You are on page 1of 17

KASUS SINDROM METABOLIK

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Cok Istri Raka Kusumawati
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 66 Tahun
Tanggal Lahir : 31 Desember 1947
Status : Menikah
Pekerjaan : Pensiunan guru SMP
Pendidikan : S1
Suku/ Bangsa : Bali/ Indonesia
Agama : Hindu
Alamat : Jln. Payangan Desa, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar
Tgl. Kunjungan : 28 Desember 2013

Anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien :


No
Nama Jenis kelamin Umur Status Pendidikan Pekerjaan
.
A.A Gede Rai 66
1. Laki-laki Suami SMP Pensiunan
Suparka tahun
2. A.A Gede Mayun 31
Laki-laki Anak S1 Guru
Narendra tahun
3. Nyoman Muliani 30
Perempuan Menantu S1 Pegawai Swasta
tahun
4. A.A Gede Mayun
Laki-laki 3 tahun Cucu - -
Narakrisna
5. A.A Istri Indah Perempuan 7 bulan Cucu - -
Naraswari
II. KEGIATAN DALAM GEDUNG
A. ANAMNESIS
1) Riwayat Penyakit
Pasien datang ke puskesmas tanggal 27 Desember 2013. Pada saat itu pasien
mengeluh sakit kepala. Pasien merasakan keluhan sakit kepala semenjak 1
hari yang lalu. Sakit kepala yang dirasakan seperti berdenyut-denyut. Sakit
kepala ini dirasakan di daerah ubun-ubun. Keluhan tersebut dirasakan hilang
timbul, tetapi tidak sampai mengganggu aktivitas pasien. Pasien juga merasa
badannya lemas. Keluhan ini memang kadang dialami pasien. Pasien
mengatakan memang tiga hari sebelumnya sempat bergadang dan kelelahan
karena ada odalan di pura desa setempat. Pasien mengatakan kemarin dirinya
sudah meminum obat hipertensi, obat DM tipe 2, dan obat osteoarthritis
yang biasa dia minum rutin. Saat ini obatnya sudah mau habis, jadi pasien
juga bermaksud untuk kontrol obat bulanan.
2) Riwayat Penyakit Terdahulu
Pasien mengatakan sejak 10 tahun yang lalu di saat pasien berumur 55 tahun,
ketika pasien memeriksakan tekanan darahnya pasien mengetahui bahwa
dirinya menderita tekanan darah tinggi. Saat itu tekanan darahnya mencapai
150/85mmHg. Saat itu pasien diberi obat jenis Captopril di puskesmas, baru
sejak 3 tahun lalu berubah menjadi Amlodipin. Pasien mengatakan ia rutin
minum obat hipertensi sejak 10 tahun lalu sampai sekarang kecuali saat lupa.
Sebelumnya saat umur 45-an pasien juga sempat dikatakan hipertensi, tetapi
saat itu pasien hanya minum obat jika tekanan darah tingginya kambuh yang
menyebabkan dirinya sakit kepala dan berobat ke dokter. Sebelum umur 45,
pasien mengatakan tensinya normal. Pasien juga sempat mengalami
kecelakaan lalu lintas 3 tahun lalu, yang menyebabkan kaki kanannya robek
cukup lebar dimana daging betisnya sampai terlepas sebagian sehingga harus
mendapat 32 jahitan. Akibat kecelakaan tersebut pasien tidak dapat bergerak
banyak selama 1 tahun lamanya, dan hanya tinggal di rumah. Selain tekanan
darah tinggi, pasien juga mengatakan memiliki penyakit DM tipe 2 sejak 1
tahun yang lalu. Pasien juga memiliki penyakit osteoarthritis sejak 3 bulan
yang lalu. Riwayat penyakit atopi seperti asma dan penyakit sistemik lainnya

1
seperti gagal ginjal, sakit jantung, sakit liver dan stroke disangkal oleh
pasien
3) Riwayat Pengobatan
Pasien pertama kali mendapat pengobatan hipertensi pada tahun 2002. Pada
saat itu pasien diterapi dengan amlodipine 5 mg 1 x 1 tablet/hari. Sejak saat
itu pasien mulai menjalani kontrol rutin setiap 1 bulan sekali di Puskesmas
Payangan. Selain itu pasien juga mengkonsumsi 5 jenis obat lainnya, antara
lain obat untuk DM tipe 2, 2 jenis yaitu Metformin 500mg 2x1, dan
Glicazide 80mg 1x1. Pasien minum 1 jenis obat osteoarthritis yaitu golongan
NSAID Meloxicam 7,5mg 1x1, dan obat Gabapentin 100mg 1x1 ditambah
vitamin B complex untuk nyeri di tangan kanannya. Keenam obat ini
diminum rutin setiap harinya oleh pasien.
4) Riwayat Keluarga
Pasien mengatakan terdapat beberapa anggota keluarganya yang mengalami
penyakit hipertensi yang sama dengan dirinya. Pasien mengatakan bahwa
ayah pasien, adik ke-2 dan ke-4 juga mengalami hipertensi. Ayah pasien
juga dikatakan menderita stroke, dan saat ini sudah meninggal. Riwayat
keluarga mengalami penyakit kronis lainnya seperti DM tipe 2, jantung, dan
ginjal disangkal oleh pasien. Pasien juga mengatakan bahwa suami pasien
juga dulu mengalami hipertensi, namun sekarang tekanan darahnya
cenderung rendah sejak jantungnya diketahui bermasalah 5 tahun lalu,
dimana jantungnya dikatakan mengalami pembesaran.
5) Riwayat Sosial
Pasien saat ini sudah pensiun dan sehari-hari hanya di rumah. Dulu pasien
bekerja sebagai seorang guru SMP. Pasien mengatakan dirinya dulu suka
mengkonsumsi makanan yang mengandung garam yang berlebih. Tapi saat
makan, pasien tidak menambahkan lagi garam di nasinya. Pasien juga
mengatakan dulu senang meminum kopi hingga 2 gelas dalam sehari, namun
sekarang sudah mulai dikurangi menjadi 1 gelas sehari. Pasien mengatakan
dirinya tidak pernah minum-minuman beralkohol sebelumnya. Pasien
mengatakan dirinya merasa cukup akan tidurnya. Pasien mengatakan bahwa

2
selama ini makanan selalu cukup tidak pernah kekurangan dan makan selalu
tiga kali sehari.
Pasien mengaku memang aktif berolahraga sejak muda, terutama
olahraga bulutangkis dan voli. Saat ini pasien aktif mengikuti kegiatan
posyandu lansia di gedung serbaguna di dekat rumahnya sejak 10 tahun yang
lalu. Pasien mengikuti senam lansia di sana seminggu tiga kali, yaitu hari
selasa, jumat dan minggu.
Pasien juga dulu dikatakan aktif dalam kegiatan pramuka dan menjadi
Pembina pramuka di sekolahnya. Pasien terlibat pula dalam sekaha gong di
banjar. Namun sejak pensiun dan kecelakaan 3 tahun lalu, pasien sudah
jarang terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut.
B. Pemeriksaan Fisik
1) Status Present
Tensi : 160/80 mmHg
Nadi : 70 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Temp. Axila : 36,5 0C
VAS :0
TB : 162 cm
BB : 79 kg
IMT : 30,1 (obesitas kelas I)
Lingkar pinggang : 109 cm

2) Status General:
Mata
Inspeksi : Anemia -/-, ikterus -/-, refleks pupil +/+ isokor
Telinga
Inspeksi : Sekret (-/-)
Hidung
Inspeksi: Sekret (-/-)
Tenggorokan
Inspeksi : Tonsil hiperemis (-)

3
Leher
Inspeksi : Dalam batas normal
Palpasi : Pembesaran kelenjar getah bening (-)
Thorak
Inspeksi : Bentuk simetris
Palpasi : Tidak di evaluasi
Perkusi : Tidak di evaluasi
Auskultasi :
Pulmo : Ves +/+, Rh -/- , Wh -/-
Cor : S1S2 Tunggal, Regular, Murmur ()
Abdomen

Inspeksi : Distensi (-)

Auskultasi : BU (+) normal,

Palpasi : nyeri tekan (-), turgor (N)

Hepar : Tidak teraba

Lien : Tidak teraba

Perkusi : Timpani

Ekstremitas
Oedem - - , hangat + +
- - + +

C. Pemeriksaan Penunjang
Telah dilakukan pemeriksaan tekanan darah waktu kunjungan terakhir
(28/12/2013) di rumah pasien. Hasil pemeriksaan adalah 160/80 mmHg.

D. Diagnosis
Berdasarkan hasil anamnesa, dan pemeriksaan fisik, kami mendiagnosis pasien
dengan sindrom metabolik. Hal ini berdasarkan The National Cholesterol
Education Program Third Adult Treatment Panel (NCEP-ATP III), Sindrom
Metabolik adalah seseorang dengan memiliki sedikitnya 3 kriteria berikut: 1).
Obesitas abdominal (lingkar pinggang > 88 cm untuk wanita dan untuk pria >

4
102 cm); 2). Peningkatan kadar trigliserida darah ( 150 mg/dL, atau 1,69
mmol/ L); 3). Penurunan kadar kolesterol HDL (< 40 mg/dL atau < 1,03 mmol/
L pada pria dan pada wanita < 50 mg/dL atau <1,29 mmol/ L); 4). Peningkatan
tekanan darah (tekanan darah sistolik 130 mmHg, tekanan darah diastolik 85
mmHg atau sedang memakai obat anti hipertensi); 5). Peningkatan glukosa
darah puasa (kadar glukosa puasa 110 mg/dL, atau 6,10 mmol/ L atau
sedang memakai obat anti diabetes). Pada pasien ini sudah terdapat tiga kriteria
di atas yaitu, obesitas abdominal (lingkar pinggang 109 cm), hipertensi (dalam
pengobatan hipertensi dengan tensi 160/80mmHg), dan memakai obat anti
diabetes.

E. Pengobatan
Saat ini pasien memperoleh pengobatan hipertensi dengan obat golongan
antagonis kalsium golongan dihidropiridin Amlodipine 5 mg dan diminum 1
tablet sekali dalam sehari. Selain itu pasien juga mengkonsumsi 5 jenis obat
lainnya, antara lain obat untuk DM tipe 2, 2 jenis yaitu Metformin 500mg 2x1,
dan Glicazide 80mg 1x1. Pasien minum 1 jenis obat osteoarthritis yaitu
golongan NSAID Meloxicam 7,5mg 1x1, dan obat Gabapentin 100mg 1x1
ditambah vitamin B complex. Keenam obat ini diminum rutin setiap harinya
oleh pasien.
III. IDENTIFIKASI MASALAH
Untuk mengidentifikasi masalah pada pasien ini, mahasiswa KKM melakukan
kunjungan ke rumah pasien. Mahasiswa mengamati status kesehatan pasien,
keadaan sosial ekonomi keluarga, kondisi rumah pasien, mengamati faktor-faktor
resiko yang dijumpai pada pasien ini dan mencarikan solusinya melalui 6 langkah
pelayanan kedokteran keluarga yang mencakup personal, komprehensif,
berkesinambungan, koordinatif dan kolaboratif, pencegahan, menimbang keluarga,
masyarakat dan lingkungannya. Secara terperinci diuraikan sebagai berikut :

A. Gambaran status kesehatan


Saat dilakukan kunjungan ke rumah pasien terlihat pasien dalam keadaan yang
baik. Keluhan sakit kepala dan lemas sudah berkurang dibandingkan 2 hari
sebelumnya. Pasien saat diperiksa, tekanan darahnya 160/80mmHg. Status vital
dan hasil pemeriksaan fisik lainnya masih dalam batas normal. Pasien saat ini

5
termasuk berat badan berlebih, menderita hipertensi, DM tipe 2, dan
osteoarthritis. Pasien sudah bisa dikatakan menderita sindrom metabolik karena
berdasarkan kriteria NCEP ATP III, WHO, AHA, ataupun IDF, pasien sudah
memenuhi 3 kriteria minimal. Akan tetapi saat ditanya mengenai sindrom
metabolik, pasien mengatakan tidak mengetahui mengenai adanya sindrom
seperti itu. Selama ini pasien hanya dikatakan menderita hipertensi dan kencing
manis serta rematik oleh dokter yang memeriksanya. Sehingga perlu adanya
pemberian informasi mengenai sindrom metabolik ini kepada pasien dan
keluarganya.

Saat ini pasien sudah minum obat rutin untuk sakit hipertensi, DM tipe 2, dan
osteoarthritis yang dideritanya. Namun meskipun sudah rutin minum obat
hipertensi berupa Amlodipine 5 mg 1x1, tekanan darah pasien masih pada
kisaran 160/80mmHg. Perlu dipikirkan adanya pengobatan hipertensi yang
kurang memadai pada pasien ini, karena dengan pemakaian teratur, tekanan
darah pasien masih tetap tinggi.

Pasien mengatakan saat ini aktif mengikuti senam lansia di posyandu lansia
setempat, 3 kali dalam seminggu.

Untuk sindrom metabolik, diperlukan penanganan terutama ditekankan pada


perubahan gaya hidup disertai dengan obat-obatan untuk masing-masing
masalah.

B. Gambaran singkat keadaan sosial ekonomi keluarga


Pasien adalah perempuan usia 66 tahun yang saat ini sudah pensiun dan
beraktivitas sebagai ibu rumah tangga. Status ekonomi pasien cukup untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pasien saat ini tinggal bersama suami,
anak pertama, menantu serta cucu-cucunya. Hubungan pasien dengan tetangga
sekitarnya juga cukup baik.

6
C. Silsilah Keluarga

Keterangan:

: Laki-laki : Perempuan

: Pasien : Meninggal

: Dengan Penyakit yang Sama

D. Kondisi Rumah Pasien


Pasien dan keluarganya tinggal dalam satu pekarangan rumah yang cukup luas
dan dihuni oleh 1 keluarga. Bangunan rumah pasien merupakan rumah
permanen berlantai satu dari tembok bata yang diplester dan dicat, berlantai
keramik, dan atap genteng. Terdapat 3 buah kamar tidur, dapur, dan kamar
mandi yang terletak terpisah serta ruang tamu. Pasien tidur dengan suaminya,
menggunakan kasur. Setiap kamar tidur berisi sudah memiliki ventilasi yang
cukup. Sinar matahari dapat masuk ke kamar pasien. Rumah pasien terkesan rapi
dan bersih. Dapur pasien sederhana, cukup bersih, dan sudah menggunakan
kompor gas. Di kebun belakang pasien terdapat kandang kelinci.

7
Denah Rumah
Lantai 1
U 1 2 3

6 7

Legenda:
1. Dapur 6. Sanggah
2. Kamar Mandi 7. Kamar Pasien
3. Kamar Pembantu
4. Kebun
5. Kamar tidur
E. Faktor resiko
Berdasarkan kepustakaan, faktor resiko terjadinya sindrom metabolik antara
lain: stress, berat badan berlebih dan obesitas, gaya hidup tidak aktif/sedenter,
umur, DM tipe 2, penyakit jantung koroner, lipodistropi, schizophrenia dan
penyakit psikiatri lainnya, serta penyakit rematik. Pada pasien ini, yang menjadi
faktor resiko ada 5, yaitu stress, obesitas, gaya hidup tidak aktif/sedenter, umur,
dan DM tipe 2.
1) Stress
Pasien mengatakan dirinya dulu memang sering stress, entah karena masalah
pekerjaan, masalah keluarga, kesehatan suaminya, ataupun kesehatannya
sendiri. Pasien dikatakan orang yang tertutup, jarang mau bercerita kepada
orang lain kalau ada masalah yang membebani pikirannya, tetapi hal tersebut

8
sering membuatnya sakit kepala. Penelitian terkini menunjukkan stress yang
lama berkontribusi pada sindrom metabolik dengan mengganggu
keseimbangan hormonal dari aksis Hipotalamus-Pituaitari-Adrenal, sehingga
menyebabkan tingginya kortisol dalam sirkulasi darah yang mengakibatkan
peningkatan glukosa dan insulin yang berdampak pada peningkatan lemak
visceral (obesitas abdominal), resistensi insulin, dislipidemia, dan hipertensi
2) Obesitas
Pada pasien didapatkan BMI sebesar 30,1 yang termasuk berat obesitas kelas
I. Lingkar pinggang pasien juga ditemukan lebih dari 88cm yaitu 109cm
yang menunjukkan adanya obesitas sentral. Obesitas sentral merupakan
faktor resiko yang penting pada sindrom metabolik karena adanya obesitas
sentral memiliki hubungan yang kuat dengan resistensi insulin, meskipun
orang dengan berat badan normal bisa jadi memiliki resistensi insulin dan
memiliki sindrom ini.
3) Gaya hidup tidak aktif/sedenter
Saat ini pasien sudah pensiun, dan kegiatan sehari-hari yang dilakukan di
rumah lebih banyak duduk menonton TV atau tiduran. Hal ini juga sempat
ditunjang dengan kecelakaan yang dialami pasien 3 tahun lalu yang
menyebabkan pasien tidak dapat banyak bergerak dan lebih banyak di
tempat tidur atau duduk. Padahal gaya hidup sedenter ini sangat
berhubungan dengan sindrom metabolik, dimana terjadi jaringan lemak di
abdominal, penurunan kolesterol HDL, peningkatan trigliserida, tekanan
darah, dan gula darah pada individu yang rentan secara genetik.
4) Umur
Umur pasien saat ini sudah 66 tahun, di mana sindrom metabolik dilaporkan
mengenai 44% populasi orang tua lebih dari 50 tahun di Amerika Serikat
dengan persentase wanita yang memiliki sindrom metabolik lebih tinggi
dibandingkan laki-laki.
5) DM tipe 2
Pasien sejak tahun lalu didiagnosis menderita DM tipe 2. Saat ini pasien
menggunakan 2 jenis obat anti hiperglikemia yaitu Metformin, dan Glicazide

9
Resistensi insulin merupakan salah satu faktor terjadinya sindrom
metabolik..
F. Pemecahan masalah
Sebagai dokter keluarga, langkah-langkah yang kami ambil adalah sesuai
dengan prinsip kedokteran keluarga sebagai berikut :
1) Personal
a. Memberikan penjelasan tentang sindrom metabolik kepada pasien, apa
penyebabnya, faktor resiko, gejala-gejala, cara pencegahan bagi
anggota keluarga yang belum terkena, dan cara pengobatannya.
b. Memberikan penjelasan pada pasien bahwa penyakit sindrom
metabolik bisa menyebabkan berbagai komplikasi jika tidak ditangani
dengan baik.
c. Menyarankan pasien berkonsultasi kepada dokternya mengenai
pengobatan tekanan darahnya, yang sudah dilakukan secara teratur,
namun belum mampu menurunkan tekanan darahnya. Jika dianggap
perlu, dapat dilakukan penambahan dosis atau kombinasi dengan obat
hipertensi jenis lainnya.
d. Menyarankan kepada pasien agar memperbaiki pola hidup dengan
tetap berolah raga teratur, menurunkan berat badan, makan makanan
yang cukup bergizi, tidur dan istirahat yang cukup, dan jangan terlalu
banyak memiliki beban pikiran yang dapat membuat stress.
e. Memberikan penjelasan mengenai pengobatan yang sedang dijalani
sekarang oleh pasien. Apa jenis obatnya, tujuan pengobatannya, efek
sampingnya, dan akibatnya apabila tidak patuh dalam menjalani
pengobatan.
2) Komprehensif
Komprehensif meliputi semua aspek tingkat pencegahan (primer, sekunder,
dan tersier). Upaya pencegahan ini dilaksanakan sesuai dengan perjalanan
alamiah penyakit tersebut pada setiap anggota keluarga. Pada pasien yang
saat ini sudah mengalami sindrom metabolik, upaya pencegahan yang dapat
dilakukan berupa pencegahan sekunder dan tersier. Sementara pada keluarga
pasien, khususnya anak dan suami pasien yang memiliki faktor resiko

10
dimana keduanya juga obesitas tipe I (IMT anak 32,2; IMT suami 31,1), dan
anaknya saat kunjungan ke rumah pasien tekanan darahnya 180/110 mmHg,
perlu dilakukan upaya pencegahan primer, dan sekunder.

Pencegahan primer :
a. Memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga mengenai faktor
resiko sindrom metabolik yaitu stress, berat badan berlebih dan obesitas,
gaya hidup tidak aktif/sedenter, umur, DM tipe 2, penyakit jantung
koroner, lipodistropi, schizophrenia dan penyakit psikiatri lainnya, serta
penyakit rematik.
b. Menjelaskan kepada keluarga cara mencegah terjadinya sindrom
metabolik dengan menghindari faktor resiko tersebut.
c. Menganjurkan kepada anak-anak serta suami pasien untuk mengurangi
stress, dengan belajar ikhlas dan pasrah.
d. Menganjurkan kepada anak-anak dan suami pasien untuk menjaga berat
badan ideal.
e. Menganjurkan kepada anak-anak dan suami pasien untuk mengatur pola
makan yaitu kurangi makanan yang berlemak, karbohidrat sederhana,
dan makanan yang banyak mengandung garam serta memperbanyak
konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.
f. Menganjurkan kepada anak-anak pasien untuk berolah raga secara
teratur yaitu minimal 3 kali seminggu, dengan durasi 30-60 menit.
Pencegahan sekunder :
1. Melakukan perubahan pola hidup di mana pasien mengalami obesitas
sehingga pasien harus berusaha untuk menurunkan berat badan sampai
IMT pasien berada dalam rentang 18,5-24,9. Adapun modifikasi pola
hidup yang dapat dilakukan adalah dengan berolahraga aerobik
(berjalan, berlari, berenang,dll) secara teratur minimal selama 30
menit/hari, mengkonsumsi banyak buah-buahan dan sayuran,
menghindari makanan yang berlemak dan mengurangi konsumsi garan
berlebih (<2,4 g/hari).
2. Menganjurkan pasien melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula
darah, dan berat badan secara teratur.

11
3. Karena hipertensi yang dialami pasien sudah termasuk dalam stadium 2
dan resisten maka perlu dipertimbangkan pemberian obat kombinasi.
Pengobatan dengan obat anti hipertensi Amlodipine 5 mg 1 x1 tablet
sebelum makan setiap hari dapat dilanjutkan ditambah dengan
pemberian Captopril 25 mg x 1 tablet. Adapun target tekanan darah
yang diusahakan tercapai adalah 120/80 mmHg. Untuk obat DM tipe 2
saat ini agar dilanjutkan, disesuaikan dengan hasil gula darahnya dimana
saat ini sudah menggunakan kombinasi 2 obat. Pengobatan OA juga
agar dilakukan sesuai petunjuk dokter, namun Meloxicam sendiri
sebenarnya jika digunakan dalam jangka waktu lama dapat
menyebabkan terjadinya serangan jantung apalagi pada orang dengan
hipertensi dan diabetes, sehingga penggunaannya harus hati-hati. Pasien
juga diberikan penjelasan mengenai pengobatan yang sedang dijalani
sekarang. Apa jenis obatnya, tujuan pengobatannya, efek sampingnya,
dan akibatnya apabila tidak patuh dalam menjalani pengobatan.
Menekankan kepada pasien bahwa kepatuhan dalam minum obat
sangatlah penting.
4. Menganjurkan kepada pasien untuk melakukan pemeriksaan kadar
kolesterol dalam darah untuk mengetahui bagaimana HDL-C serta
trigliserida pasien, jika berlebih maka dapat dilakukan penanganan yang
tepat sedini mungkin.
5. Menganjurkan kepada suami pasien untuk kontrol ke dokter secara rutin
untuk penyakit jantungnya, dan minum obat teratur.
6. Menyarankan kepada anak pasien untuk memeriksakan diri ke dokter
karena saat dikunjungi tekanan darahnya juga 180/110mmHg, sehingga
jika memang tensinya tinggi dapat ditangani secepat mungkin.
Pencegahan tersier :
1. Menjelaskan kepada pasien agar melakukan kontrol rutin dan minum
obat teratur untuk mencegah terjadinya komplikasi, seperti stroke,
penyakit jantung, diabetic foot, gagal ginjal dan penyakit lainnya yang
disebabkan oleh sindrom metabolik.

12
2. Menjelaskan kepada pasien agar selalu menggunakan alas kaki, karena
pada orang dengan DM tipe 2 ada kemungkinan terjadi neuropati,
sehingga untuk mencegah terjadinya luka yang sulit sembuh harus
melakukan pencegahan terjadinya trauma, dan mengontrol gula darah.
3. Makan makanan bergizi dan teratur, jangan berlebih atau kekurangan
untuk mencegah terjadinya hipoglikemi karena saat ini pasien minum dua
jenis obat antihiperglikemia.

3) Berkesinambungan
a. Pemantauan kesehatan dan kepatuhan dalam minum obat pasien
dilakukan oleh secara aktif serta secara rutin melakukan pemeriksaan
tekanan darah, gula darah, dan kolesterol dan berat badan ke puskesmas
atau rumah sakit.
4) Koordinatif dan kolaboratif
Koordinatif dan kolaboratif yaitu bekerjasama dan membagi peran dengan
pihak stakeholder terkait seperti kelompok profesional (spesialis, analis,
apoteker), pemuka/tokoh masyarakat, termasuk keluarga pasien sendiri.
Meminta agar keluarga pasien ikut berpartisipasi aktif dalam pengobatan
pasien. Misalnya dengan mengantar pasien kontrol ke Puskesmas dan
mengawasi pola kerja serta pola makannya untuk mencegah perburukan dari
kondisinya. Menyarankan pihak puskesmas dan pihak banjar setempat agar
semakin giat mendukung terlaksananya program posyandu lansia karena
dalam salah satu kegiatannya terdapat senam lansia rutin seminggu 3 kali,
yang dapat mendukung kesehatan para lansia termasuk pasien untuk menjadi
lebih aktif, berolahraga teratur, dan menurunkan berat badan jika berlebih.

5) Mengutamakan Pencegahan
a. Mengingatkan pasien untuk tetap rajin minum obat, menurunkan berat
badan, mengubah gaya hidup menjadi lebih aktif, serta tetap teratur
berolahraga.
b. Selalu memeriksakan rutin tekanan darah, berat badan, dan gula darah
sebulan sekali.
6) Memberdayakan keluarga, masyarakat dan lingkungannya
Memberikan KIE dan mempromosikan perilaku hidup yang sehat.

13
a. Memberikan penjelasan mengenai kondisi pasien saat ini kepada
keluarga. Menjelaskan bahwa penyakitnya merupakan penyakit
degeneratif dan membutuhkan perubahan prilaku hidup pasien.
Menjelaskan bahwa anggota keluarga lain juga bisa menderita sindrom
metabolik sehingga bersama-sama perlu mengubah gaya hidup menjadi
lebih sehat, dengan lebih aktif, mengatur pola makan, dan lebih rajin
berolahraga teratur.
b. Memberikan penjelasan kepada tetangganya bahwa penyakit yang
dideritanya tidak menular. Tetapi bisa diderita oleh siapapun apabila
faktor resiko yang ada tidak ditanggulangi, sehingga bersama-sama
sebaiknya saling mendukung dan aktif dalam upaya pencegahan faktor
resiko salah satunya dengan aktif dalam kegiatan senam lansia pada
posyandu lansia.
G. Kesimpulan
Kasus sindrom metabolik erat kaitannya dengan kegiatan kedokteran keluarga.
Dimana perjalanan penyakit yang panjang sehingga diperlukan intervensi yang
lama, kerja sama antar berbagai pihak, baik pihak pasien, keluarga, dan penyedia
pelayanan kesehatan. Intervensi bukan hanya terhadap penyakitnya saja, akan
tetapi melihat manusia seutuhnya. Kunjungan rumah dilakukan untuk
mewujudkan hal ini dimana pendekatan terhadap pasien beserta keluarganya
dengan mengunakan prinsip-prinsip kedokteran keluarga menjadi prioritas.

14
Dokumentasi

Gambar dokter muda bersama pasien

Gambar Dapur

15
Gambar kebun (kiri) dan Bale (kanan)

16