You are on page 1of 2

Terapi Ozon Untuk Kesehatan

Tubuh manusia butuh sekitar 10.000 liter oksigen per hari agar semua organ bisa berfungsi
dengan baik. Oksigen yang tersedia di udara, terutama di perkotaan, sudah tercemar berbagai
limbah beracun. Akibatnya, oksigen yang kita hirup tidaklah bersih.

Menurut Dr. Mulyadi paparan polusi di Jakarta, ditambah kebiasaan hidup tak sehat,
membuat berbagai zat beracun, sampah metabolisme, dan bermacam radikal bebas
menumpuk di dalam tubuh. Akibatnya, kadar oksigen di dalam darah menjadi rendah.

Dr. Mulyadi mengungkapkan, seorang ahli biologi molekular, Stepen A. Levine, Ph.D,
membuktikan bahwa pada setiap penderita penyakit berat didapati status oksigen yang
rendah. Dikatakan, hipoksia atau kekurangan oksigen di dalam jaringan tubuh, diyakini
menjadi pemicu berbagai penyakit degeneratif dan proses penuaan dini.

Terapi ozon diyakini bisa meningkatkan kemampuan transportasi oksigen dan hemoglobin
darah serta meningkatkan ketahanan dan kelenturan sel darah merah. Terapi ozon juga
membentuk peroksida, termasuk alkaoxyl, peraxyl radicals, singlet axygen, ozonides,
carbonyls, dan alkens, yang menghilangkan plak penyebab penyempitan pembuluh darah
bagi penderita hiperlipidemia dan hiperkolesterolemia, yang bisa menyulut stroke dan

Menurut Medical Society for Ozon di Eropa dan National Center for Scientific Research di
Amerika, penyakit tersebut di bawah ini dapat di obati secara efektif.

Gangguan sirkulasi
Tekanan darah tinggi, penyumbatan pembuluh darah, jantung, stroke, cerebral
sclerosis.
Gangguan Hormonal
Diabetes serta komplikasinya, ganggren, ulkus dekubitis, akne, defisiensi hormone,
kemunduran seksualitas, impotensi, menopause, premenstrual tension.
Penyakit sendi dan tulang
Rematik, arthritis, penyakit tulang belakang, pekapuran & osteoporosis.
Gangguan Immunitas
Autoimmune diseases, allergi, asma, SLE ( Systemic Lupus Eritomatosus)
Penyakit Infeksi
Virus (Herpes Simplex dan Zoster, Hepatitis, Sirosis Hepatitis); jamur ( kuku,
keputihan, kandidiasis, abses sinusitis

Kegunaan lain dari terapi ozon adalah menonaktifkan bakteri, virus, jamur, dan protozoa
dengan cara merusak selaput pelinung kuman. Dengan demikian, kuman penyebab hepatitis
atau herpes mudah dihancurkan sel-sel tubuh.

Terapi ozon juga sanggup mencegah proses penuaan dini melalui peningkatan enzim
pengikat radikal bebas (glutathione peroxidase, catalase, dan superoxide dismutase),
menghambat metabolisme sel tumor, meningkatkan kekebalan tubuh, serta memacu reaksi
krebs cycle, yang berakibat meningkatnya persediaan energi ATP.

Energi ATP adalah sumber tenaga untuk mempertahankan kelangsungan hidup manusia,
katanya.

Dua Macam Terapi

Di kliniknya, Dr. Mulyadi menawarkan dua macam terapi ozon. Pertama, Polyatomic
Aphaeresis (PA). Metode ini diistilahkan sebagal EBBO (Extracorporeal Blood Circulation
Against O2-O3). Caranya, mengambil darah dari pembuluh darah balik di lengan, lalu
mengalirkannya ke dalam tabung dialiser yang khusus diberi ozon sesuai kebutuhan.

Darah hasil terapi dikembalikan lagi ke dalam pembuluh darah balik di lengan lainnya.
Dengan kecepatan aliran 90 cc per menit, dalam waktu satu jam dapat diterapi 5.400 cc
darah, tutur anggota World Association Sexual Medicine ini.

Darah yang telah dibiooksidasi, warnanya lebih cerah karena mengandung oksigen lebih
banyak dari sebelumnya. Sebaliknya, kandungan radikal bebas dan sampah metabolismenya
telah dinetralkan.

Metode kedua, menurut anggota Indonesian Association for Ozone Therapy ini, adalah Auto
Hemo Therapy (AHT). Dengan metode AHT, hanya 150 cc darah yang dikeluarkan dari
pembuluh balik, lalu segera diberi ozon dengan konsentrasi 27-40 mcg per ml. "Setelah
warnanya merah cerah, darah segera dimsukkan ke dalam pembuluh darah balik, katanya.

Semua alat dan mesin yang digunakan pada terapi ini adalah teknologi Jerman dan telah
dipatenkan di Amerika Serikat. Semua alat medis bersifat personal, steril, dan sekali pakai,
sehingga aman digunakan. "Tak ada risiko kontak dengan darah orang lain, katanya lagi.

Mantan kepala Penerangan dan Pelatihan di RS Sulianti Saroso ini menganjurkan penderita
DM dengan gangguan DE ( disfungsi ereksi) untuk menjalani terapi sebanyak 10 kali,
dengan rentang waktu seminggu sekali. Sementara perokok yang ingin membersihkan
darahnya, cukup melakukan terapi sebanyak lima kali.

Data terapi 0zone untuk sinusitis terutama di indonesia belum banyak di publikasikan,
tetapi ada harapan dapat sebagai terapi tambahan dengan protokol terapi yang sudah digunakan
selama ini.