasi pulmonal, hernia diafragmatika, malformasi kistik
paru dan lain-lain. The American
Academy of Pediatrics dan The American College of Obstetricians and
Gynecologists menyatakan bahwa neonatus yang mengalami asfiksia berat saat
lahir, dengan asidosis metabolik (pH <7) dan nilai apgar menetap 0 sampai 3
selama lebih dari lima menit, akan berlanjut menjadi ensefalopati hipoksik. Maka
untuk mencegah terjadinya hal tersebut perlu segera dilakukan bantuan ventilasi.
Resusitasi neonatus adalah usaha untuk mengakhiri asfiksia dengan memberikan
oksigenasi yang adekuat. Resusitasi neonatus adalah serangkaian intervensi saat
kelahiran untuk mengadakan usaha nafas dan sirkulasi yang adekuat. Tujuan
resusitasi pada neonatus adalah membuat bayi baru lahir stabil dalam waktu
selambat-lambatnya 1 jam sesudah lahir. Resusitasi pada bayi baru lahir adalah
prosedur yang diaplikasikan pada BBL yang tidak dapat bernapas secara spontan
dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir.
Bantuan ventilasi didefinisikan sebagai usaha untuk memindahkan udara ke dalam
dan ke luar paru dengan menggunakan suatu alat yang dihubungkan langsung
kepada pasien. Peralatan yang digunakan dapat bermacam-macam bentuknya,

1

resuscitation bag atau ventilator. Pada neonatus, bantuan ventilasi biasanya
diberikan sementara untuk membantu fungsi paru sampai pasien dapat bernapas
secara adekuat tanpa pertolongan. Bantuan ventilasi ini akan memperbaiki
ventilasi alveolar, pembuangan CO2, oksigenasi yang adekuat serta menurunkan
kerja pernapasan.

2. Tujuan
Penyajian referat ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai Prosedur
Tatalaksana Pemakaian Ventilator Pada Neonatus, yang berisikan tentang
gangguan nafas pada neonatus, asfiksia neonatus, resusitasi neonatus, dan
pemakaian ventilator pada neonatus

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
ASFIKSIA NEONATORUM DAN PROSEDUR TATALAKSANA
PEMAKAIAN VENTILATOR PADA NEONATUS

2.1. Gangguan Nafas Neonatus
2.1.1 Definisi
Gangguan napas dapat mengakibatkan gagal napas akut yang
mengakibatkan ketidakmampuan untuk memelihara pertukaran gas agar
dapat memenuhi kebutuhan tubuh, mengakibatkan hipoksemia, dan/ atau
hiperkabia.
Definisi gangguan napas adalah suatu keadaan meningkatnya kerja
pernafasan yang ditandai dengan:
1. Takipnea
2. Retraksi
3. Napas cuping hidung
4. Merintih atau grunting
5. Sianosis
6. Apneu atau henti napas
7. Bila takipnea, retraksi, cuping hidung dan grunting menetap pada
beberapa jam setelah lahir ini merupakan indikasi adanya gangguan
napas atau distres respirasi yang harus dilakukan tindakan segera.(1)

2.1.2 Epidemiologi
Di Indonesia angka kematian bayi sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup
dimana penyebab terbanyak kematian adalah komplikasi perinatal,
infeksi pernapasan akut (pneumonia), dan diare. Pada suatu studi
kematian neonatal di daerah Cirebon tahun 2006 disebutkan pola
penyakit kematian neonatal 50% disebabkan gangguan pernapasan
meliputi asfiksia bayi baru lahir (38%), respiratory distress 4%, dan
aspirasi 8%.

3

Gangguan napas yang paling sering ialah transient tachpnea of the
newborn (TTN), respiratory distress syndrome (RDS) atau penyakit
membran hialin (PMH), dan displasia bronkopulmonar.(1)

2.1.3 Patofisiologi
- Perkembangan paru normal
Paru berasal dari pengembangan embryonic foregut dimulai dengan
perkembangan bronchi utama pada usia 3 minggu kehamilan,
pertumbuhan paru kearah kaudal ke mesenkim sekitar dan pembuluh
darah, otot halus, tulang rawan, dan komponen fibroblast berasal dari
jaringan ini. Secara endodermal epitelium mulai membentuk alveoli dan
saluran pernapasan. Di luar periode embrionik ini ada 4 stadium
perkembangan yang telah dikenal, yaitu :
a. Pseudoglandular (5-17 minggu)
b. Kanalikular (16-26 minggu)
c. Sakular (24-38 minggu)
d. Alvcolar (36 minggu-lebih dari 2 tahun setelah lahir)
e. Pada seluruh stadium ini, perkembangan saluran pernapasan,
pembuluh darah, dan proses diferensiasi berlangsung secara
bersamaan.
- Surfaktan paru
Surfaktan dibentuk pada pneumosit alveolar tipe II dan disekresi ke
dalam rongga udara kecil sekitar usia kehamilan 22 minggu. Komponen
utama surfaktan ini adalah fosfolipid, sebagian besar terdiri dari
dipalmitoylphophatidylcholine (DPPC). Surfaktan disekresi oleh
eksositosis dari lamellar bodies pneumosit alveolar tipe II dan mielin
tubular. Pembentukan mielin tubular tergantung pada ion kalsium,
protein surfaktan SP-A, dan SP-B. Surfaktan lapisan tunggal berasal dari
mielin tubular dan sebagian besar terdiri dari DPCC. Fungsinya adalah
untuk mengurangi tegangan permukaan dan menstabilkan saluran napas
kecil selama ekspirasi yang memungkinkan stabilisasi dan pemeliharaan

4

Bersama-sama SP-A. dan SP-C mempertahankan mielin tubular dan surfaktan lapis tunggal terhadap pengikisan akibat kontaminasi dengan protein plasma.1. Protein surfaktan yang lain Ada 3 protein utama lain yang dibentuk di dalam pneumosit tipe II dan disekresi bersamaan dengan komponen fosfolipid surfaktan SP-A mempunyai fungsi imuno regulator .(1) 2. . sisa volume paru. Evaluasi gawat nafas dengan skor Downes. SP-B. Terjadi proses :re-uptake and recycling” secara aktif dari fosfolipid surfaktan (baik endogenus maupun dari pemberian surfaktan)oleh pneumosit tipe II.4 Klasifikasi Gangguan nafas dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme patofisiologi yang mengakibatkan hipoksemia dan/atau hiperkarbia. Klasifikasi dapat menggunakan skor downes: Pemeriksaan Skor 0 1 2 Frekuensi nafas < 60 menit 60-80menit >80 menit Retraksi Tidak ada retraksi Retraksi ringan Retraksi berat Sianosis Tidak ada sianosis Sianosis hilangSianosis menetap dengan O2 walaupun diberi O2 Air entry Udara masuk Penurunan ringan Tidak ada udara udara masuk masuk Dapat didengar Dapat didengar dengan stetoskop tanpa alat bantu Evaluasi Total: Diagnosis 1-3 Sesak nafas ringan 4-5 Sesak nafas sedang >6 Sesak nafas berat Tabel 1.2 5 . bersama dengan SP-B diperlukan untuk pembentukan mielin tubular.

stenosis subglotik. emfisema lobaris kongenital h. emfisema pulmonalis interstitialis e. 3. stenosis trakea. Penyebab non pulmonal: setiap keadaan yang menyebabkan aliuran darah ke paru meningkat atau menurun. Kelainan kongenital: hernia diafragmatika. Kebocoran udara: pneumothorax. paralisis medula spinalis dan laringomalasia. ensefalokel. Obstruksi jalan nafas a. kista atau tumor intratorakal. Respiratory distress syndrome atau penyakit membran hialin c. 2. Transient takipneu of the newborn f. Rongga mulut: makroglosia atau mikrognati. hemangioma. a. darah atau susu formula b. dan stenosis bronkial. Bayi baru lahir bernapas dengan hidung dan dapat menunjukan gejala distres respirasi apabila ada sesuatu yang menyumbat lubang hidung(mukus atau masker yang menutupi saat melakukan terapi sinar) b. menyababkan kenaikan kebutuhan oksigen dan penurunan jumlah sel darah merah yang menyebabkan distres respirasi. Pulmonal a.1. g.5 Etiologi Adapun etiologi dari gangguan nafas pada bayi baru lahir adalah: 1. fistula trakeoesofagus. silotoraks 4. c. Aspirasi mekonium.2. Gagal jantung kongestif (Congestive heart failure) 6 . Efusi. agenesis atau hipoplasia paru. Penumonia. Leher: struma kongenital dan higroma kistik. Trakea: trakeomalasia. Laring: laringeal web. Atelektasis d. edema nasalis. pneumonia hemoragik. d. Nasal atau nasofaringeal: obstruksi koana. pneumomediastiunum.

Polisitemia: jumlah sel darah merah yang berlebihan yang menyababkan meningkatnya viskositas darah. magnesium. mencegah sel darah merah masuk ke dalam kapiler paru. hipoglikemi.(2) Faktor Predisposisi Berbagai keadaan ibu dan janin selama kehamilan maupun persalinan dapat menjadi faktro resiko resusitasi saat lahir. Bayi dari ibu dengan DM i. (misal solusio plasenta. Hipertensi pulmonal menetap: Persistence pulmonary hypertension d. Depresi neonatal e. hipokalsemia c. narkotika) terdapat anemia/ hidrops previa) fetalis) Diabetes mellitus Polihidramnion dan Ketuban bercampur 7 . Faktor Risiko Faktor Ibu Faktor Janin Faktor Intrapartum Ketuban pecah dini ≥ Kehamilan multiple Pola denyut jantung 18 jam janin yang meragukan pada CTG Perdarahan pada Prematur (terutama usia Presentasi abnormal trimester 2 dan 3 gestasi <35 minggu) Hipertensi dalam Post matur (usia gestasi Prolaps tali pusat kehamilan >41 minggu) Hipertensi kronik Besar masa kehamilan Persalinan/kala 2 (large for gestational memanjang age) Penyalahgunaan obat Pertumbuhan janin Persalinan yang sangat terhambat cepat Konsumsi obat (seperti Penyakit hemolitik Pendarahan antepartum litium. autoimun (missal anti-D. Syok f. b. g. Penyebab metabolik: asidosis. Perdarahan susunan saraf pusat. terutama jika plasenta previa. vasa adrenergic. Hipotermia h. penghambat anti Kell. sehingga harus cepat dikenali untuk mengantisipasi masalah yang mungkin timbul.

1 Definisi Asfiksia pada neonatus ditandai dengan keadaan hipoksemia. pada sampel darah yang diambil dan arteri umbilikal 2. hipotonia. Manifestasi neurologi pada periode bayi baru lahir (BBL) segera.2. Infeksi Infeksi intrauterine Kelahiran dengan vakum Korioamnioitis Hidrops fetalis Penerapan anestesi umum pada ibu Sedasi berat Presentasi bokong Bedah saesar yang bersifat darurat. koma atau ensefalopatia hipoksik iskemik. forceps fungsi kardiovaskuler. Asidemia metabolik atau campuran (metabolik dan respiratorik) yang jelas. Kematian janin Distosia bahu sebelumnya Tidak pernah melakukan pemeriksaan antenatal Tabel 2 Faktor Predisposisi. Asfiksia Neonatus 2. oligohidramnion mekonium Penyakit kronik Gerakan janin berkurang Pemberian obat (anemia. atau proses transisi lainnya. termasuk kejang.2. Nilai APGAR 0-3 pada menit ke 5 3. Menurut AAP dan ACOG (2004). Terjadi disfungsi sistem multiorgan segera pada periode BBL.(2) 2. hiperkabnia. asfiksia perinatal pada seorang bayi menunjukan karakteristik berikut: 1.(3) 8 . sebelum persalinan narkotika untuk sianotik) mengurangi rasa nyeri pada ibu dalam 4 jam proses persalinan Demam Kelainan congenital yang Kelahiran dengan memengaruhi pernapasan. yaitu pH <7. 4. PJB. dan asidosis.

Oleh karena itu bila terjadi henti napas atau ventilasi alveolar yang kurang. hipertensi pulmonal persisten. Penyakit yang berlanjut ke distres pernapasan atau gagal napas dapat menyebabkan hipoksemia. dan asidosis.3 menjadi 6. dengan asidosis metabolik (pH <7) dan nilai apgar menetap 0 sampai 3 selama lebih dari lima menit.2 Patofisiologi Bayi mempunyai kebutuhan oksigen yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa karena metabolisme pada bayi lebih tinggi. hipoplasi pulmonal. hiperkapnia. saturasi oksigen dan perfusi darah ke jaringan.(5) 2.8 pada menit ke 10. Maka untuk mencegah terjadinya hal tersebut perlu segera dilakukan bantuan ventilasi. Konsumsi oksigen pada bayi 6-8 ml/kg per menit dibandingkan dengan 3-4 ml/kg per menit pada orang dewasa.2. hipoksemia lebih cepat terjadi pada anak. Beberapa keadaan yang dihubungkan dengan terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir. The American Academy of Pediatrics dan The American College of Obstetricians and Gynecologists menyatakan bahwaneonatus yang mengalami asfiksia berat saat lahir. malformasi kistik paru dan lain-lain. ketidaksesuaian ventilasi dan perfusi dengan akibat pirau aliran darah paru sehingga terjadi hipoksemia. pneumonia neonatal. Asfiksia pada masa perinatal akan menyebabkan terjadinya penurunan kadar oksigen. pulmonary air leak. sindrom aspirasi mekonium. paCO2 naik dari 45 mmHg 9 . pH darah turun dari 7. antara lain respiratory distress syndrome (RDS). fistula bronkopleural. CO2. akan berlanjut menjadi ensefalopati hipoksik. gangguan pertukaran oksigen. sehingga menimbulkan iskemia pada organ yang sensitif terhadap penurunan oksigen. melalui beberapa mekanisme yaitu penurunan compliance komplians paru dan atau peningkatan tahanan udara yang akan meningkatkan usaha napas dan kebutuhan oksigen. hernia diafragmatika. Asfiksia adalah suatu keadaan dengan karakteristik hipoksia yang progresif. Pada keadaan asfiksia berat terjadi perubahan yang sangat dramatis.

(5) 2. Resusitasi neonatus adalah usaha untuk mengakhiri asfiksia dengan memberikan oksigenasi yang adekuat.3 Penilaian Asfiksia Resusitasi adalah usaha dalam memberikan ventilasi yang adekuat. Bayi harus dikeringkan. Penilaiannya meliputi 3 karakteristik yaitu : . Hipoksia dapat terjadi secara terus menerus atau intermiten. menjadi 150 mmHg.(7) Bayi-bayi yang tidak memerlukan resusitasi dapat dinilai dengan mudah dan cepat. Tujuan resusitasi pada neonatus adalah membuat bayi baru lahir stabil dalam waktu selambat-lambatnya 1 jam sesudah lahir. dan ditutupi 10 . maka bayi tidak memerlukan resusitasi dan tidak perlu dipisahkan dari ibunya.2. Apakah tonus otot bayi baik? Jika semua pertanyaan diatas jawabannya adalah ”iya”. sehingga akhirnya terjadi depresi otak yang hebat. Resusitasi pada bayi baru lahir adalah prosedur yang diaplikasikan pada BBL yang tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir. Sedangkan neonatus adalah bayi baru lahir sampai usia 28 hari setelah kelahiran. diletakkan salling bersentuhan dengan ibunya. jantung dan alat-alat vital lainnya. Neonatus dini adalah bayi baru lahir (0 hari) sampai 7 hari setelah lahir. dan neonatus lanjut adalah bayi berusia 8 hari-28 hari setelah lahir. Resusitasi neonatus adalah serangkaian intervensi saat kelahiran untuk mengadakan usaha nafas dan sirkulasi yang adekuat. asam laktat sebagai refleksi metabolisme anaerob dan penumpukan asam akan sangat meningkat. paO2 turun. Apakah bayi lahir aterm? . Apakah bayi menangis atau bernafas? . pemberian oksigen dan curah jantung yang cukup untuk menyalurkan oksigen kepada otak. Kelangsungan hidup neonatus akan menurun secara bermakna sesuai dengan konsentrasi oksigen dan lamanya hipoksia.

mencakup bag-mask atau bag-tube ventilation 3.dengan kain linen untuk menjaga temperatur. yaitu: 1. aktifitas. Kompresi dada 4. Pemberian cairan atau obat-obatan. Ventilasi. mencakup penilaian secara cepat dan stabilisasi awal 2. maka bayi memerlukan resusitasi yang dibagi menjadi 4 kategori. Selanjutnya tetap observasi pernafasan. Langkah dasar.(8) 11 . dan warna kulit bayi.(8) Jika ada dari pertanyaan diatas yang jawabannya adalah ”tidak”.

Algoritma Resusitasi Neonatus 2016.(6) 12 .2.4 Prosedur resusitasi Gambar 1.2.

Jika tidak ada mekonium.10 13 . Kemudian jalan nafas harus dibersihkan. Sebaiknya dilakukan suction terhadap mulut lebih dahulu sebelum suction pada hidung. selain diletakkan di bawah radiant warmer. 2. Selain itu. sebaiknya bayi tersebut dibungkus dengan plastik.Langkah Awal Resusitasi Langkah awal untuk memulai resusitasi meliputi mengurangi pengeluaran panas. Memposisikan Kepala dan Membersihkan Jalan Nafas Setelah diletakkan di bawah radiant warmer. Hal ini dapat dilakukan dengan meletakkan neonatus di bawah radiant warmer. Untuk itu. untuk memastikan tidak terdapat sesuatu di dalam rongga mulut yang dapat menyebabkan aspirasi. Bayi yang dengan berat kurang dari 1500 gram. jalan nafas dapat dibersihkan dengan hanya menyeka hidung dan mulut dengan handuk. Menghangatkan Termoregulasi merupakan aspek penting dari langkah awal resusitasi.(9) Gambar 2 Sniffing Position. dan memberikan rangsangan. membersihkan jalan nafas. perlu dihindari tindakan suction yang terlalu kuat dan dalam karena dapat menyebabkan terjadinya refleks vagal yang menyebabkan bradikardi dan apneu. atau dapat dilakukan suction dengan menggunakan bulb syringe atau suction catheter jika diperlukan. mempunyai risiko tinggi terjadinya hipotermi. bayi sebaiknya diposisikan terlentang dengan sedikit ekstensi pada leher pada posisi sniffing position.(9) 1. memposisikan kepala pada sniffing position untuk membuka jalan nafas.

tonus otot yang melemah. dan laju nadi kurang dari 100 kali per menit. Langkah ini diulangi hingga keberadaan mekonium sangat minimal.(7) Gambar 3. Jika usaha nafas bayi masih belum baik. yang ditandai dengan laju nadi lebih dari 100 kali per menit. bayi dikeringkan untuk mencegah terjadinya kehilangan panas. dilanjutkan dengan memasukkan endotracheal tube. Hal ini dapat dilakukan dengan laringoskopi langsung dan memasukan kateter penghisap ukuran 12 French (F) atau 14 F untuk membersihkan mulut dan faring posterior. Jika terdapat mekonium tetapi bayinya bugar. 14 . Mengeringkan dan Memberi Rangsangan Ketika jalan nafas sudah dibersihkan.(11) 3. Oleh karena itu. Pneumonia aspirasi yang berat merupakan hasil dari aspirasi mekonium saat proses persalinan atau saat dilakukan resusitasi. lakukan suction pada mulut dan hidung dengan bulb syringe (balon penghisap) atau kateter penghisap besar jika diperlukan. kemudian dilakukan suction. kemudian diposisikan kembali. jika bayi menunjukan usaha nafas yang buruk. perlu dilakukan suction langsung pada trachea dan harus dilakukan secepatnya setelah lahir. dapat diberikan rangsang taktil dengan memberikan tepukan secara lembut atau menyentil telapak kaki. Balon Penghisap dan Kateter Penghisap. atau dapat juga dilakukan dengan menggosok-gosok tubuh dan ekstremitas bayi. usaha nafas dan tonus otot yang baik.

segera lakukan ventilasi tekanan positif. Standar oksigen yang digunakan dalam resusitasi neonatus yaitu oksigen 100%. Di dalam resusitasi neonatus. rangsangan saja tidak akan menimbulkan kembali usaha pernapasan bayi baru lahir. Walaupun demikian bila kekurangan oksigen terus berlangsung. laju nadi lebih dari 100 kali per menit. Setelah periode awal pernapasan yang cepat maka periode selanjutnya disebut apnu primer. bayi akan melakukan beberapa usaha bernapas megap – megap dan kemudian masuk ke dalam periode apnu sekunder.(9) 4. Jika laju nadi kurang dari 100 kali per menit.(9) 15 . pemberian ventilasi yang adekuat merupakan langkah yang paling penting dan paling efektif. Rangsangan seperti mengeringkan atau menepuk telapak kaki akan menimbulkan pernapasan. Pemberian oksigen diperlukan apabila neonatus dapat bernafas. tetapi masih terjadi sianosis sentral. tekanan darah akan tetap bertahan sampai dimulainya apnu sekunder. Laju Nadi. dan Warna Kulit Langkah terakhir dari langkah awal resusitasi. Selama masa apnu sekunder. Evaluasi Pernafasan. Namun pada penelitian menunjukkan resusitasi menggunakan oksigen 21% ( udara ruangan) tampaknya potensial sebagai strategi untuk menurunkan mortalitas neonatus bahkan pada neonatus preterm. Frekuensi jantung akan mulai menurun pada saat bayi mengalami apnu primer . Penelitian laboratorium menunjukkan bahwa pernapasan adalah tanda vital pertama yang berhenti ketika bayi baru lahir kekurangan oksigen. Pergerakan dada harus baik dan tidak ada megap megap (gasping). warna kulit dapat dilakukan dengan memperhatikan bibir dan batang tubuh bayi untuk menilai ada tidaknya sianosis sentral sedangkan Sianosis perifer (akrosianosis) merupakan hal yang normal pada neonatus. Bantuan pernapasan dengan ventilasi tekanan positif harus diberikan untuk mengatasi masalah akibat kekurangan oksigen.

5 Ventilasi Tekanan Positif (VTP) Indikasi Setelah dilakukan langkah awal resusitasi.2. dan/atau frekuensi jantung kurang dari 100x/menit. VTP harus dimulai bila bayi tetap apnu setelah stimulasi atau pernafasan tidak adekuat. Peralatan  Gambar 4.2. alat yang akan dipakai untuk VTP dipasang dan 16 . Bila bayi bernafas tidak adekuat dan frekuensi jantung memadai tetapi sinaosis sentral. bayi diberi oksigen aliran bebas. Bila setelah ini bayi tetap sianosis dapat dilakukan VTP. pada saat persiapan alat resusitasi. Balon mengembang sendiri (self inflating bag)  Gambar 5. Balon tidak mengembang sendiri (flow inflatting bag)  T-piece resuscitation Cara melakukan VTP  Sebelum persalinan berlangsung.

Gambar 6.  Operator berdiri disisi kepala atau disamping bayi. Bila frekuensi jantung >60x/menit. mulut.  Bila frekuensi jantung <60x/menit. dan dagu. Sungkup diletakan di wajah bayi dengan lekatan yang baik. pastikan bahwa alat dan sungkup berfungsi dengan baik. 17 . Siapkan sungkup dengan ukuran yang sesuai berdasarkan antisipasi ukuran/berat bayi. resusitasi dilanjutkan dengan kompresi dada dan VTP tetap dilanjutkan secara terkoordinasi. dilakukan pemeriksaan frekuensi jantung. Ukuran sungkup yang tepat ialah yang dapat menutupi hidung.  Dilakukan pemompaan pada balon resusitasi dengan tekanan awal > 30 cmH2O dan selanjutnya 15-20 cmH2O dengan frekuensi 40- 60x/menit  VTP dilakukan selama 30 detik sebanyak 20-30x dengan fase ekspirasi lebih lama dari fase inspirasi. dirangkai serta dihubungkan dengan oksigen sehingga dapat memberikan kadar sampai 90-100%. hentikan kompresi dada dan VTP dilanjutkan sampai frekuensi jantung mencapai 100x/menit atau lebih dan bayi bernafas spontan.  Setelah 30 detik ventilasi. Sungkup  Setelah alat dipilih dan dipasang.

Bila tidak atau sedikit saja gerakan dada maka teknik ventilasi harus diperbaiki dengan cara: . suction . Kompresi dada dilakukan pada sternum 1/3 bawah.(3) 2. Dalamnya kompresi dada kurang lebih sepertiga dari diameter anterior-posterior dada. Memperbaiki lekatan sungkup wajah . Usahakan mulut sedikit terbuka . denyut jantung < 60 kali/menit atau antara 60-80 kali/menit dan tidak meningkat setelah pemberian positive pressure ventilation dengan FiO2 100%. Tehnik dengan dua jari tangan kanan(the two finger technique) yang diletakkan di dada dengan tangan lainnya menyokong punggung. Beberapa data menunjukkan bahwa the two thumb-encircling hands technique memiliki beberapa keuntungan dalam mencapai puncak tekanan sistolik dan tekanan perfusi koroner. The pediatric basic live support guidelines merekomendasikan dalamnya 18 .2.6 Kompresi dada Indikasi dilakukannya kompresi dada yaitu apabila setelah 15-30 detik. Tedapat 2 tehnik dari kompresi dada yaitu: 1. Bila ventilasi tidak adekuat yang ditandai dengan tidak terjadinya perbaikan frekuensi jantung. Memperbaiki posisi kepala . Bila tekanan kurang. niakkan tekanan saat meremas balon. Bila terdapat sekret dalam jalan nafas. 2. Menggunakan 2 ibu jari yang diletakkan pada sternum (sejajar dengan 1 jari dibawah puting susu) dengan jari-jari tangan lainnya melingkari dada (the two thumb-encircling hands technique). periksa gerakan dada. sehingga lebih dipilih dibandingkan dengan the two finger technique.

tetapi kompresi ini harus dapat untuk membuat denyut nadi yang teraba secara adekuat. kompresi dada kurang lebih 1/3 -½ dari diameter anterior posterior dada. namun direkomendasikan untuk melakukan kompresi dada sekitar sepertiga dari dalamnya dada. 2. Setelah hal ini telah dipastikan dan frekuensi jantung tetap dibawah 60x/menit 19 . walaupun telah mendapatkan VTP dan kompresi dada yang adekuat dengan oksigen 100%. Tidak ada data yang spesifik mengenai dalamnya kompresi dada yang ideal.(8) Gambar 7. Kompresi Dada. Perbandingan antara kompresi dada dengan ventilasi adalah 3:1. Kompresi dada dihentikan apabila denyut jantung terjadi secara spontan lebih dari 80 kali/menit. yaitu dengan melakukan 90 kali kompresi dan 30 kali ventilasi dalam satu menit.7 Obat-Obat Resusitasi Obat-obatan jarang diindikasikan pada resusitasi bayi baru lahir. Obat- obatan diberikan apabila denyut jantung < 60 kali/menit.2. Denyut jantung harus dievaluasi secara periodik yaitu setiap 30 detik.

Waktu yang digunakan untuk pemberian epinefrin lebih baik digunkan untuk ventilasi dan oksigenasi yang efektif . 2. Akses intraoseus. Hanya epinefrin 3. Jangan memberikan dosis lebih tinggi dari 0. Dosis epinefrin adalah 0. Vena perifer.01-0. Jarang digunakan Obat yang digunakan 1.03 mg/kgBB larutan 1:10.Cara pemberian 1.3-1mL/kgBB atau setara dengan 0. Vena umbilikal. 5. pertimbangkan dosis yang lebih besar (0. karena: . nalokson. Bila diputuskan pemberian melalui pipa ET sementara jalur vena sedang dipersiapkan. Pemakaian dapat diulang setiap 3-5 menit. Pipa ET. Pemberian epinefrin diindikasikan apabila denyut jantung < 60 kali/menit setelah ventilasi yang adekuat dan kompresi dada selama 30 detik. Epinefrin tidak diberikan sebelum ventilasi yang adeuat. sehingga bila kekurangan oksigen akan mengakibatkan kerusakan otot jantung.03-0.(3) 20 .3mL/kg bila diberikan IV. Epinefrin Adalah obat pemicu jantung yang meningkatkan kekuatan dan kontraksi otot jantung dan mengakibatkan vasokonstriksi perifer. perkiraan berat lahir.000. Epinefrin akan meningkatkan beban dan konsumsi oksigen otot jantung. Intamuskular. 4. Cara tercepat untu memberikan cairan dan dapat digunakan untuk epinefrin. dan/atau natrium bikarbonas.1-0. sehingga akan mengakibatkan meningkatnya aliran darah melalui arteri koronaria dan aliran darah ke otak.1mg/kgBB).

Nalokson Diindikasikan bila bayi tetap mengalami depresi nafas setelah frekuensi jantung dan warna kulit sudah normal dan ibu yang mendapat narkotik dalam 4 jam sebelum melahirkan. Natrium bikarbonat Natrium bikarbonat diberikan pada keadaan asidosis metabolik yang persisten ataupun hiperkalemia.(3) 2. Bila bayi menunjukan perbaikan yang minimal setelah pemberian dosis pertama.dosis yang diberikan yaitu 1-2 mEq/kg dari solution 0.(3) 4. Capilary refil time melambat dan nadi lemah. Dosis yang direkomendasikan yaitu 0. RL. 2. Cairan yang dianjurkan adalah kristaloid isotonik (larutan garam fisiologis.8 Intubasi Endotrakeal Indikasi  Untuk mengisap mekonium dalam trakea bila didapatkan ada mekonium dalam air ketuban dan bayi tidak bugar.1 mg/kg diberikan secara IV atau IM. atau darah O-negatif) Dosis awal adalah 10 mL/kg yang diberikan secar perlahan melalui jalur intravena selama 5-10 menit. Harus dimonitor ketat dalam beberapa jam. dapat diberikandosis tambahan 10mL/kg. 21 .2. ada bukti kehilangan darah dan respon resusitasi baik. ditandai dengan pucat. Cairan penambah volume darah (plasma expander) Bila bayi terlihat pucat.5 mEq/mL yang diberikan melalui jalur intravena secara perlahan (minimal dalm 2 menit) setelah ventilasi dan perfusi adekuat. Bayi akan mengalami syok. harus dipikirkan kemungkinan kehilangan cairan.(3) 3.

3. trauma pada palatum dan stenosis subglotis. udema larings.1 Definisi Bantuan ventilasi didefinisikan sebagai usaha untuk memindahkan udara ke dalam dan ke luar paru dengan menggunakan suatu alat yang dihubungkan langsung kepada pasien. posisi pipa tidak tepat.(3) Komplikasi dari intubasi endotrakeal adalah perforasi trakea. Pada neonatus.  Untuk memberikan obat epinefrin bila diperlukan untuk merangsang jantung sambil menunggu akses intravena  Kelainan bawaan bedah. perforasi esofagus. Berat Umur kehamilan Ukuran pipa Dalamnya insersi (gram) (minggu) dari bibir atas (diameter mm) <1000 <28 minggu 2.0/3.5-7 1000-2000 28-34 3. Prosedur tatalaksana pemaikaian ventilator pada neonatus 2.5/4. resuscitation bag atau ventilator.5 8-9 >3000 >38 3. ukuran dan panjang pipa endotrakeal.0 7-8 2000-3000 34-38 3. 2. bantuan ventilasi biasanya diberikan sementara untuk membantu fungsi paru sampai pasien dapat bernapas secara adekuat tanpa pertolongan. obstruksi atau penekukan pipa. untuk ventilasi dan pemberian surfaktan. serta untuk memaksimalkan efisiensi pada setiap ventilasi. misal hernia diafragmatika  Bayi sangat kurang bulan.0 >9 Tabel 3. Peralatan yang digunakan dapat bermacam-macam bentuknya.3.  Untuk meningkatkan efektivitas ventilasi bila setelah beberapa menit melakukan ventilasi balon dan sungkup tidak efektif  Untuk membantu koordinasi kompresi dada dan ventilasi. Bantuan ventilasi ini akan memperbaiki ventilasi 22 .5 6.

Compliance pada bayi berkisar antara 3-5 ml/cmH2O/kg. hipoplasia paru.(5) 2. Compliance yang rendah dijumpai pada pasien dengan paru yang kaku.(4) 23 .3 Prinsip dasar ventilasi mekanik Ventilasi yang adekuat sangat dipengaruhi oleh compliance dan resistensi. atelektasis paru. Compliance Compliance mengukur elastisitas atau distensibilitas dari sistem respirasi (paru dan dinding dada) dan menggambarkan perubahan volume oleh karena perubahan tekanan. dengan pH < 7. oksigenasi yang adekuat serta menurunkan kerja pernapasan. atau bayi memerlukan bantuan VTP dalam jangka panjang (lebih 1 jam) 2. 1. alveolar. Hasil analisa gas darah menunjukkan keadaan hipoksia dan asidosis berat yang ditandai dengan kadar PaO2 <50mmHg.3. Gejala klinis: bayi apnu atau gagal nafas berat yang tidak berhasil ditangani dengan Ventilasi Tekanan Postif (VTP). PaCO2 meningkat > 60 mmHg. misalnya pada RDS. pembuangan CO2. sedangkan pada BKB dengan Respiratory Distress Syndrome antara 0. Kebutuhan oksigen (FiO2) >60% 3. Keputusan untuk mulai menggunakan ventilator mekanik (VM) harus berbeda secara individual dari kasus ke kasus dan didasarkan pada gejala klinis dan hasil analisa gas darah. dan pneumothorax.25 dan secara klinis terdapat perburukan.2 Indikasi Indikasi ventilasi mekanik dijumpai pada keadaan dibawah ini: 1.3.(4) 2. edema paru.1-1 ml/cmH2O/kg. Bayi dengan usia kehamilan <25 minggu 4.

cabang dan karakteristik permukaan) dan tipe dari flow (laminar atau turbulen). 𝑃𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑣𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 (𝑚𝑙) 𝐶𝑜𝑚𝑝𝑙𝑖𝑎𝑛𝑐𝑒 = Perubahan tekanan (cmH2O) 2. Bayi dengan RDS. Resistensi ditentukan oleh sifat dari saluran nafas (panjang. resistensi berkisar antata 25-50 cmH2O/L/detik. Time constant adalah compliance dikalikan resistensi. Faktor yang mempengaruhi Resistensi. Bila time constant 0.(4) 𝛥 𝑃𝑟𝑒𝑠𝑠𝑢𝑟𝑒 𝑅𝑒𝑠𝑖𝑠𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 = Δ Flow Fisiologi Mekanik  Saluran nafas yang kecil  Flow sensor  Spasme bronkus  Ukuran ETT  PIE  Flow  Benda asing / obstruksi  Air di tubing  Sekresi yang berlebihan  Katup ekspirasi dari ventilator  Trakeo bronkial malasia Tabel 4. resistensi tidak terlalu berubah tetapi dapat mencapai 100 cmH2O/L/detik pada permukaan pipa endotrakeal (pipa ET) yang kecil. Resistensi Resistensi adalah tekanan yang dibutuhkan untuk mengalirkan gas melalui saluran nafass ke alveoli. Bayi dengan paru normal. Time constant Time constant adalah waktu (dalam detik) yang dibutuhkan oleh tekanan (volume) alveolar untuk mencapai 63% perubahan tekanan udara. Waktu inspirasi dan ekspirasi komplit yang dibutuhkan sebanyak 3- 5kali time constant.080 detik maka waktu 24 . Kalkulasi dari compliance tidak dikoreksi berdasarkan berat badan. diameter.(4) 3. Resistensi menggambarkan tekanan dibagi dengan aliran gas.

Bila waktu inspirasi terlalu pemdek (kurang dari 3-5kali time constant) akan mengakibatkan hipekapnia dan hipoksemia. 2. Ventilator menginduksi kerusakan paru dengan barotrauma (tekanan yang tinggi). 3.4 detik.(4) 2.3. gangguan hemodinamik dan efek samping lain seperti kerusakan saraf. volutrauma (volume yang besar). dan fibrosis paru). Time constant pendek pada RDS dan memanjang pada compliance tinggi (bayi besar yang parunya normal) atau pada resistensi tinggi (misalnya pada chronic lung disease).4 Tujuan Ventilasi Mekanik 1. Mengoptimalkan rasa nyaman pada pasien. Bila waktu ekspirasi terlalu pendek (kurang dari 3-5kali time constant) akan terjadi gas trappimg sehingga mengakibatkan hiperkapnia dan menurunnya cardiac output. inflamasi. atelektrauma dan biotrauma (meningkatnya inflamasi). Mencapai oksigen arteri dan kadar karbondioksida (CO2) yang normal.(4) 25 . yang inspirasi dan ekspirasi berkisar antara 0. Pertukaran gas pada ventilasi mekanik dipertahankan dengan meminumkan kerusakan paru (kerusakan alveolar. Meminimalkan usaha nafas yang berat. edema.24-0.(4) Gambar 8. Time Constant.

0 – 6. Peak inspiratory pressure (PIP) Peningkatan PIP akan menurunkan PaCO2 dan meningkatkan MAP. Peningkatan PEEP meningkatkan Mean Airway pressure (MAP) sehingga meningkatkan PaO2. level PEEP yang dipakai biasanya 5-7 cmH2O. Tidal volume PaCO2 berhubungan dengan tidal volume dan ventilator rate.0ml/kg. sedangkan PEEP < 3 cmH2O pada BKB dapat menyebabkan ateletaksis. Tidal volume berkisar antara 3. Pengaturan awal tidal volume 4. tidal volume. Bila memakai PIP > 30 cmH2O. PEEP yang optimal mencegah kolaps alveolar dan tidak menyebabkan overdistensi. PIP ditingkatkan bila paru tidak mengembang dan diturunkan bila paru overventilasi yaitu bila kadar PaCO2 rendah (< 45 mmHg) dan/atau tidal volume tinggi (>5ml/kg).2. PEEP yang tinggi dapat menyebabkan overdistensi sehingga menurunkan compliance paru. Semakin tinggi tidal volume semakin rendah CO2 atau sebaliknya. Penurunan PEEP pada bayi yang paru nya sangat kaku akan menurunan PaO2. PIP yang terlalu tinggi meyebabkan barotrauma dan penurunan curah jantung.5 Pedoman dalam pengaturan parameter ventilator 1. Tekanan ini sangat penting pada bayi yang mengalami ateletaksis.(4) 3.(4) 2. sehingga meningkatkan PaO2. pengeluaran CO2 dan curah jantung serta meningkatkan PaCO2. perlu dipertimbangkan untuk pemakaian high frequency oscillation. PEEP meningkatkan Functional Residual Capacity (FRC) sehingga memperbaiki ratio ventilasi perfusi.3. Positive end expiratory pressure (PEEP) PEEP adalah tekanan yang mendukung paru pada akhir ekspirasi.5ml/kg dan dapat di tingkatkan atau diturunkan sebanyak 26 .

5ml/kg.(4) 6. tergantung kadar PaCO2 sebanyak 0. HMD yang perbaikan. O2 sangat toxic pada paru khususnya FiO2 >70%. Peningkatan rate akan meningkatkan minute volume dan menurunkan PaCO2.4 detik dapat menyebabkan air trapping. waktu inspirasi. Pressure gradient (dp = PIP – PEEP) menentukan tidal volume pada ventilator tekanan. Pada neonatus. Harus berkisar antara 3-4x time constant. Bila waktu inspirasi lama. Bila parunya tidak kaku (misalnya BPD. paru normal. Flow rate Flow yang cukup dibutuhkan untuk menghasilkan PIP dan gelombang ventilator normal. 0. bantuan pernafasan dengan tekanan lebih banyak dipakai daripada bantuan volume.3 detik sehingga dapat diventilasi dengan rate 90x/menit. Nila TI atau TE.(4) 5. Bila menggunakan FiO2 yang tinggi coba untuk meninggikan MAP terlebih dahulu dengan meningkatkan PEEP.(4) 4. biasanya <0.7 dapat berbahaya. Flow 6-10 liter/menit cukup unyuk 27 .2 atau >0.5ml/kg. TE <0. PIP dan Flow rate serta menurunkan waktu ekspirasi baru meninggikan O2. nilai <0. BKB dengan paru yang kaku mempunyai TE pendek. Waktu inspirasi BKB yang bernafas spontan dengan RDS adalah 0.5 detik. Fraction insipred oxygen (FiO2) Kebutuhan O2 bayi tergantung dari PaO2 atau SpO2. tergantung kadar PaCO2.3 detik. aspirasi mekonium). Pada BKB kadar PaO2 yang ingin dicapai antara 50-80 mmHg dan kadar SpO2 antara 88-92%.3-0. Time inspiration (TI) dan Time expiration (TE) Nilai normal TI 0. bayi akan ekspirasi melawan inflasi ventilator sehingga dapat terjadi pneumothorax.

Efek dari CPAP adalah meningkatkan volume paru dan compliance. Nasal CPAP (Nasal continuos airway pressure) Nasal CPAP adalah gas yang diberikan dengan tekanan rendah melalui hidung. setelah ekstubasi. B. Indikasi pemakaian CPAP adalah segera setelah lahir pada BKB dengan gangguan pernafasan.6 Modus Ventilasi A. menurukan ateletaksis. rata-rata neonatus. CPAP endotrakeal dapat meningkatkan work of breathing dan bayi akan lelah. dan bradikardi berulang.(4) 2. apnu. dan reintubasi sesudah ekstubasi. bayi dengan RDS. PaCO2 > 60mmHg dan FiO2 > 60%. Nasal IMV(Inflasi melalui CPAP nasal) 28 . resistensi. CPAP gagal pada apnu yang membutuhkan ventilasi tekanan postif.3. insiden apnu. edema pari. conserve surfactant. mengatur pernafasan lebih teratur. CPAP endotrakeal digunakan untuk periode yang singkat untuk melihat apakah bayi bernafas baik dan siap di ekstubasi.(4) Pengaturan CPAP  Binasal prongs atau pipa ET dapat digunakan untuk CPAP  Setting PEEP: 4-10cmH2O tergantung dari beratnya gangguan respirasi  mulai dengan PEEP 6 cmH2O  PEEP tinggi (8 cmH2O) digunakan pada bayi prematur yang mengalami kesulitan pernafasan saat lahi dan pada bayi yang retraksi atau membutuhkan FiO2 > 40%  PEEP rendah (5 cmH2O) digunakan pada apnoe of prematurity. Flow yang tinggu akan memperbaiki oksigenasi.

Pada modus IMV. IMV digunakan bila ventilator tidak mempunyai modus trigger danbanyak digunakan untuk ventilator transport.(4) D. Setting nasal IMV menggunakan rate 20x/menit. Nasal IMV digunakan bila CPAP gagal dan intubasi tidak diinginkan. Rate ventilator dan bayidapat disesuaikan dengan menggunakan rate >60x/menit. IMV (Intermitten mandatory ventilation) Pada modus ini pasien diventilasi sesuai dengan settimg pada ventilator.2ml) dan mentrigger inflasi. PIP 20 cmH2O.3+0. Keterlambatan daro onset bayi mulai bernafas dan ventilator mulai melakukan inflasi kira-kira + 35msec. Hal ini dapat menyebabkan pneumothorax dan perdarahan intraventikular. TI dan TE dikontrol. Modus ini sebaiknya tidak dapat dipakai karena bayi akan bernafas tidak sesuai dengan ventilator.(4) C.(4) Ventilasi trigger Trigger adalah: memasang setting ventilator sehingga dapat memicu inspirasi bayi Pada ventilator modern umumnya menggunakan trigger flow/volume dari sensor flow pada wye piece. Nasal SIMV dapat digunakan pada saat pasca ekstubasi untuk mencegah kegagalan ekstubasi. PEEP tergantung kondisi bayi dan flow harus cukup untuk mencapai PIP. PIP dan PEEP diset dan dibatasi serra rate.7=1detik= rate 60xmenit) 29 . SIMV (Syncronised intermitent mandatory ventilation) Ventilator memberikan inflasi sesuai dengan inspirasi bayi pada rate yang di set jumlah dari TI dan TE adalah interval ventilator (TI+TE. Ventilator mendeteksi volume inspirasi bayi (minimal 0. Bayi tidak mentrigger inflasi. misalnya 0.

sesuai dengan pernafasan bayi. bayi 60x/menit maka rate bayi yang tidak disupport ventilator (bernafas dengan ET CPAP) sebanyak 60-40=20x/menit. Modus SIMV terdiri dari SIMV dengan pressure control. Seluruh pernafasan bayi dapat mentrigger ventilator untuk memberikan inflasi bila di atas trigger threshold (0. Misalnya rate ventilator 40x/menit. SIMV sebaiknya tidak digunakan pada bayi yang memerlukan ventilasi maksimal. SIMV dengan volume control.(4) E. set rate ventilator 60x/menit maka ventilator akan memberikan inflasi 100x/menit. Bayi dapat mentrigger inflasi melebihi dari rate yang diset. ventilator memberikan inflasi sesuai dengan rate yang diset.2ml). Assist Control (AC) AC disebut juga dengan SIPPV (Syncronized Intermittent Positive Pressure ventilation). SIMV dapat diweaning dengan mengurangi rate ventilator. Bila bayi bernafas spontan ekstra (bayi bernafas melebihi dari rate ventilator) maka bayi bernafas dengan CPAP ET. Inspirasi spontan pertama dapat mentrigger ventilator untuk memberikan inflasi selama TI. dan SIMV dengan volume guarantee. maka ventilator melakukan inflasi sama dengan rate yang diset. Modus ini merupakan cara yang utama dipakai sampai bayi diweaning. sebaiknya jangan digunakan karena bayi bernafas terutama dengan CPAP ET. Modus AC terdiri dari AC dengan pressure 30 . Bila bayi tidak bernafas maka ventilator akan memberikan inflasi bayi sebanyak 60x/menit. Misalnya bayi bernafas 100x/menit. Bila bayi tidak bernafas. SIMV dengan rate <30x/menit. Pengurangan rate tidak mengurangi inflasi kecuali bayinya apnu. Bila bayi tidak bernafas atau mentrigger ventilator. Pada modus ini ventilator dapat diweaning dengan menurunkan pressure (tekanan).

Volume guarantee ventilation (VG) Tujuan modus ini untuk memastikan ventilator memberikan tidal volume ekspirasi yang sesuai sehingga paru tidak terlalu overdistensi yang dapat menyebabkan barotrauma. Bila set PIP tidak cukup untuk mencapai set tidal volume ventilator akan menunjukkan alarm dengan “low tidal volume”. atau tidal volume tidak terlalu rendah yang dapat menyebabkan under ventilation. VG dapat digunakan pada modus trigger SIMV. Bila volume inspirasi menempati >130% dari set tidal volume maka inflasi ventilator distop. Bila tidal volume lebih tinggi dari tidal volume yang diset oleh karena bayi bernafas atau parunya perbaikan maka PIP akan menurun sampai tidal volume yang diset tercapai. menurunkan insiden BPD. Bila tidal volume lebih rendah dari tidal volume yang diset oleh karena bayi berhenti bernafas atau paru perburukan maka PIP akan meningkat sampai tidal volume yang diset tercapai. AC dengan volume control dan AC dengan volume guarantee. menurunkan perdarahan intrakranial dan menurunkan insiden pneumothorax. Modus ini cukup stabil digunakan karena dapat menggunakan set PIP yang lebih rendah untuk mecapai set tidal volume yang diinginkan. Dan penelitian metaanalisis keuntungan AC atau SIMV adalah berkurangnya lama pemakaian ventilator. Trigger inflasi menetapkan PIP dengan menggunakan tidal volume ekspirasi dari trigger inflasi sebelumnya. Tidal volume ekspirasi diset dengan 3-6ml/kg.(4) F. A/CM dan PSV.(4) 31 . control. Ventilator merubah PIP dari satu inflasi ke inflasi lain tidak lebih dari 3 cmH2O. Maximum PIP dapat dibatasi dengan set PIP.

Lakukan penyesuaian ventilator selanjutnya Langkah penyesuaian setting ventilator Langkah penyesuaian setting ventilator setelah ada hasil analisis gas darah: 1. Oksigenasi a. 32 . pengembangan dada. TI = 0. Mulai dengan modus AC a. evaluasi tiap 1 menit sampai sianosis hilang 5. Bila oksigenasi buruk. PIP 12-16 cmH2O. PaO2 >80mmHg  Turunkan FiO2 sebanyak 3-5% sampai FiO2 < 40% kemudian turunkan PEEP bertahap 1 cmH2O tiap 3-4 jam  FiO2 dan PEEP secara bergantian dapat diturunkan. Bila ventilasi tidak adekuat naikkan PIP 1 cmH2O sampai suara nafas dikedua lapangan paru terdengar adekuat dengan stetoskop 4.3-0.7 Pedoman umum pengaturan awal ventilasi BBL Pedoman umum penngaturan awal ventilasi BBL dapat dilakukan dengan cara: 1.3 detik (0.2.3. perfusi dan suara nafas. FiO2 > 50% b. 3. PaCO2 50-80mmHg  Pertahankan parameter ventilator  Analisis gas darah 1-2 jam kemudian c. I : E = 1 : 1 sampai 1: 2 2.5detik) d. Rate 40-60x/menit c. naikkan FiO2 5%. Pantau: sianosis. Lakukan analisis gas darah 6. PaO2 < 50 mmHg  Tingkatkan FiO2 atau PEEP  Pertimbangkan surfactant bila diduga ada RDS b.

PaCO2 > 50 mmHg  Tingkatkan PIP  Ulangi AGD dalam 30 menit b.05-0. PaCO2 35-45mmHg  Turunkan PIP 1cmH2O secara bertahap  Bila PIP 16 cmH2O. PaCO2 <30mmHg  Turunkan PIP 2cmH2O  Ulangi AGD 20-30menit kemudian Setting untuk ventilator volume Dapat diatur dengan cara: 1. Atur flow agar TI 0. PaCO2 50-80mmHg  Pertahankan  Ulangi AGD 1-2jam kemudian c. Ventilasi a.25-0.4.4 detik 3. rubah ke mode SIMV dan lanjutkan weaning d. Target gas darah: pH 7. Atur volume tidal 4-6ml/kg 2. PaO2 50- 80mmHg Setting untuk ventilator volume 1.2. yaitu 0. paCO2 45-60mmHg.1detik  Sangat rentan untuk terjadinya brochopulmonary dysplasia 33 . Respiratory Distress Syndrome Dijumpai keadaan sebagai berikut:  Surfaktan belum cukup dengan akibat compliance menurun dan FRC menurun  Time constant sangat pendek.25-7.

Strategi Target Gas Darah  Frekuensi (=60x/menit)  pH 7.35  PIP 15-20cmH2O. dapat diterapan permissive hypercapnia. Bronchopulmonary dysplasia Dapat dijumpai:  Lesi heterogen dengan gangguan pada saluran nafas.  Bila untuk mempertahankan gas darah dibutuhkan pengaturan yang membahayakan.(4) 2.  Sering disertai hipertensi pulmonal. alveolus dan pembuluh darah. jadi dibutuhkan waktu inspirasi yang lebih panjang dengan konsekuensi frekuensi nafas diperlambat.3-0. sesuaikan dengan  PaO2 50-70mmHg pengembangan dada  PaCO2 45-  PEEP sedang (4-5cmH2O) 55mmHg  TI 0.25-7.4 detik  FiO2 60-70% kemudian ↓ sampai <40%  Target saturasi 88-92% Tabel 5.  Cenderung terjadi air trapping. hipertrofi otot saluran nafas dan fibrosis parenkim sangat dominan. saturasi oksigen arteri harus dijaga 34 . Anjuran strategi pengaturan ventilator dan target gas darah yang akan dicapai. Hindarkan TI yang terlalu pendek karena dapat mengakibatkan maldistribusi O2 inspirasi dan TI yang terlalu tinggi karena dapat meningkatkan risiko ruptur alveolus. Metaplasia epitel.

Refractory apnea of prematurity Adalah Apnu pada BKB dapat berulang dan biasanya terjadi pada usia gestasi dibawah 34 minggu. Strategi Target Gas Darah  Frekuensi rendah (=20-40x/menit)  pH 7. Aspirasi mekonium Dapat dijumpai:  Obstruksi jalan nafas dengan akibat hiperinflasi  Peningkatan pulmonary vascular resistance (PVR) 35 .4 detik  PaCO2 55-70mmHg  Gunakan PIP rendah untuk mencapai VT 3- 5ml/kg  Target saturasi 88-92% Tabel 6.25-7. Anjuran strategi pengaturan ventilator dan target gas darah yang akan dicapai.25-7.(4) 4.3-0.30  PEEP sedang (5-6cmH2O)  PaO2 50-70mmHg  TI 0.(4) 3. Anjuran strategi pengaturan ventilator dan target gas darah yang akan dicapai.30  PIP minimal (13-15cmH2O)  PaO2 50-70mmHg  PEEP 4-5cmH2O  PaCO2 55+mmHg  FiO2 <25%  Target saturasi 88-92% Tabel 7. yang dapat terjadi:  Akibat pengaruh sentral atau obstruksi atau campuran  Bila persisten dan tidak responsif terhadap teofilin dapat diberi bantuan ventilator dengan PIP minimal (13- 15cmH2O) untuk mencapai pergerakan dada minimal. FiO2 diberikan serendah mungkin (<25%) Strategi Target Gas Darah  Frekuensi rendah (=10-15x/menit)  pH 7.

4-7.4 detik  PaCO2 30-40  FiO2 tinggi (0. Strategi Target Gas Darah  Frekuensi tinggi 50-70x/menit  pH 7.  Inaktifasi surfaktan dengan akibat atelektaksis.6  PIP 15-25cmH2O  PaO2 70-100  PEEP 4-5cmH2O mmHg  TI 0.8-1.5-7.  PaCO2 yang rendah (20-25mmHg) menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah cerebral dengan akibat neurologik sisa jangka panjang.7-1detik  Turunkan PEEP? 3-4 cmH2O Tabel 8.7 detik  PaCO2 40-50mmHg Bila terjadi gas trapping:  Naikan TE? 0.6.30-7. Keadaan ini dapat dihindari dengan mempertahankan PaO2 70-100mmHg dan pH 7. Anjuran strategi pengaturan ventilator dan target gas darah yang akan dicapai.25-1mEq/kg/jam Tabel 9.3-0.5-0.(4) 5. PaO2 yang rendah dapat terjadi akibat V/Q mismatch ditingkat paru atau duktus arteriosus Strategi Target Gas Darah  Frekuensi relatif cepat (=40-60x/menit)  pH 7. Anjuran strategi pengaturan ventilator dan target gas darah yang akan dicapai.40  PEEP rendah sampai sedang (3-5cmH2O)  PaO2 60-80mmHg  TE harus cukup 0. Persistent pulmonary hypertension of the newborn (PPHN) Dapat dijumpai:  Hipoksia dan asidosis meningkatkan tekanan arteri pulmonaris.(4) 36 .0) mmHg  Dapat diberikan infus natrium bikarbonat 0.

8 Weaning (menyapih) ventilator Weaning ventilator adalah usaha untuk menurunkan setting ventilator sehingga bayi dapat dilepas dari pemakaian ventilator.35-7. target mempertahankan gas darah: pH 7. FiO2 <35%.  pH 7.45.3.  PaO2 50-80  PIP 15-25cmH2O mmHg  PEEP rendah sampai menengah (4-5cmH2O)  PaCO2 35-45  FiO2 untuk mempertahankan SpO2 88-93% mmHg Tabel 10. Ventilator diweaning dari AC ke SIMV dan kemudian ke CPAP  Modus AC dirubah ke SIMV bila: PIP < 16 cmH2O.35-7. Anjuran strategi pengaturan ventilator dan target gas darah yang akan dicapai. PaCO2 35-45 mmHg  Hipo maupun hipervventilasi harus dicegah karena mempengaruhi aliran darah cerebral.  Hipoksia harus dicegah untuk mencegah gangguan kerusakan cerebral yang lebih berat  Karena sering digunakan obat antikonvulsan. ada resiko terjadi apnu.(4) 2. 6. Weaning ventilasi dapat dilakukan dengan 3 cara: Cara I. CO2 baik 37 . maka pengaturan disesuaikan kelainan primer sistem pernafasan Strategi Target Gas Darah  Frekuensi 30-45x/menit atau lebih rendah. PaO2 50-80 mmHg.45 tergantung pernafasan normal pasien. Karena itu back up rate harus dipertahankan cukup (30-44x/menit)  Bila disertai penyakit paru lain seperti PPHN atau aspirasi mekonium. Asfiksia dengan hypoxic-ishemic encephalopaty Dapat dijumpai:  Bila tidak ada kelainan paru.

bayi dapat diekstubasi ke nasal CPAP.  Cara kedua lebih memperpendek waktu Cara III. tidal volume >3. AGD dan klinis stabil. FiO2 <35%. Ventilator di weaning dari IMV ke CPAP atau langsung dengan memberikan oksigen head box. Gunakan set PEEP terakhir pada ventilator atau CPAP 7 cmH2O. Weaning ke CPAP atau head box dilakukan bila PIP < 15 cmH2O. Cara II. Bila bayi bernafas dengan baik dengan ET CPAP (RR bayi >30x/menit. bayi bernafas dengan baik dan spontan  Switch ke ET CPAP selama beberapa menit. Ventilator di weaning dari AC langsung ke CPAP tanpa melalui SIMV  AC diweaning ke ET CPAP bila PIP < 16 cmH2O. FiO2 <40%. Waktu weaning dengan ET CPAP sebaiknya beberapa menit  Bila ET CPAP bayi bernafas dengan baik. rate <20x/menit.5ml/kg. rate AC 50x/menit dan morfin distop. saturasi oksigen dan denyut jantung baik) lakukan ekstubasi dengan nasal CPAP. rate <30x/menit  Morfin distop.  Weaning dapat dilakukan setiap 4-6jam. FiO2 <40%. Weaning dari IMV ke CPAP sudah jarang dilakukan. 38 .  Set modus SIMV dengan rate 50x/menit  Turunkan rate SIMV sebesar 10xmenit sampai mencapai rate 30x/menit bila baik bernafas baik Ekstubasi dilakukan bila:  PIP < 16 cmH2O.

kontraktilitas otot dan daya tahan otot pernafasan.3x/hari. BBLR <1kg. Pemakaian rutin kortikosteroid sebelum ekstubasi sebaiknya dibatasi pada bayi yang mempunyai risiko tinggi terjadi edema dan obstruksi saluran nafas misalnya pada bayi yang mendapat intubasi berulang dan lama. kemudia ekstubasi kembali dengan pemberian dexametason (0. Obat ini meningkatkan usaha nafas sentral. Bayi sebaiknya dala posisi prone. Masalah ekstubasi 1. Bila persisten dapat diberikan NCPAP dengan PEEP 6-10cmH2O. fisioterapi. Pasca ekstubasi beri O2 dengan kelembaban yang cukup.5 kg. Stridor Stridor jarang terjadi. Penggunaan teofilin dan kafein belum rutin dilakukan oleh karena keamanan dan kemanjurannya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. dan suction tiap 3-4jam. Deksametason IV atau oral untuk mencegah kegagalan ekstubasi dan stridor pasca ekstubasi dapat diberikan dengan dosis 0. 39 . Ekstubasi dilakukan bila setting ventilator minimal. Pada BBLR <1. teofilin oral (5ml/kg/hari) atau kafein sitrat oral (5ml/kg/hari) sebaiknya diberikan 12jam sebelum ekstubasi untuk memperpendek waktu weaning. BBLR < 1.Ekstubasi Pasca ekstubasi BKB sebaiknya menggunakan NCPAP untuk mengurangi reintubasi kembali. elektrolit normal. AGD normal dan Hb >13g/dL. weaning ke NCPAP biasanya berlangsung 12-24jam.5mg/kg) selama 24 jam sebelum ekstubasi dan 24-48 jam pasca ekstubasi.5kg dan usia gestasi <32minggu. berlangsung 1-24jam pasca ekstubasi. Bila perburukan reintubasi kembali dan pertahankan setting minimal 2- 3hari.25 mg/kgkali. Dosis terkahir diberikan satu jam sebelum ekstubasi. Bayi sebaiknya puasa 6 jam sebelum dan sesudah ekstubasi untuk mencegah aspirasi. weaning dengan NCPAP dapat berlangsung beberapa minggu.

2.3. 2. 3. 40 . fungsi paru yang buruk dan neurological problem (misalnya perdarahan intrakranial).9 Komplikasi Sebagian besar komplikasi berkaitan dengan intervensi dan sering tidak dapat dipisahkan dengan kelainan iatrogenik yang dilakukan oleh petugas atau klinisi. Lobar collapse Pasca ekstubasi sering terjadi kollaps paru oleh karena sekresi cairan paru yang menyumbat bronkus. Kegagalan weaning dan ekstubasi yang berulang dapat disebabkan layngeal damage (jarang). Ini dapat diatas dengan fisioterapi dan sebaiknya dalam waktu 24jam post ekstubasi dilakukan rontgen thorax.

BAB III KESIMPULAN Penanganan BKB yang optimal akan meningkatkan angkat kesitasan/survial BKB. strategi yang akan dipakai. Sebelum mulai menggunakan ventilator pada BBLR. dan penyesuaian setting ventilator sesuai dengan AGD. BKB mempunyai sistem pernafasan imatur baik struktur maupun fungsi. 41 . Selanjutnya tentukan modus yang akan diberikan. sehingga sangat rentan terhadap komplikasi mekanik. Pengamatan penuh terhadap bayi dan perubahan klinis yang terjadi sangat diperlukan disamping hasil pemeriksaan penunjang untuk dapat segera menyapih dari ventilasi mekanik. Untuk itu pengetahuan yang optimal tentang ventilasi mekanik sangat dibutuhkan untuk mencegah komplikasi. sebaiknya mengetahui terlebih dahulu penyakit yang mendasari. Pengaturan ventilator yang optimal diperlukan untuk mencapai kadar oksigen arteri dan karbondioksida yang normal tanpa menimbulkan komplikasi. Pengaturan ventilator pada bayi termasuk BKB bersifat individual dan dapat ditatalaksana baik dengan penggunaan ventilator modern yang menggunakan triger volume dab fkiw dengan setting dan target AGD yang berbeda.

2014.126:e1400-e1413. Sholeh. 4) Kaban RK. Buku ajar neonatologi: Asfiksia dan resusitasi bayi baru lahir. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. Edisi Ke-1.h.57-66. Nelson Textbook of Pediatric. Rich W. Edisi ke-1. M. Pemakaian Ventilator Frekuensi Tinggi pada Bayi Asfiksia Berat. Buku Ajar Neonatologi: Prosedur Medik Bayi Baru Lahir Ventilasi Mekanik Pada Bayi Baru Lahir.Pediatrics 2010. J.. Pennsylvania : An Imprint of Elsevier Science.html// 11) http://www.103- 125. Jenson Hal. 3) Dharmasetiawani N. 2) Kosim MS. 2008. 9) Behrman Richard. Textbook of neonatal resuscitation. 2004. 7) Finer N. & Zaichkin.firstaidmonster.H. 2004 10) http://www.tw/intr/intr5/c6700/N%20teaching/Neonatal%20Res uscitation%20Supplies%20and%20Equipment.434-435 5) Firmansyah I.dan Pediatrik Gawat Darurat.php/pID/7122 42 .com/popup_image. Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. Elk Grove Village.cgmh.H. Kliegman Roberts.126-146. 6) Weiner. IL: American Academy of Pediatrics.17th ed. Journal of perinatology:2010(30). Edisi ke-1.p.5(4):155-159. Special Report Neonatal Resuscitation: 2010 American Heart Association Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. (2016). Jakarta: Ikatan Dokter Anak Indonesia. Lubis M.2014. M. Neonatal resuscitation for the preterm infant: evidence versus practice.Hematologi-Onkologi. DAFTAR PUSTAKA 1) Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUP/RSHS. Hal 5-7. Buku Ajar Neonatologi: Gangguan Nafas Pada Bayi Baru Lahir. G.org.2014. Penatalaksanaan Terkini dalam Bidang Perinatologi. 8) Kattwinkel J et al.