BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dengue adalah penyakit virus bersumber dari nyamuk yang dengan

cepat menyebar di seluruh wilayah WHO dalam beberapa tahun terakhir.

Virus dengue ditularkan oleh nyamuk betina terutama dari spesies Aedes

aegypti dan pada tingkat lebih rendah oleh Aedes albopictus. Penyakit ini

tersebar luas di seluruh daerah tropis, dengan variasi lokal yang risikonya

dipengaruhi oleh curah hujan, suhu dan cepatnya urbanisasi yang tidak

direncanakan. Lebih dari sepertiga penduduk dunia hidup di daerah

berisiko terinfeksi virus dengue. Sebanyak 400 juta orang terinfeksi setiap

tahun. Dengue disebabkan oleh salah satu dari empat virus yang

ditularkan oleh nyamuk. Belum ada vaksin yang dapat mencegah infeksi

virus dengue dan upaya perlindungan yang paling efektif adalah

menghindari gigitan nyamuk. Ketika terinfeksi, diagnosa dini dan

dukungan pengobatan yang cepat secara substansial dapat menurunkan

risiko komplikasi medis dan kematian (WHO, 2016)

Di indonesia, pada tahun 2014 jumlah penderita DBD yang dilaporkan

sebanyak 100.347 kasus dengan jumlah kematian sebanyak 907 orang

(IR/Angka kesakitan= 39,8 per 100.000 penduduk dan CFR/angka

kematian= 0,9%). Dibandingkan tahun 2013 dengan kasus sebanyak

1
2

112.511 serta IR 45,85 terjadi penurunan kasus pada tahun 2014

(Kemenkes RI, 2015)

Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2014 berada pada urutan ke 18

angka kesakitan DBD yaitu 34,59 per 100.000 penduduk sementara

provinsi dengan angka kesakitan DBD tertinggi tahun 2014 yaitu Bali

sebesar 204,22, Kalimantan Timur sebesar 135,46, dan Kalimantan Utara

sebesar 128,51 per 100.000 penduduk. CFR DBD Provinsi Sulawesi

Selatan masuk dalam kategori rendah kematian akibat DBD yaitu 0,83.

Terdapat 5 provinsi dengan nilai CFR > 2% dengan kategori tinggi

kematian akibat DBD, Provinsi tersebut yaitu Maluku (16,6), Gorontalo

(6,28), Kep. Bangka Belitung (3,43), Bengkulu (2,8) dan Kalimantan

Selatan (2,05) (Kemenkes RI, 2015)

Pada tahun 2014 ABJ di Indonesia sebesar 24,06%, menurun secara

signifikan dibandingkan dengan rata-rata capaian selama 4 tahun

sebelumnya. Namun validitas data ABJ di atas belum dapat dijadikan

ukuran pasti untuk menggambarkan kepadatan jentik secara nasional. Hal

tersebut dikarenakan pelaporan data ABJ belum mencakup seluruh

wilayah kabupaten/kota di Indonesia. Sebagian besar puskesmas tidak

melaksanakan kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) secara rutin,

disamping itu kegiatan kader Juru Pemantau Jentik (JUMANTIK) tidak

berjalan di sebagian besar wilayah dikarenakan keterbatasan alokasi

anggaran di daerah untuk kedua kegiatan tersebut (Kemenkes RI, 2015).
3

Berdasarkan hasil laporan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi

Selatan melalui Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan

Lingkungan (P2PL) merilis jumlah penderita demam berdarah di wilayah

provinsi Sulsel. Pada januari 2016 tercatat, sebanyak 528 kasus demam

berdarah yang terjadi di Sulawesi Selatan. Adapun 5 Kabupaten kota

dengan penderita terbanyak yaitu Bulukumba sebanyak 28 orang, Palopo

sebanyak 67 orang, Gowa sebanyak 72 orang, Pangkep sebanyak 77

orang dan Luwu Utara sebanyak 80 orang (KabarMakassar, 2016).

Beberapa faktor yang berisiko terjadinya penularan dan semakin

berkembangnya penyakit DBD adalah pertumbuhan jumlah penduduk

yang tidak memiliki pola tertentu, faktor urbanisasi yang tidak berencana

dan terkontrol dengan baik, semakin majunya sistem transportasi

sehingga mobilisasi penduduk sangat mudah, sistem pengelolaan limbah

dan penyediaan air bersih yang tidak memadai, berkembangnya

penyebaran dan kepadatan nyamuk, kurangnya sistem pengendalian

nyamuk yang efektif, serta melemahnya struktur kesehatan masyarakat.

Selain faktor-faktor lingkungan tersebut diatas status imunologi

seseorang, strain virus/serotipe virus yang menginfeksi, usia dan riwayat

genetik juga berpengaruh terhadap penularan penyakit (Kemenkes RI,

2011).

Menurut Hasanuddin Ishak (2009), jenis perindukan baik berupa

penampungan air, wadah produktif dan kondisi lingkungan rumah secara

signifikan mempunyai hubungan dengan densitas larva Aedes aegypti.
4

Sedangkan mobilitas penduduk merupakan faktor yang paling signifikan

berhubungan dengan tingkat endemisitas.

Penelitian yang dilakukan oleh Novia Wina Putri (2015) menunjukkan

keberadaan TPA berbasis maya index, kebiasaan tidak PSN, kebiasaan

menggantung pakaian, dan kebiasaan tidak menggunakan obat anti

nyamuk merupakan faktor risiko kejadian DBD di Kecamatan Lubuk

Basung Kabupaten Agam.

Untuk menurunkan faktor resiko penularan penyakit DBD oleh vektor,

dapat dilakukan upaya pengendalian vektor yang berupa meminimalkan

habitat perkembangbiakan vektor, menurunkan kepadatan dan umur

vektor, mengurangi kontak antara vektor dengan manusia serta memutus

rantai penularan penyakit.

Dalam upaya pengendalian dan pemberantasan vektor DBD terdapat

beberapa metode yaitu 1). pengendalian fisik dan mekanis : 3M,

penanaman bakau, pengeringan/pengaliran drainase, pemasangan

kelambu, memakai baju lengan panjang, cattle barrier dan pemasangan

kawat kasa. 2). Pengendalian agen biotik : predator pemakan jentik,

bakteri, virus, fungi dan manipulsi gen. 3). Pengendalian kimia : surface

spray, kelambu berinsektisida, larvasida, space spray dan insektisida

rumah tangga.

Menurut Yuli Kusumawati (2008) program pemberantasan vektor DBD

ditekankan pada pembersihan jentik nyamuk, hal ini membutuhkan

keterlibatan seluruh lapisan masyarakat agar pemberantasan nyamuk
5

dapat bersifat lebih panjang dan berkesinambungan. Model penyadaran

pada masyarakat dapat lebih efektif jika dilakukan oleh kader kesehatan

atau tokoh masyarakat misalnya istri Ketua RT, ketua karang taruna, istri

kyai dan sebagainya karena tokoh panutan ini terlibat langsung dalam

kegiatan kemasyarakatan dan lebih dekat dengan masyarakat.

Jumantik berperan dalam menggerakkan peran serta masyarakat

dalam usaha pemberantasan penyakit DBD, terutama dalam

pemberantasan jentik nyamuk penularnya sehingga penularan penyakit

demam berdarah dengue di tingkat desa, dapat dicegah atau dibatasi.

Penggerakan Juru Pemantau Jentik (jumantik) dapat menurunkan jumlah

rumah positif jentik di RW I Kelurahan Danyang. Hal senada dengan

penelitian yang dilakukan Yulian Taviv, dkk (2010) menunjukkan bahwa

pemanfaatan ikan cupang plus pemantau jentik efektif meningkatkan ABJ

dan menurunkan House Index (HI), Container Index (CI), dan Breteau

Index (BI).

Pembentukan jumantik dalam rangka pengendalian DBD telah terbukti

berhasil menurunkan jumlah kasusdi beberapa daerah seperti Kota

Mojokerto dengan gerakan Jumat Bersih + PSN 60 menit dan Provinsi DKI

Jakarta yang terkenal dengan gerakan Jumat Bersih +PSN 30 menit.

Angka kesakitan (IR) DBD di Kota Mojokerto pada tahun 2006 sebesar

227/100.000 penduduk dan secara bertahap terus menurun sejak adanya

Kader Jumantik dan gerakan Jumat Bersih +PSN 60 Menit. Jika pada

tahun 2010 IR DBD sebesar 27/100.000 penduduk maka pada tahun 2011
6

menurun kembali hingga mencapai 6,7/100.000 penduduk dengan angka

bebas jentik (ABJ) 97,25% (Kemenkes RI, 2012).

Upaya pencegahan terhadap penularan DBD dilakukan dengan

pemutusan rantai penularan berupa pencegahan terhadap gigitan nyamuk

Ae. aegypti. Kegiatan yang optimal adalah melakukan pemberantasan

sarang nyamuk (PSN) dengan cara 3M plus selain itu juga dapat

dilakukan dengan larvasida dan pengasapan (fogging).

Risqi Mubarokah (2009) menjelaskan ada hubungan pelaksanaan

PSN DBD dengan keberadaan jentik Aedes aegypti di RW IV Desa

Ketitang Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali Tahun 2009 dimana

55,88% responden yang melakukan PSN secara buruk ditemukan jentik.

Pengasapan (fogging) sebagai upaya dalam pengendalian nyamuk

dewasa yang berpotensi menimbulkan penyakit DBD akibat gigitannya.

Fogging selama ini dilakukan apabila terjadi kasus demam berdarah di

suatu lokasi. Metode ini menggunakan insektisida dalam penerapannya.

Penelitian yang dilakukan oleh Hasyimi dkk (2006) menunjukkan

bahwa penyemprotan dengan insektisida malathion dapat menurunkan

angka jentik CI sebesar 7,3%, HI sebesar 5,8%, BI sebesar 11,2% dan

fendona menurunkan CI sebesar 4,7%, HI sebesar 6% dan BI sebesar 6%

sementara penggunaan insektisida Cynoff dan Icon tidak menurunkan

angka jentik.

Kota Palopo pada akhir 2014, tercatat jumlah penduduk sebanyak

164.903 jiwa secara terinci menurut jenis kelamin masing-masing 80.410
7

jiwa laki-laki dan 84.493 jiwa perempuan. Luas wilayah administrasi Kota

Palopo sekitar 247, 52 kilometer persegi terbagi menjadi 9 kecamatan dan

48 kelurahan. Kondisi topografi Kota Palopo sekitar 62,00 persen dari luas

Kota Palopo merupakan daerah dataran rendah dengan ketinggian 0–500

m dari permukaan laut, 24,00 persen terletak pada ketinggian 501–1000

m yang merupakan daerah yang sangat rawan berkembang biaknya

nyamuk Aedes sp. dan hanya sekitar 14,00 persen yang terletak diatas

ketinggian lebih dari 1000 m.

Berdasarkan laporan Bidang Pemberantasan Penyakit dan

Penyehatan Lingkungan (P2PL) dinas kesehatan Kota Palopo pada tahun

2013, jumlah kasus DBD di Kota Palopo sebesar 224, jumlah kasusnya

menurun pada tahun 2014 menjadi 158 dan pada tahun 2015 terjadi

peningkatan jumlah kasus menjadi 280. Tahun 2015, terdapat 25

kelurahan yang endemis, 20 kelurahan sporadis dan 3 kelurahan non

endemis. Adapun kelurahan dengan jumlah kasus terbanyak yaitu

Kelurahan Pattene yang berada di Kecamatan Wara Utara.

B. Rumusan Masalah

Kelurahan Pattene kecamatan Wara Utara Kota Palopo memiliki luas

wilayah sebesar 1,12 km2 yang dihuni oleh 3.452 jiwa. Kelurahan ini

dalam tiga tahun berturut-turut terdapat kejadian DBD. Pada tahun 2015

menjadi kelurahan dengan jumlah penderita DBD tertinggi di Kota Palopo
8

yaitu 30 orang, dan pada bulan Januari 2016 tercatat 16 kasus demam

berdarah.

Hasil pemeriksaan jentik yang dilakukan oleh Puskesmas Wara Utara

di Kelurahan Pattene pada bulan juni 2015 bahwa angka bebas jentik

sebesar 83 % dimana ABJ Kelurahan Pattene < 95% yang merupakan

target nasional. Dalam menentukan jumlah sampel rumah tangga untuk

pemeriksaan jentik di kelurahan Pattene, Petugas Puskesmas Wara Utara

menetapkan 25 rumah sebagai sampel yang dianggap tidak representatif

untuk populasi rumah tangga di Kelurahan Pattene yaitu 769.

Luasnya wilayah kerja Puskesmas Wara Utara yang mencakup 7

Kelurahan dan minimnya tenaga Petugas Puskesmas yang membidangi

penyehatan lingkungan termasuk P2DBD. Hal ini diperparah dengan tidak

aktifnya peran Kader Jumantik dalam pemeriksaan jentik berkala, menjadi

hambatan penentuan upaya pemberantasan vektor DBD. Selain itu,

kurangnya peran serta masyakarat dalam pemberantasan vektor penyakit

DBD berupa PSN dan Fogging, turut berkontribusi dalam meningkatnya

jumlah kasus DBD di Kelurahan Pattene.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diajukan rumusan

masalah “Bagaimana efektifitas upaya pencegahan dan pengendalian

DBD terhadap Densitas Larva Aedes pada Wilayah Endemis Demam

Berdarah Dengue di Kelurahan Pattene Kecamatan Wara Utara Kota

Palopo”.
9

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui efektifitas Fogging, penggerakan PSN 3M dan

penggerakan Jumantik terhadap densitas larva Aedes pada wilayah

endemis Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Pattene Kecamatan

Wara Utara Kota Palopo.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui kepadatan dan distribusi populasi larva Aedes

sebelum dan sesudah Fogging, Penggerakan PSN 3M dan

Penggerakan Jumantik di Kelurahan Pattene Kecamatan wara

Utara Kota Palopo.

b. Untuk mengetahui efektifitas Fogging terhadap densitas larva

Aedes di Kelurahan Pattene Kecamatan wara Utara Kota Palopo.

c. Untuk mengetahui efektifitas penggerakan PSN 3M terhadap

densitas larva Aedes di Kelurahan Pattene Kecamatan wara Utara

Kota Palopo.

d. Untuk mengetahui efektifitas penggerakan Jumantik terhadap

densitas larva Aedes di Kelurahan Pattene Kecamatan wara Utara

Kota Palopo.

e. Untuk mengetahui efektifitas Fogging, penggerakan PSN 3M dan

penggerakan Jumantik terhadap densitas larva Aedes di

Kelurahan Pattene Kecamatan wara Utara Kota Palopo.
10

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Ilmiah

Merupakan pengalaman paling berharga bagi peneliti sendiri

dalam memperluas wawasan serta pengetahuan yang berhubungan

pengendalian penyakit demam berdarag denguemelalui penelitian

lapangan.

2. Manfaat Praktis

Diharapkan dapat menjadi masukan dalam pengambilan kebijakan

pada program pengendalian vektor dengan penekanan pada

ketersediaan data dan informasi serta kebutuhan di lapangan.

3. Manfaat Institusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu

pengetahuan dan merupakan salah satu bahan bacaan bagi peneliti

selanjutnya.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Pattene Kecamatan Wara

Utara Kota Palopo. Menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan

quasi experiment dengan rancangan Non Randomized One Group

Pretest-Posttest with control untuk mengetahui perbedaan densitas larva

sebelum dan sesudah Fogging, Penggerakan PSN 3M dan Penggerakan

Jumantik.