Sunday, June 21, 2015 at 10:08 pm

Polisi dan Jaksa Diminta Usut Kasus
Pemotongan Dana JKN di PKM Simpang
Ulim
Posted by Portal Media Online Global Aceh

Aceh Timur - Ketua DPC Perkumpulan Advokat Indonesia (Peradin)
Kabupaten Aceh Timur, Edi Safaruddin, SH, meminta aparat penegak
hukum dalam hal ini polisi atau Jaksa untuk mengusut tuntas kasus
dugaan pemotongan dana jasa Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
triwulan pertama 2015 untuk Bidan Desa (Bides)di Puskesmas Simpang
Ulim.

" Berdasarkan hasil investigasi kami dilapangan, ini merupakan kasus
yang kesekian kali.Dana-dana lain diduga juga dikorup dengan dalih
kebijakan. Artinya, potensi kerugian negara bisa jadi ratusan juta rupiah,"
kata Edi Safaruddin SH, yang juga aktivis anti korupsi, Minggu,
(21/6/15).

Itu sebabnya, sambung Ketua Persatuan Advokat Indonesia (Peradin)
Aceh Timur ini, polisi atau jaksa harus segera memanggil dan memeriksa
para pihak yang diduga terlibat, termasuk koordinator bidan dan
sejumlah oknum bidan senior lain yang diduga ikut mengintervensi kepala
puskesmas, sehingga kasusnya menjadi terang dan para tersangka bisa
segera diseret ke pengadilan.

"Pasca kasus pemotongan dana JKN ini mencuat ke media, sejumlah
bidan senior menekan dan mengancam sejumlah bidan desa dengan
tuduhan telah membeberkan masalah tersebut ke media. Ini
membuktikan, PKM Simpang Ulim selama ini memang sarat masalah.

dengan dalih untuk disisihkan kepada anak bakti. Meski keberatan lantaran dijadikan ‘sapi perah’. “Itu kita lakukan atas dasar kesepakatan bersama seluruh unsur . para Bidan PTT tak berani protes secara terang-terangan karena diancam sejumlah oknum bidan senior yang sudah PNS. kami rata-rata dapat sekitar Rp800-an ribu per bulan. Seperti diberitakan sebelumnya. Kepala Puskesmas Simpang Ulim. Beberapa oknum bidan senior mengancam akan mewajibkan kami berada di pustu selama 24 jam dan akan selalu disidak kalau menolak dana itu dipotong. dengan dalih untuk anak-anak honor dan anak bakti di Puskesmas. sehari kemudian. digelar lagi rapat dadakan dan secara sepihak diputuskan lagi dana jasa jatah bidan PTT dipangkas lagi hingga sekitar 50 persen. saat dikonfirmasi media ini menegaskan. sehingga menggelar rapat ulang dadakan. Parahnya lagi. akhirnya hanya dapat sekitar Rp400-an ribu per orang per bulan. Beberapa bidan senior yang sudah PNS dan dikenal dekat dengan kepala puskesmas. Tapi. Salah seorang bidan PTT Puskesmas Simpang Ulim yang tak ingin namanya ditulis menyebut dugaan korupsi berkedok kebijakan itu terjadi pertengahan Mei 2015. tidak ada dana jasa bidan PTT yang dipotong walau sepeserpun. walau dengan terpaksa. tapi malah masuk kantong pribadi segelintir oknum di puskesmas. kami akan dipersulit. yang dihubungi terpisah mengakui dana itu dipotong. “Kalau buka mulut. Bidan yang bertugas di salah satu desa di Kec. lebih-lebih ke wartawan. Dalam rapat pertama itu. para bidan PTT setuju dana itu masing-masing dipotong 13 persen dan PNS 7 persen. dr Dewi. dana itu diduga kuat tidak diberikan utuh ke anak bakti dan honor. Merekahepi-hepi dan bagi-bagi uang dari hasil keringat kami." imbuh Edi. untuk triwulan pertama 2015 diduga disunat. terkesan iri dengan bidan PTT yang mendapat jatah lebih banyak. Tapi. Ainul Mardiah. sebelum dana itu cair. jika setelah dipotong 13 persen. Namun. dana jasa pelayanan (kapitasi) untuk 23 bidan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di wilayah kerja Puskesmas Simpang Ulim. Simpang Ulim ini menjelaskan.” bebernya. Makanya. yang dibagi pihak puskesmas rata-rata hanya sekitar Rp 400 ribu per bidan per bulan.Beberapa bidan senior berusaha membungkam paksa para bidan PTT agar kasus itu dan kasus-kasus dugaan korupsi lainnya tidak terungkap. Aceh Timur. digelar rapat bersama di puskesmas. “Pokoknya. Dana itu sejatinya diterima sekitar Rp1 juta per bidan PTT per bulan. kawan-kawan lebih memilih bungkam.” katanya. Koordinator Bidan Puskesmas Simpang Ulim.

Jatah bidan PTT dipotong beberapa persen.” kilahnya. .(red).penerima dana.Kan kasian juga kalau anak bakti tidak dapat apa-apa. Begitu juga jatah PNS. termasuk kalangan bidan PTT sendiri.