You are on page 1of 11

REFLEKSI KASUS Agustus, 2016

DERMATITIS ATOPIK INFANTIL

Disusun Oleh:

Maya Riska
N 111 15 002

PEMBIMBING KLINIK
Dr. Diany Nurdin, Sp. KK, M. Kes

KEPANITERAAN KLINIK
BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2016

Bintik-bintik kecil mulai muncul setelah pasien makan snack. Tidak ada riwayat mengonsumsi obat tertentu sebelum timbul keluhan. STATUS PASIEN BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN RSUD UNDATA PALU I. kemudian setelah sering digaruk bintik-bintik kecil terkelupas dan mengeluarkan cairan. 1 . Keluhan binitk kemerahan pada kulit yang disertai gatal tidak disertai dengan keluhan lain seperti demam. Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Dalam 2 minggu ini pasien belum diberi obat untuk keluhannya tersebut. IDENTITAS PASIEN Nama : An. Pada awalnya bintik-bintik kecil muncul di bagian wajah. Habibu Rahman Umur : 9 bulan Jenis kelamin : Laki-laki Alamat : Toli-toli Pekerjaan :- Pendidikan terakhir : - Agama : Islam Status pernikahan :- Tanggal pemeriksaan: 01/07/2016 Ruangan : Poliklinik Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Undata II. Setelah itu bintik-bintik kecil juga mulai muncul di tangan dan kaki pasien. ANAMNESIS Keluhan utama : Binitk kemerahan pada kulit yang disertai gatal Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang dengan keluhan Binitk kemerahan pada kulit yang disertai gatal.

PEMERIKSAAN FISIK a. Ekstremitas atas : Terdapat papul eritematosa pada lengan kiri dan kanan. 2. Status Generalisata Keadaan umum : sakit sedang Kesadaran : compos mentis Status gizi :gizi baik b. Kepala : Ditemukan papul eritematosa pada kedua pipi. 2 . Perut : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK) 6. Riwayat penyakit keluarga : Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama. Bokong : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK) 8. Tampak vesikel di bagian punggung tangan serta tampak krusta pada ibu jari dengan dasar eritema. Genitalia : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK) 7. Dada : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK) 4. Vital Sign Tekanan darah : tidak dilakukan pengukuran Nadi : 100 kali/menit Respirasi : 22 kali/menit Suhu : tidak dilakukan pengukuran c. Leher : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK) 3. Punggung : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK) 5. namun ada keluarga yang memiliki riwayat alergi makanan. Riwayat penyakit dahulu : Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya sejak usia 2 bulan dan kadang membaik dalam 1-2 bulan. III. Status Dermatologis Lokalisasi: 1.

IV. Tampak vesikel di bagian punggung tangan serta tampak krusta pada ibu jari dengan dasar eritema. dan antebrachii. Terdapat papul eritematosa di region brachium. fossa cubiti. 3 . 9. Tampak papul eritema pada kedua pipi Gambar 2. GAMBAR Gambar 1. Ekstremitas bawah : Ditemukan patch eritematosa pada tungkai bawah kiri dan kanan dengan skuama dan krusta.

Tampak patch eritematosa pada tungkai bawah kiri dan kanan dengan skuama dan krusta. Ekstremitas bawah ditemukan patch eritematosa pada tungkai bawah kiri dan kanan dengan skuama dan krusta. ekstremitas atas terdapat Terdapat papul eritematosa pada lengan kiri dan kanan. DIAGNOSA KERJA Dermatitis atopik infantile VII. V. Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama. Pada pemeriksaan fisik kepala terdapat papul eritematosa pada bagian pipi kanan dan kiri. namun ada keluarga yang memiliki riwayat alergi makanan. DIAGNOSA BANDING  Dermatitis seboroik  Psoriasis 4 . Bintik-bintik kecil mulai muncul setelah pasien makan snack. RESUME Pasien anak usia 9 bulan datang dengan keluhan gatal pada kulit yang berbintik-bintik. VI. Tampak vesikel di bagian punggung tangan serta tampak krusta pada ibu jari dengan dasar eritema. Gambar 3. Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu.

VIII. ANJURAN PEMERIKSAAN  Darah rutin  IgE total  IgE radioallergosorbent (RAST)  Skin prick test IX. 125mg/5ml 3x1cth X. PROGNOSIS a. Non Medikamentosa  Menghindari makanan yang diduga dapat mencetuskan alergi seperti bahan penyedap (vitsin) dan juga snack bagi anak dan ibunya. Qua ad cosmetikam : ad bonam 5 . PENATALAKSANAAN a. bahan wol atau yang kasar karena dapat mengiritasi kulit b. Qua ad sanationam : ad bonam d. Medikamentosa  Topikal Pelembab  gliserin 2 X Sehari setelah mandi Kortikosteroid topical Flumetason krim  Sistemik : Antihistamin  Cetirizin syr. Qua ad vitam : ad bonam b. 5mg/5ml 2x2/5cth Antibiotic  Amoxicillin syr.  Hindari menggaruk kulit terutama kulit yang terdapat lesi  Kuku sebaiknya dipotong pendek untuk menghindari kerusakan kulit  Hindari pakaian yang terlalu tebal. Qua ad fungtionam : ad bonam c.

Odds untuk terjadinya dermatitis atopic yaitu 2-3 kali lipat lebih tinggi pada anak dengan 1 orang tua yang atopic. disertai rasa gatal. Gambaran lesi eksematous dapat timbul secara akut (plak eritematosa. prurigo papules. PEMBAHASAN Pasien datang dengan keluhan gatal pada kulit yang berbintik-bintik. dan mengenai bagian tubuh tertentu terutama di wajah pada bayi (fase infantile) dan bagian fleksural ekstremitas (pada fase anak). papulovesikel). stress. kadang dapat menetap. Dermatitis atopic (DA) adalah peradangan kulit berupa dermatitis yang kronis residif. sekitar 50% menghilang saat remaja. Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama. 3 Gejala utama dermatitis atopic adalah gatal/pruritus yang muncul sepanjang hari dan memberat ketika malam hari yang dapat menyebabkan insomnia dan penurunan kualitas hidup. atau bahkan baru mulai muncul pada saat dewasa. membentuk sindrom diathesis atopic. Bintik-bintik kecil mulai muncul setelah pasien makan snack. Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. subakut (penebalan dan plak ekskoriasi). Ekstremitas bawah ditemukan patch eritematosa pada tungkai bawah kiri dan kanan dengan skuama dan krusta. dan akan meningkat 3-5 kali lipat pada anak yang kedua orangtuanya atopic. dan lain- lain. erosi atau ekskoriasi dan selanjutnya akan terjadi likenifikasi bila proses menjadi kronis. Tampak vesikel di bagian punggung tangan serta tampak krusta pada ibu jari dengan dasar eritema.1 Faktor penyebab dermatitis atopic merupakan kombinasi faktor genetic (turunan) dan lingkungan seperti kerusakan fungsi kulit. infeksi. Gejala klinis perjalanan penyakit dermatitis atopic sangat bervariasi. dan kronik 6 . 2. Sekitar 70% pasien dermatitis atopic memiliki riwayat keluarga penyakit atopic. Rasa gatal yang hebat menyebabkan penderita menggaruk kulitnya sehingga memberikan tanda bekas garukan (scratch mark) yang akan diikuti oleh kelainan-kelainan sekunder berupa papula. namun ada keluarga yang memiliki riwayat alergi makanan. Pada pemeriksaan fisik kepala terdapat papul eritematosa pada bagian pipi kanan dan kiri. Dermatitis atopic kerap terjadi pada bayi dan anak. ekstremitas atas terdapat Terdapat papul eritematosa pada lengan kiri dan kanan.

erosi. Lesi berupa plak eritematosa. dan menjadi krusta akibat garukan pada pipi dan dahi. tangan. fleksura. papulo-vesikel yang halus. sulit tidur. tubuh bagian atas. sekitar mulut. penyebaran simetris di tempat predileksi (sesuai usia). untuk memastikan 7 . Dermatitis Atopik pada Dewasa (4-16 tahun). dan sering menangis. riwayat atopi pada pasien atau keluarganya. Pada orang dewasa. Lesi kulit yang sangat basah (weeping) dan berkrusta sering didapatkan pada kelainan yang lanjut. Criteria tersebut disebut sebagai kritria mayot Hanifin-Rajka. Lesi kering. Umumnya muncul dermatitis yang simetris pada area fleksura. Lesi eksudatif. bibir dan tangan. Gambaran klinis dermatitis atopic dibagi menjadi 4 tipe berdasarkan lokaliasasinya terhadap usia. dan kaki.(likenifikasi). Rasa gatal yang timbul menyebabkan anak menjadi gelisah. 4. yaitu: 4 1. Dapat merupakan kelanjutan bentuk infantile atau timbul sendiri. Dermatitis atopi sering muncul pada tahun pertama kehidupan dan dimulai sekitar usia 2 bulan. Terkadang dapat berkembang menjadi eritroderma. dapat di wajah. lesi dermatitis kurang karakteristik. Pada usia 4-16 tahun dapat dijumpai dermatitis pada tubuh bagian atas dan wajah. Jenis ini disebut juga milk scale karena lesinya menyerupai bekas susu. papul datar. kelopak mata. plak likenifikasi dengan sedikit skuama. 3. krusta kecil. dan likenifikasi. dan krusta dapat menyebabkan infeksi sekunder dan meluas generalisata dan menjadi lesi kronis dan residif. Lesi eksematous dapat menjadi erosif bila terkena garukan dan terjadi eksudasi yang berakhir dengan lesi berkrustae. Dermatitis Atopik pada Anak (4-16 tahun). Lesi dapat ditemukan di bagian fleksura dan ekstensor ekstremitas. Dermatitis Atopik Infantil (0-1 tahun). 2. Diagnosis dermatitis atopic dapat ditegakkan secara klinis dengan gejala utama gatal. Pada umumnya lesi berupa papul eritematosa simetris dengan ekskoriasi. Stres dapat menjadi faktor pencetus karena saat stres nilai ambang rasa gatal menurun. terdapat dermatitis yang kronik-residif. tangan dan leher. Dermatitis Atopik pada Anak (1-4 tahun). dan sering terjadi ekskoriasi dan eksudasi karena garukan.

Mulai terkena pada usia dibawah 2 tahun (tidak digunakan pada anak <4 tahun). dan dermatitis traumatika. Kortikosteroid : sebagai antiinflamasi antipruritus dan imnunosupresif. Dalam praktik sehari-hari dapat digunakan criteria William guna mendapatkan diagnosis DA. Anamnesis ada riwayat atopi seperti asma atau hay fever (ada riwayat penyakit atopi pada anak-anak). dengan memperhatikan efek samping jangka panjang. di depan mata kaki atau sekitar leher (termasuk pipi pada anak di bawah 10 tahun). metylprednisolon atau flumetason. Pada fase bayi dapat mirip dengan dermatitis seboroik. c. b. Dapat diberikan antihistamin dan kortikosteroid. dan inflamasi. 4 1. dermatitis kontak.1 Tatalaksana dermatitis atopik:1 1) Obat sistemik. Sedangkan pada fase dewasa lebih mirip dengan neurodermatitis atau liken simpleks kronikus. 2. bertujuan untuk mengirangi rasa gatal. Harus ada : Rasa gatal (pada anak-anak dengan bekas garukan). 8 .diagnosis dibutuhkan 3 kriteria minor lainnya. Digunakan terutama pada kasus yang berat atau rekalsitran. reaksi alergik. e. lutut. manifestasi klinis. Diagnosis banding DA bergantung pada fase atau usia. Ekzema pada lipatan (termasuk pipi. Kulit kering secara menyeluruh pada tahun terakhir. Untuk bayi dan anak dianjurkan pemilihan kortikosteroid golongan VII-IV. Sedangkan pada fase anak dapat mirip dengan dermatitis numularis. 2) Terapi topical: a. yaitu: 1. dermatitis intertriginosa. Pada dermatitis Atopik pada fase bayi/anak dapat dimulai dengan kortikosteroid golongan VII. kening. psoriasis dan dermatitis popok. misalnya krim hidrokortison 1- 2%. d. Kortikosteroid sistemik bukan merupakan hal yang rutin. serta lokasi DA. Terkena pada daerah lipatan siku. badan luar pada anak <4 tahun). Ditambah 3 atau lebih: a.

c. Obat penghambat kalsinenurin (pemikrolimus dan takrolimus). Pelembab digunakan untuk mengatasi gangguan sawar kulit. tetapi kurang parah. emolien (lanonin 10%. Infeksi S.5 9 . beberapa jenis pelembab antara lain berupa humektan (contohnya gliserin dan propilen glikol). Sembuh spontan dengan sempurna atau kurang sempurna biasanya terjadi pada >40% kasus anak. minyak tumbuhan dan sintetis). aureus dapat menyebabkan erosi ekstensif dan krusta. 30-50% pasien berkembang menjadi asma atau hay fever. Prognosis DA pada area yang tidak diobati lesi akan bertahan selama beberapa bulan atau tahun. penyakit akan bertahan selama 15-20 tahun. Pada banyak pasien. Onset dermatitis atopic pada dewasa biasanya parah. petrolatum. b. kekambuhan yang lebih parah terjadi pada dewasa.

J Majority. 2011. Menaldi SL. Klaus W. 4. Clinical Manifestations and Diagnostic Criteria of Atopic Dermatitis. Agustin T. 2. 2013. Fitzpatrick’s Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology 7th Edition. Eichenfield LF. Johnson RA. J Indon Med Assoc. Menaldi SL. Vol.. 2015. 4 No. 10 . New York: Mc Graw Hill. et. DAFTAR PUSTAKA 1. 2015. 4. 3. al. 5. vol. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 7. Saavedra A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi ketujuh. 2. 2013. Natalia. Vol. J Am Acad Dermatol. 70 No. Guidelines of Care for the Management of Atopic Dermatitis. Perkembangan Terkini pada Terapi Dermatitis Atopik. 61 No. Evina B.