DAFTAR PERATURAN RUMAH SAKIT DI INDONESIA, 2011

3.1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan

3.2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit

3.3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran

3.4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 Tentang Pelayanan
Darah

3.5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2009 Tentang Jenis
Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada
Departemen Kesehatan

3.6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1109/MENKES/
PER/IX/2007 Tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer-Alternatif Di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan

3.7. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.02/MENKES/
068/I/2010 Tentang Kewajiban Menggunakan Obat Generik Di Fasilitas Pelayanan
Kesehatan Pemerintah

3.8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.03.01/Menkes/
146/I/2010 Tentang Harga Obat Generik Menteri Kesehatan Republik Indonesia,

3.9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK03.01/MENKES/
159/I/2010 Tentang Pedoman Pembinaan Dan Pengawasan Penggunaan Obat
Generik Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah

3.10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 161/MENKES/
PER/I/2010 Tentang Registrasi Tenaga Kesehatan

3.11. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 299/MENKES/PER/
II/2010 Tentang Penyelenggaraan Program Internsip Dan Penempatan Dokter
Pasca Internsip

3.12. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 317/MENKES/PER/
III/2010 Tentang Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Warga Negara Asing Di
Indonesia

3.13. Peraturan Menteri Kesehatan Repubuk Indonesia Nomor: 653/MENKES/PER/
VIII/2009 Tentang Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia.

3.14. Peraturan Menteri Kesehatan Ri Nomor 741/MENKES/PER/VII/2008 Tentang
Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Di Kabupaten/Kota

3.15. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 TAHUN 2002 Tentang Pedoman
Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Sakit Daerah

3.16. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1173/MENKES/
PER/X/2004 Tentang Rumah Sakit Gigi Dan Mulut

3.17. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1197/MENKES/
SK/X/2004 Tentang Standar Pelayanan Farmasi Di Rumah Sakit

3.18. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 269/MENKES/
PER/III/2008 Tentang Rekam Medis

3.19. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 780/MENKES/PER/
VIII/2008 Tentang Penyelenggaraan Pelayanan Radiologi

3.20. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 512/MENKES/
PER/IV/2007 Tentang Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran

3.21. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1419/MENKES/
PER/X/2005 Tentang Penyelenggaraan Praktik Dokter Dan Dokter Gigi

3.22 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 101/PMK.04/2007 Tentang Pembebasan Bea
Masuk Atas Impor Peralatan Dan Bahan Yang Digunakan Untuk Mencegah
Pencemaran Lingkungan

3.23. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1202/Menkes/SK/
VIII/2003 Tentang Indikator Indonesia Sehat 2010 Dan Pedoman Penetapan
Indikator Provinsi Sehat Dan Kabupaten/Kota Sehat

3.24. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 147/MENKES/
PER/I/2010 Tentang Perizinan Rumah Sakit
3.25. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1636/MENKES/
PER/XI/2010 Tentang Sunat Perempuan

3.26. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/MENKES/
PER/III/2010 Tentang Klasifikasi Rumah Sakit

3.27. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1787/MENKES/
PER/XII/2010 Tentang Iklan Dan Publikasi Pelayanan Kesehatan

3.28. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 210/MENKES/
PER/I/2011 Tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Kesehatan

3.29. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 330/MENKES/
PER/II/2011 Tentang Pedoman Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian Dan
Hiperaktivitas (GPPH) Pada Anak Serta Penanganannya

3.30 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomo

Kumpulan peraturan tentang rumah sakit sangatlah banyak, mulai dari undang-undang
hingga standar dan pedoman teknis. Semoga kumpulan peraturan tentang rumah
sakityang kami himpun bermanfaat...

1. Undang-undang no. 44 tahun 2009 ttg Rumah Sakit
2. Permenkes no. 147 tahun 2010 ttg Perizinan Rumah Sakit
3. Permenkes no. 340 tahun 2010 ttg Klasifikasi Rumah Sakit
4. Permenkes no. 001 tahun 2012 ttg Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan
Perorangan

5. Permenkes no. 012 tahun 2012 ttg Akreditasi Rumah Sakit
6. Permenkes no. 49 tahun 2013 ttg Komite Keperawatan RS
7. Permenkes no. 82 tahun 2013 ttg Sistem Informasi Manajemen RS
8. Permenkes no. 269 tahun 2008 ttg Rekam Medis
9. Permenkes no. 290 tahun 2008 ttg Persetujuan TIndakan Kedokteran
10. Permenkes no. 659 tahun 2009 ttg Rumah Sakit Kelas Dunia
11. Permenkes no. 755 tahun 2011 ttg Komite Medik
12. Permenkes no. 1248 tahun 2009 ttg Penyelenggaraan Pelayanan Siklotron di RS
13. Permenkes no. 1438 tahun 2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran
14. Permenkes no. 1787 tahun 2010 tentang Iklan dan Publikasi Pelayanan
Kesehatan
15. Permenkes no. 1691 tahun 2011 ttg Keselamatan Pasien Rumah Sakit
16. Permenkes no. 519 tahun 2011 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan
Anestesiologi dan Terapi Intensif di RS.
17. Kepmenkes no. 008 tahun 2009 ttg Standar Pelayanan Kedokteran Nuklir di
Saryankes
18. Kepmenkes no. 129 tahun 2008 ttg Standar Pelayanan Minimal RS
19. Kepmenkes no. 129 tahun 2008 ttg Standar Pelayanan Minimal RS_Lampiran
20. Kepmenkes no. 517 tahun 2008 ttg Standar Pelayanan Fisioterapi di Sarana
Kesehatan
21. Kepmenkes no. 603 tahun 2008 ttg Pemberlakuan Pedoman Pelaksanaan
Program RS Sayang Ibu dan Bayi
22. Kepmenkes no. 604 tahun 2008 ttg Pedoman Pelayanan Maternal Perinatal
pada RSU Kelas B, Kelas C dan Kelas D
23. Kepmenkes no. 779 tahun 2008 ttg Standar Pelayanan Anestersiologi dan
Reaminasi di RS
24. Kepmenkes no. 834 tahun 2010 ttg High Care Unit di RS
25. Kepmenkes no. 856 tahun 2010 ttg IGD di RS
26. Kepmenkes no. 1014 tahun 2008 ttg Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik di
Sarana Pelayanan Kesehatan
27. Kepmenkes no. 1069 tahun 2008 ttg Klasifikasi dan Standar Rumah Sakit
Pendidikan
28. Kepmenkes no. 1087 tahun 2008 ttg Stndar Kesehatan dan Keselamatan Kerja
di RS
29. Kepmenkes no. 1197 tahun 2008 ttg Standar Pelayanan Farmasi di RS
30. Kepmenkes no. 1204 tahun 2004 ttg Persyaratan Kesehatan Laingkungan RS
31. Kepmenkes no. 1335 tahun 2002 ttg Standar Operasional Pengambilan dan
Pengukuran Sampel Kualitas Udara Ruangan RS
32. Perka Bapeten No. 8 tahun 2011 ttg Keselamatan Radiasi dalam Penggunaan
Sinar-X Radiologi Diagnostik dan Intervensional

33. Perka Bapeten No. 9 tahun 2011 ttg Uji Kesesuaian Pesawat Sinar-X Radiologi
Diagnostik dan Intervensional

006 tahun 2014 Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 7. 001 tahun 2013 Pedoman Penyelenggaraan Dan Pembinaan Pos Kesehatan Pesantren 2. 004 tahun 2013 Pedoman Penyusunan Rencana Bisnis Dan Anggaran Badan Layanan Umum Di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan atau sini dan sini 4. Dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan Yang Tidak Diminati atau sini 6. 005 tahun 2014 Sunat Perempuan 6. 005 tahun 2013 Pedoman Tata Laksana Malaria atau sini dan sini 5. 007 tahun 2013 Pedoman Pengangkatan Dan Penempatan Dokter Dan Bidan Sebagai Pegawai Tidak Tetap 7. 003 tahun 2014 Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter Di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer 4. 001 tahun 2014 Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Kesehatan 2. 006 tahun 2013 Kriteria Fasilitas Pelayanan Kesehatan Terpencil. 002 tahun 2013 Kejadian Luar Biasa Keracunan Pangan atau sini dan sini 3. 084 tahun 2014 Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2014 dan Lampiran Peraturan Menkes Tahun 2013 1. 009 tahun 2013 Penugasan Khusus Tenaga Kesehatan atau sini dan sini . 009 tahun 2014 Cara Distribusi Alat Kesehatan Yang Baik 8.Peraturan Menteri Kesehatan Peraturan Menkes Tahun 2014 1. 004 tahun 2014 Klinik 5. Sangat Terpencil. 002 tahun 2014 Klasifikasi Kantor Kesehatan Pelabuhan 3.

Dan Prekursor Farmasi dan sini 9. 013 tahun 2013 Pedoman Manajemen Terpadu Pengendalian Tuberkulosis Resistan Obat dan Lampiran 11.8. 026 tahun 2013 Penyelenggaraan Pekerjaan Dan Praktik Tenaga Gizi 23. 027 tahun 2013 Pedoman Penyusunan Dan Penerapan Manajemen Mutu Laboratorium Pada Unit Pelaksana Teknis Di . 023 tahun 2013 Pekerjaan Dan Praktik Okupasi Terapis 20. 016 tahun 2013 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1799/MENKES/PER/XII/2010 Tentang Industri Farmasi 13. 020 tahun 2013 Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Dekonsentrasi Program Dukungan Manajemen Dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Kesehatan Tahun Anggaran 2013 17. 015 tahun 2013 Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui Dan/Atau Memerah Air Susu Ibu 12. 024 tahun 2013 Penyelenggaraan Pekerjaan Dan Peraktik Terapis Wicara dan lampiran 21. 010 tahun 2013 Impor Dan Ekspor Narkotika. 018 tahun 2013 Pedoman Penyusunan Rencana Bisnis Dan Anggaran Badan Layanan Umum Politeknik Kesehatan Di Lingkungan Kementerian Kesehatan dan lampiran 15.02/MENKES/148/I/2010 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik Perawat 14. 021 tahun 2013 Penanggulangan HIV Dan AIDS 18. Psikotropika. 022 tahun 2013 Pekerjaan Dan Praktik Ortotis Prostetis 19. 019 tahun 2013 Penyelenggaraan Pekerjaan Refraksionis Optisien Dan Optometris 16. 012 tahun 2013 Pola Tarif Badan Layanan Umum Rumah Sakit Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 10. 017 tahun 2013 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor HK. 025 tahun 2013 Pedoman Rekrutmen Petugas Kesehatan Haji Indonesia dan lampiran 22.02.

043 tahun 2013 Cara Penyelenggaraan Laboratorium Klinik Yang Baik 36. 045 tahun 2013 Pola Tarif Badan Layanan Umum Balai Kesehatan Di Lingkungan Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan 37. 030 tahun 2013 Pencantuman Informasi Kandungan Gula. 040 tahun 2013 Peta Jalan Pengendalian Dampak Konsumsi Rokok Bagi Kesehatan dan lampiran 33. 039 tahun 2013 Susu Formula Bayi Dan Produk Bayi Lainnya 32. 049 tahun 2013 Komite Keperawatan Rumah Sakit . Bidang Teknik Kesehatan Lingkungan Dan Pengendalian Penyakit 24. 035 tahun 2013 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/Menkes/PER/VII/2010 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan 30. Dan Lemak Serta Pesan Kesehatan Untuk Pangan Olahan Dan Pangan Siap Saji 27. 031 tahun 2013 Pekerjaan Perawat Anestesi 28. 029 tahun 2013 Pelayanan Pemeriksaan Kesehatan CTKI 26. 047 tahun 2013 Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Peraturan Perundang-undangan Bidang Kesehatan Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 39. 028 tahun 2013 Peringatan Dan Informasi Pada Kemasan Produk Tembakau 25. Garam. 041 tahun 2013 Standar Bubuk Tabur Gizi 34. 037 tahun 2013 Tata Cara Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika 31. 046 tahun 2013 Registrasi Tenaga Kesehatan 38. 034 tahun 2013 Tindakan Hapus Tikus Dan Hapus Serangga 29. 042 tahun 2013 Penyelenggaraan Imunisasi 35. 048 tahun 2013 Petunjuk Pelaksanaan Pengadaan Obat Dengan Prosedur E-PURCHASING Berdasarkan E-CATALOGUE 40.

069 tahun 2013 Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Pada Fasilitas Kesehatan Tingakt Pertama Dan Fasilitas Kesehatan . 063 tahun 2013 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1175/MENKES/PER/VIII/2010 Tentang Izin Produksi Kosmetika 53.41. 059 tahun 2013 Penyelenggaraan Pemeriksaan Laboratorium Untuk Ibu Hamil. Dan Nifas 49. 058 tahun 2013 Pemberian Sertifikat Vaksinasi Internasional 48. 060 tahun 2013 Regionalisasi Politeknik Kesehatan Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan 50. 052 tahun 2013 Organisasi Dan Tata Kerja Balai Besar Laboratorium Kesehatan Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 43.. 056 tahun 2013 Orientasi Calon Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Kementerian Kesehatan dan Lampiran 46. 068 tahun 2013 Kewajiban Pemberi Pelayanan Kesehatan Untuk Memberikan Informasi Atas Adanya Dugaan Kekerasan Terhadap Anak 57. 051 tahun 2013 Pedoman Pencegahan Penularan HIV Dari Ibu Ke Anak 42. 062 tahun 2013 Penyelenggaraan Bank Jaringan Dan / Atau Sel 52. 064 tahun 2013 Penanggulangan Krisis Kesehatan 54. 066 tahun 2013 Penyelenggaraan Registri Penelitian Klinik 56. 065 tahun 2013 Pedoman Pelaksanaan Dan Pembinaan Pemberdayaan Masyarakat Bidang Kesehatan 55. 054 tahun 2013 Penyelenggaraan Tugas Belajar Sumber Daya Manusia Kesehatan 45. Bersalin. 061 tahun 2013 Kesehatan Matra 51. 053 tahun 2013 Program Bantuan Pendidikan Dokter Spesialis / Pendidikan Dokter Gigi Spesialis 44. 057 tahun 2013 Pedoman Penyelenggaraan Program Terapi Rumatan Metadon dan Lampiran 47.

084 tahun 2013 Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2014 66. 002 tahun 2012 Tata Laksana Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat . 083 tahun 2013 Tunjangan Kinerja Bagi Pegawai Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 65. 001 tahun 2012 Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan 2. 087 tahun 2013 Peta Jalan Pengembangan Bahan Baku Obat 69. 074 tahun 2013 Pakaian Dinas Harian Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 61. 080 tahun 2013 Penyelenggaraan Pekerjaan Dan Praktik Fisioterapis 63. 071 tahun 2013 Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional 59. 073 tahun 2013 Jabatan Fungsional Umum Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 60. 082 tahun 2013 Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit 64. 089 tahun 2013 Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Dekonsentrasi Program Dukungan Manajemen Dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian Kesehatan Tahun Anggaran 2014 70 090 tahun 2013 Sentra Pengembangan Dan Penerapan Pengobatan Tradisional Peraturan Menkes Tahun 2012 1. 075 tahun 2013 Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia 62. 086 tahun 2013 Peta Jalan Pengembangan Industri Alat Kesehatan 68. 085 tahun 2013 Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2013 Tentang Jenis Dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Kementerian Kesehatan 67. Tingkat Lanjutan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan 58.

028 tahun 2012 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2409/MENKES/PER/XII/2011 Tentang Standar Bubuk Tabur Gizi 16. 010 tahun 2012 Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Sakit Kusta Dr. 027 tahun 2012 Penanggulangan Daerah Bermasalah Kesehatan 15. (BKTM) Dan Loka Kesehatan Tradisional Masyarakat (LKTM) dan Lampiran 3. 006 tahun 2012 Industri Dan Usaha Obat Tradisional dan Lampiran 6. Sitanala Tangerang 11. 011 tahun 2012 Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Sakit Kusta Dr. 012 tahun 2012 Akreditasi Rumah sakit 12. 026 tahun 2012 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1871/MENKES/PER/IX/2011 Tentang Pencabutan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 339/MENKES/PER/V/1989 Tentang Pekerjaan Tukang Gigi 14. Rivai Abdullah Palembang 10. Tadjuddin Chalid Makassar 9. 003 tahun 2012 Standar Mineral Mix 4. 2581/MENKES/PER/XUU/2011 Petunjuk Teknis Pelayanan Kesehatan Dasar Jaminan Kesehatan Masyarakat 13. 009 tahun 2012 Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Sakit Kusta Dr. 008 tahun 2012 Kode Etik Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 8. 029 tahun 2012 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416/MENKES/PER/II/2011 Tentang Tarif Pelayanan Kesehatan Bagi Peserta PT Askes (Persero) 17. 004 tahun 2012 Petunjuk Teknis Promosi Kesehatan Rumah Sakit dan Lampiran 5. 007 tahun 2012 Registrasi Obat Tradisional 7. 030 tahun 2012 Jadwal Retensi Arsip Substantif Dan Fasilitatif Non Keuangan Dan Non Kepegawaian Di Lingkungan .

034 tahun 2012 Batas Maksimum Melamin Dalam Pangan 21. Dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Yang Dalam Proses Atau Yang Telah Diputus Oleh Pengadilan 31 047 tahun 2012 Pendayagunaan Perawat Ke Luar Negeri 32. 037 tahun 2012 Penyelenggaraan Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat 24. 042 tahun 2012 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2407/MENKES/SK/XII/2011 Tentang Pelayanan Kesehatan Haji 28. Penyalahguna. 040 tahun 2012 Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat 26. 036 tahun 2012 Rahasia Kedokteran 23. 039 tahun 2012 Juklak Penyelesaian Kerugian Negera di Lingkungan Kementerian Kesehatan 25. 035 tahun 2012 Pedoman Identifikasi Faktor Risiko Kesehatan Akibat Perubahan Iklim 22. 045 tahun 2012 Organisasi Dan Tata Kerja Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Jakarta 30. 033 tahun 2012 Bahan Tambahan Pangan 20. 032 tahun 2012 Organisasi Dan Tata Kerja Unit Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan 19. Kementerian Kesehatan 18. 043 tahun 2012 Pelaksanaan Pemberian Izin Belajar Bagi Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 29. 046 tahun 2012 Petunjuk Teknis Pelaksanaan Rehabilitasi Medis Bagi Pecandu.. 041 tahun 2012 Penyaluran Tunjangan Profesi Dosen di Lingkungan Poltek Kesehatan Kementerian Kesehatan 27. 048 tahun 2012 Penyelenggaraan Bank Sel Punca Darah Tali Pusat 33 049 tahun 2012 Pedoman Penanganan Pengaduan Masyarakat Terpadu Di Lingkungan Kementerian Kesehatan .

4. 983 ttg Pedoman Penyelenggaraan Warung Obat Desa. 128 ttg Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. 057 tahun 2012 Pola Karier Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Kementerian Kesehatan dan Lampiran 40 058 tahun 2012 Penyelenggaraan Pekerjaan Perawat Gigi 41 059 tahun 2012 Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Kesehatan Keputusan Menteri Kesehatan. 1027 ttg Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek. 056 tahun 2012 Standar Kompetensi Jabatan Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Kementerian Kesehatan dan Lampiran 39. KMK No. 5.34 050 tahun 2012 Penyelenggaraan Laboratorium Pengolahan Sel Punca Untuk Aplikasi Klinis 35 051 tahun 2012 Petunjuk Pelaksanaan Pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Dari Korupsi Dan Wilayah Birokrasi Bersih Dan Melayani Di Lingkungan Kementerian Kesehatan 36 054 tahun 2012 Penyelenggaraan Pekerjaan Teknisi Gigi 37 055 tahun 2012 Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan Tahun Anggaran 2013 38. 2. Tahun 2004 : 1. KMK No. 1059 ttg Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. 1138 ttg Tanda Penghargaan Ksatria Bakti Husada Dan Manggala Karya Bakti Husada. 3. KMK No. KMK No. Adapun Peraturan/Keputusan Menkes Tersebut adalah sebagai Berikut : 1. . KMK No.

1554 ttg Kurikulum Pendidikan Diploma IV Teknik Radiologi. 8. 1553 ttg Kurikulum Pendidikan Diploma IV Teknik Elektromedik. KMK No. 1389 ttg Komite Ahli Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan Tuberkolosis. 11. 7. KMK No. 6. KMK No. 1508 ttg Rencana Kerja Jangka Menengah Perawatan. KMK No. KMK No. 10. 6. 1626 ttg Pedoman Pemantauan Dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). 13. 1204 ttg Persyaratan Kesehatan Lingkungan RS 2. 12. 926 ttg Pedoman Pelaksanaan Pemilihan PNS DEPKES Berprestasi Tingkat Nasional. KMK No. KMK No. 1537 ttg Kurikulum Pendidikan Diploma IV Fisioterapi. KMK No. KMK No. KMK No. KMK No. KMK No. 1582 ttg Pedoman Pengendalian Filariasis (Penyakit Kaki Gajah). 1534 ttg Kurikulum Pendidikan Sekolah Perawat Kesehatan. 15. Dukungan dan Pengobatan Untuk ODHA. KMK No. 1653 ttg Pedoman Penanganan B encana Bidang Kesehatan. 2.Tahun 2006 : . KMK No. 3. 7. 496 ttg Pedoman Audit Medis Di RS. 1415 ttg Kebijakan Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga. KMK No. 631 ttg Pedoman Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws) Di RS. 1507 ttg Pedoman Pelayanan Konseling Dan Testing HIV-AIDS Secar Sukarela (VCT). 836 ttg Pedoman Pengembangan Manajemen Kinerja Perawat Dan Bidan. KMK No. KMK No. Tahun 2005 : 1. KMK No. 3. 14. 1611 ttg Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. 4. 9. 1197 ttg Standar Pelayanan Farmasi Di RS. 5. KMK No. 1031 ttg Pedoman Nasional Etik Penelitian Kesehatan.

KMK No.KMK No. 279 ttg Pedoman Penyelenggaraan Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas. KMK No. 494 ttg Penetapan Rumah Sakit dan Satelit Uji Coba Pelayanan Terapi Rumatan Metadon. 364 ttg Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. 4. KMK No. 5. 221 ttg Penyelenggara Riset Pembinaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kedokteran (RISBIN I. 7. 372 ttg Standar Profesi Teknisi Gigi. 6. 275 ttg Pedoman Surveilans Malaria. 11. 371 ttg Standar Profesi Teknisi Elektromedis. KMK No. 342 ttg Pejabat Yang Berwenanang Memberikan Informasi Kepada Pers Dan Atau Masyarakat. . 039 ttg Pedoman Penyelenggaraan Kedokteran Gigi Keluarga. 369 ttg Standar Profesi Bidan. 342 ttg Pejabat Yang Berwenang Memberikan Informasi Kepada Pers dan atau Masyarakat. KMK No. 043 ttg Pedoman Pelatihan Malaria. Tahun 2007 : 1. KMK No. 3. 3. KMK No. KMK No. 8. 4. 044 ttg Pedoman Pengobatan Malaria. 2. KMK No. KMK No. 10. 7. 424 ttg Pedoman Pengendalian Cacingan. 241 ttg Standar Pelayanan Laboratorium Kesehatan Pemeriksa HIV dan Infeksi Oportunistik. 370 ttg Standar Profesi Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan. 042 ttg Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Penanggulangan KLB Malaria. 5. 145 ttg Pedoman Penanggulangan Bencana Bidang Kesehatan. KMK No. 284 ttg Standar Pelayanan Asuhan Kesehatan Gigi dan Mulut. KMK No. KMK No. KMK No. 9. KMK No. KMK No. 2. KMK No. 6. KMK No. 1. KMK No. 879 ttg Rencana Strategi Nasional Untuk Mencapai Sound Hearing 2030 4.

432 ttg Pedoman Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) di Rumah Sakit. KMK No. 423 ttg Kebijakan Peningkatan Kualitas Dan Akses Pelayanan Darah. 21. 562 ttg Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan. KMK No. KMK No. 20. KMK No. KMK No. 25. 18. 1017 ttg Penunjukan Sarana Pelayanan Kesehatan Sbg Tempat Pengujian. KMK No. 378 ttg Standar Profesi Perawat Gigi. KMK No. KMK No. 24. KMK No. KMK No. 893 ttg Pedoman Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Pengobatan Filariasis. 424 ttg Pedoman Upaya Kesehatan Pelabuhan dalam Rangka Karantina Kesehatan. 474 ttg Perubahan Atas PERMENKES No. 377 ttg Standar Profesi Perekam Medis dan Informasi Kesehatan. 585 ttg Pedoman Pelaksanaan Promosi Kesehatan Di Puskesmas. KMK No.12. 424 ttg Pedoman Kespel Dalam Rangka Karkes. 14. 373 ttg Standar Profesi Sanitarian. 28. 374 ttg Standar Profesi Gizi. 15. 425 ttg Pedoman Penyelenggaraan Karantina Kesehatan di Kantor Kesehatan Pelabuhan. KMK No. KMK No. 16. 483 ttg Pedoman Surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP). KMK No. KMK No. 376 ttg Standar Profesi Fisioterapi. KMK No. 22. 13. 431 ttg Pengendalian Resiko Kesehatan Lingkungan Di Pelabuhan- Bandara-Pos Lintas Batas. 671 ttg Pedoman Penyelenggaraan Kegiatan Program Upaya Kesehatan Perorangan. 563 ttg Keanggotaan Komisi Nasional Etik Penelitian Kesehatan Masa Bakti 2007 – 2011. 27. . 375 ttg Standar Profesi Radiografer. KMK No. KMK No. KMK No. 518 Th 2009 ttg Tarif Pelayanan Kesehatan ASKES Di B. 17. 26. 23. KMK No. 19.

KMK No. 274 ttg Pedoman Rekrutmen Tenaga Pelaksana Verifikasi Dalam Pelaksanaan Program Jamkesmas. Kesepakatan Kerja Sama Antara MENKES RI Dengan Kepala Staff TNI AD No. KMK No. 129 ttg Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. 34. 1045 ttg Penetapan Wilayah Pengesahan Pemberian International Certificate of Vaccination . KMK No. 1105 ttg Pedoman Penanganan Medis Korban Massal Akibat Bencana Kimia. KMK No. 120 ttg Standar Pelayanan Medik Hiperbarik. 299 ttg Penunjukan Wakil Indonesia Untuk Executive Commitee. 8. 1033 ttg Pedoman Umum Perencanaan Pinjaman dan atau Hibah Luar Negeri Bidang Kesehatan. . KMK No 828 ttg juknis SPM. 1225 ttg Pedoman Sisfo Laboratorium Kesehatan (SILK) 5. 267 ttg Pedoman Teknis Pengorganisasian Dinas Kesehatan Daerah. 590 ttg Kerja Sama Bidang . KMK No. 1165 ttg Pola Tarif Rumah Sakit Badan Layanan Umum. 6. KMK No. 121 ttg Standar Pelayanan Medik Herbal. 302 ttg Harga Obat Generik. KMK No. KMK No. 3. KMK No. 36. 29. Tahun 2008 : 1. KMK No. KMK No. 2. 1017 ttg Penunjukan Sarana Pelayanan Kesehatan Sbg Tempat Pengujian Kesehatan Bagi Pejabat. 35. KBM MENKES Dan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional No. KMK No. 298 ttg Pedoman Akreditasi Laboratorium Kesehatan. 1224 ttg Pedoman Klasifikasi dan Kodifikasi Jenis Pemeriksaan. 171 ttg Pemanfaatan Tenaga Nuklir. 4. 33. KMK No. 30. KMK No. Metode Pemeriksa. KMK No. 5. 31. KMK No. Spesimen. 32. 1161 ttg Penetapan Rumah Sakit Berdasarkan Indonesia Diagnostic Related Group (INA-DRG). 7.

KMK No. 21. 573 ttg Standar Profesi Asisten Apoteker. 16. 448 ttg Penganugerahan Tanda Penghargaan Ksatria Bakti Husada Arutala. 547 ttg Standar Profesi Terapis Wicara. 538 ttg Komponen Dan Tata Cara Pemberian Bantuan Pendidikan Dokter Spesialis-Dokter Gigi . 544 ttg Standar Prosedur Operasional Pelayanan Publik Di Lingkungan Departemen Kesehatan. KMK No. 25. 13. KMK No. KMK No. 15. KMK No. 23. KMK No. 24. KMK No. 517 ttg Standar Pelayanan Fisioterapi Di Sarana Kesehatan. 12. 14. KMK No. 378 ttg Pedoman Pelayanan Rehabilitasi Medik Di Rumah Sakit. 17. 519 ttg Pedoman Penyelenggaraan Pasar Sehat. 20. 457 ttg Penetapan Indikator Pencapaian 17 Sasaran Grand Strategy DEPKES RI. 459 ttg Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan Internasional Pengurangan Resiko Bencana. 18. KMK No. KMK No. 603 ttg Pemberlakuan Pedoman Pelaksanaan Program Rumah Sakit Sayang Ibu Dan Bayi. 406 ttg Pembentukan Pemuda Siaga Peduli Bencana (DASI PENA). KMK No. 572 ttg Standar Profesi Refraksionis Optisien. . 22. 522 ttg Penunjukan Laboratorium Pemeriksaan Narkotika Dan Psikotropika. 379 ttg Petunjuk Teknis Administrasi Klaim Verifikasi Program JAMKESMAS. 444 ttg Penganugerahan Tanda Penghargaan Mandala Karya Bakti Husada Arutala. KMK No.9. 11. KMK No. 350 ttg Penetapan Rumah Sakit Pengampu Dan Satelit Program Terapi Rumatan Metadon. 19. KMK No. 10. KMK No. KMK No. KMK No. KMK No. 571 ttg Standar Profesi Okupasi Terapis.

3. KMK No. KMK No 060 Tahun 2009 tth Testing HIV. Tahun 2009 : 1. 30. KMK No. 1022 ttg Pedoman Pengendalian Penyakit Paru Obstruktif Kronik. KMK No. KMK No. KMK No. . 1061 ttg Penetapan Rumah Sakit Rujukan Haji. 32. KMK No 1190 Tahun 2009 ttg Bansos. 852 ttg Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. KMK No 406 Tahun 2009 ttg Kes Jiwa Komunitas. 34. KMK No 854 Tahun 2009 ttg Pengendalian Penyakit Jantung. 29. KMK No. 5. 37. 922 ttg Pembagian Urusan Pemerintahan. 804 ttg Honorarium Tenaga Pelaksana Verifikasi Pelaksanaan Program Jamkesmas. 4. KMK No 421 Tahun 2009 ttg Pemeriksaan CTKI. 35. 1158 ttg Standar Pemeriksaan Kesehatan TKI 6. 605 ttg Standar Balai Laboratorium Kesehatan Dan Balai Besar Laboratorium Kesehatan. 779 ttg Standar Pelayanan Anestesiologi dan Reanimasi di Rumah Sakit. KMK No. 1023 ttg Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. 606 ttg Pedoman Pelaksanaan Ujian Dinas Dan Ujian Kenaikan Pangkat. 33. KMK No. Kelas C Dan K. 31. 1062 ttg Penghargaan Bagi Kabupaten-Kota di Luar Pulau Jawa yang Telah Menjadi Desa-Kelur. 1014 ttg Standar Pelayanan Radiologi Diagnostik di Sarana Pelayanan Kesehatan. 6. KMK No. 27. KMK No. 604 ttg Pedoman Pelayanan Maternal Perinatal Pada Rumah Sakit Umum Kelas B. 28. KMK No. KMK No. 36. KMK No. 2. KMK No 1241 Tahun 2009 ttg Tenaga Verifikasi. 26.

KMK No 1250 Tahun 2009 ttg Kendali Mutu Radiodiagnostik. 579 ttg Penunjukan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Jakarta sbg Pusat Litbang . KMK No. 15. 311 ttg Penetapan Penyakit Flu Baru H1N1 Sebagai Penyakit Yang Dapat Menimbulkan Wabah. KMK No 1278 Tahun 2009 ttg TB dan HIV. KMK No. KMK No. 237 ttg Fisikawan Medik. KMK No. 160 ttg Pedoman Rekrutmen Tenaga Pelaksana Verifikasi Dalam Penyelenggaraan Program JAMKEsmas. 14. 9. 230 ttg Pilot Proyek Pengendalian Flu Burung Dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influen. 1575 Th 2005 ttg Organisasi Dan Tata Kerja DEP. 8. 12. 518 Th 2009 ttg Tarif Pelayanan Kesehatan ASKES. 13. 11. 364 ttg Pedoman Penanggulangan Tuberkolosis (TB). KMK No. 10. 18. KMK No. 20. KMK No. KMK No. 19. 237 ttg Standar Kurikulum Pelatihan Fungsional Fisikawan Medik. 293 ttg Eliminasi Malaria Di Indonesia. 316 ttg Pedoman Pelaksanaan Jamkesmas. KMK No. 22. . KMK No. 24. KMK No. 444 ttg Tim Kesiapsiagaan Penanggulangan Penyakit Flu Baru H1N1 (MEXICAN STRAIN) Nasional. 374 ttg Sistem Kesehatan Nasional. 261 ttg Farmakope Herbal. KMK No. 17. 474 ttg Perubahan Atas PERMENKES No. 439 ttg Perubahan Kedua Atas PERMENKES No. 16. KMK No. KMK No. KMK No. 443 ttg Penetapan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 300 ttg Pedoman Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza. KMK No. KMK No. 23. 442 ttg Pedoman Penyelenggaraan Kesehatan Haji Indonesia. 21.7. KMK No. 159 ttg Penunjukan RS Umum Pusat Nasional RSCM Jakarta Sebagai Pusat Litbang dan Pelayanan.

KMK No. 29. 30. KMK No. KMK No. KMK No. 316 ttg Harga Vaksin Program Imunisasi Tahun 2010. 2. 922 ttg Pembagian Urusan. 26. 482 ttg Gerakan Imunisasi Nasional GAIN UCI. KMK No.03. 400 ttg Pedoman Rekrutmen Petugas Kesehatan Haji Indonesia. 1226 ttg Pedoman Pelayanan Terpadu Korban Kekerasan. KMK No. 7. KMK No. 1142 ttg Pedoman Pengendalian Osteoporosis. 31. KMK No. 156 ttg Pemberian Insentif Bagi Tenaga Kesehatan. 27. 33. 493 ttg Penetapan Kabupaten-Kota Pelaksana Pemerikasaan Dan Pembinaan Kesehatan Haji 2010. 5. 25. 834 ttg Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Medis Sel Punca. 217 ttg Pencabutan Atas Keputusan MENKES RI Nomor 116- MENKES-SK-II-2008 ttg Tim Pembina. KMK No. 160 ttg RENSTRA_2010-2014. KMK No. Tahun 2010 : 1. 4.01-146 ttg Harga Obat Generik . KMK No. 28. KMK No. 3. 1259 ttg Juknis Pelayanan Jamkesmas Bagi Maskin Akibat Bencana. 830 ttg Pedoman Pelaksanaan Penyediaan Obat Dan Vaksin. 923 ttg Laboratorium Pro Justisia. KMK No. KMK No. KMK No. KMK No. KMK No. Penghuni Panti Sosial. KMK No. 857 ttg Penilaian Kinerja SDM Kesehatan. 6. 1262 ttg Komnas Pelayanan Darah 7. 32. 329 ttg Bantuan Sosial Untuk Pelayanan Kesehatan Di DTPK Tahun 2010. 1196 ttg Pedoman Penyelnggaraan Balai Penobatan Haji Indonesia Di Arab Saudi. 8. HK. KMK No.

Tindakan medis yang dilakukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga terdekatnya./88 dan Permenkes no 585/Men. Informasi/keterangan yang wajib diberikan sebelum suatu tindakan kedokteran dilaksanakan adalah: 1. Menurut Lampiran SKB IDI No. 2. kehadiran seorang perawat / paramedik lainnya sebagai saksi adalah penting. tidak membebaskan dokter dari tuntutan jika dokter melakukan kelalaian. Sifat dan luasnya tindakan yang akan dilakukan. Persetujuan yang ditanda tangani oleh pasien atau keluarga terdekatnya tersebut. Diagnosa yang telah ditegakkan.INFORMED CONSENT Menurut PerMenKes no 290/MenKes/Per/III/2008 dan UU no 29 th 2004 Pasal 45 serta Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran KKI tahun 2008.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis Pasal 4 ayat 2 menyebutkan dalam memberikan informasi kepada pasien / keluarganya. maka Informed Consent adalah persetujuan tindakan kedokteran yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekatnya setelah mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. 319/P/BA. . dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351.

4. b. Pengecualian terhadap keharusan pemberian informasi sebelum dimintakan persetujuan tindakan kedokteran adalah: 1. karena prosedur medik modern bukan tanpa resiko.3. Resiko yang tidak bisa diperkirakan sebelumnya. Ini tercantum dalam PerMenKes no 290/Menkes/Per/III/2008. Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan ( Ayat 2 ). 5. Tujuan Informed Consent: a. Manfaat dan urgensinya dilakukan tindakan tersebut. dan pada setiap tindakan medik ada melekat suatu resiko ( Permenkes No. 6. 2. Kadangkala biaya yang menyangkut tindakan kedokteran tersebut. Sumber: Buku Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Yang Baik di Indonesia . persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan. bodily assault ). Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran. 290/Menkes/Per/III/2008 Pasal 3 ) Tindakan medis yang dilakukan tanpa izin pasien. sebelum dimulainya tindakan ( Ayat 1 ). battery. dimana dokter harus segera bertindak untuk menyelamatkan jiwa. Resiko yang melekat pada tindakan kedokteran tersebut. Konsekwensinya bila tidak dilakukan tindakan tersebut dan adakah alternatif cara pengobatan yang lain. dapat digolongkan sebagai tindakan melakukan penganiayaan berdasarkan KUHP Pasal 351 ( trespass. Memberi perlindungan hukum kepada dokter terhadap suatu kegagalan dan bersifat negatif. Dalam keadaan gawat darurat ( emergensi ). Keadaan emosi pasien yang sangat labil sehingga ia tidak bisa menghadapi situasi dirinya. Menurut Pasal 5 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008. Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud dalam Ayat 1 merupakan dasar daripada persetujuan ( Ayat 2 ). Memberikan perlindungan kepada pasien terhadap tindakan dokter yang sebenarnya tidak diperlukan dan secara medik tidak ada dasar pembenarannya yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasiennya. Resiko resiko yang harus diinformasikan kepada pasien yang dimintakan persetujuan tindakan kedokteran : a. dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan ( Pasal 11 Ayat 1 Permenkes No 290 / Menkes / PER / III / 2008 ). Resiko resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi daripada tindakan kedokteran tersebut. b.

2. M E M U T U S K A N : Menetapkan : PERATURAN MENTERI KESEHATAN TENTANG PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN.PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 290/MENKES/PER/III/2008 TENTANG PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA. Mengingat : 1. perlu mengatur kembali Persetujuan Tindakan Medik dengan Peraturan Menteri Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 159b/Menkes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Nomor 191/Menkes-Kesos/SK/II/2001 tentang Perubahan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 157/Menkes/SK/III/1999 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 159b/Menkes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1295/Menkes/Per/XII/2007 tentang Perubahan Pertama Atas Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/Menkes/Per/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 39 Tambahan Lembaran Negara Nomor 3637). 4. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1966 Nomor 21. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100. Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 45 Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. 5. 7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 920/Menkes/Per/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta Di Bidang Medik. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495). BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan : 1. 3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2803). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431). Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan .

terapeutik atau rehabilitatif yang dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasien. BAB II PERSETUJUAN DAN PENJELASAN Bagian Kesatu Persetujuan Pasal 2 (1) Semua tindakan kedokteran yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. tidak mengalami kemunduran perkembangan (retardasi) mental dan tidak mengalami penyakit mental sehingga mampu membuat keputusan secara bebas. ayah atau ibu kandung. 5. 3. (5) Dalam hal persetujuan lisan yang diberikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dianggap meragukan. 6. Pasal 4 (1) Dalam keadaan gawat darurat. (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat penjelasan yang diperlukan tentang perlunya tindakan kedokteran dilakukan. 4. Pasal 3 (1) Setiap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus memperoleh persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Pasien yang kompeten adalah pasien dewasa atau bukan anak menurut peraturan perundang-undangan atau telah/pernah menikah. dokter gigi dan dokter gigi spesialis lulusan pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah Republik Indonesia sesuai dengan peraturan perundang-undangan. mampu berkomunikasi secara wajar. 2. dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan. Dokter dan dokter gigi adalah dokter. dokter spesialis. untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau . (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan secara tertulis maupun lisan. 7. maka dapat dimintakan persetujuan tertulis. (4) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diberikan dalam bentuk ucapan setuju atau bentuk gerakan menganggukkan kepala yang dapat diartikan sebagai ucapan setuju. (3) Persetujuan tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuat dalam bentuk pernyataan yang tertuang dalam formulir khusus yang dibuat untuk itu. tidak terganggu kesadaran fisiknya. Keluarga terdekat adalah suami atau istri. anak-anak kandung. (2) Tindakan kedokteran yang tidak termasuk dalam ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diberikan dengan persetujuan lisan. saudara-saudara kandung atau pengampunya. Tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang selanjutnya disebut tindakan kedokteran adalah suatu tindakan medis berupa preventif. Tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi adalah tindakan medis yang berdasarkan tingkat probabilitas tertentu. Tindakan Invasif adalah suatu tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien. diagnostik.kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.

(2) Penjelasan tentang tindakan kedokteran yang dilakukan meliputi : a. Perkiraan pembiayaan. f. c. (2) Keputusan untuk melakukan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diputuskan oleh dokter atau dokter gigi dan dicatat di dalam rekam medik. Altematif tindakan lain. diagnostik. Tujuan tindakan kedokteran yang dilakukan. dan e. Pasal 5 (1) Persetujuan tindakan kedokteran dapat dibatalkan atau ditarik kembali oleh yang memberi persetujuan sebelum dimulainya tindakan. d. (2) Pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis oleh yang memberi persetujuan. b. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi. Pasal 8 (1) Penjelasan tentang diagnosis dan keadaan kesehatan pasien dapat meliputi : a. (3) Penjelasan tentang tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya mencakup: a. Diagnosis penyakit. Pasal 6 Pemberian persetujuan tindakan kedokteran tidak menghapuskan tanggung gugat hukum dalam hal terbukti adanya kelalaian dalam melakukan tindakan kedokteran yang mengakibatkan kerugian pada pasien Bagian Kedua Penjelasan Pasal 7 (1) Penjelasan tentang tindakan kedokteran harus diberikan langsung kepada pasien dan/atau keluarga terdekat. (3) Dalam hal dilakukannya tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1). maka sekurang- kurangnya diagnosis kerja dan diagnosis banding. dokter atau dokter gigi wajib memberikan penjelasan sesegera mungkin kepada pasien setelah pasien sadar atau kepada keluarga terdekat. ataupun rehabilitatif. (3) Segala akibat yang timbul dari pembatalan persetujuan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) menjadi tanggung jawab yang membatalkan persetujuan. dan risikonya. terapeutik. Diagnosis dan tata cara tindakan kedokteran. b. b. Temuan klinis dari hasil pemeriksaan medis hingga saat tersebut. Prognosis apabila dilakukan tindakan dan apabila tidak dilakukan tindakan. Tata cara pelaksanaan tindakan apa yang akan dialami pasien selama dan sesudah . baik diminta maupun tidak diminta. penjelasan diberikan kepada keluarganya atau yang mengantar. Indikasi atau keadaan klinis pasien yang membutuhkan dilakukannya tindakan kedokteran. c. d.mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran. (2) Dalam hal pasien adalah anak-anak atau orang yang tidak sadar. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan. atau dalam hal belum dapat ditegakkan. Tujuan tindakan kedokteran yang dapat berupa tujuan preventif.

d. serta efek samping atau ketidaknyamanan yang mungkin terjadi. kecuali: a. b. e. c. Prognosis tentang hidup-matinya (ad vitam). Perluasan tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengatasi keadaan darurat akibat risiko dan komplikasi tersebut atau keadaan tak terduga lainnya. nama. (2) Penjelasan kemungkinan perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan dasar daripada persetujuan. (2) Penjelasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicatat dan didokumentasikan dalam berkas rekam medis oleh dokter atau dokter gigi yang memberikan penjelasan dengan mencantumkan tanggal. Pasal 10 (1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 diberikan oleh dokter atau dokter gigi yang merawat pasien atau salah satu dokter atau dokter gigi dari tim dokter yang merawatnya. Pasal 9 (1) Penjelasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 harus diberikan secara lengkap dengan bahasa yang mudah dimengerti atau cara lain yang bertujuan untuk mempermudah pemahaman. Prognosis tentang kesembuhan (ad sanationam). (3) Penjelasan tentang risiko dan komplikasi tindakan kedokteran adalah semua risiko dan komplikasi yang dapat terjadi mengikuti tindakan kedokteran yang dilakukan. dan tanda tangan pemberi penjelasan dan penerima penjelasan. Pasal 11 (1) Dalam hal terdapat indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran. Prognosis tentang fungsinya (ad functionam).tindakan. Alternatif tindakan lain berikut kelebihan dan kekurangannya dibandingkan dengan tindakan yang direncanakan. waktu. risiko dan komplikasi yang sudah menjadi pengetahuan umum b. maka pemberian penjelasan harus didelegasikan kepada dokter atau dokter gigi lain yang kompeten. dokter yang akan melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan. risiko dan komplikasi yang sangat jarang terjadi atau yang dampaknya sangat ringan c. (3) Dalam hal dokter atau dokter gigi menilai bahwa penjelasan tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan penjelasan. risiko dan komplikasi yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya (unforeseeable) (4) Penjelasan tentang prognosis meliputi: a. c. (2) Dalam hal dokter atau dokter gigi yang merawatnya berhalangan untuk memberikan penjelasan secara langsung. Risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi pada masing-masing alternatif tindakan. (4) Tenaga kesehatan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) adalah tenaga kesehatan yang ikut memberikan pelayanan kesehatan secara langsung kepada pasien. (3) Tenaga kesehatan tertentu dapat membantu memberikan penjelasan sesuai dengan kewenangannya. maka dokter atau dokter gigi dapat memberikan penjelasan tersebut kepada keluarga terdekat dengan didampingi oleh seorang tenaga kesehatan lain sebagai saksi. Pasal 12 .

(2) Setelah perluasan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. maka persetujuan tindakan kedokteran tidak diperlukan. (2) Penilaian terhadap kompetensi pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh dokter pada saat diperlukan persetujuan BAB IV KETENTUAN PADA SITUASI KHUSUS Pasal 14 (1) Tindakan penghentian/penundaan bantuan hidup (withdrawing/withholding life support) pada seorang pasien harus mendapat persetujuan keluarga terdekat pasien. dokter atau dokter gigi harus memberikan penjelasan kepada pasien atau keluarga terdekat. Pasal 15 Dalam hal tindakan kedokteran harus dilaksanakan sesuai dengan program pemerintah dimana tindakan medik tersebut untuk kepentingan masyarakat banyak. BAB III YANG BERHAK MEMBERIKAN PERSETUJUAN Pasal 13 (1) Persetujuan diberikan oleh pasien yang kompeten atau keluarga terdekat. (2) Penolakan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud kedokteran pada ayat (1) harus dilakukan secara tertulis. (3) Persetujuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diberikan secara tertulis. (2) Persetujuan penghentian/penundaan bantuan hidup oleh keluarga terdekat pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan setelah keluarga mendapat penjelasan dari tim dokter yang bersangkutan.(1) Perluasan tindakan kedokteran yang tidak terdapat indikasi sebelumnya. BAB VI TANGGUNG JAWAB Pasal 17 (1) Pelaksanaan tindakan kedokteran yang telah mendapat persetujuan menjadi tanggung jawab dokter atau dokter gigi yang melakukan tindakan kedokteran. hanya dapat dilakukan untuk menyelamatkan jiwa pasien. (3) Akibat penolakan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjadi tanggung jawab pasien. (2) Sarana pelayanan kesehatan bertanggung jawab atas pelaksanaan persetujuan tindakan kedokteran. . BAB V PENOLAKAN TINDAKAN KEDOKTERAN Pasal 16 (1) Penolakan tindakan kedokteran dapat dilakukan oleh pasien dan/atau keluarga terdekatnya setelah menerima penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan. (4) Penolakan tindakan kedokteran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak memutuskan hubungan dokter dan pasien.

Sp. Dr. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 26 Maret 2008 Menteri Kesehatan. dr. infeksi nosokomial di lingkungan RS . Pasal 21 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Siti Fadilah Supari. Agar setiap orang rnengetahuinya. Menteri. Pasal 19 (1) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan.  Kejadian keracunan B3 toxic  Menumpuknya limbah B3 di lingkungan RS. atau kerusakan sarana. makhluk hidup lainnya .JP (K)  PENDAHULUAN RISIKO B3 DI RUMAH SAKIT  Kebijakan pemerintah ttg SJSN  Peraturan & Perundangan ttg Standar Pelayanan RS & Hak Pasien  Risiko kerugian thdp kesehatan manusia. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat mengambil tindakan administratif sesuai dengan kewenangannya masing-masing (2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa teguran lisan. rnemerintahkan pengundangan Peraturan ini dengan penernpatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia. maka Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/MENKES/PER/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medik dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. (2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. prasarana dan lingkungan hidup sekitarnya akibat B3  Terjadinya kebakaran yang berhubungan dengan B3 flameable  Terjadinya peledakan B3 explosive. teguran tertulis sampai dengan pencabutan Surat Ijin Praktik BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 20 Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku.BAB VII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 18 (1) Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan pembinaan dan pengawasan dengan melibatkan organisasi profesi terkait sesuai tugas dan fungsi masing-masing.

 2. efektif dan Efsien Mengurangi & mengendalikan bahaya & risiko. dan terdata pengelolaannya MERAH Tidak mengidentifikasi seluruh limbah B3 Tidak melakukan Pencatatan jenis LB3 yang dihasilkan secara teratur Tidak seluruh LB3 dilakukan pendataan pengelolaan lanjutan. Dsb. Berdampak Status Proper RS BIRU Seluruh limbah B3 yang dihasilkan dan atau potensial dihasilkan teridentifikasi. RS hrs menyediakan fasilitas fungsional & supportif yg Aman terkait dg B3 bagi pasien. Permasalahan  Sejauh mana pemahaman Rumah Sakit terhadap kebijakan & peraturan B3 ?  Sejauh mana kepatuhan terhadap kebijakan dan peraturan tersebut. Tatacara cara penyimp. Penyimpanan tidak per jenis LB3 2. HITAM Melakukan pemalsuan data dan keterangan terkait pengelolaan limbah B3 Bagaimana di Rumah Sakit Kita ?  5. 1 2 5 4 3  3. ?  4. Problema Identifikasi. Penyimp. mencegah kecelakaan & cedera dan memelihara kondisi aman . PERENCANAA N PENDIDIKAN PENGAWASAN MULTI DISIPLIN Pemimpin merencanakan ruang. Kapasitas TPS LB3 tdk sesuai dg jml LB3 yg dihasilkan 4. staf & pengunjung Fasilitas RS fisik. sludge IPAL di luar TPS LB3 5. medis. Melakukan kesalahan yang sama dengan tahun sebelumnya. LB3 tdk benar 3. Permasalahan jml LB3 skala besar 6. Pencatatan & Pelaporan. tercatat. keluarga. peralatan lainnya & SDM terkait dg B3 harus dikelola secara Aman. peralatan & sumber daya yg dibutuhkan  mendukung yan klinis yg aman Staf diberi penyuluhan mengenai fasilitas bagaimana cara mengurangi risiko & cara utk memantau & melaporkan situasi-2 yg berisiko Ada kriteria kinerja  utk mengevaluasi sistem penting & mengidentifikasi perbaikan yg diperlukan Langkah manajemen Siklus Risiko  6. MASALAH PENYIMPANAN B3 & LIMBAH 3 1.

922 Tahun 2008 tentang Pedoman Teknis Pembagian Urusan Pemerintah. 44 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit 4. toko di RS)  RS wajib pastikan unit tsb patuh manajemen fasilitas & rencana RS sbb :  Keselamatan & keamanan  Manajemen bahan-2 berbahaya  Manajemen keadaan darurat  Penanganan kebakaran  Upaya Mllui Standarisasi  8. Arti logo KARS 1.  12. antara Pemerintah. bank. Staf dan Pegawai RS dapat menjelaskan : 1. Warna merah adalah wujud dari independensi yang menjunjung tinggi integritas dan kredibilitas profesionalisme KARS sebagai lembaga akeditasi independen. Undang-Undang No. KOMISI AKREDITASI RUMAH SAKIT (KARS) 2012 GOALS  10. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan 3. Nama organisasi : Komisi Akreditasi Rumah Sakit. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintah antara Pemerintah. Peraturan Pemerintah No. 5. Penyusunan SPO MFK 5 4. Identifikasi : a. Standar Akreditasi Rumah Sakit (SARS) a. Unit independen di RS (kantin. 7. Kebijakan Ttg MFK 5 b. DASAR HUKUM 1. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran 2. Sasaran SARS b. 3. Arti logo KARS 2. Undang-Undang No. Identifikasi Standar dan Elemen MFK 3.Pimpinan. Kepmenkes No. Rencana Implementasi & Evaluasi dg manajemen PDCA  9. Penyusunan Dokumen : a. Tujuan RS . Propinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota 6. Pemerintah Daerah Propinsi & Pemda Kab/Kota. Permenkes No 12 Tahun 2012 . Penyusunan Panduan dan d. Standar MFK 5 2. Penyusunan Pedoman Ttg MFK 5 c. Logogram :  Huruf Q : Quality  huruf S : Safety  Gambar Panah : menggambarkan kesinambungan pelayanan  11. 4. Standar MFK dalam Sasaran SARS c. Peraturan & Perundangan Ttg MFK 5 b. UU No. Nuansa warna merah adalah wujud dari dinamika profesionalisme yang akan terus berkembang maju di masa depan.

RS di Masa Mendatang Memberikan Yanmed Prima Kualitas layanan/mutu • Lebih peka pada kebutuhan masyarakat • Patien Safety Oriented • Kompetitif • Menyediakan layanan baru sesuai perkembangan iptek • Lebih efektif • Tarif lebih .E. 147 Tahun 2010 tentang Perizinan RS 8. PERATURAN MENTERI KESEHATAN No. tentang akreditasi 7. 44 /2009: RUMAH SAKIT 1) Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan RS wajib dilakukan akreditasi secara berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali 2) Akreditasi RS sebagaimana dimaksud pd ayat (1) dilakukan oleh suatu lembaga independen baik dari dalam/luar negeri berdasarkan standar akreditasi yg berlaku 3) Lembaga independen sbgmana dimaksud pd ayat (2) ditetapkan oleh Menteri 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai akreditasi RS sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Permenkes No. 1953 – 1965 Standar diubah 6 kali.pdf Kewajiban RS dan Pimpinan RS thd Sarana . 1917 Dr.SDM RS & Hak Pasien  15.A. Bimtek Surveior Persiapan Akreditasi. KARS dari 1995 – 2007 : 6 x perubahan standar Awal Akreditasi di Dunia 17  17. UU NO. AKREDITASI DI INDONESIA AKREDITASI NASIONAL 2007 AKREDITASI NASIONAL 2012 AKREDITASI INTERNASION AL Sistem Jaminan Sosial Nasional_Kesehatan Dikawal dg Peraturan Pemerintah(STANDAR)  18. 1918 The American College of Surgeons menyusun Hospital Standardization Programme. 340 Tahun 2010 tentang Klasifikasi RS  13.Codman (Ahli Bedah). & ayat (2) diatur dgn Peraturan Menteri  14. 12 Tahun 2012  Pasal 3 : Ayat 3  Rumah sakit wajib mengikuti akreditasi nasional Ayat 5  Rumah Sakit yang akan mengikuti akreditasi internasional harus sudah mendapatkan status akreditasi nasional Ayat 7  Rumah sakit baru yang telah memperoleh izin operasional dan beroperasi sekurang kurangnya 2 tahun wajib mengajukan permohonan akreditasi  16. 1951 Terbentuknya Joint Commission on Accreditation of Hospital. Permenkes No.

Sasaran PelayananberFokus Pasien 1. Pengurangaan resiko Infeksi 6. I. Penurunan Angka Kematian bayi & Peningkatan Kesehatan Ibu 2. Pelayanan Pasien 5. Sasaran Manajemen 1. Penurunaan Angka Kesakitan TB . III. Pendidikan Pasien dan Keluarga (PPK)  22. Keamanan Obat 4. Manajemen dan Penggunaan Obat (MPO) 7. Pelayanan Anastesi dan Bedah (PAB) 6. Kualifikasi dan Pendidikan Staf (KPS) 6. terjangkau • Menciptakan kepuasan pasien . Penurunaan angka Kesaakitan HIV/AIDS 3. Akses ke Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan (APK) 2. Asesmen Pasien (AP) 4. AKREDITASI RUMAH SAKIT  20. masyarakat RS Berkelas Dunia Standar Akreditasi RS Deming : Mutu =apapun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen Crosby : Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah  19. Komunikasi yang efektif 3. Ketepatan Identfikasi pasien 2. II. Tata Kelola Kepemimpinaan dan Pengarahan (TKP) 4. Sasaran Keselamatan pasien (Patient Safety) 1. Hak Pasien dan Keluarga (HPK) 3. Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) 5. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) 3. Keamanan operasi 5. provider . Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) 2. IV. Manajemen Komunikasi dan Informasi  23. Sasaran Millenium Development Goals 1. Pengurangan Resiko pasien jatuh  24. STANDAR AKREDITASI RUMAH SAKIT VERSI 2012 Kelompok Standar Pelayanan berfokus pada pasien SASARAN II: SASARAN IV : MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS (3 bab) SASARAN I: SASARAN III: Sasaran Keselamatan Pasien RS STANDAR AKREDITASI RUMAH SAKIT Kelompok Standar Manajemen Rumah Sakit  21.

 25. Menciptakan lingkungan internal RS yang kondusif untuk pe-nyembuhan dan pengobatan pasien sesuai standar struktur. Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) 14. Keselamatan---Suatu tingkatan keadaan tertentu dimana gedung. atau akses serta penggunaan oleh mereka yang tidak berwenang  30. pengrusakan dan kerusakan. kepuasan dan perlindungan masyarakat 2. Peningkatan mutu dan keselamatan pasien (PMKP) 5. Umum : meningkatkan mutu pelayanan RS Khusus : 1. Sebagai alat bagi pemilik dan pengelola RS meng-ukur kinerja RS 2. Sasaran keselamatan pasien rumah sakit (SKP) 2. Manajemen Komunikasi dan Informasi (MKI) 12. Bahan berbahaya----- penanganan. Memberi pengakuan bagi RS yang telah menerapkan standar 3. Pendidikan pasien dan keluarga (PPK) 4. Keamanan----Proteksi dari kehilangan. proses dan hasil (outcome) Tujuan Akreditasi RS MANFAAT AKREDITASI RS 1. staf dan pengunjung b. Memberi jaminan. 29 Bimbingan dan Panduan Serta Pustaka ttg Akreditasi  29. Kualifikasi dan Pendidikan Staff (KPS) 13. penyimpanan dan penggunaan bahan radioaktif dan bahan . Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB) 10. Penilaian 1. Akses Pelayanan dan Kontinuitas Pelayanan (APK) 7. RENCANA STRATEGIS Thd MFK Rumah Sakit 1. HASIL PENILAIAN AKREDITASI BARU NASIONAL  26. Melindungi masyarakat dari pelayanan sub standar / malpraktek 3. Hak pasien dan keluarga (HPK) 3. Tata Kelola. Keselamatan dan Keamanan a. Millenium Development Goal’s (MDG’s) 6. Manajemen Penggunaan Obat (MPO) 11. RENCANA STRATEGIS Thd MFK Rumah Sakit 2. Pelayanan Pasien (PP) 9. Asesmen Pasien (AP) 8. Meningkatkan citra RS dan kepercayaan masyara-kat  28. halaman/ground dan peralatan rumah sakit tidak menimbulkan bahaya atau risiko bagi pasien. Kepemimpinan dan Pengarahan ( TKP) Mayor Minor Pratama Madya Paripur na Mayor Minor Utama Mayor Minor  27.

Keputusan Manajemen upaya2 tsb Bukan krn Akreditasi. MEMBUAT PANDUAN / MEMBUAT SPO  36. Respon 9. TELUSUR RISIKO Kelola B3 33 1. LANGKAH TEHNIS olh RS/Unit Kerja PENYUSUNAN DOKUMEN MFK 5 1. Tatacara cara penyimp. LANGKAH TEHNIS PENYUSUNAN DOKUMEN MFK 5 6. YanFar & Tempt tidur px  34. LANGKAH PIMPINAN RS/Unit Kerja I. TELUSUR Risiko FASILITAS Gudang. MEMBUAT PEDOMAN 5. Keluarga . 3. Permasalahan B3 DI di R. MEMBUAT KEBIJAKAN RUMAH SAKIT 4. PELAKSANAAN  Bagaimana Rumah Sakit Menjalankan Tugas dan Fungsi Patuh/Sesuai Prosedur dan Pengawasan untuk Memperkecil Dampak dan Risiko terhadap Psien. RENCANA  RS Lakukan IDENTIFIKASI Resiko Lingkungan spesifik apa . sludge IPAL di luar TPS LB3 5. Yg akan Merugikan RS ? II. Pelaksanaan 8. dan Lingkungan hidup RS  32. Penyimpanan tidak per jenis LB3 2. berbahaya lainnya harus dikendalikan dan limbah bahan berbahaya dibuang secara aman. Kapasitas TPS LB3 tdk sesuai dg jml LB3 yg dihasilkan 4. PENDIDIKAN / EDUKASIONAL  Bagaimana Rumah Sakit Melakukan Edukasi Staf Tentang Peranan dan Tanggung Jawab thd MFK III.Produksi 6. Pendidikan (Diklat) 7. Sarana. Dsb. “Flow chart” Langkah Strategi KEBIJAKAN PEDOMAN PANDUAN SPO Satu Kegiatan Instruksi kerja RS / Unit Kerja Rumah Sakit UU & Peraturan Nas SARS Standar Profesi PARS J C I KAR S  35. Melainkan sbg Bagian RENSTRA RS  31. Penyimp. Staf. LB3 tdk benar 3. 1 2 4 3 5  33. IDENTIFIKASI PERATURAN & PERUNDANGAN NASIONAL 3. Monitor 10. IDENTIFIKASI STANDAR DAN ELEMENNYA 2. Perbaikan LANGKAH IMPLEMENTASI PERENCANAAN DG PDCA SIKLUS (Lihat Ganchart Kegiatan ) .

6. 1. Rencana untuk alat dan prosedur perlindungan yang benar dalam penggunaan.2. 9. atau ketentuan persyaratan lainnya disusun dan diterapkan. (lihat juga AP. & EP 3.1. 10.6.1.6. dan AP. EP 4. 37.1. 1. 11.5. 6.3 Peralatan medis MFK 8.6. AP. (lihat juga AP. & AP. tentang inventaris. daftar terbaru/mutakhir dari bahan berbahaya tsb di RS. 9. meliputi setiap izin. Renc utk penanganan. Rencana untuk mendokumentasikan persyaratan. penanganan.5. 7. lisensi. EP 4. AP.2.6. dan AP. (lihat juga AP. EP 5. EP 3)  40. 10. EP 4) 5. 7. 7. 8.2 Sistem utilisasi (Sistem pendukung) MFK 9.6. Rencana untuk penanganan limbah yang benar di dalam rumah sakit dan pembuangan limbah berbahaya secara aman dan sesuai ketentuan hukum disusun dan diterapkan. EP 5. penyimpanan & penggunaan yg aman disusun & diimplementasikan/diterapkan (lihat juga AP. Identifikasi MFK 5 ( B3) Apa yg hrs dilakukan MFK5 ? B-3 • Perencanaan • Pendidikan/Eduka si • Pelaksanaan • Respond • Monitor • Perbaikan  39. RS mengidentifikasi bahan & limbah berbahaya & memp.2. Identifikasi Elemen MFK 5 3.2. 4.5.6.5. 1. 4.1. Maksud& Tujuan. 3.6.2 Bahan berbahaya MFK 5 Kesiapan menghadapi bencana MFK 6.6. 4.5. dan AP.2. paparan (exposure) dan insiden lainnya disusun dan diterapkan. ada tumpahan dan paparan disusun dan diterapkan.2. 7. Rencana untuk pemasangan label pada bahan dan limbah berbahaya disusun dan diterapkan. 8. EP 5)  41.1. Bila terdapat unit independen dalam fasilitas pelayanan pasien yang . (lihat juga AP5. EP 3. Elemen Penilaian MFK 5 1.6. 11.6. EP 1. 3.1. 11. Identifikasi Elemen MFK 5 Standar MFK 5  RS mempunyai renc. penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya serta pengendalian dan pembuangan bahan dan limbah berbahaya.3  38.2 Pendidikan staf MFK 11. 10.5.1 Pengamanan kebakaran MFK 7.1. Identifikasi Elemen MFK 5 6. EP 5) 8. AP.1 Keselamatan dan keamanan MFK 4.5. Kepemimpinan dan perencanaan MFK 1. 2.1. EP 1)  identifikasi risiko 2. Rencana untuk pelaporan dan investigasi dari tumpahan.

5.  42. Identifikasi Peraturan & Perundangan Pengelolaan B3 & Limbah Tentang UU 32/2009 Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup PP 74 /Tahun 2001 Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Bacun (B3) PP 18 /199 jo PP 85/199 PP 18 /199 jo PP 85/199 Kepdal 01/BAPEDAL/09/95 Tata Cara & Persyaratan Teknis Penyimpanan & Pengumpulan Limbah B3 Kepdal 02/BAPEDAL/09/95 Dokumen Limbah B3 Kepdal 03/BAPEDAL/09/95 Persyaratan Teknis Pengolahan Limbah B3 Kepdal 04/BAPEDAL/09/95 Tata Cara Penimbunan Hasil Pengolahan. Program Elemen Unit Terkait Telah Ada /Belum Ada 24 identifikasi B3 di RS 1. Identifikasi Elemen MFK 5 Untuk Unit Kerja  43. 1. (lihat juga AP. Rumah sakit mengidentifikasi bahan dan limbah berbahaya dan mempunyai daftar terbaru/mutakhir dari bahan berbahaya tersebut di rumah sakit. EP 1.Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup - Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup  45. KMK Pedoman TTG Pengelolaan B3 2. Rencana untuk penanganan limbah yang benar di dalam rumah sakit dan pembuangan limbah berbahaya secara aman dan sesuai ketentuan hukum disusun dan diterapkan. 2.  NASIONAL  PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN TTG Pengelolaan B3 Undang-undang Peraturan Pemerintah PMK.5. rumah sakit memastikan bahwa unit tersebut mematuhi rencana penanganan bahan berbahaya. dan AP. Identifikasi Peraturan Nasional UU 32 Tahun 2009 • PP 74/Thn 2001 • PP 18 jo PP 85 Tahun 1999 Peraturan Lainnya Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan (Pasal 58 – 61) • Pengelolaan B3 • Pengelolaan Limbah B3 - Keputusan Kepala Bapedal . EP 4) 28 5. RS IDENTIFIKASI PERATURAN & PERUNDANGAN NASONAL  44. (lihat juga AP. akan disurvei.6. EP 1) 27 pelatihan penanganan B3 4. .2. No El. Persyaratan Lokasi Bekas Pengolahan dan Lokasi Penimbunan Limbah B3 .6. 2.6.

2 1.5 MFK.9. Ke pemimpinan dan cara bertindak TTG Pengelolaan B3 Pengertian Kebijakan .doc 3. IDENTIFIKASI PERATURANIDENTIFIKASI REGULASI _ ANALISA GAB DAN RTL KELOLA B3. Penyusunan Dokumen Akreditasi  50.xlsx  49.P Lebih ketat dari Standar ( ya/tidak ) Apakah ada badan Regulator yang melakukan inspeksi on-site untuk menilai kepatuhan melaksanakan P. Kriteria) Pengelolaan Limbah B3 PermenLH 33/2009 Tata Cara Pemulihan Kontaminasi Limbah B3 PP 27 Tahun 2012 Izin Lingkungan  47. P yang berlak u (Y/T) Jika Ya Nama Peraturan Perundangan (PP) Ringkasan P.xlsx 2.1 MFK. 46. TABEL IDENTIFIKASI PERATURAN & STANDAR 1. LIHAT TABEL)  48.4. 2 MFK.P MANAJEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN (MFK) MFK. • Peraturan • Regulasi TTG Pengelolaan B3 Pedoman tata Naskah TTG Pengelolaan B3 PEDOMAN TATA NASKAH AKREDITASI DI RSDS MEI 2013PEDOMAN TATA NASKAH.  Kebijakan TTG Pengelolaan B3 Rangkaian Konsep dan Azas yang menjadi garis besar dan dasar rencana dalam pelaksanaan suatu pekerjaan. Nama Std P . IDENTIFIKASI PERATURANIDENTIFIKASI PERATURAN MFK DAN PROSES SUSUN DOKUMEN MFK 5. Prosedur. Identifikasi Peraturan & Perundangan Pengelolaan B3 dan Limbah Tentang Kepdal 05/BAPEDAL/09/95 Simbol dan Label Kepdal 68/BAPEDAL/05/94 Tata Cara Memperoleh Izin Pengelolaa Limbah B3 Kepdal 02/BAPEDAL/01/98 Tata Laksana Pengawasan Pengelolaan Limbah B3 PermenLH 03/2007 Fasilitas Reception Facility (Penyimpanan) di Pelabuhan PermenLH 02/2008 Pemanfaatan Limbah B3 PermenLH 18/2009 Tata Cara Perizinan Limbah B3 PermenLH 30/2009 NSPK (Norma.2013. (Hasil Identifikasi STANDAR dan Peraturan & Perundangan TTG Pengelolaan B3 dan Limbah .P Bagaimana kaitannya dengan standar Apakah isi P. 2. Standar.

Pedoman TTG Pengelolaan B3 Pedoman adalah naskah dinas yang memuat acuan yang bersifat umum di lingkungan instansi pe merintah yang perlu dija barkan ke dalam petunjuk operasional / teknis dan pe nerapannya disesuaikan dg karakteristik instansi / organisasi ybs (RSDS) TTG Pengelolaan B3 Pengertian Pedoman  53. MOESTOPO NO. 51.  RUMAH SAKIT  REGULASI TTG Pengelolaan B3  Kebijakan Pelayanan RS  Pedoman Pengorganisasian  Pedoman/Panduan Pelayanan  SPO  RKA/RBA  Revisi / Penyesuaian Dokumen yg sdh ada TTG Pengelolaan B3 3. Pedoman TTG Pengelolaan B3 Kumpulan ketentuan dasar yg memberi arah bagaimana sesuatu dilakukan . petunjuk. dimana .langkah kegiatan untuk menyelesaikan proses kerja tertentu.5501012 S U R A B A Y A PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. SOETOMO SURABAYA . hal pokok yg menjadi dasar (pegangan. MAYJEN PROF. SOETOMO Jl. (031) 5501011 . dsb) untuk menentukan atau melaksanakan sesuatu (KARS) TTG Pengelolaan B3 Pengertian Pedoman  52. Panduan TTG Pengelolaan B3 Buku Petunjuk TTG Pengelolaan B3 Pengertian Panduan  54. Setiap langkah kegiatan harus dinyatakan dengan kalimat perintah / instruksi. ( PERINTAH AKTIF UTK DILAKSANAKAN ) !!! TTg Pengelolaan B3 Pengertian SPO  55. TTg Pengelolaan B3 Pengertian SPO  56. SPO TTG Pengelolaan B3 Prosedur = bagian ini merupakan bagian utama yang menguraikan langkah . PEMERINTAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr. Membuat Kebijakan RS (Dokumen Akreditasi Tingkat RS)  57. SPO TTG Pengelolaan B3 merupakan flow charting dari suatu kegiatan yang meng gambarkan dengan jelas tentang siapa melakukan apa . Dr. dan kapan.6-8 TELP.

FORMAT DOKUMEN MACAM DOKUMEN 1. FORMAT S P O MACAM DOKUMEN 1. Kesela matan Keama nan B 3 & Limba h Pencegaha n kebakaran Alat Medis & Labora torium utilita s Manaj Kedarurata n Rencan a MARE T SD JUNI Diklat . Menyusun SPO (Dokumen Akreditasi langkah-langkah kegiatan untuk menyelesaikan proses kerja tertentu)  61.PENANGGULANGAN KONTAMINAN B3 TERPAPAR PD KULIT DAN RAMBUT EDIT 1. NOMOR : TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA & BERACUN (B3) .docx • SPO TTG B3 BIMB MFK7.  Unit Kerja  REGULASI (Ketentuan Tertulis) TTG Pengelolaan B3  Kebijakan Pelayanan di Unit Kerja  Pedoman Pengorganisasian  Pedoman Pelayanan  SPO  Program  Revisi / Penyesuaian Dokumen yg sdh ada TTG Pengelolaan B3 4. PENDIDIKAN (DIKLAT ) TTG MFK Pendidikan/Edukasi Bagaimana RS melakukan edukasi staf tentang peranan dan tanggung jawab terhadap MFK ?  63. SOETOMO  58. Menyusun Pedoman (Dokumen Akreditasi Tgkt Unit Kerja)  59. PROTAP PENGADAAN B3 EDIT 1 FEB 2013.  Unit Kerja  REGULASI (Ketentuan Tertulis) TTG Pengelolaan B3  Kebijakan Pelayanan di Unit Kerja  Pedoman Pengorganisasian  Pedoman Pelayanan  SPO  Program  Revisi / Penyesuaian Dokumen yg sdh ada TTG Pengelolaan B3 5. KEBIJAKAN 2.SOETOMO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.docx • SPO TTG B3 BIMB MFK2. PANDUAN ISI FORMAT • PEDOMAN TATA NASKAH AKREDITASI DI RSDS MEI 2013  60. PROTAB PENYIMPANAN B3 EDIT 1 FEB 2013 28. S P O ISI FORMAT • SPO TTG B3 BIMB MFK1.doc • SPO TTG B3 BIMB MFK5. PEDOMAN 3.docx  62. 6.PENANGGULANGAN KONTAMINAN B3 PD MATA PEKERJE EDIT 1 FEB 2013 28. RADIOAKTIF DAN PELUMAS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH Dr.

pengunjung dan staf . N O IDENTIFIKASI PERATURAN & PERUNDANGAN TTGMFK 5 DAN MEMBUAT DOKUMEN PERAT URAN NASIO NAL STANDA R DAN ELEME N KEBIJA KAN RS PEDO MAN RS PANDU AN / SPO GANDA MATERI DIKLAT NARA SUMBER PIC 1 RENCAN A 2 DIKLAT 3 PELAKSA NAAN 4 RESPON 5 MONITO R 6 PERBAIK AN Jadwal MANAJEMEN SIKLUS TTG B3  65. Peta Risiko. TPS & APD diimplementasikan Peta Lokasi B3 SPO Tersusun TPS & APD  70. Kebijakan 2. SPO .  pendokumentasian. Proses Pelaksanaan  inventarisasi bahan & limbah berbahaya  penanganan. MARE T SD JUNI Pelaks a Naan MARE T SD JUNI Respo n MARE T SD JUNI Monito r MARE T SD Jadwal MANAJEMEN SIKLUS TTG B3  64. 7. paparan (exposure) dan insiden lainnya. Pedoman 3.  pelaporan dan investigasi dari tumpahan.  Pelaksanaan di Unit Kerja  Menggunakan SPO masing2 TTG Pengelolaan B3  69. Diklat & Diskusi Peserta  67. SPO 4. meliputi setiap izin dan perizinan/lisensi atau ketentuan persyaratan lainnya.Masker & Handschoen Label High Alert . penyimpanan dan penggunaan bahan berbahaya. Program  68. PELAKSANAAN RENCANA TTG MFK Pelaksanaan Prosedur dan pengawasan (fisik dan manusia) apa yang dilaksanakan oleh rumah sakit untuk memperkecil dampak dari risiko terhadap pasien. Implementasi Label High Alert .  MSDS  pemasangan label yang benar pada bahan dan limbah berbahaya.  peralatan dan prosedur perlindungan. pada tumpahan (spill) atau paparan (exposure). Train of The Trainer (TOT) olh Pembimbing dr KARS  66.  pembuangan limbah berbahaya yang benar.Pelaksanaan: 1.

dll) 1. melaksanakan program. 6. b. c. . merencanakan semua aspek dari program. insiden. mendidik staf. pengorganisasian dan pengeleloaan secara konsisten dan terus-menerus Data insiden dipergunakan pengembangan/peningkatan program  76. melakukan evaluasi dan revisi program secara berkala. MANAJEMEN FASILITAS & KESELAMATAN PROGRAM MANAJEMEN RISIKO FASILITAS PERLU PANITIA RISIKO FASILITAS/ INDIVIDU YG MENGAWASI PANITIA  BUAT PROGRAM PENGAWASAN DATA-DATA INSIDEN KESELAMATAN KERJA PROGRAM PENGAWASAN a. Implementasi Penyimpanan B3 & Limbah di Gudang Penandaan B3  72. menyelenggarakan pengorganisasian dan pengeleloaan secara konsisten dan terus-menerus  Pengawasan thd Implementasi SPO & Insiden  Pencatatan (Data) TTG Pengelolaan B3  75. mendidik staf. 71. pintu/pintu emergency. jalur evakuasi. memberikan laporan tahunan g. e. 3. 5. memberikan laporan tahunan ke badan pengelola tentang pencapaian program 7. Respon Prosedur apa yang dilaksanakan RS atas sebuah insiden/kegagalan MFK ? Bagimana. manajemen peralatan. tangga. PEMERIKSAAN FASILITAS No RUANGAN KONDISI (atap/langit. dan/atau kegagalan MFK dilaporkan di dalam rumah sakit ? 8. memonitor dan melakukan uji coba program. merencanakan program. melaksanakan program. MPO. kapan dan kepada siapa masalah. d. evaluasi dan revisi program. memonitor & uji coba program. perkabelan. Ruang Bayi Keamanan . MONITOR PELAKSANAAN TTG MFK  74. ventilasi. RS MELAKUKAN PENGAWASAN 1. f. rambu-2/label. RESPON PELAKSANAAN TTG MFK  73. 4. lantai. 2. penerangan. Monitor  Bagaimana kinerja MFK (kegiatan manusia dan komponen fisik) di monitor rumah sakit ?  Kegiatan monitor apa yang telah dilakukan dalam waktu 12 bulan terakhir ?  Metode :  Kuesioner  Wawancara  Observasi 9. kunci.

MKI. HPK. Perbaikan Masalah MFK apa yang sekarang di analisis ? Tindakan apa telah dilakukan sebagai hasil dari kegiatan monitoring MFK ? 10. Laboratorium Keamanan . Ruang Anak Keamanan . Gudang Farmasi Penyimpanan B3. Gudang Umum Penyimpanan B3. Peraturan & Perundangan yg Mewajibkan RS & Pimpinan ttg Pelayanan Kesehatan & Hak Pasien 2. rambu-2 10. PERBAIKAN PELAKSANAAN TTG MFK  80. PMKP/data. Gudang tempat meyimpan oksigen Penyimpanan B3. MFK 2. MKI. MFK  77. HPK. MFK 6. MFK 4.docx  79. Standar & Elemen yg digunakan RS 3. Dok tempat penerimaan Barang PEMERIKSAAN FASILITAS (MFK)  78. Langkah Strategis RS dkm . Radiologi Keamanan . No Sarana Fungsi 9. HPK.LAPORAN AUDIT ITERNAL IRD LT1 _LABORATORIUM. rambu-2 13. PMKP/data. PMKP/data. rambu-2 12.docx 2. PENUTUP RS/Unit Kerja/Staf Telah Memahami ttg 1. rambu-2 11. Ruang OK Keamanan . PMKP/data. HPK. MPO. MFK 3. AUDIT INTERNAL MFK5 _B3PDT3. HASIL TELUSUR DI IRD & GDC 1. Ruang ICU Keamanan . MPO. Gudang Tempat menyimpan bahan berbahaya Penyimpanan B3. MKI. PERBAIKAN RESPON MONITORING PELAKSANAAN DIKLAT PERENCANAAN Manajemen Siklus Risiko Secara Konsisten  83.LAPORAN AUDIT ITERNA2 PDT_PK. MPO. AUDIT INTERNAL MFK5 _B3IRD1. MKI. MFK 5. MKI. PMKP/data. Diskusi Rencana Perbaikan dg Manajemen & Pembimbing  82. PMKP/data. MKI. Kesela matan Keama nan B 3 & Limba h Pencegaha n kebakaran Alat Medis & Labora torium utilita s Manaj Kedarurata n Rencan a JULI SD SEPT Diklat JULI SD SEPT Pelaks a Naan JULI SD SEPT Respo n JULI SD SEPT Monito r JULI SD Jadwal rencana Perbaikan thd masing2 MFK  81.

Rencana Tindak lanjut & Perbaikannya  84. Panduan/SPO 6. Kebijakan b. Pelaksanaannya dg mengimplementasikan : a. Alarm . Respon & Pengawasannya 9. SPO yg digunakan b. Contoh Simbol B3 . SARS 4. Deteksi Api & APAR  85. Pedoman c. Pedoman Penyusunan Dokumen Akreditasi: a. Melalui Edukasi (Diklat) untuk sosialisasi SARS 7. Peralatan Pelindung diri (APD) c. Contoh Simbol B3  86. Investigasinya & Pelaporannya pd kejadian Exposure 8.