LAPORAN REFLEKSI KASUS

STASE ILMU KESEHATAN ANAK

SINDROMA RUBELLA KONGENITAL

MUSTIKA NOOR RAMADHANI/20120310057

I. PENGALAMAN

II. MASALAH YANG DIKAJI
1. Apa itu Sindroma Rubella Kongenital ?
2. Bagaimana patofisiologi Sindroma Rubella Kongenital ?
3. Bagaimana penegakan diagnosa pada Sindroma Rubella Kongenital ?
4. Bagaimana tatalaksana Sindroma Rubella Kongenital ?

III. ANALISIS KRITIS
1. Apa itu Sindroma Rubella Kongenital ?

Rubela kongenital adalah Infeksi transplasenta pada janin dengan rubela,
biasanya pada kehamilan trimester pertama, yang disebabkan oleh infeksi maternal.
Rubela kongenital adalah suatu infeksi oleh virus penyebab rubela (campak jerman)
yang terjadi ketika bayi berada dalam kandungan dan bisa menyebabkan cacat
bawaan. Istilah jerman tidak ada hubungannya dengan negara jerman, tetapi
kemungkinan berasal dari bahasa perancis kuno “germain” dan bahasa latin
“germanus”, yang artinya adalah mirip atau serupa.

Rubela kongenital adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan infeksi
kronik intrauterine dan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin. Selama
infeksi wanita hamil, virus rubela dapat menimbulkan infeksi pada janin melalui
plasenta. Akibatnya janin meninggal dalam kandungan atau lahir dengan rubela

Waktu sangatlah penting. Viremia maternal bisa dimulai 1 minggu sebelum serangan ruam dan dapat menimbulkan infeksi plasenta. Bayi yang menderita infeksi kronik (infeksi dalam kandungan) merupakan sumber penularan bagi orang sekitarnya. tergantung kapan ibu terinfeksi. Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu. Di awal kehamilan infeksi ini tidak menetap di jaringan plasenta ibu (desisua). dan kerusakan otak. Risiko tertularnya janin yang dikandung oleh ibu terinfeksi Rubella bervariasi. risiko janin tertular meningkat hingga 100% jika ibu terinfeksi saat usia kehamilan > 36 minggu.000 kasus Sindrom Rubella Kongenital terjadi setiap tahun di negara-negara berkembang dan dapat meningkat 10 kali lipat pada saat terjadi epidemi. sekali terjadi Sindrom Rubella Kongenital akibatnya mengerikan. Viremia janin kemudian bisa menimbulkan infeksi janin diseminata. kongenital. 2. Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya < 12 minggu maka risiko janin tertular 80-90 persen. jarang sekali terjadi infeksi. gangguan pencernaan dan gangguan syaraf (pan-encephalitis). Sindrom Rubella Kongenital biasanya terjadi hanya bila ibu terinfeksi pada saat umur kehamilan masih kurang dari 4 bulan. Namun. maka risiko janin terinfeksi turun yaitu 10-20 persen. Pembentukan organ terjadi dalam minggu kedua sampai keenam setelah . Bila sudah lewat 5 bulan. Bayi mengalami katarak pada lensa mata. gangguan tiroid. Janin yang tertular berisiko mengalami Sindrom Rubella Kongenital. Jika infeksi dialami ibu saat usia kehamilan 15-30 minggu. maka risiko janin terinfeksi turun yaitu 10-20%. Tidak semua janin akan tertular. Namun. Berdasarkan data dari WHO. risiko janin tertular meningkat hingga 100 persen jika ibu terinfeksi saat usia kehamilan > 36 minggu. Bagaimana patofisiologi Sindroma Rubella Kongenital ? Sumber infeksi rubela janin adalah dari plasenta wanita hamil yang menderita viremia. paling tidak 236. Di samping itu. Tetapi. gangguan pendengaran atau tuli. gangguan jantung. bayi juga berisiko lebih besar untuk terkena diabetes melitus. Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya < 12 minggu maka risiko janin tertular 80-90%. tapi menetap di vili korion. terutama bila infeksi terjadi pada usia janin < 4 bulan.

Bagaimana penegakan diagnosa pada Sindroma Rubella Kongenital ? 4. konsepsi. Dalam trimester kedua. Bagaimana tatalaksana Sindroma Rubella Kongenital ? . janin mengalami peningkatan kemampuan imunologi dan tidak lagi peka terhadap infeksi kronis yang merupakan khas rubella intrauterin dalam minggu-minggu awal. 3. sehingga infeksi sangat berbahaya untuk jantung dan mata pada saat itu.