You are on page 1of 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Mioma uteri merupakan tumor jinak yang struktur yang utamanya adalah otot polos
rahim. Mioma uteri juga dikenali sebagai leiomioma uteri dan fibromioma uteri dan
bisa didefinisikan sebagai neoplasma jinak klonal yang timbul dari selsel otot polos
di dinding rahim. Strukturnya mengandung peningkatan dalam jumlah kolagen dan
elastin ekstraseluler. Sebuah psedokapsul tipis terdiri dari jaringan areole dan serat
otot terkompresi mengelilingi tumor. Mioma uteri dapat memperbesar dan
menyebabkan distorsi yang signifikan dari permukaan uterus. Mioma uteri biasanya
berukuran kurang dari 15cm tetapi pada kasus yang jarang dapat mencapai ukuran
yang sangat besar, dengan berat lebih 45kg. Penyebab mioma uteri belum dikenal
pasti. Studi mengenai Glukosa-6-Fosfat menunjukkan bahwa setiap individu
berasal dari uniseluler (monoclonal) (DeCherney, 2006).

Mioma uteri terjadi pada 20% - 25% perempuan di usia reproduktif tetapi oleh
faktor yang tidak diketahui secara pasti. Insidensinya 3-9 kali lebih banyak pada ras
kulit berwarna dibandingkan dengan ras berkulit putih. Selama 5 dekade,
ditemukan 50% kasus mioma uteri terjadi pada ras kulit berwarna. Data statistik
menunjukkan 60% mioma uteri terjadi pada wanita yang tidak pernah hamil
ataupun hamil hanya satu kali. Kejadian mioma uteri sebesar 20% - 40% ditemukan
pada wanita yang mencecah usia 35 tahun (Pasinggi, 2013).

Menurut studi yang dilakukan di Departmen Obstetrics & Gynecology, Zanana


Hospital, SMS Medical College Jaipur ditemukan kejadian mioma uteri 508
daripada 7348 kasus ginekologi dalam tempo 18 bulan (Sanjay, 2013). Di
Indonesia, kejadian mioma uteri ditemukan 2.39% - 11.7% pada semua penderita
ginekologi yang dirawat di RSUD, sering ditemukan pada wanita nulipara ataupun
pada wanita kurang subur (Baziad, 2003). Prevalensi mioma uteri di Surabaya dan

1
Riau masing-masing 10.03% dan 8.03% dari semua pasien ginekologi yang dirawat
(Ita Rahmi, 2012).

Menurut Dinas Kesehatan Republik Indonesia, angka kejadian mioma uteri dari
2010-2011 mengalami penurunan yaitu pada tahun 2010 penderita mioma uteri 68
orang dan pada tahun 2011 penderita mioma uteri menurun sehingga 42 orang.
(A.Artifasari, 2014).

Perdarahan menjadi gejala klinis yang paling sering dan hal ini terjadi pada 30%
penderita mioma uteri. Pengobatan mioma uteri dengan gejala klinik umumnya
adalah tindakan histerektomi(pengangkatan rahim). Sekitar 40% operasi
pengangkatan rahim dilakukan atas indikasi adanya mioma uteri(Artifasari, 2014).
Di United Kingdom (UK) pengangkatan rahim dilakukan sekitar 60.000 setiap
tahun (Lilyani, 2012).

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

1. Mioma uteri ataupun dikenali sebagai fibromioma uteri, leiomioma uteri


dan uterine fibroid dalam dunia kedokteraan merupakan tumor jinak
yang strukturnya utama adalah otot pols rahim (Anwar, 2011).
2. Mioma uteri adalah tumor non kanker yang tumbuh di dalam jaringan
otot rahim (Anwar, 2011).
3. Mioma uteri adalah neoplasma jinak jaringan lunak yang timbul dari
otot polos. Mereka pertama kali dijelaskan oleh Virchow pada tahun
1854. Bentuk herediter yang menyebabkan beberapa mioma uteri
awalnya dicatakan oleh Kloepfer et al pada tahun 1958. Penyakit ini
dapat mengembang dengan kehadiran otot polos (Horner, 2006).

2.2 Etiologi

Faktor-faktor pnyebab mioma uteri belum diketahui namun terdapat 2 teori:

1. Teori Stimulasi

Berpendapat bahwa estrogen sebagai faktor etiologi:

1. Mioma uteri tumbuh lebih cepat pada masa hamil.


2. Neoplasma ini tidak pernah ditemukan sebelum menarche.
3. Mioma uteri biasanya mengalami atrofi sesudah menopause.
4. Hiperplasia endometrium ditemukan bersama dengan mioma uteri.

3
2. Teori Cellnest

Terjadinya mioma uteri tergantung pada sel-sel otot imatur yang terdapat pada cell
nest yang selanjutnya dapat dirangsang terus menerus oleh estrogen (Bieber, 2006).

2.3 Epidemiologi

Mioma uteri sering ditemukan pada wanita usia reproduktif sebanyak 20% - 25%.
Pada usia melebihi 35 tahun insidensi mioma uteri lebih tinggi. Menurut penelitian
yang dilakukan di Amerika Serikat, 3-9 kali lebih banyak pada ras kuli berwarna
dibandingkan dengan ras berkulit putih. Selama 5 dekade, ditemukan 50% kasus
mioma uteri terjadi pada ras kulit berwarna. Namun di Afrika, wanita kulit putih
sedikit sekali menderita mioma uteri. Perbedaan Amerika dan Afrika dikaitkan
dengan perbedaan pola hidup. Di Amerika Syarikat, dari 650.000 histerektomi yang
dilakukan per tahun, sebanyak 27% adalah disebabkan mioma uteri. Di Indonesia,
mioma uteri ditemukan sebanyak 2,39%-11.7% (Ita Rahmi, 2012).

2.4 Faktor Resiko

1. Umur

Berdasarkan otopsi, Novak menemukan 27% wanita berumur 25 tahun mempunyai


sarang mioma. Mioma uteri tidak pernah ditemukan sebelum menarche. Setelah
menopause kira-kira hanya 10% mioma uteri yang masih tumbuh.

2. Usia Menarche

Beberapa penelitian mengemukakan bahwa peningkatan pertumbuhan mioma uteri


merupakan respon dari stimulus estrogen. Insidensi mioma uteri meningkat
signifikan pada wanita yang mengalami menarche sebelum umur 11 tahun. Paparan
estrogen yang semakin lama akan meningkatkan insidensi mioma uteri. Menarche
dini (< 10 tahun) ditemukan meningkatkan resiko relatif mioma uteri dan menarche
yang lambat (> 16 tahun) menurunkan resiko relatif mioma uteri.

4
3. Paritas

Mioma uteri sering terjadi pada wanita nulipara atau wanita yang hanya mempunyai
1 anak. Penelitian yang dilakukan oleh Parker menunjukkan bahwa semakin
meningkat jumlah kehamilan akan menurunkan kejadian mioma uteri. Suatu
penelitian ditunjukkan bahwa resiko menurun hingga 70% pada wanita yang
melahirkan 2 anak atau lebih.

4. Kehamilan

Meningkatnya vaskularisasi uterus ditambah dengan meningkatnya kadar estrogen


sirkulasi sering menyebabkan pembesaran dan pelunakan mioma. Jika
pertumbuhan mioma terlalu cepat akan melebihi suplai darah sehingga terjadi
perubahan degeneratif tumor ini. Hasil yang paling serius adalah nekrobiosis
(degenerasi merah). Pasien dapat mengeluh nyeri dan demam derajat rendah,
biasanya pada kehamilan sepuluh minggu kedua. Palpasi menunjukkan bahwa
mioma sangat luak.

5. Ras

Di negara Amerika, prevalensi mioma uteri adalah 5%-21%. Kejadian mioma uteri
antara ras Africa-American adalah sebanyak 60% dan antara ras Caucasian adalah
40%. Resiko ini tidak berhubungan dengan faktor lain. Walaubagaimanapun, pada
penelitian terbaru menunjukkan Val/Val genotype untuk enzim essensial kepada
metabolisme estrogen, catechol-O-methyltransferase (COMT) ditemui sebanyak
47% pada wanita Afrika-Amerika berbanding hanya 19% pada wanita kulit putih.
Wanita dengan genotype ini lebih rentan untuk menderita mioma uteri. Ini
menjelaskan mengapa prevalensi yang tinggi untuk menderita mioma uteri
dikalangan wanita Afrika-Amerika lebih tinggi.

6. Riwayat keluarga

Wanita dengan garis keturunan tingkat pertama dengan penderita mioma uteri
mempunyai peningkatan 2,5 kali kemungkinan resiko untuk menderita mioma uteri
dibanding dengan wanita tanpa garis keturunan penderita mioma uteri. Penderita

5
mioma yang mempunyai riwayat keluarga penderita mioma uteri mempunyai 2 kali
lipat kekuatan ekspresi dari VEGF- (a myoma-related growth factor)
dibandingkan dengan penderita mioma yang tidak mempunyai riwayat keluarga
penderita mioma uteri.

7. Hormon endogen (Endogenous Hormonal)

Mioma uteri sangat sedikit ditemukan pada spesimen yang diambil dari hasil
histerektomi wanita yang telah menopause, diterangkan bahwa hormon esterogen
endogen pada wanita-wanita menopause pada kadar yang rendah atau sedikit. Awal
menarke (usia di bawah 10 tahun) dijumpai peningkatan resiko (RR 1,24) dan
menarke lewat (usia setelah 16 tahun) menurunkan resiko (RR 0,68) untuk
menderita mioma uteri.

8. Berat badan

Satu studi prospektif dijalankan dan dijumpai kemungkinan risiko menderita


mioma uteri adalah setinggi 21% untuk setiap kenaikan 10kg berat badan dan
dengan peningkatan indeks massa tubuh. Temuan yang sama juga turut dilaporkan
untuk wanita dengan 30% kelebihan lemak tubuh. Ini terjadi kerana obesitas
menyebabkan pemingkatan konversi androgen adrenal kepada estrone dan
menurunkan hormon sex-binding globulin. Hasilnya menyebabkan peningkatan
estrogen secara biologis yang bisa menerangkan mengapa terjadi peningkatan
prevalensi mioma uteri dan pertumbuhannya.

9. Diet

Ada studi yang mengaitkan dengan peningkatan terjadinya mioma uteri dengan
pemakanan seperti daging sapi atau daging merah atau ham bisa meningkatkan
insidensi mioma uteri dan sayuran hijau bisa menurunkannya. Studi ini sangat sukar
untuk diintepretasikan kerana studi ini tidak menghitung nilai kalori dan
pengambilan lemak tetapi sekadar informasi sahaja dan juga tidak diketahui dengan
pasti apakah vitamin, serat atau phytoestrogen berhubung dengan mioma uteri.

6
10. Kebiasan merokok

Merokok dapat mengurangi insidensi mioma uteri. Banyak faktor yang bisa
menurunkan bioavalibiltas hormon estrogen pada jaringan seperti: penurunan
konversi androgen kepada estrone dengan penghambatan enzim aromatase oleh
nikotin (Kurniasari, 2010).

2.5 Patogenesis

Penyebab mioma uteri tidak diketahui. Glukosa-6-fosfat menunjukkan bahwa


masing-masing mioma individu berasal dari unisellular (monoclonal). Meskipun
tidak ada bukti menunjukkan bahwa penyebab mioma adalah estrogen terlibat
dalam pertumbuhan mioma. Mioma mengandung reseptor estrogen dalam
konsentrasi tinggi dari miometrium sekitarnya tetapi dalam konsentrasi lebih
rendah dari endometrium. Progestrone meningkatkan aktivitas mitosis dari mioma
pada wanita muda. Progestrone memungkinkan untuk pembesaran tumor dengan
penurunan apoptosis dalam tumor. Estrogen dapat berkontribusi untuk pembesaran
tumor dengan meningkatkan produksi matriks ekstrasellular. Mioma bertambah
besar dengan terapi estrogen dan selama kehamilan. Ada spekulasi bahwa
pertumbuhan mioma pada kehamilan berkaitan dengan sinergis estradiol dan
laktogen plasenta (hPL). Biasanya ukuran akan menurun setelah menopause
(DeCherney, 2006).

2.6 Patofisiologi

Mioma memiliki reseptor estrogen yang lebih banyak dibanding miometrium


normal. Teori cellnest atau teori genitoblast membuktikan dengan pemberian
estrogen ternyata menimbulkan tumor fibromatosa yang berasal dari sel imatur.
Mioma uteri terdiri dari otot polos dan jaringan yang tersusun seperti konde diliputi
pseudokapsul. Mioma uteri lebih sering ditemukan pada nulipara, faktor keturunan
juga berperan. Perubahan sekunder pada mioma uteri sebagian besar bersifat
degeneratif karena berkurangnya aliran darah ke mioma uteri. Menurut letaknya,
mioma terdiri dari mioma submukosa,intramular dan subserosa. Lihat gambar 2.1
yang menunjukkan gambaran patofisiologi mioma uteri (Stuti, 2011).

7
Gambar 2.1 Patofisiofologi mioma uteri Sumber : Stuti, 2011

2.7 Patologi Anatomi

Gambaran histopatologi mioma uteri adalah seperti berikut:

Pada gambaran makroskopik menunjukkan suatu tumor berbatas jelas, bersimpati,


pada penampang menunjukkan massa putih dengan susunan lingkaran-lingkaran
konsentrik di dalamnya. Tumor ini bisa terjadi secara tunggal tetapi kebiasaanya
terjadi secara multipel dan bertaburan pada uterus dengan saiz yang berbeda-beda.

8
Perubahan-perubahan sekunder yang terjadi pada mioma uteri adalah:

1. Degenerasi jinak:

a. Atrofi

Ditandai dengan pengecilan tumor yang umumnya terjadi setelah persalinan dan
menopause.

b. Degenerasi Hialin:

Perubahan ini sering terjadi terutama pada penderita berusia lanjut. Tumor
kehilangan struktur aslinya menjadi homogen. Terjadi pada mioma yang matang
dimana bagian yang semula aktif tumbuh kemudian terhenti akibat kehilangan
pasokan nutrisi dan berubah warnanya menjadi kekuningan, melunak atau melebur
menjadi cairan gelatin sebagai tanda degenerasi hialin.

c. Degenerasi Kistik:

Setelah mengalami hialinisasi, hal tersebut berlanjut dengan cairnya gelatine


sehingga mioma konsistensinya menjadi kistik. Adanya kompresi atau tekana fisik
pada bagian tersebut dapat menyebabkan keluarnya cairan kista kavum uteri,
kavum peritoneum atau retroperitoneum.

d. Degenerasi membatu (Calcireous Degeneration):

Terutama terjadi pada wanita berusia lanjut oleh kerana adanya gangguan dalam
sirkulasi. Dengan adanya pengendapan kalsium karbonat dan fosfat pada sarang
mioma maka mioma menjadi keras dan memberikan bayangan pada foto rontgen.

e. Degenerasi Septik:

Defisit sirkulasi dapat menyebabkan mioma mengalami nekrosis di bagian tengah


tumor yang berlanjut dengan infeksi yang ditandai dengan nyeri, kaku dinding perut
dan demam akut.

9
f. Degenerasi merah (Carneous Degeneration):

Perubahan ini biasanya terjadi pada kehamilan dan nifas. Patogenesis terjadinya
diperkirakan kerana suatu nekrosis subakut sebagai gangguan vaskularisasi. Pada
pembelahan dapat dilihat sarang mioma seperti daging mentah bewarna merah
disebabkan oleh pigmen hemosiderin dan hemofusin. Degenerasi merah tampak
khas apabila pada kehamilan muda disertai emesis, haus, sedikit demam, kesakitan,
tumor pada uterus membesar dan nyeri pada perabaan.

g. Degenerasi Miksomatosa:

Terjadi setelah proses degenerasi hialin dan kistik. Degenerasi ini sangat jarang dan
umumnya asimtomatik (Nucci, 2009).

2. Degenerasi ganas:

Transformasi ke arah keganasan (menjadi miosarkoma) terjadi pada 0,1% - 0,5%


penderita mioma uteri (Anwar, 2011).

2.8 Klasifikasi

1. Mioma submukosum:

Mioma yang berada dibawah endometrium dan menonjol ke dalam rongga uterus.
Mioma jenis ini walaupun hanya kecil selalu memberikan keluhan perdarahan
melalui vagina. Mioma submukosum dapat tumbuh bertangkai menjadi polip,
kemudian dilahirkan melalui saluran serviks (myoma geburt).

2. Mioma Intramural:

Mioma intrmural disebut juga sebagai mioma intrepitelial, biasanya multipel.


Tumor jenis ini terdapat di dinding uterus di antara serabut miometrium, dan sering
tidak memberikan gejala klinis yang berarti kecuali rasa tidak enak karena adanya
massa tumor di daerah perut sebelah bawah.

10
3. Mioma subserosum:

Lokasi tumor di subserosa korpus uteri, dapat hanya sebagai tonjolan saja, dapat
pula sebagai satu massa yang dihubungkan dengan uterus melalui tangkai. Mioma
dapat tumbuh di antara kedua lapisan ligamentum latum menjadi mioma intra
ligamenter, selain itu mioma ini dapat pula tumbuh menempel pada jaringan lain,
misalnya ke ligamentum atau omentum dan kemudian membebaskan diri dari
uterus sehingga disebut wandering/parasistic fibroid (Anwar, 2011).

Gambar 2.2 Tempat letak Mioma uteri

Sumber : Mioma Uteri. 2009. Gejala mioma uteri, ciri-ciri dan tanda- tanda
penyakit mioma uteri dan obat mioma uteri.

2.9 Gambaran Klinis

Gejala klinik hanya terjadi pada 35% - 50% penderita mioma. Hampir sebagian
besar penderita tidak mengetahui bahwa terdapat kelainan di dalam uterusnya,
terutama sekali pada penderita dengan obesitas. Keluhan penderita sangat
tergantung pula dari lokasi atau jenis mioma yang diderita. Berbagai keluhan
penderita berupa.

1. Perdarahan Uterus Abnormal

Perdarahan menjadi manifestasi klinis utama pada mioma dan hal ini terjadi pada
30% penderita. Bila terjadi secara kronis maka dapat terjadi anemia defisiensi zat
besi dan bila berlangsung lama dan dalam jumlah yang besar maka sulit untuk
dikoreksi dengan suplementasi zat besi. Perdarahan pada mioma submukosa
seringkali diakibatkan oleh hambatan pasokan darah endometrium, tekanan dan

11
bendungan pembuluh darah di area tumor (terutama vena) atau ulserasi
endometrium di atas tumor. Tumor bertangkai seringkali menyebabkan trombosis
vena dan nekrosis endometrium akibat tarikan dan infeksi (vagina dan kavum uteri
terhubung oleh tangkai yang keluar dari ostium serviks). Dismenorea dapat
disebabkan oleh efek tekanan, kompresi, termasuk hipoksia lokal miometrium.

2. Nyeri

Mioma tidak menyebabkan nyeri dalam pada uterus kecuali apabila kemudian
terjadi gangguan vaskuler. Nyeri lebih banyak terkait dengan proses degenerasi
akibat oklusi pembuluh darah, infeksi, torsi tangkai mioma atau kontraksi uterus
sebagai upaya untuk mengeluarkan mioma subserosa dari kavum uteri. Gejala
abdomen akut dapat terjadi bila torsi berlanjut dengan terjadinya infark atau
degenerasi merah yang mengiritasi selaput peritoneum (seperti peritonitis). Mioma
yang besar dapat menekan rektum sehingga menimbulkan sensasi mengedan. Nyeri
pinggang dapat terjadi pada penderita mioma yang menekan pensyarafan yang
berjalan di atas permukaan tulang pelvis.

3. Efek Penekanan

Walaupun mioma dihubungkan dengan adanya desakan tekan, tetapi tidaklah


mudah untuk menghubungkan adanya penekanan organ dengan mioma. Mioma
intramural sering dikaitkan dengan penekanan terhadap organ sekitar. Parasitik
mioma dapat menyebabkan obstruksi saluran cerna perlekatannya dengan omentum
menyebabkan strangulasi usus. Mioma serviks dapat menyebabkan sekret
serosanguinea vaginal, perdarahan, dispareunia dan infertilitas. Bila ukuran tumor
lebih besar lagi akan terjadi penekanan ureter, kandung kemih dan rektum. Abortus
spontan dapat disebabkan oleh efek penekanan langsung mioma terhadap kavum
uteri. Semua efek penekanan dapat dikenali melalui pemeriksaan IVP, kontras
saluran cerna, rontgen dan MRI (Anwar, 2011).

12
2.10 Diagnosis

Anamnesis

Dalam anamnesis, dicari keluhan utama serta gejala-gejala mioma ut eri lainnya,
faktor resiko serta kemungkinan komplikasi yang terjadi pada penderita yang hamil.
Seringkali penderita mengeluh akan rasa berat dan adanya benjolan pada perut
bagian bawah, kadangmempun yai gangguan haid dan ada rasa nyeri.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan status lokalis dengan palpasi abdomen. Kadang, mioma uteri dapat
diduga dengan pemeriksaan luar sebagai tumor yang keras, bentuk tidak teratur,
gerakan bebas, tidak sakit. Bila belum jelas, terutama pada wanita gemuk, dapat
dilakukan pemeriksaan bimanual. Pemeriksaan bimanual akan mengungkap tumor
pada uterus, yang umumnya terletak di garis tengah atau pun agak ke samping,
seringkali teraba terbenjol-benjol. Mioma subserosum dapat mempunyai tangkai
yang berhubung dengan uterus. Tumor teraba sebagai nodul ireguler dan tetap, area
perlunakan memberi kesan adanya perubahan degeneratif. Pada pemeriksaan
pelvis, serviks biasanya normal namun pada keadaan tertentu mioma submukosa
yang bertangkai dapat mengakibatkan dilatasi serviks dan terlihat pada osteum
servikalis. Uterus cenderung membesar tidak beraturan dan noduler. Perlunakan
tergantung pada derajat degenerasi dan kerusakan vaskular. Uterus sering dapat
digerakkan, kecuali apabila terdapat keadaan patologik pada adneksa. Kavum
endometrium dapat membesar karena tumor submukosa.

Pemeriksaan Laboratorium

Anemia disebabkan perdarahan uterus yang banyak dan habisnya cadangan zat besi.
Namun pada kebanyakkan pasien akan terjadi mekanisme eritrositosis. Pada kasus
dengan komplikasi menjadi degenerasi akut atau infeksi akan ditemukan
leukositosis.

13
Pencitraan

a. Ultra Sonografi (USG):

Mioma uteri yang besar paling bagus didiagnosis dengan kombinasi transabdominal
dan transvaginal sonografi. Gambaran sonografi mioma kebiasaanya adalah
simetrikal, berbatas tegas, hypoechoic dan degenerasi kistik menunjukkan
anechoic. USG menunjukkan gambaran massa padat dan homogen pada uterus.
Mioma uteri berukuran besar terlihat sebagai massa pada abdomen bawah dan
pelvis, dan kadang terlihat tumor dengan kalsifikasi (Howard, 2000). Lihat gambar
2.3 yang menunjukkan gambaran USG mioma uteri.

Pemeriksaan Penunjang:

Gambar 2.3 USG Mioma Uteri

Sumber : Diana Hamilton-Fairley, 2008. Lecture Notes: Obstetrics and


Gynaecology.

b. Magnetic Resonance Imaging (MRI):

Lebih baik daripada USG tetapi mahal. MRI mampu menentukan ukuran, lokasi
dan jumlah mioma uteri serta bisa mengevaluasi jarak penembusan mioma
submukosa di dalam dinding miometrium. MRI akan menghasilkan gambaran
dengan menyerap energy dari suatu gelombang radio berfrekuensi tinggi yang
menunjukkan adanya mioma. Lihat gambar 2.4 yang menunjukkan gambaran MRI
mioma uteri.

14
Gambar 2.4 MRI Mioma Uteri

Sumber : Fibroid Second Opinion. 2013. William H. Parker, MD.

c. Histerosalfingografi (HSG):

Digunakan untuk mendeteksi mioma uteri yang tumbuh kearah kavum uteri pada
pasien infertil. Merupakan suatu prosedur yang me nghasilkan gambaran foto
rontgen bagian dalam lavitas uterus dan u ntuk mengetahui keadaan tuba falopii.
Sejumlah cairan yang menga ndung iodine diinjeksikan melalui cervix ke dalam
uterus dan tuba falopii, hasil foto rontgen didapatkan.

d. Urografi intravena:

Digunakan pada kasus massa di pelvis sebab pada kasus tersebut sering terjadi
deviasi ureter atau penekanan dan anomali sistem urinarius. Cara ini baik untuk
mengetahui posisi, jumlah massa pada ureter dan ginjal.

e. Computed Tomography (CT)

CT merupakan salah satu tipe rontgen yang menggunakan komputer untuk


menghasilkan gambaran struktur tubuh seperti uterus. Walapun jarang dibutuhkan,
hasil gambaran CT dapat memperlihatkan adanya mioma.

f. Sonohistografi

Suatu prosedur ultrasonic di mana kavitas uterus dibatasi oleh sejumlah kecil
cairan. Cairan ini ditempatkan pada uterus melalui suatu selang plastik kecil. Pasien
bisa merasakan kram yang ringan. Sonohistografi meningkatkan kemampuan

15
pemeriksa untuk mengidentifikasi mioma yang masuk ke dalam kavum uteri (Stuti,
2011) .

2.11 Penatalaksanaan

1. Terapi Emergensi

Transfusi darah mungkin diperlukan untuk memperbaiki anemia. Transfusi packed


red cell lebih digunakan daripada whole blood. Operasi biasa diindikasikan untuk
pasien ketika mereka menjadi secara hemodinamik stabil. Operasi emergensi
diindikasikan untuk infeksi mioma, torsi akut, atau obstruksi usus yang disebabkan
oleh pedunkulata atau parisitik mioma.

2. Terapi Khusus

a. Terapi Medikasi

Tujuan daripada perawatan medis adalah untuk meringankan atau mengurangi


gejala. Meskipun tidak ada terapi medikasi yang pasti ada pada saat ini tersedia
untuk mioma uteri, gonadotropin- releasing hormone(GnRH) agonis membuktikan
bahwa GnRH adalah sangat berguna untuk membatasi pertumbuhan atau membantu
mengurangi ukuran tumor. GnRH agonis dapat menyebabkan hypogonadism
melalui hipofisis desensitisasi, mengatur turun reseptor, dan penghambatan
gonadotropin. Terapi gonadotropin yang dilakukan untuk mioma uteri untuk 3
bulan akan mencapai penyusutan maksimum mioma uteri untuk lebih kurang 35%-
60% daripada volumnya dan hasil amenorrhea akan membaiki dalam parameter
hematologik. Terapi GnRH dilimitasi oleh efek samping hipopoestrogenik dan
keropos tulang, terutama dengan terapi yang dilakukan untuk lebih 6 bulan. Ada
kembalinya cepat volume uterus dan menstruasi pada penghentian terapi GnRH
agonis mungkin berguna untuk perdarahan control untuk mioma uteri; tingkat
preoperatif hematokrit, bertindak sebagai ukuran raguan sampai operasi dapat
dijadwalkan atau menopause diantisipasi atau penyusutan mioma akan
mengizinkan histerektomi vagina. Pil kontrasepsi oral umumnya diresepkan untuk
mengontrol perdarahan uterus abnormal tetapi terapinya tidak efektif dalam
pengobatan mioma. Pil kontrasepsi oral dapat membantu dalam mengobati kondisi

16
hidup bersama perdarahan anovulasi yang mungkin memberikan kontribusi untuk
mioma. Suatu penelitian menunjukkan hasil yang baik dengan penggunaan
levonorgestrel-releasing intrauterine alat untuk terapi menorrhagia terkait dengan
beberapa mioma kecil (Tinelli, 2014).

3. Terapi Operasi

Operasi adalah terapi yang paling penting untuk mioma. Pemeriksaan Imaging
paling sering harus disertai dengan evaluasi untuk menyingkirkan proses neoplastik
panggul lainnya. Semua pasien harus mengikuti serviks Papanicolaou smear test
dan endometrium evaluasi jikalau perdarahannya irregular. Sebelum operasi
definitive, volume darah yang diperlukan harus disediakan terlebih dahulu dan
langkah- langkah lain seperti administrasi antibiotika profilatik atau heparin harus
dipetimbangkan. Mekanikal dan persediaan antibiotika usus dapat digunakan bila
operasi panggul menjadi sukar.

a. Miomektomi:

Miomektomi adalah salah satu pilihan simptomatik pasien yang ingin untuk
memelihara fertilitas atau melindungi uterus. Kerugian signifikan adalah resiko
untuk mioma yang akan timbul. Pascamiomektomi setelah 5 tahun, 50% - 60%
pasien akan mempunyai mioma baru yang akan dideteksi dalam ultrasound (USG),
dan lebih dari 25% pasien akan memerlukan operasi major untuk kali kedua.
Pasangan harus menjalani evaluasi infertilitas menyeluruh sebelum wanita tersebut
menjalani miomektomi untuk memajukan fertilitas.

Kebanyakkan wanita akan dinasihati untuk melambatkan kehamilan untuk 3-6


bulan selepas miomektomi abdomen dan untuk merencanakan sektio sesarean
selepas mengeliminasi mioma transmural. Resiko untuk kerusakan uterus
disebabkan oleh paritas selepas miomektomi abdomen dilaporkan sebanyak
0,0002%. Miomektomi yang dilakukan melalui histeroskopi dalam kasus mioma
submukosa dan melalui laparaskopi untuk mioma subserosa yang angkanya kecil
atau mioma intramural sedang meningkat. Kekuatan penutupan uterus dalam
laparaskopi mioma ialah kontroversi, dan kerusakan uterus dilaporkan apabila masa

17
gestasi 33 minggu. Pasien yang menginginkan fertilitas dinasihatkan tentang
resikonya.

Pedunculated mioma submukosa yang bertumbuh dalam vagina dapat disingkirkan


kadang-kala dengan menggunakan tali yang ada lengkungan atau melalui
histereskopi. Tindakan ini adalah langkah yang paling efektif jikalau tidak ada
tumor yang diperlukan untuk dieliminasi. Jikalau pedunculated mioma tidak dapat
disingkirkan melalui vagina maka biopsi dilakukan untuk mengelakkan
miosarcoma atau mesodermal sarcoma.

Indikasi untuk miomektomi dalam kehamilan adalah tanda torsi dalam mioma
pedunculated di mana hemostasis stalk dapat dicapai dengan keselamatan relatif.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tindakan ini mempunyai resiko yang
besar untuk mendapatkan perdarahan atau transfusi.

b. Histerektomi:

Mioma uteri adalah indikasi paling sering untuk histerektomi dengan resiko
kumulatif sebanyak 7% untuk semua wanita yang berusia dalam lingkungan 25
tahun - 45 tahun. Lebih dari 50% histerektomi dilakukan pada wanita yang kulit
hitam disebabkan oleh mioma, dengan resiko kumulatif sebanyak 20% sehingga
umur 45 tahun. Histerektomi menyingkirkan gejala dan rekuren.

Uterus dengan mioma kecil mungkin dapat dieliminasikan dengan tindakan


histerektomi vagina total, terutamanya jika relaksasi vagina membutuhkan
perbaikan cystocele, rectocele, atau entrocele.

Bila tumor yang besar ditemukan banyak, histerektomi abdomen total


diindikasikan. Ovari umumnya dipelihara pada wanita premenopausal. Tidak ada
komplikasi dalam mengangkat ovary daripada wanita yang pasca menopause.

c. Embolisasi mioma uteri:

Okulasi emboli arteri uterus adalah suatu alternatif untuk operasi major pada wanita
premenopausal yang tidak menginginkan fertilitas tetapi menginginkan untuk terus
memelihara uterus atau mengelakkan efek samping daripada terapi medikasi.

18
Dalam prosedur ini, arteriogram akan dilaksanakan untuk mengidentifikasikan
suplai darah ke mioma. Selepas itu satu kateter akan dimasukkan ke dalam bagian
distal arteri uterus, biasanya melalui arteri femoris sebelah kanan. Arteri tersebut
akan diinfusi dengan agen embolisasi (polyvinyl alcohol particles atau tris-acryl
gelatine microspheres) sehingga alirannya terhenti. Prosedur ini akan bertahan
selama 1 jam secara menyeluruh. Studi observasi menunujukkan bahwa terapinya
sama efektif seperti histeretomi dan miomektomi, dengan banyak komplikasi minor
dan dengan komplikasi major yang sikit. Frekuensi mioma rekuren adalah sedikit
dengan embolisasi dibandingkan dengan miomektomi.

d. Ablasi Endometrium:

Untuk wanita yang tidak menginginkan fertilitas, ablasi endometrium dapat


mengkontrol gejala perdarahan. Prosedur ini lebih efektif jika dikombinasikan
dengan miolisis.

e. Miolisis:

Prosedur ini adalah teknik laparascopic thermal coagulation tidak membutuhkan


penjahitan dan senang untuk dilaksanakan. Destruksi jaringan lokal mungkin akan
mengakibatkan kerusakan pada masa kehamilan.

f. Laparaskopi uterus okulasi arteri:

Tindakan ini dilaksanakan dengan kateterisasi arteri uterus melalui laparaskopi.

g. Magnetic resonance-guided focused ultrasound surgery:

Cara ini diluluskan oleh Food and Drug Administration (FDA) pada tahun 2004
untuk terapi mioma pada wanita premenopausal yang sudah memiliki anak.
Prosedur outpatient yang menggunakan MRI untuk real-time monitoring teknik
thermoablative yang menukarkan multipel ambangan energi ultrasound pada
volume jaringan yang kecil untuk dimatikan (Decherney, 2006).

19
2.12 Komplikasi

1. Mioma dan Kehamilan

Lebih kurang dua pertiga wanita dengan mioma uteri dan infertilitas yang tidak
dapat dijelaskan pascamiomektomi, dan lebih kurang separuh darpada wanita akan
menjalani paritas bayi. Tetapi perbedaan dengan manajmen kehamilan diperlukan
untuk menyimpulkan keefektifan prosedur ini.

Selama trimester kedua dan ketiga kehamilan, mioma akan meningkat dalam
ukuran dan akan melalui deprivasi vaskuler dan perubahan degenratif. Secara
klinis, keadaan ini menyebabkan nyeri dan kelembutan lokal tetapi juga akan
menyebabkan persalinan premature. Manajmen kehamilan dengan istirahat hampir
setiap kali menghilangkan nyerinya tetapi tokolitik mungkin diperlukan untuk
mengkontrol kontraksi uterus.

Semasa persalinan, mioma akan memproduksi kelembaban uteri, malpresentasi


janin atau obstruksi jalan persalinan. Pada umumnya, mioma cenderung naik dari
panggul sebagai kehamilan berlanjut dan pengiriman vagina bisa dicapai. Mioma
uteri mungkin akan mengganggu kontraksi uterus yang efektif segera setelah
persalinan, maka kemungkinan hemorrhagia pascapartus harus diantisipasi.

2. Komplikasi pada wanita tidak hamil

Perdarahan yang hebat dengan anemia adalah komplikasi yang paling sering pada
kasus mioma. Obstruksi saluran kemih atau usus dari mioma besar atau parisitik
lebih kurang umum dan transformasi maligna jarang terjadi. Cedera ureter atau
ligasi merupakan komplikasi diakui operasi untuk kasus mioma terutama yang
terhubung dengan serviks (DeCherney, 2006).

20
2.13. Prognosis

Histerektomi dengan eliminasi semua mioma adalah penyembuhan sempurna.


Miomektomi yang berlanjutan akan menyebabkan uterus dan kavitasnya kembali
ke keadaan normal. Salah satu keprihatinan utama adalah resiko rekuren pasca
miomektomi. Studi yang dilakukan menunjukkan 2% - 3% per tahun mengalami
mioma simptomatik pasca miomektomi (DeChereney, 2006).

21
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien

Nama : SS

Umur : 48 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Bangsa : Indonesia

Suku : Jawa

Agama : Islam

Status Perkawinan : Sudah menikah

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

Alamat : Jl. Tunjung Sari no.11 Gatsu barat, Denpasar

MRS : 20 Januari 2017, Pukul 20.00 WITA

3.2. Anamnesis

Keluhan Utama : Haid yang berlangsung lama lebih dari 2 minggu

a. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang pada tanggal (28 Desember 2017) dengan haid yang lama dan banyak
lebih dari 2 minggu. Keluhan sudah lama dirasakan pasien. Pada tahun 2008, pasien
sudah dilakukan tindakan USG oleh dr.Sp.OG dan didapatkan mioma uteri dengan
ukuran 6cm. Pada tanggal 20 Januari 2017 pasien datang ke rumah sakit dengan
membawa surat rujukan dari klinik Penta medika ke dr.I Nyoman Sudastra Sp.OG
dan direncanakan tindakan operasi laparotomi.

22
b. Riwayat Menstruasi

Menarche umur 14 tahun, dengan siklus teratur setiap 28 hari, lamanya 3-5 hari tiap
kali menstruasi. Nyeri saat menstruasi dirasakan oleh pasien dan tidak mengganggu
aktivitas pasien.

c. Riwayat Perkawinan

Pasien baru satu kali menikah dengan suami saat ini dan telah menjalani pernikahan
selama 10 tahun.

d. Riwayat Persalinan

Tidak pernah melahirkan

e. Riwayat KB

Tidak pernah menggunakan KB

f. Riwayat Penyakit Kronis dan Alergi

Pasien mengaku tidak memiliki riwayat penyakit dalam keluarga seperti asma,
penyakit jantung, hipertensi, dan diabetes melitus. Pasien mengaku tidak memiliki
alergi makanan maupun obat-obatan.

3.3. Pemeriksaan Fisik

a. Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan darah : 110/70 mmHg

Nadi : 100 x/menit

Respirasi : 16x/menit

Temperatur aksila : 36,5 C

23
a. Status Present

Kepala : Normochepali

Mata : Anemis +/+

THT : Kesan tenang

Thorax :

Jantung : S1 S2 tunggal reguler murmur (-)

Paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheeze -/-

Abdomen : sesuai status ginekologi

Ekstremitas : hangat (+), edema (-)

c. Status Ginekologi

Abdomen :

Inspeksi : Tidak ada tanda-tanda peradangan, bekas operasi (-)

Palpasi: Teraba massa padat, kenyal, permukaan licin, erosi (-), fluksus (-),
lividie (-), OUE (-), fluor albus (-), perdarahan aktif (-), massa (+),
peradangan (-)

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Palpasi: Nyeri tekan seluruh lapang perut (-) Defance musculare (-) Tanda
cairan bebas (-)

VT : Tidak dilakukan pemeriksaan

24
3.4 Pemeriksaan Penunjang

Tanggal 28 Desember 2016:

Darah Lengkap:

- WBC : 5,10 x 103/L

- HGB : 8,5 g/dL

- HCT : 25,3%

- PLT : 412.103/L

Golongan Darah: A

BT/CT: 230 / 545

Tanggal 20 Januari 2017:

Darah Lengkap:

- WBC : 11,7 x 103/L

- HGB : 7,5g/dL

- HCT : 23,4%

- PLT : 671.103/L

Golongan Darah: A

BT/CT: 300 / 600

25
Tanggal 21 Januari 2017:

Darah Lengkap:

- WBC : 14x 103/L

- HGB : 8,7 g/dL

- HCT : 26,1%

- PLT : 536.103/L

Golongan Darah: A

BT/CT: 300 / 600

PP Test: (-)

USG: Hasil tidak terlampir

3.5. Diagnosis Kerja

Mioma uteri

3.6. Penatalaksanaan

Terapi

- IVFD RL ~ 30 tetes per menit


- Supravaginal histerektomi
- Pre op.
- Cross match (persiapan darah).
- Ceftriaxone 1 gr (intravenous) (skin test sebelumnya)
- Pasang dower catheter

26
Monitoring

- Keluhan, tanda vital

KIE

- Pasien dan keluarga dijelaskan tentang keadaan pasien dan rencana


tindakan.

3.7. Durante Operasi

Operasi dilakukan tanggal 21 Desember 2016 pada pukul 16.00 WITA dengan
diagnosis mioma uteri dan indikasi operasi adalah perdarahan uterus abnormal.
Dilakukan anestesi dengan menggunakan blok spinal anastesi. Septik antiseptik
lapangan operasi dengan betadin alkohol persempit dengan doek steril. Dilakukan
insisi suprapubis. Darah dan bekuan darah pada cavum abdomen 200 cc. Evaluasi:
Uterus berukuran 18-24 cc. Kompleks massa di adneksa sinistra dan dekstra. dan
dilakukan supravaginal + bilateral salphingo ooforektomi.

27
3.8. Perkembangan Pasien Selama Perawatan

20 Januari 2016 pukul 00.05

S: Keluhan (-)

O: Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan darah : 110/70 mmHg

Nadi : 80 x/menit

Respirasi : 20 x/menit

Temperatur aksila : 36C

Status General

Kepala : Normochepali

Mata : Anemis +/+

THT : Kesan Normal

Thorax :

Jantung : S1 S2 tunggal reguler murmur (-)

Paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheeze -/-

Abdomen : sesuai status ginekologi

Ekstremitas : hangat (+), edema (-)

Status Ginekologi

Abdomen : distensi (-)

bising usus (+) normal

28
luka operasi terawat

Vagina : perdarahan (-)

A: mioma uteri + anemia hemoragik

Pdx: Cek DL, BT,CT

Terapi : IVFD RL

Tranfusi prc 1 kalf

Mx: Keluhan dan tanda vital

KIE

Darah Lengkap :

- WBC : 11,7 x 103/L

- HGB : 7,5g/dL

- PLT : 671.103/L

21 Januari 2016 pukul 00.05

S: Keluhan (-)

O: Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan darah : 110/70 mmHg

Nadi : 80 x/menit

Respirasi : 20 x/menit

Temperatur aksila : 36C

29
Status General

Kepala : Normochepali

Mata : Anemis +/+

THT : Kesan Normal

Thorax :

Jantung : S1 S2 tunggal reguler murmur (-)

Paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheeze -/-

Abdomen : sesuai status ginekologi

Ekstremitas : hangat (+), edema (-)

Status Ginekologi

Abdomen : distensi (-)

bising usus (+) normal

luka operasi terawat

Vagina : perdarahan (-)

A: mioma uteri + anemia

Pdx: Cek DL

Terapi : IVFD RL

Tranfusi prc 1 kalf

Mx: Keluhan dan tanda vital

KIE

30
Darah Lengkap:

- WBC : 14 x 103/L

- HGB : 8,7g/dL

- PLT : 536.103/L

22 Januari 2017 pukul 08.00

S: Nyeri luka post operasi (+), flatus (-), BAB (-), BAK (+) DC, perdarahan
pervaginam (-), pusing (-), makan (+), minum (+)

O: Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan darah : 110/80 mmHg

Nadi : 78 x/menit

Respirasi : 20 x/menit

Temperatur aksila : 36,4C

Status General

Kepala : Normochepali

Mata : Anemis +/+

THT : Kesan Normal

Thorax :

Jantung : S1 S2 tunggal reguler murmur (-)

Paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheeze -/-

Abdomen : sesuai status ginekologi

31
Ekstremitas : hangat (+), edema (-)

Status Ginekologi

Abdomen : Distensi (-)

Bising usus (+) normal

Luka opreasi terawat baik

Vagina : perdarahan (-)

A: Post histerektomi + ATO

Pdx: -

Terapi: IVFD RL + D5% analgetik

Ceftriaxone 3 x 1 gram iv

Metronidazole 500 mg infus @8 jam

Vitamin C 2 x 1

Mx: Keluhan dan tanda vital.

KIE

32
23 Januari 2017 pukul 08.00

S: Nyeri luka post operasi (-), flatus (+), BAB (+), BAK (+), perdarahan
pervaginam (-), pusing (-), makan (+), minum (+), mobilisasi (+)

O: Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan darah : 110/80 mmHg

Nadi : 84 x/menit

Respirasi : 20 x/menit

Temperatur aksila : 36C

Status General

Kepala : Normochepali

Mata : Anemis -/-

THT : Kesan Normal

Thorax :

Jantung : S1 S2 tunggal reguler murmur (-)

Paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheeze -/-

Abdomen : sesuai status ginekologi

Ekstremitas : hangat (+), edema (-)

Status Ginekologi

Abdomen : Distensi (-)

Bising usus (+) normal

Luka operasi terawat baik

33
Vagina : perdarahan (-)

A: Post histerektomi + ATO

Pdx: -

Terapi: IVFD RL + D5% analgetik

Ceftriaxone 3 x 1 gram iv

Metronidazole 500 mg infus @8 jam

Vitamin C 2 x 1

KIE

24 Januari 2017 pukul 08.00

S: Nyeri luka post operasi (-), flatus (+), BAB (+), BAK (+), perdarahan
pervaginam (-), pusing (-), makan (+), minum (+), mobilisasi (+)

O: Status Present

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis

Tekanan darah : 110/80 mmHg

Nadi : 100x/menit

Respirasi : 20 x/menit

Temperatur aksila : 36,4C

34
Status General

Kepala : Normochepali

Mata : Anemis -/-

THT : Kesan Normal

Thorax :

Jantung : S1 S2 tunggal reguler murmur (-)

Paru : Vesikuler +/+, rhonki -/-, wheeze -/-

Abdomen : sesuai status ginekologi

Ekstremitas : hangat (+), edema (-)

Status Ginekologi

Abdomen : Distensi (-)

Bising usus (+) normal

Luka operasi terawat baik

Vagina : perdarahan (-)

A: Post histerektomi + ATO

Pdx: -

Terapi: Cefadroxil 2x500

Asam mefenamat 3x1

Metronidazole 3x500

Pasien boleh pulang

Kontrol ulang

KIE

35
BAB IV

PEMBAHASAN

4.1. Diagnosis

Diagnosis pada pasien tersebut ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan


fisik dan pemeriksaan penunjang. Pada pasien ini terdapat gejala klinis dari mioma
uteri yaitu haid yang memanjang dengan durasi diatas 2 minggu dengan perdarahan
yang banyak. Hal ini sesuai dengan kriteria ananesis mioma uteri yaitu perdarahan
haid yang panjang dan banyak (Stuti, 2011).

Pasien merupakan rujukan dari dr I Nyoman Sudastra Sp. OG dengan diagnosis


mioma uteri dan rencana tindakan laparotomi.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan massa padat, kenyal, permukaan licin. hal ini
sesuai dengan teori, dimana disebutkan pada pemeriksaan fisik mioma uteri teraba
massa di abdomen yang padat (Howard, 2011).

Pada pemeriksaan USG, pada teori mioma uteri yang besar paling bagus
didiagnosis dengan kombinasi transabdominal dan transvaginal sonografi.
Gambaran sonografi mioma kebiasaanya adalah simetrikal, berbatas tegas,
hypoechoic dan degenerasi kistik menunjukkan anechoic. USG menunjukkan
gambaran massa padat dan homogen pada uterus. Namun pada kasus hasil pada
pemeriksaan USG tidak dilampirkan (Howard, 2000).

Dari uraian diatas maka diagnosis mioma uteri dapat ditegakkan, sehingga pasien
dan suaminya diberi penjelasan mengenai keadaan pasien dan perlunya dilakukan
tindakan operasi, Setelah berdiskusi dengan keluarga akhirnya suami pasien
menyetujui tindakan operasi.

36
4.2. Faktor Risiko

Pada pasien ini faktor risiko terjadinya mioma uteri adalah usia yang dimana
pertama kali pada usia 39 tahun. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan
bahwa 27% wanita umur 25 tahun mempunyai sarang mioma (Kurniasari, 2010)

4.3. Penatalaksanaan

Pasien setelah mendapat persetujuan dari keluarga langsung dilakukan kuretase dan
laparatomi untuk menghentikan perdarahan yang terjadi oleh karena ruptur tuba.
Sebelum dioperasi dipersiapkan darah dan diberikan suntikan antibiotika
profilaksis. Saat abdomen dibuka, darah dan bekuan darah pada cavum abdomen
750 cc, hal ini membuktikan adanya perdarahan dan menjelaskan terjadinya tanda-
tanda syok pada pasien. Setelah ditelusuri didapatkan ruptur tuba dextra lalu tuba
diklem dilakukan salfingektomi dextra. Setelah mendapatkan perawatan selama 3
hari kondisi pasien membaik dan diijinkan untuk pulang.

4.4. Komplikasi

Komplikasi yang terdapat pada pasien ini adalah adanya tanda-tanda syok oleh
karena perdarahan pada ruptur tuba dextra.

4.5. Prognosis

Pada penderita mioma uteri yang sudah dilakukan tindakan histerektomi adalah
penyembuhan yang sempurna. Miomektomi yang berlanjutan akan menyebabkan
uterus dan kavitasnya kembali ke keadaan normal. Pada kasus pasien dilakukan
tindakan histerektomi dan memiliki prognosis yang baik (DeChereney, 2006).

37
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Mioma uteri ataupun dikenali sebagai fibromioma uteri, leiomioma uteri dan
uterine fibroid dalam dunia kedokteraan merupakan tumor jinak yang strukturnya
utama adalah otot polos rahim

Dilaporkan seorang perempuan berusia 48 tahun datang dengan keluhan haid yang
memanjang yang lebih dari 2 minggu dan disertai nyeri. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan abdomen teraba massa padat kenyal dan permukaan licin. dan disertai
nyeri pada pusar dan menjalar ke pinggang. Setelah 4 hari dirawat, pasien
dipulangkan dalam keadaan membaik.

5.2 Saran

Kepada teman sejawat dokter umum, untuk lebih meningkatkan kesadaran terhadap
tanda dan gejala mioma uteri sebab merupakan suatu kondisi yang berpotensi
menimbulkan kegawatdaruratan dan segera lakukan rujukan apabila terdapat
kecurigaan yang mana gejala mioma uteri sangat bervariasi, dapat terjadi secara
mendadak, perlahan ataupun menahun.

Kepada administrasi rumah sakit, untuk selalu dan tetap mengutamakan


penanganan pasien dalam kondisi kegawatdaruratan tanpa mempersulit
administrasi pasien dalam memperoleh pertolongan emergensi.

Kepada masyarakat, untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan


dan tidak perlu ragu dalam mencari pertolongan ke tempat pelayanan kesehatan
terdekat.

38
DAFTAR PUSTAKA

Alan DeCherney, 2006. CURRENT Diagnosis & Treatment Obstetrics &


Gynecology,Tenth Edition. McGraw-Hill Medical.

Andrea Tinelli, 2014. Uterine Myoma, Myomectomy and Minimally Invasive


Treatments. 2015 Edition. Springer, 227.

Anwar, Mochamad , 2011. Ilmu Kandungan. 3rd ed. Jakarta: P.T Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo. Alicia Armeli. 2015. Fibroid Risk Factor: Obesity.
[ONLINE] Available at: https://ask4ufe.com/fibroid-risk-factor-obesity/.

Artifasari, A., 2014. Gambaran Angka Kejadian Mioma Uteri Berdasarkan Umur
Dan Paritas Di RSUD Tenriawaru Kelas B Kabupaten Bone Tahun 2011-
2012. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis , [Online]. 4(4), 508-510.
Available at:
http://library.stikesnh.ac.id/files/disk1/11/elibrary%20stikes%20nani%20has
anuddin--aartifasar-504-1-44145085- 1.pdf.

Baziad A. 2003. Endokrinologi Ginekologi. Jakarta:Media Aesculapius

Diana Hamilton-Fairley, 2008. Lecture Notes: Obstetrics and Gynaecology. 3


Edition. Wiley-Blackwell.

Eric J. Bieber MD MSHCM, 2006. Clinical Gynecology, 1e. 1 Edition. Churchill


Livingstone.

William H. Parker, MD. Fibroid Second Opinion. 2013. [ONLINE] Available


at:http://www.fibroidsecondopinion.com/about-fibroids/.

Fred M. Howard MD, 2000. Pelvic Pain: Diagnosis and Management. 1 Edition.
LWW, 152. Horner, Kyle L, 2006. Leiomyoma. Medscape, [Online]. 1(1),
1. Available at: http://emedicine.medscape.com/article/1057733-overview.

Horner, Kyle L, 2006. Leiomyoma. Medscape, [Online]. 1(1), 1. Available at:


http://emedicine.medscape.com/article/1057733-overview.

39
Kurniasari, Tri, 2010. Karekteristik Mioma Uteri Di RSUD Dr. MOewardi.
Degree. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. Life Extension. 2014. Uterine
Fibroids. [ONLINE] Available
at:http://www.lifeextension.com/Protocols/Female-
Reproductive/UterineFibroids/Page-01?p=1.

Lilyani, Devy Isella, 2012. Hubungan Faktor Resiko dan Kejadian Mioma Uteri di
Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang. Jurnal Kedokteraan
Muhammadiyah, [Online]. 1(1), 14-19. Available
at:http://download.portalgaruda.org/article/98440/5092.

Marisa R. Nucci MD, 2009. Gynecologic Pathology: A Volume in the Series:


Foundations in Diagnostic Pathology, 1e. 1 Edition. Churchill Livingstone,
261.

Pasinggi, Sabrianti, 2013. Prevalensi Mioma Uteri Berdasarkan Umur Di RSUP


Prof. Dr. R. D. Kandou Manado. Jurnal e-Clinic (eCl), [Online]. 3(1), 1-6.
Available at: http://6517-13190-1-PB.pdf.

Rahmi, Ita, 2012. Gambaran Faktor Resiko Penyebab Terjadinya Mioma Uteri Di
Poliklinik Kebidanan Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin
Banda Aceh Tahun 2012. Jurnal Kesehatan Masyarakat, [Online]. 11(2), 20-
26. Available at: http://ejournal.uui.ac.id/jurnal/ITA_RAHMI-
zhvjurnal_ita_rahmi.pdf.

Sanjay, Porwal, 2013. Uterine Leiomyomata a clinical study. Jounal of


Pharmacceutical and Biomedical Sciences, [Online]. 28 (18), 672-676.
Available at:
http://www.jpbms.info/Porwal%20Sanjay%20K%20et%20al.(672-
676)%20(1).pdf.

Stuti, Aria, 2011. Hubungan Faktor Resiko dan Kejadian Mioma Uteri. Jurnal
Unimus, [Online]. 1(1), 1-11. Available at:
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/109/jtptunimus-gdl-ariastuti0-5245- 2-
babii.pdf.

40
41