Definisi

Penggantungan (Hanging) adalah suatu keadaan dimana terjadi konstriksi dari leher
oleh alat penjerat yang ditimbulkan oleh berat badan seluruh atau sebagian. Alat penjerat
sifatnya pasif, sedangkan berat badan sifatnya aktif sehingga terjadi konstriksi pada leher
(Idries, 1997). Umumnya penggantungan melibatkan tali, tapi hal ini tidaklah perlu.
Penggantungan yang terjadi akibat kecelakaan bisa saja tidak terdapat tali. Pada beberapa kasus
konstriksi dari leher terjadi akibat eratnya jeratan tali bukan oleh berat badan yang tergantung.
Pada beberapa kasus yang jarang, jeratan tali dipererat oleh berat tubuh yang tergantung oleh
individu dalam keadaan tegak lurus. Kekuatan tambahan juga kadang dibutuhkan untuk
mengeratkan tali (Skhrum et al., 2007).

Epidemiologi

Penggantungan merupakan metode bunuh diri yang sering ditemukan di banyak negara.
Di Inggris, terdapat lebih dari 2000 kasus bunuh diri dengan penggantungan dilaporkan setiap
tahun. Penggantungan baik akibat bunuh diri atau pembunuhan lebih sering ditemukan di kota.
Di Amerika Serikat, pada tahun 2001 dilaporkan sebanyak 279 kematian yang dikibatkan oleh
penggantungan yang tidak disengajakan dan strangulasi, dan 131 kematian karena
penggantungan, strangulasi, dan lemas. Pada balita, biasanya terjadi accidental hanging yaitu
penggantungan yang tidak disengajakan misalnya akibat dijerat ayunan (Ernoehazy, 2006)

Di India, dari tahun 1997-2000, didapatkan kematian akibat penggantungan sebesar 3,4%.
Penggantungan yang diakibatkan oleh bunuh diri lebih sering ditemukan pada jenis kelamin
laki-laki (2:1), tetapi kematian yang disebabkan oleh kekerasan strangulasi lebih dominan
ditemukan pada wanita (Ernoehazy,2006) . Di Istanbul, Turki, 537 dari semua kasus gantung
diri adalah laki-laki (70,56%) dan 224 adalah wanita (29,44%) (Uzün, 2007). Jika dilihat dari
faktor umur, insidens penggantung lebih sering terjadi pada dewasa muda. Di India misalnya,
kematian akibat penggantungan paling sering ditemukan pada kelompok umur 21-25 tahun,
manakala penelitian Davidson & Marshall (1986), melaporkan bahwa insidens penggantungan
yang paling tinggi adalah pada kelompok umur 20-39 tahun (Rajeev et al., 2007)

ASPEK MEDIKOLEGAL PADA PENGGANTUNGAN

disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana. ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan hukum. 2. Ruang lingkup medikolegal dapat disimpulkan sebagai yang berikut 18 a. Secara garis besar prosedur mediko-legal mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia. tentang kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik. Prosedur medikolegal adalah tatacara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. e. yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya. pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan ahli di dalam persidangan. Pasal 338 Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain. tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka. kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran. diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. Berikut merupakan pasal-pasal yang terkandung dalam bab XIX KUHP. 1 Tahun 1945 untuk seluruh Indonesia. f. Pasal 339 Pembunuhan yang diikuti. diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. Di sini lah dapat dilihat fungsinya dari satu perundangan yang ditetapkan. tentang penerbitan Surat Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik . 73 Tahun 1958 yang isinya menyatakan berlakunya UU No. sesuai dengan ketentuan Pasal 1 KUHP. Pada buku kedua KUHP Bab XIX tentang kejahatan terhadap nyawa. atau untuk melepaskan diri sendiri maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan. paling lama dua puluh tahun. d. c. dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran. maka suatu perbuatan tidak dapat dipidana.19 1.6 Penggantungan lebih sering terjadi pada kasus bunuh diri. Setelah pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan UU No. . b. Tetapi tidak menolak kemungkinan korban penggantungan mati akibat penganiayaan. kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan perundang-undangan pidana yang telah ada. pengadaan visum et repertum.

Sesaui dengan Pasal 179 ayat 1 KUHAP yang menyatakan setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan mayat forensik. Pasal 340 Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu merampas nyawa orang lain. Sesuai dengan Pasal KUHP 222 yang menyatakan barang siapa dengan sengaja mencegah. 4. Hal ini dapat membantu dokter forensic untuk mengetahui mekanisme kematian sehingga dapat membantu penyidik mengetahui cara kematian korban. Pada kasus penggantungan. ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. diancam karena pembunuhan dengan rencana. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun kalau orang itu jadi bunuh diri.20 . dan mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat. keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan tindak pidana. dokter forensic akan dipanggil sebagai saksi ahli.6 Pada persidangan kasus pidana.3. Pada pasal 133 KUHAP (ayat 2 dan 3) menyatakan permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan secara tertulis. diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu. paling lama dua puluh tahun.20 Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada korban mati akibat penggantungan adalah otopsi. yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. dokter forensik dipanggil untuk membuat pemeriksaan lengkap sesuai dengan Pasal 133 KUHAP yang menyatakan dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka. Pasal 345 Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri. dilak dengan diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya untuk itu. Pernyataan ini menjadi dasar pembuatan visum et repertum (laporan bertulis) pada kasus tindak pidana.

2006. MB. Ramsay A. Penggantungan. October-December. Forensic Pathology of Trauma. Suicidal hanging: fatalities in Istanbul retrospective analysis of 761 autopsy cases.Available at: http://www. 2007. Pedoman ilmu kedokteran forensik. Michael MD. 1997.htm Uzün I.com/emerg/topic227. Medico-Legal Update. Common Problems for The Pathologist : Tontowa. Skhrum J. In: Idries AM.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional. Gürpinar K. Available at: http://www. Ernoehazy W.emedicine.dtd Rajeev J. ChB. Büyük Y.Idries AM. p202-207. David. Jakarta: Binarupa Aksara. 2007. Hakumat R. Ashok C. Edisi 1. New Jersey: Page : 81-107. Incidence and Medicolegal Importance of Autopsy Study of Fracture of Neck Structure in Hanging and Strangulation. P 105-130 . 2007:7(4). Hanging injuries and Strangulation. editor.w3.