You are on page 1of 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fixed drug eruption (FDE) adalah reaksi alergi dengan manifestasi berupa lesi kulit yang
muncul ditempat yang sama dan dapat bertambah akibat pemberian atau pemakaian jenis
obat-obatan tertentu. Beberapa penelitian tentang morfologi dan agen pencetus pada pasien-
pasien dengan erupsi obat dirumah sakit atau bagian kulit kelamin pada tahun 1986-1990
dilaporkan pada 135 kasus terdapat kasus FDE sebanyak 16%.
Gambaran klinik dari FDE berupa timbulnya satu atau beberapa lesi kulit yang
eritematous berbentuk bulat atau oval. Pada mulanya terbentuk efloresensi berupa makula
berbatas tegas berwarna ungu atau coklat. Diagnosis FDE ditegakkan berdasarkan anamnesa
adanya riwayat penggunaan obat sebelum timbulnya lesi dan gambaran klinik yang
ditemukan. Namun jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan jaringan kulit secara patologi anatomi dimana akan didapatkan gambaran
mikroskopis berupa terdapatnya makrofag-makrofag dan adanya penumpukan pigmen
melanin.
Penatalaksanaan yang dipakai adalah dengan pengobatan kausal berupa mengetahui
dan menghindari terpaparnya kembali dengan obat-obatan penyebab dan pengobatan
simptomatis berupa pemberian obat-obatan secara sistemis seperti kortikosteroid dan
antihistamin maupun secara topikal.
FDE bukan merupakan kasus yang mengancam jiwa dimana akan menyembuh bila
obat penyebab dapat diketahui dan disingkirkan. Namun demikian dilihat dari sudut
pandang kosmetik sangat mengganggu dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Jika tidak
diterapi secara kausal maka dapat bertambah parah dengan adanya penambahan jumlah lesi.
BAB II
LAPORAN KASUS
2.1 Identitas
Nama : Tn. HAM
Usia : 80 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Status : Sudah menikah
Alamat : Rempug
Suku : Sasak
No. RM : 37.47.93
Tgl MRS : 9 Mei 2017
Tgl pemeriksaan : 10 Mei 2017
2.2 Anamnesis
 Keluhan Utama
Seluruh kulit melepuh

 Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSUD Dr. Raden Soedjono Selong dengan keluhan seluruh kulit
melepuh sejak 8 hari yang lalu. Sehari sebelum kulit melepuh pasien dikatakan tergigit
ular hijau, ketika sedang memotong rumput, ular menggigit dibagian punggung tangan
kiri, dari keterangan keluarga, setelah digigit ular tangan pasien tidak membengkak,
hanya saja keesokan harinya pasien tiba-tiba menggigil dan dilarikan ke IGD RSUD Dr.
Raden Soedjono Selong. Di IGD diberikan obat suntikan. Siang harinya kondisi pasien
membaik dan di izinkan pulang, diberikan obat minum berupa asam mefenamat dan
captopril. Lebih kurang 6 jam setalah mengkonsumsi kedua obat tersebut kulit pasien
kemerahan, kemudian mulai melepuh, lalu pecah, terkelupas dan berubah warna menjadi
kehitaman, dimulai dari daerah bokong kemudian alat kelamin, bibir, dada, kaki dan
tangan. Semakin hari semakin melebar dan betambah banyak, pasien mengatakan kulit
berair, terasa terbakar dan kadang-kadang disertai rasa gatal, keluhan mata merah,
demam, sesak napas disangkal oleh pasien. Selama dirumah keluarga pasien mengatakan
kulit pasien tidak diobati dengan apapun hanya dikompres dengan air hangat. Keluarga
pasien mengatakan pasien masih dapat makan dan minum meskipun hanya sedikit-
sedikit, BAB dan BAK lancar, keluhan mual dan muntah disangkal.
 Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien dikatakan 5 tahun yang lalu pernah mengalami keluhan yang sama, namun tidak
seluas saat ini. Keluarga tidak tau obat yang dikonsumsi saat itu. Selain itu pasien juga
memiliki riwayat tekanan darah tinggi dan kencing manis. Riwayat asma disangkal,
riwayat mengkonsumsi jamu juga disangkal.
 Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan tidak ada keluarga yang menderita keluhan yang sama dengan pasien.
Riwayat keluaga dengan asma disangkal.
 Riwayat kebiasaan
Pasien rutin mandi dua kali sehari, sumber air PDAM, menggunakan sabun lux.
2.3 Pemeriksaan Fisik
 Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
Tanda Vital
 Tekanan darah : 130/90 mmHg
 Nadi : 84 x/menit
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 37,10C (Axilla)
Kepala : Bentuk normosephal
Mata :Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), injeksi konjungtiva
(-/-), cowong (-/-)
Hidung : Napas cuping hidung (-), massa cavum nasal (-)
Mulut : Bibir sianosis (-), mulut mencucu (-)
Leher : Pembesaran kelenjar getah bening (-), JVP meningkat (-)
Thoraks
Inspeksi : Simetris (+), retraksi dinding dada (-)
Palpasi : Krepitasi (-), vocal fremitus simetris (+)
Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru (+)
Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS V Mid-Clavicula sinistra,
Perkusi :
 Batas kanan : ICS V linea parasternalis dextra
 Batas kiri : ICS V linea midclavicularis sinistra
 Batas atas : ICS II linea parasternalis sinistra
 Pinggang jantung : ICS III linea parasternalis sinistra
Auskultasi : S1,S2 tunggal reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Distensi (-), massa (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi : Timpani (+)
Palpasi : Nyeri tekan (+), massa (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba
ballotemen ginjal (-), turgor kulit normal
Ekstremitas
Atas : Akral hangat (+), edem (-), CRT <2 detik
Bawah : Akral hangat (+), edem (-), CRT <2 detik
 Status Dermatologis
 Lokasi : Regio gluteus, regio femoralis, regio skrotum, regio penis, regio
cruris, regio pedis, regio antebrachii.
 Effloresensi : Erosi multipel berukuran numular hingga plakat dengan batas
yang jelas dan ditutupi atap bula, pus (-)
 Lokasi : Regio labia oris dan aurikula
 Effloresensi : Eskoriasi multipel berbatas jelas dengan krusta tebal kehitaman
Gambar regio gluteus, femoralis, skrotum, penis, cruris, pedis, antebrachii

Gambar regio auricula dan labia oris

2.4 Assesment
Fixed Drug Eruption ec susp. Asam Mefenamat dan Captopril
2.5 Differential Diagnosis
1. Stevens Johnson Syndrom (SJS)
2. Nekrolisis Epidermal Toksik (NET)
2.6 Planning Diagnostik
 Laboratorium
 Darah Lengkap
HB 11.0 g/dl WBC 4.43 x 103 RBC 3.85 x 106 HCT 31.6% MCV
82.1 Fl MCH 28.6 pg MCHC 34.8 g/dl PLT 323 x 103
 Fungsi Ginjal
Ureum 93.5 mg/dL Kreatinin 1.84 mg/dL
 Fungsi Liver
SGOT 18.9 U/L SGPT 14.6 U/L
 Elektrolit
Natrium 134 mmol/L Kalium 4.9 mmol/L Klorida 106 mmol/L
 Pengecatan gram (-)
 Biopsi kulit (patologi anatomi)
2.7 Planning Terapi
a. Medikamentosa
IVFD NaCL 1000 cc/24 Jam
Injeksi Methylprednisolon 60 mg (pagi) dan 30 mg (siang)
Kompres lesi basah dengan NaCL 0.9% 4x sehari selama 10 menit
Mometasone cream 2x1
Konsul Interna
b. Non-medikamentosa
Jika demam kompres hangat pada ketiak
c. KIE
 Hentikan penggunaan obat-obatan sebelumnya terutama asam mefenamat dan
captopril
 Banyak minum
 Gunakan pakaian yang longgar
 Jaga kebersihan badan, pakaian dan tempat tidur
2.8 Prognosis
Dubia ad bonam
2.9 Progress Note
Waktu Subjective Objective Assessmant Plan

11 Mei Demam (-), Vital sign : Fixed Drug  IVFD D5:NS 2:1
2017 lesi kering  TD : 130/90 mmHg Eruption ec  Injeksi
susp. Asam Methylprednisolon 60
(+), nyeri  N : 89 x/ menit
Mefenamat mg (pagi) 30 mg
pada lesi  RR : 20 x/ menit
dan Captopril (siang)
berkurang,  T : 36,9 0C
 Kompres lesi basah
lesi baru (-), Status dermatologis
dengan NaCL 0.9% 4x
nanah (-) Lokasi :
sehari selama 10
Regio gluteus, regio femoralis, regio
menit
skrotum, regio penis, regio pedis
 Mometasone cream
Effloresensi : 2x1
Erosi multipel berukuran numular
hingga plakat dengan batas yang
jelas dan sebagian masih ditutupi atap
bula, pus (-)
Lokasi:
Regio labia oris dan aurikula
Effloresensi:
Eskoriasi multipel berbatas jelas
dengan krusta tebal kehitaman

Regio gluteus, regio femoralis, regio
skrotum, regio penis, regio pedis,
regio antebrachii
Regio labia oris dan aurikula

12 Mei Demam (-), Vital sign : Fixed Drug  IVFD D5:NS 2:1
2017 lesi kering  TD : 140/90 mmHg Eruption ec  Injeksi
susp. Asam
(+), nyeri  N : 87 x/ menit Methylprednisolon 60
Mefenamat mg (pagi)
pada lesi  RR : 20 x/ menit,
dan Captopril  Kompres lesi basah
berkurang,  T : 37,0 0C
dengan NaCL 0.9% 4x
lesi baru (-), Status dermatologis
sehari selama 10
nanah (+) Lokasi :
menit
Regio gluteus, regio femoralis, regio
 Mometasone cream
skrotum, regio penis, regio pedis
2x1
Effloresensi :
Erosi multipel berukuran numular
hingga plakat dengan batas yang
jelas dan sebagian masih ditutupi atap
bula, pus (+)
Lokasi:
Regio labia oris dan aurikula
Effloresensi:
Eskoriasi multipel berbatas jelas
dengan krusta tebal kehitaman

Regio gluteus, regio femoralis, regio
skrotum, regio penis, regio pedis,
regio antebrachii

Regio labia oris dan aurikula
13 Mei Demam (-), Vital sign : Fixed Drug  IVFD D5:NS 2:1
2017 lesi kering  TD : 130/90 mmHg Eruption ec  Injeksi
susp. Asam
(+), nyeri  N : 86 x/ menit Methylprednisolon 60
Mefenamat mg (pagi)
pada lesi  RR : 18 x/ menit
dan Captopril  Kompres lesi basah
berkurang,  T : 36,7 0C
dengan NaCL 0.9% 4x
lesi baru (-), Status dermatologis
sehari selama 10
nanah (-) Lokasi :
menit
Regio gluteus, regio femoralis, regio
 Mometasone cream
skrotum, regio penis, regio pedis
2x1
Effloresensi :
Erosi multipel berukuran numular BPL
hingga plakat dengan batas yang
 Methylprednisolon
jelas dan sebagian masih ditutupi atap
3x8 mg
bula, pus (-)
 Mometasone cream
Lokasi:
2x1
Regio labia oris dan aurikula
Effloresensi:
Eskoriasi multipel berbatas jelas
dengan krusta kehitaman

Regio gluteus, regio femoralis, regio
skrotum, regio penis, regio pedis
Regio labia oris dan aurikula
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Fixed drug eruption (FDE) adalah reaksi alergi pada kulit atau daerah mukokutan yang
terjadi akibat pemberian atau pemakaian jenis obat-obatan tertentu yang biasanya
dikarakteristikan dengan timbulnya lesi berulang pada tempat yang sama dan tiap pemakaian
obat akan menambah jumlah dari lokasi lesi.
Yang dimaksud dengan obat adalah zat yang dipakai untuk menegakkan diagnosis,
profilaksis, dan pengobatan.
3.2 Sinonim
Eksantema fikstum, fixed exanthema.
3.3 Epidemiologi
Beberapa penelitian tentang morfologi dan agen pencetus pada pasien-pasien dengan erupsi
obat dirumah sakit atau bagian kulit dan kelamin pada tahun 1986-1990 dilaporkan pada 135
kasus didapatkan perubahan morfologik akibat erupsi obat yang paling sering adalah
eksantematous (39%), urtikaria/angioedema (27%), FDE (16%), eritema multiform (5,4%)
dan reaksi kulit lainnya (18%). Sejak tahun 1956 proporsi dari reaksi erupsi obat berupa
urtikaria menurun dan terjadi peningkatan angka kejadian FDE.
3.4 Etiopatogenesis
Obat-obatan yang paling sering menyebabkan FDE adalah kontrasepsi oral, barbiturat,
fenolftalein, fenasetin, salisilat, naproksen, nistatin, minosiklin, sulfonamide, tetrasiklin,
metronidazol, doriden, sulindac, tolmetin, maolate, bleomysin, busulfan, zidovudine,
klorpromazin, hidantoin, cyclofosfamid, klofasimin, antimalaria, prokarbasin, doksorubisin.
Reaksi kulit terhadap obat dapat terjadi melalui mekanisme imunologik atau non
imunologik. Yang dimaksud dengan erupsi obat adalah alergi terhadap obat yang terjadi
melalui mekanisme imunologik. Hal ini terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang
sudah mempunyai hipersesitivitas terhadap obat tersebut.disebabkan oleh berat molekulnya
yang rendah, biasanya obat itu berperan pada mulanya sebagai antigen yang tidak lengkap
atau hapten. Obat atau metaboliknya yang berupa hapten, harus berkombinasi terlebih
dahulu dengan protein, misalnya jaringan, serum atau protein dari membran sel untuk
membentuk kompleks antigen yaitu kompleks hapten protein. Pengecualiannya ialah obat-
obat dengan berat molekul yang tinggi yang dapat berfungsi langsung sebagai antigen yang
lengkap.
Ada beberapa faktor yang berperan dalam menentukan sejauh mana kapasitas dari
sebuah obat dalam menimbulkan respon imun:
1. Karakteristik molekular dan sensitisasi
Sebuah molekul yang imunogenik biasanya mempunyai berat molekul lebih dari 1000
dalton. Kebanyakan molekul obat tidak sebesar itu dan untuk memberikan respon imun
harus berikatan dengan makromolekul jaringan yang berperan sebagai hapten. Hapten
adalah sebuah substansi yang tidak imunogenik tetapi menjadi imunogenik ketika
berikatan dengan karier makromolekul. Ikatan yang terjadi haruslah sangat kuat dan
biasanya bersifat kovalen.
Untuk sebuah ikatan obat dan makromolekul jaringan kompleks menjadi
imunogenik harus diproses oleh antigen dan sel yang bersangkutan (seperti sel langerhans
dari kulit). Bersama-sama dengan antigen histokompatibiliti ke sebuah limfosit T sebagai
hasil dari presentasi terjadi aktivasi dari populasi sel T yang berbeda dan setiap populasi
sel T dapat menimbulkan reaksi klinik yang berbeda pada aktivasi TH1 tipe sel T
menyebabkan produksi dari interferon γ dan interleukin 2 yang akan diikuti dengan
terjadinya reaksi obat morbiliform pada kontak dermatitis atau mungkin nekrolisis
epidermal toksis. Aktivasi tipe sel TH2 menyebabkan terjadinya produksi interleukin 4,
5, atau 13 yang akan menyebabkan terjadinya produksi dari antibodi IgE dan reaksi klinik
seperti urtikaria atau anafilaktik. Mekanisme yang menentukan tipe terakhir dari aktivasi
sel T belum diketahui.
2. Variasi metabolik individu
Variasi metabolik individu merupakan jalur yang dilewati oleh obat dimana dapat
memberi reaksi intermediet atau diekskresi. Reaktivasi intermediet berlaku sebagai
hapten yang dapat melakukan ikatan kovalen pada makromolekul sel yang dapat
menyebabkan kematian sel atau merangsang respon imun sekunder.
3. Kemampuan imunogenetik
Respon imun dari antigen-antigen yang bervariasi biasanya dikontrol secara genetik dan
berbeda-beda pada tiap individu. Beberapa observasi klinik mengatakan bahwa kontrol
genetik mempunyai suatu peranan yang besar dalam reaktivasi obat. Mereka percaya
bahwa reaksi anafilaktik lebih sering terjadi pada individu atopik dibanding dengan non-
atopik. Wanita memiliki angka kejadian 35% lebih tinggi daripada pria. Sebagai
tambahan pasien dengan SLE dapat meningkatkan prevalensi dari reaksi alergi obat,
tetapi belum jelas apakah hal ini berhubungan dengan abnormalitas imun atau frekuensi
pemaparan obat-obatan. Demonstrasi yang paling jelas tentang pentingnya sistem imun
terhadap resiko obat adalah pada kasus infeksi HIV. Reaksi obat pada pasien HIV 10 x
lebih tinggi daripada mereka yang tidak terinfeksi dan resiko ini meningkat seiring
dengan perjalanan penyakitnya. Demikian pula untuk pasien yang melakukan transplantai
sumsum tulang, dimana terjadi peningkatan resiko reaksi obat.
4. Usia
Usia dapat menentukan kemampuan respon imun dari pemberian suatu obat, dimana
dikatakan alergi lebih sering ditemukan pada anak-anak dan pada manula, mungkin
karena ketidakmatangan atau involusi dari sistem imun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya FDE:
1. Paparan obat
Pemberian obat dapat mengakibatkan terjadinya reaksi komplit antigen antibodi dengan
terbentuknya hapten. Yang penting juga adalah pola morfologik yang spesifik yang dapat
meningkat atau menurun pada pemberian obat yang menyebabkan terjadinya reaksi kulit
tersebut. Sebagai contoh FDE lebih sering ditemukan pada pemberian barbiturat daripada
penisilin, walaupun penisilin memiliki kemungkinan menimbulkan reaksi kulit karena
obat yang lebih tinggi.
2. Waktu kejadian
Kebanyakan reaksi obat pada kulit terjadi dalam 1-2 minggu dari terapi pertama.
Beberapa tipe reaksi terutama sindrom hipersensitivitas dapat memberikan onset yang
tertunda bahkan sampai lebih dari 2 bulan setelah pemberian obat. Untuk beberapa reaksi
yang lebih serius, resiko yang berhubungan dengan pemberian obat lebih dari 2 bulan
tampak lebih rendah.
3. Uji eliminasi pemakaian obat
Kebanyakan reaksi kulit karena obat akan berkurang dengan penghentian pemakaian obat
tersebut. Sebuah reaksi kulit tidak mungkin berhubungan dengan obat jika reksi terus
berlanjut setelah dilakukan penghentian pemakaian obat tersebut.
4. Pemaparan obat ulangan
Pemberian obat ulangan memberikan informasi pasti apakah obat tersebut menyebabkan
terjadinya reaksi kulit walaupun pemberian yang sering tidak dimungkinkan karena tidak
menjamin keselamatan dari pasien kecuali terjadi perubahan pola status imunologik
pasien.
Secara umum terdapat 4 tipe reaksi imunologi yang dikemukakan oleh Coombs &
Gell, suatu reaksi alergi terhadap obat dapat mengikuti salah satu dari ke empat jalur berikut
ini:
1. Tipe I (Reaksi Anafilaktik)
Reaksi obat yang diperantarai IgE biasanya terjadi karena penisilin atau golongannya.
Reaksi dapat terjadi dalam beberapa menit setelah pemakaian obat. Gejala biasanya
bervariasi seperti pruritus, urtikaria, spasme bronkus, dan edema laring bahkan dapat
menyebabkan terjadinya syok anafilaktik dengan hipotensi dan kematian. Sel mast dan
basofil yang tersentisisasi akan melepaskan mediator-mediator kimia (histamin) atau
lemak (leukotriens/prostaglandin) yang akan menimbulkan gejala klinik yang berbeda-
beda tergantung dari interaksi organ target (kulit, sistim respirasi, GIT atau sistim
kardiovaskuler) dengan mediator kimia tersebut. Penelitian terbaru mengatakan reaksi
obat perantaraan IgE lebih diakibatkan peran basofil daripada sel mast. Pelepasannya
dipicu ketika terjadi konjugasi protein obat polifalen yang terbentuk secara in vivo dan
behubungan dengan molekul IgE yang mensensitisasi sel-sel.
2. Tipe II (Reaksi Sitotoksik)
Reaksi tipe ini dapat disebabkan oleh obat, dan memerlukan penggabungan antara IgE
dan IgM dengan antigen yang melekat pada sel. Jika sistem komplemen teraktivasi akan
dipacu sejumlah reaksi yang berakhir dengan lisis.
3. Tipe III (Reaksi Kompleks Imun)
Antibodi mengadakan reaksi dengan antigen membentuk kompleks antigen antibodi yang
kemudian mengendap pada salah satu tempat dalam jaringan tubuh dan mengakibatkan
reaksi radang. Dengan adanya aktivasi sistim komplemen terjadi pelepasan anafilaktosin
yang merangsang pelepasan berbagai mediator oleh mastosit. Dengan adanya aktivasi
komplemen akan terjadi kerusakan jaringan.
4. Tipe IV (Reaksi Alergi Selular Tipe Lambat)
Reaksi ini melibatkan limfosit. Limfosit T yang tersentisisasi mengadakan reaksi dengan
antigen. Reaksi ini di sebut reaksi tipe lambat karena baru timbul 12 - 48 jam setelah
pajanan dengan antigen.
Fixed Drug Eruption termasuk dalam reaksi tipe III dengan adanya reaksi kompleks antigen
antibodi.
3.5 Gambaran Klinis
FDE dikarakteristik dengan satu atau beberapa lesi eritematous. Lesi ini seringkali timbul
pada wajah dan daerah genital dan menyebabkan terjadinya luka seperti luka bakar
walaupun inflamasi akut sembuh secara perlahan-lahan tapi hiperpegmentasi lokal akan
menetap dengan pemaparan obat yang berulang, lesi akan muncul kembali pada tempat yang
sama.
Lesi baru berbentuk bulat atau oval dan berbentuk plak dengan gambaran
eritematous dan bula pada kulit akan berubah berwarna ungu atau coklat. Lesi biasanya
berkembang dalam waktu 30 menit-8 jam setelah pemberian obat, kadang-kadang lesi pada
awalnya soliter tapi pada pemberian obat yang berulang lesi baru dapat muncul lagi dan lesi
lama yang sudah ada dapat bertambah besar.
Lesi lebih sering muncul pada anggota gerak daripada badan. tangan, kaki, genitalia
(glans penis) dan daerah perianal adalah tempat favorit munculnya lesi. Lesi juga dapat
muncul di sekeliling mulut dan mata. Daerah genital dapat terjadi berhubungan dengan lesi
pada kulit atau terjadi sendiri. Apabila terjadi penyembuhan timbul pengelupasan yang
diikuti dengan perubahan warna yang menetap pada daerah lesi dimana warna berubah
menjadi kecoklatan. Hal ini dapat menghilang seiring waktu tapi sering menetap diantara
pemaparan obat. Pigmentasi terjadi lebih lama pada orang dengan kulit coklat. Pigmentasi
dari FDE menghilang apabila penderita tidak diberikan obat penyebab. FDE non pigmentasi
dilaporkan pada pemberian pseudoefedrin dan piroksikan bisa terdapat gejala-gejala lokal
atau umum yang menemani perjalanan penyakit fixed drug eruption yang berupa gejala
ringan atau tidak ada. Beberapa gambaran karakteristik ke arah dugaan adanya FDE:
1. Reaksi hanya terjadi setelah pajanan ulang dengan obat. Pada penggunaan pertama kali,
waktu reaksi berkisar antara 8-9 hari.
2. Manifestasi erupsi obat tidak bergantung pada kegunaan farmakologik dan kimiawi obat
tersebut.
3. Jumlah obat yang sangat sedikit dapat memacu reaksi yang berat meskipun obat tersebut
telah dipakai dalam jangka waktu lama.
4. Obat yang sama dapat menyebabkan reaksi yang berbeda pada orang yang sama pada
waktu yang berlainan, sebaliknya berbagai obat dapat menyebabkan reaksi atau
manifestasi klinik yang sama.
3.6 Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk membantu memastikan diagnosa FDE dengan
pemeriksaan histopatologi. Pada pemeriksaan histopatologi didapatkan adanya degenarasi
hidrotik pada lapisan sel basal yang akan menuju pada inkontinens pigmentari, dimana
dikarakteristik dengan adanya melanin dalam jumlah yang banyak diantara makrofag yang
terdapat pada lapisan atas kulit (Tarnowsky). Sebagai tambahan terdapat penyebaran dari
diskeratotik keratinosit dengan sitoplasma yang eosinifilik dan inti pignotik sering terlihat
pada epidermis (Furuya, dkk). Pada pemeriksaan dengan mengunakan mikroskop elektron
diskeratotik keratinosit terisi dengan tonofilamen tipis yang homogen dan menunjukkan
sedikit dari sisa-sisa organel sel dan inti.
3.7 Diagnosis
Diagnosis FDE berdasarkan:
 Anamnesis
Adanya hubungan antara timbulnya erupsi dengan penggunaan obat dan diketahui
mengenai:
 Obat-obatan yang didapat
 Kelainan timbul secara akut atau dapat juga beberapa hari sesudah masuknya obat.
 Rasa gatal yang dapat pula disertai demam yang biasanya subfebril
 Kelainan Klinis
Kelainan ini umumnya berupa eritema dan vesikel berbentuk bulat atau lonjong dan
biasanya numular, kemudian meninggalkan bercak hiperpigmentasi yang lama baru
hilang bahkan sering menetap.
Adanya kelainan klinis berupa lesi yang selalu timbul pada tempat yang sama
akibat pemaparan obat. Penghentian obat yang diikuti penurunan gejala klinis merupakan
petunjuk kemungkinan erupsi disebabkan oleh obat tersebut.
Tempat predileksinya disekitar mulut, di daerah bibir dan daerah penis pada laki-
laki sehingga sering disangka penyakit kelamin karena berupa erosi yang kadang-kadang
cukup luas disertai eritema dan rasa panas. Obat penyebab yang sering adalah
sulfonamide, barbiturate, trimetoprim dan analgesik.
 Pemeriksaan Khusus
Saat ini belum diketahui cara yang cukup sensitif dan dapat dipercaya untuk mendeteksi
obat penyebab FDE.
3.8 Penatalaksanaan
Pengobatan FDE belum memuaskan, antara lain karena kesukaran dalam memastikan
penyebabnya, apakah oleh obatnya sendiri atau metabolitnya.
Pengobatan dibagi dalam:
1. Pengobatan kausal
Dilaksanakan dengan menghindari obat tersangka (apabila obat tersangka telah dapat
dipastikan). Dianjurkan pula untuk menghindari obat yang mempunyai struktur kimia
mirip dengan obat tersangka (satu golongan).
2. Pengobatan sistemik
a. Kortikosteroid
Pemberian kortikosteroid sangat penting pada alergi obat sistemik. Dosis standar untuk
fixed drug eruption pada orang dewasa ialah 3 x 10 mg prednisone sehari.
b. Antihistamin
Antihistamin yang bersifat sedatif dapat juga diberikan, jika terdapat rasa gatal.
Kecuali pada urtikaria, efeknya kurang bila dibandingkan dengan kortikosteroid
3. Pengobatan topical
Pengobatan topikal bergantung pada keadaan kelainan kulit, apakah kering atau basah.
Pada FDE, jika kelainan membasah dapat diberi kompres dan jika kering dapat diberi
krim kortikosteroid, misalnya krim hidrokortison 1% atau 2 ½ %.
Identifikasi dari obat penyebab FDE dilakukan apabila hanya satu obat yang
digunakan biasanya kita mencurigai beberapa obat sebagai petunjuk yang kita gunakan
adalah mengetahui kronologis pemberian obat-obatan tersebut. Hanya obat-obatan yang
baru digunakan (8-21 hari) yang dimasukkan dalam daftar yang dicurigai.
Identifikasi yang jelas dari obat penyebab dan catatan tertulis tentang obat-obat
penyebab yang diberikan pada pasien oleh dokter merupakan langkah pencegahan yang
sangat penting. Pemberian obat spesifik (kortikosteroid, obat-obatan imunosupresif/terapi
anti sitokin, immunoglobulin) seharusnya tidak diberikan sesuai standar pemberian obat
sebelum terdapat bukti efisiensi penggunaannya terhadap pasien, kadang-kadang
penggunaan obat-obatan tersebut dapat berbahaya bagi pasien.
3.9 Prognosis
Pada dasarnya FDE akan menyembuh bila penyebabnya dapat diketahui dan segera
disingkirkan. Akan tetapi beberapa bentuk, misalnya eritroderma dan kelainan-kelainan
berupa sindrom Lyell dan sindrom Steven Johnson, prognosis dapat menjadi buruk
bergantung pada luas kulit yang terkena.
BAB IV
ANALISIS KASUS
Diagnosa FDE pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinik
tanpa pemeriksaan patologi anatomi. Dari anamnesis diketahui keluhan utama seluruh kulit
melepuh. Sebelumnya 5 tahun yang lalu penderita pernah mengalami sakit seperti ini dengan
kulit melepuh yang hanya muncul pada bokong namun tidak seluas saat ini.. Seperti yang kita
ketahui fixed drug eruption disebabkan oleh pemakaian obat-obatan dengan lesi eritematous,
vesikel atau bula berbentuk oval atau bulat dan meninggalkan bercak hiperpigmentasi yang
muncul pada tempat yang sama dimana pada paparan dengan obat berikutnya akan menyebabkan
penambahan jumlah lesi.
Pada kasus ini, berdasarkan pemeriksaan fisik erosi dan eskoriasi didapatkan pada daerah
perianal, paha, skrotum, penis, tangan, kaki,bibir dan telinga. Sesuai dengan kepustakaan bahwa
tempat predileksi FDE di sekitar mulut, terutama di daerah bibir, anggota gerak, tangan, kaki,
genitalia (glans penis) dan daerah perianal adalah tempat favorit munculnya lesi. Lesi yang
timbul di daerah penis pada laki-laki, sering disangka penyakit kelamin. Tetapi dengan
anamnesis yang teliti, adanya residif ditempat yang sama dan gambaran klinisnya, diagnosis
FDE dapat ditegakkan.
Yang menjadi faktor penyebab timbulnya FDE pada kasus ini adalah pemaparan pertama
dengan obat penyebab, dosis obat dan pemberian obat ulangan. Dimana pada pemaparan pertama
dapat menyebabkan terjadinya reaksi komplit antigen-antibodi dan beberapa reaksi kulit
tergantung dari dosis dan akumulasi toksik obat. Pemakaian obat penyebab yang berulang
mengakibatkan bertambahnya jumlah lesi. Pada kasus ini berdasarkan anamnesa diduga obat
penyebab terjadinya FDE adalah Asam mefenamat dan Captopril.
Pengobatan pada FDE belum memuaskan karena kesukaran dalam memastikan
penyebabnya, apakah oleh obatnya sendiri atau metaboliknya. Pada kasus ini diberikan
pengobatan kausal yaitu dengan menghindari obat-obatan asam mefenamat dan captopril yang
merupakan obat-obatan yang dicurigai,pengobatan sistemik dengan metylprednisolon sebagai
anti inflamasi sistemik dan penekan sistem imun. Obat lainnya yang diberikan adalah
kortikosteroid yang diberikan secara topikal, yang berguna sebagai anti inflamasi.
Prognosis pada kasus ini adalah dubia ad bonam karena FDE akan menyembuh bila obat
penyebabnya dapat diketahui dan dapat disingkirkan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Fixed drug eruption (FDE) adalah reaksi alergi dengan manifestasi berupa lesi kulit yang
muncul ditempat yang sama dan dapat bertambah akibat pemberian atau pemakaian jenis
obat-obatan tertentu. Beberapa penelitian tentang morfologi dan agen pencetus pada pasien-
pasien dengan erupsi obat dirumah sakit atau bagian kulit kelamin pada tahun 1986-1990
dilaporkan pada 135 kasus terdapat kasus FDE sebanyak 16%.
Gambaran klinik dari FDE berupa timbulnya satu atau beberapa lesi kulit yang
eritematous berbentuk bulat atau oval. Pada mulanya terbentuk efloresensi berupa makula
berbatas tegas berwarna ungu atau coklat. Diagnosis FDE ditegakkan berdasarkan anamnesa
adanya riwayat penggunaan obat sebelum timbulnya lesi dan gambaran klinik yang
ditemukan. Namun jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan jaringan kulit secara patologi anatomi dimana akan didapatkan gambaran
mikroskopis berupa terdapatnya makrofag-makrofag dan adanya penumpukan pigmen
melanin.
Penatalaksanaan yang dipakai adalah dengan pengobatan kausal berupa mengetahui
dan menghindari terpaparnya kembali dengan obat-obatan penyebab dan pengobatan
simptomatis berupa pemberian obat-obatan secara sistemis seperti kortikosteroid dan
antihistamin maupun secara topikal.
FDE bukan merupakan kasus yang mengancam jiwa dimana akan menyembuh bila
obat penyebab dapat diketahui dan disingkirkan. Namun demikian dilihat dari sudut
pandang kosmetik sangat mengganggu dan menimbulkan perasaan tidak nyaman. Jika tidak
diterapi secara kausal maka dapat bertambah parah dengan adanya penambahan jumlah lesi.
DAFTAR PUSTAKA

1. Hamzah M. Erupsi Obat Alergi. Dalam: Djuanda A, Hamzah M, Boediardja SA,eds. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi V. Balai Penerbit FKUI. Jakarta. 2008:154-8
2. Prof. DR. Adhi Djuanda, Dr. Mochtar Hamzah, Dr. Siti Aisah. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, edisi ketiga. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2010:154-7
3. Seobaryo R, Suherman S. Erupsi Obat Alergik. Dalam: Sularsito Sri,dkk. Erupsi Obat
Alergik. Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. FKUI.2010:3-7,63-4
4. DermNet Editorial Board. Fixed Drug Eruption. Available from URL:
www.dermnetnz.org/reaction/fixed-drug-eruption.html. Accessed: 11 Mei 2017