Air Bersih dan Diare

Oct 19th, 2008 | By admin2 | Category: Fitur, Higiene dan Sanitasi

Siapa yang tidak pernah terserang diare? Kebanyakan di antara kita kadang mengalaminya,
namun tidak sedikit yang meremehkan penyakit ini. Padahal, kenyataannya diare itu bisa
mematikan. Data dari Departemen Kesehatan menunjukkan, dari 1.000 bayi yang lahir, 50 di
antaranya meninggal dunia karena diare. Di seluruh dunia, setiap tahun 1,6 juta anak meninggal
dunia karena diare. Ini artinya setiap 30 detik, satu anak meninggal dunia karena sakit perut
ini.

Diare bukan sembarang sakit perut. Penyakit ini menyerang anak-anak karena mereka biasanya
mengonsumsi air minum yang terkontaminasi kotoran manusia. Seorang anak balita di Indonesia
bisa terkena diare satu-dua kali dalam setahun.

Bagi masyarakat miskin perkotaan, air bersih adalah sesuatu yang terbilang mewah. Karena tidak
bisa mengakses air bersih inilah, mereka terpaksa menggunakan air sungai untuk segala
keperluan. Termasuk mandi, buang air, dan bahkan mencuci pakaian dan mencuci peralatan
dapur, seperti yang dilakukan ibu-ibu di Manggarai Utara, Jakarta Selatan, yang tinggal di
bantaran Sungai Ciliwung.Mereka hanya membeli air untuk minum dan masak. Untuk satu
ember air, mereka harus membayar Rp 1.000. Harga ini terbilang mahal bagi mereka.

Ati (29), warga RT 01 RW 12 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara,
setiap hari mau tidak mau terpaksa membeli air. Begitu pun Suherni, yang tinggal di gang sempit
itu, selama dua tahun ini juga kesulitan mengakses akses air bersih. Setiap hari Ati membeli satu
gerobak air yang terdiri atas enam jeriken. Setiap jeriken dihargai Rp 250, sehingga untuk satu
gerobak ia harus membayar Rp 1.500. Air ini ia pakai untuk mencuci pakaian, mencuci piring,
memasak, minum, dan mandi. Terkadang ia mandi dan buang air besar di MCK (sarana untuk
mandi, cuci, dan kakus) umum yang ada di dekat rumahnya. Setiap kali datang ke MCK, ia harus
membayar Rp 500.

Suherni yang tinggal di RT 01, RW 12 Kelurahan Penjaringan. Kecamatan Penjaringan, dalam
seminggu harus merogoh kocek Rp 20.000 untuk membeli air keperluan sehari-hari. Ia tidak bisa
memakai air sumur karena umumnya sumur di wilayah Penjaringan agak berbau. Warga di
Penjaringan memang tidak mengakses air sungai karena sungai yang ada di sekitar mereka
mampet, berwarna hitam, dan berbau sehingga sangat tidak layak untuk dipakai.

Namun, Charles Surjadi dari Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Atma Jaya Jakarta pernah
menyaksikan warga Penjaringan menyikat gigi dengan menggunakan air yang sangat hitam. Ini
terpaksa mereka lakukan karena penghasilan mereka terbatas. Bagi mereka, yang terpenting ialah
konsumsi makanan. Padahal, air pun sangat berpengaruh terhadap kesehatan.

Keterbatasan lahan bagi warga yang menyewa rumah petak di wilayah Penjaringan ini
memunculkan “bisnis” MCK bagi yang memiliki modal. Bahkan, seorang warga di sana punya
MCK umum di lantai dasar rumahnya, sedangkan rumah tinggalnya sendiri berada di lantai atas.

menurut Aziz. musim. terutama di level ekonomi bawah. Penanganan makanan yang tidak benar juga menjadi penyebab diare. Mencuci makanan mentah adalah hal yang umum dilakukan masyarakat Indonesia. taruhlah seperti sungai atau empang. keracunan makanan. Misalnya. yang digunakan secara bergantian. tanda-tanda pertumbuhan bagi bayi. sebelum dialirkan ke sungai. Meski demikian. akan melihat bahwa sampah dan lalat menjadi penyalur penularan diare yang utama. Masyarakat peri-urban menjadikan kepraktisan dan norma umum (semua orang melakukannya) sebagai alasan utama untuk menyalurkan kotorannya ke sungai. padahal di tangan mereka banyak kuman yang menempel. Sangat sedikit orangtua yang mengajari anaknya mencuci tangan dengan sabun. Bahwa masyarakat rural tak memiliki septic tank umumnya karena alasan ekonomi. penghasilan rata-rata bisa Rp 60. Akan tetapi. Penyebab Utama Diare Hasil riset USAID-ESP yang dipaparkan oleh Nona Pooroe Utomo mengonfirmasikan bahwa perilaku kebersihan dan sanitasi yang buruk menyebabkan diare. Perilaku umum adalah saat mencuci tangan tidak menggunakan sabun. Khusus bagi masyarakat rural dan peri-urban. Mereka yang melihat hubungan antara kebersihan dan diare. atau faktor-faktor klenik. masyarakat umumnya memiliki beberapa pilihan akses. masyarakat urban tidak menyukai septic tank karena takut terjadi kontaminasi terhadap air tanah serta tidak tersedianya layanan yang baik untuk penyedotan septic tank. Selain air yang terkontaminasi. penyebab diare antara lain karena masyarakat tidak disiplin menerapkan perilaku bersih. yang bertugas menjaga MCK umum tersebut. Tidak heran jika sungai-sungai di Indonesia bisa disebut sebagai “jamban raksasa” karena masyarakat Indonesia pada umumnya menggunakan sungai untuk buang air.Dalam sehari. emosi. Faktor kognitif. banyak orang cenderung meyakini bahwa penyebabnya adalah hal-hal yang tak terkait dengan perilaku bersih dan sanitasi. dan ekonomilah yang menjadi dasar perilaku ini. banyak orang melakukannya dengan cara yang tidak benar sehingga berisiko terkontaminasi bakteri kembali. . Masyarakat urban di perkotaan yang tinggal di gang-gang sempit atau rumah-rumah petak di Jakarta umumnya tidak mempunyai lahan besar untuk membangun septic tank. masih ada yang tidak mau mencuci makanan menggunakan air mengalir. Sejumlah hambatan dalam sanitasi terkuak lewat studi yang dilakukan USAID-ESP.000. mereka juga masih memanfaatkan “toilet terbuka”. Bahkan. Faktor Kognitif Dalam hal pemanfaatan sanitasi. tetapi lebih memilih menggunakan air dalam baskom. mereka biasanya tak memiliki jamban. meski memiliki toilet di rumah. Karena itu.

Kalau kemudian mereka memiliki sumur. Jadi. Kala hujan tiba.multiply. masyarakat miskin bisa mendapatkan air gratis…. Sumber: http://elokdyah. terutama anak-anak. benar kiranya pesan kunci dari Laporan Pembangunan Manusia 2006. yang menyatakan bahwa masyarakat miskin membayar lebih banyak untuk air dan tidak tersedianya sanitasi dibayar dengan kematian.com/journal?&page_start=60 . Tidak heran jika kemudian banyak yang terserang diare. umumnya banyak sumur yang tidak “berbibir” alias tak diberi pembatas semen. kotoran yang ada di tanah terbawa oleh air hujan masuk ke dalam sumur. Mestinya.

langkah-langkah untuk memotivikasi orang untuk mengadopsi perilaku hygiene termasuk:  Memilih beberapa perubaha perilaku yang diharapkan dapat diterapkan  Mencari tahu apa yang dirasakan oleh kelompok sasaran mengenai perilaku tersebut melalui diskusi terfokus. Mengidentifikasikan perubahan perilaku masyarakat. Tenaga kesehatan masyarakat diharapkan mampu mengambil bagian dalam promosi PHBS sehingga dapat melakukan perubahan perilaku masyarakat untuk hidup berdasarkan PHBS. menarik yang dirancang untuk dikomunikasikan lewat sarana lokal seperti poster. 1997. diinginkan. Bersih. Tenaga kesehatan masyarakat telah mempunyai bekal yang cukup untuk dikembangkan dan pada waktunya disumbangkan kepada masyarakat dimana mereka bekerja. untuk itu diperlukan pesan- pesan sederhana. Program ini dimulai dari apa yang diketahui. 2008 | By admin2 | Category: Higiene dan Sanitasi Program promosi perilaku hidup bersih dan sehat yang biasa dikenal PHBS/Promosi Higiene merupakan pendekatan terencana untuk mencegah penyakit menular yang lain melaui pengadopsian perubahan perilaku oleh masyarakat luas. WHO. Program promosi PHBS harus dilakukan secara profesional oleh individu dan kelompok yang mempunyai kemampuan dan komitmen terhadap kesehatan masyarakat serta memahami tentang lingkungan dan mampu melaksanakan komunikasi. positif. yang merupakan pendekatan terencana untuk mencegah penyakit diare melalui pengadopsian perubahan perilaku oleh masyarakat secara meluas. dalam tahap ini akan dilakukan identifikasi perilaku beresiko melalui pengamatan terstruktur. Dalam mewujudkan PHBS secara terencana. diinginkan dan dilakukan masyarakat setempat dan mengembangkan program berdasarkan informasi tersebut (Curtis V dkk. UNICEF.Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Program PHBS Oct 31st. Memotivasi perubahan perilaku masyarakat. leaflet. wawancara dan melalui uji coba perilaku  Membuat pesan yang tepat sehingga sasaran mau melakukan perubahan perilaku . Sehingga dapat ditentukan cara pendekatan baru terhadap perbaikan hygiene sehingga diharapkan anak-anak terhindar dari lingkungan yang terkontaminasi. dan dilakukan masyarakat. tepat berdasarkan situasi daerah maka diperlukan pemahaman dan tahapan sebagai berikut : Memperkenalkan kepada masyarakat gagasan dan teknik perilaku Program promosi Hygiene Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). edukasi dan menyampaikan informasi secara tepat dan benar yang sekarang disebut dengan promosi kesehatan. Program ini dimulai dengan apa yang diketahui. Sehat dan Sejahtera). Perencanaan suatu program promosi hygiene untuk masyarakat dilakukan berdasarkan jawaban atau pertanyaan diatas atau bekerjasama dengan pihak yang terlibat.

namun harus lebih komprehensif dan luas.  Menciptakan sebuah pesan sederhana. Perubahan terhadap lingkungan memerlukan intervensi dari tenaga kesehatan terutama Tenaga Kesehatan Masyarakat yang mempunyai kompetensi sehingga terciptanya lingkungan yang kondusif dalam Program Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang diharapkan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan menuju masyarakat sejahtera. mencakup perubahan lingkungan fisik. oral (radio). [] Sumber : Media Litbang Kesehatan DepKes RI No. Lingkungan biologi adalah flora dan fauna. leaflet). fasilitas mandi. lingkungan perumahan. Sasaran PHBS tidak hanya terbatas tentang hygiene. tersedianya air bersih. sikap perilaku dan budaya setempat yang berhubungan dengan PHBS.2/Vol. positif. selanjutnya dikomunikasikan dengan dukungan seperti audio visual (video. Lingkungan fisik seperti sanitasi dan hygiene perorangan. cuci dan kakus (MCK) dan pembuangan sampah serta limbah. visual (flip charts). pada tahap ini telah dapat menentukan perubahan perilaku dan menempatkan pesan dengan tepat dengan memadukan semua informasi yang telah dikumpulkan.XIII/2003 . Lingkungan sosial-budaya seperti pengetahuan. film). cetak (poster. menarik berdasarkan apa yang disukai kelompok sasaran  Merancang paket komunikasi Merancang program komunikasi. keluarga dan masyarakat. lingkungan biologi dan lingkungan sosial-budaya masyarakat sehingga tercipta lingkungan yang berwawasan kesehatan dan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.