KURIKULUM DAN MODUL

PELATIHAN SANITASI TOTAL
BERBASIS MASYARAKAT (STBM)
BAGI DOSEN JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN

POLITEKNIK KESEHATAN DI INDONESIA

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
2013

363.72 Katalog Dalam Terbitan, Kementerian Kesehatan RI
Ind Indonesia. Kementerian Kesehatan RI. Direktorat Jenderal
k Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Kurikulum dan Modul Pelatihan STBM bagi
Dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik
Kesehatan di Indonesia - Jakarta :
Kementerian Kesehatan RI 2013

ISBN 978-602-235-467-3

1. Judul I. SANITATION - EDUCATION
II. COMMUNITY HEALTH SERVICES

Kata PengaNtar
Direktur Jenderal PP&PL Kemenkes

Pemerintah Indonesia melakukan upaya percepatan peningkatan akses
terhadap sanitasi yang layak. Tahun 2005, pendekatan Community-Led Total
Sanitation (CLTS) diujicobakan di 6 kabupaten dan selanjutnya direplikasi
pada tahun 2006 dan 2007. Hasilnya, pada tahun 2007 ada 680 desa
yang telah mendeklarasikan kondisi terbebas dari praktek buang air besar
sembarangan (BABS) atau biasa disebut Open Defecation Free (ODF). Ini
memperlihatkan bahwa pendekatan subsidi dan penyediaan sarana fisik
(hardware), yang sebelumnya dilakukan pemerintah, ternyata tidak mampu
menjamin perubahan perilaku masyarakat maupun meningkatkan akses
sanitasi.
Tahun 2009, pemerintah menekankan perhatian kepada aspek sanitasi
dan higiene dengan memasukkan pada Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN 2010 – 2014) prioritas 3 bidang kesehatan
memprioritaskan upaya preventif dan promotif terpadu melalui peningkatan
akses air minum 67% dan sanitasi 75% pada tahun 2014. Hal ini sejalan
dengan komitmen pemerintah dalam pencapaian target MDGs 2015.
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan pendekatan yang
cukup efektif untuk mempercepat akses terhadap sanitasi yang layak melalui
perubahan perilaku secara kolektif dan pemberdayaan masyarakat. Saat
ini, STBM telah banyak diadopsi oleh berbagai lembaga pemerintah dan
non pemerintah di Indonesia seperti Bappenas, Kementerian Kesehatan,
Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Dalam Negeri, WES-UNICEF,
WSP-World Bank, IUWASH, High Five, Plan Indonesia, WVI, Simavi, USDP,
YPCII, CD Bethesda, Yayasan Dian Desa dan lain-lain.
STBM yang mengutamakan pendekatan perubahan perilaku
membutuhkan sumber daya manusia yang terampil dan tersebar di seluruh
wilayah Indonesia. Hasil studi kerjasama antara Bappenas dan Bank Dunia
(2012) menunjukan bahwa dalam jangka pendek, dibutuhkan 12.000

i

Terima kasih kami sampaikan kepada WSP-World Bank. 21 November 2013 Direktur Jenderal PP dan PL Prof. SHAW-SIMAVI. Jakarta.tenaga sanitasi profesional. Tjandra Yoga Aditama ii . dan semua pihak yang telah mendukung tersusunnya modul STBM bagi dosen jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan di Indonesia Semoga modul ini bermanfaat. Politeknik Kesehatan. IUWASH. Diharapkan para lulusan nantinya akan memiliki keterampilan di bidang pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan perubahan perilaku dan mampu berkontribusi dalam percepatan pencapaian target MDG 7C dan pembangunan kesehatan nasional khususnya untuk memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat mandiri dan berkeadilan.000 tenaga sanitasi profesional. Kementerian Kesehatan berupaya untuk mengintegrasikan program STBM ke dalam sistem pendidikan kesehatan. USDP. WVI. khususnya pada jurusan Kesehatan Lingkungan. High Five. Plan Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut. termasuk diantaranya tenaga terdidik yang baru lulus dari universitas (new intake) dan dalam jangka menengah diperlukan tambahan 18. dr. WES-UNICEF.

Kompetensi 4 BAB III. Tujuan Khusus 5 BAB IV.Daftar Isi Kata Pengantar Direktur Jenderal PP & PL Kemenkes i Daftar Isi iii BAGIAN 1. DAN KOMPETENSI 4 A. PENYELENGGARA DAN TEMPAT PENYELENGGARAAN 23 A. PESERTA. STRUKTUR PROGRAM 6 BAB V. TUJUAN PELATIHAN 5 A. Penyelenggara 23 B. DIAGRAM ALIR PROSES PEMBELAJARAN 18 BAB VII. Latar Belakang 1 B. EVALUASI 24 BAB X. GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN 7 BAB VI. Tempat Penyelenggaraan 23 BAB IX. Peran 4 B. Peserta 22 B. PELATIH DAN PENGENDALI PELATIHAN 22 A. Tujuan Umum 5 B. Filosofi Pelatihan 2 BAB II. PERAN. FUNGSI. KURIKULUM PELATIHAN STBM BAGI DOSEN JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN POLTEKES DI INDONESIA BAB I. Pelatih/ Fasilitator/ Instruktur 22 C. PENDAHULUAN 1 A. Fungsi 4 C. Pengendali Pelatihan (Master of Training) 22 BAB VIII. SERTIFIKAT 26 iii .

BAGIAN 2.
MODUL PELATIHAN STBM BAGI DOSEN
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN POLTEKES DI INDONESIA
Modul MD.1. Kebijakan dan Strategi Nasional STBM 1
Modul MI.1. Konsep Dasar Pendekatan STBM 14
Modul MI.2. Pelaksanaan STBM 41
Modul MI.3. Pemicuan di Komunitas 83
Modul MP.1. Membangun Komitmen Belajar (BLC) 106
Modul MP.2. Rencana Tindak Lanjut (RTL) 120

iv

Dosen Jurusan Kesling
Poltekes di Indonesia

Pelatihan STBM bagi
KURIKULUM
Bagian 1
KURIKULUM PELATIHAN
SANITASI TOTAL BERBASIS
MASYARAKAT (STBM) BAGI
DOSEN JURUSAN KESEHATAN
LINGKUNGAN POLITEKNIK
KESEHATAN DI INDONESIA

2

yaitu (1) Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS). sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Indonesia. pemerintah Indonesia menyempurnakan pendekatan CLTS dengan aspek sanitasi lain yang saling berkaitan yang ditetapkan sebagai 5 pilar STBM. (2) Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). (3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT). 2) peningkatan penyediaan sanitasi. Pendekatan STBM terdiri dari tiga komponen yang harus dilaksanakan secara seimbang dan komprehensif. Pendekatan STBM diadopsi dari hasil uji coba Community Led Total Sanitation (CLTS) yang telah sukses dilakukan di beberapa lokasi proyek air minum dan sanitasi di Indonesia. BAB I. PENDAHULUAN A. Dalam pelaksanaannya. Hasil studi kerjasama antara Bappenas dan Bank Dunia (2012) menunjukkan bahwa dalam jangka pendek. yaitu mengurangi hingga setengah penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi pada tahun 2015. (4) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PS-RT). Perubahan perilaku BAB merupakan pintu masuk perubahan perilaku santasi secara menyeluruh. STBM membutuhkan sumber daya manusia terampil yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Latar Belakang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut STBM merupakan pendekatan dan paradigma baru pembangunan sanitasi di Indonesia yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan perubahan perilaku. Indonesia bisa mencapai sanitasi total untuk seluruh masyarakat. 1 . khususnya dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk mengubah perilaku buang air besar sembarangan (BABS) menjadi buang air besar di jamban yang higiene dan layak. STBM ditetapkan sebagai kebijakan nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 untuk mempercepat pencapaian pembangunan milenium (MDGs) tujuan 7C. Atas dasar pengalaman keberhasilan CLTS. dan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga (PLC- RT). dan 3) peningkatan lingkungan yang kondusif. Diharapkan pada tahun 2025. yaitu: 1) peningkatan kebutuhan sanitasi.

diantaranya mata kuliah Promosi Kesehatan. Kurikulum dan modul tersebut selanjutnya dapat dipergunakan sebagai acuan dalam melakukan pelatihan STBM bagi dosen Jurusan Kesling Poltekes di seluruh Indonesia. Melalui jalur pendidikan. Sanitation Personnel: Capacity Development Strategy. Jakarta: 2012. 1 PT. Diharapkan dosen yang telah dilatih nantinya dapat mengintegrasikan pendekatan STBM ke dalam mata kuliah yang telah disepakati. Final Report of the Sanitation Training and Capacity Study. Kemenkes mengintegrasikan pendekatan STBM ke dalam institusi pendidikan kesehatan. Pemberdayaan Masyarakat dan Dasar- Dasar Pemecahan Masalah Kesehatan Lingkungan.000 tenaga sanitasi profesional1. dibutuhkan 12. Kementerian Kesehatan berupaya untuk meningkatkan kompetensi tenaga dosen Politeknik Kesehatan (Poltekes) jurusan kesehatan lingkungan (Kesling) melalui pelatihan-pelatihan yang terakreditasi. Untuk menyelenggarakan pelatihan tersebut. Poltekes. Sesuai dengan kemampuan dan keahliannya di bidang kesehatan lingkungan. Untuk melaksanakan upaya penguatan kapasitas pelaksana program STBM melalui jalur pendidikan formal di bidang kesehatan. yaitu : a. Sehingga diharapkan para lulusan nantinya akan memiliki keterampilan di bidang pemberdayaan masyarakat dengan pendekatan perubahan perilaku dalam program-program pemerintah yang menggunakan pendekatan STBM.000 tenaga sanitasi profesional. Berorientasi kepada profesionalisme. Qipra Galang Kualita. Sehubungan dengan hal tersebut. B. khususnya di jurusan Kesehatan Kesling. maka perlu dilakukan pelatihan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) bagi dosen-dosen jurusan Kesling di Poltekes. termasuk diantaranya tenaga terdidik yang baru lulus dari institusi pendidikan dan dalam jangka menengah diperlukan tambahan 18. 2 . Filosofi Pelatihan Pelatihan STBM bagi dosen jurusan kesehatan lingkungan di Poltekes ini diselenggarakan dengan menggunakan filosofi pelatihan sebagai berikut : 1. maka perlu disusun Kurikulum dan Modul Pelatihan STBM bagi dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekes.

3 . dan STBM. b. 2. Berbasis kompetensi. Learning by doing yang memungkinkan peserta untuk: a. Diberikan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam setiap proses pembelajaran. Sesuai kewenangan dan tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) serta tanggung jawab atas pekerjaannya. dimana peserta berhak untuk: a. Belajar sesuai dengan gaya belajar yang dimilikinya. yang memungkinkan peserta untuk : a. Dipertimbangkan setiap ide dan pendapatnya. Belajar dengan modal pengetahuan yang dimiliki masing- masing tentang STBM. 3. b. dilecehkan ataupun diabaikan. d. c. baik secara visual. Memperoleh sertifikat setelah dinyatakan berhasil mencapai kompetensi yang diharapkan pada akhir pelatihan. auditorial maupun kinestetik (gerak). d. b. dan menguasai materi STBM. Menunjukkan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diukur c. b. Melakukan pengulangan ataupun perbaikan yang dirasa perlu bersama-sama dengan fasilitator. Tidak dipermalukan. Berorientasi kepada peserta. 4. Mengembangkan keterampilannya langkah demi langkah dalam memperoleh kompetensi yang diharapkan. Didengarkan dan dihargai pengalamannya dalam hal pengajaran. Prinsip pembelajaran orang dewasa (andragogi). sejauh berada di dalam konteks pelatihan. pemberdayaan masyarakat. Mendapatkan 1 paket bahan belajar tentang STBM. b. e. melakukan umpan balik. Melakukan experimentasi berbagai kasus dalam menterjemahkan 3 komponen dan 5 pilar STBM. f. Mendapatkan pelatih profesional yang dapat memfasilitasi pembelajaran dengan berbagai metode. 5. dimana selama pelatihan peserta berhak untuk : a. c. Melakukan evaluasi dan dievaluasi. Melakukan refleksi dan memberikan umpan balik secara terbuka. perubahan perilaku. dan saling berbagi pengetahuan maupun pengalaman antar peserta maupun fasilitator.

maka peserta memiliki kompetensi dalam hal : 1. FUNGSI. 2. B. Fungsi Dalam melakukan perannya tersebut. maka peserta mempunyai fungsi sebagai dosen jurusan kesling di Poltekes yang dapat mengintegrasikan pendekatan STBM ke dalam mata kuliah Promosi Kesehatan. Melakukan pemicuan di komunitas. maka peserta berperan sebagai dosen jurusan kesling di Poltekes yang memahami pendekatan STBM. Pemberdayaan Masyarakat dan Dasar-Dasar Pemecahan Masalah Kesehatan Lingkungan. Menjelaskan kebijakan dan strategi nasional STBM. PERAN. C. 4 . mempunyai peran dan fungsi serta kompetensi sebagai berikut : A. Melakukan pelaksanaan STBM. 3. 4. DAN KOMPETENSI Peserta yang telah menyelesaikan pelatihan ini. BAB II. Menjelaskan konsep dasar pendekatan STBM. Peran Setelah selesai mengikuti pelatihan ini. Kompetensi Untuk melaksanakan peran dan fungsi tersebut.

5 . Tujuan Umum Setelah selesai mengikuti pelatihan ini. Tujuan Khusus Setelah selesai mengikuti pelatihan ini. Pemberdayaan Masyarakat dan Dasar-Dasar Pemecahan Masalah Kesehatan Lingkungan. Menjelaskan kebijakan dan strategi nasional STBM.BAB III. 2. peserta mampu : 1. peserta mampu memahami konsep dasar dan pelaksanaan STBM untuk diintegrasikan ke dalam mata kuliah Promosi Kesehatan. 3. Menjelaskan konsep dasar pendekatan STBM. TUJUAN PELATIHAN A. Melakukan pemicuan dikomunitas. B. Melakukan pelaksanaan STBM. 4.

Pelaksanaan STBM 4 6 0 10 3. STRUKTUR PROGRAM Untuk mencapai tujuan pelatihan yang telah ditetapkan tersebut. P = Penugasan . Pemicuan di Komunitas. BAB IV. materi inti dan materi penunjang dengan jumlah keseluruhan jam pelajaran (JP) sebanyak 34 JP seperti yang tertera pada struktur program sebagai berikut : WAKTU No MATERI JML T P PL A MATERI DASAR 1. maka disusun materi pelatihan dengan struktur program yang terdiri dari materi dasar. Kebijakan dan Strategi Nasional STBM 2 0 0 2 Subtotal A : 2 0 0 2 B MATERI INTI B 1. Membangun Komitmen Belajar (BLC) 1 2 0 3 2. Konsep Dasar Pendekatan STBM 2 4 0 6 2. Rencana Tindak Lanjut (RTL) 1 2 0 3 Subtotal C : 2 4 0 6 Total (A+B+C) : 11 17 6 34 Keterangan : T = Teori . PL = Praktik Lapangan 1 JP @ 45 menit 6 . 1 3 6 10 Subtotal B : 7 13 6 26 C MATERI PENUNJANG C 1.

Kepmenkes No. Indonesia. 852/2008. Arah kebijakan dan strategi • Depkes RI. RPJPN 2005-2025. GARIS-GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN Nomor : MD. arah kebijakan Pembangunan Sanitasi di • Curah • LCD projector. Undang-Undang dan strategi Indonesia Pendapat • Komputer / No. • Setneg RI. tentang Strategi Nasional STBM. Arah kebijakan dan strategi laptop. PL=0 jp) Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mengikuti materi ini. Kebijakan mampu: Nasional Pembangunan Air • Bahan tayang Minum dan Sanitasi. STBM. • Modul. BAB V. Jakarta: sanitasi di nasional pembangunan sanitasi. 17 Tahun 2007 tentang pembangunan a. Jakarta: 2008. Arah Kebijakan dan Strategi • CTJ (slide ppt). Jakarta: 1. Menjelaskan 1. P=0 jp. 7 . Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Media dan Alat Metode Referensi Khusus (TPK) Bahasan Bantu Setelah mengikuti materi ini peserta • Bappenas. 2005. b. peserta mampu memahami kebijakan dan strategi nasional STBM. 2003.1 Judul Materi : Kebijakan dan Strategi Nasional STBM Waktu : 2 JP (T=2 jp.

Jakarta: 2009. Strategi STBM. www. laptop. Jakarta: 2010. RPJMN dan MDGs tujuan Pendapat • LCD projector.36 Tahun 2009 tentang 7C. Renstra 2010- c. • Kemenkes RI. 2014.Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Media dan Alat Metode Referensi Khusus (TPK) Bahasan Bantu • Depkes RI. dan strategi STBM.org. Strategi Nasional 2. • Kemenkes RI. • Setneg RI. No. • Komputer / Kesehatan. Program Penyehatan Lingkungan Ditjen P2PL. Buku Profil masing tingkatan. a. Pemetaan peran dan tanggung • Modul. Undang-undang RPJPN. b. Jakarta: 2013. Peran STBM dalam pencapaian • Curah (slide ppt). Menjelaskan peran 2. 8 . jawab stakeholder di masing. Jakarta: 2008.stbm- indonesia. Peran dan Strategi STBM • CTJ • Bahan tayang STBM. Update STBM.

Tujuan Pokok Bahasan dan Sub Pokok Pembelajaran Metode Media dan Alat Bantu Referensi Bahasan Khusus (TPK) Setelah mengikuti materi ini peserta • Kar. a. Film sanitasi. or Self-Respect? Total 1. Tiga Komponen Pokok STBM • CTJ Change. • Modul. Tujuan STBM. Menjelaskan 1. • Spidol. in Indonesia. Sejarah Program Pembangunan September 2003. • Kelompok Kerja d. Kamar. Pengertian STBM • Curah • LCD projector. pengertian STBM. P=4 jp. Antar Departemen. Pendapat • Komputer / laptop. Community • Bahan tayang (slide ppt). • Kemenkes RI. c. Led Total Sanitation komponen STBM. Konsep STBM. Development Studies. • Spidol. Working mampu : • CTJ • Bahan tayang (slide ppt Paper 184. peserta mampu memahami konsep dasar STBM. in Bangladesh. kondusif. • Kain tempel. Film Awakening 2. Jakarta: permintaan sanitasi. a. • Kain tempel. Community Sanitation • Komputer/ laptop. PL=0 jp) Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mengikuti materi ini. c. Sanitasi. Nomor : MI. • Modul. Peningkatan kebutuhan dan • Curah • LCD projector. Jakarta: 2009.1 Judul Materi : Konsep Dasar Pendekatan STBM Waktu : 6 JP (T=2 jp. 9 . b. Menjelaskan 2. 2006. STBM. Peningkatan penyediaan/suplai • Flipchart. Penciptaan lingkungan yang • Meta plan. Subsidy • Putar film / film). Project WASPOLA. Pendapat • Flipchart. Pengertian STBM. Institute for b. • Meta plan.

stbm-indonesia. c. 10 . • Panduan diskusi kelompok. Seri Perubahan STBM.Menjelaskan 5. Pilar Perubahan Perilaku STBM • CTJ 2013. • Spidol. Tujuan Pelaksanaan 5 pilar STBM. Pendapat • LCD projector. Masyarakat di Bidang • Modul. Masyarakat sebagai pemimpin. Tidak menggurui / memaksa. Materi d. Perilaku. www. • Modul. Dit. • Spidol. Lima Pilar STBM • CTJ • Bahan tayang (slide ppt). • Tanya jawab • Komputer / laptop. Tujuan Pokok Bahasan dan Sub Pokok Pembelajaran Metode Media dan Alat Bantu Referensi Bahasan Khusus (TPK) 3. Update STBM. • Kain tempel. Tangga Sanitasi. STBM. Tangga perubahan perilaku visi • Diskusi • Komputer / laptop. 2012. • Kemenkes RI. STBM. Pemberdayaan • Panduan penugasan. Pelatihan Fasilitator • Kain tempel. • Flipchart.ampl. Totalitas seluruh komponen • Spidol. Pengertian. • Kemenkes RI. STBM dan tangga b. Sisipan STBM: d. Buku c.id. Menjelaskan 4. Tanpa subsidi. pilar STBM. Manfaat Pelaksanaan 5 pilar Minuman. Jakarta: Prinsip-Prinsip a. or. • Meta plan. • Meta plan. Menjelaskan lima 3.org. Penyelenggara Pelaksanaan 5 Pendapat • Komputer / laptop. pilar perubahan dan Tangga Perubahan Perilaku • Curah • Bahan tayang (slide ppt). • Kain tempel. • Modul. • Kemenkes RI. Nasional. • Meta plan. www. Sejarah Sanitasi. Jakarta: 5. Kurikulum dan Modul masyarakat. Prinsip-Prinsip STBM • Diskusi • Bahan tayang (slide ppt). b. PL. Kesehatan. Higiene Sanitasi Pilar STBM. a. Makanan dan • Flipchart. Sekretariat STBM 4. AMPL 23. perilaku pada a. Jakarta: 2012. • Curah • LCD projector. • Flipchart. Modul b. • Penugasan • LCD projector. Advokasi STBM.

• Depkes RI. peserta mampu melakukan pelaksanaan STBM di komunitas. Jakarta: 2005. India. • Pemutaran • LCD projector. b. • Flipchart. Maksud dan tujuan film • Komputer / laptop. 1.2 Judul Materi : Pelaksanaan STBM Waktu : 10 JP (T=4 jp. Nomor : MI. Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Metode Media dan Alat Bantu Referensi Khusus (TPK) Bahasan Setelah mengikuti • WSP. CLTS. • Meta plan. Menjelaskan New Delhi: 2004. Pengertian pemicuan. Konsep Dasar Pemicuan • CTJ ppt/ film). pemicuan. • Spidol. • Bahan tayang (slide 1. Tahapan Pemicuan pemicuan. • Kain tempel. Kenongo. Film Memicu materi ini peserta Perubahan Menuju mampu : Sanitasi Total di Maharashta. Tahapan kegiatan pemicuan. • Modul. P=6 jp. c. PL=0 jp) Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mengikuti materi ini. 11 . Film konsep dasar a.

Instrumen pendukung untuk diskusi kelompok. Jakarta: 2013. a. Ditjen PP&PL. dll. pemilihan • Kain tempel. Observasi kebiasaan PHBS • Flipchart. Alur penularan penyakit • Diskusi • Bahan tayang (slide Masyarakat di pemicuan (diagram F). PL. Buku melaksanakan proses pemicuan • Lembar panduan Sisipan STBM: di komunitas. penerapan penilaian kondisi • Komputer / laptop. pemicuan. Merencanakan 2. Kurikulum dan • Modul. d. • Lembar panduan Simulasi. • Kemenkes RI. Lapangan STBM. • Modul. Yang boleh dan tidak boleh • Kain tempel.langkah a. Persiapan teknis dan logistik • Diskusi • Bahan tayang (slide untuk menciptakan suasana kelompok ppt). Modul c. Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Metode Media dan Alat Bantu Referensi Khusus (TPK) Bahasan 2. b. • Kemenkes RI. penghambat pemicuan. • Lembar panduan Jakarta: 2008 d. Melakukan 3. dalam pemicuan. Dit. Bidang Kesehatan. Pra-Pemicuan • CTJ Pemicuan. Alat-alat utama dalam • Simulasi • LCD projector. yang kondusif sebelum • Simulasi • LCD projector. • Komputer / laptop. desa secara partisipatif. Pedoman Teknis c. • Spidol. Persiapan pemicuan : • Meta plan. kelompok ppt). • Lembar panduan diskusi kelompok. Simulasi. Modul Pelatihan Fasilitator 3. Elemen pemicuan dan faktor • Spidol. metode CLTS. menggunakan b. • Meta plan.. Langkah-Langkah Pemicuan : • CTJ Pemberdayaan langkah. masyarakat. • Depkes RI. 12 . BABS. • Flipchart. lokasi. Pelatihan Stop penyusunan jadwal. Jakarta: 2013.

c. • Meta plan. • LCD projector. masyarakat dengan • Flipchart. Penyediaan suplai sanitasi dan ppt). Alat-alat Pada Metode CLTS • Simulasi alat alat dengan • Bahan tayang (slide metode CLTS. • Modul. • Spidol. • Kain tempel. Kegiatan Paska Pemicuan : • CTJ kegiatan paska a. • LCD projector. ppt). 13 . menuangkan ke dalam RTL. Menjelaskan 5. e. Membangun komitmen • Komputer / laptop. Promosi PHBS yang • Lembar panduan berkelanjutan. • Flipchart. monitoring. diskusi kelompok. 5. Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Metode Media dan Alat Bantu Referensi Khusus (TPK) Bahasan 4. d. Pendampingan dan • Meta plan. pemasaran sanitasi. • Kain tempel. • Modul. Mempraktekkan 4. Tangga sanitasi untuk 5 pilar • Diskusi pemicuan. STBM. kelompok • Bahan tayang (slide b. • Komputer / laptop. • Spidol. • Lembar panduan Simulasi.

kelompok. persiapan a. Penyusunan strategi (panduan lokasi yang akan Lapangan STBM. P=3 jp. pleno dengan masyarakat • Curah • Format Laporan PKL. Melakukan diskusi 3. Ditjen PP&PL. 2. Persiapan Pemicuan • CTJ • Flipchart. Penyiapan alat dan bahan. PL=6 jp) Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mengikuti materi ini.3 Judul Materi : Pemicuan d Komunitas. Melakukan 2. Persiapan lapang. untuk pemicuan. masyarakat. Nomor : MI. pendapat • Diskusi 14 . • Data dasar kondisi Pedoman Teknis d. Melakukan di Masyarakat • Diskusi • Spidol. • Kain tempel. • Kemenkes RI. Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Metode Media dan Alat Bantu Referensi Khusus (TPK) Bahasan Setelah mengikuti materi ini peserta latih mampu: 1. diskusi. masyarakat. masyarakat. 1. praktek kerja lapang / tim • Alat-alat dan bahan pemicu. Waktu : 10 JP (T=1 jp. Kelompok • Meta plan. Diskusi pleno dengan • CTJ praktik. pemicuan di b. Pemicuan di masyarakat • Praktik • Lembar panduan pemicuan di observasi. peserta mampu melakukan pemicuan di komunitas. • Panduan pemicuan/ 3. Pembentukan kelompok. • Lembar panduan Jakarta: 2013. c. praktek lapang) dan simulasi dipicu.

P=2 jp. Mengenal sesama 1. Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Metode Media dan Alat Bantu Referensi Khusus (TPK) Bahasan 4. Melakukan evaluasi 5. PL=0 jp) Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mengikuti materi ini. Evaluasi Hasil Pemicuan • Tanya jawab • Lembar evaluasi terhadap proses • Diskusi pemicuan. peserta mampu membangun komitmen belajar dalam rangka menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif selama proses pelatihan berlangsung. pelatihan. Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Metode Media dan Alat Bantu Referensi Khusus (TPK) Bahasan Setelah mengikuti materi ini peserta mampu: 1. Laporan Hasil Pemicuan • Penulisan hasil pemicuan di laporan masyarakat. • Laporan temuan lapangan / PKL. pada proses • Flipchart. Perkenalan • CTJ • Bahan tayang (slide warga pembelajar • Curah pendapat ppt). telah dilaksanakan. Nomor : MP.1 Judul Materi : Membangun Komitmen Belajar (BLC) Waktu : 3 JP (T=1 jp. Menyusun laporan 4. 15 . pemicuan yang • Umpan Balik • Modul. 5.

pembelajaran • Depkes RI. Bederal. Harapan-harapan dalam • Munir. Merumuskan harapan. Norma kelas dalam • Meta plan. 6. Organisasi kelas • Diskusi kelas. Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Metode Media dan Alat Bantu Referensi Khusus (TPK) Bahasan 2. kesepakatan norma • Kain tempel. Menyiapkan diri untuk 2. Merumuskan 4. Pencairan (ice breaking) • Permainan belajar bersama secara aktif dalam suasana yang kondusif. Kemenkes RI. berlangsung kelompok • Panduan permainan. kelompok 16 . 4. 2001. selama pelatihan • Diskusi standar pelatihan. • LAN RI dan selama pelatihan Pusdiklat Aparatur berlangsung. Kontrol kolektif dalam Buku Panduan kesepakatan bersama pelaksanaan norma kelas • CTJ Dinamika tentang kontrol • Curah pendapat Kelompok. baik dalam proses • Curah pendapat Penerapannya pembelajaran maupun • Diskusi Dalam hasil yang ingin dicapai kelompok Laboratorium Ilmu di akhir pelatihan. harapan yang ingin proses pembelajaran dan Dinamika dicapai bersama hasil yang ingin dicapai • CTJ Kelompok. 5. Perilaku. Merumuskan 5. kolektif dalam • Diskusi Jakarta: 2010. Jakarta : • Spidol. Membentuk organisasi 6. Kumpulan Games kelas yang harus • Jadwal dan alur dan Energizer dianut oleh seluruh • CTJ pelatihan. 3. 3. Jakarta: 2004. Pusdiklat warga pembelajar • Curah pendapat • Norma/tata tertib Kesehatan. pelaksanaan norma kelompok kelas.

Nomor : MP. Kesehatan Lingkungan. • Latihan.2 Judul Materi : Rencana Tindak Lanjut (RTL) Waktu : 3 JP (T=1 jp. Tujuan Pembelajaran Pokok Bahasan dan Sub Pokok Metode Media dan Alat Bantu Referensi Khusus (TPK) Bahasan Setelah mengikuti materi ini peserta mampu: 1. P=2 jp. Ruang Lingkup RTL: rencana program Penyusunan RPP untuk pembelajaran melengkapi pendekatan (RPP) dengan STBM ke dalam mata melengkapi kuliah Promosi Kesehatan. Masyarakat dan Dasar-Dasar Pemecahan Masalah Kesehatan Lingkungan. Penyajian RTL 17 . PL=0 jp) Tujuan Pembelajaran Umum : Setelah mengikuti materi ini. 2. pendekatan STBM Pemberdayaan Masyarakat Kemkes RI. Menyusun 1. Menyajikan RTL 2. • LCD Projector Lingkungan. Jakarta: (penyajian Pemberdayaan 2010. peserta mampu menyusun rencana tindak lanjut proses belajar mengajar dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan STBM. kuliah Promosi Pemecahan Masalah • Lembar RPP Jurusan Kesehatan • Pleno Kesehaan. RPP). Program D3 dan D4 kelompok. Kurikulum • Diskusi ke dalam mata dan Dasar-Dasar • Kain tempel.

Pemicuan di Komunitas A (STBM) L METODE : METODE: CTJ. Pelaksanaan STBM V Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat 3. BAB VI. I PRAKTIK KERJA LAPANGAN RENCANA TINDAK LANJUT POST TEST PENUTUPAN 18 . Praktik. Penugasan. Simulasi. curah pendapat Diskusi. Kebijakan dan Strategi 2. DIAGRAM ALIR PROSES PEMBELAJARAN PEMBUKAAN PRE TEST MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) Pengetahuan dan Keterampilan Wawasan 1. Konsep Dasar STBM E 1. S Pemutaran Film. Role A Play. Curah Pendapat. U CTJ.

b. dan juga perkenalan antar sesama peserta. kekhawatiran dan komitmen masing-masing peserta selama pelatihan. 3. b. MOT. Perkenalan peserta secara singkat. c. Pembukaan Proses pembukaan pelatihan meliputi beberapa kegiatan berikut: a. Kegiatannya antara lain: a. Penjelasan oleh pelatih tentang tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan dilakukan dalam materi membangun komitmen belajar. dimana seluruh peserta terlibat secara aktif. 2. c. dan panitia penyelenggara. Mengemukakan kebutuhan/harapan. Membangun Komitmen Belajar Kegiatan ini ditujukan untuk mempersiapkan peserta dalam mengikuti proses belajar mengajar selanjutnya dan menciptakan komitmen terhadap norma-norma kelas yang disepakati bersama oleh seluruh peserta serta membentuk struktur kelas sebagai penghubung antara peserta. Pelaksanaan Pre-Test Pelaksanaan pre-test dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman awal peserta terhadap materi yang akan diberikan pada proses pembelajaran. Pengarahan dari pejabat yang berwenang tentang latar belakang perlunya pelatihan dan dukungannya terhadap program STBM. Perkenalan antara peserta dan para pelatih dan panitia penyelenggara pelatihan. Kegiatan perkenalan dilakukan dengan permainan. 18 19 . Laporan ketua penyelenggara pelatihan dan penjelasan program pelatihan.Rincian rangkaian alur proses pelatihan sebagai berikut: 1.

latihan tentang konsep dasar dan fasilitasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat dengan menggunakan kurikulum dan modul pelatihan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat untuk dosen jurusan Kesling. dan yang lainnya. Pemberdayaan Masyarakat dan Dasar-Dasar Pemecahan Masalah Kesehatan Lingkungan. diskusi kelompok. Pengisian Wawasan Setelah materi Membangun Komitmen Belajar. kenyamanan kelas. 4. Pelaksanaan Praktik Kerja Lapang Tujuan dari Pelaksanaan Praktik Kerja Lapang ini adalah agar peserta mampu menerapkan peran dan fungsinya sebagai dosen jurusan Kesling di Poltekes yang dapat mengintegrasikan pendekatan STBM ke dalam mata kuliah Promosi Kesehatan. dan latihan. meliputi: pengorganisasian kelas. d. studi kasus. Poltekes di Indonesia. 5. penyelenggara pelatihan dan peserta dalam berinteraksi selama pelatihan berlangsung. Kesepakatan antara para pelatih. keamanan kelas. kegiatan dilanjutkan dengan memberikan materi sebagai dasar pengetahuan/wawasan yang sebaiknya diketahui peserta dalam pelatihan ini. yaitu metode ceramah tanya jawab. sebagai berikut adalah: Kebijakan dan Strategi Pembangunan Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Penyampaian materi dilakukan dengan menggunakan berbagai metode yang melibatkan semua peserta untuk berperan serta aktif dalam mencapai kompetensi tersebut. 20 . tugas baca. 6. Pemberian Pengetahuan dan Keterampilan Pemberian materi keterampilan dari proses pelatihan mengarah pada kompetensi keterampilan yang akan dicapai oleh peserta. simulasi. presentasi. bermain peran.

10. Dalam penutupan dilakukan laporan hasil evaluasi penyelenggaraan pelatihan termasuk terhadap fasilitator. Rencana Tindak Lanjut (RTl) Masing-masing peserta menyusun rencana tindak lanjut hasil pelatihan berupa rencana melakukan proses belajar mengajar dan mengevaluasi mata kuliah integrasi peningkatan kebutuhan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di kampus masing-masing. narasumber. Evaluasi Evaluasi dilakukan setiap hari dengan cara melakukan review terhadap kegiatan proses pembelajaran yang sudah berlangsung sebagai umpan balik untuk menyempurnakan proses pembelajaran selanjutnya. 21 . Post-Test Post-test dilakukan untuk mengetahui sejauh mana peserta dapat menyerap materi selama pelatihan. 9. peserta maupun penyelenggara sendiri oleh ketua panitia penyelenggara. baik di kelas maupun di lapangan. pemetaan kemampuan dan kapasitas peserta. Penutupan Acara penutupan dapat dijadikan sebagai upaya untuk mendapatkan masukan dari peserta ke penyelenggara dan pelatih untuk perbaikan pelatihan yang akan datang. 8. Selanjutnya pelatihan ditutup dengan resmi oleh pejabat yang berwenang. Selain post-test.7. penilaian penampilan peserta. dilakukan evaluasi kompetensi yaitu penilaian terhadap kemampuan yang telah didapat peserta melalui penugasan- penugasan dan praktik lapang. Proses umpan balik juga dilakukan dari pelatih ke peserta berdasarkan penjajagan awal melalui pre-test.

d. BAB VII. dengan memenuhi salah satu kriteria berikut ini: a. Pernah mengikuti pelatihan MOT. Pelatih/ Fasilitator/ Instruktur Pelatih adalah tim pelatih/ fasilitator STBM dari Kementerian Kesehatan dan praktisi STBM dari berbagai instansi dan proyek pendukung STBM. PESERTA. 22 . Mengetahui program STBM. Pemberdayaan Masyarakat dan Dasar-Dasar Pemecahan Masalah Kesehatan Lingkungan. B. PELATIH & PENGENDALI PELATIHAN A. Pejabat struktural yang membidangi sanitasi dan penyehatan lingkungan. b. Pengendali Diklat (Master Of Training) Pengendali diklat adalah orang yang mengatur proses kegiatan pelatihan dari awal sampai akhir pelaksanaan pelatihan. Peserta 1. 2. Pernah mengikuti Training of Trainer (TOT). Memiliki latar belakang pengetahuan dan pengalaman serta terlibat dalam kegiatan STBM. C. Kriteria Peserta: - Dosen mata kuliah Promosi Kesehatan. Menguasai materi secara garis besar. Merancang kerangka acuan. - Berbasis pendidikan minimal D3 Kesling. Persyaratan: a. d. atau e. Widyaiswara sesuai dengan bidang keahlian yang dimilikinya. c. Memiliki pengalaman menjadi pelatih untuk STBM. Jumlah Peserta Jumlah peserta dalam satu kelas maksimal 30 orang. c. b.

Badan PPSDM Kesehatan. 3. Badan PPSDM Kesehatan. 23 . Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK). Tempat Penyelenggaraan Tempat penyelenggaraan pelatihan akan dilaksanakan pada lokasi- lokasi dimana program STBM berada. Penyelenggara Penyelenggara pelatihan STBM bagi dosen jurusan Kesling. Badan PPSDM Kesehatan. adalah: 1. B. PENYELENGGARA & TEMPAT PENYELENGGARAAN A. 4. Poltekes. Balai Pelatihan Kesehatan Nasional.BAB VIII. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Aparatur. Balai Pelatihan Kesehatan di tingkat Provinsi. 2.

Penjajagan awal melalui pre-test. c. Ketepatan waktu memulai dan mengakhiri pembelajaran. Pencapaian Tujuan Pembelajaran (TPU/TPK). yang meliputi: 1. Penggunaan metode dan alat bantu pembelajaran. Evaluasi terhadap peserta melalui : a. Penguasaan materi. 5. 2. 24 . dapat dipahami dan diserap oleh peserta. 4. b. 2. Pemahaman peserta terhadap materi yang telah diterima (post-test). Pemberian motivasi belajar kepada peserta. 6. gaya dan sikap terhadap peserta. Evaluasi terhadap pelatih/ fasilitator/ narasumber Evaluasi terhadap pelatih/ fasilitator/ narasumber ini dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh penilaian yang menggambarkan tingkat kepuasan peserta terhadap kemampuan pelatih dalam menyampaikan pengetahuan dan atau keterampilan kepada peserta dengan baik. Empati. Evaluasi kompetensi yaitu penilaian terhadap kemampuan yang telah didapat peserta melalui penugasan-penugasan dan praktik lapang. 7. Sistematika penyajian materi. Penggunaan bahasa dan volume suara. BAB IX. 8. EVALUASI Evaluasi yang dilakukan dalam pelatihan ini meliputi : 1. 3.

9. Obyek evaluasi adalah pelaksanaan administrasi dan akademis. Pelayanan komunikasi dan informasi. Kerapihan berpakaian. h. e. 25 . 11. g. Pelayanan sekretariat panitia terhadap peserta. Evaluasi terhadap penyelenggaraan pelatihan Evaluasi terhadap penyelenggaraan pelatihan dilakukan oleh peserta terhadap pelaksanaan pelatihan. Relevansi program pelatihan dengan tugas. c. Pelayanan akomodasi dan lainnya. yang meliputi: a. Kerjasama antar Tim Pengajar. b. Tujuan pelatihan. i. 10. Pelayanan konsumsi. Kemampuan menyajikan. Hubungan peserta dengan pelaksana pelatihan. Kesempatan tanya jawab. 3. Manfaat pelatihan bagi peserta/instansi. Manfaat setiap materi bagi pelaksanaan tugas peserta di tempat kerja. f. d. 12.

dan dinyatakan lulus berdasarkan hasil evaluasi pelatihan akan diberikan sertifikat yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan angka kredit 1 (satu) yang ditandatangani oleh pejabat yang berwenang atas nama Menteri Kesehatan dan oleh panitia penyelenggara. BAB X. kepada setiap peserta yang telah mengikuti pelatihan dengan ketentuan kehadiran 95 % dari keseluruhan jumlah jam pelatihan (34JP). 26 . SERTIFIKAT Berdasarkan ketentuan yang berlaku.

Dosen Jurusan Kesling Poltekes di Indonesia Pelatihan STBM bagi MODUL BAGIAN 2 MODUL PELATIHAN STBM BAGI DOSEN JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN POLITEKNIK KESEHATAN DI INDONESIA .

Modul MD. TUJUAN PEMBELAJARAN 2 III. Kebijakan dan Strategi Nasional STBM I. Pemetaan Peran dan Tanggung Jawab Stakeholder di Masing-Masing Tingkatan 10 VIII. METODE PEMBELAJARAN 3 VI. REFERENSI 13 KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL 30 SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT . BAHAN BELAJAR 2 V. RPJMN dan MDGs Tujuan 7C 6 b. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 VII. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN 2 IV. URAIAN MATERI 4 POKOK BAHASAN 1: ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN SANITASI DI INDONESIA 4 a. DESKRIPSI SINGKAT 1 II. Arah Kebijakan dan Strategi STBM 5 POKOK BAHASAN 2: PERAN DAN STRATEGI STBM 6 a. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional Pembangunan Sanitasi 4 b.1. Peran STBM dalam Pencapaian RPJPN. Strategi STBM 7 c.

Selanjutnya. dalam kaitannya dengan keberhasilan pembangunan kesehatan manusia Indonesia. Penerapan STBM dilakukan dalam naungan 5 pilar STBM. STBM merupakan pendekatan dan paradigma pembangunan sanitasi di Indonesia yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan perubahan perilaku. STBM ditetapkan sebagai kebijakan nasional berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 untuk mempercepat pencapaian MDGs tujuan 7C. STBM diadopsi dari hasil uji coba Community Led Total Sanitation (CLTS) yang telah sukses dilakukan di beberapa lokasi proyek air minum dan sanitasi di Indonesia. yaitu: 1) peningkatan kebutuhan sanitasi. 2) peningkatan penyediaan sanitasi. KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT I. sebagaimana amanat Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Indonesia 2005-2025. diharapkan seluruh masyarakat Indonesia telah memiliki akses sanitasi dasar yang layak dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat dalam kesehariannya. dan 3) peningkatan lingkungan yang kondusif. yaitu mengurangi hingga setengah penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi pada tahun 2015.1. Pendekatan STBM terdiri dari tiga komponen yang harus dilaksanakan secara seimbang dan komprehensif. pada tahun 2025. MODUL MD. yaitu (1) Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS). DESKRIPSI SINGKAT Modul Kebijakan dan Strategi Nasional STBM ini disusun untuk membekali peserta agar dapat memahami kebijakan dan stategi nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). khususnya dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk mengubah perilaku buang air besar sembarangan (BABS) menjadi buang air besar di jamban yang saniter dan layak. (2) Cuci Tangan Pakai Sabun KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT | 1 .

B. c. Peran STBM dalam pencapaian RPJPN. b. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN A. Menjelaskan arah kebijakan dan strategi pembangunan sanitasi di Indonesia. b. (4) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PS-RT). II. Pokok Bahasan 2: Peran dan Strategi STBM a. Strategi STBM. Arah kebijakan dan strategi STBM. peserta mampu memahami kebijakan dan strategi nasional STBM. 2. 2 | KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT . RPJMN dan MDGs tujuan 7C. komputer / laptop. dan modul. Pokok Bahasan 1: Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Sanitasi di Indonesia a. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti materi ini. Pemetaan peran dan tanggung jawab stakeholder di masing- masing tingkatan. Arah kebijakan dan strategi nasional pembangunan sanitasi. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti materi ini peserta mampu: 1. IV. (3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT). B. dan Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga (PLC-RT). TUJUAN PEMBELAJARAN A. III. (CTPS). Menjelaskan peran dan strategi STBM. BAHAN BELAJAR Bahan tayang (slide ppt). LCD projector.

PL= 0 jp) @45 menit. Langkah 2: Pengkajian Pokok Bahasan (60 menit) 1. B. pokok bahasan. Berikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal- hal yang kurang jelas. 2.V. 2. metode dan waktu yang digunakan untuk pembahasan. Untuk mempermudah proses pembelajaran dan meningkatkan partisipasi seluruh peserta. dan berikan jawaban dan klarifikasi atas pertanyaan-pertanyaan peserta. Berdasarkan pendapat peserta. 3. 4. KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT | 3 . fasilitator menjelaskan tentang kebijakan STBM. dilakukan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: A. Perkenalkan diri dan tawarkan untuk memulai dengan pencairan suasana. Langkah 1: Pengkondisian (20 menit) 1. VI. 3. Berikan kesempatan sebanyak-banyaknya sehingga antar peserta juga terjadi diskusi dan interaksi yang baik. Sampaikan pokok bahasan: • Arah Kebijakan dan Strategi Pembangunan Sanitasi di Indonesia. Proses pembelajaran menggunakan metode dimana semua peserta terlibat secara aktif. P= 0 jp. METODE PEMBELAJARAN CTJ dan curah pendapat. Sampaikan tujuan pembelajaran. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini adalah sebanyak 2 jam pelajaran (T= 2 jp. Gali pendapat peserta tentang kebijakan STBM dan mendiskusikannya. • Peran dan Strategi STBM.

Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna. dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya dapat terwujud. Fasilitator menutup sesi pembelajaran dengan memastikan tercapainya TPU dan TPK sesi ini.03. saran bahkan kritik dari peserta pada kertas evaluasi yang telah disediakan. merata.17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025 menetapkan bahwa Pembangunan Kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran. Selanjutnya dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan (Renstra Kemenkes) Tahun 2010-2014 yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan. 3. penilaian. kemauan. 4 | KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT . dan fasilitator memfasilitasi pemberian jawaban. 2. URAIAN MATERI POKOK BAHASAN 1. bermutu dan berkeadilan. ARAH KEBIJAKAN DAN STRATEGI PEMBANGUNAN SANITASI DI INDONESIA a. Langkah 3: Rangkuman (10 menit): 1. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. 2. C.HK. Adapun Misi Kemenkes adalah : 1. Peserta dipersilahkan untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. 4. 3.01/160/1/2010 ditetapkan bahwa Visi Kemenkes adalah Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani. Minta komentar. VII. baik dari fasilitator maupun dari peserta lain. Arah Kebijakan dan Strategi Nasional Pembangunan Sanitasi Undang-Undang No.

pemerintah melakukan uji coba implementasi Community Led Total Sanitation (CLTS) atau Sanitasi Total Berbasis Masyarakat di 6 kabupaten.52. Arah Kebijakan dan Strategi STBM Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT | 5 . sebanyak 500 desa sudah ODF dan pada tahun 2008 pemerintah menetapkan kebijakan nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) melalui Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. kurang dari 15% penduduk Indonesia yang mengetahui dan melakukan cuci tangan pakai sabun pada waktu-waktu kritis. khususnya bidang air minum. Pada tahun 2006. pemerintah merubah pendekatan pembangunan sanitasi nasional dari pendekatan sektoral dengan penyediaan subsidi perangkat keras yang selama ini tidak memberi daya ungkit terjadinya perubahan perilaku higienis dan peningkatan akses sanitasi. pemerintah mencanangkan gerakan sanitasi total dan kampanye cuci tangan pakai sabun nasional. sehingga pada tahun 2006. Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait pembangunan kesehatan. b. Untuk memperbaiki capaian ini. higiene dan sanitasi masih sangat besar. Lebih lanjut berdasarkan studi Basic Human Services di Indonesia. Untuk itu. sebanyak 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar sembarangan. perlu dilakukan intervensi terpadu melalui pendekatan sanitasi total. Berdasarkan hasil studi Indonesian Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006. Kondisi ini berkontribusi terhadap tingginya angka diare yaitu 423 per seribu penduduk pada tahun 2006 dengan 16 provinsi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) diare dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 2. ujicoba ini telah berhasil menciptakan 160 desa bebas buang air besar sembarangan (open defecation free-ODF). Pada tahun 2005. menjadi pendekatan sanitasi total berbasis masyarakat yang menekankan pada 5 (lima) perubahan perilaku higienis. Pada tahun 2007. 852/MENKES/SK/IX/2008.

Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar. masyarakat dengan metode pemicuan. puskesmas. e. Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. khususnya target 7C. meningkatkan kemampuan masyarakat serta mengimplementasikan komitmen pemerintah untuk meningkatkan akses sanitasi dasar yang layak dan berkesinambungan. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar. sarana cuci tangan). b. terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air. pasar. Sedangkan indikator output STBM adalah sebagai berikut : a. Setiap rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga. sabun. kantor. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah. Pendekatan STBM memiliki indikator outcome dan indikator output. d. PERAN DAN STRATEGI STBM a. sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar. RPJMN dan MDGs Tujuan 7C STBM adalah pendekatan yang digunakan dalam program nasional pembangunan sanitasi di Indonesia yang dipilih untuk: memperkuat upaya pembudayaan hidup bersih dan sehat. Peran STBM dalam Pencapaian RPJPN. rumah makan. mencegah penyebaran penyakit berbasis lingkungan. c. Komitmen pemerintah tersebut tercantum dalam pencapaian target pembangunan millennium (Millenium Development Goal). Komitmen pemerintah terkait sanitasi lainnya tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka 6 | KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT . Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (SBS). POKOK BAHASAN 2. yaitu mengurangi hingga setengah penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air bersih dan sanitasi pada tahun 2015.

Kontribusi STBM dalam MDGs.81% 55.41% *) BPS. yaitu : 1. terlihat pada tabel di bawah: Goal 7 Menjamin Kelestarian Lingkungan Hidup Menurunkan hingga separuhnya proporsi rumah tangga Target tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan 10 berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada tahun 2015 Baseline Capaian Target INDIKATOR 1993 2010*) MDGs 2015 Proposi rumah Kota 50.87% Proposi rumah Kota 53.10% 38.58% 50.29% tangga dengan akses berkelanjutan terhadap Desa 31. Strategi STBM Untuk mencapai kondisi sanitasi total. Panjang Nasional (RPJPN) adalah sanitasi total untuk seluruh rakyat Indonesia pada tahun 2025.55% sanitasi layak (Kota dan Desa) Total 24.54% 62.61% 45.64% 72. STBM memiliki 6 strategi. Penciptaan lingkungan yang kondusif (enabling environment) KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT | 7 .58% 42.78% 76.73% 44.81% air minum layak (Kota dan Desa) Total 37.51% 75.50% 55. Susenas Tabel 1: Tujuan MDG b.19% 68.85% 65.82% tangga dengan akses berkelanjutan terhadap Desa 11.

• Mengembangkan kesadaran masyarakat tentang konsekuensi dari kebiasaan buruk sanitasi (buang air besar) dan dilanjutkan dengan pemicuan perubahan perilaku komunitas. 2. pemerintah daerah. • Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memilih teknologi. Peningkatan kebutuhan (demand creation) Prinsip : • Menciptakan perilaku komunitas yang higienis dan saniter untuk mendukung terciptanya sanitasi total. material dan biaya sarana sanitasi yang sehat. Pokok Kegiatan : • Meningkatkan peran seluruh pemangku kepentingan dalam perencanaan dan pelaksanaan sosialisasi pengembangan kebutuhan. • Mengembangkan kapasitas lembaga pelaksana di daerah. organisasi masyarakat. 3. • Meningkatkan kemitraan antara pemerintah. • Mengembangkan sistem penghargaan kepada masyarakat untuk meningkatkan dan menjaga keberlanjutan sanitasi total. Peningkatan penyediaan suplai (supply improvement) Prinsip : 8 | KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT . lembaga swadaya masyarakat dan swasta. Pokok Kegiatan : • Melakukan advokasi dan sosialisasi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya secara berjenjang. • Mengembangkan kepemimpinan di masyarakat (natural leader) untuk memfasilitasi pemicuan perubahan perilaku masyarakat. Prinsip : • Meningkatkan dukungan pemerintah dan pemangku kepentingan lainnnya dalam meningkatkan perilaku higienis dan saniter.

• Meningkatkan kemitraan antar program-program pemerintah. Pokok kegiatan : • Menggali potensi masyarakat untuk membangun sarana sanitasi sendiri. lembaga keuangan dan pengusaha lokal dalam penyediaan sarana sanitasi. • Meningkatkan ketersediaan sarana sanitasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pembiayaan Prinsip : • Meniadakan subsidi untuk penyediaan fasilitas sanitasi dasar. non pemerintah dan swasta dalam peningkatan pengetahuan dan pembelajaran sanitasi di Indonesia. Pokok Kegiatan : • Meningkatkan kapasitas produksi swasta lokal dalam penyediaan sarana sanitasi. Pengelolaan pengetahuan (knowledge management) Prinsip : • Melestarikan pengetahuan dan pembelajaran sanitasi lokal. 5. koperasi. • Meningkatkan kerjasama dengan lembaga penelitian perguruan tinggi untuk pengembangan rancangan sarana sanitasi tepat guna. • Mengembangkan kemitraan dengan kelompok masyarakat. • Mengembangkan solidaritas sosial (gotong royong). • Mengupayakan masuknya pendekatan sanitasi total dalam kurikulum pendidikan. KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT | 9 . Pokok Kegiatan : • Mengembangkan dan mengelola pusat data dan informasi. 4.

sehingga keterpaduan dalam persiapan dan pelaksanaan STBM dapat tercapai. 6. termasuk lintas program pembangunan air minum dan sanitasi. Dari 6 (enam) strategi tersebut. • Pemerintah dan pemerintah daerah mengembangkan sistem pemantauan berjenjang. Pemantauan dan evaluasi Prinsip : • Melibatkan masyarakat dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi. Pemetaan Peran dan Tanggung Jawab Stakeholder di Masing-Masing Tingkatan STBM dilakukan di semua tingkatan dengan memperhatikan koordinasi lintas sektor dan lintas pemangku kepentingan. • Mengoptimumkan pemanfaatan hasil pemantauan dari kegiatan-kegiatan lain yang sejenis. 3 (tiga) strategi pertama merupakan strategi utama dalam pelaksanaan STBM. 10 | KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT . Pokok kegiatan : • Memantau kegiatan dalam lingkup komunitas oleh masyarakat. • Menyediakan subsidi diperbolehkan untuk fasilitas sanitasi komunal. c. • Pemerintah daerah mengembangkan sistem pemantauan dan pengelolaan data. Tiga strategi ini disebut Komponen Sanitasi Total.

Mengoperasikan sistem Persiapan STBM - Tingkat Provinsi zoning/clustering/ melaksanakan strategi verifikasi sesuai indikator pentahapan rencana pemasaran yang dipilih masing-masing pilar 1. termasuk rangka perluasan dan 4. Menyusun rencana pemicuan di masyarakat STBM : kecamatan dan implementasi 2. Advokasi dalam pembiayaan bekerjasama dengan stakeholder provinsi 3. Memfasilitasi pengelolaan 2. Riset pasar tingkat penerapan strategi 4. Advokasi kepada 1.mengenalkan pengelolaan program perilaku metode pemantauan STBM kabupaten/kota 3. Standar. Kriteria) sasaran pemantauan. kabupaten/kota dan Pedoman. Advokasi dan sosialisasi pemerintah kabupaten/ program STBM kepada 1. Membangun partisipatif oleh masyarakat meliputi. Pelaksanaan rencana 2. mengimplementasikan pengetahuan dan komunikasi ke pemasaran kemitraan rencana pengelolaan rencana pelaksanaan. Membangun kapasitas Pusat dan Provinsi 1. Menggali potensi anggaran 1-5 tahun pengelolaan 2. Advokasi dan 2. evaluasi dan kabupaten/kota dalam mekanisme pemicuan (contoh:verifikasi SBS Tahapan Pelaksanaan STBM pengelolaan pengetahuan pengelolaan anggaran berdasarkan kepeminatan untuk pilar 1) 11 . Mengembangkan pengembangan program 3. Pelaksanaan - Tingkat Kabupaten/ Tingkat Kabupaten/ Pelaksanaan . Mengakomodasi Persiapan STBM . pemasaran.Tingkat bantuan dan rencana 5. Persiapan STBM . kemampuan penyediaan/ melalui pemicuan rencana aksi. rencana provinsi dan kajian permintaan masyarakat Tingkat Pusat terhadap lingkungan pemantauan. komitmen. kabupaten/kota strategi pelaksanaan. pengelolaan dalam proses STBM Pelaksanaan . rencana kecamatan untuk 1.Tingkat Kota Kota dan Kecamatan Kecamatan dan desa/ kelurahan Tahapan 1. Pelaksanaan peningkatan pelaksanaan kota dengan melibatkan stakeholder kecamatan permintaan selaras dengan SKPD terkait dan 2. Mengembangkan sistem mulai melaksanakan sesuai indikator Tabel 2: pembiayaan bersama pemantauan. Penyusunan strategi komunikasi perubahan pemantauan . pemantauan lintas pemerintah daerah pengetahuan serta pemantauan dan kabupaten/kota dan kebijakan 3. Bersama instasi pengetahuan. Membangun strategi pengelolaan bantuan. Mengidentifikasi kecamatan pemantauan dan peningkatan kapasitas institusi berbagai pilihan mengidentifikasi dan verifikasi akses sanitasi 5. segmentasi/ suplai lokal untuk 3. Penyiapan NSPK pendukung pada (Norma.

verifikasi ODF. Melakukan fasilitasi di antara pemasaran & komunikasi masyarakat yang dipicu dan wirausaha perubahan perilaku sanitasi 12 | KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT . Memfasilitasi wirausaha sanitasi monitoring dan evaluasi melayani konsumen warga ekonomi rendah. koordinasi dan DPRD untuk pendanaan dan dukungan penyediaan bantuan teknis program. modul c. Mengorganisir pelatihan fasilitator STBM pelatihan. digambarkan pada bagan dibawah: Tugas dan Fungsi Pusat Tugas dan Fungsi Provinsi Tugas dan Fungsi Kabupaten Tugas dan Fungsi Kecamatan Tugas dan Fungsi Puskesmas/Mitra LSM di tingkat masyarakat Gambar 1: Tupoksi STBM a. Pemantauan dan fasilitasi b. penggalian b. Menyapkan panel pelatih pendampingan tindak lanjut pasca master STBM provinsi pemicuan. Memantau. sistem d. b. melaporkan data secara pembelajaran regular ke kabupaten. Tugas dan fungsi pemangku kebijakan (stakeholder) dalam menfasilitasi penyelenggaraan STBM di setiap tingkatan. Advokasi dan komunikasi kepada Bupati/ pendanaan. a. Melakukan fasilitasi kepada masyarakat lembaga riset pasar untuk dalam memilih teknologi sanitasi. Bekerjasama dengan c. Penyiapan NSPK. pendanaan dan koordinasi a. Advokasi kebijakan a. d. mengembangkan strategi d. Memicu masyarakat & melakukan b. Advokasi program. c. Mengelola dan memantau program program.

Kemenkes RI. Undang-undang No. Depkes RI. 8. Jakarta: 2013. 3. Update terkait STBM juga dapat diakses melalui www. Kebijakan Nasional Pembangunan Air Minum dan Sanitasi. Kepmenkes No. Jakarta: 2010. 6. Bappenas. Depkes RI. Strategi Nasional STBM.36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.org KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT | 13 . Renstra 2010-2014. 2. Jakarta: 2009. Setneg RI. REFERENSI 1. Kemenkes RI. 852/2008. Setneg RI. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025. Undang-Undang No. 5. Buku Profil Program Penyehatan Lingkungan Ditjen P2PL. 4. Jakarta: 2005.stbm- indonesia. tentang Strategi Nasional STBM. Jakarta: 2003. Jakarta: 2008. Jakarta: 2008.VIII. 7.

.

: KONSEP DASAR PENDEKATAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT (STBM) .1.1. MODUL MI. Pendekatan STBM Konsep Dasar Modul MI.

TUJUAN PEMBELAJARAN 14 III. BAHAN BELAJAR 16 V. Peningkatan Kebutuhan dan Permintaan Sanitasi 26 b. Manfaat Pelaksanaan 5 Pilar STBM 29 d. Sejarah Program Pembangunan Sanitasi 21 d. Pengertian 28 b. Konsep STBM 23 POKOK BAHASAN 2: KOMPONEN STBM 26 a. URAIAN MATERI 17 POKOK BAHASAN 1: PENGERTIAN STBM 17 a. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN 15 IV.1. Penyelenggara Pelaksanaan 5 Pilar STBM 29 c. Pengertian STBM 17 b. Penciptaan Lingkungan yang Kondusif 27 POKOK BAHASAN 3: LIMA PILAR STBM 28 a.Modul MI. Peningkatan Layanan Penyediaan/Suplai 26 c. Tujuan Pelaksanaan 5 Pilar STBM 30 KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . DESKRIPSI SINGKAT 14 II. Konsep Dasar Pendekatan STBM I. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN 16 VII. Tujuan STBM 21 c. METODE PEMBELAJARAN 16 VI.

Masyarakat Sebagai Pemimpin 30 c. Komponen STBM 37 c. Pembelajaran Penerapan STBM 35 b. Tangga Perubahan Perilaku Visi STBM 32 VIII. Totalitas Seluruh Komponen Masyarakat 31 POKOK BAHASAN 5 : PILAR PERUBAHAN PERILAKU STBM DAN TANGGA PERUBAHAN PERILAKU 32 a. LAMPIRAN 34 Lembar Penugasan 35 a.REFERENSI 34 IX. Tangga Sanitasi 32 b. 30 b. Kaitan Tiga Komponen 39 KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM .POKOK BAHASAN 4 : PRINSIP-PRINSIP STBM 30 a. Tanpa Subsidi. Tidak Menggurui / Memaksa 30 d.

14 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . baru 55.543 desa yang sudah ODF (SBS).54% di perkotaan dan 38. baru 12.60% penduduk Indonesia yang memiliki akses sanitasi yang layak. Oleh karena itu. Menjelaskan pengertian STBM. 2.82% di perkotaan dan 55. termasuk mengajarkan materi ini kepada mahasiswa- mahasiswa Poltekes. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti materi ini. II. B. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti materi ini peserta mampu: 1. DESKRIPSI SINGKAT Modul Konsep Dasar Pendekatan STBM ini disusun untuk membekali peserta agar memahami pengertian. Angka ini masih jauh dari target MDG Indonesia yaitu 62.55% di perdesaan. komponen-komponen. yang terbagi antara 72. dan prinsip- prinsip dasar pendekatan STBM secara lebih rinci dan mendalam. Dari target RPJMN bidang kesehatan untuk mencapai 20. TUJUAN PEMBELAJARAN A. KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM I. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011. Menjelaskan komponen STBM. hingga Juni 2013. peserta mampu memahami konsep dasar pendekatan STBM. untuk selanjutnya dapat memfasilitasi penerapan STBM di masyarakat. usaha keras masih sangat diperlukan. Berdasarkan data Kemenkes. pemahaman terkait konsep dasar pendekatan STBM menjadi sangat penting agar peserta pelatihan bisa memahami secara utuh. MODUL MI.000 desa Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) pada tahun 2014.1.97% di perdesaan.40% atau 76.

D. Pokok Bahasan 4: Prinsip-prinsip STBM a. Tujuan pelaksanaan 5 pilar STBM. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN A. c. d. c. Pokok Bahasan 2: Komponen STBM a. Pokok Bahasan 3: Lima Pilar STBM a. Penciptaan lingkungan yang kondusif. dan 5. Pokok Bahasan 1: Pengertian STBM a. c. KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 15 . 4. Menjelaskan lima pilar STBM. Pengertian STBM. Penyelenggara pelaksanaan 5 pilar STBM. Menjelaskan prinsip-prinsip STBM. d. Menjelaskan pilar perubahan perilaku pada STBM dan tangga perubahan perilaku. Tangga perubahan perilaku visi STBM. Konsep STBM. Pengertian. Manfaat pelaksanaan 5 pilar STBM. b. c. Totalitas seluruh komponen masyarakat. b. III. Sejarah program pembangunan sanitasi. d. b. Peningkatan penyediaan/suplai sanitasi. Pokok Bahasan 5: Pilar Perubahan Perilaku STBM dan Tangga Perubahan Perilaku a. b. Peningkatan kebutuhan dan permintaan sanitasi. B. Tangga sanitasi. C. Tidak menggurui/memaksa. E. Masyarakat sebagai pemimpin. b. Tujuan STBM. Tanpa subsidi. 3.

V. Langkah 1: Pengkondisian (15 menit) 1. putar film. 5. fliptchart. Untuk mempermudah proses pembelajaran dan meningkatkan partisipasi seluruh perserta. PL = 0 jp) @45 menit. B. panduan diskusi kelompok. Menggali pendapat peserta tentang konsep dasar pendekatan STBM dan mendiskusikannya. spidol. pokok bahasan dan metode yang digunakan. LCD projector. dilakukan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: A. Penyegaran dan pencairan suasana. • Tiga Komponen Pokok STBM. Proses pembelajaran menggunakan metode dimana semua peserta terlibat secara aktif. kain tempel. P= 4 jp. VI. METODE PEMBELAJARAN Ceramah tanya jawab. Fasilitator menyampaikan pokok bahasan: • Pengertian STBM. pelatih menjelaskan tentang konsep dasar pendekatan STBM. curah pendapat. dan modul. Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran. dan penugasan. meta plan. Langkah 2: Pengkajian Pokok Bahasan (240 menit) 1. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini adalah sebanyak 6 jam pelajaran (T=2 jp. Berdasarkan pendapat peserta. Fasilitator menggali harapan peserta tentang materi dan keterampilan yang ingin dicapai melalui sesi ini. 2. 3. IV. 16 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . panduan penugasan. diskusi. BAHAN BELAJAR Bahan tayang (slide ppt. 4. komputer/laptop. film CLTS dan STBM).

2. (ii) mencuci tangan pakai sabun. Komponen STBM (60 menit). Definisi Operasional STBM • Kondisi Sanitasi Total adalah kondisi ketika suatu komunitas (i) tidak buang air besar sembarangan. penilaian. C. Fasilitator memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya sehingga antar peserta juga terjadi diskusi dan interaksi yang baik. (iii) KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 17 . URAIAN MATERI POKOK BAHASAN 1: PENGERTIAN STBM a. Pembelajaran Penerapan STBM (90 menit). dan fasilitator memfasilitasi pemberian jawaban. b. Peserta dipersilahkan untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. VII. c. Meminta komentar. Fasilitator menugaskan peserta untuk melakukan diskusi kelompok tentang: a. • Lima Pilar STBM. 3. saran bahkan kritik dari peserta pada kertas evaluasi yang telah disediakan. 3. baik dari fasilitator maupun dari peserta lain. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. dan memberikan jawaban dan klarifikasi atas pertanyaan-pertanyaan peserta. Langkah 3: Rangkuman (15 menit): 1. Fasilitator menutup sesi pembelajaran dengan memastikan bahwa TPU dan TPK sesi telah tercapai. • Pilar Perubahan Perilaku pada STBM dan Tangga Perubahan Perilaku. Pengertian STBM STBM adalah pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. 4. 2. • Prinsip-prinsip STBM. Kaitan Tiga Komponen STBM (30 menit).

(3) Pengolahan bahan makanan. kemandirian. sabun dan saluran pembuangan air limbah. penyimpanan dan pemanfaatan air minum dan air yang digunakan untuk produksi makanan dan keperluan oral lainnya. serta menjamin keberlanjutannya. • Sarana CTPS adalah sarana untuk melakukan perilaku cuci tangan pakai sabun yang dilengkapi dengan sarana air mengalir. • Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT) adalah suatu proses pengolahan. • Pengelolaan Sampah Rumah Tangga (PS-RT) adalah proses pengelolaan sampah dengan aman pada tingkat rumah tangga dengan mengedepankan prinsip mengurangi. • Jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit. dan (v) mengelola limbah cair rumah tangga dengan aman. dan (6) Penyajian makanan. • Berbasis masyarakat adalah kondisi yang menempatkan masyarakat sebagai pengambil keputusan dan penanggung jawab dalam rangka menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat untuk memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup. • Sanitasi dalam dokumen ini meliputi kondisi sanitasi total di atas. memakai ulang dan mendaur 18 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . • Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) adalah perilaku cuci tangan secara benar dengan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir. sarana pengelolaan sampah dan limbah rumah tangga. serta pengelolaan makanan yang aman di rumah tangga yang meliputi 6 prinsip Higiene Sanitasi Pangan: (1) Pemilihan bahan makanan. (2) Penyimpanan bahan makanan. mengelola air minum dan makanan yang aman. (5) Pengangkutan makanan. (iv) mengelola sampah dengan aman. • Sanitasi dasar adalah sarana sanitasi rumah tangga yang meliputi sarana buang air besar. kesejahteraan. (4) Penyimpanan makanan. tetapi di fasilitas jamban sehat. • ODF (Open Defecation Free) atau SBS (Stop Buang air besar Sembarangan) adalah kondisi ketika setiap individu dalam suatu komunitas tidak buang air besar di sembarang tempat.

• Peningkatan kebutuhan sanitasi adalah upaya sistematis untuk meningkatkan kebutuhan menuju perubahan perilaku yang higienis dan saniter. termasuk di dalamnya pemerintah. • Pemerintah daerah adalah gubernur. • Verifikasi adalah proses penilaian dan konfirmasi untuk mengukur pencapaian seperangkat indikator yang dijadikan standar. pengangkutan. regulasi. institusi keagamaan dan swasta. • Peningkatan penyediaan sanitasi adalah meningkatkan dan mengembangkan percepatan penyediaan akses terhadap produk dan layanan sanitasi yang layak dan terjangkau dalam rangka membuka dan mengembangkan pasar sanitasi. ulang. • Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga (PLC-RT) adalah proses pengelolaan limbah cair yang aman pada tingkat rumah tangga untuk menghindari terjadinya genangan air limbah yang berpotensi menimbulkan penyakit berbasis lingkungan. biasanya sarana ini dibangun di daerah yang memiliki kepadatan tinggi dan keterbatasan lahan. masyarakat. dan kemitraan antar pelaku STBM. Pengelolaan sampah yang aman adalah pengumpulan. • Penciptaan lingkungan yang kondusif adalah menciptakan kondisi yang mendukung tercapainya sanitasi total. • Sanitasi komunal adalah sarana sanitasi yang melayani lebih dari satu keluarga. lembaga swadaya masyarakat. • LSM/NGO adalah organisasi yang didirikan oleh perorangan atau sekelompok orang secara sukarela yang memberikan pelayanan kepada masyarakat umum tanpa bertujuan untuk memperoleh keuntungan KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 19 . • Pemerintah pusat yang selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. bupati. pendaurulangan atau pembuangan dari material sampah dengan cara yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan. pemprosesan. institusi pendidikan. atau walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. yang tercipta melalui dukungan kelembagaan.

yang telah disepakati bersama. selain menyandang status ODF. (ii) Ada masyarakat yang bertanggung jawab untuk melanjutkan aksi intervensi STBM seperti disebutkan pada poin pertama. • Desa/Kelurahan ODF(Open Defecation Free) / SBS (Stop Buang air besar Sembarangan) adalah desa/kelurahan yang 100% masyarakatnya telah buang air besar di jamban sehat . baik individu (natural leader) ataupun bentuk komite. mencapai perubahan perilaku kolektif terkait Pilar 1 dari 5 pilar STBM • Desa/Kelurahan STBM. yang memotori gerakan STBM di masyarakat tersebut. • Desa/kelurahan Sanitasi Total selain menyandang status Desa STBM/ ODF++. • Pemicuan adalah upaya untuk menuju perubahan perilaku masyarakat yang higiene dan saniter melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode partisipatory berprinsip pada pendekatan CLTS (Community- Led Total Sanitation) • Desa/kelurahan yang melaksanakan STBM adalah desa/kelurahan intervensi pendekatan STBM dan dijadikan target antara karena untuk mencapai kondisi sanitasi total dibutuhkan pencapaian kelima pilar STBM. yaitu. • Natural leader merupakan anggota masyarakat baik individu maupun kelompok masyarakat. masyarakat menyusun suatu rencana aksi kegiatan dalam rangka mencapai komitmen-komitmen perubahan perilaku pilar-pilar STBM. Ada 3 indikator desa/kelurahan yang melaksanakan STBM: (i) Minimal telah ada intervensi melalui pemicuan di salah satu dusun dalam desa/kelurahan tersebut. • Rencana Tindak Lanjut (RTL) merupakan rencana yang disusun dan disepakati oleh masyarakat dengan didampingi oleh fasilitator. misal: mencapai status SBS. 100% rumah tangga melaksanakan praktik pembuangan 20 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . 100% rumah tangga memiliki dan menggunakan sarana jamban yang ditingkatkan dan telah terjadi perubahan perilaku untuk pilar lainnya seperti memiliki dan menggunakan sarana cuci tangan pakai sabun dan 100% rumah tangga mempraktikan penanganan yang aman untuk makanan dan air minum rumah tangga. (iii) Sebagai respon dari aksi intervensi STBM. dari kegiatannya.

artinya Kondisi Sanitasi Total. Tujuan STBM Tujuan program STBM adalah untuk mencapai kondisi sanitasi total dengan mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat yang meliputi 3 komponen yaitu penciptaan lingkungan yang mendukung. masyarakat di Eropa dan India masih menggunakan jalan- jalan kota atau air tergenang untuk BAB. pada tahun 1699 masyarakat Indonesia sudah terbiasa mandi ke sungai dan buang air besar di sungai dan di pinggir pantai. Siswa mendapatkan pendidikan 18 bulan sebelum mereka diterjunkan ke kampung-kampung untuk mempromosikan hidup sehat dan melakukan upaya-upaya pencegahan penyakit. Selanjutnya di tahun 1930. menyabun. Di tahun 1892. c. yang sekarang dikenal dengan KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 21 . pemerintah Belanda sudah membuat sambungan air ke rumah-rumah di kawasan komersial di Jakarta dan membuat Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di Bandung pada tahun 1916. yaitu desa/kelurahan yang telah mencapai perubahan perilaku kolektif terkait seluruh Pilar 1-5 STBM. sampah dan limbah cair domestik yang aman. Dr. Dr. menggunakan bak. Heydrick melakukan kampanye untuk BAB di kakus. Pada akhir tahun 1800-an. Untuk mendapatkan sumber daya manusia dalam melaksanakan program-program tersebut. mantri higiene Belanda. serta peningkatan penyediaan sanitasi serta pengembangan inovasi sesuai dengan konteks wilayah. Berdasarkan catatan pejabat VOC Dampier. Sejarah Program Pembangunan Sanitasi Jauh sebelum Indonesia merdeka. Di tahun 1936. didirikanlah sekolah mantri higiene di Banyumas. membilas dan mengeringkan badannya. Kementerian Kesehatan mendirikan sekolah-sekolah kesehatan lingkungan. b. Heydrick sendiri dikenal sebagai mantri kakus. sedangkan pada masa itu. 5/1974. Setelah merdeka. peningkatan kebutuhan sanitasi. HCC Clockener Brouson mencatat bahwa orang Indonesia terbiasa mandi 3 kali sehari. pemerintah mencanangkan program Sarana Air Minum dan Jamban Keluarga (SAMIJAGA) melalui Inpres No. program sanitasi sudah dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

nama Politeknik Kesehatan (Poltekes). dari keproyekan menjadi keprograman. sedangkan sisanya BAB di sembarang tempat. Program-program tersebut umumnya dilakukan dengan pendekatan keproyekan. pemerintah mencanangkan program nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Secara ringkas. pemerintah melakukan beragam program pembangunan sanitasi. Pada tahun 2008. Periode 1970-1997. print’ Tabel 3: Kecenderungan Pelaksanaan Program Air dan Sanitasi di Indonesia 22 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . perbedaan pendekatan pembangunan sanitasi sebelum dan saat ini terlihat pada tabel di bawah ini: Program-Program Terdahulu Kecenderungan Saat Ini (biasanya Target Oriented) Perkembangan jumlah sarana Perubahan perilaku dan kesehatan Subsidi Solidaritas sosial Model-model sarana Model-model sarana digagas dan disarankan oleh pihak luar dikembangkan oleh masyarakat Sasaran utama adalah kepala Sasaran utama adalah masyarakat keluarga desa secara utuh Top down (dari atas ke bawah) Bottom up (dari bawah ke atas) Fokus pada: berhentinya BAB di Fokus pada: jumlah jamban sembarang tempat Pendekatannya bersifat ‘blue Pendekatannya lebih fleksibel. Hal ini secara tidak langsung menyebabkan rendahnya peningkatan akses sanitasi masyarakat. Lebih jauh hal ini berkorelasi dengan tingginya angka diare dan penyakit-penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak bersih. sehingga faktor keberlanjutannya sangat rendah. Dengan mempertimbangkan kebutuhan keberlanjutan program dan tingkat keberhasilan yang ingin dicapai. pemerintah melakukan perubahan pendekatan pembangunan sanitasi. Hasil studi ISSDP mencatat hanya 53% dari masyarakat Indonesia yang BAB di jamban yang layak pada tahun 2007.

Afrika. Artinya. Pendekatan ini awalnya diujicobakan di beberapa komunitas di Bangladesh dan saat ini sudah diadopsi secara luas di negara tersebut. Community Led (dipimpin masyarakat) tidak hanya dipakai dalam bidang sanitasi. Pendekatan ini berawal dari sebuah penilaian dampak partisipatif air bersih dan sanitasi yang telah dijalankan selama 10 tahun oleh Water Aid. Ciri utama pendekatan ini adalah tidak adanya subsidi terhadap infrastruktur (jamban keluarga). Prinsip yang terpenting dari CLTS adalah: • Inisiatif masyarakat. Gambaran tentang CLTS dapat diperoleh melalui film tentang implementasi CLTS di Propinsi Maharashtra di India dan pengembangan CLTS di Indonesia (Awakening). • Total atau keseluruhan. pertanian. CLTS adalah sebuah pendekatan dalam pembangunan sanitasi pedesaan dan mulai berkembang pada tahun 2001. Salah satu rekomendasi dari penilaian tersebut adalah perlunya mengembangkan sebuah strategi untuk secara perlahan-lahan mencabut subsidi pembangunan toilet. dan lain-lain. Pada dasarnya CLTS adalah “pemberdayaan” dan “tidak membicarakan masalah subsidi”. Sebelum memahami konsep dan prinsip STBM. Salah satu negara bagian di India yaitu Provinsi Maharasthra telah mengadopsi pendekatan CLTS ke dalam program pemerintah secara masal yang disebut dengan program Total Sanitation Campaign (TSC). d. Nepal. berikut dijelaskan secara singkat konsep CLTS. keputusan masyarakat dan pelaksanaan secara KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 23 . masyarakat yang dijadikan “guru” dengan tidak memberikan subsidi sama sekali. tetapi dapat juga diterapkan dalam hal lain seperti dalam pendidikan. Beberapa negara lain seperti Cambodia. Konsep STBM Konsep STBM diadopsi dari konsep Community Led Total Sanitation (CLTS) yang telah disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan di Indonesia. dan Mongolia juga telah menerapkan CLTS. dan tidak menetapkan model standar jamban yang nantinya akan dibangun oleh masyarakat.

dan biasanya akan muncul “natural leader”. 24 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . Method (metode) Personal Profesional Perilaku dan Institusional kebiasaan Proses Penerapan Berbagi Metode Gambar 2: Tiga Pilar Utama PRA Ketiganya merupakan pilar utama yang harus diperhatikan dalam pendekatan CLTS. Dasar dari CLTS adalah tiga pilar utama Participatory Rural Appraisal (PRA). kaya miskin) sangat terlihat dalam pendekatan ini. karena jika perilaku dan kebiasaan tidak berubah maka kita tidak akan pernah mencapai tahap “berbagi (sharing)” dan sangat sulit untuk menerapkan “metode” yang tepat. • Semua dibuat oleh masyarakat. tidak ada ikut campur pihak luar. Attitude and Behaviour Change (perubahan perilaku dan kebiasaan) 2. kolektif adalah kunci utama. namun dari ketiganya yang paling penting adalah “perubahan perilaku dan kebiasaan” (Attitude and Behavior Change)”. • Solidaritas masyarakat (laki perempuan. yaitu: 1. Sharing (berbagi) 3.

Perubahan perilaku dan kebiasaan tersebut harus total, dimana
didalamnya meliputi perilaku personal atau individual, perilaku
institusional atau kelembagaan dan perilaku profesional atau yang
berkaitan dengan profesi. Salah satu perilaku dan kebiasaan yang harus
berubah adalah perilaku fasilitator, diantaranya:

• Pandangan bahwa ada kelompok yang berada di tingkat atas
(upper) dan kelompok yang berada di tingkat bawah (lower). Cara
pandang “upper-lower” harus dirubah menjadi “pembelajaran
bersama”, bahkan menempatkan masyarakat sebagai “guru”
karena masyarakat sendiri yang paling tahu apa yang terjadi dalam
masyarakat itu.

• Cara pikir bahwa kita datang bukan untuk “memberi” sesuatu tetapi
“menolong” masyarakat untuk menemukan sesuatu.

• Bahasa tubuh (gesture); sangat berkaitan dengan pandangan
upper lower. Bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa seorang
fasilitator mempunyai pengetahuan atau keterampilan yang lebih
dibandingkan masyarakat, harus dihindari.
Ketika perilaku dan kebiasaan (termasuk cara berpikir dan bahasa
tubuh) dari fasilitator telah berubah maka “sharing” akan segera
dimulai. Masyarakat akan merasa bebas untuk mengatakan tentang apa
yang terjadi di komunitasnya dan mereka mulai merencanakan untuk
melakukan sesuatu. Setelah masyarakat dapat berbagi, maka metode
mulai dapat diterapkan. Masyarakat secara bersama-sama melakukan
analisa terhadap kondisi dan masalah masyarakat tersebut.
Dalam CLTS fasilitator tidak memberikan solusi. Namun ketika metode
telah diterapkan (proses pemicuan telah dilakukan) dan masyarakat sudah
terpicu sehingga diantara mereka sudah ada keinginan untuk berubah
tetapi masih ada kendala yang mereka rasakan misalnya kendala teknis,
ekonomi, budaya, dan lain-lain maka fasilitator mulai memotivasi mereka
untuk mencapai perubahan ke arah yang lebih baik, misalnya dengan
cara memberikan alternatif pemecahan masalah-masalah tersebut.
Tentang usaha atau alternatif mana yang akan digunakan, semuanya
harus dikembalikan kepada masyarakat tersebut.

KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 25

Konsep-konsep inilah yang kemudian diadopsi oleh STBM dan
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan di Indonesia. Konsep STBM
menekankan pada upaya perubahan perilaku yang berkelanjutan untuk
mencapai kondisi sanitasi total melalui pemberdayaan masyarakat.

POKOK BAHASAN 2: TIGA KOMPONEN POKOK STBM

Pendekatan STBM merupakan interaksi yang saling terkait antara
ketiga komponen pokok sanitasi, yang dilaksanakan secara terpadu,
sebagai berikut:
a. Peningkatan Kebutuhan dan Permintaan Sanitasi
Komponen peningkatan kebutuhan dan permintaan sanitasi
merupakan upaya sistematis untuk mendapatkan perubahan perilaku
yang higienis dan saniter, berupa:
• Pemicuan perubahan perilaku,
• Promosi dan kampanye perubahan perilaku higiene dan sanitasi secara
langsung,
• Penyampaian pesan melalui media massa dan media komunikasi
lainnya,
• Mengembangkan komitmen masyarakat dalam perubahan perilaku,
• Memfasilitasi terbentuknya komite/ tim kerja masyarakat,
• Mengembangkan mekanisme penghargaan terhadap masyarakat/
institusi melalui mekanisme kompetisi dan benchmark kinerja daerah.

b. Peningkatan Layanan Penyediaan/ Suplai Sanitasi
Peningkatan penyediaan sanitasi yang secara khusus diprioritaskan
untuk meningkatkan dan mengembangkan percepatan penyediaan
akses dan layanan sanitasi yang layak dalam rangka membuka dan
mengembangkan pasar sanitasi perdesaan, yaitu:
• Mengembangkan opsi teknologi sarana sanitasi yang sesuai kebutuhan
dan terjangkau,
• Menciptakan dan memperkuat jejaring pasar sanitasi perdesaan,
• Mengembangkan kapasitas pelaku pasar sanitasi termasuk wirausaha
sanitasi lokal,

26 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM

• Mempromosikan pelaku usaha sanitasi dalam rangka memberikan
akses pelaku usaha sanitasi lokal ke potensi pasar (permintaan) sanitasi
on site potensial.
c. Penciptaan Lingkungan yang Kondusif.
Komponen ini mencakup advokasi kepada para pemimpin pemerintah,
pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam membangun
komitmen bersama untuk melembagakan kegiatan pendekatan STBM
yang diharapkan akan menghasilkan:
• Komitmen pemerintah daerah menyediakan sumber daya untuk
melaksanakan pendekatan STBM menyediakan anggaran untuk
penguatan intitusi,
• Kebijakan dan peraturan daerah mengenai program sanitasi seperti SK
Bupati, Perda, RPJMD, Renstra, dan lain-lain,
• Terbentuknya lembaga koordinasi yang mengarusutamakan sektor
sanitasi, menghasilkan peningkatan anggaran sanitasi daerah,
koordinasi sumber daya dari pemerintah maupun non-pemerintah,
• Adanya tenaga fasilitator, pelatih STBM dan kegiatan peningkatan
kapasitas,
• Adanya sistem pemantauan hasil kinerja dan proses pengelolaan
pembelajaran.
Komponen peningkatan kebutuhan dan permintaan sanitasi dapat
dilaksanakan terlebih dulu untuk memberikan gambaran kepada
masyarakat sasaran tentang resiko hidup di lingkungan yang kumuh,
seperti mudah tertular penyakit yang disebabkan oleh makanan
dan minuman yang tidak higienis, lingkungan yang kotor dan bau,
pencemaran sumber air terutama air tanah dan sungai, daya belajar anak
menurun, dan kemiskinan. Salah satu metode yang dikembangkan untuk
peningkatan kebutuhan dan permintaan sanitasi adalah Community Led
Total Sanitation (CLTS) yang mendorong perubahan perilaku masyarakat
sasaran secara kolektif dan mampu membangun sarana sanitasi secara
mandiri sesuai kemampuan.
Peningkatan layanan penyediaan sanitasi dilakukan untuk
mendekatkan pelayanan jasa pembangunan sarana sanitasi dan
memudahkan akses oleh masyarakat, menyediakan bebagai tipe sarana

KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 27

• Monitoring dan evaluasi. akurat dan mudah dipahami oleh masyarakat sangat diperlukan untuk mendukung promosi sarana sanitasi yang sehat yang dapat disediakan oleh wirausaha sanitasi dan hal ini dapat disebarluaskan melalui jejaring pemasaran untuk menjaring konsumen. Pendekatan ini dapat dilakukan tidak hanya dengan melatih dan menciptakan para wirausaha sanitasi. Bentuk upaya tersebut adalah penciptaan lingkungan yang kondusif untuk mendukung kedua komponen berinteraksi. Kedua komponen tersebut dapat berinteraksi melalui mekanisme pasar bila mendapatkan dukungan dari pemerintah yang dituangkan dalam bentuk regulasi. namun juga memperkuat layanan melalui penyediaan berbagai variasi/ opsi jenis sarana yang dibangun. • Keuangan. Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS) Suatu kondisi ketika setiap individu dalam komunitas tidak buang air besar sembarangan. • Produk dan perangkat. sehingga dapat memenuhi harapan dan kemampuan segmen pasar. POKOK BAHASAN 3: LIMA PILAR STBM a. penganggaran dan pendekatan yang dikembangkan. 28 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . Ada beberapa indikator yang dapat menggambarkan lingkungan yang kondusif antara lain: • Kebijakan. Pengertian Lima Pilar STBM terdiri dari : 1. yang terjangkau oleh masyarakat dan opsi keuangan khususnya skema pembayaran sehingga masyarakat yang kurang mampu memiliki akses terhadap sarana sanitasi yang sehat. Infomasi yang rinci. • Metodologi pelaksanaan program. • Pelaksanaan dengan biaya yang efektif. • Kapasitas pelaksanaan. • Kelembagaan. kebijakan.

Perubahan perilaku pada pilar pertama. (4) Penyimpanan makanan. Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga. serta pengelolaan makanan yang aman di rumah tangga yang meliputi 6 prinsip Higiene Sanitasi Pangan: (1) Pemilihan bahan makanan. (2) Penyimpanan bahan makanan. memakai ulang dan mendaur ulang. penyimpanan dan pemanfaatan air minum dan air yang digunakan untuk produksi makanan dan keperluan oral lainnya. buang air besar pada tempat yang layak. rumah tangga maupun kelompok-kelompok masyarakat. 3. Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Proses pengelolaan sampah yang aman pada tingkat rumah tangga dengan mengedepankan prinsip mengurangi. pemprosesan. 4 dan 5. (3) Pengolahan bahan makanan. 5. c. (6) Penyajian makanan. Pengelolaan Air Minum dan Makanan di Rumah Tangga (PAMM- RT) Suatu proses pengolahan. Proses pengelolaan limbah cair yang aman pada tingkat rumah tangga untuk menghindari terjadinya genangan air limbah yang berpotensi menimbulkan penyakit berbasis lingkungan. Pengelolaan sampah yang aman adalah pengumpulan. (5) Pengangkutan makanan. sehingga akan menghindarkan mereka dari kesakitan dan kematian akibat sanitasi yang tidak sehat. baik yang terdiri dari individu. pengangkutan. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Perilaku cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air bersih yang mengalir. 2. KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 29 . b. Penyelenggara pelaksanaan 5 pilar STBM Penyelenggara pelaksanaan 5 pilar STBM adalah masyarakat. merupakan pintu masuk bagi perilaku hidup bersih dan sehat lainnya yang ada pada pilar 2. pendaurulangan atau pembuangan dari material sampah dengan cara yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat dan lingkungan. 3. 4. Manfaat pelaksanaan 5 pilar STBM Adanya lima pilar STBM akan membantu masyarakat untuk mencapai tingkat higiene yang paripurna.

apalagi dengan memaksa mereka membeli jamban atau produk-produk STBM. Sekiranya individu masyarakat belum mampu menyediakan sanitasi dasar. Masyarakat tidak menerima bantuan dari pemerintah atau pihak lain untuk menyediakan sarana sanitasi dasarnya. tidak hanya untuk meningkatkan akses sanitasi masyarakat yang lebih baik tetapi juga merubah dan mempertahankan keberlanjutan praktik-praktik budaya hidup bersih dan sehat. Tidak menggurui/memaksa STBM tidak boleh disampaikan kepada masyarakat dengan cara menggurui dan memaksa mereka untuk mempraktikkan budaya higiene dan sanitasi. Totalitas seluruh komponen masyarakat 30 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . Tanpa subsidi. d. POKOK BAHASAN 4: PRINSIP-PRINSIP STBM Prinsip-prinsip STBM adalah : a. dan dapat mendorong tewujudnya masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan. Sehingga dalam jangka panjang dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh sanitasi yang kurang baik. Semua kegiatan maupun pembangunan sarana sanitasi dibuat oleh masyarakat. d. Sehingga ikut campur pihak luar tidak diharapkan dan tidak diperbolehkan. biasanya akan tercipta natural- natural leader di masyarakat. b. Tujuan pelaksanaan 5 pilar STBM Dibaginya pelaksanaan STBM di bawah naungan lima pilar akan mempermudah upaya mencapai tujuan akhir STBM. Dalam praktiknya. Penyediaan sarana sanitasi dasar adalah tanggung jawab masyarakat. Fasilitator maupun wirausaha sanitasi hanya membantu memberikan masukan dan pilihan-pilihan solusi kepada masyarakat untuk meningkatkan akses dan kualitas higiene dan sanitasinya. c. Masyarakat sebagai pemimpin Inisiatif pembangunan sarana sanitasi hendaknya berasal dari masyarakat. maka diharapkan adanya kepedulian dan kerjasama dengan anggota masyarakat lain untuk membantu mencarikan solusi.

Seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan- perencanaan-pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan.000. batu Bisa dimulai dengan bambu. Keputusan masyarakat dan pelaksanaan secara kolektif adalah kunci keberhasilan STBM. keempat prinsip diatas bisa dipahami dari perbedaan antara sistem kejar target/ proyek dengan STBM yang dapat dilihat pada tabel dibawah: Sistem Kejar Target Kriteria STBM (Proyek) Input dari luar Subsidi benda-benda Pemberdayaan masyarakat masyarakat untuk jamban Muncul inovasi lain dari Model Model ditentukan masyarakat. dan lain-lain Berkisar antara Rp.000-1. Biaya Relatif lebih murah 500. digunakan bata.000 per model Pemanfaat Yang punya uang Masyarakat yang sangat miskin Seperti yang Waktu yang Ditentukan oleh masyarakat ditargetkan oleh dibutuhkan proyek Motivasi Subsidi / bantuan Harga diri utama Model Oleh masyarakat melalui Oleh organisasi luar / penyebaran hubungan persaudaraan. dan lain-lain kayu. formal perkawanan dan lain-lain KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 31 . Cakupan Sebagian Menyeluruh Indikator Tidak ada lagi kebiasaan BAB Menghitung jamban keberhasilan di sembarang tempat Bahan yang Semen. porselen. Secara lebih rinci.

Pemikiran ini sedikit banyak menghambat animo masyarakat untuk membangun jamban.000. Seringkali pemikiran masyarakat memandang sarana sanitasi seperti jamban adalah sebuah bangunan yang kokoh. Namun pada tahap selanjutnya ketika masyarakat sudah mau merubah kebiasaannya. masyarakat tidak diminta atau disuruh untuk membuat sarana sanitasi tetapi hanya mengubah perilaku sanitasi mereka. karena alasan ekonomi dan lainnya sehingga kebiasaan masyarakat untuk buang air besar pada tempat yang tidak seharusnya tetap berlanjut. 1. kab. dan membutuhkan biaya yang besar untuk membuatnya. b. Tangga perubahan perilaku visi STBM Langkah-langkah perkembangan visi STBM terkait dengan perubahan perilaku higiene dan sanitasi masyarakat (terlihat dalam gambar 3). melakukan Contoh denda Rp. Dalam STBM. Sistem Kejar Target Kriteria STBM (Proyek) Keberlanjutan Sulit untuk dipastikan Dipastikan oleh masyarakat Sanksi bila Disepakati oleh masyarakat. Tangga Sanitasi Tangga sanitasi merupakan tahap perkembangan sarana sanitasi yang digunakan masyarakat. dari sarana yang sangat sederhana sampai sarana sanitasi yang sangat layak dilihat dari aspek kesehatan. kecamatan sembarangan Turatea. misalnya kebiasaaan BAB atau CTPSnya. sarana sanitasi menjadi suatu hal yang tidak terpisahkan. permanen. bulanan. mingguan) Tabel 4: Perbedaan Pendekatan Proyek dan STBM POKOK BAHASAN 5: PILAR PERUBAHAN PERILAKU a. keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya.000 Tidak ada BAB di desa Jombe. diketahui perilaku higiene 32 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . Belajar dari pengalaman global. Jeneponto Tipe Oleh masyarakat (bisa Oleh proyek monitoring harian.

Promosi perubahan perilaku kolektif harus berfokus pada satu atau dua perilaku yang berkaitan pada saat bersamaan. Tangga Perubahan Perilaku - Visi STBM Masyarakat sudah mempraktekkan perilaku Higiene sanitasi secara permanen (5 pilar STBM) (5 pilar STBM) • Adanya upaya peningkatan kualitas sanitasi • Terjadinya perubahan perilaku higiene lainnya di masyarakat (pilar 2-5) (pilar 2-5) • Adanya pemantauan dan evaluasi • 100% masyarakat sudah berubah perilakunya dengan status SBS (terverifikasi) mengubah • Adanya rencana untuk mengubah perilaku Higiene lainnya • Adanya aturan dari masyarakat untuk menjaga status SBS • Adanya pemantauan dan verifikasi secara berkala • Adanya proses pemicuan • Adanya Komite/”Natural Leaders” • Adanya Rencana Aksi Masyarakat • Adanya Pemantauan terus menerus • Tersedianya supply Gambar 3: Tangga Perubahan Perilaku Visi STBM KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 33 . tidak dapat dipromosikan untuk seluruh rumah tangga secara bersamaan.

Buku Sisipan STBM: Kurikulum dan Modul Pelatihan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Kemenkes RI. Working Paper 184.i 34 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . Jakarta: 2012. Kelompok Kerja Antar Departemen. Jakarta: 2009. September 2003. 4. 5. Kar. 6. Kemenkes RI.org 7. 2.stbm-indonesia. Materi Advokasi STBM. 3. REFERENSI 1.or. Kemenkes RI. VIII. Project WASPOLA. Sejarah Sanitasi. Update STBM. www. Seri AMPL 23. Jakarta: 2006. Kamar. Community Led Total Sanitation in Indonesia. Film Awakening Change.ampl. Sekretariat STBM Nasional. Institute for Development Studies. www. Subsidy or Self-Respect? Total Community Sanitation in Bangladesh. Film STBM. Jakarta: 2013.

tetapi bukan pertanyaan diskusi. LAMPIRAN Lembar Penugasan A. Pembelajaran Penerapan STBM Dilakukan melalui Diskusi Kelompok. KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 35 . mintalah masing-masing kelompok mempresentasikan secara singkat hasil diskusinya selama 5 menit. • Minta peserta berbagi dalam 3-4 kelompok sesuai program/proyek yang akan didiskusikan. dan jika sudah selesai. Aturlah agar jumlah peserta setiap kelompok seimbang. menempelkannya di dinding atau kain tempel. • Minta setiap kelompok untuk menganalisa/mendiskusikan program/ proyek yang menjadi pilihannya (selama 20 menit) dengan pokok- pokok kajian. • Sepakatilah dengan peserta 3-4 program/proyek pelaksana STBM yang akan diambil pembelajarannya.IX. sebagai berikut: • Capaian ODF/SBS dibandingkan dengan target? dan kenapa capaiannya seperti itu? • Kesinambungan program (replikasi atau penyebarluasan ke wilayah lain)? Dan kenapa kondisinya seperti itu? • Minta kelompok menuliskan hasil diskusi pada kertas plano. Pembelajaran • Ajukan pertanyaan kepada peserta program/proyek apa saja yang memfasilitasi penerapan STBM yang sedang atau pernah dilaksanakan di kabupaten/wilayah kerja peserta. Penyimpulan jangan terlalu difokuskan pada hasil diskusi yang membahas mengenai “kenapa”. Pemandu memfasilitasi penyimpulan diskusi refleksi pelaksanaan STBM. Langkah-langkah melakukan diskusi kelompok: a. dan juga 1-2 narasumber yang memahami program/proyek tersebut. Berikan kesempatan kepada peserta lain untuk mengajukan pertanyaan klarifikasi. karena akan dibahas pada diskusi selanjutnya. • Setelah seluruh kelompok menyelesaikan diskusinya. • Dari hasil diskusi pleno. Maksimal waktu 90 menit.

yaitu target ODF/SBS akan tercapai dan penerapan STBM berkesinambungan atau akan menyebar ke wilayah lain. b. yaitu target ODF/SBS sulit tercapai dan penerapan STBM tidak berkesinambungan atau tidak di replikasi. Mintalah salah satu kelompok untuk menempelkan terlebih dahulu jawaban faktor pendukung. Apa yang menjadi faktor penghambat bagi kondisi yang pesimis? 3. Lakukan proses klarifikasi dan penyepakatan dengan peserta jika ada beberapa jawaban yang kurang pas atau tidak jelas. target tercapai dan penerapan STBM berkesinambungan. Kemudian kelompok lain menambahkan jika ada jawaban yang berbeda. 5. Poin kunci untuk pemandu: Ada 2 kemungkinan hasil diskusi peserta tentang pembelajaran penerapan STBM: 1. Jawaban Optimis. Jawaban Pesimis. target sulit tercapai dan penerapan STBM tidak berkesinambungan. dan b) pesimis. 2. pemandu menyiapkan kain tempel dengan 2 kolom terpisah dengan judul ”faktor pendukung” dan ”faktor penghambat” dalam kertas metaplan panjang. 36 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . 4. 6. dan 2. Sementara peserta berdiskusi. Lakukan hal yang sama untuk jawaban faktor penghambat. Sebagai pengantar diskusi. pemandu mengangkat kembali hasil diskusi sebelumnya bahwa ada 2 kondisi berbeda yaitu a) optimis. Diskusi Faktor Pendukung dan Penghambat 1. Pemandu meminta peserta kembali ke kelompok diskusi semula untuk mendiskusikan hal-hal berikut selama 20 menit: a. Apa yang menjadi faktor pendukung untuk kondisi yang optimis? b. Minta kelompok menuliskan hasil diskusi pada kertas metaplan dengan warna yang berbeda untuk jawaban faktor pendukung dan faktor penghambat.

Maksimal waktu 60 menit. Mintalah kelompok menulis kegiatan-kegiatan tersebut pada kertas metaplan. Penutup 1. pemandu menuliskan 3 komponen STBM (demand. 3. pemandu memfasilitasi penegasan (bukan penyimpulan) tentang faktor-faktor pendukung dan penghambat. Tuliskan poin-poin kunci jawaban peserta ke dalam kertas plano. Poin kunci untuk pemandu: • Pilih peserta yang sudah mengenal 3 komponen STBM • Giring diskusi untuk menyepakati 3 komponen STBM berikut: demand. Peserta diminta untuk kembali dalam kelompoknya untuk mendiskusikan hal-hal berikut dengan menggunakan hasil diskusi tentang faktor pendukung dan penghambat: • Kegiatan apa saja yang diperlukan untuk memunculkan factor pendukung dan mengatasi faktor penghambat dalam pelaksanaan STBM? 4.c. Mintalah 2-3 peserta untuk menjelaskan mengenai komponen STBM. Sementara peserta berdiskusi. Komponen STBM Dilakukan melalui Diskusi Kelompok. 5. Langkah-langkah melakukan diskusi kelompok: 1. Dari hasil diskusi pleno. Pemandu menanyakan apakah peserta pernah mendengar mengenai komponen STBM. supply. enabling) dalam kertas metaplan dan menempelkan pada kain tempel di 3 tempat berbeda yang berbentuk segitiga. B. supply dan enabling • Jika muncul komponen lain tanyakan pada peserta apakah komponen tersebut berdiri sendiri atau bagian dari dari salah komponen tersebut. KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 37 . 2.

peningkatan kapasitas (pelatihan. Poin kunci untuk pemandu: • Kegiatan Demand adalah kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penumbuhan kebutuhan terhadap sanitasi (perubahan perilaku). pemantauan. dll. Ilustrasi: 6. Mulailah dengan komponen demand. Lanjutkan proses diatas untuk komponen supply dan enabling. pendampingan tindak lanjut. misalnya: memfasilitasi pemilihan opsi teknologi jamban sehat. menghubungkan masyarakat dengan wirausaha sanitasi. misalnya: advokasi kebijakan dan pendanaan. mintalah peserta untuk mengidentifikasi kegiatan mana yang masuk komponen demand. misalnya: pemicuan. Pemandu meminta kelompok untuk menempelkan kegiatan- kegiatan yang sudah diidentifikasi per komponen. dll. fasilitasi pembelajaran). 8. ingatkan peserta mengenai pengertian demand dari diskusi sebelumnya. • Kegiatan Enabling adalah kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penciptaan dan penguatan lingkungan pendukung (dukungan dan keterlibatan para pelaku). • Kegiatan Supply adalah kegiatan-kegiatan yang terkait dengan peningkatan penyediaan layanan sanitasi (sanitation marketing). Lakukan klarifikasi agar tidak terjadi pengelompokan yang kurang tepat. promosi kesehatan dan sanitasi. 7. 38 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . dll. menciptakan wirausaha sanitasi.

Pemandu memulai sesi belajar dengan menanyakan apakah kegiatan-kegiatan di masing-masing komponen dapat berdiri sendiri? Kenapa? 2. Apakah tujuan programnya akan berhasil? KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM | 39 .9. Mintalah 4-5 peserta untuk menanggapi dengan singkat (catatan untuk pemandu: jika ada peserta yang menjawab bisa. namun kondisi wilayahnya sulit dan belum tersedia opsi teknologi jamban yang terjangkau. pemandu dapat meminta peserta untuk menambahkan kegiatan dalam komponen tersebut. Apakah upaya pemicuan akan berhasil? • Jika masyarakat sudah terpicu untuk berubah dan ingin segera membuat jamban sendiri. C. pemandu memfasilitasi penegasan (bukan penyimpulan) tentang kegiatan-kegiatan untuk 3 komponen STBM. 10. Dari hasil diskusi pleno. Kaitan Tiga Komponen Dilakukan melalui Diskusi Kelompok. atau pemandu dapat juga menambahkan dengan terlebih dahulu meminta tanggapan dan konfirmasi peserta. namun material untuk jamban sulit diperolah atau harganya sangat mahal. Jika sebagian komponen memiliki kegiatan yang terbatas. biarkan jangan ditanggapi dulu). Maksimal waktu 30 menit. namun pada saat bersamaan Bupati meluncurkan program bantuan jamban. 3. Langkah-langkah melakukan diskusi kelompok: 1. Ajaklah peserta untuk mengetes jawaban mereka dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: • Jika tim fasilitator melakukan pemicuan dengan baik dan masyarakat terpicu. Apakah upaya perubahan perilaku tidak terhambat? • Jika pemerintah daerah sudah termotivasi untuk mendukung percepatan program STBM.

6. 40 | KONSEP DASAR PENDEKATAN STBM . pemandu menanyakan kembali. Tegaskan kembali keterkaitan komponen STBM dengan membuat tulisan dalam kartu ketiga komponen STBM dan menempelkan di kain dalam bentuk segitiga besar. apakah peserta masih ragu bahwa tiga komponen STBM saling terkait dan tidak dapat dipisahkan? 5. ajak peserta melakukan análisis bersama: o Komponen mana saja sudah dan belum dilaksanakan? o Mengapa itu terjadi? o Bagaimana seharusnya? 7. Penutup. Pemandu memberikan salam penutup. Pemandu memfasilitasi penyimpulan dengan menegaskan kembali bahwa dalam penerapan STBM ketiga komponen harus diterapkan secara terintegrasi. Dari hasil curah pendapat dengan tiga pertanyaan diatas. 9. Pemandu dapat memotivasi peserta untuk mulai dari sekarang menerapan ketiga komponen STBM secara lengkap. 4. Dari visualisasi ketiga komponen tersebut. 8. Minta 2-3 peserta untuk memberikan tanggapannya.

Pelaksanaan STBM MODUL MI.2. : Pelaksanaan STBM .2. Modul MI.

BAHAN BELAJAR 42 V.2. Alur Penularan Penyakit (diagram F) 48 b. Tahapan Kegiatan Pemicuan 45 POKOK BAHASAN 2 : PRA PEMICUAN 45 a.Modul MI. Instrumen Pendukung untuk Melaksanakan Proses Pemicuan di Komunitas 47 POKOK BAHASAN 3 : LANGKAH-LANGKAH PEMICUAN 48 a. Pemilihan Lokasi. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN 41 IV. Persiapan Teknis dan Logistik untuk Menciptakan Suasana yang Kondusif Sebelum Pemicuan 45 b. DESKRIPSI SINGKAT 41 II. 46 d. dll. TUJUAN PEMBELAJARAN 41 III. Observasi Kebiasaan PHBS Masyarakat 45 c. Alat-Alat Utama dalam Penerapan Penilaian Kondisi Desa Secara Partisipatif 50 PELAKSANAAN STBM . Maksud dan Tujuan Pemicuan 44 c. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN 43 VII. Persiapan Pemicuan : Penyusunan Jadwal. Pengertian Pemicuan 44 b. URAIAN MATERI 44 POKOK BAHASAN 1 : KONSEP DASAR PEMICUAN 44 a. METODE PEMBELAJARAN 42 VI. Pelaksanaan STBM I.

Promosi PHBS yang Berkelanjutan 73 VIII. Panduan Diskusi Kelompok Penggunaan Diagram F untuk Memutus Alur Penularan Penyakit 77 c. Penyediaan Suplai Sanitasi dan Pemasaran Sanitasi 58 c. c. Tangga Sanitasi Untuk 5 Pilar STBM 54 b. Elemen Pemicuan dan Faktor Penghambat Pemicuan 51 d. Panduan Melakukan Demo Alur Kontaminasi (Diagram F) 74 b. LAMPIRAN 74 LEMBAR KERJA 74 a. Yang Boleh dan Tidak Boleh Dalam Pemicuan 53 POKOK BAHASAN 4 : ALAT-ALAT PADA METODE CLTS 54 POKOK BAHASAN 5 : PASKA PEMICUAN 54 a. Panduan Simulasi Upper dan Lower dalam STBM 80 d. Pendampingan dan Monitoring 58 e. Panduan Bermain Peran dalam Demonstrasi Alat-Alat Utama CLTS 82 PELAKSANAAN STBM .REFERENSI 73 IX. Membangun Komitmen Masyarakat dengan Menuangkan ke Dalam RTL 58 d.

peserta mampu melakukan pelaksanaan STBM di komunitas. 5. Merencanakan pemicuan. PELAKSANAAN STBM I. khususnya dalam melakukan pemicuan STBM di komunitas. yang didukung oleh tiga komponen pokok STBM. c. 3. Menjelaskan konsep dasar pemicuan. b. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti materi ini peserta mampu : 1. 4. yaitu peningkatan kebutuhan. Maksud dan tujuan. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti materi ini. Tahapan kegiatan. Mempraktekkan alat alat dengan metode CLTS. II. MODUL MI. Pengertian pemicuan. diperlukan fasilitator-fasilitator yang terampil dalam menerapkan pendekatan STBM ketika memfasilitasi proses pemberdayaan masyarakat.2. B. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN A. dan lingkungan yang kondusif. penyediaan suplai. 41 | PELAKSANAAN STBM . DESKRIPSI SINGKAT Keberhasilan STBM ditentukan oleh perubahan perilaku masyarakat untuk menerapkan perilaku sanitasi yang sehat dan berkelanjutan. TUJUAN PEMBELAJARAN A. Menjelaskan langkah langkah pemicuan menggunakan metode CLTS. Menjelaskan kegiatan pasca pemicuan. Untuk itu. 2. III. Pokok bahasan 1: Konsep Dasar Pemicuan a.

metaplan. curah pendapat. B. LCD projector. dll. dan modul. D. c. flipchart. (ii) diskusi kelompok terfokus (focus group discussion /FGD). Promosi PHBS yang berkelanjutan. kain tempel. dan d. Instrumen pendukung untuk melaksanakan proses pemicuan di komunitas. spidol. lembar panduan simulasi. C. lembar panduan diskusi kelompok. Penyediaan suplai sanitasi dan pemasaran sanitasi. PELAKSANAAN STBM | 42 . dan pemutaran film. b. Pokok Bahasan 3: Langkah-langkah Pemicuan a. c. IV. komputer/ laptop. V. d. pemilihan lokasi. simulasi. Pendampingan dan monitoring. Pokok Bahasan 2: Pra Pemicuan a. e. BAHAN BELAJAR Bahan tayang (slide ppt/ film Memicu Peubahan dan Tahapan Pemicuan). Elemen pemicuan dan faktor penghambat pemicuan. c. Alur penularan penyakit (diagram F). Persiapan pemicuan: penyusunan jadwal. d. Tangga sanitasi untuk 5 pilar STBM. b. b. diskusi kelompok. Yang boleh dan tidak boleh dalam pemicuan. Observasi kebiasaan PHBS masyarakat. Persiapan teknis dan logistik untuk menciptakan suasana yang kondusif sebelum pemicuan . dan (iii) pemetaan sosial. Membangun komitmen masyarakat dengan menuangkan ke dalam RTL. Pokok Bahasan 5: Kegiatan Paska Pemicuan a. Alat-alat utama dalam penerapan penilaian kondisi desa secara partisipatif : (i) transect walk. METODE PEMBELAJARAN Ceramah tanya jawab. Pokok Bahasan 4: Alat-Alat Pada Metode CLTS E.

Konsep dasar pemicuan. PL= 0 jp) @45 menit. Memahami aktivitas dan tindak lanjut kegiatan pasca pemicuan. P= 6 jp. d. Menjerapkan langkah langkah pemicuan menggunakan metode CLTS. dilakukan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: A. 4. b. VI. Untuk mempermudah proses pembelajaran dan meningkatkan partisipasi seluruh perserta. c. Fasilitator menyampaikan tujuan pembelajaran. Proses pembelajaran menggunakan metode dimana semua peserta terlibat secara aktif. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini adalah sebanyak 10 jam pelajaran (T= 4 jp. pokok bahasan dan metode yang digunakan. e. Langkah 1: Pengkondisian (30 menit) 1. 2. B. Mempraktekkan alat alat dengan metode CLTS. Penyegaran dan pencairan suasana. 3. Menggali pendapat peserta tentang prinsip-prinsip dan teknik pelaksanaan STBM di komunitas. 2. dan mendiskusikannya. dan memberikan jawaban dan klarifikasi atas pertanyaan-pertanyaan peserta. Fasilitator menggali harapan peserta tentang materi dan keterampilan yang ingin dicapai melalui sesi ini. 43 | PELAKSANAAN STBM . Merencanakan pemicuan dengan menciptakan suasana kondusif dan menyiapkan instrumen pendukung untuk melaksanakan proses pemicuan di komunitas. Fasilitator menyampaikan pokok bahasan: a. Langkah 2: Pengkajian Pokok Pembahasan (390 menit) 1.

4. Meminta komentar. Fasilitator merangkum sesi pembelajaran. Pengertian Pemicuan. C. Maksud dan Tujuan Pemicuan Maksud pemicuan adalah masyarakat secara bersama-sama bisa menyadari bahaya kebiasaan buang air besar sembarangan dan merasa jijik melakukan kebiasaan BABS. Tujuannya adalah agar masyarakat mau berubah perilakunya dari buang air besar sembarangan menjadi buang air besar di jamban yang higienis dan layak. 4. b. masyarakat berkomentar mengenai PELAKSANAAN STBM | 44 . Sering kali dalam pemicuan. Langkah 3: Rangkuman (30 menit): 1. simulasi. penilaian. 3. Peserta dipersilahkan untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas. 2. membagi peserta ke dalam 4 kelompok dan meminta mereka untuk bermain peran terkait pelaksanaan STBM di masyarakat. Pemicuan adalah kegiatan bersama masyarakat untuk memfasilitasi masyarakat melakukan analisa terkait perilaku mereka dalam melakukan buang air besar. Fasilitator mengajak peserta untuk melakukan diskusi kelompok. 5. 3. saran bahkan kritik dari peserta pada kertas evaluasi yang telah disediakan. dan fasilitator memfasilitasi pemberian jawaban. meskipun mereka hanya melakukan BABS satu hari saja. URAIAN MATERI POKOK BAHASAN 1 : KONSEP DASAR PEMICUAN a. baik dari fasilitator maupun dari peserta lain. dan curah pendapat. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanggapi hasil diskusi kelompok dan simulasi yang dilakukan. VII. Fasilitator menutup sesi pembelajaran dengan memastikan tercapainya TPU dan TPK sesi ini.

Persiapan Teknis dan Logistik untuk Menciptakan Suasana Kondusif Sebelum Pemicuan Persiapan lapangan menjadi bagian yang terpisah dengan persiapan penyelenggaran pelatihan. 45 | PELAKSANAAN STBM . saat pemicuan dan pasca pemicuan. Apakah Anda bisa membantu untuk membangun jamban? kami akan berhenti melakukan BABS secepatnya dan kami akan segera membangun lubang. • Kegiatan di lapangan yang meliputi pemberdayaan masyarakat melalui perubahan perilaku secara kolektif. keluaran yang diharapkan setelah praktik. sulitnya mengubah kebiasaan BABS karena beberapa alasan klise seperti: Kita ini orang miskin dan tidak mampu untuk membangun jamban. Penjelasan lebih detail akan dijabarkan pada pokok bahasan berikutnya. Tahapan Kegiatan Pemicuan Kegiatan pemicuan dilakukan secara bertahap. Panitia/pelatih melakukan kunjungan kepada pemerintah daerah/desa/dusun yang akan digunakan sebagai lokasi praktek kerja lapangan dan menjelaskan secara rinci kegiatan yang akan dilaksanakan selama kunjungan lapangan Komponen yang perlu diketahui oleh pemerintah daerah/desa/ dusun antara lain: • Tanggal kunjungan lapangan dan jumlah peserta. • Logistik yang disediakan. Oleh karena itu pemicuan dilakukan bersama-sama sekelompok masyarakat agar masyarakat yang sudah terpicu dapat dengan cepat mengambil keputusan secara kolektif untuk menghentikan kebiasaan BABS. c. POKOK BAHASAN 2: PRA PEMICUAN a. dll. • Peran dan tanggung jawab pemerintah daerah/desa/dusun pada waktu kegiatan dan tindak lanjutnya. produk yang akan diserah kepada pemerintah daerah/desa/ dusun untuk ditindaklanjuti. yang terdiri dari tiga kegiatan utama yaitu kegiatan pra-pemicuan.

1 orang. PELAKSANAAN STBM | 46 . peserta hendaklah sudah memiliki informasi dan data-data dasar terkait perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat. Setiap kelompok hendaknya memiliki anggota dan pembagian tugas sebagai berikut:  Fasilitator Utama. b. kelompok bisa meminta wakil dari komunitas atau panitia untuk menjelaskan lokasi praktik lapang dan gambaran awal lokasi. tokoh masyarakat. rute perjalanan. • Tradisi/ budaya : karakter. dll. • Pendidikan dan pekerjaan masyarakat setempat. Pemilihan Lokasi. perlengkapan yang harus dibawah. • Ada tidaknya program sanitasi 3 tahun terakhir (proyek/pemberian subsidi jamban). rawa. kendaraan. • Ada tidaknya aliran sungai. • Kondisi geografis. Sebelum melakukan pemicuan kelompok hendaklah mempersiapkan diri dengan menyusun rencana kerja. Setiap kelompok akan terdiri dari minimal 6 orang peserta. dll. cemplung tertutup. yang menjadi motor utama proses fasilitasi. Persiapan Pemicuan: Penyusunan Jadwal. bertugas mencatat proses dan hasil untuk kepentingan dokumentasi /pelaporan program. leher angsa.  Pencatat Proses. Untuk itu peserta pelatihan sebaiknya sudah melakukan observasi (peninjauan) maupun diskusi dengan masyarakat di lokasi pemicuan untuk mendapatkan informasi. sedang. • Kepemilikan jamban : cemplung terbuka. dan rencana keberangkatan (waktu. menyusun panduan dan berlatih.). miskin. Beberapa informasi yang perlu dicari adalah: • Jumlah KK / kependudukan dibedakan kaya. Sebelum ke lapangan. Observasi Kebiasaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Masyarakat Sebelum melakukan pemicuan di masyarakat.  Assisten Fasilitator: membantu fasilitator utama dalam memfasilitasi proses sesuai dengan kesepakatan awal atau tergantung pada perkembangan situasi. c. Pemicuan akan dilakukan secara berkelompok. kolam.

tim pemicu perlu mempersiapkan alat-alat yang dibutuhkan. yel-yel. yang bisa memicu masyarakat untuk berubah. 3. spidol. dengan cara mengingatkan fasilitator (dengan kode- kode yang disepakati) bilamana ada hal-hal yang perlu dikoreksi. dedak. takut penyakit. 4. berdosa. tim pemicu bisa mengajak masyarakat melakukan kegiatan mencari tinja. misalnya dengan mengajak anak-anak bermain agar tidak mengganggu proses (sekaligus juga bisa mengajak mereka terlibat dalam kampanye sanitasi. d. namun pemetaan sosial harus dilakukan pertama kali.  Penata Suasana/Pengaman. bertugas mengontrol agar proses sesuai alur dan waktu. kertas potong. Pemetaan sosial sebaiknya dilakukan di lahan (halaman) terbuka. Sebelum melakukan pemicuan. botol air mineral. baik untuk pilar 1. dsb. Untuk pilar 2 STBM. puzzle simulasi diagram F.. seperti tepung. dan demonstrasi air yang terkena tinja. misalnya dengan: menyanyi bersama.). menghitung tinja. meneriakkan slogan. Untuk pemicuan pilar 1 STBM. 2. lem. Tim pemicu bisa menyesuaikan kegiatan sesuai dengan tujuan pemicuan yang akan dilakukan. dll. Peserta perlu mendiskusikan lebih detail dengan anggota kelompok mengenai alat yang diperlukan sesuai dengan kondisi dan rencana proses melakukan pemicuan di masyarakat. menjaga suasana ‘serius’ proses fasilitasi. Beberapa kegiatan bisa dilakukan pada proses pemicuan. dsb. Stop Buang Air Besar Sembarangan. ember. kertas metaplan. kemudian digambarkan kembali di atas kertas plano. 47 | PELAKSANAAN STBM . mengajak berdiskusi terpisah partisipan yang mendominasi atau mengganggu proses. Peta sosial yang dibuat masyarakat.  Penjaga Alur proses fasilitasi. Cuci Tangan Pakai Sabun. tim pemicu bisa mengajak masyarakat bermain alur penularan penyakit (diagram F) dan simulasi cuci tangan pakai sabun. Instrumen Pendukung untuk Melaksanakan Proses Pemicuan di Komunitas Urutan dalam fasilitasi sebenarnya tidak dibakukan. sabun. dll. Pemicuan bisa dilakukan di ruang terbuka maupun tertutup. asal bisa mengoptimalkan rasa jijik. ataupun 5.

Gambar 4: Alur Penularan Penyakit (Diagram F) PELAKSANAAN STBM | 48 .5 juta jiwa. Penyebab utama diare adalah bakteri Eschericia coli selanjutnya disingkat menjadi E. Coli adalah tipe bakteri fecal coliform yang biasanya terdapat pada alat pencernaan binatang dan manusia. Data di Indonesia menunjukkan diare adalah pembunuh balita kedua setelah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Alur Penularan Penyakit (Diagram F) Laporan WHO tahun 2009 menyebutkan bahwa sekitar 1. Di Indonesia setiap tahun 100.1 juta anak usia di bawah lima tahun meninggal karena diare. E. Coli. Sementara UNICEF memperkirakan bahwa setiap 30 detik ada satu anak yang meninggal karena diare.POKOK BAHASAN 3: LANGKAH-LANGKAH PEMICUAN a. Kematian diare pada balita di negara-negara berkembang mencapai 1.000 balita meninggal karena diare. Adanya E. Coli di dalam air adalah indikasi kuat adanya kontaminasi adanya kotoran manusia dan hewan.

Saat turun hujan E. tangan kita juga bisa mengandung kuman penyakit diare. 4. lalat menempelkan kotoran manusia dan hewan ke makanan dan minuman yang tidak ditutup dengan baik. 2.coli akan masuk ke dalam makanan dan minuman kita. Diagram F pertama kami ditemukan oleh E. sehingga lalat tidak dapat menyentuh kotoran manusia. Kuman penyakit yang terdapat dalam tinja. Kotoran manusia dan hewan bisa masuk ke perut melalui beberapa cara.Wagner dan J. dapat mencemari air. Makanan dan minuman yang tidak ditutup rapat. Lanoix pada tahun 1958. juga bisa terkena udara yang mengandung kuman penyakit dan bisa menyebabkan diare. Penyebaran kuman diare dapat dipahami dengan menggunakan Diagram F. air tersebut bisa berbahaya. yang bisa masuk ke tubuh kita jika kita tidak membersihkan tangan. Kotoran manusia yang berserakan ataupun tidak dibuang ke saluran yang benar. tidak sengaja masuk ke dalam mulut. 3.coli dapat terbawa ke sumber-sumber air misalnya ke sungai. dan lalat (flies). yang bisa menyebabkan diare.Coli yang ada di dalam kotoran manusia dan hewan bisa masuk ke dalam tubuh manusia. Sehabis buang air besar / buang air kecil. Mengolah makanan dengan benar serta menutup makanan. Jika sumber-sumber air ini tidak diolah dengan baik maka E. Pengelolaan air minum mulai dari sumber sampai siap untuk diminum. Lalat sering hinggap di kotoran manusia dan hewan. Perilaku buang air besar sembarangan merupakan perilaku yang dapat membantu penyebaran bakteri E. danau. terlampir. Pada saat hinggap di makanan. Mencuci tangan menggunakan sabun pada waktu-waktu penting. antara lain melalui tangan (fingers).G. air (fluid). 49 | PELAKSANAAN STBM . Bagaimana kita bisa mencegah penyakit diare tersebut? 1. Jika langsung diminum. Coli. Pembuatan jamban sehat. Diagram F menggambarkan bagaimana bakteri E.N. dan air bawah tanah. Panduan melakukan demo alur kontaminasi (Diagram F) dan mencegah (blocking) untuk memutus alur penularan penyakit.

untuk melihat akses masyarakat terhadap tempat-tempat BAB (dengan cara membandingkan antara akses sebelum pemicuan dan akses yang terlihat pasca pemicuan dan tindak lanjut masyarakat).b. setelah ada mobilisasi masyarakat). bersama-sama dengan masyarakat melihat kondisi yang ada dan menganalisanya sehingga diharapkan dengan sendirinya masyarakat dapat merumuskan apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan. mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya. seperti:  Pemetaan. dan lain-lain. o FGD tentang privacy.  Penilaian (rating scale) atau keyakinan (convenient). yang bertujuan untuk: PELAKSANAAN STBM | 50 . yang bertujuan untuk mengetahui/melihat peta wilayah BAB masyarakat serta sebagai alat monitoring (pasca pemicuan. dan dalam 1 tahun.  Alur Kontaminasi (Oral Fecal). diharapkan masyarakat akan merasa jijik dan bagi orang yang biasa BAB di tempat tersebut diharapkan akan terpicu rasa malunya. ada beberapa alat PRA yang diperlukan. agama. Untuk memfasilitasi masyarakat dalam menganalisa kondisinya. kemiskinan. Pembahasannya meliputi: o FGD untuk menghitung jumlah tinja dari masyarakat yang BAB di sembarang tempat selama 1 hari. 1 bulan. mengajak masyarakat untuk melihat bagaimana kotoran manusia dapat dimakan oleh manusia yang lainnya. bertujuan untuk melihat dan mengetahui tempat yang paling sering dijadikan tempat BAB.  Diskusi Kelompok Terfokus (FGD). Alat-Alat Utama Dalam Penerapan Penilaian Kondisi Desa Secara Partisipatif Implementasi STBM di masyarakat pada intinya adalah “pemicuan” setelah sebelumnya dilakukan analisa partisipatif oleh masyarakat itu sendiri. Dengan mengajak masyarakat berjalan ke sana dan berdiskusi di tempat tersebut. diantaranya:  Pemetaan dan skoring pemetaan. Adapun alat PRA yang digunakan dalam proses monitoring.  Transect Walk.  Simulasi air yang telah terkontaminasi.

cuci makanan / beras. cuci pakaian. o Perasaan malu dan kaitannya dengan privacy seseorang. o Mengetahui apa yang masyarakat rasakan dengan sarana sanitasi yang dipunyai sekarang. Hal-Hal yang Alat yang Digunakan Harus Dipicu • Transect walk • Demo air yang mengandung tinja. sikat gigi. Secara umum faktor-faktor yang harus dipicu untuk menumbuhkan perubahan perilaku sanitasi dalam suatu komunitas. o Perasaan takut berdosa. o Perasaan takut sakit. dan alat – alat PRA yang digunakan untuk pemicuan faktor-faktor tersebut. diantaranya: o Perasaan jijik. dan hal lain yang ingin mereka lakukan Hal ini berkaitan dengan tangga sanitasi di masyarakat. o Melihat dan mengetahui apa yang dirasakan masyarakat (bandingkan antara yang dirasakan dulu ketika BAB di sembarang tempat dengan yang dirasakan sekarang ketika sudah BAB di tempat yang tetap dan tertutup). dll • Transect walk (mengelaborasi pelaku BAB Rasa malu sembarangan) • FGD (terutama untuk perempuan) 51 | PELAKSANAAN STBM . cuci piring. Berikut ini adalah elemen-elemen yang harus dipicu. wudlu. o Perasaan tidak mampu dan kaitannya dengan kemiskinan. c. kumur-kumur. untuk digunakan Rasa jijik cuci muka. Elemen Pemicuan dan Faktor Penghambat Pemicuan Dalam pemicuan di masyarakat terdapat beberapa faktor yang harus dipicu sehingga target utama yang diharapkan dari pendekatan STBM yaitu: merubah perilaku sanitasi dari masyarakat yang masih melakukan kebiasaan BAB di sembarang tempat dapat tercapai.

dengan alternatif solusi untuk mengurangi atau mengatasi faktor penghambat tersebut. Berikut adalah beberapa hal yang biasanya menjadi penghambat pemicuan di masyarakat. Privacy FGD (terutama dengan perempuan) Membandingkan kondisi di desa/dusun yang Kemiskinan bersangkutan dengan masyarakat “termiskin”. Hal-Hal yang Menjadi Penghambat Pemicuan di Solusi Masyarakat Kebiasaan dengan subsidi / Jelaskan dari awal bahwa kita tidak punya bantuan apa-apa. sementara dalam pendekatan STBM tidak ada unsur subsidi sama sekali. kita tidak membawa bantuan Faktor gengsi. Tabel 5: Elemen Pemicuan Dalam memicu elemen-elemen di atas. malu untuk Gali model-model jamban menurut membangun jamban yang masyarakat dan jangan memberikan 1 sangat sederhana (ingin pilihan model jamban jamban permanen) Munculkan natural leader. jangan Tidak ada tokoh panutan mengajari dan biarkan masyarakat mengerjakannya sendiri. Tabel 6: Faktor Penghambat Pemicuan PELAKSANAAN STBM | 52 . di dalam suatu komunitas biasanya ada juga faktor-faktor penghambat pemicuan. Hal-Hal yang Alat yang Digunakan Harus Dipicu FGD: • Perhitungan jumlah tinja Takut sakit • Pemetaan rumah warga yang terkena diare dengan didukung data puskesmas • Alur kontaminasi Mengutip hadits atau pendapat-pendapat para ahli Aspek agama agama yang relevan dengan perilaku manusia yang dilarang karena merugikan manusia itu sendiri. Salah satunya adalah bahwa masyarakat sudah terbiasa dengan subsidi.

Misalnya: JANGAN LAKUKAN LAKUKAN Memicu kegiatan setempat. Mengajari Memfasilitasi Memfasilitasi masyarakat untuk menganalisa kondisi mereka. yang Menyuruh membuat jamban memicu rasa jijik dan malu dan mendorong orang dari BAB di sembarang tempat menjadi BAB di tempat yang tetap dan tertutup. d. Meskipun bukan merupakan kesalahan fasilitator jika masyarakat “menolak” untuk mengimplementasikan pendekatan STBM dalam komunitas mereka.Sehingga. hentikan proses. namun peran fasilitator sangat berpengaruh. Memberikan alat-alat atau Melibatkan masyarakat dalam setiap petunjuk kepada orang pengadaan alat untuk proses fasilitasi. Jika masyarakat bersedia maka kegiatan bisa dilanjutkan tetapi jika mereka tidak bisa menerimanya. Yang Boleh Dan Tidak Boleh Dalam Pemicuan Dalam STBM. (Masyarakat melakukan ini dan itu pada saat yang memimpin) fasilitasi). perorangan Menjadi pemimpin. Fasilitator hanya menyampaikan mendominasi proses diskusi. ada beberapa hal yang harus dihindari oleh fasilitator dan beberapa hal yang sebaiknya dilakukan saat memfasilitasi masyarakat. Memberitahukan apa yang baik Membiarkan mereka menyadarinya dan apa yang buruk sendiri 53 | PELAKSANAAN STBM . Dari awal katakan bahwa tidak akan Menawarkan subsidi pernah ada subsidi dalam kegiatan ini. faktor penentu keberhasilan dan kegagalan (dapat diterapkan dan tidaknya) pendekatan ini sangat tergantung dari masyarakat. “ pertanyaan sebagai pancingan” dan (selalu menunjukkan dan biarkan masyarakat yang berbicara/ menyuruh masyarakat diskusi lebih banyak.

JANGAN LAKUKAN LAKUKAN Kembalikan setiap pertanyaan dari Langsung memberikan masyarakat kepada masyarakat itu jawaban terhadap pertanyaan- sendiri. Lihat panduan penggunaan. dan membutuhkan biaya yang besar untuk membuatnya. maka sarana sanitasi menjadi suatu hal yang tidak terpisahkan. permanen. keamanan dan kenyamanan bagi penggunanya. seperti buang air besar. Namun pada tahap selanjutnya ketika masyarakat sudah mau merubah kebiasaan sanitasinya. Pada prinsipnya sebuah jamban yang saniter dan layak terbagi menjadi tiga kelompok berdasarkan letak konstruksi dan PELAKSANAAN STBM | 54 . POKOK BAHASAN 5: KEGIATAN PASKA PEMICUAN a. masyarakat tidak diminta atau disuruh untuk membuat sarana sanitasi tetapi hanya mengubah perilaku sanitasi mereka. Seringkali pemikiran masyarakat akan sarana sanitasi adalah sebuah bangunan yang kokoh. dari sarana yang sangat sederhana sampai sarana sanitasi yang sangat layak dilihat dari aspek kesehatan. seperti jamban. Pemikiran ini sedikit banyak menghambat animo masyarakat untuk membangun sarana sanitasi. Tangga Sanitasi Untuk 5 Pilar STBM Sanitation Ladder atau tangga sanitasi merupakan tahap perkembangan sarana sanitasi yang digunakan masyarakat. Dalam STBM. misalnya: “jadi bagaimana pertanyaan masyarakat sebaiknya menurut bapak/ibu?” Tabel 7: Yang Boleh Dan Tidak Boleh Dalam Pemicuan POKOK BAHASAN 4: ALAT-ALAT/METODE CLTS Pada bagian ini peserta akan mempraktikkan cara-cara menggunakan alat-alat dan metode CLTS. karena alasan ekonomi dan lainnya sehingga kebiasaan masyarakat untuk buang air besar pada tempat yang tidak seharusnya tetap berlanjut.

• Membiasakan cuci tangan pakai sabun dengan air yang mengalir. 55 | PELAKSANAAN STBM . • Menjaga agar tidak kontak antara manusia dan tinja. Bangunan atau dinding penghalang erat kaitannya dengan faktor kenyamanan. Terminologi aman disini dapat diartikan aman dari terperosok kepada lubang kotoran. aman saat membuang hajat (malam hari/saat hujan/ aman digunakan oleh orang jompo). Pertama adalah bangunan bawah tanah yang berfungsi sebagai tempat pembuangan tinja. • Membuang tinja manusia yang aman sehingga tidak dihinggapi lalat atau serangga vektor lainnya termasuk binatang. Tangga Perubahan Perilaku Pilar-Pilar STBM. • Konstruksi dudukan jamban dibuat dengan baik dan aman bagi pengguna. dengan batasan sebagai berikut: Jamban sehat adalah fasilitas pembuangan tinja yang memenuhi syarat : • Tidak mengkontaminasi badan air. • Mengelola air minum dan makanan secara aman. Fungsi bangunan bawah tanah adalah untuk melokalisir tinja dan mengubahnya menjadi lumpur stabil. Sasaran perubahan perilaku dalam STBM ada 5 pilar perilaku yaitu : • Menghentikan kebiasaan BAB sembarangan. • Menjaga buangan tidak menimbulkan bau. kegunaannya. • Mengelola sampah rumah tangga secara aman • Mengelola air limbah cair dengan aman. psikologis dan estetika. Kondisi perilaku masyarakat yang menjadi sasaran intervensi pelaksanaan STBM tentunya berbeda satu dengan yang lainnya. Definisi jamban sehat (improved latrine) mengacu kepada definisi dalam Joint Monitoring Program (JMP). Ketiga adalah bangunan dinding. Bangunan di permukaan ini erat kaitannya dengan keamanan saat orang tersebut membuang hajat. Kedua adalah bangunan di permukaan tanah (landasan).

Desa/kelurahan Mencapai Status Sanitasi Total Indikator untuk mencapai Sanitasi Total sebagai berikut : Indikator Keberhasilan Indikator Keberhasilan Indikator No. Status sanitasi total tentunya tidak dicapai sekaligus. Pilar STBM Terkait Dengan Terkait Dengan Akses Keberhasilan Perilaku • Jumlah dan persentase rumah tangga menggu Jumlah dan nakan jamban sehat Stop Buang persentase • Jumlah desa/ 1 Air Besar penduduk tidak kelurahan di 100% Sembarangan buang air besar kabupaten /kota sembarangan yang mencapai Stop BABS/ ODF. • Ada mekanisme pemantauan umum yang dibuat oleh masyarakat untuk mencapai 100% KK mempunyai jamban sehat. Desa/Kelurahan mencapai status ODF/Stop BABS Parameter desa/kelurahan dikatakan telah mencapai status ODF/SBS adalah: • Semua masyarakat BAB hanya di jamban yang sehat dan membuang tinja/kotoran bayi hanya kejamban yang sehat (termasuk di sekolah). tapi memerlukan tahapan proses. • Tidak terlihat tinja/kotoran manusia di lingkungan sekitar. • Ada penerapan sangsi. dievaluasi setiap tahun setelah deklarasi ODF PELAKSANAAN STBM | 56 . peraturan atau upaya lain oleh masyarakat untuk mencegah kejadiaan BAB disembarang tempat. • Ada upaya strategi yang jelas untuk mencapai Sanitasi Total. Tangga perubahan perilaku STBM dengan dapat menggambarkan proses pencapaian tahapan status untuk mencapai suatu komunitas masyarakat yang telah bersanitasi total. Pencapaian masyarakat pada status sanitasi total adalah “pada kondisi masyarakat yang telah mencapai 5 pilar STBM.

Pilar STBM Terkait Dengan Terkait Dengan Akses Keberhasilan Perilaku • Jumlah dan persentase rumah tangga memiliki dan Setiap anggota menggunakan sarana keluarga cuci untuk melakukan Cuci Tangan 2 tangan pakai CTPS 100% Pakai Sabun sabun pada • Setiap institusi pendi waktu kritis dikan dan kesehatan mempunyai sarana untuk melakukan CTPS • Jumlah dan • Jumlah dan persentase persentase rumah rumah tangga tangga yang yang me mempunyai sarana lakukan penge untuk melakukan Pengelolaan lolaan air pengelolaan air Air Minum/ dengan aman minum dengan aman. 3 Makanan yang • Jumlah dan • Jumlah dan 100% Aman (PAMM persentase persentase rumah RT) rumah tangga yang tangga yang memiliki sarana melakukan untuk melakukan pengelolaan pengelolaan makanan makanan dengan dengan aman aman Setiap rumah Pengelolaan Setiap rumah tangga tangga melaku Sampah dapat melakukan 4 kan pengelolaan 100% Rumah Tangga akses terhadap sarana sampah dengan (PS-RT) pengelolaan sampah aman Jumlah dan Jumlah dan persentase Pengelolaan persentase rumah tangga yang Limbah Cair rumah tangga 5 mempunyai saran 100% Rumah Tangga yang mengelola pengelolaan limbah cair (PLC-RT) limbah cair yang aman dengan aman Tabel 8. Indikator Keberhasilan Indikator Keberhasilan Indikator No. Indikator Sanitasi Total 57 | PELAKSANAAN STBM .

setelah dilakukan pemicuan. Membangun Komitmen Masyarakat dengan Menuangkan ke Dalam RTL Setelah dilakukan pemicuan. d. Pendampingan dilakukan berdasarkan komitmen dengan masyarakat dan disesuaikan dengan proses alur pemberdayaan. sekaligus untuk memonitor dan mengadvokasi mereka untuk segera bertindak. Pada saat itu diperlukan pendampingan untuk melakukan dialog dan mewujudkan komitmen masyarakat. Keberadaan wirausaha sanitasi akan mendekatkan suplai sanitasi kepada masyarakat dan mempermudah perwujudan niat mereka untuk merubah perilaku. wirausaha sanitasi diundang untuk menyediakan opsi-opsi pilihan sarana sanitasi yang dibutuhkan masyarakat dengan proses pembiayaan yang juga sesuai dengan kemampuan masyarakat. Pendampingan dan Monitoring Pendampingan dilaksanakan untuk memperkuat keyakinan masyarakat tentang komitmen yang telah dibangun melalui perubahan perilaku secara kolektif yang diaplikasikan dengan upaya individu dalam upaya mewujudkannya. Disamping itu.b. dalam keadaan tertentu masyarakat membutuhkan mitra untuk melakukan dialog dalam upaya mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya. komitmen-komitmen masyarakat untuk berubah harus dituliskan ke dalam metaplan atau dokumen lainnya untuk mempermudah fasilitator mendampingi masyarakat mewujudkan keinginannya. Penyediaan Suplai Sanitasi dan Pemasaran Sanitasi Setelah masyarakat terpicu dan mau berubah. Oleh karena itu. secara otomatis masyarakat akan membutuhkan sarana sanitasi yang higienis dan layak. fasilitator datang kembali untuk mendampingi masyarakat melakukan monitoring terhadap progress dari rencana tindak lanjut yang mereka buat. PELAKSANAAN STBM | 58 . Oleh karena itu. Perlu dicatat bahwa tidak semua masyarakat memiliki akses dan kemampuan keuangan untuk menyediakan sarana sanitasi yang dibutuhkannya. c.

Alur dan Proses pendampingan masyarakat sebagai contoh untuk perubahan perilaku menghilangkan Buang Air Besar Sembarangan (BABS): Pemicuan untuk membangkitkan rasa Verifikasi dan Membangun Monitoring Evaluasi terhadap deklarasi ODF butuh masyarakat komitmen dengan rencana tindak terhadap untuk menyatakan terhadap sarana masyarakat lanjut dan progress bahwa wilayah sanitasi melalui terhadap rencana dilakukan yang telah tersebut telah perubahan perilaku tindak lanjut yang pemicuan ulang dicapai oleh bebas dari buang air secara kolektif telah disepakati bila diperlukan masyarakat sembarangan Tabel 9: Alur dan Proses Pendampingan Masyarakat PELAKSANAAN STBM | 59 .

Proses pemicuan juga perlu diitegrasikan dengan perilaku cuci tangan pakai sabun. Terutama ditujukan pada ibu- ibu dan anak-anak sekolah sebagai kelompok sasaran sehingga kedua kelompok tersebut dapat berinteraksi melalui kegiatan di sekolah dan di lingkungan rumah. Pentahapan pendampingan dapat dilaksanakan sebagai berikut: Monitoring • Pendampingan penguatan progress Verifikasi Pelembagaan kapasitas tentang CTPS • Monitoring melalui keluarga dan masyarakat melalui media sosial binaan yang menggunakan • Identifikasi masalah masyarakat deklarasi • Pembentukan kelompok alat yang telah dibagikan dengan menggunakan • Pemicuan CTPS di sekolah binaan (1kader untuk • memberikan penghargaan desa CTPS bila diagram F tentang alur dan pengenalan sarana 10KK) sesuai dengan (reward) dalam bentuk penduduk sudah kontaminasi cuci tangan di sekolah kondisi lapangan stiker pada keluarga binaan • Komitmen masyarakat yang tepat guna dengan menerapkan CTPS • Pengenalan program yang telah melaksanakan mengembangkan menempatkan guru sebagai kebiasaan CTPS kepada masyarakat CTPS yang diidentifikasikan kegiatan cuci tangan sekolah sebagai pembina melalui kelompok binaan dengan pemenuhan kriteria dan menerapkan pakai sabun • Melaporkan progress sebagai bagian dari Identifikasi Penguatan melalui sistem yang telah masalah kapasitas CTPS dikembangkan sikap hidup Tabel 10: Tahapan Pendampingan PELAKSANAAN STBM | 60 .

Namun demikian tetap diharapkan peran aktif dari petugas PUSKESMAS/ Sanitarian sebagai fasilitator dan katalisator di tingkat kecamatan/desa dalam mengelola data dan informasi hasil monitoring kegiatan kesehatan lingkungan ini. tidak akan terjadi apabila kita tidak melakukan monitoring. pengolahan dan analisis data dan informasi. fungsi monitoring ini akan diperkuat dengan memanfaatkan sumber daya tenaga konsultan/fasilitator di tingkat kabupaten untuk melakukan alih pengetahuan dan pembinaan. Monitoring dan evaluasi program STBM melalui Sistem Informasi Monitoring dilaksanakan secara umum melalui tahapan. Bila di tingkat kabupaten terdapat proyek terkait STBM sedang berjalan. dan bahan perencanaan ke depan. baik terhadap para petugas PUSKESMAS/Sanitarian maupun langsung kepada masyarakat (natural leader / organisasi masyarakat yang berperan aktif). dan pelaporan dan pemberian umpan-balik. 61 | PELAKSANAAN STBM . kelompok dasa wisma. yaitu pengumpulan data dan informasi. Tahapan ini terjadi di masing-masing tingkatan. dan lainnya. Keberhasilan suatu kegiatan yang dilakukan apakah mempengaruhi perubahan yang diinginkan atau tidak. Monitoring program STBM sedapat mungkin dapat dilakukan secara mandiri dan partisipatif oleh masyarakat sendiri. Informasi yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk perbaikan proses dan pendekatan kegiatan. dan diharapkan peran aktif dari natural leader yang muncul dan organisasi masyarakat seperti PKK. Adapun gambaran sederhana dari pelaksanaan monitoring program STBM seperti pada tabel 11 berikut.

(Benchmarking) per tahun sosial). Tabel 11 Alur Pikir Tata Laksana Monitoring dan Pelaporan dari Masyarakat Hingga Tingkat Pusat PELAKSANAAN STBM | 62 . memperbaharui Pelaporan kinerja per tahun Penilaian kinerja melalui peta Pelaporan Pelaporan dalam peta sosial bulanan. Tahap 1 2 3 4 5 6 Kabupaten/ Tingkatan Desa/ Kelurahan Kecamatan Provinsi Pusat Kota Dinas DInas Pelaku Natural leader/ Kementerian Fasilitator Staf Puskesmas Kesehatan Kesehatan pemantauan Komite Kesehatan Kabupaten/ Kota Provinsi Workshop review Konsolidasi data pembelajaran Mengkompilasi melalui SMS tahunan dan analisis update progress gateway komparatif Rakornas STBM: Melalui pemicuan Analisis data: pencapaian hasil pemicuan review tahunan dan masyarakat ataupun Memantau perbaikan kegiatan antar kabupaten/ Memverifikasi klaim analisis komparatif secara khusus ada perkembangan dan perencanaan kota STBM dan pencapaian hasil Aksi yang upaya untuk pemicuan di kedepan melaporkan hasil Disseminasi kepada antar propinsi. program sanitasi (Benchmarking) akses sanitasi di Bahan untuk perubahan yang kabupaten/kota program sanitasi masyarakat publikasi terjadi propinsi. STBM (misal bulanan. dilakukan melakukan masyarakat verifikasi Feedback kepada lintas program Disseminasi kepada pengumpulan data Permintaan verifikasi Feedback temuan staf puskesmas terkait dan sektor lintas program dasar STBM oleh STBM Mengirim laporan Disseminasi kepada AMPL terkait dan sektor kabupaten/ kota pemantauan via lintas program Evaluasi tahunan AMPL SMS terkait dan sektor kompetitif melalui AMPL media massa (contoh JPIP) Mencatat Konsolidasi untuk Data dasar Pelaporan kemajuan dan Penilaian pencapaian MDG. berisi tahunan terhadap Verifikasi STBM.

hingga Sanitasi Total (5 pilar) Melakukan pemantauan rutin terhadap  pencapaian kinerja kabupaten terhadap program sanitasi yang berjalan Menganalisis data dan informasi hasil  monitoring. dan memberikan umpan balik Staf Dinkes terhadap hasil analisis data dan informasi membidangi Provinsi monitoring tersebut Program Melakukan sharing informasi antar  STBM kabupaten Melakukan verifikasi dan sertifikasi  terhadap kabupaten yang telah mencapai ODF. hingga Sanitasi Total (5 pilar) Merekam/entry data dan informasi hasil  monitoring ke dalam database Melakukan pemantauan rutin terhadap  indikator-indikator tertentu yang harus dilakukan oleh tim kabupaten Staf Dinkes Menganalisis data dan informasi hasil  membidangi Kabupaten monitoring Program Memberikan umpan balik terhadap hasil  STBM analisis data dan informasi monitoring Melakukan verifikasi dan sertifikasi  terhadap kecamatan yang telah mencapai ODF. Penanggung Pelaku Peran Jawab Melakukan pemantauan rutin terhadap  pencapaian kinerja kabupaten/KBBI terhadap program sanitasi yang berjalan Memberikan umpan balik terhadap hasil  analisis data dan informasi monitoring Staf Kemenkes tersebut membidangi Pusat Melakukan sharing informasi antar  Program kabupaten/ provinsi STBM Melakukan verifikasi dan sertifikasi  terhadap provinsi dan kabupaten yang telah mencapai ODF. hingga Sanitasi Total (5 pilar) Tabel 12 Peran dan Fungsi Pelaku dalam pelaksanaan Monitoring Program STBM 63 | PELAKSANAAN STBM .

Pengumpulan data dasar terkait indikator 5 pilar perubahan perilaku hidup bersih dan sehat. kecamatan dan masyarakat dalam pelaksanaan monitoring keluaran program STBM Membantu kecamatan dalam melakukan  Resource Fasilitator pengumpulan data dan informasi Agency (RA) Kabupaten monitoring di tingkat masyarakat Membantu kabupaten dalam menganalisis  data dan informasi hasil monitoring Memonitor keefektifan kegiatan Program  melalui sistem monitoring rutin Melakukan pengumpulan data dan  informasi monitoring di tingkat masyarakat Melakukan verifikasi dan sertifikasi hasil  monitoring yang dilakukan oleh masyarakat. Penanggung Pelaku Peran Jawab Melakukan bimbingan kepada pelaku di  kabupaten. yaitu: a) data akses awal jumlah masyarakat yang memiliki dan menggunakan jamban sehat. memiliki dan menggunakan PELAKSANAAN STBM | 64 . antara lain terkait: 1. Petugas Kecamatan sebelum dikirimkan ke kabupaten untuk PUSKESMAS/ direkam/ di-entri dalam database. Sanitarian Melakukan verifikasi dan sertifikasi  terhadap komunitas yang telah mencapai ODF. hingga Sanitasi Total (5 pilar) Natural leader/ Melakukan monitoring mandiri terhadap Masyarakat hasil perkembangan kegiatan Program STBM Organisasi Masyarakat Tabel 13 Peran dan Fungsi Pelaku dalam pelaksanaan Monitoring Program STBM 1. Pelaksanaan monitoring di tingkat masyarakat/ desa Pelaksanaan monitoring di tingkat masyarakat akan lebih bertumpu kepada indikator monitoring yang mudah dilihat dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat itu sendiri.

kuning (jamban blm sehat). b) kebersihan lingkungan sekitar rumah keluarga. hijau). c) data akses awal jumlah keluarga yang telah mengelola air minumnya dengan aman. e) data akses awal jumlah keluarga yang telah mengelola limbah cair rumah tangganya dengan aman. d) data akses awal jumlah keluarga yang telah mengelola sampahnya dengan aman. jamban tidak sehat. Indikator yang direkam antara lain: a) peningkatan akses masyarakat kepada penggunaan sarana jamban sehat. Waktu Pelaku Cara Pelaksanaan Pelaksanaan Monitoring perkembangan perubahan perilaku BAB dan pembuangan kotoran anak bawah tiga tahun (batita) Persiapan: • Pihak kabupaten/ kecamatan/ desa menyediakan kertas spot berwarna (merah. Pendataan tukang yang terkait dengan jasa dan layanan sanitasi. dengan Setiap saat ada yang mudah terlihat dari jarak pandang cukup jauh. dan terakhir masih BAB di sembarang tempat. Pendataan ini bertujuan untuk menjaring informasi jumlah tukang yang beredar di desa bersangkutan yang memiliki pengalaman dan/atau keterampilan membangun/ memperbaiki sarana jamban. perubahan misal: bentuk bulat dengan diameter 15 cm. Kertas merah (jamban numpang). c) peningkatan perubahan perilaku pilar lainnya. terjadi pada • Menginformasikan penggunaan kertas berwarna komunitas kepada masyarakat setelah proses pemicuan awal tersebut. b) data akses awal jumlah keluarga (termasuk anggota keluarga di dalamnya) yang telah terbiasa cuci tangan pakai sabun pada waktu-waktu kritis. hijau (jamban sehat). 65 | PELAKSANAAN STBM . jumlah masyarakat yang masih numpang ke jamban tetangga atau umum dibedakan menurut jenis jamban sehat dan tidak sehat. Berikut dibawah ini disajikan beberapa model pelaksanaan monitoring yang dapat dilakukan di tingkat masyarakat. 2. Proses pemicuan perubahan perilaku buang air besar masyarakat. kuning. 3. bentuk perilaku yang Masyarakat bujursangkar dengan ukuran 15 cm X 15 cm. atau saat monitoring lanjutan.

Oleh karena itu. • Apabila pada keluarga tertentu ada peningkatan perubahan perilaku dengan ditandai perubahan warna kertas spot yang ditempel. Warna yang ditempel sesuai kondisi tersebut. Tempel warna baru diatas warna lama. fasilitator kabupaten membantu meningkatkan kapasitas masyarakat untuk melakukan monitoring mandiri melalui on the job training. sehingga informasi warna awal masih ada. penting sekali bahwa selama proses kegiatan STBM. perubahan menempelkan tanda kertas spot di depan rumah perilaku yang Masyarakat mereka pada tempat yang tampak dari pandangan terjadi pada orang yang berdiri di depan atau melalui rumah komunitas tersebut. Pelaksanaan monitoring di tingkat Puskesmas/ kecamatan Pelaksanaan monitoring di tingkat Puskesmas/ kecamatan akan lebih PELAKSANAAN STBM | 66 . Waktu Pelaku Cara Pelaksanaan Pelaksanaan • Untuk aspek PHBS lain. Untuk efektivitas monitoring dapat menggunakan “kartu sehat” Pelaksanaan monitoring: • Masyarakat yang telah berupaya berubah perilaku untuk tidak BAB di sembarang tempat (termasuk Setiap saat ada membuang kotoran anak batita tidak sembarangan). • Natural leader atau komite secara berkala memperbaharui informasi tersebut dalam peta masyarakat (tanpa mengganggu informasi baseline) Tabel 14 Model Monitoring di Masyarakat Telah dijelaskan sebelumnya bahwa monitoring di tingkat masyarakat ini menggunakan pendekatan partisipatif dan mengangkat peran aktif masyarakat untuk melakukan monitoring mandiri. pengelolaan limbah RT dapat mengikuti pola monitoring mandiri untuk perilaku BAB di jamban. 2. seperti cuci tangan. pengelolaan dan penyimpanan air minum dan makanan. perkembangan upaya perubahan perilaku mereka. • Pada kertas tersebut dapat dituliskan tanggal mereka melakukan perubahan tersebut.

(baseline) informasi perkembangan hasil pemicuan (akses di awal dan Fasilitator kemajuan hasil masyarakat kepada jamban) dipindahkan pemicu pemicuan kedalam format LB-1. serta pilar lainnya Persiapan: • Pihak kecamatan/ Puskesmas menyiapkan dan memahami pengisian format monitoring perkembangan perubahan perilaku pilar-pilar STBM (pilar 1 hingga pilar 5). bertumpu kepada mengumpulkan perkembangan informasi di tingkat desa dan menjaring indikator monitoring yang terjadi di tingkat Puskemas/ kecamatan. Perekaman monitoring perkembangan perubahan perilaku BAB dan pembuangan kotoran anak batita (kemajuan pemicuan). 67 | PELAKSANAAN STBM . sekaligus sebagai kegiatan verifikasi ODF per rumah tangga. yang digunakan sebagai dasar verifikasi status ODF suatu komunitas. (Kecamatan/ dilakukan Puskesmas) • Melakukan kunjungan ke rumah tangga yang bulanan telah melakukan perubahan (berdasarkan (misal: perkembangan data pada peta sosial) untuk minggu ke- mengamati kondisi dan pemeliharaan jamban empat setiap dan lingkungan sekitarnya (lihat panduan bulannya) transeck walk). antara lain sebagai berikut: Waktu Pelaku Cara Pelaksanaan Pelaksanaan 1. Penting: Monitoring perkembangan perubahan perilaku masyarakat terkait kebiasaan BAB. perilaku cuci tangan pakai sabun. Perekaman Contoh pelaksanaan monitoring: data dasar • Mengacu kepada peta sosial masyarakat.

surat pernyataan yang diketahui oleh kepala desa). Monitoring status ODF yang dicapai suatu komunitas (Verifikasi ODF) Persiapan: Sebaiknya − Masyarakat melalui natural leader atau komite dilakukan Tim menginformasikan pihak Puskesmas untuk begitu kecamatan dilakukan verifikasi status ke-ODF-an mereka (akan menerima bersama lebih baik bila penginformasian dilakukan melalui informasi dari masyarakat. tim dapat menempelkan stiker atau menempatkan papan ODF dengan diisi tanggal kapan mereka mencapai ODF dan verifikasi dilakukan. Waktu Pelaku Cara Pelaksanaan Pelaksanaan 2. begitu kecamatan Rekaman hasil verifikasi dicantumkan dalam menerima bersama format LB-2. masyarakat − Tim kabupaten menyiapkan stiker atau papan ODF. tim mengunjungi rumah Sebaiknya masyarakat dan mencocokkan warna kertas spot dilakukan Tim (kaitkan dengan proses monitoring no. bersangkutan Pelaksanaan monitoring: − Tim kecamatan melakukan pengecekan informasi total masyarakat yang sudah berubah perilakunya. Dengan alat bantu peta sosial dan ceklist jamban. masyarakat − Tim melakukan penilaian terhadap total akses bersangkutan masyarakat. Bila telah mencapai 100% akses.1). Hasilnya diinformasikan kepada masyarakat. PELAKSANAAN STBM | 68 . informasi dari masyarakat.

Waktu Pelaku Cara Pelaksanaan Pelaksanaan 3. menerima kecamatan Rekaman hasil verifikasi dicantumkan dalam informasi dari bersama format rekam pilar-1 sampai pilar-5 STBM. Bila telah mencapai 100% akses kelima pilar STBM.1). tim mengunjungi rumah masyarakat dan mencocokkan warna kertas spot (kaitkan dengan proses monitoring Begitu Tim no. tim dapat menempelkan stiker atau menempatkan papan Desa STBM dengan diisi tanggal kapan mereka mencapai status tersebut dan verifikasi dilakukan. masyarakat masyarakat. Dengan alat bantu peta sosial dan ceklist capaian 5 pilar STBM. Monitoring status Desa STBM yang dicapai suatu komunitas (Verifikasi Desa STBM) Persiapan: − Masyarakat melalui natural leader atau komite menginformasikan pihak Puskesmas untuk dilakukan verifikasi status ke-STBM-an mereka Begitu Tim (akan lebih baik bila penginformasian dilakukan menerima kecamatan melalui surat pernyataan yang diketahui oleh informasi dari bersama kepala desa). masyarakat masyarakat. Hasilnya diinformasikan kepada masyarakat. − Tim kabupaten menyiapkan stiker atau papan bersangkutan pencapaian Desa STBM. bersangkutan − Tim melakukan penilaian terhadap total akses masyarakat. 69 | PELAKSANAAN STBM . Pelaksanaan monitoring: − Tim kecamatan melakukan pengecekan informasi total masyarakat yang sudah berubah perilakunya.

Investasi jamban oleh masyarakat Persiapan: Menyiapkan dan memahami cara pengisian format LB-3. Pendataan tukang terkait jasa dan layanan sanitasi Persiapan: Menyiapkan dan memahami cara pengisian format LT-3. Pelaksanaan: Fasilitator • Kegiatan ini dapat dilaksanakan saat fasilitator pemicu pemicu memperbaharui (updating) informasi (Kecamatan/ kemajuan pemicuan. dapat menanyakan kepada keluarga bersangkutan perkiraan biaya untuk membangun jamban. Waktu Pelaku Cara Pelaksanaan Pelaksanaan 4. Natural dilakukan selang 1 – 2 minggu setelah pemicuan leader (NL)/ awal komite • Pembaharuan pendataan tukang dilakukan setiap 3 bulan. Puskesmas) • Pada saat kunjungan ke rumah tangga. (untuk membantu dapat melakukan perkiraan bahan yang digunakan dan tenaga yang dikeluarkan) 5. baik ada pengurangan (karena pindah atau bekerja diluar) atau penambahan jumlah tukang PELAKSANAAN STBM | 70 . Fasilitator pemicu Pelaksanaan: bekerja sama • Pendataan awal tentang tukang yang ada di dengan komunitas/ desa tersebut sebagai data dasar.

Persiapan: • Membuat pemberitahuan kepada setiap desa agar mempersiapkan hasil capaian kegiatan program sanitasi di masing-masing wilayah Berkala per triwulan Tim Pelaksanaan monitoring: (pada kecamatan pertemuan • Kegiatan review dan sharing hasil capaian regular program sanitasi dapat dilakukan melalui forum yang ada di komunikasi tingkat kecamatan kecamatan) • Kegiatan review dan sharing ini dapat diikutkan/ dititipkan dalam kegiatan rutin di tingkat kecamatan yang meng-agenda-kan pertemuan kemajuan desa. Waktu Pelaku Cara Pelaksanaan Pelaksanaan 6. • Hasil tulisan masyarakat ini dapat didokumentasi secara elektornik dan dipublikasi dalam media daerah lokal hingga situs AMPL. Monitoring mandiri terhadap dampak yang dirasakan Persiapan: • Masyarakat membuat tulisan gambaran kondisi masyarakat sebelum intervensi (pemicuan awal) Masyarakat dilakukan bekerja sama Minimal 6 dengan Pelaksanaan monitoring: bulan setelah pihak ODF Puskesmas/ • Masyarakat membuat tulisan perubahan kondisi kecamatan/ masyarakat yang dirasakan setelah intervensi kabupaten (pemicuan awal) dilakukan. 71 | PELAKSANAAN STBM .

Monitoring institusionalisasi sistem monitoring • Pihak Puskesmas/ kecamatan mencatat dan mengkompilasi data komunitas yang Tim menggunakan peta sosial atau instrumen lainnya Puskesmas/ dalam memonitor pencapaian ODF dan perilaku kecamatan cuci tangan pakai sabun oleh seluruh masyarakat Tabel 15 Contoh Mekanisme Monitoring STBM PELAKSANAAN STBM | 72 . Pendataan kegiatan peningkatan kapasitas (capacity building) Persiapan: Tim Puskesmas/ • Menyiapkan dan memahami cara pengisian kecamatan format pendataan kegiatan peningkatan kapasitas (format LT-5) 9. 8. Pendataan toko dan produsen produk sanitasi Persiapan: • Menyiapkan dan memahami cara pengisian format pendataan toko dan produsen produk sanitasi Pelaksanaan: Pendataan Tim • Tim mengidentifikasi dan memetakan toko dilakukan Puskesmas/ bangunan dan produsen produk sanitasi yang secara berkala kecamatan ada di wilayah kerja Puskesmas/ kecamatan per triwulan bersangkutan • Tim membagi tugas kunjungan ke toko bangunan dan/atau produsen produk sanitasi • Petugas mewawancarai pemiliki toko dan/atau produsen produk sanitasi dan mengisi informasi yang dijaring sesuai dengan format LT-2A dan 2B. Waktu Pelaku Cara Pelaksanaan Pelaksanaan 7.

Pedoman Teknis Lapangan STBM. penyebaran media komunikasi. Kenongo. Depkes RI. e. REFERENSI 1. 73 | PELAKSANAAN STBM . maka sangat mungkin sekali masyarakat akan lupa dan kembali ke praktik budaya hidup yang tidak sehat. 2. Jakarta: 2013. WSP. Buku Sisipan STBM: Kurikulum dan Modul Pelatihan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Kesehatan. Promosi PHBS yang Berkelanjutan. ataupun melalui kegiatan-kegiatan formal dan informal di masyarakat. 4. Jakarta: 2013. Perubahan perilaku perlu terus dipromosikan agar masyarakat tetap mempraktikkan budaya perilaku hidup bersih dan sehat. masyarakat akan otomatis berubah ke perilaku yang lebih baik tersebut. VIII. Film Tahapan Pemicuan CLTS. Kemenkes RI. Promosi bisa dilakukan melalui berbagai cara seperti melalui iklan. Ditjen PP&PL. Film Memicu Perubahan Menuju Sanitasi Total di Maharashta. namun dalam jangka panjang jika perubahan perilaku tidak terus dipromosikan. Jakarta: 2005. 3. Biasanya setelah masyarakat terbiasa. India. New Delhi: 2004. Kemenkes RI.

kertas metaplan. ALAT/TOOLS/MEDIA : gambar-gambar dalam Diagram F HAND OUT : - INDIKATOR Setiap kelompok bisa menggunakan set gambar : PENCAPAIAN TUJUAN diagram F PERSIAPAN PENTING Set gambar Diagram F sudah disiapkan sejumlah : FASILITATOR kelompok diskusi PELAKSANAAN STBM | 74 . Panduan Melakukan Demo Alur Kontaminasi (Diagram F) Peserta pelatihan diharapkan dapat: • Mengidentifikasi penyakit-penyakit berbasis lingkungan yang diakibatkan oleh perilaku masyarakat yang buruk. dampak serta upaya TUJUAN : pencegahannya.IX. • Gambaran bagaimana tinja dapat masuk ke mulut manusia • Menggali alasan kenapa perilaku STBM belum maksimal WAKTU : 30 menit • Demo alur kontaminasi (Diagram F) METODE : • Diskusi interaktif (dapat dilakukan berkelompok) Kertas plano. spidol. LAMPIRAN LEMBAR KERJA a. kain tempel.

LANGKAH OUTPUT WAKTU Sampaikan salam pembuka dan yel-yel yang sudah disepakati di awal kemudian Pokok Bahasan 1. dan “tindakan apa yang dilakukan anggota Tergali 3. menjelaskan pokok bahasan pada sesi ini. Hal ini untuk akibat-akibat 3’ membangkitkan emosi (takut anaknya kena penyakit diare. kelompok 2’ 3) Sekolah dari lingkungan ODF diskusi 4) Sekolah dari lingkungan Non ODF Catatan : Jika peserta masih belum mengenal STBM sama sekali maka kelompok dibagi secara bebas. keluarga yang lain”?. penyakit. 75 | PELAKSANAAN STBM . Bagi peserta pelatihan ke dalam kelompok- kelompok kecil misalnya. pembagian kelompok dapat dibagi berdasarkan: 1) Kelompok Masyarakat Desa ODF Terbagi 2) Kelompok Masyarakat Desa Non ODF 2. kehilangan anaknya karena tidak tertolong) agar lebih peduli dengan keadaan lingkungannya. alokasi peserta waktu dan metode yang akan digunakan. PROSES: NO. agar tidak tercemar. dipahami oleh 3’ Sampaikan tujuan dari pokok bahasan. Tanyakan kepada peserta “apakah salah- satu anggota keluarga pernah kena diare?” dan tanyakan “bagaimana perasaannya”?.

penyakit mata. Penjelasan awal.NO. Diagram alur 10’ penularan penyakit Beberapa kelompok dapat dibekali dengan gambar-gambar diagram F. peserta dapat menggambarkan Alur Kontaminasi. Pada tahap ini fasilitator dapat membahas bagaimana banyak jalur yang mungkin menjadikan tinja akhirnya masuk ke mulut misalnya: Hasil diskusi tersampaikan 5 • Tinja dapat meresap ke sumber air 10’ kepada sumur melalui tanah kelompok lain • BAB di sungai menyebabkan sumber air tercemar. dipakai untuk mandi. tipus. kecacingan) dapat masuk ke dalam mulut. pernafasan/ISPA. polio. kulit. Hasil diskusi dapat ditempel di dinding (kain tempel. jika ada) dan masing-masing perwakilan kelompok menjelaskan hasilnya (masing-masing selama 3 menit). Tampilkan/gambar kotoran manusia Peserta bisa di sebelah kiri dan gambar mulut di menyusun 4. gosok gigi. sementara kelompok lain dapat dibiarkan berdiskusi sesuai pengetahuan dan pengamatan masing-masing. disentri. LANGKAH OUTPUT WAKTU Minta masing-masing kelompok untuk mendiskusikan alur penularan penyakit. untuk kemudian dituangkan dalam bentuk gambar. bagaimana kotoran manusia yang merupakan sumber penyakit (seperti: diare. tetapi tidak CTPS PELAKSANAAN STBM | 76 . Hal ini nanti dapat menjelaskan kepada peserta pelatihan bahwa tanpa dibekali gambar-gambar (Diagram F). mencuci makanan • Lalat yang membawa kotoran ke makanan • Tangan setelah dipergunakan untuk cebok. sebelah ujung kanan.

Pencegahan penularan tersebut akan dibahas pada pokok bahasan penyakit berikutnya. kertas ALAT/TOOLS/MEDIA : metaplan. sebelumnya Pemandu meminta peserta pelatihan (berdasarkan kelompok diskusi diagram Teridentifikasi 2. Kertas Plano. Sampaikan sesi ini berhubungan 1. wacana 6 agar penyakit-penyakit seperti Diare. 5’ pencegahan pada gambar Diagram F yang masing kelompok telah dibuat sebelumnya. waktu yang dibutuhkan dan erat dengan sesi metode yang akan digunakan. Panduan Diskusi Kelompok Penggunaan Diagram F Untuk Memutus Alur Penularan Penyakit Peserta dapat menjelaskan perilaku baik/cara TUJUAN : pencegahan / blocking untuk menghindari penyebaran penyakit. memutus alur 2’ dan Cacingan dapat dicegah. spidol. ISPA. 2’ tujuan. 77 | PELAKSANAAN STBM . alur penularan penyakit (hasil diskusi peserta) HAND OUT : Diagram F dan Blocking-nya. WAKTU : 25 menit METODE : Diskusi interaktif. INDIKATOR Diagram pencegahan / blocking yang dibuat : PENCAPAIAN TUJUAN peserta untuk memutus alur penularan penyakit PERSIAPAN PENTING Diagram F hasil diskusi kelompok sebagai acuan : FASILITATOR diskusi blocking PROSES: NO LANGKAH OUTPUT WAKTU Pemandu menyambungkan pokok bahasan Peserta tahu bahwa sesi ini dengan sesi berikutnya. kain tempel. LANGKAH OUTPUT WAKTU Fasilitator akan menggali kembali bagaimana caranya agar tinja tidak masuk ke mulut Terbangun (hal tersebut yang dinamakan pencegahan). B. NO. F) untuk menambahkan gambar blocking/ blocking dari masing.

memutus alur 4. peserta lain pertanyaan sehingga dapat menggali pengetahuan blocking lebih banyak dari peserta pelatihan tanpa harus menggurui peserta. setelah dari kebon/sawah). tergantung lapangan/lingkungannya penularan penyakit 5’ atau telah menggunakan septic-tank tidak cukup hanya yang betul-betul kedap air). kecuali di daerah cadas. Hasil diskusi kelompok 3. jika setelah cebok tidak Cuci Tangan Pakai Sabun. PELAKSANAAN STBM | 78 . bahwa untuk 15 meter. maka Blocking kedua dengan CTPS. maka tinja dapat meresap melalui tanah Peserta paham ke sumber air (minimal jaraknya 10. Tanyakan kembali “jika masyarakat telah BAB di Jamban apakah masih mungkin tinja masuk ke mulut?” Kemungkinan jawabannya adalah: masih mungkin. Jari tangan yang terkena kotoran tinja harus dicuci dengan air mengalir dan sabun sebelum kita mengambil makanan (setelah BAB. • Jarak lubang penampungan tinja dengan Jamban terlalu dekat. jika.NO LANGKAH OUTPUT WAKTU Secara bergantian perwakilan setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya (maksimal 3 menit). 9’ Pada sesi ini fasilitator diharapkan tersampaikan ke lebih mengembangkan pertanyaan. dengan BAB di jamban • Melalui jari tangan. Simpulkan bersama alur mana saja yang bisa diblocking.

Cerita pengalaman di Jombang: Fasilitator berkunjung ke sekolah dan bertanya apakah anak-anak melakukan CTPS di sekolah. peserta pelatihan umumnya mulai jenuh. dan para siswa sangat paham akan pentingnya CTPS. Fasilitator Peserta kembali 5 diharapkan dapat menghilangkan 4’ Fresh kejenuhan dengan cara memberikan acara selingan PENYEGARAN (ice breaking). Catatan Fasilitator: Metode ini juga dapat dikembangkan ketika pola pembelajaran CTPS kepada anak-anak yang dapat dilakukan melalui lagu (dengan cara gembira dan ceria) 79 | PELAKSANAAN STBM . Bisa menggunakan cara pada tabel di bawah Tujuan: • Menghilangkan kelelahan • Membuat peserta kembali segar dan bersemangat untuk sesi selanjutnya Metode: Mendengarkan dan menyanyi bersama lagu CTPS dan teks lagu ditayangkan melalui tulisan besar pada kertas plano atau melalui Power Point. NO LANGKAH OUTPUT WAKTU 4. bahwa untuk misal dengan mencuci.Hal tersebut menjadi pembelajaran bahwa anak siswa SD-pun dapat mandiri dan tidak perlu meminta dari sekolah/guru. Penyegaran: Setelah sesi di atas. penularan penyakit juga memasak air untuk minum. • Blocking/pencegahan ketiga adalah Peserta paham 5’ Mengelola makanan dan minuman. Setelah berdiskusi dengan gembira dan tanpa paksaan. kemudian dipakai bersama-sama di sekolah mereka. para murid sepakat untuk iuran dan membeli sabun. tetapi tidak ada sabun tersedia disana. di sekolah tersebut ada fasilitas. menutup memutus alur makanan dan mencuci wadahnya. tidak cukup hanya dengan BAB di jamban Catatan: Yang paling penting dan mudah dilakukan adalah pencegahan melalui CTPS dan bagaimana upaya peserta bersama-sama untuk berkomitmen membentuk kebiasaan CTPS menjadi budaya sehari-hari dan ditularkan kepada orang terdekatnya.

4. 10’ sedikitnya 5 point siapa yang dianggap konsep upper lower upper dan lower (LP C. 10’ mempresentasikan dan kelompok lain tingkatan /upper menanggapi atau memberi masukan lower Perubahan cara Di akhir diskusi sepakati bahwa dalam pandang peserta pendekatan CLTS cara pandang tersebut dalam pendekatan 4. LANGKAH OUTPUT WAKTU Kesepakatan Ajak peserta menyepakati pengertian 1. ditayangkan bersama teks lagu tersebut 2.2) Setelah mendiskusikan minta Peserta mampu masing-masing kelompok untuk mengidentifikasi 3. masing- masing kelompok akan membahas Peserta memahami 2. Contohnya: (disadur dari lagu ayo Tepuk Tangan) Kalau kau mau sehat cuci tangan Kalau kau mau sehat cuci Tangan Cuci Tangan Pakai sabun dengan air mengalir Cuci Tangan Pakai Sabun…! Lagu tersebut dapat diajarkan dan dinyanyikan bersama-sama di kelas. C. Peserta diminta untuk menghafalkan lagu tersebut. 5’ harus diubah sehingga tidak ada CLTS berdasar pada pendapat siapa upper dan siapa lower pemahaman upper lower PELAKSANAAN STBM | 80 . pengertian “upper” 10’ “upper” dan “lower” dan “lower” Bagi peserta menjadi 3 kelompok. Panduan Simulasi Upper dan Lower dalam STBM NO.NO LANGKAH OUTPUT WAKTU Langkah-langkah: 1. dan meminta peserta untuk membuat kreasi lagu masing- masing terkait perilaku /kebiasaan CTPS. Fasilitator dapat memutar lagu CTPS yang diperdengarkan kepada seluruh peserta pelatihan.

menampilkan skenarionya dan kelompok menampilkan 15’ lain menjadi pengamat gesture Di setiap akhir penampilan. pemahaman bahwa tidak ada upper sesuai dengan CLTS 5’ lower) serta merubah sikap dan kebiasaan ketika memfasilitasi komunitas LP. LANGKAH OUTPUT WAKTU Setelah diskusi pleno 1 selesai minta kelompok yang sama untuk membuat Peserta memahami 5. skenario melalui bahasa tubuh (gesture) beberapa kegiatan 10’ yang menggambarkan kegiatan top down. 15’ menjadi karakteristik bahasa tubuh yang gesture yang ditampilkan ditampilkan Peserta dapat Pada diskusi pleno.2 Kelompok I Diskusikan minimal 5 point siapa/apa saja yang disebut “upper” dan siapa/apa saja yang disebut “lower” dari sisi PERSONAL Kelompok II Diskusikan minimal 5 point siapa/apa saja yang disebut “upper” dan siapa/apa saja yang disebut “lower” dari sisi INSTITUSIONAL Kelompok III Diskusikan minimal 5 point siapa/apa saja yang disebut “upper” dan siapa/apa saja yang disebut “lower” dari sisi PROFESIONAL 81 | PELAKSANAAN STBM . NO.4. dalam memfasilitasi partisipatif dan bersahabat.4. tanyakan pada peserta mengiden tifikasi bahasa tubuh seperti apa yang sesuai sikap dan kebiasaan dengan pendekatan CLTS (berdasarkan mana yang paling 8. C.3) Minta masing-masing kelompok untuk Peserta mampu 6. tanyakan Peserta mampu pada kelompok pengamat apa yang mengidentifikasi 7. (LP C.

kontaminasi air minum. 3. hanya gerak tubuh) yang menggambarkan sikap tubuh TOP DOWN KELOMPOK III Buatlah skenario dan peragakan fragmen (sandiwara tanpa kata-kata. dan gangguan privacy pada perempuan serta pandangan agama tentang BAB terbuka.3 KELOMPOK I Buatlah skenario dan peragakan fragmen (sandiwara tanpa kata-kata. dengan tekanan pada kunjungan ke lokasi BAB terbuka. serta informasi lain yang relevan. 2. tahun). Panduan Bermain Peran dalam Demonstrasi Alat-Alat Utama CLTS 1. kontaminasi air bersih. dan tekankan bahwa tidak seorang pun boleh menutup hidungnya saat kunjungan ini. Mintalah sekitar 10 – 15 orang peserta (laki-laki dan perempuan) secara sukarela untuk berperan sebagai warga masyarakat suatu dusun dan mereka rata-rata masih melakukan praktek buang air besar sembarangan. hanya gerak tubuh) yang menggambarkan sikap tubuh PARTISIPATIF D. Lanjutkan dengan simulasi Transect dalam bentuk yang sederhana. Demo dimulai dengan Pemetaan Sosial. hanya gerak tubuh) yang menggambarkan sikap tubuh FRIENDLY (RAMAH) KELOMPOK II Buatlah skenario dan peragakan fragmen (sandiwara tanpa kata-kata. bulan. 4. sehingga tergambarkan: batas wilayah pemukiman dan lahan pertanian/usaha. lokasi dan jenis sumber air minum dan air untuk keperluan rumah tangga lainnya. alur kontaminasi (Diagram F).LP. Demo ini akan difasilitasi fasilitator pelatihan (Pelatih). mintalah kepada peserta yang lain untuk menyimak proses simulasi dengan cermat. dan bila perlu mencatat langkah-langkahnya serta kata-kata kunci penting dalam proses ini. 5. minggu.4. Lanjutkanlah simulasi: Menghitung jumlah tinja (per hari. sebaran rumah warga. akses setiap rumah terhadap jamban atau lokasi BAB terbuka. Sebelum proses dimulai. C. lokasi jamban dan BAB terbuka. PELAKSANAAN STBM | 82 .

6. Bangunlah suasana klimaks dengan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan bertingkat dalam rangka mendorong perubahan:
“Bagaimana perasaan saudara-saudara hidup dengan
suasana seperti ini? Apakah saudara-saudara ingin berubah?”

Bilamana komunitas menyatakan tak akan berubah,
kembangkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih tajam untuk
memicu rasa malu –takut penyakit – rasa bersalah, dst. Bila
tetap tidak ada perubahan sikap, (ini upaya akhir) lanjutkan
dengan pernyataan: “Terima kasih atas pelajaran yang
saudara-saudari berikan kepada saya. Ini sangat berharga.
Saya akan pulang, dan menuliskan pengalaman ini kemudian
menceritakannya kepada teman-teman saya di desa saya,
bahwa ternyata masyarakat disini masih senang berak di kebun/
sungai/ semak-semak. Dan bila diijinkan, sayapun akan memuat
cerita ini di surat kabar atau majalah”.

7. Bila ternyata masyarakat terlihat tergugah dan terpicu, lanjutkanlah
dengan proses memfasilitasi perencanaan oleh masyarakat, dengan
pertanyaan-pertanyaan bertingkat:
o Siapa saja yang akan memulai perubahan? (semua orang yang
mau berubah dicatat dalam kertas.
o Dalam bentuk apa?
o Kapan dimulai? Kapan selesai?
o Kapan masyarakat mentargetkan komunitas ini bebas dari
kebiasaan BAB di tempat terbuka?
8. Tegaskanlah pada bagian akhir simulasi ini, bahwa perwakilan
masyarakat (sekitar 6 orang dari setiap dusun) akan diundang
dalam lokakarya di kabupaten untuk membagikan pengalamannya
kepada peserta lokakarya. Simulasi berakhir.

83 | PELAKSANAAN STBM

Modul MI.3. :
PEMICUAN DI KOMUNITAS
Pemicuan di Komunitas
MODUL MI.3.

Modul MI.3.
Pemicuan di Komunitas

I. DESKRIPSI SINGKAT 83
II. TUJUAN PEMBELAJARAN 83
III. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN 83
IV. BAHAN BELAJAR 84
V. METODE PEMBELAJARAN 84
VI. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN 84
VII. URAIAN MATERI 85
POKOK BAHASAN 1: PERSIAPAN PEMICUAN DI MASYARAKAT 85
a.
Persiapan Lapang 85
b. Pembentukan Kelompok / Tim Pemicu 85
c.
Penyiapan Alat dan Bahan 86
d. Pembagian Peran Pada Kelompok 86
POKOK BAHASAN 2 : PEMICUAN DI MASYARAKAT 89
POKOK BAHASAN 3 : DISKUSI PLENO DENGAN MASYARAKAT 90
POKOK BAHASAN 4 : LAPORAN HASIL PEMICUAN 91
POKOK BAHASAN 5 : EVALUASI HASIL PEMICUAN 92
VIII.REFERENSI 93
IX. LAMPIRAN 94
LEMBAR KERJA 94
A. Pedoman PKL 94
B. Diskusi Kelompok Menyusun Laporan 97
C. Panduan Diskusi Pleno Dengan Masyarakat dan Para Pihak 99
D. Panduan Menyusun RTL dan Komitmen Bersama 102

PEMICUAN DI KOMUNITAS
84 | PEMICUAN DI KOMUNITAS

MODUL MI. II. Sesi praktik lapang diawali dengan pembentukan kelompok. Pokok Bahasan 1: Persiapan Pemicuan di Masyarakat a.3. PEMICUAN DI KOMUNITAS | 83 . Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti materi ini. peserta mampu melakukan pemicuan di komunitas. Melakukan evaluasi terhadap proses pemicuan yang telah dilaksanakan. Melakukan pemicuan di masyarakat. B. dilanjutkan dengan persiapan lapang. Pembentukan kelompok/ tim pemicu. 4. sehingga kegiatan ini dilakukan dalam diskusi dan praktik di kelompok. DESKRIPSI SINGKAT Sesi ini bertujuan untuk memperkuat pengetahuan dan keterampilan peserta dalam menerapkan pendekatan STBM. simulasi dalam kelompok. Melakukan diskusi pleno dengan masyarakat. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN A. 2. Persiapan lapang. b. Menyusun laporan hasil pemicuan di masyarakat. Tujuan Pembelajaran Khusus Pada akhir sesi ini peserta mampu: 1. 1. refleksi dan review proses serta hasil dari kegiatan praktik lapang tersebut dalam bentuk laporan. Melakukan persiapan pemicuan di masyarakat. III. PEMICUAN DI KOMUNITAS I. TUJUAN PEMBELAJARAN A. 3.

Pembagian peran pada kelompok. 2. PL= 6 jp) @45 menit. 84 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . Penyusunan strategi. Laporan temuan lapangan/PKL. Diskusi Pleno dengan masyarakat. dilakukan langkah-langkah kegiatan sebagai berikut: A. Pokok Bahasan 5: Evaluasi Hasil Pemicuan IV. B. Penyusunan laporan hasil pemicuan. Format Laporan PKL. B. VI. Pokok Bahasan 3: Diskusi Pleno dengan Masyarakat D. 2. diskusi. Kesimpulan. 2. Pokok Bahasan 4: Laporan Hasil Pemicuan E. METODE PEMBELAJARAN CTJ. penulisan laporan. Pelaksanaan Pemicuan. Langkah 2 (270 menit) 1. curah pendapat. meta plan. Penyampaian hasil laporan secara pleno. Persiapan Lapang. BAHAN BELAJAR Flipchart. P= 3jp. kain tempel. d. c. C. Langkah 1 (45 menit) 1. Langkah 3 (135 menit): 1. Pokok Bahasan 2: Pemicuan di Masyarakat C. Untuk mempermudah proses pembelajaran dan meningkatkan partisipasi seluruh perserta. diskusi kelompok dan umpan balik. Lembar panduan diskusi. Penyiapan alat dan bahan. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini adalah sebanyak 10 Jam pelajaran (T= 1 jp. 3. Lembar evaluasi pemicuan V. praktik. Lembar panduan observasi. spidol. Panduan Pemicuan/Praktik.

Jelaskanlah kepada peserta. Persiapan Lapang Persiapan lapang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan persiapan penyelenggaran pelatihan. b. bahwa akan dilaksanakan Praktik Kerja Lapang Fasilitasi STBM di masyarakat. URAIAN MATERI POKOK BAHASAN 1: PERSIAPAN PEMICUAN DI MASYARAKAT a.VII. Panitia/pelatih melakukan kunjungan kepada pemerintah daerah yang akan digunakan sebagai lokasi praktek kerja lapangan dan menjelaskan secara rinci kegiatan yang akan dilaksanakan selama kunjungan lapangan termasuk proses pemberdayaan masyarakat. produk yang akan diserahkan kepada pemerintah daerah untuk ditindaklanjuti. keluaran yang diharapkan setelah praktik. • Peran dan tanggung jawab pemerintah daerah pada waktu kegiatan dan tindak lanjutnya. • Kegiatan di lapangan yang meliputi pemberdayaan masyarakat melalui perubahan perilaku secara kolektif. • WAKTU: 30 menit • METODE: Pemilihan demokratis. Pembentukan Kelompok Praktek Kerja Lapang / Tim Pemicu • TUJUAN: Tersusunnya kelompok-kelompok praktik lapangan yang komposisinya mencakup seluruh komponen tim. Setiap kelompok diharapkan merupakan gabungan dari PEMICUAN DI KOMUNITAS | 85 . Komponen yang perlu diketahui oleh pemerintah daerah/desa/dusun antara lain: • Tanggal kunjungan lapangan dan jumlah peserta. • Logistik yang disediakan. • MATERI : ----- • ALAT BANTU : Kertas plano • PROSES: 1. Peserta akan dibagi menjadi kelompok kecil (catatan: untuk kepentingan praktik kerja lapang idealnya anggota kelompok tidak lebih dari 6 orang).

dengan cara membentuk barisan memanjang ke belakang sesuai jumlah kelompok yang disepakati. d. Misal. selanjutnya dari unsur teknis. sehingga diharapkan semua kelompok memiliki kapasitas yang berimbang. Berikut penjelasan lebih rinci bagaimana membuat strategi panduan pemicuan dimasyarakat. 3. Perhatikanlah pula aspek gender. Penyusunan Strategi/ Panduan Praktek Lapang dan Simulasi Kelompok Setiap kelompok membuat panduan pemicuan di masyarakat dan melalukan simulasi agar mereka bisa melakukan pemicuan di masyarakat. Laksanakanlah proses pembentukan/pembagian kelompok. unsur instansi atau lokasi kerja. sabun. Penting untuk membagi peserta berdasar komposisi (gender) dan unsur peserta. dll. kertas metaplan. seperti dedak. Tulislah di papan tulis/ kertas plano daftar nama anggota setiap kelompok. tepung. c. Penyiapan Alat dan Bahan Setiap kelompok mempersiapkan alat dan bahan yang akan dibawa untuk PKL. • MATERI: 86 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . 2. peserta dari bidang kesehatan mengambil tempat dahulu untuk berbaris di kelompok yang berbeda. • TUJUAN: 1. Peserta siap memfasilitasi proses pemicuan STBM di masyarakat. spidol. • WAKTU : Maksimum 90 menit • METODE: ­ Simulasi ­ Penugasan dan pendampingan. dan selanjutnya. sehingga tidak terjadi sebaran tidak merata jenis kelamin tertentu. air. individu-individu yang mewakili berbagai komponen yang ada (berdasarkan bidang keahlian. bidang perencanaan. Tersusunnya panduan praktik lapang 2. dan seterusnya).

sebagai berikut: o Lead facilitator : fasilitator utama. Berikanlah gambaran tentang komposisi tim fasilitasi yang biasanya digunakan dalam memfasilitasi STBM di komunitas. bertugas mencatat proses dan hasil untuk kepentingan dokumentasi/ pelaporan program o Process facilitator : penjaga alur proses fasilitasi. yang menjadi motor utama proses fasilitasi. Jelaskanlah bahwa peserta akan melaksanakan praktek kerja lapang. ­ Komposisi tim dalam memfasilitasi pemicuan STBM di komunitas ­ Panduan Fasilitasi pemicuan STBM di Komunitas • ALAT BANTU: ­ Bahan-bahan untuk simulasi Pemetaan Sosial ­ Kertas potong (metaplan) ­ Kertas plano ­ Spidol besar dan kecil ­ Flagband ­ Ember berisi air bersih ­ Air mineral dalam kemasan gelas (2 gelas) ­ Video camera • PROSES: 1. Oleh karena itu setiap kelompok harus mempersiapkan diri (menyusun panduan dan berlatih bila perlu). biasanya 1 orang o Co – facilitator : membantu fasilitator utama dalam memfasilitasi proses sesuai dengan kesepakatan awal atau tergantung pada perkembangan situasi o Content recorder : perekam proses. dengan cara mengingatkan fasilitator (dengan kode-kode yang disepakati) bilamana ada hal-hal yang perlu dikoreksi. PEMICUAN DI KOMUNITAS | 87 . bertugas mengontrol agar proses sesuai alur dan waktu.

berdosa. misalnya dengan: mengajak anak-anak bermain agar tidak mengganggu proses (sekaligus juga bisa mengajak mereka terlibat dalam kampanye sanitasi. perlengkapan yang harus dibawa. namun pemetaan sosial semestinya dilakukan pertama Lokasi pemetaan sosial sebaiknya di lahan terbuka (halaman). alur perjalanan. dll. Bila masih ada cukup waktu. mengajak berdiskusi terpisah partisipan yang mendominasi atau mengganggu proses. o Environment Setter : penata suasana. Panitia menjelaskan lokasi praktik lapang dan gambaran awal jika tersedia. tetapi sebaiknya di lokasi-lokasi yang bisa mengoptimalkan rasa jijik. 88 | PEMICUAN DI KOMUNITAS .) 3. Berpakaian yang bersahaja guna menghidari kesan upper-lower. misalnya dengan: menyanyi bersama. kendaraan. perlu berpakaian seperti yang dikenakan oleh masyarakat yang akan dikunjungi. tidaklah harus di ruang pertemuan tertutup. menjaga suasana ‘serius’ proses fasilitasi. lakukan bermain peran fasilitasi STBM di masyarakat. menghitung tinja. Berikanlah penugasan kepada setiap kelompok untuk mempersiapkan diri dan dampingilah sesuai dengan keperluan. dsb. Minta salah satu kelompok untuk menjadi tim fasilitator dan peserta lainnya sebagai masyarakat (10 – 15 orang). dsb. 2. dll. takut penyakit. 4.). namun hasilnya harus segera dipindahkan ke kertas plano Lokasi pemicuan dengan alat-alat seperti alur kontaminasi. dll. rencana keberangkatan (waktu. urutan tidaklah dibakukan. meneriakkan slogan. • CATATAN PENTING: Dalam fasilitasi sebenarnya.

2. Fungsi pelatih yang melakukan observasi dan asistensi adalah menjamin agar proses dan hasil fasilitasi yang dilakukan peserta benar dan optimal. • WAKTU: 4 jam di masyarakat • METODE: Praktek Lapang : • Pemetaan • Transeck • Fokus Group Discussion untuk melakukan pemicuan dan rencana tindak lanjut untuk mendukung individu yang telah terpicu. Langkah-langkah yang bisa ditempuh perlu disepakati dengan para peserta yang memfasilitasi di tingkat komunitas. • Alur kontaminasi Pemantauan : Observasi dan asistensi terhadap praktek fasilitasi yang dilakukan peserta. • MATERI: - Buku catatan - Alat dokumentasi seperti kamera - Spidol - Kertas flipchart • ALAT BANTU: - Tali rafia/plastik - Powder/tepung berwarna : 3-4 warna • PROSES: Karena kegiatan praktik kerja lapang yang dilakukan peserta ini merupakan kegiatan riil (bukan simulasi). maka kesalahan proses dan hasil sedapat mungkin diminimalisir. agar PEMICUAN DI KOMUNITAS | 89 . POKOK BAHASAN 2: PEMICUAN DI MASYARAKAT • TUJUAN: 1. 3. Terpilihnya panitia lokal komunitas yang mengkoordinir kegiatan masyarakat. Tersusunnya rencana kegiatan masyarakat dalam rangka pemecahan masalah sanitasi di komunitas. Masyarakat memahami permasalahan sanitasi di komunitasnya dan berkomitmen untuk memecahkannya secara swadaya.

Untuk itu. • CATATAN PENTING (Agar disesuaikan dengan jadwal pelatihan masing-masing): Ingatkanlah. setiap kelompok sebaiknya didampingi oleh 1-2 fasilitator yang hanya berkonsentrasi untuk kelompok tersebut. Bila memungkinkan. Meningkatnya motivasi masyarakat untuk melaksanakan rencana kegiatan yang mereka susun. dengan perimbangan laki-laki dan perempuan) diundang dan akan dijemput (jam 09. Wakil masyarakat akan diantar kembali ke dusun/desa sekitar jam 14. 90 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . 2.00 pagi) untuk menyampaikan pengalamannya (kondisi sanitasi hingga saat ini) dan rencana ke depan kepada seluruh peserta pelatihan di tempat penyelenggaraan pelatihan. proses dan hasil sesuai yang diharapkan namun eksistensi peserta sebagai fasilitator haruslah dijaga (apalagi akan terus memfasilitasi komunitas tersebut).00 dari tempat pelatihan. Disepakatinya komitmen semua pihak untuk keberhasilan pencapaian rencana kegiatan masyarakat. peta lapangan dan rencana kegiatan sebaiknya disalin ke kertas (plano) sebagai bahan presentasi masyarakat. • WAKTU: Maksimum 90 menit • METODE: ­ Presentasi masyarakat ­ Diskusi pleno ­ Feedback (umpan balik) progresif • MATERI: Presentasi kondisi sanitasi saat ini dan rencana ke depan dari setiap komunitas. bahwa perwakilan masyarakat (6 orang per dusun atau total 12 orang per desa. POKOK BAHASAN 3: DISKUSI PLENO DENGAN MASYARAKAT • TUJUAN: 1. sekaligus makan siang bersama. Dipahaminya rencana kegiatan masyarakat oleh seluruh komponen tim pemicuan. 3.

2. • ALAT BANTU: Sesuai keperluan. Persilakanlah kepada wakil masyarakat yang akan memulai presentasi untuk mempresentasikan kondisi sanitasi di komunitasnya dan rencana mereka ke depan (waktu tersedia sekitar 15 menit untuk setiap kelompok). lakukanlah penegasan- penegasan untuk meningkatkan motivasi masyarakat. Pada setiap akhir presentasi kelompok. 3. Jelaskanlah kepada seluruh partisipan tentang tujuan sesi ini. menegaskan tentang tanggal bebas dari BAB terbuka untuk setiap komunitas. • PROSES: 1. POKOK BAHASAN 4: LAPORAN HASIL PEMICUAN • TUJUAN: 1. diserahkan oleh kelompok kepada pejabat yang berwenang di daerah untuk dilakukan tindak lanjut sesuai dengan rencana. • WAKTU: Maksimum 60 menit PEMICUAN DI KOMUNITAS | 91 . menunjukkan para natural leader yang akan memotori gerakan masyarakat. Tersusunnya item-item pembelajaran dari praktek lapang setiap kelompok. dll. Diharapkan pemerintah daerah dapat menindaklanjuti sesuai proses yang telah terjadi dan dapat menghasilkan keluaran yang diharapkan oleh masyarakat. khususnya tujuan 1 dan 3. 2. Hasil pleno yang telah disepakati bersama dengan masyarakat. Tersusunnya laporan proses dan hasil praktek lapang setiap kelompok. Pada akhir sesi berikanlah penegasan-penegasan untuk membangun komitmen bersama semua pihak dalam upaya pencapaian bebas dari BAB terbuka di tingkat yang lebih luas. Jika diperlukan berikan kesempatan kepada peserta yang telah memfasilitasi kemarin untuk menambahkan. misalnya: mengajak peserta memberi tepuk tangan.

2. kelemahan. misalnya: analisa SWOT (kekuatan. peluang dan ancaman). Fasilitator pendamping di lapang setiap kelompok. 2. Berikan penegasan. Persilahkanlah masing-masing kelompok melaksanakan tugasnya. POKOK BAHASAN 5: EVALUASI HASIL PEMICUAN Pembelajaran dan evaluasi dari Praktik Kerja Lapang (hasil pemicuan) • TUJUAN: 1. • METODE: Diskusi kelompok • MATERI: Hasil praktik lapang. 92 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . Ditemukannya item-item pembelajaran yang spesifik lokal yang perlu dikembangkan dalam rangka optimalisasi STBM. bahwa peserta boleh berkreasi dalam menyajikan laporannya. Untuk membantu dalam memetik pembelajaran. bahwa esok hari sebelum bertemu dengan masyarakat akan dilakukan pembelajaran/refleksi temuan praktek lapang. • CATATAN PENTING: Fasilitator pendamping dalam penyusunan laporan sebaiknya adalah fasilitator yang mendampingi dalam praktek lapang. • ALAT BANTU: Kertas plano dan peralatan lain sesuai kreatifitas peserta • PROSES: 1. Ditemukannya item-item pembelajaran yang perlu diperhatikan dalam proses memfasilitasi STBM selanjutnya. Untuk itu setiap kelompok perlu menyusun laporan yang menggambarkan proses dan hasil serta pembelajaran yang diperoleh dari praktek lapang tersebut. tetaplah mendampingi agar tugas benar-benar terselesaikan dengan baik. Jelaskanlah. berikanlah penjelasan tentang analisis yang bisa membantu menemukan pembelajaran dimaksud.

VIII. ‘apa yang seharusnya dihindari’ serta ‘apa yang spesifik bisa dikembangkan di daerah setempat’. 2. Diskusikanlah secara pleno tentang pembelajaran bersama yang diperoleh. Ditjen PP&PL. Jelaskanlah tujuan dari sesi ini dan tegaskanlah bahwa waktu yang tersedia untuk setiap kelompok hanya sekitar 15 menit (5 menit presentasi dan 10 menit untuk diskusi penajaman). khususnya tentang ‘apa yang seharusnya dilakukan’. Kementerian Kesehatan RI. 3. Jakarta: 2013 PEMICUAN DI KOMUNITAS | 93 . REFERENSI 1. lanjutkan sampai seluruh kelompok mempresentasikan laporannya. Pedoman Teknik Lapangan STBM. • WAKTU: Maksimum 60 menit • METODE: ­ Presentasi kelompok ­ Diskusi pleno • MATERI: Laporan praktek lapang masing-masing kelompok • ALAT BANTU: Sesuai keperluan presentasi • PROSES: 1. Berikanlah kesempatan kepada kelompok yang ingin memulai presentasi dan tanya jawab pendalaman khususnya tentang pembelajaran yang diperoleh (total 25 menit).

1) Praktik di komunitas oleh kelompok-kelompok dengan alat/tools (Pemetaan. Simulasi. IX. LAMPIRAN LEMBAR KERJA A. ALAT/TOOLS/ : • set kit untuk praktik lapangan MEDIA • Panduan Pemicuan CLTS di Komunitas HAND OUT : • Outline penulisan pembelajaran dan pelaporan lapangan. Pemilihan demokratis) METODE : 2) Pemantauan dan umpan balik lapangan oleh Pemandu: Observasi dan asistensi terhadap praktik fasilitasi yang dilakukan peserta. Pedoman PKL • Masyarakat memahami permasalahan sanitasi di komunitasnya dan berkomitmen untuk memecahkannya secara swadaya • Tersusunnya rencana kegiatan masyarakat TUJUAN : dalam rangka pemecahan masalah sanitasi di komunitasnya • Terpilihnya panitia lokal komunitas yang mengkoordinir kegiatan masyarakat. INDIKATOR Ada kesepakatan dan komitmen perubahan PENCAPAIAN : perilaku di komunitas lokasi pemicuan TUJUAN PERSIAPAN Media/bahan untuk praktek lapang sudah PENTING : dipersiapkan sehari sebelumnya FASILITATOR 94 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . WAKTU : 4 jam. FGD. Transect.

Tim kembali ke lokasi pelatihan. 15’ Tim memfasilitasi dalam proses 6. dengan baik. 110’ Tim melakukan pemicuan di Perubahan perilaku 4. PEMICUAN DI KOMUNITAS | 95 . menuju lokasi pemicuan pemicuan Tim menyampaikan maksud Terjalin keakraban 15’ 3. (FGD) komitmen.E. Pastikan semua semangat anggota kelompok lengkap dan peserta dalam kondisi siap praktik di meningkat lapangan 30’ Masing-masing kelompok Sampai di lokasi 2. dan diterima toma atau toga . pelatihan.2) Sampai ke lokasi 25’ 8. masyarakat. pembelajaran. penyusunan Rencana konkret Target ODF jelas tercapainya target ODF 15’ Tim menganalisa faktor yang mendukung dan menghambat Draft pembelajaran program. Pemandu siap menyemangati setiap 1 kelompok dengan yel-yel secara • Mental dan bergantian. komunitas. 15’ Tim memfasilitasi proses diskusi Membangun 5. strategi yang digunakan dan dipresentasikan menuangkan dalam flipchart dalam pleno (LP.PROSES: No LANGKAH Output Waktu Masing-masing kelompok 15’ mempersiapkan bahan dan • Bahan dan alat alat pemicuan. untuk 7. dan tujuan kepada kepala desa.

Fungsi fasilitator/ pelatih yang melakukan observasi dan asistensi adalah menjamin agar proses dan hasil fasilitasi yang dilakukan peserta benar dan optimal. Total KK yang BAB di jamban sehat.2 Beberapa tugas yang harus dilakukan pada praktek di komunitas : 1. agar proses dan hasil sesuai yang diharapkan namun 96 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . Susunan Komite beserta nama-namanya g. Pembelajaran yang dapat diambil Hasil diskusi dituangkan dalam kertas flipchart/plano 2. maka kesalahan proses dan hasil sedapat mungkin diminimalisir. Jumlah KK terpicu (Tulis nama dan tanggal berapa akan berubah) f. Rencana konkret/ Rencana Tindak lanjut h. sharing dan OD (masih sembarangan) e. Faktor yang menghambat proses pemicuan (dari internal/ fasilitator atau prosesnya) c. Jumlah peserta yang hadir (L/P) saat pemicuan b. Tugas Masyarakat (dampingi perwakilan masyarakat) untuk menuliskan hasil pemicuan pada flipchart yang meliputi : a. Tahapan pemicuan b. LP E. Tugas Tim Pemicu (didiskusikan bersama kelompok setelah kembali ke lokasi pelatihan): a. Target SBS Komunitas i. Salinan peta sosial (komunitas) CATATAN PENTING: • Karena kegiatan praktik lapang yang dilakukan peserta ini merupakan kegiatan riil (bukan simulasi). Faktor yang mendukung proses pemicuan d. jamban tidak sehat. Total KK dalam satu komunitas c. Langkah-langkah yang bisa ditempuh perlu disepakati dengan para peserta yang memfasilitasi di tingkat komunitas.

peta lapangan dan rencana kegiatan sebaiknya disalin ke kertas (plano) sebagai bahan presentasi masyarakat.00 pagi) untuk menyampaikan pengalamannya (kondisi sanitasi hingga saat ini) dan rencana ke depan kepada seluruh peserta pelatihan di tempat penyelenggaraan pelatihan. dengan perimbangan laki-laki dan perempuan) diundang dan akan dijemput (jam 09. B. Diskusi Kelompok Menyusun Laporan 1. eksistensi peserta sebagai fasilitator haruslah dijaga (apalagi akan terus memfasilitasi komunitas tersebut). Bila memungkinkan. • Ingatkanlah. setiap kelompok sebaiknya didampingi oleh 1-2 fasilitator/ pelatih yang hanya berkonsentrasi untuk kelompok tersebut. sekaligus makan siang bersama. Tersusunnya item-item pembelajaran dari praktik lapang setiap kelompok TUJUAN : 2. • Untuk itu. bahwa esok hari perwakilan masyarakat (6 orang per dusun atau total 12 orang per desa.00 dari tempat pelatihan. Wakil masyarakat akan diantar kembali ke dusun/desa sekitar jam 14. Tersusunnya laporan proses dan hasil praktik lapang setiap kelompok WAKTU : Maksimum 120 menit METODE : Diskusi kelompok ALAT/TOOLS/ Kertas plano dan peralatan lain sesuai kreatifitas : MEDIA peserta HAND OUT : Hasil praktik lapang INDIKATOR Ada kesepakatan dan komitmen perubahan perilaku PENCAPAIAN : di komunitas lokasi pemicuan TUJUAN PERSIAPAN Media/bahan untuk praktik lapang sudah PENTING : dipersiapkan sehari sebelumnya FASILITATOR PEMICUAN DI KOMUNITAS | 97 .

tujuan yang diharapkan. pokok bahasan alokasi waktu yang dibutuhkan pada sesi ini dan metode yang akan 1 • Semua tim 15’ digunakan. kelompoknya Minta masing-masing kelompok menyusun laporan hasil proses pemicuan secara lengkap. Tempel kembali tugas tim yang harus diselesaikan mengetahui paska praktik lapangan dan beri tugas penjelasan ulang. PROSES: No LANGKAH Output Waktu Jelaskan Pokok Bahasan pada • Peserta paham sesi ini. 90’ pendamping praktik lapang tetap lapang masing- mendampingi agar penyusunan masing kelompok laporan sesuai dengan yang diharapkan Laporan praktik masing-masing Laporan masing- kelompok di tempel di sticky masing kelompok 3. 98 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . 15’ cloth (akan dipresentasikan pada tertempel di saat refleksi hasil praktik lapang) sticky cloth CATATAN PENTING: Fasilitator pendamping dalam penyusunan laporan sebaiknya adalah fasilitator yang mendampingi dalam praktik lapangan supaya bisa membantu memberikan umpan balik. Diperoleh laporan Pastikan Pemandu atau panitia hasil praktik 2.

• Disepakatinya komitmen semua pihak untuk keberhasilan pencapaian rencana kegiatan masyarakat. WAKTU : Maksimum 120 menit • Presentasi masyarakat METODE : • Diskusi pleno • Feedback progresif. Panduan Diskusi Pleno Dengan Masyarakat dan Para Pihak • Dipahaminya rencana kegiatan masyarakat oleh seluruh komponen tim kabupaten. Semua visual hasil pemicuan ditempel di ALAT/TOOLS/ dinding. : MEDIA 2. Matriks kompetisi antar kelompok. HAND OUT : - INDIKATOR Rencana kongkrit dari masing-masing komunitas PENCAPAIAN : dalam mewujudkan ODF TUJUAN • Ruangan sudah diseting sedemikian rupa untuk dinamisnya proses pleno PERSIAPAN • Matriks kompetisi antar komunitas sudah PENTING : disiapkan sebelumnya FASILITATOR • Audio (pelantang suara) dipastikan sudah berfungsi PEMICUAN DI KOMUNITAS | 99 . • Meningkatnya motivasi masyarakat untuk melaksanakan rencana kegiatan yang mereka TUJUAN : susun. 1. C.

PROSES : No Langkah Output Waktu Pemandu mengatur ruangan untuk lokasi pertemuan dengan wakil masyarakat. dengan dibriefing terlebih dahulu sebelum dalam proses acara pleno dilakukan (apa tugas mereka memfasilitasi pada setiap tahapan proses pleno). Ruangan siap 1. pelaksanaan Pleno Masing-masing tim pemicu menyambut wakil komunitas dan mengajak masuk ke ruang kelas diiringi dengan musik yang bersemangat Penghargaan dan tepuk tangan dari semua yang hadir. komunitas Perwakilan masing-masing komunitas mempresentasikan hasil diskusi dan rencana Komitmen dan 6. presentasikan MC mengucapkan selamat datang dan Pemahaman menjelaskan tujuan mereka diundang dan tujuan 5. siap di 10’ memastikan kelengkapan bahan presentasi. 5‘ (Ruangan harus dipastikan menarik dan digunakan dinamis untuk proses pleno) Ada Pemandu menunjuk 2 orang peserta yang keterlibatan diperankan sebagai MC untuk memandu peserta 2. 3. 100 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . membangun komitmen bahwa semua akan pertemuan 5‘ menghargai siapapun yang melakukan oleh presentasi termasuk anak sekolah. untuk wakil 5‘ MC mempersilahkan mereka foto bersama komunitas fasilitator pemicu yang datang ke wilayahnya secara bergantian (pastikan semua wakil masyarakat bisa foto bersama). tindak lanjut pasca pemicuan sementara rencana pasca 50’ Pemandu mempersiapkan bagan untuk bahan pemicuan penilaian. Hasil visual Tim pemicu memandu wakil komunitas untuk 4.

LP E. dan memberikan applaus diiringi musik yang mendorong 10’ bersemangat.E. No Langkah Output Waktu Masing-masing komunitas menilai rencana dan strategi komunitas lain menggunakan bahan yang sudah disediakan sebelumnya Memicu 7. pemicu memperbaiki strategi dan menyusun RTL pasca 15‘ rencana tindak lanjut. dan tidak berharap subsidi MC meminta komunitas yang mau berubah lebih cepat maju kedepan kelas untuk diberi Reward/ 9. Semangat 11. tepuk tangan dan selamat serta foto bersama Penghargaan 15‘ sebagai penghargaan. pemicuan. ucapan terima kasih. (LP. MC memberikan salam. 40‘ percepatan bagi komunitas yang sudah secepatnya mempunyai komitmen. 25’ dengan penekanan bahwa yang masih komunitas lain mengharap bantuan tidak memperoleh nilai sama sekali. Tanyakan “siapa lagi untuk kampiun yang mau menyusul?” MC meminta komunitas didampingi tim Strategi dan 10.4) Pemantapan komitmen MC memicu kembali komunitas yang baru belum berkomitmen ODF dan mendorong untuk ODF 8. perubahan.4 Indikator Penilaian : Komunitas Komunitas Komunitas Komunitas Komunitas Kategori A B C D E Adanya komite ****** ***** ****** **** ***** Rencana tindak lanjut ****** ***** ****** dan strategi PEMICUAN DI KOMUNITAS | 101 .

Memastikan agenda-agenda yang harus dikembangkan tim kabupaten untuk menuju sanitasi total TUJUAN : 3. Panduan Menyusun RTL dan Komitmen Bersama 1. Jumah warga ****** **** ****** **** ***** yang terpicu Target ODF ****** *** *** ** ***** Mengharap Bantuan dari * pihak Luar Kategori Tertinggi Terendah Ket Adanya komite Rencana tindak lanjut dan strategi Jumah warga yang terpicu Target ODF Mengharap Bantuan dari Pihak Luar D. Membangun komitmen kerja paska pemicuan 2. reward dan pengembangan strategi kabupaten menuju sanitasi total WAKTU : 240 menit 102 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . Mengidentifikasi strategi pencapaian ODF. Mendorong transparansi kabupaten dalam mengawal proses-proses di komunitas paska pemicuan 4.

Fasilitator meminta penanggung jawab Adanya dasar kabupaten menjelaskan gambaran dan 3. METODE : Diskusi kelompok dan pleno ALAT/TOOLS/MEDIA : Training kit HAND OUT : Rencana tindak lanjut dari masing-masing INDIKATOR : kecamatan (sesuai dengan kemampuan PENCAPAIAN TUJUAN kecamatan dan kabupaten. kelompok kecamatan dan kelompok 5’ diskusi kabupaten Fasilitator menyampaikan bahwa RTL ini bisa menjadi satu acuan bagi kesinambungan Peserta paham 2. terstruktur. realistis) Memastikan rencana tindak lanjut peserta PERSIAPAN PENTING : sesuai dengan potensi dan kemampuan FASILITATOR kabupaten ataupun kecamatan PROSES : NO.2). dalam menyusun 10’ rencana besar ke depan terkait pelaksanaan RTL program STBM (mekanisme dan biaya) Fasilitator meminta Peserta mendiskusikan secara rinci. dan menyeluruh 4. LANGKAH OUTPUT WAKTU Fasilitator membagi peserta menjadi Terbagi kelompok 1. F. Tersusun RTL 15’ serta realistis bersama kelompoknya RTL dengan bahasan seperti (LP. PEMICUAN DI KOMUNITAS | 103 . jelas. tentang apa yang 5’ baik dari dukungan anggaran maupun jenis harus dilakukan kegiatan yang akan dilaksanakan. program STBM di daerahnya masing-masing.

atau gambar kuman. • Gambar CLTS dengan tugas membuat cerita lingkungan bersih. Sekolah kemudian berkembang ke tetangganya • Kalender CTPS (usulan PKK). 15 • Murid memonitor keluarganya CTPS. pastikan juga bahwa setiap kelompok menyusun RTL untuk sekolah. praktek bersama guru dan murid • Mengembangkan lagu CTPS bersama murid dengan referensi lagu popular Rencana STBM 5. • Gambar bertema Cuci Tangan. bagaimana cara CTPS. NO. 104 | PEMICUAN DI KOMUNITAS . kebiasaan BAB sembarangan. • Mengunjungi guru TK dan SD. telapak tangan dll. terutama di dasawisma/Posyandu yang telah jalan. cara/kebiasaan CTPS. akibat jika tidak CTPS. Waktu pentingnya dapat ditentukan bersama. LANGKAH OUTPUT WAKTU Untuk dukungan STBM di sekolah. • Gambar adalah media yang paling disukai anak kelas 1-5. Waktu Sebelum Setelah Sebelum Setelah Penting Makan BAB memasak bermain CTPS Senin √ √ √ √ Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Minggu Beri contreng (√) jika setiap hari telah melakukan kegiatan CTPS. bentuk kegiatannya antara lain: di sekolah: • Murid diberi PR untuk membuat prakarya sarana yang nantinya akan dipakai di rumah. Contoh tabel monitoring CTPS. bisa di sekolah dan di rumah tangga. Gali kemungkinan memonitor hasil pemicuan dimasa depan misalnya: Membiasakan diri CTPS harus terus menerus diingatkan.

Strategi khusus untuk pelibatan sekolah PEMICUAN DI KOMUNITAS | 105 . LP F. LANGKAH OUTPUT WAKTU Masing-masing kelompok menempelkan hasil Koreksi hal-hal diskusinya pada sticky clothes dengan metode yang belum 6. Biaya kegiatan 8.NO. Target kegiatan 7. Waktu pelaksanaan 5. Strategi 6. kelompok lain mengamati dan sempurna dan memberi input atau mengklarifikasi. Tujuan kegiatan 3. Jenis kegiatan termasuk bentuk-bentuk kegiatan pelibatan masyarakat dan komunitas sekolah 2. Lokasi kegiatan 4. realistis. Penanggungjawab kegiatan 9. 15’ Delphi. 2 Komponen utama yang harus ada dalam format RTL adalah: 1.

.

1. : MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) Membangun Komitmen MODUL MP.Modul MP.1. Belajar (BLC) .

1. DESKRIPSI SINGKAT 106 II. Modul MP. TUJUAN PEMBELAJARAN 106 III. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN 107 VII. LAMPIRAN 116 MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) 100 | MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) .REFERENSI 115 IX. METODE PEMBELAJARAN 107 VI. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN 107 IV. URAIAN MATERI 110 VIII. Membangun Komitmen Belajar (BLC) I. BAHAN BELAJAR 107 V.

Apabila hal ini tidak diantisipasi sejak awal pelatihan. B. Mengenal sesama warga pembelajar pada proses pelatihan 2. akan bertemu sekelompok orang yang belum saling mengenal sebelumnya. TUJUAN PEMBELAJARAN A. kemungkinan besar akan dapat mengganggu kesiapan peserta dalam memasuki proses pelatihan yang bisa berakibat pada terganggunya kelancaran dari proses pembelajaran selanjutnya. serta merumuskan nilai-nilai dan norma yang kemudian disepakati bersama untuk dipatuhi selama proses pembelajaran. Jadi inti dari BLC juga adalah terbangunnya komitmen dari semua peserta untuk berperan serta dalam mencapai harapan dan tujuan pelatihan. pengalaman. MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) I. Membangun komitmen Belajar (BLC) merupakan salah satu metode atau proses untuk mencairkan kebekuan tersebut. DESKRIPSI SINGKAT Dalam suatu pelatihan terutama pelatihan dalam kelas (in class training).1. BLC juga mengajak peserta mampu mengemukakan harapan harapan mereka dalam pelatihan ini. pendidikan/ pengetahuan. II. peserta mampu membangun komitmen belajar dalam rangka menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif selama proses pelatihan berlangsung. serta mentaati norma yang dibangun berdasarkan perbauran nilai-nilai yang dianut dan disepakati. Tujuan Pembelajaran Khusus Setelah mengikuti materi ini peserta mampu: 1. serta sikap dan perilaku yang berbeda pula. MODUL MP. MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) | 106 . dan berasal dari tempat yang berbeda. Tujuan Pembelajaran Umum Setelah mengikuti materi ini. dengan latar belakang sosial budaya. Menyiapkan diri untuk belajar bersama secara aktif dalam suasana yang kondusif. Membuat kontrol kolektif dan strutur organisasi kelas.

6. Curah Pendapat dan permainan. 5. jadwal dan alur pelatihan. BAHAN BELAJAR Modul BLC. VI. Membentuk organisasi kelas. flipchart.: Norma Kelas dalam Pembelajaran Pokok bahasan 5 : Kontrol Kolektif dalam Pelaksanaan Norma Kelas Pokok bahasan 6 : Organisasi Kelas IV. kain tempel. maka perlu disusun langkah-langkah pembelajaran sebagai berikut : 107 | MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) . Merumuskan kesepakatan bersama tentang kontrol kolektif dalam pelaksanaan norma kelas. Merumuskan harapan. spidol. dan norma / tata tertib standar pelatihan. papan tulis. 3. POKOK BAHASAN Dalam modul ini akan dibahas pokok bahasan dan sub pokok bahasan sebagai berikut : Pokok Bahasan 1 : Perkenalan Pokok Bahasan 2 : Pencairan Pokok Bahasan 3 : Harapan-Harapan Dalam Proses Pembelajaran dan Hasil yang Ingin Dicapai Pokok bahasan 4. 4. Merumuskan kesepakatan norma kelas yang harus dianut oleh seluruh warga pembelajar selama pelatihan berlangsung selama pelatihan berlangsung. meta plan. III. METODE PEMBELAJARAN CTJ. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Agar proses pembelajaran dapat berhasil secara efektif. V. panduan permainan.harapan yang ingin dicapai bersama baik dalam proses pembelajaran maupun hasil yang ingin dicapai di akhir pelatihan.

yang akan dilalui selama pelatihan. Fasilitator memulai kegiatan dengan melakukan bina suasana dikelas a. Menyampaikan alur proses pelatihan. b. Kegiatan Fasilitator a. Memperkenalkan diri dan asal institusinya. Mengemukakan pendapat atas pertanyaan fasilitator. Kegiatan Peserta a. Fasilitator menyampaikan salam dengan menyapa peserta dengan ramah dan hangat. Mendengar. Melakukan tugas yang diberikan oleh fasilitator. Mengajukan pertanyaan kepada fasilitator bila masih ada yang belum dipahami. 2. Perkenalkan diri dengan menyebutkan nama lengkap. Kegiatan Fasilitator a. e. Memberikan jawaban / menjelaskan lebih detil jika ada pertanyaan yang diajukan oleh peserta 2. Apabila belum pernah menyampaikan sesi di kelas mulailah dengan memperkenalkan diri. d. b. b. mencatat dan mempersiapkan diri mengikuti games yang akan dimainkan. b. Langkah 1. Menggali pendapat pembelajar (apersepsi) tentang building learning commitment (blc) dengan metode curah pendapat (brainstorming). Mempersiapkan diri dan alat tulis bila diperlukan. Penyiapan proses pembelajaran (20 menit) 1. materi yang akan disampaikan. c. c. MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) | 108 . Kegiatan Peserta a. Memberikan kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang masih belum jelas. c. Menjelaskan petunjuk kegiatan-kegiatan (games) yang akan dimainkan. instansi tempat bekerja. Menyampaikan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam BLC dan menyampaikan tujuan pembelajaran umum dan khusus dari BLC. c. Langkah 2 : Review kegiatan BLC 1.

yaitu membahas harapan. d. Mengamati peserta dan memberikan bimbingan pada proses diskusi. 2. Memimpin proses tanggapan (tanya jawab). Kegiatan Fasilitator a. b. mencatat dan bertanya terhadap hal-hal yang masih belum jelas kepada fasilitator. Membentuk kelompok diskusi dan memilih ketua. sekretaris dan penyaji. Menugaskan kelompok untuk memilih ketua. c. sekretaris dan penyaji. Meminta kelas dibagi menjadi beberapa kelompok (4 kelompok) dan setiap kelompok akan diberikan tugas diskusi kelompok. Kegiatan Fasilitator a. Kegiatan Peserta a. 109 | MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) . yang akan memimpin proses membuat komitmen pembelajaran melalui norma-norma kelas yang disepakati bersama- sama beserta pembuatan kontrol kolekifnya. Mendengar. 1. c. Langkah 4 : Penyajian dan pembahasan hasil diskusi kelompok 1. Melakukan proses diskusi sesuai dengan masalah yang ditugaskan oleh fasilitator dan menuliskan hasil dikusi pada kertas flipchart untuk dipresentasikan. c. Merangkum hasil diskusi. Langkah 3 : Pendalaman kegiatan BLC. b. Meminta perwakilan kelas untuk menunjuk seorang ketua kelas dan sekretarisnya. d. e. b. Memberikan masukan-masukan dari hasil diskusi. kekhawatiran dan solusinya di masing-masing kelompok. Dari masing-masing kelompok diminta untuk melakukan presentasi dari hasil diskusi yang telah dilakukan sebelumnya. Meminta masing-masing kelompok untuk menuliskan hasil dikusi untuk dipresentasikan. Memberikan klarifikasi dari pertanyaan-pertanyaan yang belum dimengerti jawabannya d.

Mengakhiri kegiatan BLC dengan mengucapkan salam dan permohonan maaf serta memberikan apresiasi dengan ucapan terima kasih kepada peserta.2. Bersama peserta merangkum poin-poin penting dari hasil proses kegiatan membangun komitmen pembelajaran. Langkah 5 : Rangkuman dan evaluasi hasil BLC 1. Bersama fasilitator merangkum poin-poin penting dari hasil proses kegiatan membangun komitmen pembelajaran. Ketua dan sekretaris kelas secara bersama dengan peserta membuat kesepakatan (norma) kelas sebagai bentuk komitmen pembelajaran beserta kontrol kolektif yang disepakati bersama. c. Mendengar dan menyepakati hasil dari norma kelas yang telah dibuat. Kegiatan Fasilitator a. Kegiatan Peserta a. b. 2. sering para peserta menunjukkan suasana kebekuan (freezing). c. karena belum tentu pelatihan yang diikuti merupakan pilihan prioritas dalam kehidupannya. Mungkin saja kehadirannya di pelatihan karena terpaksa. URAIAN MATERI POKOK BAHASAN 1: PERKENALAN Pada awal memasuki suatu pelatihan. VII. tidak ada pilihan lain. Membalas salam fasilitator. harus menuruti ketentuan / persyaratan. Menyimpulkan dan memperjelas norma-norma kelas yang sudah disepakati bersama peserta. Bersama dengan fasilitator merangkum hasil presentasi dari masing – masing pokok bahasan yang telah dipresentasikan dengan baik. c. Mengikuti proses penyajian kelas. Mungkin juga terjadi. pada saat pertama hadir sudah memiliki anggapan merasa sudah tahu semua yang akan dipelajari MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) | 110 . d. b. b. Kegiatan Peserta a. Berperan aktif dalam proses tanya jawab yang dipimpin oleh fasilitator.

Pada tahap perkenalan fasilitator memperkenalkan diri dan asal usul institusinya dilanjutkan dengan menyampaikan tujuan pembelajaran. Peserta yang duduk di tengah lingkaran diminta memberi aba-aba. dan dengan jumlah peserta paling sedikit untuk memperkenalkan teman-temannya. Dalam memandu peserta untuk proses perkenalan dengan menggunakan metode yaitu : dalam 5 menit pertama setiap peserta diminta berkenalan dengan peserta lain sebanyak-banyaknya. sehingga seluruh peserta saling berkenalan. Hal tersebut menggambarkan suasana “storming”. agar peserta yang disebut identitasnya pindah duduk. Meminta peserta yang belum disebut namanya untuk memperkenalkan diri. tergantung situasi dan kondisi. sampai terbentuknya norma kelas yang disepakati bersama serta kontrol kolektifnya. Proses BLC adalah proses melalui tahapan dari mulai saling mengenal antar pribadi. Lakukan permainan tersebut selama 10 – 15 menit. atau seperti “badai” yang merupakan tahap awal dari suatu pembentukan kelompok. Keberhasilan atau ketidakberhasilan proses BLC akan berpengaruh pada proses pembelajaran selanjutnya. atau membayangkan kejenuhan yang akan dihadapi. Fasilitator meminta semua peserta duduk di kursi dan satu diantaranya duduk di tengah lingkaran. perlu dilakukan suatu proses pencairan (unfreezing). Untuk mengantisipasi semua itu. misalnya dengan menyeru: ”Semua peserta berbaju merah pindah” Pada keadaan tersebut akan terjadi pertukaran tempat duduk dan saling berebut antar peserta. setiap peserta yang duduk di tengah lingkaran untuk menyerukan identitas yang berbeda. Pada proses BLC setiap peserta harus berpartisipasi aktif dan dinamis. Meminta peserta yang berkenalan dengan jumlah peserta terbanyak. POKOK BAHASAN 2: PENCAIRAN Fasilitator menyiapkan kursi sejumlah peserta dan disusun melingkar. Ulangi lagi. Kemudian mengajak peserta untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. mengidentifikasi dan merumuskan harapan dari pelatihan ini. misalnya peserta yang berkaca mata atau yang berbaju batik dan lain-lain. Fasilitator memandu peserta untuk merefleksikan perasaannya dalam 111 | MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) . diikuti juga oleh panitia untuk memperkenalkan dirinya.

Komitmen merupakan keterikatan. Berdasarkan hasil pemaparan diskusi seluruh kelompok maka disepakati bersama fasilitator untuk menentukan ketua kelas dan sekretaris yang akan memandu peserta secara bersama-sama untuk merumuskan norma-norma kelas yang akan disepakati bersama. efektif dan efisien. Juga didiskusikan bagaimana solusi (pemecahan masalah) untuk mencapai harapan tersebut serta menghilangkan kekhawatiran yang akan terjadi selama pelatihan. Keadaan ini sangat menguntungkan dalam mencapai keberhasilan individu/ kelompok/ kelas. POKOK BAHASAN 3: HARAPAN-HARAPAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN DAN HASIL YANG INGIN DICAPAI Fasilitator membagi peserta dalam kelompok kecil @ 5 – 6 orang. Dan peserta dari kelompok lainnya diminta untuk memberikan tanggapan dan masukan bila ada. agar terjadi proses yang dinamis. karena dalam diri setiap orang yang memiliki komitmen tersebut akan terjadi niat baik dan tulus untuk MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) | 112 .permainan tersebut serta pengalaman belajar apa yang diperolehnya. Fasilitator membuat rangkuman bersama-sama peserta. Fasilitator memandu peserta untuk membahas harapan dan kekhawatiran dari setiap kelompok tersebut sehingga menjadi harapan kelas yang disepakati bersama. keterpanggilan seseorang terhadap apa yang dijanjikan atau yang menjadi tujuan dirinya atau kelompoknya yang telah disepakati dan terdorong berupaya sekuat tenaga untuk mengaktualisasinya dengan berbagai macam cara yang baik. adalah keterpanggilan seseorang/ kelompok/ kelas (peserta pelatihan) untuk berupaya dengan penuh kesungguhan mengaktualisasikan apa yang menjadi tujuan pelatihan/ pembelajaran. Masing-masing kelompok akan menentukan harapan terhadap pelatihan ini serta kekhawatiran dalam mencapai harapan tersebut. kemudian menjelaskan tugas kelompok tersebut. Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Komitmen belajar/pembelajaran. Mula-mula secara individu. kemudian hasil setiap individu dibahas dan dilakukan kesepakatan sehingga menjadi harapan kelompok. Peserta difasilitasi sedemikian rupa agar semua berperan aktif dan memberikan komitmennya untuk metaati norma kelas tersebut.

Harapan jangan terlalu tinggi dan jangan terlalu rendah. Pada proses BLC setiap peserta harus berpartisipasi aktif dan dinamis. Norma adalah gagasan. Keberhasilan atau ketidakberhasilan proses BLC akan berpengaruh pada proses pembelajaran selanjutnya. Proses BLC sendiri adalah proses melalui tahapan dari mulai saling mengenal antar pribadi. memberikan yang terbaik kepada individu lain. mengidentifikasi dan merumuskan harapan dari pelatihan ini. Dalam menetukan harapan harus realistis dan rasional sehingga kemungkinan untuk mencapainya menjadi besar. norma kelas dan kontrol kolektif. kepercayaan tentang kegiatan. Dalam hal ini harapan peserta adalah kehendak/ keinginan untuk memperoleh atau mencapai sesuatu. yang pada intinya adalah untuk mendapatkan komitmen belajar. Dengan membangun komitmen belajar makan para peserta akan berupaya untuk mencapai harapan yang diinginkannya dalam setiap proses pembelajaran. Dengan demikian dinamika pembelajaran akan terus terpelihara sampai proses pembelajaran berakhir. sampai terbentuknya norma kelas yang disepakati bersama serta kontrol kolektifnya. Dalam pelatihan berarti keinginan untuk memperoleh atau mencapai tujuan yang diinginkan sebagai hasil proses pembelajaran. kelompok dan kelas secara keseluruhan. Harapan juga harus menimbulkan tantangan atau dorongan untuk mencapainya. lebih banyak menggunakan metode games/ permainan. Norma dalam suatu 113 | MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) . instruksi. penugasan individu dan diskusi kelompok. POKOK BAHASAN 4 : NORMA KELAS DALAM PEMBELAJARAN Dalam sesi BLC. kemudian menjadi kebiasaan serta dipatuhi sebagai patokan dalam perilaku kehidupan sehari hari kelompok/ masyarakat tersebut. harapan. Norma kelas merupakan nilai yang diyakini oleh suatu kelompok atau masyarakat. sehingga dengan demikian para peserta dengan sendirinya sadar akan peran dan tanggung jawabnya dalam keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran yang dilaksanakan pada pelatihan tersebut. Pada kesempatan ini juga fasilitator akan merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dalam kegiatan membangun komitmen belajar. perilaku yang seharusnya dipatuhi oleh suatu kelompok. dan bukan sesuatu yang diucapkan secara asal-asalan.

instruksi. Tuliskan hasil brainstorming di papan flipchart agar bisa dibaca oleh semua peserta. Fasilitator memandu peserta membuat rangkuman dari semua proses dan hasil pembelajaran selama sesi ini. kepercayaan tentang kegiatan. Kontrol kolektif merupakan kesepakatan bersama tentang memelihara agar kesepakatan terhadap norma kelas ditaati. untuk dipatuhi oleh semua anggota kelompok (peserta. POKOK BAHASAN 5: KONTROL KOLEKTOF DALAM PELAKSANAAN NORMA KELAS Ketua kelas dan sekretaris beserta fasilitator memandu brainstorming tentang sanksi apa yang harus diberlakukan bagi orang yang tidak mematuhi atau melanggar norma yang telah disepakati agar komitmen yang dibangun menjadi lebih kuat. saling membantu. Biasanya ditentukan dalam bentuk sanksi apa yang harus diberlakukan apabila norma tidak ditaati atau dilanggar. dan mengucapkan ikrar bersama untuk mencapai harapan kelas dan mematuhi norma yang telah disepakati. Fasilitator memberi ulasan singkat tentang materi yang terkait dengan BLC.pelatihan. Fasilitator mengucapkan salam dan mengajak semua peserta saling bersalaman.adalah gagasan. Peserta difasilitasi sedemikian rupa sehingga aktif dalam melakukan brainstorming. Dan untuk mengakhiri sesi diminta kepada peserta secara bersama-sama untuk bertepuk tangan. saling kerja sama. sehingga dapat dirumuskan sanksi yang disepakati kelas. sehingga tercipta suasana/ lingkungan pembelajaran yang kondusif. juga akan mendukung terwujudnya saling percaya. Fasilitator meminta peserta untuk berdiri membentuk lingkaran sambil berpegangan tangan. POKOK BAHASAN 6: ORGANISASI KELAS Dengan terbangunnya BLC. saling memberi dan menerima. MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) | 114 . pelatih/ fasilitator dan panitia). perilaku yang diterima oleh kelompok pelatihan.

3. VIII. 115 | MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) . Kementerian Kesehatan RI. 2010. Jakarta. Modul TOT Pelatihan Pengelola Program Kesehatan Indera Penglihatan. 2005. Modul TOT Pelatihan Pengelola Program Kesehatan Indera Pendengaran. Membangun Komitmen Belajar. 2007 6. Second Decentralized Health Services Project. Modul Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat Bagi Petugas Puskesmas. Adapun untuk keberhasilan proses BLC ini diperlukan adanya partisipasi aktif dari seluruh peserta pelatihan. 4. 2007 5. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. 2. Departemen Kesehatan RI. 2006. Kurikulum & Modul Pelatihan Fasilitator Tingkat Puskesmas dalam Pengembangan Desa Siaga. Pusdiklat Departemen Kesehatan RI. Badan PPSDM Kesehatan. IX. RANGKUMAN Dengan melakukan building learning commitment (BLC) yang didahului dengan proses perkenalan dan dilanjutkan proses pencairan (unfreezing / ice breaking) maka akan didapatkan komitmen peserta dalam melaksanakan proses pembelajaran selanjutnya dengan baik berdasarkan dari norma- norma kelas yang dibuat oleh peserta sendiri. Departemen Kesehatan RI. Modul Pelatihan Bagi Pelatih PSN DBD dengan pendekatan Komunikasi Perubahan Perilaku (COMBI). Direktorat Jenderal PP&PL. Departemen Kesehatan RI. 2001. REFERENSI 1.

Spidol MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) | 116 .X. keterbukaan dan kebersamaan antar seluruh peserta. Metode: Permainan Kreatif Waktu: 20 menit Tujuan o Mencairkan situasi kaku dan saling mengenal antar peserta sehingga mudah untuk bekerjasama o Terjadinya interaksi antar individu dalam kelompok secara lebih mendalam dan dinamis. o Terbentuknya sikap kesetiakawanan. Lampiran: Permainan untuk Perkenalan dan Pencairan Suasana Perkenalan dan Pencairan Suasana (Masuk kedalam dinamika kelompok untuk perkenalan) Untuk memfasilitasi proses perkenalan dan pencairan suasana. Proses belajar akan lebih kaya dengan pembuktian yang ada di masyarakat. Fasilitator harus menyiapkan suasana agar para peserta. fasilitator dapat melakukan kegiatan interaktif melalui berbagai cara. Proses perkenalan yang dinamis dapat mencairkan suasana. termasuk fasilitator. Misalnya: a. menciptakan kondisi belajar yang mendukung dimana para peserta dapat dengan leluasa mengungkapkan gagasan. dapat saling mengenal satu sama lain. ide dan pengalamannya. seperti pada contoh berikut: Deskripsi singkat: Perkenalan merupakan proses yang sangat penting dalam suasana pelatihan untuk menciptakan suasana akrab dan dinamika positif. Alat Bantu (tergantung kepada permainan yang digunakan). serta berbagi untuk memahami masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku hidup bersih dan sehat dan masalah kesehatan secara umum.

b. Kertas Plano
c. Kertas metaplan
d. Bola Plastik/Bola yang terbuat dari kertas Koran

Langkah-langkah:

Acara perkenalan bisa dilakukan dengan beberapa cara, berikut ini 2
alternatif yang bisa digunakan:
• Alternatif 1: Bagilah seluruh partisipan (peserta, fasilitator dan panitia)
menjadi beberapa kelompok (5-6 kelompok). Pada setiap kelompok,
setiap individu memperkenalkan dirinya kepada anggota kelompok
lainnya (nama lengkap, nama panggilan dan lembaga asalnya serta
bisa ditambahkan hal-hal lain seperti: tanggal lahir, status perkawinan,
jumlah anak, hobi, bintang film yang disukai, dll.). Perkenalan bisa
dilanjutkan ke tingkat pleno, misalnya dengan cara meminta kesediaan
perwakilan kelompok untuk memperkenalkan seluruh anggota
kelompoknya. Jika seluruh anggota kelompok telah diperkenalkan,
cobalah bersama dengan seluruh partisipan untuk menghafal
bersama nama seluruh partisipan pelatihan. Puncak acara perkenalan
dapat dilakukan dengan menanyakan: siapa yang paling banyak
hafal nama partisipan? Untuk itu, mintalah kepada partisipan yang
mengatakan paling banyak hafal nama partisipan untuk membuktikan
kemampuannya menghafal nama partisipan dengan cara menyebut
nama dan menunjuk orangnya satu per satu.
• Alternatif 2: Mintalah partisipan berpasang-pasangan. Disarankan
untuk berpasangan dengan partisipan lain yang belum/kurang dikenal
dan saling memperkenalkan diri (nama lengkap, nama panggilan,
lembaga asal, tanggal lahir, status perkawinan, jumlah anak, dsb.).
Setelah setiap pasangan selesai saling memperkenalkan diri, mintalah
mereka untuk memperkenalkan ke tingkat pleno dengan cara setiap
orang memperkenalkan secara rinci tentang pasangannya. Jika seluruh
pasangan telah diperkenalkan, cobalah bersama dengan seluruh
partisipan untuk menghafal bersama nama seluruh partisipan pelatihan.
Puncak acara perkenalan dapat dilakukan dengan menanyakan: siapa
yang paling banyak hafal nama partisipan? Untuk itu, mintalah kepada

117 | MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC)

partisipan yang mengatakan paling banyak hafal nama partisipan untuk
membuktikan kemampuannya menghafal nama partisipan dengan cara
menyebut nama dan menunjuk orangnya satu per satu.

Pencairan suasana ditujukan untuk membangun hubungan antar
partisipan yang kondusif (suasana kesetaraan: tidak kaku, tidak formal, tidak
ada sekat-sekat) untuk mencapai tujuan pelatihan dalam tingkat optimal.
Pada akhir session ini, pastikanlah bahwa seluruh partisipan sudah saling
mengenal dan memiliki hubungan yang akrab.

CATATAN:

Ada kemungkinan beberapa partisipan tidak mau terlibat dalam
perkenalan dan pencairan suasana ini. Ajaklah mereka secara persuasif
(dengan melibatkan partisipan lainnya) agar mereka mau terlibat. Jangan
paksa mereka, tetapi jangan pula membatalkan proses karena beberapa
individu tidak bersedia terlibat. Untuk mempercepat perkenalan, peserta
diminta menulis nama panggilan dan asal instansi pada secarik kertas dengan
spidol dan ditempelkan pada dada sebelah kiri.

Untuk membangun komitmen belajar, langkah-langkah kegiatan
pembelajaran dapat juga dikombinasikan dengan langkah-langkah yang
biasa digunakan dalam pelatihan-pelatihan STBM. Khusus langkah 4 (30
menit), dapat dilakukan dengan cara:
1. Fasilitator membuat gambar telapak tangan raksasa di lantai
2. Fasilitator menanyakan kepada peserta berapa besar tingkat
pemahamannya terhadap materi.
3. Fasilitator meminta para peserta menempatkan dirinya pada salah
satu jari yang dipilih sesuai penilaian terhadap diri sendiri terkait
materi yang ditanya.

MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC) | 118

Masing-masing Jari dapat diartikan:
1. Jempol: sudah tahu CLTS dan sudah trampil dalam memicu, dan
mampu untuk menularkan pengetahuan CLTS kepada orang lain.

2. Telunjuk: sudah pernah melakukan pemicuan, program STBM
pendekatannya CLTS

3. Jari Tengah: Tahu tentang prinsip-prinsip CLTS, tahu tentang
instrumennya, dan juga tahu tentang elemen-elemennya, dan apa
saja yang membuat orang mau berubah

4. Jari manis: Tahu (dari membaca) dan pernah mendengar (dari teman),
tahu prinsip-prinsipnya, tetapi tidak tahu tentang elemen-elemennya

5. Kelingking: baru dengar, tau kepanjangan, belum tahu sama sekali

119 | MEMBANGUN KOMITMEN BELAJAR (BLC)

Modul MP. (RTL) . : RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) Rencana Tindak Lanjut MODUL MP.2.2.

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN 121 VII.REFERENSI 125 IX. Rencana Tindak Lanjut (RTL) I. URAIAN MATERI 122 VIII. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN 121 IV. Modul MP. METODE PEMBELAJARAN 121 VI. DESKRIPSI SINGKAT 120 II. LAMPIRAN 126 a. Pedoman Penyusunan RTL 126 b. BAHAN BELAJAR 121 V.2. TUJUAN PEMBELAJARAN 120 III. RPP (RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN) 126 RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) 121 | RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) .

pemberdayaan masyarakat dan dasar-dasar pemecahan masalah kesehatan lingkungan.2. 3. B. RENCANA TINDAK LANJUT I. Menyusun RPP dengan melengkapi pendekatan STBM ke dalam mata kuliah promosi kesehatan. MODUL MP. DESKRIPSI SINGKAT Fungsi peserta pelatihan adalah sebagai tenaga pendidik yang dapat mengintegrasikan pendekatan STBM ke dalam mata kuliah promosi kesehatan. RPP tersebut menjadi bagian dari rencana tindak lanjut yang disusun setiap dosen dan akan menjadi pegangan untuk mengintegrasikan dalam mata kuliah yang akan diajarkannya dan dilaksanakan di tempat tugas masing-masing. pemberdayaan masyarakat dan dasar-dasar pemecahan masalah kesehatan lingkungan. Menyajikan RTL. Tujuan Pembelajaran Khusus Pada mengikuti materi ini peserta mampu: 1. 2. Tujuan Pembelajaran Umum Selama mengkuti materi ini. TUJUAN PEMBELAJARAN A. peserta mampu menyusun rencana tindak lanjut proses belajar mengajar dan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan STBM. Modul ini memastikan bahwa dosen sebagai peserta akan menyusun Rencana Program Pembelajaran (RPP) dengan melengkapi pendekatan STBM ke dalam mata kuliah promosi kesehatan. RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) | 120 . Membuat RPP. pemberdayaan masyarakat dan dasar-dasar pemecahan masalah kesehatan lingkungan. II.

Fasilitator memperkenalkan diri 2. METODE PEMBELAJARAN Latihan. PL: 0jp) @45 menit untuk memudahkan proses pembelajaran. Diskusi kelompok. V. III. Langkah 1 : 1. fasilitator menjelaskan pentingnya RTL 5. Berdasarkan pendapat peserta. POKOK BAHASAN DAN SUB POKOK BAHASAN A. kain tempel. VI. Pokok Bahasan 1: Ruang Lingkup RTL B. Pleno (penyajian RPP). Pokok Bahasan 3: Penyajian RTL IV. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta untuk menanyakan hal-hal yang kurang jelas dan fasilitator menjawab pertanyaan peserta tersebut 121 | RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) . BAHAN BELAJAR Lembar RPP (Rencana Program Pembelajaran). Pokok Bahasan 2: RPP C. dilakukan langkah-langkah kegiatan pembelajaran sebagai berikut: A. LCD projector. Menggali pendapat peserta tentang pengertian dan ruang lingkup dan langkah-langkah RTL 4. Fasilitator menyampaikan tujuan umum dan tujuan khusus 3. P= 3jp. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN PEMBELAJARAN Jumlah jam yang digunakan dalam modul ini sebanyak 3 jam pelajaran (T= 0jp.

RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) | 122 . Fasilitator menutup sesi pembelajaran dengan memastikan TPU dan TPK telah tercapai. Fasilitator memberikan apresiasi kepada peserta. Fleksibel Mudah disesuaikan dengan perkembangan situasi. Peserta dibagi kelompok berdasarkan tempat kerja 2.B.kegiatan yang akan dilakukan. 2. Masing-masing kelompok menyusun RTL. Jelas Isi rencana mudah dimengerti dan ada pembagian tugas yang jelas antara orang-orang yang terlibat di dalam masing-masing kegiatan. 3. diupayakan seluruh kelompok mendapatkan kesempatan untuk menyajikan RTLnya secara bergantian 2. Terarah Setiap kegiatan yang dicantumkan dalam RTL hendaknya terarah untuk mencapai tujuan. Langkah 3: 1. setibanya peserta di wilayah kerja masing­-masing dengan memperhitungkan hal-hal yang telah ditetapkan berdasarkan potensi dan sumber daya yang ada. 5. URAIAN MATERI POKOK BAHASAN 1: RUANG LINGKUP RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) Pengertian RTL merupakan suatu dokumen yang menjelaskan tentang kegiatan . VII. Oleh karena itu RTL memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. C. Fasilitator menyampaikan simpulan tentang RTL yang telah disusun peserta 4. Fasilitator memberi kesempatan kepada peserta lainnya untuk menanggapi penyajian RTL yang disajikan 3. Oleh karena itu RTL mempunyai kurun waktu relatif singkat. Langkah 2: 1. Fasilitator memilih wakil kelompok untuk menyajikan RTLnya.

Materi Pembelajaran atau Pokok Bahasan atau Topik (bisa dipilih terminologi yang sesuai) 9. 7. Ruang lingkup Rencana Tindak lanjut (RTL) sebaiknya minimal: 1. 6. Nama Matakuliah : ……………………………….LO) 8. dan Referensi POKOK BAHASAN 3: PENYAJIAN RENCANA TINDAK LANJUT Berdasarkan hasil analisis kemudian disusun RTL dengan langkah-langkah sebagai berikut: 123 | RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) . 2. 5. Menetapkan besar biaya dan sumbernya. POKOK BAHASAN 2: RENCANA PROGRAM PEMBELAJARAN (RPP) Dalam RPP akan dibuat berdasarkan format sebagai berikut yaitu : 1. Hasil Pembelajaran (Learning outcomes . Evaluasi yang Direncanakan 10. Prasyarat : (nama mata kuliah yang jadi syarat) 4. Status Matakuliah : Pilihan/Wajib (coret yang tidak sesuai) 5. Tujuan RTL adalah agar peserta latih / institusi memiliki acuan dalam menindaklanjuti suatu kegiatan pelatihan. Bahan. Tujuan Pembelajaran 7. 4. Menetapkan siapa pelaksana atau penanggung jawab dari setiap kegiatan. Sumber Informasi. Menetapkan metode yang akan digunakan pada setiap kegiatan. 3. 2. Menetapkan tujuan setiap kegiatan yang ingin dicapai. Menetapkan kegiatan apa saja yang akan dilakukan. Menetapkan sasaran dari setiap kegiatan. Menetapkan waktu dan tempat penyelenggaraan. Deskripsi Singkat Matakuliah 6. Kode/SKS : …………/… SKS 3.

Tetapkan siapa mengerjakan apa pada setiap kegiatan dan bertanggung jawab kepada siapa (siapa/who). 5. Kegiatan yaitu uraian kegiatan yang akan dilakukan. 3. Identifikasi dan buat perumusan yang jelas dari semua kegiatan yang akan dilaksanakan (apa/what). RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) | 124 . 3.1. (How much) 7. Tentukan sasaran dari masing-masing kegiatan yang telah ditentukan. Tentukan apa tujuan dari masing-masing kegiatan yang telah ditentukan. 2. didapat melalui identifikasi kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Oleh karena itu dalam menyusun RTL harus mencakup unsur-unsur sebagai berikut: 1. Agar hal ini terealisasi maka di identifikasi kegiatan kegiatan apa yang diperlukan. Perkirakan besar dan sumber biaya yang diperlukan pada setiap kegiatan. 2. Sasaran yaitu seseorang atau kelompok tertentu yang menjadi target kegiatan yang direncanakan. Perkirakan waktu yang diperlukan untuk setiap kegiatan (kapan/when). Tujuan adalah membuat ketetapan ketetapan yang ingin dicapai dari setiap kegiatan yang direncanakan pada unsur nomor 1. Pada saat menentukan kegiatan hendaknya mereview modul Pelatihan STBM bagi Dosen Jurusan Kesling Poltekes. Penetapan tujuan yang baik adalah di rumuskan secara konkrit dan terukur. Tetapkan cara atau metode yang akan digunakan dalam pelaksanaan setiap kegiatan (bagaimana/how). 4. 6. dan tentukan lokasi yang akan digunakan dalam melakukan kegiatan (tempat/where).

Hal ini penting karena personal/tim yang terlibat dalam kegiatan tersebut mengetahui dan melaksanakan kewajiban. REFERENSI Kemkes RI. Waktu dan Tempat Dalam penentuan waktu sebaiknya menunjukkan kapan suatu kegiatan dimulai sampai kapan berakhir. 5. 125 | RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) . mulai dari awal sampai selesai. Perhatikan/pertimbangkan juga kegiatan yang memerlukan dana tetapi dapat digabung pelaksanaannya dengan kegiatan lain yang dananya telah tersedia. Biaya Agar RTL dapat dilaksanakan perlu direncanakan anggaran yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut. 7. VIII. Pelaksana / penanggung jawab yaitu personal / tim yang akan melaksanakan kegiatan yang direncanakan. seyogyanya menunjukkan lokasi atau alamat kegiatan akan dilaksanakan 6. Apabila dimungkinkan sudah dilengkapi dengan tanggal pelaksanaan. Sedangkan dalam menetapkan tempat. artinya tidak mengada-ada. Cara/Metode yaitu cara yang akan dilakukan dalam melakukan kegiatan agar tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai. 4. Jakarta: 2010. Hal ini untuk mempermudah dalam persiapan kegiatan yang akan dilaksanakan. Akan tetapi perencanaan anggaran harus realistis untuk kegiatan yang benar-benar membutuhkan dana. serta dalam melakukan evaluasi. Kurikulum Program D3 dan D4 Jurusan Kesehatan Lingkungan. Rencana anggaran adalah uraian tentang biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan.

............……………………………… ……………………………………………………...... .................................................. .... Dalam menyusun tujuan pembelajaran ini harus mengakomodasikan kompetensi lulusan yang akan dibangun melalui matakuliah ini..... Masing-masing kelompok menyusun RPP (lihat Format).....LO) ……………………………………………………………………………………. ......... 6................................ Jelaskan secara singkat mengenai amanah kompetensi lulusan yang akan dibangun oleh matakuliah ini........... ………………………………………………………………………………….................................................................................................... RPP (Rencana Program Pembelajaran) 1................................. Nama Matakuliah : ………………………………..... Tujuan pembelajaran ……………………………………………………………………………………................................... Status Matakuliah : Pilihan/Wajib (coret yang tidak sesuai) 5................IX.................................... Kode/SKS : …………/… SKS 3......................................... Jelaskan atau uraikan secara singkat mengenai tujuan umum mata kuliah yang diajarkan....... ... 3............ RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) | 126 ................................................. Hasil pembelajaran (Learning outcomes .............................. dan metoda penilaian (cukup satu atau dua paragraf saja) .................. metoda pembelajaran....................... ............. Jenis kegiatan B.......................... Pedoman Penyusunan RTL 1.. 2......... Peserta dibagi kelompok menurut asal Poltekes masing-masing 2.................... isi mata kuliah.................................... Deskripsi singkat Matakuliah ……………………………………………………………………………………................................................................ Lampiran : LEMBAR KERJA A...................................... 7.............. Prasyarat : (nama mata kuliah yang jadi syarat) 4....................

. Hindari istilah yang samar seperti ‘know’ (mengetahui)............................................... ‘comprehend’ (memahami) ‘study’ (belajar)............uk/outcomes/ 127 | RENCANA TINDAK LANJUT (RTL) ...................... Bahan................ 9. Dalam penulisan hasil pembelajaran perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut: • Kompetensi ranah KSA (kognitif.......... afektif) yang akan dibangun oleh matakuliah ini...... Evaluasi yang direncanakan ……………………………………………………………………………………...... • Gunakan kalimat aktif dan se-spesifik mungkin.. ‘learn’ (mempelajari).... Realistic................. Hasil pembelajaran (Learning outcome........bcu............................................. dan mengevaluasi program pembelajaran............................ ........ ....... dan referensi 2 Lihat UCE Birmingham Guide to Learning Outcomes: http://www..................... • Rumusan hasil pembelajaran harus bisa diobservasi dan SMART (Specific..................................... Attainable..........ac............................. LO) adalah rumusan yang jelas dan ringkas tentang kemampuan/kompetensi mahasiswa setelah mengikuti proses pembelajaran matakuliah ini........... memonitor.. sumber informasi... ……………………………………………………………………………………...................... ssdd............................... Materi Pembelajaran atau Pokok Bahasan atau Topik (bisa dipilih terminologi yang sesuai) …………………………………………………………………………………….......... 10....... ketrampilan.. .... Measurable.......................... Timely) • Penulisan hasil pembelajaran dari sisi kemampuan yang akan dicapai oleh mahasiswa. 8............ dan ‘understand’ (memahami)...........2 Hasil pembelajaran merupakan basis untuk merancang....... Bagian ini adalah merupakan bagian terpenting dalam RPKPS.....

Rencana Kegiatan Pembelajaran Mingguan Sub Yang Yang Minggu Capaian Pokok Metode Media Rumusan Metode Pokok dilakukan dilakukan Pustaka ke Pembelajaran bahasan Pembelajaran ajar assessment assessment bahasan mahasiswa dosen (Footnotes) 1 Lihat kerangka monitoring keluaran program STBM PELAKSANAAN STBM | 128 .11.

Poltekes Bandung • Lagiono.Kes. SKM.Kes.Pd. MKM. SKM. Poltekes Jakarta II • Agus Dwi Pramono. M. BBPK Ciloto Politeknik Kesehatan Kemenkes: • DR. Kasi Standarisasi. M. SKM. Pusdiklatnakes • Mujayanto.Kes. SKP. M. Poltekes Denpasar 129 | TIM PENYUSUN . SKM. Kasubdit Pelatihan. Dr. Dit. M. Widyaiswara. Poltekes Surabaya • Nyoman Purna. MKM. PASD • Yulita Suprihatin. M. M. Poltekes Purwokerto • Sarjito Eko Windiarsa. SKM. M. Staf PASD Badan Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia: • Vermona Marbun. S. SKM. SKM. Kasubdit PASD • Siti Nur Ayu. SKM.Jen PP&PL: • Eko Saputro. Pusdiklatnakes • Yan Bani Luza Prima Wangsa. Staf PASD dan Koordinator Sekretariat STBM • Nugroho SKM.Si.Si. Sumihardi. MKM.Kes. SKM. Staf Subdit Pelatihan. MKM. MP. Poltekes Jakarta II • Bambang Yulianto. SKM.Kes. TIM PENYUSUN Kementerian Kesehatan Direktorat Penyehatan Lingkungan. Ketua Forkom Kesehatan Lingkungan. MKM. Poltekes Yogyakarta • Setiawan. SKM. Poltekes Padang • Kusrini Wulandari. MKM.

Kom.Sos.md. A. MM. SKM. M. Sekretaris Bilingual • Rahma Simamora. Institutional Rural Sanitation Consultant. TIM PENYUSUN Pengurus Pusat HAKLI • Sujono. Nyoman Oka. WSP.Si. Bank Dunia • Ontoseno Mahartodjo Oepojo. M. SKM. S. MSPH Sekretariat STBM • Catur Adi Nugroho. Asisten Staf Pengembangan Media Edukasi Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar mitra stbm • Ir.Phil. WSP. Bank Dunia • Rahmi Kasri. Dr. Asisten Staf Ahli Bidang Capacity Building • Paramita Dau. ST. CB Specialist Consultant. ST. WES- UNICEF TIM PENYUSUN | 130 . LO Consultant. S. Asisten Staf Ahli Bidang Knowledge Management • Rani Rahmafuri.

KEMENTERIAN KESEHATAN RI. 2013 ISBN 978-602-235-467-3 9786022354673 .