Monginsidi (karya Subagio Sastrowardoyo

)

Aku adalah dia yang dibesarkan dengan dongeng di dada bunda
Aku adalah dia yang takut gerak bayang di malam gelam
Aku adalah dia yang meniru bapak mengisap pipa dekat meja
Aku adalah dia yang mengangankan jadi seniman melukis keindahan
AKu adalah dia yang menangis terharu mendengar lagu merdeka
Aku adalah dia yang turut dengan barisan pemberontak ke garis pertempuran
Aku adalah dia yang memimpin pasukan gerilya membebaskan kota
AKu adalah dia yang disanjung kawan sebagai pahlawan bangsa
Aku adalah dia yang terperangkap siasat musuh karena pengkianatan
Aku adalah dia yang digiring sebagai hewan di muka regu eksekusi
Aku adalah dia yang berteriak 'merdeka' sbelum ditembak mati
Aku adalah dia, ingat, aku adalah dia

TENTANG SERSAN NURCHOLIS ~ Taufiq Ismail
Seorang Sersan
Kakinya hilang
Sepuluh tahun yang lalu

Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel arloji

Sekali datang
Teman-temannya
Sudah orang resmi

Dengan senyum ditolaknya
Kartu anggota
Bekas pejuang

Sersan Nurcholis
Kakinya hilang
Di jaman Revolusi

Setiap siang
Terdengan siulnya
Di bengkel aroloji

bunda pertiwiku Dipasung orang asing itu? Mulutnya yang kelu Tak mampu lagi menyebut namamu Berabad-abad aku terlelap Bagai laut kehilangan ombak Atau burung-burung yang semula Bebas di hutannya Digiring ke sangkar-sangkar Yang terkunci pintu-pintunya Tak lagi bebas mengucapkan kicaunya Berikan suaramu. kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Berikan degup jantungmu Otot-otot dan derap langkahmu Biar kuterjang pintu-pintu terkunci itu Atau mendobraknya atas namamu Terlalu pengap udara yang tak bertiup Dari rahimmu. kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia Akankah kau biarkan aku duduk berduka Memandang saudaraku. kemerdekaan Di antara pahit-manisnya isi dunia! (Matahari yang kita tunggu Akankah bersinar juga Di langit kita?). kemerdekaan Darah dan degup jantungmu Hanya kau yang kupilih Di antara pahit-manisnya isi dunia Orang asing itu berabad-abad Memujamu di negerinya Sementara di negeriku Ia berikan belenggu-belenggu Maka bangkitlah Sutomo Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo Bangkitlah Ki Hajar Dewantoro Bangkitlah semua dada yang terluka “Bergenggam tanganlah dengan saudaramu Eratkan genggaman itu atas namaku Kekuatanku akan memancar dari genggaman itu.  reshashoppu . NYANYIAN KEBANGKITAN Hanya kau yang kupilih. Mei 1985/2008.” Suaramu sayup di udara Membangunkanku Dari mimpi siang yang celaka Hanya kau yang kupilih. kemerdekaan Jantungku hampir tumpas Karena racunnya Hanya kau yang kupilih.

di mata para perempuan yang sabar. Indonesia. para perepuan menyalakan api. selalu kujumpai kau di wajah anak-anak sekolah. malam ini Kesadaranku berkata. dan menjeritkan salam padamu. seekor ayam jantan menegak. kami telah bersahabat dengan kenyataan untuk diam-diam mencintaimu. tinggal mengenakan sepatu. merubuhkan kesangsian.2017-03-12T21:58:49+07:00 Negri Kabut Gemericik air yang kudengar Berselimutkan piano Menghiasi imajinasiku. pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu agar tak sia-sia kau melahirkanku. dan di telapak tangan para lelaki yang tabah . aku pun pergi bekerja. bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal. biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat. kekasih yang rahasia Karena bisa saja kita terjebak dalam lubang yang angkuh Yang tak disangka. benteng kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit. o anak jaman yang megah. namun harus dihadapi Sepanjang perjalanan Hanya terdengar suara napasku Terengah-engah naik turun bukit Sibuk bercakap-cakap dengan diriku sendiri. menaklukan kejemuan. sejak tadi SELAMAT PAGI INDONESIA selamat pagi. "aku merindukanmu!" Irama yang tercipta Tak asing bagiku Aku terbuai oleh nada-nadanya Walau aku tak tahu siapa yang memainkannya Ingin aku pergi ke negeri kabut Bersamamu. dan menyusun batu-demi batu ketabahan. aku pun sudah selesai. di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan. kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya. seekor burung mungil mengangguk dan menyanyi kecil buatmu. dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam kerja yang sederhana.

seekor burung kecil memberi salam kepada si anak kecil. Selamat pagi.telah hancur kristal-kristal dusta. hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak. khianat dan pura-pura. Wajah sunyi setengah tergundah Menangkap sepi pedang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara menderu Dia masih sangat muda Hari itu 10 November. Terus semangat jiwa muda di hari pahlawan ini Home / Puisi / Sajak Bagi Negaraku (karya Kriapur) Sajak Bagi Negaraku (karya Kriapur) PUISI . terasa benar : aku tak lain milikmu PAHLAWAN TAK DIKENAL Karya Toto Sudarto Bachtiar. Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lengannya memeluk senapan Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring. sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata. sayang Sebuah peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata: "aku sangat muda" Sekian dan terimakasih. tapi bukan untuk tidur sayang. Indonesia. 1955 Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring tetapi bukan tidur. kita sedang perang. wajah-wajah sendiri yang tak dikenalnya Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur.

Sajak Bagi Negaraku (karya Kriapur) di tubuh semesta tercinta buku-buku negeriku tersimpan setiap gunung-gunung dan batunya padang-padang dan hutan semua punya suara semua terhampar biru di bawah langitnya tapi hujan selalu tertahan dalam topan hingga binatang-binatang liar mengembara dan terjaga di setiap tikungan kota-kota di antara gebalau dan keramaian tak bertuan pada hari-hari sebelum catatan akhir musim telah merontokkan daun-daun semua akan menangis semua akan menangis laut akan berteriak dengan gemuruhnya rumput akan mencambuk dengan desaunya siang akan meledak dengan mataharinya dan musim-musim dari kuburan akan bangkit semua akan bersujud berhenti untuk keheningan pada yang bernama keheningan semua akan berlabuh bangsaku. bangsa dari segala bangsa rakyatku siap dengan tombaknya siap dengan kapaknya .

bayi-bayi memiliki pisau di mulut tapi aku hanya siap dengan puisi dengan puisi bulan terguncang menetes darah hitam dari luka lama Solo. 1983 .