PEMERINTAH KOTA PALOPO

DINAS KESEHATAN
PUSKESMAS SENDANA
Jalan Andi Bintang Kelurahan Mawa Kecamatan Sendana Tlp.082394249188
email:pkmsendanapalopo@gmail.com

PANDUAN PROGRAM KESELAMATAN PASIEN

DI PUSKESMAS SENDANA

A. PENDAHULUAN

Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan strata pertama dalam pemberian pelayanan
kesehatan kepada masyarakat mempunyai peranan penting dalam mewujudkan derajat kesehatan
masyarakat. Bahwa dalam rangka mengoptimalisasikan dan mengintegrasikan semua upaya
kesehatan di Puskesmas agar pelayanan ynag diberikan bermutu dan komprehensif perlu
adannya pedoman yang disusun sebagai Panduan Keselamatan Pasien di Puskesmas Sendana.

Keselamatan pasien di Puskesmas adalah suatu sistem dimana Puskesmas membuat asuhan
pasien lebih aman yang meliputi pengurangan resiko terjadinya kecelakaan kerja yang terjadi
pada pasien selama perawatan di Puskesmas Sendana. Melakukan identifikasi dan penanganan
hal yang berhubungan dengan risiko pasien, sistem pencatatan dan pelaporan dan analisis
insiden, sehingga memberikan pembelajaran bagi petugas dalam penanganan insiden dan tindak
lanjutnya serta implementasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah
terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan yang
dapat mengancam nyawa pasien.

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan
masyarakat yang:

1. Memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat;
2. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu hidup dalam lingkungan sehat; dan

3. kelompok dan masyarakat. Hak pasien b. pasien maupun keluarga. b. Mendidik pasien dan keluarga c. STANDART KESELAMATAN PASIEN DI PUSKESMAS MELIPUTI: a. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien f. sehingga dokter sebagai penanggung jawab layanan klinis wajib membuat rencana layanan klinik bagi pasien yang dirawat di . Penggunaan metoda-metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien e. baik individu. Hak pasien Pasien dan keluarganya mempunyai hak untuk mendapatkan informasi tentang rencana dan hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya insiden. Meningkatkan Mutu Pelayanan. Tujuan Khusus a. 2. c. Sebagai Pedoman dalam Program Keselamatan pasien di Puskesmas. TUJUAN Panduan ini dibuat dengan harapan dapat menjadi pedoman dalam program keselamatan pasien di Puskesmas Sendana. C. 1. Tujuan Umum Sebagai Pedoman kerja bagi semua petugas di Puskesmas Sendana dalam upaya Keselamatan pasien di Puskesmas Sendana. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan d. Memiliki derajat kesehatan yang optimal. keluarga. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatanPasien Uraian tujuh standar tersebut diatas adalah sebagai berikut: a. B. Mendidik staf tentang keselamatan pasien g. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja bagi petugas.

oleh sebab itu di Puskesmas harus ada sistem dan mekanisme mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan Puskesmas Sendana. b. Keselamatan dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien yang merupakan partner dalam proses pelayanan. pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya insiden yang tidak diharapkan selama pasien di rawat di Puskesmas Sendana. c. . Terdapat koordinasi pelayanan yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber daya secara berkesinambungan. pemeriksaan termasuk pemeriksaan laboratorium. Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab pasien dan keluarga. perencanaan pelayanan. diagnosis. Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa.tindakan pengobatan. 4. 3. 7. Puskesmas Sendana menjamin keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan dan menjamin koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan di Puskesmas Sendana. 5. jelas. rujukan dan saat pasien keluar dari Puskesmas Sendana. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti. Mendidik Pasien Petugas pelayanan klinis harus mendidik pasien dan keluarganya tentang kewajiban dan tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien.Puskesmas Sendana dan dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan secara jelas dan benar kepada pasien dan keluarganya tentang rencana dan hasil pelayanan. 2. Memberikan informasi yang benar. 2. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien dan keluarga dapat: 1. sehingga pada seluruh tahap pelayanan transisi antar unit pelayanan dapat berjalan baik dan lancar. 6. lengkap dan jujur. Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati. Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan 1. Oleh sebab itu harus koordinasi pelayanan secara menyeluruh mulai dari saatpasien masuk.

konsultasi dan rujukan. memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data. Puskesmas Sendana harus mendesain proses baru atau memperbaiki proses yang ada. d. petugas pelayanan kesehatan. dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan kegiatan Keselamatan pasien di Puskesmas. agar kinerja dan keselamatan pasien terjamin. manajemen risiko. 2. pelayanan keperawatan. menganalisis secara intensif insiden. Peran Kepemimpinan Dalam Meningkatkan Keselamatan Pasien 1. Penggunaan metode-metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien: 1. pelayanan sosial. Puskesmas harus menggunakan semua data dan informasi hasil analisis untuk menentukan perubahan sistem yang diperlukan. 4. aman dan efektif. misi. . Terdapat komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan sehingga dapat tercapainya proses koordinasi tanpa hambatan. Dan harus melakukan evaluasi intensif terkait dengan semua insiden. Puskesmas harus melakukan proses perancangan (desain) yang baik. kaidah klinis terkini. 4. Puskesmas harus melakukan pengumpulan data kinerja yang antara lain terkait dengan : pelaporan insiden. 3. mengacup ada visi. keuangan. 2. Pimpinan mendorong dan menjamin implementasi program keselamatanpasien secara terintegrasi dalam organisasi melalui penerapan “TujuhLangkah Menuju Keselamatan Pasien di Puskesmas Sendana”. e. 3. Terdapat koordinasi pelayanan yang mencakup peningkatan komunikasi untuk memfasilitasi dukungan keluarga. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan pasien dan program menekan atau mengurangi insiden. dan tujuan Puskesmas Sendana kebutuhan pasien. mutu pelayanan. termasuk pelayanan kesehatan primer dan tindak lanjut lainnya. dan secara proaktif melakukan evaluasi satu proses kasus risiko tinggi.

dan pengumpulan informasi menggunakankriteria objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja Puskesmas Sendana dan keselamatan pasien. termasuk evaluasi berkala terhadap kecukupan sumber daya tersebut. Pimpinan mendorong dan menumbuhkan komunikasi dan koordinasi antar unit dan individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang keselamatan pasien.misalnya menangani “Kejadian Sentinel’’ atau kegiatan proaktif untuk memperkecil risiko. d) Tersedia prosedur “cepat-tanggap” terhadap insiden. termasuk mekanisme untuk mendukung staf dalam kaitan dengan “Kejadian Sentinel”. c) Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponendari Puskesmas Sendana terintegrasi dan berpartisipasi dalam program keselamatan pasien. 5. dan meningkatkan kinerja Puskesmas Sendana serta meningkatkan keselamatan pasien. i) Tersedia sasaran terukur.mengkaji. g) Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan antar pengelola pelayanan di Puskesmas dengan pendekatan antar disiplin. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur. termasuk asuhan kepada pasien yang terkena musibah. . f) Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden. e) Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitandengan insiden termasuk penyediaan informasi yang benar dan jelastentang Analisis Akar Masalah “Kejadian Nyaris Cedera” dan kejadian pada saat program keselamatan pasien mulai dilaksanakan.3. termasuk rencana tindak lanjut dan implementasinya. membatasi risiko pada orang lain dan penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan analisis. Pimpinan mengukur dan mengkaji efektifitas kontribusinya dalam meningkatkan kinerja Puskesmas Sendana dan keselamatan pasien: a) Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien. h) Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan dalamkegiatan perbaikan kinerja Puskesmas dan perbaikan keselamatan pasien. 4. b) Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program meminimalkan insiden.

Komunikasi merupakan kunci bagi staff untuk mencapai keselamatan pasien 1. bertukar tempat tidur/kamar atau. adanya kelainan sensori. 2. atau akibat situasi lain. Puskesmas merencanakan dan mendesain proses manajemen informasi keselamatan pasien untuk memenuhi kebutuhan informasi internal dan eksternal. Maksud dan Tujuan Sasaran I Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien dapat terjadi dihampir semua aspek/tahapan diagnosis dan pengobatan. D. Mendidik Staf Tentang Keselamatan Pasien 1. Puskesmas menyelenggarakan pertemuan yang berkelanjutan untuk meningkatkan dan memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan interdisipliner dan kolaborasi dalam pelayanan pasien. tidak sadar. KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN Puskesmas wajib mengembangkan pendekatan untuk memperbaiki/meningkatkan ketelitian identifikasi pasien. SASARAN KESELAMATAN PASIEN Sasaran Keselamatan Pasien merupakan syarat untuk diterapkan di Puskesmas Sendana. g. Puskesmas memiliki proses pendidikan.f. Menyiapkan dan informasi harus tepat waktu dan akurat. untuk identifikasi pasien sebagai individu . Maksud sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu: pertama. pelatihan dan orientasi untuksetiap jabatan mencakup keterkaitan jabatan dengan keselamatanpasien secara jelas. Maksud dari Sasaran Keselamatan Pasien adalah mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas Sendana sasaran keselamatan pasien meliputi: 1. mengalami disorientasi. Kesalahan identifikasi pasien bisa terjadi pada pasien yang dalam keadaan terbius/tersedasi. 2.

Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yangkonsisten pada semua situasi dan lokasi. 3. 2. tidak boleh menggunakan nomor kamar atau lokasi pasien. Kebijakan dan/atau prosedur juga menjelaskan penggunaan dua identitas berbeda di lokasi yang berbeda di Puskesmas Sendana. . Suatu proses kolaboratif digunakan untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur agar dapat memastikan semua kemungkinan situasi untuk dapat diidentifikasi. lain- lain. seperti di pelayanan rawat jalan. atau ruang rawat inap termasuk identifikasi pada pasien koma tanpa identitas. atau pemberian pengobatan atau tindakan lain. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien.yang akan menerima pelayanan atau pengobatan. seperti nama pasien. Kebijakan dan/atau prosedurmemerlukan sedikitnya dua cara untuk mengidentifikasi seorang pasien. untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut. dan kedua. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan/prosedur. tanggal lahir. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untukPemeriksaan laboratorium klinis. 5. 4. khususnya pada proses untuk mengidentifikasi pasien ketika pemberian obat pengambilan darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan klinis. Penilaian Sasaran I: 1. Kebijakan dan/atau prosedur yang secara kolaboratif dikembangkan untuk memperbaiki proses identifikasi. Nomor kamar pasien atau lokasi tidak bisa digunakan untuk identifikasi. unit gawat darurat. nomor rekam medis.

Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan kebanyakan terjadi pada saat perintah diberikan secara lisan atau melalui telepon. dan mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibaca ulang adalah akurat. Perintah lengkap secara lisan dan yang melalui telepon atau hasil pemeriksaan dituliskan secara lengkap oleh penerima perintah. atau tertulis. akan mengurangi kesalahan. seperti melaporkan hasil laboratoriumklinik cito melalui telepon ke unit pelayanan. Perintah lengkap lisan dan telpon atau hasil pemeriksaan dibacakan kembali secara lengkap oleh penerima perintah. Maksud dan Tujuan Sasaran II: Komunikasi efektif. PENINGKATAN KOMUNIKASI YANG EFEKTIF Puskesmas mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan efektivitaskomunikasi antar para pemberi layanan. Puskesmas secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk perintah lisan dan telepon termasuk: mencatat dengan lengkap dan jelas dalam rekam medik pasien (atau memasukkan ke komputer) perintah yang lengkap atau hasil pemeriksaan oleh penerima perintah. . kemudian penerima perintah membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan kritis. jelas. akurat. lengkap. 2. lisan.2. dan menghasilkan peningkatan keselamatan pasien. Komunikasi dapat berbentuk elektronik. Penilaian Sasaran II 1. Kebijakan dan/atau prosedur pengidentifikasian juga menjelaskan bahwa diperbolehkan tidak melakukan pembacaan kembali (read back) bila tidak seperti situasi gawat darurat di UGD atau kamar Bersalin. dan yang dipahami oleh pasien. yang tepat waktu.

atau pada keadaan gawat darurat. manajemen harus berperan secara kritis untuk memastikan keselamatan pasien. atau bila perawat atau Bidan baru tidak diorientasikan terlebih dahulu sebelum ditugaskan. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan verifikasi keakuratan komunikasi lisan atau melalui telepon secara konsisten. III. dan magnesium sulfat =50% atau lebih pekat). Obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications) adalah obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event).3. kalium klorida 2 meq/ml atau yang lebih pekat. Kesalahan ini bisa terjadi bila perawat tidak mendapatkan orientasi dengan baik di unit pelayanan pasien. atau Look Alike Soun Alike/LASA). obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) seperti obat-obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa dan Ucapan Mirip/NORUM. Cara yang paling efektif untuk mengurangi atau mengeliminasi kejadian tersebut adalah dengan meningkatkan proses pengelolaan obat-obat yang perlu diwaspadai termasuk memindahkan elektrolit konsentrat dari unit pelayanan pasien ke farmasi. kalium fosfat. Maksud dan Tujuan Sasaran III Bila obat-obatan menjadi bagian dari rencana pengobatan pasien. PENINGKATAN KEAMANAN OBAT YANG PERLU DIWASPADAI (HIGH- ALERT) Puskesmas mengembangkan suatu pendekatan untuk memperbaiki keamanan obat-obat yang perlu diwaspadai (high-alert). .9%. natrium klorida lebih pekat dari 0. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh pemberi perintah atau yang menyampaikan hasil pemeriksaan 4. Obat-obatan yang sering disebutkan dalam isu keselamatan pasien adalah pemberian elektrolit konsentrat secara tidak sengaja (misalnya.

kurang/tidak melibatkan pasien di dalam penandaan lokasi (site marking). dan tepat. b. KEPASTIAN TEPAT-LOKASI. Puskesamas secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur untuk membuat daftar obat-obat yang perlu diwaspadai berdasarkan data yang ada di Puskesmas. dan disimpan pada area yang dibatasi ketat (restricted) 1V. Elektrolit konsentrat tidak berada di unit pelayanan pasien kecuali jika dibutuhkan secara klinis dan tindakan diambil untuk mencegah pemberian yang kurang hati-hati di area tersebut sesuai kebijakan. menetapkan lokasi. Implementasi kebijakan dan prosedur. TEPAT-PROSEDUR. dan tidak ada . serta pemberian label secara benar pada elektrolit dan bagaimana penyimpanannya di area tersebut. Kebijakan dan/atau prosedur juga mengidentifikasi area mana saja yang membutuhkan elektrolit konsentrat. TEPAT PASIEN BEDAH MINOR. untuk mencegah pemberian yang tidak sengaja/kurang hati-hati. Kesalahan ini adalah akibat dari komunikasi yang tidak efektif atau yang tidak adekuat antara anggota tim kerja. d. seperti di UGD atau kamar bersalin. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan agar memuat proses identifikasi. sehingga membatasi akses. adalah sesuatu yang mengkhawatirkan dan tidak mungkin dapat terjadi di Puskesmas Sendana. Penilaian Sasaran III a. pemberian label. Puskesmas Sendana mengembangkan suatu pendekatan untuk memastikan tepat lokasi. c.pasien. Elektrolit konsentrat yang disimpan pada unit pelayanan pasien harus diberi label yang jelas. salah prosedur. tepat-prosedur. Maksud dan Tujuan Sasaran IV Salah lokasi. dan penyimpanan elektrolit konsentrat. pasien salah pada tindakan bedah minor.

dan tepat pasien dan semua dokumen serta peralatan yang diperlukan tersedia. V. Puskesmas Sendana perlu untuk secara kolaboratif mengembangkan suatu kebijakan dan/atau prosedur yang efektif di dalam mengeliminasi masalah yang mengkhawatirkan ini. Di samping itu. 4. Puskesmas Sendana menggunakan suatu tanda yang jelas dan dimengerti untuk identifikasi lokasi bedah minor dan melibatkan pasien di dalam proses penandaan. penelaahan ulang catatan medis tidak adekuat. dan tepat pasien. termasuk prosedur medis dan dental yang dilaksanakan di luar ruang tindakan. Untuk menghindari terjadinya kekeliruan dalam penanganan bedah minor di Puskesmas maka perlu di lakukan: 1. dan fungsional. tepat prosedur. tepat prosedur. 2. Puskesmas Sendana menggunakan suatu checklist atau proses lain untuk memverifikasi saat prebedah minor tepat lokasi. Kebijakan dan prosedur dikembangkan untuk mendukung proses yang seragam untuk memastikan tepat lokasi. asesmen pasien yang tidak adekuat. Maksud dan Tujuan Sasaran V Pencegahan dan pengendalian infeksi merupakan tantangan terbesar dalam tatanan pelayanan kesehatan. permasalahan yang berhubungan dengan tulisan tangan yang tidak terbaca (illegiblehandwritting) dan pemakaian singkatan adalah faktor-faktor kontribusi yang sering terjadi. 3.prosedur untuk verifikasi lokasi bedah minor. dan peningkatan biaya untuk mengatasi infeksi yang berhubungan dengan . PENGURANGAN RISIKO INFEKSI TERKAIT PELAYANAN KESEHATAN Puskesmas Sendana mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko infeksi yang terkait pelayanan kesehatan. Tim yang lengkap menerapkan dan mencatat prosedur “sebeluminsisi/time-out” tepat sebelum dimulainya suatu prosedur/tindakan bedah minor. budaya yang tidak mendukung komunikasi terbuka antar anggota tim. tepat.

3. Pusat dari eliminasi infeksi ini maupun infeksi-infeksi lain adalah cuci tangan (hand hygiene) yang tepat. Puskesmas Sendana mengadopsi atau mengadaptasi pedoman hand hygiene terbaru yang diterbitkan dan sudah diterima secara umum (al.pelayanan kesehatan merupakan keprihatinan besar bagi pasien maupun para profesional pelayanan kesehatan. dan fasilitasnya. Evaluasi bisa termasuk riwayat jatuh. pelayanan yang disediakan.dari WHO Patient Safety) 2. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan secara berkelanjutan risiko dari infeksi yang terkait pelayanan kesehatan. PENGURANGAN RISIKO PASIEN JATUH Puskesmas Sendana mengembangkan suatu pendekatan untuk mengurangi risiko pasien dari cedera karena jatuh di ruang rawat inap Maksud dan Tujuan Sasaran VI Jumlah kasus jatuh cukup bermakna sebagai penyebab cedera bagi pasien rawat inap. VI. Puskesmas Sendana perlu mengevaluasi risikopasien jatuh dan mengambil tindakan untuk mengurangi risiko cedera bilas ampai jatuh. Elemen Penilaian Sasaran V 1. Puskesmas Sendana mempunyai proses kolaboratif untuk mengembangkan kebijakan dan/atau prosedur yang menyesuaikan atau mengadopsi petunjuk mencuci tangan yang benar dan wajib dilakukan semua staf. Pedoman hand hygiene bisa dibaca di Standart Operasional yang tersedia. infeksi pada aliran darah (bloodstream infections) dan pneumonia (sering kali dihubungkan dengan ventilasi mekanis). Infeksi biasanya dijumpai dalam semua bentuk pelayanan kesehatan termasuk infeksi saluran kemih. Puskesmas Sendana menerapkan program mencuci tangan yang efektif. Dalam konteks populasi/masyarakat yang dilayani. obat dan .

4. 2. Puskesmas Sendana menerapkan proses asesmen awal atas pasien terhadap risiko jatuh dan melakukan asesmen ulang pasien bila diindikasikan terjadi perubahan kondisi atau pengobatan. Langkah-langkah dimonitor hasilnya. petugas pelayanan kesehatan. .telaah terhadap konsumsi alkohol. dan tujuan Puskesmas Sendana. praktik bisnis yang sehat. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan untuk mengarahkan pengurangan berkelanjutan risiko pasien cedera akibat jatuh di ruang perawatan TUJUH LANGKAH MENUJU KESELAMATAN PASIEN PUSKESMAS DTP MANDE Mengacu kepada standar keselamatan pasien di Puskesmas Sendana. kaidah klinis terkini. menganalisis secara intensif insiden. dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kinerja serta keselamatan pasien. gaya jalan dan keseimbangan. Langkah-langkah diterapkan untuk mengurangi risiko jatuh bagi mereka yang pada hasil asesmen dianggap berisiko jatuh dengan mengusulkan pengadaan tempat tidur yang mengurangi resiko pasien jatuh. 3. dan lain-lain. misi. memonitor dan mengevaluasi kinerja melalui pengumpulan data. kebutuhan pasien. baik keberhasilan pengurangan cedera akibat jatuh dan dampak dari kejadian tidak diharapkan. Elemen Penilaian Sasaran VI 1. Proses perancangan tersebut harus mengacu pada visi. serta alat bantu berjalan yang digunakan oleh pasien. dan faktor-faktor lain yang berpotensi risiko bagi pasien sesuai dengan “Tujuh Langkah Keselamatan Pasien Puskesmas Sendana”. Program tersebut harus diterapkan Puskesmas Sendana. maka Puskesmas Sendana harus merancang proses baru atau memperbaiki proses yang ada.

B. Langkah penerapan: A. pasien dan keluarga. 3) Lakukan asesmen dengan menggunakan survei penilaian keselamatan pasien. MEMBANGUN KESADARAN AKAN NILAI KESELAMATAN PASIEN Menciptakan kepemimpinan dan budaya yang terbuka dan adil. Langkah penerapan: . Uraian Tujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Puskesmas Sendana adalah sebagai berikut: 1. Bagi Unit/Tim: 1) Pastikan rekan sekerja anda merasa mampu untuk berbicara mengenai kepedulian mereka dan berani melaporkan bilamana ada insiden. bagaimana langkah-langkah pengumpulan fakta harus dilakukan dan dukungan apa yang harus diberikan kepada staf. 2) Petugas Puskesmas Sendana wajib memastikan semua laporan dibuat secara terbuka dan terjadi proses pembelajaran serta pelaksanaan tindakan/solusi yang tepat. Bagi Puskesmas Sendana: Pastikan Puskesmas Sendana memiliki kebijakan yang menjabarkan apa yang harus dilakukan staf segera setelah terjadi insiden : mencatat kejadian insiden melaporkan ke penanggung jawab layanan klinik. melakukan tindakan pertolongan sesuai insiden yang terjadi. 2) Tumbuhkan budaya pelaporan dan belajar dari insiden yang terjadi di Puskesmas Sendana. 2. MEMIMPIN DAN MENDUKUNG STAF Membangun komitmen dan fokus yang kuat dan jelas tentang Keselamatan Pasien di Puskesmas Sendana. 1) Pastikan Puskesmas Sendana memiliki kebijakan yang menjabarkan peran dan akuntabilitas individual bilamana ada insiden.

Untuk Puskesmas Sendana: 1) Menyusun struktur-struktur dan proses yang ada dalam manajemen risiko klinis dan nonklinis. Untuk Puskesmas Sendana 1) Dokter Puskesmas yang bertanggung jawab atas Keselamatan Pasien.A. B. Untuk Unit/Tim: 1) Kepala puskemas Sendana sendiri yang memimpin Gerakan Keselamatan Pasien. 2) Identifikasi di tiap bagian Puskesmas Sendana. 3) Prioritaskan Keselamatan Pasien dalam agenda rapat Minilokarya Lintas Program Kepala Puskesmas Sendana atau Kepala Sub bagian Tata Usaha maupun rapat-rapat manajemen Puskesmas DTP Mande. MENGINTEGRASIKAN AKTIVITAS PENGELOLAAN RISIKO Mengembangkan sistem dan proses pengelolaan risiko. 2) Kembangkan indikator-indikator kinerja bagi sistem pengelolaan risiko yang dapat dimonitor oleh direksi/pimpinan Puskesmas Sendana. 3) Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem pelaporan insiden dan asesmen risiko untuk dapat secara proaktif meningkatkan kepedulian terhadap pasien. serta lakukan identifikas dan asesmen hal yang potensial bermasalah. 4) Masukkan Keselamatan Pasien dalam semua program latihan staf Puskesmas Sendana melalui penyegaran yang dilakukan secara bersama-sama efektivitasnya. Langkah penerapan: A. . serta pastikan hal tersebut mencakup dan terintegrasi dengan Keselamatan Pasien dan staf. orang-orang yang dapat diandalkan untuk menjadi “penggerak” dalam gerakan Keselamatan Pasien. 3. 2) Menjelaskan kepada TIM relevansi dan pentingnya serta manfaat bagi mereka dengan menjalankan gerakan Keselamatan Pasien 3) Tumbuhkan sikap ksatria yang menghargai pelaporan insiden.

Untuk Puskesmas Sendana: Lengkapi rencana implementasi sistem pelaporan insiden ke dalam maupun ke luar. Untuk Unit/Tim: 1) Kegiatan rapat di Puskesmas Sendana untuk mendiskusikan isu-isu Keselamatan Pasien guna memberikan umpan balik kepada manajemen yang terkait. MELIBATKAN DAN BERKOMUNIKASI DENGAN PASIEN Mengembangkan cara-cara komunikasi yang terbuka dengan pasien. Langkah penerapan: . yang harus dilaporkan ke Komite Nasional Keselamatan Pasien Puskesmas Sendana. 2) Pastikan ada penilaian risiko pada individu pasien dalam proses asesmen risiko Puskesmas Sendana.B. Untuk Unit/Tim: Berikan semangat kepada rekan sekerja anda untuk secara aktif melaporkan setiap insiden yang terjadi dan insiden yang telah dicegah tetapi tetap terjadi juga. Langkah penerapan: A. serta Puskesmas Sendana mengatur pelaporan kepada penanggung jawab keselamatan pasien di Puskesmas dan kepada Kepala Puskesmas. B. 4) Pastikan penilaian risiko tersebut disampaikan sebagai masukan ke proses asesmen dan pencatatan risiko Puskesmas Sendana. karena mengandung bahan pelajaran yang penting. 4. dan ambillah langkah-langkah yang tepat untuk memperkecil risiko tersebut. 3) Lakukan proses asesmen risiko secara teratur. MENGEMBANGKAN SISTEM PELAPORAN Memastikan staf dapat melaporkan kejadian/ insiden. 5. untuk menentukan akseptabilitas setiap risiko.

yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab. dan segera berikan kepada mereka informasi yang jelas dan benar secara tepat 3) Pastikan. 3) Berikan dukungan. Untuk Puskesmas Sendana: 1) Pastikan Puskesmas Sendana memiliki kebijakan yang secara jelas menjabarkan cara- cara komunikasi terbuka selama proses asuhan tentang insiden dengan para pasien dan keluarganya( melibatkan pasien dan keluarga dalam penyusunan layanan klinik).A. tim menunjukkan empatikepada pasien dan keluarganya. BELAJAR DAN BERBAGI PENGALAMAN TENTANG KESELAMATAN PASIEN Mendorong staf untuk melakukan analisis akar masalah untuk belajar bagaimana dan mengapa kejadian itu timbul. Langkah penerapan: A. 2) Kembangkan kebijakan yang menjabarkan dengan jelas kriteria pelaksanaan Analisis Akar Masalah (root cause analysis/RCA) yang mencakup insiden yang terjadi dan minimum satu kali pertahun melakukan Failure Modes and Effects Analysis (FMEA) untuk proses risiko tinggi. pelatihan dan dorongan semangat kepada staf agar selalu terbuka kepada pasien dan keluarganya. B. Untuk Unit/Tim: 1) Pastikan tim anda menghargai dan mendukung keterlibatan pasien dan keluarganya bila telah terjadi insiden 2) Prioritaskan pemberitahuan kepada pasien dan keluarga bilamana terjadi insiden. . 6. segera setelah kejadian. 2) Pastikan pasien dan keluarga mereka mendapat informasi yang benar dan jelas bilamana terjadi insiden (informasi kepada pasien dan keluarga). Untuk Puskesmas Sendana: 1) Pastikan staf yang terkait telah terlatih untuk melakukan kajian insiden secara tepat.

7. 2) Penanngung jawab ruang perawatan berkewajiban memeriksa dokumen perawatan yang di buat staf. Untuk Unit/Tim: 1) Diskusikan dalam tim anda pengalaman dari hasil analisis insiden. Untuk Unit/Tim : 1) Semua tenaga pelayanan klinis dilibatakan dalam mengembangkan berbagai cara untuk membuat asuhan pasien menjadi lebih baik dan lebih aman. Untuk Puskesmas Sendana: 1) Gunakan informasi yang benar dan jelas yang diperoleh dari sistem pelaporan. 4) Sosialisasikan solusi yang dikembangkan oleh tim penanggung jawab Keselamatan Pasien Puskesmas Sendana. 3) Lakukan asesmen risiko untuk setiap perubahan yang direncanakan. asesmen risiko. untuk menentukan solusi setempat. dan audit serta analisis. .B. MENCEGAH CEDERA MELALUI IMPLEMENTASI SISTEM KESELAMATAN PASIEN Menggunakan informasi yang ada tentang kejadian/masalah untuk melakukan perubahan pada sistem pelayanan. penyesuaian penyegaran staf dan/atau kegiatan klinis. 2) Solusi tersebut dapat mencakup penjabaran ulang sistem (struktur dan proses). 2) Identifikasi unit atau bagian lain yang mungkin terkena dampak di masa depan dan bagilah pengalaman tersebut secara lebih luas. B. kajian insiden. 5) Beri umpan balik kepada staf tentang setiap tindakan yang diambil atas insiden yang dilaporkan. Langkah penerapan: A. 3) Pastikan bahwa penanggug jawab keselamatan pasien menerima umpan balik atas setiap tindak lanjut tentang insiden yang dilaporkan. termasuk penggunaan instrumen yang menjamin keselamatan pasien.

sehingga tujuh langkah tersebut secara menyeluruh harus dilaksanakan oleh setiap orang yang bekerja di Puskesmas Sendana . Demikian pedoman Keselamatan pasien di Puskesmas Sendana ini di buat untuk menjadi pedoman dalam pelaksanaan kegiatan Pelayanan kepada Pasien. Dalam pelaksanaan. Bila langkah-langkah ini berhasil maka kembangkan langkah-langkah yang belum dilaksanakan. tujuh langkah tersebut tidak harus berurutan dan tidak harus serentak. PENUTUP Tujuh langkah keselamatan pasien Puskesmas Sendana merupakan panduan yang komprehensif untuk menuju keselamatan pasien. Pilih langkah-langkah yang paling strategis dan paling mudah dilaksanakan di Puskesmas Sendana. Bila tujuh langkah ini telah dilaksanakan dengan baik Puskesmas Sendana dapat menambah penggunaan metoda-metoda lainnya sesuai Tenaga dan sarana Prasarana yang tersedia.E. .