You are on page 1of 78

BAB I

LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien
Nama : Ny. M. K
Umur : 50 tahun
Alamat : Tanah hitam
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Kristen Protestan
Suku bangsa : Manado
Nomor DM : 421226
Tanggal masuk rumah sakit : 18 Mei 2017
Keluar Rumah Sakit : 11 Juni 2017

2. Anamnesis
Keluhan utama
Lemah pada kedua kaki

Riwayat penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan lemah pada kedua kaki bawah ± 1 bulan sebelum
masuk rumah sakit. Keluhan ini dialami pasien secara mendadak saat pasien
sedang mandi (pasien sedang mandi dalam posisi duduk kemudian pasien tidak
dapat berdiri). Namun kedua kaki pasien masih dapat digeser. Pasien mengaku
sering mengalami nyeri pada punggung bagian bawah yang menjalar kearah kaki
dan juga nyeri saat kedua kaki digerakkan. Selain itu, pasien juga sering merasa
tebal pada kedua kaki sejak januari 2017. Pasien masih dapat merasakan sentuhan
ketika kedua kaki pasien disentuh namun rasa sentuhan berkurang pada daerah
lutut kebawah. Nyeri kepala (-), muntah (-), kejang (-), penglihatan ganda dan
kabur (-), penurunan kesadaran (-), pusing berputar (-), demam (-), bicara pelo (-
).Nyeri dibagian punggung bawah sudah dirasakan sejak ± 5 tahun yang lalu
hingga saat ini namun nyeri yang dirasakan tidak mengganggu aktifitas. Pasien
mengaku sering mengangkat barang berat. Pasien juga mengeluh sejak kedua

1

tungkai lemah, pasien sulit BAB, sulit BAB dirasakan ± 1 bulan yang lalu, makan
minum baik, BAK lancar.

Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Stroke : (+) Januari 2017 dirawat diruang saraf
RSUD Jayapura
- Riwayat Hipertensi : (+)± 2 tahun ini pasien mengkonsumsi
amlodipine 1x10 mg dan valsartan 1x80
mg
- Riwayat Diabetes Melitus : disangkal oleh pasien
- Riwayat Penyakit jantung : disangkal oleh pasien
- Riwayat Penyakit paru : disangkal oleh pasien
- Riwayat Kolestrol : (-)
- Pasien sempat dirawat di RSUD Jayapura karena konstipasi

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga
Dalam keluarga pasien tidak ada yang memiliki sakit seperti yang dialami oleh
pasien

Riwayat Sosial Ekonomi dan Kebiasaan
- Pasien sering mengangkat beban berat, riwayat merokok (-), riwayat minum-
minuman beralkohol (-)
3. Pemeriksaan Fisik
Vital Sign
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis GCS : E4V5M6
Tanda – Tanda Vital :
- Tekanan Darah : 120/80 mmHg
- Nadi : 80 x/menit
- Respirasi Rate : 20 x /mnt
- Suhu : 36,9 oC

2

Status Generalis
Kepala : Normocephali, jejas (-), oedema (-), hematom region orbita S
Mata : Sekret (-/-), Conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
hematom (-/-)
Hidung : Deformitas (-), sekret (-), perdarahan (-)
Telinga : Deformitas (-), darah (-), secret (-)
Leher : Pembesaran KGB (-), JVP dalam batas normal, trakea di tengah
Paru – paru
Inspeksi : Simetris ikut gerak nafas, retraksi dinding dada (-), jejas (-)
Palpasi : vokal fremitus kanan dan kiri sama
Perkusi : Sonor pada semua lapang paru
Auskultasi : Suara nafas : vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis teraba di sela iga ke V, 1 cm ke medial linea mid
clavicularis sinistra.
Perkusi :
Batas atas : ICS II linea parasternalis kiri
Pinggang : ICS III linea parasternalis kiri
Batas kiri : ICS V 2 cm ke lateral linea midclavicularis kiri
Batas kanan : ICS V linea parasternalis kanan
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, gallop (-), murmur (-)

Abdomen
Inspeksi : datar, jejas (-), pelebaran vena (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-) , turgor normal,
massa (-) Hepar/lien : tidak teraba membesar
Perkusi : timpani, shifting dullnes (-)
Ekstremitas : akral hangat, edema (-), anemis (-), CRT < 2”

3

II.Tes Telunjuk-telunjuk : (-) (-) .III.Disdiadokokinesis : (-) (-) .Status Neurologi Pemeriksaan Umum : Tingkat kesadaran : Compos Mentis Sikap Tubuh : Normal Tanda rangsangan menigen dan iritasi radikal spinal: Kaku kuduk : (-) Lasegue : Kanan (-). Kiri (-) Kernig : Kanan (-). Kiri (-) Revese lasegue : Kanan (-). Fasikulasi) : Negatif Gerakan Involunter (Tipe.Mata tertutup : Tidak dievaluasi Berjalan .Past Pointing : (-) (-) .Jalan lurus : Tidak dievaluasi .Tes Tumit – Lutut : Tidak dilakukan .IV : ( -/-/-/.Tes Telunjuk-Hidung : (-) (-) .Rebound : (-) (-) Sistem Motorik Inspeksi : Keadaan Otot (Trofi.Jalan belok : Tidak dievaluasi Non Ekuilibrium : Kanan Kiri . Frekuensi) : Negatif 4 .Mata terbuka : Tidak dievaluasi . Kiri (-) Bragard : (-) Brudzinsky I.) Koordinasi : Ekuilibrium : Berdiri (Romberg) : Tidak dievaluasi .

Palpasi : Tonus :+ Nyeri Tekan :+ Kekuatan Kontraksi (skala 0-5) : 5 5 3 2 Lain-lain :- Sistem Sensorik: Eksteroseptif + + Rasa / Nyeri / Suhu : + ↓ ↓ + Proprioseptif + Posisi ↓ :tidak dievaluasi Vibrasi :tidak dievaluasi Arah Gerak :tidak dievaluasi Sensorik Kortikal Stereognosia : Normal Extinction : Normal Two Poin Discrimination : Normal Graphaesthesia : Normal Lokasi 5 .

- Gordon . - Gonda . - Oppenheim . - Klonus . - 6 . - Schaefer . - Rosolimo . - Chaddock . - Hofman – Trommer . Hipogasrtium Kremaster + + Anal + + Refleks Patologis Refleks Patologis Kanan Kiri Babinski . Epigastrium + + . Refleks Fisiologis Refleks Kanan Kiri Biseps + + Triseps + + Radialis + + Patella + + Achilles + + Abdomen . Paragastrium . - Mendel – Bechterew .A.

teh.sabun Anosmia : ketidakmampuan mencium bau (negative) Hiposmia : berkurang penciuman bau (negative) Parosmia : penciuman bau (normal) Lainnya :- 2. Nervus Optikus (N.II) Tajam Penglihatan : OD 6/6 OS 6/6 Tanpa Koreksi : OD OS Dikoreksi : OD OS Lapang Pandang : OD OS Fundoskopi : tidak dievaluasi Papil : tidak dievaluasi A/V : tidak dievaluasi Perdarahan : tidak dievaluasi Eksudat : tidak dievaluasi Lainnya : tidak dievaluasi 7 . Nervus Olfaktorius (N.Regresi Reflaks Kanan Kiri Glabela + + Mencucu Tidak Tidak dilakukan dilakukan Memegang + + Masseter (jaw jerk) + + Palmoental Tidak dilakukan Saraf Kranial 1.I) Bahan Pemeriksaan : kopi. tembakau .

Nervus Okulomotorius. Nervus Fasialis (N. VI) Fisura Palpebra : Kanan < = > Kiri Ptosis : Tidak ada Posisi Mata : Berada di tengah Eksoftalmus / Enoftalmus : Tidak ada Diplopia : Tidak ada Tekanan Bola Mata : Normal Horner’s Syndrome : - Gerak Bola Mata : Bai k Ke segala arah Konvergensi : Ditengah Pupil : Bulat isokor Ukuran : Kanan : 2 mm Kiri: 2 mm Bentuk : Bulat Refleks cahaya : Direk : Kanan: normal Kiri: normal : Indirek : Kanan: normal Kiri: normal Refleks Ciliospinal : Normal 4.V) Kanan Kiri Motorik : Menggigit. bibir mencong ke kanan (+) Gerakan Involunter : (-) Rasa Kecap (2/3 bagian depan lidah) : normal Hiperakusis : normal Lakrimasi : tidak dievaluasi 8 . IV.(+) Sensorik : Normal Cabang Oftalmikus : Normal Cabang Maksilaris : Normal Cabang Mandibularis : Normal Refleks Kornea : Normal 5.III.3.membuka mulut. dan Abdusen (N.mengangkat alis (+). Trokhlearis.VII) : Motorik : Mengerutkan dahi (+). mengembungkan pipi (+) (normal). memperlihatkan gigi (+). Nervus Trigeminus (N.

trapezius Parese :- Tonik – Spasme :- 9. - Hiperakusi : .Kokhlearis Kanan Kiri Subjektif (Tinitus) : . Nervus Glosofarigeus dan Nervus Vagus (N.62 4.1 3 HCT 32. Nervus Vestibulo – Kokhlearis (N.8 14-18 2 RBC 3.sternocleidomastoideus.a.VIII) N.IX & X) Gerakan Palatum : normal Refleks Muntah : normal Menelan : normal Tes Kalimat / Suara : a. - Tajam Pendengaran : Tes Rinne : Normal Tes Weber : Normal Tes Schwabach : Normal N. Romberg (mengarah ke kiri). 6.a (normal) 8.5 79-99 5 MCH 29.a.7-6.XI) : M. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan laboratorium: No Parameter 19-05-2017 30-05-2017 Normal Range 1 HGB 10.XII) Deviasi :- Fasikulasi :- Atropi :- 4. Nervus Hipoglosus (N. M.8 27-31 9 . Nervus Aksesorius (N. stepping test (normal) Kalorik : 7.4 42-52 4 MCV 89.Vestibularis : Past pointing test (normal) .

0-18.8-10.9 7.6 0.3 13 Natrium 143 135-148 14 Clorida 109 98-106 15 CT 7’00” 16 BT 2’3” Foto x-ray thorax.95 12 Kalium 3.23 4. 6 MCHC 33.0 11 Creatinin 0. thorakolumbal dan lumbosakral 10 .8 8 PLT 194 150-450 9 Albumin 3.2 10 BUN 10.3 33-37 7 WBC 5.5-5.9 3.5-5.8 3.

penglihatan ganda dan kabur (-). Resume Pasien mengeluh lemah pada kedua tungkai bawah ± 1 bulan sebelum masuk rumah sakit yang dialami secara mendadak saat pasien sedang mandi (pasien sedang mandi dalam posisi duduk kemudian pasien tidak dapat berdiri).Pemeriksaan Ct. demam (-). Selain itu. pasien juga sering merasa tebal pada kedua kaki sejak januari 2017. penurunan kesadaran (-). Nyeri kepala (-). Riwayat nyeri punggung bawah sejak ± 5 tahun yang lalu hingga saat ini namun tidak 11 . Pasien masih dapat merasakan sentuhan ketika kedua kaki pasien disentuh namun rasa sentuhan berkurang pada daerah lutut kebawah. bicara pelo (-). pusing berputar (-).Scan 5. kejang (-). muntah (-). Pasien mengaku sering mengalami nyeri pada punggung bagian bawah yang menjalar kearah kaki dan juga nyeri saat kedua kaki digerakkan.

BAK lancar. Riwayat Hipertensi (+) ± 2 tahun ini pasien mengkonsumsi amlodipine 1x10 mg dan valsartan 1x80 mg. Quo ad sanationam : dubia 9. Diagnosa Topis : Radiks . Pasien juga mengeluh sejak kedua tungkai lemah. CPG 1x75 mg 8. Quo ad fungtionam : dubia . Riwayat Stroke (+) Januari 2017 dirawat diruang saraf RSUD Jayapura. mengganggu aktifitas. Dulcolax sup II (Supp) . makan minum baik. Diagnosa Etiologi : Radiculopati lumbal 7. Ceftriakson 2x1 gr (iv) . Diagnosa Klinis : Paraparese inferior tipe flaccid . Riwayat sering mengangkat barang berat (+). Penatalaksanaaan . sulit BAB dirasakan ± 1 bulan yang lalu. 6. pasien sulit BAB. (iv) . Amlodipin 1x10 mg . Ranitidin 2x1 Amp. Follow Up Ruangan 12 . Diagnosa Kerja . Infus NaCl 0. Quo ad vitam : dubia ad bonam .9% 500 cc + cernevit 1 vial + Metilprednisolon 250 mg/12 jam . Prognosa .

dr. dr. Amlodipin 1x10 mg Mata : konjungtiva anemis -/-. Infus NaCl 0. S : Nyeri pinggang . II.B .7 0C (iv) Status Interna : . III (-/-/-) Konsul rehab medik untuk Saraf kranial : mata : pupil bulat isokor Ø OD OS 2 mm.RR : 24 x/m .Co. Saran: Kaku kuduk (-).9% 500 28/05/2017 cc + cernevit 1 vial + Kesadaran : Compos Mentis Metilprednisolon GCS : E 4 V 5 M6 250 mg/12 jam .Gammaras 1x1 (5-7 hr) . SpOT: CT Scan Refleks Fisiologis : (+) Lumbosacral .Pulmo : Suara Nafas vesikuler.TD : 100/70 mmHg (iv) . Rhonki -/-.Terapi lain lanjut Thorax : . 22-05-2017 .Terapi lain lanjut Ekstremitas: akral hangat (+/+).Nadi : 88x/m . . . Udem (-/-) .).Fisioterapi 13 .Tanggal Catatan Tindakan 18. 26-05-2017 Motorik : 5 5 .Cor : Bunyi Jantung I . reflex cahaya fisioterapi. Ira. (+/+) Tgl. . Sp.c kelainan fungsional. Ranitidin 2x1 Amp. Sp.Terapi lain lanjut 2 2 . lasegue/kernig(-/-).Bunyi Jantung II reguler. gallop .Suhu : 36. Sonny.Co. Murmur (.Dr. Sonny. Ceftriakson 2x1 gr .Dr. Nyeri tekan (-) Hepar/lien: tidak teraba membesar. Sklera Ikterik -/. CPG 1x75 mg - Leher : pembesaran KGB (-) Tgl 21-05-2017 Wajah : simetris .Abdomen : BU (+). wheezing -/- . BAK/BAB (+/+) cc Status neurologis .OT (-) Tgl.B: Hasil Rangsangan meningeal : kolonoscopy: Konstipasi e. Dulcolax sup II (Supp) Kepala : simetris .Mannitol 20% 200-150-150 Vegetatif: Ma/Mi (+/+). Sp. Brudzinski I.

BAK/BAB (+/+) Status neurologis Rangsangan meningeal : Kaku kuduk (-).7 0C Status Interna : .TD : 110/80 mmHg . III (-/-/-) Saraf kranial : mata : pupil bulat isokor Ø OD OS 2 mm.Abdomen : BU (+).Terapi lain diteruskan .Ro thorax lordotik Wajah : simetris . reflex cahaya (+/+) Motorik : 5 5 14 . Paraparese inferior e. gallop (-) . wheezing -/- . Gonda (-/-). Ekstremitas: akral hangat (+/+). Chaddok (-/-). 06-06-2017 Mata : konjungtiva anemis -/-. Udem (-/-) Vegetatif: Ma/Mi (+/+).Besok rencana BPL setelah Thorax : lihat hasil rontgen .Gamaras stop .Suhu : 36. Gordon (- /-). Murmur (.). Nyeri tekan (-) Hepar/lien: tidak teraba membesar.Cor : Bunyi Jantung I . Sklera Ikterik -/- .Bunyi Jantung II reguler.Manitol stop GCS : E 4 V 5 M6 .Terapi lanjut .c spondylosis lumbal 29/05. II. Brudzinski I. S : Lemah anggota gerak bawah Tgl. 29-05-2017 06/06/2017 Kesadaran : Compos Mentis . Rhonki -/-. Lumbosacral/myelografi Kepala : simetris Tgl. lasegue/kernig(-/-). Reflex patologis : Babinski (-/-).Pulmo : Suara Nafas vesikuler. 30-05-2017 .Pro CT Scan V.Nadi : 80x/m Tgl.Edukasi keluarga .RR : 20 x/m . Oppenheim (-/-).Terapi lanjut Leher : pembesaran KGB (-) . Schaeffer (-/-) Nervus cranialis : Tidak ditemukan kelainan Diagnosa : .

c spondylosis lumbal 15 . Paraparese inferior e. Gonda (-/-). Gordon (- /-). Chaddok (-/-). Schaeffer (-/-) Nervus cranialis : Tidak ditemukan kelainan Diagnosa : . 3 2 Refleks Fisiologis : (+) Reflex patologis : Babinski (-/-). Oppenheim (-/-).

stenosis sentral. Lumbar radiculopathy menunjuk kepada suatu proses patologis yang melibatkan radiks nervus lumbal sehingga menyebabkan gejala radicular ke ekstremitas bawah. atau hipermobilitas dari segmen vertebra. Selain kompresi radikulopati lumbal juga dapat disebabkan oleh iritasi atau inflammasi dari radiks nervus lumbal. BAB II TINJAUAN PUSTAKA RADIKULOPATI 1. pecahan/patahan tulang. Gambar 1: Struktur medulla spinalis 16 . Sebagian besar penyebab patologisnya merupakan kompresi langsung pada radiks nervus lumbal tanpa melihat etiologis dari kompresi seperti herniasi diskus. Definisi Radikulopati adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan gangguan fungsi dan struktur radiks akibat proses patologis yang dapat mengenai satu atau lebih radiks saraf dengan pola gangguan bersifat dermatomal. stenosis foramina.

servikal ke-5  lengan bawah radial dan ibu jari. Gambar 2. Peta Dermatomal sistem sensorik saraf Hal ini berguna untuk mengingat bahwa :  struktur wajah dan cranium anterior berada di daerah bidang saraf trigeminal  belakang kepala. servikal ke-6 17 . servikal ke-2  leher. servikal ke-4  area deltoid. servikal ke-3  area diatas pundak.

proses inflamasi. dan proses degeneratif sesuai dengan struktur dan lokasi terjadinya proses patologis. 4. sakrum ke-1  belakang paha. lumbal ke-1  sisi medial lutut. yaitu proses kompresif. Proses Inflamasi 18 . Etiologi Terdapat tiga faktor utama penyebab terjadinya radikulopati.  telunjuk dan jari tengah . servikal ke-8 dan torakik ke-1  puting. lumbal ke-3  jari kaki besar. dan 5 2. torakik ke-10  selangkangan. torakik ke-5  umbilicus. servikal ke-7  jari kelingking dan tepi ulnar dari tangan dan lengan bawah. sakrum ke-3. sakrum ke-2  area genitor-anal. Proses Kompresif Kelainan-kelainan yang bersifat kompresif sehingga mengakibatkan radikulopati adalah :  Herniated nucleus pulposus (HNP) atau herniasi diskus  Dislokasi traumatik  Fraktur kompresif  Skoliosis  Tumor medulla spinalis  Neoplasma tulang  Spondilosis  Spondilolistesis dan Spondilolisis  Stenosis spinal  Spondilitis tuberkulosis  Spondilosis servikal b. lumbal ke-5  jari kaki kecil (kelingking). a.

area toraks lebih jarang menyebabkan sakit pada spinal. Patofisiologi a. Tipe-tipe Radikulopati a. c. Oleh karena itu. Proses Kompresif pada Lumbal Spinalis  Pergerakan antara vertebral L4-L5 dan L5-S1 lebih leluasa sehingga lebih sering terjadi gangguan. Kelainan-kelainan inflamasi sehingga mengakibatkan radikulopati adalah :  Guillain–Barré syndrome  Herpes Zoster c. sendi. Namun. b. nukleus. Pada radikulopati lumbar. Radikulopati lumbar sering juga disebut siatika. Daerah ini strukturnya tidak banyak membengkok seperti pada daerah lumbar atau servikal. Radikulopati Torakal Radikulopati torakal merupakan bentuk yang relatif jarang dari kompresi saraf pada punggung tengah. 3. Gejala pada radikulopati servikal seringnya disebabkan oleh spondilosis servikal. Radikulopati Lumbar Radikulopati lumbar merupakan bentuk radikulopati pada daerah lumbar yang disebabkan oleh iritasi atau kompresi dari radiks saraf lumbal. dan 19 . Radikulopati Servikal Radikulopati servikal umumnya dikenal dengan “saraf terjepit” merupakan kompresi pada satu atau lebih radiks saraf pada leher. Proses Degeneratif Kelainan yang bersifat degeneratif sehingga mengakibatkan radikulopati adalah Diabetes Mellitus. 4. Vertebra lumbalis memiliki beban yang besar untuk menahan bagian atas tubuh sehingga tulang. keluhan nyeri punggung bawah (low back pain) sering didapatkan. kasus yang sering ditemukan pada bagian ini adalah nyeri pada infeksi herpes zoster.

dan vertebra torakal.  Sendi faset (facet joint). Penyebabnya biasanya ialah trauma fleksi. HNP kebanyakan terjadi diantara vertebra L5-S1. sehingga menyebabkan kanalis menjadi tidak bulat dan membentuk “trefoil axial shape”. tetapi pada beberapa kasus bias juga tanpa adanya trauma. L1-L2. Secara klinis yang sangat penting adalah arah protusi ke posterior. Frekuensi yang sering juga terjadi pada vertebra C5-C6 dan C6-C7. L3-L4. Permukaan sendi menjadi malformasi dan tumbuh berlebihan. dan otot juga dapat mengalami perubahan degeneratif dengan atau tanpa kelainan pada diskus. Herniasi nukleus merupakan tonjolan yang lunak. diketahui sebagai penyebab terbanyak back pain dan nyeri tungkai berulang. proses ini terjadi sepanjang vertebra lumbalis. kemudian terjadi penebalan dari ligamentum flavum. tetapi suatu waktu mengalami perubahan menjadi fibrokartilago. Penyebab lain adalah kecenderungan degenerasi diskus intervertebralis.  Pada pasien dengan kelainan kanal sempit. Stenosis kanalis vertebra lumbalis sering mengenai laki-laki pekerja usia tua. medial. nukleus. jaringan lunaknya lebih besar dan kuat. akhirnya menjadi tonjolan kalsifikasi.  Protusi diskus posterolateral diketahui sebagai penyebab kompresi dari radiks. prolapsed atau protruded disc. Protusi diskus dapat mengenai semua jenis kelamin dan berhubungan dengan riwayat trauma sebelumnya. jarang terjadi pada L4-L5. L2-L3. atau ke lateral yang menyebabkan tarikan malah robekan nukleus fibrosus. Pada tahap ini prosesnya berhubungan dengan proses penuaan. proses degenerasi dimulai pada usia lebih awal seperti pada masa remaja dengan degenerasi nukleus pulposus yang diikuti protusi atau ekstrasi diskus. 20 . disebut juga ruptured. dapat mengenai daerah servikal dan lumbal pada penderita yang sama. yang mana meningkat sesuai dengan peningkatan umur. 1) Herniated nucleus pulposus (HNP) atau herniasi diskus Herniated nucleus pulposus atau herniasi diskus. Pada banyak kasus. Bila proses ini berlangsung secara progresif dapat terbentuk osteofit.

Keadaan ini sering berhubungan dengan lengkungan lumbal dan torakolumbal. Tumor ini berasal dari sel-sel ependim yang terdapat pada konus medularis dan filum terminale. 3) Fraktur Kompresif Pada fraktur yang bersifat kompresif. Keadaan ini akan menyebabkan penyempitan foramen intervertebral. 4) Skoliosis Skoliosis umumnya terjadi pada orang dewasa dengan keluhan utama nyeri punggung. Tumor yang tersering adalah ependioma. Nukleus pulposus yang menonjol melalui annulus fibrosus yang robek biasanya terjadi pada satu sisi dorsolateral atau sisi lainnya (terkadang pada bagian dorsomedial) akan menyebabkan penekanan pada satu atau lebih radiks saraf. 2) Dislokasi Traumatik Pada trauma yang menimbulkan dislokasi dari sendi faset vertebra akan menimbulkan nyeri punggung yang hebat. bila terjadi penekanan pada radiks atau penyempitan pada foramen intervertebral yang dapat mengenai satu atau lebih radiks saraf akan menimbulkan defisit neurologi. sehingga radiks dan jaringan yang berdekatan mengalami iritasi dan kompresi di dalam kanalnya dengan gejala- gejala radikuler. Tumor ini timbulnya lambat. Setelah umur 40 tahun. 5) Tumor Medulla Spinalis Tumor di daerah lumbosakral dapat terjadi pada konus medularis dan kauda ekuina. Laki-laki memiliki dua kali lipat kemungkinan untuk menderita HNP dibandingkan wanita. hanya sebagian kecil yang berasal dari konus. sebagian besarnya ialah berasal dari filum terminale yang kemudian mengenai radiks saraf. Kebanyakan kasus terjadi pada usia antara 20-64 tahun dan kejadian tersering ialah pada usia 30-39 tahun. 21 . frekuensinya menurun. Nyeri tersebut disebabkan oleh adanya proses degeneratif pada sendi faset lengkungan itu sendiri.

Tumor ganas sekunder juga sering ditemukan pada vertebra. 6) Neoplasma Tulang Tumor ganas dapat merupakan tumor primer dari tulang ataupun sekunder hasil metastase dari tempat lain. satu atau beberapa radiks akan ikut terlibat. 7) Spondilosis Spondilosis merupakan penyakit degeneratif pada tulang belakang. paru-paru. terdapat tumor primer intraspinal yang sering ditemukan yang terdiri dari sel-sel Schwann atau disebut dengan schwannoma. prostat. 22 . dan uterus. yang dapat juga ditimbulkan oleh osteofit. sendi intervertebra dapat mengalami subluksasi dan menyempitkan foramina intervertebra. Pertumbuhannya lambat sebelum diagnosis diketahui dengan benar. dapat merupakan tumor osteoblastik (metastasis dari kelenjar mammae) atau osteolitik yang dapat berasal dari kelenjar mammae. Tumor ganas primer yang sering ditemukan adalah multiple myeloma yang menyerang dan merusak tulang terutama pada laki-laki dewasa tua berusia 40 tahun. Bila usia bertambah maka akan terjadi perubahan degeneratif pada tulang belakang. tiroid. Tersering muncul dari radiks posterior dengan keluhan-keluhan nyeri radikuler. Schwannoma merupakan tumor ekstramedular intradural dan dapat muncul dari saraf spinal pada setiap level. membentuk osteofit atau spur atau taji. dan tiroid. Tumor tersebut menyebabkan destruksi tulang dengan akibat “wedge shape” atau kolaps pada vertebra yang terkena. yang terdiri dari dehidrasi dan kolaps nukleus pulposus serta penonjolan ke semua arah dari annulus fibrosus. seperti kelenjar mammae. Selain ependioma. ginjal. Annulus mengalami kalsifikasi dan perubahan hipertrofik terjadi pada pinggir tulang korpus vertebra. Dapat menyebabkan kolaps vertebra dengan keluhan pertama ialah nyeri punggung. lambung. ginjal. paru- paru. Dengan penyempitan rongga intervertebra.

Yang lebih jarang ialah terjadi akibat penyakit degeneratif tulang belakang. menyebabkan hilangnya kontinuitas antara prosesus artikularis superior dan inferior. walaupun ini jarang simtomatis sampai dewasa. Lokasi yang paling sering dari keterlibatan adalah L5. Disestesia tanpa nyeri dapat timbul pada daerah distribusi radiks yang terkena. dan akan menghilang bila berbaring. serta hilangnya kontrol sfingter. yaitu suatu kondisi dimana bagian posterior unit vertebra menjadi terpisah. Terjadi pembentukan osteofit pada bagian yang lebih sentral dari korpus vertebra yang menekan medulla spinalis. Sindrom pseudoklaudikasi (klaudikasi neurologik) dapat terjadi dimana pasien mengeluh nyeri pinggang dan tungkai saat berdiri atau berjalan. usia rata-rata pasien yang mencari pengobatan adalah 35 tahun. 9) Stenosis Spinal Stenosis spinal merupakan penyempitan kanal medulla spinalis yang mungkin terjadi secara kongenital atau menyempit karena penonjolan 23 . ini biasanya meliputi L5 atau L4. dapat disertai kelumpuhan otot dan gangguan refleks. biasanya dimulai pada usia yang lebih dini dan perlahan-lahan memburuk. yang mengalami subluksasi terhadap sakrum. Bila deformitas berat maka kauda ekuina dapat terkena kompresi. Gejalanya berupa sindrom kauda ekuina dengan paraparesis. Hal ini paling sering terjadi pada spondilolisis. Nyeri biasanya kurang menonjol pada spondilosis. nyeri dapat timbul mendadak bila ada cedera. Kauda ekuina dapat terkena kompresi pada daerah lumbal bila terdapat stenosis kanal lumbal. Tetapi. defisit sensorik pada kedua tungkai. Gejala paling sering adalah nyeri punggung bawah. Nyeri tungkai akibat kompresi radiks saraf kurang sering ditemukan. 8) Spondilolitesis dan Spondilolisis Spondilolistesis adalah pergeseran ke arah depan dari satu korpus vertebra terhadap korpus vertebra dibawahnya. Spondilolistesis diduga disebabkan oleh fraktur arkus neural segera setelah lahir. yang diperkuat oleh gerakan ekstensi.

dinding dada. dan lordotik. Pleksus ini beranastomosis dengan vena dasar otak. Basil masuk ke korpus vertebra melalui jalur arteri dan penyebaran berlangsung secara sistemik sepanjang arteri ke perifer termasuk ke dalam korpus vertebra yang berasal dari arteri segmentalis interkostal. hipertrofi sendi faset. interkostal. arteri ini berakhir sebagai “end artery” (tanpa anastomosis). Vena dari korpus keluar melalui bagian posterior. Jalur ketiga adalah dari abses paravertebral yang telah terbentuk dan menyebar sepanjang ligamentum longitudinal anterior dan posterior ke korpus vertebra yang berdekatan. Bagian anterior vertebra lebih sering terinfeksi dibandingkan bagian posterior dengan gejala awal berupa nyeri radikuler yang dikenal sebagai nyeri interkostalis. Kebanyakan kasus merupakan idiopatik dan sering terjadi pada usia pertengahan dan usia tua. sehingga perluasan infeksi korpus vertebra sering dimulai pada daerah paradiskal. lamina dan sendi faset yang tebal. Vena dari korpus vertebra mengalir ke pleksus Batson pada perivertebral. Di dalam korpus. Perjalanan infeksi pada vertebra dimulai setelah terjadinya fase hematogen atau reaktivasi kuman dorman. suatu anyaman vena epidural dan peridural. Aliran retrograde yang dapat terjadi akibat perubahan tekanan dinding dada dan abdomen dapat menyebabkan basil menyebar dari infeksi tuberkulosa yang berasal dari organ di daerah aliran vena tersebut. atau ligamen longitudinal posterior yang tebal atau mengeras. Proses Kompresif pada Torakal dan Lumbal Spinalis 1) Spondilitis Tuberkulosa Spondilitis tuberkulosa sering terjadi pada vertebra torakal dan lumbal. lumbal. sehingga menekan saraf yang mengandung beberapa radiks. Vertebra yang sering terinfeksi adalah torakolumbal T8-L3. Infeksi pada korpus vertebra berlanjut 24 . b. annulus. Penyempitan kanalis lumbalis dapat disebabkan oleh pedikel yang pendek karena kongenital. dan vena pelvis. kurva skoliosis. Jalur kedua adalah melalui pleksus Batson.

d. c. serta penonjolan annulus fibrosus ke segala arah. sedangkan pada bentuk paradiskus akan menimbulkan kompresi. iskemi. 2) Herniated nucleus pulposus (HNP) Mekanisme herniasi diskus di servikal sama seperti pada bagian lumbal. Dapat mengenai satu atau beberapa radiks. Annulus menjadi kalsifikasi dan perubahan hipertrofik terjadi pada pinggir korpus vertebral seperti osteofit. unilateral atau bilateral. seperti dehidrasi dan kolaps nukleus pulposus. perkejuan atau jaringan granulasi dengan nyeri sebagai keluhan pertama yang muncul. Proses Kompresif pada Servikal 1) Spondilosis Servikal Seiring dengan bertambahnya usia terjadi pula perubahan degeneratif pada tulang punggung. namun keluhannya tidak sehebat herniasi diskus. dengan penyempitan rongga intervertebral. Gangguan neurologis yang terjadi pada fase awal adalah akibat penekanan oleh pus. terjadi destruksi dari korpus di bagian anterior sehingga korpus vertebra menjadi bentuk baji dan pada pasien terlihat adanya “gibbus formation” apabila proses ini telah berjalan lama. Namun insidensinya 15 kali lebih jarang dibandingkan HNP di daerah lumbar. Nyeri dapat dirasakan terlokalisir di sekitar lesi atau berupa nyeri menjalar sesuai saraf yang terkena. menjadi nekrosis dan destruksi sehingga pada bentuk sentral dapat terjadi kompresi spontan akibat trauma. Proses Inflamasi 1) Guillain–Barré syndrome Guillain-Barré syndrome (GBS) merupakan kelainan sistem imun tubuh yang mana menyerang bagian dari system saraf perifer. akibat lesi iritatif di radiks posterior C4-T1. Nyeri yang terasa menjalar sepanjang lengan. Gejala pertama dari kelainan ini derajatnya bervariasi meliputi kelemahan atau 25 . Pada bentuk anterior. yang dinamakan brakialgia. dan nekrosis diskus.

Pada pasien GBS parah. Gejala ini dapat meningkatkan intensitas sampai otot-otot tertentu tidak dapat digunakan sama sekali dan. seperti kesemutan. Hal ini bisa menyerang pada usia berapa pun dan kedua jenis kelamin sama-sama rentan terhadap gangguan tersebut. Kelumpuhan pada pasien GBS biasanya terjadi dari bagian tubuh bawah ke atas atau dari luar ke dalam secara bertahap. Pasien GBS sering memakai ventilator untuk membantu pernapasan dan diawasi dengan ketat untuk masalah seperti detak jantung yang tidak normal. dengan gangguan tekanan darah atau denyut jantung . rasa terbakar. hari.sensasi kesemutan pada kedua tungkai kaki. dan tekanan darah tinggi atau rendah. Gejala-gejala yang dapat timbul pada pasien GBS adalah kehilangan sensitivitas. Dalam banyak kasus kelemahan simetris dan sensasi abnormal menyebar ke lengan dan tubuh bagian atas. Biasanya Guillain-Barré terjadi beberapa hari atau minggu setelah pasien memiliki gejala infeksi virus pernapasan atau pencernaan. namun. Dalam kasus yang jarang vaksinasi dapat meningkatkan risiko GBS. Kebanyakan pasien GBS mencapai tahap kelemahan terbesar dalam 2 minggu pertama setelah gejala muncul. bila berat. dengan pola persebaran yang tidak teratur dan dapat berubah-ubah. pembekuan darah. atau minggu. pada saat yang bersamaan.dan dianggap sebagai kegawatdaruratan medis. namun dalam waktu yang bervariasi. Guillain-Barré dapat mempengaruhi siapa pun. Kondisi pasien dapat bertambah parah karena kemungkin terjadi infeksi di 26 . hanya menyerang sekitar satu orang dalam 100. Sindrom ini jarang terjadi.000 populasi.berpotensi mengganggu pernapasan dan. kebas (mati rasa). infeksi. gejala dapat berkembang selama beberapa jam. Dalam kasus-kasus gangguan yang mengancam kehidupan . atau nyeri. Kadang-kadang operasi akan memicu sindrom. kerusakan dapat berdampak pada paru-paru dan melemahkan otot-otot pernapasan sehingga diperlukan ventilator untuk menjaga pasien agar tetap bertahan. Setelah manifestasi klinis pertama dari penyakit. pasien GBS hampir mengalami lumpuh total.

Pada sindrom Guillain-Barré. otak dapat menerima sinyal yang tidak tepat yang mengakibatkan kesemutan. yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk merasakan tekstur. Kematian umumnya terjadi karena kegagalan pernapasan dan infeksi yang ditimbulkan. untuk menyerang myelin. Limfosit T yang tersensitisasi bekerja sama dengan limfosit B 27 . yang memungkinkan beberapa sel-sel kekebalan. Itulah sebabnya otot-otot mulai kehilangan kemampuan mereka untuk merespon perintah otak. Karena sinyal menuju dan dari lengan serta kaki harus melakukan perjalanan jarak terpanjang mereka yang paling rentan terhadap gangguan. panas. Pada penyakit di mana selubung mielin saraf perifer “yang injuri atau rusak”. Otak juga menerima sinyal sensorik lebih sedikit dari seluruh tubuh. Biasanya sel-sel dari sistem kekebalan tubuh menyerang hanya material asing dan organisme yang masuk tubuh atau kita sebut sebagai antigen. sistem kekebalan tubuh mulai menghancurkan selubung myelin yang mengelilingi akson dari saraf perifer. "crawling-skin" atau sensasi nyeri. saraf tidak bisa mengirimkan sinyal secara efisien. nyeri. seperti beberapa jenis limfosit dan makrofag. Hal ini juga memungkinkan bahwa virus membuat sistem kekebalan tubuh menjadi kurang mengenali sel myelin dan akson sebagai sel tubuhnya sendiri . maka kemungkinan virus atau bakteri tersebut telah mengubah sifat sel dalam sistem saraf sehingga sistem kekebalan tubuh memperlakukan mereka sebagai sel asing. atau bahkan menyerang akson itu sendiri. Ketika Guillain-Barré didahului oleh infeksi virus atau bakteri. dan sensasi lainnya. sehingga kelemahan otot dan sensasi kesemutan biasanya pertama kali muncul di tangan dan kaki kemudian mulai dirasakan kebagian atas tubuh. Menurut penelitian.dalam paru-paru akibat berkurangnya kemampuan pertukaran gas dan kemampuan membersihkan saluran pernapasan. Secara bergantian. yang dikenal sebagai penyakit autoimun. penyebab GBS ialah adanya sistem kekebalan tubuh yang menyerang tubuh itu sendiri. perintah yang harus dilakukan melalui jaringan saraf.

2) Herpes Zoster Herpes zoster paling sering termanifestasi pada satu atau lebih ganglia vertebra posterior atau ganglia sensoris kranial. atau ensefalitis. menyebabkan saturasi pada jalur glikolisis normal. dan saraf perifer. dan terjadi gangguan struktural saraf. jarang dengan adanya kelemahan otot atau kelumpuhan. meningitis. dan / atau kehilangan sensori. e. Hal ini menyebabkan rasa sakit dan temuan karakteristik kutaneus sepanjang dermatom sensoris yang sesuai dari ganglia yang terlibat. 28 . menurunkan aktivitas membran Na+/ K+-ATPase. menyebabkan potensial aksi menjadi abnormal. leptomeninges. 1) Jalur Poliol Hiperglikemia menyebabkan peningkatan kadar glukosa intraseluler dalam saraf. dan stres oksidatif. produk akhir glikasi lanjut. pleocytosis (terdapat 20-50 limfosit) cairan spinal. Mekanisme biokimia yang berkontribusi penting dalam perkembangan bentuk-bentuk simetris paling umum dari polineuropati diabetes kemungkin besar meliputi jalur poliol. keterlibatan visceral mungkin juga terjadi. Glukosa ekstra masuk ke dalam proses jalur poliol dan diubah menjadi sorbitol dan fruktosa oleh enzim aldosa reduktase dan sorbitol dehidrogenase. mengganggu transportasi aksonal. Akumulasi dari sorbitol dan fruktosa menyebabkan myoinositol saraf berkurang. Jarang melibatkan sel kornu anterior dan posterior. Proses Degeneratif Penyakit Diabetes Mellitus Pasien DM merupakan predisposisi dari berbagai macam gangguan saraf perifer berupa “peripheral neuropathy” yang cenderung progresif dan ireversibel. Jarang terjadi myelitis. Keluhan pada pasien DM terutama ialah polineuropati distal sensoris yang simetris. kemungkinan karena partikel virus yang menetap dalam ganglia ini dalam keadaan tidak aktif sejak episode awal varicella. untuk memproduksi antibodi terhadap komponen selubung mielin dan dapat berkontribusi pada kerusakan myelin.

yang mana pasien dapat menggambarkannya seperti mengenakan sarung tangan atau kaus kaki. Gejala sensorik mungkin negatif atau positif. sakit. fokal atau difus. nyeri seperti ditusuk-tusuk. dan hasil lipid pada produk akhir glikasi lanjut (AGE). perasaan seperti tersengat listrik. terutama dengan mata tertutup. Pada ekstremitas atas. atau beberapa kelemahan yang bersifat fokal. proksimal. gejala motor distal meliputi gangguan koordinasi halus pada tangan. nukleotida. Kehilangan keseimbangan. adanya keketatan. Gejala sensorik negatif termasuk baal atau mati rasa. Ini termasuk kerusakan langsung pada pembuluh darah yang menyebabkan iskemia saraf dan memfasilitasi dari reaksi AGE. Gejala positif dapat digambarkan sebagai rasa terbakar. dan luka tanpa rasa sakit akibat hilangnya sensasi yang umum. Kaki sering terpeleset atau jatuh dan lecet kemungkinan merupakan gejala awal dari kelemahan kaki. Gejala Neuropati Diabetik 1) Gejala Sensoris Neuropati sensorik biasanya onsetnya perlahan dan menunjukkan distribusi stoking-dan-sarung tangan (stocking-and-glove distribution) di ekstremitas distal. atau hipersensitivitas terhadap sentuhan. kesemutan. kemungkinan memiliki peran dalam mengganggu integritas neuronal dan mekanisme perbaikan melalui gangguan metabolisme sel saraf dan transportasi aksonal. seperti membuka tutup botol atau mengunci pintu. 29 . 3) Stress Oksidatif Peningkatan produksi radikal bebas pada diabetes dapat merugikan melalui beberapa mekanisme yang belum sepenuhnya dipahami. 2) Gejala Motorik Kelainan motorik meliputi kelemahan distal.2) Produk Akhir Glikasi Lanjut (Advanced Glycation End Products- AGE) Reaksi nonenzimatik dari glukosa berlebih dengan protein.

Nyeri bersifat tajam dan diperhebat oleh gerakan. Untuk mengurangi gejala tersebut. karena nyerinya dirasakan sepanjang lengan. Jika terjadi radikulopati setinggi segmen torakal. atau bersin.  Refleks tendon pada daerah yang dipersarafi radiks yang bersangkutan menurun atau bahkan menghilang Gejala radikulopati tergantung pada lokasi radiks saraf yang terkena (yaitu pada servikal. 2) Gejala diperburuk dengan gerakan kepala dan leher. Sedangkan gejala kelemahan anggota gerak atas proksimal ialah kesulitan dalam mengangkat lengan atas. dada. Rasa nyeri ini mengikuti pola dermatomal. Radikulopati setinggi segmen torakal jarang terjadi.  Paresthesia yang mengikuti pola dermatomal. 5. juga dengan regangan pada lengan yang bersangkutan. torakal.  Hilang atau berkurangnya sensorik (hipesthesia) di permukaan kulit sepanjang distribusi dermatom radiks yang bersangkutan. batuk. manifestasi klinis radikulopati adalah sebagai berikut :  Rasa nyeri berupa nyeri tajam yang menjalar dari daerah parasentral dekat vertebra hingga kearah ekstremitas. 30 . dinamakan iskialgia. Manifestasi Klinis Radikulopati pada Daerah Servikal 1) Leher terasa kaku. Demikian juga nyeri radikular yang dirasakan sepanjang tungkai. a. rasa tidak nyaman pada bagian medial skapula. maka akan timbul nyeri pada lengan. dan panggul. atau sulit bangun dari posisi duduk atau terlentang. abdomen. karena nyerinya menjalar sepanjang perjalanan nervus iskiadikus dan lanjutannya ke perifer. Manifestasi Klinik Radikulopati Secara umum. karena segmen ini lebih rigid daripada segmen servikal maupun lumbar. Gejala kelemahan anggota gerak bawah proksimal meliputi kesulitan menaiki atau meuruni tangga.  Kelemahan otot-otot yang dipersarafi radiks yang bersangkutan. mengedan. Nyeri radikular yang muncul akibat lesi iritaif di radiks posterior tingkat servikal dinamakan brakialgia. atau lumbar).

atau seluruh jari. ujung bahu. dorsal lengan bawah. jari ke-2 dan ke-3. Lesi ini mengakibatkan paresthesia ibu jari. dan otot pektoralis. penderita seringkali mengangkat dan memfleksikan lengannya di belakang kepala. dan menjalar hingga lengan atas anterior. area pektoralis dan medial aksila. kelemahan dan atrofi otot deltoid. dan juga jari pertama. 31 . 5) Lesi pada C7 ditandai dengan nyeri bahu. 3) Lesi pada C5 ditandai dengan nyeri pada bahu dan daerah trapezius. siku. menurunnya refleks biseps. 4) Lesi pada C6 ditandai dengan nyeri pada trapezius. ke-3. jari ke- 1 dan bagian lateral jari ke-2. posterolateral lengan atas. ekstensor tangan. Lesi ini dapat mengakibatkan berkurangnya kemampuan abduksi dan eksorotasi lengan. atrofi dan kelemahan otot triseps. disertai kelemahan dan atrofi otot biseps. lengan bawah bagian radial. berkurangnya sensorik sesuai dengan pola dermatomal. Lesi ini dapat mengakibatkan paresthesia jari ke-2.

menekuk tungkai yang terkena (Minor’s Sign). Manifestasi Klinis Radikulopati pada Daerah Lumbal 1) Rasa nyeri pada daerah sakroiliaka yang menjalar hingga ke bokong. Lesi ini akan mengganggu fungsi otot-otot intrinsik tangan dan sensasi jari ke-4 dan 5 (seperti pada gangguan nervus ulnaris). meletakkan tangannya di punggung. 2) Pada rupture diskus intervertebra. paha. 6) Lesi pada C8 ditandai dengan nyeri sepanjang bagian medial lengan bawah. penderita menopang dirinya pada sisi yang sehat. atau mengedan saat defekasi). bersin. betis. penderita akan menjaga lututnya dalam keadaan fleksi dan menumpukan berat badannya pada bokong yang berlawanan. nyeri dirasakan lebih berat bila penderita sedang duduk atau akan berdiri. Nyeri dapat ditimbulkan dengan Valsava Maneuvers (seperti : batuk. b. Nyeri mereda ketika pasien berbaring. Ketika duduk. Ketika akan berdiri. dan kaki. Umumnya penderita merasa nyaman dengan berbaring terlentang disertai fleksi sendi coxae dan lutut. serta bahu disangga dengan 32 .

paresthesia. dan gangguan refleks tendon. Pada pemeriksaan dapat ditemukan berkurangnya lordosis vertebra lumbal karena spasme involunter otot-otot punggung. dan panggung akan bungkuk ke depan dan kearah yang sakit untung menghindari stretching pada saraf yang bersangkutan. Pada tumor intraspinal. 7) HNP biasanya terletak di posterolateral dan mengakibatkan gejala yang unilateral. disebut Neri’s Sign. Fasikulasi jarang terjadi. sehingga memperburuk nyeri). Sering ditemui skoliosis lumbal. dapat ditemukan gluteal fold yang menggantung dan tampak lipatan kulit tambahan karena otot gluteus yang lemah. Pasien membungkuk ke depan. nyeri tidak berkurang atau bahkan memburuk ketika berbaring. berjalan dengan langkah kecil dan semifleksi sendi lutut. Tetapi. bantal untuk mengurangi lordosis lumbal. Hal ini merupakan bukti keterlibatan radiks S1. 3) Gangguan postur atau kurvatura vertebra. dan mungkin juga terjadi skoliosis torakal sebagai kompensasi. 33 . dan berjalan dengan bertumpu pada jari kaki (karena dorsofleksi kaki menyebabkan stretching pada saraf. Umumnya tubuh akan condong menjauhi area yang sakit. dapat menyebabkan gejala pada kedua sisi yang mungkin dapat disertai gangguan berkemih dan buang air besar. pasien akan menghindari ekstensi sendi lutut. 5) Dapat ditemukan nyeri tekan pada sciatic notch dan sepanjang nervus iskiadikus. 4) Ketika pasien berdiri. jika letak hernia agak besar dan sentral. kelemahan otot. dapat ditemukan gangguan sensasi. Jika iskialgia sangat berat. 6) Pada kompresi radiks spinal yang berat.

34 .

kelemahan otot). Radikulopati Servikal Mendapatkan riwayat penyakit yang rinci merupakan hal yang penting untuk menegakkan diagnosis dari radikulopati servikal.6. Pemeriksa harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1) Pertama. atau manipulasi  Suntikan  Operasi 35 . traksi. Anamnesis Riwayat Penyakit a. 2) Apakah aktivitas dan posisi kepala dapat memperparah atau meringankan gejalanya?  Informasi ini dapat membantu baik untuk mendiagnosis maupun dalam penatalaksanaannya. kapan terjadinya. disfungsi usus atau kandung kemih. aspirin. seperti apa mekanisme terjadi cederanya. seperti perubahan gaya berjalan. dan lokasi dari gejala?  Skala analog visual dari 0-10 dapat digunakan untuk menentukan tingkat nyeri yang dirasakan oleh pasien. mati rasa (baal). 3) Apakah pasien pernah mengalami cedera diarea leher? Jika iya. atau perubahan sensoris atau kelemahan pada ekstremitas bawah? 6) Apa pengobatan sebelumnya yang telah dicoba oleh pasien (baik berupa resep dokter atau mengobati sendiri) :  Penggunaan dari es dan/atau penghangat  Obat-obatan (seperti : acetaminophen. nonsteroidal anti- inflammatory drugs [NSAIDs])  Terapi fisik. apa keluhan utama pasien (misalnya : nyeri.  Gambar anatomi nyeri juga dapat membantu dokter dalam memberikan suatu tinjauan singkat pola nyeri pada pasien. dan apa yang dilakukan pada saat itu? 4) Apakah pasien pernah mengalami episode gejala serupa sebelumnya atau nyeri leher yang terlokalisir? 5) Apakah pasien memiliki gejala sugestif dari myelopathy servikal.

8) Kekhasan pasien dengan radikulopati servikal ialah datang dengan mengeluh adanya ketidaknyamanan pada leher dan lengan. dan keluhan utama pasien ialah nyeri bahu. nyeri tersebut menjalar menuju lengan atas atau bawah dan menuju tangan. 10) Herniasi diskus akut dan penyempitan tiba-tiba foramen saraf juga dapat terjadi pada cedera yang melibatkan ekstensi servikal. atau hilangnya sensasi. Biasanya. Ketidaknyamanan tersebut dapat berupa sakit tumpul sampai nyeri hebat seperti rasa terbakar. tanpa rasa sakit yang signifikan atau keluhan sensorik. sepanjang distribusi sensori dari radiks saraf yang terlibat. mati rasa (baal). Manuver ini diduga untuk meringankan gejala dengan mengurangi ketegangan pada radiks saraf. lateral bending. Sebagian kecil pasien akan datang dengan kelemahan otot saja. atau rotasi dan pembebanan aksial. b. 9) Pasien yang lebih tua kemungkinan memiliki episode sakit leher sebelumnya atau membeitahukan riwayat memiliki radang sendi tulang servikal atau leher. Ketika radikulopatinya sedang berlangsung. 12) Pasien mungkin mengeluhkan perubahan sensorik di sepanjang dermatom radiks saraf yang terlibat. atau rotasi menuju sisi yang bergejala). Pasien-pasien mengeluh peningkatan rasa sakit dengan posisi leher yang menyebabkan penyempitan foraminal (misalnya. meliputi olahraga dan posisi pasien. lateral bending. ekstensi. 11) Banyak pasien yang menceritakan bahwa mereka dapat mengurangi gejala radikularnya dengan mengabduksikan bahunya dan menempatkan tangannya dibelakang kepala. Radikulopati Lumbal 1) Timbulnya gejala pada pasien dengan radikulopati lumbosakral sering tiba-tiba dan berupa LBP (nyeri punggung bawah). dan penggunaan dari nikotin dan / atau alkohol. 13) Beberapa pasien mungkin mengeluh kelemahan motorik. 7) Tanyakan riwayat sosial pasien. Beberapa pasien 36 . nyerinya ini menjalar menuju batas medial skapula. dapat berupa kesemutan. pekerjaan.

nyeri tekan. menyatakan nyeri punggung yang sudah ada sebelumnya menghilang ketika sakit pada kaki mulai terasa. dan adanya perubahan postur tubuh. Perlu dibedakan gangguan saraf perifer dan segmental. atau bersin dapat memperburuk rasa sakit. atrofi. Individu dengan usia kurang dari 20 tahun dan yang lebih dari 50 tahun memiliki risiko keganasan lebih tinggi yang dapat menyebabkan nyeri (misalnya. deformitas. 37 . baal. indikator kondisi medis yang biasanya tidak hilang dengan sendirinya tanpa manajemen). yang berjalan dari bokong turun ke tungkai kaki posterior atau posterolateral menuju pergelangan kaki atau kaki. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang lengkap adalah suatu hal yang penting. dan spasme otot). Usia pasien juga merupakan faktor ketika mencari kemungkinan penyebab lain dari gejala-gejala pasien. batuk. Red flags tersebut dapat menyiratkan kondisi yang lebih rumit yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut (misalnya. infeksi). waspadai setiap red flags (yaitu. 2) Duduk. tumor. infeksi). dan rasa terbakar) dan gangguan dalam berkemih ataupun defekasi. Pada pemeriksaan neurologis harus diperhatikan :  Gangguan sensorik (hipesthesia atau hiperesthesia). 3) Tanyakan penjalaran dari nyerinya. Adanya demam. 5) Ketika memperoleh riwayat pasien. cara duduk dan berdiri. penurunan berat badan. dan spasme otot. dan perubahan dalam posisi berjalan.  Perubahan refleks. tumor. kelemahan otot. fasikulasi. Penting memperhatikan abnormalitas postur. Pemeriksaan panggul dan rektum perlu dilakukan untuk menyingkirkan adanya neoplasma dan infeksi di luar vertebra. kesulitan ketika berdiri setelah duduk atau berbaring. atau menggigil memerlukan evaluasi menyeluruh. 4) Tanyakan apakah ada gangguan sensasi (seperti : kesemutan. 7.  Gangguan motorik (pemeriksaan kekuatan otot.

Distraction Test 38 .a. Pembuktian terhadap adanya penjepitan dapat diberikan dengan tindakan yang mengurangi penjepitan itu. Peningkatan dan radiasi nyeri ke lengan setelah melakukan tes ini mengindikasikan adanya penyempitan foramen intervertebralis servikal. sehingga berkas serabut sensorik di foramen intervertebra yang diduga terjepit. secara faktual dapat dibuktikan. Pemeriksaan Fisik Radikulopati Servikal Pada pemeriksaan radikulopati servikal.  Tes Lhermitte (Foramina Compression Test) Tes ini dilakukan dengan menekan kepala pada posisi leher tegak lurus atau miring. antara lain akan didapatkan :  Terbatasnya “range of motion” leher. Lhermitte’s Test  Tes Distraksi Tes ini dilakukan ketika pasien sedang merasakan nyeri radikuler.  Nyeri akan bertambah berat dengan pergerakan (terutama hiperekstensi). yakni dengan mengangkat kepala pasien sejenak.

lalu dibengkokkan (fleksi) pada persendian panggulnya (sendi coxae). satu tungkai yang sakit diangkat lurus.  Tungkai yang satu lagi harus selalu berada dalam keadaan lurus (ekstensi). Dengan modifikasi ini.  Fleksi pada sendi panggul/coxae dengan lutut ekstensi akan menyebabkan stretching nervus iskiadikus (saraf spinal L5-S1). stretching nervus iskiadikus di daerah tibial menjadi meningkat. dan Spurling’s Sign) Merupakan modifikasi dari tes Lasegue yang mana dilakukan tes Lasuge disertai dengan dorsofleksi kaki (Bragard’s Sign) atau dengan dorsofleksi ibu jari kaki (Sicard’s Sign). kita dapat mencapai sudut 70 derajat atau lebih sebelum timbul rasa sakit dan tahanan. 39 . maka disebut tanda Lasegue positif (pada radikulopati lumbal). sehingga memperberat nyeri. sementara lutut ditahan agar tetap ekstensi. 2) Modifikasi/Variasi Tes Lasegue (Bragard’s Sign. Gabungan Bragard’s sign dan Sicard’s sign disebut Spurling’s sign.  Bila sudah timbul rasa sakit dan tahanan di sepanjang nervus iskiadikus sebelum tungkai mencapai sudut 70 derajat.  Pada keadaan normal.  Secara pasif. Pemeriksaan Fisik Radikulopati Lumbar 1) Tes Lasegue (Straight Leg Raising Test) Pemeriksaan dilakukan dengan cara :  Pasien yang sedang berbaring diluruskan (ekstensi) kedua tungkainya. Sicard’s Sign.b.

tetapi yang diangkat tungkai yang sehat.Lasegue’s Sign (SLR’s Test) a) Bragard’s sign b) Spurling’s sign 3) Tes Lasegue Silang atau O’Conell Test Tes ini sama dengan tes Lasegue. Tes positif bila timbul nyeri radikuler pada tungkai yang sakit 40 .

akan didapatkan nyeri radikular pada radiks saraf yang bersangkutan. Meningkatnya tekanan intrakranial atau intraspinal. Kompresi vena jugularis juga dapat dilakukan dengan sphygmomanometer cuff. MRI selain dapat mengidentifikasi 41 . Radiografi atau Foto Polos Roentgen Tujuan utama foto polos Roentgen adalah untuk mendeteksi adanya kelainan structural. dengan tekanan 40 mmHg selama 10 menit. 4) Nerve Pressure Sign Pemeriksaan dilakukan dengan cara :  Lakukan seperti pada tes Lasegue (sampai pasien merasakan adanya nyeri) kemudian lutut difleksikan hingga membentuk sudut 20 derajat.Pasien dapat diperiksa dalam keadaan berbaring atau berdiri. Pada pasien ruptur diskus intervertebra. dapat menimbulkan nyeri radikular pada pasien dengan space occupying lesion yang menekan radiks saraf. (biasanya perlu sudut yang lebih besar untuk menimbulkan nyeri radikuler dari tungkai yang sakit).  Lalu. 8. bokong sesisi. Pemeriksaan Penunjang Radikulopati a. 5) Naffziger Tests Tes ini dilakukan dengan menekan kedua vena jugularis selama 2 menit. dapat mengakibatkan tekanan intrakranial meningkat. b. MRI dan CT-Scan  MRI merupakan pemeriksaan penunjang yang utama untuk mendeteksi kelainan diskus intervertebra. Tekanan harus dilakukan hingga pasien mengeluh adanya rasa penuh di kepalanya. atau sepanjang nervus iskiadikus. fleksikan sendi panggul/coxae dan tekan nervus tibialis pada fossa poplitea hingga pasien mengeluh adanya nyeri.  Tes ini positif bila terdapat nyeri tajam pada daerah lumbal. Dengan penekanan tersebut.

c. terutama elemen osseus vertebra. berguna untuk penyakit nonspesifik seperti infeksi. dan memberikan gambaran yang bagus untuk herniasi diskus intervertebra. pemeriksaan ini juga membantu menentukan lokasi kompresi radiks saraf. juga dapat digunakan untuk mengetahui beratnya perubahan degenerative pada diskus intervertebra. faktor rematoid.sehingga MRI merupakan prosedur skrining yang ideal untuk menyingkirkan diagnose banding gangguan structural pada medulla spinalis dan radiks saraf. e. Laboratorium  Pemeriksaan darah perifer lengkap. MRI memiliki keunggulan dibandingkan dengan CT-Scan. pleksus saraf. dan kalsium. Anamnesis yang mendukung adalah adanya keluhan berupa nyeri khas radikular atau gangguan sensibilitas dikombinasikan dengan hasil pemeriksaan fisik 42 . kompresi medulla spinalis dan radiks saraf. Namun bila diagnosis radikulopati sudah pasti secara pemeriksaan klinis. Kriteria Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Myelography Pemeriksaan ini memberikan gambaran anatomis yang detail. Secara umum myelogram dilakukan sebagai tes preoperative dan seringkali dilakukan bersamaan dengan CT-Scan. atau saraf tunggal. yaitu adanya potongan sagital dan dapat memberikan gambaran hubungan diskus intervertebra dan radiks saraf yang jelas. 9. karena melibatkan penetrasi pada ruang subarakhnoid. Selain itu.  CT-Scan dapat memberikan gambaran struktur anatomi tulang vertebra dengan baik. laju endap darah. fosfatase alkali/asam. Nerve Conduction Study (NCS) dan Electromyography (EMG) NCS dan EMG sangat membantu untuk membedakan asal nyeri atau untuk menentukan keterlibatan saraf. d. Namun demikian. apakah dari radiks. maka pemeriksaan elektrofisiologis tidak dianjurkan. sensitivitas CT-Scan tanpa myelography dalam mendeteksi herniasi masih kurang bila dibandingkan dengan MRI.  Urin analisis. Myelography merupakan proses yang invasif.

unilateral Kelemahan pada otot yang diinervasi nervus yang Mononeuropati terkena dan diikuti dengan nyeri 11. HNP kesemutan. Diagnosis Banding Nyeri punggung bawah disertai nyeri menjalar. Terapi Non Farmakologi 1) Akut :  Imobilisasi  Pengaturan berat badan. dan aktivitas  Modalitas termal (terapi panas dan dingin)  Pemijatan  Traksi (tergantung kasus)  Pemakaian alat bantu (misalnya korset atau tongkat) 2) Kronik  Terapi psikologis  Modulasi nyeri (akupunktur atau modalitas termal)  Latihan kondisi otot 43 . neurologis yang mengindikasikan adanya iritasi radiks atau gangguan fungsi neurologis. posisi tubuh. tersetrum. kelemahan dan kebas di area lumbal distribusi nervus spinal yang terkena stenosis Cauda equine Gangguan BAB dan BAK. Penatalaksanaan a. saddle anaesthesia. syndrome kelemahan ekstremitas (paraparese/plegi) Salah satu bentuk neuropati DM dengan karakteristik Diabetic kelemahan diikuti pengecilan otot pelvifemoral baik amyotrophy unilateral atau bilateral dengan disertai nyeri Gangguan pada plexus lumbosacral dengan nyeri Lumbosacral terbakar/tajam di bagian paha diikuti kelemahan dan plexopathy pengecilan otot betis. Stenosis Spinal Nyeri menjalar. 10.

Terapi Farmakologi 1) NSAIDs  Contoh : Ibuprofen  Mekanisme Aksi : Menghambat reaksi inflamasi dan nyeri dengan cara menurunkan sintesis prostaglandin  Dosis dan penggunaan : Dewasa : 300 – 800 mg per oral setiap 6 jam (4x1 hari) atau 400 – 800 mg IV setiap 6 jam jika dibutuhkan 2) Tricyclic Antidepressants  Contoh : Amitriptyline  Mekanisme Aksi : Menghambat reuptake serotonin dan / atau norepinefrin oleh membran saraf presynaptic. posisi tubuh.  Dosis dan penggunaan : Dewasa : 100 – 300 mg 1x1 hari pada malam hari 3) Muscle Relaxants  Contoh : Cyclobenzaprine  Mekanisme Aksi : Relaksan otot rangka yang bekerja secara sentral dan menurunkan aktivitas motorik pada tempat asal tonik somatic yang mempengaruhi baik neuron motor alfa maupun gamma.  Dosis : Dewasa : 5 mg per oral setiap 8 jam (3x1 hari) 4) Analgesik  Contoh : Tramadol (Ultram)  Mekanisme Aksi : Menghambat jalur nyeri ascenden. merubah persepsi serta respon terhadap nyeri. menghambat reuptake norepinefrin dan serotonin 44 . dapat meningkatkan konsentrasi sinaptik dalam SSP.  Rehabilitasi vokasional  Pengaturan berat badan. Berguna sebagai analgesik untuk nyeri kronis dan neuropatik tertentu. dan aktivitas b.

Bedah (pada HNP) Indikasi :  skiatika dengan terapi konservatif selama > 4 minggu : nyeri berat.  Dosis :  Dewasa : 50 – 100 mg per oral setiap 4 – 6 jam (4x1 hari) jika diperlukan 5) Antikonvulsan  Contoh : Gabapentin (Neurontin)  Mekanisme Aksi : Penstabil membran. menetap. Invasif Non Bedah  Blok saraf dengan anestetik local  Injeksi steroid (metilprednisolone) pada epidural untuk mengurangi pembengkakan sehingga menurunkan kompresi radiks saraf d. suatu analog struktural dari penghambat neurotransmitter gamma-aminobutyric acid (GABA). dan progresif  defisit neurologis memburuk  sindroma kauda  stenosis kanal (setelah terapi konservatif tidak berhasil)  terbukti adanya kompresi radiks berdasarkan pemeriksaan neurofisiologis dan radiologi 12. Prognosis  Quo ad vitam : ad bonam  Quo ad functionam : dubia ad malam 45 . yang mana tidak menimbulkan efek pada reseptor GABA.  Dosis :  Dewasa : Neurontin  Hari ke-1 : 300 mg per oral 1x1 hari  Hari ke-2 : 300 mg per oral setiap 12 jam (2x1 hari)  Hari ke-3 : 300 mg per oral setiap 8 jam (3x1 hari) c.

Definisi Spondylosis adalah penyakit degeneratif tulang belakang. Kondisi ini lebih banyak menyerang pada wanita. 2. Faktor obesitas juga berperan dalam menyebabkan perkembangan spondylosis lumbar. Anatomi Columna vertebralis merupakan poros tulang rangka tubuh yang memungkinkan untuk bergerak. Spondylosis disebabkan oleh proses degenerasi yang progresif pada diskus intervertebralis. Spinal cord merupakan struktur yang Sangat sensitif dan penting karena menghubungkan otak dan sistem saraf perifer. facet joint. Faktor utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan spondylosis lumbal adalah usia. corpus vertebra dan ligamen (terutama ligamen flavum). Komponen-komponen vertebra yang seringkali mengalami spondylosis adalah diskus intervertebralis. 12 columna vertebra thoracal. 46 . Rasa nyeri pada spondylosis ini disebabkan oleh terjadinya osteoartritis dan tertekan radiks oleh kantong durameter yang mengakibatkan iskemik dan radang. Proses degenerasi umumnya terjadi pada segmen L4 – L5 dan L5 – S1. penyempitan kanalis spinalis dan foramen intervertebralis dan iritasi persendian posterior. Spondylosis lumbal merupakan penyakit degenerative pada corpus vertebra atau diskus intervertebralis. Spondylosis lumbal seringkali merupakan hasil dari osteoarthritis atau spur tulang yang terbentuk karena adanya proses penuaan atau degenerasi. Terdapat 33 columna vertebralis. 5 columna vertebra sacral dan 4 columna vertebra coccygeal. Columna vertebrales juga membentuk saluran untuk spinal cord. meliputi 7 columna vertebra cervical. Pada faktor usia menunjukkan bahwa kondisi ini banyak dialami oleh orang yang berusia 40 tahun keatas. SPONDILOSIS LUMBAL 1. 5 columna vertebra lumbal. Vertebra sacral dan cocygeal menyatu menjadi sacrum-coccyx pada umur 20 sampai 25 tahun. duduk dalam waktu yang lama dan kebiasaan postur yang jelek. obesitas. yang mengakibatkan makin menyempitnya jarak antar vertebra sehingga mengakibatkan terjadinya osteofit.

dan perubahan degeneratif di daerah inilah mengakibatkan kebanyakan penekanan akar saraf pada stenosis spinalis lumbalis. Dinding dorsal dibatasi oleh processus articularis superior dari vertebra bagian bawah. dan corpus verterbralis di bagian inferior. Di bagian recessus inilah yang merupakan bagian tersempit. Akar saraf yang berhubungan dengan tiap segmen dipisahkan dari kantong dura setinggi ruang intervertebra lalu melintasi recessus lateralis dan keluar dari canalis spinalis satu tingkat dibawahnya melalui foramina intervertebralis. di lateral oleh pediculus. Di tiap-tiap titik ini dapat terjadi penekanan. yaitu foramina intervertebralis. yaitu foramen intervertebralis. di posterolateral oleh facet joint dan di posterior oleh lamina atau ligament kuning. Canalis spinalis dibentuk di bagian anterior oleh discus intervertebralis atau corpus vertebra. Setelah melengkung secara lateral mengelilingi pediculus. lalu berakhir di caudal di bagian terbuka yang lebih lebar dari canalis spinalis di lateral. Dinding lateral dibentuk oleh pediculus vertebralis. yang merupakan bagian dari facet joint. Di bagian sempit recessus lateralis. Recessus lateralis adalah bagian lateral dari canalis spinalis. 47 . Dimulai di pinggir processus articularis superior dari vertebra inferior. dinding dorsalnya hanya dibentuk oleh hanya processus lateralis. sampai ke bagian kecil dari lamina dan juga oleh ligamen kuning (lamina). Canalis spinalis mempunyai dua bagian yang terbuka di lateral di tiap segmen. Dinding anterior dari recessus lateralis dibatasi oleh discus intervertebralis di bagian superior.

Struktur Columna Vertebralis Lumbal 48 . Gambar 1. Columna Vertebralis Gambar 2.

foramen ini akan membentuk saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. sedangkan arteri radikularis dibagi menjadi arteri radikularis posterior dan anterior yang dikenal juga ramus vertebromedularis arteria interkostalis. nyeri dan gerak posisi) dan traktus descenden (yang membawa informasi dari otak ke anggota gerak dan mengontrol fungsi tubuh). 49 . Nervus spinalis/akar nervus yang berasal dari medula spinalis melewati suatu lubang di vertebra yang disebut foramen dan membawa informasi dari medula spinalis samapi ke bagian tubuh dan dari tubuh ke otak. organ tubuh dan kembali ke otak. yaitu arteri spinalis dan arteri radikularis. Medulla Spinalis berlanjut menjadi Kauda Equina (di Bokong) yang lebih tahan terhadap cedera. usus dan genitalia. Ada 31 pasang nervus spinalis dan dibagi dalam empat kelompok nervus spinalis. dan anggota tubuh bagian atas  nervus thorak : mempersarafi tubuh dan perut  nervus lumbal dan nervus sakral : mempersarafi tungkai. Arteri spinalis dibagi menjadi arteri spinalis anterior dan posterior yang berasal dari arteri vertebralis. Medula spinalis diperdarahi oleh 2 susunan arteri yang mempunyai hubungan istemewa. Otak dan medula spinalis merupakan sistem saraf pusat dan yang mehubungkan saraf- saraf medula spinalis ke tubuh adalah sistem saraf perifer. badan. Medula spinalis terdiri atas traktus ascenden (yang membawa informasi di tubuh menuju ke otak seperti rangsang raba. Medula Spinalis disuplai oleh arteri spinalis anterior dan arteri spinalis posterior. Ketika tulang belakang disusun. leher. kandung kencing. yaitu :  nervus servikal : berperan dalam pergerakan dan perabaan pada lengan. Dari otak medula spinalis turun ke bawah kira-kira ditengah punggung dan dilindungi oleh cairan jernih yaitu cairan serebrospinal. suhu. Medula spinalis terdiri dari berjuta-juta saraf yang mentransmisikan informasi elektrik dari dan ke ekstremitas. Medula spinalis mulai dari akhir medulla oblongata di foramenmagnum sampai konus medullaris di level Tulang Belakang L1-L2.

Etiologi Spondylosis lumbal muncul karena adanya fenomena proses penuaan atau perubahan degeneratif. Peta Dermatomal sistem sensorik saraf Ujung akhir dari medula spinalis disebut conus medularis yang letaknya di L1 dan L2. nervus spinalis selanjutnya bergabung membentuk cauda equina. Gambar 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini tidak 50 . Setelah akhir medula spinalis. 3.

tinggi-berat badan. Kedua penelitian tersebut telah mengevaluasi progresi dari perubahan degeneratif yang menunjukkan bahwa sekitar ½ (47 – 66%) spondylosis berkaitan dengan faktor 51 . Faktor resiko Spondylosis lumbal banyak pada usia 30 – 45 tahun dan paling banyak pada usia 45 tahun. Faktor usia Beberapa penelitian pada osteoarthritis telah menjelaskan bahwa proses penuaan merupakan faktor resiko yang sangat kuat untuk degenerasi tulang khususnya pada tulang vertebra. Kondisi ini lebih banyak menyerang pada wanita daripada laki-laki. Begitu pula. 4. dan vibrasi seluruh tubuh (seperti berkendaraan). degenerasi diskus terjadi sekitar 16% pada usia 20 tahun dan sekitar 98% pada usia 70 tahun. b. berkaitan dengan gaya hidup. postur jelek yang terus menerus). massa tubuh. Suatu penelitian otopsi menunjukkan bahwa spondylitis deformans atau spondylosis meningkat secara linear sekitar 0% . aktivitas fisik. Penelitian Spector and MacGregor menjelaskan bahwa 50% variabilitas yang ditemukan pada osteoarthritis berkaitan dengan faktor herediter. Faktor- faktor resiko yang dapat menyebabkan spondylosis lumbal adalah:  Kebiasaan postur yang jelek  Stress mekanikal akibat pekerjaan seperti aktivitas pekerjaan yang melibatkan gerakan mengangkat. beban pada lumbal setiap hari (twisting.72% antara usia 39 – 70 tahun. Penelitian retrospektif menunjukkan bahwa insiden trauma pada lumbar. merokok dan konsumsi alkohol. c. Peran herediter Faktor genetik mungkin mempengaruhi formasi osteofit dan degenerasi diskus. Stress akibat aktivitas dan pekerjaan Degenerasi diskus juga berkaitan dengan aktivitas-aktivitas tertentu. mengangkat. membungkuk.  Tipe tubuh Ada beberapa faktor yang memudahkan terjadinya progresi degenerasi pada vertebra lumbal yaitu : a. twisting dan membawa/memindahkan barang. semuanya merupakan faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan spondylosis dan keparahan spondylosis. indeks massa tubuh.

Disamping itu. Osteofit mungkin terbentuk dalam proses degenerasi dan kerusakan cartilaginous mungkin terjadi tanpa pertumbuhan osteofit. Setelah usia 40 tahun. genetik dan lingkungan. dan channel nutrisi lambat laun akan hilang dengan penebalan pada pembuluh arteriole dan venules. sehingga terjadi fraktur pada tepi corpus vertebra dan fraktur end-plate umumnya terjadi pada vertebra yang osteoporosis. sedangkan hanya 2 – 10% berkaitan dengan beban fisik dan resistance training. 5. sekitar 55% kapasitas penerimaan beban terjadi pada tulang cancellous/ trabecular. Perubahan yang terjadi akan memberikan peluang terjadinya patogenesis penyakit degenerasi pada diskus lumbar. Hal ini menurunkan kekuatan pada end-plates yang melebar jauh dari diskus. Kekuatan tulang menurun dengan lebih cepat dibandingkan kuantitas tulang. Cartilaginous end-plate dari corpus vertebra merupakan titik lemah dari diskus sehingga adanya beban kompresi yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan pada cartilaginous end-plate. Adaptasi fungsional Penelitian Humzah and Soames menjelaskan bahwa perubahan degeneratif pada diskus berkaitan dengan beban mekanikal dan kinematik vertebra. kapasitas penerimaan beban pada tulang cancellous/trabecular berubah secara dramatis. Pada usia 23 tahun sampai 40 tahun. Sebelum usia 40 tahun. Setelah usia 40 tahun penurunan terjadi sekitar 35%. Osteofit dapat terbentuk akibat adanya adaptasi fungsional terhadap instabilitas atau perubahan tuntutan pada vertebra lumbar. hanya lapisan tipis tulang yang memisahkan diskus dari channel vaskular. Perubahan ini menyebabkan modifikasi kapasitas penerimaan beban (load- bearing) pada vertebra. Pada usia 60 tahun. terjadi demineralisasi secara bertahap pada cartilago end-plate. Patofisiologi Spondylosis Cervical adalah suatu kondisi patologi persendian akibat degenerasi pada discus intervertebralis dan jaringan pengikat persendian antara ruas vertebra cervical. Dimulai degenerasi ketika integritas serabut 52 . d. Patofisiologi Salah satu aspek yang penting dari proses penuaan adalah hilangnya kekuatan tulang. diskus intervertebralis orang dewasa tidak mendapatkan suplai darah dan harus mengandalkan difusi untuk nutrisi.

apabila terjadi secara terus menerus menyebabkan timbul osteofit yang mengakibatkan tertekannya akar saraf. Keadaan ini menyebabkan diskus berkurang kemampuannya sebagai bantalan sendi yang berfungsi menahan dan menyesuaikan beban. Osteofit terbentuk pada margin permukaan articular dan bersama- sama dengan penebalan kapsular. durameter dari spinal cord membentuk suatu selongsong mengelilingi akar saraf dan ini menimbulkan inflamasi karena jarak diskus membatasi canalis intervertebralis. Dengan penyempitan rongga intervertebra. sehingga nukleus menjadi sedikit kering dan mengkerut serta terjadi ketidakseimbangan penumpuan beban akan menyebabkan sendi facet bergesekan. Dapat terjadi dekalsifikasi pada corpus yang dapat menjadi factor predisposisi terjadinya brush fracture. spasme otot. Pada ligamentum intervertebralis dapat menjadi memendek dan menebal terutama pada daerah yang sangat mengalami perubahan. (b) nucleus pulposus kehilangan cairan. dan nyeri pada kondisi Spondylosis Cervical. membentuk osteofit atau spur atau taji. 2005). Bila usia bertambah maka akan terjadi perubahan degeneratif pada tulang belakang. sendi intervertebra dapat mengalami subluksasi dan menyempitkan foramina intervertebra. Sedangkan pada corpus vertebra. yang terdiri dari dehidrasi dan kolaps nukleus pulposus serta penonjolan ke semua arah dari anulus fibrosus. Anulus mengalami kalsifikasi dan perubahan hipertrofik terjadi pada pinggir tulang korpus vertebra. (d) perubahan ini terjadi sebagai bagian dari proses degenerasi pada diskus dan dapat hadir tanpa menyebabkan adanya tanda-tanda dan gejala. (c) tinggi diskus berkurang. Pada selaput meningeal. 53 . terjadi perubahan patologis berupa adanya lipping yang disebabkan oleh adanya perubahan mekanisme diskus yang menghasilkan penarikan dari periosteum dari annulus fibrosus. Perubahan patologi yang terjadi pada diskus intervertebralis antara lain: (a) annulus fibrosus menjadi kasar. yang dapat juga ditimbulkan oleh osteofit (Mansjoer dkk. Terjadi perubahan patologis pada sendi apophysial yang terkait dengan perubahan pada osteoarthritis. collagen fiber cenderung melonggar dan muncul retak pada berbagai sisi. dapat menyebabkan penekanan pada akar saraf dan mengurangi lumen pada foramen intervertebralis.kolagen berkurang kekentalan serta kandungan air atau matriks yang terdapat didalamnya. Dengan berkurangnya matriks menyebabkan kemampuan diskus menyerap air kedalam tulang berkurang.

Menurut Kirkaldy-Willis. Perubahan yang terjadi pada facet joint selama fase ini sama dengan yang terjadi pada sendi sinovial lainnya. Fase instabilitas intermediate (level II) : fase ini menghasilkan laxitas (kelenturan yang berlebihan) pada kapsul sendi bagian posterior dan annulus fibrosus. Kerusakan yang terjadi pada segmen gerak masih bersifat sementara (reversible). mungkin kurang terjadi penyembuhan karena sudah tidak ada lagi suplai darah. baik lokal maupun menjalar. Pembentukan osteofit timbul karena terdapat tekanan pada ligamen. Paling sering terjadi pada fase disfungsi awal selain melibatkan kapsul dan synovium juga melibatkan permukaan cartilago atau tulang penopang (corpus vertebra). Re-stabilisasi segmen 54 . parastesia atau mati rasa. Pada lapisan paling dalam. Perubahan permanen dari instabilitas dapat berkembang karena kronisitas dan disfungsi yang terus menerus pada tahun-tahun awal. Fase disfungsi awal (level I) : proses patologik kecil yang menghasilkan fungsi abnormal pada komponen posterior dan diskus intervertebralis. superior. dan kelemahan otot. Spondylosis lumbal menggambarkan adanya osteofit yang timbul dari vertebra lumbalis. Osteofit biasanya terlihat pada sisi anterior. Disfungsi diskus pada fase ini masih kurang jelas tetapi kemungkinan melibatkan beberapa kerobekan circumferential pada annulus fibrosus. dan sisi lateral vertebra. Secara perlahan akan terjadi pelebaran yang progresif pada area circumferential yang robek dimana bergabung kedalam kerobekan radial. b. maka akan terjadi kompresi pada saraf tersebut. Nukleus mulai mengalami perubahan dengan hilangnya kandungan proteoglycan. Apabila hal ini mengenai saraf. terdapat sistem yang berdasarkan pada pemahaman segment gerak yang mengalami degenerasi. Kronik sinovitis dan efusi sendi dapat menyebabkan stretch pada kapsul sendi. Perubahan degeneratif pada segmen gerak dapat dibagi kedalam 3 fase kemunduran yaitu : a. Membran synovial yang inflamasi dapat membentuk suatu lipatan didalam sendi sehingga menghasilkan penguncian didalam sendi antara permukaan cartilago dan kerusakan cartilago awal. Jika kerobekannya pada lapisan paling luar maka penyembuhannya mungkin terjadi karena adanya beberapa suplai darah. dan dari hal itu dapat menimbulkan rasa nyeri.

lesi pertama kali terjadi pada L5 – S1 dan pada L4 – L5. dan paling sering terjadi pada lumbosacral joint. Osteofit membentuk respon terhadap gerak abnormal untuk menstabilisasi segmen gerak yang terlibat. Peningkatan gerakan spine dapat memberikan peluang terjadinya subluksasi dari processus articular superior sehingga menyebabkan penyempitan dimensi anteroposterior dari intervertebral joint dan canalis akar saraf bagian atas. kaitannya dengan beban vertikal yang esensial terhadap segmen tersebut. degenerasi mulai terlihat pada awal level I dengan fraktur end-plate dan herniasi diskus. Schneck menjelaskan adanya progresi mekanikal yang lebih jauh akibat perubahan degeneratif pada diskus intervertebralis. hilangnya material diskus. dan perubahan facet terjadi pada middle usia 20-an. Pada lumbal spine bagian bawah. sehingga menghasilkan segmen gerak yang stabil. Pada lumbar spine bagian atas. perubahan diskus mulai terjadi pada usia belasan tahun terakhir. c. Fase stabilisasi akhir (level III) : fase ini menghasilkan fibrosis pada sendi bagian posterior dan kapsul sendi. untuk menjelaskan adanya perubahan degeneratif lainnya pada axial spine. Pada akhirnya. Dia menjelaskan beberapa implikasi dari penyempitan space diskus. Penyakit facet mulai terjadi pada lumbar spine bagian atas. Laxitas juga 55 . sehingga menghasilkan suatu kekakuan segmen gerak dan menurunnya nyeri hebat pada segmen gerak. Secara khas. Spondylosis dan perubahan arthrosis yang melibatkan seluruh segmen gerak sangat berkaitan dengan faktor usia dan terjadi sekitar 60% pada orang-orang yang lebih tua dari usia 45 tahun. dan formasi osteofit. Perubahan degenerasi pada synovial dan intervertebral joint dapat terjadi secara bersamaan. Pedicle didekatnya akan mengalami aproksimasi dengan penyempitan dimensi superior-inferior dari canalis intervertebralis. diskus membentuk jangkar oleh adanya osteofit perifer yang berjalan disekitar circumferentianya. Laxitas akibat penipisan ligamen longitudinal posterior yang berlebihan dapat memungkinkan bulging (penonjolan) pada ligamen flavum dan potensial terjadinya instabilitas spine. posterior dapat membentuk formasi tulang subperiosteal atau formasi tulang (ossifikasi) sepanjang ligamen dan serabut kapsul sendi. sehingga menghasilkan osteofit perifacetal dan traksi spur. Formasi osteofit yang terbentuk disekitar three joint dapat meningkatkan permukaan penumpuan beban dan penurunan gerakan.

akar saraf duramater. Pada tahap sangat lanjut. sacroiliaca joint. Hal ini akan menimbulkan keterbatasan gerak pada regio lumbal dan dapat menimbulkan nyeri pada area ini. atau penyempitan didalam canalis spinal melalui pertumbuhan osteofit yang progresif. sering mempunyai riwayat robekan dari diskusnya dan serangan nyeri yang berulang-ulang dalam beberapa tahun. gejala dan tanda – tanda stenosis spinal atau stenosis saluran akar unilateral dapat timbul. Gambaran klinis yang muncul berupa neurogenik claudication. Keluhan nyeri pinggang pada kondisi spondylosis lumbal disebabkan oleh adanya penurunan space diskus dan penyempitan foramen intervertebralis. yang mencakup nyeri 56 . dan struktur myofascial didalam axial spine. atau spondylolisthesis. Manifestasi klinis Spondylosis lumbal merupakan suatu kelainan dengan ketidakstabilan lumbal. Nyeri sering timbul di daerah punggung dan pantat. Perubahan degeneratif dapat menghasilkan nyeri pada axial spine akibat iritasi nociceptive yang diidentifikasi terdapat didalam facet joint. osteofit pada facet joint dapat mengiritasi saraf spinal pada vertebra sehingga dapat menimbulkan nyeri pinggang. dengan resiko terjadinya proyeksi kedalam canalis intervertebralis dan canalis sentral secara berurutan. dapat menyebabkan perubahan mekanisme berat dan tekanan kaitannya dengan corpus vertebra dan space sendi yang mempengaruhi terbentuknya formasi osteofit dan hipertropi facet pada processus articular inferior – superior. dimana aktivitas yang dijalani terlalu lama dengan rentang perjalanan yang panjang. diskus intervertebralis. Disamping itu. 6. Pasien biasanya berusia di atas 40 tahun dan memiliki tubuh yang sehat. Nyeri pada kasus spondylosis berhubungan erat dengan aktivitas yang dijalani oleh penderita. Adanya penurunan space diskus dan penyempitan foramen intervertebralis dapat menghasilkan iritasi pada radiks saraf sehingga menimbulkan nyeri pinggang yang menjalar. Pemeriksaan neurologis dapat memperlihatkan tanda – tanda sisa dari prolaps diskus yang lama (misalnya tiadanya reflek fisiologis). hipertropi processus articular inferior. Perubahan degenerasi anatomis tersebut dapat mencapai puncaknya dalam gambaran klinis dari stenosis spinalis. herniasi diskus. bulging (penonjolan) dari ligamen flavum.

Daerah fokal yang mengalami gangguan sirkulasi 57 . dan diperingan saat duduk dan tidur. Duduk dalam waktu yang lama dapat menyebabkan nyeri dan gejala-gejala lain akibat tekanan pada vertebra lumbar. Gejala Spondylosis lumbal adalah sebagai berikut:  Rasa sakit yang hilang timbul  Kaku tulang punggung bagian bawah  Rasa sakit yang berkurang dengan istirahat atau setelah berolahraga  Mati rasa daerah sekitar pinggang atau punggung bawah  Kelemahan pada punggung bawah  Sering terjadi kesemutan pada kaki  Kesulitan berjalan  Masalah usus atau kandung kemih (ini jarang terjadi. biasa timbul nyeri karena gerakan dapat merangsang serabut nyeri dilapisan luar annulus fibrosus dan facet joint. dan kadang- kadang terdapat inkontinensia urin. nyeri tungkai.pinggang. Gerakan yang berulang seperti mengangkat beban dan membungkuk (seperti pekerjaan manual dipabrik) dapat meningkatkan nyeri. tapi tidak dalam posisi berdiri. Biasanya segmen yang terlibat lebih dari satu segmen. Gejala klinis Spondylosis dapat ringan sampai berat dan sangat tergantung pada usia penderita. Karakteristik dari spondylosis lumbal adalah nyeri dan kekakuan gerak pada pagi hari. nyeri tungkai bawah. Claudicatio intermiten neurogenik disebabkan oleh insufisiensi suplai vaskuler pada satu atau lebih akar saraf dari cauda equina yang terjadi selama aktivitas motorik dan peningkatan kebutuhan oksigen yang berhubungan dengan hal tersebut. Beristirahat dengan posisi vertebra lumbalis yang terfleksikan dapat mengurangi gejala. tetapi mungkin terjadi jika sumsum tulang belakang dikompresi. berlawanan dengan claudicatio intermiten vaskuler.) Claudicatio intermiten neurogenik dialami oleh 80% pasien. serta rasa kebas dan kelemahan motorik pada ekstremitas bawah yang dapat diperburuk saat berdiri dan berjalan. Pada saat aktivitas. Tanda dan gejala yang mengarahkan kepada hal tersebut adalah defisit motorik. tergantung kepada beratnya penyempitan canalis spinalis. defisit sensorik.

spondiloarthrosis. lateral dan oblique berguna untuk menunjukkan lumbalisasi atau sakralisasi. spondilolisis. menentukan bentuk foramina intervertebralis dan facet joint. dan spondilolistesis. Stenosis spinalis centralis atau stenosis recessus lateralis tidak dapat ditentukan dengan metode ini. retrolistesis. Diagnosa Poto polos tulang belakang yang paling sering dilakukan untuk mendiagnosa adanya spondilosis namun pencitraan pilihan tetap MRI karena MRI membantu menunjukkan lokasi penyempitan kanalis spinalis. Foto X-ray polos dengan arah anteroposterior. Efek lain dari penekanan mekanik adalah perlekatan arachnoid yang akan memfiksasi akar saraf dan menganggu sirkulasi CSF di sekitarnya dengan akibat negatif pada metabolismenya. menunjukkan spondilosis. Gambar 3. dengan hipereksitabilitas neuronal yang berkembang menjadi nyeri atau paresthesia Demielinasi atau hilangnya serat saraf dalam jumlah besar akan berkembang menjadi kelemahan atau rasa kebal. Lumbar Spondylosis 58 . tersebt muncul pada titik tempat terjadinya penekanan mekanik. 7. beratnya penekanan dan penyebaran akar saraf yang terlibat.

biasanya tidak dilengkapi informasi penting untuk diagnosis stenosis spinalis lumbalis. lemak epidural dan ligamentum clavum juga terlihat. Dengan potongan setebal 3 mm. karena penyempitan asimptomatik yang terlihat pada MRI atau CT sering ditemukan baik stenosis dari segmen yang asimptomatik atau pasien yang sama sekali asimptomatik dan seharusnya tidak diperhitungkan. facet joint. Gambaran yang mungkin didapatkan pada pemeriksaan Radiologi adalah sebagai berikut:  Penyempitan ruang discus intervertebralis  Perubahan kelengkuangan vertebrae dan penekanan saraf  Osteofit/Spur formation di anterior ataupun posterior vertebrae  Pemadatan Corpus vertebrae  Porotik (Lubang) pada tulang  Vertebrae tampak seperti bambu (Bamboo Spine)  Sendi sacroiliaca tidak tampak atau kabur  Celah sendi menghilang Mielografi (tidak dilakukan lagi) bermanfaat dalam menentukan derajat dan kemiringan besarnya stenosis karena lebih dari sati titik penekanan tidak cukup. ukuran dan bentuk canalis spinalis. CT adalah metode terbaik untuk mengevaluasi penekanan osseus dan pada saat yang sama juga nampak struktur yang lainnya. lamina. MRI dengan jelas lebih canggih daripada CT dalam visualisasi struktur non osseus dan saat ini merupakan metode terbaik untuk mengevaluasi isi canalis spinalis. 59 . dan juga morfologi discuss intervertebralis. Khususnya kemungkinan untuk melakukan rangkaian fungsional spinal lumbalis akan sangat bermanfaat. dengan adanya perkembangan pemakaian MRI yang cepat yang merupakan metode non invasif. Sangat penting bahwa semua gambaran radiologis berhubungan dengan gejala- gejala. recessus lateralis. peranan MRI dalam diagnosis penyakit ini akan bertambah. Disamping itu. Bagaimanapun juga. di luar dari penampakan degradasi diskus pada T2 weighted image.

Gambar 4. Ilustrasi Gambaran Radiologis pada Spondylosis 60 . Spinal canal stenosis-Sagittal MRI Gambar 5.

Gambar 6. Osteofit Gambar 7. Perubahan kelengkungan vertebrae 61 .

62 . Penekanan akar saraf Gambar 9. usia dan tujuan. Osteofit atau Spur Formation 8. Pada kebanyakan pasien dapa dicapai perbaikan yang nyata atau berkurangnya gejala-gejala. yang menetap sampai pada 1/3 pasien. Gambar 8. Gejala- gejala radikuler dan claudicatio intermitten neurogenik lebih mudah berkurang dengan pengobatan daripada nyeri punggung. Penatalaksanaan Pengobatan harus disesuaikan dengan pasien.

Carilah penyebab sebenarnya dari gejala pada pasien. maka diindikasikan untuk bedah eksisi. Terapi Pembedahan Terapi pembedahan diindikasikan jika terapi konservatif gagal dan adanya gejala-gejala permanen khususnya defisit mototrik. berbeda dengan terapi konservatif untuk herniasi diskus. b. Pada beberapa kelompok pasien. Terapi medis dipergunakan untuk mencari penyebab sebenarnya dari gejala nyeri punggung dan nyeri skiatika.  Pengobatan tidak diindikasikan pada keadaan tanpa komplikasi. perbaikan yang mereka rasakan cukup memuaskan dan jarak saat berjalan cukup untuk kegiatan sehari-hari.a. Pengobatan konservatif Pengobatan ini terdiri dari analgesik dan memakai korset lumbal yang mana dengan mengurangi lordosis lumbalis dapat memperbaiki gejala dan meningkatkan jarak saat berjalan. Bedah eksisi dilakukan pada skiatika dengan bukti adanya persinggungan dengan nervus skiatika yang tidak membaik dengan bed rest total selama 2 hari. Terapi konservatif untuk stenosis spinalis lumbalis dengan gejala-gejala permanen jarang sekali berhasil untuk waktu yang lama.  Jika muncul gejala terkenanya akar saraf.  Jangan menyimpulkan bahwa gejala pada pasien berhubungan dengan osteofitosis. maka diindikasikan untuk bed rest total selama dua hari. Percobaan dalam 3 bulan direkomendasikan sebagai bentuk pengobatan awal kecuali terdapat defisit motorik atau defisit neurologis yang progresif. Pembedahan tidak dianjurkan pada keadaan tanpa komplikasi. Jika hal tersebut tidak mengatasi keluhan.1 63 .

Dekompresi kanalis spinalis Laminektomi adalah metode standar untuk dekompresi kanalis spinalis bagian tengah.  Jika osteofit menghilang. Aneurisma aorta dapat menyebabkan erosi tekanan dengan vertebra yang berdekatan.  Reduksi tinggi discus posterior samapi kurang dari 4 mm atau tinggi foramen sampai kurang dari 15 mm sesuai dengan diagnosis kompresi saraf yang diinduksi osteofit. Terdapat angka komplikasi post operatif non spesifik dan jaringan parut epidural yang relatif rendah. dekompresi kanalis spinalis dengan dekompresi recessus lateralis dan foramen intervertebralis. dekompresi selektif dari akar saraf. Jika osteofit muncul kembali. maka stenosis spinalis adalah komplikasi yang mungkin terjadi.  Jika spondilosis lumbalis mucul di canalis spinalis. Terapi pembedahan tergantung pada tanda dan gejala klinis. Secara tradisional. sehingga tidak nampak lagi. Penekanan saraf dari bagian posterior osteofit adalah penyulit yang mungkin terjadi hanya jika sebuah neuroforamen ukurannya berkurang 30% dari normal. tiga kelompok prosedur operasi yang dapat dilakukan anatara lain:  Operasi dekompresi  Kombinasi dekompresi dan stabilisasi dari segmen gerak yang tidak stabil  Operasi stabilisasi segmen gerak yang tidak stabil Prosedur dekompresi adalah: dekompresi kanalis spinalis. Angka kegagalan dengan gejala yang rekuren adalah ¼ pasien setelah 5 tahun. tanda yang pertama muncul seringkali adalah erosi dari osteofit-osteofit tersebut. selama struktur spina yang lain tetap intak khususnya pada pasien 64 . Keuntungannya adalah biasanya mudah dikerjakan dan mempunyai angka kesuksesan yang tinggi.  Terdapat kasus adanya massa tulang setinggi L4 yang menekan duodenum. carilah adanya aneurisma aorta. laminektomi sendiri diduga tidak menganggu stabilitas spina lumbalis. dan sebagian karena pendekatan yang berbeda terhadap stenosis spinalis lumbalis.

sehingga biasanya digabungkan dengan beberapa bentuk facetectomy parsial. Jika jaringan parut sangat nyata. Untuk alasan inilah maka discectomy tidak dianjurkan untuk stenosis spinalis lumbalis dimana gejalanya ditimbulkan oleh protrusio atau herniasi. Dengan menjaga diskus bahkan yang sudah mengalami degenerasi. 65 . Jaringan parut epidural muncul setelah laminektomi dan kadang-kadang berlokasi di segmen yang bersebelahan dengan segmen yang dioperasi. Hal ini dapat menjelaskan adanya spodilolistesis post operatif setelah laminektomi yang akan memberikan hasil yang buruk. 1986). bagian penting yang lain seperti diskus intervertebaralis dan facet joint seringkali terganggu. pembengkakan lemak post operatif dapat mengakibatkan penekanan akar saraf. Sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena instabilitas post operatif sangat sulit diobati. Terdapat insiden yang tinggi dari instabilitas post operatif. Dekompresi harus dilakukan pada pasien dengan osteoporosis. nampaknya membantu stabilitas segmental (Goel. Walaupun beberapa telah berhasil. Pada spina yang degeneratif. Laminektomi dengan facetectomy parsial adalah prosedur standar stenosis laminektomi tunggal cukup untuk stenosis kanalis spinalis. Laminektomi dikerjakan pada keadaan adanya spondilolistesis degeneratif atau jika terdapat kerusakan operatif dari diskus atau facet joint. kecuali diskus yang terherniasi menekan akar saraf bahkan setelah dekompresi recessus lateralis. Kemungkinan cara yang lain dikerjakan adalah prosedur laminoplasti dengan memindahkan dan memasukkan kembali lengkung laminar dan processus spinosus. hal ini disebut dengan “membran post laminektomi”.manula. ”Unroofing” foramen vertebralis dapat dikerjakan hanya dari arah lateral sebagaimana pada herniasi diskus foramina. Autotransplantasi lemak dilakukan pada epidural oleh beberapa ahli bedah untuk mengurangi fibrosis.

Dekompesi dan stabilisasi Laminektomi dapat digabungkan dengan berbagai metode stabilisasi. dan nyeri tempat donor graft iliakus. lamina atau pedikel. laminektomi dengan penyatuan spinal lebih baik daripada laminektomi tunggal karena laminektomi tunggal berhubungan dengan insiden yang tinggi dari spondilolistesis progresif. Degenerasi dan stenosis post fusi dapat muncul pada segmen yang bersebelahan dengan yang mengalami fusi yang disebabkan oleh hipermotilitas. trauma neurovaskuler. khususnya jika pasien mempunyai gejala unilateral. harrington rods dan Luque frame dengan kawat sublaminer. Laminektomi spondilolistesis degeneratif dan penyatuan prosesus intertranvesus dengan atau tanpa fiksasi internal adalah prosedur standar. atau fraktur fatique dari pars artikularis yang menipis.Dekompresi selektif akar saraf Kecuali terdapat penyempitan diameter sagital kanalis spinalis. Beberapa ahli mengatakan. Komplikasi spesifik prosedur ini antara lain insufisiensi dekompresi. Stenosis spinalis lumbalis diterapi dengan pembedahan dalam rangkaian operasi yang banyak dengan hasil jangka 66 . Walaupun hasil percobaan mendukung teori ini. dekompresi selektif akar saraf sudah cukup. fraktur prosesus spinosus. sebagaimana pada sistem yang lebih lama seperti knodt rods. tidak terdapat konsensus bahwa hal ini merupakan pengobatan yang paling efektif. efek klinis dari komplikasi ini masih belum dapat diketahui. instabilitas yang disebabkan oleh pengangkatan 30-40% dari facet joint. ileus paralitik. Facetectomy medial melalui laminotomi dapat dikerjakan. Sistem terbaru menggunakan skrup pedikuler. Berbeda dari spondilolistesis degeneratif dimana dekompresi dan stablisasi adalah prosedur yang dianjurkan. Biasanya bagian medial facet joint yang membungkus akar saraf diangkat. Untuk alternatifnya dapat dilakukan penyatuan interkorpus lumbalis posterior atau penyatuan interkorpus anterior. pseudoarthrosis. Komplikasi prosedur stabilisasi termasuk di dalamnya kerusakan materi osteosintetik.

Pencegahan Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya spondilosis:  Hindari aktivitas dengan benturan tinggi (high impact). Protokol pembedahan yang dianjurkan antara lain:  Pada pasien dengan gejala-gejala permanen yang bertambah saat berdiri atau menyebabkan claudicatio intermitten neurogenik dekompresi dan stabilisasi  Pada pasien tanpa gejala-gejala yang permanen tapi dengan gejala intermitten yang jelas berhubungan dengan postur  dilakukan prosedur stabilisasi. setelah lebih dari 40 tahun. Namun demikian. Pada pasien yang sudah mengalami degeneratif pada lumbalnya. dimana hal ini sulit untuk diketahui perkembangannya. maka kondisi pasien akan membaik dalam waktu 3 bulan . penelitian dna pengalaman dalam terapi. kelenturan. definisi dan klasifikasi masih belum jelas karena derajat stenosis tdak selalu berhubungan dengan gejala-gejalanya. seperti adanya kompresi dan penyempitan saraf yang nantinya dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan gangguan perkemihan. Dalam kasus ini. Prognosis Spondylosis merupakan penyakit degeneratif tulang belakang. terutama jika keluhan membaik dengan korset lumbal Penurunan berat badan dan latihan untuk memperbaiki postur tubuh dan menguatkan otot-otot abdominal dan spinal harus dikerjakan bersama dengan pengobatan baik konservatif maupun pembedahan. namun sudah tidak merasakan adanya nyeri pada daerah punggung bawah dalam waktu satu minggu. namun perlu diperhatikan juga penyebab dan faktor yang mempengaruhinya. 67 . etiologinya masih belum dapat dimengerti secara jelas dan juga. 10. dan jangkauan gerak. misalnya berlari. 9.  Lakukan exercise leher dan punggung yang dapat meningkatkan kekuatan otot. Pilih jenis olah raga yang lebih lembut dan mengandalkan peregangan dan kelenturan. tidak menimbulkan kecacatan yang nyata. pendek yang baik.

Misalnya waktu menonton TV. 68 . Hal ini membantu mencegah terjadinya cedera bila ada trauma. ataupun mengemudi.  Berhenti merokok.  Lindungi diri dengan sabuk pengaman saat berkendara. Jangan membungkuk bila hendak mengangkat barang berat lebih baik tekuk tungkai dan tetap tegak. Duduklah yang tegak. bekerja di depan komputer. Jangan melakukan aktivitas dalam posisi yang sama dalam jangka waktu lama.  Pertahankan postur yang baik. Merokok dapat meningkatkan resiko terjadinya spondylosis. Jangan bertumpu pada satu kaki bila berdiri. Beristirahatlah sering-sering.

yaitu proses kompresif. Nyeri pada punggung bawah merupakan salah satu tanda radikulopati lumbal. Berdasarkan hasil anamnesa. dan proses degeneratif sesuai dengan struktur dan lokasi terjadinya proses patologis. stenosis foramina. Radikulopati lumbar merupakan bentuk radikulopati pada daerah lumbar yang disebabkan oleh iritasi atau kompresi dari radiks saraf lumbal.1 Bagaimana penegakan diagnosis pada pasien ini? Definisi Radikulopati adalah suatu keadaan yang berhubungan dengan gangguan fungsi dan struktur radiks akibat proses patologis yang dapat mengenai satu atau lebih radiks saraf dengan pola gangguan bersifat dermatomal. atau hipermobilitas dari segmen vertebra. Nyeri dibagian punggung bawah sudah dirasakan sejak ± 5 tahun yang lalu. stenosis sentral. BAB III PEMBAHASAN 3. Selain kompresi radikulopati lumbal juga dapat disebabkan oleh iritasi atau inflammasi dari radiks nervus lumbal. Lumbar radiculopathy menunjuk kepada suatu proses patologis yang melibatkan radiks nervus lumbal sehingga menyebabkan gejala radicular ke ekstremitas bawah. Pada radikulopati lumbar. Radikulopati lumbar sering juga disebut siatika. pasien mengaku sering mengalami nyeri pada punggung bagian bawah. Proses Kompresif Kelainan-kelainan yang bersifat kompresif sehingga mengakibatkan radikulopati adalah :  Herniated nucleus pulposus (HNP) atau herniasi diskus 69 . a. Sebagian besar penyebab patologisnya merupakan kompresi langsung pada radiks nervus lumbal tanpa melihat etiologis dari kompresi seperti herniasi diskus. pecahan/patahan tulang. keluhan nyeri punggung bawah (low back pain) sering didapatkan. proses inflamasi. Etiologi Terdapat tiga faktor utama penyebab terjadinya radikulopati.

Faktor utama yang bertanggung jawab terhadap perkembangan spondylosis lumbal adalah usia. Proses Inflamasi Kelainan-kelainan inflamasi sehingga mengakibatkan radikulopati adalah :  Guillain–Barré syndrome  Herpes Zoster c. obesitas.  Dislokasi traumatik  Fraktur kompresif  Skoliosis  Tumor medulla spinalis  Neoplasma tulang  Spondilosis  Spondilolistesis dan Spondilolisis  Stenosis spinal  Spondilitis tuberkulosis  Spondilosis servikal b. Spondylosis lumbal seringkali merupakan hasil dari osteoarthritis atau spur tulang yang terbentuk karena adanya proses penuaan atau degenerasi. facet joint. Faktor obesitas juga berperan dalam menyebabkan perkembangan spondylosis lumbar. Kondisi ini lebih banyak menyerang pada wanita. Pada faktor usia menunjukkan bahwa kondisi ini banyak dialami oleh orang yang berusia 40 tahun keatas. Proses degenerasi umumnya terjadi pada segmen L4 – L5 dan L5 – S1. Proses Degeneratif Kelainan yang bersifat degeneratif sehingga mengakibatkan radikulopati adalah Diabetes Mellitus. Dari definisi diketahui bahwa spondylosis merupakan penyakit degeneratif yang terutama mengenai wanita berusia diatas 40 tahun. Hal ini sesuai dengan 70 . corpus vertebra dan ligamen (terutama ligamen flavum). Komponen-komponen vertebra yang seringkali mengalami spondylosis adalah diskus intervertebralis. duduk dalam waktu yang lama dan kebiasaan postur yang jelek. Spondylosis lumbal merupakan penyakit degenerative pada corpus vertebra atau diskus intervertebralis.

pasien ini. batuk.  Refleks tendon pada daerah yang dipersarafi radiks yang bersangkutan menurun atau bahkan menghilang Berdasarkan hasil anamnesa diketahui bahwa gejala yang dialami pasiensesuai dengan gejala klinis yang timbul pada radikulopati yaitu nyeri di daerah punggung bawah yang menjalar ke kaki. atau bersin. Gejala Klinis Secara umum. Nyeri bersifat tajam dan diperhebat oleh gerakan.  Kelemahan otot-otot yang dipersarafi radiks yang bersangkutan.  Hilang atau berkurangnya sensorik (hipesthesia) di permukaan kulit sepanjang distribusi dermatom radiks yang bersangkutan. serta kelemahan otot-otot pada ekstremitas bawah. Rasa nyeri ini mengikuti pola dermatomal. manifestasi klinis radikulopati adalah sebagai berikut :  Rasa nyeri berupa nyeri tajam yang menjalar dari daerah parasentral dekat vertebra hingga kearah ekstremitas.  Paresthesia yang mengikuti pola dermatomal. berkurangnya sensorik pada daerah lutut ke bawah.sehingga penyebab radikulopati yang dialami oleh pasien lebih disebabkan oleh spondylosis. Gejala klinis Spondylosis dapat ringan sampai berat dan sangat tergantung pada usia penderita.) 71 . dimana pasien merupakan seorang wanita yang berumur 50 tahun. Gejala Spondylosis lumbal adalah sebagai berikut:  Rasa sakit yang hilang timbul  Kaku tulang punggung bagian bawah  Rasa sakit yang berkurang dengan istirahat atau setelah berolahraga  Mati rasa daerah sekitar pinggang atau punggung bawah  Kelemahan pada punggung bawah  Sering terjadi kesemutan pada kaki  Kesulitan berjalan  Masalah usus atau kandung kemih (ini jarang terjadi. mengedan. tetapi mungkin terjadi jika sumsum tulang belakang dikompresi.

beratnya penekanan dan penyebaran akar saraf yang terlibat. Sering terjadi kesemutan (kram) pada kaki. dan spondilolistesis. Pemeriksaan Penunjang Poto polos tulang belakang yang paling sering dilakukan untuk mendiagnosa adanya spondilosis namun pencitraan pilihan tetap MRI karena MRI membantu menunjukkan lokasi penyempitan kanalis spinalis. retrolistesis. menunjukkan spondilosis. Foto X-ray polos dengan arah anteroposterior. Gambar Lumbar Spondylosis Gambaran yang mungkin didapatkan pada pemeriksaan Radiologi adalah sebagai berikut:  Penyempitan ruang discus intervertebralis  Perubahan kelengkuangan vertebrae dan penekanan saraf  Osteofit/Spur formation di anterior ataupun posterior vertebrae 72 . kelemahan pada kaki. spondiloarthrosis. lateral dan oblique berguna untuk menunjukkan lumbalisasi atau sakralisasi. Stenosis spinalis centralis atau stenosis recessus lateralis tidak dapat ditentukan dengan metode ini. kesulitan berjalan serta pasien juga susah untuk BAB. spondilolisis. menentukan bentuk foramina intervertebralis dan facet joint. Sebagian besar gejala klinis pada spondylosis lumbal juga dialami oleh pasien yaitu Rasa nyeri pada punggung bawah.

 Pemadatan Corpus vertebrae
 Porotik (Lubang) pada tulang
 Vertebrae tampak seperti bambu (Bamboo Spine)
 Sendi sacroiliaca tidak tampak atau kabur
 Celah sendi menghilang

Mielografi (tidak dilakukan lagi) bermanfaat dalam menentukan derajat dan
kemiringan besarnya stenosis karena lebih dari sati titik penekanan tidak cukup.

CT adalah metode terbaik untuk mengevaluasi penekanan osseus dan pada saat
yang sama juga nampak struktur yang lainnya. Dengan potongan setebal 3 mm,
ukuran dan bentuk canalis spinalis, recessus lateralis, facet joint, lamina, dan juga
morfologi discuss intervertebralis, lemak epidural dan ligamentum clavum juga
terlihat.

MRI dengan jelas lebih canggih daripada CT dalam visualisasi struktur non
osseus dan saat ini merupakan metode terbaik untuk mengevaluasi isi canalis spinalis.
Disamping itu, di luar dari penampakan degradasi diskus pada T2 weighted image,
biasanya tidak dilengkapi informasi penting untuk diagnosis stenosis spinalis
lumbalis. Bagaimanapun juga, dengan adanya perkembangan pemakaian MRI yang
cepat yang merupakan metode non invasif, peranan MRI dalam diagnosis penyakit
ini akan bertambah. Khususnya kemungkinan untuk melakukan rangkaian fungsional
spinal lumbalis akan sangat bermanfaat.

Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan penunjang berupa Foto x-ray torako-
lumbo-sakral AP/Lateral dan CT-scan lumbosacral.

73

Dari gambaran radiologi diatas tampak osteofit serta penyempitan pada V. L5-
S1. Ini merupakan gambaran radiologi yang dapat ditemukan pada spondylosis.

Gambar: Hasil CT Scan lumbosacral Ny. MK
3.2 Bagaimana penanganan pada pasien ini ?
Pengobatan harus disesuaikan dengan pasien, usia dan tujuan. Pada kebanyakan
pasien dapat dicapai perbaikan yang nyata atau berkurangnya gejala-gejala. Gejala-
gejala radikuler dan claudicatio intermitten neurogenik lebih mudah berkurang
dengan pengobatan.

a. Pengobatan konservatif

Pengobatan ini terdiri dari analgesik dan memakai korset lumbal yang mana
dengan mengurangi lordosis lumbalis dapat memperbaiki gejala dan
meningkatkan jarak saat berjalan. Pada beberapa kelompok pasien, perbaikan

74

yang mereka rasakan cukup memuaskan dan jarak saat berjalan cukup untuk
kegiatan sehari-hari.

Percobaan dalam 3 bulan direkomendasikan sebagai bentuk pengobatan awal
kecuali terdapat defisit motorik atau defisit neurologis yang progresif. Terapi
konservatif untuk stenosis spinalis lumbalis dengan gejala-gejala permanen jarang
sekali berhasil untuk waktu yang lama, berbeda dengan terapi konservatif untuk
herniasi diskus.

Terapi medis dipergunakan untuk mencari penyebab sebenarnya dari gejala
nyeri punggung dan nyeri skiatika.

 Jangan menyimpulkan bahwa gejala pada pasien berhubungan dengan
osteofitosis. Carilah penyebab sebenarnya dari gejala pada pasien.
 Jika muncul gejala terkenanya akar saraf, maka diindikasikan untuk bed rest
total selama dua hari. Jika hal tersebut tidak mengatasi keluhan, maka
diindikasikan untuk bedah eksisi.
 Pengobatan tidak diindikasikan pada keadaan tanpa komplikasi.
b. Terapi Pembedahan

Terapi pembedahan diindikasikan jika terapi konservatif gagal dan adanya
gejala-gejala permanen khususnya defisit mototrik. Pembedahan tidak dianjurkan
pada keadaan tanpa komplikasi.

Bedah eksisi dilakukan pada skiatika dengan bukti adanya persinggungan
dengan nervus skiatika yang tidak membaik dengan bed rest total selama 2 hari.1

 Penekanan saraf dari bagian posterior osteofit adalah penyulit yang mungkin
terjadi hanya jika sebuah neuroforamen ukurannya berkurang 30% dari
normal.
 Reduksi tinggi discus posterior sampai kurang dari 4 mm atau tinggi foramen
sampai kurang dari 15 mm sesuai dengan diagnosis kompresi saraf yang
diinduksi osteofit.
 Jika spondilosis lumbalis mucul di canalis spinalis, maka stenosis spinalis
adalah komplikasi yang mungkin terjadi.

75

sehingga seharusnya terapi yang dilakukan pada pasien adalah terapi pembedahan. CPG 1x75 mg 3. dekompresi selektif dari akar saraf. Aneurisma aorta dapat menyebabkan erosi tekanan dengan vertebra yang berdekatan. namun pasien menolak dilakukan tindakan operasi. Infus NaCl 0.  Terdapat kasus adanya massa tulang setinggi L4 yang menekan duodenum. berdasarkan hasil pemeriksaan fisik. Ceftriakson 2x1 gr (iv) . Jika osteofit muncul kembali.. dekompresi kanalis spinalis dengan dekompresi recessus lateralis dan foramen intervertebralis. (iv) . sehingga tidak nampak lagi. Dulcolax sup II (Supp) .9% 500 cc + cernevit 1 vial + Metilprednisolon 250 mg/12 jam .3 Bagaimana Prognosis pasien ini ?  Quo ad vitam : bonam  Quo ad fungtionam : dubia  Quo ad sanationam : dubia 76 . tanda yang pertama muncul seringkali adalah erosi dari osteofit-osteofit tersebut. diketahui bahwa kekuatan motorik pasien pada kaki kanan: 3 dan kaki kiri: 2. Pada pasien.  Jika osteofit menghilang. Sehingga dalam kasus ini hanya dilakukan tindakan pengobatan konservatif yaitu: . Terapi pembedahan tergantung pada tanda dan gejala klinis. Pasien sudah di konsulkan baik ke spesialis ortopedi maupun spesialis bedah saraf untuk dilakukan pembedahan. dan sebagian karena pendekatan yang berbeda terhadap stenosis spinalis lumbalis. carilah adanya aneurisma aorta. Ranitidin 2x1 Amp. tiga kelompok prosedur operasi yang dapat dilakukan anatara lain:  Operasi dekompresi  Kombinasi dekompresi dan stabilisasi dari segmen gerak yang tidak stabil  Operasi stabilisasi segmen gerak yang tidak stabil Prosedur dekompresi adalah: dekompresi kanalis spinalis. Amlodipin 1x10 mg .

77 . pemeriksaan neurologi dan pemeriksaan penunjang pasien didiagnosis mengalami Paraparese inferior tipe flaccid + Radikulopati lumbal + Spondilosis lumbal.. M. Pada pasien atas nama Ny. Prognosis pada pasein atas nama Ny. fungtionam dan sanationam: dubia. Penanganan pada pasien atas nama Ny. 2. M. pemeriksaan fisik. 3. K/umur 50 tahun dilakukan secara konservatif yakni melalui pemberian obat-obatan karena pasien menolak dilakukan tindakan operasi. K/umur 50 tahun dengan keluhan lemah anggota gerak bawah berdasarkan anamnesis. M. K/umur 50 tahun vitam: bonam. BAB IV KESIMPULAN 1.

3. Anonim. Abdul Moeloek Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Bandar Lampung: 2013 8. Acuan Panduan Praktik Klinis Neurologi. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia: 2016. Spondylosis Cervical. Thamburaj V. Lumbar Spine Stenosis A Common . Dr. Roi Holan Ambarita. Anonim. Dr. 2010 6. Malanga . Lumbar Spine Stenosis A Common . Lumbar Spondylosis. Abdul Moeloek Bandar Lampung: 2011 7.Medical Illustration_Files. 1998. Anonim. Malanga. Lungguh Sifaunnajwah. Fisioterapi Pada Penderita Lbp Akibat Spondylosis. Spondylosis. Lumbosacral Radiculopathy: 2016 78 . Smf Radiologi Rsud. DAFTAR PUSTAKA 1. Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Cervical Root Syndrome E. Hi. H. Instalasi Rehabilitasi Medik Rsud. 9.Medical Illustration_Files. 2015 5. 1998. Cervical Radiculopathy Clinical Presentation: 2016 10.C Spondylosis Cervical 4-6 Di PKU Muhammadiyah Yogyakarta. 2007. 4. 2. Hajri Yansyah.