CONTOH LAPORAN

HASIL ANALISA ANTROPOMETRI

PELATIHAN MANAJEMEN DATA ANTROPOMETRI
DINAS KESEHATAN ACEH

Narasumber: Lindawati Wibowo & Otte Santika

BANDA ACEH
22-26 JUNI 2114

Hal ini juga diindikasikan dengan tergesernya kurva distribusi nilai BB/TB Z -skor ke sebelah kiri kurva referens (Gambar 2b).dalam kategori medium (5% . Berbeda dengan masalah gizi kronis. masalah gizi akut pada balita juga ditemukan di XXXX. Berdasarkan ambang batas Kesehatan Masyarakat (Kesmas). . Masalah gizi di XXXX Dari hasil pengukuran antropometri berat dan panjang/tinggi badan maka diketahui ada masalah gizi kronis dan akut pada anak balita di XXXX. ada sebanyak 45. masalah gizi akut dengan persentase yang lebih rendah bisa jadi sudah mengindikasikan m asalah adanya “fenomena gunung es” dan “survival bias”. Jika dikategorikan. maka masalah gizi kronis ini tergolong sangat tinggi (≥ 40%). Gambar 2a.I.2%.9. Pergeseran yang cukup signifikan ke sebelah kiri kurva referens ini mengindikasikan banyaknya anak balita di tujuh desa binaan yang cenderung pendek berdasarkan umurnya. Meski persentase ini terlihat jauh lebih rendah dari persentase anak pendek + sangat pendek (45. Dengan nilai rata-rata TB/U Z-skor - 1. distribusi nilai TB/U Z-skor dari anak balita pun menjadi tergeser ke sebelah kiri kurva referens (Gambar 2a).7% anak balita yang pendek + sangat pendek atau mengalami masalah gizi kronis (Tabel 4).83 (SE: 0. seperti yang juga terefleksi pada prevalensi balita kurus + sangat kurus yang sebesar 6.08).7%). Distribusi TB/U Z-skor anak balita di XXXX Meski tidak sebesar masalah gizi kronis.9%) menurut ambang batas Kesmas. tetapi ‘kurang gizi akut’ juga tergolong MASALAH di XXXX . Tetapi pergeseran ini tidak terlalu jauh dari kurva referens.

Fenomena ini juga yang menjelaskan mengapa prevalensi balita kurus + sangat kurus (6.7%.2%) umumnya selalu terlihat lebih rendah dari prevalensi balita pendek + sangat pendek (45. Dngan kata lain. maka mayoritas (42. lihat Tabel 4) anak yang pendek/sangat pendek mempunyai berat badan yang proporsional dengan panjang/tinggi badannya dan SEOLAH terlihat “normal”.00 SD). maka dapat dikatakan bahwa pergeseran kurva distribusi BB/U Z-skor lebih dipengaruhi oleh banyaknya anak yang pendek + sangat pendek (TB/U Z-skor < -2. Atau dengan kata lain. Jika dilihat dari pola distribusi tiga indeks antropometri (lihat Gambar 2a-2c). Gambar 2b. Baik anak pendek/sangat pendek atau anak kurus/sangat kurus akan cenderung mempunyai berat badan kurang berdasarkan umur. Seperti yang terlihat pada Gambar 2c.lebih tinggi angka persentasenya dari balita kurus + sangat kurus. banyaknya anak yang teridentifikasi dengan kondisi gizi kurang atau gizi buruk lebih dikarenakan anak tersebut pendek atau sangat pendek sehingga berat badannya juga tidak sesuai dengan umurnya.7%) atau balita gizi kurang + gizi buruk (31. masalah ini tergolong sangat tinggi (≥ 30%).9% dari 45. indikator BB/U akan mudah terpengaruh baik oleh kondisi kurang gizi kronis ataupun akut. ada 31. Distribusi BB/TB Z-skor anak balita di XXXX Adanya masalah ganda berupa kurang gizi kronis dan akut berimbas pada nilai BB/U Z- skor. .6%).6% anak balita yang mengalami gizi kurang + gizi buruk (lihat Tabel 4) . Berdasarkan ambang batas Kesmas. Maka seperti yang juga terefleksi pada besaran masalahnya. kurva distribusi nilai BB/U Z-skor juga tergeser ke sebelah kiri kurva referens yang mengindikasikan bahwa ada sejumlah balita di XXXX yang berat badannya kurang berdasarkan umur. Adanya kecenderungan adaptasi pada anak yang mengalami kurang gizi kronis sehingga berat badannya “menyesuaikan” dengan panjang/tinggi badan. Pergeseran kurva ini dari kurva referens lebih besar dibanding pergeseran kurva BB/TB Z-skor.

2 45.51). survei ini dilakukan di bulan Januari ketika cakupan N/D tinggi. 2013) dan di XXXX berdasarkan hasil pengukuran antropometri (n=177) No Indikator antropometri Nasional Baseline di XXXX (%) 1. Berdasarkan TB/U untuk kondisi kronis:  Sangat pendek dan pendek (stunting) 37. sementara masalah balita kurus + sangat kurus sudah masuk dalam kategori medium (6.3%.1g.4  Pendek 19. Kemudian ada sejumlah anak (11. Gambar 2c. Status gizi balita di tingkat nasional (RISKEDAS. lihat Tabel 4) dengan BB/TB Z-skor yang masih tergolong normal tetapi sebenarnya beresiko tinggi untuk menjadi kurus (BB/TBZ-skor antara -2.00 hingga -1. Berdasarkan balok SKDN di tujuh desa terpilih (lihat Lampiran 1a .0 12.2 33.3 .7 (sangat (tinggi)* tinggi)*  Sangat pendek 18.2%). Tabel 4.). Distribusi BB/U Z-skor anak balita di XXXX Banyaknya kasus balita kurus ketika persentase N/D tinggi menimbulkan pertanyaan tentang tingginya masalah gizi kurang akut pada bulan-bulan dimana persentase N/D menurun. Maka diasumsikan bahwa prevalensi kurus + sangat kurus akan mengalami peningkatan pada bulan-bulan dimana cakupan N/D menurun hanya karena ada sejumlah anak yang berat badannya tidak naik dari bulan sebelumnya.

4  Gizi kurang 13.9 28. maka profil gizi balita di XXXX agak berbeda terutama untuk besaran masalah (lihat Tabel 4).kurus 2.3 sampai -1.7%) daripada di tingkat nasional (kategori tinggi: 37.2%). Tetapi. Jika masalah gizi kurang + gizi buruk tergolong medium di tingkat nasional.2  Normal .Tabel 4.6  Kurus 6.normal 27. Status gizi balita di tingkat nasional (RISKEDAS.4  Normal . Sementara di XXXX.3 0.1 6.8 -  Normal . masalah gizi kronis maupun akut mempunyai tingkat keseriusan yang sama yaitu tergolong tinggi.normal 48. 2013) dan di XXXX berdasarkan hasil pengukuran antropometri No Indikator antropometri Nasional Baseline di XXXX (%) 2. Perbedaan ini diasumsikan karena prevalensi balita pendek + sangat pendek yang jauh lebih tinggi di XXXX (kategori sangat tinggi: 45. profil gizi kurang + gizi buruk lebih merupakan gambaran kondisi kronis daripada akut.6 31.9  Pendek .2 4.5 2. maka hanya kurang dari setengah (49. tetapi besaran masalahnya berbeda berdasarkan ambang batas Kesmas (lihat Lampiran 2). sama halnya dengan yang terjadi pada populasi anak balita di tingkat nasional (48.1 *kategorisasi berdasarkan ambang batas Kesmas di Lampiran 2 Jika dibandingkan dengan profil nasional (RISKESDAS.kurus 9.2%) populasi anak balita di XXXX mempunyai pertumbuhan normal. 2013).2 (tinggi)* (medium)*  Sangat kurus 5.8  Pendek .6 (sangat (medium)* tinggi)*  Gizi buruk 5.7 3.1  Normal cenderung kurus (border Z-skor: -2. Berdasarkan BB/U untuk kombinasi akut dan/atau kronis:  Gizi buruk dan gizi kurang (underweight) 19.8 5.4 42.6  Gemuk 11.6 49.6 3.51) 3. Dan karena kombinasi masalah gizi akut dan kronis. Perbedaan hanya terletak pada kategori masalah saja. baik di tingkat nasional maupun di XXXX. . Berdasarkan BB/TB untuk kondisi akut:  Sangat kurus dan kurus (wasting) 12.gemuk 5. Di tingkat nasional.1 1. Meski masalah ganda kurang gizi akut dan kronis ada di tingkat nasional maupun di XXXX. Status gizi berdasarkan TB/U dan BB/TB:  Pendek .00 . maka masalah yang sama tergolong sangat tinggi di XXXX.9 1. 11. masalah gizi kronis jauh lebih dominan (tergolong sangat tinggi) dibanding masalah gizi akut (yang tergolong medium).gemuk 6.6%).

5 0 0 PENDEK+ SANGAT PENDEK KURUS+SANGAT KURUS GIZI KURANG+GIZI BURUK Gambar 3b.0 80.9%). ≥24 mo= 120) . Sebagai gabungan dari masalah gizi kronis dan akut. Masalah gizi balita berdasarkan kelompok umur (n=177.7 40. 12-<24 mo = 30. Sementara untuk masalah gizi akut yang diindikasikan dengan prevalensi kurus + sangat kurus tergolong tinggi (ambang batas Kesmas: 10% -14. maka terlihat bahwa prevalensi gizi kurang + gizi buruk di kedua kelompok umur adalah sama dan tergolong tinggi (ambang batas Kesmas: 30% -39.4 11.3 35.3 47.0 0. masalah gizi kronis yang diindikasikan dengan prevalensi pendek + sangat pendek tergolong sangat tinggi (ambang batas Kesmas: ≥ 40%). maka masalah gizi pada kelompok baduta dan kelompok umur yang lebih tua terlihat sama besarnya dan tidak berbeda signifikan.9%).0 31.6 10.0 50.3 60. ≥24 mo= 120) Jika diklasifikasikan berdasarkan 2 kelompok umur (lihat Gambar 3a). < 24 mo=57.0 20.3 30 31.0 48.7 2.0 70.0 PENDEK+ SANGAT PENDEK KURUS+SANGAT KURUS GIZI KURANG+GIZI BURUK Gambar 3a.1 50 40 35. Di kedua kelompok umur. 100 90 < 6 MO 6-<12 MO 80 70 60 53.0 30.7 30 20 10 10 10 6.0 40.3 48. 100.0 14.0 31. < 6 mo=10.0 <24 MO >=24 MO 90. Masalah gizi balita berdasarkan kelompok umur (n=177. 6-<12 mo = 17.

Akan tetapi. Masalah gizi kronis. Dan jika dilihat dari prevalensi BBLR 1 di XXXX yang sebesar 7.3% anak usia 24 bulan keatas) “beradaptasi” sehingga berat badannya menjadi proporsional dengan panjang/tinggi. Hal ini mengindikasikan sifat masalah gizi kronis yang tidak mudah balik atau bahkan cenderung irreversible (tidak dapat balik) sehingga hanya sejumlah kecil anak saja yang dapat kembali normal.3% menjadi 48. Selanjutnya. maka jumlah sampel yang ada memang tidak mencukupi untuk mengestimasi prevalensi masalah gizi per kelompok umur. Dan hal ini terbilang wajar mengingat belum tingginya paparan anak terhadap masalah kurang asupan gizi dan sumber penyakit pada usia dini atau dibawah 6 bulan (lihat penjelasan di bagian II). meski lebih cenderung mirip dengan pola masalah gizi kronis. Meski ada sedikit penurunan prevalensi pada kelompok umur 24-59 bulan (dari 53. Pola masalah gizi kurang + gizi buruk yang ditentukan berdasarkan BB/U. terjadi peningkatan prevalensi secara drastis seperti halnya masalah gizi kronis dan akut. Faktor resiko ini tentunya mempengaruhi pola makan anak. maka masalah gizi kronis yang terdeteksi di usia dini itu diasumsikan terkait dengan masalah IUGR 2 atau terhambatnya pertumbuhan anak sejak di dalam rahim. baik secara langsung maupun tak langsung. Akan tetapi pola terjadinya masalah gizi tetap dapat diperkirakan secara kasar dengan mengklasifikasi masalah per kelompok umur. tetapi penurunan ini tidak signifikan. prevalensi anak gizi kurang + gizi buruk sama persis dengan prevalensi anak pendek + sangat pendek. masalah gizi akut baru muncul ketika anak berusia diatas 6 bulan. yaitu 10%. Kemudian di usia 6-12 bulan. Diasumsikan peningkatan masalah ini karena paparan terhadap faktor resiko yang sifatnya kronis sehingga terjadi akumulasi masalah seiring dengan bertambahnya usia anak. Berbeda dengan masalah gizi kronis. Karena survei ini tidak ditujukan untuk melihat detil masalah gizi per kelompok umur. yang direpresentasikan oleh besaran prevalensi anak pendek + sangat pendek.3%).7% (hampir sama dengan prevalensi BBLR provinsi YYYY menurut hasil RISKESDAS 2013). maka perlu dilakukan observasi terhadap adanya fluktuasi masalah dalam rentang umur tersebut. serta paparan terhadap sumber penyakit karena mobilitas anak yang mulai meningkat. Adanya penurunan prevalensi anak kurus + sangat kurus diusia 12-24 bulan. Pada periode umur ini kebutuhan gizi anak meningkat bersamaan dengan meningkatnya paparan terhadap faktor resiko. yaitu ketika MP-ASI mulai diperkenalkan sebagai tambahan makanan selain ASI. lalu 24 bulan ke atas. lebih merupakan pola gabungan antara masalah gizi kronis dan akut. masalah gizi kronis ini meningkat tajam saat anak mulai memasuki usia 6 -24 bulan. masalah gizi akut yang diindikasikan dengan prevalensi kurus + sangat kurus ini mulai meningkat tajam ketika anak memasuki usia 6 -12 bulan. Adapun faktor resiko yang dimaksud adalah terkait dengan asupan makanan baik ASI maupun makanan tambahan (selain ASI). yang akan dibah as di bagian II. sama halnya dengan masalah gizi kronis. Gambar 3b mengilustrasikan pola yang berbeda untuk masalah gizi kronis dan akut. Untuk memprediksi secara kasar pola terjadinya masalah gizi pada kelompok umur 0 -59 bulan. umumnya dikarenakan adanya peningkatan jumlah anak pendek + sangat pendek yang sebagian besar (50% anak usia 12-24 bulan dan 48. Adanya masalah gizi kronis yang sangat tinggi besar sekali pengaruhnya terhadap pola masalah gizi kurang + gizi buruk karena anak yang pendek juga cenderung ringan berat badannya sehingga kurang berdasarkan umur. sudah terdeteksi sejak usia dini (0 -6 bulan) meskipun belum tinggi prevalensinya (10%). Adanya penurunan prevalensi gizi kurang + gizi buruk di usia 12 bulan ke atas diasumsikan karena ada 1 Berat Badan Lahir Rendah 2 Intra Uterine Growth Retardation . Maka dapat dilihat bahwa pada usia 0-6 bulan pertama.

Tetapi perbedaan ini tidak bermakna secara statistik sehingga belum dapat disimpulkan sebagai perbedaan nyata. laki-laki = 79 dan perempuan = 93) Tidak ditemukan perbedaan nyata antara masalah gizi pada anak laki-laki dan perempuan (lihat Gambar 4).8 30 20 5.1 40 34.peningkatan prevalensi anak pendek + sangat pendek yang disertai penurunan prevalensi anak kurus + sangat kurus.5 10 0 pendek + sangat pendek kurus + sangat kurus gizi kurang + gizi buruk Gambar 4. .8 44. terlihat bahwa masalah anak pendek + sangat pendek sedikit lebih banyak pada anak laki-laki dan masalah anak kurus + sangat kurus sedikit lebih banyak pada anak perempuan. 100 Laki-laki Perempuan 90 80 70 60 50 46.1 7.4 27. Mengacu pada prevalensi. Masalah gizi anak balita berdasarkan jenis kelamin (n=172.