You are on page 1of 64

BEDHAYA KETAWANG
Tarian Sakral di Candi-candi

.

G.H .P. Hadiwidjojo pada pengukuhan gelar pisungsung Selaku Maharsitama pada Università» Saraswati di Surakarta (September 1971 ) Disunting oleh Astuti Hendrato dan Amir Rochkyatm o Perpustakaan Nasional Balai Pustaka Republik Indonesia . TIDAK DIPERJUALBELIKAN Proyek Bahan Pustaka Lokal Konten Berbasis Etnis Nusantara Perpustakaan Nasional. 2011 BEDHAYA KETAWANG Tarian Sakral di Candi-candi Uraian K.

2971 Hak Pengarang dilindungi Undang-Undang Cetakan pertama — 1981 . Penerbit dan percetakan PN B A L A I P U S T A K A BP No.

P. menginjak telur. Semoga dapatlah kita pahami. Namun demikian masih banyak juga yang belum memahami benar seluk beluk tarian yang khas ini. tanpa memiliki keinginan atau dorongan hati untuk mencari keterangan yang lebih mendalam. karena terkadang sulit diperoleh keterangannya. Apakah maknanya itu semua? Banyak di antara kita yang masih belum memahaminya benar. sesungguhnya tidak semua hal dapat dan perlu diungkapkan terang-terangan. dan kita hayati semua keterangannya.H. untuk selanjutnya kita serap manfaatnya. Bahkan mungkin masih saja ada yang menyaksikannya hanya dengan anggapan bahwa memang sudah begitulah adatnya. kita resapi. SEKAPUR S I R I H Setiap kali Ulang Tahun Kenaikan Tahta Sri Susuhunan diperingati. Misalnya saja: pada setiap upacara mempertemukan mempelai selalu ada acara halangan gantal (melemparkan sirih). sebab menurut tata hidup dan jalan pikiran bangsa kita.G. Upacara yang dilakukan menurut adat tradisional ditafsirkan menurut landasan jalan pikiran Barat atau modern. Apa daya? Dengan pertimbangan inilah kami mengumpul-ngumpulkan karya- karya para ahli kita. Hal semacam ini banyak kita jumpai di beberapa bidang. Tentulah sukar dapat diperoleh penyesuaiannya. tanpa mengingat latar belakang falsafah kita. 5 . Tetapi sebaliknya sesungguhnya kita masih merasa perlu mengerti dan tidak mau kehilangan jejak. Penafsiran-penafsiran pun bermunculan. Satu di antaranya ialah yang mengungkapkan tarian Bedhaya Ketawang ini. Lebih-lebih jika sumber pustakanya sudah tiada lagi. kita selalu dapat menyaksikan pergelaran tari Bedhaya Ketawang. sesuai dengan kelaziman penerapan- nya. kita patuhi. Adat upacara kita lakukan. Untuk memahaminya memang tidak semudah orang perkirakan. Karenanya dengan segala kerendahan hati dengan ini kami sajikan karya agung K. dan pencucian kaki mempelai pria dengan air kembang setaman. Hadiwidjojo kepada khalayak ramai.

DAFTAR ISI

1. Sekapur Sirih 5
2. Ringkasan Bedhaya Ketawang 9
3. Bedhaya Ketawang 11
4. Bedhaya Ketawang Beksan ing Candhi - candhi 27
5. Bedhaya Ketawang 29

7

PNRI

PNRI

rae- nyelamatkan. Namun "keberanian" ini saya landasi ketulusan hati. bahwa Canthang Balung yang semula berfungsi sebagai Brahmana. Perlu dikemukakan di sini. Kenyataan menunjukkan. Sumber pustaka sukar diperoleh. lepas dari segala pengaruh-pengaruh apa pun. yang ingin ikut mengabdi pada Ibu Pertiwi. dengan jalan turut memelihara. Kiranya kita semua akan menyayangkan. Suatu perbatasan antara dunia manusiawi dan alam mahluk halus. keangkeran dan bahaya. dikhawatirkan kita akan kehilangan jejak riwayatnya kelak. apabila Bedhaya Ketawang mengalami nasib yang sama dengan CANTHANG BALUNG. bahwa jikalau masalah ini tidak sekarang diungkapkan- nya. kesuraman. karangan-karangan pun masih 9 PNRI . yang dewasa ini akhirnya telah turun penafsiran dan derajatnya. agar dijauhkanlah kita semua dari segala rintangan dan kesulitan. Dalam hai ini khusus yang akan diuraikan di sini ialah masalah BEDHAYA KETAWANG. Tak tentu arah larinya. bahwa memenuhi dorongan hati dalam hai ini berarti: memberanikan diri untuk melanggar suatu garis perbatasan khusus. RINGKASAN BEDHAYA KETAWANG AWIGHNAM ASTU SEMOGA DIJAUHKAN DARI SEGALA RINTANGAN. selagi saya masih dapat dan dimungkinkan oleh-Nya untuk melaksanakan hai ini. GODAAN DAN KESULITAN Hasrat untuk memenuhi dorongan hati yang ingin mengungkapkan sesuatu yang sangat pelik ini saya awali dengan memanjatkan do'a dan puji secara tradisional. Iniiah yang antara lain mendorong saya untuk membeberkan seluk beluk Bedhaya Ketawang. kini hanya dianggap sebagai pelawak belaka. Mudah-mudahan tidak akan dianggap berkelebihan. bila saya berpendapat. saya merasa seperti halnya anak yang mengejar layang-layang putus. kesenian tradisional yang masih murai. mengamankan serta mengagungkan kebudayaan bangsa. Dengan segala kerendahan hati saya mohon. Suatu alam yang bagi manusia umumnya merupakan alam yang penuh kegelapan. Dengan sepenuhnya saya sadari. bahwa dalam usaha mengumpulkan bahan-bahan.

sangat kurang.H. terang dan mudah dimengerti. sehingga jika dapat berwujud kira-kira akan menjadi suatu kain tambal-tambalan. 10 PNRI . kemudian dimuat dalam "Handelingen van het Congres. Karangan saudara Nusyirwan Tirtaamijaya. Namun demikian. cara saya mencari-cari bahan keterangan pun dengan serba meraba-raba. Hasil- hasil pencaharian lalu disambung-hubungkan. S. Kain ini ada juga yang menyebut "wajikan". Jadi uraian saya pada kesempatan ini akan merupakan tulisan yang ketiga. Sampai pada karya ini disusun. seperti potongan wajik. menduga dan mengira-ngira juga. kain bersambung-sambung. ialah: 1. baru ada dua karangan yang pernah terbit. bila saya mendapat berkah dan ijin dari pencipta dan penggubah Bedhaya Ketawang itu sendiri. disertai banyak gambar-gambar mengenai tata-rakit tarian Bedhaya Ketawang yang telah dibuatnya sendiri atas perkenan dan seijin Sinuhun. Perhatikan adanya "lappendeken" di dunia Barat. Ceramah saya sendiri tentang Bedhaya Ketawang pada Kongres Java Instituut yang pertama pada tanggal 25-26 Desember 1919. Demikian. 1. yang juga dianggap suci. tetapi yang pada hakekatnya kan merupakan kain yang berfungsi suci 1). yang sangat baik." juga dengan gambar- gambar tetapi sangat singkat sekali. Karya ini merupakan hasil praktek yang masih murni dan asli. 2. Mungkin karena bentuknya potongan bersegi tiga.

. Sementara itu asap dupa tak henti-hentinya mengukus. Tenang. Dan suasana di sekitarnya makin hening. bak bunyi kemanak yang bertalu-talu".. c. setiap kali ada upacara peringatan ulang tahun kenaikan tahta. yafig menambah merdu dan serasinya nada yang dibawakan oleh suara bangkong dari jurang yang curam. Pengalaman saya sendiri. mereka duduk bersila. pakenira sampun . Tak jauh bedanya dengan makna yang saya tangkap setelah saya me- lihat gurdwara — candi/kuil bangsa Tamil-Chetty di Sumatra dan Singapura. merdu merayu itu seolah-olah menembus serta menyusupi kelunan asap dupa yang membawa serta bau harum semerbak mewangi. b.. Desir angin di sela-sela rumpun bambú bagaikan bunyi seruling. BEDHAYA KETAWANG Yang membuat Bedhaya Ketawang menarik ialah terkandungnya hal-hal yang merniliki daya khas. mengiringi keluarnya para penari dari Dalem Ageng Praba- suyasa. Setibanya di hadapan Sinuhun yang duduk di singgasana. menuju ke Pendapa Agung Sasanasewaka. yang kira-kira demikian isinya: "Di sungai-sungai suara katak yang bersautan terdengar seperti gema saron dalam pergelaran wayang. yang sukar untuk dilukiskan dan dijelas- kan. dengan kata-kata yang jelas terdengar. 11 PNRI . Kesembilan penari dengan khidmat ber- jalan dengan pandangan mata yang penuh kesungguhan dan sikap yang agung. Pada saat-saat itulah terasa sekali suasana yang lain daripada biasanya. Lebih-lebih bila tiba-tiba terdengar suara rebab yang digesek. yang senantiasa diisi dengan pergelaran Bedhaya Ketawang. terpengaruh oleh daya perbawa mistis." ("Kanda perintahmu sudah . berarak menyelimuti seluruh ruangan pendapa agung. khidmat. misalnya saja : a. Suara gamelan dan suarawati yang mengiringi tarian Bedhaya Ketawang itu mengingatkan kita pada bait dalam Bharatayuddha. pada waktu ikut menghadap di kraton. dibarengi lengking suara cenggeret dan belalang yang berimbalan. sunyi dan hening! Semua yang hadir diam. yang melukiskan betapa meriahnya alam ini karena bunyi-bunyian alam.") Suaranya yang jernih. Tídak lama kemudian terdengar suara suarawati yang mengalunkan lagu.. "Raka..

Bedhaya keluar dari Prabasuyasa 12 PNRI . Selama tarian berlangsung tiada hidangan keluar. Jadi tarian ini hanya sekali setahun dipergelarkannya. 1. Seluruh suasana menjadi sangat khudus. (3) Religius. (4) Tarian Percintaan atau Tari Perkawinan. Adat Upacara Bedhaya Ketawang jelas bukan suatu tarian yang untuk tontonan semata-mata. karena hanya ditari- kan untuk sesuatu yang khusus dan dalam suasana yang resmi sekali. sebab tarian ini hanya dipergelarkan berhubungan dengan peringatan ulang tahun tahta kera- jaan saja. minuman atau pun rokok dianggap hanya akan mengurangi kekhid- matan jalannya upacara adat yang suci ini. juga tidak dibe- narkan orang merokok. (2) Sakral. Bedhaya Ketawang dapat dikla- sifikasikan pada tarian yang rae- ngandung unsur dan makna serta sifat yang erat hubungannya de- ngan: (1) Adat Upacara (seremoni). Makanan.

Yang menari berpakaian seperti temanten temu 13 PNRI . Tidak setiap orang dapat melihatnya. hanya pada mereka yang peka saja sang pencipta ini menampakkan diri. sang pencipta selalu hadir juga serta ikut menari. Sakral Bedhaya Ketawang ini dipandang sebagai suatu tarian ciptaan Ratu di antara seluruh mahluk halus.2. Bahkan orang pun percaya bahwa setiap kali Bedhaya Ketawang ditarikan.

belum ada yang dapat dipakai sebagai pedoman. Dalam hai ini ada dugaan... kantar-kantar kyai. Satu-satunya yang jelas dan memudahkan dugaan tentang adanya hubungan dengan suatu perkawinan ialah. Konon dalam latihan-latihan yang dilakukan. Tentang hai kata-kata yang tercantum dalam hafalan nyanyian yang mengiringi tarian. bahwa semula Bedhaya Ketawang itu adalah suatu tarian di candi-candi. 3.sering pula sang pencipta ini membetul-betulkan kesalahan yang dibuat oleh para penari. hingga mata awam kadang-kadang sukar akan dapat memahaminya..yen mati ngendi surupe. Namun demikian cetusan segala lambang tersebut telah dibuat demikian halusnya. tanu astra kadya agni urube. jelas sekali menunjukkan gambaran curahan asmara Kangjeng Ratu. kyai?). Semuanya itu terlukis dalam gerak-gerik tangan serta seluruh bagian tubuh. kata-katanya mungkin sekali dianggap kurang senonoh. Bila mata orang awam tidak melihatnya. Tari Percintaan atau Tarian Perkawinan.. Religius. maka penari yang bersangkutan saja yang merasakan kehadirannya. Segi religiusnya jelas dapat diketahui dari kata-kata yang dinyanyikan oleh suarawatinya. maka menurut penilaian atau pandangan pada masa kini.. Aslinya pergelaran ini berlangsung selama 2 1/2 jam. bahwa semua penarinya dirias sebagai lazimnya mempelai akan dipertemukan. Antaralain ada yang berbunyi: . yang merayu dan mencumbu. kyai?" ( kalau mati ke mana tujuannya. * * * Perihal kapan dimulainya pergelaran Bedhaya Ketawang ini diadakan untuk peresmian peringatan ulang tahun kenaikan tahta Sri Susuhunan.. cara memegang sondher dan lain sebagainya.. Tetapi sejak 14 PNRI . sebab sangat mudah membangkitkan rasa birahi.. Bila ditelaah serta dirasakan.. 4. Tari Bedhaya Ketawang melambangkan curahan cinta asmara Kangjeng Ratu kepada Sinuhun Sultán Agung.

mereka ini akan langsung berhubungan dengan Kangjeng Ratu Kidul. sehingga kekhusukan dan ketekunan menarinya akan lebih dapat teijamin. Untuk inilah mereka semua mematuhi setiap peraturan tatacara yang berlaku. Sebagai telah dikemukakan di depan. hingga akhirnya menjadi hanya 1 1/2 jam saja. bahwa bagi mereka ini Bedhaya Ketawang merupakan suatu pusaka yang suci.jaman Sinuhun Paku Buwana X diadakan pengurangan. sebab menurut adat kepercayaan. Persiapan-persiapan untuk suatu pergelaran Bedhaya Ketawang harus dilakukan sebaik-baiknya. baik pada masa-masa latihan maupun pada waktu pergelarannya. Sehali sebelumnya para anggota kerabat Sinuhun menyucikan diri. Bagi para penari ada beberapa pantangan yang harus diperhatikan. Keseluruhannya ini akan menambah keagungan suasananya. Peraturan ini di masa-masa dahulu ditaati benar. Karena itu mereka juga selalu harus dalam keadaan suci. Walaupun dirasa sangat menberatkan dan menyusahkan. dengan sangat teliti. Yang penting ialah. Bagi mereka yang secara langsung atau tidak langsung terlihat dalam kegiatan yang khudus ini berlaku suatu kewajiban khusus. Bagi para penari ada peraturan yang lebih ketat lagi. Karena itu dipandang lebih bijaksana untuk memilih penari-penari yang sudah cukup dewasa jiwanya. Di samping sejumlah penari yang diperlukan selalu diadakan juga penari-penari cadangan. * * * 15 PNRI . namun berkat kesadaran dan ketaatan serta pengabdian pada keagungan Bedhaya Ketawang yang khudus itu. setiap penari dan semua pemain gamelan beserta suarawatinya harus selalu dalam keadaan suci. lebih baik tidak mendaftarkan diri dahulu. bila cara menarinya masih kurang betul. segala peraturan tersebut dilakáanakan juga dengan penuh rasa tulus ikhlas. Bila ada yang merasa menghadapi halangan bulanan. pada setiap latihan yang diadakan pada hari-hari Anggarakasih (Selasa Kliwon). Kangjeng Ratu Kidul hanya dapat dirasakan kehadirannya oleh mereka yang langsung disentuh atau dipegang. lahir dan batin. Oleh karena itu.

Setiap orang yang percaya takut dan segan terhadapnya. ialah ratu raahluk halus seluruh pulau Jawa. Tetapi menurut R. Warsadiningrat (abdidalem niyaga). Parangtritis. Istananya di dasar Samudera Indonesia. Bedhaya Ketawang dianggap sebagai karya Kangjeng Ratu Kidul Kencanasari. kemudian dipersembahkan kepada Mataram. Menurut tradisi. karena orang mulai berpikir. mengapa Bedhaya Ketawang itu dipandang demikian sucinya. Sanggul "Bokor Mengkureb" Siapakah Pencipta Bedhaya Ketawang? Pertanyaan ini timbul.T. hingga menjadi sembilan orang. di wilayah Yogyakarta. Pusat daerahnya adalah Mancingan. Segala peraturannya pantang dilanggar. sebenar- nya Kangjeng Ratu Kidul hanya yang menambahkan dua orang penari lagi. 16 PNRI . Bersenandung lagunya pun dipantangkan.

Menurut beliau penciptanya adalah Bathara Guru. pada tahun 167. pathet lima.H. untuk menarikan tarian yang disebut "Lenggotbawa". berlaras pelog. tatkala duduk di Balekambang. Sebaliknya bahkan Kangjeng Ratu Kidul yang diminta datang di daratan untuk mengajarkan tarian . letaknya tersebar di seluruh tubuhnya. Melihat hal ini sang Bathara sangat senang hatinva. karena masih ingin mencapai "sangkan paran". turun temurun.Bedhaya Ketawang pada penari- 17 PNRI . Karena tidak pantas dewa menoleh ke kanan dan ke kiri. Tujuh buah permata yang indah-indah diciptanya dan diubah wujudnya menjadi tujuh bidadari yang cantik jelita. maka Bedhaya Ketawang itu sifatnya Siwaistis dan umur Bedhaya Ketawang sudah tua sekali. Menurut G. dan kemudian menari-nari. Menurut Sinuhun Paku Buwana X. Semula disusunlah satu rombongan. maka diciptanyalah mata banyak sekali jumlahnya. pencipta 'lenggotbawa" adalah Bathara Wisnu. Sinuhun tidak mau menuruti kehendak Kangjeng Ratu Kidul. Namun begitu beliau masih mau memperistri Kangjeng Ratu Kidul. Bedhaya Ketawang menggam- barkan lambang cinta birahi Kangjeng Ratu Kidul pada Panembahan Senapati. tetapi selalu dapat dielakkan oleh Sinuhun.P. Iringan gamelannya hanya lima macam. ialah singgasana yang dititipkan oleh Prabu Ramawijaya di dasar lautan. Segala gerakannya melukiskan bujuk rayu dan cumbu birahi. dan terdiri atas: Jika demikian. mengitari Bathara Wisnu dengan arah ke kanan. Siapa saja keturunannya yang bertahta di pulau Jawa akan mengikat janji dengan Kangjeng Ratu Kidul pada detik saat peresmian kenaikan tahtanya. Kusumadiningrat. lebih tua daripada Kangjeng Ratu Kidul. Maka Kangjeng Ratu Kidul lalu memohon. melainkan menetap saja di samudera dan bersinggasana di Sakadhomas Bale Kencana. terdiri dari tujuh bidadari. agar Sinuhun tidak pulang.

* * * Gendhing yang dipakai untuk mengiringi Bedhaya Ketawang disebut juga Ketawang Gedhe. Ini semuanya dilakukan untuk menambah keselarasan suasana. sedang beliau duduk di sebelah kanan mereka (meng-"kanan"kan). Pada tarian bedhaya atau serimpi biasa. Mereka mengitari Sinuhun yang duduk di singgasana (dhampar). Anehnya. Selama tarian dilakukan sama sekali tidak digunakan keprak. gong dan kemanak. Tarian yang diiringi dibagi menjadi tiga adegan (babak). para penari Bedhaya Ketawang selalu mengitari Sinuhun. gambang dan suling. sebagai telah diterangkan di depan. selanjutnya berganti ke Retnamulya.penari kesayangan Sinuhun. Pada bagian (babak) pertama diiringi sindhen Durma. Demikian juga jalan kembalinya ke dalam. melainkan termasuk tembang gerong. kemudian kembali lagi ke laras pelog. dan kembali melalui jalan yang sama. 18 PNRI . hingga akhirnya. Gamelan iringannya. Pelajaran tarian ini diberikan setiap hari Anggarakasih. penari- penari keluar-masuk dari sebelah kanan Sinuhun. * * * Keluarnya penari dari Dalem Ageng Prabasuyasa menuju ke Pendapa Ageng Sasanasewaka. Yang berbeda dengan kelaziman tarian lain-lainnya. Gendhing ini tidak dapat dijadikan gendhing untuk klenengan. dan untuk keperluan ini Kangjeng Ratu Kidul akan hadir. Dan ini kemudian memang terlaksana. kendhang. Pada saat mengiringi jalannya penari keluar dan masuk lagi ke Dalem Ageng Prabasuyasa alat gamelannya ditambah dengan: rebab. karena resminya memang bukan gendhing. di tengah-tengah seluruh bagian tarian larasnya berganti ke slendro sebentar (sampai dua kali). Dalam hal ini yang jelas sekali terdengar ialah suara kemanaknya. dengan berjalan berurutan satu demi satu. terdiri dari lima macam jenis: kethuk. kenong. gender.

Anglirmedhimg ini digubah oleh K. letaknya terdapat dalam hal: 19 PNRI . Mangkunagara I. c. Kedua tarian ini ada kemiripannya. bila ditilik dari: a. Tetapi atas kehendak Sinuhun Paku Buwana IV tarian ini dirubah sedikit. dipakainya kemanak sebagai alat pengiring utama. Tarian Srimpi ini diduga lebih muda daripada Bedhaya Ketawang.G. Tempatnya di langit (= TAWANG). Semula terdiri atas tujuh penari. menjadi Srimpi yang hanya terdiri atas empat penari saja. M E N D H U N G = awan. ialah Srimpi Anglirmendhung. pelaksanaan tariannya juga dibagi menjadi 3 babak.T. Bedhaya Ketawang hanya satu kali setahun dan hanya di dalam keraton. Namun begitu mengenai kekhudusan dan kekhidmatannya tiada bedanya dengan Bedhaya Ketawang. Yang menari 9 orang Srimpi Anglirmendhung Ada lagi satu tarian yang juga termasuk keramat.A.P. Warsadiningrat. yang kemudian dipersembahkan kepada Sinuhun Paku Buwana. meskipun dalam pergelarannya Srimpi Anglir- mendhung boleh dilakukan kapan saja dan di mana saja.A. di tempat tertentu saja. Menurut R. Bila akan ditinjau keistimewaan Bedhaya Ketawang. b.

Batak 6. 4. Sebagai lapisan bawahnya dipakai cindhe kembang. 2. Endhel weton 8. Pakaian: Mereka memakai dodot banguntulak 1). Kata-kata yang mengalun dinyanyikan oleh suarawati jelas melukis- kan rayuan yang dapat merangsang rasa birahi. Sanggulnya b o k o r m e n g k u r e b (lihat gambar 2). 5. lengkap dengan pending bermata dan buntal 3). sisir jeram saajar. Risan mukanya seperti riasan temanten putrì. melainkan juga pada latihan-latihannya. yaitu hanya padà haru Anggara- kasih. 2) Buntal adalah untaian daun pandán. berwarna ungu. Gulu 3. garudba mungkur. Gamelannya berlaras pelog. Apit meneng 2. Pakaian penari dan kata-kata dalam hafalan sindhenannya. 5. Apit mburi 1) Dodot banguntulak adalah kain panjang berwarna dasar biru tua. 6. dengan warna putih di bagian tengah. 3. Bukan pada pergelaran resminya saja. Ini suatu pertanda bahwa Bedhaya Ketawang ini termasuk klasik. 20 PNRI . Dari situ dapat di- perkirakan bahwa Bedhaya Ketawang dapat juga digolongkan dalam "Tarian Kesuburan" di candi. tanpa keprak. Pilihan hari untuk pelaksanaannya. yang inti sarinya menggam- barkan harapan untuk mempunyai keturunan yang banyak. Boncit. lengkap dengan perhiasan-perhiasannya. Dalam lajur per- mulaan sekali.1. Rakitan tari dan nama peranannya berbeda-beda. yang terdiri atas: cen- thung. Endhel ajeg 7. cundhuk mentul dan memakai tiba dhadha (untaian rangkaian bunga yang digantungkan di dada bagian kanan). Jalannya penari di waktu keluar dan masuk ke Dalem Ageng. kita lihat para penari duduk dan menari dalam urutan sbb: Dalam melakukan peranan ini para penari disebut : 1. Apit ngarep 9. puring dan beberapa macam lainnya diselingi bunga-bungaan. 4. Dhadha. Mereka selalu mengitari Sinuhun dengan arah menganan.

Di dalam lagu Jawa dikenal juga hafalan yang bunyinya: Irim-irim lintang Lanjar Ngirim. lintang Bima Sekti'. Panjer Rina. (Dalam bahasa Indonesia kira-kira begini: Dalam perlawatan Susuhunan banyak menikah. nde. Di antaranya ada yang berbunyi: Anglawat akeh rabine Susuhunan. bahwa Jawa juga mengenal perbintangan. Apit meneng 5. Gubug Penceng anjog. Permata yang bertebaran di langit yang membentang. Bedhaya Ketawang juga dapat dhubungkan dengan perbintangan. Apit buri Dalam susunan semacam inilah pergelaran Bedhaya Ketawang di- akhiri. Apit ngarep 9. nde. sesuai dengan adegan yang dilambangkan. (Mijil) PNRI . dengan nama-namanya sendiri seperti: Lintang Luku.). Anglawat kathah garwane Susuhunan. Batak 6. Boncit 4. Jaka Belek Maluku ing Kati. Lintang Kukusan. melainkan berubah-berubah. wus manengah Prautie sang raden. Susuhunan yang berkuasa. Kita perhatikan kata-kata yang dicantumkan dalam hafalan nyanyian pesindhennya. SOSOTYA gelaring mega. Panjer Sore (di antara anak-anak dahulu bintang ini juga sering di- namakan "ting negara Landa"). 7. juga dengan cara mengitari dan menempatkan Sinuhun di sebelah kanan mereka semua. bak bintang. nitih Kuda Dhawuk. Gemak Tarung. Dhadha 3. Hanya pada penutup tarian mereka duduk berjajar tiga-tiga. Susuhunan kadi LINTANG kuwasane. sebagai berikut: 1. Selama menari tentu saja susunannya tidak tetap. disusul dengan iringan untuk kembali masuk ke Dalem Ageng. Endhel ajeg 7. Dalam hal ini kekuasaan Sinuhun diumpamakan bintang. Dalam perlawatan Susuhunan banyak permaisurinya. Sedikit catatan bolehlah ditambahkan. Gala 2. Endhel weton 8.

cucu Sang Hyang Suranadi. karena sang putri memang mempunyai dar ah keturunan dari mahluk halus. KANGJENG RATUKIDUL Siapakah sesungguhnya Kangjeng Ratu Kidul itu? Benarkah ada dalam kesungguhannya. 1) Bi kraton Surakarta sebutan Nyai Lara Kidul adaiah untuk patihnya. Cerita lain lagi menyebutkan bahwa sementara orang ada yang menamakannya Kangjeng Ratu Angin-angin. Kata lara berasal dari rara. Menurut cerita umum. Layaklah bila sang putri ini kemudian melarikan diri dari kraton dan bertapa di gunung Kombang. ataukah hanya dalara dongeng saja dikenalnya? Pertanyaan ini pantas timbul. Dan yang menyimpang lagi adaiah: Bok Lara Mas Ratu Kidul. tatkala akan membersihkan muka sang putri melihat bayangan mukanya di permukaan air. 3. sang putri lalu terjun ke laut dan tidak kembali lkgi ke daratan. bila dikumpulkan akan menjadi seperti berikut: 1. malahan ada juga yang menyebutnya Nyira Kidul. Sang putri tidak bersuami (wadat) dan menjadi ratu di antara mahluk halus selurah pulau Jawa. dan sukar untuk dibuktikan dengan nyata. Hidupnya di alam limunan. bahwa Dewi Retna Suwida yang cantiknya tanpa tanding itu menderita sakit budhug (lepra). Dikisahkan. dan hilanglah sifat kemanüsiaan- nya serta menjadi mahluk halus. PNRI . seorang putri dari Pajajaràn. Bukan untuk Kangjeng Ratu Kidul sendiri. Untuk mengobatinya haras mandi dan merendam diri di dalam suatu telaga. karena Kangjeng Ratu Kidul termasuk mahluk halus. anak Prabu Mundhingsari. Diceritakanlah selanjutnya. Selama bertapa ini sering nampak kekuatan gaibnya. Terkejut karena melihat mukanya yang sudah rusak. Masalah ini tidak mengherankan. di pinggir samudera. Pada umumnya orang mengenalnya hanya dari tutur kata dan dari semua cerita atau kata orang ini. Kangjeng Ratu Kidul pada masa mudanya bernama Dewi Retna Suwida. cicit Raja Siluman di Sigaluh. bahwa setelah menjadi ratu sang putri lalu mendapat julukan Kangjeng Ratu Kidul Kencanasari Ada juga sementara orang yang menyebut Nyai Lara Kidul 1 ). dapat berganti rapa dari wanita menjadi pria atau sebalik- nya. yang berarti perauian (tidak kawin). dari istrinya yang bernama Dewi Sarwedi. Istananya di dasar samudera Indonesia. Konon pada suatu hari. 2.

Sepanjang penelitian yang pernah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Kangjeng Ratu Kidul tidaklah hanya menjadi ratu mahluk halus saja melainkan juga menjadi pujaan penduduk daerah pesisir pantai selatan. Di Pacitan ada kepercayaan larangan untuk memakai pakaian ber- warna hijau gadung (hijau lembayung). sebelah timur Ngliyep. Seorang di antara mereka adalah gurunya. 7. Apa yang kemudian terjadi ialah. 6. hanya terpisah oleh desa Danamulya yang merupakan daerah penduduk Kristen. Yang dapat diceritakannya ialah bahwa ia merasa melihat sebuah rumah emas yang lampunya ber- sinar-sinar terang sekali. pernah melihat upacara sesaji tahunan di Ngliyep. Bila ini dilanggar orang akan mendapat bencana. Apakah rumah ini yang terlukis dalam gambar Tuan Welter. yang khusus diadakan untuk Nyai Lara Kidul. mulai dari daerah Yogyakarta sampai dengan Banyuwangi. Dengan cara tanpa busana mereka bersemadi di situ. 4. Ditunjukkannya gambar (potret) sebuah rumah kecil dengan bilik di dalamnya berisi tempat peraduan dengan sesaji punjungan untuk Nyai Lara Kidul. 5. Juga pesisir selatan Lumajang setiap tahun mengadakan korban kambing untuknya dan orang pun banyak sekali yang datang. menerangkan bahwa tatkala ia masih menjadi kontrolir di Kepanjen. Pergilah mereka ke pantai dengan 23 PNRI . Pengalaman seorang kenalan dari Malang menyebutkan bahwa pada tahun 1955 pernah ada serombongan orang-orang yang nenepi (pergi ke tempat-tempat sepi dan keramat)di pulau karang kecil. Ini dibuktikan dengan terjadinya suatu malapetaka yang menimpa suami-istri bangsa Belanda beserta 2 orang anaknya. Camat desa Paga menerangkan bahwa daerah pesisirnya mem- punyai adat bersesaji ke samudera selatan untuk Nyi Rara Kidul. Sesajinya diatur di dalam rumah kecil yang khusus dibuat untuk keperluan tersebut (sanggar). yang erat hubungannya dengan Nyai Lara Kidul. bahkan mengejek dan mencemoohkan. Mereka bukan saja tidak percaya pada larangan tersebut. belumlah dapat dipastikan. Seorang Perwira ALRI yang sering mengadakan latihan di daerah Ngliyep menerangkan bahwa di pulau kecil sebelah timur Ngliyep memang masih terdapat sebuah rumah kecil. Tuan Welter. tetapi kosong saja sekarang. tanpa diketahui dari siapa asalnya. bahwa sang guru mendapat kemben. seorang warga Belanda yang dahulu menjadi Wakil Ketua Raad van Indie.

Kangjeng Ratu Kidul bukan pria. Menurut "penglihatan" seorang pemimpin Teosofi. wujudnya seperti reseksi. Tidak begitu dikenal ceritanya. Orang lalu berteriak "Lampor! Lampor! Lampor!". dengan maksud agar tidak ada pengiringnya yang ketinggalan singgah di rumahnya. karena tiba-tiba ombak besar datang dan kembalinya ke laut sambil menyambar keempat orang Belanda tersebut di atas. Seorang dhalang di Blitar menceritakan bahwa di daerahnya sampai ke gunung Kelud masih ditaati pantangan Kangjeng Ratu Kidul. Tak ada seorang pun yang berani melanggarnya. Di sebelah barat di gunung Merapi ialah Kangjeilg Ratu Sekar Kedhaton. dalam hai ini Dewi Laut. bukan pula wanita. lari sampai ke puncak Lawu. Di sebelah timur adaiah Kangjeng Sunan La v/u. pada hari Senin atau Kamis yang terakhir. Dewa Gunung. c. Do'a yang dibaca adaiah do'a Buda. bangsa Ame- rika. untuk mengganggu atau merasuki. sedang rapai yang diucap- kan merupakan campuran Jawa dan Arab. b. Di sebelah utara adaiah hutan Krendhawahana. 10. ialah memakai baju hijau. 24 PNRI . sambil memukul-mukul apa saja yang dapat dipukul. seorang putra keturunan Majapait yang meloloskan diri pada masa jatuhnya Majapait. Terjadilah sesuatu yang mengejutkan. Di Jawa masih dikenal tiga jenis lainnya. Menurut ceritanya semu la adaiah Raden Guntur. Maesalawung atau Rajaweda diberikan setiap bulan Rabingul- akhir. Dewi Hutan. karena Dewi ini yang dianggap sebagai penjaga negeri seisinya. yang naik kereta berkuda. ialah Maesalawung. gemerincing bimyi genta-genta kecil dan suara angin meniup pun membuat suasana menjadi seram. 9. 8. Untuknyalah kraton selalu membuat sesaji yang paling luar biasa. Dan dikatakannya. bahwa Kangjeng Ratu Kidul dapat digolongkan sebagai Dewi Alam. dikuasai oleh Bathari Durga atau Sang Hyang Pramoni. berpakaian serba hijau. Sampai pada waktu akhir-akhir ini orang masih mengenal apa yang disebut "lampor". yaitu suatu hai yang dipandang sebagai perja- lanan Kangjeng Ratu Kidul. Sesaji diberikan di Sitinggil. ialah : a. Suaranya riuh sekali. Menurut mereka yang pernah melihatnya.

berbentuk manusia lelaki dan perempuan. Yang diperintah membawanya adalah abdi dalem Suranata. Kesimpulan mengenai Kangjeng Ratu Kidul ialah. Sesaji Maesalawung ini adalah: Bekakak. tanpa melalui penghulu. la bukan di dalam alam kita. manusia biasa. 25 PNRI . baik alam manusia maupun alam mahluk halus. memberi sesaji sebelum suatu upacara diadakan demi keselamatan negeri seisinya. tetapi yang tidak termasuk dalam alam manusiawi. arak yang dibuat dari siwalan atau aren. Ini adalah hai yang nyata ada. b. diletakkan di pinggir sumur Gumuling. bahwa adanya bukanlah hanya dalam dongeng atau tahayul saja. melainkan dalam alam limunan (alam mahluk halus). tidak berbusana. semangkuk. mencari dan memperhitungkan hari atau waktu yang baik untuk suatu keperluan. Yang dapat menerobos alamnya hanya manusiatama seperti Wong Agung Ngeksi Ganda saja. langsung disampaikan kepada Sinuhun. Ini suatu sisa adat kerajaan bagian keagamaan. Hajad ini dibawa ke hutan Krendhawahana. Badheg. ialah abdi dalem yang tergolong para mutihan (ulama) yang berdiri sendiri dengan kewajiban: a. Dua alam yang melambangkan suatu dwitunggal yang suci. dibuat dari tepung. ialah yang dapat menguasai kedua alam.

PNRI .

Hadiwidjojo PNRI .P.H.G.BEDHAYA KETAWANG Beksan ing Candhi-candhi dening K.

PNRI .

" nanging saking prentuling manah ngabdi Bapa Akasa Ibu Pertiwi. wingking kula sami boten menangi rungsiting Bedhaya Ketawang. boten jalaran saking kumenthus: "Hara aku rak wani. saupami srengenge kula punika sampun tunggang gunung. boten wonten manungsa wani ngambah. sanes ambah-ambahaning manungsa. peteng angker gawat kaliwat-kaliwat. amargi ngertos manawi badhe nrajang awer-awer janur kuning. Manawi boten kula ayati sapunika. sepen waosan. Kemul tambal punika rumiyin ing tanah Tengger kangge jubah lan udhengipun para dhukun. Wontenipun kula wani nerjang. beksa pusaka kraton Surakarta (utawi manawi mawi basa manca: "een ceremonieel — Sacraal — Religieus Minne/huwelijksdans") kenging kawastanan tanpa rencang. manawi pinuju mandhegani sesaji ageng. Bebasan: Nututi layangan pedhot (tembungipun manca: mission sacree). kaselak ical tanpa lari. hrahmana keplorot dados badhut. kados ta: wilujengan Kasada2) dhateng redi Brama lan sanes-sanesipun ingkang winastan jubah Antrakusuma. parípaksa kula tekadi. ingkang boten kacipratan mangsi politik jajahan. Inggih anggenipun khudus malati wau. BEDHAYA KETAWANG I AWIGNAM ASTU: LINEPATNA ING GODHARENCANA TULAKSARIK Anggen kula badhe mahyakaken krenteging manah punika mawi kula sangeni kados ingkang saweg kemawon kula wedharaken manut rapal ingkang sampun dados adat. pandhita. inggih punika wates antawisipun jagading paletnunan. Sanadyan sambung-sinambung nanging malah khudus 1). kados dene canthang balung. 29 PNRI . Sarana Grayah-grayah saangsal-angsalipun lajeng kasambet- sambet kaothak-athik ngantos gathuk kadosdene sinjang sambet-sam- betan utawi sinjang tambal." tembungipun padhalangan "ngemping lara nggenjah pati. tumut memetri nyuhun-nyuhun darbekipun adat kagunan kabudayan kita. Bebasan sepen paran pitakonan. Kula yakin bilih anggen kula mawas prekawis Bedhaya Ketawang.

Salajengipun seratan tambal punika kangge kampuh — dodotipun Raden Ayu Adipati Sedhahmirah. Manawi rebab sampun wiwit kagosok ngrangin ngungelakes pathetan. Ing wayang purwa ingkang mangangge jubah tambal punika padhita Durna.. lajeng bawa buka celuk : "raka pakenira sampun . Khudusipun jubah tambal utawi kemul tambal punika sumebar ngantos dumugi ing Mongolia satlatahipun. Lurah pasindhen eätri. nyebar ganda wida 30 PNRI . sarta dodot kembaran anggen-anggenipun abdidalem carik. anut kukusing dupa kumelun dumugi kahyangan nggonjingaken Suranadi. kangge jubahipun para chamaan. labet saking katarik dayaning magis ingkang warni-warni. Ing Surakarta dados samir Bakdan agemipun Raden Ayu Adipati Sedhahmirah^). Suwantenipun benibg cumengkling. agem dalem rasukan sikepan ageng nama rasukan Antrakusuma. rumeksa pusaka-pusaka dalem tuwin rajabrana kraton. Kalih-kalihipun sami pandhita linangkung. juru nyimpeni serat-serat khudus sarta wewados kraton utawi nagari. Ing Ngayogyakarta nalika jumeneng dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hemengku Buwana kaping VII. Dumugi pungkasaning jumeneng dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Paku Buwana kaping IX. nyarengi wedalipun bedhaya saking dalem ageng Prabasuyasa dhateng pandhapa Sasanasewaka. Kawontenanipun ing panangkilan karaos beda sänget. Raden Ayu Adipati Sedhahmirah punika pepatih dalem wanita ingkang nguwaosi kaputren. inggih punika: A. minangka jangkepipun Samir Belah Ketupat. manut tembungipun padhalangan kawontenan lajeng "sidhem premanem tan am sabawaning walang ngalisik"5). inggih punika anggen- anggen "parade ageng" tumrap abdi dalem prajurit tamtama kawastanan kotang Antrakusuma. Ngalami daya prabawanipun manawi pinuju sowan tingalan dalem rinengga gebyagan Bedhaya Ketawang. swargi Nyai Lurah Udakara..4) Anggen kula katarik dhateng Bedhaya Ketawang punikji sampun dangu sänget. dene ing wayang gedhog wacucal dados anggen-anggenipun Bremanakandha.'lan salajengipun. inggih punika pandhita-dhukun. saha anggen-anggenipun abdidalem canthangbalung. panganggenipun kotang Bakdan. Sasampunipun bedhaya dumugi ing ngarsa nata. nunten rakit badhe wiwit. manawi miyos grebeg Mulud. nama Samir Belah Ketupat.

Raos- ipun ingkang sami nangkil: githok mangkorog. R. gumrenggeng suraelit- ing pring bolong katiyup ing maruta midit. kasoran prabawa mistik. Jarwanipun kirang langkung ma- katen: "Pangoreking kodhok ing lepen- lepen pindha cumengklinging sa- ron kalaning anabuhi wayangan walulang. amrik arum awangi.Kern sarta Dr. Poerbatjaraka (kapacak ing Kalawarti DJAWA). Dr. riptani- pun sang kawindra Mpu Sedhah lan Mpu Panuluh ing Kedhiri jaman Prabu Jayabaya (taun 1079 C utawi 1157 M). badan mrinding. Praba suyasa 31 PNRI . ingkang kawedalaken dening Prof. lan sampun kasalin ing basa Wlandi dening Prof. kadya sumempriting Bedhaya medal nfe. Maos serat Bharatayuddha. H . Kukusing dupa sesaji ngebeki panangkilan. Won- tenipun namung ajrih. Rekaos saupami dipun andharaken adhedhasar ka- wruh. Ng. Cuplikan sa- watawis ungelipun makaten: "Tekwan i Iwah ikang taluktak atarik saksat salunding wayang pring bungbang muni kanginan manguluwung. yekan tudungnya- ngiring gending strinya i prasa- maning kungkang karengwing jurang cenggeretnya walangkrik arti kamanak tanpantarang3ya- • jj m . B. Gunning.

ngandhemi bilih Bedhaya Ketawang punika ingkang njoged sedasa. Karanganipun sadherek Nusyirwan Tirtaamidjaja. yasanipun ratuning lelembat. Suci. C. pandhapuk kula saged tentrem. Saweg wiwit taun 1920. swaraning kongkang ing jurang serung lir pendah kidunging para wanita pasindhen. karangan punika ingkang angka tiga. punapa malih manawi mawi ses. 2. kapacak ing Handelingen van het Congres. nanging cekak sänget. Mugi dadosa kalidamaring pepeteng ngengingi Bedhaya Ketawang. tur kacarxyos bilih temtu rawuh turtiut mbeksa. kagigah dening sesorah kula ing Java Ins- tituut. kaping 25-26 Desember 1919. ingkang njalari ngeyelipim ingkang dipun sumerepi.. nalika Kongres Java Insutuut kapisan. mangka boten ngertos dhong- dhingipin. Anggen kula nyumerepi gurdwara griya pasembahyangan bangsa Tamil-Cetty ing Sumatra lan Singapura. mewahi regenging krawitan. mawi gambar-gambar. kaandharaken ing wingking. sanes tetingalan. Manawi wilujeng. samangke namung kangge mahargya tingalan dalem jumenengan dalem. pangriking walangkecek cenggeretnong tanpa kendhat kadya swaraning kemanak". angsal palilahipun ingkang yasa sarta pangestunipun ingkang mbangun.H. Kebulipun srutu mindhak ngreregoni kumeluking kukus dupa sesaji. Nuju dinten pasowanan agung mawi beksan khudus. S. Asring wonten ingkang dipun katingali. Mila tanpa tamu. Sesorah kula bab " Bedhaya Ketawang". Sampun kapratelakaken ing ngajeng bilih Bedhaya Ketawang punika kalebet Beksan Tatacara Suci utawi tembungipun manca: Ce- remonieel — Sacraal — Religieus Minne/Huwelijksdans. tudhung. kados kirang mungguh manawi mawi segahan. tuan residen sapandherek ka- pareng ningali. Wondene peprincenipun: 1. nyuwun palilah boten mantuk rumiyin. sarehne dhasaripun beksan candi. Panyuwunipun kaparengaken. inggih punika suling. 32 PNRI . tanpa segah. Seserepan bab Bedhaya Ketawang ingkang kaserat namung kalih: 1. mawi gambar kathah. Gebyagan Tatacara. 2. ingkang asipat adat tatacara. tuan residen Harloff sasampuning sowan kebesaran resmi saperlu nyaosi wilujeng tingalan dalem. kepengin ningali Bedhaya Ketawang.

ukelipun.. panyepengipun sondher^) Ingkang sami mataya mengangge cara temanten panggih. Minne/huwelijksdans. 33 PNRI . iambang kasmaranipun Kangjeng Ratu dhateng Panembahan Senapati. Gegayutan tuwin asipat agami. solah bawanipun. beksan pikraman. 4.. Beksan panembah dhateng sesem- bahanipun. kawahyakaken ing joged. tanuhatra.3. kantar-kantar kyai. kadya ta hagni hurube. yen mati ngendi surupe kyai". tuwin kacetha ing pungkasan apalaning pasindhen: ". Medal lan lumebeting Bedhaya.

sanget anggenipun nuhoni dhateng pr an atan saha tatanan ingkang sampun tumindak. íimrah". jalaran boten menangi. katuruh toya asem. kinten-kinten namung 1V2 m. ical lisahipun. 34 PNRI . inggih punika adus kramas. pasemonipun asmara lan wiwaha. Mila panganggenipun ingkang sami mataya panganggen temanten panggih. Golongan mudha temtu boten saged anggatra. namung kantun kalih ingkang jogedipun ngadhep semu karon asmara leliron sih. Sanadyan para pangeran boten magepokan kaliyan Bedhaya Ketawang. Kula gadhah liontin kalung mas wujud lingga ingkang nyata wantah. Kirang- sadinten kaliyan perlunipun sampun netepi adat sesuci lair batos. sanes tingalan wiyosan dalem. inggih punika: ngingah rambut panjang kados wanita Kapengker dipun itik-itik. Nanging kala samanten. kaore. Ingkang kepama mawi karat us. Lajeng adus kagrujug kagosok landha flwu merang kasaring. Para juru beksa saderengipun kedah reresik lair batos. Sasampunipun. rambut kaperes ngantos apuh. kados dene beksan pendhet ing pura Bali saben odhalan (inggih punika wedalan wetoning pura). dipun cacapi sagedipun sae langkung panjang ketel^). aupados wangsul lemes saya resik. tetela sepen ing pangresula. Wontenipim namung ngestokaken sapakoe. Nanging saking alusipun anggenipun darnel pasemon kinten- kinten boten kathah ingkang nyana. supados wangi lan enggal garing. ngantos "raos samangke lekoh". Sindhenanipun inggih rerepenipun Kangjeng Ratu gandrung- gandrung kapirangu. ngantos rambutipun resik. Namung ingkang badhe sowan nangkil (kalebet kula) sami awang- awangen dening dangunipun ngantos kalih setengah jam. Wiwit punapa gebyaganipun namung manawi mahargya tingalan dalem jumenengan dalem kemawon? Saking panginten kula ewah- ewahan saking mahargya pengetan ta unan candhi-candhi. Cethanipun sanget manawi meh bibar jogedipun jurubeksa putri sami linggih. langkung-langkung malih para ingkang ngrasuk agami Ciwa. adegipun. ewadene saking pangaji-ajinipun dhateng barang pusaka punika. Ewadene labet saking tuhu temening pasuwitan sarta pamundhinipun dhateng beksan pusaka. Lenggahipun para paügeran celak piyambak kaliyan Bedhaya Ketawang. Mila ing ngriki kadhawahaken tingalan dalem jumenengan. Rampung adus. Terangipun makaten: Golongan priya punika ugi njlamprah.

kaiti-itik "likla". badhe kirab wonten ingkang kabrojolan. kenging namung grujug kemawon. Pungkasanipun malem gebyagan gladhen resik. nama adus jinabat. cilik mula. inggih punika salebeti- pun adus rambut winudhar. Kangge ngicali karepotan wau. boten kajarag kaidokaken. boten nguciwani. Nanging kengingipun kawateg namung yen kapepet. Tiyang inggih ingah-ingahan tunggil jiwa. Nanging sarehne repot sanget. ngantos pitung dalu. saged damel nges. Kalih-kalihipun mawi rapal. awit gladhenipun dangu. kaombe tigang clegukan. golongan wanita boten purun kawon. madal sakathahing jampi. TegeSipun adus kramas wau pralambang "nyucekaken jiwa raga". wonten ingkang campuran. ingkang badhe karakit gebyagan kacathetan rumiyin wancinipun badhe mapag tanggal. pusaka mlebet mesjid. pars pro toto. Kedah kasucekaken rumiyin sarana adus kramas. tumetesing luh ngantos ngebesi bebed. Sarehne mapag tanggal punika inggih reged. Wonten ingkang saiebetipun njoged umor. kramatan lan sapanunggilani- pun). Watakipun anteng. ingkang sampun ngumur. kala jaman Ingkang Sinuhun Paku Buwana kaping X. Ebahing jaman. sumedhoting manah kados kaoncatan jiwa. dados kaawisan nindakaken sakathahing pandamel suci: salat. wonten ingkang cara Jawi. Mireng kresing glinting medhot rambut. ucap-ucapanipun cara Jawi Kina. wonten ingkang Arab. yen panjang sakedhik kemawon sampun risi. nama "kirab' "10) Ingkang Sinuhun katemtokaken miyos nenggani sarampungipun. Wondene ingkang kapilih kagebyagaken. megeng napas. Mangka syahwat punika nuwuhaken reged. sae sayektós. Bedhaya Ketawang punika asal saking pundi? Yasanipun sinten? 35 PNRI . Nanging samangke. lajeng enggal-enggal sowan tukang pangkas. Pratandha manawi rambut punika dipun tresnani sanget. Mila nalika kula badhe dhateng Nagari Andhap. empu joged. sanalika kajubat kagentosan andhunganipun. Ingkang sampun celak ajrih piyambak kacathet. mawi nyaosi pepunjung samesthinipun. Waluyanipun sareng kabekta dhateng saganten kidul kasuwunaken pangapunten. nyepeng barang khudus (Kur'an. lajeng kaombenan toya ing wadhah suci. Jawi Kina gadhah aji. kagrujug toya. Bibar perlu sakit rekaos ngantos wulanan. supados mungkul. rambut kapagas Bapak. Nate kalampahan. Mawi kasudhiyanan andhungaii.

gendhing 2 = kemanak 2. laras jangga alit utawi manis panunggul. saged damel abrit biruning sintena ingkang boten ngaosi yasanipun utawi nrajang wewaleripun. wewengkon Ngayogyakarta. telengipun wonten ing tlatah Mancingan Parang- tritis. a. Kangjeng Ratu Kidul punika satemenipun namung ingkang mewahi juru beksa dados 9 (sanga) lan ngaturaken dhateng Mataram kemawon. Nanging pratelaning abdidalem niyaga R . Warsadiningrat. 36 PNRI . Ingkang yasa muluk sänget inggih punika Sang Hyang Jagad Girinatall). T . ratuning lelembat satanah Jawi. nama LokanantalS) l a r a sipun pelog pathet lima. Angadhaton sadhasaring saganten Kidul Samodra Indonesia. Adat tatacaranipun Kangjeng Ratu Kidul Kencanasari. Ukel "Bokor M e n g k u r e b " Teka gawatipun samanten. Ingkang mataya widadari 7 (pitu) nama "malenggotbawa" 12) Tabuhanipun namung 5 (gangsal). nalika taun 167. ngantos rengeng-rengeng lagunipun kemawon dipun awisi. Panjenenganipun kuwaos sänget.

manuhara. (n-ipun namung seselan. Seserepan saking suwargi G. Pangan- capipun wau tansah dipun endhani. Ingkang Sinuhun kasuwun boten kondur lestantuna jumeneng nata wonten ngriku. ingkang lenggah ing balekambang. Manawi makaten Bedhaya Ketawang punika Qiwaistis Bab sepuhipun Bedhaya Ketawang muluk sänget. Ingkang kuwaos nglenggahi inggih Ingkang Sinuhun punika. Kula yakin yen kadayan kabudayan Waisnawa saking India Kidul. Malah kosok wangsulipun Kangjeng Ratu Kidul ingkang kadhawuhan ndherek ndharat kondur 37 PNRI . Jogedan kangge mahyakaken sarasaning driya. Bedhaya Ketawang punika anggambaraken gung kasmaranipun Kangjeng Ratu Kidul dhateng Panembahan Senapati. nglenggahi dhampari- pun Prabu Ramawijaya Sakadhomas Balekencana^). Namung sagah anggarwa satedhak turunipun ingkang jiuneneng nata ing tanah j a w i ^ ) . Manawi mitologi Hindhu. bilih ingkang yasa lenggotbawa punika Bathara Wisnu.H. duk nalika nyipta sesotya 7 (pitu) kadadosaken widadari ayu linuwih satunggal- satunggal. mindhak ing tembe boten saged kondur dhateng "sangkan paran". Ingkang Sinuhun boten kersa. dewanipun Sang Hyang Brama. ngrumpaka. ngungkuli Kangjeng Ratu Kidul. Saben angga wonten netranipun. nata = ratu. Sang Hyang Wisnu sänget kapranan listya sarta endahing malenggotbawa. Dhawuhipun Bapak. Malah bokmanawi rumiyinipun jogedan caridhi.P. asalipun saking: loka = jagad. Ratuning jagad = Bathata Guru.olah sarira. punika cocok kaliyan wawasan kula. ingkang nindakaken dewadagi. manawi reca muka 4 punika Bathara Brama. nama epedenthesi). Rehne Dewa agung boten pantes nolah-noleh. Mila khudus. nanging beda pancadanipun. Kusumadiningrat mratelakaken. ngancap sageda wor salulut. Lajeng sami jogedan urut-urutan ngubengi manengen prakdaksina sang Bathara. durnugi yen sampun wonten turasipun ingkang kinawasa nglenggahi. nyipta muka 4 (sakawan). Ngrerepa. ingkang katitipaken ngriku. nunten nyipta soca tanpa wilangan. Pramila ing ikonografi dados titikan. Wondene Lokananta.

Pratelanipun R . lajeng pamit kondur. nanging tembang gerong. Ingkang ngangkang namung kemanak kaliyan pesindhen. Kalampahan ngantos sarampungipun. Pancen inggih boten saged. lajeng menggok manengen. tanuhastra kadya geni urube. 38 PNRI . kadya lintang pakartine Panembahan.dhateng Mataram. medal saking Dalem Ageng Prabasuyasa. sisihanipun ladrangan kenong 3. Kangjeng Ratu Kidul namung ingkang mewahi jurubeksa kalih. Tabuhan ipun namung mbarung kemawon. Ketawang punika gendhing kenong 1. Tumrap Bedhaya Ketawang wiwit mandhap saking Parasedyangancrasmangaler-ngetan. ing suluk janturan jejering ringgit wacucal lajeng winastanan "mandaraga". nde. Salajengipun dhawuh dalem wau. YEN M ATI NGENDISURUPE. kantar-kantar. Dados lugunipun sanes gendhing. Kangjeng Ratu saklangkung nalangsa: Hanon tangís tumengeng tawang. ngajari Bedhaya Ketawang dhateng klangenan dalem bedhaya. Wondene cak-cakanipun. dipun semoni. Mirid suraosipun pungkasaning ungel-ungelan sindhen Bedhaya Ketawang. dene tanpa ricikan ingkang damel gendhing. ride. dados sanga lajeng ngunjukaken dhateng Mataram kemawon. nglangkungi kori ingkang kidul p i y a m b a k ^ ' dhateng Pandhapi Ageng Sasanasewaka. dadosipun ketawang wau saking kidungipun pasindhen. Ing serat Bharatayuddha kasebut "mantraka". Nanging gendhing kasebut nginggil wau boten saged kangge klenengan. Dumugi ngarsa dalem linggih rakit. KYAI? Gendhing ingkang samangke kangge nabuhi Bedhaya Ketawang punika asring winastan Ketawang Gedhe. Nelakaken biiih kemanak punika langkung sepuh. manawi pinuju pathetan lampahing bedhaya urut kacang.minggah pandhapi. Boten kados padatan lampahing bedhaya ingkang kenceng dhawah satengen dalem. manawi eandhik ayu punika aunaripun Sakadhomas kadhawahan soroting surya sampun lingsir. awit kajawi khudus. badhe sumurup ing agraning w u k i r ^ ' . Namung saben "Anggarakasih" wangsul ajar-ajaran. saweg wangsul kenceng malih mangetan nengenaken Ingkang Sinuhun. sasumerep kula Bedhaya Ketawang dereng kocap. Warsadiningrat. T . sairib kaliyan joged lan kidungipun.

Wewahan punika punapa saking Kangjeng Ratu Kidul. Nalika kula takeni angsalipun saking pundi. Anglir Mendhung sarta sanesipun sawatawis. sinartan wewahing jurubeksa? Nitik ubeding lampah. Kaparengipun Ingkang Sinuhun Paku Buwana IV jurubeksa kasuda 3. lajeng konjuk mlebet. Kawontenan ingkang mirunggan punika boten namung mengku teges lamba kemawon. Wondene anggen kula ngucap "adhi" punika. kajawi Ngesthi Pandhawa ingkang gadhah. nanging wonten werdinipun ingkang lebet. boten blaka. nama "pradaksina". Jurubeksanipun 7 (pitu). 39 PNRI . Mangku Nagara I. kanamakaken Bedhaya. terus ngangkang. winastan "suluk". kados malenggot- bawanipun para widadari ngubengi Bathara Wisnu ingkang lenggah ing samadyaning balekambang kasebut nginggil. suling. bilih Anglir Mendhung punika anggitanipun K. gender. Cariyosipun lorodan saking Anglir Mendhung sarta pratela. R . Manawi pamawas kula boten klentu. kantun 4.P. Bedhaya-Srimpi namung Anduk. Ingkang kangge pathetan gangsanipun wewah: rebab. katitik saking paugeranipun ingkang baku sami: a.Wangsulipun nurut kados medalipun bedhaya limrah. nanging ing sanes panggenan prasasat boten kocap. Sanadyan ing ngriki kemanak dipun anggep pangajeng. nengenaken Ingkang Sihunuh. Tabuhanipun sami kaliyan Ketawang. kabarung pasindhen supados darnel laras anganyut- anyut. saking pangraos kula nelakaken bilih Bedhaya Ketawang punika langkung sepuh malih. kawitan kendhang ageng. b. (Ke)tawang = langit.G. Medalipun setahun namung sepisan. Kemanak sami. Warsadiningrat inggih gadhah saking Mangku Nagaran. gambang.A. Ingkang Sinuhun kaentha utawi kagatra dewa/reca dewa pratistha. saking pambudidayanipim suwargi Sastrasabda. Tebih sanget kaliyan jaman Mataram ing abad 16 Jawi. Anglir Mendhung punika adhinipun Bedhaya Ketawang. pungkasan kendhang kalih. inggih punika beksan candhi. Ing sajawining kraton malah boten kocap babar pisan. kuwenganipun mendhung. T .A. Nama (anglir) Mendhung. Amung Bedhaya Ketawang jogedan memuja tuwuh. Bedhaya Ketawang jurubeksanipun 9 sampun diwasa. dados srimpi. c. papanipun mendhung ing langit. kaubengan kaliyan jogedan.

Pitaken wau boten kula wangsuli. awit punika tindak ingkang nyimpang saking garis kasusilan utawi bekti. yasanipun Kangjeng Ratu Kidul Kencanasari. anggenipun sami malati kalih-kalihipun. 40 PNRI . Sareng dipun sajeni ageng. dene teka wanuh wani nerak waleraning leluhur. Ingkang wigatos sanget. dipim ajrihi. Ingkang boten sumangga. Namung anehipun ing kraton sepen seserepan babar pisan. ngiwa nengen namung tansah ketanggor awisan. Angsal-angsalanipun panaliti kula. Manawi kula. Kanthi dlemok cung wonten griyanipun alit-alit kangge wadhah sajen. kangge ngawekani manawi dumugining wanci mindhak kepepetan margi. kados ingkang sampun kula andharaken ing ngajeng. saged dados. sapangetan dumugi Bayuwangi. Lajeng nuwuhaken pitakenan. namun netepi wajib. nyingkiri sakathahing tindak- tanduk ingkang asipat ngremehaken. Wontenipim kencengipun samanten. wiwit pasisir kidul tlatah Ngayogyakarta sapangilen. jalaran manut adat tatacara. Tundhonipun ngantos nekad mituruti pamintanipun Pangreh Ageng Java Instituut. kados Bedhaya Ketawang. Mila ingkang ajrih boten kula waoni. Ing Ngliyep bawah Malang sarta ing bawah Jember. jalaran saking sabab warni-warni. Maiah lacutipun saged njalari sangsara. gebyaganipun sawanci-wanci. manut kapitayanipun piyambak-piyambak. agemanipun inggih mirunggan. inggih punika sarwa gadhung- ijem. Badhe nglajengaken kepalang aweran. dipun sajeni. kangge sesorah ing Kongres Java Instituut ingkang sapisan. Manawi makaten tunggil pakareman. Kojahipun ingkang ngayahi nalika gendhingipun dipun rekam. jalaran punika pangagemanipun Kangjeng Ratu Kidul. ratu lelembat. Papanipun ing pundi kemawon sakarsanipun. II Bedhaya Ketawang punika satemenipim sampun dangu dados kawigatosan kula. ngembet-embet dhateng ingkang boten magepokan.wonten ing Pendhapa Ageng Sasanasewaka. Srimpi Anglir Mendhung jurubeksanipun namung 4 taksih prawan jumegar. isi pasarean ingkang dipun estokaken wewaleripun. nrajang aweran janur kuning. Ingkang sami nangkil. nrajang tlatah Pasundhan. ngantos wongsal-wangsul boten dados. tansah dipun pepundhi. jalaran tunggil asal.

kawiwitan saking ingkang baku: 1. Wondene pamawas kula ngengingi Bedhaya Ketawang punika adhedhasar: a. Ingkang kantun kula acarani supados nglajengaken. Sedya kula badhe metani prekawis Bedhaya Ketawang sampun ngantos ical tanpa lari. Beksan punika yasanipun Bathara Guru ing tahun 179. Saupami saged kabobot. amargi gadhahan kita piyambak. nanging temtu pekenan. sanes bathara. sanes sinten-sinten. pilihan dinten kangge anjoged. Bingah kula tanpa upami. Joged. tuwin bokmanawi saking palilahipun Kangjeng Ratu Kidul. Sanes dewa. Leres utawi lepatipun nyumanggakaken. Kula inggih muluk sänget. klebet dinten pekenan (Ing Bali pekenan punika winastan "panca- wara ).1570. Parimarmaning Pangeran. Suryabrata. Suk legi aku ngedegake pawon. Kados Bathara Wisnu. tahun 1536 .H. sapunika badhe kalampahan. samangke guru bedhaya. G. Ingkang kula anggep baken Kasih-Kliwonipun. Paseksenipun. b. upaminipun: Dhek wage aku nyang negara. kanca dhusun manawi pinuju memengeti boten migunakaken dinten pitu (saptawara) sarta panang- galan. Pilihaning dinten beksan namung dinten Anggarakasih. seserepan sanes kaliyan Bedhaya Ketawang. cakepan. Warsa- diningrat teka ndongengaken. Cocogan gotek-gotek. jaman Bathara Guru. Dhek paing aku duwe putu. namung leluhur kita ingkang sampun suwarga ingkang njangkung turasipun. Anggarakasih (Selasa Kliwon). kanthi boten kanyana-nyana R . Ing ngajeng sampun kapratelakaken bilih Bedhaya Ketawang punika "beksan pusaka kaprabon kraton Surakarta". inggih punika gebyagan tingalan dalem jumenengan: 1. manut adat tatacara asli seganten Kidul. bok- manawi ngantos nelasaken timbangan. nanging pawadanipun beda. Warsadiningratan ngendikanipun muluk sänget.P. mewahi katrangan bab jogedipun. Anggarakasih ugi kangge nyirami. T . wujud larasing gangsa tuwin suraosing sindhenan.1. Dados letipun wonten 1000 taun. jaman Mataram Kasenapaten. Jer kula sampun babad- babad. suka katrangan ingkang kula betahaken kados kasebat nginggil. inggih punika nglisahi 41 PNRI .

2. Sarehne petangan dinten kita asli tetela dereng kadayan kabudayan manca. 1. Gandasuli lan sapanunggi- lanipun dhawah ing dinten Anggarakasih sadaya. Anggarakasih wuku Dhukut tuwin Mandhasiya winastan Anggarakasih Ageng. Pasar Pon. Namaning peken: Pasar Legi. Ngluruh. Ngantos wonten wilujengan "nyaosi dhahar Wuku Dhukut". tegesipun dereng 176. Ing bang kilen: Pasar Senen. Ing wulan Sura pusaka-pusaka sami dipun warangi. Blumbang. 2. dados kula boten saged ngaturi ancer-ancer kala punapa wontenipun. Wilujengan dhusun-shusun Buda ing Tawangmangu Pancot. nelakaken bilih Bathara Guru dereng angajawi. 1. pusaka-pusaka dalem: wangkingan lan dedamel sanesipun. Eman dene jaman semanten sasumerep kula dereng wonten petangan titimangsa. Pasar Rebo. wonten ing kraton dipun wastani: dipun jamasi. Kosok wangsul kaliyan gebyagan tingalan jumenengan dalem. ingkang sampun kadayan dening kabudayan India Kidul. Pasar Kliwon. Bab wontenipun Bedhaya Ketawang petangan kula langkung sepuh sänget. Kalisara.3. Ingkang kawiyosaken namung pusaka- pusaka Kangjeng Kyai ingkang inggil-inggil tataranipun. Kados 42 PNRI . Pasar Minggu.

mlebetipun mangaler. satemah cengkah kaliyan pangaji- ajinipun dhateng ingkang sinembah. lebetipun mangidul. Wawangunan sarta tatarakiting kraton boten nilar paugeran punika: regol majeng mangaler. sanadyan pathetanipun sami. Nalika saweg mumbul-mumbulipun. ingkang nama Pradaksina. Dalem majeng mangidul. inggih punika sangger palanggatan. pratistha. Munduripun medal kidul kados bedhaya limrah. samandhapipun saking bangsal Parasdya "ngenceng ngaler ngetan". ingkang lajeng mahyakaken pasemon reca Ciwa-Wisnu: Hari-Hara. dumugi ngarsa dalem linggih rakit. katitik saking medalipun bedhaya limrah pathetan urut kacang saking kori ageng Dalem P r a b a s u y a s a ingkang kidul piyambak. sak pasindhenipun. nekuk mangidul. ngurmati pepundhenipun. Kenya ingkang tampi ayahan namung mataya ing candhi kemawon. kados sadherek tunggil bapa-biyung. Upami wangsulipun kados nalika majeùgipun. Nanging manawi Bedhaya Ketawang. Barabudhur ingkang mangertos. Dados sadaya manengen anjog telenging kedhaton papan pasemaden. kasebut nginggil. Wangsulipun mlebet ugi nunggil margi. lenceng mangetan ngener pandhapi. supados lestantun nengenaken Ingkang Sinuhun. Manawi sampun dumugi ngarsa dalem lajeng rakit.saemper bilih Bedhaya Ketawang punika ewah-ewahan. kados malenggotbawanipun para widadari ngubengi Bathara Brama. Anggen kula mastani sadaya wau boten namung waton 43 PNRI . agami (jiwa — Wisnu jejer sesarengan. ngerìngaken Ingkang Sinuhun. Bangsa Tamil-Cetty ing India sisih kidul ingkang mbekta Ramayana dhateng tanah Jawi saperangan ageng ngrasuk agami Wisnu. Pandhapi majeng mangetan. minggahipun mangilen. nengenaken Ingkang Sinuhun. anggenipun ningali ubengipun temtu manengen. ka- wangun saking beksan kasuburan ing candhi ingkang dipun ayahi Dewadafi. Ingkang Sinuhun kagatra dewa utawi reca dewa. kedah dhawah tengen. minggah pandhapi wangsul lenceng mangetan malih. Punika adat ngubengi candhi. Mila para darmawisata Prambanan. temtu badhe ngiwakaken Ingkang Sinuhun. Mila Prabu Jayabaya inggih dipun anggep titisan Wisnu.

Namung boten ñama áneh bilih tata rakiting pangangge lan sanes-sanesipun taksih kencokan manca. gelung bokor mengkurep karajut sekar 44 PNRI . kawewahan tumedhakipun Kangjeng Ratu Kidul. ndumuk kemawon. Bokmanawi sampun rumaos temanten. Mila inggih lajeng mangangge cara temanten panggih: Dodot banguntulak. Manawi samangke sampun Jawi deles. Ing panginten sampun cetha bilih khudusipun Bedhaya Ketawang punika jalaran saking bakunipun beksan candhi. Panganggen temanten panggih punika sapantha kaliyan joged saha cakepan sindhenipun. tapih cindhe wungu sekar saudhetipun. c. alas-alasan ngumbar kunca. namung kantun panggihipun. Upami sesotya ngindhakaken gosokanipun. Kula piyambak ngraosaken wingiti- pun. mawi buntal paesan centhungan. bilih kala jaman Kedhiri Bedhaya Ketawang sampun wonten. nanging kangge ancer-ancer. ingkang tuwuh saking kasagahanipun Panem- bahan Senapati anggenipun anggarwa ngantos satedhak-turunipun ingkang madeg ratu ing tanah Jawi. siepe. Sakedhik kemawon boten wonten daya saking ngamanca.

kapundhi-pundhi sarta dipun sajeni. cundhuk mentili. Reresikipun inggih namung kasulakan kemawon. Godhegipun: lingga. krobongan sasap kasur. Yen kraton kencana tinatah. rinengga ing sesotya. Ingkang kangge maesi godhong dhandhang gendhis. perlambang- ipun Panembahan Senapati kaliyan Kangjeng Ratu Kidul pinuju among asmara. diyan sewu. Prabotipun sarwa ingkang edi peni. Sawenehing beksan nggambaraken bilih para juru beksa anggen- ipun beksa sami lenggah. Ing sangajenging krobongan kapernah bontosing guling dipun sukani perlambang warni-warni: loro-blonyo. inggih punika nirokaken patrap ulah asmara. Saben malem dinten malang kacaosan dhahar. Mila khudus. paesan punika lambangipun lingga yoni ingkang kabesut. Kiwa-tengen gambyok. urung bantal guling cindhe. Sampun kacariyosaken bilih solahipun beksa asring lekoh. minta aksama badhe nyembadani raos samangke. Manawi kamaripun wiyar ugi kangge nyimpen pusaka.melathi anam kanthil. Manawi gadhah damel dipun. Kalung pananggalan. leliron sih. ambeti- pun arum. dipun ceploki bludiran. bantal sungsun ing patanen punika rinengga oncen-oncen sekar mlathi usus-usus kareka badhongan sungsun tiga. kembang tiba dhadha (samangke tiba wentis). 45 PNRI . Ngendikanipun para sepuh. klemuk isi wos sarta arta warni-warni. manawi boten dipun cariyosi saderengipun lajeng dipun mataken. Patanen punika senthong tengah minangka puseripun griya Jawi isi patileman. inggih punika reca kajeng kaentha temanten jaler-estri. kantun kalih ingkang ngadeg. Samangke dipun ceploki grudha mungkur kencana. kelat bau. gelang. kendhi. Nanging saking alusipun. sesupe. Dalemipun para priyagung. cantheli ron sedhah katutul-tutul apu. Mila ingkang dhawah bathuk wangun badhongan kabelah tengah. Kengingipun namung manawi badhe gadhah damel mantu kemawon. Klambu ing ngajeng kalih panggenan kacincingaken. nanging boten kasumed. cundhuk jungkat jeram saajar. Boten kenging wonten tiyang lanyak-lanyak. canthelanipun slaka. Yen gadhah damel mantu. warninipun ijo royo-royo. boten kenging barang-barang dipun dalaken. temtu boten badhe sumerep.

Apit meneng 2. awarni upet. Gulu 3. dados titikan badhe lelampahanipun ingkang jumeneng nata sanagarinipun. Kapernah ing tengah wonten jodhog ingkang kasumed. latunipun saking pasarean Sela. Cak-cakaning beksanipun: sadumuginipun ngarsa dalem terus rakit. Kamboja lan sanes-sanes nagari boten wonten ingkang mawi keprak. Batak 6. Tengah gangsal. mobat-mabit lan sapanunggilanipun. punika inggih kina. Samangke namung kantun sarat kemawon. Dhadha 4. India. kados gambar ing ngandhap punika: 19) 46 PNRI . Ing kraton. Endhel ajeg 7. Endhel weton 8. Dados kados sanepanipun urubing blencong ing ringgit purwa. salaminipuö boten kenging pejah. Beksan ing Bali. Sasampunipun kaempakaken ing nglebet lajeng kawaradinaken dhateng putra santana sadaya. nanging tansah santun adegan. bleret. d. Ing perangan adegan pungkasan sanadyan boten kalebet nawagraha. therek sungsun tiga. Gangsanipun laras pelog. Apit buri Salebetipun mataya boten ajeg makaten kemawon. ka'wastanan latu bledheg. Urubing latu wau anteng. Saben taun kaenggalaken saking pasarean Sela. kaapit ngajeng-winking kalih-kalih kados ing ngandhap punika. Ingkang wenang nilemi ing krobongan punika namung temanten bibar panggih. ngajengaken ngarsa dalem Ingkang S in uh an. tanpa keprak. Jurubeksa jejer tiga-tiga rangkep tiga. Apitngarep 9. Siam. Sarta namaning para juru beksa: 1. Boncit 5. ing ngriki kula pacak.

Dhadha 3. Kawitan. Batak 6. Nengenaken sang nata malih. Bathara Brama kasebut nginggil. Apit meneng 5. badanipun pepethan ketonggeng punika ing palintangan Jawi nama "Klapa dhoyong". Naminipun Jawi dereng angsal seaerepan. inggih boten aneh. 2 . Gulu 2. pathetan. Miturut pratelanipun ingkang ngeteraken wasta "nawagraha" — lintang sanga.2 sacleretan kados tatarakiting lintang Ketonggeng ing mangsa ketiga.22) Manawi boten lepat. saged ningali gurdwara papan pasembahanipun bangsa Tamil-Cetty. ngemba tatarakiting lintang. Gegayutanipun kaliyan Bedhaya Ketawang sambet prekawis 47 PNRI . 1. Apit buri Lajeng suwuk. Apit ngarep 9. Dados tetep yen beksan Bedhaya Ketawang punika beksan candhi. Boncit 4. medal sakiduling palenggahan dalem. Wondene ubeting beksan kula boten wani mratelakaken. cacahipun sanga. Upami ingkang kapetha punika saestu kados makaten. Wonten ing salah satunggilirig altar stadial utawi garbhagrha wonten pepethanipun dewa alit-alit. kados para widadari ingkang malenggotbawa ngubengi Bathara Wisnu. Para jurubeksa wangsul mlebet dalem ageng. Nama-nama wau Hindhu- Latin. 20) Namanipun ingkang pitu dados namaning dinten: Kula kaget dene panataning dewa sanga wau saemper kaliyan tatarakiting Bedhaya Ketawang. awit namanipun "nawagraha". Nalika tahun 1952 sarta tahun 1960 kula dhateng Sumatra tuwin Singapura. Endhel weton 8.5 . Endhel ajeg 7. ingkang kaentha bathara utawi pratistha. jalaran kula dereng nate srawung kaliyan kawruh astronomi. supados pradaksina. lintang sanga.

gambang. Sindhenanipun babak 1: sekar Durma. mendhung lan lintang. kembaran kaliyan kémbenipun ingkang estri. beksanipun tigang adegan. salajengipun wangsul pelog malih ngantos suwuk.24) Ngiras kangge paseksen wawasan kula. Ngambali prekawis ketonggeng. Enjingipun santun udheng sabuk kemben sekaran "temanten anyar". kandhanging mega. Gangsa pelog nelakaken bilih Bedhaya Ketawang punika sepuh. saking pamanggih kula rakitan punika mungguh sanget kangge panutuping beksan. Anehipun. inggih punika: kethuk. Sabibaring panggih. gender. kadi lintang kuwasane^) Susuhunan. minangka pralam- 48 PNRI . Manawi kaothak-athik teka saged jumbuh kaliyan tatacara temanten Jawi ing jaman kina. sabuk sekaran "klabang ngentup". Salebetipun beksan boten mawi keprak. suling. lajeng santun pangganggen. "bondhet". nanging sanes Kangjeng Ratu Kidul Mataram abad 16).palintangan wau. Larasipun pelog nem. ungelipun makaten: Anglawat akeh rabine Susuhunan. kendhang. Pathetanipun ñama suluk. Supados gadhah laras. sosotya gelaring mega Susuhunan. nde. kaping kalih. kawewahan rebab. Wondene tabuhan- ipun namung warni 5. kemanak. nanging sarehne nawagraha punika tumrap bangsa India kalebet prabot sesembahan. Bebedipun ugi kembaran. Sanadyan rakitan pungkasaning beksa 3 x 3 x 3 punika boten kalebet nawagraha. Wonten ing cakepanipun sindhen babak 3 pada 2. inggih punika bangsaning gegre- metan ingkang mawa entup. gong. Tawang punika langit. sadumuginipun tengah-tengahan malik slendro sakedhap. manawi temanten sampun badhe ngaso. nanging Kangjeng Ratu Kidul OER. kalebet sindhen lan beksanipun. nde. Gendhingipun Bedhaya Ketawang punika limrahipun dipun wastani Ketawang Gedhe. kenong. salajengipun santun Retnamulya. saderengipun wonten Bathara Guru Jonggringsalaka klebetan bangsa Hindhu. Ingkang jaler ngangge udheng. anglawat kathah garwane Susuhunan. bilih srimpi Anglir Mendhung punika adhinipun Bedhaya Ketawang. Tetela Bedhaya Ketawang punika boten pisah kaliyan Kangjeng Ratu Kidul.

boten wangsul ndharat malih. sajen-sajen wilujengan lan sasaminipun. Dangu-dangu sirna kamanungsanipim. sugengipun wonten ing alam lemunan. lestantun kenya. saganten Indonesia. Anggenipun jumeneng nata jejuluk Kangjeng Ratu Kencanasari. boten kula anggep kawruh pribadi. kataman gerah budhug. Inggih sakathahing tempil-tempilan wau ingkang badhe kula andharaken ing ngriki. Tembung lar a dipun tegesi sakit. Prabu Mundhingsari. ngedhaton ing dhasaring saganten Kidul. Diwasanipun kalajeng wadad. Kula piyambak inggih dereng nate mrangguli. awit Kangjeng Ratu Kidul pimika bangsa alus. Kangjeng Ratu Kidul punika timuripun asma Dewi Renta Suwida. kawancah dados nyi Ra Kidul. lepra. Dewi Retna Suwida ingkang ayunipun ngimgkuli widadari kaswargan. III Kangjeng Ratu Kidul punika sinten? Wonten sayektos punapa namung dedongengan kemawon? Pitaken wau tumrap jaman samangke trep sänget. mastani: Bok Rara Mas Ratu Kidul. Sawijining dinten nalika pinuju suryan manglung sendhang. Sang putri lolos saking kraton. Wonten ingkang nyebat Nyai Lara Kidul25). man cala dados bangsa alus. jalaran pancen gadhah darah lelembat. Saking merangipun lajeng ambyur ing samodra. teteki wonten ing redi Kombang. saking prameswari Dewi Sarwedi. Sura Dira Jayaningrat lebur dening Pangastuti. Dumugi sapriki Kangjeng Ratu Kidul punika boten ngemungaken 49 PNRI . putranipun Ratu Pajajaran. Wayahipun Sang Hyang Suranadi. Sumerep kula inggih namung tutur nempil. Usadanipun namung kungkum wonten sendhang satepining samodra. Saking kadibyanipun sang putri ing pertapan asring katingal wujud priya. Miturut babad. Wonten saweneh ingkang mastani Kangjeng ratu Angin-angin. Prekawis wau nama boten aneh. sanadyan ayahan kula nalika nyambut damel worjten ing kraton rumiyin kapatah nyawisi pangagemanipun. priksa risaking wadana ngantos pangling. nuruti neting panggalih. dados seluman ngratoni lelembat satanah Jawi.bang panembah Sang Hyang Widdhi. buyutipun ratu seluman ing Sigaluh. Wonten malih ingkang nyleneh. Kasebut Rara jalaran boten krama.

kala rumiyin wakil pangarsa Raad van Indie. Sadinten sadalu sadherek wau ngliga sarira. Wonten tepangan kula cariyos. Ing pasisir kidul Lumajang saben taun ngawontenaken korban menda. Kajeng ingkang ageng-ageng sami sol utawi sempal kados wana dipun babadi. Ing sawetanipun Ngliyep mila inggih wonten pulo alit. padununganipun umai Kristen. Pandherek boten wonten ingkang sumerep kemben punika saking sinten. ngantos dipun bekta dhateng griya sakit. Cariyosipun tamu ingkang njenengi pambikaking Hotel Pelabuhan Ratu. katur Nyai Lara Kidul. Piyambakipun rumaos sumerep griya mas dilahipun pating klencar. katata wonten ing griya alit. Nalika badhe ningali kamar pundhen utawi sengkeran wau. nanging sapunika suwung. natoni rainipun. wonten griyanipun. Tetiyang ing pasisir kidul sapangetan dumugi Banyuwangi sami memundhi Kangjeng Ratu Kidul. malah ugi dados pepundhenipun tetiyang ing pesisir kidul satanah Jawi. Salebeting pista kataman lesus ageng. Payung. Ing nglebet kebak sesaji pepunjung katur Nyai Lara Kidul. Sareng Kangjeng Ratu Kidul dipun caosi dhahar. kados dene sanggar. kagem pasanggrahanipun Kangjeng Ratu Kidul. Manut kojahipun sadherek Walter. meja ingkang badhe kangge dhaharan wonten ing satepining samodra sami dhadhal larut katut ing almi. ing dhusun Ngliyep saben taun ngawontenaken sesaji. sowan Nyi Lara Kidul wonten pulo Kombang. Ing taun 1955 ngiringaken gurunipun kaliyan mitra kalih. kajawi ing dhusun Danamulya. 50 PNRI . kursi. salebetipun 5 menit sampun sirep. Ing hotel punika dumugi sapriki wonten kamar ingkang kasengker. kabentus ing kori. kapapanaken ing griya alit mawi senthongan. Kyai guru kaparingan kemben. sag^nten kados kinebur. Wonten saweneh nyonyah manggangge ijem. nalika nem-neman remen rialat nenepi. pulo karang alit sawetan Ngliyep. Camat dhusun Paga nelakaken bilih ing dhusun ngriku saben taun caos sesaji dhateng Ni Ra Kidul. nanging boten maelu. sapangilen urut pasisir Priangan Kidul. Ing bawah Ngayogyakarta kratonipun. wonten lelampahan ingkang elok. Kacanipun pecah. Sampun dipun engetaken bilih panganggenipun wau nrajang aweran.ngratoni leìembat kemawon. Makaten menggah cariyosipun ingkang sami taksih sok rawuh mrika.

bawah Jember ngangge sinjang kawung rasukan abrit. bawah Jember kalajeng ngawisi mangangge sesupe jumerut. sanadyan sampun dipun sajeni. boten kanyana-nyana lajeng wonten lesus ageng sarta lampu pejah sadaya. Boten dangu saganten rob kados kinebur. Ing sawijining dinten wanci serap. wangsulipun nggondhol Walandi sanak-semahipun. Wonten turis bangsa Walandi saanak-semahipun. Manut kojahipun tiyang sepuh ing Pacitan. Dhalang Blitar cariyos. bilih tlatah ngriku dumugi redi Kelud taksih ngestokaken awisan mangangge sarwa ijem. kula kasaraya damel tetingalan. Boten kenging mangangge ijem. Kula piyambak nate ngalami ingkang aneh. Suwantenipun pating kethoprak. Cuthel. Ing dhusun Puger. Tetiyang sami ngelokaken: lampor. ajrih. Waleh-waleh punapa kula piyambak nate ngalami kados makaten ing griya kemawon. Lajeng dipun kenthongi kothekan rame. kagrubyug pandherek wadya kapalan. Saged agi taksih wonten ingkang kirang. awit kalebet laladan kratonipun Nyai Lara Kidul. Juru gambar Dallacq mahyakaken lampor wonten ing gambar reriptanipun. Awisanipun dhusun Tanggul. Kangjeng Ratu Kidul kagambaraken nitih kreta gerbong alit. Kangjeng Ratu Kidul asring tedhak pesiar nitih kreta kagrubyug pandherek kapalan kathah ngambah jumantara. mawi nyebat Kangjeng Ratu Kidul. Rumaos bilih badhe kalap. Nalika dipun wontenaken pepisahan ing sekolahipun anak kula estri. Sareng melek jebul rumaos yen linggih wonten ing pendhapi mas sumorot. netepi pitedahipun tiyang sepuh. Manawi katrajang niwasi. ^ 51 PNRI . Dipun engetaken boten maelu. Sami keceh wonten ing saganten. malah' ngece. pating krincing. Boten dangu juru gambar punika tilar d o n y a . Alun agengipun saredi-redi nyempyok gisik. pasisir ing ngriku gawat. Dhusun Pokoh awisanipun manggangge sinjang parang rusak barong. Bokmanawi kasiku dening Kangjeng Ratu Kidul. medal gegana. mangangge ijem. kula mlajeng.^6) Dumugi sugengipun Sinuhun Paku Buwana X. kawujudaken tampining wahyu kaprabon Panem- bahan Senapati. ngeningaken manah wonten ing pringgitan. Kawuningana. Kalih-kalihipun manawi ngobong menyan kacampuran candu. ing wanci serap. supados boten wonten wadya ingkang gendhak sikara mampir nganjingi tiyang. sarta boten wonten ingkang nrajang. nanging boten kasat paningal.

inggih asring ngatingal. Panggambaripun cetha. Rerembagan prekawis Kangjeng Ratu Kidul. Enjingipun bidhal dhateng pasisir kidul. semekanipun abrit. Tunggilipun wonten tiga. kliling dhateng pundi-pundi. bangsa Amerika. Tumut beksa. Asma Kangjeng Ratu Kidul Kencanasari ing kraton Surakarta taksih lestantun kaanggep akrab saking kasagahanipun Panembahan Senapati anggarwa satedhak turunipun ingkang jumeneng nata. Loteng wau kakunci. Kala alitan kula para sepuh ngatag amrih basa "eyang". Sanadyan andharan kula bab Kangjeng Ratu Kidul sampun panjang. namung para ingkang tinanggenah ingkang kapareng melebet. kados gambaripun para dewa utawi para ingkang ingaji- aji. kaaji-aji nanging dereng kasumerepan isinipun. Wonten saweneh ingkang dipun sumerepi. Tamu wau nyagahi manoni. gebyagan. Saben malem Jumuwah utawi Anggarakasih kasantunan ngiras nyaosi dhahar. sangsangan sesotya endah. wanci ajar-ajaran Bedhaya Ketawang sarta yen badhe tingalan panje- nengan dalem. ing kamar loteng nginggil piyambak. Beda kaliyan ingkang wonten ing Surabaya. ingkang nama tutup saji. Dados saking pangraos kula. Saben dinten kintun pajagen. Eyang Ratu Kidul asring tuwi masanggrahan wonten Panggung Sanggabuwana. ing salebeting guwa. wujud titah wetah nanging pamidhangan sapanginggil kinurung ing cahya praba. Wudharing samadi pratela bilih saged sumerep Kangjeng Ratu Kidul. Sanes priya sanes wanita. lajeng samadi ngantos satawis. Rawuhipun ingkang tamtu saben Anggarakasih. Atur sadhiyan pangageman namung saben taun. ewadene bab nyataning panjenenganipun taksih kados Bathara Guru.^8) Rema kawudhar kawiwir manengen. tata tentreming nagari saisinipun sadaya. Rawuh utawi kondur tanpa lampor. Eman dene tandha tanganipun ingkang nggambar boten cetha. Kasadhiyan pangageman sarta sajen pepak. semekan ijem tinepi pethak mawi bara. Kangjeng Ratu Kidul punika Dewining Alam utawi Dewining Samodra. abdi kawulanipun.29) Watawis taun 1925 — 1930 pangarsaning teosofi sadonya. inggih punika: 52 PNRI . Wonten ing Malang kula nyumerepi Kangjeng Ratu Kidul kagambar wanita kungkum ing toya. Kuwajibanipun ngreksa kawilujenganipun nata saputra wayah. ringgit wacucal kinurungan kesting jene. mampir Surakarta.

Bathari Durga. katur Bathari Durga. kawontenaken sesaji Maesalawung utawi Raja- weda. Sasampunipun ngobong menyan kaliyan ngucapaken rapai. jalaran Weda punika kitabipun agami Hindhu. Ler. 3. 53 PNRI . Saben wulan Rabingulakir. Ingkang ngepung abdidalem pepatih dalem sakancanipun para bupati sapangandhap. inggih punika sesaji Maesalawung. Wetan. Kangjeng Sunan Lawu.1. Boten kondhang. Goteki- pun ingkang nate dipun katingali. kaplajeng ngantos dumugi pucaking redi Lawu. Ingkang badhe kapunjungaken Sang Hyang Pramoni punika awujud: Bekakak tiyang kalih. dewining wana. b. Donganipun donga Buda. wiyosanipun para putra- putri dalem kawrat ing serat konjuk Ingkang Sinuhun. Sesaji ingkang radi beneh. Rajaweda mratelakaken yen aslinipun wilujengan sampun kalimrah saderengipun agami Islam Dhateng. putra Majapait ingkang kaplesit kala bedha- hipun nagari. Suranata metang pananggalan. Dados napak tilas pranatan nagari jaman kina. bekakak tiyang kaselehaken ing windu. sadaya wau kapitayan. rah mentah samangkok alit. Tegesipun maesalawung punika: maesa ingkang dereng maga we. inggih punika wilujenganipun nagari Surakarta saisinipun. jaler-estri. sami tanpa busana. dinten Senen utawi Kemis ingkang pungkasan. Kilen. Abdidalem Juru Suranata punika kalebet golongan abdi dalem mutihan. Dewining gunung. kapepetri dening kraton minangka panjagi nagari sakukubanipun. Ingkang ndongani abdidalem bupati anom Sur anata. boten madana pangulu. Ku- wajibanipun: a. Kacariyos sakawit Raden Guntur. mangsa. boten luman- tar pangulon. Saking pamanggih kula. Juru wajibipun nyarati sarta numbali kawilujenganipun nagari saisi- nipun. wana Krendhawahana. dewaning gunung. Badheg sarta rah kagrujugaken windu mubeng. kados dene bresih desa ing padhusunan. telenging Krendhawahana. warni raseksi kados Bathari Durga ing ringgit wacucal. 2. Rapalipun campuran Jawi-Arab. nanging madeg piyambak. nge- ngingi babagan agami. badheg sagendul. Kangjeng Ratu Sekar Kedhaton ing redi Merapi. Ingkang kautus munjungaken abdidalem jajar juru Suranata dhateng sumur gumuling.

Sabtu Paing. Ugi atur panarimah ingkang tanpa upami dhateng sadaya kemawon ingkang suka seserepan sarta pambiyantu kaleksananing sedya kula memetri Bedhaya Ketawang. sur}'a kaping 21 Rejeb. Ingkang kawenangaken mahas namung janma utami kados Panjenenganipun Panembahan Senapati ingkang nguwaosi alam kalih: alus tuwin wadhag. Paripurnaning pangripta ngaturaken sagunging panuwun. sanepaning loro-loroning atunggal. wuku Wukir 1903 utawi kaping 11 September 1971. Shanti. Kangjeng Ratu Kidul punika sanes dongeng. sarta minangka tilaran kula dhateng anakputu sawingking kula. ingkang nyakup saliring kaendahan. 54 PNRI . pangas- tuti. Shan ti. Dudutan kuia. tetela namung sanes alam kaliyan kita. Surakarta. taun Dal 1903. katur ingkang tan kawuryan ingkang nyipta beksa pusaka Bedhaya Ketawang ing kraton Surakarta. Shanti. sanes gugon tohon. sampun ngantos sirna tanpa lari.

lajeng dados mangsa. 4. Bathara Brama — Bathara Wisnu — Bathara £iwa sami atas-atasan kuwaos. kala kaping 11 Pebruari 1953. 12. beksan candhi lan sanes-sanesi- pun. 2. 11. 6. Raja Bali. Manut pamanggih kula Canthangbalung punika rumiyinipun pan- dhita ingkang mangarsani sesaji. 10. Kirab punika ugi namanipun arak-arakan jumenengan dalem sa- sampunipun kabiyawarakaken ing Sitinggil. Namaning wulan sadasa saderengipun migunakaken nama Islam. Ratu- ning jagad: 55 PNRI . Temahan lajeng katelah nama badhut kemawon. santun busa- na lajeng kaarak medal malih manggihi tamu. 3. Dereng wonten bukung. nitih kareta kencana pangirit kuda 8. Yen mawi gombyok nama: Kace. supa- dos benjing thukulipun rambut sae. Samangke penganten bibar panggih sok kaarak dhateng kamar pondhokan. 7. 9. lajeng kaprada mas (dede brons). Nata = Sunan. Sanadyan sambung-sinambung. Ananging saking sepuhipun. Manawi priya: sampur. Sunan Giri = Girinata. guntinganipun maju tiga kados wajik. Samangke namung IV2 jam. Wanita satunggal-satunggalipun ingkang mawi sesebutan Adipati. CENTHANGAN 1. Wonten ingkang mastani "wajikan". Sareng sampun yuswa. putra-putri dalem tuwin wayah dalem wiwit timur mustakanipun kaplonthos. lan boten kapepetri. Mirsanana sesorah kula "Canthangbalung" ing Walidyasana. Bokmanawi asring wonten ingkang kasambet-sambet. lemes. Punika boten leres. Ing tanah kilenan ugi sami nganggep suci. 5. nanging malah khudus. Kala rumiyin. Miturut katranganipun guru kula. ngantos katutupan lebu-lumuting jaman. Katrangan saking keputren. lajeng tedhak ngubengi kraton. karaos kedangon. Sang Hyang Girinata nate dipun tegesi dasanamanipun Siman Giri. potongan cara jaler lan sasaminipun. punika saking kepareng dalem Ingkang Sinuhun kaping X. ketel lan panjang. 8. Sawenehing guru dhalang wonten ingkang mulang: walang asisik. lajeng sarembag kaliyan Kangjen Ratu Kidul. Sang Hyang £iwa utawi Bathara Guru punika ing mitologi Hindhu ugi apeparab Sang Ancalapati.

minangka tengara wiwitipun tatacara khudus. Mas. ndhaplang mider-mider pados gujeng. Sangka (Skr. J. pada 107. nganggep punika sengkala memet: tanpa ngrasa gunaning wong". sengkala- nipun ngriku: Gapura Buta Mangsa Manungsa. Ing jawi limrahipun mawi Kondhok Ngorek. 1359. Dinas Purbakala cariyos. mawi tandha "bagapurus wantah ajeng-ajengan". wujud wantah. Juynboll tegesipun: jogedan mbeksa cepengan dhapur lingga. Kula kantun meningi capipun lambtszegel). Ing padhalangan gamelan Lokananta. Panggih dalem Ingkang Sinuhun Paku Buwana kaping X dhaup kaliyan G. baga-purus wantah ajeng-ajengan. Sakadhomas utawi Arcadhomas. kasebul dados slompret. saking kaswargan kangge ngurmati dhaupipun R. minangka pundhenipun tiyang 56 PNRI . ing lebet ngang- ge gendhing Pisangbali. ukiran Burisrawa. kagalih sampuh boten njaman. Asring nirokaken motor mabur. madosi pucuking ngandhap. bawa — cahya /mani — putih Bathara Brama nunten malih gagak seta. Kagunganipun Prabu Kresna wasta "Panca- yajna". Ing masarakat pe- nganut agami Qiwa bab punika boten aeng. Bathara Wisnu mancala dados celeng. J. Mirid Serat Bhagawatgita. ukiranipun ugi makaten. 13. Ing ngajeng gapura candhi Sukuh. tlatah Tawangmangu. 14. Bangsa kita ingkang boten mangertos. Sareng jumeneng dalem.). Sajatosipun punika "Qiwa". Dhawuh dalem Ingkang Sinuhun kaping X rumiyin. mabur ndedel anggegana dhateng langit sap pitu. mila "lingga utbawa". ambles ing sapta pratala. ing Sitinggil kurmatanipun mawi Monggang. Wo- sipun sami kaliyan serat Ramayana kawi pupuh VI.K. Kula gadhah liontin "lingga" mas. 15. Aijuna kaliyan Sembadra. linggot — dawa/lingga — dhuwur cahya manther sasada lanang. inggih lingga wantahan. Inggih punika mlorotipun brahmana dados badhut. cepengani- pun Canthangbalung yen njoged njajari gangsa Sekaten ing Bakda Mulud. lajeng kasantunan towok waos mawi gombyok. Katranganipun Dr. Sami boten pinanggih. Jogedipun namung sakajengipun piyambak. wonten sela ageng tinatah lingga-yoni. nalika Brayuda Pandhawa gangsal sami ga- dhah slompret sadaya.R. madosi pucukipun nginggil. bangsaning keyong ageng saganten. 1360.

R . lintang Bima Sekti. Donderdag (Donar). Wonten Sumatra Barat ngantos 32 mesjid. Leresipun Saniscara. nitih kuda dhawuk. Jawi inggih gadhah palintangan piyambak: Lintang Luku. Lintang Johar Awal sarta lintang ingkang ngandhapi Wong Agung Ngeksiganda Panembahan Senapati. Ingkang kapetha dados gambar perlambang inggih punika: a. Ing serat Mijil kasebat: Irim-irim lintang lanjar ngirim. kados dene dinten Anggara Kasih . Surakarta. Cakrikipun murni. wus manengah praune sang raden. Zaterdag (Saturnus). Maandag (wulan). bab "Sandyakala". Panjer Sore lan sapanung- gilanipun. Ka- dhawahaken sanesipun Selasa Kliwon boten saged. inggih punika Setu Kliwon. 18. Kangge rerenggan ing upacara Payung Agung. Ingkang ngemu suraos lebet (mistik-religius): Lintang Johar Akhir. Mirid buku seratanipun Ny. B. Namaning dewa: Woensdag (Wodan). Kedaleman ing Banten. Wonten pundi-pundi kula remen ningali candhi utawi papan pa- nembah sanesipun. Mirsanana DJAWA. Gambar punika saking tilas guru bedhaya. 4 — 5 Juli — Oktober 1935. Gemak Tarung. Mirsanana sesorah kula ing R . 19. 20. 21. b. Mila dipun wastani tatacara beksan wiwa- han (Minne/huwelijksdans). Jaka Belek ma- luku ing kali. inggih punika wadhah toya suci ing Teng- ger. Bokmanawi punika sababipun panganggenipun Bedhaya Ketawang cara temanten panggih. I . marhum Nyai Lurah Mardimataya (Tjitut). 23. nama "Kori Pangurip". kala manekung wonten ing Lipura. Balai Pustaka kaca 16. Namaning dinten Eropah inggih wonten ingkang nyambut na- maning lintang: Zondag (Surya). Mahyakaken panguwaosing tiyang teka kados "lintang".= Selasa Kliwon. gubug penceng anjog. 16. Lare-lare alitan kula mastani Lintang Panjer Sore punika "ting negara Landa". Gambar ing pasren. 22. van Helsdingen/Schoevers: v 'Bedojo Srimpi". sami tumumpang ing balekambang ingkang toyanipun bening sanget. XII110. boten kawoworan manca. nanging katelah makaten. Lintang Kukusan. 57 PNRI . 17. 14 Pebruari 1955. Panjer Rina. Pasren saking lingga-ragi (palintangan).

30. amplopipun ugi kesting jene. 31. Nyatanipun Dallacq punika tiyang Jawi deles. Pinter anggenipun nggambaraken lan mujudaken lelmat. Rampung Sekaten. Salaka punika pethak. kapitongtonaken ing Sekaten. asring katingal wanita. Ing tetingalan punika Wong Agung Ngeksiganda Panembahan Senapati kawujudaken mangagem kaprabon. lajeng dipun lebetaken ing amplop limrah. rumamyang kemawon. Gambar punika dipun serati "LAMPOR". Mangka ing jawi dilah lestantun kencar-kencar. Mila sae sanget. badhe katampekaken Pasihaning Pangeran. Nanging rehne medal pos. cen- dhela-cendhela sami dhar-dher nggebyak. 28. minangka lambanging Kraton Tanah Jawi. Ing kawruh kapitayan Hindhu. kala taksih kenya tapa wonten redi Kombang. Sareng jedhul medal. cat katingal cat boten." 58 PNRI . pethak punika ulesipun Bathara Guru ign kejawen. asli lan griyanipun ing Kapatihan Kulon. Manawi kula tampi serat saking para Sultan Sabrang. mbektawang- kingan pusaka. awit grengipun namung lamat-lamat. serat-seratipun para nata ingkang kakintun dhateng nata sanesipim kalebetaken ing amplop kesting jene. lan ingkang ningali kathah sanget. kasa- rengan satunggiling "reaksi kosmis": lesus ageng. sadaya estri. Tembung Junggringsalaka punika mathis sanget. Sikuning Kangjeng Ratu Kidul 27. asring katingal priya.24. 26. Punapa punika sababipun. kori-kori. Saged ugi punika nggambaraken kala gerah lepra. Wahyu Kaprabon wau Kangjeng Ratu Kidul mangagem agem-agemanipun Dewi Banowati. Dilah gantung mobat- mabit sarta lajeng pejah sadaya. lenggah dhampar dhenta kaadhep para manggalaning prang lan para ampil-ampil kaprabon. Rumiyin. 25. gambar katumbas Walandi. Mirsanana sesorah kula "Kaliyasa. Ing kraton Nyai Lara Kidul punika patihipun. 29. kadamel lamat-lamat.

PNRI .

PNRI .