KARAKTERISASI ALIRAN DUA FASE CAIR-GAS

SEARAH KE ATAS DENGAN FLUIDA CAIR BERVISKOSITAS TINGGI

Tesis
untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2

Program Studi Teknik Mesin
Jurusan Ilmu-Ilmu Teknik

diajukan oleh :
Matheus M. Dwinanto
20485/I-1/2042/03

Kepada
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2005

ii

iii .

Mertuaku. M. Rochardjo. untuk itu perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. 7. Dr. saran. Istriku tercinta Margaretha Juli NW. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. adik-adikku Yos. Penyelesaian tesis ini tidak terlepas dari bimbingan.Eng. dan kedua anak kami Yuda dan Nugie. PAU – UGM. 5. B. Bapak Alfons Uran dan Ibu Suprihatin. Heru S. yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian. “terima kasih atas persaudaraan kita selama kamu masih hidup di dunia”. Ph. MSE selaku kepala Laboratorium Perpindahan Panas dan Massa. and motivation. Mamaku Wiwiek tercinta yang telah pulang ke rumah Bapa di surga. Ing. Dini dan suaminya Offis. 2. 6.D selaku pengelola program studi S-2 Teknik Mesin. “ maafkan anakmu ini ” dan kakakku John. encouragement. Dr. yang juga telah pulang ke rumah Bapa di surga. Ir. Ir. karena hanya dengan rahmat dan kasihNya maka penyusunan tesis ini dapat diselesaikan. Harwin Saptoadi. for being a continuous source of support. Papaku tercinta. beserta kedua saudara iparku Febri dan Datus. 4. PRAKATA Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang penulis haturkan. 3. Indarto. Ir. Tesis ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan tingkat strata dua (S-2) di Jurusan Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Prof. iv . DEA selaku pembimbing utama yang telah memberikan bimbingan dan arahan selama penelitian berlangsung dan penyusunan tesis.

pak Sarjono. Naomi. 10. pak Henry. Arief. J. pak Sangudi dan pak Warto. Sembiring. F. Teman-teman S-2 Teknik Mesin. Nova.8. Tom Boimau. pak Sartono. Mas Edy Wrihatnolo. Yuni. pak F. Jusuf Herlambang. pak Vincent. pak Walid A. pak Lukas K. pak Luther.X. dan Nino. Ir. Sunu. pak Anang Setiawan. Subhan. Sutarno. om Erlan Bashari. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat. Andri. Adis. Kristomus Boimau. kritik dan saran diharapkan dari berbagai pihak untuk perbaikan di masa yang akan datang. Fani. Dr. Riri. Waspodo. Yogyakarta. pak Pius Dora Ole. Erni Martani. Mike. Indah. Sebastian Margino dan Prof. Dr. Supriadi “panggil aku Su saja”. Jefri. Nahari. Ir. September 2005 Penulis v . Nano Ganggas. pak Nyoman. Yendri. Prof. pak Mudji. Akhir kata. pak Agus. Ichal. Sri “Anna” Muawanah “terima kasih untuk kebersamaan kita”. Silvester Tena. pak Tony Yuniarto. Agustinus Kaaf. Opa. Ali Anwar. 9. Alfredo. Yudi Thalib. pak Markus. Teman-temanku. pak Wardoyo. dan kedua Laboran. Agus Hermawan. pak Nur Subeki. 11. Dedi. Mc Como. dan om Silas Kase. Alex S. Teman-teman kos. beserta anak-anak mereka. Hasbi. pak Zainal Arifin. John. Hairul. Mangala.

4 Kecepatan kantung udara 9 2.2.3 Penurunan tekanan 6 2.2.1. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL i HALAMAN PENGESAHAN ii PERNYATAAN iii PRAKATA iv DAFTAR ISI vi DAFTAR TABEL viii DAFTAR GAMBAR xi ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN xv INTISARI xviii ABSTRACT xix I. TINJAUAN PUSTAKA 2.2 Penurunan tekanan 12 vi .1.2 Fraksi hampa 6 2.1 Tinjauan Pustaka 2.2.2 Landasan Teori 2.1 Pola aliran dua fase 3 2.2 Tujuan Penelitian 2 II.1 Latar Belakang 1 1.1 Pola aliran 10 2. PENGANTAR 1.1.

3 Fraksi hampa 19 2.1 Bahan Penelitian 23 3.1 Aliran Satu Fase ke Atas 35 4.2.3 Peta Pola Aliran dan Visualisasi Pola Aliran 96 V. KESIMPULAN Kesimpulan 108 DAFTAR PUSTAKA vii . CARA PENELITIAN 3. 2.4 Kecepatan kantung 21 III.2.3 Jalan Penelitian 25 3.2 Aliran Dua Fase 37 4.4 Kesulitan-kesulitan dan Pemecahannya 34 IV.2 Alat Penelitian 23 3. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.

0616 m/s 45 Tabel 4.3756 m/s 47 Tabel 4.17 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jl = 0.3765 m/s 40 Tabel 4.3756 m/s) 52 Tabel 4.1 Kerugian tinggi tekan teoritis 35 Tabel 4.5 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jl = 0. DAFTAR TABEL Halaman Tabel 2.4855 m/s) 52 Tabel 4.4 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jl = 0.0616 m/s) 51 Tabel 4.11 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jl = 0.7 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jl = 0.1 Konstanta C.6 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jl = 0.8 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jl = 0.8072 m/s 49 Tabel 4.4855 m/s 48 Tabel 4.13 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jl = 0.0616 m/s 38 Tabel 4.12 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jl = 0.9 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jl = 0.18 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.16 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jl = 0.15 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jl = 0.3 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jl = 0.0067 m/s 59 viii .2 Kerugian tinggi tekan pengukuran 36 Tabel 4.14 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jl = 0. dan eksponen m dan n 19 Tabel 4.4855 m/s 41 Tabel 4.10 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jl = 0.8072 m/s) 53 Tabel 4.8072 m/s 42 Tabel 4.2075 m/s 46 Tabel 4.2075 m/s) 52 Tabel 4.2075 m/s 39 Tabel 4.

0219 m/s 60 Tabel 4.1095 m/s 69 Tabel 4.22 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.0785 m/s 62 Tabel 4.25 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.0500 m/s 61 Tabel 4.35 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martenelli) pada Jg = 0.32 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.37 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.014 m/s 59 Tabel 4.0219 m/s 66 Tabel 4.0606 m/s 67 Tabel 4.34 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.30 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.1217 m/s 69 ix .26 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.014 m/s 65 Tabel 4.24 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.1095 m/s 63 Tabel 4.0297 m/s 60 Tabel 4.19 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.0067 m/s 65 Tabel 4.28 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.0960 m/s 68 Tabel 4.31 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.33 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.0960 m/s 62 Tabel 4.36 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.0297 m/s 66 Tabel 4.1217 m/s 63 Tabel 4.21 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.20 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.0606 m/s 61 Tabel 4.27 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.Tabel 4.29 Penurunan tekanan model aliran terpisah (korelasi Lockhart-Martinelli) pada Jg = 0.0500 m/s 67 Tabel 4.0785 m/s 68 Tabel 4.23 Penurunan tekanan model aliran homogen pada Jg = 0.

45 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.49 Panjang kantung gas 105 x .47 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.44 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.0785 m/s) 72 Tabel 4.1217 m/s) 73 Tabel 4.40 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.0067 m/s) 71 Tabel 4.0606 m/s) 72 Tabel 4.42 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.41 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.39 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.1095 m/s) 73 Tabel 4.38 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.0297 m/s) 71 Tabel 4.48 Kecepatan kantung gas 103 Tabel 4.014 m/s) 71 Tabel 4.43 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.Tabel 4.0219 m/s) 71 Tabel 4.0960 m/s) 72 Tabel 4.46 Penurunan tekanan hasil pengukuran (Jg = 0.0500 m/s) 72 Tabel 4.

5 Perbandingan penurunan tekanan pada Jl = 0.5 Pengukuran kantung gas 28 Gambar 3.1 Alat penelitian aliran dua fase searah ke atas 24 Gambar 3. DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.0616 m/s 54 xi .3 Penurunan tekanan model aliran terpisah pada aliran cairan konstan 50 Gambar 4.6 Pola aliran cair-gas vertikal ke atas 11 Gambar 2.1 Pola aliran dasar 3 Gambar 2.4 Alat kalibrasi gasmeter dan flowmeter gas 27 Gambar 3.2 Flowmeter cairan 26 Gambar 3.2 Penurunan tekanan model aliran homogen pada aliran cairan konstan 43 Gambar 4.3 Hubungan angka Reynolds dengan faktor gesekan pada aliran satu fase 7 Gambar 2.4 Hubungan penurunan tekanan gesekan eksperimental dengan korelasi Lockhart-Martinelli 9 Gambar 2.4 Penurunan tekanan hasil pengukuran pada aliran cairan konstan 53 Gambar 4.6 Bentuk gelombang pada oskiloskop 29 Gambar 3.7 Peta pola aliran vertikal ke atas oleh Hewitt-Robert 12 Gambar 3.1 Hubungan kecepatan aliran dengan total penurunan tekanan Satu fase 36 Gambar 4.5 Model aliran kantung 10 Gambar 2.7 Alat pengukur kecepatan kantung 30 Gambar 4.3 Tensiometer 27 Gambar 3.2 Peta pola aliran dengan representasi kecepatan superfisial 5 Gambar 2.

0606 m/s 77 Gambar 4.27 Fraksi hampa pengukuran pada aliran cairan konstan 82 Gambar 4.11 Penurunan tekanan hasil pengukuran pada aliran cairan konstan 59 Gambar 4.0219 m/s 75 Gambar 4.13 Penurunan tekanan model aliran terpisah pada aliran gas konstan 70 Gambar 4.17 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.8072 m/s 57 Gambar 4.9 Perbandingan penurunan tekanan pada Jl = 0.14 Penurunan tekanan hasil pengukuran pada aliran gas konstan 73 Gambar 4.2075 m/s 55 Gambar 4.20 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.1095 m/s 79 Gambar 4.23 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.19 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.8 Perbandingan penurunan tekanan pada Jl = 0.7 Perbandingan penurunan tekanan pada Jl = 0.15 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.4855 m/s 56 Gambar 4.18 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.26 Penurunan tekanan pada aliran gas konstan 81 Gambar 4.12 Penurunan tekanan model aliran homogen pada aliran gas Konstan 64 Gambar 4.0785 m/s 78 Gambar 4.21 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.0500 m/s 77 Gambar 4.0960 m/s 78 Gambar 4.6 Perbandingan penurunan tekanan pada Jl = 0.0067 m/s 74 Gambar 4.0297 m/s 76 Gambar 4.22 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.3756 m/s 55 Gambar 4.24 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.10 Penurunan tekanan pada aliran air konstan (Hasil penelitian Nasution dan Indarto) 58 Gambar 4.014 m/s 75 Gambar 4.1217 m/s 80 Gambar 4.16 Perbandingan penurunan tekanan pada Jg = 0.Gambar 4.25 Penurunan tekanan pada aliran udara konstan (Hasil penelitian Nasution dan Indarto) 81 Gambar 4.28 Fraksi hampa dengan korelasi CISE pada aliran cairan konstan 83 xii .

0785 m/s 94 Gambar 4.4855 m/s 86 Gambar 4.45 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.34 Fraksi hampa pengukuran pada aliran gas konstan 88 Gambar 4.36 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.0500 m/s 93 Gambar 4.33 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jl = 0.37 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.41 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.0616 m/s 84 Gambar 4.40 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.42 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.0219 m/s 91 Gambar 4.43 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.2075 m/s 85 Gambar 4.0067 m/s 90 Gambar 4.38 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.32 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jl = 0.8072 m/s 87 Gambar 4.35 Fraksi hampa dengan korelasi CISE pada aliran gas konstan 89 Gambar 4.0297 m/s 92 Gambar 4.30 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jl = 0.3756 m/s 86 Gambar 4.1095 m/s 95 Gambar 4.Gambar 4.44 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.0606 m/s 93 Gambar 4.0960 m/s 94 Gambar 4.39 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jg = 0.1217 m/s 95 xiii .29 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jl = 0.31 Perbandingan fraksi hampa hasil pengukuran dengan korelasi CISE pada Jl = 0.014 m/s 91 Gambar 4.

46 Peta pola aliran dengan representasi kecepatan superfisial 96 Gambar 4.48 Aliran gelembung homogen 98 Gambar 4.47 Hubungan kualitas gas dengan fluks massa 97 Gambar 4.53 Hubungan kecepatan superfisial dengan panjang kantung 105 Gambar 4.50 Aliran kantung kecil 100 Gambar 4.55 Kecepatan kantung hasil penelitian (Pada aliran laminar) 106 xiv .54 Kecepatan kantung hasil penelitian Nasution dan Indarto (Pada aliran turbulen) 106 Gambar 4.52 Perbandingan kecepatan kantung gas hasil pengukuran dengan persamaan Nicklin 104 Gambar 4.Gambar 4.51 Aliran kantung besar 102 Gambar 4.49 Aliran gelembung non homogen 99 Gambar 4.

kg/s P Keliling saluran. N/m3 f Faktor gesekan G Total fluks massa. m/s KK Kantung kecil KB Kantung besar L Panjang pipa. m hf Kerugian tinggi tekan gesekan.s GH Gelembung homogen GNH Gelembung non homogen g Gravitasi. m xv . ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN Huruf Roman A Luasan saluran. m2 Cf Faktor gesekan D Diameter pipa. kg/m2. mm d Diameter ekuivalen saluran. mm dp/dz Gradien penurunan tekanan. m Jg Kecepatan superfisial gas. kg/s ml Laju aliran massa cairan. m/s Jl Kecepatan superfisial cairan. m m Laju aliran massa. kg/s mg Laju aliran massa gas. m/s2 h Total head.

m3/s S Rasio kecepatan T Temperatur. N/m2 Q Laju aliran volumetrik. N/m2 Dp Penurunan tekanan. N. m/s v Kecepatan aliran. bar ∆p Penurunan tekanan. kg/m3 σ Tegangan permukaan. m/s x Kualitas gas Hurif Yunani α Fraksi hampa ФL Pengali dua fase µ Viskositas dinamik cairan.s/m2 θ Kemiringan pipa ρ Massa jenis (densitas).p Tekanan. N/m τ Tegangan geser dinding. N/m2 Bilangan tak berdimensi Re Angka Reynolds We Angka Weber xvi . oC U Kecepatan superfisial. m/s ug Kecepatan rata-rata aliran. m/s V Kecepatan aliran.

X Parameter Lockhart-Martinelli Subskrip ac Percepatan F Gesekan l Cairan g Gas h Homogen m Campuran th Termodinamika TP Dua fase w Dinding xvii .

dan kecepatan kantung gas serta panjang kantung gas sehingga diperoleh karakteristik aliran dua fase cair-gas searah ke atas pada pipa vertikal dengan fluida cair berviskositas tinggi. Setelah alirannya menjadi dua fase. fraksi hampa diukur dengan menggunakan teknik katup menutup cepat. Cairan dialirkan ke atas melalui pipa pleksiglas dengan diameter dalam 50 mm dan panjang 2000 mm. penurunan tekanan akan bertambah dengan meningkatnya kecepatan superfisial cairan.s/m2. dan aliran kantung besar. aliran kantung kecil. fraksi hampa akan bertambah dengan meningkatnya kecepatan superfisial gas.15 kg/m3 dan tegangan permukaan σ = 0. penguat. Hasil ini akan dibandingkan dengan penurunan tekanan pengukuran. manometer-U akan menunjukkan penurunan tekanan sepanjang pipa.980 bar pada 29 oC. Sedangkan pada kondisi aliran gas konstan. dan oskiloskop. rapat massa ρ = 898. penurunan tekanan akan berkurang dengan meningkatnya kecepatan superfisial gas. Karena aliran yang terjadi selama penelitian adalah aliran laminar. Setelah dilakukan visualisasi pola aliran. maka persamaan Nicklin tidak berlaku. aliran gelembung non homogen. penurunan tekanan yang terjadi sepanjang pipa. mengukur fraksi hampa. Panjang kantung akan bertambah dengan meningkatnya kecepatan superfisial cairan dan kecepatan superfisial gas. INTISARI Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tentang pola aliran. Sedangkan pada kondisi aliran gas konstan. Pengukuran kecepatan kantung dan panjang kantung menggunakan alat yang terdiri dari sensor cahaya. kemudian gas dari kompresor diinjeksikan. Fluida gas adalah udara bertekanan 0. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kondisi aliran cairan konstan.7E-03 N. Fluida cair yang digunakan memiliki viskositas µ = 24. fraksi hampa akan berkurang dengan meningkatnya kecepatan superfisial cairan. Kecepatan kantung akan meningkat dengan meningkatnya kecepatan superfisial cairan dan kecepatan superfisial gas. Pola aliran yang terjadi adalah aliran gelembung homogen.031 N/m. xviii . Pada aliran cairan konstan. Hasil pengukuran fraksi hampa digunakan untuk menghitung penurunan tekanan model aliran homogen dan madel aliran terpisah.

the void fraction is measured using the quick-closing valve technique. The length of bubble will be longer with the rise of liquid superficial velocity and gas superficial velocity. xix .7E-03 N. The flow patterns occur as the homogeneous flow bubble. ABSTRACT The purpose of this research is to study about flow patterns. At constant liquid flow. little slug flow. density ρ = 898. amplifier. And when the gas flow condition is constant. After doing visualisasion of flow patterns. Because the flow that occur during the research is laminar flow. the pressure drop will increase with the rise of liquid superficial velocity. After the flow becomes two phase. The measurement of bubble velocity and bubble length using tools that consist of ray sensor. and the velocity of bubble gas and the length of bubble gas. From this research we get at constant flow liquid condition. manometer-U will show the pressure drop along the pipe. void fraction will decrease with the rise of liquid superficial velocity. pressure drop occur along the pipe. and big slug bubble flow. so the Nicklin equation is not valid. non homogeneous flow bubble.s/m2. to measure void fraction. The liquid that used has viscosity µ = 24. This score will be compared with the pressure drop of the measurement. the pressure drop will decrease with the rise of gas superficial velocity. And when the gas flow condition is constant. Gas is air has pressure 0. and osciloscop.15 kg/m and surface tension σ = 0. The bubble velocity will increase with the rise of liquid superficial velocity and gas superficial velocity.980 bar at 29 oC. void fraction will increase with the rise of gas superficial velocity. so can get the characteristic of two phase flow cocurrent upward gas- liquid in vertical pipe with high viscosity liquid. so gas from compressor is injected.031 N/m. 3 Liquid upward is flowed through plexiglass pipe with inner diameter 50 mm and length 2000 mm. The score of void fraction measurement is used to calculate the pressure drop of homogeneous flow model and separate flow model.

Aliran serentak kedua . sedangkan cairan berviskositas tinggi cenderung bersifat fluida non-Newton. cair. namun dalam perkembangannya istilah ini akhirnya berubah menjadi aliran dua fase saja. dan kebanyakan penelitian yang telah dilakukan selama ini menggunakan fluida cairnya adalah air. termasuk aliran dalam pipa saluran minyak dan gas.1 Latar Belakang Banyak situasi teknik dimana dua atau lebih zat yang berbeda fasenya mengalir secara serentak sebagai suatu campuran. Ini yang dinamakan dengan aliran dua fase. karena minyak dan gas adalah berbeda dalam struktur molekul dan fase. Aliran simultan dari cairan dan gas terjadi dalam sejumlah tipe situasi. I. Tipe-tipe yang mungkin terjadi pada aliran dua fase adalah campuran cair-gas. Gas yang mengalir cenderung bersifat fluida Newton. Aliran minyak dan gas merupakan aliran dua fase. Dalam hal demikian alirannya adalah multifase. gas-padat. dan gas. Namun demikian sebagian besar kasus yang biasa terjadi pada aliran multifase adalah dimana hanya dua fase saja yang mengalir secara bersamaan. satu komponen. PENGANTAR 1. dan cair-padat. dua komponen. dan aliran dalam pipa-pipa evaporator. Campuran itu mungkin merupakan kombinasi dari padat. yang memiliki viskositas rendah. Aliran cair dan gas dalam pipa evaporator merupakan sebuah contoh dari aliran dua fase. Aliran dua fase cair-gas searah ke atas pada pipa vertikal merupakan kejadian yang paling banyak ditemui dalam bidang teknik. namun karakteristik aliran dua fase ini sepanjang pipa dimana fluida cairnya adalah cairan yang memiliki viskositas tinggi belum banyak literatur yang membahasnya. Karakteristik dari dua tipe aliran dua fase ini sungguh berbeda.