BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Hipertensi adalah keadaan meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 40
mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran sedang selang
waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang (Armilawaty et al, 2007). Hipertensi
merupakan gangguan kesehatan yang sering dijumpai dan termasuk masalah kesehatan
penting karena angka prevalensi yang tinggi sehingga evaluasi penggunaan obatnya perlu
dilakukan (WHO, 2010).
Hipertensi sering disebut the silent killer karena gangguan ini pada tahap awal adalah
asimtomatis, tetapi dapat mengakibatkan kerusakan yang permanen pada organ-organ tubuh
vital (Baradero et al 2005). Hipertensi menyerang seluruh dunia, berdasarkan data WHO
tahun 2000, hipertensi telah manjangkit 26,4% populasi dunia dengan perbandingan 26,6%
pada pria dan 26,1% pada wanita. Dari 26,4% populasi dunia itu, negara berkembang
menyumbang 2/3 populasi yang terjangkit hipertensi sedangkan negara maju hanya
menyumbangkan 1/3 populasi dunia (Lidya, 2009).
Hipertensi yang diabaikan atau tidak dapat diobati menyebabkan berbagai macam
gangguan kardiovaskuler, serebrovaskuler dan renal. Hipertensi dapat merupakan penyebab
tunggal atau hanya merupakan salah satu faktor tersebut. Tingkat kerusakan organ umumnya
berhubungan dengan nilai tekanan darah, meskipun tidak selalu demikian. Ada kalanya nilai
tekanan darah yang tinggi tidak disertai dengan kerusakan organ sasaran, dan begitupula
sebaliknya. Terdapat kerusakan organ pada kenaikan nilai tekanan darah yang sedang.
Hipertensi dianggap faktor resiko yang paling penting karena hipertensi adalah faktor yang
menyebabkan serangan jantung, gagal jantung, stroke dan kerusakan ginjal (Shankie, 2001).
Pengobatan farmakologi yang dilakukan untuk menanggulangi hipertensi adalah
dengan mengkonsumsi captropil. Captropil merupakan obat antihipertensi dan efektif dalam
penanganan gagal jantung dengan cara supresi sistem renin angiotensin aldosteron. Renin
adalah enzim yang dihasilkan ginjal dan bekerja pada globulin plasma untuk memproduksi
angiotensin 1 yang bersifat inaktif. “Angiotensinn Converting Enzyme” (ACE), akan
merubah angiotrnsin II yang bersifat aktif dan merupakan vasokonstriktor endogen serta
dapat menstimulasi sintesa dan sekresi aldosteron dalam korteks adrenal. Peningkatan sekresi
aldosteron akan mengakibatkan ginjal merentesi natrium dan cairan, serta merentesi kalium.
Dalam kerjanya, captropil akan menghambat kerja ACE, akibatnya pembentukan angiotensin

1

Pilihan obat bagi masing-masing penderita hipertensi bergantung pada efek samping metabolik dan subjektif yang ditimbulkan. 2007). 1. II terhambat. Keputusan penggunaan obat selalu mengandung pertimbangan manfaat dan resiko. sehingga terjadi peningkatan kerja jantung. penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi kalium. 2008). adanya pemberian obat lain yang mungkin berinteraksi dengan antihipertensi yang diberikan ( Ikawati et al. 2 . Untuk mengetahui penggunaan captropil untuk megatasi antihipertensi. 2008). Meminimalkan resiko pengobatan dengan meminimalkan masalah ketidakamanan pemberian obat. adanya penyakit lain yang mungkin diperbaiki atau diperburuk untuk antihipertensi yang dipilih. Keadaan ini akan menyebabkan penurunan tekanan darah dan mengurangi beban jantung. Pengobatan hipertensi biasanya ditujukan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat hipertensi. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas hidup pasien dengan resiko minimal. Mekanisme pengamanannya berupa pemantauan efektifitas dan efek samping obat (Ikawati et al. baik afterload maupun preload .1. Rumusan Masalah Bagaimana penggunaan Captropil untuk mengatasi Antihipertensi ? 1. timbul vasodilatasi. Keamanan pemakaian obat antihipertensi perlu diperhatikan. Vasodilatasi yang timbul tidak menimbulkan reflek takikardia (Tjay et al.3 Tujuan Penulis 1.

Tenofax. Forten. terjadi hambatan secara kompetitif ACE sehingga peredaran angiotensin II dan kadar aldosteron menurun. sehingga tekanan darah menurun (Goodman. dan dalam kloroform. 3 . Metopril. Captropil mengandung gugus SH yang dapat berinteraksi membentuk kelat dengan ion Za dalam tempat aktif ACE. dalam metanol. Scantensin. Capoten. Casipril. Akibatnya. Praten. 1-2 jam sebelum makan. Dexacap. 2007). dalam etanol. Farmoten. BAB II FARMASI – FARMAKOLOGI 2. dosis dapat ditingkatkan sampai tekanan darah terkontrol (Katzung. Pada interval 1-2 minggu. 2. Captropil. 1998). Otoryl. tidak terjadi vasokonstriksi dan retensi Na. Hexpharm.1 Sifat Fisiko-Kimia Dan Rumus Kimia Obat Struktur Kimia Obat Captopril Rumus molekul : C9H15NO3S Nama IUPAC : (25)-1-[(25)-2-methyl-3-sulfanylpropanoyl] pyrolidine-2carboxylic acid Nama generik : Captropil Nama dagang : Acepress. Locap. Captensin. Kelarutan : Mudah larut dalam air. Lotensin.2 Farmasi Umum Captropil mula mula diberikan dengan dosis 25 mg 2 atau 3 kali sehari. Respon tekanan darah maksimal terlihat 2-4 jam setelah dosis tesebut. Tensicap.

Waktu paruh captropil dipengaruhi oleh fungsi ginjal dan jantung dimana waktu paruh captropil pada volunter. sehingga kadar bradikinin dalam darah meningkat.2. Dalam JNC VII. 2. A.3 Farmakologi Umum Tujuan penggunaan adalah sebagai terapi pada hipertensi esensial dan hipertensi renovaskuler. ACE inhibitor diindikasikan untuk hipertensi dengan penyakit ginjal kronik. B. Kontraindikasi Hipersensitif terhadap captropil dan obat obat ACE inhibitor lainnya. 2007). sehat dewasa 1. menyebabkan vasodilatasi dan penurunan tekanan darah. ACE inhibitor dikontraindikasikan pada wanita hamil karena bersifat teratogenik. karena ACE inhibitor akan memperberat hyperkalemia. ACE inhibitor dikontraindikasikan pada stenosis arteri renalis bilateral atau unilateral pada ginjal tunggal (Katzung.9 jam.5 Farmakokinetik Captropil diabsorbsi sebanyak 60-75% dan berkurang menjadi 33-40% dengan adanya makanan serta 25-30% captropil akan terikat protein. dan pasien anuria 20-40 jam. maka obat ini harusi dihentikan. pasien CHF 2. Indikasi 1. Penghambat ACE memiliki peran khusus yang penting dalam pengobatan pasien dengan nefropati diabetes karena dapat mengurangi proteinuria dan menstabilkan fungsi ginjal bahkan walaupun tidak terjadi penurunan tekanan darah (Goodman. Captropil dapat dipergunakan sendiri atau dalam kombinasi dengan obat antihipertensi lain terutama tiazid. Kadar kreatinin darah perlu dipantau selama pemberian ACE inhibitor. 2. Untuk pengobatan hipertensi sedang dan berat yang tidak dapat diatasi dengan pengobatan kombinasi lain. 1998). Payah jantung yang tidak cukup responsif atau tidak dapat dikontrol dengan diuretik dan digitalis. Namun harus berhati hati terutama bila ada hipertensi kalemia. 2. Pemberian pada ibu menyusui juga kontraindikasi ACE inhibitor diekskresi melalui ASI dan barakibat buruk terhadap fungsi ginjal bayi. Diabsorbsi dengan baik pada pemberian oral dengan bioavailabilitas 4 . Captropil diekskresikan melalui urin 95 % dalam waktu 24 jam.06 jam. Bila terjadi peningkatan kreatinin.4 Farmakodinamik Menghambat pemecahan bradikinin menjadi fragmen tidak aktif.

Captropil menimbulkan proteinuria lebih dari 1 g sehari 0. batuk kering. 2002). Dapat terjadi sindroma nefrotik serta membran glomerulopati pada penderita hipertensi.6 Toksisitas/efek samping Efek samping yang sering terjadi adalah hilangnya rasa terkadang juga penciuman. Pemberian bersama makanan akan mengurangi absorbsi sekitar 30%. Karena proteinuria umumnya terjadi dalam waktu 8 bulan pengobatan maka penderita sebaiknya melakukan pemeriksaan protein urin sebelum dan setiap bulan selama 8 bulan pengobatan (Rahardja. 2.2% penderita dengan penyakit ginjal. oleh karena itu obat ini harus diberikan 1 jam sebelum makan (Katzung.5% penderita dan pada 1. 5 . 1998). 70-75%. dan eksanthema.

353 mmHg. Pada penggunaan captropil 10 pasien (91%) berhasil mencapai target terapi tekanan darah.1 Perbandingan Efektifitas dan Efek samping Obat Anti Hipertensi Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pasien Hipertensi Sebanyak 60 pasien hipertensi yang mendapat pengobatan captropil dengan rerata tekanan darah sistol sebelum pengobatan sebesar 172.618 mmHg.7%) mengalami efek samping dan 50 (83.17±9. Sedangkan rerata tekanan darah diastol sebelum pengobatan sebesar 96±12. Pasien yang berobat paling banyak yang berusia 20-60 tahun yaitu sebanyak 61 % dan sisanya diatas 60 tahun sebanyak 30%.2 Efektifitas dan Efek Samping Penggunaan Obat Anti Hipertensi Pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Kalirungkut Suabaya Dari penelitian yang dilakukan pada 33 pasien hipertensi.910 mmHg.561 mmHg dan setelah 30 hari pengobatan turun menjadi 84.406 mmHg dan setelah 30 hari pengobatan sebesar 143. BAB III PENYELIDIKAN/PENELITIAN YANG PERNAH DILAKUKAN 3. 10 orang (16.17±19.514 mmHg. Lama penggunaan obat pada HCT digolongkan menjadi 3 yaitu 0-3 bulan sebanyak 10%. 6 . 4-6 bulan sebanyak 18% dan 7-12 bulan sebanyak 36%. Efek samping captropil sebagai anti hipertensi dari 60 pasien yang diberikan pengobatan dengan captropil. 3.3%) orang tidak mengalami efek samping. dan 13-24 bulan sebanyak 27%.33±18. 25 diantaranya berjenis kelamin perempuan (76%) dan 58 orang berjenis kelamin laki laki (24%).17±18. setelah 10 hari pengobatan turun menjadi 89.67±9. setelah 10 hari pengobatan turun menjadi 156. dan hanya 1 pasien (9%) yang tidak berhasil.

3%) orang tidak mengalami efek samping. Hasil penelitian ini menunjukkan persentase kejadian efek samping akibat pemakaian captopril sebesar 10 kejadian (16. dan setelah 30 hari pengobatan turun menjadi 84. 1995).353 mmHg. BAB IV PEMBAHASAN Captropil adalah inhibitor kompetitf dipeptidycarboxypeptidase (ACE= angiotension converting enzime). dan setelah 30 hari pengobatan turun menjadi 143.17±18. atau disebut sebagai kininase II. Efektifitas obat antihipertensi dibuktikan dengan tercapainya target terapi pada obat antihipertensi yang digunakan. yaitu suatu vasodilator endogen yang kuat. setelah 10 hari pengobatan menurun menjadi 156.7%) mengalami efek samping dan 50 (83. yang biasanya diinaktifkan oleh kininase (Tjay dan Rahardja. edema angioneurotik.00±12.7%) dari 60 orang yang mendapatkan captopril. Penelitian yang dilakukan oleh Ikawati et al (2008). Umumnya tekanan darah bertambah secara perlahan dengan bertambahnya umur. hipotensi simtomatik. Semakin bertambahnya usia seseorang akan meningkatkan risiko orang tersebut 7 . Sedangkan hasil penelitian oleh Prasetio dan Chrisandyani (2009) efek samping kaptopril sebanyak 8. setelah 10 hari pengobatan turun menjadi 89±9. Dari 60 pasien yang diberikan pengobatan dengan captopril. Penghambat terhadap enzim ini menyebabkan penurunan konversi angiotension I (At I) menjadi angiotension II (At I). 1995). Dari 60 pasien yang diberi Kaptopril didapatkan bahwa TDS sebelum pengobatan rata rata sebesar 172. gagal ginjal akut. Sedangkan TDD sebelum pengobatan rata rata sebesar 96. 10 orang (16. (Ganiswarna. Pada penggunaan captropil. 2007).2%. akibatnya terjadi penurunan tekanan darah penderita hipertensi.9%.406 mmHg.514 mmHg. eugesia (gangguan pengecapan). Batuk kering merupakan efek samping yang paling sering terjadi. Disamping itu juga terjadi akumulasi bradikinin. Captopril yang merupakan penghambat ACE mengurangi pembentukan angiotensin II.17±19. Hal ini sesuai pula dengan uraian epidemiologi bahwa kebanyakan diagnosis hipertensi terjadi pada umur diantara dekade ketiga dan dekade kelima (Departemen Kesehatan RI 2006).561 mmHg. menunjukkan persentase munculnya efek samping pemakaian captopril sebesar 43. Efek samping lain dapat berupa rash. dan proteinuria (Ganiswarna. Total jumlah pasien hipertensi berumur 18-64 tahun sebanyak 64% dan umur ≥ 65 tahun 36%.17±9. pasien yang memenuhi target terapi sebanyak 10 orang dan hanya 1 orang yang tidak memenuhi target terapi. Penghambat ACE juga mengurangi tonus vena.33±18.618 mmHg dengan.910 mmHg.

laki-laki berisiko lebih tinggi dibandingkan perempuan. Captoptil umumnya dapat menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik sebesar 15- 25% dari tekanan darah awal (McEvoy. 8 .menderita hipertensi. tetapi di atas usia tersebut perempuan yang berpeluang lebih besar (Sustrani et al. Hal ini disebabkan oleh berubahnya struktur pembuluh darah besar. Berdasarkan teori bahwa sampai usia 55 tahun. 2004). 2006). 2009). sehingga dinding pembuluh darah menjadi kaku dan lumen menjadi lebih sempit yang mengakibatkan meningkatnya tekanan darah sistolik (Rahajeng dan Tuminah.

Perlu penelitian serupa dengan wilayah yang lebih luas dan jumlah sampel yang lebih banyak agar profil efektifitas antihipertensi yang didapat lebih akurat. Pemberian captropil berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah diastolik. Pada pasien yang menggunakan captropil 91% memenuhi target terapi. Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai perbandingan efektifitas dan efek samping obat-obat antihipertensi yang lainnya. 4. dan 9% tidak memenuhi target terapi. 5. Presentase kejadian efek samping akibat penggunaan captropil sebesar 36%. 2. 3. 9 . BAB V KESIMPULAN 1.

10 . BAB VI CONSELUSIONS 1. Captopril is giving effect to de decrease in diastolic blood pressure. 2. Need to do more recseacrh on comparative efeectiveness and side effects of other hypertension medications. The precentage incidence of side effect from use of captopril by 36 % 3. Similar research is needed with a large area and the number of samples to be more effective antihypertensive profile obtained more accurate. 5. In patients taking captopril 91% they meet the therapeutic target and 9% doesn’t meet the therapeutic target. 4.

dan Yakobus. Obat obat Penting edisi IV. Kajian Keamanan Pemakaian Obat Antihipertensi di Poliklinik Usia Lanjut RS DR.. Alam.S. Hipertensi. Sustrani. Bagian Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin. kawati. S. Rahardja. Studi Prevalensi dan Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi di Propinsi Keelitung.IDPS. Inc. 59 (12): 580-587. 4 No. H.I. M. Jurnal Farmasi Indonesia Vol. dan Putu. Farmakologi dan Terapi. Obat obat penting.. T. Purwantiastuti. 4 No. Farmakologi dasar dan klinik. AHFS Drug Information. (2010). K. amiruddin. Klien Gangguan Kardiovaskular : Seri Asuhan Keperawatan. S. Gilman A. Jakarta: DepartemenKesehatan Republik Indonesia. E... Sardjito. Jurnal Farmasi Indonesia Vol. Departemen Kesehatan RI. Edisi VI. W. Lidya. FD.S. Pharmaceutical Press : Glasglow United Kingdom Tjay . 1998. Sardjito. 10 Vol 2. dan Hadibroto. M. Ganiswarna..SG. S. Dan Nafrialdi. Rahajeng... Majalah Kedokeran Indon. Jumiani. S. 2007. Kajian Keamanan Pemakaian Obat Antihipertensi di Poliklinik Usia Lanjut RS DR. Setiabudi. (2008). T. Jakarta. Jakarta : EGC Rahardja.. G. Yogyakarta. Jakarta : EGC. BG. Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta Ikawati. Pharmaceutical care untuk penyakit hipertensi. 2007. dan Putu. USA : American Society of Health-System Pharmacists.. Hal. 2006. (2008). R. Hypertension in Focus. Suyatna... Katzung. Z. 2006.. Jakarta. K 2004. Amalia. Dasar Farmakologi Terapi Ed. McEvoy.. 1: 30 – 41.2001. Jumiani. PT Elex media komputindo : Jakarta WHO. Prevalensi Hipertensi dan Determinannya di Indonesia. Baradero. 2007.. 11 . Jakarta: Gramedia. 2002. Goodman LS. 1: 30 – 41. dan Tuminah 2009. Data Global Status Report on Communicable Diseases.P. Skripsi Tidak Diplubikasikan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia : Jakarta Shankie. DAFTAR PUSTAKA Armilawaty.. I. Vayrit. Yogyakarta.D. 49-52. 1995.Z. Penerbit Buku Kedokteran EGC. R. L. H. PT Gramedia Pustaka. 2005.. Hipertensi dan Faktor Risikonya dalam Kajian Epidemiologi. Edisi V. 2009.