STUDI EKSPERIMENTAL PERPINDAHAN KALOR DUA FASA

AIR-UDARA UNTUK DAERAH SLUG FLOW
ALIRAN SEARAH PADA PIPA HORIZONTAL

Thesis
untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2

Program Studi Teknik Mesin
Bidang Ilmu-Ilmu Teknik

diajukan oleh
Yulius Zai
24096/I-1/2506/06

kepada
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2008

ii

iii .

DEA selaku Pembimbing Utama dan Bapak Dr. Deendarlianto selaku Pembimbing Pendamping I. Penulisan tesis ini digunakan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat S2 di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Indarto. 4. Bapak dan Ibu dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada yang telah memberikan banyak pengetahuan baru dalam bentuk perkuliahan. Hasil penelitian ini merupakan upaya penerapan ilmu pengetahuan tentang Perpindahan Kalor Dua Fasa Air-Udara Untuk Daerah Slug Flow Aliran Searah Pada Pipa Horizontal Penulisan tesis ini tidak terlepas dari bantuan semua pihak. 5. Bupati Kabupaten Merauke yang telah memberikan kesempatan dan biaya pendidikan kepada penulis untuk mengikuti studi lanjut Program Strata Dua (S2). Rektor Universitas Musamus Merauke dan seluruh civitas akademika yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti studi lanjut Program Strata Dua (S2). iv . 2. Ir. PRAKATA Segala puji bagi Tuhan yang telah mengaruniakan kasih dan rahmat-Nya kepada penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan. Bapak Prof. Dr. Rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. 3. untuk itu penulis menyampaikan terima kasih kepada: 1. Eng.

7. masih banyak hal. Rekan-rekan mahasiswa yang memberi semangat dan dukungan. 8. Yogyakarta. Keluarga yang memberikan banyak motifasi. semangat serta doa. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Penulis menyadari dengan segala keterbatasan yang ada baik pada diri penulis maupun peralatan yang digunakan. Teknisi yang ada pada laboratorium Perpindahan Kalor dan Massa PSIT- UGM. 20 Agustus 2008 Yulius Zai v . 9. 6.hal yang perlu disempurnakan dan dikembangkan dari penelitian ini.

”Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan” vi .

2.. Analisis Non Dimensional Koefisien Perpindahan Kalor Dua Fasa.......................... 7 2.................................... Tujuan Penelitian .............2....................3............................................................................... xii ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN ................................... 17 ........................................ xiv ABSTRACT .............2.............4....................1................................................................4...................................... Koefisien perpindahan kalor lokal ........................ Penentuan Konfigurasi Aliran ..........................................................................2.............. Koefisien perpindahan kalor ...................................................... Latar Belakang ....... Tinjauan Pustaka .....2..... 4 2... Penempatan Termokopel.............2................................................. vii DAFTAR GAMBAR . 12 2..................................................................................................2...... 2.......... 4 2...... 7 2..................................... Koefisien Perpindahan Kalor Dua Fasa .............................. 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2......................... 21 2.......................................................................................................................... Koefisien perpindahan kalor Prediksi Ghajar. Landasan Teori ....................... xv BAB I PENDAHULUAN 1..1............................................2...........................2......2....... 9 2..............1...... 22 vii ...1.................................... iv DAFTAR ISI .................... 7 2............ ii PERNYATAAN ....................4............................................3........4................................. Koefisien perpindahan kalor Prediksi Chen.............. iii PRAKATA ............................. Definisi Variabel Digunakan Dalam Aliran Dua Fasa .........................1...................1... 19 2................... i HALAMAN PENGESAHAN ..............2....................... Pola Aliran ...................2................................................. 17 2...................... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL .........................................................2...................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ...................1.... ix DAFTAR TABEL ....... 1 1...5....

... 37 4...... 25 3..1...................................2......... 29 3. 49 5........... Perbandingan koefisien perpindahan kalor dua fasa dua air- udara eksperimen dengan persamaan Ghajar dan Chen .................................................................5. Kesimpulan .................... Hubungan Antara Koefisien Perpindahan Kalor Dua Fasa Dua Air-Udara Dengan Fraksi Hampa Superfisial ...... 29 3....2.........2.... Fluida Yang Digunakan ............ Pola Aliran Kantung ..............2..3........1.........................................2..........................1... Prosedur Pengambilan Data ..................................................................... Saran .3... 50 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN viii .................. 33 4............ 40 4................................................................2............. 25 3.................... 29 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4..................................4.........4................................3 Korelasi Empiris ..... 47 BAB V KESIMPULAN 5.......... Alat Yang Digunakan ...............................................2.......... Variabel Penelitian ...................................................... Koefisien Perpindahan Kalor ......... 43 4.................. 33 4........... 30 4. Hubungan Antara Koefisien Perpindahan Kalor Dua Fasa Dua Dengan Kecepatan Superficial Gas .... Hubungan Antara Koefisien Perpindahan Kalor Dua Fasa Dengan Bilangan Reynolds Superfisial ..................................................BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1...........................2..... Analisis Data ...............................................................................................

2.2. Pola aliran pada pipa horizontal Gambar 2. Hubungan koefisien perpindahan kalor dua fasa dan kecepatan superficial gas pada fluks kalor 4997. 2006) Gambar 2. Visualisasi pola aliran kantung JL = 0. Visualisasi pola aliran kantung JL = 0.276 m/s Gambar 4. Distribusi temperatur di berbagai posisi pada dinding pipa horizontal (Kim dan Ghajar. Seksi Uji Gambar 4. Konfigurasi aliran dalam tube horizontal (Taitel dan Dukler.7.6.3. Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dengan bilangan Reynolds superfisial pada fluks ix . Perbandingan dari korelasi perpindahan kalor dua fasa dengan semua eksperimen data pada pipa horizontal (150 data titik).1.5.1 W/m2 Gambar 4. 2006) Gambar 2. Hubungan koefisien perpindahan kalor dua fasa dan kecepatan superficial gas pada fluks kalor 1804. Hubungan koefisien perpindahan kalor dua fasa dan kecepatan superficial gas pada fluks kalor 3608. (Kim dan Ghajar. DAFTAR GAMBAR Gambar 2. Variasi hTP untuk aliran slug di dalam pip a horizontal (Kim dan Ghajar.4.3 W/m2 Gambar 4.1.7 W/m2 Gambar 4.5. 1976) Gambar 2. Konfigurasi aliran dalam pipa horizontal (Kim dan Ghajar.6. 1979) Gambar 2.0 W/m2 Gambar 4.2. Hubungan koefisien perpindahan kalor dua fasa dan kecepatan superficial gas pada fluks kalor 7282. Instalasi Penelitian Gambar 3. 2002) Gambar 2.184 m/s Gambar 4. Konfigurasi aliran dalam tube horizontal (Weisman dkk.4. 2002) Gambar 2.8.7.3. Perpindahan kalor dinyatakan dengan suhu limbak Gambar 3.1.

Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dengan bilangan Reynolds superfisial pada fluks kalor 7282.17.10. Perbandingan hasil eksperimen dengan persamaan Chen Gambar 4.3 W/m2 Gambar 4.15.7 W/m2 Gambar 4. korelasi Ghajar dan korelasi Chen terhadap fraksi hampa pada fluks kalor 1804.9. Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen. Hubungan antara bilangan Nuselt aliran dua fasa eksperimen dengan hasil korelasi empiris x . kalor 1804.11. Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dengan bilangan Reynolds superfisial pada fluks kalor 4997.7 W/m2 Gambar 4.12.3 W/m2 Gambar 4.0 W/m2 Gambar 4.0 W/m2 Gambar 4.8.16.13. Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen. Perbandingan hasil eksperimen dengan persamaan Ghajar Gambar 4. Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dengan bilangan Reynolds superfisial pada fluks kalor 3608.1 W/m2 Gambar 4. korelasi Ghajar dan korelasi Chen terhadap fraksi hampa pada fluks kalor 3608. korelasi Ghajar dan korelasi Chen terhadap fraksi hampa pada fluks kalor 7282.14. Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen. korelasi Ghajar dan korelasi Chen terhadap fraksi hampa pada fluks kalor 4997.1 W/m2 Gambar 4. Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen.

1. Hasil korelasi koefisien perpindahan kalor dua fasa (Ghajar 2005) xi . DAFTAR TABEL Tabel 4.2. Matrik pengukuran kecepatan yang dinyatakan dalam kecepatan superfisial air dan kecepatan superfisial udara Tabel 4.

1 W/m2 Lampiran 12.0 W/m2 Lampiran 11. Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dengan bilangan Reynolds superfisial pada fluks kalor 4997.7 W/m2 Lampiran 9.7 W/m2 Lampiran 5.1 W/m2 Lampiran 8. Perbandingan koefisien perpindahan kalor pada fluks kalor 4997.3 W/m2 Lampiran 10.7 W/m2 Lampiran 13.1 W/m2 Lampiran 4. korelasi xii .0 W/m2 Lampiran 7.0 W/m2 Lampiran 3. Perbandingan koefisien perpindahan kalor pada fluks kalor 1804. Perbandingan koefisien perpindahan kalor pada fluks kalor 3608. Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Hubungan koefisien perpindahan kalor dua fasa dan kecepatan superficial gas pada fluks kalor 1804. Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dengan bilangan Reynolds superfisial pada fluks kalor 7282. Hubungan koefisien perpindahan kalor dua fasa dan kecepatan superficial gas pada fluks kalor 7282.3 W/m2 Lampiran 2. Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dengan bilangan Reynolds superfisial pada fluks kalor 3608. Hubungan koefisien perpindahan kalor dua fasa dan kecepatan superficial gas pada fluks kalor 3608. Perbandingan koefisien perpindahan kalor pada fluks kalor 7282.3 W/m2 Lampiran 6. Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dengan bilangan Reynolds superfisial pada fluks kalor 1804. Hubungan koefisien perpindahan kalor dua fasa dan kecepatan superficial gas pada fluks kalor 4997.

Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen. Ghajar dan korelasi Chen terhadap fraksi hampa pada fluks kalor 1804.7 W/m2 xiii .0 W/m2 Lampiran 15.1 W/m2 Lampiran 16. Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen. korelasi Ghajar dan korelasi Chen terhadap fraksi hampa pada fluks kalor 7282. korelasi Ghajar dan korelasi Chen terhadap fraksi hampa pada fluks kalor 4997.3 W/m2 Lampiran 14. Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen. korelasi Ghajar dan korelasi Chen terhadap fraksi hampa pada fluks kalor 3608.

kalor konveksi dua fasa thd. satu fasa cair G Fluks laju aliran kg/m2 s h Koefisien W/m2 0 C perpindahan kalor j Kecepatan superfisial m/s k Konduktivitas termal W/m 0 C • m Laju aliran massa kg/s Nu Bilangan Nuselt Pr Bilangan Prandtl Q Debit m3 /s q Kalor W q" Fluks kalor W/m2 Re Bilangan Reynolds 0 T Temperatur C U Kecepatan aktual m/s X Parameter Martinelli x Kualitas gas y Fraksi berat z Panjang m a Frakasi hampa ? Densitas kg/m3 ? Fraksi densitas Indeks g Gas in Masuk l Cair out Keluar tp Dua fasa Ch Chen Eks Eksperimen Gh Ghajar xiv . ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN Notasi A Luas penampang m2 Cp Kalor jenis J/kg 0 C D Diameter m F Rasio per.

Aliran kantung diperoleh dengan mengalirkan udara melalui nosel yang mempunyai pusat sama dengan pipa transparan dan ditempatkan di dalam pipa transparan yang di dalamnya terdapat aliran air. bilangan Reynolds superficial udara berkisar 110 sampai 663 dan fluks kalor berkisar 1804.438 m/s untuk udara.000466 sampai 0. Pipa horizontal. Aliran searah.002788.184 m/s sampai 0.3 W/m2 sampai 7282.073 m/s sampai 0.3 W/m2 sampai 7282. Koefisien perpindahan kalor.7 W/m2 . Pengambilan data yang digunakan dalam perhitungan koefisien perpindahan kalor dua fasa telah dilakukan dalam suatu syarat batas fluks kalor dinding berkisar antara 1804. Hasil percobaan menunjukan bahwa koefisien perpindahan kalor dua fasa meningkat dengan kenaikan fraksi hampa pada kecepatan superficial udara divariasikan dan kecepatan air konstan. bilangan Reynolds superficial air berkisar 5362 sampai 8165. Untuk mengukur temperatur dinding dipasang termokopel di dinding luar pada tujuh titik sepanjang pipa.190 sampai 0. kecepatan superficial berkisar antara 0. Koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen jika dibandingkan dengan prediksi Ghajar dan Chen mempunyai kecenderungan yang sama dan memiliki karekteristik yang sama.2985 Korelasi ini berlaku pada kualitas uap (x) 0. fraksi hampa (α) 0. Seksi uji terdiri atas pipa horizontal dengan diameter dalam 24 mm dan panjang 1568 mm. sedangkan temperatur fluida diukur dengan memasang termokopel pada sumbu pipa di sembilang titik sepanjang pipa. INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai koefisien perpindahan kalor aliran dua fasa air-udara pada aliran kantung.3102 Re 0TP.7 W/m2 . Fraksi hampa xv . Kata kunci : Aliran kantung. 4874 PrTP−0 . Korelasi empiris yang dihasilkan pada penelitian ini adalah: Nutp = 1.276 m/s untuk air dan 0.564.

The test section was consisted of a horizontal pipe of 24 mm in inner diameter and 1.3 W/m2 -7282.564. The coefficient of experimental two-phase heat transfer. Keywords : Slug flow. Heat transfer coefficient.3102 Re 0TP. Seven thermocouples were set on seven points along the outer surface of the tube to measure the temperature of the pipe wall. Cocurrent.438 m/s for the air. air superficial Reynolds numbers in a range of 110-663. i.7 W/m2 .1 W/m2 to 7. xvi .7 W/m2 . Result of the experiment shows that the coefficient of two-phase heat transfer increases with the increased superficial velocity of air flow. has the same trend with the same characteristics. Moreover.184 m/s to 0. Void fraction.073 m/s to 0.997.276 m/s for the water and from 0. as compared with the predictions of Ghajar and Chen.e. void fraction (a) of 0. Data used in calculating the coefficient of two-phase heat transfer was obtained with a condition that the limit of wall heat flux ranges from 4.00278.282. Horizontal pipe. while nine ones were set on seven points along the axis of the tube to measure that of the fluid inside. The slug flow was obtained by channeling the air through nozzles whose center is the same with that of the transparent pipe and located in the transparent pipe within of which water channels inside.568 mm in length.2985 The correlation was valid for the following conditions. and electrical heat flux (q”) of 1804. ABSTRACT The purpose of this research was to obtain the heat transfer coefficient of water-air two-phase flow in a horizontal slug flow. water superficial Reynolds numbers in a range of 5362-8165. gas quality (x) of 0. superficial velocity ranges from 0. 4874 PrTP−0 . an empirical correlation could be derived and expressed as: Nutp = 1.000466-0.190-0.

Perpindahan kalor yang terjadi ditentukan oleh koefisien perpindahan kalor yang dalam hal ini sangat dipengaruhi oleh hubungan kompleks antara sifat fluida. aliran uap air . Aliran dua fase dapat dijumpai pada boiler. 1976). disamping itu ada istilah aliran dua komponen. dimensi dan permukaan pipa.air adalah dua fase satu komponen. alat penukar kalor. sehingga dalam proses pendidihan ini terjadi pada kondisi aliran dua fasa. cair atau padat. Aliran dua fasa merupakan bagian dari aliran multifasa. Dalam proses ini gas alam dan minyak mentah mengalir secara bersamaan di dalam pipa.1. Latar Belakang Fase adalah salah satu kondisi atau bentuk zat. Ketel uap harus mengubah air yang mengalir di dalam pipa-pipanya menjadi uap. Perpindahan kalor dalam media aliran gas-cair banyak dijumpai dalam komponen-komponen system konversi energi. sementara aliran udara-air dua fase dua komponen. Istilah dua komponen kadang-kadang dipergunakan untuk melukiskan aliran dimana fase. Misalnya. pendingin ruangan (air-conditioning). reaktor kimia. kondensor. BAB I PENDAHULUAN 1. Apabila fluida yang terdinginkan lanjut (subcooled) memasuki suatu pipa penguap (evaporator) dan keluar dari pipa tersebut sebagai uap kalor 1 . motor penggerak (Collier. serta pola aliran dua fasa. dapat berupa gas.fase tersebut tidak terdiri dari zat kimia yang sama. reaktor nuklir. Untuk aliran dua fasa dua komponen dapat kita jumpai pada industri pengeboran minyak.

1. dua komponen gas-cair tanpa pendidihan sangat diperlukan. Hubungan antara koefisien perpindahan kalor dua fasa pada aliran kantung dengan berbagai perubahan debit udara. Terjadinya aliran kantung udara apabila kecepatan aliran gas dan cairan terus ditingkatkan (Andreussi et al. aliran strata gelombang. karena banyaknya aplikasi permasalahan ini di industri.lanjut (superheated). namun pada aliran dua fasa dua komponen dengan pola aliran kantung ( slug flow ) belum begitu banyak literature yang membahas. Pola aliran yang terbentuk sangat dipengaruhi oleh kecepatan aliran gas dan cairan didala m pipa. Adapun perumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut. Aliran kantung ditandai oleh bentuk gelembung gas yang relative berukuran besar dan hampir memenuhi penampang saluran aliran. aliran strata licin. dan perubahan fluks kalor . Pola aliran yang terbentuk dapat berupa pola aliran gelembung. Penelitian ini berkonsentrasi pada perpindahan kalor dua komponen gas-cair tanpa pendidihan pada pipa horizontal yang dindingnya dipanaskan dengan pemanas elektrik dengan bentuk aliran kantung aliran searah. Informasi mengenai perpindahan kalor dua fasa. 2 . aliran sumbat likuid dan aliran cincin.1993) Berbagai upaya untuk memprediksi koefisien perpindahan kalor pada aliran dua fasa karena pendidihan telah banyak dilakukan secara analitis maupun eksperimen. aliran kantung. maka berbagai pola aliran dan regim perpindahan kalornya dapat terjadi. perubahan debit air.

Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. 2. Untuk mendapatkan nilai koefisien perpindahan kalor dua fasa eksperimen dibandingkan dengan harga dari hasil korelasi dari peneliti sebelumnya. 3. 3 . Nilai koefisien perpindahan kalor dua fasa yang diperoleh dari eksperimen dibandingkan dengan dari hasil korelasi dari penelitian sebelumnya.2. Untuk mengetahui nilai koefisien perpindahan kalor aliran dua fasa yang dipengaruhi oleh perubahan debit udara. Mendapatkan korelasi empiris koefisien perpindahan kalor hasil penelitian ini. 3.2. Megembangkan korelasi empiris berdasarkan hasil penelitian ini. 1. perubahan debit air dan perubahan fluks kalor pada aliran dua fasa (air-udara) dengan pola aliran kantung (slug flow) yang mengalir searah dalam pipa horizontal yang dindingnya dipanaskan dengan pemanas elektrik.

2 prediksi Chen memberikan harga perpindahan kalor yang cuk up baik. bubbly/slug). Sepanjang pipa uji diberi elemen pemanas listrik yang mampu menghasilkan fluks kalor 400 kW/m2 . melakukan penelitian tentang koefisien perpindahan kalor aliran dua fasa dalam pipa vertikal yang dipanaskan tanpa pendidihan dengan fluida uji air-udara dalam bentuk aliran kantung.1. slug. Tinjauan Pustaka 2. Kim dan Ghajar (2002) meneliti korelasi perpindahan kalor dua fasa tanpa pendidihan (non boiling) pada pipa horizontal dengan pola aliran yang berbeda (anular/wavy. sedangkan temperatur aliran masuk dan keluar diukur menggunakan termokopel yang dipasang pada sumbu pipa. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa prediksi Wadekar lebih dekat dengan hasil pengukuran dibanding prediksi Chen. Namun demikian. Peralatan utama untuk melakukan percobaan adalah sebuah pipa stainless steel berdiameter 12.500 mm. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. dimana Re SL>4000.1.1.05 hingga 0. wavy. ujung atas dan bawah pipa dipasang pipa transparan untuk mengetahui pola aliran fluida uji. Hasil penelitiannya 4 . Untuk me ngukur temperatur dinding dipasang 10 termokopel di sepanjang pipa uji. Analisis hasil penelitian dilakukan menggunakan korelasi Chen dan Wadekar. Koefisien Perpindahan Kalor Dua Fasa Kamal (2002).7 mm dan panjang 1. terutama untuk kondisi kualitas gas yang kecil sekitar 0.