T.T. Eko Heru Santoso. Abdul Muis Mapalotteng (UNM) 6. Prof. Akmad Jaedun (UNY) 7.Eng.S. 3. ST. Dr.Husaini Usman.T 4. Drs.Nurmi Frida DBP.M. Achmad Dardiri (UM) 4. Drs. Dr. M. Dr. Dr. Prof. Ari Wibowo.Md Redaksi: Jurusan Teknik Sipil (A4) FT UNESA Ketintang .Dadang Supryatno. Hendra Wahyu Cahyaka. Dr.T. S. Pr of.M.Dr.Titiek Winanti. M. S. M.T 10. M. Prof.M. Dr.Ir. PhD. Dr..M.S.Dr.M.Nan iek Esti Darsani.Suparji. MT. PhD (Universita s Brawijaya) 11.M. MSi (ITS) 12.S.M .Nurhasanyah (UP Padang) 9. MT Mitra bestari: 1. Dr. T 9. Ir.Dr. M.Suparno. Dr.T 3.Erina. Drs.Ir. S. Krisna Dwi Handayani. Gde Agus Yudha Prawira A. Arie Wardhono.T. ST.Kusnan.Bambang Budi (UM ) 8.Achmad Wicaksono.M.Bambang Wijanarko.M. Dr.T. ST. Dr. 6.T.M.MT.E.S 2. TIM EJOURNAL Ketua Penyunting: Prof. D r.M.Bambang Sabariman. MPd 4.Dr.org Email: REKATS . P rof.Surabaya Website: tekniksipilunesa.Pd 5. M.Doedoeng.S.D 5. A. Mulyadi(UNM ) 5.E.Ir. Ph.E.S. MT.. Dr.. Agus Wiyono.Pd.D (ITS) 3.Ir..T (UNJ ) 2.Indra Surya. MT. M.Ir..Kusnan.Sc. (Universitas Brawijaya) Penyunting Pelaksana: 1. Prof. MT (ITS) 10. M.Karyoto.M. 8.Pd 7.Dr. 2..T 6.Ph.T Penyunting: 1.

............ 17 .... ii  Vol........................26 .................................. Mochamad Firmansyah S.................... i DAFTAR ISI ............. Sutikno............................................................ DAFTAR ISI Halaman TIM EJOURNAL .............................................................. ............... 03 Nomor 03/rekat/17 (2017) ANALISIS NILAI CALIFORNIA BEARING RATIO (CBR) TEST PADA TANAH L EMPUNG EKSPANSIF DENGAN STABILISASI KAPUR GAMPING GRESIK Novi Dwi Pratama...... Nur Andajani...................................... 01 – 08 ANALISIS HASIL PERHITUNGAN KONSTRUKSI GEDUNG GRAHA ATMAJA SURABAYA MENGGUNAKAN BEBAN GEMPA SNI 1726-2012 DAN PERHITUNGAN BETON SNI 2847-2013 Ferry Sandrian................................................................. ..........................................................................09 – 16 MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG KANTOR BNL PATERN SURABAYA MENGGUNAKAN METODE BALOK PRATEKAN DENGAN BERDASARKAN SNI 2847:2013 Tono Siswanto........................................................................................................................... .......

tendon unit 5-31. Structural analysis is done with SAP2000 program with various combinations of loading that are modeled by 3D structure (space frame) in order to get reaction and force in each structural element.745.745. Strand 30Ø12.100 pada lapangan. Fakultas Teknik. 17 . Tulangan yang digunakan balok meliputi tulangan lentur tarik (As) 4D19. tekan (As’) 3D19. and shear Ø10 .26 MODIFIKASI PERENCANAAN GEDUNG KANTOR BNL PATERN SURABAYA MENGGUNAKAN METODE BALOK PRATEKAN DENGAN BERDASARKAN SNI 2847:2013 Tono Siswanto Jurusan Teknik Sipil. press (As') 3D19. Kata kunci : beton.129 N with loss of prestress force of 27. Seiring dengan perkembangan tersebut.129 N dengan kehilangan gaya prategang sebesar 27. And shear the Ø10 . The reinforced beam includes bending (As) 4D19 tensile bending.7 m. However.7%. angkur tipe ES 5-31 yang semuanya produk dari VSL berdasarkan ASTM A 416-06 Grade 270. dan geser Ø10 . Keywords: concrete. Sedangkan untuk tulangan pengekang pada zona pengangkuran Ø12 – 25. Prestressed beam dimensions used 35/50 cm (typical of all floors) with a span of 11.7%. Gedung kantor BNL Pattern.7mm. BNL Pattern office building.7mm. prategang Abstract The use of prestressed concrete for high-rise buildings is one effective and efficient solution with increasingly narrow and expensive urban land prices. Dimensi balok pratekan yang digunakan 35/50 cm (tipikal semua lantai) dengan bentang 11. perumahan. Namun dilakukan perencanaan ulang dengan modifikasi penggunaan balok pratekan pada semua lantai dengan tujuan menghilangkan kolom tengah untuk digunakan ruang multifungsi dan ruang fitness. Modifying the existing floor plates of BNL Pattern office building. Memodifikasi pelat lantai existing gedung kantor BNL Pattern. prestress PENDAHULUAN diperlukan inovasi-inovasi dari enginner untuk dapat Gedung bertingkat tinggi diperlukan karena semakin menemukan solusi yang efektif dan efisien untuk sempit dan mahalnya harga lahan diperkotaan.100 on the field. Surabaya in the initial planning will be built 6 floors with conventional concrete structure.com Abstrak Penggunaan beton pratekan untuk bangunan gedung bertingkat tinggi merupakan salah satu solusi yang efektif dan efisien dengan semakin sempit dan mahalnya harga lahan diperkotaan. Rekayasa Teknik Sipil Vol. dan geser Ø10 . ES type 5-31 anchors are all products of VSL based on ASTM A 416-06 Grade 270. Universitas Negeri Surabaya mrbondjr228@gmail.25 dump zone. As for the reinforcement bar in the Ø12 . balok. Analisis struktur dilakukan dengan program SAP2000 dengan berbagai kombinasi pembebanan yang dimodelkan struktur 3D (space frame) guna mendapatkan reaksi dan gaya dalam setiap elemen struktur. Surabaya dengan pelat lantai prategang lebih dianjurkan. 5-31 unit tendon.7 m. press (As') 3D19 . beam. Surabaya dalam perencanaan awal akan dibangun 6 lantai dengan struktur beton konvensional. tekan (As’) 3D19. Strand 30Ø12. Prestressing force required 3. Gaya prategang yang dibutuhkan 3. Salah satunya yang membuat banyak owner lebih memilih penggunaan beton pratekan untuk bangunan gedung pembangunan gedung bertingkat tinggi dari pada bertingkat tinggi. 17 . Surabaya with prestressed floor plates is recommended. it was re-planned with modification of the use of prestressed beams on all floors with the aim of eliminating the middle column for multifunction room and fitness room. Hal itulah perencanaan gedung bertingkat tinggi. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017).50 pada tumpuan serta tulangan lentur tarik (As) 5D19.50 on the support and tensile bending (As) 5D19.

4D b) Beban mati pada pelat atap b) 1. plafon. 18 .9 kN konvensional.9D+1.6(L atau S atau R)+(Lr atau 0. Finishing lantai (keramik) = 24 kg/m2 Perencanaan bangunan tahan gempa berdasarkan = 18 kg/m2 SNI-1726-2012. 17 . diperlukan dengan pertimbangan bentang balok yang a) Beban hidup gedung perkantoran panjang dan kebutuhan ruang yang luas. sehingga masih dapat dipindah dari gedung itu. yang bekerja pada gedung atau bagian gedung yang tangga. Hal itu lantai atau atap tersebut. atap.40 kN/m2 atau 8. 40.5(Lr atau S atau R) c) 1. Beban Mati dn = tambahan kedalaman air pada atap yang ada diatas lubang sistem drainase (mm) Beban mati yaitu semua beban yang berasal dari material konstruksi pembentuk dari bangunan 3.0W+0. R = beban air hujan pada atap (kN/m2) ds = kedalaman air pada atap yang masuk Pembebanan sistem drainase (mm) 1. Sesuai SNI-1727-2013. gempa itu.2D+1.2D+1.9D+1. yakni : bagaimana perencanaan Air hujan (R) struktur kolom.5(Lr atau S atau R) Plafond dan rangka = 18 kg/m2 e) 1. balok pratekan dan pelat lantai untuk R =5.2D+1. Beban Gempa tersebut.9 kN struktur utama menggunakan beton bertulang Kantor = 2. mesin-mesin serta peralatan yang tidak terpisakan oleh gedung dan dapat di ganti selama multifungsi dan ruang fitness dikantor tersebut.79 Surabaya itu akan direncanakan dibangun 8 lantai dengan kN/m2 atau 8. lantai. Kombinasi Pembebanan = 25 kg/m2 a) 1.6L+0.0E+L+0.2D+1.83 kN/m2 menggunakan balok pratekan. Dalam hal pengaruh gempa pada struktur gedung ditentukan berdasarkan suatu anaisis a) Beban mati pada pelat lantai dinamik.0W Instalasi plumbing (ME) = 25 kg/m2 g) 0. sehingga diperlukan perencanaan ulang dengan modifikasi mengakibatkan perubahan dalam pembebanan penggunaan balok pratekan pada semua lantai. Namun dengan diperlukannya ruang berpindah.5W) Waterprofing Membran = 15 kg/m2 d) 1. balok pratekan dan pelat lantai untuk gedung bertingkat.0E c) Beban mati pada balok dimana: Dinding pasangan bata ringan = 90 kg/m2 D = beban mati Beban dinding partisi (cladding) = 20 kg/m2 L = beban hidup Lr = beban hidup atap Beban reaksi pada balok akibat tangga = 1365 S = beban salju kg/m R = beban hujan Beban reaksi pada balok akibat gerakan lift = W = beban angin 700 kg/m E = beban gempa 2. Lobi dan koridor lantai pertama = 4. kecuali balok melintang yang akan Koridor diatas lantai pertama = 3. finishing. yang termasuk Beban gempa dalah semua beban static ekuivalen beban mati adalah seperti dinding. 4.9 kN Berdasarkan latar belakang di atas dapat dirumuskan. maka yang diartikan dengan beban gempa tau acian = 21 kg/m2 disini adalah gaya-gaya didalam struktur tersebut terjadi oleh gerakan tanah akibat gempa itu. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017). Beban Hidup Beban hidup yaitu semua beban yang terjadi akibat penghunian atau penggunaan suatu gedung. atau 8.2(ds+dn) gedung bertingkat serta bagaimana gambar struktur dimana: kolom. b) Beban hidup atap dimana permasalahan yang ditimbulkan ini akan dibahas dalam penelitian ini.2S f) 0. Sehingga gedung yang terletak di Jalan Ngagel Jaya No.26 Gedung kantor BNL Patern dalam perencanaan awal dan kedalamnya termasuk beban-beban pada lantai akan dibangun 6 lantai dengan struktur beton yang berasal dari barang-barang yang dapat konvensional. Rekayasa Teknik Sipil Vol. dan semua material arsitektural meneruskan pengaruh dari gerakan tanah akibat maupun struktural serupa yang bersifat permanen.

tegangan serat-serat Metode Pratekan terluar memiliki nilai sebagai berikut : Ada 2 jenis metode pemberian gaya prategang Tegangan tekan pada beton. Persamaan pratekan. Analisis pelat dua arah dilakukan Gambar.  Segera setelah peralihan gaya prategang (sebelum kehilangan). tendon ditarik setelah beton dicor. beton prategang merupakan beton bertulang h adalah tinggi balok yang telah diberikan tegangan tekan dalam untuk Tegangan ijin pada beton tidak boleh melebihi mengurangi tegangan tarik potensial dalam akibat nilai-nilai berikut: beban kerja (SNI 03-2847-2013).0. yaitu : Tegangan tarik a) Metode Pratarik (Pretension) 19 . dilakukan dalam 1 arah (arah sisi pendek) b. keduanya dibedakan dari nilai rasio tendon dipotong dan gaya prategang akan perbandingan sisi panjang (b) dan sisi pendek (a) tersalur ke beton melalui lekatan. Penarikan dilakukan setelah beton mencapai kekuatan yang diinginkan sesuai dengan perhitungan.Y Lin. Tabel minimum dari pelat tanpa balok interior Pada metode pasca tarik. apabila b/a > 2. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017). Sistem pelat satu arah (one way slab). 1996) digunakan. lain. Gambar Metode Pascatarik (Post Tension) Gaya Pratekan Awal Pengertian Balok Beton Pratekan Gaya prategang dipengaruhi momen total Di Indonesia istilah prestressed concrete dikenal yang terjadi. Beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan internal dengan besar dan distribusi sedemikian rupa sehingga dapat dimana : mengimbangi sampai batas tertentu tegangan yang Mt adalah momen akibat beban mati tambahan. Gaya prategang yang disalurkan harus dengan dua istilah yaitu beton prategang dan beton memenuhi kontrol batas pada saat kritis. Dalam definisi berat sendiri dan beban hidup. Setelah beton cukup keras menjadi dua. pratarik dapat dilihat pada Gambar. (T. Sistem pelat dua arah (two way slab).0. b) Metode Pasca Tarik (Post Tension) Tabel. Sebelum pengecoran dilakukan terlebih dahulu dipasang selongsong untuk alur dari tendon.26 Pelat Lantai Beton Bertulang Pada metode pratarik.0 ≤ b/a ≤ 2. pemberian dari pelat. Analisis dan disain dari pelat satu arah. terjadi akibat beban eksternal (ACI). 17 . tendon ditarik Secara umum sistem pelat lantai dapat dibedakan sebelum beton dicor. a. apabila 1. Kedua istilah tersebut relatif sama artinya ini menjelaskan hubungan momen total dengan dan dalam tugas akhir ini kedua istilah tersebut gaya prategang. Metode Pratarik (Pretension) dalam 2 arah (arah x dan arah y). Setelah beton jadi. Rekayasa Teknik Sipil Vol. tendon dimasukkan ke dalam beton melalui selebung tendon yang sebelumnya sudah dipasang ketika pengecoran.

26  Pada beban kerja setelah terjadi kehilangan Kehilangan Pratekan gaya prategang. Momen yang gradual. digunakan pada balok yang terutama mengalami beban transversal terpusat. pracetak dengan bentang sedang. Kolom harus di rencanakan untuk memikul beban aksial Tendon tidak lurus dibagi 2 macam. Secara umum kehilangan tegangan pada a) Tendon lurus struktur beton prategang di ilustrasikan pada Tendon lurus banyak digunakan pada balok gambar berikut. baik akibat sistem penegangan maupun akibat pengaruh Peletakan Kabel waktu. dimensi minimumnya 300 mm.4 dan beban eksternal terbagi merata. Luasan tulangan minimum untuk beban 1% dari luas penampang dan luas tulangan maksimumnya 6%. Gambar Tendon Drapped  Tendon Harpped Tendon miring dengan diskontinuitas alinyemen di bidang. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017). Gambar Tendon Lurus b) Tendon tidak lurus Penggunaan beton tidak lurus atau lengkung lebih umum digunakan pada lemen pascatarik Analisis Kolom atau posttensioning yang dicor di tempat. Rekayasa Teknik Sipil Vol. seperti berbentuk parabolik yang bekerja disetiap level lantai harus pada kolom atas dan dibawah berdasarkan kekakuan relatif kolom.bidang dimana terdapat beban terpusat. digunakan pada balok yang mengalami Perbandingan b/h dari kolom tidak kurang dari 0. Kehilangan tegangan adalah berkurangnya gaya Tegangan tekan yang bekerja pada tendon dalam tahap-tahap Tegangan tarik pembebanan. 17 . Suatu sistem struktur beton pratekan selalu terdapat kehilangan gaya prategang. Gambar Tendon Harpped 20 . Diameter tulangan yang di gunakan pada kolom harus lebih besar dari 12 mm. Diameter minimum sengkang untuk kolom harus 8 mm. yaitu: berfaktor yang bekerja pada semua lantai dan momen  Tendon Drapped maksimum yang berasal dari beban berfaktor pada satu Mempunyai alinymen lengkung secara bentang terdekat dari lantai yang ditinjau.

26 Diagram Alir Penelitian B Mulai Perhitungan Kolom Pengumpulan Data Menentukan Beban yang Diterima Kolom Preliminary Desain Menentukan Momen Ultimate (Mu) Pembebanan Menentukan Kekakuan Kolom dan Balok Perhitungan Pelat Lantai Tidak OK Menentukan Momen Ultimate Menentukan Kelangsingan Kolom Menetukan tinggi efektif Menentukan ρperlu Tidak OK Menentukan batas rasio Desain penulangan Tulangan Longitudinal dan Geser Menentukan tulangan lentur tarik Kontrol Desain Menentukan spasi tulangan OK Kontrol Desain Penggambaran Hasil Desain A Selesai A Data Perencanaan Perhitungan Balok a. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017).7 m Pengangkuran Tinggi bangunan : 28. Rekayasa Teknik Sipil Vol. 17 . Surabaya Perhitungan Gaya Pratekan Fungsi Gedung : Perkantoran Awal Jumlah Lantai : 8 lantai Struktur Utama : Beton bertulang dan balok Tidak OK Perhitungan Peletakan pratekan untuk balok Kabel melintang b. 40.5 m (non typical) Mutu beton (f’c) : 35 MPa (non prategang) Kontrol : 40 MPa (prategang) Desain 21 B . Data teknis perencanaan ulang (modifikasi) Perhitungan Kehilangan yaitu Pratekan Panjang bangunan: 25 m Perhitungan Geser dan Lebar bangunan : 11. Data umum perencanaan ulang (modifikasi) Pratekan yaitu Pemilihan Material dan Nama Gedung : Gedung Kantor BNL Patern Spesifikasi Lokasi Gedung : Jalan Ngagel Jaya No.

607 3 0.563 = 108.8 0. Pemodelan struktur dilakukan dengan c.416 3.8 0.6 0.26 Mutu baja (fy) : 400 MPa (non prategang) Dimensi kolom yang digunakan 70X70 cm : 400 MPa (prategang) (A=4.356 3.607 2.195 kg Mutu beton f’c sebesar 35 MPa = 350 kg/cm2.499 3.156 lain) 1.563)+(1.166 1 0.2DL + 1.250 Dalam menentukan dimensi dari balok beton pratekan akan digunakan sebagai berikut:  Untuk tinggi (h) balok pratekan diambil 60- 80 % dari tinggi balok tumpuan sederhana (Ty Lin)  Untuk lebar (b) balok pratekan Sedangkan untuk menentukan dimensi dari balok anak akan digunakan sebagai berikut:  Untuk tinggi (h) balok Gambar.2 0.12) + 88 = 376 kg/m2 b.208 gedung dan non gedung) 0.277 4 0.227 ketahanan gempa untuk struktur bangunan 0. Literatur yang digunakan dalam perencanaan ini Program SAP2000 (Extended Three-Dimensinal meliputi: Analysis of Building System).8 0. 17 .744) Type strand : ASTM A 416-06 Grade 270 (VSL) Pemodelan struktur Diameter strand : 12.607 2.450 kg Berat total (Wt) = 1.4 0. Grafik respon spektrum  Untuk lebar (b) balok Perencanaan Pelat Lantai Beban mati (D) = (2400 x 0. Dimensi Kolom kg/m2 Berat hidup LL = 0. SNI 1727:2013 (Beban minimum untuk 0. SNI 2847:2013 (Persyaratan beton struktural Tabel.192 c.2 x 376) + (1.8 0.675 MPa (space frame).7 mm Tahapan pemodelan dan analisis struktur dapat Luas penampang strand: 98. Tebal Pelat Lantai Beban hidup (L) = 240 kg/m2 Tebal pelat lantai yang digunakan adalah 12 cm Wu = 1.147 1. Rekayasa Teknik Sipil Vol.6X108. Dimensi Balok 2 0. sehingga nilai luas minimal (Amin) kolom : 22 .2 untuk pelat lantai dan 10 cm untuk pelat atap.900 cm2 ≥ Amin=4. a.131 Preliminary Desain 1.6LL = (1.7 mm2 Kuat tarik strand (fpu): 1. c.2 0.4 0.6 0. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017).607 2.4 0. SNI 1726:2012 (Tata cara perencanaan 0 0.4 0.8 X 135.6 x 240) = 835.6 0.139 1.124 2.2 0.2D + 1.6 0. Nilai T dan Sa untuk grafik respon spektrum untuk bangunan gedung) T (sec) Sa (g) T (sec) Sa (g) b.2 0.312 3.860 MPa dilakukan dengan metode pemodelan struktur 3D Kuat leleh strand (fpy): 1.125 a.178 perancangan bangunan gedung dan struktur 0.6L = (1.2X135.450) = 336.

997 N (OK) (OK) 23 .100  Gaya prategang sesaat setelah penyaluran (785.5X10) = Untuk mendapatkan nilai kuat tekan beton saat 85 mm belum keras. Tegangan tekan Tegangan tarik ρmin < ρ < ρmax Nilai e rencana adalah Dipakai tulangan lentur tumpuan adalah Ø10 .26 a) Data perencanaan pelat lantai Perencanaan Balok Pratekan Mutu beton (f’c) : 35 MPa a) Data perencanaan balok pratekan Mutu baja (fy) : 400 MPa Mutu beton (f’c) : 40 MPa Tebal pelat lantai (h) : 12 cm Mutu baja (fy) : 400 MPa Tebal decking (cover) : 2 cm Asumsi diameter tul (Ø): 10 mm Tinggi balok (h) : 50 cm Momen tumpuan (Mtx) : 18.775.mm Lebar balok (b) : 35 cm Momen lapangan (Mlx) : 15.345.003 (SNI 2847-2013 pasal 10.790.280 N.5 Ø) = 120 – 20 – (0.5 Ø) = 120 – 20 – 10 – (0. 17 .Tinggi efektif pelat terluar memiliki nilai sebagai berikut : c) Batas rasio penulangan Tegangan tekan Tegangan tarik d) Penulangan lentur tarik arah X pada tumpuan  Pada beban kerja setelah terjadi kehilangan gaya prategang. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017).000 N. Rekayasa Teknik Sipil Vol.2. tegangan serat-serat Gambar.5X10) = 95 sehingga nilai fci dihitung dengan cara sebagai berikut (PBI 1971) Tegangan ijin pada beton tidak boleh melebihi nilai-nilai berikut:  Segera setelah peralihan gaya prategang (sebelum kehilangan).3) 1.046. dx = h – d’ – (0.70 m Momen lapangan (Mly) : 5.mm Jarak serat terluar tarik dengan titik berat b) Tinggi efektif pelat (d) tendon (d’) = 10 cm dy = h – d’ – Ø – (0.mm Tebal decking (cover) : 4 cm Momen tumpuan (Mty) : 7.599.4 mm2) (sebelum komposit) Syarat jarak maksimum Serat atas t 0 0 = 0.500 N.300 N.mm Panjang Bentang : 11. diambil waktu curing 14 hari.

860 = 1.745.129 N Jenis Kehilangan KD Nilai Kehilangan Fo Kehilangan Langsung (OK) Perpendekan Elastis F ES 0 (OK) Gesekan pada Tendon F PS 171. Rekapitulasi kehilangan gaya prategang .69 X 545.849 N (OK) (OK) Sehingga dari dua kondisi di atas diperoleh Nilai momen retak dapat dihitung sebagai berikut gaya prategang sebesar 3.7 mm2 Kuat tarik strand (fpu) : 1.996.3.880 Serat bawah Kehilangan Tak Langsung Rangkak pada Beton F CR 334.511 kN  Gaya prategang saat beban layan (setelah Kontrol tegangan tendon terpasang: komposit) Serat atas Tabel.94 X 1.205 ≥ 1.650.302 Sehingga MPa ϕ Mu ≥1.7 mm Luas penampang strand: 98.949 Slip pada Angkur F AC 113. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017).860 MPa Jadi Kuat leleh strand (fpy) : 1. Ap : 2.961 mm2 (OK) Minimum breaking load: 5.575 MPa : 0.745.80 X 1.mm (output SAP2000) : 0. Rekayasa Teknik Sipil Vol.501 N Tipe tendon : Tendon unit 5-31 (Tidak OK) Luas area baja.381 ≥ 93.2Mcr Luasan strand yang dibutuhkan 0.70 X 1.675 MPa Tegangan ijin baja prategang : 0.782 Susut pada beton F SH 70.737.302 MPa Nilai tegangan ijin yang digunakan adalah 1.2 X 376.894 37 Total Kehilangan 1038747 1.129 N. 17 .242 Relaksasi Baja F RE 347.705 (OK) Jumlah strand yang dibutuhkan 24 .860 = 1.675 = 1. (dengan asumsi tanda (+) adalah serat yang mengalami tekan) : Spesifikasi kabel strand VSL sebagai berikut: Type strand : ASTM A 416-06 Grade 270 Diameter strand : 12.654.26 Serat bawah Spesifikasi tendon sesuai dengan tabel VSL adalah sebagai berikut : 1.488 MPa Mu = N.448.

1 cm2) Sehingga rasio tulangan kolom terpasang adalah Kebutuhan tulangan pengekang Jarak tulangan pengekang Kontrol spasi tulangan Sehingga tulangan pengekang yang dipasang pada zona pengangkuran adalah Ø12 – 25 Sehingga kolom 700 X 700 dengan tulangan utama Perencanaan Kolom 16D19 dapat digunakan Hasil output SAP 2000 momen dan aksial kolom Momen ultimate (M1ns) : 958.495.0 8.0 25.2 mm² ) Direncanakan tulangan Ø12 (Av = 113.0 15.534.155 N a = 12.9 22.3 200.2 X F0 = 1.01 Direncanakan tulangan utama kolom menggunakan 16D19 (As = 4.572 N Direncanakan tulangan sengkang 2 kaki Ø10 mm 25 .3 12.0 Perhitungan perencanaan daerah pengangkuran global sesuai dengan SNI 03-2847-2013 pasal 20. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017).2.920 N Sehingga jarak sengkang yang digunkan adalah 100 Gaya geser lapangan (Vlap) : 267.8 29.5.0 21.601. Rekayasa Teknik Sipil Vol.5 10. Gaya geser tumpuan (Vtump) : 462. 17 .0 38.2 X = 4.04 mm (Angkur VSL Type ES 5-31) e = 0 mm (eksentrisitas pada tumpuan) Dari diagram interaksi didapatkan nilai ρperlu = 1% = h = 500 mm 0.13.682.310 N.mm diambil kurang dari 100 mm.131 N.2 Sumbu horizontal 300.8 500.mm Nilai S tidak boleh melebihi 150 mm dan tidak perlu Momen ultimate (M2ns) : 800.4 16.6 In = 320.7 400.494. F0= N Pu = 1.26 Tabel Posisi tendon Xi (cm) Yi (cm) Letak tendon dari tepi bawah (cm) Sumbu vertical 0 0.6 585.1 100.0 28.0 27. gaya tendon dikalikan dengan faktor beban sebesar 1.281 N mm Beban aksial (Pu) : 2.1 10.

(As’) 3D19 pada tumpuan  Tulangan lentur tarik (As) 5D19 dan tekan (As’) 3D19 pada lapangan  Tulangan geser pada tumpuan Ø10 .SNI 1726:2012 Tentang Tata cara bentang 11.Desain Struktur pratekan adalah 280. merekomendasikan beberapa saran yang bisa Surabaya ditintak lanjuti untuk dijadikan judul skripsi a.26 Syarat Av > Avmin (memenuhi) c.SNI 2847:2013 Tentang Persyaratan Beton Struktural Untuk Bangunan b.2013. T.25 26 . Berikut ini saran yang  Tebal pelat lantai 12 cm dan tebal pelat atap dapat dipertimbangkan: 10 cm a.Jakarta: Interaksara.100 lantai prategang  Tulangan lentur lapangan arah X adalah Ø10 b.  Gaya prategang yang dibutuhkan balok adalah 3.100  Tulangan pengekang pada zona pengangkuran Ø12 .SNI 1723:2013 Tentang Beban terlampir) minimum untuk perancangan bangunan  Tendon yang digunakan unit 5-31. produk terlampir) Budiadi.Jakarta:Badan Standardisasi Nasional.Jakarta:Badan Standardisasi Nasional. dengan diameter 12.Yogyakarta: Andi Offset.7 mm.  Dimensi balok pratekan yang digunakan 35/50 cm (tipikal semua lantai) dengan Anonim.50  Tulangan geser pada lapangan Ø10 .9 mm Beton Prategang (Edisi yang disempurnakan). 17 .2012.2014. Memodifikasi pelat lantai existing gedung  Tulangan lentur tumpuan arah X adalah Ø10 kantor BNL Patern. balok pratekan Berdasarkan kesimpulan diatas.2008. penulis dan pelat lantai untuk gedung kantor BNL Patern. 03 Nomor 03/rekat/17 (2017).Y dan Burns. tipe ASTM A 416- 06 Grade 270 produk dari VSL (detail produk Anonim.129 N dengan kehilangan gaya Tim Penyusun.7 m perencanaan ketahanan gempa untuk struktur  Jumlah strand yang dibutuhkan 30 buah bangunan gedung dan non gedung.200  Tulangan lentur lapangan arah Y adalah Ø10 DAFTAR PUSTAKA .Jakarta:Badan A 416-06 Grade 270 produk dari VSL (detail Standardisasi Nasional. Pelat lantai maupun penelitian lain.2000.Desain Praktis Beton  Angkur yang digunakan tipe ES 5-31 produk Prategang.100 dengan bentang yang lebih panjang  Tulangan lentur tumpuan arah Y adalah Ø10 .745. Surabaya dengan pelat .7% Universitas Negeri Surabaya.2013. Rekayasa Teknik Sipil Vol. dari VSL (detail produk terlampir)  Nilai eksentrisitas (e) dari balok beton Lin.200 Anonim. tipe ASTM gedung dan struktur lain.Pedoman Penulisan Skripsi prategang sebesar 27. Balok pratekan Gedung.Surabaya: Unesa  Tulangan lentur tarik (As) 4D19 dan tekan Press. Kolom Sehingga tulangan sengkang yang dipasang adalah  Dimensi kolom digunakan 70X70 cm Ø10-100  Tulangan lentur tarik (As) 16D19  Tulangan geser Ø10-100 PENUTUP Simpulan Saran Hasil perencanaan struktur kolom. Andri. Penggunaan balok prategang untuk gedung . Ned H.