You are on page 1of 203

R ekonsepsi

Ekonomi
Islam
Ahmad Aly Alboub

1
R ekonsepsi
Ekonomi
Islam
Ahmad Aly Alboub

2017
Rekonsepsi Ekonomi Islam
Versi e-book, Juni 2017

Author:
Ahmad Aly Alboub, SE.I

Email:
ahmadaly31@gmail.com

ii
Tulisan ini aku dedikasikan untuk kedua orang tuaku,
Untuk agama Islam yang aku cintai dan ummat Islam,
Terimakasih untuk orang-orang yang terlibat bagi mungkinnya
tulisan buku ini terwujud yang tidak dapat disebut satu persatu, yang
telah berkontribusi baik langsung ataupun tidak langsung, semoga
Allah membalas dengan balasan yang baik

iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil Alamin

Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada Baginda Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa
salam.

Tulisan ini adalah hasil refleksi penulis yang memposisikan diri sebagai seorang
pelajar atas sampaian, ceramah-ceramah, buku-buku, ide, pemikiran dan gagasan
dari seorang Syaikh, Ulama-Cendekia, filsuf dan pemikir Islam kontemporer,
Imran Nazar Hosein, seorang syeikh kelahiran Trinidad, West Indies 1942. Beliau
adalah murid dari seorang Syaikh Sufi Maulana Dr. Muhammad Fazlur Rahman
Anshari (Al-Qaderi) yang mana beliau telah menempuhi kesarjanaan di Aleemiyyah
Institute of Islamic Studies, Karachi, dan International Relation di Univerisiti West
Indies, Trinidad dan Graduate Institut of International Studies, Geneva,
Switzerland. Selepas 1985 beliau telah meletakkan jawatannya yaitu sebagai pegawai
hubungan luar negri di Trinidad dan Tobago untuk berdedikasi menumpukan
kehidupan untuk tujuan Islam (Islamic Mission), kemudian beliau dilantik
menjabat Prinsipal Aleemiyah Institut of Islamic Studies, Pakistan (1988), berhijrah
ke Amerika Serikat untuk ditunjuk dan dilantik sebagai Pengarah Institute for
Islamic Education and Research di Miami-Florida, bekerja di New York sebagai
Pengarah Islamic Studies for Joint Comittee of Muslim Organization of Greater
New York dan Pengarah Islamic Community of the United Nation di Badan
Persatuan Bangsa-Bangsa (UN) di Manhattan, New York, di mana beliau mengetuai
sholat Jumaat sekali dalam sebulan selama enam tahun. Pada Desember 1996
beliau telah dilantik oleh Dr. Israr Ahmad sebagai Pengarah Da‟wah kepada
Tanzeem-e-Islami Amerika Utara, dan beliau telah banyak pula menjelajah untuk
dakwah Islam, melawat ke Asia Tenggara sebanyak tujuh kali dari tahun 1988.

“Islam and Buddhism in the Modern World” (1972) adalah salah satu bukunya dalam
studi perbandingan agama. Karya-karya beliau mengenai Islam dan Hubungan
Antarbangsa di antaranya yaitu “Diplomacy in Islam – An Analysis of the Treaty of
Hudaibiyah”, dan koleksi tulisan-tulisan beliau telah diterbitkan di Singapura pada
tahun 1991 dibawah tajuk “Islamic and the Changing World Order”. Beliau juga
menulis buku semenjak tahun 1997 yang ditujukan untuk mengenang gurunya Dr.
Anshari, yang dituliskan ke dalam buku-buku „Serial Memori Anshari‟, di
antaranya: “The Importance of the Prohibition of Riba In Islam”, “The Prohibition of Riba
in the Quran and Sunnah”, “The Religion of Abraham and the State of Israel - A View
from the Qur‟an”, “The Chaliphate, the Hejaz and the Saudi-Wahhabi Nation-State”, dan
“One Jama‟at at One Ameer – The Organization of a Muslim Community in the Age of
Fitan”, “Suratul Kahf and the Modern Age”, “An Islamic View of the Return of Jesus”,
“Jerusalem in the Qur‟an”, “Iqbal and Pakistan‟s Moment of Truth”, “Explaining Israel‟s
Mysterious Imperial Agenda”, “Madina Returns to Center-State in Akhir al-Zaman”, “From

iv
Jesus the True Messiah to Dajjal the False Messiah”, “An Introduction to Methodology for
Study of the Quran” dan lain-lainnya.

Dalam pengamatan penulis beliau telah cukup banyak menguasai wawasan
keilmuan baik ilmu dien maupun ilmu keduniaan khususnya dalam bidang sosial,
politik, ekonomi, religi, hubungan internasional, yang terkenal dalam memberikan
analisis mengenai cabang disiplin studi Eskatologi Islam atau Ilmu Akhiruzzaman,
yakni merangkai peristiwa kejadian dan kajian politik, sosial, ekonomi, religi, yang
terjadi pada hari ini kaitannya dengan petunjuk Qurani dan Ahadits yang
merefleksikan kebenaran nubuwwah Nabi Muhammad Shallalahu Alaihi Wasalam.
Semoga ilmu beliau dan gurunya Maulana Dr. Fazlur Rahman Anshari diberkahi
Allah dan rahmat Allah atas mereka berdua.

Berdasarkan apa yang telah dipelajari penulis dari sampaian dan upaya Syaikh
Imran Hosein selama satu atau dua dekade terakhir (semoga Allah memberkati
upayanya), realiti praktek sosial, politik, ekonomi yang terjadi pada zaman modern
ini, rupanya amat-amat miris dan memprihatinkan yang sangat amat jauh dari pada
apa yang seharusnya menjadi panduan pegangan muslim yang utama yaitu Al-
Quran dan Sunnah Nabi Muhammad ‫ز‬, yang terjadi dalam skala besar (makro)
maupun skala kecil (mikro). Oleh karena itu tulisan ini hanyalah sedikit upaya yang
miskin dari penulis untuk mencari jalan keluar atas persoalan. Bila kiranya ada
cacat dalam tulisan ini hendaknya diabaikan atau diberi kritik, namun bila ada
kebenarannya maka barangkali boleh menjadi jalan kita bersama untuk mencari
jalan keluar secara bersama-sama atas masalah, bila masalah itu telah menimpa kita
sebagai manusia secara umumnya dan ummat muslim khususnya pada hari ini.
Adapun pada akhirnya kebenaran adalah semata-mata milik Allah, kebenaran
datangnya hanya dari Allah. Siapa yang dikehendakiNya sesat maka tiada
sesiapapun yang dapat memberi petunjuknya, siapa yang dikehendakiNya petunjuk
maka tiada sesiapapun yang dapat menyesatkannya. Semoga Allah selalu
memberikan petunjuk hidayahNya. Amiin.

Di Bumi Allah, Syawal 1438/Juni 2017

Seorang yang faqir

v
I
PENDAHULUAN

II
LANDASAN

III
PASAR

IV
PERSERIKATAN

V
PERAN KHALIFAH

VI
SISTEM KEUANGAN

VII
KONSEPSI KEUANGAN PUBLIK ISLAM

VIII
BAYTULMAL

IX
PERMODALAN

X
TABUNGAN DAN INVESTASI

XI
EKONOMI MAKRO

XII
IDEOLOGI

XIII
KOMPETISI

XIV
KESIMPULAN

vi
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR IV
DAFTAR ISI VII
1 PENDAHULUAN 1
1.1 Ekonomi 1
1.2 Ekonomi Dalam Filosofi Barat-Modern 5
1.3 Ekonomi Dalam Filosofi Islam 10
1.4 Sistem Ekonomi: Barat-Modern vs Islam 21
2 LANDASAN 28
2.1 Epistimologi Islam 28
2.2 Metodologi Ilmiah Islam 38
2.3 Pandangan Alam Wujud Islam 64
2.4 Implikasi Pandangan Alam Wujud Islam Terhadap Kehidupan
Dunia dan Kegiatan Ekonomi 72
3 PASAR 74
3.1 Efisiensi Pasar 74
3.2 Mekanisme Pasar 76
3.3 Pasar Di Dalam Islam 78
4 PERSERIKATAN 84
4.1 Efisiensi Perserikatan 84
4.2 Mekanisme Perserikatan 85
4.3 Perserikatan Di Dalam Islam 86
5 PERAN KHALIFAH 89
5.1 Khalifah 89
5.2 Peran Khalifah di Dalam Ekonomi 90
5.3 Peran Khalifah di Luar Ekonomi 91
5.4 Kedaulatan Khalifah 93
6 SISTEM KEUANGAN 95
6.1 Sistem Keuangan Modern 95
6.2 Sistem Keuangan Islam 106
7 KONSEPSI KEUANGAN PUBLIK ISLAM 112
7.1 Dua Syariat Muammalah Terbesar 112
7.2 Lawan Dari Riba Adalah Sedekah 113
7.3 Dilematika Pelarangan Riba 114
7.4 Sifat Strategis Sedekah Terhadap Riba 115
7.5 Dilematika Penerapan Qardh-Hasan 118
7.6 Penerapan Qardh-Hasan Yang Memungkinkan 121

vii
8 BAYTULMAL 125
8.1 Baytulmal 125
8.2 Sistem Perpajakan Islam 125
8.3 Sedekah 126
8.4 Perpajakan dalam Tradisi Islam 127
8.5 Perolehan dan Penyaluran Keuangan Baytulmal 130
8.6 Infrastruktur 131
8.7 Inisiatif (Ijtihadiyyah) Infaq-Wajib 132
8.8 Inisiatif (Ijtihadiyyah) Sistem Hitung dan Pemungutan Zakat 136
8.9 Kategorisasi, Alokasi dan Distribusi Baytulmal 143
9 PERMODALAN 145
9.1 Pasar Modal dan Pasar Keuangan 145
9.2 Bank dan Bank Islam 149
9.3 Baytusysyirkah 156
9.4 Infrastruktur Keuangan 159
10 TABUNGAN DAN INVESTASI 162
10.1 Tabungan dan Investasi 162
10.2 Tabungan Dalam Islam 165
10.3 Investasi Dalam Islam 167
10.4 Pinjaman dalam Islam 168
11 EKONOMI MAKRO: KONTROL
KEBIJAKAN DAN PEMBANGUNAN 169
11.1 Kebijakan dan Kontrol Baytulmal 169
11.2 Kebijakan dan Kontrol Infastruktur Keuangan; Dana Qardh 172
11.3 Tahap-Tahap Lepas Landas Ekonomi 173
12 IDEOLOGI 178
12.1 Ideologi Ekonomi Islam vs Ideologi Ekonomi Sekuler 178
13 KOMPETISI 180
13.1 Kompetisi Ekonomi Dalam Paham Sekuler-Liberalis 180
13.2 Kompetisi Ekonomi Dalam Paham Islam 180
14 KESIMPULAN 182
14.1 Konsepsi Ekonomi Islam 182
14.2 Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam 184
14.3 Rumusan Ekonomi Islam 185
REFERENSI DAN BAHAN BACAAN 190

viii
Alhamdulillahi rabbil-alamin
Assholatu wassalamu „ala asyrafil anbiya-i wal mursalin
A‟udzubillahi minasy-syaithanir-rajim
Bismillahirrahmanirrahim

I

PENDAHULUAN

I.I
Ekonomi

S
ebelum kita memasuki kepada bab-bab yang lainnya untuk mengkaji ilmu atau
konsep mengenai ekonomi, terlebih dahulu kita ingin tahu; apa itu ekonomi?
Perihal apakah ekonomi itu? Apa pengertian yang paling mudah, paling
umum dan mendasar dari ekonomi? Serta gambaran umum dari sesuatu yang
disebut sebagai „ekonomi‟? Sebagai jawaban langsung pertanyaan ini, barangkali
pengertian yang paling mudah, yang paling umum dan mendasar, bila digambarkan
dengan kalimat yang singkat, ekonomi adalah; „kegiatan manusia dalam rangka
memenuhi kebutuhan hidup‟. Apa yang menjadi inti persoalan dan mendasar dari
ekonomi adalah urusan mengenai „kebutuhan hidup manusia‟, itu lah yang paling
utama dari subjek kajian ekonomi, bila kebutuhan hidup sudah terpenuhi maka
kiranya ekonomi itu sudah tuntas masalahnya, sudah beres, tidak ada lagi yang
perlu dipersoalkan; ekonomi sudah mencapai „tujuan‟-nya. Oleh karena itu, bila
tidak ada kebutuhan hidup tidak ada ekonomi, bila ada kebutuhan hidup maka
ada ekonomi.

Semenjak manusia pertama hidup di muka bumi – Adam alaihissalam –, manusia
memang diciptakan Allah sebagai makhluk yang berkebutuhan hidup, maka
keberadaan ekonomi menjadi wajib sebagai konsekuensi dari adanya kebutuhan
hidup manusia. Persoalan ekonomi tidak bisa diabaikan dan sudah menyatu
dengan diri manusia itu sendiri, agama juga tidak bisa mengabaikan persoalan ini,
ekonomi itu sendiri tidak bisa dibiarkan bebas tanpa panduan moral, dibebaskan
dari panduan moral, Allah telah menurunkan kitab untuk menerangkan
hukumNya kepada manusia, agar manusia mengambil pelajaran dan hikmah dari

1
padanya, menjadikannya panduan moral praktis; untuk berbuat yang benar dan
menjauhi kerugian dan kecelakaan (di dunia dan di akhirat).

Kita bisa mengetahui asal-usul adanya ekonomi karena ada „kebutuhan hidup‟
manusia, dengan demikian akar masalah ekonomi itu awal mulanya ada pada
manusia. Manusia sebagaimana adanya secara lahiriahnya, adalah makhluk yang
tidak bisa hidup kecuali ia diberi dan dipenuhi pemenuh kebutuhannya. Apabila
kebutuhan hidup manusia tidak dipenuhi maka (eksistensi) manusia itu menjadi
lemah dan akhirnya punah (mati).

Bila Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang berkebutuhan hidup, tentu
saja Allah tidak bermaksud untuk mem-punah kan manusia karena manusia ada
tugas yang perlu ditunaikan, Allah tidak membiarkan penciptaan manusia begitu
saja berdiri sendiri tanpa ada sumber pemenuh kebutuhannya. Bumi di sisi lain
Allah ciptakan merupakan pelengkap bagi (lahiriah) manusia. Bumi dan manusia
ibarat dua kutub yang saling melengkapi, tanpa ada salah satunya tidak berarti apa-
apa. Dengan kata lain, masalah (mendasar) yang ada pada diri manusia itu
sebetulnya solusinya sudah ada di hadapan mata; di mana bumi sebagai sumber
pemenuh kebutuhan manusia.

Setelah kita memperoleh pengertian singkat dan umum dari ekonomi, kita perlu
mengetahui gambaran yang lebih besar secara umum dari „kegiatan manusia dalam
rangka memenuhi kebutuhan hidup‟ itu sendiri. Kira-kira apa saja yang mencakup dari
„kegiatan manusia‟ yang dimaksud tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui, bumi
adalah sumber pemenuh kebutuhan manusia, segala sesuatu yang dibutuhkan
manusia bersumber dari bumi (sandang, pangan, papan, material, mineral dan lain-
lainya). Hanya masalahnya bumi yang mentah itu harus diolah untuk mengadakan
barang-barang kebutuhan hidup. Untuk meng‟ada‟kan barang-barang kebutuhan
hidup itu manusia harus meng-ekstraksi dan mengolah sumber daya-sumber daya
yang ada di bumi; tanah, air, laut, udara, sehingga barang-barang (dan jasa-jasa) bisa
berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan hidup manusia, kegiatan ini disebut dengan
kegiatan „produksi‟. Pada dasarnya kegiatan memenuhi kebutuhan hidup itu bisa
dicapai hanya dengan pola yang paling sederhana; produksi-konsumi; manusia
memproduksi barang-barang kebutuhan hidupnya kemudian manusia
mengkonsumsinya – konsumsi; memanfaatkan harta hingga harta itu berkurang
hingga pada akhirnya musnah –. Dalam „kegiatan memenuhi kebutuhan hidup‟
„konsumsi‟ bisa dianggap sebagai kegiatan paling akhir atau final, yang menandakan
pencapaian tujuan yang paling mendasar dari ekonomi; yaitu memenuhi
kebutuhan hidup.

Akan tetapi, lebih lanjut kegiatan ekonomi itu tidak sesederhana produksi lalu
konsumsi. Di tengah-tengah, di antara kegiatan produksi dan konsumsi ada
serangkaian kegiatan-kegiatan lainnya. Yang menjadi faktor persoalannya; pertama;

2
manusia adalah makhluk ijtima‟i (makhluk sosial), kedua; manusia tidak hanya
memiliki satu jenis barang (atau jasa) kebutuhan hidup; ada kebutuhan pangan;
kebutuhan sandang; kebutuhan material; kebutuhan alat dan perkakas; dan
kebutuhan-kebutuhan lainnya. Bila satu orang manusia memproduksi seluruh
barang-barang (atau jasa-jasa) kebutuhan hidup itu sendirian niscaya tidak akan
memiliki waktu yang cukup dalam memenuhi kebutuhan hidup yang selalu
bermunculan secara rutin, ini bisa menyebabkan banyak pekerjaan-pekerjaan
terbengkalai dan tidak tercapainya beberapa macam kebutuhan hidup, kehidupan
seperti ini amat susah dan melarat. Oleh karena itu, manusia bekerja secara jama‟i,
dan bila manusia bekerja secara jama‟i; maka perlu ada distribusi dan pembagian
jatah yang adil dan sesuai dengan kontribusinya bagi kegiatan ekonomi yang ijtima‟i
tersebut. Kegiatan distribusi ini secara alaminya terjadi lewat aktivitas „pertukaran‟
(dalam pasar dan perserikatan), di sisi lain peran pemerintah juga bisa membantu
distribusi yang merata dan adil lewat kuasa keuangan publiknya (lihat Bab 8:
Baytulmal).

Pertukaran merupakan kegiatan ekonomi yang fitrah-alami, pertukaran menjadi
solusi paling efektif dan efisien untuk mengatasi hambatan-hambatan dan masalah
dari beragam kebutuhan yang tak sempat diproduksi oleh masing-masing pelaku
ekonomi. Dengan pertukaran, memungkinkan satu orang manusia hanya
memproduksi barang khusus dan spesifik berdasarkan kemampuan dan kapasitas
produksinya, kemudian dari satu jenis barang yang diproduksinya bisa
dipertukarkan di pasar menjadi berbagai macam dari semua jenis barang-barang
kebutuhan hidup yang ia perlukan. Oleh karena itu, sekarang kita akan memiliki
gambaran bahwa di antara kegiatan produksi dan konsumsi ada berbagai macam
ragam bentuk pertukaran atau transaksi-transaksi ekonomi; dari keuangan, barang-
barang dan jasa-jasa kebutuhan hidup, dan kegiatan ini lebih besar dan luas di
dalam kegiatan ekonomi.

Gambaran lebih lanjut, di antara persoalan „kebutuhan hidup‟ di samping
kebutuhan hidup manusia yang beragam, selain itu ialah; pertama; kebutuhan
hidup manusia dalam dimensi waktu tidak hanya kebutuhan hidup itu ada di saat
sekarang, tetapi kebutuhan hidup juga ada di masa depan, kedua; barang-barang
(atau jasa-jasa) itu seringkali tidak ada saat dibutuhkan dan ada saat tidak
dibutuhkan. Maka dari itu solusi dari persoalan ini manusia perlu manajemen
waktu dan jadwal; baik itu menyegerakan pemanfaatan harta/konsumsi (dengan
pinjaman) atau menangguhkan pemanfaatan harta/konsumsi (dengan menabung).
Kegiatan menyegerakan pemanfaatan harta/konsumsi biasanya dicapai lewat
mencari bantuan pinjaman, sedangkan kegiatan menangguhkan pemanfaatan
harta/konsumsi dicapai lewat kegiatan menyimpan harta atau menabung. Oleh
karena itu, „pinjam-meminjam‟ dan „tabungan‟ juga termasuk fenomena kegiatan
ekonomi. Termasuk dari pada strategi manusia untuk memastikan kebutuhan di

3
masa depan tetap terpenuhi dan supaya eksistensi kehidupan manusia tetap
berkelanjutan, selain itu pemanfaatan harta tidak hanya dimanfaatkan untuk
kebutuhan di masa sekarang (konsumtif), tetapi juga sebagian alokasi harta manusia
dimanfaatkan untuk konsumsi produktif, ini disebut kegiatan „investasi‟. Dengan
seperti itu maka kegiatan konsumsi akan terus terjamin sepanjang waktu ke depan
dan objektif ekonomi yaitu; pemenuhan kebutuhan hidup, bisa terus terpenuhi.

Berdasarkan ini maka gambaran umum dari ekonomi itu yaitu; „kegiatan manusia
dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup‟ itu kurang lebihnya akan mencakup
kegiatan-kegiatan; (1) produksi, (2) transaksi/pertukaran, (3) tabungan/simpanan
dan pinjaman, (4) investasi, (5) konsumsi. Kesemuanya berangkaian satu sama
lainnya sebagai kegiatan ekonomi.

Lebih lanjut lagi, pengertian dan pemaknaan ekonomi pada akhirnya tidak lagi
dimaknai sesuai pemaknaan mendasarnya; „kegiatan manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidup‟. „Kebutuhan hidup‟ itu sendiri maknanya menjadi meluas
tergantung pada faham/filosofi dan ideologinya. „kebutuhan hidup‟ maknanya
berkembang menjadi „tujuan hidup‟ atau „tujuan hidup‟ itu sendiri boleh lah
dikatakan juga „kebutuhan hidup‟, maka ekonomi sekarang juga bisa berarti „kegiatan
manusia (menggunakan sumber daya yang ada; sda, sdm, sdu) untuk mencapai tujuan
kehidupan‟. Dalam pengertian ini maka ekonomi diartikan berdasarkan filosofi dan
ideologi. Kenyataannya memang ekonomi tidak lagi digunakan untuk mencapai
„pemenuhan kebutuhan hidup‟ semata, tetapi lebih jauh dari pada itu ekonomi
digunakan untuk mencapai „tujuan kehidupan‟ sesuai dengan ideologinya masing-
masing yang dianut manusia-manusianya.

Tujuan dan cita-cita kehidupan tergambar di dalam konsepsi ideologi – ideologi
boleh kita artikan sebagai; ide-ide yang menjadi tujuan kehidupan dan metode/cara/jalan
yang ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut –. Ekonomi menjadi alat praktis untuk
tujuan kehidupan – dan kenyataannya ekonomi tidak pernah lepas dari filosofi
(cara berpikirnya) dan ideologinya (ide tujuan hidupnya) –, cara berekonomi
ditentukan oleh ideologinya, seringkali kita menyebut „sistem ekonomi‟ atau
kadang disederhanakan menjadi „ekonomi‟ saja. Misalnya, sistem ekonomi liberalis-
kapitalis, sistem ekonomi sosialis-komunis, sistem ekonomi islam.

Lalu apa pula yang dimaksud „sistem ekonomi‟? boleh kita artikan sistem ekonomi
adalah cara kerja ekonomi; kegiatan ekonomi itu sendiri serta seperangkat
alat/instrumen, mekanisme, institusi yang mendukungnya (menyokong kegiatan
ekonomi tersebut). Misalnya; pasar di dalam ekonomi dilihat sebagai institusi yang
menjalankan mekanisme pasar; sebagai media atau wadah kegiatan
pertukaran/transaksi, pemerintah dan fiskalnya di dalam ekonomi dilihat sebagai
institusi yang menjalankan mekanisme alokasi dan distribusi, bank sentral dan

4
sistem moneternya di dalam ekonomi dilihat sebagai institusi yang berperan untuk
menjaga stabilitasi ekonomi berkaitan dengan kenaikan harga-harga (inflasi).

Oleh karena itu, secara gambaran besarnya kata „ekonomi‟ merangkum atau
mencakup „kegiatan-kegiatannya‟ (seperti; produksi, pertukaran/transaksi,
konsumsi, investasi, tabungan, pinjaman dan lain-lain), juga „ideologinya‟ dan
„sistem‟nya. Kesemuanya ditentukan oleh filosofi yang mendasarinya, itulah yang
akan membedakan satu ekonomi (sistem ekonomi) dengan ekonomi yang lainnya.
Tentu saja ekonomi islam yang dilandasi filosofi (hikamiyyah) iman-islam yang
sejati dan ekonomi modern yang dilandasi filosofi rasionalis-empiris-positif-
materialis-sekuler ala barat-modern, memiliki pandangan yang berbeda dan
konsekuensinya melahirkan sistem ekonomi yang berbeda pula.

I.II
Ekonomi Dalam Filosofi Barat-Modern
Asal usul istilah atau bahasa „ekonomi‟ dilahirkan alam pemikiran peradaban
Yunani; dengan bahasa Yunani, berasal dari kata oikonomia yang digunakan
pertama kali oleh Xenophone pada abad 5 SM. Oikonomia berasal dari kata oikos
yang berarti rumah tangga (dan perbendaharaannya) dan nomos yang berarti
peraturan/aturan/hukum. Aristoteles memberikan pengertian oikonomia adalah
„seni mengelola rumah tangga, tata kelola (perbendaharaan) warisan leluhur, kehati-hatian
dan kehematan dalam penggunaan sumber daya‟. Dalam filosofi Yunani, „rumah
tangga‟ dianggap sebagai unit terkecil suatu masyarakat, suatu bangsa atau negara.
Kegiatan ekonomi pada masa ini belum menjadi disiplin ilmu khusus, masih
menjadi satu kesatuan dengan kegiatan politik, tata administrasi mengelola negara,
dan nilai-nilai yang menonjol pada kegiatan ini tetap memperhatikan, memastikan
dan mengutamakan kepentingan kolektif dari pada kepentingan individu,
berorientasi pada mashlahat (kepentingan umum).

Dalam perjalanan sejarahnya, walaupun filsafat Yunani memberikan kesan
terhadap dunia ilmiah dan filsafat kepada era-era sesudahnya, kemudian datang
suatu era spiritual yang berpengaruh kuat kepada dunia di mana peradaban Islam
terbit semenjak pengutusan Nabi Muhammad ‫( ز‬munculnya ummat yang baru)
hingga ummat islam membuat kontak dan memberikan dampak pada negeri eropa
(lewat kekhalifahan di Andalusia), di Barat nuansa spiritual juga berpengaruh kuat
yang diprakarsai gerejani-gerejani kaum kristen terpelajar yang dikenal sebagai era
Skolastika. Pada masa ini istilah „oikonomia‟ tetap relevan digunakan masyarakat
Barat untuk kegiatan pengelolaan harta-benda individu ataupun kolektif dan
tatanan moral kristen berpengaruh kuat tetap memastikan kegiatan-kegiatan
ekonomi masyarakat Barat selalu berpandukan moral dan juga kepentingan kolektif
masih dianggap lebih utama daripada kepentingan individu.

5
Dalam perjalanannya lebih lanjut, peradaban barat mengalami suatu masa yang
amat menakjubkan dan mengherankan di mana terjadi suatu perubahan
revolusioner yang tidak pernah terjadi sebelumnya; suatu perubahan revolusioner
yang akan membawa peradaban barat menjadi peradaban yang paling unggul di
atas dunia. Masa ini dikenali sebagai „era kelahiran kembali‟ (renaissance) sebagai era
kelahiran peradaban barat-modern. Era kebangkitan peradaban barat menjadi
peradaban yang maju dan modern, dipacu oleh gerakan pemikiran yang
membangkitkan kembali semangat filsafat Yunani dengan ciri „penggunaan akal
secara bebas dari hambatan-hambatan yang membatasinya/menghalanginya‟.
Walaupun filsafat barat-modern ini mengambil cangkokan atau akar landasan
ilmiah dan filosofinya dari filsafat Yunani, tetapi apa yang dibawa oleh filosofi
barat-modern ini memiliki hal-hal baru yang tidak pernah ada sebelumnya.

Dampak dari pada gerakan ini menuai hasil yang sukses di mana; (1) „tatanan
moral‟ yang diprakarsai gerejani dan agama kristen runtuh, (2) pemikiran dan
filosofi barat-modern segera diterima masyarakat Barat secara luas dan (dianggap)
membawa kemajuan; walaupun kenyataannya juga memang filosofi barat-modern
ini (membawa kemajuan dalam alam materinya, tapi tidak dalam hal moral dan
spiritual) telah membangun dan memperbaharui bidang-bidang disiplin ilmu
terutama dalam bidang-bidang ilmu eksak (bahkan ilmu sosial kadang dikaji
dengan pendekatan eksak), hingga membawa peradaban barat-modern gemilang
dalam hal saintifik. Pada akhirnya membawa kepada kemajuan alam materi dan
ekonomi kaum Barat dan menjadi superior terhadap negara-negara atau bangsa-
bangsa manapun di dunia (bahkan dengan kekuatan yang dibangunnya telah
digunakan untuk menjajah bangsa-bangsa lain di dunia; dalam misi
memperadabkan manusia; civilize the people).

Pengunaan akal secara bebas (rasionalisme) pada era kelahiran kembali, semula
dimaksudkan untuk melepaskan masyarakat peradaban Barat dari dogma-dogma
dan rantai kekakuan agama (dan mungkin juga katolik di eropa telah kelewat batas;
ghulluw, dengan fenomena misalnya; inquisition yang telah dilakukan gereja dan
segala bentuk korupsi agama lainnya di mana ini telah membuat masyarakat barat
memendam stigma negatif terhadap religiusitas). Dalam perkembangannya
penggunaan akal secara bebas dari hambatan (rasionalisme) ini dipertajam dengan
munculnya faham empirisme (kebenaran yang dapat dialami dan diamati) dan
faham positivisme (kebenaran yang dapat dialami dan diamati secara
terukur/matematis). Walaupun demikian, tetap saja apabila mengabaikan
kebenaran yang mungkin bisa diperoleh dari iman, agama dan wahyu Allah dan
semata-mata mengandalkan akal, pengalaman dan pengamatan inderawi, maka ia
akan melahirkan paham/filosofi (cara berpikir) yang sekuler. Apa yang terjadi di
Barat semenjak era kelahiran kembali, filosofi Barat-Modern yang bercirikan
rasional-empiris-positif dengan menolak kebenaran yang mungkin dapat diperoleh

6
dari iman, agama dan wahyu Allah, ia sejatinya telah mengabaikan tatanan moral
dan menggantinya dengan tatanan yang rasionalis-empiris-positif-sekuler. Sehingga
dalam tatanan sekuler bukan berarti aturan moral tidak ada, tetapi aturan moral
harus tunduk dan menyesuaikan dengan aturan rasionalitas, empirisitas dan
positifitas, manakala di dalam tatanan moral adalah sebaliknya; aturan rasionalitas,
empirisitas dan positifitas harus tunduk dan menyesuaikan dengan aturan moral.

Lebih lanjut, faham atau filosofi Barat-Modern yang didominasi dengan ciri
rasionalis-empiris-positif pada gilirannya kemudian melahirkan faham materialisme,
suatu faham yang meyakini bahwa yang wujud hanyalah materi dan kebendaan.
Menurut pandangan materialisme Tuhan tidak ada jika tidak dapat dibuktikan
dengan pengalaman dan pengamatan inderawi, Tuhan itu ada hanya karena
persepsi (zhon atau prasangka) yang dibangun alam pikiran dan kesadaran manusia
yang belum tentu benar atau belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Oleh karena itu, faham atau filosofi Barat-Modern semakin mempertajam jati
dirinya yang memiliki faham dengan ciri; rasionalis-empiris-positif-materialis-
sekuler. Faham inilah yang membangun bangunan ilmu modern, peradaban
modern dan sistem hidup modern yang diterapkan terlebih dahulu di Barat sebagai
pionirnya dan seluruh dunia kemudian (di mana peradaban Barat
mempromosikannya secara aktif, bahkan lewat penjajahan dalam misi civilize the
people).

Dalam faham atau filosofi modern yang sekuler, posisi agama tidak berarti
dihilangkan sama sekali, individu-individu boleh meyakini adanya Tuhan boleh
juga tidak meyakini (atheis), tetapi selama agama itu sesuai dengan kerangka
rasionalis-empiris-positif-materialistis-sekuler; di mana perkara tentang Tuhan itu
biar kembali kepada masing-masing individu, tetapi tatanan agama (tatanan moral
yang berlandaskan keimanan) tidak boleh mengambil peran pada ranah-ranah
kehidupan bermasyarakat dan bernegara, seandainya pun agama mengambil peran
pada ranah-ranah kehidupan bermasyarakat dan bernegara maka ia harus berada di
bawah kendali kebenaran yang sudah dapat dibuktikan lewat pengalaman,
pengamatan dan pengukuran, yakni ilmu pengetahuan yang positif. Dengan kata
lain; agama harus tunduk dan disesuaikan dengan tatanan sekuler. Filosofi yang
seperti inilah yang berkembang di dalam peradaban Barat-Modern dan pada
gilirannya faham atau filosofi ini juga memegang andil bagi kelahiran disiplin
ekonomi modern.

Disiplin ilmu ekonomi modern lahir dari alam pemikiran barat modern yang
rasionalis-empiris-positif-materialistis-sekuler. Kelahiran ilmu ekonomi sebagai
bidang kajian disiplin ilmu khusus ditandai dengan kemunculan Adam Smith
semula dengan karyanya The Theory Of Moral Sentiment (1759) kemudian karya
besarnya An Inquiry Into Nature And The Causes Of The Wealth Of The Nation (1776)
telah memberikan sumbang asih yang sangat penting pada kelahiran ilmu ekonomi

7
modern dan setelah ini pun istilah atau bahasa „Ekonomi‟ menjadi populer bagi
kaum terpelajar dan bangsawan, ia terpromosikan ke negeri-negeri dunia ke tiga
bersamaan dengan kebangkitan kuasa bangsa eropa terhadap dunia lewat aksi
kolonialisasinya dan bahkan hegemoni yang masih tersisa setelahnya, membekas
kepada negeri-negri jajahannya terutama lewat bahasa inggris sebagai bahasa yang
mendunia.

Apa yang disumbangkan oleh Adam Smith kepada disiplin ilmu ekonomi modern
adalah di mana ia membawa faham baru yang belum pernah ada sebelumnya,
Adam Smith sebagai filsuf berbakat melahirkan faham individualisme dan
memberikan persepsi yang logis masuk akal kepada orang-orang; bahwa
kepentingan umum tidak perlu diletakkan lebih tinggi dari pada kepentingan
individu, justru bila individu itu diperhatikan (diberikan kebebasan) maka
kepentingan umum pun dengan sendirinya akan tercapai bahkan dengan cara ini
lebih efektif dan efisien untuk mencapai kepentingan umum.

Tetapi faham individualisme ini telah melangkahi faham sebelumnya yang
menganggap „rumah tangga‟ sebagai unit terkecil suatu bangsa, dalam faham
individualisme kini „individu‟ lah yang merupakan unit terkecil suatu bangsa,
menafikkan peran-peran sosial yang khusus pada rumah tangga seperti fungsi ayah,
fungsi ibu dan fungsi laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu konsekuensi dari
faham ini juga melahirkan konsep persamaan hak antara laki-laki dan perempuan;
persamaan gender. Konsepsi Al-Quran mengenai unit terkecil suatu masyarakat
adalah pribadi laki-laki dan pribadi perempuan (Quran, Surat Al-Hujurat 49: 13),
dan keduanya berbeda oleh karena dengan adanya laki-laki dan perempuan maka
„rumah tangga‟ ada, dan „rumah tangga‟ mempunyai peran vital dalam masyarakat
Islam, dan semua hal tentunya ada haknya pada tempatnya masing-masing;
kepentingan (hak) individu tidak bisa melanggar kepentingan (hak) umum,
begitupun kepentingan (hak) umum tidak bisa melanggar kepentingan (hak)
individu, hak laki-laki tidak bisa melanggar hak perempuan begitupun hak
perempuan tidak bisa melanggar hak laki-laki.

Individu di dalam filosofi barat-modern dipahami sebagai makhluk yang berpikir
logis-positif dan menginginkan keuntungan dan kepuasan, dan egois. Faham
individualisme berkembang menjadi lebih soft dan mutakhir ia menjelma menjadi
faham utilitarianisme; yakni suatu faham individualisme berjamaah sebagai lawan
dari egoisme. Maka faham utilitarianisme ini bila diterapkan kepada masyarakat ia
akan menciptakan ummat atau masyarakat yang kerekatannya atau kesatuannya
dijamin oleh materi dan asas manfaat semata, karena setiap individunya hanya
peduli pada dirinya masing-masing; self-interest. Perkataan Adam Smith yang
terkenal; “bukan karena keramahan si tukang daging kita bisa makan malam ini,
melainkan karena tukang daging itu mencari keuntungan ekonomi untuk dirinya
pribadi (sehingga kita dapat membeli daging)”.

8
Di sisi lain faham materialisme memberi pengaruh yang sangat kuat terhadap
filosofi ekonomi modern. Materialisme mendefinisikan tujuan hidup berpusat
pada materi, kepuasan materi (hedonisme). Semakin seseorang memiliki materi
yang banyak maka semakin bahagia seseorang. Oleh karenanya tujuan ekonomi
tidak lagi sekedar menjaga eksistensi kehidupan manusia – keberlanjutan
kehidupan manusia – tetapi lebih dari itu adalah pemuasan kehidupan manusia
(peraihan surga di dunia).

Bila faham individualisme menyatu dengan faham materialisme ia akan melahirkan
faham kapitalisme; bahwasanya yang menjadi tujuan dalam ekonomi adalah
„akumulasi kapital‟; akumulasi materi, di mana semakin banyak seseorang memiliki
perbendaharaan materi semakin bahagia seseorang. Karl Marx muncul sebagai anti-
thesis dari kapitalisme yang tidak pernah memberikan solusi atas efek samping
kompetisi ekonomi yaitu; kaum proletar yang terjebak di dalam kemiskinan abadi,
Karl Marx tidak merubah filosofi materialisme-nya, Karl Marx meramu
materialisme dengan sosialisme (sebagai lawan dari individualisme atau faham self-
interest, sebaliknya sosialisme; social-interest, peduli dan empati terhadap manusia
lainnya), lahirlah faham komunisme suatu faham dengan ciri; pemerataan materi
(kapital) ekonomi lewat kuasa kepala kelompok sosial yakni; negara. Jika pada
faham kapitalis masih memungkinkan seseorang mempercayai adanya Tuhan, pada
faham komunis tidak memberikan ruang sama sekali bagi hak kebebasan
berkeyakinan individu atau agama untuk mengatur urusan sosial atau negara,
Tuhan dianggap tidak ada (atheis). Sekalipun demikian, kedua-duanya berfaham
peran Tuhan tidak ada di dunia (faham newtonian), manusia lah yang menentukan
sendiri kehidupannya (faham antrophosentris), terlepas Tuhan itu ada atau tidak
ada. Kedua-duanya memiliki pohon filosofi yang sama; filosofi sekuler.

Sampai di sini faham atau filosofi modern (yang diprakarsai kaum Barat-Modern)
bercirikan; rasionalis, empiris, positif, materialistis, sekuler yang melahirkan
disiplin ilmu ekonomi modern, baik teori maupun praktiknya, maka menurut
faham ini defenisi ekonomi adalah;

„Kegiatan manusia (individu, kolektif, negara) dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup
– yang tak terbatas yang dihadapkan pada sumber daya yang terbatas – ‟

„Kebutuhan hidup‟ yang diberi tambahan kalimat; „yang tak terbatas yang
dihadapkan pada sumber daya yang terbatas‟ adalah implikasi dari faham atau
filosofi Barat-Modern yang rasionalis-empiris-positif-materialis-sekuler. „Kebutuhan
hidup‟ menurut faham ini juga termasuk „kesenangan dan kepuasan duniawi‟,
„kebutuhan hidup‟ tidak hanya hal-hal mendasar yang cukup untuk membuat
hidup tetap eksisten semata, maka „kesenangan dan kepuasan duniawi‟ itu juga
termasuk „tujuan kehidupan‟ dan juga „kebutuhan hidup‟, ia adalah hal yang pantas
untuk di kejar sebagai surga yang paling nyata; surga dunia (sementara tidak yakin

9
dengan surga di akhirat), sehingga bila setiap manusia mencari kepuasan dan
kesenangan, dengan mengumpulkan materi (kapital) menjadi tujuan setiap orang
sehingga setiap orang berkompetisi dalam ekonomi, maka tentu saja „kebutuhan
hidup‟ menjadi tidak terbatas relatif dibandingkan dengan „sumber daya‟ yang
tersedia sebagai sumber pemenuh kebutuhan hidup manusia. Inilah ekonomi
menurut filosofi Barat-Modern.

I.III
Ekonomi Dalam Filosofi Islam
Mulai dari awal semenjak lahirnya dunia Islam, jauh sebelum kedatangan dunia
modern-sekuler yang diprakarsa barat-modern ke atas dunia, dunia Islam tidak
pernah menggunakan bahasa Inggris atau latin atau yunani sebagai bahasa
internasional dan bahasa keilmuan. Dunia keilmuan Islam selalu menggunakan
bahasa arab, bila istilah asing itu memiliki padanan maknanya dalam bahasa arab,
istilah asing itu akan selalu diterjemahkan kedalam bahasa arab yang maknanya
sepadan dan bahasa arab selalu bisa melakukannya (bahasa arab sebagai bahasa
mutakhir dan canggih yang bahasanya dibangun dari sistem akar kata yang terdiri
dari huruf-huruf tetap), ataupun bila suatu istilah asing tidak ada padanan katanya
dalam bahasa arab maka ia diadopsi dan akan disesuaikan dengan bahasa arab,
maka dunia keilmuan Islam sejatinya selalu menggunakan bahasa arab sebagai
bahasa sentral keilmuan Islam, tidak pernah dunia keilmuan Islam menggunakan
bahasa asing sebagai sentral keilmuan, kecuali ia adalah bahasa keilmuan lokal yang
tetap menjadikan bahasa arab sebagai bahasa sentralnya; seperti urdhu, farsi,
melayu jawi dan lain-lain.

„Ekonomi‟ atau „oikonomia‟ lahir istilahnya dan konsep awalnya berasal dari
Yunani, ia bermakna „manajemen (perbendaharaan) rumah tangga‟ atau „tata kelola
(perbendaharaan) rumah tangga‟. Adapun di dunia Islam (sebagai peradaban) yang
muncul setelah peradaban Yunani, ada banyak bermunculan berbagai macam
istilah yang bersentuhan, berkaitan atau mengacu pada makna „ekonomi‟, misalnya
para ulama-ulama (cendekiawan, terpelajar, sarjanawan, agamawan) peradaban
Islam jauh sebelum kedatangan era modern-sekuler, telah menggunakan istilah-
istilah (dari bahasa arab dan bahasa Al-Quran yang sederhana) sederhana seperti;
Al-Kasbu, Al-Mal atau Al-Amwal, Ma‟isyah atau Ma‟ayisy, dan lain sebagainya, dan
hari ini pada akhirnya dapat kita ketahui apa yang dibahas para ulama itu berkaitan
erat dengan atau merupakan suatu bahasan subjek disiplin ilmu ekonomi.

Akan tetapi selain dari pada itu, dari semua istilah yang pernah ada di dunia Islam,
ada suatu istilah yang diadopsi dan semakna dengan ekonomi atau „oikonomia‟,
misalnya yaitu di dunia Islam disebut dengan Tadbir (Tata Kelola) dari kata ‫ دبر‬- ‫ٌدبر‬
(dabbara - yudabbiru) atau Tadbir Al-Manzil (Tata Kelola Perbendaharaan). Istilah ini
memang dimaksudkan untuk disiplin ilmu khusus terkait „tata kelola

10
perbendaharaan‟ yang sangat sesuai dengan makna istilah ekonomi atau
„oikonomia‟ dari Yunani yang berarti „tata kelola (perbendaharaan) rumah tangga‟.
Namun „Ilm Tadbir Al-Manzil‟ sebagaimana „Oikonomia‟ di Yunani, barangkali
perkembangan disiplin ilmu ini masih sangat sederhana dan tidak berkembang
begitu ekstensif dan bersifat parsial, sebagian-sebagian, bila dibandingkan disiplin
ilmu ekonomi modern yang ada pada saat ini. Ciri khas disiplin ilmu ekonomi
yang ada pada saat sebelum kedatangan zaman modern ialah ia masih sering
dianggap atau berkaitan dengan kegiatan tata kelola atau administrasi kenegaraan
(pemasukan, pengeluaran, pencadangan, distribusi, dan lain-lain) dan juga disiplin
ilmu ekonomi pada zaman sebelum kedatangan era modern-sekuler, nilai-nilai
moral atau doktrin-doktrin moral masih dijunjung tinggi atau dengan kata lain
„tatanan moral‟ masih merupakan tatanan yang diakui.

Ekonomi dalam faham Yunani „makna‟nya (serta konsep, teori dan prakteknya)
dibangun berlandaskan „cara pandang‟ filosofi yang tengah berkembang di dunia
Yunani pada saat itu. Ekonomi dalam faham Barat-Modern dibangun „makna‟nya
(serta konsep, teori dan prakteknya) juga berlandaskan „cara pandang‟ filosofi barat-
modern yang tengah berkembang mulai semenjak kejadian peristiwa „kelahiran
kembali‟ (renaissance); lahirnya „cara pandang‟ filosofi modern yang melahirkan
faham; rasionalisme, empirisme, positivisme, materialisme, sekulerisme. Maka,
adapun, ekonomi dalam faham Islam tentu saja ekonomi dibangun „makna‟nya
(serta konsep, teori dan prakteknya) berlandaskan filosofi Islami; filosofi yang
dilahirkan oleh visi Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad ‫ز‬, yang telah
diterima oleh suatu kaum dan kemudian kaum itu berpandukan dengannya,
sehingga suatu kaum itu lahir menjadi ummat yang baru, masyarakat Islam,
peradaban Islam yang berdiri diatas landasan petunjuk Al-Quran dan Sunnah Nabi
Muhammad ‫ز‬.

Filosofi apakah yang muncul selepas lahirnya cahaya Islam itu? Filosofi apakah yang
melandasi cara bermasyarakat, cara berhukum, cara bermuammalah, cara
berkehidupan selepas lahirnya cahaya Islam itu? Ia adalah tentu saja filosofi atau
kita bisa menyebutnya „nilai-nilai kebijaksanaan‟ (hikamiyyah) yang berlandaskan
tatanan moral Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad ‫ز‬. Misalnya kaitannya
dengan ekonomi (tata kelola perbendaharaan), ia adalah suatu filosofi yang
dilahirkan „cara pandang‟ yang memandang bahwa; (1) kepemilikan mutlak seluruh
materi benda (dzat) di seluruh alam jagat raya ini baik yang nampak maupun yang
ghaib adalah milik Allah, dan Allah adalah pewaris terakhir dari semuanya; Huwal
Awwalu wa Huwal Akhiru, (2) adapun si makhluk memiliki kepemilikan yang nisbi
atau relatif; terbatas (limited), berjangka (fali kulli syaiin ajal), dalam batas-batas yang
ditentukan sunnatullah, (3) pemerolehan dan penggunaan atau pemanfaatan harta
benda (yang dikuasai atau dimiliki atau diwenangi) oleh makhluk (dalam

11
pandangan moral Islam) harus-lah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah (Sang
Pemilik Mutlak, Sang Pembuat Hukum, Yang Maha Berdaulat; Allah Al-Malik).

Maka filosofi yang dilahirkan oleh Islam itu, filosofi yang dilahirkan dan berasal
dari Al-Quran dan Sunnah yang amat sesuai dengan itu, ia merupakan nilai-nilai
kebijaksanaan praktis yang bisa kita dapati berasal di dalam Al-Quran misalnya
adalah ia disebut dengan Al-Qashdu, atau lebih khusus lagi „Al-Qashdu fil mal‟ (sikap
sederhana/lurus atas harta). Kemudian pada gilirannya dari nilai-nilai
kebijaksanaan Al-Qashdu menurunkan istilah Iqtishad dan Iqtashada sebagai kata
aktif dari Al-Qashdu, maka istilah kata Iqtishad dan konsepsi nilai-nilai Al-Qashdu
tidak bisa kita pisah-pisahkan sebagai nilai-nilai kebijaksanaan yang melatarinya.

Apabila ditelaah merujuk kepada Al-Quran, Al-Qashdu memiliki makna-makna
berikut:

 Ia bermakna lurus, adil:
(Quran, Surat An-Nahl 16: 9), qashdus sabil; lurus
(Quran, Surat Al-Luqman 31: 32), fa minhum muqtashidun; adil, lurus
 Ia bermakna sederhana:
(Quran, Surat Al-Luqman 31: 19), waaqshid; sederhana
 Ia bermakna pertengahan, moderat, seimbang:
(Quran, Surat Al-Fatir 35: 32) fa minhum muqtashid; pertengahan
(Quran, Surat Al-Maidah 5: 66) ummatun muqtashidah; moderat
 Ia bermakna cepat, dekat atau ringkas,
(Quran, Surat At-Taubah 9: 42), qaashidan; sederhana, dekat, ringkas

Kitapun boleh merujuk dan menganalogikan makna-makna tersebut pada suatu
kutipan filosofi dari ilmu phytagoras atau ilmu geometri misalnya; “(lintasan) jalan
paling cepat antara dua titik adalah garis lurus” atau “jarak terdekat antara dua titik
adalah garis lurus” (Archimedes), ini bukanlah „logika yang kebetulan‟ ia amat-amat
bisa bermakna filosofis bila kita kaitkan dengan istilah Al-Qashdu yang bermakna;
lurus, sederhana, pertengahan atau moderat, cepat atau ringkas. Al-Qashdu amat
sangat tepat sebagai kata yang menggambarkan maksud kutipan tersebut, di dalam
Islam maksud kutipan tersebut apabila diucapkan dengan satu kata yang ringkas
maka sesederhana mengucapkan kata „Al-Qashdu‟ atau „Iqtishad‟. Ia adalah suatu
prinsip atau kaedah bagaimana membawa suatu titik persoalan (kebutuhan hidup
misalnya) pada titik suatu penyelesaian (pemenuhan kebutuhan hidup misalnya)
dengan cara-cara yang paling lurus/benar, ringkas, cepat, efisien-efektif, sederhana.
Ia juga bisa dimaknai bagaimana membawa suatu titik persoalan keduniaan ini
menjadi wasilah untuk mencapai atau menuju kepada titik tujuan di akhirat
dengan cara-cara yang paling benar, paling lurus, paling ringkas, paling efisien-
efektif, paling cepat dan selamat. Maka prinsip dan kaedah itu bisa disebut dengan
Al-Qashdu atau Iqtishad.

12
Iqtishad juga identik dengan mashlahah, apa yang jadi tujuan dari ber-iqtashada
adalah mencapai keselamatan, kemashlahatan, oleh karena itu ada pula kita
mengenal istilah „maqoshidu syari‟ah‟, bahwa apa yang menjadi tujuan dari syari‟ah
(al-muhkamat) adalah kemashlahatan (keberesan, kelurusan, ishlah) di dunia dan di
akhirat. Adapun lawan dari mashlahah adalah mafsadat, yaitu terciptanya „fasad‟;
kerusakan (corrupt) yang bersifat merusakkan, riba adalah salah satu contoh di
antara fasad yang bersifat membinasakan, dosa besar yang bersifat membinasakan,
yang kerusakannya bersifat menular dan meluas.

Maqashid syariah, sebagai istilah, sebagai konsep, sebagai prinsip atau nilai-nilai yang
hendak dicapai dari syariat (al-muhkamat), yang diekstrak dari prinsip ajaran Islam
(Al-Quran dan Sunnah) yang direvisi dan dipopulerkan oleh Imam Syatibi, dan
istilah Iqtishad, keduanya berasal dari akar kata yang sama yaitu qa-sha-da, maka
makna-maknanya akan saling terkait bahwasanya Maqashid Syariah dan Iqtishad
adalah nilai-nilai, suatu prinsip, suatu sikap, perbuatan yang mengupayakan
mashlahat (keberesan, keselamatan, ishlah, kesejahteraan) dan menghindari atau
mencegah mafsadat (kerusakan, kezaliman, kecelakaan) baik dalam urusan
keduniaaan ataupun urusan akhirat.

Iqtishad merupakan nilai-nilai kebijaksanaan, nilai-nilai moral praktis, suatu prinsip
kebaikan yang umum dan universal yang merupakan bagian dari kenabian.
Sebagaimana yang telah diriwayatkan dalam hadits berikut:

Dari Ibnu Abbas ‫ر‬, Rasulullah ‫ ز‬bersabda:

‫ جزء من خمسة وغشرٌن جزءا من النبوة‬،‫ واالقتصاد‬،‫ والهدي الصالح‬،‫السمت الصالٌح‬
“Perilaku yang baik, bimbingan yang baik dan berlaku lurus (al-iqtishad) adalah bagian dari 25 bagian
kenabian”

Al-Qashdu dan iqtishad memang makna dasarnya atau makna permulaannya
adalah suatu istilah dan prinsip nilai yang bersifat umum, yang bisa diaplikasikan
kepada berbagai macam aspek yang luas. Misalnya dalam salah satu kitab karangan
Imam Al-Ghazali “Iqtishad fil Al-I‟tiqad” (bersikap pertengahan/lurus dalam
berkeyakinan atau berakidah) adalah suatu contoh Al-Qashdu dalam hal agama
(dien), yang menandakan bahwa filosofi atau nilai-nilai kebijaksanaan Al-Qashdu
atau Iqtishad sebetulnya merupakan nilai-nilai yang universal yang bisa diterapkan
dalam berbagai aspek. Apabila dikaitkan dengan maqashid syariah, maka maqashid
syariah dengan filosofi Al-Qashdu adalah:

(1) Hifzud dien: memelihara agama; dengan cara bersikap iqtishada; lurus, adil,
sederhana, seimbang dalam agama, tidak ghulluw, dan tidak mengkorupsi
atau mereduksi agama.

13
(2) Hifzun nafs: memelihara diri; dengan cara bersikap iqtashada; lurus, adil,
sederhana, seimbang pada hak diri; yaitu hak badan dan hak jiwa, hak
jasmani dan hak ruhani.
(3) Hifzul aql: memelihara akal; dengan cara bersikap iqtashada; lurus, adil,
sederhana, seimbang pada pendayagunaan akal; mendayagunakan iman dan
akal secara seimbang, tidak merusak akal dengan hal-hal yang merusak akal,
mendayagunakan akal untuk menciptakan manfaat, mencari ilmu,
mengembangkan ilmu dan lain-lain.
(4) Hifzul mal: memelihara harta; dengan cara bersikap iqtashada: lurus, adil,
sederhana, seimbang pada pendayagunaan harta benda dan sumber daya,
tidak merusak sumber daya (bumi), yaitu berlaku eksploitatif dan
menciptakan krisis; krisis pangan, krisis energi, krisis keuangan, dan lain-
lain.
(5) Hifzun nasl: memelihara generasi (keturunan); dengan cara bersikap
iqtashada; lurus, adil, sederhana; memelihara generasi yaitu makhluk hidup;
a. Manusia
b. Hewan
c. Tanaman
d. Dan makhluk-makhluk hidup lainnya yang kesemuanya adalah
suatu bangunan ekosistem yang membangun keseimbangan
kehidupan dan keberlanjutan kehidupan (sustainability).

Namun Al-Qashdu atau Iqtishad dalam makna yang khusus (makna khos) adalah
dalam makna yang lebih menyempit yaitu Al-Qashdu atau Iqtishad yang terkhusus
berkaitan dengan harta perbendaharaan (sumber daya), maka ringkasnya; Al-Qashdu
atau Iqtishad maknanya yaitu; Al-Qashdu Fil mal atau Iqtashada fil mal, di antara hal
yang menunjukkan makna khususnya yaitu hadits Nabi ‫ ز‬berikut:

HR. Ahmad, dari Ibnu Abbas ‫ر‬:
‫ما عال من اقتصد‬
“Tidak akan miskin/kekurangan orang yang bersikap iqtashada (adil, sederhana, lurus) pada harta”

HR. Baihaqi, dari Ibnu Abbas ‫ر‬:

‫االقتصاد فً النفقة نصف المعٌشة‬
“Berhemat dalam pengeluaran adalah setengah (bagian) dari penghidupan”

Dan juga perkataan di dalam kitab Ulama Ibnu Abid Dunya “Ishlahul Mal” di
dalam bab “Al-qashdu fil mal”:

‫ و باب السالمة االقتصاد‬،‫حسن التدبٌر مفاتح الرشد‬
“Pengelolaan yang baik (husnut tadbir) adalah kunci-kunci untuk keberesan dan pengelolaan yang
lurus (iqtishad) adalah pintu keselamatan”

14
Berdasarkan hal-hal yang telah dijelaskan diatas maka, makna Iqtishad kaitannya
dengan „tata kelola harta benda‟ atau ekonomi yaitu; ia mengandung makna dan
prinsip berupa; (1) lurus dan adil dalam perolehan harta; yaitu tidak berlaku zalim,
tidak berlaku menindas (eksploitatif), (2) bersikap sederhana atas harta; yaitu
bersikap qonaah dan zuhud, dan sesuai keperluan atas harta, (3) ringkas, efisien-
efektif dalam penggunaan harta; tidak berlebih-lebihan, sesuai dan tepat dalam
alokasi, (4) bersikap pertengahan dan seimbang; yaitu tidak bakhil dan tidak israf,
(5) penggunaan harta adalah untuk keberesan (terpenuhinya kebutuhan hidup),
untuk kemashlahatan (tercapainya ishlah) dan mencegah dhururat, menjauhi
penciptaan mafsadaat atau mencegah penciptaan mafsadaat.

Al-Qashdu yang menurunkan istilah Iqtishad merupakan filosofi yang genuine, yang
fitrah yang lahir dari Islam itu sendiri, yang mengandung perangkat positif dan
normatif yang mendasari cara bersikap terhadap harta di dalam Islam. Maka dari
itu, selain dari semua istilah yang telah disebutkan sebelumnya, dari semua istilah
yang ada yang ditujukan untuk makna atau mengacu pada makna „ekonomi‟, ada
satu lagi istilah yang lahir di dunia Islam, satu istilah yang sering dikaitkan dengan
kegiatan „tata kelola perbendaharaan‟; yang disebut Tadbir (dalam bahasa arab)
atau disebut Oikonomia di Yunani. Istilah itu ialah Iqtishad. Iqtishad juga sering
dimaknai dan dikaitkan dengan „tata kelola harta benda‟ atau „ekonomi‟
(Oikonomia atau Tadbir), namun ia tidak hanya memuat kegiatan „tata kelola harta
benda‟ itu sendiri secara positif tetapi juga memuat perangkat dan kebijaksanaan
moral Islam atau nilai-nilai Islam yang bersifat universal.

Kendatipun demikian, namun, belum ada istilah yang tersepakat dalam dunia
Islam, istilah yang digunakan untuk (menamai) disiplin ekonomi yang lebih
universal dan sekaligus menunjukkan jati diri Islam atau sesuai dengan identiti
Islam itu sendiri, para ulama zaman dahulu sendiri hanya menggunakan istilah-
istilah yang sangat sederhana dan umum, hanya saja beberapa ulama pernah
menyebutnya sebagai Tadbir Al-Manzil, namun sering juga Tadbir (atau Tadbir Al-
Manzil) dikaitkan dengan Iqtishad. Istilah Iqtishad sendiri dipromosikan kembali
di zaman modern oleh Muhammad Iqbal pada akhir-akhir abad belakangan sebagai
respon untuk ekonomi barat-modern sekuler serta hegemoninya ke atas dunia
Islam pasca zaman kolonial. Sekarang dunia Islam boleh menggali kembali
khazanah/wawasan keilmuan Islam dan boleh berdialek dan bersepakat kembali,
istilah apakah yang tepat untuk memaknai tata kelola harta benda atau ekonomi
yang sesuai dengan jati diri Islam (berlandaskan tatanan moral Islam sesuai dengan
Al-Quran dan Sunnah)?

Selepas munculnya peradaban Barat-Modern yang kemudian terus berlanjut
dengan meluasnya pengaruh peradaban Barat-Modern ke atas dunia juga
mempromosikan secara aktif konsepsi-konsepsi ilmu, filosofi dan ideologinya ke
seluruh dunia, termasuk disiplin ilmu dan praktek ekonomi modern. Misi

15
memperadabkan dunia yang disokong kekuatan milter yang telah maju atas
bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang militer yang telah
mengalami dan melewati perubahan revolusioner, serta perangkat politik dan
ideologinya menuai keberhasilan. Barat kemudian menjadi pusat menara ilmu
pengetahuan dunia, dunia kemudian menggunakan bahasa latin dan Inggris untuk
ilmu pengetahuan dan bahasa internasional, begitu juga untuk disiplin ilmu
ekonomi modern. Di saat yang bersamaan dunia Islam sedang merosot
peradabannya bersama alam materi ekonominya baik oleh karena serangan
peradaban Barat-Modern itu sendiri ataupun oleh karena kelemahan moral dunia
Islam. Dunia Islam takluk di bawah tatanan sekuler dan dengan terpaksa
mengikuti, mensepakati atau bersedia menerima konsepsi-konsepsi dan sistem
hidup tatanan peradaban dunia sekuler yang telah diprakarsai kaum Barat-Modern.
Selain itu, semenjak dunia dipersaksikan dengan perseteruan dua faham ekonomi;
ekonomi liberalis-kapitalis vs ekonomi sosialis-komunis, dunia Islam mulai merasa
perlu mencari konsepsi-konsepsi ekonomi yang berdasarkan nilai-nilai Islam, dan
berupaya kembali kepada Al-Quran dan sunnah, karena melihat konsepsi-konsepsi
ekonomi Barat-Modern (baik liberalis-kapitalis maupun sosialis-komunis) tidak
pernah menuntaskan atau mengentaskan masalah; baik itu kemiskinan abadi kaum
proletar dan eksploitasi terhadapnya ataupun mimpi kaum sosialis-komunis yang
utopis. Maka dari itu muncullah istilah „ekonomi islam‟ sebagai respon/reaksi
spontan dan natural sebagai reaksi dialek dunia Islam dengan dunia Barat, ia juga
adalah reaksi pembahasaan, ia adalah reaksi bahasa sebagai konsekwensi dalam
suatu situasi dominasi bahasa inggris yang menjadi bahasa sentral dunia, istilah
„ekonomi islam‟ atau „islamic economic‟ menjadi bahasa paling praktis untuk
mempromosikan ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam atau bersumber dari
nilai-nilai Islam (Al-Quran dan Sunnah) baik untuk dunia secara umumnya atau
dunia Islam sendiri, ummat Islam percaya hanya dengan cara kembali kepada Al-
Quran dan Sunnah saja lah jalan yang dapat mengeluarkan ummat dari masalah-
masalah ekonomi modern.

Di samping itu pula selepas kedatangan dunia modern-sekuler ke atas dunia Islam,
lebih khususnya di abad 19 istilah Iqtishad dipromosikan kembali oleh
Muhammad Iqbal dengan buku yang dikarangnya berjudul ilm al-iqtishad (1930). Ia
adalah buku yang ditulis oleh Iqbal yang berdialek dengan fenomena dunia
modern, berdialek dengan pemikiran ekonomi dunia modern; manakala saat itu
disiplin ilmu ekonomi barat-modern sedang trending di barat yang membicarakan
pemikiran tokoh-tokohnya; Adam Smith, David Ricardo, Alfred Marshal, dan lain-
lain, Iqbal yang berdialek dengan praktek ekonomi barat-modern internasional
yang eksploitatif dan kapitalistik terhadap kaum bawah dan anak benua india dan
dunia ke tiga dalam masa transisi pasca era kolonialisme. Ilm al-Iqtishad adalah buku
yang pertama kali untuk dunia Islam yang berbicara konsepsi ekonomi Islam dan
dalam bahasa urdhu dalam masa pasca modern. Ia menjelaskan mengenai

16
pertumbuhan yang pantas, distribusi harta, pengeluaran, konsumsi dan populasi,
yang syarat akan isu sosial yang kritis. Dalam menulis bukunya Iqbal
mempromosikan istilah Iqtishad untuk dunia Islam untuk ekonomi, ia
menerangkan bahwa Ilmu Iqtishad adalah ilmu akhlak (ekonomi adalah human
culture dengan moral/akhlak sebagai tatanannya), Ilmu Iqtishad adalah ilmu strategi
mengelola/membangun peradaban “ilm siyasah al-madan” (strategi mengelola
sumber daya yang ada untuk membangun sebuah peradaban dan masyarakat yang
baik).

Yang selanjutnya terjadi lebih dramatis, di dalam dunia Islam, sementara terdapat
berbagai macam upaya yang terjadi; di satu sisi upaya kaum barat-modern yang
mempromosikan, menyusupkan atau menularkan, mensepakatkan konsepsi-
konsepsi, filosofi, ideologi, cara pandang, praktek sistem hidup yang materialistis
dan sekuler (dalam bidang ekonomi, pendidikan, politik) ke atas dunia (dan dunia
Islam khususnya), di satu sisi upaya kaum muslimin yang mencoba kembali kepada
Islam yang sejati, upaya kembali kepada petunjuk Al-Quran dan Sunnah. Maka
dampaknya juga terjadinya upaya pemaknaan dan konsepsi-konsepsi secara alot atas
ekonomi dari istilah-istilah yang muncul tersebut; yaitu istilah „ekonomi islam‟ atau
„islamic economic‟ dan bahkan juga istilah Iqtishad yang telah dipromosikan kembali
pasca abad ke 19.

Lalu sebetulnya istilah apakah yang tepat untuk digunakan dunia Islam untuk
menamai „ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam; Al-Quran dan Sunnah‟?
apakah cukup menggunakan „ekonomi islam‟ ataukah kembali menggunakan
„Iqtishad‟ sebagai istilah yang sudah ada bahkan sebagai istilah yang dilahirkan dari
Al-Quran di mana ia juga bisa ditelusuri ada dalam Hadits? Dan bagaimana pula
cara memaknai istilah-istilah tersebut?

Bila kita menggunakan Iqtishad sebagai istilah atau nama untuk ekonomi islam
yang sejati, makna istilahi „am-nya boleh kita fahami sama dengan makna ekonomi
atau economy atau oikonomi yaitu dengan makna; „tata kelola harta secara
hemat/cermat/tepat‟. Namun, dalam makna intinya yaitu makna istilahi khos-nya
(terminologi spesifik) tentu saja Iqtishad dan Ekonomi memiliki perbedaan yang
sangat jauh oleh karena makna inti dari masing-masing istilah tersebut, dibangun
berdasarkan filosofi, ideologi, cara pandang yang melandasinya. Ekonomi (makna
yang dikembangkan oleh filosofi Barat-Modern) defenisinya (makna intinya)
adalah; “kegiatan manusia (individu maupun kolektif) dalam memenuhi kebutuhan hidup
yang tak terbatas yang dihadapkan pada sumber daya yang terbatas”, adapun Iqtishad
(sebagai makna yang tidak terlepas dari filosofi yang melahirkan istilahnya yaitu Al-
Qashdu) defenisinya (makna intinya) adalah; “kegiatan manusia (baik individu maupun
kolektif) mengelola harta benda (yakni; sumber daya yang tersedia untuk pemenuhan
kebutuhan hidup) dengan cara-cara yang benar/lurus sesuai ketentuan (syariat, nilai-nilai
Islam, Al-Quran dan Sunnah), seimbang dan adil”
17
Adapun kemunculan istilah „ekonomi Islam‟ bersamaan juga promosi kembali
istilah „Iqtishad‟, membuat dunia Islam kebingungan akan istilah-istilah ini dan
juga pemaknaannya. „ekonomi Islam‟ dan „iqtishad‟ pada awalnya memang
dimaksudkan memiliki makna istilahi yang sama. Jika „ekonomi Islam‟ yang
dimaksud itu adalah; „ekonomi yang sesuai nilai-nilai Islam; Al-Quran dan Sunnah‟,
maka Iqtishad pun juga dimaksudkan bermakna demikian; „ekonomi yang sesuai nilai-
nilai Islam; Al-Quran dan Sunnah‟. Oleh karena itu maka pada awalnya selepas
kedatangan era modern (pasca modern), ekonomi Islam dan Iqtishad berangkat
dari makna yang sama, makna ini bisa kita sebut atau kategorikan sebagai makna
istilahi „am-nya (terminologi umum).

Istilah „ekonomi Islam‟ sebetulnya hanya sebagai respon spontan saja, respon yang
terjadi ketika dunia Islam dihadapkan dengan kemajuan/kegemilangan dunia
saintifik Barat-Modern dan penerapannya terkhusus dalam hal ekonomi dan
takluknya dunia Islam dengen hegemoni serta dominasi ekonomi Barat-Modern
dalam suatu kondisi bahasa dunia diambil alih oleh bahasa barat (inggris, latin,
yunani, prancis dan lain-lain). Maka „ekonomi islam‟ adalah bahasa, adalah reaksi
spontan untuk mempromosikan ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam atau
ekonomi dari Islam, ekonomi versi Islam. Walaupun demikian, istilah iqtishad
kekuarangannya walaupun sudah dipromosikan kembali oleh Muhammad Iqbal,
dia ibarat suara yang kalah nyaring yang tidak terpromosikan secara maksimal dan
seluas promosi istilah „ekonomi islam‟. Namun juga, „ekonomi islam‟ dibandingkan
dengan Iqtishad, Istilah Iqtishad memang lebih lugas dan jelas bahwa ia berasal
dari khazanah, alam pemikiran, wawasan Islam yang diturunkan dari Al-Quran dan
hadits, sedangkan „ekonomi Islam‟ sebagai istilah yang dibangun dengan
menggabungkan dua kata „ekonomi‟ dan „islam‟ bisa menimbulkan multitafsir
terhadap pemaknaannya.

Setelah ini pun, keadaannya akan lebih alot dan dramatis lagi yaitu, kendatipun
istilah „ekonomi islam‟ lebih tenar dari pada „iqtishad‟. Istilah iqtishad sebetulnya
telah diterima dunia Islam, dan diakui dunia Islam untuk makna „ekonomi‟,
namun yang menjadi titik masalahnya adalah; istilah iqtishad itu sendiri hanya
diterima (oleh dunia Islam mayoritasnya) hanya sebatas makna lughowi, yaitu dia
hari ini dapat kita ketahui digunakan sebagai terjemahan resmi ke bahasa arab
untuk ekonomi, namun Iqtishad, makna istilahi „am-nya (terminologi umum)
maupun makna istilahi khos-nya (terminologi khusus atau makna intisari) tidak
diterima, tidak lagi ditelaah, bahkan diabaikan begitu saja, sehingga makna-makna
ini hilang ditelan penafsiran makna-makna yang lain, terlebih lagi ketika iqtishad
hanya difahami secara makna lughowi-nya saja muncul tindakan menambahkan kata
„islami‟ padanya, menjadi „iqtishadul islami‟. Maka dari itu istilah „iqtishadul islami‟
tidak ada bedanya dan bisa disepadankan dengan istilah „ekonomi Islam‟ atau
„islamic economic‟, bahkan (ketika istilah kata iqtishad hanya difahami secara

18
lughowi saja) „Iqtishad‟ maknanya dianggap sama atau sepadan dengan „ekonomi‟
atau „oikonomia‟ atau „economy‟. Nah kemudian, apakah konsekwensi dari
menanggap atau menerima istilah iqtishad hanya sekedar makna lughowi-nya saja,
lantas kemudian menambahkan kata „islami‟ padanya, menjadi „iqtishadul islami‟?
maka yang terjadi kemudian adalah, terjadinya penafsiran yang rancu atau multi
tafsir, misalnya; seolah menganggap istilah iqtishad itu sendiri belum lah islami,
maka dari itu perlu ditambah kata „islami‟, begitupun pula setelah ditambah kata
„islami‟ menjadi „iqtishadul islami‟ akan ditafsirkan berdasarkan kerangka makna
yang berasal dari „islamic economic‟ atau „ekonomi islam‟ yang sudahpun
disalahtafsirkan secara rancu. Maka istilah „iqtishadul islami‟ belum tentu istilah yang
islami, tetapi ia hanya sebagai terjemahan resmi ke dalam bahasa arab untuk istilah
„islamic economic‟ atau „ekonomi islam‟, di mana ia malah diturunkan, dilahirkan
berasal dari istilah kata „islamic economic‟ atau „ekonomi islam‟, „iqtishadul islami‟
bukan istilah yang berdiri indipenden yang melahirkan dirinya sendiri. Penafsiran
yang salah dan rancu bagaimanakah yang dimaksud? Yaitu penafsiran istilah
„ekonomi islam‟ (atau „islamic economic‟ atau „iqtishadul islami‟) bersama-sama
dengan makna sebatas istilahi „am-nya; „ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam; al-
quran dan sunnah‟, dimaknai sebagai „ekonomi “islam” yang disesuaikan dengan
konsepsi, teori dan praktek ekonomi yang dibangun berlandaskan filosofi/ideologi
materialistik sekuler‟. Maka pantaskah kita menyebut ekonomi yang sejatinya tidak
sesuai dengan nilai-nilai Islam; Al-Quran dan Sunnah, kemudian menyebutnya
sebagai „ekonomi islam‟, menyebutnya sebagai „ekonomi yang sesuai dengan nilai-
nilai Islam; Al-Quran dan Sunnah‟.

Oleh karena itu, istilah apapun itu, apakah ekonomi, economy atau iqtishad
sekalipun yang kemudian ditambahkan atau disematkan kata „Islam‟ padanya,
namun ternyata ia adalah ekonomi yang tidak sesuai dengan „nilai-nilai Islam; Al-
Quran dan Sunnah‟ maka kata „Islam‟nya hanyalah sekedar nama saja, „Islam‟nya
hanya tinggal nama saja. Atau mensematkan kata „syariah‟ padanya maka
syariahnya bukanlah syariat Nabi Muhammad, bukan syariat ummat Nabi
muhammad, melainkan syariat ummat lain selain ummat Nabi Muhammad ‫ز‬.

Oleh karena itu, bila kita menggunakan istilah „ekonomi islam‟ (atau „islamic
economic‟ atau „iqtishadul islami‟); istilah yang menggabungkan dua kata yaitu kata
„ekonomi‟ dan „islam‟ dan lain sebagainya, kita menggunakan istilah tersebut
sejatinya hanya sekedar fungsi lughowi atau istilahi „am-nya saja untuk „ekonomi yang
sesuai dengan nilai-nilai Islam; Al-Quran dan Sunnah‟, namun istilah yang kita gunakan
untuk „identiti asli‟ ekonomi islam atau „ekonomi yang sesuai dengan nilai-nilai
Islam; Al-Quran dan Sunnah‟ yang sejati, istilah yang mengandung makna inti,
maka sebetulnya sudah cukup hanya menyebutnya dengan istilah kata „Iqtishad‟
saja (tanpa perlu menambah kata „islami‟ atau menggunakan „gabungan dua kata‟
yang menimbulkan penafsiran yang rancu/multitafsir), yang mana istilah „iqtishad‟

19
ini pun sudah cukup unggul bila difahami berlandaskan filosofi yang melatarinya
(filosofi Al-Qashdu), sehingga Iqtishad bisa diterima dan difahami makna istilahi „am-
nya dan makna isitilahi khos-nya. Istilah Iqtishad yang difahami dengan makna yang
lengkap lebih tepat menjadi identiti, jati diri prinsip-prinsip atau nilai-nilai Islam
dalam ekonomi dan ia mengandung makna yang berlawanan dengan makna istilahi
„ekonomi‟ („oikonomia‟ atau „economy‟) yang pemaknaannya telah dibangunkan
oleh filosofi dan ideologi barat-modern yang melandasinya (yaitu materialisme dan
sekulerisme).

Oleh karena itu ekonomi Islam mesti kita bangun maknanya sama dengan makna
Iqtishad secara sempurna yang memiliki makna istilahi „am sebagai; „ekonomi yang
sesuai dengan nilai-nilai Islam; Al-Quran dan Sunnah‟, dan dengan istilahi khos (makna
inti); “kegiatan manusia (baik individu maupun kolektif) mengelola harta benda (yakni;
sumber daya yang tersedia untuk pemenuhan kebutuhan hidup) dengan cara-cara yang
benar/lurus sesuai ketentuan (syariat, nilai-nilai Islam, Al-Quran dan Sunnah), seimbang
dan adil”, hanya ini pemaknaan yang bisa kita terima sebagai pemaknaan yang tepat.

Oleh karena itu yang disebut dengan „ekonomi Islam‟ yang sejati atau kita bisa
menyebutnya „iqtishad‟, itu harus memiliki ciri sebagai berikut (baik konsep, teori
maupun prakteknya):

1. Sesuai ketentuan atau lurus (sesuai dengan nilai-nilai Islam, ketentuan
Allah dan RasulNya; Al-Quran dan Sunnah), misalnya;
a. Benar dalam cara memperolehnya/pemasukannya (tidak Riba),
benar pula dalam cara pemanfaatan/pengeluarannya [sesuai dengan
yang digariskan Allah dan RasulNya; untuk kebutuhan hidup –
menegakkan hidup (untuk ibadah), untuk fi sabilillah, bukan untuk
melanggar „tatanan moral‟ dan melanggar halal-haram, untuk
membangun mashlahah (ishlah dan manfaat) bukan membangun
mafsadat (fasad; bersifat rusak dan merusakkan)].
b. Bersikap sederhana, qonaah, zuhud atas harta (tidak cinta harta,
tidak berfilosofi materialisme, individualisme, kapitalisme; yang
melahirkan sifat tamak atas harta)
c. Bersikap hemat, cermat, ringkas, efisien-efektif atas harta
d. Bersikap moderat atas harta; tidak bakhil tidak juga ishraf
2. Seimbang (tidak ada tambahan/keuntungan (ziyadah) yang diperoleh
seseorang tanpa haq, seseorang memperoleh sesuatu secara haq, tidak ada
yang merusak fithrah ekonomi, tidak ada yang merusak keseimbangan
ekonomi)
3. Adil (di dalamnya tidak terdapat kezaliman/ketidakadilan; la tazhlimun wala
tuzhlamun)

20
I.IV
Sistem Ekonomi: Barat-Modern vs Islam
Kehidupan dalam pandangan Barat-Modern adalah sebuah tatanan positif-sekuler;
aturan positif-sekuler (akal/logika yang dibebaskan dari panduan moral) sebagai
aturan yang paling tinggi, di mana konsekuensinya aturan moral tunduk dibawah
otoritas aturan positif-sekuler. Di dalam tatanan positif-sekuler, peran Tuhan tidak
wujud didalam kehidupan, tetapi manusia itu sendiri dengan akalnya adalah tuhan,
manusia lah yang menentukan arah dan cara berkehidupan. Pandangan ini yang
menentukan cara berekonomi dan sistem ekonomi yang dibangunkan oleh Barat
untuk kehidupan.

Sekalipun demikian, kaum barat-modern yang telah mendayagunakan akal
sedemikian rupa telah berhasil membuat kemajuan dalam hal alam materi (tidak
dalam hal spiritual), ketika akal dibebaskan dari hambatan-hambatan (dengan
menganggap panduan moral juga sebagai hambatan) akal telah meruntuhkan
tatanan moral agama dan menggantinya dengan tatanan sekuler. Di satu sisi,
kemaujuan yang dihasilkan alam materinya membawa peradaban Barat menjadi
peradaban yang unggul tak tertandingi secara kekuatan dan kekuatannya
dimanfaatkan untuk memperbesar pengaruh dan hegemoninya ke seluruh dunia.
Peradaban Barat-Modern telah menjadi prakarsa atas misi pewujudan tatanan
dunia baru (dunia modern) (tidak terkecuali lewat aksi penjajahannya ke atas
dunia).

Bersamaan dengan pengaruh dan kekuasaan Barat ke atas dunia, konsepsi yang
dipromosikan dan disepakatkan ke atas dunia oleh Barat juga termasuk dalam hal
cara berekonomi dan sistem ekonomi modern sebagai cara berekenomi yang baku
yang bisa diterima secara internasional. Sekalipun setelah faham-faham
ekonominya mengalami koreksi-koreksi, misalnya dari perseteruan paham sistem
ekonomi kapitalis-liberalis vs ekonomi sosialis-komunis, pada akhirnya melahirkan
faham-faham baru – neo-isme, neo-isme – yang lebih soft dan mutakhir yang lebih
mengukuhkan sistem ekonomi modern. Sistem ekonomi modern yang telah
berlaku ke atas dunia sejatinya adalah produk tatanan sekuler, produk dari faham
sekuler yang mengkesampingkan panduan moral; bahkan dalam arti aturan moral
harus sesuai atau tunduk di bawah aturan positif-sekuler (logika yang bebas dari
panduan moral). Satu hal yang paling pasti, apapun faham ekonomi dunia modern
(baik itu kapitalis-liberalis, sosialis-komunis, atau pun gabungan atau modifikasi
dari faham-faham baru/neo dari isme-isme itu) bahwa ketika ditinjau dalam sudut
pandang Islam sistem ekonomi modern yang diwujudkan kaum Barat-Modern
adalah sistem ekonomi yang curang (fraud), menindas, tidak adil di mana riba
menjadi unsur utama yang tidak pernah menerima koreksi sama sekali dari sistem

21
ekonomi modern (walaupun setelah berkali-kali mengalami koreksi dari
perseteruan faham-fahamnya).

Kehidupan dalam pandangan Islam yang berlandaskan keimanan kepada Allah
adalah sebuah tatanan moral (morale code); aturan moral adalah aturan yang
memandu akal manusia di mana aturan positif (logika) tunduk di bawah otoritas
aturan moral. Manusia akan mendapatkan arah dan cara berkehidupan yang benar
melalui petunjukNya dengan mengikuti aturanNya sebagai sebuah moral code. Oleh
karena itu, di dalam faham Islam maka cara berkehidupan, cara berekonomi dan
sistem ekonomi yang dibangun untuk menyokong kegiatan berekonomi (praktik
bermuammalah), haruslah sesuai dengan panduan moral.

Bagaimanakah kegiatan berekonomi dalam kehidupan dengan tatanan moral?
Islam sebagai cara hidup dengan tatanan moral, memiliki syariat (panduan
moral/code) yang diturunkan (diwahyukan) kepada manusia sebagai kebijaksanaan
praktis yang dapat diperoleh manusia dari Tuhan untuk menghindarkan manusia
dari marabahaya dan memperoleh manfaat demi nasib kehidupannya, bahwa
dalam berkegiatan ekonomi (praktik muammalah) itu tidak berlaku kezaliman baik
dalam perolehannya dan pemanfaatan/pengeluarannya. Dalam perolehannya tidak
boleh zalim; curang, menindas, merugikan orang lain, begitupun dalam
pemanfaatan/pengeluaran (harta) tidak boleh zalim; melanggar ketentuan-
ketentuan yang digariskan mengenai apa yang halal (dibolehkan) dan apa yang
haram (dilarang) dan harus juga mematuhi ketentuan-ketentuan yang wajib seperti
misalnya; menunaikan/mengeluarkan sebagian harta yang ditentukan berdasarkan
ketentuan-ketentuan syariat. Tetapi panduan moral yang paling umum, paling
mudah dipahami dan menjadi titik penting dalam kegiatan berekonomi itu ialah;
dalam memperoleh harta tidak boleh berlaku dengan cara curang atau culas
(Quran, Surat Al-A‟raf 7: 85, Quran, Surat Hud 11: 84-85, Quran, Surat Asy-
Syu‟ara 26: 181-183).
          

          
Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu Termasuk orang- orang yang merugikan;
Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus.
Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka
bumi dengan membuat kerusakan; (Quran, Surat Asy-Syu‟ara 26: 181-183)

Dalam tatanan moral Islam kegiatan berekonomi (praktik bermuammalah) itu
keadilan harus tegak, di mana; sesorang tidak dapat dibenarkan menuntut
keuntungan tanpa timbal balik atau kompensasi atau bayaran yang setimpal (atas
keuntungan yang diperoleh tersebut). Keuntungan yang seperti ini contoh yang
paling umumnya adalah tindak pencurian, perampokan, penipuan; di mana

22
keuntungan diperoleh secara cuma-cuma tanpa ada timbal balik atau kompensasi
atau bayaran yang setimpal pada korbannya.

Bagaimana kegiatan berekonomi dalam kehidupan dengan tatanan positif-sekuler ?
Seandainya seseorang melakukan tindak pencurian, perampokan, penipuan baik
itu oleh sudut pandang positif-sekuler maupun oleh sudut pandang Islam sepakat,
ia adalah pelanggaran, sebuah pelanggaran kemanusiaan dan ia dapat diadili di
depan hukum. Akan tetapi lain halnya dengan riba, apabila mengacu kepada kitab-
kitab suci agama baik itu Islam (Quran, Surat Ar-Rum 30: 39, Quran, Surat An-
Nisa 4:161, Quran, Surat Ali Imran 3: 130, Quran Surat Al-Baqarah 2: 275-278),
Yahudi (Taurat; Eksodus 23: 24-25, Mazmur: 15, Yehezkiel 18: 5-9, Imamat 25: 35-
37, Ulangan 23: 19-20) dan Nashrani (Injil; Lukas 6: 34-35, Matius 25: 14-27, 21:
12-13) serta siapapun juga yang mereka berpegang teguh terhadap „tatanan moral‟
pasti mengenali riba adalah amalan yang dikutuk dan dilarang apapun juga bentuk
ribanya. Namun riba ini adalah perkara yang susah dimengerti dan tidak banyak
manusia yang dapat mengenali apa itu riba dan apa bentuk-bentuk riba. Barangkali
perkara yang paling kritis pertentangannya antara tatanan positif-sekuler dengan
tatanan moral mengenai cara berekonomi (praktik bermuammalah) adalah
mengenai riba.

Esensi riba sama halnya dengan semua jenis dan bentuk praktik muammalah yang
mengandung esensi kecurangan. Riba artinya ziyadah; yaitu tambahan. Tambahan
(atau keuntungan) yang diperoleh tanpa timbal balik atau kompensasi atau bayaran
yang dibenarkan atau tanpa timbal balik atau kompensasi atau bayaran yang
setimpal. Ada banyak bentuk riba, akan tetapi bentuk riba yang paling umum yang
dikenali adalah lebihan yang dituntut dari pokok pinjaman, yakni bunga pinjaman
(Quran, Surat Al-Baqarah 2: 278).

Faham positif-sekuler berdalih bunga pinjaman tidak dipandang sebagai riba yang
telah diharamkan agama-agama (bila bunganya ringan atau tidak berlipat-ganda)
atau seandainya ia dipandang sebagai riba, bunga pinjaman adalah konsekuensi
wajar sebagai harga dari uang (atau harga sewa dari uang/modal) atau ia adalah
kompensasi atas nilai uang di masa depan yang lebih kecil nilainya dibanding
dengan nilai uang di masa sekarang dan dengan berbagai alasan masuk akal
lainnya; bunga penting untuk stimulus pembangunan ekonomi dan bisnis. Bila
sudah demikian, maka di dalam pandangan positif-sekuler menganggap segala
sesuatu ada harganya; dalam arti semuanya bisa dibeli dan dijual, semua hal bisa
menjadi komoditas yang boleh diperjualbelikan.

Dalam pandangan moral, tidak semua hal bisa dan boleh diperjualbelikan. Seperti
misalnya; adakah uang di dalam Islam sebagai komoditas? Ataukah uang bukan
komoditas melainkan hanya alat tukar yang tidak boleh mengambil untung dari

23
pada pertukarannya atau menuntut sewa dari padanya. Seperti misalnya; islam
menentang perbudakan, manusia tidak boleh dijual, manusia harus dimerdekakan,
akan tetapi manusia yang memerangi kemanusiaan mungkin dapat tergadai dirinya
kepada perbudakan sebagai akibat kejahatannya yang memerangi kemanusiaan.
Namun sejatinya manusia yang baik haruslah merdeka, dan kehadiran islam
sejatinya adalah menghapuskan perbudakan di atas dunia yang mana kala pada
masa terjadi perbudakan, penghapusan perbudakan harus dilakukan secara
bertahap.

Seseorang atau siapapun yang memperbudak manusia tanpa suatu alasan yang
benar, adalah tindak kejahatan terhadap kemanusiaan yang ia pantas mendapatkan
hal semisalnya atau hal yang setimpal; yakni perbudakan itu sendiri. Riba dalam
pandangan islam menurut Syaikh Imran Hosein, telah digunakan dalam sistem
keuangan modern sebagai alat perbudakan yang canggih yang lebih modern, lebih
soft dan mutakhir. Pelaku praktik riba sejatinya telah membeli
kebebasan/kemerdekaan manusia, selain dari pada itu secara bersamaan riba
membuka jalan bagi pelakunya untuk memperoleh kekayaan cuma-cuma yang
digunakan sebagai kekuatan dan kekuasaan dan pada akhirnya kekuatan dan
kekuasaan digunakan untuk tujuan-tujuan atau misi-misi tertentu. Maka dari itu,
bila pelaku praktik riba itu adalah seorang yang kafir yang tidak bertuhan (di mana
apa yang dikhawatirkan itu nyatanya terjadi saat ini yaitu elit predator politik global
barat-modern tak bertuhan) yang memiliki misi memperadabkan dunia (civilize the
people) dalam suatu peradaban sekuler, adapun korban dari pada sistem ribawi itu
adalah seorang yang beriman. Maka risiko dan dampak kerusakan (fasad) terbesar
yang dapat menimpa seorang beriman dari praktik riba ialah bencana kesyirikan, di
samping kekufuran dan kezaliman di mana; seorang tuan yang kafir akan
memaksakan keyakinan, faham, cara berpikir, cara bertindak, cara berkehidupan
yang tidak mengakui Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah
(mengabaikan peran Tuhan atas kehidupan) dari seorang hamba yang mukmin; di
mana seorang manusia akan menyetujui apa yang Allah haramkan adalah halal dan
apa yang Allah halalkan adalah haram; ini adalah perbuatan syirik yang tidak
diampuni dosanya. Itulah yang terjadi saat ini, sistem ekonomi modern telah
dibangun untuk menyokong praktik riba, untuk memperkaya yang kuat dan
menindas yang lemah.

Oleh karenanya deklarasi perang terhadap pelaku riba adalah balasan yang pantas,
di mana riba sejatinya adalah tindakan perang, yang pengguna-nya berarti sedang
berperang, memerangi kerajaan Allah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Mulia,
memerangi risalah para Nabi, dan memerangi orang-orang yang beriman.

24
             

            

     
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum
dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.
Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan
Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu
pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.
(Quran, Surat Al-Baqarah 2: 278-279)

Di dalam agama-agama Islam, Yahudi dan Nasrani, telah memiliki panduan moral
dari kitab-kitab sucinya yang melarang praktik riba dalam bermuammalah. Kaum
yahudi sejatinya memiliki panduan moral (syariat) yang melarang dan mengutuk
praktik riba, tetapi kemudian Rabi-Rabi yahudi membengkokkan syariatnya dan
menghalalkan praktik riba dimana Allah mengutuknya (Quran, Surat An-Nisa 4:
161). Kaum nashrani pun sejatinya memiliki panduan moral (syariat) yang
melarang dan mengutuk praktik riba, tetapi kemudian tatanan moral yang pernah
hadir di dunia kristen barat telah diruntuhkan oleh kelahiran tatanan positif-
sekuler, yang merubah wajah Barat-Kristen menjadi Barat-Modern. Adapun yang
terjadi pada ummat Islam, kurang lebih sama-sama memprihatinkan dan juga
terjadi dilematika-dilematika akibat kedatangan pengaruh tatanan positif-sekuler
dunia modern, hal ini oleh karena akan selalu ada orang-orang yang dengan sengaja
atau pun tidak berperang dipihak Iblis untuk memembengkokan dan
menghancurkan tatanan moral yang semenjak dahulu diturunkan (diwahyukan)
kepada manusia yang seharusnya memandu manusia ke jalan yang benar.

Seiring dengan kemajuan dan perluasan pengaruh dan kekuasaan tatanan sekuler
Barat-Modern ke atas dunia untuk mewujudkan tatanan dunia baru (dunia
modern). Dunia Islam di perkenalkan dan dipersaksikan dengan sistem ekonomi
modern; sistem ekonomi klasik-liberalis-kapitalis; di mana pasar menjadi institusi
utama kegiatan ekonomi, adapun peran negara diisolir dari mengintervensi pasar
dan kegiatan ekonominya; maka lahirlah para konglomerat-konglomerat, burjois-
burjois, pebisnis kaya, namun di sisi lain tidak peduli pun juga pada kaum buruh,
kaum proletar, orang bawahan yang selamanya terjebak dalam kemiskinan oleh
karena sistem. Muncul sistem ekonomi lainnya; sistem ekonomi sosialis-komunis;
negara mengintervensi pasar, negara mengintervensi individu, bahkan tidak ada
hak individu, negara telah mendominasi campur tangan terhadap kegiatan
ekonomi; dampaknya ekonomi menjadi lesu, kemiskinan malah merata. Sekalipun
setelah itu bermunculan sistem-sistem ekonomi lainnya yang telah menerima
koreksi dan perbaikan dari sistem ekonomi sebelumnya, yang wujud saat ini sebagai

25
ekonomi modern; peran negara kini diberikan dan dibatasi hanya mengenai
kebijakan fiskal (pendapatan negara dan pengeluaran negara), faham sosialis mulai
menerima keampuhan efisiensi self-adjustment pasar dan selain itu muncul aliran
ekonomi yang mendukung dan menekankan peran moneter dibandingkan peran
fiskal sebagai alat stabilitasi yang paling efektif lewat kebijakan pengelolaan jumlah
uang beredar.

Apapun bentuk sistem ekonomi modern itu, riba masih saja berlaku di dalamnya,
ia tidak pernah menerima kritik dan koreksi, bahkan praktik riba itu didukung
oleh sistem ekonomi yang dibangunkan (insitusi-institusi dan instrumen-
instrumen) yang menyokong praktik-praktik riba.

Ketika dunia dihadapkan dengan sistem ekonomi dan keuangan modern dengan
bahasa-bahasa dan istilah-istilah yang rumit dan mekanisme-mekanisme yang
sepertinya masuk akal. Susah sekali bagi dunia Islam untuk mengenali riba, dunia
Islam baru saja bisa mengenali riba oleh karena faham-faham modern yang datang
dari Barat yang bercirikan rasional-empiris-positif-materialistis-sekuler telah
menaburkan faham-faham yang mengaburkan pandangan bahwa bunga adalah riba
dan juga sistem ekonomi modern memiliki banyak lagi bentuk riba yang susah
dikenali oleh ummat Islam, ummat Islam masih tertidur ketika elit politik global
sedang menyerang ummat dengan riba. Akan tetapi sekali dunia Islam menyadari
bahwa bunga adalah riba, baik nilainya sedikit atau banyak asalkan itu adalah
„lebihan‟ dari pokok pinjaman maka ia adalah suatu bentuk riba yang telah
diperingatkan dan diberikan contohnya di dalam Al-Quran (Quran, Surat Al-
Baqarah 2: 278) sebagai salah satu riba yang sangat berbahaya. Dunia Islam harus
segera mencarikan jalan keluarnya untuk ummat untuk terlepas dari riba.

Menanggapi hal ini kaum Islam modernis (yang menerima apa yang datang dari
Barat tanpa ketelitian yang kritis) dengan latahnya memunculkan konsepsi sistem
keuangan bank islam atau bank syariah, tidak terkecuali instrumen-instrumen pasar
modal yang dikatakan syariah. Kaum Islam modernis ini memahami ekonomi islam
adalah ekonomi yang bebas bunga, maka bank islam atau bank syariah serta
produk-produk keuangan islam (islamic finance) lainnya yang bebas bunga dipahami
juga sebagai sistem keuangan yang bebas riba. Mengartikan ekonomi islam sebagai
ekonomi yang bebas bunga adalah pemahaman yang belum tuntas. Bahwa riba
bukan hanya bunga pinjaman, riba memiliki bentuk-bentuk lainnya, oleh
karenanya pemahaman yang betul bahwa ekonomi islam itu bukan hanya bebas
bunga semata, tetapi bebas dari segala bentuk riba termasuk yang paling utamanya
adalah riba dayn; riba bunga pinjaman. Hal ini sering sukar dipahami para
sarjanawan atau pelajar islam oleh karena pengaruh modernisme barat-sekuler telah
merasuki sendi-sendi kehidupan ummat islam dan tak tersadarkan syirik dengan
wajah modern menyusupi sistem hidup kaum muslimin.

26
Sistem ekonomi yang terbangun ke atas dunia pada hari ini adalah sistem yang
menyokong kegiatan ekonomi yang menghalalkan riba. Faham atau filosofi Barat-
Modern lah yang paling berpengaruh dan bertanggung jawab bagi perwujudan
peradaban dunia modern sekuler ini.

Maka di dalam buku ini kita ingin mencari konsepsi ekonomi yang betul-betul
terbebas dari riba yang sesuai dan konsisten dengan landasan imani islam yang asli.
Adakah sistem ekonomi yang dibangun dengan landasan imani (Al-Quran dan
Sunnah) itu lebih unggul dari pada sistem ekonomi yang dibangun dengan
landasan tatanan modern sekuler? Ataukah sistem ekonomi yang dibangun dengan
landasan imani itu tidak akan pernah mengungguli sistem ekonomi yang dibangun
dengan landasan tatanan modern sekuler?

Oleh karena itu, pertanyaan besar yang ingin dijawab di dalam buku ini adalah;

Bagaimanakah konsepsi ekonomi Islam yang asli itu? – bukan ekonomi islam yang
palsu atau kita bisa menyebutnya iqtishad sebagai ekonomi islam yang otentik –.

27
II

LANDASAN

II.I
Epistimologi Islam

A
llah adalah yang menciptakan segala sesuatu (Allah Al-Khaliq), Allah adalah
yang mengetahui segala sesuatu (Al-Alim), Allah sumber ilmu, semua ilmu
milik Allah, ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Apa yang Allah
hendaki/izinkan wujud maka wujud, apa yang Allah hendaki/izinkan tiada maka
tiada. Segala sesuatu yang ada yang tercipta tidak luput dari pengetahuan Allah,
segala sesuatu yang menghilang yang menjadi tiada tidak luput dari pengetahuan
Allah. Allah mengetahui yang nampak (zhahir), Allah mengetahui yang ghaib, yang
tidak nampak, yang tersembunyi (bathin). Allah yang Awal, Allah yang Akhir.

Alam wujud (segala sesuatu yang ada, yang sejatinya ada; realitas absolut) oleh
manusia bisa diketahui, bisa tidak. Ketika alam wujud bisa diketahui manusia maka
ia akan berupa pengetahuan, ilmu, gambaran, pandangan, persepsi. Adakalanya
pengetahuan (ilmu, persepsi) manusia benar (valid) yaitu; bila yang ada dalam
„persepsi‟ sesuai dan sama persis dengan kenyataan alam wujud (realitas absolut).
Namun adakalanya pula pengetahuan (ilmu, persepsi) manusia itu tidak benar
(valid) yaitu; bila yang ada dalam „persespi‟ tidak sesuai, tidak sama persis dengan
kenyataan alam wujud (realitas absolut).

Filosofi (philosophia; „cinta kebijaksanaan‟) adalah kegiatan manusia menggunakan
akal (intelect, reason, rasio) sebagai alat (indera) manusia yang canggih, yang distinct,
yang cerdas, yang mampu berfungsi untuk mengungkap, untuk menyingkap alam
wujud, melalui process of logic berbasis input („pengetahuan sumber‟) untuk
memperoleh pengetahuan yang benar atasnya, untuk memperoleh kebenaran
atasnya. Tujuan dari kegiatan filosofi itu, tidak lain tujuannya adalah agar manusia
memperoleh kebijaksanaan (hikmah atau wisdom); yakni mengetahui apa-apa yang
dapat membahayakan dan mencelakakan bagi manusia dan apa-apa yang dapat
membawa kepada manfaat atau keselamatan kepada manusia. Sehingga ilmu atau
pengetahuan yang benar yang diperoleh manusia bisa dimanfaatkan dalam
tindakan, dalam cara berkehidupan.

28
Akal tidak akan menjadi berguna (nihil) tanpa terlebih dahulu memiliki
„pengetahuan sumber‟, pengetahuan mentah, pengetahuan input yang menjadi data
untuk kegiatan berpikir (process of logic) untuk menghasilkan pengetahuan jadi,
pengetahuan output yang disebut „persepsi‟ (ilmu, pengetahuan, gambaran).
Pengetahuan sumber, diperoleh manusia melalui penginderaan, penginderaan
terhadap Alam Wujud menggunakan indera-indera (indera jasmaniah; pancaindera
dan indera bathiniah: indera kalbu/qalbun) yang dimiliki manusia. Alam wujud
yang dapat diindera manusia berwujud „fenomena‟ atau ia disebut sebagai ayaat
(signs, symbol, sandi). Ayaat menjadi pengetahuan sumber, pengetahuan mentah
yang diproses akal (process of logic) untuk menghasilkan atau menyusun „persepsi‟.
„Persepsi‟ manusia yang sudah ada kemudian akan kembali menjadi „pengetahuan
sumber‟ yang baru bagi input akal (process of logic) yang akan selalu mengalami
pertentangan atau pencocokan dengan Alam Wujud (realitas absolut) yang
ditangkap indera manusia dalam bentuk fenomena-fenomena yang baru lagi (ayaat);
sebagai „pengetahuan sumber‟ tambahan yang dihasilkan oleh penginderaan
(pengalaman dan pengamatan), sehingga „persepsi‟ (pengetahuan, ilmu, pandangan)
akan mengalami koreksi dan kemapanan validitas untuk menghasilkan „persepsi‟
(pengetahuan, ilmu, pandangan) yang benar, pengetahuan yang semakin mendekati
kebenaran, seiring berjalannya waktu kedepan.

Bagaimana cara manusia memperoleh pengetahuan alam wujud? dan adakah
pengetahuan yang diperoleh itu valid (benar) atau tidak? Ini disebut bidang kajian
Epistimologi. Epistimologi; yakni suatu cabang ilmu filosofi yang menjelaskan
bagaimana pengetahuan (ilmu, persepsi, pandangan) manusia mengenai alam
wujud (segala sesuatu yang ada; realitas absolut) itu diperoleh manusia dan apakah
pengetahuan (ilmu, persepsi, pandangan) yang diperoleh itu valid (benar) ataukah
tidak; yakni sesuai dengan kenyataan alam wujud (realitas absolut) ataukah tidak.
Hal ini merupakan subjek penting bagi manusia karena hanya kebenaran
(pengetahuan yang benar) yang dapat membawa manusia kepada kebijaksanaan
(hikmah atau wisdom); yang dengan sebenar-benarnya dapat membawa manusia
kepada keselamatan dan perolehan manfaat (“cahaya”), serta menjauhkan manusia
dari marabahaya dan kecelakaan (“kegelapan”); mengeluarkan manusia dari
kegelapan menuju cahaya.

Ruang lingkup alam wujud yang dicoba dijangkau menjadi objek berfilsafat itu
sendiri melingkupi misteri mengenai; (1) alam semseta, (2) manusia itu sendiri dan
(3) metafisika. Awal mulanya akal digunakan untuk memahami alam semesta
(material universe atau alam thabi‟i), kemudian akal digunakan untuk memahami diri
manusia itu sendiri, kemudian akal digunakan untuk menyingkap segala sesuatu
yang ada dibalik semuanya yang nampak (alam ghaib; seven parallel universes; sab‟a
samawaat), termasuk mengenai Tuhan, seperti misalnya pertanyaan; adakah Tuhan
itu?

29
Dalam cara biasa (konvensional) „pengetahuan sumber‟ diperoleh manusia dengan
cara mengupayakan penginderaan terhadap alam wujud itu sendiri, yang muncul
dalam bentuk „fenomena‟ (ayat; simbol atau sandi). „Fenomena‟ yang dihasilkan
oleh pancaindera (indera jasmaniah) ia disebut sebagai ayat kauniyyah, kemudian
„fenomena‟ diproses oleh akal (process of logic) sehingga menghasilkan „persepsi‟
mengenai alam wujud, begitulah seterusnya „persepsi‟ akan dipertentangkan dan
dicocokan kembali dengan alam wujud (realitas absolut) yang ditangkap indera
dalam wujud „fenomena-fenomena baru‟, untuk menghasilkan „persepsi‟ baru dan
mutakhir.

Kaum rasionalis barat telah meyakini dan bersikukuh, membangun disiplin ilmu
berlandaskan filosofi yang berlandaskan standar bahwa; pengetahuan yang dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya adalah pengetahuan (ilmu, persepsi,
pandangan) yang dibangun berdasarkan pengetahuan sumber yang diperoleh dari
pengalaman dan pengamatan inderawi (pancaindera); observasi empiris
(empirisme) yang diproses akal dengan mengolahnya sebagai makna-makna terukur
(kuantitatif dan kualitatif) (positivisme). Kaum rasionalis barat telah meyakini dan
bersikukuh hanya dengan bersandar pada akal dan observasi empiris (pengalaman
dan pengamatan) sebagai data dengan makna-makna terukur sebagai jaminan
validitas pengetahuan (ilmu, persepsi, pandangan) yang benar, selain dari pada itu
merupakan pengetahuan (ilmu, persepsi, pandangan) yang tidak dapat dipastikan
dan dipertanggungjawabkan kebenarannya atau ia dikatakan sebagai pengetahuan
subjektif.

Adapun dalam Islam, sebetulnya „pengetahuan sumber‟ di dalam Islam mengakui
dua sumber jalan perolehan; (1) yang pertama ialah pengetahuan yang diupayakan
oleh pengalaman dan pengamatan inderawi/pancaindera (observasi empiris) dan
mengolah makna-makna terukur (positif), ia adalah sebagaimana yang diupayakan
kaum rasionalis Barat, dan ilmu jenis ini di dalam Islam boleh disebut sebagai ilmu
hushuli; ilmu yang diupayakan menggunakan pancaindera dan akal manusia.
Adapun yang kedua (2) ia adalah „pengetahuan sumber‟ yang diperoleh dari
pengalaman indera kalbu (qalbun) atau tangkapan indera hati, indera bathiniah
manusia, kaum rasionalis menyinggungnya sebagai pengetahuan yang subjektif,
pengetahuan ini di dalam Islam disebut dengan ilmu hudhuri (knowledge by presence
atau revealed knowledge), ada kalanya ilmu jenis ini merupakan „ilmu yang datang‟
(datang sendiri – tidak dicari atau diupayakan, atau ia datang karena diupayakan),
ilmu jenis ini diterima secara transmisi atau terpancar (transmited) dari alam wujud
(ada yang mengirimnya), ilmu hudhuri dapat muncul berupa; intuisi atau ilham,
firasat, mimpi dan penglihatan (ru‟yat dan kasyaf), hidayah dan juga wahyu.

Ilmu hudhuri tidak semuanya benar dan memang benar ilmu hudhuri bersifat
subjektif, karena pada dasarnya sifat ilmu hudhuri memang tidak dapat dipastikan

30
kebenarannya, adakah ia kebenaran atau kesesatan belaka. Hal ini karena
pengetahuan yang diterima secara hudhuri, seperti halnya kasyaf atau mimpi
seseorang sejatinya memiliki 3 kemungkinan:

(1) ia prasangka (muncul dari diri manusia sendiri; alam pikiran atau bawah
sadar),
(2) ia kesesatan atau palsu (berasal dari tipuan atau bisikan jahat syaithan),
(3) ia kebenaran (berasal dari Allah).

Maka dari itu, ilmu yang benar yang diperoleh secara hudhuri, datangnya hanya dari
Allah, atau ia disebut dengan „ilm ladunni (pengetahuan yang diperoleh seseorang
langsung atau berasal dari Allah secara hudhuri), adapun hudhuri yang muncul oleh
karena „perasaan‟ atau prasangka, bisa jadi benar bisa juga tidak dan ia bersifat
subjektif.

Sebagaimana ilmu hudhuri tidak dapat dipastikan kebenarannya dan bersifat
subjektif, namun ilmu atau pengetahuan hudhuri boleh diketahui dan dipastikan
kebenarannya (validitasnya) apabila ada bukti-bukti qath‟i yang mendukungnya atau
pengetahuan tersebut datang secara bersamaan dengan membawa bukti, bukti yang
dapat diindera oleh manusia (mukjizat hissiyah) dan juga dapat ditimbang dengan
akal secara jujur (mukjizat aqliyah/ma‟nawiyah). Apabila ia membawa bukti
(mukjizat) yang cukup dan bisa diterima, maka ia adalah pengetahuan yang benar.

Seseorang yang memperoleh ilmu hudhuri (ladunni; dari Allah) adalah konsepsi
kenabian (nubuwwah; ‫ ;)نبوة‬yakni seseorang yang menerima ilmu atau pengetahuan
dari Tuhan akan hakikat alam wujud dan juga berita di masa depan, sebagaimana
Nabi dari kata naba‟, artinya adalah pembawa berita atau pembawa kabar. Seorang
Nabi (‫ )نبى‬adalah manusia pilihan Allah yang terus dan selalu memperoleh
pengetahuan dari Allah secara hudhuri: baik itu berupa ilham atau intuisi, firasat,
mimpi dan penglihatan atau visi (kasyaf dan ru‟yat) dan juga wahyu.

Pengetahuan kenabian yang terbesar dan paling utama disebut sebagai Wahyu.
Wahyu datangnya dari Allah, dikirimkan, diturunkan oleh Allah secara langsung
kepada manusia yang menerimanya, atau melalui perantara utusanNya (malaikat
Jibril a.s). Wahyu merupakan pengetahuan yang diterima manusia secara hudhuri, ia
dapat berupa gambaran, intuisi, inspirasi, ilham, gambaran, ru‟yat (penglihatan),
mimpi dan adakalanya wahyu berbentuk verbal; kalam-kalimah (kalamullah,
kalimatullah) yang kesemua bentuk Wahyu tersebut dapat datang dan diterima oleh
seorang Nabi. Apabila seorang Nabi diwahyukan kepadanya kitab (buku) atau
shuhuf (lembaran) yang berisikan firman Allah; kalimah Allah atau kalam Allah,
wujud dalam bentuk kitab Allah, yang diturunkan (At-Tanzil) kepada seorang Nabi
tersebut, maka Nabi tersebut adalah seorang Rasul. Wahyu kitab atau shuhuf
berisikan kebenaran (pengetahuan Allah; pengetahuan yang benar) yang berfungsi

31
sebagai panduan kehidupan, memuat ilmu, hikmah dan hukum yang benar
mengenai Alam Wujud (realitas absolut). Seorang Nabi yang kitab atau shuhuf
diwahyukan kepadanya adalah juga merupakan risalah khusus dan formal/resmi
dari kerajaan Allah Yang Maha Tinggi untuk manusia, yang harus diserukan
kepada manusia (atau kaum tertentu) agar manusia berhukum dan berpandukan
dengan hukum atau kebenaran yang Allah turunkan dalam berkehidupan dan ini
menjadi misi para Nabi dan Rasul. Tidak lain misi para Nabi dan Rasul adalah agar
manusia bisa memperoleh sebenar-benar hikmah (wisdom) yakni; dengan sebenar-
benarnya dapat mengeluarkan manusia dari kemarabahayaan atau kerugian atau
kecelakaan kepada keamanan, keberuntungan, keselamatan.

Adapun salah satu di antara kitab Allah yang terbesar, yang diturunkan kepada
manusia, ialah Al-Quran, ia diwahyukan kepada manusia pilihan Allah, yaitu Nabi
Muhammad ‫ز‬, sebagai Nabi dan Rasul terakhir. Nabi Muhammad ‫ ز‬sebagai
seorang Nabi merupakan manusia yang terus selalu menerima pengetahuan dari
Allah secara hudhuri, terus selalu menerima wahyu dari Allah baikkah ia berupa
intuisi, gambaran, ru‟yat (penglihatan), mimpi dan pengalaman kenabian dan
adakalanya wahyu Allah berbentuk verbal; kalam-kalimah (kalimatullah atau
kalamullah), Nabi Muhammad ‫ ز‬sebagai seorang Rasul maka diantara wahyu kalam
tersebut ada yang merupakan buku (Al-Kitab) sebagai wahyu yang terbesar yang
diterima oleh Nabi ‫ز‬. Seluruh pengetahuan kenabian dan seluruh wahyu yang
diterima oleh Nabi Muhammad ‫ز‬, yang kemudian dinukilkan, dibacakan,
disampaikan, diceritakan, diajarkan Nabi ‫ ز‬kepada manusia terutama sekali
mulanya lewat orang-orang terdekatnya; generasi awal ummat Islam; para
shahabatnya, sehingga Nabi ‫ ز‬telah berhasil memberikan pencerahan, pendidikan,
pengajaran kepada para shahabatnya, maka para shahabat yang telah berhasil
memperoleh pengajaran dan pendidikan dari Nabi ‫ ز‬telah dikenal jujur dan
terpercaya, kemudian para shahabat yang terkenal jujur dan terpercaya tersebut
mendokumentasikannya dalam bentuk ingatan, catatan, tulisan yang terbagi
kepada dua bagian besar; (1) ia wujud dalam bentuk teks (nash) Al-Quran yaitu yang
murni kalam Allah, firman Allah, wahyu Allah yang merupakan kitab yang telah
diajarkan, disampaikan secara hati-hati dan secara pasti oleh Nabi ‫ ز‬sehingga ia
dapat diterima, dijaga, dilestarikan secara ketat oleh para shahabatnya secara
otentik., (2) dan teks (nash) Ahadits yaitu ia adalah pengetahuan dan pengalaman
kenabian (seluruh wahyu baik wahyu yang berupa kitab ataupun yang bukan kitab
yang diterima secara hudhuri) yang termanifestasi, wujud ke dalam bentuk sabda
(perkataan; di antarany yaitu hadits Qudsi; yaitu kalam Allah yang bukan
merupakan Al-Kitab/Al-Quran) dan teladan (perbuatan, taqriri;
reaksi/respon/klarifikasi Nabi ‫ ز‬atas suatu persoalan, dan sunnah; „cara hidup‟)

32
Nabi Muhammad ‫ ز‬dalam prikehidupan Islam yang berjalan dalam masa
kehidupan para shahabat bersama-sama Rasulullah ‫ز‬, kesemuanya
didokumentasikan, diriwayatkan, dijaga dan dilestarikan dalam ingatan dan tulisan
berupa teks (nash) Ahadits oleh generasi ummat Islam mulai dari para shahabat
hingga generasi terakhir ummat Islam.

Al-Quran dan Ahadits, keduanya merupakan pengetahuan yang diturunkan (At-
Tanzil; berasal dari Allah) keduanya adalah bagian dari kenabian dan kerasulan
Nabi Muhammad ‫ز‬, yang saling melengkapi. Kedudukan Ahadits, disamping Al-
Quran berfungsi strategis untuk menjelaskan keumuman Al-Quran, berfungsi
sebagai penjelas (bayan) dan memperinci keumuman Al-Quran, ia adalah authority
(wewenang) Sang penerima Wahyu Al-Quran itu sendiri; baginda Nabi ‫ ز‬dalam
menjelaskan maksud keseluruhan Al-Quran, yang dibimbing oleh pengetahuan dari
Allah; pengetahuan kenabian (wahyu). Begitupun Al-Quran disamping Ahadits
adalah berfungsi membenarkan apa yang disampaikan Muhammad ‫ ز‬kepada
kaumnya, kepada manusia, bahwa apa yang dikatakanya adalah benar. Posisi Al-
Quran tanpa Ahadits, Al-Quran tidak memiliki penjelas (bayan) dan perinci dari
pada makna-makna kalimah Al-Quran yang umum, begitupun Ahadits tanpa Al-
Quran bila berdiri sendiri ia tidak akan memiliki sokongan yang kuat, di mana
fungsi Al-Quran adalah menguatkan Ahadits itu sendiri dan menjaga Ahadits dari
kebengkokan.

Al-Quran dan Ahadits merupakan wahyu Allah dan manifestasi dari pada wahyu
Allah, yang datangnya secara hudhuri pada diri Nabi ‫ ز‬yang sifatnya bathin
menjelma menjadi zahir sebagai ayat (simbol, sandi, tanda) dalam bentuk verbal;
yaitu kalam, kalimah yang beresensikan wahyu dari Allah atau ia disebut sebagai ayat
al-qouliyyah, sebagai salah satu jenis dari pada ayat Allah disamping ayat al-kauniyyah
(simbol, tanda, sandi dari pada alam thabi‟i), yang ayat verbal (al-qouliyyah) tersebut
dapat diretas maknanya, dapat dipelajari maknanya, bisa ditimbang dengan akal
sehingga menjadi dalil, atau disebut dengan dalil naqly (wahyu kenabian yang
dinukilkan, dibacakan, dituliskan), ia adalah wahyu yang dituliskan yang mewujud
dalam bentuk teks (nash); nash Al-Quran dan nash Ahadits. Oleh karena keduanya;
Al-Quran dan Ahadits datangnya dari Allah, ia adalah wahyu, ia datangnya secara
bathin kepada diri Nabi ‫ ز‬kemudian ia dinukilkan, dibacakan, dituliskan sehingga
ia mewujud menjadi zhahir, maka ia dapat dipelajari secara hushuli oleh manusia, ia
menjadi pengetahuan yang bisa diperoleh secara hushuli; ilm hushuli atau ilm az-
zhahir, maka dari itu ia disebut juga sebagai „pengetahuan yang menampak‟ (revealed
knowledge); yang datangnya dari Tuhan secara bathin pada diri Nabi kemudian
mewujud menjadi zhahir. Al-Quran dan Ahadits adalah pengetahuan kenabian

33
(wahyu) yang datangnya dari Allah, yang menjadi ayat-ayat verbal (qouliyyah) yang
datang menghampiri manusia, yang mendatangi manusia dari Tuhan yang
mengirimnya, untuk menjadi bahan pikiran, untuk menantang manusia, mengajak
dan mengundang manusia untuk berpikir dan membuktikan kebenarannya secara
akal untuk diimani. Ayat-ayat Allah baik berupa ayat-ayat verbal/lingual (qouliyyah)
maupun ayat-ayat kauniyyah keduanya adalah merupakan ayat (tanda, simbol, sandi)
yang bisa menjadi (input) bahan pikiran manusia (process of logic) agar manusia
memikirkannya untuk memperoleh petunjuk dan pengetahuan yang benar yang
ada dibalik tanda/simbol/sandi tersebut.

Al-Quran dan Ahadits, merupakan dua sumber „pengetahuan sumber‟ yang utama
di dalam Islam yang diketahui dan diimani sebagai sumber-sumber pengetahuan
yang benar, pengetahuan yang datang dari Allah yang diturunkan (At-Tanzil), yang
mengandung kebenaran mutlak, yang berfungsi untuk (1) menjadi petunjuk
kehidupan yang paling utama bagi manusia, (2) sandaran/landasan yang paling
utama untuk merujuk persoalan manusia, (3) hakim atau tolak ukur yang paling
utama menghakimi persoalan manusia.

Kebenaran dan Keaslian (Otentisitas) Al-Quran

Di antara kaedah (yaitu secara hushuli; penelitian atau studi) yang bisa diterapkan
untuk menginvestigasi adakah „ilmu yang datang‟ atau „ilmu yang menampak‟
(revealed knowledge; wahyu) itu kebenaran atau kesesatan belaka yaitu dengan cara:

(1) Pembelajaran atau studi menyeluruh dan lengkap dari „ilmu yang datang‟
tersebut
(2) Bilamana ia mengandung kontradiski atau pertentangan memperlihatkan ia
memiliki kecacatan yang mengindikasikan ia nisbi (relatif dan subjektif), ia
tidak benar, ia sesat, ia palsu.
(3) Bilamana ia harmoni (tidak terdapat kontradiksi atau pertentangan)
memperlihatkan ia memiliki kesempurnaan yang mengindikasikan ia
adalah kebenaran.

Salah satu wahyu Allah yang terbesar dalam sejarah manusia yang membawa bukti
kebenaran yang bisa diterima manusia adalah kitab Al-Quran yang diturunkan
kepada manusia istimewa pilihan Allah sebagai Utusan Allah, Nabi Muhammad ‫ز‬.
Al-Quran itu sendiri merupakan mukjizat (bukti) Nabi Muhammad ‫ز‬, ia yang
merupakan ayat-ayat qouliyyah yang menjadi alat untuk pembuktian kebenarannya
itu sendiri (dalil naqly), ia adalah kalam-kalimah (kalimatullah) yang memuat ilmu,
ilmu dari ilmu Allah, memuat hikmah-hikmah dan hukum-hukum, yang
menerangkan hakikat Alam Wujud (realitas absolut) apakah itu tentang alam ghaib
(sab‟a samawat; seven parallel universe), tentang Tuhan, tentang Alam Semesta

34
(material universe), tentang manusia, ia Al-Quran bisa menjelaskan segala sesuatu,
„tibyanan likulli syaiin‟ (Quran, Surat An-Nahl 16: 89). Maka dengan pertimbangan
akal yang sehat dan jujur Al-Quran memiliki bukti yang cukup bahwa ia adalah
kebenaran yang berasal dari Tuhan. Bilamana diupayakan secara hushuli; dikaji,
ditelaah, diteliti secara menyeluruh dan lengkap, niscaya tidak akan didapati
kontradiksi, melainkan harmoni yang menunjukkan, mengindikasikan bahwa ia
adalah kebenaran.

Apabila ia diterima dan diimani sebagai kebenaran maka ia menjadi sumber ilmu
bagi manusia yang mengimaninya, termasuk juga hal-hal yang diimani di dalamnya
bahwa:

1. Allah pemilik kebenaran mutlak (Allah Al-Haq), kebenaran hanya datang
dari Allah; manusia tidak dapat mengupayakan perolehan kebenaran
dengan upaya apapun kecuali mencarinya, memintanya dari Allah, kembali
kepada Allah.
2. Al-Quran adalah Wahyu Allah yang dijamin kebenarannya, dijaga
kebenarannya oleh Allah dengan kekuatanNya dari korupsi atau kerusakan
dan upaya pengrusakan atau pembengkokan hingga hari kiamat, termasuk
juga dari penambahan atau pengurangan ayat-ayatNya.
3. Al-Quran adalah Al-Furqan; yakni kebenaran mutlak yang berfungsi sebagai
tolak ukur yang dapat membedakan, mana-mana kebenaran dan mana-
mana kebengkokan atau kesesatan.

Kebenaran dan Keaslian (Otentisitas) Ahadits

Kebenaran dan Otentisitas Al-Quran dan kejujuran Nabi Muhammad ‫ز‬, Sang
penerima Wahyu itu sudah cukup untuk menjadi bukti bahwa apa yang diterima
dan disampaikan baginda Nabi ‫ ز‬adalah kebenaran, maka termasuk juga
pengetahuan kenabian (yang dicatat ke dalam nash Ahadits). Akan tetapi, sekalipun
para shahabat aslaf (generasi awal) adalah para shahabat yang jujur dan terpercaya,
Ahadits; yaitu catatan teks (nash) mengenai; sabda, perbuatan, sunnah (cara hidup)
yang merupakan bagian dari kenabian Nabi ‫ز‬, yang menjadi; sumber hukum,
sumber tatanan, sumber ilmu, sumber pengetahuan, sumber hikmah kedua setelah
Al-Quran, perlu melewati beberapa generasi untuk sampai kepada generasi ummat
Islam yang terakhir, disinilah otentisitas ahadits diuji, karena akan muncul korupsi,
akan muncul orang-orang yang berdusta atas nama Nabi ‫ ز‬ataupun oleh karena
kealpaan dan kecacatan dalam upaya pengingatan, pencatatan, pelestarian
kebenaran dan keaslian (otentistas atau keshahihah) Ahadits.

Ahadits yang shahih (otentik) bisa diupayakan secara hushuli--aqliyyah (yaitu
penelitian atau observasi secara empiris-positif terhadap fakta-fakta dan data

35
biografi dan historis periwayatan Ahadits) bisa diupayakan lewat penelitian
periwayatan Ahadits (sanad; rantai periwayatan, lafadz, rowi; periwayat, dan lain-lain)
oleh ulama-ulama ahli hadits; yaitu disebut dengan bidang disiplin Ilmu Hadits;
sehingga dengan melakukan studi Ilmu Hadits bisa membantu pembedaan dan
pembuatan tingkatan-tingkatan, jenis-jenis dan derajat-derajat Ahadits untuk
memelihara dan melestarikan kandungan kebenaran yang ada dalam Ahadits;
adakah ia shahih, dhaif, mardud, dan lain-lain, hingga ia diwariskan dari satu generasi
ke generasi, hingga generasi terakhir ummat Islam oleh para ulama Ahadits
rahimahumullah, sehingga kebenaran dan keaslian Ahadits tetap lestari dan
terpelihara.

Sekalipun demikian, tidak ada dalil di dalam Al-Quran dan Ahadits yang
mengatakan Ahadits bebas dari korupsi atau kebengkokan, tidak ada dalil di dalam
Al-Quran dan Ahadits yang mengatakan atau menujukkan Ahadits terjamin dari
korupsi dan kebengkokan dan memiliki jaminan otentisitas (kesahihan) yang
mutlak, dan justru dalil-dalil menunjukkan bahwa barangkali ada orang yang
berdusta atas nama Nabi ‫ز‬, oleh karena itu sejatinya Ahadits tidak memiliki
jaminan otentisitas secara mutlak, dijamin oleh Allah dari kebengkokan
sebagaimana Al-Quran, sekalipun setelah diupayakan oleh para ulama Ahadits
rahimahumullah.

Oleh karena itu, selain telah diupayakan lewat ilmu hadits, perlu ditempuh pula
upaya yang kedua yang termasuk jenis upaya hushuli-qouliyyah (bil manqul atau bil
ma‟tsur); yaitu studi penelitian menggunakan data ayat-ayat qouliyyah yaitu
menggunakan tolak ukur dalil-dalil Al-Quran itu sendiri sebagai alat untuk
membedakan (Al-Furqan) mana-mana Ahadits yang bisa dijadikan landasan dan
mana-mana yang kurang tepat atau kurang kuat dijadikan landasan, atau juga
Ahadits yang menyesatkan. Maka yang perlu dipahami adalah bahwa; pada
dasarnya kedudukan Ahadits tanpa Al-Quran ibarat Bible atau Talmud; yang
merupakan kumpulan „sabda-sabda‟ atau „perkataan‟ murid-murid Musa a.s, murid-
murid Isa a.s, disamping „sabda-sabda‟ Musa a.s dan Isa a.s sendiri, dan juga
barangkali bercampur dengan „perkataan‟ sejarawan atau orang yang mengaku
murid-murid Musa a.s dan murid-murid Isa a.s, atau orang yang mengaku Nabi
atau orang mengaku Rasul atau yang mengaku memperoleh wewenang Musa a.s
atau Isa a.s, di mana Ahadits memiliki kemungkinan juga bercampur dengan
subjektifitas si penyampai hadits. Oleh karena itu maka, disamping Al-Quran
memiliki posisi yang strategis atas Ahadits di mana ia menguatkan, membenarkan
dan membela Ahadits itu sendiri (membela kebenaran yang disampaikan Nabi
Muhammad ‫)ز‬, tetapi satu lagi fungsinya atas ahadits yaitu; Al-Quran dapat
digunakan sebagai tolak ukur (Al-Furqan; yaitu Al-Quran adalah kebenaran mutlak
yang dapat berfungsi untuk membedakan mana kesesatan atau kenisbian, mana
kebenaran dan kemutlakan); mana-mana Ahadits yang bertentangan dengan totaliti

36
dalil-dalil Al-Quran dan mana-mana Ahadits yang bersesuaian atau dapat diterima
(menjadi hujjah dan sandaran) yaitu bila tidak bertentangan dengan totaliti dalil-
dalil Al-Quran, adapun seiring bersamaan dengan itu syarat dalam menggunakan
Al-Quran sebagai tolak ukur adalah yaitu menggunakan dalil-dalilnya secara
lengkap dan relevan (lihat kelanjutannya di Sub-Bab Metodologi Ilmiah Islam;
„Metodologi Studi Teks (Nash)‟). Oleh karena itu, berdasarkan ini maka, Ahadits
otentisitasnya menjadi jatuh kepada kenisbian (kebenarannya relatif) apabila ia
berdiri sendiri untuk membangun hujjah, dan tidak berdiri bersama-sama atau
bersanding dengan Al-Quran (dengan menggunakan dalil-dalil Al-Quran secara
lengkap), Ahadits harus bersandar pada Al-Quran, sinkron dan harmoni, Ahadits
tanpa bersandar pada Al-Quran dan berdiri sendiri, kedudukannya sama seperti
Bibel dan Talmud.

Sehingga berdasarkan semua yang telah dijelaskan mengenai kebenaran dan
keaslian Al-Quran dan Ahadits, dapat dipahami bahwa Al-Quran memiliki fungsi
vital dan strategis bagi semua pengetahuan, semua jenis pengetahuan baik
„pengetahuan sumber‟ maupun ilmu pengetahuan yang lainnya yaitu; Al-Quran
fungsinya sebagai; (1) Landasan yang utama dan mutlak bagi suatu ilmu/semua
ilmu, (2) Tolak ukur/hakim yang utama dan mutlak bagi suatu ilmu/semua ilmu.
Sehingga Al-Quran dan Ahadits secara bersama-sama di dalam Islam kedudukan
peran dan fungsinya adalah; (1) sumber ilmu yang utama dan (2) sandaran semua
ilmu.

Epistimologi Islam dalam Sub-Bab ini seperti yang telah dijelaskan, bahwa sumber
ilmu di dalam Islam adalah mengakui peran-peran semua indera (alat) yang dimiliki
manusia untuk memperoleh ilmu; (1) indera akal, (2) indera jasmaniah
(pancaindera), (3) indera kalbu (qalbun). Dan Allah telah menciptakan Alam
Semesta (material universe atau alam thabi‟i) adalah sebagai ayaat (tanda, sign, symbol)
dari keberadaan Alam Wujud (realitas absolut) yang bisa diindera dengan
pancaindera; yaitu sebagai ayat-ayat kauniyyah, namun selain dari pada itu pula
Allah menurunkan jenis ayat-ayat yang lain, yang mendatangi manusia itu sendiri
yang disebut dengan „pengetahuan Tuhan‟ atau „ilmu Tuhan‟ yang diturunkan (At-
Tanzil) yang memuat hukum-hukum, hikmah-hikmah, ilmu-ilmu dalam bentuk
wahyu yang menghadirkan “tanda”; ayat dari pada jenis ayat al-qouliyyah. Maka dari
itu ilmu dalam islam diperoleh lewat mengakui fungsi semua indera yang ada dan
menggunakan sumber data yang lengkap (dari ayat-ayat kauniyyah dan ayat-ayat al-
qouliyyah), dan selain menggunakan akal, satu hal lagi di dalam Islam ilmu juga
diperoleh dengan cara iman (tanpa melewati process of logic, apabila secara akal
dirasa sudah cukup bukti), maka pengetahuan/ilmu diperoleh lewat jalan:

37
a. Hushuli-aqliyyah: ialah upaya penelitian atau observasi empiris-positif
disertai akal (logic) atas data ayat-ayat kauniyyah (pengalaman dan
pengamatan inderawi).
b. Hushuli-qouliyyah: ialah upaya penelitian atas data ayat-ayat qouliyyah;
wahyu (dalil-dalil naqly) disertai akal (logic) dan iman.
c. Hudhuri: ialah ilmu yang hadir oleh tangkapan indera kalbu yang
diterima secara transmisi.
i. Hudhuri-ladunni: berasal dari Allah
ii. Hudhuri-aqliyyah: subjektif: berasal dari pribadi
iii. Hudhuri-waswaasiyyah: Menyesatkan: berasal dari syaithan
(bisikan syaithan)

Namun apakah yang membedakan Epistimologi Islam dan Epistimologi Barat-
Modern Sekuler?

Epistimologi Islam; (1) disamping menerima seluruh jalan perolehan ilmu
sebagaimana poin-poin di atas, (2) juga menjadikan ayat-ayat al-qouliyyah atau wahyu
kenabian (Al-Quran dan Ahadits) sebagai landasan ilmu. Sebaliknya, Epistimologi
Barat-Modern; (1) hanya bersandar pada jenis pengetahuan yang diperoleh secara
hushuli-aqliyyah; yaitu melalui upaya observasi empiris-positif inderawi
(pancaindera/indera jasmaniah), mengabaikan peran hati yang dikatakan sebagai
pengetahuan subjektif, begitupun pengetahuan yang diperoleh dari ayat-ayat
qouliyyah atau wahyu dianggap sebagai pengetahuan yang ambigu dan tidak
memiliki bukti empiris, atau sekalipun ia diterima sebagai ilmu yang dikaji dan
dijadikan studi (studi keagamaan/religi) akan tetapi (2) pengetahuan yang dibangun
oleh Barat-Modern menjadikan hushuli-aqliyyah (observasi empiris-positif;
pengalaman dan pengamatan inderawi) sebagai sandaran dan tolak ukur utama dan
mutlak untuk menghakimi validitas ilmu dari semua ilmu.

II.II

Metodologi Ilmiah Islam
Metodologi ilmiah islam ialah metodologi ilmu Islam untuk memperoleh ilmu
(pengetahuan, persepsi, pandangan) yang benar (valid) mengenai Alam Wujud
(realitas absolut). Pengetahuan (ilmu) yang valid (paling mendekati kebenaran) akan
diperoleh apabila; (1) pengetahuannya lengkap, (2) pengetahuan itu sendiri
bersandar pada pengetahuan yang valid (yang paling mendekati kebenaran atau
kebenaran mutlak) dan (3) adanya keselarasan atau keharmonian pada
pengetahuan-pengetahuan (ilmu-ilmu).

38
Konsep Pengetahuan Lengkap

Apakah yang perlu diperhatikan sebelum berangkat mencari ilmu? Ada beberapa
sikap yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu, yaitu:

(1) Sikap terbuka atas ilmu
Ilmu bisa datang dari mana saja, dari siapa saja.
‫انظر ما قال وال تنظر من قال‬
“Perhatikanlah apa yang dikatakan, bukan perhatikan siapa yang mengatakan”

Oleh karena itu, ilmu tidak mengenal bangsa, ras, agama, kaya atau misikn,
dimensi waktu atau dimensi ruang.

(2) Sikap rendah hati atas ilmu
Oleh karena bahwa orang yang cerdas adalah orang yang bersikap rendah
hati atas ilmu, dalam arti; „semakin seseorang memahami kejahilan dirinya
sendiri dan di mana ilmu yang kurang atas dirinya sendiri, itulah seseorang
yang tahu (alim)‟, „seseorang yang merasa dirinya adalah alim (tahu banyak
ilmu), itulah seorang yang bodoh‟.

Epistimologi Islam, selain sebagai epistimologi yang didasari iman kepada Allah,
epistimologi Islam adalah epistimologi yang dibangun berdasarkan sikap yang
rendah hati dan objektif (adil). Yaitu; memahami kejahilan manusia dan
keterbatasan diri sebagai seorang manusia dan tidak bersikap sombong, merasa
benar, merasa tidak perlu atas ilmu dan merasa cukup atas ilmu yang diperolehnya,
maka dari itu implikasinya, pengetahuan akan diupayakan dan diperoleh lewat
berbagai cara yang bisa diperoleh yang memungkinkan. Seorang yang beriman
kepada Allah kemudian bersikap rendah hati dan berlaku adil (objektif) maka akan
mendayagunakan seluruh indera yang dimilikinya untuk memahami segala sesuatu,
memikirkannya, itulah yang disebut „Ulul Albab‟ (orang yang berpikir dengan hati),
yaitu; ia memfungsikan seluruh indera yang dimilikinya; (1) pancaindera; melihat,
mendengar, dst, (2) indera kalbu, dan (3) indera akal untuk berpikir, ia
memikirkan ayat-ayat Allah baik itu ayat-ayat kauniyyah, maupun ayat-ayat qouliyyah
(wahyu kenabian), menimbangnya, me-refleksikannya secara objektif dan adil,
sehingga memikirkan ayat-ayat Allah mengandung esensi fikir dan dzikir, yang akan
membuahkan kefahaman dan hikmah-hikmah dari segala penciptaan. Allah
membiarkan mereka yang tidak mau memfungsikan seluruh indera yang
dimilikinya untuk memikirkan ayat-ayat Allah, dikatakan ia seperti binatang ternak,
bahkan lebih sesat lagi.

39
           

              

      
Dan Sesungguhnya Kami jadikan isi neraka Jahannam untuk kebanyakan dari jin dan manusia,
mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan
mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan
Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka Itulah orang-
orang yang lalai (Quran, Surat Al-A‟raf 7: 179)

Lalu sekarang kita bisa melihat, epistimologi macam apakah yang dibangun kaum
modern-sekuler? Ia adalah epistimologi yang dibangun dilandasi atas sikap
sombong, apakah itu? yaitu bahwa; ia adalah sikap sinisme dan skeptis atas ayat-ayat
qouliyyah (wahyu) dan tidak mau memikirkan dan terbetik pertanyaan; „barangkali
mungkin adakah ia mengandung kebenaran?‟ „Adakah dirinya bisa tersesat jika
mengabaikan ayat-ayat qouliyyah?‟, sebaliknya sikap sinisme dan skeptis itu dengan
sombongnya mengatakan ayat-ayat Allah (wahyu) adalah pengetahuan yang tidak
punya bukti empiris, bersifat ambigu dan tidak dapat dibuktikan, dan sekali lagi
berdasarkan sikap sombongnya; justru ilmu dibangun berdasarkan sikap percaya
diri dengan menganggap hebat atas segala instrumen/alat/indera yang terbatas yang
dimiliki manusia, dengan mengabaikan kehebatan Allah, memposisikan diri lebih
tinggi dari pada kehebatan Allah (sekarang manusia sudah menjadi Tuhan bila
bersikap demikian); yang merasa bahwa dia mampu mengungkap segala sesuatu
mengenai Alam Wujud, dia mampu menentukan apa itu kebenaran apa itu
kesesatan, ia mampu menentukan apakah yang salah dan apakah yang benar, ia
mampu menentukan apakah yang halal dan apakah yang haram, ia mampu
menentukan apakah yang baik dan buruk, atau barangkali dia menganggap dirinya
lebih tahu (Maha Tahu) dibandingkan Allah sendiri yang sejatinya Pencipta Alam
Raya, nau‟dzubillahi min dzalik, maka itulah kesyirikan, itulah jati diri paham
sekulerisme.

Oleh karena itu maka, sumber ilmu di dalam Islam mengakui berbagai macam
jalan dan perolehan dan boleh menggunakannya sebagai „pengetahuan sumber‟
sebagai bahan untuk dipikirkan, sebagaimana berikut:

(1) Pengetahuan hushuli-aqliyyah: yaitu pengetahuan yang diperoleh dari upaya
penelitian atau observasi empiris-positif disertai akal (logic) atas ayat-ayat
kauniyyah (alam thabi‟i, causality, dll.)

40
(2) Pengetahuan hushuli-qouliyyah: ialah upaya penelitian atas ayat-ayat al-
qouliyyah (nash Al-Quran dan Ahadits) disertai akal (logic) dan iman (tanpa
process of logic).
(3) Pengetahuan hudhuri: ialah ilmu yang hadir oleh tangkapan atau pe‟rasa‟an
indera kalbu yang diterima secara transmisi, yang memiliki 3 kemungkinan
sebagaimana yang telah dijelaskan.

Konsep pengetahuan lengkap di dalam Islam ialah, ia bisa kita ambil istilahnya dari
Al-Quran yaitu majma‟ul bahrain. Majma‟ul bahrain yaitu pertamuan dua laut: lautan
yang asin (milhun ujaj) dan lautan yang segar („adzbun furat), majma‟ul bahrain dari
Al-Quran Surat Al-Kahfi 60-61, ditakwilkan ia maknanya sebagai pertemuan dua
lautan ilmu (pengetahuan), integrasi kesatuan antara dua lautan ilmu pengetahuan
yaitu; (1) Pengetahuan ilmu dari Tuhan (At-Tanzil; “Yang diturunkan”) dan
pengetahuan manusiawi (inderawi), (2) Pengetahuan hushuli (ilm az-zhahir: ilmu
yang nampak, eksoteris, pengetahuan oleh pancaindera) dan pengetahuan hudhuri
(ilm al-bathin: ilmu yang batin, esoteris, pengetahuan batin; spiritual), (3) ayat-ayat
kauniyyah (observasi empiris-positif) dan ayat-ayat qouliyyah (nash Al-Quran dan
Ahadits).

Di antara manfaat yang diperoleh dari mengupayakan pengetahuan secara lengkap
adalah tentu saja semakin lengkap pengetahuan (yang akan menjadi sumber data)
akan semakin mendekati kebenaran suatu kesimpulan yang diperoleh atasnya, ini
adalah mirip prinsip ilmu statistika atau ilmu data dan data (pengetahuan) tentu
saja harus dipastikan validitasnya berdasarkan suatu kriteria atau metode tertentu
dan bukan data yang bias.

Al-Quran Sandaran Semua Ilmu

Sifat semua ilmu adalah nisbi, semua pengetahuan yang dimiliki manusia sekalipun
dia itu gelarnya Profesor atau Doktor (Phd) atau manusia paling berilmu di dunia
sekalipun, pengetahuan manusia hakikatnya tetap saja bersifat nisbi; relatif dan
subjektif. Akan tetapi pengetahuan yang benar, setidaknya pengetahuan yang paling
mendekati kebenaran ia adalah pengetahuan yang dilandaskan atau disandarkan
pada kebenaran yang sifatnya mutlak atau pengetahuan yang memiliki kandungan
kebenaran mutlak. Apakah ada kebenaran mutlak itu sejatinya? Bila kita
menggunakan pendekatan Epistimologi sekuler, tentu saja tidak ada kebenaran
mutlak, ilmu bersifat relatif, ilmu akan selalu menglami dialektika (tesis-antitesis-
sintesis), ilmu akan selalu jatuh kepada kenisbian, ilmu dan standar ilmu akan
selalu berubah sepanjang zaman, sepanjang waktu, akan selalu terjadi “revolusi
warna”; merah, kuning, hijau, dan seterusnya, dan seterusnya.

Akan tetapi kadang ada benarnya juga pendapat kaum modern-sekuler tersebut,
sifat ilmu semuanya relatif, tapi maksudnya disini ilmu manusia, ya yang kita

41
bicarakan adalah ilmu manusia. Sifat semua ilmu manusia adalah nisbi, baik
manusia itu mengupayakan pengetahuan secara hushuli (observasi empirisi-positif)
terhadap ayat-ayat kauniyyah, maka ilmu akan jatuh kepada relativitas (paralogisme-
spekulatif), atau manusia pengupayakan pengetahuan secara hudhuri (me‟rasa‟kan
dengan kalbu) maka ilmu akan jatuh kepada subjektifitas, atau bila manusia
mengupayakan semua jalan perolehan secara huhsuli-aqliyyah, hudhuri, hushuli-
qouliyyah sekalipun, tetap saja “pengetahuan manusia” bersifat nisbi; relatif dan
subjektif. Ilmu apapun itu, ilmu manusia, sekalipun itu ilmu agama yang dibangun
berlandaskan ayat-ayat qouliyyah (wahyu atau dalil-dalil naqly), pengatahuan
manusia tidak dapat terlepas dari kenisbian, pengetahuan manusia tidak bersifat
mutlak, selalu ada bias dan kenisbian. Lalu apa sebenarnya yang menjadi tolak ukur
dan sandaran yang paling kokoh sebetulnya?

Inilah yang baru akan kita bicarakan, perbedaannya paham barat-sekuler dan
paham Islam adalah bahwa; dalam paham dan iman Islam memang betul ilmu
manusia itu bersifat nisbi, tapi tidak Ilmu Allah, Ilmu Allah bersifat benar dan
mutlak (absolute truth), adapun kaum barat-sekuler memang tidak mengenal ilmu
apapun lagi selain hanya ilmu ya hanya ilmu manusia itulah saja yang dimaksud,
oleh karena itu kaum barat-sekuler tidak mengenal apakah ada kebenaran absolut
itu? yang dipahami kaum barat-sekuler kebenaran mutlak itu hanya matematika
(pengetahuan dengan makna-makna terukur), tetapi masalahnya tidak semua hal
bisa di-matematika-kan, itulah akhirnya ilmu jatuh kepada kenisbian (relativitas). Di
dalam Islam mengenali; bahwa ada suatu ilmu yang memiliki status kebenaran
mutlak, yaitu adalah ilmu Allah.

Lalu di manakah ilmu Allah bisa kita peroleh?

Ilmu Allah adalah ilmu yang diturunkan (At-Tanzil) dan dianugrahkan kepada
manusia yang menerimanya. Allah memberikan ilmuNya kepada siapa yang Dia
kehendaki, di antaranya ialah orang-orang yang terbaik, orang-orang pilihan Allah
para Nabi dan Rasul. Ilmu Allah tidak akan bisa diperoleh seseorang bila Dia tidak
berkehandak, sekalipun seorang manusia mengupayakannya menggunakan seluruh
indera dan seluruh upaya yang dilakukannya. Allah memberikan petunjuk
(pengetahuan yang benar) kepada siapa yang dikehendaki, Allah menyesatkan siapa
yang Dia kehendaki (membiarkannya dalam kenisbian). Siapa yang diberi petunjuk
(pengetahuan yang benar) maka tiada apapun atau sesiapapun yang dapat
menyesatkannya, Siapa yang disesatkan maka tiada apapun atau sesiapapun yang
dapat memberikan petunjuknya (dibiarkan dalam kenisbian).

Maka di antara ilmu Allah, satu-satunya ilmu Allah yang mutlak kebenarannya yang
diturunkan (At-Tanzil) yang memiliki otentisitas yang dijamin dan terjaga dari
korupsi (kerusakan) hingga hari kiamat ia adalah kitab Al-Quran. Oleh karena itu
juga maka, di antara orang yang diberikan ilmu Allah adalah ia yang

42
menerima/memahami ilmu Allah (Al-Quran) secara otentik (secara tepat dan tidak
terkorupsi), orang yang diberikan ilmu Allah adalah seorang yang diberikan
hikmah yaitu kefahaman yang tepat atas agama.
“Barang siapa yang dikehendaki Allah atas seseorang kebaikan maka Allah fahamkan ia tentang
agama”

Maka dari itu ilmu manusia yang benar atau yang paling mendekati kebenaran
adalah ilmu manusia yang disandarkan pada ilmu Allah, ilmu Allah yang dijamin
otentisitasnya oleh Allah sendiri hingga hari kiamat yaitu Al-Quran; maka Al-
Quran mesti didudukkan sebagai sandaran utama dan mutlak.

Ilmu manusia tanpa bersandar pada Al-Quran adalah nisbi; seorang manusia
mengupayakan pengetahuan secara hushuli-aqliyyah tanpa bersandar pada Al-Quran,
akan jatuh kepada kenisbian (relativitas: paralogisme-spekulatif), seorang manusia
mengupayakan pengetahuan secara hudhuri tanpa bersandar pada Al-Quran akan
jatuh kepada kenisbian (subjektifitas), sekalipun seseorang mengupayakan
pengetahuan hushuli-qouliyyah (melakukan studi atas teks-teks agama; kitab suci dan
sabda-sabda Nabi dan Rasul) atau menggunakan seluruh macam upayanya tanpa
bersandar pada Al-Quran, tetap saja akan jatuh kepada kenisbian. Ahadits
sekalipun bila dipahami dan dijadikan hujjah berdiri sendiri tanpa bersandar dan
disandingkan dengan Al-Quran (di mana hanya Al-Quran satu-satunya ilmu Allah
yang dijaga otentisitasnya dan bersifat mutlak kebenarannya) maka juga akan jatuh
kepada kenisbian.

Oleh karena itu Al-Quran adalah ilmu Allah satu-satunya yang diturunkan (At-
Tanzil), yang paling berhak, untuk menjadi satu-satunya sandaran dan tolak ukur
yang paling utama, yang paling tertinggi, yang paling mutlak, oleh karena
kandungan kebenarannya yang bersifat mutlak dan otentik. Akan tetapi, Al-Quran
akan berfungsi sebagai tolak ukur dan sandaran apabila ayat-ayatnya digunakan
secara lengkap dan relevan (lihat lebih lanjut di sub-bab Metodologi Ilmiah Islam;
„Metodologi Studi Teks‟), apabila kaedah ini diabaikan maka Al-Quran sekalipun
akan bersifat nisbi (relatif dan subjektif) dan tidak ada lagi yang tersisa dan
diharapkan dari ilmu/pengetahuan manusia yang telah jatuh kepada kenisbian
(kesesatan). Al-Quran bersama-sama dengan Ahadits di dalam Islam berfungsi
sebagai landasan dan tolak ukur yang utama untuk ilmu/pengetahuan dan untuk
segala sesuatu persoalan manusia.

Oleh karena itu maka di dalam metodologi ilmu Islam, Al-Quran adalah sandaran
ilmu dan tolak ukur yang paling dasar (yang paling mutlak, yang paling utama, yang
paling tinggi) untuk semua pengetahuan dan ilmu pengetahuan, Al-Quran
berfungsi sebagai landasan ilmu oleh karena fungsi Al-Quran; ia adalah Ilmu Allah
(yang mengandung ilmu-ilmu, hukum-hukum, hikmah-hikmah) yang mampu
menjelaskan segala sesuatu, tibyanan likulli syaiin (Quran, Surat An-Nahl 16: 89).

43
Setiap kata atau kalimah di dalam Al-Quran adalah ilmu (Quran, Surat Al-Kahf 18:
109). Sebagian ayatnya muhkamat: yakni jelas dan terang; ia memuat hukum-hukum
syara‟ mengenai halal dan haram, sebagian ayatnya mutasyabihat; ilmu atau
pengetahuan yang bisa berfungsi umum yang bermanfaat untuk manusia, atau ia
boleh disebut juga sebagai „jawami‟ ul-kalim‟; yakni kalimah yang memiliki banyak
makna namun makna-maknanya sama-sama benar (Quran, Surat Ali Imran 3: 7),
sehingga keseluruhan ayat-ayat Al-Quran sejatinya adalah mampu memberi solusi
dan manfaat, tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Quran yang tidak bermanfaat dan
tidak memberi solusi bagi manusia. Ayat-ayat muhkamat akan jelas dan terang
dengan pendekatan tafsir, namun ayat-ayat mutasyabihat disamping pendekatan
tafsir ia masih membuka ruang kemungkinan penerapan takwil (dengan
memperhatikan kaedah-kaedah yang benar; lihat sub-bab „metodologi studi teks‟).
Tafsir dan Takwil adalah dua metode studi teks (nash) yang bisa diterima di dalam
Islam.

Oleh karena Al-Quran merupakan sandaran ilmu/sandaran pengetahuan dan tolak
ukur ilmu/tolak ukur pengetahuan; baik „pengetahuan sumber‟ maupun
„pengetahuan jadi‟; disiplin ilmu pengetahuan, maka berlaku hirarki ilmu dan
bangunan ilmu dalam islam.

Hirarki Sumber Ilmu („Pengetahuan Sumber‟):

Al-Quran (ayat al-qouliyyah, wahyu, dalil naqly)
Ahadits (ayat al-qouliyyah, wahyu, dalil naqly)
Observasi empiris (ayat kauniyyah; pengalaman dan pengamatan inderawi)

Dalam arti bahwa; urutannya dari atas kebawah menunjukkan wewenang (authority)
dan keutamaan (priority). Authority maksudnya berwenang dalam hal menjadi tolak
ukur (yang menghakimi, yang mengkoreksi) „pengetahuan sumber‟ atau disiplin
ilmu (knowledge) atau ilmu pengetahuan (science) yang dibangun oleh „pengetahuan
sumber‟ tersebut yang berposisi dibawahnya dalam urutan tersebut. Priority
maksudnya adalah „pengetahuan sumber‟ tersebut menunjukkan tingkat
kandungan kebenaran yang lebih tinggi atau lebih mutlak dalam urutan, sehingga
„pengetahuan sumber‟ yang lebih tinggi urutannya lebih diutamakan untuk
dijadikan pegangan keilmuan.

Bangunan Sumber Ilmu („Pengetahuan Sumber‟):

Observasi empiris (ayat al-kauniyyah; pengalaman dan pengamatan inderawi)
Ahadits (ayat al-qouliyyah, wahyu, dalil naqly)
Al-Quran (ayat al-qouliyyah, wahyu, dalil naqly)

44
Dalam arti bahwa; urutannya dari bawah ke atas menunjukkan „yang menjadi
landasan‟ dan „yang bertumpu‟. Al-Quran berfungsi sebagai landasan bagi semua
„pengetahuan sumber‟.
Process of logic (al-aql):

Ilmu Islam
Data Input: Output:
- Al-Quran Pandangan Alam Wujud Islam
- Ahadits > process of logic > (Islamic Worldview),
- Observasi Empiris Disiplin Ilmu dan Ilmu
- Hudhuri Pengetahuan Islam

Ilmu Sekuler
Output:
Data Input: Pandangan Alam Wujud
- Observasi Empiris > process of logic > Sekuler (Secular Worldview),
- Hudhuri (intuisi, idea, dll) Disiplin Ilmu dan Ilmu
Pengetahuan Sekuler

Klasifikasi dan Hirarki Disiplin Ilmu

Berikut ini merupakan klasifikasi pembagian ilmu atau divisi ilmu dan hirarki yang
menunjukkan urutan wewenang (authority) dan prioritas (priority), dari atas ke
bawah, apabila satu sama lainnya bertabrakan atau berkontradiksi, yaitu disiplin
ilmu yang berposisi pada urutan lebih bawah harus bersesuaian; sinkron dan
harmoni dengan disiplin ilmu yang berposisi pada urutan yang lebih tinggi.

1. Disiplin Ilmu Agama (Ulumuddien):
(1) Ilmu Tafsir: Metodologi Studi Teks (Nash); Tafsir dan Takwil; nash Al-
Quran dan Ahadits
(2) Ilmu Hadits (penelitian; jalur hadits, derajat-derajat hadits, otentisitas
hadits, biografi periwayat dan segala yang berkaitan dengan periwayatan
hadits)
(3) Ilmu Fiqh (Filosofi Islam): Seorang ahli fiqh harus memiliki wawasan yang
luas dan qualify secara akademis bukan sekedar menggunakan metodologi
“anak sekolahan” (metode anak sekolahan yaitu menarik kesimpulan
dengan data-data dan dalil-dalil yang tidak lengkap dan tidak relevan),
tetapi seorang ahli fiqh bisa dikatakan harus memiliki kualifikasi sekelas
doktor (phd) yang sudah terbiasa dengan penelitian berbasis data dan
komprehensif (baik data-data qouliyyah maupun data-data kauniyyah,
kuantitatif maupun kualitatif), ia harus memahami „ayat-ayat kauniyyah‟ dan
„ayat-ayat qouliyyah‟ sekaligus. Bila Al-Quran dan Ahadits adalah “bibit”

45
(sumber ilmu), observasi empiris-positif adalah “hara” ilmu (makanan
tanaman dari pohon ilmu), Ilmu Tafsir dan Ilmu Hadits “akar” ilmu, maka
Ilmu fiqh adalah “pangkal” tunggal yang melahirkan semua “cabang” ilmu
dalam Islam baik ilmu agama maupun ilmu dunia, kedudukan ilmu fiqh
sama dengan status kedudukan filosofi kalau dalam bangunan ilmu di
Barat-Sekuler, namun dalam Islam, filosofi (upaya berpikir) harus bersandar
pada ayat-ayat qouliyyah (Al-Quran dan Ahadits) itulah di dunia Islam
dinamakan dengan istilah „fiqh‟ (kefahaman yang mendalam), ilmu fiqh
sangat ditentukan oleh metode penarikan kesimpulan untuk memperoleh
„makna‟ atau „fatwa‟ dari dalil-dalil (nash/teks), Imam Syafii menyebut
metode penarikan kesimpulan (istinbath) tersebut sebagai cabang ilmu yang
dinamakan „ushul fiqh‟.
(4) Ilmu Akidah/Keyakinan (Teologi Islam): Arkanul Iman (Rukun Iman), Al-
Ihsan/Tasawwuf (spiritual iman kepada Allah); ilmu takwa/tazkiyyatun nafs,
Metafisika Islam (iman kepada yang ghaib), Eskatologi Islam (ilmu akhir
zaman dan hari akhir; hari kiamat, hari kebangkitan, hari perhitungan), dan
lain-lain.
(5) Ilmu Syar‟i [Al-Muhkamat; mahdhoh (ritualis) dan ghairu mahdhoh (non-
ritualis)]; Arkanul Islam (Rukun Islam), Halal-Haram, Makruh-Mandub, dan
lain-lain.
(6) Ilmu Akhlak: Etika Islam, Etika Praktis (Adab), sistem nilai: nilai-nilai
moral islam: (1) manusia kepada Allah, (2) manusia kepada manusia, (3)
manusia kepada lingkungan dan makhluk hidup serta kebendaan/alam.
2. Disiplin Ilmu Dunia (disiplin ilmu praktek, ilmu hidup, ilmu
berkehidupan):
(7) Ilmu Matematika dan Ilmu Bahasa
(8) Studi Ilmu Alam: Fisika, Kimia, Biologi, Teknologi, Pertanian, Kedokteran,
dan lain-lain.
(9) Studi Ilmu Sosial: Hukum, Sosial-Kemanusiaan, Budaya, Ekonomi, Politik,
Sastra, dan lain-lain

Maka, perbedaan antara bangunan disiplin ilmu Islam dan bangunan disiplin
ilmu barat-sekuler adalah sebagaimana yang ditampilkan pada tabel berikut:
Ilmu Islam Ilmu Sekuler
Pengetahuan Sumber Al-Quran Observasi Empiris-Positif
Ahadits
Observasi Empiris-Positif
Landasan Ilmu Mutlak Al-Quran Observasi Empiris-Positif
Landasan Ilmu Al-Quran dan Ahadits Observasi Empiris-Positif
Kelompok Disiplin Ilmu Ilmu Agama (Ulumuddien) Filosofi
Landasan
Pangkal Disiplin Ilmu Fiqh (Filosofi Islam) Filosofi

46
Keselarasan, Kesatuan Ilmu (Unity atau Tawhid)

Ketika ilmu semakin dicari, semakin diteliti, semakin dikejar (on pursuit of
knowledge), semakin dicari tahu, maka ia mengerucut, ilmu semakin spesifik, ilmu
akan menjadi lebih detail, ilmu akan terbelah, maka ilmu terdivisi, ilmu terbagi,
ilmu akan membuat bidang-bidangnya sendiri, sehingga pengetahuan yang
diperoleh manusia akan semakin kompleks, semakin banyak, pengetahuan manusia
meluas, divisi ilmu itu adalah konsekwensi dan akibat yang konstan dari upaya
mengejar ilmu (pursuit of knowledge).

Akan tetapi proses pembangunan atau pengembangan ilmu tidak berhenti sampai
disini saja, tidak berhenti hanya pada satu arah di mana ia menuju arah pembagian,
pembagian, pembagian yang tidak ada habisnya di mana ilmu semakin meruncing
dan tajam, maka pengetahuan manusia juga atasnya akan semakin lebih tajam dan
lebih canggih pula, lebih mutakhir, upaya manusia untuk mengejar ilmu mestinya
tidak berhenti hanya sampai pada tahap terbaginya ilmu menjadi divisi-divisi,
disiplin-disiplin ilmu.

Proses pengembangan ilmu juga mestinya harus menuju ke pada arah yang
sebaliknya setelah ilmu itu terdivisi, yaitu pengembangan ilmu harus dikaji, dicari
tahu, diteliti kepada arah lintas bidang, dimana setelah ilmu terdivisi harus
diupayakan pula ilmu yang telah terdivisi itu dibawa kepada arah penyelarasan
ilmu, ilmu harus diharmonikan antara satu bidang ke bidang lainnya, dan dalam
penyelarasan ilmu harus dapat diketahui dan disesuaikan pula mana ilmu yang
tepat menjadi „tolak ukur‟ dan mana yang menjadi „objek ukur‟, mana „ilmu yang
harus menyesuaikan dengan‟ mana „ilmu yang harus disesuaikan dengan‟, sehingga
sifat ilmu menjadi bersifat intercorrelated (saling berhubungan dan lintas bidang)
dan bersifat multidimensional, wujud sebagai ilmu-ilmu campuran. Maka akan
diperoleh satu-kesatuan ilmu (unity of knowledge atau tawhid), ilmu-ilmu menjadi
harmoni, ilmu-ilmu menjadi tidak berkontradiksi, saling bertentangan antara satu
bidang ilmu dengan bidang ilmu lainnya. Terutama sekali dalam proses
penyelarasan adalah semua ilmu diselaraskan, diharmonikan dengan landasan atau
sandaran ilmu itu sendiri yaitu Al-Quran sebagai landasan yang mutlak dan
bersama-sama Ahadits, semua ilmu selaras dan harmoni dengan kelompok disiplin
ilmu agama (ulumuddien), dan disiplin-disilin ilmu lainnya. Sehingga ilmu di dalam
Islam sejatinya adalah lintas bidang, intercorrelated (saling berhubungan) dan
multidimensional.

Maka dari itu, bila ilmu dipersatukan ia akan menghasilkan bangunan ilmu yang
akan membuahkan manfaat yang solutif bagi kehidupan. Ini adalah kritik bagi
bangunan ilmu yang berlaku dalam sistem dunia pendidikan modern dan
universitas yang ada pada saat ini adalah bahwa ilmu dibangun dan dikembangkan
terhenti hanya pada upaya pengejaran ilmu (pursuit of knowledge) yang terdivisi dan

47
tidak dilanjutkan pada pengembangan ilmu yang bersifat lintas bidang,
intercorrelated dan multidimensional. Pada akhirnya bangunan ilmu yang terbangun
hanya memiliki daya kritis, tetapi tidak memiliki daya kreatif atas persoalan, atau
sebaliknya (memiliki daya kreatif tetapi tidak memiliki daya kritis), bangunan ilmu
yang tidak harmoni dengan „tatanan moral‟ kemudian pada akhirnya hanya akan
menghasilkan solusi-solusi yang menimbulkan masalah baru, ilmu menjadi rusak
dan bersifat menghasilkan mafsadat (fasad: bersifat rusak dan merusakkan), alih-alih
menjadi mashlahat. Pada akhirnya dunia ilmu yang disiplin-disiplin ilmunya bersifat
terpisah-pisah dan terdivisi itu kemudian hanya menjadi alat atau diperalat oleh
kuasa jahat, yang menguasai perdaban manusia, yang hanya akan menguntungkan
golongan-golongan sepihak dan segelitintir orang disamping menimbulkan
kerugian pada yang lainnya, inilah yang terjadi pada bangunan ilmu modern yang
sekuler dan terdivisi yang diterapkan kepada dunia-dunia saat ini, di mana para
sarjanawan hanya disibukkan pada pengerucutan ilmu yang terus dikembangkan
yang tidak memberi arti dan solusi banyak bagi masalah riil kehidupan manusia.

Metodologi Penelitian Dan Pengembangan Ilmu Islam

Di antara hal yang menjadi penting, apabila tujuannya adalah membangun
bangunan ilmu islam, tetapi luput dan tanpa memahami dasar-dasarnya, maka
bangunan ilmu islam itu tidak mungkin dan nihil, atau ia hanya akan menjadi
bangunan ilmu islam, yang “islam”nya hanya menjadi “nama” saja, tinggal “nama”
saja. Oleh karena itu agar, yang terwujud itu adalah bangunan ilmu islam dan
hirarki ilmu islam bisa berfungsi dengan baik, di antara yang harus diperhatikan
adalah kaedah-kaedah dalam Metodologi Studi Teks (Nash): Al-Quran dan Ahadits,
sebagaimana yang akan dijelaskan.
Metodologi Studi Teks (Nash):

(1) Kaedah menggunakan Al-Quran (sebagai sandaran, landasan, tolak ukur atau
hakim/judge)

1. Tidak boleh ada yang mem-bypass (melangkahi) Authority (wewenang) Al-
Quran; Al-Quran harus didudukkan sebagai Al-Furqan; tolak ukur yang
mutlak yang paling tinggi (atas segala sesuatu dalam kehidupan manusia
termasuk; ilmu pengetahuan dan persoalan manusia)

Al-Quran, ia adalah ilmu Allah yang memuat ilmu-ilmu, hukum-hukum,
aturan-aturan (order), hikmah-hikmah (kebijaksanaan) yang memiliki
jaminan kebenaran mutlak dan otentik, yang maka ia harus didudukan atau
diletkakan harus lebih tinggi dibanding semua yang ada; hukum Allah
Adalah hukum tertinggi, ilmu Allah adalah ilmu tertinggi, aturan Allah
adalah aturan tertinggi. Oleh karenanya implikasinya ia berfungsi sebagai
sumber ilmu, landasan ilmu, tolak ukur yang mutlak yang paling tinggi

48
yakni Al-Furqan yang dapat membedakan; mana-mana kesesatan, mana-
mana kebenaran, mana-mana ke-valid-an (benar dan otentik/shahih), mana-
mana kenisbian (relatif; kadang benar, kadang tidak) dan kesesatan.

Al-Quran diturunkan untuk kaum yang berakal, kalau kaum itu tidak
berakal maka Al-Quran tidak perlu dibicarakan. Oleh karena itu akal,
sebagai alat yang distinct yang paling berperan, yang paling menentukan
yang bisa membedakan mana kebenaran mana kenisbian, apabila Al-Quran
telah diterima (diimani dan diketahui) oleh akal sebagai kebenaran dan
kebenarannya bersifat mutlak, maka Al-Quran harus diposisikan lebih
tinggi atas akal, dan akal harus menggunakan atau memanfaatkan sumber
data itu (wahyu) dengan cara yang benar dengan metode yang benar agar
“kebenaran mutlak” yang terkandung di dalamnya, di dalam Al-Quran tidak
hilang, tidak menjadi nihil atau tidak menjadi nisbi.

Melalui akal pula dapat dibedakan mana Ahadits yang shahih (otentik)
mana yang dhaif dan lain-lain; yaitu penelitian dalam Ilmu Hadits.
Kemudian disamping itu dalil-dalil Al-Quran juga dapat difungsikan untuk
mengklarifikasi kebenaran, kesesuaian, Ahadits tersebut, dan Al-Quran
berfungsi membenarkan dan mensuport, menguatkan kebenaran Ahadits;
perkataan Nabi ‫ز‬.

Adapun selain dari pada Al-Quran tidak ada jaminan validitas kebenaran
secara mutlak dan otentik (shahih). Hanya Al-Quran saja yang memiliki
jaminan validitas kebenaran secara mutlak dan otentik. Oleh karena itu
maka, Ahadits, qoul shahabah, qoul tabi‟in, qoul ulama, ilmu fiqh, ilmu
agama, ilmu dunia akan diletakkan atau didudukan setelah Al-Quran, dan
Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama, ilmu fiqh, ilmu agama, ilmu
dunia tidak bisa mem-bypass (melangkahi) Authority (wewenang) Al-Quran,
dalam arti bahwa; Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama, ilmu
fiqh, ilmu agama, ilmu dunia, tidak bisa berkedudukan lebih tinggi dari
pada Al-Quran, di mana; Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama,
ilmu fiqh, ilmu agama, ilmu dunia berlaku mengkoreksi Al-Quran, bisa
mengkoreksi dan mengkritisi Al-Quran berserta apa yang dikandungnya;
ayat-ayatnya. Juga dalam arti bahwa Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul
ulama, ilmu fiqh, ilmu agama, ilmu dunia tidak boleh mengabaikan satu
ayat pun di dalam Al-Quran dalam membuat kesimpulan, perolehan makna
(tafsir dan takwil), istinbath fatwa (produk hukum) dan dengannya membuat
hukum atau aturan atau teori atau panduan praktek (metodologi/kaidah
(Qaidah)/cara/sunnah). Maka apabila Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in,
qoul ulama, ilmu fiqh, ilmu agama, ilmu dunia mengabaikan satu ayat pun
daripada Al-Quran dalam membuat kesimpulan dan memperoleh „makna‟

49
maka ia telah mem-bypass authority Al-Quran untuk mendudukan Al-Quran
sebagai tolak ukur, landasan yang paling tinggi.

Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama, ilmu fiqh, ilmu agama, ilmu
dunia, hanya bisa berfungsi setelah Al-Quran didudukan sebagai authority
yang paling tinggi, menghormati Al-Quran sebagai authority yang paling
tinggi dengan tidak mengabaikan satu ayat pun di dalam Al-Quran dalam
memfungsikan Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama, ilmu fiqh,
ilmu agama, ilmu dunia.

Al-Quran dihormati dan didudukan sebagai authority yang paling tinggi
dengan cara:

Ayat-ayat Al-Quran secara keseluruhan tanpa terkecuali dikumpulkan
dengan seluruh kumpulan Ahadits secara harmoni [boleh pula diikutkan
qoul shahabah, qoul thabiin, qoul ulama tetapi hanya terkait studi tafsir (tidak
termasuk fatwa, ijtihad, pendapat ulama), yaitu studi tafsir yang saling
bersesuaian; sinkron dan harmoni secara keseluruhan berdasarkan jumhur
ulama, tidak termasuk tafsir ulama yang kontradiktif yang melenceng amat
jauh atau tidak bersesuaian, tidak harmoni dan tidak sinkron dengan
perolehan makna keseluruhan dari studi tafsir yang mayoritas], untuk
kemudian setelah makna tafsir tersebut diperoleh kemudian
menggunakannya untuk melihat mana-mana Ahadits yang bertentangan,
kontradiktif dengan „makna yang diperoleh dari totaliti dalil-dalil Al-Quran‟
(dari studi tafsir yang melibatkan; qoul Nabi/Ahadits, qoul shahabah, qoul
thabi‟in, qoul ulama) maka Ahadits yang bertentangan tersebut tidak akan
menjadi sandaran/hujjah yang mutlak, adapun Ahadits yang bersesuaian,
sinkron dan harmoni dengan makna totaliti dalil-dalil ayat Al-Quran
tersebut maka ia disatukan bersama-sama dengan dalil-dalil ayat Al-Quran
menjadi tolak ukur utama, sebagai kumpulan dalil-dalil Al-Quran dan
Ahadits yang harmoni. Mana-mana qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama
yang bersesuaian, sinkron dan harmoni dengan tolak ukur tersebut maka
disatukan dengan tolak ukur dalil-dalil Al-Quran dan Ahadits yang harmoni
tersebut dijadikan sebagai satu-kesatuan tolak ukur pokok (inti/core) yang
lebih besar, mana-mana qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama yang
bertentangan, tidak sinkron dan tidak harmoni, maka dikesampingkan,
tidak diikutkan sebagai tolak ukur besar (kumpulan dalil-dalil Al-Quran,
Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama yang harmoni). Mana-mana
ilmu agama (ilmu akidah, ilmu syariah, ilmu akhlak) dan ilmu dunia yang
tidak bersesuaian dengan tolak ukur besar (kumpulan dalil-dalil Al-Quran,
Ahadits, qoul shahabah, qoul thabi‟in, qoul ulama yang harmoni, yang

50
bersesuaian), maka ia bukanlah ilmu yang bisa dijadikan sandaran dan ilmu
yang digunakan untuk berkehidupan secara Islam.

2. Al-Quran (sebagai Al-Furqan) adalah hakim atas pengetahuan hudhuri
lainnya
(1) Al-Quran digunakan untuk menghakimi wahyu: yang pernah datang
sebelum Al-Quran atau pengakuan orang yang mendapat wahyu;
mengkoreksi mana-mana wahyu yang benar dan mana-mana yang
tidak benar atau sudah dibengkokkan (tidak otentik) (tidak ada lagi
Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad ‫)ز‬.
(2) Al-Quran bisa digunakan sebagai tolak ukur untuk menghakimi
intuisi, ide, ilham, firasat seseorang:
a. Mana-mana yang bersesuaian dengan Al-Quran dan Ahadits
maka ia bisa menjadi pengetahuan yang bisa diterima dan
dapat dimanfaatkan sebagai pengetahuan yang bermanfaat.
b. Mana-mana yang berkontradiksi dengan Al-Quran dan Ahadits
maka ia hanyalah pengetahuan yang nisbi (relatif dan subjektif).
(3) Al-Quran bisa juga digunakan untuk menilai atau memberi ciri
mimpi yang benar (ru‟yat shadiqa wa ru‟yat shaliha) atau mimpi yang
tidak baik (hasutan syaithan)

3. Fungsi Al-Quran (Al-Furqan, Landasan Ilmu, Tolak Ukur Ilmu) akan
berfungsi dengan baik dan benar (tepat) apabila dalil-dalilnya digunakan
secara lengkap dan relevan.

(1) Tidak boleh mengambil makna (tafsir dan takwil) atau kesimpulan
(istinbath fatwa) dari dalil-dalil ayat secara terisolasi, di mana tidak
lengkap ayatnya.

Tidak boleh menggunakan dalil-dalil ayat Al-Quran secara
berasingan, terisolasi, mengambil makna (tafsir dan takwil) dan
kesimpulan (fatwa) dari satu dalil saja atau dua atau tiga dan
seterusnya yang tidak lengkap ayatnya, melainkan dalam
memperoleh makna (tafsir dan takwil) dan kesimpulan (istinbath
atau fatwa; produk hukum) harus menggunakan dalil-dalilnya secara
lengkap, mengharmonikan dan mensinkronkan totaliti data dalil-
dalil ayatnya untuk memperoleh makna yang utuh dan menyeluruh
sehingga ia bekerja dengan sistem makna (system of meaning),
menerapkan kaedah yang paling prioriti (paling didahulukan)
sebelum kaedah-kaedah lainnya yaitu kaedah Tafsir Quran Bil
Ma‟tsur; Quran dengan Quran, Quran dengan Hadits, dst. Dalam
proses pengambilan makna atau kesimpulan dari dalil-dalil ayat yang

51
lengkap tersebut boleh pula menambahkan asbabun nuzul, hadits,
qoul shahabah, qoul thabi‟in, qaoul ulama tapi hanya terkait tafsir
bukan terkait fatwa, ijtihad atau pendapat ulama yang sudah
merupakan prodak jadi/produk hukum.

(2) Tidak boleh menggunakan dalil-dalil ayat secara tidak relevan; yaitu
dalil-dalil ayat dikaitkan atas persoalan (rumusan masalah) secara
tidak relevan dan dipaksakan, melainkan suatu dalil-dalil ayat Al-
Quran memang berkaitan dan qualify secara akademis, bukan asal
menghubung-hubungkan saja secara tidak relevan.

Hal ini bermaksud untuk memastikan perolehan makna (tafsir dan takwil)
dan kesimpulan (istinbath atau fatwa; produk hukum) yang benar. Apabila
rule (kaedah) ini tidak diindahkan maka ini bisa membawa kepada
perolehan makna dan kesimpulan yang error dan fatal. Hal ini merupakan
kritik kepada para sarjanawan atau ulama-ulama Islam yang mengambil
makna dan kesimpulan dari dalil ayat-ayat Al-Quran secara berasingan,
terisolasi, di mana satu ayat dengan ayat lainnya tidak berhubungan, kaedah
Tafsir Quran Bil Ma’tsur atau Quran bil Quran tidak diindahkan,
sebelum berbicara tafsir-tafsir lainnya, dan juga mengambil makna dan
kesimpulan dengan memasukkan (menggunakan) dalil-dalil yang tidak
relevan, yang dipaksakan untuk menghakimi persoalan.

Dalam masa Islam Klasik, metode untuk meminimalisir kesalahan dalam
memperoleh kesimpulan ini ialah dengan cara mengumpulkan ulama: Ijma‟
Ulama. Mengumpulkan kapasitas Ulama-Ulama atas pemahaman, atas
makna isi kandungan ayat-ayat Al-Quran, mengumpulkannya dalam satu
kesatuan dalam suatu sidang, diskusi atau konvensi atau musyawarah untuk
menentukan perolehan makna dan kesimpulan yang tepat. Sehingga makna
(tafsir dan takwil) dan kesimpulan (istinbath atau fatwa) yang diperoleh itu
bisa dijadikan tolak ukur persoalan atau hakim atau pegangan untuk
berkehidupan untuk memecahkan persoalan manusia. Akan tetapi
kelemahan metode Ijma‟ Ulama terutama di saat kondisi zaman modern
seperti saat ini bila Ulama dikumpulkan dengan ia tidak memperhatikan
kaedah-kaedah di atas maka hanya akan menghasilkan kontradiksi,
dilematika, saling koreksi dan perdebatan yang tidak ada solusinya.

(2) Kaedah menggunakan Ahadits

4. Fungsi Ahadits (yaitu sumber hukum, sumber ilmu, sumber hikmah kedua
setelah Al-Quran dan bersama-sama dengan Al-Quran berfungsi sebagai
batu landasan dan tolak ukur persoalan kehidupan dan juga untuk dunia

52
keilmuan); Ahadits akan berfungsi dengan baik dan benar (tepat) apabila;
dalil-dalilnya digunakan secara (1) lengkap, (2) relevan dan (3) bersesuaian
(sinkron/harmoni) dengan Al-Quran di mana dalil-dalil ayatnya juga
digunakan secara lengkap dan relevan atas persoalan yang sama (rumusan
masalah yang sedang dikaji), sehingga diperoleh pemkanaan yang lebih
besar, lengkap dan utuh berdasarkan sistem makna (system of meaning), dari
suatu kumpulan dalil-dalil Al-Quran dan Ahadits secara bersama-sama
sebagai tolak ukur dan batu landasan.

5. Apabila Ahadits Bersesuaian (sinkron/harmoni); dengan makna (tafsir dan
takwil) yang diperoleh dari totaliti dalil ayat-ayat Al-Quran, maka Ahadits
tersebut bisa dimasukkan menjadi landasan; diikutkan ke dalam suatu
kumpulan dalil-dalil Al-Quran dan Ahadits yang menjadi tolak ukur dan
batu landasan, sekalipun statusnya dhaif terlebih lagi jika statusnya shahih.

6. Apabila Ahadits Bertentangan (kontradisi); dengan makna (tafsir dan
takwil) yang diperoleh dari totaliti dalil ayat-ayat Al-Quran (sekalipun
setelah upaya harmonisasi dan sinkronisasi telah dilakukan namun tidak
juga ada jalan hadits tersebut bisa harmoni dan sinkron dengan dalil-dalil
Al-Quran), maka Ahadits tersebut bisa dikesampingkan (bila statusnya
shahih tidak berarti dibuang, hanya saja diturunkan prioritinya; dan tidak
perlu menjadi tolak ukur mutlak); dalam arti tidak perlu diikutkan ke
dalam suatu kumpulan dalil-dalil Al-Quran dan Ahadits yang menjadi tolak
ukur dan batu landasan utama yang mengukur suatu persoalan atau
menghakimi persolaan, tidak perlu membangun sikap intolerir dengan
membangun pendirian berdasarkan Ahadits tersebut, atau bahkan bila jelas-
jelas sekali suatu Ahadits tersebut bertentangan dengan totaliti dalil-dalil Al-
Quran (statusnya dhaif/lemah, mardud/tertolak, dan lain-lain)

7. Apabila Ahadits Tidak Bersesuaian Tapi Juga Tidak Bertentangan (lebih
bersifat tengah-tengah); dengan makna (tafsir dan takwil) yang diperoleh
dari totaliti dalil ayat-ayat Al-Quran, maka Ahadits tersebut harus
disinkronkan atau disintesakan (maknanya) dengan totaliti dalil ayat-ayat
Al-Quran, di mana Ahadits tersebut dicoba untuk memungkinkan dalil
Ahadits tersebut berperan sebagai perinci atau penambah penjelasan dari
dalil-dalil ayat Al-Quran, bila pada akhirnya berujung pada ditemui ia
bertentangan (setelah upaya harmonisasi dan sinkronisasi dilakukan) maka
ia dikesampingkan, tidak perlu diikutkan menjadi landasan yang utama
(hujjah) yang mutlak dalam suatu kumpulan dalil-dalil Al-Quran dan
Ahadits.

53
Sebagai catatan, hendaknya mendahulukan Al-Quran dari pada Ahadits, Ahadits
sebaliknya harus digunakan secara bersama-sama dengan Al-Quran (dengan
menggunakan ayatnya secara lengkap dan relevan), menurut Maulana Dr.
Muhammad Fazlur Rahman Anshari, guru dari Shaikh Imran Nazar Hosein
rahimahmullah, sekterianisme atau golongan-golongan di dalam Islam sebagian
besarnya oleh karena pendirian yang dibangun berdasarkan Ahadits, Ahadits tidak
boleh berdiri sendiri tanpa Al-Quran oleh karena ia akan jatuh kepada kenisbian
(relativitas dan subjektivitas). Oleh karena itu maka pendirian pokok (landasan atau
hujjah) hendaknya dibangun berlandaskan Al-Quran sebagai inti (core) dan Ahadits
yang bersesuaian dengan Al-Quran, kesemuanya digunakan bersama-sama secara
harmoni sehingga diperoleh makna yang utuh dan menyeluruh berdasarkan system
makna (system of meaning), oleh karena itu maka persatuan ummat Islam akan
terjalin kembali jika kembali kepada Al-Quran (tali Allah), siapa yang menyelisihi
Al-Quran maka dia telah keluar dari Islam.

(3) Posisi Pengetahuan Huhduri (Knowledge By Presence)

Ilmu hudhuri pada dasarnya adalah konsepsi kenabian dan hanya diterima oleh Nabi
dan Rasul, Tetapi ilmu hudhuri boleh diterima oleh seorang manusia biasa apabila
memenuhi berikut syaratnya:

1. Ia bukan merupakan wahyu yang menjadikan seseorang Nabi atau Rasul;
karena tidak ada Nabi dan Rasul setelah Nabi Muhammad.
Ia boleh berupa; ilham, intuisi, idea yang muncul, firasat, mimpi (kasyaf
atau ru‟yat), dan lain-lain.

2. Ilmu hudhuri-ladunni (dari Allah), boleh datang kepada seorang manusia
yang sholih yang memiliki jiwa dan hati yang bersih, yang telah melewati
penyucian jiwa (tazkiatun nafs) dengan amat sangat baik, sehingga hati
seorang mukmin bisa menerima nur Allah.

HR. Tirmidzi, dari Ibnu Umar ‫ر‬
‫اتقوا فراسة المؤمن فإنه ٌنظر بنور هللا‬
“Berhati-hatilah terhadap firasat seorang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Allah”

HR. Bukhari, Muslim dan Tirmidzi, dari Abu Hurairah ‫ ر‬dan Ubadah
bin Shamit ‫ر‬.
‫رؤٌا المؤمن جزء من ستة و اربعٌن جزءا من نبوٌة‬
“Mimpi seorang mukmin adalah 1 bagian dari 46 bagian kenabian”

54
ً‫العلم نور و نور هللا ال ٌعطى للعاص‬
“Ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidak diberikan kepada ahli maksiat” (Imam Syafi‟i)

Adapun kaedah atau aturan yang harus dipenuhi dalam menggunakan ilmu
hudhuri/ladunni sebagai tolak ukur, ialah sebagai berikut:

1. Ia tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Ahadits yaitu:
a. Ilmu hudhuri seseorang tidak bisa menambah syariat (aturan
muhkamat) yang baru, berkaitan dengan improvisasi (bid‟ah), kecuali
yang berdimensi/beririsan dengan dimensi muammalah dan hanya
irisan muammalahnya itu sajalah yang boleh dilakukan
penambahan/bid‟ah/improvisasi (asalkan tidak bertenangan dengan
Al-Quran dan Ahadits, yakni tidak melanggar halal-haram Al-
Muhkamat; menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal);
dan urusan muammalah tidak bisa dianggap ritualis/mahdhoh,
apabila urusan muammalah dianggap ritualis/mahdhoh maka itu
termasuk penambah-nambahan (bid‟ah) dalam urusan agama, yang
termasuk bid‟ah dholalah (kecuali ada dalil-dalil yang
membolehkannya, semisal; tarawih, qunut dalam sholat fardhu; qunut
ikhtilafiyyah yang masih bisa diterima, doa-doa dengan lafadz tertentu
yang tidak dicontohkan tetapi dibolehkan, yang tidak melanggar
„nilai-nilai keyakinan islam‟ atau „keyakinan Islam‟ yang telah
dijelaskan dari dalil-dalil nash secara totalnya dan tidak melanggar
Al-Muhkamat (Syar‟i), tidak melanggar aturan-aturan mengenai: (1)
Arkanul Islam (Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Hajji), (2) Halal-
haram ketentuan Al-Quran dan Ahadits yang sudah qath‟i.

Ibadah ritualis (mahdhoh) adalah ibadah tata cara menyembah Allah
yang sudah baku yang dijelaskan dalam al-muhkamat baik di dalam
Al-Quran maupun Ahadits, apabila menyembah Allah selain dari
cara yang telah dijelaskan Allah dan Rasulnya (selian dari yang
dijelaskan dan yang dibolehkan berdasarkan petunjuk) maka ia
adalah mengada-ngada (bid‟ah). Amalan bid‟ah yang diyakini,
„keyakinan baru‟ diyakini sebagai tata cara yang sah menyembah
Allah secara ritualis padahal tidak ada petunjuknya (atau tidak ada
petunjuk untuk membolehkannya) maka ia adalah bentuk kesesatan
dan suatu bentuk degradasi amalan; yaitu melalaikan pelakunya

55
untuk melakukan ibadah-ibadah yang lebih utama, yang lebih
penting, yang lebih nyata faedahnya, yang lebih besar pahalanya
atau ia dapat membawa pelakunya kepada kesyirikan yaitu meyakini
bahwa sesuatu selain Allah dapat memberikan manfaat atau
mudhorot (dalam arti makna ibadah).

Catatan tambahan untuk amalan yang bercampur atau beririsan
perkara ritualis dan muammalah:

Untuk wirid misalnya; ada yang munfarid (sendiri) ada yang jama‟i
(jamaah), ada yang sirr (dipelankan) ada yang zhohir (dikeraskan),
untuk wirid yang mengandung esensi berdzikir memang bersifat
ritualis (mahdhoh) namun apabila dibaca zhohir dan jama‟i maka ia
disamping bernilai ritualis (mahdhoh) juga berfungsi secara
muammalah (ghairu mahdhoh) yaitu; fungsi tradisi, fungsi budaya;
untuk menghidupkan suasana spiritual dan kerekatan sosial jamaah
yang merupakan ciri dari masyarakat Islam, ini hanyalah opsional
yang boleh dilakukan boleh pula tidak, dan tidak perlu menjadi
bahan berpecahan dan ashhabiyyah (kefanatikan) antara golongan-
golongan yang membolehkan dan yang tidak, dan sebetulnya tidak
perlu ada golongan-golongan melainkan ummat Islam adalah
ummat yang satu, perlu dikondisikan kapan dikeraskan yaitu pada
situasi kondisi yang memang diperuntukkan keperluan tradisi-
muammalah-religius dan dikondisikan pula kapan direndahkan
yaitu ketika diperuntukkan untuk mencari kekhusyukan dan
kemurnian ibadah, dan suatu muammalah yang hukumnya mubah
apabila terlalu banyak maka akan menjadi lahwun atau bersifat
melalaikan atau lalai terhadap yang pokok.

[Catatan; wirid bisa bersifat ritualis apabila mengandung esensi
berdzikir (dzikr) yaitu; khusyuk (sepenuh hatinya terlibat) dan tidak
melanggar adab-adabnya (dan tentu bisa dirasa dan dibedakan
antara yang beradab mengandung esensi dzikr dan yang tidak),
apabila tidak demikian maka itu bukanlah wirid, ia bisa hanya
menjadi perkara yang bernilai muammalah saja, dan bahkan bersifat
melalaikan apabila malah beresensi ghaflah (bersifat melalaikan)/
wirid yang bersesensi ghaflah; yaitu wirid yang hatinya tidak berdzikir

56
dan beradab kepada Allah, tetapi ia hanya wirid yang hanya sampai
dilidah saja yang barangkali lalai oleh karena hanya menikmati
alunan irama atau musik wiridnya saja, tetapi esensi dzikr-nya sendiri
menjadi hilang, dan tentunya ini bisa dirasa-rasa dan dibedakan
mana yang bersifat melalaikan, mana yang ber-esensi dzikr penuh
kekhusyukan; misalnya wirid dengan ritme atau nada ala musik rock
dan ritme keras wirid sambil melonjak-lonjak tentu hal yang tidak
harmoni dan bersifat kontradiksi antara maksud wirid dan adab-
adabnya di mana tidak diperoleh kekhusyukan dan ketulusan dalam
hati].

Untuk sya‟ir (lafadz-lafadz puisi berisi puji-pujian dan shalawat)
adakah bisa disamakan dengan wirid (amalan ritualis dzikr atau
shalawat)? Untuk sya‟ir pada dasarnya bukanlah bersifat ritualis,
karena sya‟ir merupakan fungsi muammalah; seni-budaya, ia
merupakan ekspressi kata yang merupakan sifat kreatif manusia
untuk mengekspresikan sesuatu dengan kalimat tertentu untuk
pemaknaan yang mendalam. Adapun yang dimaksud wirid, ia
merupakan wirid syar‟i yang lafadz-lafadznya diajarkan dan
dibolehkan di dalam Islam; seperti; „astaghfirullah‟, „lailaha illa
Allah‟, „subhanallah‟, atau „kalimah thoyyibah‟, ayat kursi, surat An-
Nas, surat Al-Falaq, surat Yasin, surat Al-Mulk, surat Al-Kahf dan
lain-lain yang ada petunjuknya/dalilnya. Apabila suatu sya‟ir
barangkali mengandung esensi lafadz „wirid-wirid yang
diajarkan/syar‟i‟ dan lafadz „shalawat‟, maka sya‟ir yang seperti
inipun boleh bernilai ritualis, tetapi ia juga sekaligus bernilai
muammalah/memiliki manfaat secara muammlah. [asalkan
memenuhi adab-adabnya dan mengandung esensi khusyu‟; hatinya
ikut; dan ini bisa dirasa-rasa dan dibedakan mana yang beresensi
ghaflah dan mana yang beresensi „shalawat‟ atau „puji-pujian kepada
Allah‟ sepenuh hati/melibatkan hati].

Adapun untuk shalawat, shalawat-nya sendiri merupakan ritualis
(yaitu berdoa kepada Allah untuk Allah memberikan keberkahan,
kesejahteraan, kemuliaan kepada baginda Nabi ‫ )ز‬bahkan setiap
dua rakaat dalam sholat terdapat shalawat, namun improvisasi

57
tambahan dengan bentuk-bentuk lafadz-lafadz sya‟ir tertentu
dibolehkan sebagai fungsi muammalah (di luar sholat), maka ia
bernilai ritualis dan muammalah sekaligus; akan tetapi juga tidak
boleh ada lafadz-lafadz dan pemaknaan yang kufur yang tidak sesuai
dengan „nilai-nilai keyakinan Islam‟ yang telah diajarkan secara
totalnya berdasarkan dalil-dalil Al-Quran dan Ahadits.

Begitupun, tahlilan dan yasinan juga perlu dipandang dalam sudut
pandang muammalah; yang merupakan tradisi dan budaya, di mana
improvisasi dalam urusan muammalah bukanlah perkara bid‟ah
(dholalah) asalkan tidak melanggar atau mengubah al-muhkamat
(syar‟i); menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal.

b. Ilmu hudhuri tidak bisa mem-bypass Al-Quran dan Ahadits; berlaku
menjadi pe-nasakh yang me-mansukh-kan dalil-dalil Al-Quran dan
Ahadits; mengubah al-muhkamat (syariat); atau menyelewengkan
makna-makna dalil-dalil Al-Quran dan Ahadits menggunakan ilmu
huhduri dengan penyelewengan makna yang amat jauh dan sesat
(sangat jauh atau berlawanan dari makna-makna yang dibangun
berdasarkan totaliti dari dalil-dalil Al-Quran dan Ahadits).

c. Ilmu hudhuri tidak bisa menambah-nambah „keyakinan baru‟ yang
tidak ada penjelasannya di dalam Al-Quran dan Ahadist atau
bertentangan dengan Al-Quran dan Ahadits, misalnya:
i. Membaca „wirid tertentu‟ atau „bacaan tertentu‟ dengan
„keyakinan‟ untuk memperoleh „manfaat tertentu‟ yang tidak
ada dijelaskan dalam Al-Quran dan Ahadits, sekalipun
„wirid tertentu‟ atau „bacaan tertentu‟ itu berisi kalimat-
kalimat Allah, atau ayat-ayat Al-Quran sekalipun (tetapi
dengan menambah-nambah keyakinan yang tidak diajarkan
terhadapnya). Hal ini merupakan bentuk degradasi amalan
dan bisa membawa pelakunya lalai dari yang pokok dan bisa
juga membawa pelakunya kepada syirik yaitu mempercayai
sesuatu selain Allah dapat memberi manfaat atau mudhorot
dalam melakukan ibadah-ritual tersebut.
ii. „Keyakinan‟ bahwa; Rasulullah memilih langsung Ali ‫ر‬
sebagai penggantinya untuk kepemimpinan/kekhalifahan;

58
bahwa pengetahuan ini diperoleh secara hudhuri-ladunni
(langsung dari Allah) oleh imam atau syaikh yang
mengakuinya. Sehingga membangun landasan keyakinan
(akidah) berasaskan ini.
iii. Dan lain-lain

d. Ilmu hudhuri tidak bisa dijadikan pengetahuan yang benar sebagai
dalih untuk men-shahih-kan Ahadits yang dhaif atau men-dhaif-kan
yang shahih. Suatu Ahadits dapat diketahui shahih atau dhaif hanya
dengan cara menempuh pendekatan hushuli; studi penelitian
Ahadits lewat ilmu Hadits.

e. Dan lain-lain.

Manfaat ilmu huhduri adalah ia bisa digunakan para sarjanawan atau ulama untuk
berimprovisasi dalam kehidupan, sehingga hambatan kehidupan bisa dilompati,
maka dari itu para sarjanawan atau ulama Islam tidak hanya kritis, tetapi juga harus
kreatif dalam melihat persoalan. Agar kehidupan tidak terperangkap dalam
kejumudan „pikiran yang tertutup‟ atau stagnasi yang menjadi sebab kemandegan
kehidupan dan kejenuhan hidup yang juga bisa menjadi sebab munculnya
kezaliman dan korupsi atas agama. Islam adalah mudah dan memudahkan, Islam
adalah sederhana dan bukanlah agama yang sulit, tetapi pada dasarnya semuanya
sudah jelas mana halal mana haram.

Berdasarkan semua penjelasan yang telah diterangkan mengenai metodologi studi
teks (nash) adalah bahwa, Al-Quran tidak boleh di-bypass (dilangkahi wewenangnya),
tidak menghormatinya dengan tidak menggunakan ayat-ayatNya secara lengkap dan
relevan. Hal ini adalah kritik atas para sarjanawan dan Ulama Islam serta kaum
muslimin secara umumnya baik yang modernis maupun tradisionalis. Yaitu untuk
mereka yang mem-bypass Al-Quran untuk membenarkan; „menghalalkan yang
haram dan mengharamkan yang halal‟ (Al-Muhkamat), dengan ber-hujjah pada
pendirian yang dibangun diatas akal, Ahadits, qoul ulama, ilmu fiqh, qaidah fiqh,
ilmu dunia; yang kesemuanya berdiri sendiri dalam arti tidak berdiri berdasarkan
totaliti dalil-dalil Al-Quran secara lengkap dan relevan. Begitu pula kaum
tradisionalis yang mem-bypass Al-Quran dengan hujjah „tradisi‟ dan mem-bypass Al-
Quran dengan (pengakuan memperoleh) “pengetahuan huhduri-ladunni” sehingga
membenarkan amalan bid‟ah (dholallah), takhayyul, khurofat, menambah-nambah
„keyakinan-keyakinan‟ baru yang tidak ada dijelaskan di dalam nash Al-Quran dan
Ahadits, dalam arti bahwa pendirian-pendirian tersebut dibangun berdiri sendiri

59
oleh karena ia dibangun tanpa bersandar pada totaliti dalil-dalil Al-Quran dan
Ahadits secara lengkap dan relevan.

Begitupun kritik untuk mereka yang mem-bypass Al-Quran menggunakan Ahadits,
yaitu mereka yang mengaku para ahli hadits yang membangun pendirian atau
hujjah semata-mata berdiri di atas Ahadits, dalam arti; Ahadits berdiri sendiri, tidak
berdiri bersama-sama dengan totaliti dalil-dalil ayat Al-Quran di mana mestinya
ayat-ayatNya digunakan secara lengkap dan relevan untuk memperoleh makna
(tafsir) dan kesimpulan (istinbath dan fatwa). Ahadits yang berdiri sendiri tanpa Al-
Quran pada dasarnya ibarat Bibel dan Talmud, statusnya sama seperti Bible dan
Talmud.

Oleh karena itu, pada dasarnya korupsi atas agama, adalah disebabkan
meninggalkan Al-Quran, meninggalkan Al-Quran; tidak menghormati Al-Quran,
tidak mendudukan Al-Quran sebagai ilmu, hukum, hikmah, yang paling tinggi.
Apabila Al-Quran tidak diletakkan sebagai authority (wewenang) yang paling tinggi
atas persoalan kehidupan manusia, maka agama dikorupsi dan para ulama akan
memproduksi fatwa-fatwa yang „menghalalkan yang haram dan mengharamkan
yang halal‟, menghalalkan riba, menghalalkan qital atas darah yang haram,
intolerasi dan takfiri di dalam „Rumah Islam‟ yang menjadi sumber kebencian dan
perpecahan atas sesama muslim, fitnah di dalam tubuh ummat, saling tuduh kafir,
saling tuduh munafik, saling tuduh jahil (bodoh), ghulluw (kelewat batas),
kejumudan (stagnasi), juhala (kebodohan) yang berbahaya, bid‟ah (dholalah),
takhayyul dan khurofat, menambah-nambah „keyakinan‟ yang sesat dalam agama,
ashhabiyyah (kefanatikan golongan), dan berbagai macam korupsi lainnya. Wa
na‟udzubillah min dzalik.

Golongan-golongan yang mengkorupsi agama itu adalah golongan ekstrim kiri dan ekstrim
kanan. Yang manakah untuk mengenali mereka itu? Apabila kita boleh sebut contohnya
diantara mereka itu, khususnya yang tengah berlaku saat ini, khususnya di dalam Islam
(insider Islam) sendiri misalnya yaitu:
Ekstrim kanan dan ekstrim kiri itu ialah; Wahhabisme dan Syi’isme
Wahhabisme yaitu mereka yang mem-bypass Al-Quran berhujjah pada ahadits, qoul
shahabah, tabiin dan ulama, untuk melakukan tindakan ekstrim berupa; menspesialisasikan
gerakan mereka pada gerakan pemurnian tauhid yang ghulluw (melampaui batas), berlebih-
lebihan, tidak relevan dan tidak kondisional, sambil membangkitkan amarah dan
kebencian ummat islam; menyetir ummat dengan rasa benci dan emosi, mudah melakukan
tindakan takfiri, menyesatkan kelompok-kelompok lain yang tidak sefaham dengan
mereka, bahkan mem-bypass Al-Quran untuk mengeluarkan fatwa yang melanggar al-
muhkamat (syar‟i); “menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal”, mudah
menghalalkan darah yang haram, menghalalkan praktik ribawi-perbankan (sekalipun
sekarang dilabeli dengan “syariah” atau “islam” dengan memodifikasi akad-akad untuk
membuatnya terlihat legal dalam hukum islam) untuk mendukung sistem riba keuangan

60
internasional yang diprakarsa elit kafir, bersekutu dengan elit kafir dengan
persekutuan/perjanjian yang bersetuju terkait syarat yang „menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal‟ (menghalalkan riba sambil mengkhianati Allah, Rasul dan
ummat Islam), beraliansi dan membantu kaum elit kafir berkuasa (mendukung sistem
keuangan ribawi; sistem petrodollar - minyak sebagai basis keuangan modern - yang
menjadi basis kekuatan elit kafir; aliansi yahudi-nashrani; sekutu amerika dan zionis,
sebagai sumber daya keuangan untuk menguasai dan memerangi manusia dan
memberangus tatanan moral), secara tidak langsung (ataupun langsung) wahhabi
membantunya dalam melancarkan perang global (secara ekonomi, politik, edukasi dan
media informasi; yang zalim, batil, manipulatif) yang menindas terhadap dunia dan ummat
islam serta menghalang-halangi bangkitnya khilafah bagi ummat Islam yang murni dan
tulus menjunjung hukum Allah sebagai hukum tertinggi, dengan sebaliknya dengan
memanfaatkan metodologi wahhabi amerika-sekutu dan zionis membangun gerakan-
gerakan jihad palsu (dan memperangkap muslim-muslim muda yang berhati tulus ingin
berjihad membela agamanya) yang didanai oleh hasil jualan minyak dan kesepakatan
korporatokrasi sistem riba keuangan internasional untuk kepentingan tujuan geopolitik
dan strategi zionis untuk membangun dan mempersiapkan kekuasaan imperial mesianik
(Israel Raya); secara bersamaan wahhabi mencegah ummat islam memiliki pikiran yang
terbuka dengan mendoktrinkan ummat menggunakan metodologi mempelajari islam yang
kaku/jumud/doktrin otoriter (otoritas ulama wahhabi = suara tuhan; maka ummat harus
sami‟na wa atho‟na buta kepada ulama wahhabi) yang tidak memberikan kesempatan
berpikir ilmiah-objektif secara waras dan membangun kesimpulan dan hukum berdasarkan
data dan dalil yang tidak lengkap, tebang pilih dan manipulatif (oknum tertentu; agen
zionis di dalam tubuh penganut wahhabi), untuk membenarkan kepentingan/hawa nafsu
geopolitik wahhabi dan sekutu (amerika dan zionis) yang ada dibelakangnya. Dalam
pandangan yang dibangun berdasarkan metodologi wahhabi akan memandang sebab
adalah akibat, dan akibat malah menjadi sebab (terbaliknya „sebab‟ dan „akibat‟ dalam
pandangan/paham wahhabi). Maka pendekatan wahhabi menyelesaikan masalah adalah
dengan memerangi akibat; ini ibarat mengobati penyakit dengan mengobati gejalanya saja,
tidak mengobati akar sebab utama yang menjadi masalahnya (masalah utama yang dihadapi
ummat), maka penyakit yang diderita ummat itu sejatinya tidak akan pernah mentas dan
hilang, dan malah ummat semakin menderita. Keberadaan wahhabi telah dicipta musuh
untuk mengambil alih kepemimpinan dunia Islam selepas khilafah runtuh dengan cara
wahhabi menguasai haramain (karena syaithan/dajjal tidak dapat menghancurkan haramain,
tapi syaithan/dajjal bisa menguasai haramain), dengan wahhabi menguasai haramain,
wahhabi mengambil alih setir kepemimpinan ummat, menjadi ulama ummat yang
terdepan dalam memberi fatwa dan menyeret ummat kepada cara hidup islam yang kaku
(islam yang susah dan menyusahkan) dan menyeleweng (kemajuan islam yang menyeleweng
atau yang disesuaikan dengan kepentingan penguasa dunia; sekutu amerika dan zionis),
dengan metodologi studi Islamnya yang kaku, tebang pilih, sudah dimanipulasi, tidak
lengkap dalil-dalilnya, dan wahhabi memproduksi ulama/sarjanawan Islam dan
menyebarkan ulama/sarjanwan Islam tersebut ke seluruh dunia Islam berdasarkan
metodologi tersebut.
Syi‟isme yaitu mereka yang berawal dari fanatisme politik (syi‟ah Ali) berubah menjadi
doktrinal akidah, yang tidak mempercayai otentisitas Al-Quran, membangun doktrin

61
akidah berdasarkan hadits-hadits yang hanya diperoleh dari jalur imam-imam mereka (yang
diimani sebagai maksum; bersih dari dosa) dan bersikap ekstrim dengan; mengkafirkan
para shahabat dan mengkafirkan seluruh ahlu sunni, membangkitkan amarah dan
kebencian; mencaci dan melaknat para shahabat dan istri Rasulullah, tidak ada bedanya
pun dengan wahhabi yang selalu membangkitkan amarah dan kebencian di dalam tubuh
ummat untuk menyetir ummat dalam suatu kondisi yang emosi dan penuh benci, hingga
kepada tahap pertikaian dan perkelahian, bahkan menumpahkan darah. Syi‟isme adalah
buatan musuh (yahudi, dajjal laknatullah alaih) yang bertujuan menjadi alat kontrol untuk
membuat perpecahan supaya ummat bisa dikuasai musuh.
Kedua golongan ini adalah virus dan benih perpecahan di dalam tubuh ummat, yang
keduanya telah dicipta oleh musuh (syaitan, iblis dan dajjal laknatullah alaihim) untuk
membuat fitnah di dalam tubuh ummat, dan memaksa ummat Islam berpihak atau
mengkotak-kotakkan ummat Islam supaya menjadi termasuk pada salah satunya; ia harus;
“kalau dia tidak wahhabi maka dia adalah syi‟i, kalau dia tidak syi‟i maka dia adalah
wahhabi”; adapun bila mengatakan tidak keduanya maka dia dianggap taqiyyah atau
dianggap munafiq; ini adalah propaganda-propaganda, isu-isu pembodohan yang busuk.
Kedua-duanya baik wahhabi maupun syi‟i sama-sama busuk.
Ekstrim kanan dan ekstrim kiri itu juga ada dalam; penganut Modernisme dan
Tradisionalisme (modernis-liberalis dan tradisionlis-liberalis)
Modernisme-liberalis yaitu yang menerima konsepsi-konsepsi dari barat tanpa ketelitian
yang kritis, modernisme yang liberal atau terbawa pada kerangka pola pikir liberal, yang
mem-bypass Al-Quran dengan mengkapitalisasi dalil-dalil ayat secara tidak lengkap,
menggunakan dalil-dalil akal, ilmu fiqih dan perangkat fiqih, qaedah fiqih, ushul fiqh, qoul
ulama, qoul shahabat, qoul tabiin; untuk membenarkan tindakan “menghalalkan yang
haram dan mengharamkan yang halal”; melanggar al-muhkamat (syar‟i), menghalalkan
persekutuan, aliansi, perjanjian muammalah dengan kaum kafir bersetuju dengan syarat
terkait yang; “menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal”, menghalalkan
praktek riba dan membenarkan praktek syirik di dalam perangkat sistem hidup modern
dengan tidak mengakui Allah sebagai Al-Malik yang hukumNya adalah hukum tertinggi.
Tradisionalis-liberalis yaitu yang mengusung slogan “menjaga/memelihara tradisi” yang
mem-bypass Al-Quran dengan hujjah-hujjah tradisi untuk menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal; membenarkan pelanggaran al-muhkamat (syar‟i), membenarkan
praktik syirik atas nama tradisi: bid‟ah (amalan-amalan dengan „keyakinan-keyakinan‟ yang
ditambah-tambah yang tidak diajarkan di dalam Islam), tahayyul, khurafat,
okultisme/kebatinan/mistisme (meyakini sesuatu selain Allah dapat memberi mudhorat
atau manfaat dalam konteks makna ibadah/ritual, bukan makna muammalah);
memanfaatkan dunia gaib/sihir/jin untuk keuntungan duniawi tidak peduli hitam atau
putih/baik atau jahat (orang yang menjalin hubungan dengan dunia jin dan mengambil
keuntungan dari padanya adalah telah berbuat syirik), mengkorupsi agama,
mengkapitalisasi dalil-dalil untuk keuntungan duniawi atau mengkapitalisasi dalil-dalil
untuk memperoleh keuntungan supaya dekat dengan elit politik.
Ekstrim kanan dan ekstrim kiri itu ialah penganut Wahabisme dan Syi‟isme, ekstrim kanan
dan ekstrim kiri itu ialah penganut Modernis dan Tradisionalis, kesemuanya saling

62
berkombinasi dan menciptakan syubhat (abu-abu; tidak jelas) dalam perikehidupan Islam.
Ada banyak lagi golongan-golongan (sekterian-sekterian) sesat lainnya yang telah diprakarsa
musuh, namun yang paling kritis yang berlaku saat ini adalah 4 golongan tersebut;
Wahhabisme, Syi‟isme, Modernis, Tradisionalis. Di antara mereka itulah terdapat orang-
orang munafiq yang sebenarnya, dan tidak semuanya munafiq diantaranya hanyalah
korban dari pada tipu muslihat musuh dan tipu muslihat para munafiqin sehingga
terperangkap dalam ketidaktahuan (kebodohan) dan tersesat ikut-ikutan atau terbawa
faham yang disebarkannya, yang sejatinya hanya menjadi korban saja.
Maka, adapun posisi penulis dalam meninjau semua korupsi pada sekte-sekte golongan-
golongan yang ada, penulis bukan penganut Wahhabisme, bukan penganut Syi‟isme,
bukan penganut Modernisme, bukan penganut Tradisionalisme. Penulis berposisi dan
bersetuju pada posisi Syaikh Imran Nazar Hosein dan gurunya Maulana Fazlur Rahman
Anshari yang memperkenalkan istilah dynamic-orthodoxy (dalam bukunya “Quranic
Foundations and Structure of Muslim Society”); yang memiliki ciri konservatif (memegang
teguh nilai-nilai pokok/qath‟i dalam Islam) namun dinamis (dalam hal-hal yang bukan
pokok, dalam hal yang dibenarkan untuk berimprovisasi dalam perikehidupan) dan
penulis bersetuju pada haluan aqidah Asy‟ariyyah dan Maturidiyyah, Ulama/Imam 4
mazhab (fiqh) dan Ulama/Imam hadits. Syaikh Imran Hosein sendiri menyesalkan istilah
tasawuf/sufi (istilah tasawwuf/sufi masih tepat digunakan untuk metodologi saja, tetapi
tidak untuk mengacu pada tarekat-tarekat yang menyesatkan), sebagaimana sebagian besar
sekterian sufi sendiri banyak pula didalamnya korupsi-korupsi atas agama (bid‟ah, tahayyul,
khurafat; yang memang tidak ada petunjuk dalil-dalilnya, atau dalil-dalilnya fiktif dan tidak
relevan untuk membenarkannya), Syaikh Imran Hosein lebih memilih istilah al-ihsan dari
pada istilah sufi, sebagaimana sufi yang sejati adalah upaya untuk mencapai al-ihsan,
begitupun pengikut salaf yang sejati adalah yang berusaha mencapai al-ihsan (bukan salaf
yang diciptakan wahhabi), inilah jalan yang ditempuh Rasulullah ‫ ز‬dan generasi aslaf,
jalan yang lurus, yang sejati. (Ihsan adalah tingkat tertinggi, setelah islam dan iman, yang
dapat dicapai oleh seorang mukmin; ihsan adalah taqwa secara zahir dan bathin, bukan
secara zhahir-nya saja atau secara bathin-nya saja, ihsan adalah taqwa secara keseluruhan
tanpa terkecuali; islam yang kaffah).

Pengembangan Ilmu Islam: Harmonisasi, Sinkronisasi, Islamisasi, Rekontruksi

Jadi apakah yang kita perlukan atas ilmu pengetahuan modern yang sudah
terbangun saat ini?

Apakah dunia Islam perlu melakukan islamisasi atau rekontruksi? Sebetulnya yang
perlu dilakukan adalah mendialektikakan ilmu-ilmu yang sudah ada yang sudah
terbangun dengan Al-Quran sebagai batu landasannya, batu landasan yang mutlak
bagi ilmu pengetahuan, melakukan penyelarasan; yaitu ilmu pengetahuan perlu
dikembangkan secara intercorrelated (saling berhubungan) dan multidimensional,
sehingga bidang ilmu yang satu dapat menjadi alat kontrol bidang ilmu yang lain
agar tidak bersifat kontradiktif dan dapat diketahui kerusakan suatu ilmu, dan yang

63
paling utama dalam penyelarasan ilmu adalah Al-Quran mesti didudukan menjadi
landasan utamanya, maka dari itu semua ilmu harus bersesuaian, sinkron dan
harmoni dengan totaliti ayat-ayat Al-Quran dan bersamaan dengan Ahadits. Mana-
mana ilmu itu kontradiksi dan tidak selaras dengan Al-Quran bersama-sama
dengan Ahadits, maka ilmu itu perlu ditolak, dibedah, dipilah, mana-mana
kebenarannya mana-mana kesesatannya, sehingga ia dikembangkan betul-betul
sesuai dan harmoni dengan totaliti ayat-ayat Al-Quran dan Ahadits, ilmu berada
dalam keselarasan, bersesuaian, sinkron dan harmoni dalam satu kesatuan
bangunan ilmu (unity atau tawhid). Tidak peduli apakah ini dikatakan sebagai
islamisasi atau rekontruksi, tergantung bagaimana mendefinisikan islamisai atau
rekontruksi dan juga tergantung seberapa parah kesesatan suatu disiplin ilmu yang
harus diperbaiki.

Kita tidak bisa melakukan islamisasi hanya mengubah istilah-istilahnya, mengubah-
ubah pemaknaannya, namun „esensi‟nya sama saja dengan ilmu, konsepsi, teori
dan praktek yang sekuler, atau seberapa Islampun suatu disiplin ilmu, bahkan
dengan menggunakan nama „Islam‟ sekalipun, atau sekalipun menggunakan “Al-
Quran dan Sunnah” sebagai jargonnya apabila “praktek”nya tidak sesuai Al-Quran
dan Sunnah itu sendiri maka “Islam”nya tinggal namanya saja, Al-Quran dan
Sunnah-nya hanya tinggal jargon yang utopia, yang tidak ada kaitannya dengan
„praktek‟nya.

Para sarjanawan dan para ulama Islam, tidak boleh mem-bypass Al-Quran
menggunakan Ahadits, tidak boleh mem-bypass Al-Quran dan Ahadits
menggunakan qoul shahabah, qoul tabi‟in, qoul ulama, mengabaikan seluruh ayat-ayat
Allah dan sabda Nabi ‫ ز‬tidak memikirkannya dan menghormatinya dengan mem-
bypass-nya dengan qaul ulama, qaidah-qaidah fiqh, qaidah-qaidah ushul fiqh
sekalipun, sehingga qaidah-qaidah fiqh, qaidah-qaidah ushul fiqh dan qaul ulama
sekarang menjadi lebih tinggi atas Al-Quran dan Ahadits dan berwenang
mengkoreksi atau mengabaikan Al-Quran dan Ahadits. Sesungguhnya Rabi-Rabi
yahudi telah menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang
Allah halalkan, maka kaum yahudi telah menTuhankan Rabi-Rabi mereka
disamping Allah dan mereka telah berbuat syirik.

II.III
Pandangan Alam Wujud Islam
Pandangan alam wujud Islam (ru‟yatul islamu lil wujud), adalah pandangan yang
dibangun berdasarkan kontruksi „bangunan ilmu‟ Islam yang dibangun
berlandaskan keimanan kepada Allah dan RasulNya, yang menjelaskan hakikat
Tuhan, Manusia dan, alam semesta.

64
1
Tuhan (Allah)

Pengutusan Nabi Muhammad ‫ ز‬dan turunnya Al-Quran merupakan kasih sayang
Allah untuk seluruh alam (rahmatan lil alamin). Ia memberitahukan manusia
kebenaran, jika manusia mencari sendiri menggunakan akal dan inderanya niscaya
tidak akan diperoleh pengetahuan yang benar mengenai alam wujud terutama
mengenai metafisika; tentang Tuhan dan yang ghaib. Hadirnya Muhammad ‫ز‬
sebagai Utusan Allah dan Al-Quran yang dibawanya memperkenalkan manusia
kepada pengetahuan yang benar dan cara hidup yang selamat; cara hidup Islam
(Iman-Islam-Ihsan).

Hal-hal penting yang diperoleh pengetahuannya dari Al-quran adalah; Konsep
tentang Tuhan di mana Allah subhanahuwata‟ala memperkenalkan dzatNya sendiri,
dan hal-hal pokok yang diimani sebagai fondasi keimanan; Allah, Malaikat, Nabi &
Rasul, Kitab-kitab Allah (kitab suci), Hari Akhir, Qadha-Qadar. Di dalam kitab-
kitabNya, Allah juga memberitakan tentang yang ghaib, jin, malaikat, surga dan
neraka. Di antara konsepsi tentang tuhan itu ialah:
Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
(QS. Al-Ikhlash: 1-4)

Allah adalah pencipta alam raya dan Dia berkuasa atasnya. Dia tidak meninggalkan
ciptaannya berjalan sendirian dan luput dari perhatianNya, Dia tidak tidur, Dia
aktif (hidup dan bertindak). Allah satu-satunya Tuhan yang berhak diibadahi, Dia
tidak bersekutu dengan siapapun baik dalam hal penciptaan maupun peribadahan
makhlukNya.

Allah memiliki 99 nama dan sifat dzatNya. Dia adalah Ar-Rahman: Yang Maha
Pengasih/Pemurah. Ar-Rahim: Yang Maha Penyayang. Al-Malik: Yang Maha Raja, Al-
Qudus: Yang Maha Suci, As-Salam: Yang Maha Menyelamatkan, Al-Mu‟min: Yang
Maha Pemelihara Keamanan, Al-Muhaaymin: Yang Maha Menjaga, Al-Aziz: Yang
Maha Mulia, Al-Jabbar: Yang Maha Perkasa, Al-Mutakabbir: Yang Maha Megah, Al-
Khaliq: Yang Maha Pencipta, Al-Bari‟u: Yang Maha Membebaskan, Al-Mushawir:
Yang Maha Membentuk, Al-Ghaffar: Yang Maha Pengampun, Al-Qahhar: Yang
Maha Pengampun, Al-Wahhab: Yang Maha Pemberi, Ar-Razzaq: Yang Maha
Pemberi Rezeki, Al-Fattah: Yang Maha Membukakan, Al-Alim: Yang Maha
Mengetahui, Al-Qabidh: Yang Maha Mencabut, Al-Basith: Yang Maha Meluaskan, Al-
Khafidh: Yang Maha Menjatuhkan, Ar-Rafi‟u: Yang Maha Mengangkat, Al-Mu‟izz:
Yang Maha Pemberi Kemuliaan, Al-Mudzil: Yang Maha Pemberi Kehinaan, As-

65
Sami‟: Yang Maha Mendengar, Al-Bashir: Yang Maha Melihat, Al-Hakam: Yang
Maha Menetapkan Hukum, Al-Adl: Yang Maha Adil, Al-Lathif: Yang Maha Halus,
Al-Khabir: Yang Maha Waspada, Al-Halim: Yang Maha Pengiba/Penyantun, Al-
Azhim: Yang Maha Agung, Al-Ghafur: Yang Maha Pengampun, Asy-Syakur: Yang
Maha Pembalas, Al-Aliy: Yang Maha Tinggi, Al-Kabir: Yang Maha Besar, Al-Hafizh:
Yang Maha Memelihara, Al-Muqit: Yang Maha Pemberi Kekuatan, Al-Hasib: Yang
Maha Menghisab, Al-Jalil: Yang Maha Luhur, Al-Karim: Yang Maha Mulia, Ar-Raqib:
Yang Maha Mengawasi, Al-Mujibu: Yang Maha Mengabulkan, Al-Wasi‟u: Yang Maha
Luas, Al-Hakimu: Yang Maha Bijaksana, Al-Wadud: Yang Maha Pencinta, Al-Majid:
Yang Maha Mulia, Al-Ba‟its: Yang Maha Membangkitkan, Asy-Syahid: Yang Maha
Menyaksikan, Al-Haq: Yang Maha Benar, Al-Wakil: Yang Maha Memelihara
Penyerahan, Al-Qawiyu: Yang Maha Kuat, Al-Matin: Yang Maha Kokoh, Al-Waliy:
Yang Maha Melindungi, Al-Hamid: Yang Maha Terpuji, Al-Muhshiy: Yang Maha
Penghitung, Al-Mubdi‟: Yang Maha Memulai, Al-Mu‟id: Yang Maha Mengembalikan,
Al-Muhyiy: Yang Maha Menghidupkan, Al-Mumit: Yang Maha Mematikan, Al-Hayu:
Yang Maha Hidup, Al-Qayyum: Yang Maha Tegak, Al-Wajid: Yang Maha
Mengadakan, Al-Majid: Yang Maha Mulia, Al-Wahid: Yang Maha Esa, Al-Ahad: Yang
Maha Tunggal, Ash-Shomad: Yang Maha Dibutuhkan, Al-Qadir: Yang Maha Kuasa,
Al-Muqtadir: Yang Maha Menentukan, Al-Muakhir: Yang Maha Mengakhiri, Al-
Awwal: Yang Maha Pertama, Al-Akhir: Yang Maha Penghabisan, Azh-Zhahir: Yang
Maha Nyata, Al-Bathin: Yang Maha Tersembunyi, Al-Waliy: Yang Maha Menguasai,
Al-Muta‟aliy: Yang Maha Suci, Al-Barru: Yang Maha Dermawan, At-Tawaabu: Yang
Maha Penerima Taubat, Al-Muntaqimu: Yang Maha Penyiksa, Al-Afuwu: Yang Maha
Pemaaf, Ar-Rauf: Yang Maha Pengasih, Al-Malikul Mulk: Yang Maha Merajai
Kerajaan-Kerajaan, Dzul Jalali Wal Ikram: Yang Maha Memiliki Kebesaran Dan
Kemuliaan, Al-Muqsith: Yang Maha Mengadili, Al-Jami‟: Yang Maha
Mengumpulkan, Al-Ghaniy: Yang Maha Kaya, Al-Mughniy: Yang Maha Pemberi
Kekayaan, Al-Mani‟u: Yang Maha Menolak/Melarang, Adh-Dhar: Yang Maha
Pemberi Bahaya, An-Nafi‟u: Yang Maha Pemberi Manfaat, An-Nur: Yang Maha
Bercahaya, Al-Hadiy: Yang Maha Pemberi Petunjuk, Al-Badi‟u: Yang Maha Pencipta
Keindahan, Al-Baqiy: Yang Maha Kekal, Al-Warits: Yang Maha Pewaris, Ar-Rasyid:
Yang Maha Jenius/Pintar, Ash-Shabur: Yang Maha Penyabar. Tidak ada satu pun
dari makhlukNya yang melebihi ke-maha-anNya.

10 Hal Yang Pasti (Wajib)

1. Allah adalah Satu, tidak jamak, tidak terbagi dari sifat dzatNya.
2. Tidak ada yang kedua, yang ketiga atau sekutu dalam keTuhananNya.
3. Dia hidup, dan tidak bergantung kepada apapun atau siapapun.
4. Dia tidak berkurang atau musnah (oleh karena waktu) dan tidak pula lelah
atau kantuk atau tidur dapat menghampiriNya.

66
5. Dia adalah Tuhan segala sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu.
6. Dia memiliki kekuatan, kekuasaan atas segala sesuatu.
7. Dia mengetahui yang zhahir dan yang bathin, tidak sebiji atom pun baik di
langit ataupun di bumi luput dariNya.
8. Dia berkehendak atas penciptaan segala sesuatu –baik atau buruk/jahat-,
apa yang Dia kehendaki wujud, maka wujud, apa yang tidak Dia kehendaki
wujud, tidak pernah wujud.
9. Dia, dzatNya, mendengar, melihat, berbicara tidak menggunakan bagian
tubuh atau alat atau indera apapun (yang bisa dibayangkan manusia). Dia
mendengar, melihat, berbicara merupakan sifat dzatNya.
10. Dia, DzatNya, tidak menyerupai segala sesuatu apapun.

10 Hal Yang Mustahil

1. Dia mewujud di dalam dimensi waktu adalah mustahil, di mana Dia
dikuasai oleh waktu.
2. Ketidakber‟ada‟anNya adalah mustahil, Dia wujud dan Dia memiliki nama
dan sifat (kerja/action), mengawasi dan menghakimi segala sesuatu
ciptaanNya apa yang dilakukan ciptaanNya. Dia tidak memiliki awal dan
akhir, tetapi „Dia lah Yang Awal dan Yang Akhir‟
3. Adanya Tuhan lain selain Dia adalah mustahil. „jika ada Tuhan lain selain
Allah di langit atau di bumi, maka Tuhan-Tuhan itu akan berperang satu
sama lainnya‟.
4. Adalah mustahil bahwa Dia bergantung (atau tidak merdeka) atas semua
ciptaannya, dan mustahil Dia membutuhkan penyokong atas kerajaanNya.
5. Adalah mustahil suatu urusan bisa melalaikanNya atas urusan yang lain
ketika Ia memberi titah dan perintahNya kepada makhlukNya.
6. Adalah mustahil ada suatu ruang di langit atau di bumi yang memuatNya di
dalam, tetapi Dia sudah ada sebelum penciptaan ruang.
7. Adalah mustahil dia memiliki dzat yang seperti tubuh atau bentuk apapun
yang menyerupai makhlukNya atau ciptaanNya, akan tetapi Dia adalah
tunggal, abadi, berdiri sendiri, Dia tidak dilahirkan, tidak pula melahirkan,
tidak ada sesuatu apapun yang setara dengan Dia.
8. Adalah mustahil kejadian dan perubahan, merubahNya, atau merusak
dzatNya dan kemudharatan atau kecelakaan atau kerugian
menghampiriNya.
9. Adalah mustahil ketidakadilan dalam dzat diriNya, akan tetapi setiap segala
sesuatu titahNya adalah kebijaksanaan dan keadilan.
10. Adalah mustahil setiap perbuatan (makhluk) ciptaanNya adalah tanpa
izinNya, tanpa perbuatan penciptaanNya dan kehendakNya. Akan tetapi
„kalimat atau kehendak Allah adalah sempurna, Ia adalah kebenaran dan
keadilan, tidak satupun yang dapat mengubah kalimatNya, „Dia
menyesatkan siapa yang dikehendakiNya sesat dan Dia memberi hidayah
67
siapa yang Dia kehendaki‟, „Dia tidak ditanya mengenai apa yang Dia
lakukan, tetapi mereka (makhluk atau ciptaan) akan ditanya mengenai apa
yang diperbuatnya‟.

10 Hal Yang Ada Yang Telah Terjadi

1. Allah, Yang Maha Agung, mengirim Nabi dan RasulNya kepada hamba-
hambaNya (manusia)
2. Dia menurunkan bukti atau tanda-tandaNya dan kitabNya kepada para
Nabi dan Rasul; supaya manusia percaya dan yakin akan kebenaran yang
datang dari Allah.
3. Dia menutup pengutusan-pengutusanNya (risalah kebenaran) dengan Nabi
Muhammad ‫ز‬.
4. Dia menurunkan pada Rasulullah Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia
dengan bukti nyata dan terang, ia adalah petunjuk dan pembeda (al-furqon).
5. Ia adalah kalam/firman/perkataan Tuhan, bukan ciptaan dan diciptakan
(bukan makhlukNya, bukan pula diciptakan manusia).
6. Nabi Muhammad, apa yang dia katakan adalah benar.
7. HukumNya (syariat) adalah pembatal, pencabut semua hukum yang ada dan
yang pernah ada (hukum yang paling tinggi).
8. Surga dan neraka adalah nyata.
9. Keduanya (surga dan neraka) wujud, disiapkan untuk manusia yang celaka
dan manusia yang beruntung.
10. Para malaikat adalah nyata, beberapa dari mereka mencatat perbuatan
hambaNya, dari mereka ada yang menjadi utusanNya kepada „manusia yang
menjadi Nabi dan RasulNya‟, dan beberapa dari mereka adalah malaikat
yang kasar nan keras untuk menghukum siapa yang tidak mentaati
perintahNya mengenai apa yang harus dilakukan, kepada siapa perintah itu
diberikan.
10 Hal Yang Akan Terjadi

1. Dunia ini akan berakhir, segala sesuatu yang ada akan berakhir.
2. Manusia akan diuji (ditanyai) di dalam kubur dan dia akan diberi
ketentraman dan ada yang diberi siksaan.
3. Allah akan mengumpulkan manusia semuanya pada hari kebangkitan –
manusia akan disusun ulang jasad tubuhnya dari yang sudah tercerai berai
di dalam tanah.
4. Hari Perhitungan, Hari Penghakiman, Timbangan adalah nyata.
5. Jalan (sirat) yang melintang diatas neraka ke surga adalah nyata.
6. Telaga (untuk minum meredakan dahaga) adalah nyata.
7. Manusia yang benar amalannya akan masuk ke surga.
8. Manusia yang kafir akan ke neraka dengan panas yang dahsyat.

68
9. Orang-orang mukmin akan melihat Allah, Yang Maha Kuasa, Yang Maha
Besar, dengan kedua matanya di dunia selanjutnya.
10. Allah Yang Maha Mulia akan menghukum dengan apiNya siapa yang
dikehendakiNya bagi orang-orang yang melakukan perbuatan jahat yang
serius (dosa-dosa besar), di antara orang yang beriman akan diampuni bagi
siapa yang dikehendakiNya. Dia akan mengeluarkannya dari neraka dan
memasukannya ke surga, dengan rahmat kasihNya dan dengan
permohonan/bantuan/perantara Nabi-Nabi dan hamba-hamba yang shalih,
sehingga tidak ada lagi orang yang beriman di neraka jahannam, yang tersisa
hanya orang kafir selamanya. „Allah tidak mengampuni segala sesuatu yang
disekutukan denganNya, tetapi Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki,
selain dari pada itu‟.

Hal yang terpenting dari berita atau pengetahuan mengenai Tuhan ini adalah;
kaitannya dengan manusia. Posisi manusia terhadap Tuhan. Bahwa manusia adalah
ciptaanNya, dan hambaNya. Jalan yang selamat bagi manusia dan jalan yang
menjauhkan manusia dari mudharat, kerugian, kecelakaan adalah mengikuti
kebenaran, mentaati Allah, menyelaraskan diri manusia dengan Allah Yang Maha
Kuasa dan tidak sekali-kali menjadi musuhNya, melawanNya dan meragukanNya,
dengan menjalankan cara hidup Islam; mentaati syariatNya. Di mana syariatNya
menjadi panduan moral kehidupan; tatanan moral untuk kehidupan. Di sini
hubungan manusia dengan Tuhan adalah tentang morale code yang harus dijalankan
manusia (sebagai kewajiban) kepada Tuhan; yaitu mentaati syariatNya, menegakkan
syariatNya, menjalankan morale code kehidupan itu sendiri (taqwa).

2
Manusia

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah, sama seperti sebelumnya Allah
menciptakan Malaikat dari cahaya, Allah menciptakan Jin dari api, kemudian Allah
subhanahu wa ta‟ala menciptakan Manusia dari tanah. Adam alaihissalam manusia
pertama yang diciptakan Allah, Bapak seluruh manusia.

Tujuan penciptaan manusia sama seperti penciptaan makhluk-makhluk lainnya
adalah agar manusia itu menjadi abd (hamba) Allah Yang Maha Tinggi (Quran,
Surat Adz-Dzariyat 51: 56). Maksudnya, manusia harus menegakkan ibadah yang
diperintahkan Allah kepada manusia, dan mentaati syariatNya yang telah
diturunkan kepada manusia, sehingga ibadah itu mencakup ibadah yang ritualis
(mahdhoh) dan ibadah yang bersifat menyokong ibadah ritualis tersebut (ghairu
mahdhoh; ibadah muammalah), seperti menegakkan tulang punggung kehidupan dan
aktivitas-aktivitas yang diperlukan terhadapnya juga termasuk ibadah, karena
kemudian hidup itu sendiri digunakan untuk tujuan ibadah, oleh karenanya
bernilai ibadah.

69
Bersamaan dengan pengetahuan dan kebijaksanaan Allah subhanahu wata‟ala.
Sebelum Allah menciptakan Adam. Allah telah bermaksud memberikan manusia
suatu peran atau tugas. Tugas yang dimaksud adalah menjadi khalifah. Arti khalifah
secara bahasa adalah penerus atau wakil Allah di muka bumi, khalifah ditafsirkan
sebagai yakhlufu ba‟dhuhum ba‟dho, di mana seorang manusia menguasai manusia
lainnya, dan digantikan oleh penggantinya, secara berterusan (secara estafet); yakni
suatu kuasa kepemimpinan (kenegaraan atau kerajaan) di muka bumi. (Quran,
Surat Al-Baqarah 2: 30)

Ketika Allah menciptakan Adam dengan memberinya potensi unik yang tidak
dimiliki makhluk lainnya yang pernah diciptakan (yakni akal dan kemampuan
mengembangkan ilmu), Dia membekali Adam dengan pengetahuan dan
menciptakan pasangannya; Hawa, mereka tinggal di surga, kemudian Allah
menguji untuk yang pertama kali dengan perintah; „janganlah dekati pohon ini‟
(pohon khuldi), ketika Adam dan Hawa gagal melewati ujian ini, maka keturunan
manusia seluruhnya sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah untuk melewati
ujian yang serupa; yaitu menahan diri dari surga di dunia yang sementara;
menahan diri dari apa yang dilarang Allah, sambil melaksanakan tugas dan
perannya yang paling utama sebagaimana maksud semula Allah menciptakan
manusia sebagai abd (Allah) dan sebagai khalifah (penerus atau wakil Allah).

Untuk menjadi abd (hamba Allah) tentu saja manusia harus mentaati Tuannya
dengan melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya (melaksanakan
syariatNya) dan untuk menjadi khalifah manusia harus menegakkan hukum yang
benar dan adil (yaitu hukum yang Allah turunkan sebagai wahyu kepada RasulNya
kemudian untuk kaum atau manusia yang diseru terhadapnya).

           

             

     
Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah
keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu,
karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan
Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan (QS. Shaad: 26)

Hal yang penting kaitannya hubungan antara manusia dengan manusia adalah
kewajiban moral yang harus dijaga antar manusia; adalah menegakkan al-haq dan al-
adl, di mana tiada terjadi kezaliman; la tadzhlimu, wala tudzhlamu, sebagai tatanan
bermuammalah.

70
3
Alam Semesta (Alam Dunia; Material Universe)

Alam dunia dan seisinya, yakni bumi bersama-sama dengan matahari, bulan,
bintang. Adalah tempat tinggal manusia, tempat hidup manusia. Dia adalah tanah,
air dan laut, bermacam-macam tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup tinggal di
dalamnya, dan juga terdapat berbagai macam batuan dan mineral. Dalam
pandangan alam wujud Islam. Dunia ini adalah tempat tinggal sementara, manusia
akan kembali kepada Tuhannya, menghadapi hari penghakiman dan akan sampai
pada tempat tinggal manusia yang abadi di akhirat.

Tempat tinggal manusia sejatinya adalah surga yaitu; kebun yang hijau yang
menghasilkan berbagai macam makanan dan buah-buahan sebagai kebutuhan
hidup manusia. Alam semesta dunia ini juga merupakan surga yaitu kebun yang
hijau yang menyediakan kebutuhan hidup manusia, akan tetapi alam semesta
dunia ini hanyalah surga yang terbatas dan sampai waktu yang ditentukan, manusia
harus mengolah dan bekerja di dalamnya, tidak selalunya di alam semesta dunia ini
menyediakan kesenangan kepada manusia adakalanya manusia diuji dengan
kelaparan, ketakutan, peperangan dan lain-lain, termasuk ujian dari padanya adalah
manusia menahan diri dari surga kesenangan-kesenangan di dunia yang dilarang
oleh Allah subhanahu wa ta‟ala, kecuali kesenangan yang sudah diberi koridornya,
bila manusia mampu melewati ujian ini maka balasannya akan memperoleh surga
yang sebenarnya, surga yang abadi di akhirat kelak.

Selain dari pada itu, alam dunia ini juga tempat bagi manusia untuk menjalankan
tugas dan perannya untuk menjadi abd dan menjadi khalifah, yaitu dengan mentaati
ketentuan Allah dan menegakkan al-haq (kebenaran) dan al-adl (keadilan).
Kaitannya manusia dengan alam dunia ini ada aturan moral yang manusia harus
menjaganya, kewajiban moral yang harus dilaksanakan manusia itu ialah; tidak
merusak (berbuat fasad terhadap) alam dunia ini (beserta seluruh makhluk hidup
yang ada padanya), supaya alam dunia ini tetap bisa menyokong kehidupan dan
kehidupan digunakan untuk mengabdi kepada Allah semata-mata, bila ia tidak
diindahkan maka alam dunia yang rusak akan meruntuhkan kebenaran dan
keadilan di mana ia menjadi sebab munculnya kezaliman-kezaliman.

Oleh karena itu semua, dengan demikian dalam pandangan alam wujud Islam
kehidupan ini adalah „tatanan moral‟, yaitu mengenai hak dan kewajiban antara
manusia kepada Allah, manusia kepada manusia lainya dan manusia kepada alam
dan seluruh makhluk hidup yang ada padanya. Maka dari itu, hanya dengan
melaksanakan „tatanan moral‟ yang benar manusia akan memperoleh kehidupan
yang selamat dan terhindar dari bahaya, kerugian dan kecelakaan.

71
II.IV
Implikasi Pandangan Alam Wujud Islam Terhadap
Kehidupan Dunia dan Kegiatan Ekonomi
Implikasi dari pandangan alam wujud Islam terhadap nilai-nilai dasar kehidupan
manusia di dunia dan dalam kegiatan ekonomi adalah bahwa;

1. Dalam berkehidupan; berkegiatan ekonomi itu manusia harus sesuai
dengan „tatanan moral‟ yang telah ditentukan oleh Allah dan RasulNya.
Hanya ini saja, bentuk pengakuan seorang beriman yang meng‟esa‟kan
Allah yang bisa diterima (untuk apa seseorang mengaku beriman atau ber-
tauhid tapi tidak menegakkan „tatanan moral‟ yang benar).

Tatanan moral yang benar yaitu tatanan moral yang berlandaskan kepada hukum
yang Allah turunkan kepada utusanNya Nabi Muhammad ‫ ز‬untuk seluruh
manusia dan menjaga keharmonisan seluruhnya; ia mencakup aturan moral
manusia kepada Allah; yaitu manusia harus menunaikan kewajibannya kepada
Allah (baik itu perintah ibadah, atau perintah mentaati aturan tertentu dari
kewajiban dan larangan). Ia mencakup aturan moral manusia kepada manusia;
yaitu manusia hendaknya berlaku benar dan adil, tidak berlaku batil dan zalim
kepada manusia lainnya. Ia mencakup aturan moral manusia terhadap bumi dan
makhluk hidup lainnya; yaitu manusia hendaknya tidak berlaku merusak bumi
dan seisinya; merusak keturunan misalnya lewat; penerapaan rekayasa genetik yang
berbahaya, penyalahgunaan teknologi, merusak bahan pangan, merusak lingkungan
hidup, merusak manusia; baik secara moral, mental, fisik, generasi dan membuat
produk-produk yang menghasilkan limbah pencemaran bagi alam semesta.

2. Manusia harus menjalankan fungsinya sebagai abd dan khalifah dengan
benar, sesuai dengan maksud penciptaannya.

Di dunia manusia memerankan dua tugas sekaligus yaitu sebagai abd dan khalifah,
dan memerankannya dengan benar yakni; menjalankan kewajiban dan mentaati
hukum Allah serta menegakkan hukum Allah, yakni hukum yang benar dan adil,
membuat manfaat dan mashlahat (ishlah), mencegah dhururat dan mafsadat (fasad),
melestarikan kehidupan yang benar dan selamat, membuat keberesan, kelurusan
dalam kehidupan di dunia, untuk keselamatan di dunia dan di akhirat.

3. Untuk menjalankan peran khalifah itu yang harus dilakukan manusia
adalah menegakkan al-haq (kebenaran) dan al-adl (keadilan)

Al-haq adalah kebenaran yang berasal dari Allah, hukum yang diturunkan kepada
Nabi sekaligus RasulNya (Nabi Muhamammad ‫)ز‬. Al-adl adalah keadilan yakni;

72
„menempatkan (hak) sesuatu di tempatnya‟, al-adl berarti tidak ada kezaliman; la
tazlimun wala tuzlamun (kamu tidak menzalimi dan tidak dizalimi). Lawan dari al-adl
adalah az-zulm (kezaliman), yaitu; „tidak menempatkan (hak) sesuatu pada tempatnya‟.
Kezaliman yang terbesar di mata Allah adalah syirk, yakni menyekutukan Allah.
Namun, juga termasuk keadilan adalah; „tidak ada paksaan dalam agama‟ hal ini
adalah nilai kebijaksanaan Islam dalam menempatkan orang musyrik (orang yang
menyekutukan Allah) untuk memberi kesempatan orang-orang musyrik mempelajari
kebenaran (secara damai), karena ia memang berhak memiliki kesempatan itu,
sehingga kebenaran bisa diterima tanpa paksaan. Kecuali orang musyrik itu berlaku
zalim dan menindas terhadap orang beriman (yaitu kafir harbi), maka orang
beriman sesuai dengan „panduan moral‟ juga akan melawan kezaliman dan
penindasannya dengan perlawanan yang serupa; kekuatan dilawan dengan
kekuatan, propoganda di lawan dengan propaganda, harta dengan harta, nyawa
dengan nyawa, dengan perlawanan yang sepadan, setimpal dan efektif hingga tidak
ada lagi kezaliman dan penindasan.

4. Dalam berkehidupan; berkegiatan ekonomi, manusia harus mengingat,
bahwa tempat tinggalnya yang sekarang hanyalah sementara dan harus
mengingat bahwa kehidupan yang harus dia kejar adalah kehidupan abadi
di akhirat; surga-kesenangan di akhirat, bukan sebaliknya; mengejar surga-
kesenangan di dunia (kecuali yang telah diberikan koridornya oleh Allah
dan rasulNya). Oleh karenanya kegiatan ekonomi bagi orang mukmin
sejatinya hanyalah untuk sekedar menegakkan tulang punggung kehidupan
untuk beribadah kepada Allah dan menggunakan lebihan hartanya untuk
wasilah mencapai pahala atau balasan surga di akhirat.

73
III

PASAR

III.I
Efisiensi Pasar

P
asar merupakan wadah atau media untuk kegiatan pertukaran (komoditi, jasa
dan uang). Pertukaran telah menjadi jalan paling praktis sebagai cara
memenuhi kebutuhan hidup. Tanpa pertukaran, kegiatan memenuhi
kebutuhan hidup itu harus dilakukan dengan cara; tiap-tiap orang memproduksi
seluruh „pemenuh kebutuhan hidup‟nya (yaitu; barang & jasa) yang beragam. Cara
seperti ini membuat tiap-tiap orang itu mengalami kekurangan waktu untuk
memproduksi seluruh „pemenuh kebutuhan hidup‟ itu sendirian, di mana laju
permintaan kebutuhan lebih cepat dari pada laju produksi (laju permintaan lebih
cepat dari pada laju penawaran), yang akan selalu menghadapi masalah kurangnya
waktu. Dalam sehari seseorang tidak akan mampu memproduksi seluruh barang
kebutuhan pada hari itu.

Pertukaran merupakan kebijaksanaan manusia nan fitrah (berdasarkan petunjuk
ilahi) yang menjadi solusi dari pada kesukaran. Manfaat yang diperoleh dari
pertukaran itu ialah;

1. Divisi dan Spesialisasi Pekerjaan

Yang memungkinkan tiap-tiap orang, tanpa perlu memproduksi seluruh barang-
barang kebutuhan hidup yang beragam itu, melainkan hanya memproduksi
beberapa jenis barang yang dapat diproduksinya sesuai kapasitas dan kemampuan
produksinya masing-masing, serta berdasarkan keterampilan dan bakat sebagai
potensi yang melekat dari setiap individu (kapasitas dan kapabilitasnya). Dengan
pertukaran terjadi divisi pekerjaan atau spesialisasi pekerjaan, di mana setiap orang
hanya memproduksi satu jenis barang kebutuhan hidup dari kebutuhan hidup
yang beragam itu, yang hal ini memungkinkan oleh karena sifat mekanisme pasar
itu yang dapat mengubah bentuk satu jenis komoditas ke bentuk komoditas lain
secara praktis, dan tanpa bersusah-susah mendapatkan komoditas tertentu dengan
cara memproduksinya.

74
2. Fungsi Konversi

Fungsi penting yang ada pada mekanisme pasar adalah fungsi konversi; mengubah
satu komoditas ke bentuk komoditas yang lain secara instan. Hal ini jelas sangat
berguna dan bermanfaat dalam hal manajemen waktu atau jadwal yang
menyesuaikan tiap-tiap kebutuhan tiap individu, dan bermanfaat untuk
kepentingan alokasi; manusia dapat menentukan (1) mana bagian harta atau
komoditas yang ditabung; maka dia ditukarkan dan disimpan dalam bentuk
komoditas yang durable atau tahan lama, (2) mana harta yang dimanfaatkan atau
dikonsumsi dan (3) mana harta atau komoditas yang digunakan untuk produksi
kembali (investasi).

1
Bentuk Pasar Yang Paling Dasar Adalah Pasar Dengan Sistem Barter

Esensi dari mekanisme pasar adalah pertukaran. Yang memungkinkan satu jenis
komoditas berubah bentuk menjadi komoditas yang lain. Dalam pertukaran
berlaku klaim nilai dari setiap komoditas yang dihasilkan para pemiliknya
berbanding dengan nilai komoditas pasangan yang ingin ditukar. Misal nilai antara
makanan dengan pakaian berbanding 50:1 unit (mengikut satuannya masing-
masing; makanan dengan satuan kilogram misalnya, pakaian satuan stel misalnya),
nilai antara makanan dengan perkakas berbanding 100:1, sedangkan pakaian
dengan perkakas logikanya berbanding 2:1, yang tentu saja masing-masing
produsen komoditas itu berhak mengklaim berapapun nilainya sesuai ongkos
produksi dan sesuai kesepakatan dalam pertukaran, sehingga terbentuk sistem
harga berdasarkan tawar menawar pelaku ekonomi yang rasional (aqil) dan hirarki
harga yang stabil berdasarkan perbandingan nilai antar komoditas seperti yang
berlaku diatas. Yang pertukaran seperti ini disebut dengan barter: pertukaran
komoditas dengan komoditas.

Pertukaran barter memiliki beberapa kekurangan, yakni beberapa kendala; nilai
kekayaan dari komoditas tertentu yang diproduksi tidak dapat disimpan untuk
jangka waktu yang lebih lama karena mengalami kemusnahan alami (depresiasi
atau expired). Dan kebutuhan orang tidak selalu mengenai komoditas tertentu yang
membutuhkan double coincidence: sepasang konsumen yang saling membutuhkan
antar komoditas yang tepat. Dalam sistem barter, akan sulit dicapai pertukaran
yang tunai dan akan sering berlaku dengan cara tempo (kredit).

2
Bentuk Pasar Yang Mutakhir Adalah Pasar Dengan Alat Tukar

Kebijaksanaan nan fitrah manusia (berdasarkan petunjuk ilahi) kemudian lagi,
membuat jalan keluar dan manfaat dari pada masalah, yaitu; penggunaan alat tukar
dalam kegiatan pertukaran.

75
Bila dalam aktivitas pertukaran barter, komoditas-komoditas itu berfungsi ganda.
Yaitu; tiap-tiap komoditas berfungsi sebagai; „barang kebutuhan hidup‟ sekaligus
sebagai „alat tukar‟. Kemunculan sistem baru pertukaran menggunakan alat tukar
(khusus), menjadikan komoditas-komoditas sekarang hanya berfungsi tunggal;
hanya sebagai „barang kebutuhan hidup‟, sedangkan yang berperan sebagai alat
tukar itu sendiri disebut dengan uang/mata uang. Jadi sekarang pasar memiliki dua
kutub yang lengkap; sisi komoditas dan sisi uang, yang masing-masingnya berfungsi
secara sendiri-sendiri.

Asal usul alat tukar yaitu uang/mata uang sendiri dicipta dari komoditas riil (bukan
komoditas derivatif seperti sekarang; seperti cek, lembaran kertas, saham, dll). Alat
tukar yang paling baik pada sistem pasar semula (yaitu sistem barter) adalah
komoditas yang dapat bertahan dalam waktu lama (durable) bukan komoditas yang
mudah expire dan depresiasi (berkurang atau musnah nilainya). Oleh karena uang
yang baik harus berfungsi sebagai; (1) Alat tukar, (2) Satuan hitung, (3) Penyimpan
nilai. Uang yang baik adalah uang yang dapat menyimpan nilai (hingga ke masa
depan dengan tetap mempertahankan nilainya sama seperti semula), maka logam
mulia seperti emas dan perak dalam catatan sejarah merupakan uang yang paling
stabil. Uang pada awalnya dicipta berasal dari komoditas riil ia selalu mempunyai
nilai secara intrinsik (nilainya ada di bendanya itu sendiri), Adapun uang modern
dicipta secara ekstrinsik (nilainya ada diluar bendanya) yang diturunkan ke dalam
sebuah kertas/cek/saham atau bahkan catatan digital. Perbandingan keduanya;
uang intrinsik dan uang ekstrinsik, uang ekstrinsik mungkin lebih ringan dan
praktis (tidak berat) dibawa untuk mobilitas dan kegiatan ekonomi dibanding uang
intrinsik, akan tetapi uang intrinsik lebih mampu menjamin nilainya (terpercaya;
memiliki integritas), dibanding dengan uang ekstrinsik rentan terhadap kecurangan
otoritas keuangan, manakala ia dicetak tidak memiliki cadangan yang bernilai
intrinsik atau melebihi cadangan intrinsiknya (misalnya komoditas tertentu sebagai
nilai yang asli); maka ia merupakan salah satu jenis perampokan; ketika ia dicetak
tanpa ada jaminan yang bernilai (cadangan intrinsik), sejatinya ia mengurangi nilai
harta masyarakat pengguna uang tersebut, yang terjadi lewat penyesuaian sistem-
harga atau mekanisme pasar; dalam bentuk kenaikan harga-harga barang (inflasi).

III.II
Mekanisme Pasar
Bentuk pasar yang sempurna atau mutakhir ia memiliki dua kutub yang lengkap;
sisi komoditas dan sisi uang. Mekanisme pasar berlaku berdasarkan mekanisme
keseimbangan (equilibrium) yang bersifat self-adjustment (menyesuaikan sendiri terjadi
secara alami) dalam arti; „bila muncul suatu aksi maka akan muncul reaksi dengan nilai
yang berlawanan dengan besaran yang sama, yang membuat keadaan ekonomi itu selalu
berada dalam hukum keseimbangan‟. Tetapi dalam ekonomi terkadang self-adjustment

76
ini memiliki waktu jeda (lag) di mana aksi yang muncul tidak selalu konstan diikuti
reaksi yang diharapkan yang itu juga karena dipengaruhi faktor lain misalnya psiko-
ekonomi, hal ini karena self-adjustment berlaku karena sifat pelaku ekonomi adalah
rasional (dalam menilai harga-harga dipasar) dan kadang rasionalisme pelaku
ekonomi bisa dipengaruhi oleh persuasi-persuasi tertentu (media) baik oleh sisi
supply (produsen/pedagang) atau sisi demand (pembeli/konsumen), oleh karenanya
moral suassion dalam ekonomi juga diperlukan untuk menetralkan dan membuat
self-adjustment bekerja dengan benar.

Mekanisme keseimbangan itu dapat digambarkan dengan persamaan berikut:

M.n ≌ P.Q
Atau di mana:
M.n = Σ (Pi.Qi)

Persamaan tersebut merupakan mekanisme keseimbangan nilai dan harga-harga
yang berlaku dalam mekanisme pasar yang dipengaruhi dua kutub: money side dan
commodity side. Sisi sebelah kiri menggambarkan sisi uang dan sisi sebelah kanan
menggambarkan sisi komoditi yang keduanya beredar dalam mekanisme pasar.
Nilai antara kedua kutub tersebut selalu seimbang.

Bila mula-mula suatu populasi masyarakat ekonomi memiliki uang sejumlah M,
komoditas kebutuhan yang tersedia dalam suplai di pasaran diproduksi hingga
sejumlah Q, maka dengan laju transaksi uang n kali, tingkat harga-harga komoditas
berada dalam besaran P adalah konsekuensi keseimbangan yang berlaku.

M.n ≌ (P) ↓ . (Q)↑

Bila jumlah komoditas yang diproduksi meningkat (nilai Q naik), sedangkan
keadaan peredaran uang dalam jumlah yang tetap dengan laju transaksi yang tetap,
akan menimbulkan konsekuensi kepada turunnya harga-harga barang.

Harga-harga yang turun hanya berarti baik bagi masyarakat bila dengan jumlah
transaksi yang tetap artinya pengeluaran (investasi dan belanja) yang tetap nilainya
tetapi terjadi peningkatan produktifitas karena meningkatnya bakat, pengetahuan
dan keterampilan, dapat membawa kepada kemurahan rezeki dan berkah yakni;
berlimpahnya barang, dan harga yang turun. Sebaliknya harga-harga yang naik tidak
kunjung dapat meningkatkan produksi atau malah terjadi penurunan produksi
akibat kendala-kendala seperti kecelakaan yang tidak diantisipasi, salah urus
(mismanaged), kecurangan atau bahkan sifat korupsi dan ketidakprofessionalan
lainnya dapat membawa kepada langkanya komoditas, kekurangan suplai dan
naiknya harga-harga komoditas.

77
Bila populasi ekonomi itu melakukan kegiatan dagang (ekspor-impor), jumlah uang
bisa meningkat datang dari luar. Hal itu bisa terjadi bila sejumlah komoditas yang
diproduksi meningkat untuk keperluan ekspor (nilai Q naik), dengan
meningkatnya jumlah komoditas yang bertukar dengan kedatangan sejumlah uang
(nilai M naik), asalkan laju transaksi dalam besaran yang tetap maka harga-harga
pun relatif tidak mengalami penurunan melainkan tetap.

(M)↑ . n ≌ (P)↑↓ . (Q)↑

(M)↑ . n ≌ (P)↑ . (Q)↑

Aksi tidak harus selalu datang dari sisi komodias untuk menciptakan reaksi, aksi
bisa juga datang dari sisi uang untuk menjelaskan konteks insentif ekonomi. Bila
jumlah uang yang dicetak ditingkatkan (nilai M meningkat) kemudian dibelanjakan
(investasi), dengan laju transaksi yang tetap, bila produksi tidak segera
meningkatkan jumlah komoditas, harga-harga bisa mengalami kenaikan (inflasi),
dalam jangka waktu yang diharapkan pengeluaran investasi dapat meningkatkan
jumlah komoditas sehingga harga-harga berada pada kisaran tetap, sedangkan
komoditas menjadi berlimpah.

III.III
Pasar Di Dalam Islam
Pasar di dalam Islam adalah institusi ekonomi yang diakui dan penting. Ia adalah
media atau wadah yang berfungsi untuk kegiatan ekonomi; kegiatan pertukaran.
Pasar akan menjalankan fungsi keadilan (al-adl) bilamana ia terbebas dari kerusakan
sebagai pasar yang fitrah yaitu; di mana mekanisme keseimbangan (equilibrium) dan
self-adjustment berjalan sebagai mana mestinya, tidak dicurangi yang menyebabkan
mekanisme keseimbangan (equilibrium) dan self-adjustment-nya rusak. Oleh
karenanya pasar di dalam Islam harus dibebaskan daripada 3 hal yang merusak
fitrahnya:

1. Pasar dibebaskan dari praktik muammalah yang curang (riba) dan batil
(zalim); riba, gharar, maysir, dan bentuk-bentuk kecurangan (riba) lainnya.

Bentuk-bentuk muammalah yang curang dan batil (riba, gharar, maysir, baik yang
tampak dan tidak tampak) bersifat merusak fitrah pasar. Contohnya: Praktik
menimbun (ihtikar) adalah salah satu bentuk riba (riba yaitu ziyadah; yakni
tambahan/keuntungan yang tidak dibenarkan perolehannya), di mana ketika
komoditas ditimbun/ditahan penjualannya padahal masyarakat sedang berhajat
atas komoditas tersebut maka segera rasionalisme masyarakat pelaku ekonomi
terpengaruh, self-adjustment pasar menyesuaikan kondisi kelangkaan pasar, maka
harga-harga naik, saat inilah si penimbun melepas barangnya ke pasar dan ia

78
memperoleh keuntungan yang banyak. Contoh yang lainnya: mengeksploitasi
seorang mustarsal (seseorang yang tidak mengetahui harga-harga di pasar), atau
menghadang komoditas diluar pasar agar si penjual barang tidak mengetahui harga
di pasar dan membelinya dengan harga yang lebih murah dari pada di pasar (talaqqi
ruqban).

HR. Baihaqi, Dari Anas bin Malik ‫ر‬:

”Menipu (mengeksploitasi) seorang mustarsal (seorang yang tidak tahu harga pasaran) adalah riba”

HR. Bukhari, Dari Ibnu Abbas ‫ر‬:

“Janganlah kamu mencegat kafilah-kafilah dagang (talaqqi rukban) dan janganlah orang-orang kota
menjual buat orang desa”

HR. Darimi, dari Ma‟mar bin Abdullah ‫ر‬:

“Tidaklah seseorang menimbun (atau memonopoli) (ihtikar) kecuali ia akan berdosa”

HR. Muslim, dari Abu Hurairah ‫ر‬:

“Nabi melarang jual beli gharar (penipuan dan tidak jelas)”

HR. Bukhari, dari Abdullah bin Abu Aufa ‫ر‬:

“Seorang lelaki telah memperlihatkan beberapa komoditi di pasar dan membuat sumpah palsu
bahwa dia mengaku ditawarkan dengan harga tertentu untuk komoditi tersebut di mana sebetulnya
dia tidak ditawarkan dengan harga tersebut. Kemudian ayat Al-Quran yang berikut diturunkan;
Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka
dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak
akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak
(pula) akan mensucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih (Quran, Surat 3: 77). Ibnu Abu Aufa
menambah: manusia yang seperti itu (yang dijelaskan diatas) adalah tidak jujur, pelaku riba”

Pada esensinya praktik muammalah yang zalim dan batil; membuat kondisi pelaku
ekonomi di pasar berkompetisi dalam kecurangan, berkompetisi tidak sehat;
menghalalkan segala cara. Dampaknya ia akan mempengaruhi keseimbangan pasar
dan sifat penyesuaiannya yang terbentuk bukan secara fitrahnya.

2. Pasar dibebaskan dari segala bentuk „intervensi terhadap harga-harga‟ di pasar

Konsep pasar di dalam Islam adalah harga terbentuk sendiri di dalam pasar
berdasarkan sisi penawaran dan sisi permintaan yang terjadi secara fitrah, secara
alami, sekalipun kelangkaan terjadi oleh sebab bencana alam atau gagal panen
(natural error).

79
HR, Abu Dawud, dari Anas bin Malik ‫ر‬

“Orang-orang mengatakan; wahai Rasulullah harga barang naik, maka tentukan harga buat kami,
Rasulullah bersabda; Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Menentukan harga, Yang Maha
Menggenggam dan Maha Membentangkan, lagi Maha Memberi rezeki, dan aku mengharap ketika
berjumpa dengan Allah, tiada satu pun perkara di antara kamu yang menuntutku karena suatu
kezaliman baik tentang darah atau harta”

Namun lain halnya harga-harga yang tebentuk di dalam pasar oleh karena tangan
manusia (human error) sama sekali tidak diperbolehkan. Salah satu di antaranya
adalah persaingan monopolistik, ia adalah contoh pasar yang terlarang di dalam
Islam, di mana suatu entitas bisnis dapat menguasai suatu produk (yang menjadi
hajat orang banyak) secara monopolistis, hal ini akan menyebabkan entitas bisnis
tersebut memiliki kekuasaan menetapkan harga secara sepihak dan sewenang-
wenang. Di dalam Islam setiap barang-barang yang berpotensi menimbulkan
bersaing tidak sehat; secara monopolistik, harus dikuasai publik (dikuasai
masyarakat) baik lewat waqaf, atau lewat kuasa pemerintah (khalifah), di antara
contohnya; air, api (energi dan listrik), lahan rumput (gembalaan) dan lain-lainnya.
Barang-barang publik harus di tetapkan harganya berdasarkan biaya dan ongkos
peng‟ada‟annya, atau bahkan bisa digratiskan atau di-waqaf-kan. Contoh intervensi
harga lainnya yaitu; pemerintah (khalifah) juga tidak dibenarkan menetapkan-
menentukan harga dasar (harga minimal) atau harga atap (harga maksimal) atas
komoditas-komoditas di pasar.

3. Pasar dibebaskan dari sewa atau pajak (kecuali pungutan yang dibenarkan)

Konsepsi Rasulullah mengenai pasar adalah fasilitas publik yang gratis (sedekah).
Pasar di dalam Islam sama seperti masjid (tanah datar dan lapang), siapa yang
masuk pasar terlebih dahulu ia berhak berniaga di sana sampai ia pergi. Tidak ada
bangun permanen apapun di dalam pasar (kecuali bangunan yang bisa dibongkar-
muat seketika saat datang dan pergi). Maka tanahnya tidak dipungut pungutan baik
itu rente (biaya sewa) atau pajak. Adapun barang-barang mungkin terkena
pungutan usyr (1/10); sebagai zakat komoditi (1/4 usyr: bagi muslim dan bila
mencapai nishab) atau jizyah komoditas (1/2 usyr untuk ahlu dzimmi dan 1 usyr
untuk ahlu harbi) ketika masuk wilayah-wilayah tertentu.

Sebagaimana yang dijelaskan berikut paparan Zaim Saidi dan Syaikh Prof. Umar
Vadillo mengenai konsep pasar:

 Pasar serupa dengan masjid

Rasulullah ‫ ز‬bersabda: pasar mengikuti sunnah masjid: siapa dapat tempat duluan
berhak duduk sampai dia berdiri dan kembali ke rumah atau menyelesaikan
perdagangannya (Al Hindi, Kanzul Ummal, V 488 no 2688)

80
 Pasar adalah sedekah tanpa ada kepemilikan pribadi

Ibrahim bin Mundhir Al-Hizami meriwayatkan dari Abdullah bin Ja‟far bahwa
Muhammad bin Abdullah bin Hasan mengatakan, “Rasulullah ‫ ز‬memberi kaum
muslimin pasar sebagai sedekah” (Saba K, Tarikh Al Madinah Al Munawarah, 304)

 Tanpa pungutan uang sewa

Ibnu Zabala meriwayatkan dari Khalid bin Ilyas Al-Adawi, “Surat Umar bin Abdul
Aziz dibacakan kepada kami di Madinah, yang menyatakan bahwa pasar adalah
sedekah dan tidak boleh ada sewa kepada siapapun juga. (As-Samhudi, Wafa al
Wafa, 749)

 Tanpa pungutan pajak

Ibrahim al Mundhir meriwayatkan dari Ishaq ibn Ja‟far ibn Muhamad dari
Abdullah ibn Ja‟far ibn al Miswat, dari Syuraih ibn Abdullah ibn Abi Namir bahwa
Ata ibn Yasar mengatakan, “Ketika Rasul SAW ingin mendirikan sebuah pasar di
Madinah, beliau pergi ke pasar [Yahudi] Bani Qainuqa dan kemudian kembali
mendatangi pasar Madinah, menjejakkan kaki ke tanah dan bersabda, „Inilah pasar
kalian. Jangan membiarkannya berkurang (la yudayyaq) dan jangan biarkan pajak
apa pun (kharaj) dikenakan‟”. (Ibnu Saba K Tarikh Al Madinah Al Munawarah,
304).

 Di sana tidak ada pesan atau klaim tempat

Ibnu Zabala meriwayatkan dari Hatim ibn Ismail bahwa Habib mengatakan bahwa
Umar Ibn Khattab (pernah) melewati Gerbang Ma‟mar di pasar dan (melihat)
sebuah kendi di dekat gerbang dan dia perintahkan untuk mengambilnya. Umar
melarang orang meletakkan batu pada tempat tertentu atau membuat klaim
atasnya. (As-Samhudi, Wafa al Wafa,749).

 Dan di sana tidak boleh dibangun toko-toko

Ibnu Shabba meriwayatkan dari Salih ibn Kaysan, Rasulullah ‫ ز‬bersabda “Inilah
pasar kalian, jangan membuat bangunan apa pun dengan batu (la tatahajjaru) di
atasnya dan jangan biarkan pajak (kharaj) dikenakan atasnya.” (As-Samhudi, Wafa
al Wafa,747-8).

Abu Rijal meriwayatkan dari Israil, dari Ziyad ibn Fayyad, dari seorang syekh
Madinah bahwa Umar ibn Khattab ‫ ر‬melihat sebuah toko (dukkan) yang baru
dibangun oleh seseorang di pasar dan Umar merobohkannya. (Ibnu Saba K Tarikh
Al Madinah Al Munawarah, 750).

81
Berdasarkan semua yang telah dijelaskan diatas konsepsi pasar secara Islam; pasar
harus dibebaskan dari 3 hal. Pemahaman Islam mengenai „pembebasan‟ pasar tidak
berarti bebas sama sekali dari intervensi pemerintah sebagaimana yang dipahami
ekonomi liberalis-kapitalis. Justru peran pemerintah sangat penting bagi 3 hal yang
harus dibebaskan dari pasar itu. Di antaranya yang harus dilakukan pemerintah
adalah; yang pertama (1) membuatkan institusi pemerintah yang bertindak sebagai
pencegah kecurangan (segala praktik muammalah yang batil & zalim) di pasar ia
semacam polisi atau tim investigasi pasar, pada zaman Islam klasik ia disebut
dengan al-hisbah. (2) yang kedua, pemerintah harus mencegah bentuk persaingan
monopolistik dengan membeli asset-nya secara (kuasa) hukum, dan mengubahnya
menjadi bentuk milik publik apakah itu dimiliki negara atau dimiliki kaum
muslimin lewat waqaf yang pengelolaannya diserahkan kepada yang ahli dengan
sistem peng-gaji-an, pemerintah (khalifah) juga tidak dibenarkan mengintervensi
harga yang terbentuk secara alami di pasar, (3) Pemerintah (khalifah) tidak
menetapkan pungutan atas pasar, kecuali pungutan yang dibenarkan oleh syariat.

Pasar Yang Adil dan Fitrah Menjalankan Fungsi Keadilan

Apabila pasar dibebaskan dari 3 hal diatas: (1) dari segala praktik muamalah yang
batil dan zalim, (2) dari intervensi harga, (3) dari sewa dan pajak, maka ia akan
berjalan secara fitrah. Pasar yang fitrah menjalankan fungsi keadilan.

      
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,”
(Quran, Surat An-Najm 53: 39)

HR. Ahmad, dari Rafi‟ bin Khadij ‫ ر‬:

Ada seorang bertanya, penghasilan apakah yang paling baik wahai Rasulullah?, beliau menjawab: “
penghasilan seseorang dari jerih payah tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur”.

HR. Baihaqi, dari Mu‟adz bin Jabal ‫ ر‬:

“Sesungguhnya sebaik-baik penghasilan ialah penghasilan para pedagang yang mana apabila
berbicara tidak bohong, apabila diberi amanah tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkarinya,
apabila membeli tidak mencela, apabila menjual tidak berlebihan (dalam menaikkan harga), apabila
berhutang tidak menunda-nunda pelunasan dan apabila menagih hutang tidak memperberat orang
yang sedang kesulitan”.

HR. Ibnu Majah:
“Tidaklah seseorang memperoleh sesuatu penghasilan yang lebih baik dari jerih payah tangannya
sendiri. Dan tidaklah seseorang menafkahi dirinya, istrinya, anaknya dan pembantunya melainkan
ia dihitung sebagai sedekah”.

82
HR. Bukhari, dari Miqdam ‫ ر‬:

“Tidaklah seseorang mengkonsumsi makanan yang lebih baik dari makanan yang dihasilkan dari
jerih payah tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Dawud a.s dahulu senantiasa makan dari
jerih payahnya sendiri”.

Bila pasar berjalan berdasarkan fungsi keadilan, maka tiap-tiap pelaku ekonomi
memperoleh hasil atau keuntungan berdasarkan upaya, susah-payah, kerja-keringat
dirinya sendiri, dia tidak dikurangi sedikit pun dari hartanya, dia tidak dicurangi
sedikit pun dari hartanya, ia memperolehnya secara layak dan benar, ia juga tidak
memperolahnya dari menipu orang lain, dari mencuri milik orang lain, dari
merugikan orang lain (tidak dizalimi, tidak pula menzalimi). Inilah fungsi keadilan
di dalam pasar yang fitrah.

83
IV

PERSERIKATAN
(SYIRKAH)

IV.I
Efisiensi Perserikatan

K
onsep individu di dalam Islam bukan individu semata (tanpa perbedaan hak
yang jelas), tetapi ia adalah individu laki-laki dan individu perempuan,
sebagai unit terkecil suatu masyarakat (Quran, Surat Al-Hujurat 49: 13).
Kemudian dari laki-laki dan perempuan ia menjadi unit rumah-tangga, dan unit
masyarakat, bangsa dan negara. Berdasarkan itulah struktur dan organisasi
masyarakat Islam dibentuk berdasarkan kebutuhan (hak) gendernya (berdasarkan
bentuk biologisnya yang mendasar; jamaah laki-laki dan jamaah perempuan), bukan
persamaan hak semata.

Kejamakan suatu unit masyarakat, bangsa dan negara merupakan sebuah kekuatan
besar bila ia harmoni dalam kesatuan, dan akan didapati kemudahan dari padanya,
ia dapat mempermudah urusan kehidupan. Sebaliknya bila semuanya tidak
harmoni, berpecahan, kontradiksi, bersifat saling meniadakan, maka ia hanya akan
meningkatkan kesia-siaan dan keborosan serta menambah hambatan dalam urusan
kehidupan.

Oleh karena itu berserikat, merupakan kebijaksanaan manusia nan fitrah untuk
memperoleh kemudahan dalam urusan kehidupan. Di antara manfaat berserikat
itu ialah:

1. Kesatuan Pekerjaan

Setelah tiap-tiap pelaku ekonomi ter-divisi oleh karena fungsi pasar dan pelaku-
pelaku ekonomi terbagi dalam bidang-bidang spesifik. Perserikatan berperan
sebaliknya, ia menyatukan potensi yang kecil-kecil menjadi sebuah potensi besar.
Berserikat menghimpun potensi untuk meringankan suatu pekerjaan; pekerjaan
ekonomi (yaitu kegiatan memenuhi kebutuhan hidup), sehingga pekerjaan
ekonomi menjadi lebih terbantu, menjadi lebih mudah dengan saling berpartisipasi
dan mengisi tiap-tiap divisi pekerjaan, dalam satu kesatuan unit. Hasil dan produksi

84
yang dicapai dari perserikatan, akan menghasilkan output yang lebih banyak dan
lebih berkualitas dari pada bila setiap orang bekerja sendiri-sendiri. Maka dari itu,
perserikatan berfungsi meningkatkan efisiensi dan efektifitas pekerjaan ekonomi.

2. Fungsi Formasi

Bila pasar berfungsi sebagai fungsi konversi (yaitu mengubah bentuk satu komoditi
ke komoditi lainnya), perserikatan berfungsi sebagai fungsi formasi; yaitu fungsi
pembentukan modal (capital formation), ia menyatukan modal-modal dan tenaga-
tenaga yang tercerai berai bersatu dalam satu kesatuan, sehingga memperbesar
kemampuan ekonomi masyarakat dalam hal modal ekonomi.

IV.II
Mekanisme Perserikatan
Ada berbagai macam bentuk perserikatan; modal dengan modal, tenaga dengan
tenaga dan tenaga dengan modal. Beberapa bentuk perserikatan dasar di antaranya
seperti: musyarakah, mudharabah (qirad), muzara‟ah (untuk pertanian) dan lain-lain.
Esensi atau inti pokok dari perserikatan sebetulnya adalah berserikat dalam
kontribusi (apakah itu modal atau tenaga atau keterampilan atau keahlian)
kemudian berserikat pula pada hasilnya atau jatahnya sesuai prosentase (share)
kontribusinya masing-masing. Adapun prinsip yang utama dari perserikatan adalah
sepenanggungan; sepenanggungan dalam kontribusi, dalam keuntungan dan
kerugian (risiko).

Bila ditinjau dalam kaedah „keuntungan‟ Ibnu Arabi; keuntungan adalah iwadh, di
mana iwadh berupa; ghurmi, dhaman dan kasb, keuntungan yang tidak setimpal
dengan iwadh bisa dikatakan riba.
Keuntungan = iwadh
= ghurmi + dhaman + kasb

iwadh: adalah bayaran atau timbal balik yang setimpal untuk keuntungan yang diperoleh
ghurmi: adalah risiko usaha
dhaman: adalah tanggungan
kasb: adalah kontribusi (kerja atau usaha atau bisa juga modal)

Bila pertukaran atau jual beli di pasar urusannya adalah kesepakatan mengenai
harga secara nominal, adapun dalam perserikatan urusannya adalah kesepakatan
mengenai harga secara prosentase. Nilai harga (nominal) dari barang atau komoditi
di pasar terjadi berdasarkan tawar menawar, begitu pun dalam perserikatan nilai
suatu kontribusi partisipan dinilai dengan harga secara prosentase dengan tawar
menawar antara partisipan yang terlibat.

85
Semisal dari dua partisipan yang berserikat si A dan si B; nilai kontribusi A sebesar
x%, nilai kontribusi B sebesar y%. Maka konsep sepenanggungan yang berlaku
dalam perserikatan adalah:
Keuntungan (x% + y%) = ghurmi (x% + y%) + dhaman (x% + y%) + kasb (x% + y%)
Keuntungan x% + keuntungan y% = ghurmi x% + ghurmi y% + dhaman x% +
dhaman y% + kasb x% + kasb y%
Dengan x% + y% = 100%

Dalam hal ini tanggungan milik A hanya menjadi milik A (dhaman x%),
tanggungan milik B hanya menjadi milik B (dhaman y%), begitupun risiko milik A
hanya menjadi milik A (ghurmi x%), risiko milik B hanya menjadi milik B (ghurmi
y%), adalah tidak betul, tidak sah bila A mengambil keuntungannya x% dengan
keuntungan y% untuk B sementara misalnya B harus menanggung risiko milik A
(B menanggung risiko lebih tinggi dari y%) atau A tidak mau menanggung
bagiannya di mana tanggungan milik A ditanggung oleh B (B menanggung lebih
besar dari y%), sehingga bila terjadi kerugian si B harus menanggung kerugian
milik A, sementara bila usaha untung si A mengambil keuntungannya, ini bisa
dikatakan riba.

Dengan x% milik A, dan y% milik B. Apabila usahanya membuahkan hasil
keuntungan, maka keuntungan x% adalah milik A dan keuntungan y% adalah
milik B. Begitupun apabila usahanya merugi maka kerugian y% adalah milik B dan
kerugian x% adalah milik A. Apabila yang diperserikatkan itu adalah „modal
dengan modal‟ atau „tenaga dengan tenaga‟, maka kerugiannya dibagi sesuai
prosentase masing-masing terhadap nominal kerugiannya, namun apabila yang
diperserikatkan itu adalah „modal dengan tenaga‟ maka nominal kerugiannya
adalah milik si pemodal, sedangkan kerugian si pengelola (kontributor tenaga) telah
menerima kerugiannya dalam bentuk tenaga pula (tenaga yang sudah
dicurahkannya untuk usaha) yang masing-masing kerugian itu akan senilai dengan
prosentasenya masing-masing.

Oleh karena itu, yang disebut perserikatan ia adalah sepenanggungan dalam
kontribusi (kasb) dalam jatah (keuntungan), dalam risiko (gurmi/kerugian), dalam
tanggungan (dhaman), sesuai nilai prosentase kontribusinya masing-masing. Bila
tidak ada kesepenanggungan dalam salah satunya ia tidak bisa dikatakan
perserikatan.
IV.III
Perserikatan Di Dalam Islam
Perserikatan di dalam Islam diakui sebagai jalan yang sah, jalan yang fitrah dalam
bermuammalah, ia menjadi jalan yang sah untuk mencari penghasilan,
penghidupan, selain ia berperan strategis untuk mempermudah urusan, ia juga di

86
tengah-tengah ekonomi berfungsi strategis sebagai jalan untuk pembentukan modal
(capital formation) dan memperbesar kemampuan (ekonomi). Namun agar
perserikatan itu bekerja dengan benar secara fitrahnya, ia harus memenuhi syarat:

1. Berserikat harus berasaskan kebenaran dan keadilan

 ...     
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. (Quran, Surat Al-Maidah 5: 1)

 ...           ...
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-
menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (Quran Surat Al-Maidah 5: 2)

             ...

 ...     
Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat
zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang
saleh; dan Amat sedikitlah mereka ini (Quran, Surat Shaad 38: 24)

HR. Abu Daud, dari Abu Hurairah ‫ر‬:

“Allah swt berfirman; „Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satu
pihak tidak mengkhianati pihak lain. jika salah satu pihak telah berkhianat. Aku keluar dari
mereka”

HR Tirmidzi, dari Abdurrahman bin Auf ‫ر‬:

“Perdamaian dapat dilakukan di antara kaum muslimin kecuali perdamaian yang mengharamkan
yang halal atau menghalalkan yang haram dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka
kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”

Oleh karena itu suatu perserikatan, persatuan, perjanjian, kesepakatan yang
berlandaskan kebenaran dan keadilan yaitu:

- Perserikatan yang sepenanggungan (setia), satu sama lainnya tidak berbuat
khianat atau curang.
- Perserikatan yang tidak menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang
halal
- Perserikatan yang tolong-menolong dalam urusan kebaikan bukan dalam
urusan yang berbuat dosa dan pelanggaran

87
Sebaliknya bila dalam suatu perserikatan, persatuan, perjanjian, kesepakatan, tidak
berlandaskan kebenaran dan keadilan, maka wajib berlepas diri atau tidak terlibat
dalam perserikatan tersebut. Allah hanya menyertai orang-orang yang berserikat di
atas landasan yang benar dan adil.

2. Dibebaskan dari praktik riba (atau kecurangan lainnya)

Dalam ekonomi yang praktik riba dilegalkan, cara-cara fitrah dalam berekonomi
seperti berserikat menjadi terkucilkan dan tidak begitu berfungsi sebagaimana
fitrahnya, tidak berjalan dengan baik. Oleh karena invasi sistem predator (kapitalis)
ribawi yang menjamur, itu menyebabkan cara-cara berserikat tidak begitu menarik
dan prospektif dalam sudut pandang bisnis (bila dibandingkan dengan usaha
ribawi yang menjanjikan keuntungan pasti). Belum lagi praktik ribawi itu bisa
meng-infiltrasi, meracuni, menyusupi cara-cara fitrah yang sudah ada dalam
berekonomi (seperti jual beli dan berserikat), praktik ribawi ada dalam setiap
kontrak dalam berbagai bentuk. Dengan ter-infiltrasinya mekanisme pasar (jual-
beli) dan perserikatan dengan praktik-praktik ribawi menjadikannya tidak berfungsi
sebagaimana mestinya (secara fitrah). Melainkan mekanisme pasar dan perserikatan
itu bekerja dengan cara yang abnormal dan terdistorsi. Ekonomi yang berjalan
secara terdistorsi itu tidak lagi berjalan dengan keadilan melainkan kezaliman lah
yang akan berlaku dalam skala yang luas.

Perserikatan Yang Adil dan Fitrah Menjalankan Fungsi Keadilan

Sama seperti pasar, perserikatan yang dijalankan atas asas keadilan menjamin setiap
individu memperoleh hasil atau keuntungan dengan usaha, susah-payah, kerja-
keringatnya sendiri, hasil atau keuntungannya tidak dikurangi, tidak dirampok
orang lain, hasil atau keutuntungannya layak dan benar cara memperolehnya, tidak
diperoleh dari merugikan, mencuri, menipu orang lain, tidak ada kezaliman; la
tadzlimu wala tudhzlamu (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 279)

      
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,”
(Quran, Surat An-Najm 53: 39)

Ia diperoleh lewat kontribusi dan jatah yang berlaku dalam mekanisme
perserikatan, siapa yang menanam (berkontribusi) maka dia menuai (memperoleh
jatah), namun juga ketika dia berkontribusi dia ikut bersama-sama dalam risiko dan
tanggungannya, ini tidak sama dengan pinjaman ribawi yang lari atau mengelak
dari risiko pasar.

88
V

PERAN KHALIFAH

(PEMERINTAH)

V.I
Khalifah

A
rti khalifah adalah wakil atau penerus (wakil Allah di muka bumi),
ditafsirkan sebagai yakhlufu ba‟dhuhum ba‟dho, artinya dia manusia yang
mewakili manusia lainya, manusia yang menguasai manusia lainnya,
manusia yang meneruskan atau pengganti (successor) manusia lainnya, ia adalah
kuasa kepemimpinan (kenegaraan atau kerajaan) di bumi yang menegakkan
kebenaran; membawa manusia menuju ketaatan kepada Allah. Khalifah secara
istilahinya ialah kepala kepemimpinan atau kepala pemerintahan masyarakat Islam
yang berasal dari masyarakat Islam itu sendiri, ia penerus kepemimpinan
Rasulullah, ia mukmin, ia muslim, ia bisa disebut sebagai amirul mukminin
(pemimpin orang muslim) atau amir (pemimpin) saja atau sulthan (penguasa). Amir
ialah dia yang memperoleh ketaatan dan janji setia (bay‟ah) serta kekuasaan (yang
diberikan untuk mengurusi urusan-urusan) dari masyarakat yang menyerahkannya.

           

             

     
Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah
keputusan (perkara) di antara manusia dengan benar (adil) dan janganlah kamu mengikuti hawa
nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari
jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. (Quran,
Surat Shaad 38: 26)

Fungsi dan peran khalifah yang sebenar-benarnya adalah menegakkan aturan yang
benar (Quran, Surat Shaad 38: 26), hukum yang benar yaitu hukum yang
diturunkan oleh Allah. Fungsi dan peran khalifah dari menegakkan hukum yang
benar itu ialah agar; kebenaran dan keadilan tegak di dalam kehidupan, di dalam

89
sistem hidup; lingkungan sosial (ke-mashlahat-an sosial) dan lingkungan alam
(melestarikan bumi). Oleh karena itu Khalifah memiliki peran untuk menegakkan
kebenaran dan keadilan di dalam sistem hidup, termasuk peran penegakkan
kebenaran dan keadilan baik di dalam ekonomi maupun di luar ekonomi.

V.II
Peran Khalifah di Dalam Ekonomi
Di antara peran khalifah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan di dalam
ekonomi itu ialah sebagai berikut.
1
Peran Khalifah Secara Mikroekonomi

Peran khalifah di Pasar: membebaskan pasar dan perserikatan dari 3 hal

1. Membebaskan pasar dari praktik muammalah yang batil dan zalim;
kecurangan, riba, gharar, maysir, dan macam variannya, baik yang
nampak maupun tidak nampak/samar.
2. Membebaskan pasar dari segala bentuk intervensi harga dan persaingan
monopolistik, dengan membeli asset-nya untuk diubah menjadi milik
negara atau milik publik (waqaf).
3. Membebaskan pasar dari pajak dan rente.
2
Peran Khalifah Secara Makroekonomi

Peran khalifah dengan instrumen dan institusi keuangan publik yang diwewenangi
oleh khalifah yaitu Baytulmal (lebih lanjut lihat Bab 8: Baytulmal dan Bab 11:
Ekonomi Makro: Kontrol Kebijakan dan Pembangunan‟).

1. Menegakkan syariat zakat dan menegakkan syariat pelarangan riba
2. Menyediakan infrastruktur ekonomi dan fasilitas publik
3. Kontrol ekonomi menggunakan instrumen-instrumen Baytulmal:
a. Kontrol Insentifikasi Ekonomi: yaitu dengan menyediakan infrastruktur
dan fasilitas publik dengan sumber-sumber keungan publik untuk alokasi
keperluan umum.
b. Kontrol Ekspansi Ekonomi: yaitu kontrol yang dapat diterapkan oleh
khalifah menggunakan instrumen-instrumen „Baytulmal‟ dan
„infrastruktur keuangan‟ untuk melonggarkan atau meningkatkan jumlah
mata uang beredar. (kebijakan belanja)
c. Kontrol Kontraksi Ekonomi: yaitu kontrol yang dapat diterapkan oleh
khalifah menggunakan instrumen-instrumen „Baytulmal‟ dan
„infrastruktur keuangan‟ untuk mengetatkan atau menurunkan jumlah
mata uang beredar. (kebijakan menabung, menahan atau menyimpan)

90
d. Kontrol Stabilitasi Ekonomi: yakni peran instrumen zakat yang berfungsi
untuk menstabilitasi ekonomi; menstabilkan daya beli masyarakat dan
menurunkan ketimpangan ekonomi serta menyelamatkan kaum dhuafa
dari kepapaan dan kemiskinan.

V.III
Peran Khalifah di Luar Ekonomi
Secara umumnya peran Khalifah di luar ekonomi itu ialah mengentaskan
hambatan dan ancaman kehidupan masyarakat, Hal ini akan sangat terbantu bila
Khalifah memiliki inisiatif sumber keuangan publik dari sumber keuangan yang
berfungsi sebagai alokasi untuk memenuhi keperluan umum.

Masalah kehidupan terdiri dari 2 jenis; hambatan dan ancaman. Hambatan bersifat
alami adapun ancaman oleh karena tangan manusia (human error). Di antara
hambatan dan ancaman itu ialah:

1. Hambatan dan ancaman Kebodohan
Hambatan: Generasi yang malas dan bodoh,
Ancaman: oleh musuh; perang pemikiran; penyesatan pemikiran dan
pendangkalan keyakinan/akidah/religiusitas, berita bohong (haditsul ifki),
sekulerisme, pembodohan ummat, propaganda, siasat dan lain-lain. (lewat
berbagai macam media dan “alat pendidikan” yang dimiliki musuh untuk
mengontrol generasi dan ummat).

2. Hambatan dan ancaman Kemiskinan, Kelaparan dan Penyakit
Hambatan: Kemiskinan & kepapaan, kurang gizi, penyakit menular atau
wabah, kekurangan atau kelangkaan barang-barang kebutuhan hidup.
Ancaman: Ancaman kedaulatan dalam hal „produk-produk kebutuhan hidup‟
(sandang, pangan, perkakas, barang teknologi, energi, dan lain-lain); produk-
produk tidak layak konsumsi (beracun, bervirus, GMO atau rekayasa genetik,
dan lain-lain), produk-produk musuh yang bersifat fasad (rusak dan
merusakkan); merusak fisik, mental, akal, agama dan moral, hubungan sosial,
merusak keturunan (generasi), merusak alam, yang diimpor karena
keteledoran pemimpin (khalifah) yang tidak cakap, jerat pinjaman ribawi oleh
musuh; untuk memperbudak negara dan rakyat, perjanjian-perjanjian
ekonomi yang merugikan, dan lain-lainnya (perang ekonomi).

3. Hambatan dan ancaman Kenegaraan dan Militer
Hambatan: Keamanan dan sustainability negara dan masyarakat, kerusuhan,
ketidakstabilan sosial, isu sara, dan lain-lain

91
Ancaman: Serangan militer, assassinasi, propaganda, politik musuh, “perang
proxy”, “revolusi warna” dan lain-lain.

Solusi dan jalan keluar yang bisa dilakukan Khalifah:

1. Mengatasi hambatan dan ancaman Kebodohan: dengan menyediakan
infrastruktur pendidikan yang baik dan khalifah turut aktif dengan
pemerintahan dan persuasi-nya untuk mendidik dan membiasakan generasi
ummat Islam membangun kebiasaan, tradisi, budaya yang baik dan benar, dan
meng-counter serangan peradaban dari pihak musuh yang ingin
menghancurkan generasi ummat lewat; penyesatan, pembodohan generasi,
melalui media-media dan “alat pendidikan” yang dimiliki musuh.

2. Mengatasi hambatan dan ancaman Kemiskinan, Kelaparan dan Penyakit:
dengan menyediakan infrastruktur-infrasturktur ekonomi dan kesehatan:
rumah sakit dan pelayanan kesehatan yang baik, Instrumen Keuangan yang
baik; instrumen zakat, insentif keuangan, memproteksi industri lokal yang
dijaga ketat untuk menghasilkan barang-barang kebutuhan hidup (sandang,
pangan, energi, dan lain-lain) yang baik untuk berdaulat dalam hal produk-
produk kebutuhan hidup, men-standardisasi produk-produk pangan yang
sehat dan berkualitas (azka, halalan, thayyiban), mengharamkan praktik riba,
mengganti infrastruktur-infrastruktur keuangan ribawi dengan infrastruktur-
infrastruktur keuangan yang benar (yang sesuai dengan Al-Quran dan
Assunnah), aktif dan cakap meng-counter serangan peradaban dari pihak
musuh yang “membombardir” ummat (generasi) dengan produk-produk jualan
musuh yang merusak (fasad; bersifat rusak dan merusakkan), memastikan
kedaulatan dan tidak ketergantungan, „tidak merdeka‟ atau diperbudak, aktif
dan cakap dalam meng-counter perang ekonomi; berupa kesepakatan-
kesepakatan ekonomi yang merugikan rakyat dan kaum lemah.

3. Mengatasi hambatan dan ancaman Kenegaraan dan Militer; menegakkan
peraturan untuk menjamin keamanan sosial, keamanan publik, patroli
(berjaga atau ribath) dan polisi. Menyediakan infrastruktur keamanan dan
militer, mempersiapkan tentara yang terlatih dan kuat (i‟dad quwwah) untuk
mengantisipasi ancaman dan serangan dari luar.

92
V.IV
Kedaulatan Khalifah
Sebagaimana yang diketahui keberadaan dan kehadiran peran pemerintah
(Khalifah) begitu penting dan mendasar dalam berkehidupan, tanpa keberadaan
pemerintah dan perannya yang aktif dan signifikan dalam hal tujuan menegakkan
peraturan, menegakkan hukum, menegakkan kebenaran dan keadilan, supaya
hidup berjalan diatas pijakannya sesuai fungsinya dengan aman dan lancar.

Adalah hal yang mudah dimengerti dan hal yang pasti, tanpa kas (keuangan),
pemerintah tidak mungkin bisa berjalan. Suatu pemerintahan (sebagaimana yang
berlaku pada negara-negara yang ada di dunia terutama dunia ke tiga saat di zaman
modern ini) pemerintahan tidak berdaulat, tidak independen, tidak
berkelangsungan dan berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang
mendasar bagi rakyat yang dipimpinnya, melainkan pemerintah bersifat dependen
(ketergantungan) dan tidak merdeka. Apa sebabnya? Di antara yang menjadi
sebabnya adalah; suatu sistem pemerintahan, hukum dan perundangannya dibuat;
menyetujui dan mengabsahkan untuk membebaskan entitas bisnis menguasai hajat
hidup orang banyak dimana entitas bisnis tersebut berdiri sendiri (independen),
tanpa bekerja sama atau dibawah kendali dan kuasa pemerintah. Di antaranya
misalnya; pemberian hak dan wewenang serta intitusi khusus (yang dilegalkan atas
nama negara) kepada entitas bisnis yang disebut sebagai „bank sentral‟ (untuk
memiliki wewenang mencetak uang tanpa berasaskan cadangan intrinsik, karena
menganut kesepakatan internasional yang berlaku dimana pemerintah tunduk di
bawahnya) atau juga misalnya sebutlah itu „privatisasi‟, swastanisasi atau apapun
yang menggunakan embel-embel „nasional‟ atau „publik‟ atau „umum‟ dimana ia
berkepentingan menjalankan kepentingan orang banyak, yang pada intinya di
mana pemerintah (khalifah) memberi suatu „entitas bisnis‟ (individu atau segelintir
elit) hak tertentu (terkait hajat hidup orang banyak) untuk berkuasa atas nama
„publik‟, atas nama „umum‟, atas nama „rakyat‟, atas nama „negara‟, dan lain
sebagainya. Itulah yang sebetulnya menjadi sebab pemerintahan tidak berdaulat.

Bila dilihat dalam nilai kebijaksanaan Islam, hal ini sangat bertentangan sekali;
„segala hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak adalah dikuasai oleh negara
(dibawah kekuasaan negara) atau milik umum (waqaf)‟. “Ummat muslim berserikat
atas air, api dan rumput” (HR. Abu Dawud). Di antara hal-hal yang termasuk hajat
orang banyak adalah; air, api (energi dan listrik), lahan, dan lain-lainnya, termasuk
juga; telekomunikasi, transportasi dan juga jasa keuangan. Apa akibatnya bila
„tatanan moral‟ mengenai ini tidak diindahkan?, bila ini tidak diindahkan akibat
yang terjadi adalah (1) entitas bisnis kekayaannya bisa lebih tinggi dari (kas)
pemerintah (Khalifah) yang bisa menjadi kekayaan yang berpotensi (digunakan
untuk) melawan negara (manakala negara itu sendiri kas keuangannya miskin), (2)

93
entitas bisnis (bisa) mendikte pemerintahan, (3) entitas bisnis bisa menulis hukum
atau dengan kata lain hukum yang dibuat pemerintah; mandul. (4) entitas bisnis
bisa memiliki kuasa monopolistik di mana ia dapat menetapkan harga secara
sepihak dan bersifat zalim dan menindas (di mana monopolistik dilarang dalam
Islam, ia mempengaruhi harga pasar dan merusak fitrahnya).

Di dalam Islam lawan dari privatisasi (atau swastanisasi) adalah waqaf-isasi.
Konsepsi negara (daulah) sejatinya adalah waqaf, waqaf sebagaimana negara itu
sendiri adalah „hak milik umum‟ (hak milik kaum muslimin atau rakyat) yang
diwewenangi dalam kepengurusannya oleh pemimpin yang ditunjuk, dalam waqaf
ia disebut nadzir, dalam zakat ia disebut amil. Oleh karena itu konsepsinya yang
terintegrasi, kepala negara (Khalifah atau pemerintah) juga adalah kepala keuangan
tertinggi, kepala negara adalah kepala tertinggi nadzir (waqaf), kepala negara adalah
kepala tertinggi amil (zakat), sehingga konsekuensinya kepala negara berwenang atas
kas publik secara merdeka dan berdaulat terhadap penggunaan kas publik.
Manakala dalam sistem pemerintahan modern, kas (keuangan) yang ada tidak
berdaulat oleh karena kas (keuangan) yang asli sejatinya adalah „bank sentral‟ [bila
pemerintah perlu uang, pemerintah perlu minta ke bank sentral, bilamana
perolehan pajak tidak memadai], kas keuangan yang sejati bukan badan keuangan
pemerintah (dalam konsep negara modern kas negara itu sendiri hanya pengumpul
pajak, tidak sepenuhnya uangnya kembali untuk rakyat, tapi sebagiannya untuk
bayar utang plus bunga), di mana sang pemilik kas lah (jaringan elit politik; bankir,
investor lokal dan asing, konglomerat politik) yang mendekte pemerintahan,
sedangkan „bank sentral‟ itu sendiri di-dikte oleh kesepakatan perjanjian
internasional; sistem keuangan internasional, akhirnya negara itu sendiri
sebetulnya didikte oleh segelintir elit predator (kapitalis-ribawi) keuangan dunia.

Apa yang terjadi dalam fenomena modern; terjadi dualisme kepemimpinan; yaitu
pemerintah yang ada sebetulnya bukan pemerintah yang asli, pemerintah yang ada
(di dalam sistem pemerintahan modern) kakinya buntung dan tidak mampu berdiri
tegap, berdiri terhuyung-huyung (oleh karena utang nasional ataupun sistem
demokrasi transaksional; di mana pemerintahan berjalan berdasarkan kepentingan
si pemodal yang mensukseskan jabatan kepemimpinan), pemerintah bersandar
kepada penguasa atau pemimpin yang sebenarnya yaitu si pemegang kas (uang)
(para elit predator keuangan ribawi global) yang mendikte jalannya pemerintahan
untuk mensepakati kesepakatan-kesepakatan yang bersifat zalim dan menindas
rakyat.

94
VI

SISTEM KEUANGAN

(MONETARY SYSTEM)

VI.I
Sistem Keuangan Modern

S
ebelum era kelahiran peradaban barat-modern sekuler uang selalunya
menggunakan uang intrinsik (nilai uangnya di dalam bendanya itu sendiri) ia
terbuat dari logam; emas, perak dan juga tembaga. Pada abad ke 16 di mulai
dari eropa, proses kelahiran peradaban barat-modern pada abad pencerahan
(renaissance) di dalangi oleh orang-orang anti-agama (sekuleris), orang-orang ini pada
akhirnya berhasil melegalkan atau menghalalkan praktik riba atau usury [baik di
wilayah otoriti gerejani kristen maupun otoriti pemerintahan di wilayah eropa] dan
menggunakan istilah yang lebih halus yaitu interest (bunga), amalan riba pada
akhirnya memang sudah menjadi kebiasaan dan menjadi lumrah secara luas entah
kaum itu beragama atau tidak. Bermula dari orang-orang yahudi eropa yang
menjalankan usaha pandai emas (goldsmith) kemudian berkembang menjadi usaha
jasa penitipan, di mana tukang-tukang pandai emas menawarkan jasa penitipan
emas baik itu para peziarah, pelancong, pedagang dan semua warga eropa yang ada
pada saat itu, menitipkan emas dirasa bermanfaat dan penting, dari pada
membawanya sebagai beban dan berisiko terhadap kejahatan dan perampokan.
Apabila emas diserahkan kepada tukang penitipan emas tadi maka tukang
penitipan tersebut akan membuatkan cek atau nota catatan yang mencantumkan
besaran jumlah emas yang dititipkan sebagai alat bukti. Penitipan emas ini pada
akhirnya menjadi lumrah bagi warga eropa atau di manapun pada saat itu, hal ini
memberikan suatu kemudahan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya, mereka
tidak perlu lagi susah-susah membawa emasnya untuk bertransaksi, mereka hanya
perlu menggunakan cek atau nota itulah untuk bertransaksi, yang lebih
menakjubkannya kemudian cek menjadi alat pembayaran yang bisa diterima secara
sah, sementara tukang-tukang pandai emas (goldsmith) itu pun kemudian menjelma
menjadi bankir di mana ia selain membuka jasa penitipan, ia juga sekaligus
menyalurkan sebagaian hartanya untuk usaha pinjaman berbunga, dari sini lah
semua mengenai uang ekstrinsik modern (atau „uang kertas‟ atau „mata uang‟ atau
currency) dan bank modern bermula.

95
Bank sentral dibuat pertama kali di Belanda tahun 1668. Kemudian pada tahun
1694 Bank of England disahkan oleh pemerintah inggris William III untuk
memberi hak kepada pendana atau pemberi pinjaman langganan untuk
pemerintah dengan wewenang khusus yaitu hak menerbitkan cek (banknote)
poundsterling sebagai Bank Sentral Inggris, di mana pada saat itu keperluan dana
mendesak 12.000 poundsterling untuk membiayai keperluan menghadapi ancaman
serangan dari Prancis (Inggris masih menggunakan gold standard hingga tahun
1931). Prancis mengesahkan Banque de France tahun 1800, Bank Sentral Amerika
The Federal Reserve disahkan melalui kongres tahun 1913, dan banyak juga
negara-negara lain kemudian mengesahkan pendirian bank sentral-bank sentral
mereka.

Pada mulanya setiap bank manapun (sebelum ada bank sentral) boleh menerbitkan
cek (banknote), tetapi kemudian kemunculan konsep bank sentral, hak untuk
menerbitkan cek atau „mata uang‟ hanya boleh dilakukan oleh bank sentral,
dengan kata lain hak untuk menerbitkan cek dimonopoli oleh bank sentral.
Kemunculan Bank sentral dirasa penting, untuk membantu pemerintahan dalam
hal pemberian dana untuk keperluan-keperluan pemerintahan, sebagai alternatif
dari pajak, terutama pada saat-saat genting seperti misalnya; ancaman perang. Awal
mulanya memang berkonsep gold standard (cek yang diterbitkan dijamin oleh
cadangan emas), namun semakin lama perundangan dibuat untuk membuat
ceknya tidak bisa ditukar dengan emas dengan alasan tertentu (keamanan ekonomi,
dan lain-lain), apalagi bila saat terjadi panik saat situasi perang. Sebetulnya juga cek
yang dicetak akan selalu lebih banyak dari pada cadangan yang disimpan, namun
masyarakat tidak menyadarinya karena ini hanya urusan pemerintah dan bank
sentralnya yang tahu di mana ceknya dibuat tidak bisa dicairkan, bank sentral
hanya perlu meyakinkan masyarakat bahwa nilai uangnya stabil dengan pelaporan
angka-angka statistik dari hal yang disebut sebagai „pengendalian inflasi‟.

Pada tahun 1930, terjadi depresi besar bersamaan dengan perang dunia II, kondisi
ekonomi eropa memburuk, negara-negara memberlakukan kebijakan ekonomi yang
ketat dengan meningkatkan hambatan perdagangan luar negeri, devaluasi mata
uang untuk bisa bersaing dalam pasar ekspor, serta membatasi warga negaranya
memegang valuta asing. Setelah usai perang dunia II, Amerika mengadakan
pertemuan di Brettonwood mengundang negara-negara dunia lainnya untuk
mengadakan konferensi kerja sama ekonomi internasional selepas perang dunia II.
Pada konferensi tersebut, dilahirkanlah institusi-institusi keuangan dunia dan
organisasi perdagangan internasional di antaranya: IMF, World Bank, WTO. Pada
konferensi ini untuk membuka hambatan-hambatan perdagangan internasional di
mana negara-negara yang tergabung dibuat sepakat untuk menjaga nilai tukar mata
uangnya dalam bentuk Dollar Amerika Serikat, oleh karena pasca perang dunia ke
II Amerika memiliki cadangan emas yang paling banyak dari perdagangan

96
internasional pada masa-masa perang sebelum sebelum itu (di mana negara-negara
yang berperang suplai bahan pangan dan lain-lainnya diimpor dari luar, sementara
Amerika pemasok utama Inggris), oleh karenanya Amerika berjanji setiap 35 US
Dollar dijamin dengan 1 Ons emas tetapi dengan syarat hanya “bank sentral” yang
boleh menukarkannya. Selain dari pada itu untuk memperoleh US Dollar bagi
negara-negara yang ingin berpartisipasi dalam perdagangan perlu mengirim
cadangan emasnya ke The Fed, Bank Sentral Amerika, lewat IMF, bisa juga
memperoleh Dollarnya dari perdagangan ekspor, atau meminjam US Dollar ke
IMF. Sistem ini merupakan sistem moneter internasional yang disebut dengan
sistem keuangan Brettonwood.

Hingga tahun 1960an, pemerintah AS telah meningkatkan pengeluaran untuk
membiayai perang Korea, perang Vietnam dan program Johnson Great Society.
Presiden Prancis, Charles De Gaulle menguji sistemnya dengan meminta
penukaran Dollarnya $150 juta, setelah itu banyak negara-negara eropa di
belakangnya mengantri, hingga cadangan emas AS mulai 1959 hingga 1971
berkurang hingga 50%. Oleh karena ternyata pemerintah Amerika dan The Fed
telah mencetak uang kertasnya melebihi cadangan emasnya, pemerintah AS
menyadari jika penukaran terus berlangsung sementara uang kertasnya telah
dicetak melebihi cadangan emasnya maka sistem keuangannya tentunya akan
bangkrut (collaps). Pada 15 Agustus 1971, peristiwa ini dikenal dengan „Nixon
Shock‟, presiden Amerika Serikat Richard Nixon membatalkan perjanjian
Brettonwood secara sepihak dengan menyatakan penukaran Dollar tidak berlaku
lagi karena memang Dollarnya tidak lagi diback-up dengan emas (walaupun ini
terasa seperti perampokan bagi negara-negara lainnya yang sudah menyetorkan
emasnya ke The Fed, anehnya tidak ada perlawanan atau penuntutan kejahatan
terhadap Amerika, siapa yang mampu melawan Amerika saat itu?), oleh karena itu
Dollar yang tadinya diback-up emas (gold standard), sekarang hanya uang kertas yang
bernilai janji dan pengaruh hegemoni dan kekuasaan AS ke atas dunia, sekarang ia
disebut sebagai sistem uang fiat.

Selepas itu, terjadi krisis kepercayaan masyarakat dunia terhadap Dollar, dampak
pasar terhadap Dollar sangat buruk, nilai Dollar merosot tajam, hingga Januari
1980 jatuh kurang lebih 850 Dollar per Ons emas (yang semula 35 Dollar per
Ons), setiap orang sudah mulai akan meninggalkan Dollar. Tetapi pada tahun 1974
Keuangan Negara Amerika Serikat melakukan kesepakatan rahasia dengan Badan
Moneter Arab Saudi (SAMA; Saudi Arabia Monetary Agency), yang meminta Arab
Saudi sudi untuk berinvestasi dan membiayai defisit keuangan Amerika dari hasil
jualan minyaknya. Saudi merasa terhutang budi, karena AS adalah konsumen
pembeli minyak terbesarnya, tetapi kesepakatan yang paling penting adalah; di
samping Saudi mengambil alih 60% kepemilikan saham perusahaan minyak
ARAMCO (Arabian American Oil Company) dan hingga 1988 Saudi

97
menasionalisasi perusahaan minyak tersebut, Saudi juga bersetuju menjual
minyaknya hanya dengan mata uang Dollar, belum lagi Saudi adalah anggota
berpengaruh dalam organisasi kartel penjualan minyak yang disebut OPEC dan
OPEC hanya menerima penjualan minyak hanya dengan Dollar. Sebagai timbal
baliknya, Saudi dan beberapa negara penjual minyak lainnya akan mendapatkan
kontrak dan diskon perlindungan militer, senjata, transfer teknologi, tenaga
pembangunan infrastruktur dengan kontraktor-kontraktor terbaik yang dimiliki
Amerika, ia adalah janji pembangunan dan kemajuan, suatu kemudahan yang akan
diperoleh negara-negara penjual minyak, hasil kesepakatan ini menyebabkan
Amerika berhasil mempertahankan nilai Dollar.

Sistem ini dikenal dengan „Petrodollar‟, di mana nilai Dollar AS disangga oleh
minyak, Dollar AS menjadi komplemen terhadap minyak, semakin permintaan
minyak dunia tinggi, semakin tinggi juga permintaan Dollar. Sistem ini berhasil
mempertahankan nilai Dollar, nilai Dollar akhirnya naik, tetap tinggi nilainya
terbang di atas lantai dasar. Di sisi lain, Amerika harus mengontrol minyak harus
selalu murah, dengan cara menetapkan bunga tinggi atas pinjaman Dollar, supaya
permintaan minyak turun dan harga minyak bisa menyesuaikan permintaan dunia.

The Fed membuat mekanisme keuangan baru yang juga berlaku secara resmi ke
negara-negara lainnya untuk mekanisme pembuatan uang dalam artikel yang
diterbitkan „Modern Money Mechanic‟. Uang kertas itu sendiri selepas perjanjian
Brettonwood, tidak lagi diciptakan berdasarkan cadangan emas, tetapi penciptaan
uang fiat kini berdasarkan instrumen utang. The Fed atau bank-bank sentral suatu
negara akan menerbitkan uang baru dalam bentuk sertifikat atau nota (banknote)
untuk pemerintah (sebagai kekayaan yang dibuat dari ketiadaan tanpa cadangan
intrinsik, ex nihilo) dengan syarat pemerintah membuat surat utang (obligasi atau t-
bill), surat utang tersebut akan diserahkan kepada bank sentral di mana pemerintah
Amerika Serikat akan membayar pokok utangnya dan bunganya, sementara itu
uang baru dalam bentuk nota untuk pemerintah Amerika Serikat belum bisa
digunakan menjadi mata uang, kecuali setelah ia disimpan di bank dunia (IMF)
sebagai deposito. IMF menggunakan uangnya untuk memberi pinjaman berbunga
(termasuk ke negara-negara berkembang; dunia ke tiga) untuk “bantuan
pembangunan” dan lain-lainnya, di mana pemerintah Amerika Serikat atau
nasabah IMF hanya perlu menyimpan uangnya dalam tempo tertentu (deposito)
dan kemudian menikmati bunganya.

98
1
Uang fiat

Di awali dari uang yang semula bernilai intrinsik (nilai uangnya berada di dalam
bendanya), bergeser menjadi uang ekstrinsik (nilai uangnya berada di luar
bendanya) yaitu cek (uang kertas). Uang ekstrsinsik mulanya bercadangkan emas,
tetapi selepas pembatalan perjanjian Brettonwood, maka 100% uang ekstrinsik
dunia yang berlaku saat ini tidak lagi ada kaitannya dengan cadangan emas, itu lah
uang yang sekarang; yaitu uang fiat. Uang fiat yaitu „uang ekstrinsik‟ apakah itu
uang kertas atau uang giral atau uang digital dan lain-lainnya [yang selanjutnya
menjadi basis (based money atau M1) bagi uang-uang ekstrinsik lainnya (broad money
atau M2)] yang sejatinya tidak dicadangkan dengan cadangan intrinsik, melainkan
semata-mata bercadangkan utang. Sejatinya ia merupakan kekayaan yang dicipta
dari awang-awang (dari ketiadaan atau ex nihilo), sejatinya tidak ada nilainya sama
sekali. Ia menjadi berharga hanya karena diback-up oleh kekuatan dan kekuasaan
otoritas-otoritas pemerintah-pemerintah, negara-negara dan adikuasa-adikuasa yang
memberlakukannya sebagai legal tender (uang resmi).

Sekarang mari kita tinjau dalam sudut pandang moral, ketika uang ekstrinsik
dicetak lebih banyak dari pada cadangan intrinsiknya (atau malah tanpa cadangan
intrinsik sama sekali), maka sejatinya ia adalah menciptakan kekayaan dari
ketiadaan dengan hanya semudah menulis ceknya, mencetaknya (print) atau
mengetikkan digitnya di dalam komputer yang sejatinya adalah tindakan fraud
(curang). Seandainya seseorang membuat cek kosong yang tidak ada isinya, lantas
menggunakannya sebagai alat pembayaran, kemudian seorang yang menerima
ceknya ketika akan mencairkan ceknya ternyata tidak ada isinya, maka orang itu
pastinya akan diserahkan ke badan hukum untuk diadili, karena ia adalah tindakan
kecurangan atau bisa dikatakan penipuan. Sementara apa yang terjadi seperti
contohnya pada pembatalan pernjanjian Brettonwood yang dilakukan Amerika
tidak ada yang bisa menahannya sebagai kejahatan internasional karena Amerika
menggunakan kekuasaannya untuk berbuat pelanggaran, ketika Richard Nixon
membatalkan kesepakatan Brettonwood, Dollar tidak lain sama seperti cek yang
tidak bisa dicairkan.

Uang di dalam perspektif modern juga dianggap sebagai komoditas, yang bisa
diperjual-belikan untuk memperoleh keuntungan atau disewa-sewakan dengan
imbalan bunga. Yang berlaku keseluruh dunia hari ini Dollar Amerika Serikat tetap
bisa mempertahankan nilainya sebagai induk dari semua mata uang kertas, sebagai
mata uang cadangan utama dunia, yang jiwanya diletakkan pada minyak negara-
negara yang tergabung dalam organisasi perusahaan kartel penjual minyak (OPEC),
dengan demikian mata uang Dollar AS relatif paling tinggi nilainya dibanding mata
uang lain negara manapun, karena AS membuat kesepakatan dengan negara
eksportir minyak untuk menjaga pembayaran minyak hanya dilakukan dengan

99
Dollar, dengan kata lain Dollar nilainya dijangkar oleh minyak, di mana minyak
terus dibutuhkan negara-negara manapun di dunia. Hal ini sangat mudah difahami
tidak ada negara yang bisa berjalan tanpa minyak, tanpa transportasi negara
pastinya collaps; di mana semua barang-barang kebutuhan hidup disuplai
menggunakan alat transportasi.

Uang fiat dicetak oleh segelintir elit sebagai kekayaan cuma-cuma yang dicipta dari
awang-awang layaknya Tuhan, ketika ia menjadi komoditi sewaan (utang dengan
imbalan bunga) tentunya bisa menjadi senjata berbahaya untuk menguasai
(memperhamba) manusia-manusia penggunanya. Sebagai contohnya, apa yang
dilakukan pemerintah Amerika Serikat ketika menaruh kekayaan cuma-cumanya
sebagai deposit di bank internasional katakanlah IMF, kemudian IMF
meminjamkan dananya kepada negara-negara importir sebagai utang plus bunga,
maka negara-negara importir tersebut perlu bekerja lebih giat untuk menghasilkan
devisa dan membayar utang plus bunga; negara-negara importir (pemerintahannya)
bekerja untuk tuan budaknya (yang menghasilkan kekayaan secara cuma-cuma);
sedangkan rakyat tidak terurus atau terpenuhi kebutuhannya (karena kas
digunakan untuk membayar utang) tetapi rakyat sekaligus juga bekerja lembur
untuk membantu memperoleh devisa.

Ketika uang fiat yang dicetak oleh segelintir elit sebagai kekayaan cuma-cuma yang
dicipta dari awang-awang layaknya Tuhan, ketika ia menjadi komoditi sewaan
(utang dengan imbalan bunga), tentunya bisa menjadi senjata berbahaya untuk
menguasai (memperhamba) manusia-manusia penggunanya. Sebagai contohnya
lagi; ketika negara memerlukan pembiayaan pengeluaran-pengaluaran kebutuhan
negara sebutlah itu pertahanan, pendidikan, pembangunan dan lain-lain
sebagainya, negara perlu membuat utang nasional dengan membuat surat utang,
kemudian otoriti bank sentral menciptakan kekayaan dari awang-awang tanpa
berlandaskan cadangan intrinsik untuk menciptakan uang, tetapi apabila
pemerintah menerima uang dari bank sentral ia tentu saja bukan uang gratis, tetapi
pinjaman dengan bunga, setelah itu sejumlah uang yang beredar akan
menggerakkan perekonomian, kemudian uangnya kembali lagi kepada pemerintah
lewat pajak yang dipunguti dari masyarakat, kemudian utang nasional perlu
dibayarkan kepada bank sentral, ketika pemerintah berhasil melunasi utang,
asumsinya tidak ada uang yang tersisa karena jumlah uang yang beredar sama
dengan jumlah utang yang dipinjam, wal hasil untuk melunasi sisa bunganya,
pemerintah perlu membuat utang nasional lagi, dan keadaan terus berulang di
mana sisa bunganya semakin membesar dan membengkak (gali lobang tutup lobang
dengan utang yang lebih besar) dan hingga sampai kapanpun bunga tersebut tidak
bisa dilunasi bahkan semakin membesar. Ujung-ujungnya, negara tidak bisa
memenuhi kebutuhan rakyatnya, banyak anggaran dipangkas, sementara rakyat
bekerja lembur untuk membantu melunasi hutang pemerintah dari membayar
pajak.

100
Selain dari pada itu pertumbuhan keuangan yang membengkak disebabkan
penciptaan uang berlandaskan utang, uang dicipta tanpa berasaskan cadangan
bernilai intrinsik, konsekuensi yang berlaku kepada pasar adalah kenaikan-
kenaikan harga, uang kehilangan nilainya, masyarakat yang telah bekerja susah
payah mencari penghasilan kini hasil keringatnya lenyap, ia kehilangan daya beli,
oleh karena inflasi, di mana nilai uangnya telah dirampok oleh elit pencetak
(pencipta) uang.

Oleh karena itu, konsekwensi mudharat yang terbesar dari uang fiat beserta otoriti
ditangan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, tidak hanya ia menciptakan
kekayaan secara mudahnya (menciptakan uang mudah) tetapi juga ia akan
menimpakan „perbudakkan‟ atau „perhambaan‟ kepada manusia lantaran manusia
bekerja dengan menghasilkan „uang palsu‟ yang secara berterusan kehilangan daya
beli, sementara terus berhajat kepadanya berterusan, ke-mudharat-an terbesar yang
akan menimpa manusia sebetulnya adalah bencana ke‟syirik‟an sebagai suatu dosa
yang tidak akan diampuni oleh Allah; di mana manusia-manusia kini sibuk
mengejar tujuan hidup yang hanya sekedar „memenuhi kebutuhan hidup‟ dan
bekerja untuk tuan budaknya; yaitu para kreditur, para bankir, para elit, sekaligus
bersepakat; “menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang
Allah halalkan” dengan menerima dan bersetuju praktik riba adalah praktik yang
legal, sehingga tidak lagi kehidupan ini untuk Allah subhanahu wa ta‟ala.

2
Bank dan Fractional Reserve Requirement

Sebelum praktik uang fiat dapat terealisasikan secara internasional oleh para elit
global, sebelum itu sudah lama praktik „meminjam dan meminjamkan uang‟
dipraktikkan oleh para tukang pandai emas (goldsmith) pada abad ke 16. Khususnya,
pada kasus Bank of England pada saat itu yang bertindak sebagai Bank Sentral
Inggris untuk pertama kalinya, memberikan pinjaman berasaskan cadangan 2:1 atas
emas yang disimpan, ini hanyalah rasio permulaan, selanjutnya di zaman modern
rasio ini bisa lebih besar lagi sebagai mana yang akan dijelaskan.

Uang fiat, di zaman modern dalam menciptakan uang (dari ketiadaan) tidak
berjalan sendirian, uang fiat bekerja dengan bank, yaitu suatu insitusi yang
mendirikan aktivitas keuangan berlandaskan „meminjam dan meminjamkan uang‟
dari dana simpanan yang diterima dari jasa penitipan (tabungan) para nasabahnya.
Meluasnya praktik ini tidak lain dan tidak bukan diawali dari pelegalan praktik
bunga pinjaman (interest) terlebih dahulu sebelumnya pada abad 16 oleh ummat
kristiani (protestan) (didalangi gerakan abad pencerahan yang sekuleris) dan ummat
yahudi jauh-jauh hari sebelumnya sudah melegalkan bunga (dan barangkali kaum
yahudi palsu inilah yang memprakarsa gerakan abad pencerahan) (Quran, Surat
An-Nisa 4: 161). Sehingga konsekuensinya uang dianggap sebagai komoditi yang

101
bisa diperjualbelikan dengan keuntungan atau disewa-sewakan dengan imbalan
bunga.

Institusi bank dalam beroperasi ia berjalan berasaskan sistem fractional reserve
requirment (FRR) atau giro wajib minimum (GWM) yang menganut sistem
percadangan rasio antara yang dipinjam dan yang dipinjamkan dari dana titipan
(tabungan) nasabah. Sistem FRR yang paling optimal adalah sistem cadangan
seminimal-minimalnya 10% dengan penyaluran semaksimal-maksimalnya 90%
(1:9), di mana berdasarkan apa yang terjadi, biasanya nasabah yang menyimpan
uangnnya di bank, dari kesemuanya setidaknya hanya sampai 10% yang mengambil
uangnya kembali, maka dari itu bank berasumsi 90% dana menganggur dapat
dimanfaatkan yaitu dipinjam (dari nasabahnya) untuk usaha pinjaman berbunga
kepada peminjamnya (dengan hasil bunganya akan berbagi antara pihak bankir dan
nasabahnya).

Ketika bank meminjam uang dari uang nasabah untuk disalurkan kepada usaha
ribawi (dengan maksimal penyaluran 90% dari semua cadangan/tabungan uang
nasabah), maka yang terjadi uang mengganda 9x lipat suplai uang bertambah
berasaskan utang, 9x lipat penciptaan kekayaan dari awang-awang (dari ketiadaan).
(Apabila) Laju kenaikan pertumbuhan uang lebih tinggi dari pada laju produktifitas
berdasarkan kapasitas dan kapabilitas produksi yang tersedia; atau laju keuangan
lebih tinggi dari pada laju output komoditi (barang dan jasa) yang mampu
diproduksi oleh populasi ekonomi; (bila tidak ditunjang dengan kapasitas produksi
yang memadai dan tidak masuk akal) akibatnya pastinya inflasi (kenaikan harga-
harga). Sementara bank akan menikmati keuntungan hanya bermodalkan makelar
dana (pinjaman dan dipinjamkan), adapun populasi ekonomi menerima
penghasilan dari uang yang terus mengalami pengurangan nilai dari waktu ke
waktu; dengan kata lain bank turut aktif membantu perbudakan sistematis
(perpanjangan dari uang fiat), struktural dan hirarkis dari atas ke bawah,
masyarakat yang paling bawah adalah budak-budak pekerja yang bekerja sepanjang
hari sepanjang malam, namun barangkali hanya cukup menyambung kebutuhan
hidup makannya saja atau tidak pernah mencukupi kebutuhan sehari pada waktu
itu. Dampaknya produktifitas yang dilaksanakan oleh populasi ekonomi akan
menghalalkan segala cara dan masyarakat populasi ekonomi hanya akan mencari
jalan-jalan singkat dan instan (mencari usaha atau pekerjaan yang paling aman dari
risiko dan anti-rugi) untuk menghasilkan kekayaan, maka output produksi
komoditas-komoditas atau aset-aset yang dihasilkannya sepanjang waktu semakin
rendah kualitasnya, orang akan menjual hal yang tidak dibenarkan untuk dijual,
dan taraf hidup semakin buruk, sementara nilai hutang populasi masyarakat
terhadap para bankir dan para elit semakin tinggi, di mana orang-orang yang terlilit
hutang membayar hutangnya dengan uang yang terus mengalami pengurangan nilai
sepanjang waktu; tidak lain dan tidak bukan adalah bentuk „perhambaan‟ atas
kemanusiaan.
102
3
Bunga

Bunga adalah biang dari semua biang sistem keuangan ribawi modern. Bunga
adalah praktik keuangan modern yang paling inti dan paling mendasar, tanpa
bunga maka tidak ada bank, tidak ada bank maka tidak ada uang fiat. Sebagaimana
sebelumnya, mengapa sistem keuangan ribawi global ini bisa terwujud, mula-mula
di awali dari proses riba dilegalkan terlebih dahulu (dengan pola pikir rasionalis-
positif-empiris-materialistis-sekuler) dalam suatu masyarakat (yaitu paling awalnya
masyarakat eropa) manakala skriptur-skriptur agama telah mengutuk, mengancam
dan memperingatkan bahayanya baik itu dalam skriptur Yahudi (Taurat), Nashrani
(Gospel), Islam (Al-Quran), selanjutnya masyarakat akan tertular penyakit
mempraktikkan riba yaitu menghalalkan dan melegalkan bunga pinjaman mereka
mengatakan (tidak peduli adakah mereka itu kaum agamawan atau bukan) bunga
adalah konsekwensi logis sebagai bayaran atau sewa atas modal dan argumen-
argumen lainnya, kemudian praktik „meminjamkan uang dengan bunga‟ (pinjaman
berbunga) berkembang menjadi praktik „meminjam dan meminjamkan uang
dengan bunga‟ dengan sumber dananya dari „dana titipan‟ dari pembukaan jasa
penitipan, dalam hal ini oleh karenanya „uang tabungan‟ tidak hanya sekedar
„tabungan‟ atau „titipan‟ semata tetapi juga sebagai „pinjaman‟ (itulah yang
membuat uangnya mengganda) hal ini memunculkan institusi yang disebut sebagai
„Bank‟. Bila awal mulanya bank menggunakan uang yang bersifat intrinsik (uang
logam; emas dan perak) dalam praktik ribawinya lama-lama bank menerbitkan nota
atau kwitansi atas „titipan‟ para nasabah yang sejatinya merupakan „alat bukti‟ tiba-
tiba menjadi „alat transaksi‟ yang dimuati janji-janji palsu, manakala sejatinya nota
atau cek atau kwitansi adalah janji pembayaran riil uang intrinsiknya terhadap
pemegang cek tersebut alias „utang‟, oleh karenanya di zaman modern „utang‟
bahkan menggantikan „uang intrinsik‟ menjadi uang yang membawa kekayaan ilusif
tetapi sekaligus memberi penggunanya kekuasaan tidak hanya dalam urusan
pencapaian-pencapiaan pembangunannya (membangun peradaban modern sekuler)
tetapi juga sekaligus memperhamba manusia-manusia penggunanya dibawah
kekuasaan mutlak layaknya Tuhan, sedangkan manusia-manusia menjadi hamba-
hamba yang bisa digiring seperti hewan ternak.

Benarlah agama-agama itu, benarlah Allah Ta‟ala, bunga adalah salah satu riba yang
paling utama yang diberikan contohnya oleh kitab-kitab suci; yaitu lebihan atas
pokok pinjaman, dalam pandangan „tatanan moral‟ riba merupakan salah satu dari
„dosa besar‟, dosa yang membinasakan, ia sama halnya dengan perampokan,
melegalkannya sama dengan melegalkan perampokan. Tetapi, ia memiliki dampak
yang sangat-sangat besar dalam hal menciptakan kerusakan (fasad), sebagaimana
dampak yang ditimbulkannya adalah potensi untuk memperhamba manusia
sehingga mencabut keimanan seseorang untuk merdeka dan mengakui Allah
sebagai Tuhan satu-satunya; di mana seseorang akan bersetuju, bersepakat
103
“menghalalkan apa yang Allah haramkan dan mengharamkan apa yang Allah
halalkan”, dengan kata lain; syirik.

Inflasi di Zaman Modern

Inflasi di zaman Modern adalah fenomena yang lumrah terjadi begitu kata Milton
Friedman (ekonom aliran moneteris), namun juga sekaligus mengherankan, apakah
sebab inflasi yang sebenarnya terjadi di zaman modern? Bila kita mencari
jawabannya dalam sekolah-sekolah, universitas-universitas atau mazhab-mazhab
disiplin ilmu ekonomi modern, dari kesemuanya memberikan definisi yang tidak
lugas, apa juga sebab inflasi yang terjadi di zaman modern. Beberapa mengatakan,
inflasi terjadi oleh karena kelangkaan harga barang baku, inflasi oleh karena sebab
impor dan lain sebagainya yang tidak dengan sebenarnya menjelaskan inflasi apa
yang terjadi di seluruh dunia pada saat ini sehingga seperangkat kebijakan moneter
menjadi instrument yang lazim dan perlu ada untuk mengendalikannya.

Inflasi memang banyak jenis dan banyak sebab-musababnya, tetapi pada inti sarinya
inflasi itu terjadi bilamana kenaikan harga-harga komoditas oleh karena sebab
berkurangnya nilai dari uang, di mana hubungan relatif antara harga-harga
komoditas dengan nilai dari uang itu tidak lain oleh karena „jumlah komoditas‟
dan „jumlah uang‟ antara yang satu dengan yang lainnya berubah secara relatif yang
terjadi dalam mekanisme penyesuaian pasar (self-adjustment). Menurunnya jumlah
komoditas atau meningkatnya jumlah uang itu bisa terjadi karena sebab-sebab yang
alami misalnya kegagalan panen, atau kelangkaan komoditas tertentu (komoditas
barang baku), tetapi sebab dari inflasi itu juga bisa terjadi oleh karena tangan
manusia yang korup misalnya; adalah praktik penimbunan komoditas oleh pelaku
ekonomi tertentu, kelangkaan barang menyebabkan harga-harga barang meningkat.

Adapun inflasi yang terjadi di zaman Modern yang terjadi secara meluas dan
mendunia, sebetulnya terjadi oleh karena laju keuangan lebih tinggi dari pada laju
(produksi) komoditas; yang menciptakan kekayaan ilusi dan menimpakan
perhambaan kepada manusia-manusia pengguna sistem keuangannya; yaitu uang
fiat, bank (dan sistem FRR-nya) dan praktik riba terutama sekali bunga pinjaman.
Sistem keuangan modern ini tidak lain adalah sistem keuangan yang haus
kekuasaan (ingin menjadi Tuhan) yang memperhambakan manusia, bersifat zalim
dan menindas.

Ketika laju keuangan (diciptakan dari instrumen utang yang berlipat-lipat) lebih
tinggi dari pada laju komoditi barang dan jasa yang dapat diproduksi,
konsekuensinya adalah inflasi menjadi fenomena yang tidak dapat dihindarkan.
Maka dari itu untuk menjaga sustainability „sistem keuangan modern‟ supaya ia
tidak begitu saja runtuh, peran bank; bank-bank dunia, bank-bank sentral negara-
negara, dan bank-bank umum serta lembaga-lembaga keuangan yang dibawah

104
kontrolnya berperan untuk mempertahankan nilai uang yang sebetulnya tidak
bernilai sama sekali, dengan bahasa yang lebih halus „mengendalikan inflasi‟.

Riba dalam Sistem Keuangan Modern

Apabila seseorang menuntut keuntungan (ziyadah) tanpa ada kompensasi atau
bayaran yang setimpal atasnya maka ia adalah riba. Menciptakan kekayaan dari
awang-awang (dari ketiadaan; ex nihilo), menciptakan kekayaan dari kertas tipis yang
tidak bernilai tiba-tiba menjadi bernilai jauh lebih tinggi tanpa berasaskan
cadangan yang bernilai intrinsik sebagai penjaminnya, sejatinya adalah riba.
Kemudian memperlakukannya layaknya uang, lebih lanjut kemudian
memperlakukan uang itu layaknya komoditas, memper-sewa-kannya untuk
memperoleh lebihan bunga, ia menjual kepalsuan demi kepalsuan yang berlapis-
lapis, dia menjual sesuatu yang tidak ada untuk memperoleh keuntungan, tidak
lain dan tidak bukan ia adalah riba.

Katakanlah elit predator (kapitalis) ribawi memperoleh keuntungan dalam jumlah
jutaan, miliaran, triliunan, ratusan triliunan Dollar (dari awang-awang) tidak cukup
ia hanya memperhamba manusia-manusia untuk tunduk dibawah kekuasaannya
lewat instrumen-instrumen dan institusi-insitusi perbankan global-nya ke atas dunia
(dunia ketiga yang mayoritas ummat Islam, dan negara-negara lemah lainnya) serta
perbankan-perbankan yang ada yang tunduk dibawah agen-agennya, tetapi juga elit
predator menggunakan uang yang diciptakannya untuk membiayai perang terhadap
bangsa-bangsa, memperbudak dan menindas manusia-manusia, memberangus
„tatanan moral‟ dan keimanan, mewujudkan tatanan dunia baru (dunia modern)
yang berlandaskan kesyirikan (sekulerisme) kemudian memaksakan sistem hidup
yang kufur lagi syirik tersebut kepada orang-orang beriman, adakah dosa yang lebih
besar lagi selain dari pada ini?. Sudah cukup borok-busuk jiwa kemanusiaanya,
barangkali seburuk-buruk manusia di bawah kolong langit. Allah telah
memperingatkan mereka yang mempraktikkan riba, tidak mendapatkan sesuatu
apapun kecuali balasan perang dari Allah dan RasulNya, serta adzab pedih yang
menunggunya di akhirat kelak, bila tidak segera ber-taubat.

            

            

      
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa lebihan riba (yang
belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan
(meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan
jika kamu bertaubat (dari mengambil riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya
dan tidak (pula) dianiaya. (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 178-179)

105
          

              

              

         
Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri (stabil) melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran penyakit gila (berhati setan dan gila). Keadaan mereka yang demikian
itu, adalah disebabkan mereka berkata, Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah
telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya
larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah
diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang
kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di
dalamnya. (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 275)

Oleh karena itu semua, sistem keuangan modern yang berlandaskan kepada riba, di
mana uang yang berlaku adalah uang yang tidak memiliki integritas (kejujuran),
yang mendukung praktik riba, bunga pinjaman dan membangunkan institusi-
insitusi dan wadah-wadah transaksi yang mendukungnya dengan wujudnya sistem-
sistem perbankan modern. Sistem keuangan modern dicipta tidak lain dan tidak
bukan „sistem perampokan yang dilegalkan‟ untuk memberi keuntungan dan
kekuasaan kepada elit global yang memperhamba manusia dan memerangi „tatanan
moral‟ dan mewujudkan dunia yang syirik dan tidak mengakui Allah sebagai Tuhan
bagi manusia. Maka dampak kemudharatan terbesar yang dapat menimpa manusia
atau seorang yang mukmin dari sistem keuangan modern ini yaitu ia menimpakan
fasad (kerusakan yang merusakkan) bukan saja merusak dan memusnahkan; harta,
jiwa, raga, dan hubungan-hubungan sosial-religius, tetapi juga ia merusakkan dan
memusnahkan ke-iman-an kepada Allah dan menimpakan kezaliman dan
penindasan dengan memberlakukan tatanan kehidupan yang syirik; „tatanan
kehidupan sekuler‟; yang menghalalkan apa yang Allah haramkan dan
mengharamkan apa yang Allah halalkan. Ini merupakan subjek yang tidak bisa
dianggap tidak penting, dibuat main-main dan diabaikan bagi setiap mukmin yang
mengaku beriman kepada Allah, di mana bencana terbesar bagi seorang mukmin
adalah bencana ke-syirik-an, Allah mengampuni dosa apapun sekalipun besar
kecuali dosa syirik.
VI.II
Sistem Keuangan Islam
Uang di dalam Islam ia selalu uang intrinsik, uang yang memiliki integritas
(kejujuran), uang yang tidak memungut (mem-pajak-i) nilai kekayaan manusia, uang
yang tidak mengurangi harta kekayaan manusia sebagaimana inflasi yang dihasilkan

106
(tangan manusia) lewat penciptaan uang di dalam sistem keuangan modern. Akan
tetapi sebaliknya inflasi boleh terjadi oleh kelangkaan barang karena sebab-sebab
alami, suatu bencana alamiah, gagal panen misalnya, sehingga pasar menyesuaikan
sistem harga yang ada padanya. Konsepsi keuangan (moneter) di dalam Islam; uang
harus dihapuskan dari segala bentuk celah praktik riba. Bila sistem keuangan
dihapuskan dari segala bentuk celah praktik riba maka uang akan berfungsi sebagai
penegak keadilan dalam bermuammalah.

Identifikasi Riba di Dalam Uang

Suatu hari di pasar Madinah, Bilal ‫ ر‬dijumpai oleh Rasulullah, kemudian
Rasulullah menyapa Bilal dan menanyakan Bilal; kurma ini bagus sekali, di mana
kamu mendapatkanya?, Bilal menjawab kurma ini didapat dari menukar 2
keranjang kurma (2 sha‟) yang tadinya berkualitas jelek dengan 1 keranjang kurma
(1 sha‟) berkualitas bagus. Rasulullah sembari merespon; Ya Bilal! Ini lah intisari
Riba! Jika kamu menginginkan kurma dengan kualitas bagus, jualah secara terpisah
dua keranjang kurma yang jelek itu terlebih dahulu, baru kemudian belilah kurma
yang kualitas bagus itu (HR. Bukhari dan Muslim).

Di hadits yang lain; Umar bin Khattab menukar 1 unta betina dengan 4 unta, Ali
bin Abi Thalib menukar 1 unta jantan dengan 20 ekor unta anakan, akan tetapi
Rasulullah terhadap kedua sahabatnya meresponya tidak apa-apa (Muwattha, Imam
Malik). Adakah kedua kasus itu berbeda? kasus Bilal ‫ ر‬mengenai kurma dengan
kasus Umar ‫ & ر‬Ali ‫ ر‬mengenai unta?, mengapa 2 keranjang kurma kualitas
jelek ditukar dengan 1 keranjang kurma kualitas bagus dianggap sebagai riba.
Sementara menukar 1 unta ditukar menjadi 4 unta atau 20 unta tidak dianggap
riba? Hal ini memang perkara yang agak sukar dimengerti, mereka yang memakan
riba karena mereka mengatakan; „sesungguhnya jual beli itu sama saja dengan riba‟!
(Quran, Surat 2: 275).

Bila mencari penjelasannya menuju hadits yang lain; ada 6 komoditi yang
transaksinya harus dilakukan tunai (tanpa selisih). Ia adalah; emas, perak, gandum,
jewawut, kurma, garam. Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan
gandum, jewawut dengan jewawut, kurma dengan kurma, garam dengan garam.
Harus dilakukan tunai, tanpa lebihan, jumlahnya harus sama (HR. Bukhari dan
Muslim dan Muwattha Imam Malik).

Berdasarkan pendapat Syaikh Umar Ibrahim Vadillo dan Syaikh Imran Hosein,
kesimpulannya 6 komoditi itu bukan hanya sekedar dikenali sebagai barang ribawi
saja dan menganggap yang lainnya selain itu bukan barang riba, tetapi 6 komoditi
tersebut (dan juga komoditi lainnya yang merupakan jenis bahan pangan, yang bisa
diukur, dan durable atau tahan lama) di dalam Islam dipandang sebagai uang atau

107
memerankan fungsi uang [yaitu; a. fungsi alat tukar (dalam pasar dengan sistem
barter), b. satuan hitung, c. penyimpan nilai], oleh karena itu di pasar Madinah;
Pasar Rasulullah ‫ ز‬6 komoditi tersebut berlaku memerankan fungsi uang. Maka
konsekwensi dari kesimpulan ini, di dalam Islam; di dalam pertukaran antar uang;
„uang dengan uang‟ tidak boleh mengambil lebihan atau keuntungan, baik itu
pertukaranya secara kontan (tunai) maupun kredit (tempo atau cicil); sebagai objek
dagangan atau objek sewaan (dengan tertangguhnya waktu pentunaiannya). Di
dalam Islam alat tukar (uang) hanyalah berfungsi sebagai alat tukar, sekali suatu
komoditi disahkan sebagai alat tukar sebagai legal tender (uang resmi), maka ia
bukan komoditi yang bisa diperjualbelikan atau disewa-sewakan untuk memperoleh
untung dari padanya, bila „aturan moral‟ ini tidak diindahkan yaitu mengambil
lebihan atau keuntungan dari pertukaran „uang dengan uang‟ ia sudah termasuk
riba, atau ini secara khususnya disebut dengan Riba Fadhl (Riba Utama). Adapun
pertukaran selain antar mata uang (uang dengan uang) yaitu; „komoditi dengan
komoditi‟ dan „komoditi dengan uang‟ boleh lah kiranya mengambil untung dari
pada ini, yang demikian merupakan barter dan jual-beli yang termasuk dari jualbeli
atau niaga atau bisnis yang Allah subhanahu wa ta‟ala halalkan (Quran, Surat Al-
Baqarah 2: 275).
Uang Sunnah

Uang sunnah sebagaimana yang berlaku di Madinah, di pasar Rasulullah ‫ز‬, uang
selalu bersifat intrinsik, atau ia berdasarkan komoditas riil apakah itu gandum atau
garam, atau apapun yang dapat dijadikan mata uang di mana dia bisa tahan lama
(durable), tidak mudah expire, sehingga dapat berfungsi sebagai penyimpan nilai,
sebagaimana dalam riwayat hadits Nabi ‫ ز‬di madinah ada 6 komoditi yang berlaku
sebagai mata uang pada masa itu. Uang intrinsik yang paling superior di dalam
Islam, yang paling sukses menjalankan fungsi uang; (1) sebagai alat tukar, (2)
sebagai satuan hitung, (3) sebagai penyimpan nilai, yaitu mata uang emas; ia disebut
Dinar, dan mata uang perak; ia disebut Dirham. Allah telah menciptakan kedua
logam tersebut berharga, bernilai, tidak mudah karatan, tidak musnah oleh waktu,
ia telah menjadi uang yang standar dan diakui di dalam syariat Islam.

             

              

         
Di antara ahli kitab ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya Qinthar (12.000 koin
emas), dikembalikannya kepadamu; dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan
kepadanya satu dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. yang

108
demikian itu lantaran mereka mengatakan: „tidak ada dosa bagi Kami terhadap orang-orang ummi
(non-yahudi)‟. mereka berkata Dusta terhadap Allah, Padahal mereka mengetahui.
(Quran, Surat Ali Imran 3: 75)

         
Dan mereka menjual Yusuf dengan harga yang murah, Yaitu beberapa dirham saja, dan mereka
merasa tidak tertarik hatinya kepada Yusuf. (Quran, Surat Yusuf 12: 20)

Konsep Praktik Uang Sunnah

1. Uang bukan “komoditi” (objek dagangan dan objek sewaan), melainkan
hanya sebagai alat tukar.

Uang di dalam Islam adalah berasal dari komoditi intrinsik, uang di dalam Islam
selalu bernilai Intrinsik, ia adalah emas dan perak, Islam juga menanggap komoditi
yang lain (biasanya bahan pangan) yang bisa diukur (ada satuannya) dan bersifat
tahan lama adalah sebagai uang (komoditi yang menjadi kebutuhan primer
masyarakat harus disahkan sebagai uang, adapun komoditi selain yang menjadi
kebutuhan primer masyarakat maka boleh dianggap hanya sebagai komoditi
biasa/bukan uang). Adapun praktik penggunannya ialah tidak boleh ada
selisih/lebihan dalam pertukaran „uang dengan uang‟ atau ini disebut dengan Riba
Fadhl (Riba Utama); yaitu uang sebagai objek dagangan (sehingga membenarkan
selisih/lebihan yang diperoleh darinya). Selain itu pula di dalam Islam selain uang
dianggap bukan objek dagangan, uang juga bukan objek sewaan, tidak ada
selisih/lebihan dari pertukaran uang yang tertangguh (baik „uang ditukar dengan
uang‟ atau „uang ditukar dengan komoditi‟ yang berlaku dalam cara tempo/cicil),
atau ini disebut dengan Riba Nasi‟ah (Riba Penangguhan; uang bertambah oleh
karena waktu; waktu menjadi komoditi), di antara macam Riba Nasiah; (a) Riba
Jahiliyyah; menetapkan denda atas pembayaran tertangguh, (b) Riba Dayn:
menetapkan bunga atas utang atau pembayaran tertangguh (kredit atau cicilan), (c)
Riba Qardh: bunga atas pinjaman.

2. Uang harus memiliki integritas (tidak curang)

Uang di dalam Islam selalunya bersifat intrinsik, adapun „uang ekstrinsik‟ di dalam
pandangan Islam sejatinya hanyalah „alat bukti‟ atau „alat hukum‟; yaitu segala
sesuatu yang berupa catatan di kertas apakah itu cek, nota, sertifikat, saham,
catatan keuangan, bahkan bila catatan itu dalam bentuk digital di dalam komputer,
ia hanya berguna bila di hadapan hukum sebagai „alat bukti‟ atau „alat hukum‟,
yang menunjukkan kepemilikan atau jejak transaksi dan perpindahan kepemilikan
atas harta riil-nya, harta intrinsiknya (Quran, Surat 2: 282). „Uang ekstrinsik‟ bisa
menjadi alat pembayaran selama ada jaminan kuasa hukum yang menjaminkan

109
„uang ekstrinsik‟nya dapat ditebus kepada harta riilnya atau harta intrinsiknya, dan
kuasa hukum harus memiliki integritas.

Kuasa atau otoritas keuangan yang mencetak uang fiat yaitu „uang ekstrinsik‟ yang
tidak di-back up cadangan intrinsik sama sekali adalah cek kosong atau cek palsu,
pemberlakuannya sebagai legal tender merupakan suatu bentuk kecurangan (fraud)
dan ia adalah uang yang tidak memiliki integritas.

Adapun bila „uang ekstrinsik‟ yang berlaku sebagai legal tender (uang yang sah) yang
dicadangkan dengan emas (gold standard) dengan kurs atau nilai tukar yang
ditentukan terhadap emas. Otoritas pengendali atau pembuat „uang ekstrinsik‟
tidak boleh mencetak „uang ekstrinsik‟nya dari awang-awang atau tanpa cadangan
yang senilai dengan kurs-nya, bila otoritas keuangan berbuat demikian ia sama saja
menciptakan cek kosong yang tidak ada isinya. Atau otoritas keuangan mencetak
„uang ekstrinsik‟nya dengan mengurangi nilai kurs-nya maka hal ini sama saja
dengan mempajaki nilai uang masyarakat penggunanya. Bila otoritas keuangan
mencetak „uang ekstrinsik‟nya sebagai cek kosong (yang tidak ada cadangan
intrinsiknya) dan memberlakukannya sebagai legal tender (uang yang sah) maka
konsekuensi yang berlaku mekanisme pasar melakukan penyesuainnya dengan
memberi reaksi berupa inflasi (kenaikan harga) atau dengan kata lain sama saja
yaitu kurs-nya (yaitu nilai tukar „uang ekstrinsik‟ terhadap emas) akan berkurang
(overvaluation).

Seandainya Dinar dan Dirham digunakan pada zaman modern menggunakan
infrastruktur pencatatan elektronik e-dinar dan e-dirham, e-dinar dan e-dirham juga
merupakan „uang ekstrinsik‟ dan ia sejatinya berfungsi sebagai „alat hukum‟ yaitu
catatan keuangan secara digital. E-dinar dan e-dirham itu sendiri tidak boleh
menciptakan digitnya (menambahkan jumlah digitnya) dari awang-awang tanpa
cadangan Dinar dan Dirhamnya, ini sama halnya ia menciptakan cek kosong; yang
tidak ada dinar dan dirhamnya. E-dinar dan e-dirham itu sendiri tidak boleh
mengubah-ubah standar emas dan peraknya (atau kursnya); yang sudah ditetapkan
pemerintah (khalifah), di mana kurs dinar dan dirham di dalam sistem keuangan
haruslah kurs yang permanen. Karena bila mengubah-ubah kurs-nya, ia sama saja
mempajaki atau memungut nilai e-dinar atau e-dirham masyarakat penggunanya, di
mana ia sebetulnya menciptakan kekayaan dari awang-awang (dari ketiadaan).

Infrastruktur pencatatan e-dinar dan e-dirham itu sendiri harus menyesuaikan atau
melakukan pen-tunai-an simpanan dinar-dirhamnya ke akun-akun tertuju, dalam
jadwal-jadwal yang ditentukan berdasarkan pos-pos kas-kas tabungan yang ada di
wilayahnya, apakah penyesuaian itu dilakukan perbulan, per-kuartal, per-semester,
dan lain-lain. Ia mirip kliring pada bank, tetapi di dalam Islam kliring itu sendiri
(catatan mengenainya) bukan dianggap sebagai komoditi (objek dagangan) atau alat
pembayaran. Pen-tunai-an hutang adalah hal yang wajib. Oleh karena itu

110
hendaknya ia dilakukan rutin (berdasarkan jadwal) dari aktivitas perdangan yang
terjadi sangat cepat, dinamis, rutin.

Oleh karena itu semua, bila saja sistem keuangan yang berlaku berlandaskan sistem
keuangan yang berlandaskan uang intrinsik; uang berbasis komoditas, Dinar dan
Dirham dan sistem keuangan yang berlaku memiliki integritas (tidak curang), tidak
ada riba dan inflasi (kenaikan harga oleh karena kecurangan menciptakan kekayaan
atau uang mudah dari awang-awang), maka mekanisme keseimbangan, self-
adjustment di pasar terjadi secara alami (fitrah) dan bisa berfungsi menegakkan
keadilan. Pertambahan mata uang hanya terjadi oleh karena: (1) Perdagangan, (2)
Pertambangan emas dan perak, (3) Produksi komoditas tertentu yang menjadi alat
tukar secara legal tender (misalnya; gandum, padi, gula, dan lain-lain). Naik turunnya
harga yang terjadi dalam mekanisme pasar yang menggunakan uang yang berbasis
intrinsik dan uang yang memiliki integritas akan terjadi menurut siklus ekonomi-
bisnis yang alami.

111
VII

KONSEPSI KEUANGAN PUBLIK ISLAM

VII.I
Dua Syariat Muammalah Terbesar

S
edekah dalam sudut pandang moral merupakan perbuatan kebajikan,
perbuatan yang terpuji, ia adalah perbuatan kemanusiaan, kepedulian
terhadap kaum lemah dan cerminan iman, agama manapun pasti akan
memandangnya sebagai kebajikan, suatu perbuatan yang luhur, mulia. Agama
Islam, sebagai agama yang di-ridho-i Allah, juga mensyaratkan amalan sedekah
sebagai tanda keimanan bagi seseorang, belum beriman seseorang bila belum
mengeluarkan hartanya untuk kebajikan, ia mewujud ke dalam syariat menjadi
anjuran bahkan menjadi kewajiban sebagai syariat zakat dan juga bahkan telah
menjadi pilar atau rukun Islam.

Di sisi lain, sifat yang berkebalikan dari pada sedekah adalah perbuatan mencuri,
memeras, menipu, merampok harta manusia. Dalam sudut pandang moral, ia
dianggap sebagai perbuatan buruk yang tercela (pantas dicela) dan pastinya ia
dijauhi dan dilarang. Di dalam Al-Quran istilahnya yang lebih umum adalah
„memakan harta manusia dengan cara yang batil‟. Syariat pelarangan akan
perbuatan ini tidak hanya pada pelarangan untuk mencuri, memeras, menipu
misalnya, bahkan perbuatan seperti ini banyak ragamnya yang bersifat sangat sukar
dikenali dan ia bisa menjadi penyakit yang menjangkiti suatu masyarakat, karena ia
sukar difahami atau dikenali maka Allah subhanahu wa ta‟ala di dalam Al-Quran
menggunakan istilah Riba dan memberikan contohnya yaitu „lebihan atas pokok
pinjaman‟ (Riba Dayn), di mana Riba termasuk perkara Dosa Besar yang
membinasakan. Maka tentunya syariat pelarangan Riba di dalam Al-Quran,
menjadi syariat besar dan pokok, bahkan bisa disandingkan dan sama pentingnya
dengan syariat kewajiban Zakat.

Barangkali, ke-dua-nya adalah syariat yang terbesar di dalam muammalah, tetapi ia
bukan hanya yang terbesar, tetapi juga dua syariat yang saling melengkapi, dua
syariat yang saling berkaitan dan sifat keduanya saling berlawanan.

112
Begitupun bila peran keduanya dikaitkan dalam ekonomi, keduanya memiliki
pengaruh dan cara kerja yang berbeda dan berlawanan tetapi mirip dan berkaitan.
Praktik sedekah, mendistribusikan kekayaan dari yang kaya kepada yang miskin,
terjadi penyaluran/transfer kekayaan dari yang kaya kepada yang miskin. Adapun
praktik Riba membuat distribusi ekonomi dengan cara sebaliknya, ia
mendistribusikan kekayaan dari yang miskin kepada yang kaya, terjadi
penyaluran/transfer kekayaan dari yang miskin kepada yang kaya. Sementara yang
miskin terjebak dalam kemiskinannya bekerja lembur siang-malam dan abadi, yang
kaya berterusan kaya dan menikmati leisure (waktu luang) yang melimpah, abadi.

Defenisi Riba menurut Al-Quran adalah; “pertambahan harta (ziyadah) (Quran, Surat
Ar-Rum 30: 39), yang diperoleh atas jerih payah orang lain dengan cara yang tidak benar
(batil) (Quran, Surat An-Nisa 4: 29 dan 160-161)”. Di antara Riba yang paling
berbahaya adalah Riba Nasi‟ah: Riba Qardh atau Riba Dayn; „lebihan‟ yang dipungut
atau dituntut atas pokok pinjaman atau dana pembayaran yang tertangguh (Quran,
Surat Al-Baqarah 2: 278-279), karena ia sukar dikenali (kejahatannya). Begitu pula
gharar (transaksi tidak jelas) dan maysir (judi, tidak ada kaitan antara keuntungan
yang diperoleh dengan aktivitas usaha yang riil) adalah Riba dalam bentuk lainnya.

[Sebagaimana Riba defenisinya adalah; ziyadah atau lebihan harta yang diperoleh
atas jerih payah orang lain tanpa kompensasi atau timbal balik atau bayaran yang
setimpal. Adapun Sedekah berkebalikan dengan Riba maka defenisinya adalah;
ziyadah atau lebihan harta yang diberikan untuk orang yang berhak menerimanya
tanpa timbal balik atau kompensasi atau bayaran yang setimpal. Bedanya; Riba akan
beroleh dosa besar, sedekah akan beroleh pahala besar]

VII.II
Lawan Dari Riba Adalah Sedekah
Bila pengkajian dilakukan pada Al-Quran dalam Surat Al-Baqarah 2: dari 260
hingga 280. Mulai dari ayat 260 hingga 274 Allah berfirman tentang kebajikan
infaq, kemudian mulai dari ayat 275 hingga 280 Allah berfirman dengan pencelaan
dan pengecaman atas amalan riba, tetapi Allah sambil mengunggulkan dan memuji
amalan sedekah dan zakat di ayat 276 dengan kalimat „Allah memusnahkan riba dan
menyuburkan sedekah‟ sebagai puncak yang menyiratkan perbandingan sekaligus
menggulkan sedekah atas riba. Pengkajian QS.Al-Baqarah 2: 260-280 memberi
isyarat bahwa lawan dari riba adalah sedekah, zakat, infaq.

Konsekuensi dari kesimpulan ini, membentuk dan mestinya mengubah
pemahaman „lawan dari riba adalah jual-beli‟; sebagai pemahaman yang salah.
Karena ayat „Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba‟ (QS.2: 275) bukan
mengindikasikan jual-beli sebagai lawan dari riba, tetapi ia sebagai ayat yang
menyiratkan bahwa jual-beli dan Riba serupa tetapi berbeda di mana sebelum itu

113
Allah berfirman „orang-orang yang memakan Riba itu karena mereka mengatakan;
„sesungguhnya jual-beli itu sama saja dengan Riba‟, berdasarkan ini bahkan Riba dan
Jual Beli sama atau mirip atau susah dikenali.

Sehingga pertanyaannya, jika memang jual-beli adalah lawan dari riba, adakah jual-
beli dapat mengatasi masalah riba? adakah jual-beli dapat mengganti atau men-
subtitusi peran riba? menjadi alternatif dari pada riba? Bila pelarangan riba itu
sendiri menghadapi dilematika unik yang dihasilkannya? Sebagaimana „Konsepsi
Keuangan Islam‟ yang wujud saat ini, dibuat berdasarkan pemahaman bahwa; „jual-
beli adalah lawan dari riba!‟, sehingga sistem keuangan Islam yang dibangun terlalu
banyak mengaplikasikan akad-akad niaga (murabahah, salam, ististna) dan akad-akad
kerjasama (musyarakah, mudharabah) dan bahkan yang sudah dimodifikasi akad-
akadnya.

Bila ternyata jual-beli itu tidak dapat mengatasi masalah riba, tidak dapat menjadi
alternatif dari pada riba, maka sepatutnya kita mencari petunjuknya pada sedekah;
karena sedekah itulah lawan dari pada riba, Allah membuat susunan kalimat
ayatNya (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 260-280) yang menunjukkan sedekah, zakat,
infaq adalah lawan dari riba.
VII.III
Dilematika Pelarangan Riba
Apabila pelarangan Riba dari Allah dan RasulNya telah disampaikan, terdapat
beberapa bantahan dan alasan-alasan dilematika yang berlaku dari pelarangan riba.

Beberapa dari kalangan ummat Islam beralasan tidaklah ada satu solusi pun dari
keuangan Islam yang bisa menggantikan keuangan yang berlaku dengan cara riba
(pinjaman berbunga) dalam memenuhi hajat-hajat keuangan (dari kepraktisannya,
dan juga tidak berbelit-belit), juga dengan sikap skeptis bahwa tiada satupun solusi
dari Islam yang bisa menyamai efisiensi sistem keuangan ribawi ini dalam
keperluan sehari-hari. Selain dari pada itu banyak juga yang mem-fatwa bunga
pinjaman adalah halal dengan berbagai dalih.

Di kubu seberangnya dari ummat Islam, mencoba mengurai dan mengatasi
dilematika persoalan riba, mereka mencoba setia merujuk kepada Al-Quran dan
Ahadits, dan mereka berkesimpulan dan berpendapat bahwa jalan lain (alternatif)
yang dapat digunakan untuk menghindari keuangan ribawi itu dalam memenuhi
hajat-hajat keuangan hanyalah dengan jalan menggunakan „kontrak‟ atau akad yang
dihalalkan Allah, yaitu kontrak-kontrak niaga (murabahah, salam, ististna) dan
kontrak-kontrak kerjasama (musyarakah, mudharabah), dan lain-lain.

Dengan solusi itu, rupanya dilematika tidak hilang begitu saja, masih ada masalah-
masalah. Di antaranya;

114
Yang pertama, akad-akad syariah; akad-akad niaga dan kerjasama itu bila bersaing di
dalam sistem ekonomi yang riba dilegalkan, ia menjadi sepi peminat dan pilihan
orang kebanyakan tidak bisa berpaling dari kemudahan sistem keuangan ribawi,
karena keuangan ribawi telah dibangun dengan menawarkan kemudahan yang
lebih dari pada apa yang bisa di lakukan akad-akad yang dikatakan syariah itu dan
juga keuangan konvensional bersifat to the point tidak berbelit-belit, maka kemudian
akad-akad syariah banyak melakukan modifikasi dan kombinasi (financial
engineering) untuk mengejar kecanggihan yang bisa dilakukan sistem keuangan
ribawi dan berupaya bisa melebihi dari padanya dengan prinsip “tanpa adanya
bunga”. Tetapi dengan praktik “islamic finance” yang seperti ini, objektif kebutuhan
ummat; „menghindari riba‟ tetap tidak tercapai, karena ketika lembaga-lembaga
keuangan syariah itu memodifikasi dan mengkombinasikan akad-akad niaga dan
kerjasama itu pada akhirnya juga akan jatuh kepada akad-akad yang bersifat ribawi,
di mana di dalam Islam ada rambu-rambu yang mestinya tidak dilanggar; „tidak
boleh ada 2 akad dalam 1 transaksi, 1 akad hanya untuk 1 transaksi‟, bila ternyata
akad-akadnya dikombinasikan maka ia sudah menggabungkan banyak akad ke
dalam satu paket transaksi.

Yang kedua, kebutuhan keuangan berupa pinjaman tidaklah sama dengan
kebutuhan keuangan berupa investasi, permasalahan ini membuat dilematika bagi
keuangan islam („islamic finance‟) di manapun hari ini, yang keuangan Islam itu
pada akhirnya mencari solusi yang terkesan memaksakan keuangan yang sejatinya
lebih bersifat „investasi‟ menjadi keuangan yang bersifat „pinjaman‟ atau sebaliknya
memaksakan pinjaman menjadi investasi. Pemaksaan ini tidak hanya bersifat
janggal dan rancu tapi juga rentan menjadi transaksi yang sama saja zalim dan
bersifat ribawi juga.
VII.IV
Sifat Strategis Sedekah Terhadap Riba
Sedekah (shadaqah) dalam makna umumnya bisa dipahami sebagai perbuatan baik
apa saja yang dikorbankan oleh seseorang secara sukarela baik kecil atau besar,
bahkan dzikir dan puji-pujian kepada Allah; tasbih, tahmid, tahlil bernilai sedekah,
sedekah bisa juga berbentuk derma atau pertolongan dari seorang manusia kepada
manusia lainnya dalam bentuk apapun, bahkan sekedar menampakkan senyum
pun kepada saudara sesamanya adalah sedekah. Tetapi sedekah dalam makna
khusus ia adalah derma dalam bentuk uang atau harta.

Sedekah dalam bentuk uang yang digunakan untuk keperluan-keperluan disebut
sebagai sedekah infaq (pengeluaran), baik keperluan individu atau kelompok atau
umum. Sedekah harta atau sedekah infaq yang diwajibkan oleh Allah menjadi
syariat ialah zakat, di mana ketentuan-ketentuannya ditentukan oleh syariat (nisab,
kadar dan haul, jenis harta dan lain-lain) dan ia berfungsi untuk membersihkan

115
harta dan jiwa seorang muslim dari kekikiran, ke-bakhil-an dan kekotoran, karena
Allah telah menetapkan di dalam suatu harta ada hak untuk orang-orang lemah,
faqir dan miskin (Quran, Surat Adz-Dzariyat 51: 19, Quran, Surat Al-Ma‟arij 70:
24).

Sedekah infaq berupa harta atau asset yang tidak sekali habis sekali dikonsumsi dan
dapat memberikan manfaat secara terus menerus dan berkelanjutan ia disebut
sedekah waqaf. Misalnya; pembelian sumur yang dilakukan oleh sahabat Rasulullah
Utsman Bin Affan ‫ ر‬dari orang yahudi, dan sumur itu disedekahkan kepada
masyarakat Madinah dan ia terus menerus memberikan manfaat, tanpa pernah
kehabisan manfaatnya, ia adalah sedekah waqaf. Atau perkebunan yang diwaqafkan
untuk umum, dan selama perkebunan itu terus dirawat dan produktif
menghasilkan, hasil perkebunan itu digunakan untuk menyedekahi faqir dan
miskin, ia adalah sedekah waqaf.

Selain dari pada itu, ayat-ayat Al-Quran telah banyak menganjurkan kaum beriman
untuk meminjamkan harta kepada Allah (harta di jalan Allah) (Quran, Surat Al-
Baqarah 2: 225, 278-280, Quran, Surat Al-Maidah 5: 12, Quran, Surat Al-Hadid
57: 10-11, 18, Quran, Surat At-Taghabun 64: 16-17, Quran, Surat Al-Muzzammil
73: 20), ia disebut sebagai Qardh-ul Hasan (pinjaman kebaikan). Pinjaman kebaikan
dapat pula diberikan kepada saudara se-iman atau saudara kemanusiaan, ia adalah
suatu pinjaman yang ikhlas tanpa mengharap imbalan, atau suatu pinjaman yang
ikhlas tanpa tempo tertentu yang diberikan kepada orang lemah (faqir dan miskin),
sehingga bila ia mampu melunasinya sajalah baru dikembalikan, atau malah
diikhlaskan sama sekali bila ia tak mampu membayarnya. Bila dipandang dari sudut
pandang sedekah, pinjaman Qardh-ul Hasan juga merupakan perbuatan baik, ia juga
adalah sedekah.

Dalam kegiatan bermuammalah pada dasarnya, hutang-piutang itu hampir tidak
dapat dihindari dan sering terjadi. Misalnya adalah pada jual-beli sering didapati
jual-beli tertangguh (kredit), baik yang tertangguh itu adalah barangnya atau
uangnya. Kasus jual-beli tertangguh ini sejatinya adalah sebuah fenomena hutang-
piutang. Oleh karena ia adalah perkara yang sering terjadi dan hampir tidak dapat
dihindari, itulah mengapa perkara utang di dalam Al-Quran, peraturan yang Allah
turunkan mengenainya sangat ketat (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 282-283) untuk
memastikan tidak terjadi kezaliman (ketidakadilan) bahkan ia menjadi ayat yang
paling panjang dari seluruh ayat di dalam Al-Quran.

Riba di sisi lain, telah dimanfaatkan mereka yang menghalalkannya, ia menyusup
kedalam kegiatan utang piutang ini (Riba Dayn) untuk memperoleh keuntungan.
Riba menjadi senjata dan bersifat strategis dan efektif bagi penggunanya untuk
membangun kekuasaan dan kekuatan untuk memperhamba manusia, tetapi

116
kekuasaan yang dibangun lewat Riba adalah kekuasaan yang zalim dan menindas,
yang disetir oleh sifat tamak (gila) kekuasaan dan kekayaan.

Di satu sisi bila kita merujuk kepada ayat-ayat Al-Quran (Quran, Surat Al-Baqarah
2: 260-280), ia mengisyaratkan bahwa Allah telah meng-unggul-kan sedekah dari
pada Riba. Karena kalimat ayat-ayat Allah memperlihatkan pertentangannya, di
mana sedekah merupakan anti-thesis terhadap Riba, dan bukan hanya
pertentangan tetapi juga sedekah lebih baik dari pada Riba. Seolah
memperlihatkan bahwa sedekah bukan hanya solusi, alternatif, subtituer (pengganti)
dari pada Riba, tetapi ia bisa melawan dan mengatasi Riba, bila Riba telah
digunakan oleh syaitan sebagai strategi untuk membangun kekuasaan, menaklukan
dan memperhamba manusia dan orang-orang beriman, sedekah bisa mengatasi
kerusakan-kerusakan (fasad) yang dibuat oleh sistem Riba itu. Lalu sedekah jenis
manakah yang bisa berfungsi sebagai solusi, subtituer, senjata yang digunakan untuk
melawan Riba secara langsung? Maka kiranya bila kembali kepada Al-Quran, Allah
berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum
dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan
sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu
bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak
(pula) dianiaya. Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, Maka berilah tangguh sampai
Dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika
kamu mengetahui. (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 278-280)

Sedekah yang bisa berfungsi sebagai solusi, subtituer, senjata yang digunakan untuk
melawan Riba (Dayn atau Qardh) secara langsung adalah pinjaman kebaikan (Qardh
Hasan). Hal ini karena bentuk sedekah yang diberikannya adalah pinjaman tanpa
imbalan (bunga), sementara Riba Dayn atau Riba Qardh berlaku dengan imbalan
(bunga), bila saja keduanya bertarung dalam suatu pasar, maka tentu saja pinjaman
tanpa bunga akan membuat pinjaman berbunga tidak laku, dan membuat usaha
pinjaman ribawi collaps. Tetapi syaratnya, bila saja Qardh Hasan berlaku secara
massif dan luas sama besarnya dengan perbankan dan lembaga keuangan yang ada
pada saat ini di mana ia berlaku secara massif dan luas.

Begitupun dengan sedekah-sedekah dalam bentuk yang lain, juga akan
memperbaiki kerusakan-kerusakan yang dibuat oleh sistem riba seperti;
ketimpangan sosial, kemiskinan, kriminalitas (amoral), kekufuran. Bila saja sedekah
zakat, sedekah infaq dan sedekah waqaf berlaku secara massif dan luas.

117
VII.V
Dilematika Penerapan Qardh-Hasan
Perbantahan dan alasan-alasan dilematika Qardh-Hasan itu secara umumnya ada
dua:

1. Dalam ranah mikro (entitas individu atau rumah tangga dan entitas bisnis),
qardh hasan sulit berjalan karena jarang yang akan melakukan atau
menyediakan, memberikan pinjaman tanpa imbalan, selain dari pada itu
apabila Qardh Hasan dijalankan oleh lembaga keuangan Islam yang ada
saat ini (misalnya BMT, koperasi syariah, atau Baitulmal bank syariah),
Qardh Hasan memiliki porsir dan ruang yang minim karena lembaga-
lembaga keuangan Islam itu lebih berorientasi pada ranah bisnis dan profit
(bukan amal atau tabarru‟).
2. Qardh Hasan adalah hutang-piutang, argumennya akan terdengar; di dalam
Islam hutang-piutang hendaknya dihindari karena mendapat peringatan-
peringatan dalil-dalil syar‟i mengenai keburukan utang.

Dilematika yang pertama jelas saja, Qardh Hasan sulit berlaku dalam mikro
ekonomi oleh karena (1) tidak adanya imbalan, (2) tidak ada jaminan akan dana,
(3) tidak ada sistem yang mendukung dan lain sebagainya, paling minimal Qardh
Hasan itu hanya bisa berlaku antar kerabat yang saling percaya. Dan juga jelas saja,
Qardh Hasan memiliki porsir dan ruang yang minim dalam „lembaga keuangan
islam‟ yang ada saat ini (Bank Syariah, Koperasi Syariah, BMT, dan lain-lain) oleh
karena „lembaga keuangan islam‟ tersebut memang lebih berorientasi pada ranah
bisnis dan profit, hal ini tidak bisa dipungkiri dan dihindari oleh lembaga
keuangan tersebut dari sifat bisnisnya karena juga lembaga keuangan itu memiliki
tuntutan untuk menutupi tanggungan dan biaya operasional institusinya yang pada
akhirnya asset keuangan yang dimiliki lembaga keuangan tersebut lebih banyak
digunakan untuk alokasi dana yang bersifat profitable dibandingkan untuk
memberikan fasilitas pinjaman (Qardh Hasan) yang tidak memiliki imbalan dan
keuntungan keuangan.

Berdasarkan ini sebetulnya, apabila ingin menjadikan Qardh Hasan bisa diterapkan
dan berlaku secara luas, sebetulnya ia memerlukan; (1) Penutupan ongkos/biaya
operasional, (2) Jaminan akan dana (mencegah dari gagal bayar), (3) Harus ada
sistem yang baik (yang bisa mengantisipasi celah atau kelemahan sistem; di mana
pinjaman Qardh bisa disalah gunakan). (4) dan Qardh Hasan tidak bisa berjalan
berdasarkan institusi yang berorientasi profit, ia harus dijalankan oleh institusi
keuangan asli (genuine) di dalam Islam (yaitu Baytulmal yang dijalankan oleh
otoritas khalifah; atau kepala pemerintahan Islam).

118
Adapun dilematika yang kedua dari penerapan Qardh-Hasan, adalah pendapat
bahwa; utang harus dihindari. Untuk hal ini barangkali memerlukan penelitian
yang lebih cermat lagi dari studi Al-Quran dan Ahadits, mengenai masalah hutang-
piutang di dalam Islam. Adakah berhutang itu dilarang?, bagaimanakan tata cara
dan aturan hutang-piutang itu di dalam Islam? dan juga banyak dalil-dalil yang
memperingatkan perihal utang piutang.

Adapun bila melihat kenyataan bermuammalat, pada dasarnya hutang-piutang
adalah perkara yang sulit dihindari, dalam berniaga, penangguhan sering terjadi
dalam bermuamalah, hal ini adalah masalah alami oleh karena jarak distribusi yang
berlangsung dan semakin cepatnya alat komunikasi menghubungkan antar klien.
Walaupun demikian, adalah panduan moral yang betul, perkara berhutang adalah
hal perlu dihindari. Tetapi kiranya, tidak ada salahnya jika infrastruktur keuangan;
fasilitas pinjaman tanpa imbalan (Qardh Hasan) disediakan oleh khalifah (amir atau
pemerintah), berdasarkan pertimbangan; 1. Untuk mengatasi gap/masalah-masalah
utang-piutang yang sering terjadi dan mustahil dihindari di dalam muammalah, 2.
Mencegah keuangan ribawi (riba dayn) berlaku sebagai solusi (bak pahlawan)
menyusupi dan memanfaatkan celah atau mengeksploitasi celah dari masalah alami
muammalah; yaitu fenomena utang-piutang, 3. Pinjaman tanpa imbalan (Qardh
Hasan) adalah strategi (perang) ekonomi (sebagai senjata) yang bisa dimanfaatkan
oleh orang beriman untuk memusnahkan praktik riba.

Akan tetapi agar ia bisa berlaku Ummat Islam perlu mememenuhi syarat atau apa-
apa yang diperlukan untuk membuatnya bisa berjalan sebagai mana yang telah
diterangkan. Adapun dalam membangunkan sistem dan infrastruktur keuangan
tersebut perlu memperhatikan ayat yang terkait aturan mengenai utang-piutang dan
menjadikannya sebagai landasan dalam membangun sistemnya, Allah berfirman:
(Quran, Surat Al-Baqarah 2: 282)

“Wahai orang-orang yang beriman, (1) jika kalian berhutang dengan utang tertangguh sampai tempo
yang ditentukan maka tulislah, (2) hendaklah seseorang penulis diantara kamu menuliskannya
dengan benar, (3) janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah
mengajarkan kepadanya maka hendaklah dia menuliskan, (4) dan hendaklah seseorang yang
berhutan itu men-dikte-kan, (5) dan hendaklah dia (yang berhutang itu) bertakwa kepada Allah
Tuhannya (dalam hal mendiktekan jumlah utangnya), (6) dan janganlah dia mengurangi sedikitpun
(hutang) dari padanya, (7) jika yang berhutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah
(keadaannya) atau tidak mampu mendiktekan sendiri, hendaklah walinya mendiktekannya dengan
benar, (8) dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki diantara kamu, (9) jika tidak ada
(saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-
orang yang kamu redhai dari para saksi (yang ada), (10) agar jika yang seorang lupa maka yang
seorang lagi mengingatkannya, (11) dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil, (12) dan
janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas temponya (baik utang itu) kecil maupun besar,
yang demikian itu lebih adil disisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian dan lebih mendekatkan
kamu kepada ketidakraguan, (13) kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu
jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu tidak menuliskannya, (14) dan ambillah

119
saksi apabila kamu berjual-beli, (15) dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi, jika
kamu lakukan yang demikian maka sungguh hal itu suatu kefasikan pada kamu, dan bertakwalah
kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

(Quran, Surat Al-Baqarah 2: 283)

(16) dan jika kamu dalam perjalanan sedang kamu tidak mendapatkan seorang penulis maka
hendaklah ada barang jaminan yang dipegang, (17) tetapi jika sebagian kamu mempercayai
sebagaian yang lain, hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya), (18) dan
hendaklah dia bertakwa kepada Allah, tuhannya, (19) dan janganlah kamu menyembunyikan
kesaksian, karena barang siapa menyembunyikannya sungguh hatinya kotor (berdosa), Allah maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Adapun bila berangkat kepada Ahadits ada beberapa hal yang dapat disimpulkan;

1. Seorang yang syahid tidak akan diterima selama memiliki hutang, kecuali
hutang itu ada yang menjaminkan untuk melunasi atau si pemilik piutang
mengikhlaskan hutang yang dimiliki si syahid.

HR. Tirmizi, dari Abdullah bin Amr bin al-Ash ‫ ر‬:
“Orang yang mati syahid diampuni seluruh dosanya, kecuali utang”

HR. Ibnu Hibban, dari Jabir ‫ ر‬:
“Seorang laki-laki meninggal dunia dan kami pun memandikan jenazahnya, lalu kami
mengkafaninya dan memberinya wangi-wangian. Kemudian kami datang membawa mayit
itu kepada Rasulullah ‫ز‬. Kami berkata, „shalatkanlah jenazah ini‟. Beliau melangkahkan
kakinya lalu bertanya, „apakah dia mempunyai tanggungan utang?‟ kami menjawab, „Dua
dinar‟. Lalu beliau pergi. Abu Qatadah kemudian menanggung utangnya, kemudian kami
datang kepada beliau lagi, kemudian Abu Qatadah berkata, „dua dinarnya saya tanggung‟.
Maka Rasulullah ‫ ز‬bersabda „kamu betul akan menanggung sehingga mayit itu terlepas
darinya? Dia menjawab, „ya, maka Rasulullah pun menshalatinya. Kemudian setelah hari
itu Rasulullah ‫ ز‬bersabda, „apakah yang telah dilakukan oleh dua dinar tersebut?‟ maka
Abu Qatadah berkata, „sesungguhnya ia baru meninggal kemarin‟, Jabir berkata, „maka
Rasulullah mengulangi pertanyaan itu keesokan harinya. Maka Abu Qatadah berkata, „aku
telah melunasinya wahai Rasulullah‟ maka Rasulullah bersabda, „sekarang barulah dingin
kulitnya”

2. Meleha-lehakan pembayaran utang padahal ia memiliki kemampuan
membayar merupakan salah satu bentuk kezaliman juga.

HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah ‫ ر‬:
“Menunda pembayaran utang dalam kondisi mampu adalah suatu kezaliman, dan jika
salah seorang diantara kalian diikutkan kepada orang yang mampu, maka hendaklah dia
mengikutinya”

120
3. Si pemberi pinjaman tidak boleh mensyaratkan imbalan dan si penerima
pinjaman tidak boleh melehakan pembayaran dari tempo yang sudah
disepakati.

HR. Sunan Baihaqi, dari Fadalah bin Ubayd ‫ ر‬:
“Setiap utang yang (disyaratkan atau dituntut) ada lebihan atau manfaat maka ia adalah
riba”

4. Si pemberi pinjaman yang tidak mengambil imbalan, akan mendapat ganti
pahala dari Allah (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 280, Quran, Surat Ar-Rum
30: 39, Quran, Surat Al-Baqarah 2: 225, 278-280, Quran, Surat Al-Maidah
5: 12, Quran, Surat Al-Hadid 57: 10-11, 18, Quran, Surat At-Taghabun 64:
16-17, Quran, Surat Al-Muzzammil 73: 20)

5. Penggunaan dana pinjaman tidak boleh digunakan untuk tujuan
bermewah-mewah, tabdzir (berboros ria), bermaksiat kepada Allah dan
RasulNya, dan sebagai dana untuk kekuatan perang melawan Islam,
melawan Allah dan RasulNya dan membela kaum kafir (harbi), dan
melanggar „tatanan moral‟ yang ada.

Berdasarkan ini sistem keuangan Islam untuk menyediakan infrastruktur keuangan
pinjaman Qardh; perlu menerapkan (1) Pencatatan dalam setiap transaksi adalah
wajib (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 282), (2) Apabila seseorang berhutang
hendaknya ada jaminannya (fa rihanu maqbudhoh) (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 283)
atau ada referensi penjaminnya kalau tidak ada maka penjaminnya tidak lain
adalah si pemberi pinjaman tersebut (mengikhlaskannya), (3) Harus ada sistem yang
mencegahnya gagal bayar, (4) harus ada sistem yang mencegah penggunaan dananya
disalahgunakan.

Oleh karena itu, untuk menyediakan infrastruktur pinjaman kebaikan (Qardh
Hasan), ia harus bisa menutupi semua masalah-masalah yang telah disebut kan
diatas.
VII.VI
Penerapan Qardh-Hasan Yang Memungkinkan
Beberapa poin sebelumnya yang menjadi poin-poin pokok yang perlu ada untuk
mewujudkan penerapan Qardh-Hasan yaitu; perlunya (1) penutupan ongkos atau
biaya operasional, (2) perlunya jaminan dana, (3) sistem yang baik (terbebas dari
celah-celah kelemahan sistem), (4) dijalankan oleh institusi yang tidak berorientasi
profit. Kemudian poin-poin berikut yang harus dipenuhi: (1) pencatatan dan
pelaporan keuangan yang lengkap dan terstandar (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 282),
(2) adanya jaminan (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 283) dan penjamin (penanggung),

121
(3) adanya sistem yang mencegah gagal bayar, (4) adanya sistem yang mencegah
penyalahgunaan dana.

Untuk institusi yang menjalankan penyediaan fasilitas dana Qardh; ada dua pilihan
yang tersedia untuk menerapkan Qardh-Hasan, yang pertama; (dalam skala negara
atau makro) fasilitas pinjaman Qardh-Hasan merupakan infrastruktur keuangan
yang disediakan oleh otoritas Institusi keuangan Khalifah (yaitu Baytulmal), yang
didanai dari sumber-sumber keuangan Baytulmal alokasi keperluan umum baik itu
dari pajak-pungutan atau dari sedekah dengan biaya-biaya operasionalnya juga
ditanggung oleh Baytulmal (lebih lanjut lihat di Bab 9: Permodalan; Infrastruktur
Keuangan dan Bab 11: Ekonomi Makro: Kontrol Kebijakan dan Pembangunan).

Adapun yang kedua; bila kekhalifahan (serta otoritas keuangan Baytulmal-nya)
belum wujud, (dalam skala mikro) alternatif lainnya sebetulnya Qardh-Hasan bisa
berjalan berasaskan badan waqaf (berbasis waqaf). Di mana sumber dana diperoleh
dari dana waqaf atau hibah para aghniya atau hibah dari institusi tertentu, adapun
alokasi dana waqaf umumnya bisa dialokasikan kepada alokasi-alokasi yang
beragam; waqaf biasa, waqaf produktif, waqaf tunai. Namun agar badan waqaf bisa
menerapkan Qardh-Hasan, beberapa alokasi dana waqaf yang diperlukan yaitu
alokasi waqaf produktif dan alokasi waqaf tunai. Alokasi dana waqaf produktif bisa
dialokasikan kepada unit-unit usaha yang produktif di mana hasil usahanya
dikembalikan untuk membiayai operasional-operasional, adapun alokasi dana
waqaf tunai bisa dialokasikan untuk menyediakan dana pinjaman Qardh-Hasan
sebagai „dana pinjaman bergulir‟ (revolving loan funds) untuk keperluan mashlahat
ummat, atau anggota jamaah tertentu (untuk skala kecil).

Adapun sistem yang dibangunkan, sebagai contohnya. Di antara sistem yang dapat
mencegah gagal bayar dan mencegah penyalahgunaan dana adalah sebagai berikut:

a. Adanya jaminan (barang yang dijaminkan) dan penjamin (penanggung)
(Quran, Surat Al-Baqarah 2:283)

HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah ra. :
“Rasulullah ‫ ز‬telah membeli 30 sha‟ barli (jewawut) kepada seorang Yahudi dengan
pembayaran tertangguh yang dijamin (digadai) dengan baju besi”

b. Adanya sistem survey yang rutin dan auditor laporan keuangan di mana si
peminjam mesti bekerja di bawah pengawasan institusi pemberi fasilitas
pinjaman, yaitu badan waqaf penyedia dana Qardh tersebut.
c. Adapun penggunaan dana harus sesuai dengan etika pemanfaatan dana,
misalnya;
a) Dibolehkan untuk kebutuhan dasar rumah tangga (baik jangka pendek
atau jangka panjang)

122
b) Kegiatan produktif atau usaha yang halal atau sesuai yang digariskan
oleh institusi pemberi pinjaman misalnya; khusus untuk usaha
pertanian atau usaha perdagangan, atau usaha-usaha yang tidak
menyalahi moral-moral tertentu misalnya; untuk usaha yang bersifat
mengkonservasi atau memperbaiki lingkungan, kehutanan, dan lain-lain
(oleh institusi keuangan yang bergerak dibidang pengkonservasi
lingkungan).
c) Dibolehkan untuk talangan utang-piutang perniagaan atau usaha yang
halal.
d) Pemberian pinjaman tidak boleh digunakan untuk:
i. Bermewah-mewahan
ii. Tabdzir
iii. Bermaksiat (melanggar larangan Allah atau meninggalkan yang
wajib)
iv. Membina kekuatan untuk memerangi Islam
v. Dan lain-lain
e) Apabila pinjaman digunakan untuk hal yang ilegal atau tidak sesuai
ketentuan di atas maka:
i. Berlaku pelunasan pinjaman instan tanpa tempo waktu (uang
pinjaman ditarik kembali)
ii. Bila pelunasan tidak terjadi maka berlaku pencairan asset (yang
dijaminkan) untuk pelunasan sesuai nilai pinjamannya.
iii. Bila tidak ada asset yang dicadangkan/dijaminkan maka
penanggungnya yang melunasinya
iv. Bila tidak ada juga jaminan dan penjaminnya maka diserahkan
kepada penegak hukum (bila didukung oleh hukum)
f) Ketentuan peminjam reguler atau umum (untuk kaum yang berpunya):
i. Kewajiban melunasi pinjaman saat tempo yang ditentukan
ii. Menjaminkan asset tertentu untuk mencegah gagal bayar
iii. Boleh mengajukan permohonan tambahan tempo atas syarat dan
udzur yang dibenarkan
iv. Pencairan asset untuk pelunasan pinjaman yang gagal dibayar
sesuai jumlah pinjamannya
g) Ketentuan peminjam khusus (untuk kaum dhuafa atau tak berpunya):
i. Kewajiban melunasi pinjaman saat tempo yang ditentukan
ii. Pengajuan pinjaman tanpa perlu menjaminkan asset bila tidak ada
asset yang dijaminkan
iii. Boleh mengajukan permohonan tambahan tempo atas syarat dan
udzur yang dibenarkan
iv. Pembebasan pinjaman atau utang apabila adanya udzur yang
dibenarkan (sah) dan sebagai jalan terakhir.

123
Itulah sebagai contohnya, yang demikian hanyalah contohnya saja. Dengan
pinjaman Qardh-Hasan merupakan murni pinjaman kebaikan, bunga 0%, yang
ongkos operasionalnya ditanggung oleh; Baytulmal pemerintah (khalifah) (untuk
penerapan secara makro), atau ditanggung oleh unit usaha waqaf produktif (untuk
penerapan secara mikro).

Sifat Strategis Infrastruktur Dana Qardh (Qardh-Hasan Revolving Loan Funds)

Apabila fasilitas dana Qardh bisa disediakan dan bisa berjalan maka ia bisa
berfungsi strategis sebagai:
1. Insentif Ekonomi (baik diterapkan untuk skala kecil dan mikro atau makro)
2. Subtitutor atau pengganti fasilitas pinjaman keuangan ribawi
3. Sebagai strategi (atau senjata) ekonomi dan keuangan untuk memerangi
Riba atau memusnahkan Riba

124
VIII

BAYTULMAL

VIII.I
Baytulmal

I nstitusi keuangan yang otentik dan asli dalam tradisi Islam adalah Baytulmal.
Baytulmal artinya „rumah keuangan‟ atau „rumah harta‟, fungsi dan kegunaan
Baytulmal adalah menampung harta atau keuangan yang bersifat publik yang
digunakan untuk keperluan publik untuk menyediakan pelayanan atau untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban
masyarakat Islam, negara Islam (khilafah) dan agama Islam.

Kebutuhan keberadaan Baytulmal pertama kali dalam masa awal-awal Islam adalah
ketika ummat muslim memperoleh ghanimah (harta hasil perang) untuk pertama
kali, dan bersilang pendapat mengenai pembagiannya (Quran, Surat Al-Anfal 7: 1).
Kemudian seiring berjalannya masyarakat Islam, berkembang fungsinya juga untuk
mengelola (pemasukan dan pengeluaran) semua jenis keuangan publik masyarakat
Islam, di antaranya yang paling utama adalah pengelolaah sedekah-wajib; Zakat.

Institusi Baytulmal adalah Institusi keuangan yang unik yang berbeda dari semua
Institusi keuangan yang pernah ada. Baytulmal sejatinya bukan semata-mata
pengelola dana amal bukan juga lembaga keuangan komersil. Baytulmal adalah
otoritas keuangan publik tertinggi di dalam sistem keuangan Islam yang
diwewenangi langsung oleh Khalifah. Baytulmal memiliki sistem perpajakan yang
unik yang tidak sama dengan sistem fiskal modern, Baytulmal bahkan bisa
memperankan peran kebijakan moneter modern; stabilitas ekonomi dan keuangan,
dan melonggarkan atau mengetatkan suplai jumlah uang beredar lewat
infrastruktur keuangan; fasilitas qardh.

VIII.II
Sistem Perpajakan Islam
(Islamic Taxation)

Sistem perpajakan Islam yang dijalankan oleh Baytulmal sejatinya adalah sistem
perpajakan yang mengkombinasikan keuangan pajak (pungutan yang bersifat

125
memaksa atau wajib), sedekah (derma sukarela) dan jasa atau barang publik
komersil [berasas timbal-balik, usaha milik umum atau negara (waqaf produktif)
yang dikelola Baytulmal]. Oleh karena itu dalam sistem fiskal Islam, terdapat tiga
jenis harta yang dikelola. (1) Yang pertama adalah bagian harta sedekah [sukarela]
dan (2) yang kedua adalah bagian harta pajak [pungutan wajib], adapun (3) yang
ketiga barangkali ia adalah infrastruktur, fasilitas publik, barang publik yang
bersifat komersil (berasas timbal balik) atau bertarif [non-gratis atau komoditi unit
usaha dari wakaf-produktif yang dikelola oleh Baytulmal].

VIII.III
Sedekah
Baytulmal mengelola berbagai bentuk sumber perolehan harta sedekah. Syariat
sedekah di dalam Islam ada yang wajib dan ada yang mandub (anjuran atau sunnah).
Harta sedekah yang dikelola Baytulmal yang paling terutama sekali adalah sedekah
yang diwajibkan syariat yaitu zakat. Adapun yang lainnya bersifat anjuran dan
memiliki keutamaan tersendiri yaitu; sedekah infaq dan sedekah waqaf.

Tabel 8.1 Tabel Zakat dan Khumus
Jenis Harta Zakat Nishab Haul Kadar Zakat
20 Dinar atau
Zakat Emas Setahun 2.5%
93.6 gram emas
200 Dirham atau
Zakat Perak Setahun 2.5%
624 gram perak
5 wasq atau 653 Seketika waktu 5% Dengan Teknologi
Zakat Pertanian
kg panen 10% Tadah Hujan
Zakat Komoditas
20 Dinar atau 2.5% (seperempat usyr;
atau Perdagangan Setahun
93.6 gram emas ¼.1/10)
(Usyr)
Khumus
Pertambangan dan Seketika waktu
– 20% (khums; 1/5)
Barang Temuan ditemukan
(Rikaz)
Ternak:
1 ekor kambing atau
Unta 5 ekor Setahun
domba
1 ekor anak sapi
Sapi atau Kerbau 30 ekor Setahun
(masuk umur 2 tahun)
Kambing atau 1 ekor kambing atau
40 ekor Setahun
Domba domba

Zakat: zakat adalah sedekah (derma) sekaligus pajak (pungutan wajib) atau dengan
kata lain sedekah yang wajib. Allah Yang Maha Raja dan Maha Pemilik Kerajaan
mewajibkan zakat kepada kaum muslimin, dan menjadikannya sebagai salah satu

126
pilar Islam (rukun islam) (Quran, Surat At-Taubah 9: 103). Zakat secara ritualis
berfungsi sebagai pembersih kekikiran dan kotoran pada jiwa dan harta manusia, di
mana pada harta seorang muslim ada hak untuk orang-orang faqir dan miskin.
Zakat secara ekonomi berfungsi untuk mendistribusi ulang kekayaan dari yang kaya
kepada yang miskin, sehingga ia berdampak mempertahankan daya beli ekonomi
masyarakat dan menjaga kestabilan pasar (harga-harga) dan ekonomi. Ketentuan
pungutan wajib zakat yaitu Muzakki ialah apabila harta yang dimiliki seorang
muslim telah mencapai nishab (limit) yang ditentukan dan berdasarkan syarat
ketentuan haul (periode). Adapun metode perhitungannya menggunakan kadar
(prosentase) tertentu (2.5%, 5%, 10%). Semua ketentuan itu juga tergantung pada
jenis hartanya. Sebagaimana tampak pada Table 8.1.

Adapun hak milik harta zakat yaitu Mustahik zakat ialah 8 golongan yang
ditentukan, di antaranya: (1) Faqir, (2) Miskin, (3) Amil, (4) Muallaf, (5) Riqab
(merdekakan budak), (6) Gharimin (terlilit utang), (7) Fi sabilillah, (8) Ibnu Sabil
(sedang dalam perjalanan atau tunawisma). (Quran, Surat At-Taubah 9: 60)

Infaq: adalah derma pengeluaran belanja yaitu derma dalam bentuk uang. Derma
uang dapat gunakan untuk memenuhi keperluan-keperluan tertentu. Baik
keperluan individu atau kelompok atau publik. Infaq yang betul yang berpahala
adalah infaq fi sabilillah, infaq di jalan Allah. Ada pula infaq fi sabili syaithan atau
infaq fi ghairi haq sebagai infaq yang tercela. Selain itu ada pula infaq yang lazim
biasa saja.

Shadaqah: adalah derma umum. Shadaqah adalah derma dalam bentuk berbagai
macam dan yang paling lazimnya adalah derma harta.

Waqaf: artinya adalah menahan. Waqaf adalah derma asset/harta/uang yang ia
dapat ditahan dan menghasilkan manfaat secara berterusan berkesinambungan,
atau ia tidak habis sekali pakai, tetapi bisa menghasilkan atau memiliki manfaat
secara berterusan. Maka manfaat yang dihasilkan oleh asset/harta/uang itu bisa
digunakan secara berterusan dan rutin untuk disedekahkan untuk kemashlahatan
tertentu. Prinsip waqaf; „ihbis ashluha wa tashaddaq tsamarataha‟ „tahan pokoknya
dan sedekahkan buahnya‟. Apabila suatu harta diwaqafkan maka ia berstatus milik
umum atau milik publik atau milik masyarakat Islam yang digunakan untuk
memberi kemashlahatan atau memenuhi, menutupi biaya keperluan-keperluan
umum.

VIII.IV
Perpajakan dalam Tradisi Islam
Di antara jenis perpajakan, pajak; yaitu pungutan wajib atau yang dipungut
pemerintah secara kekuasaan, yang ada di dalam tradisi Islam adalah; zakat,

127
ghanimah, fay, usyur, jizyah, kharaj, harta tak bertuan, tanah tidak produktif, harta
temuan, khumus dan sitaan (harta tidak sah) serta harta denda. Zakat: seperti yang
sudah dijelaskan di atas.

Ghanimah: artinya adalah rampasan perang, yaitu harta yang diperoleh dari
menang perang, sebagai hasil perang. Metode perhitungan harta Ghanimah adalah
menggunakan metode perhitungan Khums, Khums artinya seperlima (20%).
Dengan ketentuan; 1/5 untuk Allah dan RasulNya, kerabat Rasulullah, anak yatim,
faqir-miskin dan anak jalanan. Sedangkan 4/5 dibagikan kepada tentara yang ikut
andil dalam perang (atau dibagi berdasarkan ijtihad atau inisiatif khalifah).

Fay: sama seperti ghanimah yaitu rampasan perang tetapi perbedaannya ia
diperoleh karena musuh menyerah (setelah musuh memerangi ummat islam) atau
tanpa perlawanan, atau ia adalah harta yang diberikan oleh musuh sebagai tanda
damai atau hadiah dari kafir dzimmi sebagai tanda ketundukan atau loyalitas. Hak
harta fay adalah milik Allah dan RasulNya, kerabat Rasulullah, faqir-miskin dan
anak jalanan.

Usyur: artinya adalah sepersepuluh (1/10) dengan bentuk kata jamak dari usyr. Ia
adalah pungutan yang dipungut kepada objek komoditi, barang dagangan yang
masuk wilayah darul Islam atau batas-batas wilayah tertentu yang dikuasa daulah
Islam. Ia dipungut kepada muslim sebesar ¼ usyr atau (1/4.1/10) yaitu 2.5 % dari
total nilai komoditi yang dibawa pedagang muslim masuk wilayah antar kota dan
dihitung sebagai zakat komoditi, bila mencapai nishab (limit). Ia dipungut kepada
ahlu dzimmi sebesar ½ usyr atau (1/2.1/10) yaitu 5% dari total nilai komoditi yang
dibawa pedagang ahlu dzimmi masuk wilayah antar kota atau masuk wilayah darul
Islam dan dihitung sebagai bea cukai atau jizyah atau pungutan balasan terhadap
barrier cukai yang serupa yang dilakukan oleh negeri ahlu dzimmah. Ia dipungut
kepada ahlu harbi sebesar 1 usyr atau (1.1/10) yaitu 10% dari total nilai komoditi
yang dibawa pedagang ahlu harbi masuk wilayah darul islam dan dihitung sebagai
bea cukai atau jizyah atau pungutan balasan terhadap barrier cukai yang serupa yang
dilakukan oleh negeri ahlu harbi.

Jizyah: artinya adalah bayaran kompensasi. Ia adalah pungutan yang diperoleh
kepada ahlu dzimmi yaitu kafir yang tunduk kepada pemerintah khalifah sehingga ia
berada dibawah perlindungan kaum muslimin, atau ahlu harbi yang telah berdamai
menjadi ahlu dzimmi setelah negerinya ditaklukan. Ia dipungut kepada laki-laki yang
baligh dan dewasa dengan besaran: 1 Dinar untuk golongan bawah, 2 Dinar untuk
golongan menengah, 4 Dinar untuk golongan kaya. Setiap periode 1 tahun.

Harta tak bertuan: di antaranya adalah; harta waris yang tak ada ahli warisnya (baik
muslim ataupun ahlu dzimmi), barang temuan (luqatah), tanah tak bertuan – tak
produktif dan tak dimanfaatkan – yang tidak ada kepemilikannya. Ia dimiliki

128
penuh oleh Rasulullah, bila Rasulullah sudah tiada maka ia termasuk Infaq atau
Waqaf Rasulullah yang diberikan kepada ummat Islam dan dikelola oleh khalifah.

Denda dan Sitaan: di antaranya adalah; uang hadiah kepada penguasa atau pejabat
kekhalifahan, uang suap, harta hasil dari bisnis haram, dan lain-lain. Ia dimiliki
oleh negara untuk umum atau masyarakat Islam dan dikelola oleh khalifah.

Tanah tak produktif: Tanah tidak produktif yang menanggur (idle) yang ada
kepemilikannya akan disita pemerintah (khalifah) oleh karena tanah termasuk dari
pada jenis kebutuhan orang banyak (yaitu untuk pangan dan pakan), sebagaimana
yang hadits diriwayatkan: “Kaum muslimin berserikat untuk air, api dan (lahan) rumput”
(HR. Abu Dawud), ini termasuk menjadi salah satu bagian dasar hukum
pertanahan di dalam Islam (Land Reform), kemudian tanah tersebut akan
diserahkan pengelolaannya kepada orang yang mau mengelolanya sehingga ia akan
melahirkan manfaat seluas-luasnya agar produktif dan dapat menutupi hajat orang
banyak (terkait kebutuhan pangan atau kemandirian pangan masyarakat).

Khumus: artinya adalah seperlima (1/5) atau 20% dalam bentuk kata jamak dari
khums. Ia adalah pungutan yang diambil dari; penemuan tambang atau penemuan
harta karun (rikaz), ia sama seperti ghanimah. Ia hak milik Allah, Rasulullah,
kerabat Rasulullah, anak yatim, faqir miskin, dan anak jalanan.

Catatan: di antara semua jenis pemasukan tersebut, apabila ia haknya dimiliki oleh
Rasulullah ‫ز‬, seperti fay dan khums (ghanimah, harta tambang dan harta karun).
Semasa Rasulullah tiada (telah wafat), Rasulullah telah berpesan bahwa harta yang
dimilikinya adalah diinfaqkan kepada ummat Islam bila beliau telah tiada. Maka
konsekuensi dari wasiat ini, harta yang sumber perolehannya dari fay dan khums
adalah milik ummat Islam dan dikelola khalifah untuk kemaslahatan ummat islam
(HR. Bukhari dalam Bab Khumus)

Kharaj: adalah pungutan rente/sewa dari tanah. Kharaj adalah inisiatif/ijtihad
Umar Ibn Khatthab dan ijma‟ shahabat Rasulullah semasa kepemimpinan beliau
sebagai khalifah ummat Islam dan dilanjutkan khalifah-khalifah setelah beliau.
Kharaj sejatinya adalah tanah yang diperoleh dari penaklukan perang dan ia
termasuk sebagai harta ghanimah atau fay (rampasan perang), sebagaimana
perhitungan berdasarakn ketentuan syariat, sebelumnya harta ghanimah 1/5 milik
Allah dan Rasulullah, kerabat Rasulullah, anak yatim, faqir miskin dan anak
jalanan, sedangkan 4/5 dibagikan kepada tentara perang dan khalifah. Namun
khalifah Umar ber-inisiatif/ber-ijtihad untuk mengikuti Rasulullah yang telah tiada
dan beliau berpesan menginfaqkan bagian beliau untuk ummat islam, maka
khalifah Umar mengikuti tindakan Rasulullah beserta para sahabatnya, tidak
mengambil bagian milik nya dan milik mereka (tentara) dan lebih memilih
menginfaqkannya untuk ummat islam, sehingga tanah taklukan itu sejatinya adalah

129
milik ummat islam seluruhnya. Maka konsekuensi dari kepemilikan tanah yang
milik ummat islam itu, kepada pengguna tanah yaitu kafir dzimmi di mana mereka
telah di taklukkan terpaksa harus membayar sewa tanahnya, atau sekalipun kafir itu
telah memeluk islam tetap membayar sewa tanahnya. Itulah yang disebut kharaj.
Harta kharaj dimiliki oleh ummat islam terdahulu dan yang ikut berperang, dan
dikelola oleh khalifah sebagai pemasukan rutin Baytulmal untuk keperluan-
keperluan umum kemashlahatan masyarakat Islam termasuk juga menyantuni faqir-
miskin, anak yatim, kerabat Rasulullah, anak jalanan dan untuk semuanya.

VIII.V
Perolehan dan Penyaluran Keuangan Baytulmal
Gambaran perolehan dan penyaluran keuangan Baytulmal adalah sebagaimana
yang nampak pada tabel berikut:

Tabel 8.2 Tabel Jenis Keuangan Baytulmal

Jenis keuangan Diperoleh dari Disalurkan untuk Sifat perolehan
1 Zakat Muzakki Mustahik Rutin (periodik)
2 Jizyah Ahlu dzimmah Umum Rutin (periodik)
3 Ghanimah Ahlu harbi Umum Insidentil
4 Fay Ahlu harbi dan Umum Insidentil
Ahlu dzimmah
5 Denda dan sitaan Semua Umum Insidentil
6 Harta tak bertuan Semua Umum Insidentil
7 Khumus Semua Umum Insidentil
8 Infaq dan waqaf Muslim Umum Semi-rutin (non
periodik)
9 Kharraj Ahlu dzimmah Umum Rutin (periodik)
10 Usyur Semua Umum (dari ahlu Semi-rutin (non
dzimmah dan ahlu periodik)
harbi) dan Mustahik
(dari muslim)

Keuangan penyaluran khusus ialah untuk mustahik yaitu 8 golongan yang telah
ditentukan, ia diperoleh dari sumber keuangan zakat. Adapun keuangan
penyaluran umum digunakan untuk sebagai berikut:

1. „Biaya operasional dan administrasi kekhalifahan‟ serta „gaji kebutuhan
hidup seluruh pegawai pemerintahan khalifah‟ dan „pengelola infrastruktur‟
serta „biaya atau ongkos operasional infrastruktur‟.
2. Untuk santunan faqir dan miskin, anak jalanan, anak yatim, pensiun dan
honor atau kehormatan, untuk ulama, untuk tabib (dokter), veteran perang
atau pahlawan, hadiah penghargaan untuk orang berjasa dan lain-lain.

130
3. Membangunkan „infrastruktur‟, „layanan dan fasilitas publik‟ serta dana
insentif tertentu misalnya (dana penelitian, dana pendidikan, dana
kesehatan, dan lain-lain).
VIII.VI
Infrastruktur
Di antara infrastruktur yang perlu diperhatikan dan dibangunkan oleh khalifah
yaitu:

Infrastruktur Negara: bangunan negara, kantor kekhalifahan, kantor keuangan,
kantor kehakiman/persidangan, dan lain-lain.

Infrastruktur Ibadah (Agama): membangunkan masjid-masjid (masjid jami‟; masjid
yang besar daya tampungnya untuk melaksanakan sholat-sholat hari besar ataupun
sholat-sholat fardhu)

Infrastruktur Ilmu dan Pendidikan: membangunkan sekolah (madrasah),
universitas dan perpustakaan (Baytul Hikmah), laboratorium, observatorium, dan
lain-lain

Infrastruktur Kesehatan: membangunkan rumah sakit dan layanan kesehatan.

Infrastruktur Taman Kota (sarana penyegaran): taman kota hijau dan biru
(tumbuh-tumbuhan, air mancur dan kanal), tempat wisata dan lain-lain.

Infrastruktur Fasilitas Umum: rumah besar/wisma untuk tunawisma (anak
jalanan, pengembara/musafir), pemandian umum, toilet umum.

Infrastruktur Olahraga: arena olahraga (misal; olahraga kuda, memanah, berenang
dan lain-lain).

Infrastruktur Ekonomi: membangunkan sarana transportasi dan telekomunikasi,
loji-loji (gudang-gudang komoditi), air, sanitasi, irigasi, energi, listrik dan lain-lain

Infrastruktur Keuangan: menyediakan (1) fasilitas pinjaman (qardhul hasanah;
bunga 0%), (2) fasilitas tabungan (saving box account; dengan sistem cadangan 100%
bukan sistem fractional reserve requirement (FRR) 10% seperti yang berlaku pada
bank-bank modern) dan (3) jasa transfer atau wesel. (Lebih lanjut lihat bahasan di
„Bab 9: Permodalan‟ dan „Bab 10: Tabungan dan Investasi‟)

Di antara semua infrastruktur tersebut, lazimnya diberikan secara gratis (sebagai
sedekah atau barang wakaf) oleh khalifah kepada kaum muslimin (atau termasuk
juga kafir dzimmi atau diskriminasi tertentu dengan berbagai pertimbangan
berlandaskan timbangan kebenaran dan keadilan) adapun semua ongkos atau biaya
operasional pemeliharaan dan pengoperasian infrastruktur-infrastruktur tersebut

131
ditanggung oleh keuangan Baytulmal. Akan tetapi Khalifah dapat membuat
infrastruktur atau barang publik tertentu memiliki tarif (komersil), apabila ia
memiliki tarif maka ia dapat menjadi sumber pemasukan Baytulmal. Akan tetapi
lebih diutamakan untuk infrastruktur-infrastruktur berikut diberlakukan secara
gratis atau ia sebagai barang publik yang diwaqafkan, disedekahkan untuk
masyarakat, di antaranya yaitu:

1. Infrastruktur keuangan
(infrastruktur keuangan perlu digratiskan sebagai strategi untuk mencegah
tercampurnya “jasa-jasa keuangan” dengan praktik riba, pembahasan lebih
lanjut lihat di „Bab 9 Permodalan‟)
2. Infrastruktur keilmuan dan pendidikan
3. Infrastruktur kesehatan
4. Infrastruktur fasilitas umum
5. Infrastruktur taman kota
6. Infrastruktur negara/pemerintahan
7. Infrastruktur agama
8. Air, energi, listrik, lahan rumput gembalaan; “muslim berserikat atas air, api
dan rumput” (HR. Abu Dawud)

Adapun infrastruktur-infrastruktur yang barangkali bisa juga diberlakukan tarif
yaitu:
1. Energi dan listrik (dengan tarif minimum yang tidak memberatkan rakyat)
2. Loji-loji (gudang-gudang tempat menyimpan komoditi)
3. Tanah milik negara atau milik ummat (sewa atau bagi hasil olah tanah);
Kharaj.
4. Produk tertentu sebagai usaha milik negara atau waqaf-produktif
5. Dan lain-lain
VIII.VII
Inisiatif (Ijtihadiyyah) Infaq-Wajib
Apabila melihat tradisi fiskal Islam, tradisi perpajakan keuangan publik Baytulmal,
kita bisa melihat ia memiliki jenis-jenis keuangan sebagaimana yang telah
diterangkan pada Tabel 8.2 sebelumnya.

Secara sasaran: berupa penyaluran (1) khusus dan (2) penyaluran umum
Secara sifat waktu-waktu perolehannya: ada yang (1) rutin (periodik & non-
periodik) ada pula yang (2) insidentil.
Secara sumber perolehannya: ada yang dari (1) muslim, dari (2) ahlu dzimmi, dari
(3) ahlu harbi dan ada pula yang (4) umum (muslim, ahlu dzimmi, ahlu harbi).
Secara sifat perolehannya: secara (1) sukarela (derma), secara (2) pungutan/pajak
(wajib), secara (3) komersil (tarif infrastruktur dan barang publik).

132
Bila dilihat sistem perpajakan yang tradisional ini dana-dana untuk keperluan
umum kebanyakannya bertumpu pada sumber keuangan: (1) Insidentil: (a)
Ghanimah, (b) Fay, (c) Khumus, (d) denda dan penyitaan, (e) harta tak bertuan; (2)
beberapa dari non insidentil atau semi-rutin: (a) Sedekah-Infaq dan (b) Sedekah-
Waqaf kaum muslimin dan (c) Usyur; (3) adapun yang rutin (periodik) hanya dari
(a) Jizyah (dipungut dari ahlu dzimmi) dan (2) Kharraj (sewa tanah/bagi hasil olah
tanah; diterima secara umum). Adapun sasaran penyaluran yang bersifat khusus (8
golongan yang ditentukan) hanya berupa Zakat yang dipungut dari kaum muslimin
yang bersifat secara rutin (periodik).

Rumusan masalahnya adalah; kehidupan yang akan dihadapi masyarakat dan
khalifah tidak berjalan begitu saja tanpa hambatan dan ancaman. Khalifah
berperan dan bertanggung jawab untuk memastikan kehidupan masyarakat kaum
muslimin berjalan tanpa hambatan dan ancaman (aman dan lancar). Untuk
mengatasi hambatan dan ancaman itu, yang pertama sekali khalifah tentu saja perlu
menjamin institusi pemerintah itu sendiri bisa survive dan berkelanjutan
(sustainable), tanpa tegaknya pemerintahan maka tidak ada peraturan yang berjalan
(atau tidak ada syariat yang berjalan) sebagaimana peran dan kehadiran pemerintah
(khalifah) bagi kehidupan masyarakat adalah penting untuk menegakkan
kebenaran dan keadilan, oleh karena itu untuk menjaga pemerintahan tetap
berjalan (survive) dan berkelanjutan (sustainable) maka pemerintah perlu pemasukan
atau sumber keuangan umum untuk operasional negara dan gaji karyawan
pemerintahan, yang kedua, untuk mengatasi hambatan dan ancaman yang kapan
saja datang dan menghadang ke atas kehidupan masyarakat, pemerintah perlu
membangunkan infrastruktur-infrastruktur, sarana-prasarana untuk menyelesaikan
hambatan-hambatan dan ancaman-ancamannya sehingga kehidupan bisa berjalan
dengan aman dan lancar. Di antaranya infrastuktur pendidikan untuk memerangi
kebodohan, infrastruktur kesehatan (rumah sakit dan layanan kesehatan) untuk
pengobatan, penyembuhan dan mengentaskan penyakit dan kurang gizi,
infrastuktur ekonomi untuk memastikan ekonomi berjalan dan memerangi
kepapaan-kemiskinan, infrastuktur pertahanan untuk menjaga keamanan sosial
dan mengantisipasi ancaman dari luar. Itu lah semua yang diperlukan untuk
memastikan kehidupan tetap berjalan dengan aman dan lancar, maka dari itu
sumber-sumber keuangan publik yang berfungsi untuk menutupi keperluan umum
adalah penting. Tidak ada sumber keuangan untuk umum (untuk mashlahat) maka
tidak ada pemerintahan (khalifah) dan tidak ada infrastruktur; bila pemerintahan
lumpuh, tidak ada hukum, masyarakat pun lumpuh. Oleh karena itu keuangan
publik Baytulmal untuk penyaluran umum adalah wajib dan penting untuk
mencegah lumpuhnya sistem kekhalifahan, masyarakat Islam dan agama Islam.

Bila melihat sifat sistem perpajakan Baytulmal tradisional, sumber keuangan untuk
keperluan umum secara dominannya bertumpu kepada ahlu dzimmi (yaitu dari

133
jizyah) untuk secara rutinnya (sumber keuangan yang rutin), dan juga selain itu
bertumpu pada ahlu harbi (yaitu dari ghanimah, fay, dan lain-lain) yang bersifat
insidentil, adapun sumber keuangan umum yang bertumpu pada kaum muslimin
sendiri hanya dari infaq-waqaf yang sifatnya secara sukarela yang bersifat tidak rutin
(tetapi semi rutin). Melihat hal ini, adakah baik kiranya kewajiban umum yaitu
mengatasi hambatan dan ancaman serta mencegah kelumpuhan sistem
kekhalifahan dan masyarakat Islam itu sendiri sumber keuangannya bertumpu pada
ahlu dzimmi dan ahlu harbi?

Sistem yang baik kiranya harus bisa menghadapi kemungkinan suatu situasi dan
kondisi yang paling kritis, misalnya; tidak ada lagi kafir dzimmi di daerah wilayah
yang dikuasai orang Islam karena telah memeluk Islam, lalu bagaimana
kekhalifahan memenuhi keperluan umumnya? adakah dengan cara mencari-cari
insiden untuk memperoleh sumber keuangan publik dengan cara mencari-cari
perang atau mencari-cari musuh untuk memperoleh ghanimah dan fay manakala
musuh tidak ingin mencari-cari perang atau ingin berdamai, adakah hal ini bisa
dibenarkan dan adil?

Mungkin akan terdengar beberapa argumen, bukankah masih ada sumber
keuangan dari sedekah infaq dan sedekah waqaf sukarela kaum muslimin? Dan
bukankah masih ada sumber keuangan lain misalnya dari infrastruktur atau usaha
milik negara (sewa tanah kharraj, misalnya pada pemerintahan Umar Bin Khattab
‫?)ر‬

Sekali lagi sistem yang baik harus bisa menghadapi kemungkinan suatu situasi dan
kondisi yang paling kritis, untuk apa? untuk mengantisipasi persoalan-persoalannya
dan mencari solusi yang terbaik adakah sistem keuangan Baytulmal bisa berfungsi
berlandaskan keadilan. Misalnya; tidak mustahil masyarakat muslimin pada „situasi
dan kondisi tertentu‟ dihinggapi penyakit bakhil sehingga sekalipun tersedia
sumber-sumber keuangan dari infaq dan waqaf, mungkin tidak akan mencukupi
keperluan umum, atau misalnya; sekalipun khalifah mempunyai usaha milik
negara, barangkali usaha milik negara tidak juga cukup untuk mencukupi
keperluan umum. Sekalipun ada yang beranggapan asumsi ini tidak mungkin
terjadi, ini hanya asumsi untuk situasi dan kondisi yang paling kritis. Dengan
situasi dan kondisi seperti itu, bagaimanakah khalifah mencari sumber keuangan
publiknya?

Oleh karna itu, inisiatif-ijtihadnya adalah dengan mewajibkan infaq dengan
ketentuan dan kadar tertentu. Alasannya; menjaga dan memastikan sistem
kekhalifahan, masyarakat Islam dan agama Islam bisa tetap berjalan dan
berkelanjutan, merupakan bagian dari jihad fi sabilillah, dan ada dalil-dalil syar‟i
yang mengecam bagi mereka yang mengaku beriman tetapi tidak mau ber-infaq
atau meminjamkan harta kepada Allah di jalan Allah (Quran, Surat Al-Baqarah 2:

134
225, Quran, Surat Al-Maidah 5: 12, Quran, Surat Al-Hadid 57: 10-11 dan 18,
Quran, Surat At-Taghabun 64: 16-17, Quran, Surat Al-Muzzammil 73: 20). Dengan
demikian, penulis bersetuju pada pendapat Syaikh Yusuf al-Qardhawi bahwa bagi
kaum muslimin kewajiban mengeluarkan harta tidak hanya berupa Zakat, ada
kewajiban lain pada harta kaum muslimin selain dari pada zakat, yaitu sedekah
infaq dalam situasi dan kondisi tertentu yaitu untuk; (1) menjaga keberlangsungan
dan keberlanjutan (atau kemerdekaan atau kedaulatan) institusi kekhalifahan,
karena tanpa adanya sumber dana yang berfungsi untuk umum maka tidak bisa
membiayai ongkos administrasi, operasional negara, dan gaji para pegawai negara.
(2) tanpa adanya sumber dana yang berfungsi untuk umum, maka tidak bisa
membangunkan infrastruktur dan menutupi biaya untuk membuat
infrastrukturnya tetap berjalan, manakala kehidupan masyarakat berhadapan
dengan hambatan dan ancamannya yaitu; (1) ancaman kebodohan, (2) ancaman
kemiskinan, kepapaan dan kelaparan, (3) Keamanan dan keberlanjutan masyarakat
Islam.

Adapun ketentuan dalam mewajibkan infaq itu yang pertama sekali (1) ia tidak
boleh berlaku zalim, yang kedua (2) ia perlu diadakan bila dirasa perlu dan
mendesak saja (tidak permanen, sewaktu-waktu saja), dan (3) hendaknya tidak
memungut golongan bawah (hanya memungut golongan menengah-atas atau
golongan atas saja).

Berdasarkan ini, metode mewajibkan infaq itu sebetulnya, sepatutnya meniru
sistem pemungutan zakat, suatu sedekah atau infaq yang Allah wajibkan kepada
ummat Islam, ia adalah contoh sistem pajak yang adil yang tidak zalim. Oleh
karena itu, khalifah yang berinisiatif mewajibkan infaq perlu meniru syariat zakat
yaitu dengan menentukan nishab (limit), kadar (prosentase) dan haul (periode). Ia
bisa diterapkan untuk memungut harta milik atau penghasilan seseorang baik
muslim ataupun ahlu dzimmi, akan tetapi pemungutannya dilakukan setelah zakat
dipungut (dari muslim) atau setelah jizyah dipungut (dari ahlu dzimmi).

Misalnya, nishab yang ditentukan adalah 200 Dirham, kadar pemungutan bagi
muslim 1%, bagi dzimmi 1.5%. Maka apabila harta seorang muslim setelah
dipungut zakat masih memiliki harta di atas 200 Dirham, maka ia kena pungut
infaq wajib 1%. Adapun apabila harta seorang ahlu dzimmi setelah dipungut jizyah
masih memiliki harta di atas 200 Dirham, maka ia kena pungut jizyah ekstra 1.5%.

Tentu saja khalifah bisa menaikkan nishabnya di atas 200 Dirham, misalnya 100
Dinar, maka ia hanya akan memungut orang-orang yang kaya saja yang kepemilikan
hartanya di atas 100 Dinar. Adapun orang-orang menengah atau orang-orang
bawah (faqir-miskin atau yang cukup) tidak akan terkena pungutan pajak ini. Ini
tentunya lebih adil dan ini sistem pajak yang sangat fleksibel.

135
Dalam suatu kondisi mendesak, manakala kas keuangan Baytulmal kosong
misalnya; khalifah dapat menaikkan kadar (prosentase) infaq-wajib; misalnya untuk
muslim 1.5% untuk dzimmi 2.5%. Atau dalam suatu kondisi sebaliknya, manakala
kas keuangan Baytulmal melimpah, justru infaq-wajib tidak perlu ada sama sekali
tingkat pajaknya 0%.

Tetapi, ada pertanyaan adakah memungut pajak itu haram? Karena ada dalil yang
menunjukkan pemungutan pajak (atau bea cukai) adalah haram. “Tidak masuk surga
orang yang memungut bea cukai” (HR. Ahmad).

Pemungutan yang diharamkan kiranya hanyalah pemungutan yang bersifat zalim
dan merugikan (al-bakhsu). Adapun pemungutan yang didasari suatu alasan yang
benar dan berdasarkan kewajiban umum; yaitu mencegah lumpuhnya sistem
pemerintahan (kekhalifahan), masyarakat Islam dan agama Islam, tidaklah
mengapa, ia termasuk infaq fi sabilillah.

VIII.VIII
Inisiatif (Ijtihadiyyah) Sistem Hitung dan Pemungutan Zakat
Apabila bercermin pada tradisi ketentuan sistem hitung dan pemungutan Zakat di
dalam Islam. seperti yang terlihat berdasarkan tabel sebelumnya (Tabel 8.1 Tabel
Zakat dan Khumus).

Adapun bila mengacu kepada ayat syariat Zakat (Quran, Surat At-Taubah 9: 103),
bahwa pemungutan zakat adalah pada harta milik kaum muslimin. Berdasarkan ini,
kiranya yang terkena zakat itu adalah semua jenis harta tidak hanya harta-harta
tertentu, tetapi semua jenis harta; baik uang (emas dan perak) ataupun komoditi
(pertanian, pertambangan, peternakan, dagang, dan lain-lain).

Persoalannya sekarang agak lebih rumit, yaitu kapan zakat dipungut? Adakah zakat
dipungut ketika harta itu dihasilkan ataukah ketika ia berlalu 1 tahun?

Zakat pertanian dan pertambangan dipungut seketika ketika dihasilkan yaitu saat
dipanen dan saat ditemukan tambangnya. Zakat emas dan perak dipungut ketika
sudah berlalu 1 tahun, Zakat peternakan (sapi, kambing, domba, unta, hewan
berkaki empat jenis pemakan rumput/tanaman) dihitung nishab dan dipungut
ketika ternak masuk umur 1 atau 2 tahun. Zakat komoditi dagang (usyr) dipungut
ketika masuk kota/masuk wilayah.

Untuk menelaahnya kita perlu pertanyaan: semenjak kapan suatu harta terkena
hukum Zakat? Bila mengacu kepada ayatnya (“khudz min amwalihim shadaqotan”;
ambillah sedekah dari harta milik mereka), semenjak suatu harta menjadi milik
seseorang, yaitu sewaktu ketika ia dihasilkan. Tetapi apa jua yang menentukan

136
suatu harta dipungut ketika berlalu 1 tahun, kenapa ia tidak dipungut sewaktu
pertama kali seketika ia dihasilkan?

Apabila ditarik kesimpulan umum dari semua harta wajib zakat, kapan mestinya
zakat ditarik? Bila dilihat bahwa, adalah yaitu saat pertama kali suatu harta terkena
hukum zakat se-„ketika‟ ketika ia dihasilkan/dimiliki, adapun harta yang terkena
pungutan ketika berlalu 1 tahun kiranya merupakan jenis harta yang durable yaitu
harta yang bisa disimpan/ditabung (hingga berlalu 1 tahun), berdasarkan ini ada
dua jenis zakat. Berdasarkan ini maka sebetulnya suatu harta terkena hukum zakat
saat; (1) seketika ia dihasilkan; zakat penghasilan, (2) bila ia berlalu setahun; zakat
simpanan atau tabungan. Oleh karena itu ada dua jenis zakat, yaitu;

1. Zakat penghasilan: yaitu harta baik uang atau komoditi ketika ia dihasilkan
(dimiliki)
2. Zakat tabungan/simpanan: yaitu harta baik uang atau komoditi yang telah
dimiliki yang disimpan hingga berlalu 1 periode (tahun)

Implikasi dari pemahaman ini (2 jenis zakat tersebut) terhadap semua jenis harta
yang terhukum zakat, mengikut ciri fisik hartanya masing-masing:

1. Emas dan perak atau dinar dan dirham atau „uang komoditi‟ (serealia atau
komoditi yang bisa ditakar dan durable) merupakan harta yang tahan lama,
harta jenis ini terkena hukum zakat saat ia dihasilkan atau dimiliki dan juga
sekali lagi terhukum oleh zakat saat ketika ia berlalu 1 tahun, di mana dari
saat masing-masing-nya dihitung terhadap nishab dan dipungut zakatnya
(jika mencapai nishab), begitu pun bila harta itu terus tersimpan atau
tertabung hingga ke tahun-tahun selanjutnya.
2. Hasil pertanian selain serealia (gandum, padi, jewawut, jelai dan lain-lain)
yaitu seperti; sayuran, buah-buahan, pada umumnya merupakan komoditi
yang tidak durable (tahan lama), oleh karenanya jenis harta pertanian jenis
ini hanya terhukum zakat ketika ia dihasilkan atau saat panen, kecuali ia
adalah komoditi yang tahan lama (gandum, padi, garam) yang bisa disimpan
hingga berlalu 1 tahun, maka ia akan terhukum zakat untuk kali ke dua,
dan seterusnya bila sampai ke tahun-tahun berikutnya.
3. Sama halnya dengan pertanian, hasil pertambangan terhukum zakat ketika
ia dihasilkan saat ditemukan tambangnya, bila hasil tambangnya disimpan
hingga 1 tahun, pada tahun itu ia terhukum zakat kembali untuk kali
kedua, dan seterusnya di tahun berikutnya.
4. Pada harta peternakan, ada pengecualian, ia merupakan benda hidup, di
mana pada waktu seketika ternak dilahirkan belum terkena hukum zakat
oleh karena harta berupa ternak berkembang bersama risiko hewaninya
(rentan sakit dan mati), kecuali ia sudah masuk 1 atau 2 tahun baru
kemudian ia dihukumi oleh zakat (dihitung dengan nishab; adakah wajib

137
zakat atau tidak), sampai hingga masuk ke tahun 3, tahun 4 dan seterusnya
jumlah ternaknya akan terus terhukumi oleh zakat.
5. Adapun komoditi dagangan, terkena hukum zakat saat ia dibeli saat harga
pokok sebelum ia dijual (maka ia dizakatkan dalam bentuk komoditi
tersebut atau dikonversi nilainya dengan uang dan dibayarkan dalam
bentuk mata uang) ketika memasuki wilayah.

Berdasarkan ini maka zakat berlaku secara tahunan (bila jenis hartanya
tahan/durable atau mencapai hingga tahun-tahun berikutnya), ia menggantikan
inflationary (faktor pengurang nilai harta) yang diperankan bunga, tetapi bedanya
zakat ia akan berhenti menghukumi harta manusia saat menyentuh (kurang dari)
batas nishab; manakala dalam bunga berterusan mengurangi harta manusia hingga
ke titik 0 dari inflasi yang dihasilkannya, selain dari pada itu inflationary (faktor
pengurang harta manusia) yang berlaku dari sistem zakat atas harta manusia sangat
kecil yaitu 2.5% (per-tahun), itu artinya ketika zakat memungut harta manusia ia
akan selalu menyisakan 97.5% (setahun sekali) sisa hartanya tidak peduli
berapapun jumlah harta yang dimiliki seseorang, sehingga suatu harta sebetulnya
tidak akan habis dimakan oleh zakat atau dengan kata lain zakat akan habis
memakan harta manusia dalam jumlah tahun tak hingga (manakala umur manusia
itu sendiri rata-rata hanya dibawah 60-100 tahun), sekalipun bila hartanya terus
menerus menganggur. Ini tidak akan berdampak dan terasa merugikan, sementara
kegiatan dan produktifitas masyarakat itu sendiri nyaris tanpa hambatan atau sama
sekali tidak ada hambatan, disamping itu apa lagi dengan berlakunya sistem nishab
pada zakat membuat zakat berhenti memakan harta manusia bila harta manusia itu
sudah di bawah nishab (tidak mencapai nishab atau tidak lebih dari nishab), dengan
demikian maka kegiatan dan produktifitas akan mengembangkan harta manusia
lebih laju dari pada zakat yang memangkasi harta manusia (dalam jumlah yang kecil
dan berlaku dalam tahunan), zakat bahkan berkembang bersama harta dan akan
mendorong produktifitas itu sendiri.

Selain itu, pada dasarnya, zakat dibayarkan dalam bentuk mengikut harta yang
dihasilkan, bila seseorang menghasilkan harta berupa uang maka zakatnya
dibayarkan berupa uang, bila harta yang dihasilkan berupa hasil panen maka
zakatnya dibayarkan dalam bentuk hasil panen, bila harta yang dihasilkan dalam
bentuk ternak maka dibayarkan dalam bentuk ternak, dan lain seterusnya. Akan
tetapi dari semua jenis komoditi yang dihasilkan sebetulnya, zakat komoditi
(pertanian, peternakan, pertambangan, produksi perkakas dan lain-lainnya) boleh
dikonversi ke nilai mata uang atau dizakatkan dalam bentuk mata uang (yaitu
dalam bentuk Dinar dan Dirham), sesuai nilai wajib zakat komoditinya, dan dalam
suatu harta, dan juga dalam 1 tahun tidak akan terkena zakat 2 kali (double zakat),
satu tahun hanya satu kali, adapun untuk pedagang bila suatu komoditi sudah
dizakati maka ketika ia berubah bentuk menjadi uang (karena komoditinya dijual

138
atau diperdagangkan) maka penghasilan uangnya tidak perlu kena zakat lagi,
begitupun hasil tani, ternak, dan komoditi-komoditi lainnya, setiap harta yang
„dihasilkan‟ dan harta yang „telah lewat satu tahun‟ hanya kena zakat 1 kali untuk 1
tahun.

Mengenai sistematika periode, sebetulnya tidak harus haul (1 tahun), periode bisa
mengikut jenis harta yang dihasilkan manusia, misalnya; harta yang dihasilkan
secara bulanan, triwulanan, semesteran, pertahun atau perduatahunan, dan lain
sebagainya. Adapun metode tolak ukur nishabnya adalah membaginya sesuai
periodenya, misalnya nishab zakat Dinar adalah 20 Dinar dengan ketentuan periode
1 tahun (haul) atau dengan kata lain 20 Dinar/tahun, apabila ia digunakan untuk
jenis harta yang dihasilkan perbulan, maka bila pemungutan zakat dilakukan
perbulan nishab yang digunakan untuk mengukur harta wajib atau tidaknya adalah
dengan nishab 20 Dinar/tahun dibagi 12, yaitu 1.67 Dinar/bulan, 5 Dinar/kuartal
untuk nishab harta yang dihasilkan kuartal-an (triwulanan), 10 Dinar/semester
untuk nishab harta yang dihasilkan perenam bulan (untuk hasil tani; padi, gandum
yang umumnya masa tanamnya 6 bulanan).

Apabila jenis harta yang diperoleh dengan periode yang tidak menentu atau acak,
bisa dirata-rata menjadi perbulan, kemudian diukur dengan nishab 1.67
Dinar/bulan. Selain dari pada itu, untuk harta-harta yang dihasilkan dalam periode
bulanan, kuartalan, semesteran; periode kurang dari 1 tahunan, zakatnya bisa
dibayarkan pertahun dengan sistem perhitungan; menggunakan rata-rata
penghasilan per bulan dalam setahun dengan menggunakan standar nishab
bulanan; 1.67 Dinar/bulan, bila rata-rata penghasilan perbulan dalam setahun
nishabnya sampai (mencapai atau lebih) dari standar nishab yaitu 1.67 Dinar/bulan,
maka ia akan membayar zakat sebesar;

Z = (m x 2.5%) x 12, dimana:
m = rata-rata penghasilan perbulan dalam setahun,
m = (∑mi)/12 = (m1 + m2 + m3 +.........+m12)/12
Dengan syarat bila: m ≥ 1.67 Dinar atau 12m ≥ 20 Dinar. [m mencapai nishab 20 Dinar]

Adapun untuk zakat simpanan (tabungan) bisa dihitung dengan cara;

Z = (n x 2.5%), di mana:
n = rata-rata saldo tabungan perbulan dalam setahun,
n = (∑ni)/12 = n1 + n2 + n3 +........ + n12)/12
Dengan syarat apabila: n ≥ 20 Dinar. [n mencapai nishab 20 Dinar]

Adapun di antara termasuk pengecuali harta zakat beberapa di antaranya; (1) harta
utang, (2) faktor produksi (barang modal) dan (3) harta yang digunakan untuk
kebutuhan hidup (pakaian, alat transportasi, perkakas/gadget). Menurut beberapa

139
pendapat, suatu harta akan dihitung atau terhukum oleh zakat setelah dikurangi
utang dan total kebutuhan hidup dalam periode itu. Adapun penulis berpendapat
untuk utang sependapat ia termasuk pengurang harta terhukum zakat, tetapi untuk
total kebutuhan hidup ini kiranya tidak termasuk pengurang harta terhukum zakat,
kenapa? Fungsi nishab itu sendiri pada dasarnya adalah sebagai batas (limit) yang
menjamin suatu harta cukup untuk kebutuhan hidup seseorang dalam periode itu.
Oleh karena itu, pengecuali harta zakat hanya utang saja (selain faktor produksi
dan barang kebutuhan hidup), di mana ia perlu dilaporkan utang (yang dilunasi)
pada tahun itu sebagai pengurang atas harta yang terhukum oleh zakat. (adapun
utang yang belum lunas pada tahun itu akan masuk hitungan pengurang zakat di
tahun depan). Cara perhitungan zakat dengan dikurangi utang, yaitu;

Z = (12m + n – y) x 2.5%
Di mana:
m = rata-rata harta penghasilan perbulan dalam setahun,
m = (m1 + m2 + m3 + .........+ m12)/12
n = rata-rata saldo tabungan perbulan dalam setahun,
n = (n1 + n2 + n3 +.............+n12)/12
y = utang yang dilunasi pada tahun itu,
Dengan syarat bila:
(12m + n – y) ≥ 20 Dinar. [(12m + n – y ) mencapai nishab 20 Dinar]

Di antara hal yang bisa membantu sistem penghitungan dan pemungutan zakat,
bilamana zakat diterapkan dalam skala makro (dengan pemerintahan Khalifah) dan
diterapkan di zaman pasca modern. Yaitu dengan membuat Badan Survey Statistik
Zakat, yang memiliki unit-unit survey berupa:

1. Unit survey tabungan dan laporan keuangan serta laporan utang (yang
terintergrasi dengan „Infrastruktur Keuangan‟ dan „Baytusysyirkah‟);
2. Unit survey tani;
3. Unit survey ternak;
4. Unit survey tambang; serta
5. Layanan pelaporan harta dan utang tersembunyi/tak tersurvey (privat)

Oleh karena itu semua, dengan demikian, adanya inisiatif metode sistem
perthitungan dan pemungutan seperti ini sebetulnya tujuannya adalah;
memperjelas dan memperinci syariat zakat yang belum pernah dijelaskan atau
ditemui dalam literatur klasik; yaitu aplikasi perhitungan statistik zakat (bila
dilakukan dalam skala makro dengan adanya institusi kekhalifahan Islam dan
otoritas keuangan Islam yang otentik), agar supaya bisa meminimalisir celah sistem
dan mencegah kaum muslimin (yang dihinggapi penyakit bakhil dan cinta harta)
untuk menghindari kewajiban membayar zakat, di mana orang yang lari dari
kewajiban zakat berdasarkan atsar sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ‫ ر‬juga
merupakan orang yang terhukum diperangi. Sekalipun demikian sistem tagihan

140
zakat tetap berada dalam koridor etika pemungutan zakat tidak boleh zalim dan
menindas sebagaimana yang disarankan berdasarkan atsar shahabat Ali bin Abi
Thalib ‫ر‬.

Sistem seperti ini dibuat adalah untuk apabila khalifah (pemerintah) mewajibkan
pembayaran zakat harus lewat khalifah, lain lagi bila zakat/sedekah dibayarkan
sendiri-sendiri tidak lewat khalifah, maka orang yang sudah membayar
zakat/sedekah tidak lewat pemerintah bisa dilaporkan pengeluaran zakatnya kepada
pemerintah karena ia sudah bebas dari kewajiban bayar zakat. Inisiatif dan perintah
khalifah (pemerintah) adalah menjadi sebuah perintah yang terikat dan harus
ditaati bagi masyarakat yang berjanji setia kepadanya (“taatilah Allah dan Rasul dan
Ulul Amri kalian”) termasuk dalam urusan tata aturan dan disiplin bernegara dan
berhukum (ber-syariat), yaitu misalnya ketika khalifah berinisiatif untuk
mewajibkan pembayaran zakat harus lewat khalifah, maka adapun bila pembayaran
zakat dilakukan sendiri-sendiri maka bisa dinyatakan pembayaran zakatnya ilegal
dan tidak sah; manfaat strategi dari inisiatif kebijakan ini adalah bahwa; sistem ini
dibuat selain ia berfungsi untuk mencegah para wajib zakat (muzakki) menghindar
dari kewajiban zakat dengan berbohong bahwa sedekah/zakatnya sudah disalurkan
tidak melalui Baytulmal pemerintah, ia juga berfungsi untuk memastikan
distribusinya tepat sasaran karena pemerintah memiliki gambaran yang lengkap
dan memegang data para mustahiq akan titik-titik penyalurannya secara sempurna,
dibanding bila zakat dilaksanakan sendiri-sendiri yang penyalurannya berdasarkan
informasi data para muzakki yang terbatas (adapun bila muzakki mengeluarkan
sedekah tambahan selain daripada zakat maka bisa dibolehkan lah bersedekah
sendiri-sendiri tanpa melalui Baytulmal pemerintah). Maka dari itu, tidak bisa
dikatakan atau dianggap semua orang adalah shaleh-shaleh semua sebagaimana
para alim-ulama orang-orang shaleh terdahulu yang ketika memperoleh/memiliki
harta maka langsung seketika itu pula dikeluarkannya hartanya tanpa hitung-
hitungan, ditunaikannya dalam bentuk sedekah dan di mana di dalam sedekahnya
pula sudah mencakupi zakatnya. Atau khalifah bisa berinisiatif, membolehkan
pengaluaran zakat dilakukan sendiri-sendiri/tidak lewat pemerintah, tetapi ia harus
dilaporkan kepada pemerintah, karena kalau tidak demikian maka sistem survey
data zakat akan menganggapnya belum membayar zakat dan mengenakan beban
zakat sesuai besaran wajib zakatnya kepada para muzakki. Ini semua hanyalah
inisiatif (ijtihad) untuk membuatkan suatu sistem agar pelaksanaan syariat zakat
tertata dengan rapi dan disiplin, dengan tanpa melanggar timbangan kebenaran
dan keadilan (bebas dari kezaliman).

141
Tabel 8.3 Persamaan dan Perbedaan Zakat dan Infaq-Wajib
Kadar Nishab Periode*
Zakat Ditentukan Ditentukan Dengan menerapkan Dengan cara mengkonversi „nishab dasar‟nya yang telah ditentukan syariat
syariat/jumhur ulama; syariat/jumhur ulama; aplikasi statistik, maka (n/p; nishab per periode), dikonversi menjadi nishab bulanan atau tahunan.
mengikut tiap-tiap jenis mengikut tiap-tiap jenis zakat bisa dilaksanakan
harta wajib zakatnya: harta wajib zakatnya; secara: Begitupun kadar bisa dikonversi menjadi bulanan atau tahunan dengan
(a) Kadar komoditi (a) Nishab komoditi > Bisa bulanan, mengkali atau membagi nilai wajib zakatnya dengan angka 12.
- Hasil Tani - Hasil Tani > Bisa tahunan (1 haul),
- Hasil Ternak - Hasil Ternak > Bisa disegerakan Pembayaran bisa saling dikonversi pula apakah pembayaran dibayarkan
- Hasil Tambang - Hasil Tambang (di awal waktu), dalam bentuk komoditi atau dalam bentuk uang, tidak masalah harta yang
(b) Kadar uang (b) Nishab uang > Bisa ditangguhkan dihasilkan dalam bentuk komoditi boleh dibayarkan dalam bentuk
- emas dan perak - emas dan perak (di akhir tahun) komoditi boleh pula dibayarkan dalam bentuk uang, tidak masalah harta
- dinar dan dirham - dinar dan dirham yang dihasilkan dalam bentuk uang boleh dibayarkan dalam bentuk
komoditi (komoditi yang tahan lama/uang komoditi).

Dengan khalifah menentukan pemungutan zakat dilakukan secara tahunan,
maka harta-harta yang dihasilkan secara bulanan, kuartalan, semesteran dan
periode acak sekalipun, bisa dirata-rata atau ditangguhkan dan diakumulasi
zakatnya untuk dikonversi ke tahun dan dibayarkan secara tahunan.
Infaq-wajib* Ditentukan inisiatif amir Ditentukan inisiatif Dengan menerapkan Dengan cara mengkonversi „nishab dasar‟nya yang telah ditentukan amir,
(kebijakan pemerintah) amir (kebijakan aplikasi statistik, maka menjadi nishab bulanan atau tahunan.
pemerintah) infaq-wajib bisa
dilaksanakan secara: Begitupun kadar bisa dikonversi menjadi bulanan atau tahunan dengan
> Bisa bulanan, mengkalinya atau membaginya dengan angka 12.
> Bisa tahunan (1 haul),
> Bisa disegerakan Pembayaran bisa saling dikonversi pula apakah pembayaran dibayarkan
(di awal waktu) dalam bentuk komoditi atau dalam bentuk uang, tidak masalah harta yang
> Bisa ditangguhkan, dihasilkan dalam bentuk komoditi boleh dibayarkan dalam bentuk
(di akhir tahun) komoditi boleh pula dibayarkan dalam bentuk uang, tidak masalah harta
yang dihasilkan dalam bentuk uang boleh dibayarkan dalam bentuk
komoditi (komoditi yang tahan lama/uang komoditi).

Dengan khalifah menentukan pemungutan infaq-wajib dilakukan secara
tahunan, maka harta-harta yang dihasilkan secara bulanan, kuartalan,
semesteran dan periode acak sekalipun, bisa dirata-rata atau ditangguhkan
dan diakumulasi infaq-wajibnya untuk dikonversi ke tahun dan dibayarkan
secara tahunan.
* Ijtihadiyyah (inisiatif) zakat dan infaq-wajib mengenai; pengembangan metode dan sistem penghitungan dan penarikannya/pengeluarannya.
VIII.VIX
Kategorisasi, Alokasi dan Distribusi Baytulmal

Gambar 8.1 Diagram Alokasi dan Distribusi

Tabel 8.4 Pemasukan Baytulmal

Pemasukan Baytulmal
(1) Zakat: (2) Sedekah: (3) Pajak- (4) Pajak- (5) Pajak- (6) Pajak-
Non-Zakat Tarif Insidentil Ekstra
- Zakat-Mal - Sedekah- - Jizyah - Tarif- - Fay - Infaq-wajib
infaq Infrastruktur
- Zakat- - Usyr-Kafir - Ghanimah - Extra-jizyah
Fithrah - Sedekah- (ahlu - Kharaj
waqaf dzimmi dan - Denda dan
- Usyr- ahlu harbi) Sitaan
Muslim
(Zakat-Tijari) - Harta tak
bertuan

143
Tabel 8.5 Pengeluaran Baytulmal

Pengeluaran Baytulmal
Mustahiq Pegawai Operasional Dana Umum Infrastruktur
Zakat
- Faqir - Pegawai - Operasional - Dana riset & - Infra - Infra Taman
Pemerintah Pemerintah keilmuan Keuangan Kota
- Miskin
- Pegawai - Operasional - Dana Honor - Infra - Infra Fasilitas
- Amilin Infrastruktur Infrastruktur atau Ekonomi umum
Penghormatan
- Muallaf - Infra - Infra
- Santunan Keilmuan dan Olahraga
- Riqab Yatim, Faqir, Pendidikan
Miskin, Dhuafa. - Infra
- Gharimin - Infra Bangunan
-Dan lain-lain Kesehatan/ Kekhalifahan
- Fi sabilillah Rumah Sakit atau Kantor

- Ibnu Sabil - Infra Ibadah

Tabel 8.6 Infrastruktur Ekonomi dan Keuangan

Infrastruktur Ekonomi dan Keuangan
Infrastruktur Ekonomi Infrastruktur Keuangan*
-Pasar -Fasilitas pinjaman (bunga 0%)
-Baytusysyirkah*
-Loji (gudang komoditi) -Fasilitas tabungan (sistem cadangan 100%)
-Energi dan listrik
-Air -Fasilitas transfer/wesel/elektronik
-Sanitasi (infrastruktur pencatatan e-dinar & e-
-Irigasi dirham)
-Transportasi
-Telekomunikasi dan informasi
-Dan lain-lain
*lihat di bab 9: permodalan dan bab 10: investasi dan tabungan

144
IX

PERMODALAN

IX.I
Pasar Modal dan Pasar Keuangan

D
alam perspektif Barat Modern, uang dan modal adalah komoditas, yang bisa
diperjualbelikan untuk memperoleh untung atau menderita kerugian dari
padanya, ini adalah konsepsi yang salah total (bathil) dalam perspektif Islam.
Uang atau modal dalam perspektif Islam bukan komoditas yang bisa
diperjualbelikan untuk memperboleh keuntungan atau menderita kerugian dari
padanya, tetapi uang atau modal boleh dipertukarkan dengan syarat tunai
(jumlahnya sama) tidak ada lebihan, tidak juga kurang, baik tanpa tempo (tunai)
atau dengan tempo (kredit), hanya pertukaran semata-mata (di mana fungsi uang
semata-mata hanya menjalankan fungsi alat tukar) ini disebut sebagai hawalah
(perpindahan tangan).

Pasar modal merupakan wadah atau media di mana sekuritas diperdagangkan.
Sekuritas atau efek atau „surat berharga‟ tidak lebih dari sekedar kertas (yang tak
berharga), namun ia menjadi berharga karena ada sesuatu dari luar yang dimuat ke
dalamnya. Oleh karena itu konsepsi sekuritas ini, ia bernilai secara ekstrinsik,
bukan secara intrinsik. Sama halnya dengan uang ekstrinsik yaitu cek, uang kertas
menjadi berharga karena uang riil (yaitu uang berbasis komoditi riil; emas ataukah
minyak) dimuat ke dalamnya. Lalu apa yang dimuat ke dalam „surat berharga‟
sehingga kertas biasa menjadi berharga (lebih tinggi dari nilai kertas itu sendiri)?.
Ada bermacam-macam surat berharga, mereka menyebutnya „obligasi‟, „warrant‟
(hak membeli kembali), „right‟ (hak memesan efek terlebih dahulu; HMETD) dan
„saham‟. Surat berharga diterbitkan oleh perusahaan atau institusi permerintah
yang disebut sebagai emiten adapun pembeli surat berharga itu disebut sebagai
investor (pemberi dana).

„Obligasi‟ ia adalah surat berharga, apa yang membuatnya berharga „utang‟lah yang
dimuat ke dalamnya (yaitu utang perusahaan atau utang institusi pemerintah
penerbit surat berharga tersebut; emiten), kemudian obligasi tersebut surat
berharga jangka panjang dalam periode tahunan yang menjanjikan keuntungan
tetap (fix income) berupa bunga utang bagi pemegang surat tersebut. Jelas sekali

145
ketika utang di muat ke dalam kertas, lalu memperdagangkan kertasnya (utang
ekstrinsik) tersebut layaknya komoditi (untuk memperoleh keuntungan atau
menderita kerugian daripadanya) tidak lain adalah riba, riba berlapis-lapis riba. Ia
sejatinya menjual hal yang tidak benar untuk dijual dan memperoleh hal yang tidak
benar untuk diperoleh baik bunga utangnya itu sendiri atau keuntungan (capital
gain) perdagangannya.

„Warrant‟, adalah surat yang dimuat ke dalamnya „syarat jual beli‟; yaitu hak
membeli kembali (surat berharga). Bila kita tanyakan, adakah memperjualbelikan
„syarat jual beli‟ atau „hak membeli kembali‟ layak sebagai komoditi, adakah
transaksinya diakui oleh Islam?, jelas sekali „syarat jual beli‟ atau „hak membeli
kembali‟ bukan lah komoditas yang dapat diperjualbelikan. Ia hanya uang kuasa
untuk memberikannya hak eksklusif dan prioritas dibanding pembeli-pembeli
lainnya. Sama juga dengan „right‟ atau HMETD ia memuat „hak memesan efek
terlebih dahulu‟ ke dalam surat. Ia memperjualbelikan hal yang tidak benar untuk
diperjualbelikan, ini jelas bathil. Dan berbagai bentuk surat berharga turunan
lainnya di pasar modal kebanyakan adalah hal-hal yang tidak benar untuk
diperjualbelikan, kebanyakan adalah hal-hal yang tidak layak diakui sebagai
komoditi atau asset atau harta.

Lalu bagaimana dengan saham? Kaum Islam moderenis (yang mempromosikan
Islamisasi instrumen pasar modal) memandang saham adalah instrumen keuangan
yang paling sesuai dengan cara Islam, ia sama halnya dengan investasi dan di dalam
Islam investasi adalah hal yang dihalalkan dan banyak praktik-praktik muammalah
dan akad-akad kontrak di dalam Islam yang bisa mengakomodasi kegiatan investasi
ini; seperti musyarakah, mudharabah, dan lain-lain sebagainya. Lalu apa salahnya
menciptakan saham syariah?

Saham ia dipandang sebagai surat berharga, tetapi apa yang membuat surat yang
tidak berharga menjadi berharga? Apa yang dimuat ke dalamnya? Di dalam surat
berharga „saham‟, ia memuat asset perusahaan. Sehingga dipandang apabila
seseorang membeli share (bagian) surat berharga „saham‟ maka ia memiliki hak atas
asset perusahan dalam besaran persen sesuai share yang dicantumkan dalam surat
saham tersebut. Oleh karena itu para pemegang saham akan memperoleh share
keuntungan setiap periode tertentu. Bukankah ini sesuai syariah, sama seperti
investasi yang halal?

Sekarang kita mulai dengan membicarakan „capital gain‟nya dari perdagangan
saham itu sendiri, adakah saham ini boleh diperjualbelikan menganggap „surat
berharga‟ itu sendiri sebagai komoditas, sebagaimana sejatinya ia bernilai secara
ekstrinsik, yaitu asset yang riilnya sebetulnya ada diluar benda „surat berharga‟ itu
sendiri. Adakah sama antara surat (ekstrinsik) dengan asset atau harta riil
(intrinsik)?.

146
Pertama sekali, ketika menjual saham (ditengah proses regenerasi kekayaan
perusahaannya) sama saja me-withdraw modalnya pada perusahaan yang dibelinya
(share-nya) di tengah jalan dan menukarkan modal yang ditariknya kepada pemodal
baru dengan keuntungan yang diperoleh, hal ini tidak bisa dipandang hanya terjadi
hawalah (perpindahan tangan/kepemilikan) semata tetapi juga hawalah dengan gain
(keuntungan) atau bahkan loss (kerugian). Ia adalah riba, yaitu mempertukarkan
modal (uang) yang telah ditariknya ditengah proses investasi dan regenerasi
kekayaannya kepada pemodal baru untuk memperoleh keuntungan.

Selain dari pada itu, apa konsekuensi dari memuat nilai asset ke dalam sebuah
kertas, lantas memperlakukan kertasnya (yang bernilai ekstrinsik) layaknya
komoditi riil (yang bernilai intrinsik), walaupun kertas (ekstrinsik) itu mewakili
asset (intrinsik) yang dimuat ke dalamnya, tetapi apabila kertas (yang bernilai
ekstrinsik) itu dilepas ke pasar layaknya sebagai komoditi (yang riil atau intrinsik) di
mana transaksi kertas (ekstrinsik) tersebut berlaku dalam cara yang sangat-sangat
cepat, dinamis dan agressif (karena di antara motif-motif pelaku perdagangan
saham adalah „capital gain‟-nya, bukan hasil investasi/dividennya semata-mata).
Yang sebetulnya terjadi adalah harga yang terbentuk ke atas kertas ekstrinsik tidak
sama dengan harga yang terbentuk ke harta intrinsiknya, bahkan harga yang
terbentuk ke atas „kertas ekstrinsik‟ lebih volatile (labil) dibandingkan dengan bila
harga terbentuk ke atas harta intrinsiknya, mengapa karena estimasi orang terhadap
asset intrinsiknya dibandingkan terhadap kertas ekstrinsiknya tidaklah sama dan
juga harga yang terbentuk ke atas „kertas ekstrinsik‟nya terintegrasi dengan sistem
informasi, berita dan rumor yang sangat dinamis (yang mungkin bercampur benar
salahnya). Konsekuensi dari hal ini, maka „kertas ekstrinsik‟ menciptakan harga
ilusi atas asset atau harta intrinsiknya, berlaku layaknya karung penutup yang
menutupi asset atau harta intrinsiknya. Perdagangan kertas ekstrinsik saham (yang
sejatinya mewakili perdagangan asset intrinsik yang dimuat ke dalamnya) sama
seperti perdagangan „kucing dalam karung‟, di mana kertas ekstrinsik-nya itu
sendiri berlaku layaknya „karung penutup‟ yang menciptakan harga ilusi, yang
bersifat sangat volatile (labil) dan rentan terpengaruh informasi-informasi yang
beredar yang sangat dinamis (yang membombardir rasionalitas pelaku transaksi
saham), yang mana harga itu tidak mencerminkan harga dari harta atau asset
intrinsiknya yang sebenarnya. Ini tidak lain dan tidak bukan merupakan transaksi
syubhat alias gharar (transaksi tidak jelas harganya dan komoditinya, dimana
komoditi intrisniknya „dimuat‟ atau dengan kata lain „tertutup‟ kertas ekstrinsik-
nya).

Oleh karena itu juga, pasar saham (atau pasar keuangan lainnya) yang
memperdagangkan harta yang bernilai secara ekstrinsik lebih tepat seperti tempat
judi. Kenapa? Harga-harga yang terbentuk ke atasnya adalah harga-harga yang
sangat labil (volatil) dan bersifat ilusi, manakala sementara ia sejatinya

147
memperjualkan „harta intrinsik‟ yang dimuat ke dalamnya atau bahkan juga sesuatu
hal yang tidak layak dianggap sebagai komoditi atau harta dimuat ke dalam kertas
ekstrinsik yang diperdagangkan, adapun para pelaku yang beraktivitas, bertransaksi,
memperdagangkan kertas-kertas ekstrinsik itu sedang bertaruh dan mencoba
memprediksi dan menebak, apapun pendekatan dan metode perhitungannya
untuk memprediksi harga saham untuk memperoleh keuntungan atau menerima
kerugian dari padanya, tidak lain dan tidak bukan layaknya bermain judi. Kenapa?
Karena tidak ada kaitannya hasil keuntungan atau kerugian yang diperolehnya
dengan aktifitas riil regenerasi kekayaannya, itulah disebut judi (maysir).

Oleh karena itu sejatinya memperjualbelikan asset perusahaan yang dimuat
kedalam sebuah kertas tidak ada kaitannya dengan kegiatan riil aktivitas regeneratif
kekayaan asset perusahaan itu sendiri. Sehingga keuntungan yang diperoleh dari
memperjualbelikan (share) asset perusahaan yang dimuat ke dalam sebuah kertas,
sejatinya adalah perolehan/keuntungan perjudian. Kita tahu apa yang
menyebabkan penjudi untung adalah berhasil menebak atau memperdiksi sesuatu,
tetapi sesuatu itu tidak ada kaitannya dengan aktivitas riil regeneratif kekayaan,
aktivitas bisnis riil, ekonomi riil. Kertas itu tidak ada kaitannya dengan harta riil
(yang dimuat ke dalam kertas tersebut). Konsepsi pasar modal atau pasar keuangan
tidak lain dan tidak bukan hanya tempat judi, pasar modal sejatinya adalah wadah
judi, dengan segala instrumen bermacam-macam yang ada di dalamnya baik
instrumen keuangan syariah ataupun bukan. Jadi jangan coba salahkan seseorang
berspekulasi di dalam pasar modal atau di pasar keuangan, hal ini karena spekulan
tersebut ber-spekulasi berada pada tempat yang tepat, yaitu tempat judi, dan setiap
penjudi pasti lah spekulator; penebak dan tukang prediksi.

Lalu adakah „surat berharga‟ syariah?

Memuat nilai harta riil (asset) ke dalam kertas apakah itu tradisi Islam?, lantas
menganggap atau mengakui kertas (yang memuat harta riil) itu sendiri sebagai
komoditi adakah itu dibenarkan?, Konsekuensi yang terjadi bila memuat harta riil
ke dalam sebuah/selembaran kertas maka harga yang terbentuk ke atasnya jelas
tidak mencerminkan harga yang terbentuk atas harta riilnya, ia adalah harga ilusi,
harga yang tidak stabil, ia adalah gharar. Walaupun akad-akad syariah dibentuk,
ditransformasi, dikombinasikan, digabung-gabungkan, direkayasa untuk
membuatnya terlihat halal dan legal di dalam Islam.

Imam Malik dalam Muwattha, menerangkan:
Yahya meriwayatkan padaku dari Malik bahwa ia mendengar tanda terima (resi) dibagikan pada
penduduk pada masa Marwan bin al-Hakam untuk barang di Pasar al-Jar. Penduduk membeli dan
menjual resi di antara mereka sebelum mereka mengambil barangnya. Zaid bin Tsabit bersama
seorang sahabat Rasulullah pergi menghadap Marwan bin al-Hakam dan berkata, “Marwan, apakah
engkau menghalalkan riba?”. Ia menjawab, “Naudzubillah, apakah itu?”. Ia berkata, “resi-resi ini

148
yang dipergunakan penduduk untuk berjual beli sebelum menerima barangnya”. Marwan kemudian
mengirim penjaga untuk mengikuti mereka dan mengambilnya dari penduduk kemudian
mengembalikannya kepada pemilik asalnya.

HR. Muslim dan Ahmad, dari Sulaiman bin Yasar ‫ ر‬:

Bahwa Abu Hurairah ‫ ر‬berkata kepada Marwan: “Apakah kamu menghalalkan jual beli riba?”,
Marwan menjawab, “saya tidak menghalalkannya”. Abu Hurairah melanjutkan; “kamu
menghalalkan jual beli sukuk (surat kertas yang dikeluarkan oleh penguasa, bertuliskan sejumlah
makanan atau selainnya yang diberikan kepada orang yang berhak). Sungguh Rasulullah ‫ ز‬telah
melarang menjual bahan makanan sampai ia ditimbang terlebih dahulu”. Sulaiman berkata; “lantas
Marwan mengumumkan kepada orang-orang dan melarang jual beli seperti itu”. Sulaiman berkata
“saya dan para pengawal mengambilnya dari tangan orang ramai”

Segala sesuatu yang ditulis ke atas kertas walaupun ia mewakili harta riil yang
bernilai intrinsik adakah itu harta dalam bentuk uang atau komoditi; seperti cek,
saham, catatan keuangan, laporan keuangan, nota, kwitansi dan lain-lain. Ia
sejatinya di dalam Islam hanya berfungsi sebagai „alat hukum‟ yang hanya berfungsi
di depan hukum sebagai alat bukti kepemilikan atau alat wakil atas harta riil
tersebut dan segala sesuatu yang ditulis menjadi sebuah catatan adakah itu catatan
diatas kertas atau catatan digital di dalam komputer, ia sama sekali bukan
komoditas, yang bisa diperdagangkan untuk memperoleh keuntungan atau
kerugian. (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 282)

Jelas sekali konsepsi pasar keuangan adakah itu pasar modal dan pasar uang adalah
konsepsi pasar yang bathil. Dan tidak layak disebut sebagai pasar, manakala pasar
diartikan tempat/wadah/media untuk memperjualbelikan komoditas (barang dan
jasa). Adapun yang ditransaksikan di dalam pasar modal dan pasar keuangan sama
sekali tidak layak di dalam perspektif Islam sebagai komoditas. Yang
diperdagangkan di dalamnya bukanlah komoditas, melainkan „kepalsuan‟ demi
„kepalsuan‟ yang dibuat-buat berlapis-lapis.

IX.II
Bank dan Bank Islam
Definisi Riba dalam Al-Quran adalah “pertambahan harta (ziyadah) (Quran, Surat
Ar-Rum 30: 39), yang diperoleh atas jerih payah orang lain dengan cara yang tidak
benar/batil” (Quran, Surat An-Nisa 4: 29 dan 161). Maka riba banyak macamnya,
akan tetapi identifikasi riba yang paling utama dan paling berbahaya (karena ia
adalah kejahatan yang paling sukar dikenali dan difahami manusia) yang diberikan
contohnya di dalam Al-Quran adalah Riba Qardh atau Riba Dayn; yaitu „lebihan‟
yang dituntut atas pokok pinjaman atau utang (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 278-
281).

149
Bank yang berlaku dengan cara ini, yaitu meminjam dari nasabahnya untuk
memperoleh pinjaman dengan memberikan imbalan bunga dan kemudian lagi
meminjamkan uang tersebut kepada peminjamnya dengan imbalan bunga, adalah
praktik Riba Qardh atau Riba Dayn, baik kadarnya sedikit atau banyak, baik ringan
atau berlipat. Riba yang berlaku dalam „perbankan konvensional‟ (yaitu bunga
pinjaman); ini sesungguhnya adalah riba yang sama dengan yang dijelaskan di
dalam Al-Quran (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 278-281)

Bagaimanakah dengan „Bank Islam‟ atau yang disebut dengan „Bank Syariah‟?
„Bank Islam‟, diklaim tidak bekerja dengan cara Riba karena ia adalah bank yang
bebas dari bunga. Tetapi kita belum lagi mencari definisi Riba dalam Ahadits,
adakah bentuk Riba selain bunga pinjaman?

Riba yang selain dari riba pinjaman (Riba Qardh) adalah riba dalam transaksi,
pertukaran atau jual beli (Riba bai‟). Riba dalam transaksi ada dua macam; yaitu
Riba Fadhl dan Riba Nasi‟ah.

(1) Riba Fadhl adalah riba (ziyadah atau keuntungan) yaitu selisih/lebihan; yang
terjadi pada pertukaran uang dengan uang yang berlaku dalam cara tunai
(tanpa tempo). Sebagaimana yang berlaku pada 6 komoditi pada suatu
riwayat hadits Rasulullah ‫ز‬.

(2) Riba Nasi‟ah adalah riba (ziyadah atau keuntungan) yang terjadi pada uang
yang tertangguh pembayarannya atau pentunaiannya, tidak peduli itu
adakah pertukaran „uang dengan uang‟ atau „uang dengan komoditi‟ atau
yang disebut „bai‟ muajjal‟ (jual beli tertangguh). Karena nasi‟ah artinya
adalah penangguhan, artinya satu-satunya alasan uang itu bertambah adalah
oleh karena waktu.

HR. Bukhari dan Muslim, Rasulullah ‫ ز‬bersabda:
“Tidak ada riba kecuali pada penangguhan (nasi‟ah)”
Di antara yang termasuk dari pada Riba Nasi‟ah itu ialah:
a. Riba Jahiliyyah: yaitu mengenakan denda atas utang atau
pembayaran yang tertangguh (kredit atau cicil)
b. Riba Dayn: yaitu mengenakan bunga atas utang atau pembayaran
yang tertangguh (kredit atau cicil)
c. Riba Qardh: yaitu menetapkan bunga atas utang pinjaman.

Oleh karena itu maka apabila yang berlaku pada Riba Fadhl adalah uang
menjadi objek dagangan, maka pada Riba Nasi‟ah adalah manakala uang
menjadi objek sewaan, maka dari masing-masingnya baik ia menjadi objek

150
dagangan atau sewaan dibenarkan untuk memperoleh lebihan keuntungan
(ziyadah) atau rugi daripadanya.

Berdasarkan semua jenis Riba tersebut, maka ada intisari yang dapat diperoleh
sebagai kaedah dalam transaksi ribawi, yaitu sifat uang di dalam Islam ialah:

1. Tidak boeh mengambil untung dari pada pertukaran antar uang (uang
dengan uang); uang bukan objek dagangan.
2. Uang tidak bertambah oleh karena waktu; uang tidak berkembang biak
seperti berkembang biaknya hewan ternak atau hasil pertanian, atau usaha
manusia; jasa atau tenaga manusia; uang bukan objek sewaan.

Sifat-sifat tersebut, dapat digunakan sebagai kaedah untuk mengenali berbagai
macam bentuk riba-riba lainnya. Adapun beberapa kaedah yang mudah bisa
gunakan untuk mengenali riba dalam sistem bank dan lembaga keuangan syariah
lainnya, sebagaimana berikut:

Kaedah 1: Uang Bertambah Oleh Karena Waktu Adalah Riba

Margin

Di dalam perbankan syariah, ada sesuatu yang dikenal dengan sebutan „margin‟. Ia
adalah perolehan keuntungan yang diperoleh Bank Islam atau Bank Syariah sebagai
keuntungan usaha jasa keuangan perbankan islam/syariah. „Margin‟ ditetapkan
berdasarkan ketentuan perbankan, ia dipandang sebagai perolehan yang sah dari
usaha perbankan syariah melalui berbagai akad-akad jual-beli dan akad-akad
kerjasama, perbankan islam/syariah.

Tetapi sejatinya „margin‟ adalah bunga yang menyamar sebagai keuntungan (profit).
Mengapa demikian, margin ditentukan dari awal sebelum berlakunya akad niaga
maupun akad kerjasama/bagihasil oleh perbankan islam/syariah. Tetapi penetapan
margin di awal itu bukan „target‟ usaha semata mata, melainkan „keuntungan yang
dituntut‟ tanpa memperdulikan risiko pasar, mengelak dari pasar, mengimunisasi
diri atau mengebalkan diri (perbankan islam/syariah) dari kerugian, sehingga
sejatinya bank tidak boleh rugi, bank menjalankan bisnis anti-rugi, bank tidak mau
menanggung risiko kliennya, sebaliknya klien bank islam/bank syariah harus
menanggung ruginya sendiri dan rugi dari pihak bank.

Tetapi beberapa alasan dari penetapan „margin‟ itu adalah; „uang di masa sekarang
lebih bernilai dari pada uang di masa depan‟, dalam kata lain uang itu menyusut
nilainya (inflasi), itulah yang tidak ingin ditanggung oleh perbankan
islam/perbankan syariah. Hal ini adalah konsekuensi dari uang fiat yang bekerja
dalam kerangka „time value of money‟ (atau apapun bahasanya ketika perbankan
syariah ingin mengelak dari kerangka „time value of money‟ maka diciptakan istilah

151
„economic value of time‟ untuk menutupi cara kerja „time value of money‟ yang berlaku
pada uang fiat). Dengan kata lain, ketika perbankan syariah/islam menetapkan
keuntungan „margin‟ dengan tingkat kepastian yang tinggi (mengelak dari
menanggung risiko pasar), telah mengakui uang fiat (yang hakikatnya fraud) sebagai
uang yang halal dan mengakui cara kerja uang (fiat) dalam kerangka „time value of
money‟. Itu artinya menghalalkan „uang bertambah oleh karena waktu‟. Ini adalah
riba. Inflasi yang saat ini yang terjadi di zaman modern yang terjadi pada uang fiat
sama sekali tidak layak disebut sebagai risiko pasar, ia tidak pantas menjadi risiko
(sebagai kompensasi) untuk keuntungan.

Murabahah

Praktik murabahah dalam tradisi Islam ialah mengambil keuntungan dari harga
beli dan harga jual suatu komoditi. Pada jual-beli biasa (musawwamah) lazimnya
seorang penjual komoditi tidak memberitahukan (merahasiakan) harga belinya dan
menawarkannya pada harga rasional yang bisa diterima oleh pembeli. Tetapi dalam
praktik murabahah, seorang penjual komoditi memberitahukan (membuka rahasia)
harga belinya dan menawarkannya pada harga rasional yang bisa diterima oleh
pembeli. Praktik murabahah ini sejatinya adalah mubah.

Murabahah yang dipraktikan perbankan islam/syariah agaknya melenceng sedikit
tetapi fatal. Murabahah apapabila dijelaskan oleh perbankan syariah; ia adalah jasa
keuangan dimana seseorang dapat mengajukan pembelian komoditi, kemudian
bank syariah akan membelikannya dengan harga x secara tunai kemudian
menjualnya kepada pihak yang mengajukan pembelian tersebut seharga y secara
cicil atau tunai. Di mana harga y (harga jual) lebih tinggi daripada harga x (harga
beli).

Namun biasanya murabahah yang dilakukan oleh perbankan syariah selalu dalam
bentuk cicil, karena harga y (harga jual) yang lebih tinggi dari pada harga x (harga
beli) tanpa cicil adalah tidak rasional, manakala dipasar yang sama harganya hanya
sebesar x, tidak mungkin ada yang mau membeli dengan harga seperti itu kecuali
dia adalah seorang yang mustarsal (jahil terhadap harga pasaran) atau dia adalah
seorang yang tidak cakap (tidak aqil). Oleh karena itu disini terselip ba‟i muajjal
(transaksi tertangguh atau kredit) di dalam akad murabahah perbankan syariah.
Namun bila „kenaikan harga‟ berlaku atas „komoditi‟ sebagai balasan atau
kompensasi atau timbal balik atas pembayaran yang tertangguh (kredit atau cicil)
tidak lain dan tidak bukan ia adalah „uang bertambah oleh karena waktu‟, tidak ada
alasan lain untuk berkelit atas kenaikan harganya selain satu-satunya alasannya
adalah oleh karena waktu, „waktu‟ bukan komoditi yang bisa dijual dalam prinsip
moral Islam, ia adalah Riba.

152
HR. Abu Dawud, dari Abu Hurairoh:
“Barangsiapa menjual dua penjualan dalam satu penjualan (2 harga berlaku dalam 1 komoditi;
harga tunai dan harga cicil/kredit) maka ia hanya dibenarkan mengambil harga yang paling kecil,
kalau tidak maka ia telah terjatuh ke dalam riba”

Kaedah 2: Modifikasi Atau Kombinasi Dua Akad Atau Lebih Dalam Satu Akad
(Multi-akad) Adalah Batil

HR. Ahmad, shahih:
“Nabi ‫ ز‬telah melarang dua kesepakatan (akad) dalam satu kesepakatan (akad)”

Akad kombinasi atau multi-akad ialah kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan
suatu muamalah meliputi dua akad atau lebih, misalnya akad jual-beli dengan
ijarah, jual-beli dengan hibah, dan lain-lain, dan semua akibat hukum dari akad-
akad gabungan itu, serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya, dianggap
sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan, yang sama kedudukannya
dengan akibat-akibat hukum dari satu akad (Nazih Hammad, Al-„Uqud Al-
Murakkabah Fi Al-Fiqh Al-Islami)

Aplikasi multiakad pada lembaga keuangan syariah/islam cukup banyak dan
beraneka ragam, pada lembaga keuangan syariah/islam; akad selalu melibatkan tiga
pihak yaitu; pembeli, lembaga keuangan dan penjual. Walaupun tiap dua pihak
melakukan satu akad, tetapi karena ada 3 pihak maka minimal pasti terjadi 2 akad,
dan apabila ia dijadikan satu-kesatuan sebagai satu prosedur, satu akad maka jelas ia
adalah menyatukan 2 akad dalam satu akad.

Keuangan islam atau Islamic finance begitu kaum modernis menyebutnya telah
membangun atau merekayasa sistem keuangan islam modern (financial engineering)
yang memodifikasi akad-akad menjadi akad-akad produk-produk keuangan yang
bertujuan agar minimal bisa menyaingi atau kalau bisa lebih baik dari pada sistem
keuangan barat modern yang syarat akan riba, kemudian produk-produk keuangan
syariah tersebut bersaing di dalam sistem ekonomi yang riba dilegalkan. Sejatinya
sistem keuangan islam yang dibangun tersebut adalah sistem yang mengabung-
gabungkan akad-akad menjadi satu akad dan ini digunakan tidak hanya di tubuh
perbankan islam/syariah dan lembaga keuangan syariah/islam lainnya tetapi juga
diaplikasikan dalam instrumen-instrumen pasar keuangan syariah (pasar modal dan
pasar uang).

Menggabungkan dua akad atau lebih ke dalam satu akad sejatinya membuka pintu
riba, yang memungkinkan pelaku ekonomi memperoleh riba, lewat pintu lain,
selain pintu (bunga) pinjaman, yang memungkinkan seseorang mengelak dari risiko
kerugian, mengebalkan diri dari kerugian. Dengan prinsipsi dan intisari cara kerja
riba yaitu; bila seseorang harus untung namun dijamin tidak bisa rugi, ini tidak lain

153
prinsipsi dan intisari cara kerja riba, atau ia bisa dikatakan sebagai „bisnis anti-rugi‟
sejatinya adalah intisari cara kerja riba.

Kaedah 3: Perserikatan adalah sepenanggungan dalam kontribusi,
sepenanggungan dalam untung dan sepenanggungan dalam rugi (risiko).

Di dalam perbankan islam/syariah, ada akad kerjasama atau disebut akad bagi-hasil
(profit sharing atau revenue sharing). Selain ia juga berlaku dengan penerapan
„margin‟, lalu ada yang janggal dari akad bagi-hasil perbankan syariah ini.

Berkaitan dengan margin (keuntungan), berdasarkan kaedah keuntungan Ibnu
Arabi; „keuntungan = kontribusi + tanggungan + risiko‟. Di dalam konsep
perbankan „inflasi‟ termasuk risiko pasar. Manakala dalam pandangan moral Islam
yang sejati yang dapat melihat inflasi yang terjadi pada hari ini yang terjadi
berasaskan „sistem penggelembungan‟ bukanlah termasuk risiko pasar yang bisa
diterima, karena ia adalah sistem uang fiat yang fraud (curang); mencetak uang
tanpa berasaskan cadangan intrinsik. Adapun dalam akad bagi-hasil atau
perserikatan yang diterapkan bank syariah/islam dan lembaga keuangan syariah,
sebagai mana “keuntungan = kontribusi + tanggungan + risiko”, risiko 100% yang
seharusnya menjadi tanggungan bersama, yang terjadi dilapangan malahan risiko
hanya diterima oleh klien partner kerjasamanya atau perserikatannya atau risiko
yang ditanggung oleh klien partner kerjasamanya lebih tinggi dari share yang
semestinya di mana klien menanggung share risiko milik bank syariah/lembaga
keuangan syariah. Partner-partner persekutuan seharusnya saling sepenanggungan
bagaikan satu tubuh, satu sama lainnya tidak boleh berlaku saling mengkhianati
dan berlaku tidak adil kepada yang lainnya (Quran, Surat Al-Maidah 5: 1, Quran,
Surat Shaad 38: 24), yaitu sepenanggungan dalam kontribusi, dalam jatah
(keuntungan), dalam tanggungan dan dalam risiko (kerugian), yang terjadi dalam
sistem perbankan, bank tidak mau menanggung risiko kliennya, sementara
memperoleh bagian keuntungannya menetapkan „margin‟; sebagai keuntungan
yang dituntut tanpa timbal balik yang setimpal di mana; „keuntungan = tanggungan
+ kontribusi + risiko‟. Perserikatan yang seperti ini adalah perserikatan yang tidak
jentel, perserikatan yang pengecut, lari dari risiko pasar, mengimunisasi,
mengebalkan diri dari berbagai kemungkinan kerugian. Tidak lain adalah
perserikatan yang mencurangi kliennya; maka keuntungan yang diperoleh atasnya
adalah riba.

Konsepsi Bank (Konvensional Maupun Syariah) Adalah Batil dan Salah Total

(1) Bank adalah usaha jasa keuangan yang berlandaskan dana simpanan (titipan
atau tabungan)

Sumber dana utama yang digunakan untuk menjalankan usaha perbankan/jasa
keuangan perbankan adalah sumber dana milik masyarakat yang dititipkan kepada

154
bank, dalam bentuk simpanan. Masyarakat yang menitipkannya disebut nasabah.
Satu hal yang nasabah ingin pastikan kepada bank adalah uang/harta yang
dititipkannya harus aman, tidak boleh sesuatu hal terjadi kepada uang tersebut,
misalnya hilang, dirampas, berkurang, dirampok, dan lain-lain.

(2) Konsekuensi dari dana simpanan adalah kepastian dana (terjaminnya dana)

Karena bank yang diamanahi harta/uang titipan oleh nasabahnya harus
memastikan aman, tidak boleh terjadi apa-apa dengan uang simpanan nasabah
tersebut, nasabah menuntutnya demikian. Maka hukum di negara dibuat untuk
memastikan uang masyarakat yang dititipkan kepada lembaga keuangan yaitu bank,
harus pasti aman. Oleh kerena itu kita bisa melihat institusi „lembaga penjamin
simpanan‟.

(3) Konsekuensi dari kepastian dan terjaminnya dana adalah usaha bank yang
dijalankan bersumber dari dana tersebut tidak boleh rugi

Karena bank, sebagai yang diamanahi harta simpanan masyarakat di satu sisi ia
harus menjamin uang masyarakat tidak hilang, tidak berkurang (kecuali untuk
biaya administrasi), tetapi disisi lain kita tidak boleh lupa bank adalah badan usaha,
usaha yang bergerak dibidang jasa keuangan, badan usaha tentu saja orientasinya
keuntungan. Di mana harta yang dititipkan oleh nasabah kepada bank, harus boleh
dipinjam oleh bank dengan bank menjanjikan bunga atau bagi hasil dari uang yang
dipinjam tersebut (berasaskan simpan-pinjam), namun bank juga faham ia tidak
boleh rugi dari usaha tersebut, karena hukum dan perundangan dibuat
menuntutnya demikian yaitu; (walaupun bank boleh menggunakan uang simpanan
tersebut untuk usaha, namun) bank harus memastikannya dananya aman; yaitu
tidak boleh harta simpanan tersebut berkurang, dengan kata lain; usaha bank (yang
sejatinya bermodalkan dana simpanan masyarakat) tidak boleh rugi (bank punya
dalih untuk tidak menanggung kerugian; karena dana yang digunakannya adalah
dana masyarakat/nasabah yang akan menuntut komplain bila terjadi sesuatu
dengan dananya).

(4) Konsekuensi dari usaha yang tidak boleh rugi adalah hanya boleh untung

Apabila bank menjalankan usaha dengan cara; tidak boleh rugi dan dengannya
bank memperoleh keuntungan. Ia adalah keuntungan yang diperoleh tanpa risiko.
Ia adalah keuntungan yang diperoleh dengan mengebalkan diri (immunize) dari
kemungkinan kerugian. Maka sesuatu usaha yang tidak boleh rugi dan harus
untung (bisnis anti-rugi), ia adalah intisari cara kerja riba. Ini ciri khas cara kerja
yang berlaku pada bank, baik bank konvensional maupun bank islam/syariah.

155
IX.III
Baytusysyirkah
Perbankan jelas sekali bukan bentuk dan kerangka keuangan publik Islam, karena
perbankan adalah lembaga keuangan komersil berbasis dana simpanan yang
dipinjam dan dipinjamkan, kerangka kerja bank itu mengharuskan bank
memperoleh untung dengan cara mengebalkan diri (mengimunisasi) dari kerugian,
ini tidak lain adalah cara kerja riba, baik ia bank konvensional atau bank yang
dikatakan syariah/islam; yang memodifikasi istilah atau term, skema dan
mekanismenya menjadi lebih rumit dan “sepertinya masuk akal” namun beresensi
sama (Riba lewat pintu belakang); yaitu „mengebalkan diri dari kerugian‟. Sistem
ekonomi Riba itu juga mengakar pada uang fiat yang menyebabkan rusaknya pasar
(inflasi) dan bank-bank telah dicipta dan dikonstruksi sebagai institusi yang
melengkapi sistem uang fiat tersebut dan berasaskan dengannya; yaitu menciptakan
kekayaan palsu dan menjaga kekayaan palsu tersebut tetap berlaku, tetap bernilai
dan tetap digunakan masyarakat, sambil merampok nilai uang masyarakat,
menguasai dan memperbudak masyarakat.

Begitu pula pasar modal atau pasar keuangan, mengakui catatan kertas (yang
bernilai ekstrinsik) layaknya asset atau komoditi intrinsik yang bisa
diperjualbelikan, padahal sejatinya di dalam Islam catatan di atas kertas hanyalah
„alat bukti‟ dan „alat hukum‟ (alat wakil, pemegangnya adalah yang berhak atas
harta) untuk menegakkan keadilan, bukan „alat transaksi‟ atau „komoditi‟. Hal ini
menimbulkan ilusi harga (gharar) sedangkan kuasa atau kepemilikan harta
intrinsiknya boleh berpindah lewat sell & buy dari memprediksi harga sekuritas
yang ilusif, ia adalah judi (maysir), pemindahan tangan (hawalah) dan withdraw atas
investasi yang sedang berjalan untuk memperoleh keuntungan darinya tidak lain
adalah keuntungan ribawi, memperjualbelikan „modal‟ (uang). Pasar keuangan;
pasar uang dan pasar modal bukan bentuk sistem keuangan dan permodalan yang
sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, ia telah dicipta sebagai instrumen keuangan
global untuk menguntungkan para elit predator menguasai aset-aset negara dan
masyarakat dengan cara yang manipulatif dan bersifat perjudian.

Oleh karenanya berdasarkan itu semua, perlu kiranya mengusulkan bentuk mediasi
baru yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam, yang dibangun dengan prinsip-
prinsip Islam yang bisa menggantikan (men-substitute) sistem permodalan sistem
ekonomi riba. Barangkali bentuk baru mediasi yang sesuai dengan Islam itu disebut
dengan Baytusysyirkah.

Baytusysyirkah artinya adalah rumah persekutuan/perserikatan. Ia me-mediasi
pihak-pihak yang berserikat yaitu pihak pengusaha/pebisnis/pedagang dan pihak
pemodal. Namun Baytusysyrikah hanyalah mediator semata, ia tidak perlu terlibat
menjadi pihak ke tiga untuk mengambil keuntungan dari pada dua pihak yang

156
berserikat. Baytusysyirkah konsepsinya merupakan infrastruktur (barang publik)
yang disediakan oleh pemerintah (khalifah), dimana ia tidak hanya sebagai „rumah
perserikatan‟ dari bisnis-bisnis dan perniagaan, Baytusysyirkah juga adalah
infrastruktur hukum atau „rumah hukum‟ yang menjadi saksi atau menyediakan
persaksian dan mengesahkan akad-akad perserikatan kaum muslimin, kemudian
menjamin akad-akad perserikatan tersebut dengan hukum serta mengurai atau
menyelesaikan masalah jika terjadi masalah lewat hukum.

Baytusyirkah sebagai „rumah hukum‟, di antara perannnya yaitu:

1. Menjadi tempat perasaksian akad,
2. Pengesah akad-akad,
3. Membuatkan sertifikat (dari akad-akad persekutuan tersebut; musyarakah,
mudharabah/qirad, dan lain-lain),
4. Sebagai mediasi hukum yang menerima laporan, yang menyelesaikan
sengketa atau permasalahan-permasalahan kontrak dan bisnis.
5. Mediasi yang menyediakan dan melakukan audit laporan keuangan,
melakukan pemantauan (transparansi) laporan keuangan dan menentukan
standar bisnis yang layak dan professional.
6. Mediasi yang memfasilitasi pengubahan status kontrak-kontrak bisnis
tersebut (likuidasi, pecah kontrak, gabung/merger, atau alih tangan
(hiwalah) suatu perusahan/bisnis/usaha)

Secara konsepsinya, selain Baytusysyirkah sebagai „rumah persekutuan‟ dan „rumah
hukum‟, Baytusysyirkah juga adalah „rumah informasi‟, yaitu informasi-informasi
(list) terkait penawaran:

1. Rekrutmen (tenaga ahli tertentu; akuntan, manajer, dan lain-lain)
2. Penawaran modal (investor)
3. List penawaran bisnis (entry business) dan list bisnis yang telah diratifikasi
(running business)

Akad-akad persekutuan di Baytusysyirkah sesuai standar akad persekutuan di dalam
Islam, adakah ia musyarakah (persekutuan modal) atau mudharabah/qiradh (modal
usaha dan pengelola) dan lain-lain. Akad-akad tersebut bekerja secara periodik,
tidak bisa dibatalkan atau di-withdraw atau di-alihtangan-kan (hiwalah) manakala
kontrak sudah diakad dan bisnis sedang berlangsung hingga akhir periodenya
mengikut periodik bisnisnya (laporan keuangan per tutup buku), hingga akhir
periode baru re-kontrak (kontrak ulang) bisa dilakukan saat tutup buku, re-kontrak
bisa diajukan kembali ke Baytusysyirkah untuk memperbaharui sertifikat; adakah
re-kontrak itu terkait alih nama pemegang share (hiwalah) atau mengubah besaran
share.

157
Standar bisnis yang layak dan professional harus bisa menerbitkan laporan
keuangan yang baik dan berstandar, maka dari itu juga Baytusysyirkah
mengakomodasi dan menyediakan rekrutan tenaga akuntan. Bila ada sengekta
tertentu misalnya perolehan share yang tidak sesuai saat kontrak atau apapun
masalahnya, maka ia dapat diajukan kepada Baytusysyirkah untuk diaudit dan
menetapkan sanksi tertentu.

Baytusysyirkah sebagai rumah informasi akan menampilkan informasi-informasi
yang dibutuhkan bagi para pemodal dan para pebisnis yang sedang melakukan
pekerjaan professionalnya, list-list rekrutmen, list-list penawaran modal, dan list-list
bisnis serta profil-profilnya dan kontak-kontak tertentu. Di antara penawaran bisnis
tersebut ada dua kategori; penawaran bisnis baru (entry business) dan bisnis yang
sedang berjalan atau telah berjalan (running business), di-antara bisnis yang sedang
berjalan tersebut akan diratifikasi secara tingkat kesehatan keuangan atau tingkat
produktifitasnya, secara rutin periodik (up to date) dan akumulatif semenjak
perusahan/usaha tersebut didirikan.

Selain Baytusysyirkah menyediakan badan audit dan rating, Baytusysyirkah juga
menyediakan informasi mengenai outlook ekonomi dan bisnis kedepan yang bisa
menjadi panduan para professional pebinis dan pemodal, serta professi-professi
lainnya, Baytusysyirkah menyediakan badan hukum dan penyelesaian masalah, dan
bahkan Baytusysyirkah bisa juga menyediakan rekening kas untuk bisnis
(berasaskan sistem cadangan 100% dan terintegrasi dengan sistem survey zakat),
baytusysyirkah juga menyediakan ruang presentasi, ruang demonstrasi ilmiah dan
inovatif (inovasi dan teknologi baru yang menjadi potensi bisnis baru oleh peneliti
atau akademisi).

Mediasi Ekstensi: Sekolah Ekonomi-Bisnis dan Permagangan

Di bawah Baytusysyirkah ada media pembelajaran ia adalah institusi sekolah dan
permagangan (edukasi atau pembelajaran teori dan praktik) terkait ekonomi dan
bisnis. Keberadaan institusi ini penting yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan berikut:

- Para professional (pebisnis, pedagang, investor, dan lain-lain) harus
memenuhi prasyarat dasar; memahami ilmu iqtishad, fiqih dan batasan-
batasan halal-haram muammalah.
- Untuk memproduksi tenaga-tenaga akuntan dan permagangan tenaga-
tenaga akuntan.
- Untuk memfasilitasi permagangan keahlian bisnis dan manajerial.
- Untuk memproduksi tenaga-tenaga manajer berpengalaman (lewat
permagangan).

158
Mereka-mereka yang ingin terjun sebagai professional keuangan, ekonomi dan
bisnis, harus terlebih dahulu mengetahui dasar-dasar ilmu yang perlu diketahui
baik dalam ekonomi (ilm al-iqtishad) ataupun dalam fiqih (batasan-batasan, halal-
haram muammalah), seni bisnis dan manajemen, mengetahui standar-standar
pelaporan keuangan dan memiliki keterampilan-keterampilan yang diperlukan
dalam memenuhi prasyarat, misalnya; kemampuan membuat laporan keuangan
bisnis.
IX.IV
Infrastruktur Keuangan
Infrastruktur keuangan adalah prasarana atau fasilitas atau jasa keuangan yang
disediakan untuk mendukung kelancaran aktivitas ekonomi masyarakat seperti; (1)
fasilitas pinjaman, (2) fasilitas penitipan/tabungan dan (3) fasilitas transfer. Di
dalam sistem ekonomi ribawi, umumnya infrastruktur keuangan diperankan oleh
lembaga keuangan komersil, perbankan dan lembaga keuangan lainnya dengan
menawarkan jasa-jasa dan fasilitas-fasilitas keuangan tersebut yang bekerja dengan
cara riba seperti; pinjaman berbunga.

Jasa-jasa keuangan itu sendiri sejatinya diperlukan untuk mendukung kelancaran
aktivitas ekonomi, akan tetapi di dalam Islam konsepnya jasa-jasa keuangan itu
harus tidak berlaku dengan cara ribawi. Tetapi, maka dari itu, dengan cara
sebaliknya konsepsi keuangan Islam mengenai jasa-jasa keuangan itu justru
dibangun dengan konsepsi sedekah (tabarru‟). Misalnya fasilitas pinjaman di dalam
Islam tidak dibenarkan berlaku dengan cara menuntut imbalan bunga, pinjaman di
dalam Islam hanya sah berlaku sebagai pinjaman tabarru‟ (pertolongan atau
sedekah) yakni pinjaman qardhul hasan. Selain itu, fasilitas keuangan lainnya yang
termasuk penting dan dibutuhkan seperti; fasilitas tabungan dan fasilitas transfer
adakah ia boleh berlaku di dalam Islam?

Apabila ditinjau secara Islam, fasilitas tabungan sejatinya merupakan jasa keuangan
yang menyediakan kas/box atau wadah penitipan untuk mengamankan harta, ia
adalah usaha pengamanan harta, maka adalah sah-sah saja untuk mengenakan
ongkos/tarif/sewa pada kas tabungan ataupun mengenakan ongkos
administrasinya. Begitupun fasilitas transfer/wesel, adalah jasa keuangan yang
mengenakan ongkos pada biaya transportasinya atau administrasinya. Ongkos-
ongkos itu adalah sah-sah saja dituntut dari pengguna jasa. Membebaskan ongkos
pun sah-sah saja, ia terhitung sebagai pemberian (sedekah) kepada si pengguna jasa.
Namun yang menjadi tidak sah adalah bila perspektifnya diganti; seseorang yang
menitipkan hartanya kepada si penjaga titipan, tidak hanya sebagai „titipan‟ tetapi
juga sebagai „pinjaman‟ (loan) oleh karena itu si penjaga titipan dituntut dengan
imbalan atau kompensasi tertentu (sekalipun imbalan itu berupa pembebasan cost
pada kas rekening tabungannya) yang demikian bukanlah termasuk tabarru‟ atau

159
sedekah, melainkan transaksi ribawi; yaitu memperjualbelikan „jasa pinjaman‟ atau
„utang‟.

Oleh karena konsepsi keuangan Islam mengenai jasa-jasa keuangan dibangun
berdasarkan konsepsi sedekah, dengan cara sedekah, maka bentuk jasa-jasa
keuangan itu disediakan terbebas dari ongkos atau tarif atau biaya kepada
masyarakat. Hal ini berasaskan dan merupakan nilai-nilai kebijaksanaan Islam
untuk membangun jasa-jasa keuangan itu dengan cara sedekah, dengan cara
demikan ia akan memiliki kedudukan strategis tersendiri, terutama terhadap riba.
Alasan yang paling utama, pembebasan ongkos atas jasa keuangan adalah untuk
menghindari tercampurnya jasa-jasa keuangan dengan praktik riba dalam keuangan
dan memperbesar daya guna sedekah yang bersifat strategis dalam mengatasi
penyakit-penyakit ekonomi yang ditimbulkan oleh riba.

Lebih lanjut, apabila ditinjau dalam perspektif moral, jasa-jasa keuangan yang
sebetulnya merupakan komoditi (barang-jasa) strategis, karena hajat masyarakat
terkait jasa-jasa keuangan bersifat komplementif dengan hajat terhadap uang itu
sendiri, di mana ia merupakan komoditi yang menjadi hajat orang banyak. Apabila
ditinjau dalam perspektif moral, dalam tinjauan moral Islam komoditi strategis
yang menyangkut hajat orang banyak harus dikuasai oleh pemerintah (khalifah)
atau ia dimiliki seluruh ummat islam secara berserikat tanpa terkecuali (milik
umum) dan termasuk komoditi strategis yang dimaksud itu ialah infrastruktur
keuangan. Maka dari itu jasa-jasa keuangan sebetulnya dalam tinjauan moral tidak
dibenarkan dikuasai oleh entitas bisnis (badan privat), karena komoditi strategis
yang tidak dikuasai oleh pemerintah (khalifah) atau dimiliki seluruh ummat islam
(sebagai milik umum) berpotensi memberikan entitas bisnis tertentu kekuasaan
monopolistik atas pasar, di mana kekuasaan monopolistik akan membuat seseorang
(badan privat) menetapkan harga secara sepihak dan zalim terhadap masyarakat
umum dan bahkan kekuasaan kekayaan yang diperolehnya lewat kuasa
monopolistik bisa mengancam kekuasaan pemerintah (khalifah) atau membuat
hukum mandul (memakzulkan hukum) bila hingga pada akhirnya entitas bisnis
tersebut lebih kaya dari pada pemerintah (Khalifah).

Di sinilah kaitannya, di mana jasa-jasa keuangan itu sendiri di dalam Islam mesti
dibangun bersifat sedekah, bebas dari tarif atau biaya atau ongkos. Jasa-jasa
keuangan yang bebas dari ongkos atau biaya atau tarif itu hanya bisa disediakan
oleh pemerintah (khalifah), mengapa?. Hal ini karena, karakteristik yang inheren
pada badan privat (entitas bisnis) adalah tuntutan profit (orientasi profit), di mana
sustainability badan privat (entitas bisnis) itu berkegantungan terhadap profit agar
institusi tersebut tetap berkelangsungan, berkelanjutan dan akan mustahil atau
berat bagi badan privat (entitas bisnis) yang bersifat komersil ini untuk
menyediakan jasa-jasa keuangan yang bebas tarif. Berbeda dengan badan
pemerintah (khalifah), badan pemerintah memiliki kekuasaan hukum memperoleh

160
pemasukan pasti lewat sistem perpajakan (Baytulmal; sistem perpajakan yang
mendistribusikan kekayaan yang hanya memungutnya dari si kaya kepada si
miskin), sehingga badan pemerintah tidak semestinya berorientasi profit mencari
keuntungan dan tidak selalu sibuk dengan urusan mengatasi sustainability institusi,
tetapi sebagai tugas pemerintah, ia hanya fokus kepada pengentasan masalah
ummat, orientasi mashlahat dan keselamatan ummat dari marabahaya (dunia dan
akhirat), oleh karena itu jasa-jasa keuangan yang bebas tarif hanya bisa disediakan
oleh entitas pemerintah (khalifah).

Dengan demikian, bila hal ini diterapkan, yakni pembebasan biaya atas jasa-jasa
keuangan (infrastruktur keuangan), hal ini akan memberi dampak dan peran
strategis pada infrastruktur keuangan yang bersifat sedekah ini untuk mematikan
usaha-usaha jasa keuangan komersil badan privat (entitas bisnis), mencegah badan
privat (entitas bisnis) eksis atau survive menjalankan usaha-usaha jasa keuangan, di
mana ia sejatinya tidak dibenarkan untuk menjalankan usaha-usaha terkait
komoditi yang menjadi hajat orang banyak, sekaligus pembebasan biaya jasa-jasa
keuangan juga berperan strategis untuk mematikan usaha-usaha jasa keuangan
ribawi. Disamping itu keuntungannya, pembebasan biaya atas jasa-jasa keuangan
akan berperan strategis sebagai insentif ekonomi yang sangat baik; yang memacu
produktifitas dan kegiatan ekonomi riil.

Maka dari itu „Infrastruktur Keuangan‟ di dalam konsepsi Islam dan praktinya, ia
mesti dikuasai dan disediakan oleh entitas pemerintah dan bersifat sedekah (barang
gratis), di mana sumber pendanaannya dan penutupan biaya-biaya ongkos
operasional dan administrasinya bersumber pada sumber keuangan publik
Baytulmal (alokasi penyaluran umum), di mana sistem perpajakan Baytulmal
bersifat mendistribusikan kekayaan hanya memungutnya dari golongan menengah
atas dan disalurkan ke golongan menengah bawah dan umum dalam cara yang adil.
„Infrastruktur Keungan‟ di dalam konsepsi Islam bukan disediakan oleh entitas
bisnis (badan privat), lembaga keuangan dan perbankan komersil yang memberikan
entitas-entitas bisnis tersebut kuasa monopolistik dari barang publik yang menjadi
hajat orang banyak. Begitupun semua barang publik di dalam Islam, hendaknya
berlaku bebas tarif, sebagai sedekah pubik, sebagaimana pasar di dalam Islam
adalah sedekah (bebas pungutan atau rente).

161
X

TABUNGAN DAN INVESTASI

X.I
Tabungan dan Investasi

D alam ekonomi ada dua pilihan kegiatan yang ditempuh untuk pemenuhan
kebutuhan hidup di masa depan, di antaranya; (1) Alokasi harta pada akun
tabungan dan (2) Alokasi harta pada akun investasi. Ke dua-duanya sama-
sama memberi manfaat di masa depan. Akan tetapi adakah kiranya dari keduanya
itu memiliki perbedaan mendasar yang perlu difahami?

Perspektif moral ekonomi Islam umumnya sering mempromosikan seperti ini;
„harta haruslah dikeluarkan, harta tidak boleh disimpan‟. Hal ini sangat beralasan
karena banyak dalil dalil yang mengancam perilaku menimbun harta (ihtikar), sirah
Rasulullah dan atsar para sahabat pun banyak pula menunjukan atau memberikan
contoh di mana mereka sering tidak menyimpan uang atau hartanya terlalu lama,
akan sering di dapati mereka akan membelanjakannya atau kebanyakan
menyedekahkannya. Maka perspektif moral yang dipromosikan ini seolah membuat
kesimpulan; „mengalokasikan harta pada tabungan adalah perkara yang harus
dijauhi adapun yang lebih baik dan yang mestinya dilakukan hanyalah
mengalokasikan harta pada sektor investasi‟, apalagi di saat zaman modern ini di
mana tabungan berlaku secara ribawi di dalam sistem perbankan, perspektif moral
yang menganjurkan tindakan „menjauhi tabungan dan mewajibkan investasi‟ lebih
kuat lagi.

Pertanyaan yang menggelitik sebetulnya adalah; adakah tabungan dan investasi
memiliki perbedaan mendasar? lalu jika ada apakah tabungan dan investasi bersifat
subtitutif (saling menggantikan, meniadakan) ataukah tabungan dan investasi
bersifat komplementif (saling melengkapi, keduanya perlu ada).

Jika kita berkaca pada perspektif moral ekonomi Islam yang sering dipromosikan
secara umumnya, tabungan dan investasi sepertinya bersifat subtitutif (saling
menggantikan), di mana dalam pandangan moral ini; „investasi lebih baik, lebih
wajib dari pada tabungan, bahkan tabungan bisa jadi haram‟. Yang perlu kita
lakukan sebetulnya adalah penelusuran adakah dalil atau contoh tabungan di

162
dalam Islam itu dibenarkan/dibolehkan ataukah ia secara totalnya dibenci
(makruh) atau diharamkan?

Di dalam Al-Quran (Quran, Surat Yusuf 12: 43–49), kegiatan menabung atau
menyimpan ternyata ada contohnya. Misalnya ia adalah cerita Nabi Yusuf a.s. yang
memperoleh ilmu dari Allah akan takwil mimpi berupa prediksi keadaan ekonomi
di masa depan mesir saat itu yaitu; prediksi akan datangnya masa subur dalam 7
tahun dan masa panceklik dalam 7 tahun. Maka rekomendasi kebijaksanaan yang
ditawarkan oleh Nabi Yusuf a.s. kepada raja mesir saat itu ialah menanam dan
mengalokasikan harta (gandum) saat-saat masa subur untuk disimpan, agar ia bisa
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup pada saat-saat masa panceklik ke
depannya.

Bila kita boleh ambil kesimpulan dari keseluruhan ayat Al-Quran, sebetulnya
kegiatan menabung itu ada dan diakui di dalam Islam, ia sah-sah saja dan boleh-
boleh saja. Namun motif-motif yang benar di dalam menabung itu yaitu motif
berjaga-jaga (takaful) atau motif memenuhi kebutuhan hidup di masa depan,
adapun motif yang salah ialah motif cinta pada harta dan berlaku menimbun harta
kekayaan (ihtikar). Di sisi lain, keberadaan syariat Zakat apabila ia ditegakkan bisa
berperan untuk mencegah perilaku menimbun harta kekayaan di mana Zakat akan
memangkas harta seseorang setiap tahun bila harta itu terus menerus menganggur
(idle) hingga ia sampai kepada batas (limit) nishab.

Walaupun demikian, namun, apabila tabungan bekerja dengan cara ribawi hal ini
tentu saja membut kegiatan menabung menjadi relatif haram dibandingkan
investasi, maka pandangan moral akan melihat hanya investasi-lah satu-satunya
jalan yang harus ditempuh dari pada menempuh tabungan yang bekerja dengan
cara riba itu (untuk membantu pemenuhan kebutuhan hidup di masa depan). Oleh
karena itu hadirnya riba dalam cara kerja tabungan (sebagaimana yang berlaku
dalam cara kerja perbankan komersil modern) membuat tabungan dan investasi
bersifat subtitutif. Adapun bila masalah riba sudah disingkirkan dari cara kerja
tabungan lantas masihkan ia bersifat subtitutif terhadap investasi?, maka kita
kiranya perlu menelaah lebih lanjut, sifat yang mendasar dari perbedaan investasi
dan tabungan.

Apabila ditelaah lebih lanjut, tabungan dan investasi memiliki perbedaan sifat yang
mendasar yaitu; (1) Tabungan aman dari risiko (selama harta yang disimpan bukan
berupa uang fiat modern ini yang ia mengalami inflasi), sementara (2) Investasi
tidak aman dari risiko. Harta yang dialokasikan pada tabungan seharusnya
senantiasa berada dalam status aman (nilainya tetap), karena ia adalah harta yang
disimpan agar ia bisa digunakan di masa depan dengan nilai yang tetap seperti
semula ia dicadangkan. Adapun harta yang dialokasikan pada investasi tidak aman
dari risiko, harta yang dialokasikan pada investasi berada dalam pertaruhan risiko

163
usaha, di mana ia memiliki tiga kemungkinan, (1) hartanya bertambah, (2) hartanya
tetap, (3) hartanya berkurang.

Selain tabungan dan investasi itu memiliki perbedaan sifat, ia juga memiliki
perbedaan fungsi yaitu; (1) tabungan bukanlah sebuah professi (pekerjaan),
sementara (2) investasi merupakan sebuah professi (pekerjaan). Ini artinya,
kegiatan tabungan tidak memerlukan keahlian khusus sementara investasi sejatinya
adalah „sebuah pekerjaan‟ di mana ia harus memenuhi syarat keahlian dan
kapasitas yang diperlukan sebagai seroang investor; artinya ia harus menugasai ilmu
ekonomi atau ilmu bisnis atau pengetahuan produk dan lain-lain, sekalipun ia
bekerja bersama dengan seorang manajer investasi.

Maka dari itu, berdasarkan sifat-sifat mendasar perbedaan antara tabungan dan
investasi tersebut, di mana riba sudah dihilangkan dari cara kerja tabungan, maka
tabungan dan investasi itu sebetulnya bersifat komplementif; saling melengkapi dan
keduanya harus ada. Tabungan dan investasi secara alamiah dan fitrahnya tidaklah
bersifat subtitutif, oleh karenanya tabungan dan investasi tidak bisa berfungsi
menggantikan satu sama lainnya.

Tabungan Tidak Bisa Menggantikan Fungsi Investasi

Apabila tabungan menggantikan fungsi investasi, maka yang terjadi adalah,
seseorang akan memperoleh keuntungan dari simpanan. Ia adalah memberlakukan
simpanan sebagai investasi, di mana simpanan bekerja dengan cara pinjaman
berbunga, berlaku sebagai pinjaman berbunga. Apabila tabungan berfungsi sebagai
investasi pastilah ia akan berlaku dengan cara riba. Inilah persoalan yang berlaku
dalam sistem perbankan; yaitu membuat simpanan atau tabungan berfungsi
menjadi investasi.

Investasi Tidak Bisa Menggantikan Fungsi Tabungan

Sementara, perspektif moral yang tidak teliti yang dikeruhkan oleh situasi dan
kondisi dilematika khas peradaban modern yang menyerang „tatanan moral‟ yang
beranggapan bahwa; investasi adalah solusi wajib untuk menghindari keuangan
ribawi, sementara beranggapan „investasi bisa berfungsi layaknya akun tabungan‟;
seperti yang muncul dalam solusi-solusi keuangan syariah atau keuangan Islam atas
sistem ribawi. Maka orang sekarang pikirannya menjadi tidak sehat, karena ketika
seseorang menyimpan hartanya pada akun investasi, yang ia dapati adalah risiko
usaha, sedangkan kebutuhannya sebetulnya adalah mengamankan harta dari risiko
(yaitu menyimpan atau mengamankan harta). Apabila terjadi kerugian, maka
seseorang yang mengamankan hartanya pada akun investasi tiba-tiba protes dan
menuntut klaim bahwasanya harta simpanannya mestinya aman. Ianya menuntut
menjadikan suatu usaha yang memastikan keamanan, yaitu menuntut keuntungan

164
tetapi dengan mengebalkan diri dari risiko kerugian (bisnis anti-rugi).
Sesungguhnya ia adalah intisari cara kerja riba.

Oleh karena itu semua, pada saat tabungan bekerja dengan cara kerja ribawi yaitu
„tabungan yang berfungsi sebagai investasi‟, persepektif moral yang menganjurkan
untuk menghindari tabungan dan mewajibkan investasi adalah hal yang betul,
tetapi perspektif moral para sarjanawan dan ulama Islam harusnya juga teliti tidak
kemudian mengambil tindakan dengan cara sebaliknya yaitu ketika mewajibkan
atau menganjurkan investasi malah memberlakukan „investasi layaknya tabungan‟,
yang jatuhnya sama-sama riba. Selain dari pada itu ketika riba sudah bisa
dihilangkan dari cara kerja tabungan dan investasi, „penganjuran dan pewajiban
investasi dari pada tabungan dan me-makruh-kan tabungan‟ juga sudah tidak
relevan lagi, di mana hal ini dapat memberatkan dan mempersusah masyarakat
ekonomi, yaitu setiap orang yang telah bekerja dan mengambil bidangnya secara
spesifik berdasarkan bakat dan minat serta kemampuannya, tiba-tiba harus
diwajibkan untuk mengambil satu pekerjaan lagi yaitu sebagai „investor‟ manakala
ia bukan menjadi bakat dan minatnya, sekalipun dibantu dengan manajer investasi.
Jadi maksudnya, investasi tidak bisa diwajibkan kepada setiap orang, tetapi
walaupun demikian pekerjaan investor adalah pekerjaan yang baik. Akan lebih
bagus bila setiap orang dibebaskan memilih pilihannya masing-masing adakah itu
menabung atau terjun sebagai seorang investor/pemodal (untuk mengantisipasi
kebutuhan di masa depannya). Adapun menabung di satu sisi, tidak perlu keahlian
karena ia bukan pekerjaan, dan semua orang bisa melakukannya.

X.II
Tabungan Dalam Islam
Konsepsi tabungan di dalam Islam adalah aman dari risiko. Karena maksud semula
seseorang menyimpan atau menabung suatu harta adalah untuk mengamankannya
dari berbagai kemungkinan yang dapat membuatnya rusak, berkurang, hilang dan
lain-lain agar kemudian harta itu dapat digunakan di masa depan di mana ia
membutuhkannya. Konsekuensi tabungan yang aman dari risiko, adalah tabungan
itu di dalam Islam sejatinya menganut sistem cadangan 100% [bukan sistem
cadangan 10% (giro wajib minimum 10% atau fractional reserve requirment 10%)],
yaitu 100% harta simpanan. Si penerima titipan hukum asalnya tidak dibenarkan
menggunakan harta titipan tersebut untuk kemanfaatan apapun, itulah maksud
sistem cadangan 100%. Kapanpun si penitip meminta uangnya kepada yang
dititipi, harta titipan itu harus diberikan, sehingga ia bersifat full access, sehingga
tabungan bisa memenuhi motif berjaga-jaga (takaful) si penitip (maka berdasarkan
ini tidak perlu ada asuransi pula, tabungan sudah bisa berfungsi demikian, sesuai
kemampuan dan kebutuhan masing-masingnya, kecuali ia adalah tidak mampu
menabung maka qardh hasan yang disediakan Infrastruktur Keuangan adalah

165
solusinya). Barangkali di dalam perbankan syariah ia disebut sebagai akad wadhiah
yad amanah; yaitu suatu titipan harta yang oleh penitipnya tidak diizinkan untuk
menggunakannya untuk kegunaan apapun kepada yang dititipi.

Adapun pada umumnya di dalam sistem perbankan komersial modern, tabungan
dipraktikkan secara simpan-pinjam (atau simpan-investasi pada bank syariah/islam),
yang menganut sistem cadangan wajib minimum sebesar 10%. Itu artinya 90%
harta titipan boleh digunakan oleh si penerima titipan (bank) untuk pemanfaatan
tertentu; apakah itu untuk menyediakan pinjaman berbunga atau untuk digunakan
kepada usaha tertentu.

Harta titipan atau simpanan yang boleh dimanfaatkan itu menganut sistem simpan-
pinjam (atau simpan-investasi), sebagaimana yang berlaku pada cara kerja
perbankan, hal ini sebetulnya merupakan praktik janggal dan rancu. Pemanfaatan
harta titipan tidak sesuai sama sekali dengan maksud tujuan dari penitipan harta
tersebut; yaitu „pengamanan harta‟ (mengamankan harta dari kemungkinan risiko-
risiko). Di dalam perbankan syariah, sistem seperti ini yaitu simpan-pinjam atau
simpan-investasi disebut dengan akad wadhiah yad dhamanah; yaitu suatu titipan
harta yang oleh penitipnya diizinkan untuk menggunakannya kepada yang dititipi
(asalkan si penerima titipan itu bisa memastikan keamanan hartanya/ketika
dikembalikan hartanya harus sama seperti semula dititipkan). Lalu adakah wadhiah
yad dhamanah ini atau konsep „simpan-pinjam‟ atau „simpan-investasi‟ ini sah
(dibolehkan atau dibenarkan) dalam tinjauan Islam?

Apabila kita tinjau lebih dekat wadhiah yadh dhamanah sejatinya berlaku dua akad di
dalamnya, yang pertama akad titipan (wadhiah) di mana si penitip menitipkan harta
kepada yang dititipi dan kedua akad pinjaman (qardh) atau akad qiradh
(mudharabah) di mana harta tersebut (selain sebagai titipan) juga sekaligus dipinjam
atau diusahakan untuk menghasilkan manfaat atau keuntungan. Oleh karena itu,
akad wadhiah yad dhamanah, atau apapun lembaga keuangan baik konvesional
maupun syariah yang menganut sistem „simpan-pinjam‟ atau „simpan-investasi‟
sejatinya mengkombinasikan dua akad ke dalam satu akad, hal ini terlarang dalam
Islam, ia membuka kemungkinan praktik riba. Jelas saja memberlakukan „dana
titipan‟ sebagai „pinjaman‟ membuat uang mengganda (sebagaimana yang
dijelaskan di „Bab 6 Sistem Keuangan‟ mengenai Bank dan FRR). Seseorang yang
dititipi harta hendaknya menggunakan satu akad saja, adakah itu akad titipan atau
simpanan (wadhiah) maka ia akan menyatakan dalam usahanya „membuka jasa
titipan‟; sebagai konsekuensinya harta itu aman dari risiko (sebagai tabungan),
ataukah ia akad pinjaman (qardh) maka ia menyatakan „menerima pinjaman dana‟;
sebagai konsekuensinya harta itu tidak aman dari risiko tetapi ia merupakan amal
bantuan (tabarru) atau sedekah yang berpahala, ataukah ia akad qiradh maka ia
menyatakan „menerima dana kerjasama (qiradh)‟; sebagai konsekuensinya harta itu

166
tidak aman dari risiko tetapi memiliki kesempatan keuntungan, itu lah kejujuran
yang harus diungkapkan. [Adapun pada akad „simpan-pinjam‟ atau „simpan-
investasi‟ sebagai konsekuensinya menyebabkan usaha yang dijalankannya „aman
dari risiko‟ atau ia adalah „bisnis anti-rugi‟]

Namun juga di sisi lain, sebetulnya akad wadhiah yad dhamanah [yang di dalamnya
terdapat dua akad; yaitu wadhiah/titipan dan qardh/pinjaman] ini hanya sah sebagai
akad tabarru‟ (bantuan-pertolongan atau sedekah) di mana sang pemilik dana
sejatinya hanyalah memberikan sedekah atau pemberian manfaat kepada orang
yang dititipinya di mana orang yang dititipi boleh memanfaatkan harta titipan
tersebut; maka orang yang dititipi memiliki kewajiban moral untuk mengembalikan
pinjaman tersebut, dan dalam menjalankan usaha berdasarkan dana tersebut harus
menjalankannya tidak berlaku „anti-rugi‟; mengebalkan diri dari rugi, sehingga bila
terjadi rugi maka kerugian itu adalah tanggungannya sendiri. Namun apabila akad
tabarru dikomersilkan atau dituntut sebagai bayaran atau kompensasi atau timbal
balik ia telah jatuh kepada riba, sama halnya pinjaman (qardh) (sebagai akad tabarru
dan bersifat sedekah) apabila diberi harga (imbalan bunga), maka ia adalah riba.
Maka oleh karena itu, berdasarkan itu semua, tabungan dalam konsepsi Islam ia
sejatinya bersifat:

1. Bebas dari risiko (Free Risk)
2. Berasaskan sistem cadangan 100%
3. Full access (kapanpun di-withdraw harus diberikan akses)

Jasa atau fasilitas tabungan yang disediakan „Infrastruktur Keuangan‟ yang
diprakarsai Khalifah juga sepatutnya menerapkan sistem ini; yaitu sistem cadangan
100% yang aman dari risiko, kecuali ia khusus dialokasikan sebagai pinjaman
tabarru yang berisiko namun berpahala, yang telah diniatkan bagi pemilik dananya
sebagai dana tabarru/pemberian atau sedekah.

X.III
Investasi Dalam Islam
Investasi adalah alokasi harta atau uang kepada unit usaha tertentu, suatu usaha
atas komoditi yang sah untuk berkembang biak, seperti usaha perniagaan („Allah
menghalalkan jual-beli‟; Quran, Surat Al-Baqarah 2: 275), usaha produksi, usaha
pertanian, dan lain-lainnya.

Investasi dalam konsepsi Islam adalah alokasi dana yang secara penuh bertaruh dan
tertahan oleh risiko-risiko usaha. Maka dana yang dialokasikan kepada investasi
sejatinya ia adalah alokasi dana dengan sistem cadangan 0%, karena 100% ia
digunakan untuk usaha. Konsekuensi dari ini, dana investasi tidak bisa ditarik
(withdraw) sembarangan, seenaknya, atau ditarik kapanpun, ia merupakan alokasi

167
keuangan berjangka (berumur) mengikut usaha yang diinvestasikannya di mana
setiap usaha pastilah memiliki umur (periodik). Maka dari itu penarikan (withdraw)
bisa dilakukan saat per-tutup buku sesuai periodik tertentu adakah itu perbulan,
perkuartal, persemester atau pertahun. Maka sifat alokasi dana investasi ini tidak
full acces sebagai mana tabungan, melainkan limited acces atau periodic access,
withdraw hanya bisa dilakukan setelah tutup buku, ini untuk memastikan
kalkulasinya tuntas.

Oleh karena itu, tindakan menjual share (bagian saham) pada unit investasi
sejatinya secara tidak langsung melakukan withdraw ditengah jalan, dan apabila
seseorang memperoleh untung dari menjual share, ia sejatinya menjual modal
(uang) bukan menjual asset yang ada pada unit investasi tersebut. Itulah riba dalam
investasi. Oleh karena itu, Investasi dalam konsepsi Islam ia bersifat:

1. Ber-risiko (Full Risk)
2. Alokasi dana yang berasaskan sistem cadangan 0%
3. Limited acces atau berjangka (periode)

Di Baytusysyirkah dalam konsepsinya, alokasi dana pada usaha-usaha bersifat
berjangka adapun re-kontrak baik itu hawalah atau besaran share baru atau
penambahan anggota perserikatan, hanya bisa dilakukan setelah tutup buku, tidak
ada kontrak di tengah-tengah periode.
X.IV
Pinjaman dalam Islam
Dana yang dialokasikan sebagai pinjaman di dalam Islam sejatinya bukan bersifat
komersil, tetapi sebagai pinjaman sedekah atau amal bantuan (tabarru),
memperlakukan dana pinjaman sebagai dana komersil (ada syarat dan tuntutan
timbal balik atasnya) akan jatuh kepada riba. Akan tetapi karakteristik dana yang
dialokasikan kepada pinjaman bersifat berisiko hal ini karena dana digunakan
untuk keperluan si peminjamnya adakah itu untuk keperluan konsumtif atau
keperluan produktif tertentu dan bagi si peminjamnya ada kewajiban moral untuk
mengembalikan dana pinjaman pada tempo yang ditentukan, oleh karena itu dana
yang dialokasikan kepada pinjaman bisa kembali bisa tidak alias gagal bayar.
Namun, di dalam Islam sebagai balasan bagi si pemberi pinjaman adalah pahala
dari Allah. Oleh karena itu berdasarkan ini semuanya, karakteristik alokasi dana
pinjaman di dalam konsepsi Islam ia bersifat:

1. Ber-risiko (berisiko sebagian)
2. Alokasi dana yang berasaskan sistem cadangan 0% (di mana ia digunakan
untuk keperluan peminjamnya)
3. Limited acces atau berjangka (tempo)

168
XI

EKONOMI MAKRO: KONTROL
KEBIJAKAN DAN PEMBANGUNAN

XI.I
Kebijakan dan Kontrol Baytulmal

S
istem perpajakan Baytulmal memiliki ciri unik tersendiri, Baytulmal memiliki
dua jenis alokasi dana; yaitu (1) jenis alokasi yang khusus (wajib) yaitu zakat
(2) jenis alokasi umum (untuk keperluan umum). Adapun pemasukan
Baytulmal ada tiga jenis sumber pemasukan; (1) sumber pemasukan pasti yaitu;
pajak (pungutan yang wajib); (a) Zakat (b) Pajak-Non-Zakat, (c) Pajak-Insidentil, (d)
Pajak-Ekstra, (2) sumber pemasukan dari dana sukarela atau sedekah; (a) sedekah-
infaq, (c) sedekah-waqaf, dan (3) sumber pemasukan dari infrastruktur atau barang-
publik komersil (Pajak-Tarif). Sistem perpajakan Baytulmal yang unik ini
memungkinkan Baytulmal berperan sebagai kontrol kebijakan yang fleksibel,
efisien dan efektif untuk mencapai tujuan-tujuan ekonomi dan mengentaskan
masalah-masalah ekonomi. Di antara kontrol atau kebijakan-kebijakan efektif yang
bisa dilakukan oleh Baytulmal, sebagaimana berikut:

Insentifikasi Ekonomi

Dana keuangan Baytulmal yang memiliki jenis alokasi umum di antaranya; (1)
Sedekah, (2) Pajak-Non-Zakat, Pajak-Insidentil, Pajak-Ekstra, (3) Pajak-Tarif (atau
komersil). kesemuanya (sebagai jenis dana alokasi untuk umum) menjalankan
peran sebagai instrumen insentif ekonomi. Jenis dana alokasi umum digunakan
untuk memberikan insentif yaitu membangunkan prasarana dan fasilitas;
infrastruktur ekonomi dan infrastruktur keuangan.

Infrastruktur ekonomi berupa; pasar-pasar, institusi Baytusysyirkah, infrastruktur
air; sanitasi dan irigasi, infrastruktur energi-listrik, jalan besar atau jalan raya,
jembatan, alat transportasi, telekomunikasi, gudang-gudang penyimpanan (lodge),
dan lain-lain.

Infrastruktur keuangan berupa; (1) fasilitas pinjaman [qardh-hasan, bunga 0%], (2)
fasilitas tabungan [sistem cadangan 100%], (3) fasilitas transfer atau wesel.

169
Di antara semua jenis infrastruktur yang disebutkan di atas, fasilitas pinjaman
(qardh-hasan) memiliki peranan yang menonjol dalam hal memberikan insentif
ekonomi, menggantikan (men-subtitute) sistem moneter-perbankan modern.
Insentifikasi ekonomi, bisa dilakukan dengan mengendalikan (suplai) besaran
kuota pinjaman, baik dengan memperbesarnya atau membebaskannya (kebijakan
longgar), atau memperkecilnya atau membatasinya (kebijakan ketat).

Kebijakan mengadakan besaran kuota pinjaman, ditentukan oleh tingkat
kebutuhan masyarakat terhadap pinjaman. Apabila kebutuhan pinjaman dirasa
tinggi maka besaran kuota pinjaman ditambah, dengan mengalokasikan dana
umum Baytulmal kepada penyediaan dana qardh. Sebaliknya bila dana qardh
mengganggur (idle), ia indikasi kebutuhan masyarakat terhadap pinjaman sudah
tidak ketergantungan, bila demikian, alokasi dana qardh dikurangi, diambil kembali
oleh Baytulmal dan bisa dialokasikan untuk keperluan umum lainnya.

Stabilitasi Ekonomi

Instrumen stabilitasi di dalam ekonomi Islam adalah zakat yang dijalankan oleh
Baytulmal, bukan instrumen moneter (bunga) yang dijalankan oleh bank sentral.
Di antara fungsi zakat ialah;

1. Mempertahankan stabilitas daya beli dan harga-harga di pasar, di mana
zakat mendistribusi ulang kekayaan dari si kaya kepada si miskin, sehingga
si miskin tetap bisa berpartisipasi dalam sistem ekonomi, sehingga kekuatan
supply dan demand yang membentuk harga-harga di pasar tetap cenderung
stabil.
2. Sebagai sistem penyelamatan sosial-ekonomi, yaitu menyelamatkan generasi
atau populasi manusia secara utuh dari kemiskinan dan kepapaan serta
bencana kelaparan.
3. Mendistribusi ulang kekayaan dari si kaya kepada si miskin, sehingga tidak
terjadi ketimpangan yang berpotensi kepada chaos dan kegagalan sistem
hidup (sosial dan negara), termasuk kegagalan sistem ekonomi.

Ekspansi Ekonomi

Ekspansi ekonomi adalah kebijakan ekonomi longgar, tujuannya untuk
memperbesar volume ekonomi. Di antara instrumen yang bisa digunakan ialah; (1)
Pajak-Ekstra; (a) infaq-wajib dan (b) ekstra-jizyah, (2) Infastruktur Keuangan; (a)
suplai qardh, (3) Pajak-Tarif: infrastruktur bertarif atau barang publik bertarif.
Adapun pendekatan cara-cara atau metode melakukan kebijakan longgar adalah
sebagai berikut:

170
Kebijakan longgar Baytulmal dengan pengeluaran:

1. Meningkatkan belanja umum
2. Subsidiary; meningkatkan pemberian santunan faqir-miskin atau kaum
dhuafa atau anak yatim atau kaum disabilitas (tambahan di samping
zakat/hak khumus)

Kebijakan longgar pajak-ekstra, di antaranya:
1. Meningkatkan limit nishab wajib pajak.
2. Menurunkan kadar (prosentase) pungutan pajak

Kebijakan longgar pajak-tarif:
1. Menurunkan tarif (harga) infrastruktur (barang publik) komersil (non-
barang gratis)

Kebijakan longgar suplai qardh, di antaranya:
1. Menambah alokasi dana qardh
2. Membebaskan kuota pinjaman dana qardh

Kontraksi Ekonomi

Kontraksi ekonomi adalah kebijakan ekonomi ketat, tujuannya untuk memperkecil
volume ekonomi. Di antara instrumen yang bisa digunakan ialah; (1) Pajak-Ekstra;
(a) infaq wajib dan (b) ekstra jizyah), (2) Infastruktur Keuangan; suplai qardh, (3)
Pajak-tarif; Infrastruktur bertarif atau barang publik bertarif. Adapun pendekatan
cara-cara atau metode melakukan kebijakan ketat adalah sebagai berikut:.

Kebijakan pengeluaran baytulmal:
1. Menurunkan belanja umum

Kebijakan ketat pajak-ekstra, di antaranya:
1. Menurunkan limit nishab wajib pajak
2. Meningkatkan kadar (prosentase) pungutan pajak

Kebijakan ketat pajak-tarif:
1. Meningkatkan tarif (harga) infrastruktur (barang publik) komersil (non-
barang gratis)

Kebijakan ketat suplai qardh, di antaranya:
1. Mengurangi/withdraw alokasi dana qardh
2. Membatasi/menurunkan kuota pinjaman dana qardh

171
XI.II
Kebijakan dan Kontrol Infastruktur Keuangan; Dana Qardh
Perlu dijelaskan kembali kelebihan atau manfaat dari Infastruktur Keuangan
terutama fasilitas pinjaman qardh. Sebagaimana yang telah diterangkan sebelumnya,
ia bisa berperan strategis sebagai; (1) Insentif ekonomi, (2). Subtituter (pengganti)
pinjaman ribawi, (3) Strategi ekonomi dan keuangan Islam untuk menekan usaha
keuangan ribawi, dan satu tambahan lagi sebagai (4) kontrol ekonomi kontraktif
dan ekspansif (dalam mempengaruhi suplai uang). Kebijakan dan Kontrol
Infrastruktur Keuangan fasilitas qardh sejatinya berada dibawah otoritas Baytulmal
dan merupakan bagian dari Baytulmal itu sendiri. Selain dari pada itu alokasi dana
qardh sejatinya merupakan „dana pinjaman bergulir‟ (revolving loan funds) yang bisa
berfungsi secara abadi (berterusan), selain ia memberi manfaat secara ekonomi,
secara ritualis ia mengalirkan pahala kolektif suatu populasi ekonomi dan akan
menambah keberkahan suatu ekonomi; “Allah memusnahkan Riba dan menyuburkan
Sedekah” (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 276).

Adapun kebijakan-kebijakan yang dapat diperankan infrastruktur dana qardh dalam
mempengaruhi ekonomi sebagaimana sebagiannya telah diterangkan sebelumnya
(dan juga sistemnya di „Bab 7 Konsepsi Keuangan Publik Islam‟), adapun sebagai
tambahan, gambarannya adalah sebagaimana berikut.

Menaikan dan menurunkan batasan (limit) penyaluran dana qardh (lending)

Jumlah dana yang dipinjamkan kepada peminjam dapat diatur dengan menetapkan
batasan (limit), misal pinjaman maksimal yang dapat disalurkan per-entiti adalah 10
Dinar. Kebijaksanaan limit (batasan) ini tentu saja bisa dibuat berdasarkan berbagai
situasi dan kondisi dan rencana ekonomi ke depan. Misal bila tersedia dana qardh
yang banyak dan melimpah limit pinjaman dapat dinaikkan misalnya menjadi 20
Dinar per-entiti, 50 Dinar per-entiti dan sebagainya. Semuanya juga tergantung
pada kemampuan membayar dan skala individu ataukah skala perusahaan,
menengah ke atas atau menengah ke bawah.

Memperbesar dan memperkecil volume dana qardh

Alokasi penyaluran umum Baytulmal kepada infrastruktur keuangan; dana qardh
(fasilitas pinjaman) sejatinya mirip kebijakan menabung atau kebijakan surplus
(menyimpan sebagaian sumber keuangan Baytulmal kepada alokasi pinjaman
sebagai pinjaman kebaikan atau qardh-hasan yaitu bunga pinjaman 0%) dan dalam
hal ini volume dana qardh bisa diperbesar dan bisa diperkecil. Penyediaan dana
qardh atau memperbesar penyediaannya bisa diupayakan oleh pemerintah (khalifah)
dari menggali sumber-sumber keuangan alokasi penyaluran umum oleh Baytulmal,
apakah itu lewat; pajak-ekstra (infaq-wajib dan ekstra jizyah) atau lewat

172
penggalangan dana sukarela (sedekah infaq-waqaf) atau lewat tarif (infrastrutkur
bertarif), kesemuanya tentunya berdasarkan situasi dan kondisi serta pertimbangan
yang berlandaskan tolak ukur kebenaran dan keadilan.

Kebijakan memperbesar penyediaan dana qardh dirasa perlu apabila; ekonomi
sedang lesu atau ekonomi membutuhkan insentif untuk mendorong produktifitas,
untuk memacu giat dan pertumbuhan ekonomi. Selain dari pada itu kebijakan
memperkecil volume dana qardh dilakukan apabila; dana qardh memiliki tingkat
menganggur (idle), yang mengindikasikan bahwa masyarakat secara keseluruhan
telah mencapai kemandirian dan giat usaha yang tinggi sehingga tidak memerlukan
lagi sokongan dan insentif dana qardh. Pada tingkat ini pemerintah dapat
menurunkan jumlah dana qardh, mengambilnya dan mengalokasikannya pada
alokasi keperluan umum yang lainnya, misalnya pembangunan infastruktur, biaya
negara, biaya kemajuan teknologi (penelitian), santunan faqir-miskin.

Alokasi dana qardh sejatinya tidak akan berkurang – kecuali bila terjadi gagal bayar
yang memenuhi udzur syar‟i –, akan selalu bertambah bila ditambah atau
dialokasikan secara rutin atau sering (sesuai keperluan ekonominya). Tidak
mustahil, volume dana qardh bisa berkali-kali lipat dari kas Baytulmal (dari
likuiditas yang tersedia di Baytulmal), di mana penyaluran dana qardh yang massif
dan luas dalam jumlah besar akan berpotensi menekan pasar jasa keuangan atau
lembaga keuangan komersil ribawi. Sekalipun demikian dana qardh hanya ada bila
dirasa perlu dan bila dana qardh menganggur (idle), perlu ditarik dan dialokasikan
kepada pengeluaran-pengeluaran yang lebih bermashlahat.

XI.III
Tahap-Tahap Lepas Landas Ekonomi
Secara mendasar ada 3 tahap yang perlu dilakukan untuk membuat ekonomi lepas
landas. 3 langkah itu ialah:

1. Ekstraksi Sumber Daya Ekonomi
a. SDA (Sumber Daya Alam)
b. SDM (Sumber Daya Manusia)
c. SDU (Sumber Daya Keuangan)
2. Aktivasi pasar dan perserikatan (syirkah)
3. Kontrol Baytulmal dan Infrastuktur Keuangan Suplai-Qardh

Langkah 1: Ekstraksi Sumber Daya Ekonomi

Kesemua bentuk sumber daya baik SDA, SDM dan SDU adalah hal yang niscaya
dan penting. Ketidakadaan salah satunya merupakan kenihilan dalam menjalankan
sebuah ekonomi. Ketersediaan SDA bersifat penting dan pokok karena ekonomi

173
yang erat kaitannya dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti: sandang,
pangan dan papan, serta material lainnya yang dibutuhkan untuk memproduksi
komoditas kesemuanya memerlukan ketersediaan SDA. Namun ketersediaan SDA
tanpa ketersediaan SDM juga menjadi nihil yang SDM memegang peran sebagai
pelaku produksi dan pelaku ekonomi. Adapun ketersediaan SDU penting dalam
ekonomi karena tanpa ketersediaan SDU, di dalam ekonomi tidak terwujud
aktivitas pertukaran yang efisien karena uang memegang peranan sebagai alat tukar.

Meskipun demikian, ketersediaan sumber daya-sumber daya itu pada suatu kawasan
ekonomi pada dasarnya bervariasi. Ada suatu wilayah negara yang memiliki SDA
berlimpah ada juga yang tidak, ada suatu wilayah negara yang memiliki SDM
berlimpah ada juga yang tidak, ada suatu wilayah negara yang memiliki SDU (emas
dan perak) berlimpah ada juga yang tidak. Keragaman ketersediaan sumber daya-
sumber daya itu pada suatu negara tidak menjadikan hambatan selama negara itu
dapat menyesuaikan kebijaksanaan ekonominya berdasarkan bentuk ketersediaan
sumber daya-sumber dayanya dan bagaimanapun bentuk ketersediaan sumber daya-
sumber daya itu, negara tetap bisa mencapai tujuan pemenuhan kebutuhan hidup
masyarakatnya bila diatur dengan baik.

Langkah paling pertama yang dilakukan untuk menjalankan sebuah ekonomi
adalah meng-ekstraksi sumber daya-sumber daya yang tersedia secara optimal.

Pada sisi SDA, SDA yang tersedia perlu diolah sebaik-baiknya untuk menghasilkan
seluruh barang-barang atau komoditas-komoditas kebutuhan hidup dengan
menggunakan faktor-faktor produksi yang tersedia. Di antara komoditas-komoditas
yang diproduksi itu ialah; pangan, pakaian dan tekstil, material, perkakas dan
peralatan (barang teknologi) dan lain sebagainya. Produktivitas olah SDA juga akan
meningkat seiring meningkatanya keterampilan, keahlian, serta iptek (ilmu
pengetahuan dan teknologi) yang digunakan oleh suatu populasi ekonomi.

Pada sisi SDM, SDM yang tersedia perlu diolah untuk menghasilkan keterampilan,
keahlian, serta teknologi yang dikuasainya dalam hal ini institusi atau instrumen
pendidikan memainkan perannya dalam olah SDM (disamping fungsi pendidikan
yang terutama sekali tentu saja membangun karakter generasi mukminin).

Bila SDA dan SDM telah terolah. Diharapkan laju produksi barang-barang
kebutuhan hidup dapat mengimbangi atau melebihi laju kebutuhan hidup suatu
populasi walau bagaimanapun bentuk ketersediaan serta keterbatasan dari sumber
daya-sumber daya yang ada. Masalah dari sumber daya-sumber daya yang terbatas
itu dapat diselesaikan dengan intensifikasi SDA dan SDM berbasis iptek (ilmu
pengetahuan dan teknologi yang dibangun di atas landasan ilmiah quran; iptek
dengan landasan „tatanan moral‟; misalnya riset dan pengembangan teknologi tepat
guna (efficient-effective technology), teknologi ramah lingkungan dan ekonomis).

174
Dalam hal ini keterampilan dan teknologi memainkan peranan yang penting dalam
memaksimalkan sumber daya yang terbatas, begitu juga pada masalah SDM yang
terbatas dengan teknologi dapat mengubah haluan kebijakan faktor produksi dari
labor-intensif menjadi kapital-intensif untuk menghasilkan output produksi yang
sama. Keterampilan dan teknologi dihasilkan di institusi pendidikan dan keilmuan;
penelitian dan pengembangan (R&D).

Keterbatasan SDA dapat juga diatasi dengan intensifikasi SDA berbasis teknologi
dan arah kebijakan ekonomi pasar yang mengekspor jasa-professionalitaas SDM
atau ekspor barang jadi dan mengimpor bahan baku dari luar, serta menetapkan
industri jasa dan dagang sebagai industri unggulan.

Bila ekonomi sudah memiliki barang-barang kebutuhan hidup; barang-barang atau
komoditas ekonomi. Kebutuhan suatu populasi ekonomi selanjutnya adalah
ketersediaan mata uang. Ketidaktersediaan mata uang dalam suatu populasi
ekonomi akan menimbulkan masalah kesukaran dalam aktivitas pertukaran.
Setelah olah SDA dan SDM selanjutnya yang diperlukan adalah olah SDU atau
penyediaan mata uang atau modal.

Uang di dalam Islam adalah uang bernilai intrinsik atau uang berbasis komoditas.
Penyediaan mata uang dapat dilakukan dengan menggali sumber-sumber tambang
emas dan perak untuk dicetak menjadi Dinar dan Dirham. Bila sumber-sumber
tambang emas dan perak yang ada dalam suatu negara tidak memadai dalam
mencukupi kebutuhan likuiditas (kebutuhan akan uang) dalam suatu populasi
ekonomi maka, pemerintah dapat memberlakukukan atau menetapkan beberapa
komoditas pokok (pangan) yang memiliki sifat durable (tahan lama) dan tidak
mudah ter-depresiasi atau expire menjadi mata uang yang berlaku atau sebagai uang
yang sah (legal tender) (sama seperti 6 komoditi yang berlaku di pasar madinah) di
dalam suatu populasi ekonomi. Dengan ketersediaan mata uang sekarang
diharapkan aktivitas pertukaran atau jual-beli dapat berjalan lancar, sehingga
keberadaan barang-barang atau komoditas yang telah diproduksi tidak menjadi
nihil, sehingga terjadi mobilisasi dan dinamika ekonomi secara luas.

Langkah 2: Aktivasi Pasar dan Perserikatan

Bila seluruh sumber daya sudah disiapkan dan telah terolah, barang-barang atau
komoditas keluar dari bumi ke permukaan begitu pula mata uang telah dicetak dan
tersedia. Langkah yang harus dilakukan selanjutnya adalah penyediaan media-
media pasar dan syirkah.

Dengan wujudnya pasar; populasi ekonomi akan melakukan aktivitas pertukaran
secara luas (massif dan masal), dengan media-media pasar berperan menjalankan
fungsi konversi; yaitu fungsi mengubah bentuk suatu komoditi ke komoditi lain,
hal ini akan sangat bermanfaat untuk strategi alokasi dan manajemen kebutuhan-

175
kebutuhan hidup populasi ekonomi; (1) alokasi cadangan/tabungan, (2) alokasi
konsumsi, (3) alokasi investasi. Sehingga terjadi dinamika perputaran bagi
ekonomi.

Dengan wujudnya media-media syirkah (Baytusysyirkah); populasi ekonomi akan
melakukan pembentukan kemampuan finansial dari pembentukan modal (capital
formation), modal-modal terbentuk dari yang kecil-kecil dan tercerai berai menjadi
satu kesatuan dengan adanya media syirkah, sebagaimana media syirkah itu dalam
populasi ekonomi berperan menjalankan fungsi formasi. Seiring dengan
terbentuknya kemampuan finansial akan wujud pula aktivitas-aktivitas produktif.

Langkah 3: Kontrol Kebijakan Baytulmal dan Infrastruktur Keuangannya

Hadirnya peran pemerintah dalam ekonomi melalui Baytulmal dan Infrastruktur
Keuangannya, maka ekonomi tidak berjalan sendirian dengan aktivitas pasar dan
perserikatan di dalamnya. Baytulmal dan Infrastruktur Keuangan; sebagai sistem
keuangan publik yang berperan strategis dalam menentukan arah berjalannya
ekonomi memiliki mekanisme dan kontrol terhadap ekonomi yaitu:

1. Insentifikasi ekonomi
2. Ekspansi ekonomi
3. Kontraksi ekonomi
4. Stabilitasi ekonomi

Insentifikasi mendorong produktifitas dan output ekonomi, ekspansi dan
kontraksi ekonomi menyesuaikan dan mengatur volume ekonomi untuk
merekayasa siklus ekonomi-bisnis yang diharapkan. Serta stabilitasi untuk
menetralkan marginalitas; efek samping kompetisi ekonomi yaitu menyisakan
orang-orang yang tersingkirkan, kaum faqir-miskin dan dhuafa.

Itulah tiga langkah-langkah yang harus dilakukan untuk lepas landas, langkah yang
pertama yaitu; ekstraksi sumber daya, memastikan dapat berlakunya langkah kedua;
yaitu aktivasi pasar dan perserikatan, langkah kedua tidak mungkin atau nihil
berlaku tanpa langkah pertama. Begitu pula langkah kedua memastikan dapat
berlakunya langkah ketiga yaitu; kontrol kebijakan Baytulmal, yang langkah ketiga
itu tidak mungkin atau nihil tanpa langkah yang kedua. Jadi langkah-langkah ini
merupakan urutan.

Bila ketiga langkah itu sudah dapat berlaku, maka seiring waktu berjalan
kedepannya akan terjadi dinamika sosial-ekonomi ke-arah yang positif secara
berkesinambungan (virtous circle). Beriringan dengan peran kehadiran pemerintah
yang membebaskan korupsi atas pasar dan ekonomi oleh human error dan peran
pemerintah dalam memainkan kontrol dan kebijakan Baytulmal secara benar dan
adil, maka hanya kecelakaan alamiah (natural error) saja yang akan mempengaruhi

176
kondisi perekonomian. Sistem ekonomi ini, menyebabkan peradaban Islam bisa
berjalan ratusan tahun sebagaimana sejarah para kekhalifahan terdahulu, stabil dari
chaos atau kekacauan yang meruntuhkan sistem ekonomi itu sendiri (sebelum
dunia kedatangan sistem ekonomi ribawi yang diprakarsa peradaban Barat
Modern), apapun bentuk ekonominya pada masa itu di mana sistemnya masih
berpandukan Al-Quran dan „tatanan moral‟ sebagai landasannya.

177
XII

IDEOLOGI

XII.I
Ideologi Ekonomi Islam vs Ideologi Ekonomi Sekuler

S
etiap sistem ekonomi yang ada di dunia ini mengikuti Ideologi dasar yang
menjadi penopang sistem ekonomi tersebut. Ideologi yang dipahami sebagai
susunan ide-ide yang menjadi tujuan umum atau tujuan final kehidupan,
kemudian juga tujuan tersebut seperangkat dengan apa yang menjadi strategi,
metode dan cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Apa yang
membedakan antara orang-orang Islam (yang benar imannya) dengan orang-orang
yang sekuler (yang palsu imannya atau tidak beriman) adalah ide-ide tujuan
kehidupan itu lah yang membedakan begitu pula strategi, metode, dan cara
hidupnya juga mesti berbeda oleh karena apa yang ingin dicapai itu adalah hal yang
berbeda antara orang-orang Islam (mu‟min) dengan orang-orang sekuler (kafir).

Kaum sekuler pada umumnya tidak begitu yakin dengan konsep kehidupan ke-dua,
sebaliknya faham yang dominan diyakini kaum sekuler adalah faham materialisme,
apa yang nampak itulah yang paling esensi, yang lainnya ditolak dianggap hanya
sebagai ilusi dan tidak nyata, segala sesuatu yang tidak dapat dibuktikan lewat
pengamatan dan pengalaman indera serta nalar akal tidak bisa dijadikan pegangan
kebenaran.

Yang difahami orang-orang Islam (mu‟min) konsepsi kehidupan ke-dua itu adalah
nyata, apa yang datang dari Allah adalah nyata, apa yang datang dari Rasulullah ‫ز‬
adalah nyata. Maka dari itu tentu saja kehidupan yang ke-dua itu lebih baik
daripada kehidupan yang pertama. Maka tujuan dan cita-cita orang Islam adalah
menggapai kesenangan-surga di akhirat, bukan kesenangan-surga di dunia.

Implikasinya konsepsi kehidupan yang pertama ini yaitu kehidupan di dunia, tidak
lain hanya sekedar untuk menegakkan kehidupan untuk melaksanakan atau
menunaikan kewajiban-kewajiban manusia yang Allah tetapkan kepada manusia,
melaksanakan peran-peran yang ditugaskan atau dibebankan kepada manusia, dan
segala sesuatu yang ada di dunia, yang dimiliki seseorang adalah sebagai wasilah
(modal) untuk mengumpulkan amal kebaikan, mencari rahmah dan ridho Allah agar

178
bisa mencapai cita-cita memperoleh keselamatan dan kesenangan-surga di akhirat.
Inilah ideologi orang islam (yang benar imannya).

Sebaliknya konsepsi kehidupan dalam faham orang-orang sekuler, kehidupan yang
ada ini yaitu kehidupan yang sekarang sebagai surga yang paling nyata, maka
mencari kesenangan-surga di dunia ini adalah hal yang layak dan pantas untuk
dikejar, diperjuangkan. Inilah ideologi orang-orang sekuler (kafir).

Maka dari itu oleh karena tujuan yang berbeda ini, juga menghasilkan cara yang
berbeda untuk mencapai tujuan itu. Orang-orang sekuler akan membangun cara
hidupnya berdasarkan rasionalisme semata tanpa iman, bahkan „tatanan moral‟ itu
yang kesekian, yang penting adalah apapun caranya, baik atau buruk, yang jelas
tujuan mencapai kesenangan dan surga dan „membangun kejayaan dan keabadian‟
di dunia itu adalah yang paling utama. Sebaliknya orang-orang Islam (yang sejati
dan yang beriman) akan membangun cara hidupnya berdasarkan petunjuk yang
benar; bahwa kesenangan dan surga yang hakiki itu (yaitu kesenangan dan surga
yang di akhirat), hanya bisa diperoleh bila manusia berkehidupan dengan
menjalankan „tatanan moral‟. Tentu saja „tatanan moral‟ yang betul hanya bisa
diperoleh dari petunjuk yang benar (revealed knowledge), bukan dicari berdasarkan
observasi rasional.

179
XIII

KOMPETISI

XIII.I
Kompetisi Ekonomi Dalam Paham Sekuler-Liberalis

D
alam paham sekuler, ekonomi ini yaitu „kegiatan memenuhi kebutuhan
hidup untuk tetap hidup‟, adalah kompetisi. Hidup itu adalah kompetisi,
tidak ada kompetisi maka tidak ada kemajuan, tidak ada kompetisi di dalam
ekonomi tidak ada inisiatif kemajuan.

Tetapi kompetisi dalam paham sekuler tidak ada aturan main yang spesifik,
menurut paham barat-sekuler agar manusia itu bisa berkompetisi, maka manusia
harus dibebaskan dari batasan-batasan yang membatasinya.

Kompetisi dalam paham barat-sekuler, mereka yang menang dalam kompetisi
adalah mereka yang paling unggul, yang paling cerdas, yang paling kuat. Dengan
istilah „survival for the fittest‟, hanya yang paling kuat, paling fit lah yang survive di
dalam hidup ini, dan yang lainnya akan terseleksi (punah) secara alami. Maka orang
yang paling unggul itu adalah pantas untuk menang dan dialah yang pantas
mewarisi semua perbendaharaan di bumi ini.

XIII.II
Kompetisi Ekonomi Dalam Paham Islam
Islam tidak menyangkal kompetisi adalah hal yang baik, hal yang dapat memacu
kemajuan dalam kehidupan. Kita bisa mengambil pelajaran di mana paham sosialis-
komunis runtuh karena kekuasaan negara begitu dominan menyingkirkan
kebebasan individu, kekuasaan negara merobohkan fungsi pasar, sehingga
kompetisi ekonomi menjadi lesu, dan individu-individu yang diambil kebebasannya
menjadi lesu, tidak ada inisiatif untuk membuat suatu kemajuan.

Akan tetapi dalam paham Islam, sebelum kompetisi berlangsung kebenaran dan
keadilan harus ditegakkan terlebih dahulu. Kompetisi tanpa kebenaran dan
keadilan tegak di dalamnya hanyalah kompetisi yang saling bunuh-membunuh
dengan cara-cara curang dan tidak benar.

180
Kompetisi hanya boleh berlaku bila kebenaran dan keadilan ditegakkan, sehingga
kompetisi terjadi secara fair, pantas, adil. Ada yang miskin, ada yang kaya,
semuanya adalah anugrah Allah, karena dalam sistem yang adil orang yang miskin
hanya miskin oleh karena kekurangan dirinya sendiri bukan karena dicurangi atau
dirampok atau diperas oleh orang lain. Sedangkan sebagian yang lain menjadi kaya
oleh karena keunggulan dirinya yang telah Allah berikan keunggulan padanya,
karena ada orang yang berbakat yang sangat cemerlang, sementara yang lain
usahanya atau kecerdasannya kurang. Kemiskinan itu sendiri adalah efek samping
dari pada kompetisi, di mana kompetisi ekonomi selalu menyisakan orang-orang
yang termarginalkan, tersingkirkan, di antaranya ada juga orang-orang yang
mengabdikan dirinya untuk urusan agama; berjuang di jalan Allah (mengatasi
ancaman dan hambatan kehidupan yang menimpa kaum muslimin) sehingga tidak
sempat mencari nafkah, yang menahan diri dari meminta-minta. Namun untuk
masalah efek samping kompetisi ini di dalam Islam sudah punya jalan keluaranya,
di mana kaum faqir-miskin, para dhuafa ini dijamin dan diselamatkan
kehidupannya dengan adanya sistem zakat.

Apabila kebenaran dan keadilan ditegakkan di dalam sistem hidup, maka
kebebasan dan kompetisi itu berlaku dalam koridor yang benar, tidak berlaku zalim
dan menindas. Pada akhirnya hakikat berkompetisi itu di dalam Islam adalah
berkompetisi dalam kebaikan, berkompetisi meraih pahala di akhirat. Kompetisi
bisa membuat manusia belajar, bagaimana hari ini lebih baik dari hari kemarin,
hari esok lebih baik dari hari ini, manusia juga bisa belajar dari orang lain,
mengapa orang lain lebih baik dari pada diri sendiri, mengapa orang lain amalnya
bisa lebih baik dari pada diri sendiri. Kondisi kaya tentu saja lebih baik dan lebih
mudah dalam mengatasi urusan-urusan, hidup barangkali bisa menjadi lenggang
dan ibadah mungkin bisa menjadi tenang di mana tiada hambatan-hambatan
apapun juga untuk menuju Allah, dari pada kondisi miskin yang terjebak dalam
kebutuhan-kebutuhan hidup dan ketergantungan. Dari sini kompetisi adalah hal
yang diakui ada di dalam Islam, ia adalah resep kemajuan, tanpa kompetisi tidak
ada kemajuan, akan tetapi „syarat‟nya kebenaran dan keadilan harus ditegakkan
sebagai batas-batas kebebasan itu. Kompetisi di dalam Islam adalah „berlomba-
lomba untuk kebaikan‟; „fastabiqul khairat‟ (Quran, Surat Al-Baqarah 2: 148, Quran,
Surat Al-Maidah 5: 48).

181
XIV

KESIMPULAN

XIV.I
Konsepsi Ekonomi Islam

E
konomi Islam yang asli (atau cukup Iqtishad saja), kata Islam yang disematkan
ke dalam kata ekonominya bukan hanya sekedar nama saja, tapi luput dari
mengenali riba dengan segala bentuknya; riba nasi‟ah, riba qardh, riba dayn, riba
fadhl, riba gharar, riba maysir, dan riba-riba lainnya yang telah Allah dan RasulNya
haramkan. Ekonomi Islam atau Iqtishad adalah; „kegiatan (manusia; individu maupun
kolektif) mengelola harta benda (yakni; sumber daya yang tersedia, untuk pemenuhan
kebutuhan hidup) dengan cara-cara yang benar sesuai ketentuan-ketentuan (syariat dan
nilai-nilai islam), seimbang dan adil‟, suatu ekonomi yang keadilan tegak di dalamnya,
sebaliknya kezaliman tidak ada di dalamnya (la tazlimun wala tuzlamun) (Quran,
Surat Al-Baqarah 2: 279). Secara keseluruhannya yang disebut dengan Ekonomi
Islam itu harus memenuhi ciri-ciri berikut:

(1) Praktik-muammalah nya sesuai Islam,

Yaitu prilaku pelaku ekonominya sesuai dengan nilai-nilai islam. baik perilaku
konsumsi; yaitu tidak tabdzir (berboros ria) dan berlebihan (tasarruf), tidak
mengkonsumsi yang haram, perilaku produksi; yaitu tidak memproduksi produk-
produk yang haram, yang rusak dan merusakan (fasad); merusak iman-agama-moral,
merusak akal, merusak badan, merusak keturunan (generasi), merusak alam dan
merusak aspek sosial, perilaku transaksi; yaitu tidak zalim, mengurangi takaran,
curang dan menindas, perilaku menabung; yaitu tidak berlaku cinta harta dan
menumpuk kekayaan, sebaliknya lebihan harta setelah „kebutuhan hidup‟
dialokasikan-didistribusikan ulang dengan bersedekah dan digunakan untuk fi
sabilillah, perilaku investasi; yaitu tidak mengambil untung dengan cara yang zalim
dan curang, dengan cara riba, tidak mengalokasikan harta untuk produksi produk
yang haram, serta tidak mengalokasikan harta kepada penciptaan fasad
[memusnahkan iman-agama-moral, merusak akal, merusak badan atau
menghilangkan jiwa (membunuh), memusnahkan harta atau merugikan atau
mengambil harta orang lain, memusnahkan hubungan-hubungan kekerabatan,

182
hubungan-hubungan religius yang didasari keimanan menjadi hubungan-hubungan
yang bersifat materialistik dan amoral, memusnahkan dan merusak alam] dan
melanggar „tatanan moral‟, dan prilaku berserikat: yaitu berserikat dengan adil dan
sepenanggungan, setia dan tidak khianat, tidak mencurangi dan merugikan sepihak
klien atau partner-nya, tidak berserikat dalam hal; menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal, dalam pelanggaran dan berbuat dosa.

Di satu sisi pemerintah, harus membangunkan sistem, institusi dan instrumen
yang efektif untuk menekan, meminimalisir, mentiadakan perilaku-perilaku
ekonomi yang disebutkan di atas yang tidak sesuai dengan Islam, misalnya insitusi
al-hisbah (polisi pasar) untuk membebaskan pasar dari transaksi riba, transaksi
curang dan batil, serta menegakkan pungutan sistem zakat untuk mencegah
perilaku menumpuk harta. Dan lain-lain.

(2) Sistemnya sesuai Islam,

Yaitu institusi, instrumen dan sistem yang dibangunkan dalam ekonomi; adakah
itu pasar, badan atau lembaga keuangan, entitas pemerintah, entitas bisnis, sistem
keuangan. Dan cara kerja institusi-institusi tersebut, cara kerja keuangnya, tidak
boleh mendorong, membudayakan praktik riba, berlaku dengan cara riba, berlaku
dengan cara curang dan batil; mengurangi takaran (al-bakhsu), menggunakan uang
ekstrinsik yang palsu yang tidak berharga yang curang (fraud) sebagaimana sistem
uang fiat modern dan instrumen-instrumen „harta ekstrinsik‟ lainnya (uang kertas,
saham, nota bank, dan lain-lainya), menjual hal yang tidak benar untuk dijual,
menjual ketiadaan dan kepalsuan, sistem yang merampok harta manusia,
menguasai (dengan kekuasaan mutlak berasaskan ribawi) dan memperbudak atau
memperhamba (mengeksploitasi) manusia dan orang lemah, sistem yang tidak adil,
zalim dan menindas.

(3) Ideologinya sesuai Islam,

Yaitu tujuan “pemenuhan kebutuhan hidup” itu, adalah sekedar menegakkan
hidup untuk ibadah dan berlomba-lomba mencari surga akhirat, mencari amal
kebaikan, mencari ridho dan rahmat Allah, bukan menegakkan hidup untuk
berlomba-lomba mencari kesenangan dan surga di dunia sehingga juga pada
akhirnya menghalalakan segala cara; menghalalkan apa yang Allah haramkan dan
mengharamkan apa yang Allah halalkan; dan bersetuju-bersepakat dengannya yang
akan menjatuhkan seseorang kepada syirik (suatu ideologi yang; materialis-
individualis-liberalis-kapitalis-sekuleris).

Bila satu di antara ketiganya tidak ada berarti belum bisa dikatakan Ekonomi Islam.

183
XIV.II
Prinsip-Prinsip Ekonomi Islam
1. TEGAKNYA KEBENARAN dan KEADILAN di dalam EKONOMI

Aturan yang paling pokok dalam bermuammalah ialah tegaknya kebenaran dan
keadilan, tanpa tegaknya kebenaran dan keadilan, kehidupan menjadi chaos, yang
wujud hanyalah kebatilan dan kezaliman, penindasan. Ia adalah perintah paling
utama yang paling esensi sebagai peran khalifah dan menjadi prinsip yang utama
dalam bermuammalah.
“Wahai daud, sesungguhnya kami menjadikanmu khalifah di muka bumi, oleh karena itu
berhukumlah di antara manusia dengan hukum yang benar (adil)” (Quran, Surat Shaad 38: 26)

“Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Quran, Surat Al-Maidah 5: 8)

“Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu Termasuk orang- orang yang merugikan” (Quran,
Surat Asy-Syu‟ara 26: 181)

2. KEADILAN di dalam PASAR dan PERSERIKATAN

Pasar dan perserikatan adalah institusi-intsitusi penting di dalam Ekonomi Islam.
Pasar dan perserikatan yang fitrah (yang terbebas dari kerusakan; yaitu disebabkan
oleh riba) akan menjalankan fungsi keadilan. Yaitu setiap orang akan memperoleh
apa yang diusahakannya, tanpa dikurangi atau dicurangi, juga tanpa dengan
kecurangan.
“Dan sesungguhnya tidaklah manusia memperoleh sesuatu kecuali apa yang diusahakannya”
(Quran, Surat An-Najm 53: 39)

3. KEADILAN di dalam SISTEM ZAKAT

Syariat zakat adalah salah satu pilar dari pilar-pilar Islam (rukun Islam).
Menegakkan zakat adalah menegakkan keadilan; di mana orang kaya terhutang
dengan semua manusia yang ikut berpartisipasi dalam sistem ekonomi, termasuk
orang-orang yang ditentukan oleh syariat (faqir miskin, fi sabilillah dan yang
termasuk 8 golongan). Oleh karena itu di dalam setiap harta (di atas nishab) ada hak
harta milik orang-orang yang di tentukan tersebut.
“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang yang ditentukan”
(Quran, Surat Ad-Dzariyat 51: 19, Quran, Surat Al-Ma‟arij 70: 24-25)

184
Dan keberadaan syariat zakat berperan untuk mencegah sistem ekonomi dan
keuangan itu runtuh, sistem hidup (sosial dan negara) ini runtuh, oleh karena itu
harta harus didistribusi ulang dari golongan kaya kepada golongan miskin, supaya
ekonomi ini berkeseimbangan dan berkeadilan.
“Supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di
antara kamu” (Quran, Surat Al-Hasyr 59: 7)

4. PERAN KHALIFAH ‘di luar ekonomi’ dan ‘di dalam ekonomi’
dalam MENEGAKKAN KEBENARAN dan KEADILAN

Kehadiran dan peran khalifah di dalam ekonomi (dan di luar ekonomi) adalah
penting dan prinsipsi, tanpa kehadiran khalifah maka kehidupan dan kompetisi
ekonomi berlangsung tanpa ada yang peduli terhadap peraturan-peraturan yang
benar, kompetisi ekonomi berlangsung bebas menghalalkan segala cara, zalim dan
menindas.

Di luar ekonomi khalifah berperan penting untuk mengentaskan masalah-masalah
kehidupan rakyat yang ditanggung oleh khalifah dari hambatan-hambatan dan
ancaman-ancamannya; (1) ancaman kurangnya ilmu/kebodohan, (2) ancaman
kemiskinan, kelaparan, penyakit, (3) ancaman keamanan dan ketertiban umum. Di
dalam ekonomi khalifah berperan untuk membebaskan ekonomi dari kebatilan
dan kezaliman ekonomi; menegakkan keadilan di dalam pasar, dan
mendistribusikan kekayaan dengan menegakkan syariat zakat dan menggunakan
inisiatif keuangan untuk mengentaskan masalah-masalah.

XIV.III
Rumusan Ekonomi Islam
1. PENIADAAN atas segala bentuk KEZALIMAN dan KEBATILAN
ekonomi [baik secara mikro; di dalam pasar dan perserikatan,
maupun makro; institusi-institusi kebijakan publik]; RIBA adalah
ILEGAL [segala bentuk riba; riba qardh, riba fadhl, riba nasi’ah, riba
dayn, gharar, maysir, serta kecurangan-kecurangan muammalah
lainnya]. Sebaliknya SEDEKAH menggantikan peran riba di dalam
ekonomi (mikro maupun makro)

Pasar dan perserikatan secara khususnya dan ekonomi secara umumnya (makro)
harus dibebaskan dari praktik muammalah yang zalim dan batil (dibebaskan dari
Riba). Sebaliknya sedekah menggantikan peran Riba, misal pinjaman berbunga
digantikan (subtituted) dengan pinjaman sedekah (qardh-hasan). Monopoli,
Swastanisasi dan Privatisasi barang publik diganti menjadi waqaf-isasi barang
publik.

185
2. RESTORASI UANG INTRINSIK yang adil untuk menggantikan
uang ekstrinsik, tidak ada uang ekstrinsik, atau sekalipun
menggunakan uang ekstrinsik, ia harus berbasis uang yang asli yaitu
UANG INTRINSIK dan harus memiliki INTEGRITAS dan tidak
FRAUD.

Mencabut legal tender uang ekstrinsik dan uang fiat modern (yang sejatinya
curang/fraud), kemudian merestorasi dan menjadikan uang intrinsik sebagai legal
tender (uang yang sah). Uang intrinsik dengan standar permanen [bukan uang
ekstrinsik ber-backup emas (gold standard) yang bisa berubah-ubah nilai tukar (kurs)
terhadap emasnya]. Atau seandainya pun ia menggunakan uang ekstrinsik (uang
kertas atau digital), uang ekstrinsik itu fungsi sejatinya adalah „alat hukum‟ bukan
„alat transaksi‟ dan ia perlu dicadangkan dengan cadangan intrinsik dengan kurs
(nilai tukar) permanen antara „uang ekstrinsik‟nya terhadap emasnya atau harta
intrinsiknya, dan ia harus berlaku dengan cara jujur dan adil yang memiliki
integritas, bukan dengan cara yang tidak adil dan tidak memiliki integritas (yang
dicetak lebih besar nominalnya dari pada cadangan aslinya) sebagaimana uang fiat
modern yang dicipta hanya berasaskan cadangan „utang‟ semata.

3. TIDAK ADA INSTITUSI MONETER (Bank Sentral dan Bank-Bank
lainnya), TIDAK ADA PULA INSTITUSI FISKAL MODERN (fiskal
negara modern yang terintegrasi dengan sistem riba). Sebagai gantinya
hanya BAYTULMAL dengan seluruh instrumen yang dimilikinya.

Institusi moneter, adalah biang pelaksana sistem riba, autoriti yang berwenang
mencetak uang (fiat) dari awang-awang (dari ketiadaan) sebagai utang (tanpa
berasaskan cadangan intrinsik), dan mem‟bunga‟kannya di dalam sistem
perbankan. Ini adalah bathil. Mestinya tidak ada institusi moneter, begitu pula uang
fiat tidak perlu dipertahankan nilainya oleh institusi bank (baca: mengendalikan
inflasi; mempertahankan uang yang tak berharga menjadi tetap berharga).
Begitupula sistem fiskal modern, tidak sama dan tidak sepadan dengan sistem
Baytulmal. Sistem fiskal modern telah dicipta terintegrasi dengan sistem riba; yang
berfungsi untuk mengalihkan beban utang nasional (dan internasional) kepada
rakyat yang ditanggung lewat pajak, ia menjadi bagian dari sistem perbudakan
modern. Sistem riba mentransfer kekayaan dari yang miskin kepada yang kaya,
adapun sistem sedekah yang diperankan Baytulmal mentransfer kekayaan dari yang
kaya kepada yang miskin; sehingga sistem ekonomi dan keuangan stabil dan
berkeseimbangan. Baytulmal menkombinasikan instrumen sedekah dan pajak
untuk mengentaskan keperluan-keperluan untuk mengatasi hambatan dan
ancaman kehidupan. Oleh karena itu di dalam Islam hanya dengan Baytulmal saja,
sudah lah cukup, sebagai institusi keuangan tunggal yang mewenangi keuangan
publik, Baytulmal sudah bisa melakukan peran-peran institusi-institusi perangkat
ekonomi modern; baik peran moneter maupun fiskal.

186
4. TIDAK ADA BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN MODERN
LAINNYA (baik konvensional maupun syariah), TIDAK ADA
PASAR KEUANGAN; pasar modal dan pasar uang (baik
konvensional maupun syariah) yang kesemuanya telah dirancang
berasaskan RIBA yang merusak fitrah pasar. Sebagai gantinya
Khalifah harus menyediakan ‘INFRASTRUKTUR KEUANGAN’
yang berbasis SEDEKAH dan membangunkan ‘INSITUSI
BAYTUSYSYIRKAH’ (serta pasar) yang berasaskan FITRAH
MUAMMALAH.

Konsepsi bank adalah salah total (bathil); menggunakan uang simpanan (titipan)
sebagai basis bisnis atau jasa atau usaha keuangan komersil, begitu pula konsepsi
pasar modal salah total (bathil); memberlakukan uang sebagai komoditi, dan
memberlakukan „harta ekstrinsik‟ sebagai komoditi, uang dan „harta yang bernilai
ekstrinsik‟ tidak pernah diakui sebagai komoditi di dalam Islam „harta ekstrinsik‟
adakah itu uang kertas atau saham atau cek atau catatan keuangan lainnya hanyalah
„alat hukum‟ (alat wakil dan alat bukti) bukan „komoditi‟. Kesemuanya adalah
konsepsi riba.

Sebagai gantinya, fasilitas keuangan disediakan oleh prakarsa khalifah (bukan
entitas bisnis) dengan membangunkan „Infastruktur Keuangan‟ yang bebas dari
biaya, bersifat sedekah atau waqaf; barang publik gratis dan bebas riba. Selain itu
juga khalifah harus membangunkan „Institusi Baytusysyirkah‟ untuk
mengakomodasi kegiatan permodalan bisnis dan investasi yang Islami, sesuai
dengan prinsip-prinsip Islam yang genuine. Supaya dengan keberadaannya,
diharapkan bisa membudayakan kegiatan berserikat sebagai cara bermuamalah yang
fitrah dan melatih serta membudayakan professionalisme berbisnis atau berniaga.

187
Berdasarkan semua itu, maka ringkasan dan kesimpulan yang bisa diperoleh dari
perbedaan rumusan Sistem Ekonomi Sekuler-Modern dengan Sistem Ekonomi
Islam bisa dilihat sebagaimana yang ditampilkan dalam tabel berikut:

Tabel 14.1 Perbedaan Konsepsi Ekonomi Modern-Sekuler dan Ekonomi Islam
Konsepsi dan rumusan Ekonomi modern-sekuler Ekonomi Islam
Uang Berlandaskan uang ekstrinsik Berlandaskan uang yang bernilai
yang tidak memiliki integriti secara intrinsik atau uang yang
(curang); uang fiat modern berasaskan komoditi intrinsik,
(uang bercadangkan hal yang serta memiliki integritas (tidak
tidak benar untuk menjadi curang)
cadangan; seperti misalnya
instrumen utang, atau tidak ada
cadangannya sama sekali)
Institusi Keuangan Dual Sistem:  Baytulmal (tunggal)
Publik  Fiskal: sistem pajak negara
 Moneter: Bank sentral
Lembaga Keuangan dan  Bank dunia, bank sentral,  „Infrastruktur keuangan‟
Fasilitas Keuangan bank umum, lembaga (berasaskan sistem sedekah,
keuangan. (konvensional dan dibawah otoriti
maupun syariah) Baytulmal)
 Pasar keuangan: pasar modal  „Baytusysyirkah‟; mediasi
(sekuritas) dan pasar uang pemodal dan pembutuh
(forex dan valas, dan lain- modal, mediasi
lain), (konvensional maupun pembelajaran, permagangan,
syariah) dan perserikatan, sertifikasi
kontrak.
Pasar dan perserikatan  Berasaskan praktek ribawi,  Pasar dan ekonomi
(ekonomi mikro) dan mengebalkan diri dari risiko, terbebaskan dari praktik
ekonomi secara dan menuntut keuntungan riba, berasaskan jual beli dan
umumnya (ekonomi pasti (bisnis anti-rugi); cara- perserikatan yang fitrah.
makro) cara berekonomi yang  Di dalam pasar pemerintah
curang, yang menghalalkan hadir sebagai penegak
segala cara. keadilan lewat institusi al-
 Di dalam pasar tidak hadir hisbah (polisi dan
penegak keadilan (free- investigator pasar).
intervention)  Praktik Riba diharamkan
 Praktik Riba dihalalkan dan atau ilegal, praktik sedekah
legal, praktik sedekah didorong dan dianjurkan, di
(filantropi) terkucilkan dan mana sedekah menggantikan
terminimalisir, atau hanya peran-peran ribawi.
untuk kepentingan
pencitraan institusi atau elit
tertentu

188
Shadaqallahul Adzhim
Wa Shadaqa Rasuluhul Karim
Wallahu A‟lam Bish-showab

189
REFERENSI DAN BAHAN BACAAN
Referensi Utama
Imran N. Hosein, The Prohibition Of Riba In The Qur‟an And Sunnah, 1997.

Imran N. Hosein, The Importance Of The Prohibition Of Riba In Islam.

Imran N. Hosein, The Importance Of The Prohibition Of Riba In Islam. [video lecture]

Imran N. Hosein, The Gold Dinar And Silver Dirham – Islam And The Future Of
Money, 2007.

Imran N. Hosein, Islam & International Monetary System (Islam dan Sistem Keuangan
Internasional, sub. Indonesia). [video lecture]

Imran N. Hosein, Dajjal The False Messiah. [video lecture]

Imran N. Hosein, Jerusalem In The Quran, 2003.

Imran N. Hosen, Metodology for Study of The Quran, 2016.

Imran N. Hosein, In Search Of Khidr‟s Footprints In Akhiruzzaman, 2015.

Imran N. Hosein, Dream In Islam, 1997.

Imran N. Hosein, The Caliphate The Hejaz and The Saudi-Wahhabi Nation State,
1996.

Referensi dan Bahan Bacaan
Abdul Qadir As-sufi, The Foundation of Islam, Madinah Press, 2001.

Abdul Qadir As-sufi, Sultaniyya, Madinah Press, 2002.

Umar Ibrahim Vadillo, Fatwa on Banking, 2006.

Zaim Saidi, Tidak Syariahnya Bank Syariah, 2015.

Zaim Saidi, Hakekat Perekonomian Dalam Islam, 2012.

Zaim saidi, Ilusi Demokrasi, 2016.

A. Riawan Amin, Satanic Finance, 2007.

Abdul Qadir Zallum, Sistem Keuangan Negara Khalifah, HTI Press, 2009.

190
Alexander Del Mar, A History of Money in Ancient Countries From The Earliest Time to
The Present. 1885.

Richar R. D., Early History of Banking In England. 1929.

M. Shiddiq Al-Jawi https://hizbut-tahrir.or.id/2012/08/06/multi-akad-halal-atau-
haram/

Anis Byarwati, Tjiptohadi Sawarjuwono, Ekonomi Islam Atau Iqtishad, Jurnal
Imanesi, 2013.

Yusuf Al-Qaradhawi, Fiqh Zakat.

Ahmad Tafsir, Pengantar Filsafat Umum. 1990.

Adian Husaini, et. al., Filsafat Ilmu, Gema Insani, 2013.

Nurizal Ismail, Scrutinizing The Epistimology of Islamic Economic: A Historical
Analysis, Jurnal Tsaqafah, Vol. 12, No. 1 Mei 2016.

Ibnu Abid Dunya, Ishlahul Mal, Muassasah Al-Kitab Ats-Tsaqafiyyah, 1993/1414H,
Beirut, Lebanon.

Abdurrazak Belabes, Al-Iqtishad Al-Islami: Hafriyah Mushtholah, Islamiyat al-Ma‟rifah:
Journal of Contemporary Islamic Thought, 2014, vol 20. Issue 78, pp. 105-132

Khawaja Amjad Saeed, Economic Philosophy of Allama Iqbal, The Pakistan
Development Review, 41:4 Part II (2002) pp. 973 – 982.

191
Ahmad Aly Alboub, lahir tanggal 31 Desember
1991 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Selepas
tamat SD (SDN Pemurus Dalam 6 di Banjarmasin),
masuk pondok tahun 2003, di pondok pesantren
Al-Mukmin Ngruki, Solo, Jawa Tengah 2003-2009
(MTS-MA Al-Mukmin Ngruki). Tahun 2009 masuk
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Tazkia dan tamat
tahun 2013 untuk gelar Sarjana Ekonomi Islam, di
Bogor, Jawa Barat. Demikianlah informasi
singkatnya, saat ini hanya aktif menulis dan
berkontemplasi.

Email: ahmadaly31@gmail.com

192
193
Sistem ekonomi yang terbangun ke atas dunia pada hari ini adalah
sistem yang menyokong kegiatan ekonomi yang menghalalkan Riba.
Faham atau filosofi Barat-Modern lah yang paling berpengaruh dan
bertanggung jawab bagi perwujudan peradaban dunia modern
sekuler ini.
Maka di dalam buku ini kita ingin mencari konsepsi ekonomi yang
betul-betul terbebas dari Riba yang sesuai dan konsisten dengan
landasan imani Islam yang asli. Adakah sistem ekonomi yang
dibangun dengan landasan imani (Al-Quran dan Sunnah) itu lebih
unggul dari pada sistem ekonomi yang dibangun dengan landasan
tatanan modern sekuler? Ataukah sistem ekonomi yang dibangun
dengan landasan imani itu tidak akan pernah mengungguli sistem
ekonomi yang dibangun dengan landasan tatanan modern sekuler?
Oleh karena itu, pertanyaan besar yang akan dijawab di dalam buku
ini adalah;
Bagaimanakah konsepsi Ekonomi Islam yang asli itu? – bukan
Ekonomi Islam yang palsu atau kita bisa menyebutnya Iqtishad
sebagai Ekonomi Islam yang otentik –.

194