You are on page 1of 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejarah tentang kondisi telinga, hidung dan tenggorokan yang abnormal


telah tercatat di Mesir pada tahun 350 SM. Referensi tentang trakeostomi yang
dicatat sebagai insisi arteri kasar dapat ditemukan dalam rekam medik sejak
tahun 1500 SM. Pada pertengahan tahun 1800-san, bidang keahlian ini
memperlihatkan kemajuan yang pesat. Pengujian dengan menggunakan garputala
telah digunakan untuk mengevaluasi pendengaran. Pada tahun 1861, Meniere
menguraikan tentang labirin telinga dalam, vertigo, dan tuli. Schwartze
memperkenalkan mastoidektomi sederhana untuk penatalaksanaan mastoiditis
pada tahun 1873. Dalam waktu 17 tahun, mastoidektomi radikal telah dilakukan.
Pada tahun 1882, operasi septum hidung diperkenalkan, diikuti dengan operasi
sinus frontalis untuk mengobati infeksi sinus. Pada tahun 1900-san, renoplasti
telah dilakukan, dan prosedur caldwel-luc dikembangkan untuk sinusinitis
maksilaris. Perkembangan mikroskop binokuler pada tahun 1922 membuat
otolaringologi menjadi bidang spesialisasi bedah pertama yang menggunakan
mikroskop secara rasio dalam lingkungan bedah. Leser berkembang pada
prosedur endoskopi, otolaringologi pediatrik, bedah plastik, otolaringologi
geriatrik, dan perkembangan alat protese untuk rekonstruksi kepala dan leher telah
mempelopori prosedur pembedahan yang baru (Rothrock, 2000)

Ada banyak perubahan dan kemajuan dalam perkembangan operasi pada


telinga, hidung, dan tenggorokan yang sebelumnya dikenal dengan bedah THT.
Perawat perioperatif yang berpraktik di lingkungan bedah otolaringologi harus
meningkatkan dan mengembangkan dasar ilmu pengetahuan ilmu keperawatannya
untuk mengikuti kemajuan teknologi dan instrumen (Muttaqin, 2011)

Tindakan operasi adalah sebuah tindakan yang bagi sebagian besar klien
adalah sesuatu yang menakutkan dan mengancam jiwa klien. Hal ini
dimungkinkan karena belum adanya pengalaman dan dikarenakan juga adanya
tindakan anestesi yang membuat klien tidak sadar dan membuat klien merasa
terancam takut apabila tidak bisa bangun lagi dari efek anestesi. Tindakan operasi
membutuhkan persiapan yang matang dan benar-benar teliti karena hal ini
menyangkut berbagai organ, terutama jantung, paru, pernafasan. Untuk itu
diperlukan perawatan yang komprehensif dan menyeluruh guna mempersiapkan
tindakan operasi sampai dengan benar-benar aman dan tidak merugikan klien
maupun petugas.
BAB II
PEMBAHASAN