You are on page 1of 18

1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebelum saya membahas pengertian hukum pidana, Saya terlebih dahulu harus
mengetahui apa pengertian dari Hukum tersebut. Hukum itu adalah Suatu peraturan yang
harus ditaati oleh masyarakat yang berada didalam negara indonesia ini maupun diluar negeri
baik itu dari segi hukum yang tertulis maupun tidak tertulis. Walaupun berbeda hukum yang
sudah diterapkan oleh luar negeri akan tetapi dalam peraturan tersebut haruslah diperketat
lagi. Apabila ada seseorang yang melanggar suatu peraturan yang sudah diterapkan
pemerintah akan mendapatkan sanksi yang tegas.

Seperti kasus Kopi Maut yang telah terjadi merenggut nyawa Mirna Salihin. Kasus ini
disebabkan karena ada motif saling kecemburuan. Meskipun Jessica sudah ditetapkan sebagai
tersangka seharusnya kepolisian harus menyelesaikan kasus ini agar tidak diulang-ulang
kembali dan tidak berbelit-belit dalam menyikapi kasus ini. Hukum diindonesia sangatlah
lemah dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah terhadap masyarakat ini. Harapan saya
kedepan nya, pemerintah harus mempertegas peraturan yang ada di indonesia ini agar tidak
ada masyarakat yang tidak menspelekan peraturan ini.

Keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan apa yang dilarang dan
termasuk ke dalam tindak pidana, serta menentukan hukuman apa yang dapat dijatuhkan
terhadap yang melakukannya. Terciptanya keharmonisan dalam tatanan masyarakat sosial
juga tidak terlepas dengan adanya hukum yang mengatur. Dalam hukum dikenal dengan
istilah perbuatan pidana. Perbuatan pidana merupakan suatu istilah yang mengandung suatu
pengertian dasar dalam ilmu hukum pidana, Perbuatan pidana (tindak pidana/delik) dapat
terjadi kapan saja dan dimana saja. Berbagai bentuk tindak kejahatan terus berkembang baik
modus maupun skalanya, seiring berkembangnya suatu masyarakat dan daerah seiring juga
perkembangan sektor perekonomian demikian pula semakin padatnya populasi penduduk
maka perbenturan berbagai kepentingan dan urusan diantara komunitas tidak dapat dihindari.
Berbagai motif tindak pidana dilatarbelakangi berbagai kepentingan baik individu maupun
kelompok. Tindak pidana (delik),

1

6. Apa saja Sifat Publik dalam Hukum Pidana itu ? 4. Peristiwa apa saja yang tercantum dalam Hukum Pidana ? 6. Agar kita mengetahui Sistem Hukuman yang dipergunakan dalam Tindak Pidana BAB II PEMBAHASAN A. Agar kita mengetahui Asas Berlakunya dalam Hukum Pidana. Agar kita mengetahui Pengertian dari Ilmu hukum dan Hukum Pidana. Coba Anda Jelaskan Perkembangan Hukum pidana di Indonesia ? 3. 4. 5. Apa yang dimaksud dengan Ilmu Hukum dan Hukum Pidana ? 2. Agar kita mengetahui Studi Kasus yang telah terjadi dalam Hukum Pidana. 7. Bagaimana solusi untuk Mengatasi hal itu ? 8. Agar kita mengetahui Sifat Publik dalam Hukum Pidana itu. 2. Sistem Hukuman seperti apa yang dipergunakan dalam Tindak pidana ? C. Agar kita mengetahui Perkembangan Hukum Pidana di Indonesia. Asas apa saja yang diberlakukan dalam Hukum Pidana ? 5. 8. Studi Kasus apa saja yang telah terjadi dalam Hukum Pidana tersebut ? 7. 3. PERUMUSAN MASALAH Adapun yang menjadi Perumusan Masalah dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut: : 1. Agar kita mengetahui Solusi apa untuk mengatasi hal tersebut. Pengertian Ilmu Hukum dan Hukum Pidana 2 . TUJUAN PENULISAN Adapun yang menjadi Tujuan Penulisan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Agar kita mengetahui Peristiwa yang tercantum dalam Hukum Pidana. 2 B.

dalam Bahasa Inggris Ilmu Hukum lazim disebut jurisprudence yang berasal dari bahasa Latin iiuris dan prudentia yang kalau diterjemahkan secara harfiah kebijaksanaan tentang hukum. Ilmu sosial yang mempelajari perilaku manusia dan masyarakat. Ilmu pengetahuan secara umum dapat dibedakan menjadi dua kelompok yaitu: 1. Dengan berpegang kepada pengertian ilmu dalam bahasa latin scientia bukan bahasa inggris science. Untuk menghindari kata science diterapkan untuk ilmu hukum. Yang bahasa inggrisnya science. dalam bahasa Latin terdapat kata lex yang artinya dalam bahasa indonesia undang-undang. ilmu hukum sebagi ilmu pengertian dan ilmu hukum sabagai ilmu kenyataan. yang boleh dikatakan sebagai ilmu kehayatan (life sciences) 2. Kedua kelompok ilmu pengetahuan ini termasuk ke dalam bilangan ilmu empiris yang artinya bahwa pengetahuan yang diperoleh didasarkan atas fenomena yang dapat diamati dan kesahiannya dapat diuji dan peneliti lainnya yang bekerja pada kondisi yang sama. yaitu seperangkat aturan tingkah laku untuk mengatur ketertiban masyarakat. Kata science berarti knowledge or a system covering general truths or the operation of general laws especially as obtained and tested through scientific method. pengetahuan mengenai hukum tidak perlu ragu untuk menyebutnya sebagai ilmu hukum yang dalam bahasa latin disebut sebagai scientia iuris. Di dalam Webster Dictionary. ilmu hukum sebagai kaidah. Ilmu alamiah yang mempelajari fenomena alam termasuk kehidupan biologis. Ilmu hukum adalah suatu pengetahuan yang objeknya adalah hukum dan khususnya mengajarkan perihal hukum dalam segala bentuk dan manifestasinya. 3 Kata “Ilmu” sering disalah artikan dengan “Ilmu pengetahuan”. bersifat mengatur dan memaksa. 3 . Di samping ius. Kata iuris merupakan bentuk plural dari kata ius yang artinya dalam bahasa indonesia hukum diartikan sebagai serangkaian pedoman untuk mencapai keadilan. Ilmu hukum itu sendiri adalah peraturan-peraturan yang berlaku di masyarakat. Dari kata ius itulah kemudian muncul istilah iustitia yang memang artinya keadilan.

Sejak itulah sifat obyektif rasa keadilan terbentuk. 1982:3). B. Jadi ilmu hukum tidak hanya mempersoalkan tatanan suatu hukum tertentu disuatu Negara. 4 Curzon berpendapat bahwa ilmu hukum adalah suatu ilmu pengetahuan yang mencakup dan membicarakan segala hal yang berhubungan dengan hukum (Satjpto Raharjo. maka pelaksanaan hukuman itu sebagai tujuan hukum pidana untuk memenuhi rasa adil ysng dikehendaki oleh masyarakat. karena merupakan pelaksanaan pertanggung jawaban dari kegiatan yang dikerjakan. Dan wujud dari sanksi pidana itu debagai sesuatu yang dirasa adil oleh masyarakat. Kembali kepada pembicaraan tentang pertanggungjawaban seseorang untuk mengembalikan keseimbangan kehidupan masyarakat yang baik. 1982:3). Hukum Pidana adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur dan membatasi tingkah laku manusia dalam meniadakan pelanggaran kepentingan umum. Misalnya dalam “Sebagai manusia hormatilah antar sesamanya. serta fungsi-fungsi ilmu hukum pada tingkat peradaban umat manusia. melainkan juga sifat. Pernyataan seperti ini dikehendaki berlakunya oleh kehidupan sosial dan agama. perkembangannya dari masa lalu sampai sekarang. Tetapi sejalan dengan perkembangan kehidupan sosial dengan kebutuhan hidupnya yang tambah kompleks. Hukum itu sebagai fenomena universal dan bukan lokal atau regional (Satjpto Raharjo. Hanya saja yang dapat dirasakan berat adalah sanksi hukum pidana. Undang-undang itu merupakan hasil produk pemerintah dalam 4 . Kalau ada orang yang melanggar pernyataan itu baik dengan ucapan maupun dengan kegiatan anggota fisiknya. Perkembangan Hukum Pidana di Indonesia Sejak indonesia merdeka sampai sekarang aturan-aturan Hukum Pidana yang berlaku tidak saja yang termuat dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana melainkan juga terdapat di dalam Undang-undang lain sebagai hukum tertulis tidak dikodifikasi dan yang dikofidikasi. Untuk merasakan kenikmatan bersama yang baik itu batasan-batasan tingkah laku yang mengandung unsur saling harga-menghargai diri masing-masing kepentingan individu dalam situasi kebersamaan dalam situasi sosial dapat dirasakan keserasiannya secara bersama. Dengan demikian dapat dikatakan dengan singkat bahwa obyek ilmu hukum ialah hukum dalam suatu fenomena dalam kehidupan manusia di mana saja dan kapan saja. Rasa adil itu timbulnya semula dari kegiatan rohaniah individu yang bersifat subyektif. Ruang lingkup ilu hukum itu sangat kompleks. maka ia akan dikenakan sanksi. tidak hanya membicarakan tentang peraturan perundang-undangan saja. maka setiap individu ingin merasakan kenikmatan hidup di dunia nini dengan nyaman.

Korban atau keluarganya berhak membalas orang yang merugikan itu. diatur dalam Undang-undang Nomor 3 Tahun 1971. Mengembangkan aturan hukum pidana mempunyai dasar hukum yang dicantumkan dalam Pasal 103 KUHP. ialah: 1. Perbuatan pembalasan itu dinamakan 5 . diatur dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1976. Pemberantasan narkotika. Pemberantasan kegiatan subversi. 5 menasionalisasikan hukum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Penertiban perjudian diatur dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 1974. 3. 4. Balasannya dilakukan secara setimpal. Berdasarkan ketentuan ini dimungkinkan dibuat aturan hukum pidana di luar KUHP dalam memenuhi kebutuhan masyarakat asalkan tidak bertentangan dengan aturan hukum pidana yang telah dikofidasikan dalam KUHP. Pemberantasan tindak pidana Korupsi. diatur berdasarkan penetapan Presiden No 11 Tahun 1963 2. maka setiap peristiwa yang menggannggu keseimbangan hidup dan merugikan anggota masyarakat yang dapat dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat masih dianggap sebagai pelanggaran terhadap kepentingan perseorangan. Dan balasan itu dapat dilaksanakan kepada pelakunya tidak diketahui lagi kediamannya. Sifat Publik Hukum Pidana Sebelum hukum pidana dikenal sebagai hukum yang bersifat umum (publik). C. Ketentuan pasal ini menyatakan bahwa “Ketentuan-ketentuan dari kedelapan Bab I dalam Buku I berlaku juga atas peristiwa yang padanya ditentukan pidana menurut ketentuan perundangan lain kecuali kalau dalam Undang-undang atau Peraturan Pemerintah ditentukan lain”. Beberapa aturan hukum pidana indonesia yang perlu diketahui sebagai perkembangan aturan hukum selain Undang-undang Lalu Lintas yang telah lama berlaku.

6 “balas dendam”. Dengan demikian korban atau anggota keluarganya hanya akan menerima ganti rugi sebagai penebus dosa. Pasal 1 ayat 1 KUHP menyatakan: “tiada suatu perbuatan yang boleh dihukum melainkan atas kekuatan aturan pidana dalam Undang-undang yang terdahulu dari perbuatan itu”. Dan walaupun perbuatan itu menganggap keseimbangan kehidupan masyarakat. Sanksi inilah yang merupakan rasa keadilan bersifat subyektif. Maksudnya suatu perbuatan yang merugikan orang lain dan dirasakan akibat oleh seluruh anggota masyarakat sebagai hal mengganggu kepentingan manusia secara menyeluruh (umum). maka dengan berkembangnya kehidupan yang mulai teratur asas talio diubah menjadi “pembayaran ganti rugi”. Dan untuk menghindarkan kemusnahan manusia dalam kelompoknya. Tetapi sejumlah materi yang diberikan kepada keluarga korban ditentukan oleh keluarga korban sendiri sesuai asas keseimbangan yang diderita. keamanan. Ketentuan pasal ini memuat tiang penyanggah dari hukum pidana. sehingga mengakibatkan terganggunya keseimbangan dalam hidup sehari-hari. kesejahteraan dan lainnya yang menyangkut kehidupan masyarakat . maka sifat subyektif itu berubah menjadi sifat obyektif. Asas Berlakunya Hukum Pidana Setiap orang yang akan menjalankan Undang-undang Hukum pidana sebagai yang berwenang hendaknya wajib memperhatikan asa hukumnya dicantumkan dalm pasal 1 KUHP. Adanya perubahan itu berarti bahwa sifat hukuman nya menjadi keperdataan. Ketentuan ayat ini 6 . Sedangkan pelaksanaan dari ganti ruginya digunakan ukuran “yang sepadan” dengan perbuatan dan akibat yang diderita korban atau keluarganya. tetapi masih dianggap sebagai hubungan hukum perseorangan. Sejak adanya penilaian banyaknya kepentingan yang bersifat umum itulah. Mengganggu kepentingan umum berarti mengganggu ketenteraman hidup. maka hukum pidana sifatnya menjadi publik (umum). Perbuatan balas dendam sering sekali mengakibatkan pembunuhan besar-besaran. maka keluarga terbunuh akan membalas dengan membunuh pelakunya atau salah seorang keluarga dari pelaku. D. Misalnya: Seseorang membunuh orang lain. Setelah banyak kepentingan umum. Maksudnya hubungan hukum yang terjadi dilakukan sebagai sebab adanya peristiwa hukum antara seseorang dan orang lain.

7 memuat asa asa yang tercakup dalam rumusan: “Nullum delicium. Peristiwa Pidana Peristiwa pidana yang juga disebut tindak pidana (delict) ialah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan yang dapat dikenakan hukum pidana. maka pelakunya dapat diselesaikan sesuai perbuatan tersebut. Asas nullum delictum ini memuat pengertian bahwa suatu perbuatan yang dilakukan tanpa ada Undang-undang yang sebelumnya telah mengatur tentang perbuatan sudah ada peraturan hukum yang mengatur tentang perbuatan itu tidak dapat dipidana.nulla poena sine praevia lege punali” yang artinya tiada hukuman tanpa suatu peraturan yang terlebih dahulu menyebut perbuatan yang bersangkutan. sebagai suatu delik dan memuat suat hukuman yang dijatuhkan atas delik itu. E. Obyektif. Jadi secara tegas dapat dikatakan bahwa ketentuan-ketentuan hukum yang melarang perbuatan tertentu harus tertulis dalam peraturan perundangan hukum pidana positif. Dan unsur-unsur itu terdiri dari: 1. Dan kalau sebelum terjadi perbuatan sudah ada peraturan hukum yang mengatur tentang perbuatan itu. Suatu peristiwa hukum yang dapat dinyatakan sebagai peristiwa pidana kalau memenuhi unsur-unsur pidananya. 7 .

mulai dari pendingin ruangan. Maksudnya bahwa memang benar-benar ada suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang. kedapatan mendapatkan fasilitas mewah di dalam Rutan Pondok Bambu. 8 Yaitu suatu tindakan (perbuatan) yang bertentangan dengan hukum dan mengindahkan akibat yang oleh hukum dilarang dengan ancaman hukum. b. Bukan hanya mendapatkan ruangan yang serba wah. Sifat unsur ini mengutamakan adanya pelaku. Artinya perbuatan sebagai suatu peristiwa hukum memenuhi ketentuan hukum yang berlaku pada saat itu. Luar biasa! Seorang terpidana yang menyeret nama Jaksa Urip dan petinggi Kejaksaan Agung. F. Studi Kasus dalam Hukum Pidana Kasus yang pertama adalah “Mafia Hukum”. Harus berlawan dengan hukum. Dilihat dari unsur-unsur pidana ini. Artinya suatu perbuatan yang berlawanan dengan hukum dimaksudkan kalau tindakannya nyata-nyata bertentangan dengan aturan hukum. Maksudnya bahwa perbuatan yang dilakukan oleh seseorang atau beberapa orang itu dapat dibuktikan sebagai suatu perbuatan yang disalahkan oleh ketentuan hukum. tempatnya ditahan. Kegiatan itu terlihat sebagai suatu perbuatan tertentu yang dapat dipahami oleh orang lain sebagai sesuatu yang merupakan peristiwa. maka kalau ada suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang harus memenuhi persyaratan supaya dapat dinyatakan sebagai peristiwa pidana. Satgas juga menemukan yang bersangkutan sedang dirawat oleh seorang dokter spesialis. Harus ada perbuatan. Harus terbukti adanya kesalahan yang dapat dipertanggung jawabkan. telepon. ruang kerja. 2. 8 . Ia memperoleh perawatan khusus dari dokter yang didatangkan dari luar Rutan. Artalyta Suryani. Perbuatan itu harus sesuai dengan apa yang dilukiskan dalam ketentuan hukum. Dan syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai peristiwa pidana ialah: a. Seorang terpidana kasus penyuapan petugas. c. Yang dijadikan titik utama dari pengertian obyektif di sini adalah tindakannya. bahkan ruang tamu. d. Aksi sidak Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum berhasil. Subyektif Yaitu perbuatan seseorang yang berakibat tidak dikehendaki oleh undang-undang. berada dalam penjara dengan fasilitas luar biasa.

1 unit kamera digital merk linux 8. Itu pun baru satu temuan.000.35.45 Wib di jalan Ratu Dibalu gang melati tanjung seneng Bandar Lampung.(tiga puluh lima juta rupiah) dan saat ini kasus tersebut sedang ditangani Polresta Bandar Lampung Polda Lampung.000. 2 HP merk Nokia 3. 9 . 7. Ia punya uang untuk melakukan apapun caranya dan untuk membeli apa yang dia mau. 1 unit Ipad 6. bukan oleh mereka yang bekerja untuk melakukan pengawasan di instansi pemerintah. 1 HP Nexian 4. dan ada dimana saja. 1 HP merk Blackbery 2. kerugian korban berupa : 1. 5. Mereka tunduk di bawah kekuasaan uang. RITA JAHARA (36 tahun) yang dilakukan oleh enam orang tidak dikenal. Jawabnya adalah uang. 1 HP merk Cross 5. Itu adalah wajah hukum kita. Amat aneh kalau para petinggi Rutan tidak tahu menahu bahwa sebuah ruangan telah disulap oleh seorang terpidana. Bagi kita. Karena uang itu pula maka para pejabat yang harusnya berwenang menegakkan peraturan menjadi tidak lagi bisa berkuasa. Uang tunai Rp. betapa mafia hukum memang berada dimana-mana. Emas 35 gram 9. telah terjadi pencurian dengan kekerasan terhadap korban An. Mereka pasti merestuinya dan mengetahuinya Kasus yang kedua adalah : Pada hari Kamis tanggal 19 Januari 2012 sekitar pukul 11. Temuan itu justru ditemukan oleh Satgas yang dibentuk dari luar. 9 Ia juga kabarnya bisa ditemui dengan bebas oleh para asistennya. 1 unit Laptop merk Asus.000 (lima juta rupiah) Kerugian materil yang dialami korban ditaksir Rp. amat mudah menemukan alasan bagaimana seorang bernama Artalyta itu bisa menikmati fasilitas yang begitu mewah. yang bekerja setiap tahun memastikan prosedur Rutan dijalankan dengan baik.000. Awalnya pelaku CS menggunakan sepeda motor mendatangi rumah korban kemudian masuk dan mengikat korban sambil menodongkan senjata api selanjutnya pelaku CS mengambil barang-barang milik korban.. wajah yang semakin suram baik di luar maupun di dalam.

Hal-hal seperti ini harusnya membuat kita menyadari betapa jahatnya kejahatan di negeri ini. Wajar saja kemudian orang kecil hanya bisa menangis ketika berada dalam persoalan hukum karena mereka hanya bisa menjadi korban ketidakadilan. Selain itu. harus diberikan hukuman tambahan atas suap yang dilakukannya pada pejabat Rutan. Para pimpinan Rutan dimana Artalyta misalnya harus ditahan bersama-sama dengan mereka yang sebelumnya ditahan. Kejahatan itu bisa membeli dan merampas keadilan dan kebenaran hukum. Para pejabat itu harus jera. 10 G. 10 . harus diberikan hukuman tambahan. Arthalyta. Salah satu yang perlu dilakukan adalah memberikan efek jera kepada para pejabat yang ketahuan memberikan fasilitas lebih dan mudah kepada mereka yang terlibat dalam kejahatan. kepada para pelaku kejahatan yang terbukti mencoba atau melakukan transaksi atas nama uang. Solusi Mengatasi Kasus Solusi untuk mengatasi kejadian yang pertama adalah : Karena itu Satgas seharusnya segera melakukan langkah-langkah penting. pelaku berjumlah enam orang telah melakukan tindak pidana pencurian dengan cara mengambil barang-barang milik Rita Jahara yang disertai dengan tindak kekerasan di rumah korban jalan Ratu Dibalu gang melati tanjung seneng Bandar Lampung. ketika dia masih di dalam penjara. Solusi kedua adalah : Pada kasus di atas. Memberikan efek jera demikian akan membuat mereka tidak ingin berpikir melakukan hal demikian lagi.

Maksud untuk memiliki. 2. Status barang itu “sebagian atau seluruhnya menjadi milik orang lain” 4. Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. sedangkan yang sebagian milik pelaku itu sendiri. Tindak pidana ini masuk dalam golongan “pencurian biasa(Pokok)” Unsur-unsurnya sebagai berikut: 1. Unsur benda. yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain. 3. 11 Dalam kasus ini. baju. Unsur perbuatan mengambil. 11 . Unsur-unsur tersebut dapat digolongkan menjadi unsur-unsur objektif dan unsur-unsur subjektif Unsur – Unsur Objektifnya berupa : 1. dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum. pelaku dapat dijerat dengan pasal 362 KUHP yaitu mengenai pencurian yang berbunyi “Barangsiapa mengambil barang. Benda tersebut tidak perlu seluruhnya milik orang lain . Unsur – Unsur Subjektifnya berupa : 1. Unsur sebagian maupun seluruhnya milik orang lain. Tindakan yang dilakukan ialah “mengambil” 2. Yang diambil ialah “barang” 3. Maksud untuk memiliki berarti sebelum melakukan perbuatan mengambil dalam diri pelaku sudah terkandung suatu kehendak (niat) terhadap barang itu untuk dijadikan sebagai miliknya. Tujuan perbuatan itu ialah dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum (melawan hak). Semua benda yang berwujud seperti uang. dan semua benda-benda yang memiliki nilai. dipidana karena mencuri dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun atau denda sebanyak-banyaknya Sembilan ribu rupiah”. perhiasan dan sebagainya termasuk pula binatag dan benda yang tak berwujud seperti aliran listrik yang disalurkan melalui kawat serta gas yang disalurkan melalui pipa. cukup sebagian saja.

apabila disertai salah satu hal seperti yang telah dijelaskan pada pasal 365 ayat (2) di atas. artinya ialah sebelum bertindak melakukan perbuatan mengambil benda. Maksud memiliki dengan melawan hukum atau maksud memiliki itu ditujukan pada melawan hukum. dipidana pencurian yang didahului. disertai. dengan maksud untuk menyediakan atau memudahkan pencurian itu. * jika yang bersalah masuk ke tempat melakukan kejahatan itu. * jika perbuatan itu mengakibatkan ada orang luka berat. maka pelaku dapat diancam dengan pasal 365 KUHP ayat (1) dan (2). supaya ada kesempatan bagi dirinya atau bagi yang turut serta melakukan kejahatan itu untuk melarikan diri atau supaya barang yang dicurinya tetap tinggal ditangannya. Pidana penjara selama-lamannya dua belas tahun dijatuhkan: * jika perbuatan dilakukan pada waktu malam dalam sebuah rumah atau pekarangan tertutup yang ada rumahnya. 12 2. Tetapi karena pencurian tersebut disertai dengan ancaman kekerasan pada pemilik rumah. Perumusan perbuatan pidana yang digunakan untuk kasus pencurian dengan kekerasan ini adalah dengan 12 . yang berbunyi: 1. atau diikuti dengan kekerasan atau ancaman kekerasan pada orang. Melawan hukum. Ancaman hukuman untuk pencurian dengan kekeransan ini diperberat. perintah palsu. 2. * jika perbuatan itu dilakukan bersama-sama oleh dua orang atau lebih. Dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun. atau dalam kereta api atau trem yang sedang berjalan. dengan merusak atau memanjat atau dengan memakai anak kunci palsu. ia sudah mengetahui. atau pakaian jabatan palsu. di jalan umum. atau jika tertangkap tangan. sudah sadar ingin memiliki benda orang lain (dengan cara yang demikian) itu adalah bertentangan dengan hukum.

Jika diliah dari pasal yang telah diterangkan sebelumnya yaitu KUHP pasal 362 dan 365 ayat (1) dan (2).sehingga dengan unsur-unsur tersebut dapat dirinci secara jelas. Kualifikasi dan Ancaram Pidana. karena perbuatan tersebut memiliki unsur-unsur yang sama dengan tindak pidana dasar atau tindak pidana pokok. Perbuatan Pelaku yang melakukan tindak pidana pencurian yang mengakibatkan pelaku dihukum selama-lamannya lima tahun kurungan sesuai dengan KUHP Pasal 362. Akan tetapi perbuatan pelaku yang melakukan kekerasan kepada pemilik rumah. tetapi ditambah dengan unsur-unsur lain sehingga ancaman pidananya lebih berat dari pada tindak pidana dasar. dan untuk menyatakan pelaku pencurian ini bersalah melakukan karena telah melakukan tindak pidana tersebut dan menjatuhkan hukuman pidana terhadap pelaku tindak pindana. 13 . dengan mengikat korban dan menodongkan senjatanya. maka perbuatan pelaku tergolong kepada tindak pidana berkualifikasi. yang telah diterangkan di atas. 13 cara mencantumkan Unsur Pokok. dapat diancam dengan hukuman yang diperberatkan yang disebutkan dalam KUHP Pasal 365 ayat (1) dan (2) yaitu dengan hukuman selama-lamanya dua belas tahun kurungan. Sehingga perbuatan pencurian ini dapat diancam dengan hukuman yang diperberatkan.

Hukuman kurungan 4. 14 . Hukuman Tambahan (Bijkomende straffen) 1. Hukum penjara 3. 14 H. Hukuman mati 2. Perampasan barang-barang tertentu. Hukuman Pokok ( Hoofd straffen) 1. Sistem Hukuman Dalam Hukum Pidana Sistem hukuman yang dicantumkan dalam pasal 10 menyatakan bahwa Hukuman yang dapat dikenakan kepada seseorang pelaku tindak pidana terdiri dari: a. b. Hukuman denda. Pencabutan beberapa hak tertentu. 3. Pengumuman putusan hakim. 2.

Ketentuan tentang asas berlakunya hukum pidana ini dapat dilihat dalam Pasal 2 sampai dengan Pasal 9 KUHP. Ketentuan tentang berlakunya hukum pidana menurut waktu dapat dilihat dari Pasal 1 KUHP. asas perlindungan atau asas nasionaliteit pasif. yaitu 1. 15 BAB III PENUTUP A. asas personaliteit.KESIMPULAN Hukum Pidana disusun dan dibentuk dengan maksud untuk diberlakukan dalam masyarakat agar dapat dipertahankan segala kepentingan hukum yang dilindungi dan terjaminnya kedamaian dan ketertiban. 15 . Selanjutnya berlakunya undang-undang hukum pidana menurut tempat mempunyai arti penting bagi pe-nentuan tentang sampai dimana berlakunya hukum pidana sesuatu negara itu berlaku apabila terjadi perbuatan pidana. mempu-nyai arti penting bagi penentuan saat kapan terjadinya perbuatan pidana. Batas waktu (diatur dlm buku pertama. dibatasi oleh hal yang sangat penting. Bab I pasal 1 KUHP) 2. Dalam hal diberlakukannya hukum pidana ini. Berlakunya hukum pidana menurut tempat ini dapat dibedakan menjadi empat asas yaitu: asas teritorialitateit. Batas tempat dan orang (diatur dlm buku Pertama Bab I Pasal 2 – 9 KUHP) Berlakunya hukum pidana menurut waktu. dan asas universaliteit.

Dalam makalah ini telah kita lihat pembahasannya dan bisa dipahami ruang lingkup hukum pidana tersebut. 16 Sumber Hukum Pidana dapat dibedakan atas sumber hukum tertulis dan sumber hukum yang tidak tertulis. B. ada beberapa Undang-undang yang mengatur tindak pidana khusus yang dibuat setelah kemerdekaan. SARAN Saran penulis agar makalah ini yang berjudul Hukum Pidana dapat bermanfaat serta berguna bagi siapapun yang membacanya. 16 .

17 DAFTAR PUSTAKA Referensi Buku: Marzuki. Peter. 1984. Pengantar Hukum Indonesia. Pengantar Ilmu Hukum. Mahmud. 2008. Surabaya: Kencana Subekti. Bandung: Citra Niaga 17 .

18 18 .